Tajuk

Wajah Kolonialisasi Israel di Palestina

Posted: 15/12/2017 at 09:00   /   by   /   comments (0)

Gelombang imigrasi pertama kaum Yahudi ke Palestina terjadi pada tahun 1882. Saat itu tak lebih dari 5.000 penduduk Yahudi menetap di Palestina dan menganggap al-Quds sebagai tanah yang dijanjikan untuk kaum ini. Pada tahun 1903, imigran Yahudi meningkat tajam menjadi sekitar 20.000 jiwa.

Setelah penjajahan Inggris yang menguasai Palestina pada 1 Oktober 1917, Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, Lord Balfour menjanjikan pada kaum Yahudi akan memberikan tanah yang nantinya akan mereka jadikan sebuah negara. Selanjutnya, peristiwa ini disebut dengan Perjanjian Balfour.

Saat Perjanjian Balfour tersebut, tak kurang 56.000 warga Yahudi sudah menetap di Palestina. Kala itu total penduduk Muslim dan Kristen di Palestina sebanyak 644.000 jiwa. Artinya penduduk Yahudi kurang lebih sebesar 8% dan sisanya, 92% adalah penduduk Palestina yang beragama Muslim dan Kristen. Tanah yang dimiliki kaum Yahudi pun tak lebih dari 2% dari keseluruhan wilayah di Palestina.

Tapi data yang mengejutkan ditunjukkan oleh Faris Glubb dalam bukunya, Zionist Relation with Nazi Germany. Dalam buku tersebut, Glubb seorang sejarawan dan juga sastrawan Inggris membeberkan , para tokoh Zionis sebenarnya melakukan konspirasi bersama dengan pemimpin Nazi dengan tujuan Nazi akan menggirim kaum Yahudi bermigrasi ke Palestina. Sebagai contoh, Glubb menyebutkan, pada tahun 1932, imigran Yahudi Jerman ke Palestina tercatat sebanyak 9.000 orang. Pada tahun 1933, saat Adolf Hitler berkuasa dan memimpin Nazi jumlah imigran Yahudi Jerman meningkat beberapa kali lipat menjadi 33.000 orang. Tahun berikutnya, 1934, kembali bertambah menjadi 40.000 orang. Tahun 1935, meningkat sangat besar menjadi 61.000.

Sebagai perbandingan, Glubb mengutip angka, pada tahun 1931 jumlah penduduk Yahudi di Palestina tercatat sebanyak 174.616 orang. Tapi jumlah tersebut, hanya dalam kurun waktu delapan tahun saja, jumlahnya meningkat menjadi 445.457 orang Yahudi yang bermukim di Palestina.

Angka penduduk Yahudi meningkat pesat, terutama berbarengan dengan perang yang terjadi di tahun 1948. Jumlah penduduk Palestina 2.065 jiwa atau sekitar 61% dan sisanya 650.000 jiwa atau 31% adalah kaum imigran Yahudi yang menguasai tanah Palestina. Kaum imigran ini difasilitasi dan dilindungi oleh Inggris.

Tanah yang dirampas kaum Yahudi, mulai dari 2% meningkat menjadi 5.66% dan dengan alasan mandat dari penguasa Inggris kaum Yahudi akhirnya menguasai dan merampas 11% tanah milik warga Palestina pada tahun 1948. 11% tanah tersebut terdiri dari 191 perkampungan di tujuh kota terpisah. Kekerasan demi kekerasan mulai sering terjadi dan pelan-pelan rakyat Palestina mulai tergusur dengan pasti.

15 Mei 1948, warga imigran Yahudi dengan paksa mendeklarasikan keberadaan negara Israel. Deklarasi ini terjadi hanya dalam hitungan jam setelah kerajaan Inggris menyatakan melepas Palestina. Perang pun pecah. Tentara Zionis yang dari awal memang sudah dirancang memiliki persenjataan yang lengkap berhasil mengusir tak kurang dari 160.000 warga Palestina dari tanahnya sendiri.

Setelah itu, Zionis Israel menguasai 77.4% dari keseluruhan tanah di Palestina. Imigran Yahudi dari segala penjuru bumi datang untuk menempati tanah yang sudah dijanjikan.

Pada tahun 1949 strategi yang dijalankan oleh kelompok Zionis Israel membagi wilayah kekuasaan Palestina menjadi dua bagian. Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dua daerah yang didukung dua pemerintahan terpisah. Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur didukung oleh pemerintahan Yordania, sedangkan Jalur Gaza didukung oleh pemerintah Mesir.

Perang besar terjadi lagi pada bulan Juni 1967. Zionis Israel mencoba mencaplok dua daerah penting, pegunungan Sinai dan dataran tinggi Golan. Tahun itu, tanah bangsa Arab yang dirampas mencapai 89.359 kilometer persegi, empat kali lipat dari tanah yang dikuasai sebelum perang terjadi.

Pasca perang tahun 1967, tercatat sebanyak 410.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan tanahnya. Mereka menghindari pembantaian massal yang sering dilakukan kaum Zionis Israel.

Kolonisasi yang dilakukan Zionis terhadap dua wilayah Palestina, Tepi Barat dan Jalur Gaza awalnya adalah sebuah proyek bernama “Kfar Atssion”. Proyek ini pula yang akhirnya memisahkan rakyat Palestina di dua wilayah yang terpisah.

September 1993, Perjanjian Oslo digelar. Sebuah perjanjian yang memasung rakyat Palestina, dan hal itu disetujui oleh dunia. Rakyat Palestina hanya menguasai beberapa wilayah saja, termasuk menyatukan kota Jericho dengan Gaza. Artinya, hanya 1.5% saja tanah yang dimiliki rakyat Palestina. Dan kaum penjajah, Israel, menguasai selebihnya. Meski disetujui pembagian wilayah, di dalam beberapa kota milik Palestina pun Israel masih membangun beberapa pemukiman dan pos keamanan.

Berdasarkan sensus populasi pada tahun 2000, kini tanah Palestina dihuni sekitar delapan juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 4.3 juta lainnya adalah warga Yahudi yang datang dari penjuru dunia termasuk, Rusia, Eropa dan Afrika.

Perkembangan Jumlah Wilayah Pendudukan Israel

Pada tahun 1972, Israel membangun perkampungan sebanyak 1.500 titik
Tahun 1983, jumlahnya meningkat menjadi 29.900 perkampungan
Tahun 1992, perkembangan dan perampasan tanah gila-gilaan terjadi, dan komunitas Yahudi menempati tak kurang dari 109.784 titik perkampungan
Data terakhir pada tahun 2001, jumlah perkampungan kaum Yahudi sebanyak 213.672 titik di seluruh tanah al-Quds.

Bahkan, sejak berlangsungnya agresi militer Israel ke Libanon Selatan mulai awal Mei 2006, diam-diam warga Yahudi Amerika dan Eropa melakukan eksodus dan pindah ke Israel. Dalam satu hari, tak kurang 220 Yahudi bisa diterbangkan oleh Maskapai Penerbangan El Al-ke wilayah Israel.

Gelombang migrasi ini berlangsung sejak awal serangan Israel ke Palestina dan Libanon, khususnya bagian selatan. Setiap hari, di bandara John F. Kennedy, New York, bisa dijumpai keluarga-keluarga Yahudi Amerika yang menunggu giliran untuk boarding menuju Israel. Saat ditanya wartawan New York Times, apakah mereka tidak khawatir dengan perkembangan keamanan di Timur Tengah, salah satu keluarga menjawab dengan enteng, mereka justru exciting. “Saya tidak gugup, keluarga kami tidak gugup sama sekali. Kita berhati-hati, tapi tidak khawatir,” ujar Ken Sheff, salah seorang Yahudi Amerika yang akan pindah ke telah mendapat tempat tinggal di dekat Yerusalem.

Menurutnya, dia merasa senang bisa tinggal di Israel, karena ia merasa dirinya dan keluarganya adalah bagian dari Israel. Sebagian dari adalah penganut Yahudi Ortodoks yang memang telah mendamba sejak lama untuk pindah tinggal di Israel. “Saya memutuskan untuk pindah ke Israel bukan karena alasan di sana akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Keputusan saya pindah, karena saya merasa bisa menemukan arti kehidupan dan berarti untuk kehidupan itu sendiri,” ujar salah seorang imigran lain, Jerrold Rappaport. Mereka percaya bahwa Tuhan Bani Israel, menghendaki mereka untuk tinggal dan membantu warga Yahudi lain yang telah lebih dulu tinggal di Israel.

Sejak merampas sebagian besar wilayah Palestina pada tahun 1948 dan dijadikan sebagai daerah kekuasaan Israel, migrasi besar-besaran telah terjadi. Diperkirakan, tahun 2006 ini sekitar 24.500 penduduk Yahudi baru dari berbagai negara akan tinggal dan menetap di Israel.

Sedangkan dari Amerika saja, sebuah lembaga yang mengorganisasi pemberangkatan warga Yahudi Amerika ke Israel, Nefesh b'Nefesh memperkirakan, akhir 2006, setidaknya mereka akan memberangkatkan tak kurang dari 10.500 orang. Sebelumnya, pada tahun 1990, sekitar 200.000 warga Yahudi yang tinggal di bekas Negara Uni Soviet telah masuk dan menjadi warga negara Israel. Maskapai penerbangan sendiri, sejauh ini merasa sangat bersyukur mampu membantu warga Yahudi Amerika untuk kembali ke Israel. “Dulu Musa keluar dari Mesir dengan berjalan kaki, syukur kami memiliki El Al saat ini, dan bisa terbang ke Israel tanpa perlu susah payah lagi,” ujar salah seorang pengelola El Al.

Dari satu fakta ini saja, Israel telah memunculkan konflik yang tak berkesudahan di wilayah Timur Tengah. Misalnya, berapa banyak wilayah negara Mesir yang dianeksasi oleh Israel? Berapa banyak wilayah Libanon, Suriah dan negara-negara sekeliling Israel. Terlebih-lebih Palestina, yang hampir seluruh wilayahnya telah sempurna dicaplok oleh Israel.

Setiap tahun jumlah penduduk Israel terus bertambah. Padatnya komunitas-komunitas Yahudi baru di wilayah ini tentu saja menuntut perluasan wilayah pemukiman. Dan tragisnya, Israel mendapatkan perluasan wilayah ini dengan kekerasan pada seluruh negara Arab yang ada di sekelilingnya.

Secara sederhana bisa disimpulkan, bahwa Israel dengan segala aktivitasnya telah memicu potensi konflik di Timur Tengah. Tak hanya itu, Israel juga telah memperluas front konflik ke berbagai penjuru dunia dengan terlibatnya Amerika. Dan konflik itu sudah mulai terasa di negeri kita.

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*