Prabowo Sebut Warga Desa Tak Terdampak Dolar, Ekonom: Semua Bisa Kena Imbas!

Cibubur, Rasilnews – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menuai sorotan dan kritik dari sejumlah pengamat ekonomi. Dalam keterangannya, Prabowo menyebut masyarakat pedesaan tidak menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari sehingga dampak pelemahan rupiah dinilai tidak terlalu dirasakan secara langsung.

Namun, pandangan tersebut dinilai kurang tepat oleh sejumlah ekonom. Mereka menegaskan bahwa meskipun masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, kebutuhan pokok dan berbagai komoditas penting tetap bergantung pada impor yang menggunakan mata uang dolar.

Diketahui, nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS pada Jumat (15/05). Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang, biaya produksi, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Meski demikian, Prabowo menilai ketahanan ekonomi Indonesia masih relatif stabil, terutama pada sektor pangan dan energi.

“Pelemahan rupiah di atas Rp17.600 per dolar AS mulai berdampak pada kenaikan harga bahan baku impor dan biaya distribusi. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, energi, hingga transportasi yang dapat menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko inflasi nasional,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pakar ekonomi dan analis pasar modal, Prof. Ferry Latuhihin. Menurutnya, kenaikan dolar tetap berdampak luas kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga desa.

“Kalau dolar naik, semua orang kena dampaknya, bukan cuma masyarakat kota. Impor BBM dibayar menggunakan dolar. Ketika dolar dan harga minyak dunia naik, biaya produksi ikut naik dan akhirnya dibebankan kepada konsumen,” ujar Ferry.

Ia menjelaskan, kenaikan kurs dolar berpengaruh terhadap harga berbagai kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, kedelai untuk tahu dan tempe, hingga jagung dan beras impor.

“Orang desa memang tidak memegang dolar, tetapi barang yang mereka konsumsi dipengaruhi harga dolar. Minyak goreng naik, gula naik, kedelai naik, itu semua dampak dari impor yang dibayar dengan dolar,” katanya.

Ferry juga menilai masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah karena daya beli mereka terbatas, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.

Pengamat menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan yang lebih komprehensif kepada publik mengenai dampak pelemahan rupiah, sekaligus memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok agar tidak semakin membebani masyarakat.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *