Tajuk

Umat Islam dan Lingkungan

Posted: 14/12/2017 at 08:00   /   by   /   comments (0)

Apa yang telah dilakukan oleh manusia pada alam, kini kembali pada manusia sendiri. Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi isu hangat yang selalu dibicarakan dalam pertemuan internasional.

Pembangunan yang terjadi ibarat pedang bermata dua. Pembangun yang menghasilkan limbah yang berlebihan, akan menghasilkan pula polusi yang akan merusak alam. Pembangunan yang over eksploitasi, membuat hutan menjadi gundul, serapan air menjadi sangat rendah. Pengembangan ruang yang melampaui batas, menyebabkan erosi dan abrasi, garis aman tidak dihiraukan lagi.

Dengan dalih pembangunan, manusia justru melahirkan kerusakan. Tepat seperti yang telah dikabarkan Allah dalam firman-Nya: “Dan jika dikatakan kepada mereka janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, sesunggunya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al Baqarah: 11-12)

Kenapa semua ini bisa terjadi? Karena batas toleransi alam sudah terlampaui. Pembuangan dan limbah yang dihasilkan manusia sangat melimpah. Tingkat konsumsi sudah tidak wajar lagi.

Di Cina, polusi yang mencemari lingkungan hidup telah menyebabkan 750.000 bayi lahir prematur setiap tahun. Di provinsi Jiangsu, 200.000 warga kehilangan mata air yang mereka gunakan sehari-hari, karena tanah sudah tidak lagi memberi sumber kehidupan. Bahkan di daerah yang bernama Shuyang, warga sudah tak memiliki air lagi.

Sungai-sungai besar seperti Sungai Kuning, Yangtze, Huaihe dan Haihe tercemar berat karena limbah industri. 70 persen sumber air bawah tanah di Cina sudah tak layak dikonsumsi, bahkan sekadar untuk mandi. Harga yang harus ditebus adalah, kerusakan alam yang mungkin tak bisa lagi diperbaiki.

Walhi mencatat, Indonesia kehilangan hutan 3,8 juta hektar setiap tahunnya. Setiap menit 7,2 hektar hutan kita rusak karena penebangan liar. World Research Institute memberikan data, 72 persen hutan asli Indonesia telah musnah. Ini kerugian besar, tidak saja untuk rakyat Indonesia, tapi juga untuk warga dunia. Kerusakan hutan di seluruh dunia, diakibatkan faktor industri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari sumpit untuk makan mie, dinding kayu, sampai tissue. Semakin banyak kita memakai tissue, semakin cepat hutan-hutan dibabat oleh perusahaan besar.

Pemanasan global telah memicu meningkatnya suhu udara di bumi. Dalam laporannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan, suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat celcius atau 1 derajat farenheit sejak tahun 1861. IPCC memprediksi peningkatan suhu rata-rata global akan meningkat 1,4 hingga 5,8 derajat celcius pada tahun 2100. Lebih jauh IPCC juga memperingatkan iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali.

Padahal Allah telah menyebutkan, bahwa langit adalah pelindung bagi kehidupan di bumi yang sangat rentan ini. ”Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu....” (QS. Al Baqarah: 22)

Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbon dioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Tapi musim kering juga akan lebih panjang di wilayah lainnya. Curah hujan juga akan meningkat. Bahkan ilmuwan mencatat, curah hujan di seluruh dunia telah meningkat 1 persen dalam seratus tahun terakhir. Jika air laut meningkat, konsekuensi paling logis adalah daratan yang terendam. Permukaan laut yang meningkat 30 sampai 50 cm berakibat surutnya garis pantai dunia sepanjang 350.000 km. Tanah dari Bangladesh, Mesir dan juga Indonesia akan kehilangan daratannya sampai 7%. Sebanyak 10% dari jumlah penduduk akan terusir dari tempat tinggal mereka dan 14% wilayah pertanian akan tergusur.

Badai akan lebih sering terjadi. Di wilayah lain, akan lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang, hurricane akan lebih sering datang. Huru-hara alam semesta yang terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Dan Allah telah memberikan gambaran tentang tabiat manusia yang satu ini. Tentu saja dengan tujuan, setelah merasakan dampak kerusakan manusia akan mencari jalan kembali menuju Dzat yang Maha Pengampun dan Bijaksana.
”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar Rum: 41)

Tidak cukupkah peringatan yang datang untuk kita? Atau kita terlalu bebal untuk mengenal sebuah peringatan? Dengan jumlah pemeluk lebih dari 1,6 milyar manusia di seluruh dunia, pasti umat Islam dapat berbuat banyak untuk membendung kerusakan yang terjadi dimanapun mereka berada. Sebagai umat yang menjadi rahmat bagi semesta, umat Islam harus terlibat aktif dan berdiri paling depan menyelamatkan kehidupan.

Perbaikan harus dimulai, betapapun tipisnya waktu yang kita miliki. Seperti sabda Rasulullah saw, jika kiamat datang esok hari, seorang Muslim harus menanam biji kurma hari ini. Dan kelak, kita bisa berharap, sebutir biji kurma, sejengkal langkah, bahkan sebersit niat perbuatan akan bersaksi di hadapan Allah, bahwa kita telah berusaha menjadi khalifah yang menjaga kehidupan dan meneruskan kebaikan.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*