Tajuk

Zaman Fitnah Online

Posted: 10/07/2017 at 09:00   /   by   /   comments (0)

Hari ini salah satu media yang menjadi sarana fitnah paling efektif dan luas adalah media online. Pemuda-pemuda di Eropa Timur banyak yang tak melanjutkan sekolahnya pasca pemilihan presiden Amerika Serikat, karena mereka menemukan cara mencari uang dengan mudah. Membuat dan menyebarkan hoax di internet tentang pemilu Amerika, baik tentang Trump atau pun Hillary. Dan mereka mendapatkan uang dari sana. Dan ajaibnya, publik Amerika yang disebut-sebut telah dewasa soal berita, juga termakan hoax mentah-mentah.

Tak selalu hoax. Media online menjadi lapangan pekerjaan baru, salah satu sebutannya buzzer. Melalui blog, twitter, instagram, youtube, whatsapp, telegram, social media, dan semua platform media online yang ada. Ada buzzer yang bekerja untuk politik, mendukung atau menyerang seseorang. Ada buzzer yang bekerja untuk makanan, mempromosikan dan menyanjung tinggi restaurant. Ada buzzer yang menulis untuk film agar tayang lebih lama, ditonton lebih banyak orang, dan diputar di berbagai teater hiburan. Ada banyak yang bekerja zonder bayar, tapi jangan salah juga, ada banyak yang bayarannya sangat mahal. Hanya untuk satu cuitan di twiter yang tidak dalam kategori hardselling saja, jika followernya jutaan, bisa berpuluh juta untuk 140 karakternya.

ada juga yang tidak dibayar, sukarela bahkan militan, terlibat dalam pusaran pekerjaan-pekerjaan ini dan menjadi ujung tombak tanpa sadar. Namanya "broadcaster" yang menyebarkan dengan cara copas, kepada semua grup socmed yang diikuti, kepada semua kontak yang dianggapnya penting, kepada semua channel yang dia punya.

Tema-tema yang dibroadcast secara copas ini juga sangat beragam, kadang politik dan black campaign, kadang temanya seperti tentang dakwah, tapi sebenarnya sedang menyebarkan hatred speech, atau menebarkan kebencian. kadang tentang games terbaru, kadang tentang album yang baru keluar. macam-macam deh...

yang menjadi sangat krusial dalam proses ini semua adalah, semakin menjamurnya budaya copas dan semakin hilangnya kemampuan kita memeriksa. Bahkan yang lebih ajaib lagi adalah, kadang ada yang merasa sedang berjuang dan melakukan kebaikan dalam menyebarkan copas-copas itu dengan semangat yang sangat besar. Kalau hanya tentang makanan dan restaurant enak, atau tentang produk baru yang sedang hype atau film yang sedang in atau sedang fade out, mungkin masih biasa. Tapi bagaimana jika copas dan broadcast itu tentang nasib dan hidup seseorang atau orang banyak?

Contoh kongkretnya Radio Silaturahim. Tak pernah reda fitnah yang beredar. Disebut radio syiah, radio siluman, bukan radio sunnah, tidak sesuai syariah. Macam-macam, dan kadang yang belum pernah mendengarkan radio ini pun, semangat sekali menyebarkan broadcast.

Kita sering bersemangat forward dan broadcast, tanpa mengetahui apalagi mempelajari, apakah yang disebarkan benar atau salah, fakta atau fitnah. Jika fakta, tentu dan pasti tidak akan mendalam karena sifatnya instant dan permukaan. Tapi jika fitnah, maka sungguh berbahaya, mudah dan cepat menyebar, susah dihentikan, dan berdampak luas tanpa bisa ditarik kembali.

Fitnah online ini, bisa jadi tentang politik, kadang-kadang tentang gosip artis, tapi tak jarang juga tentang urusan dan masalah agama. Menyebarkan kebencian, seolah-olah sedang memperjuangkan kebenaran.

Setiap kali ingin menyebarkan sesuatu melalui sosial media, berhentikan sejenak dan tanyakan pada diri sendiri. Apakah ini benar atau salah? Jika salah, hentikan segera. Jika benar, ajukan pertanyaan lagi, apakah baik atau buruk? Jika buruk, jangan diteruskan. Tapi jika baik, tanyakan sekali lagi, bermanfaat atau tidak? Jika tidak, segera tinggalkan. Jika bermanfaat, maka bacalah bismillah, semoga Allah memberikan kebaikan.

Tapi jangan-jangan kita nggak perlu khawatir juga. Jangan-jangan ingatan kita pada banyak hal dan hil juga akan seperti broadcast. Cepat datang, tapi juga cepat dilupakan, diganti broadcast lain yang datang lebih awal. Nanti kapan-kapan, akan datang broadcast lama yang dikirim lagi, lalu kita ramai-ramai bilang, "Itu udah ketinggalan zaman!"

Tapi yang jelas, semua tindakan dan perkataan, akan diminta pertanggung-jawaban. Maka berhati-hatilah, pada pikiran, lisan, juga jarimu yang gemar meneruskan segala sesuatu!

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website

*