Jakarta, Rasilnews — Dalam situasi ekonomi masyarakat yang kian terhimpit, Dewan Penasihat Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ustaz Drs. Muhammad Jazir Asp, mengajak umat Islam untuk kembali meneladani Rasulullah SAW dalam membangun kesejahteraan.
“Memang kita harus belajar kepada Rasulullah, bagaimana rakyat membangun kesejahteraannya sendiri melalui masjid, tanpa bergantung pada pemerintah,” ujar Ustaz Jazir usai ditemui Radio Silaturahim saat takziyah di kediaman almarhum Fikri Thalib, aktivis kemanusiaan penyandang disabilitas yang wafat pada usia 63 tahun.
Menurut Ustaz Jazir, sejarah mencatat bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW, dua imperium besar dunia, Persia dan Romawi, tidak memberi manfaat nyata bagi rakyat. Sebaliknya, Rasulullah menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat — bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan, ekonomi, dan penguatan sosial.
“Kalau pemerintah hanya merepoti rakyat, maka tinggal saja. Kita bisa membangun kesejahteraan melalui masjid,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa para pendiri bangsa sejatinya telah meletakkan dasar pengelolaan ekonomi sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945. Pasal itu menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Rakyat harus mengaudit seberapa besar sumber alam kita benar-benar untuk rakyat. Kalau kurang dari 50 persen, pemerintah harus diturunkan karena tidak melaksanakan konstitusi,” ujarnya.
Menurutnya, amanat konstitusi tersebut sejalan dengan prinsip wakaf dalam Islam, yakni mengelola kekayaan untuk kepentingan umat, bukan hanya segelintir elite.
Gagasan Ustaz Jazir bukan sekadar wacana. Melalui pengelolaan Masjid Jogokariyan Yogyakarta, ia membuktikan bahwa masjid dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.
Masjid Jogokariyan dikenal luas berkat manajemen keuangannya yang transparan, program sosial-ekonomi berbasis jamaah, hingga pemberdayaan warga sekitar melalui koperasi, usaha mikro, dan pengelolaan dana umat yang berkelanjutan.
Setiap Ramadan, misalnya, masjid ini menyajikan ribuan porsi buka puasa gratis yang seluruh biayanya ditopang partisipasi jamaah, tanpa menunggu bantuan pemerintah. Prinsip “kas masjid harus nol” yang diterapkannya — memastikan dana infak dan wakaf kembali sepenuhnya kepada jamaah dalam bentuk program — menjadi bukti nyata bahwa masjid dapat hadir sebagai solusi kesejahteraan umat.
Ustaz Jazir mengingatkan agar umat tetap solid, kritis terhadap pemerintah, dan terus meneladani semangat Rasulullah dalam membangun kemandirian.