Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:04 [musik] 0:08 Rasil TV 0:10 [musik] 0:17 [musik] 0:22 [musik] 0:27 [musik] 0:32 [musik] 0:36 Bismillahirrahmanirrahim. 0:37 Assalamualaikum warahmatullahi 0:39 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:41 rahimakumullah. 0:43 Bagaimana kabar? Sehat? Aman? 0:45 Terkendali? Alhamdulillah. 0:47 Hari ini kita kembali bersama-sama di 0:50 acara 0:52 mudah-mudahan acara 0:54 bincang komunikasi ini akan membuat kita 0:57 semakin mampu 1:00 menjadikan perjalanan hidup kita 1:03 penuh dengan 1:05 komunikasi yang positif yang akan 1:07 mendukung langkah kita menjadi lebih 1:08 ringan 1:10 dan tidak lupa salam selawat kita 1:12 lantunkan untuk junjungan umat kekasih 1:14 kita Muhammad Rasulullah sallallahu 1:17 alaihi wasallam. Semoga kelak kita 1:19 mendapatkan syafaat beliau dan 1:21 dipertemukan dengan beliau di saat yang 1:23 sangat kita rindukan di yaumil akhir. 1:26 Ikhwan akhwat, narasumber kita seperti 1:28 biasa di minggu pertama adalah Dr. Laila 1:32 Mona Ganiem. 1:34 Beliau sudah hadir di sini, 1:37 siap untuk mempersuasi kita terkait 1:40 dengan bahasan 1:42 tadi tuh sebelum kita on air, itu 1:45 bagaimana ya? 1:47 Dalam sebuah perkawinan komunikasinya 1:50 oke, diawali dari sebelum menikah atau 1:52 bagaimana? Nah, persisnya seperti apa? 1:54 Nanti kita tanyakan kepada beliau. Tapi 1:57 sebelumnya informasi ini kayaknya perlu 1:59 disampaikan bahwa Dokter Leila Mona 2:02 Ganin itu menjadi dosen yang mempersuasi 2:07 anak-anak muda kita untuk membuat 2:09 Indonesia lebih bercahaya di Universitas 2:11 Indonesia, di Universitas Mercu Buana 2:14 dan juga di London School Public 2:16 Relations. 2:17 Oke, beliau sudah hadir di sini. 2:18 Assalamualaikum warahmatullahi 2:20 wabarakatuh. 2:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:22 wabarakatuh. Halo. 2:23 Ah, sudah lama enggak ketemu ya. Sehat 2:25 ya tapi ya. 2:27 Kangen. 2:27 Banget. 2:28 Jadi ngomong-ngomong soal komunikasi 2:30 sebelum perkawinan itu penting banget 2:33 pakai pangkat 10 ya. 2:35 Iya. 2:36 Ada ada lagu jangan-jangan dulu. 2:40 Na na na na na na ya. 2:42 Jangan nikah dulu. 2:44 Sebelum 2:45 berdiskusi soal 2:47 Enggak. 2:47 bahasan-bahasan A B C D. 2:49 Komunikasi. 2:49 Oke. Jadi Ikhwan akhwat, yuk kita 2:52 dengarkan sepenuh rasa, sepenuh hati, 2:56 dengan telinga jiwa kita. Apa nih yang 2:58 kita perlukan sebelum perkawinan? 3:01 Komunikasi seperti apa? Yuk kita simak. 3:04 Terima kasih. Halo semua. 3:07 Eh, senang sekali ketemu lagi hari ini. 3:10 Assalamualaikum 3:12 warahmatullahi wabarakatuh. 3:14 Waalaikumsalam. 3:15 Eh, jadi ikhwan dan akhwat yang 3:16 dirahmati Allah, nikah itu bukan cuma 3:21 melalui modal cinta 3:24 tapi modal kecakapan hidup bersama. Ini 3:29 sebuah kecakapan yang dipelajari gitu. 3:34 Eh, maka kita akan mendiskusikan 3:38 eh, bagaimana 3:40 eh, mengenali gaya berkomunikasi ya. 3:44 Sori. 3:46 Gaya berkomunikasi 3:48 pasangan kita, gaya berkomunikasi kita 3:50 sendiri, kemudian bagaimana membahas 3:53 hal-hal yang dianggap tabu begitu ya. 3:56 Eee, ini penting ya terutama hal-hal 3:59 yang dianggap tabu. 4:01 Terus gimana cara mengelola konflik gitu 4:03 ya kepada pasangan kita untuk 4:06 menghindari supaya 4:08 hubungannya menjadi harmonis 4:10 atau tidak rusak gitu ya. 4:13 Nah, Ikhwan dan Akhwat, yuk kita bahas 4:15 satu-satu. 4:18 Kapan sih mulai menjalin hubungan yang 4:21 sehat? 4:23 Ini tidak dimulai pada saat akad nikah 4:26 atau perkawinan berlangsung, tapi jauh 4:30 sebelumnya kita sudah sudah 4:32 mempersiapkan itu dengan sebaik-baiknya. 4:35 Karena banyak konflik dalam hubungan 4:38 eee, ingat ya konflik ada dalam setiap 4:41 hubungan yang penting. Kan hubungan 4:43 perkawinan ini penting banget gitu ya. 4:46 Maka 4:47 pasti ada konflik. 4:49 Pasti ada konflik. 4:51 Eee, bukan karena kurangnya rasa sayang 4:55 tapi karena salah paham, karena dua 4:58 orang beda 5:00 eee 5:01 kepribadian, beda eee, apa namanya latar 5:07 belakang, beda pengasuhan, beda 5:10 pekerjaan, beda jenis kelamin gitu ya. 5:13 Eee, kemudian juga eee, bisa jadi karena 5:17 kesalahpahaman, karena asumsi-asumsi 5:20 eee, kemudian ketidakmampuan untuk 5:22 menyampaikan pikiran dan perasaan secara 5:25 tepat gitu ya. Itu juga bisa jadi 5:27 masalah. 5:29 Dan satu lagi di era digital ini gitu 5:33 ya, tantangan komunikasi makin kompleks. 5:37 Mulai dari miskomunikasi karena pesan 5:41 singkat atau pesan yang eee, apa namanya 5:47 beda makna, beda persepsi, kecemburuan 5:51 karena media sosial, sampai sulitnya 5:54 ngebahas topik-topik penting yang sering 5:57 dianggap tabu. Ini juga, ya. Jadi, 6:02 perlu bekal komunikasi, 6:04 keterampilan komunikasi, karena 6:07 ee, keterampilan komunikasi yang sehat 6:10 sebagai fondasi 6:13 yang 6:15 penting untuk membangun hubungan saling 6:17 menghargai, nyelesaiin konflik secara 6:20 dewasa, kemudian nyiapin kehidupan 6:23 berkeluarga yang harmonis 6:25 sekarang dan masa depan. 6:27 [mendengus] 6:28 ee, 6:29 ee, Ikhwan dan Akhwat, ada yang beredar 6:33 di pelatihan, 6:35 di buku populer, di konseling, talk 6:38 show, yang bilang bahwa 70% komunikasi 6:42 menyumbang keberhasilan pernikahan. 6:47 Nah, 6:48 ee, 6:50 ini 6:52 belum tentu 6:54 tepat, begitu ya. Jadi, ee, mari kita 6:57 lihat ada riset yang 7:00 ee, menjelaskan, model yang menjelaskan 7:03 sekitar 76% 7:05 variasi kepuasan ee, pasangan. Jadi, 7:09 bukan bukan modelnya, modalnya adalah 7:13 komunikasi, komunikasi, komunikasi 7:14 doang, begitu ya, tetapi 7:17 ee, 76% kepuasan dalam hubungan. Nah, 7:22 ini ada penelitian dari ee, apa namanya, 7:26 Armanta Hurtarte, tahun 2008, 7:31 iya, dia bilang bahwa 7:33 kombinasi pola komunikasi pasangan, 7:36 komunikasi yang positif, komunikasi 7:38 negatif, dan 7:40 ee, keterbukaan diri, gitu ya, bisa 7:43 menjelaskan 7:45 76% 7:46 variasi kepuasan pasangan dalam 7:49 ee dalam perkawinan begitu ya. Kemudian 7:53 jadi bukan berarti 76% 7:56 komunikasi terjadi dalam perkawinan 7:59 tetapi kualitas interaksi komunikasi itu 8:03 ee bisa membuat orang puas gitu ya. Jadi 8:08 ee ini untuk mengingatkan. Kenapa? 8:11 Karena karena ee bukan cuman kita 8:15 ngobrol-ngobrol-ngobrol, bahkan ada yang 8:18 ee me menyatakan demikian bahwa isi dari 8:21 perkawinan itu ngobrol-ngobrol-ngobrol, 8:23 enggak kok. Ee itu juga ee ekonomi 8:26 penting gitu ya, 8:27 [tertawa] 8:27 pemahaman dan lain sebagainya itu juga 8:30 penting. 8:32 Ee kemudian ee 8:35 komunikasi itu juga ee berpengaruh, ada 8:41 riset yang 8:42 bilangnya lebih kecil dari itu gitu ya. 8:45 Ee mungkin sekitar 19-20% 8:48 ee ee keterampilan komunikasi ee 8:52 interpersonal mem berpengaruh pada 8:54 kepuasan pernikahan. Faktor-faktor lain 8:56 yaitu ekonomi, stres, nilai, nilai-nilai 9:01 keyakinan, dukungan, kemudian juga 9:04 kepribadian, relasi seksual, 9:07 pembagian peran antara suami dengan 9:09 istri itu juga berpengaruh gitu ya. 9:11 Emm jadi ee ju kita perlu ee pandai 9:17 berkomunikasi tetapi ee di dalam 9:19 perkawinan itu unsurnya lumayan banyak 9:22 gitu ya. Unsur komunikasi penting tetapi 9:24 unsur lain juga lumayan banyak. Yuk kita 9:27 bahas gimana sih komunikasi yang baik 9:30 sebelum menikah gitu ya. 9:33 Ee 9:35 ee kita tidak membahas tentang pacaran 9:38 ya. 9:39 [tertawa] 9:41 Yang siap menikah. 9:42 Siap menikah, he eh. 9:44 Nah, gimana pacarannya? Pacarannya pakai 9:46 taaruf deh gitu ya. Eh, eh, 9:51 apa? Eh, saya bukan ahli taaruf tetapi 9:53 ini interpretasi taaruf yang saya pahami 9:55 begitu ya. 9:57 Eh, jadi taaruf itu menurut saya keren. 10:00 Eh, eh, taaruf adalah model perkenalan 10:04 yang eh, ada 10:06 terstruktur gitu ya. Jaga batas-batas 10:09 syariat, kemudian juga ada pihak ketiga 10:13 yang sebagai mediator. 10:15 Bisa jadi orang tua, bisa jadi tokoh 10:17 agama, bisa jadi eh, ustaz dan lain 10:20 sebagainya gitu ya. Jadi, 10:22 taaruf itu bertukar informasi secara 10:26 objektif. Jadi, enggak enggak enggak 10:28 kalau kalau pacaran itu kan kita lebih 10:30 ke subjektif. Aku suka sama dia deh 10:32 karena gini gini gini gini. Tetapi, 10:35 taaruf itu lebih kepada informasi 10:37 objektif gitu. 10:39 Eh, melalui biodata, ada proposalnya, 10:44 eh, apa visi pernikahannya, 10:46 riwayat kesehatannya, kemudian latar 10:49 belakang keluarga, 10:51 sifat baik, sifat buruk, background-nya, 10:54 karakternya dan lain sebagainya. Ini 10:57 penting untuk diketahui sehingga oke, 11:00 ini kayaknya aku cocok deh sama dia deh 11:02 gitu ya. Jadi, lebih ke objektif instead 11:05 of eh, subjektif. Nah, kalau pacaran tuh 11:08 kan nanti subjektif subjektif subjektif. 11:11 Yang objektifnya 11:12 Hilang. 11:13 ketutup gitu ya. Nanti baru tuh eh, 11:17 setelah menikah baru kaget-kaget. Eh, 11:19 eh, oh, kok kayak gini ya? Kok kayak 11:21 gitu ya gitu. Nah, 11:23 jadi eh, cara mengenal karakter eh, 11:28 karena pertemuan langsung dibatasi gitu 11:33 ya dan juga didampingi pengenalan 11:36 karakter melalui pertanyaan-pertanyaan 11:38 kritis yang spesifik tentang prinsip 11:41 hidup, bagaimana mengelola keuangan, 11:44 pembagian peran dalam rumah tangga. Jadi 11:48 di sini minim bias emosional atau 11:52 kebutaan 11:54 karena cinta gitu ya. Jadi penilaiannya 11:58 jadi rasional dan objektif dibandingkan 12:02 emosional dan subjektif gitu. Eee ini 12:05 penting. 12:06 Eee bisa jadi pilihan eee untuk kita 12:10 dalam 12:11 memau memasuki dunia pernikahan. 12:15 Kemudian yang kedua adalah selain dari 12:17 taaruf tadi gitu ya, ada diskusi 12:20 terencana. 12:22 Yaitu eee 12:25 bisa bisa misalnya sengaja luangin waktu 12:30 buat ngebahas topik-topik yang penting 12:33 gitu ya, yang sering dianggap tabu 12:35 sebelum menikah. Nanti kita akan bahas 12:38 topik-topik apa aja gitu ya yang 12:40 dianggap tabu yang perlu dibahas. Oke 12:43 later on. Jadi yang pertama tadi 12:45 pendekatannya taaruf, yang kedua ada 12:47 sesi diskusi terarah atau di dalam 12:49 taaruf ada diskusi terarah tadi begitu 12:52 ya. Eee jadi dengan itu ada buka keterbu 12:55 eee ada ruang untuk terbuka dari awal 12:59 sampai enggak ada kejutan buruk setelah 13:03 menikah begitu ya. 13:05 Kemudian berikutnya adalah kita bisa 13:08 melakukan kita bisa kombinasikan 13:09 semuanya menjadi eee aktivitas 13:13 yang 13:14 eee keren sebelum memasuki dunia 13:16 pernikahan. 13:17 [mendengus] 13:18 Pengamatan 13:20 pada lingkungan lingkungan hidup dari 13:24 calon kita gitu ya. 13:27 Karena kan kita tuh kan enggak kenal 13:29 sama misalnya kalau enggak kenal kan 13:32 jarang ya yang tetangga sudah kenal 13:34 dekat dan lain sebagainya gitu ya 13:35 menjadi calonnya, tetapi ini adalah 13:37 orang yang enggak dikenal. Maka kita 13:39 bisa mencari lingkup-lingkup di mana dia 13:42 dibesarkan, bagaimana dia memperlakukan 13:45 orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia 13:48 ngomong, bagaimana dia memperlakukan 13:50 ibunya, bagaimana dia memperlakukan 13:52 keluarganya, bagaimana dia berinteraksi 13:56 sama pelayan di restoran, juga bagaimana 13:59 pertemanannya, siapa saja yang jadi 14:01 temannya, ee konflik dengan ee temannya 14:06 seperti apa 14:08 ee dari remaja dari kecil dia gimana, 14:10 remaja gimana, dewasa gimana, itu 14:13 diamati, itu juga ee menarik sekali ya. 14:17 Jadi itu akan mengurangi risiko 14:21 ee manipulasi emosional atau atau atau 14:25 topeng-topeng gitu ya yang kesannya tuh 14:28 keren banget ee padahal pada saat 14:31 setelah melakukan memasuki dunia 14:33 pernikahan kita enggak tahu gitu. 14:36 Cara lain dalam mengenal seseorang 14:39 selain tadi taaruf, kemudian ee ada 14:42 project ada ada apa namanya ee diskusi 14:47 terarah atau juga dengan mengenal 14:50 lingkungannya, juga dengan ee terlibat 14:53 dalam sebuah project bersama ngerjain 14:55 sesuatu barengan gitu ya jadi tahu oh 14:58 karakternya kayak gimana, gaya dia 15:00 berkomunikasi, gimana dia ngelola 15:03 stresnya, 15:04 gimana dia menghadapi 15:06 tantangan-tantangan kalau ada ee 15:09 kesulitan-kesulitan, 15:11 bagaimana ee apa namanya kerja sama 15:13 dengan tim 15:15 bagaimana kepanitiaan, bagaimana dia ee 15:19 berbisnis, bagaimana dia menjadi 15:21 berperan dalam relawan, apakah dia 15:24 asertif, agresif, pasif agresif atau eee 15:28 apa namanya pasif begitu ya. 15:31 Dan ini memberikan gambaran yang lebih 15:34 jelas bagaimana kita mengenal seseorang 15:37 gitu. 15:38 Jadi jadi 15:40 eee daripada gitu ya. 15:42 Ehe. 15:43 Pacaran-pacaran gitu ya, kita perlu eee 15:46 mempertimbangkan 15:48 eee strategi-strategi tadi mengenal 15:51 seseorang. Nah, sekarang gaya 15:53 komunikasi. 15:54 Eee Ikhwan dan Akhwat, kita akan 15:56 ngelihat eee dari gaya komunikasi dulu 15:58 Mbak Nunung ya. 15:59 Ehe. 16:00 Eee kan kita tahu nih gaya komunikasi 16:03 ada empat. Satu 16:05 agresif. 16:07 Eee dua pasif agresif gitu ya. Eee 16:12 agresif itu yang dia ngerasa di atas 16:15 eee orang lain di bawah, dia 16:16 memperlakukan orang lain di bawah. Pasif 16:18 agresif, dia ngerasa 16:22 di atas tapi enggak berani-berani amat. 16:24 Jadi nyindir-nyindir gitu ya. Orang lain 16:27 di bawah tapi enggak di bawah-bawah amat 16:29 begitu ya. 16:31 Kemudian pasif ya, eee orang yang eee 16:36 menempatkan diri dia di bawah gitu ya. 16:39 Eee atau submisif ya. Dan yang paling 16:43 bagus adalah asertif gitu ya. Jadi kita 16:46 baca nih eee sebelum menikah ini saat 16:51 saat kita mengenal dia eee 16:54 be be gaya gaya komunikasi ini kesannya 16:57 kayak sepele gitu ya. Eee ah 17:00 eee gua udah suka sama dia deh. Jadi 17:02 eee yang lain tuh eee apa hilang gitu 17:06 ya. Itu kalau tadi pakai gaya pacaran 17:09 eee yang cenderung eee subjektif dan 17:13 emosional. Bedain sama yang 17:15 pendekatan-pendekatan yang tadi saya 17:17 tawarkan yang lebih eee objektif dan 17:20 rasional begitu ya. 17:23 Nah, setelah menikah gaya seseorang 17:26 menyampaikan perasaan, menghadapi 17:29 konflik, mengungkapkan kebutuhan akan 17:34 sangat berpengaruh pada kualitas 17:36 hubungan dalam pernikahan tersebut 17:38 begitu ya. 17:39 Jadi banyak pasangan sebenarnya 17:43 bertengkar bukan karena masalah besar 17:45 tapi karena gaya dia berkomunikasi bisa 17:47 jadi begitu ya. 17:49 Ada yang langsung marah-marah. Ada yang 17:53 pilih diam. Ada yang nyindir-nyindir 17:56 begitu ya. Ada yang langsung mampu 17:59 menyampaikan perasaan dan pikirannya 18:02 dengan jelas. Nah, ini dia kita lihat 18:04 kategori-kategori seperti itu. Sebaiknya 18:07 untuk memahami pasangan kita perlu 18:10 memahami gaya komunikasi diri sendiri 18:12 kita dulu. Kita harus memahami diri cara 18:14 saya berkomunikasi 18:16 dan cara orang-orang yang ada atau 18:19 pasangan kita berkomunikasi begitu ya. 18:23 Nah, 18:24 cara mengenal diri kita berkomunikasi 18:27 maka kita bisa menggunakan jurnal 18:31 selama satu minggu. Kita tulis tuh. Kita 18:34 tulis tuh. Oh, saya ngadepin ini, 18:37 menghadapi satu situasi reaksi saya itu 18:41 kayak gimana. 18:43 Jadi kita bisa menyimpulkan oh dia itu 18:46 gaya atau saya gayanya itu asertif, gaya 18:50 saya agresif, gaya saya pasif agresif, 18:53 gaya saya pasif. Itu bisa kita lihat 18:57 begitu ya. Kita bisa memetakan gaya saya 19:00 sehingga si saya ini bisa juga belajar 19:05 lebih jauh gaya pasangan begitu. Kita 19:08 cari tahu kalau kita ngalamin situasi 19:12 yang bikin kecewa, bikin marah, bikin 19:15 cemburu atau enggak setuju sama orang 19:18 lain, reaksi kita seperti apa? Kita 19:20 pelajari. Nah, 19:22 yuk kita lihat ya gaya pasif atau 19:25 submisif yang kita merasa kita di bawah 19:28 begitu ya. Itu diam dan mendiamkan atau 19:32 memendam begitu ya. Ciri-cirinya sulit 19:36 bilang enggak. 19:38 [tertawa] 19:38 Atau juga menghindari konflik atau juga 19:41 lebih sering ngalah demi menjaga 19:44 hubungan atau menyimpan perasaan sendiri 19:48 gitu ya. Misalnya eh pacar atau pasangan 19:53 calon tadi 19:55 eh sering batalin janji misalnya gitu 19:58 ya. Tapi 20:00 jawabannya adalah ya udah deh enggak 20:02 apa-apa gitu. Berarti ini orangnya 20:05 adalah pasif atau submisif begitu ya. 20:09 Eh [mendengus] padahal sebenarnya dia 20:09 kecewa. 20:11 Nah, implikasi pada perkawinan adalah 20:16 perasaan yang terus dipendam begitu ya 20:19 bisa rubah jadi kekecewaan 20:22 berkepanjangan 20:24 dan akhirnya meledak pada saat yang 20:27 tertentu. 20:28 Saat yang tidak tepat bisa jadi gitu ya. 20:31 Maka 20:33 eh menjaga perasaan orang lain itu apa? 20:36 Penting. Tetapi kebutuhan dan perasaan 20:39 diri kita sendiri juga perlu di 20:43 sampaikan. 20:44 Nah, yang kedua yang tadi pasif itu atau 20:48 submisif menempatkan diri di bawah. 20:51 Sekarang yang agresif menempatkan diri 20:54 di atas gitu ya. 20:56 Jadi menyerang. 20:58 Sret gitu ya. Nah, ciri-cirinya gampang 21:02 banget marah, nada bicaranya tinggi gitu 21:05 ya. 21:06 nyalahin, ngerendahin orang lain, ingin 21:10 menang sendiri, dia yang paling benar. 21:12 Contohnya ketika temannya atau seseorang 21:15 yang eee bakal jadi calonnya itu gitu 21:20 ya. 21:21 Lambat 21:23 balas pesan. 21:24 "Kamu emang enggak pernah peduli sama 21:27 aku." gitu ya, misalnya. 21:30 Risikonya dalam perkawinan nantinya 21:34 pasangannya takut 21:36 enggak dihargai, males dia terbuka itu 21:40 gitu. 21:41 Maka menyampaikan 21:44 ketidaksetujuan 21:45 boleh tapi tidak dengan menyerang harga 21:49 diri orang lain. "Kan kamu emang enggak 21:51 pernah peduli sama aku." itu itu 21:54 itu dead end gitu ya, 21:57 [tertawa] 21:57 nyebelin banget. Sekarang yang ketiga 22:00 adalah pasif agresif, nyindir, mutung 22:04 gitu ya, enggak ngomong secara langsung, 22:07 nyindir-nyindir, 22:09 ngediemin pasangan, kasih hukuman 22:12 emosional gitu ya. Waktu eee calonnya 22:16 tadi milih kumpul sama teman-temannya, 22:19 ya udah deh, "Temanmu emang lebih 22:21 penting daripada aku." gitu ya, 22:23 nyebutnya kayak gitu atau eee enggak 22:27 balas pesan berhari-hari, itu juga salah 22:29 satu dari bentuk pasif agresif. 22:32 Risikonya adalah masalah tidak pernah 22:36 benar-benar selesai 22:38 karena pasangan harus menebak-nebak apa 22:41 yang dirasakan dan ini bikin capek deh 22:45 gitu ya. 22:46 Orang lain enggak selalu bisa baca 22:49 pikiran kita karena orang bukan pembaca 22:51 pikiran. Perasaan itu perlu diungkapkan 22:55 secara jelas. 22:58 Kemudian yang bagus adalah yang asertif. 23:03 Jujur, tegas, menghargai. [berdehem] 23:06 Di antara berbagai gaya komunikasi, 23:11 eee komunikasi asertif adalah gaya yang 23:15 paling mendukung hubungan yang sehat dan 23:19 langgeng. Komunikasi asertif berarti 23:23 bisa menyampaikan pikiran, perasaan, 23:27 kebutuhan, batasan diri secara jujur dan 23:31 jelas tanpa merendahkan atau menyakiti 23:37 orang lain. 23:38 Seringkali 23:40 eee orang mengira bahwa 23:43 eee ngomongin ketidaksetujuan 23:46 atau buat mereka 23:49 eee apa namanya menyampaikan apa adanya, 23:52 itu kesannya dianggap kasar, dianggap 23:56 egois, atau tidak menghargai orang lain. 23:59 Enggak kok, gitu ya. Jadi, bahkan 24:02 akhirnya memilih diam. Ya sudah deh, 24:04 daripada aku takut kalau dianggap kasar, 24:06 dianggap padahal ngomongin perasaan, 24:08 pikiran, dan perasaan sebenarnya. 24:10 Padahal ada juga yang menganggap tegas 24:14 itu harus disampaikan. 24:18 Eee tetapi tidak dengan marah-marah 24:21 atau maksa. Jadi, komunikasi asertif itu 24:26 ada di tengah-tengah. Berani 24:28 mengungkapkan pikiran dan perasaan, 24:31 tetapi tetap 24:33 menghormati lawan bicara. 24:35 Dan ciri-cirinya adalah 24:38 bisa bilang iya, bisa bilang tidak 24:41 dengan jelas, berani mengungkapkan 24:44 perasaan tanpa nyalahin, gitu ya, kepada 24:47 calon ini, menghargai pendapat orang 24:50 lain meskipun berbeda, 24:52 tidak memaksakan kehendak, fokus pada 24:55 solusi, bukan cari siapa yang salah gitu 24:59 ya. Dan ini penting sekali. Misalnya, 25:02 misalnya. 25:03 Eee seorang 25:06 calon kita ini ngajak pergi 25:09 sampai 25:11 eee 25:13 malam banget mau ujian, misalnya begitu 25:16 ya. 25:17 Eee ini balik lagi tadi didampingi ya 25:19 ceritanya. 25:20 Heeh, [tertawa] heeh. 25:21 [mendengus] 25:21 Nah, kalau 25:24 eee pasif 25:26 "Ya udah deh, saya ikut." Padahal 25:28 besoknya mau ujian nih gitu ya. "Ya udah 25:30 deh, saya ikut." Gitu ya. 25:32 Kalau agresif, "Kamu emang enggak pernah 25:34 mikir ya." 25:35 [tertawa] 25:36 Kalau asertif "Makasih ya udah ngajak, 25:39 tapi aku perlu belajar untuk ujian 25:42 besok. Mungkin lain kali aku bisa ikut." 25:45 Gitu. 25:46 Jadi jelas aja gitu ya. Kalau enggak 25:48 enggak enggak apa namanya kecewa sama 25:51 pasangan gitu ya. 25:53 Eee 25:54 eee calon tadi suka datang tanpa kasih 25:58 kabar atau datang datangnya telat tanpa 26:01 ngasih kabar misalnya. 26:03 Agresif itu "Kamu ya emang egois." Gitu 26:06 ya. Itu yang agresif. Kalau pasif 26:09 diam-diam bae 26:11 dan memendam kesalnya gitu ya. Tapi 26:14 kalau asertif 26:18 "Aku emang kecewa 26:19 waktu harus nunggu tanpa kabar. 26:23 Aku lebih nyaman 26:25 kalau kamu ngasih tahu lebih dulu 26:27 kalau kamu memang akan terlambat. Jadi 26:30 aku bisa ngelakuin hal-hal yang lain 26:31 gitu." 26:33 Eee begitu kira-kira. Nah 26:36 eee Mbak Nunung, setelah ini kita akan 26:38 ngebahas 26:40 eee apa aja sih yang dibahas gitu ya 26:43 dalam perkawinan. 26:44 Iya, kalau tadi 26:46 tentang bagaimana komunikasinya, apakah 26:49 agresif, pasif agresif, atau pasif, atau 26:53 asertif, itu kita belum ngomongin kalau 26:56 kita mau menikah apa saja sih yang 26:57 diobrolin, apa saja sih yang dibahas. 26:59 Itu tadi, itu tadi Mbak Nuning, penting 27:02 untuk kita tahu saya ini gayanya kayak 27:04 gimana dan pasangan saya gayanya kayak 27:05 gimana. 27:07 Sehingga kita jadi bisa memperbaiki 27:10 diri, he eh, kalau kita pakai pasif 27:14 terus atau aser, eh, apa, submisif gitu 27:16 ya, terus kita ngerasa, "Oh, ini bakal 27:18 rugi nih kalau kayak begini nih." Nah, 27:21 maka kita perbaiki diri kita. 27:23 Bagaimana jadi asertif? 27:24 Bagaimana jadi asertif? 27:25 Dan itu bisa dipelajari. 27:26 Bisa dipelajari, bisa diberanikan diri 27:29 kita ngelihat, "Oh, yang ternyata ini 27:30 jauh lebih baik." Jadi, kita belajar 27:32 untuk berani untuk mengungkapkan dan 27:35 eh, ini. Terus pasangan yang ini 27:37 orangnya kualitas, kualitasnya bagus 27:39 ini, tapi ini gayanya kayak begini nih, 27:41 ya sudah di, diajakin untuk ke sana, 27:44 latihan untuk menyampaikan begitu. 27:46 Pemahaman dia itu orang seperti apa, 27:49 akan sangat membantu kita untuk tahu 27:52 bagaimana menghadapinya. 27:54 Betul. 27:54 Ngomel-ngomel bukan berarti jahat 27:56 Betul. 27:57 atau dia suka, eh, apa ya, 28:00 kelihatannya sih nyebelin, siapa tahu 28:02 itu adalah bagian dari, eh, karakter 28:05 dalam berkomunikasinya yang sebetulnya 28:07 bisa di perbaiki. Oh, yes, keren banget. 28:11 Kalau [mendengus] misalnya sudah masuk 28:12 pertanyaan, boleh ya? 28:14 Boleh, boleh, boleh. 28:15 Oke, ini 28:15 Satu dulu ya, karena nanti habis ini 28:17 Paling tidak itu, ini dari Bung Lian 28:20 yang ada di Jakarta ya, he eh. 28:23 Assalamualaikum, Dokter. Izin tanya 28:25 dong. 28:26 Kalau yang disebut toxic relationship 28:29 itu gimana ya? 28:31 Didiemin? 