Jakarta, Rasilnews — Fenomena dedolarisasi yang semakin berkembang di berbagai negara serta menguatnya kelompok BRICS dinilai menjadi indikator terjadinya perubahan besar dalam tata ekonomi global. Perkembangan tersebut ditandai dengan semakin eratnya kerja sama ekonomi dan perdagangan antarnegara anggota BRICS, serta meningkatnya minat sejumlah negara untuk bergabung atau memperkuat hubungan dengan kelompok tersebut.
Kondisi itu diperkirakan dapat mengurangi ketergantungan dunia terhadap dolar Amerika Serikat yang selama ini mendominasi sistem perdagangan dan keuangan internasional. Selain itu, munculnya berbagai inisiatif kerja sama ekonomi di luar sistem berbasis dolar menunjukkan adanya upaya sejumlah negara untuk membangun alternatif dalam transaksi dan pembayaran global.
Dalam Topik Berita Radio Silaturahim, Selasa (09/06/2026), analis ekonomi dan geopolitik Ichsanudin Nursy mengatakan bahwa menguatnya BRICS merupakan salah satu tantangan terhadap dominasi dolar AS sebagai mata uang utama dunia.
“Sekarang kita melihat adanya kecenderungan negara-negara BRICS dan sejumlah negara lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam berbagai transaksi internasional. Ini menunjukkan adanya perubahan dalam peta ekonomi global,” ujar Ichsanudin.
Menurutnya, pihak-pihak yang selama ini berada dalam sistem ekonomi berbasis dolar kemungkinan akan berupaya mempertahankan pengaruhnya dalam sistem keuangan internasional. Karena itu, persaingan global diperkirakan akan semakin kompleks dan melibatkan berbagai instrumen ekonomi maupun teknologi.
Ia menjelaskan bahwa salah satu perkembangan yang patut dicermati adalah hadirnya Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital bank sentral. Sistem tersebut dinilai berpotensi menjadi bagian penting dari arsitektur keuangan global pada masa mendatang.
“CBDC bukan hanya alat transaksi, tetapi dapat menjadi instrumen yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi dunia di masa depan,” katanya.
Ichsanudin menambahkan bahwa persaingan global saat ini tidak lagi terbatas pada perdagangan barang dan jasa. Persaingan juga berlangsung pada sektor teknologi, sistem pembayaran digital, penguasaan data, hingga pengaruh terhadap kebijakan ekonomi berbagai negara.
“Persaingan sekarang bukan hanya soal ekspor dan impor, tetapi juga menyangkut teknologi, data, sistem pembayaran, dan siapa yang mampu memengaruhi arah kebijakan ekonomi global,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai Indonesia perlu memahami arah perubahan geopolitik dan ekonomi global secara cermat. Kemampuan membaca dinamika tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kedaulatan ekonomi nasional sekaligus menentukan posisi strategis Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia yang terus berlangsung.
“Indonesia harus mampu membaca perubahan ini dengan baik agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat mengambil posisi yang menguntungkan bagi kepentingan nasional,” kata Ichsanudin.
Menurutnya, pergeseran kekuatan ekonomi global yang sedang terjadi perlu direspons melalui penguatan kapasitas ekonomi nasional, peningkatan daya saing teknologi, serta penyusunan kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan sistem keuangan dan perdagangan internasional. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang muncul sekaligus mengantisipasi berbagai tantangan dari perubahan ekonomi dunia.