28:33 Misalnya saja 28:34 gimana? Apakah bisa termasuk kalau 28:37 polanya berulang? 28:38 Kalau didiemin jadi diam, gimana itu 28:41 sebenarnya? Apa sih motivasinya kok 28:44 orang bisa sampai seperti itu? 28:47 Eh, hubungan yang toksik itu ngeganggu, 28:51 ya. Eh, ini bikin kita cemas, ya. Bikin 28:56 kita juga jadi bingung, bikin kita juga 29:00 enggak bisa jujur gitu, ya. Merasa 29:03 eh, terus-menerus eh, 29:05 berada di situasi yang uncertain, di aja 29:09 di ujung tanduk terus gitu, ya. Eh, 29:12 merasa dikekang. Eh, mungkin contoh 29:15 toksik-nya adalah kasus eh, Jupiter dan 29:19 eh, siapa namanya? Tami Hidayat itu, ya. 29:22 Itu di medsos luar biasa heboh. 29:25 heboh banget itu, ya. Itu toksik, ya. 29:27 Toksik banget itu, ya. Jadi, dikekang 29:30 atau juga eh, minta maaf juga jadi salah 29:34 gitu, ya. 29:35 He eh. 29:35 Eh, disalah-salahin. Itu itu bahaya itu, 29:40 ya. Toksik. Eh, maka mmm, yang perlu 29:43 kita lakukan adalah balik lagi tuh, ya. 29:46 Toksik-nya apa sih? Toksik-nya itu 29:49 mungkin dari gaya komunikasinya. Tapi, 29:51 kualitas sumber daya manusia-nya. 29:53 Oke. 29:54 Oke, misalnya gitu, ya. 29:56 Ya udah, kita perbaiki aja. Kenapa 29:58 toksik itu terjadi? Mungkin karena dia 30:00 cemburu dan cara dia cemburu itu 30:02 menyampaikannya enggak dengan baik. Coba 30:04 di di makanya balik lagi, ya. 30:06 Kalau mmm, eh, dalam proses mengenal 30:09 seseorang sebelum masuk pernikahan, 30:12 mendingan yang rasional 30:15 dan eh, 30:16 Jujur, apa adanya. 30:18 [tertawa] 30:19 Objektif. 30:19 Objektif. 30:21 Kalau emosional dan subjektif, 30:24 He em, he em. 30:25 nanti kita-nya termakan oleh cinta, 30:28 terus kita pegang cinta mulu gitu, ya. 30:31 Yang 30:31 mabuk kepayang sampai kita susah keluar 30:34 dari situ. Bukti cinta adalah mau 30:37 melakukan A, B, C, D. Nah, nanti 30:39 terperangkap terus dan kita akhirnya eh, 30:42 pada saat kita mau masuk dunia 30:44 pernikahan atau malah enggak jadi 30:46 menikah atau nanti setelah masuk dunia 30:49 pernikahan kita terperangkap dalam ee 30:52 situasi yang tidak sehat itu gitu. Jadi 30:54 kalau kita objektif dan kita rasional 30:57 gitu ya, maka kita ngejaga 30:59 masing-masing, kita lihat nih orangnya 31:01 kayak gimana ya, sumber daya manusianya 31:03 kayak gimana ya, bibit bobot bobot deh 31:05 gitu ya, orangnya kayak gimana latar 31:08 belakangnya dan ee ee apa namanya 31:11 kualitas dirinya dan lain sebagainya. 31:14 Setelah itu ee ternyata ini gaya 31:17 komunikasinya nih. Nah, coba kita bisa 31:20 enggak perbaiki gaya komunikasinya, kita 31:24 mengajak dia bergaya komunikasi yang 31:27 asertif, kita mengajak diri kita bergaya 31:30 komunikasi yang asertif, enak deh 31:32 kayaknya perkawinannya. Yang 31:34 toksik-toksik tadi ya 31:36 itu tadi dihitung-hitung lagi gitu. 31:39 Belajar dan belajar ya. 31:40 Iya, he eh. 31:41 Boleh lanjut dulu? 31:42 Boleh lanjut dulu ya. 31:44 Jadi Iwan dan Nahwat, kenapa tuh 31:46 komunikasi penting dalam persiapan 31:48 pernikahan? 31:50 Setelah pernikahan itu pasangan akan 31:54 menghadapi banyak sekali keputusan 31:56 penting. Gimana ngatur keuangan, 31:58 mengatur peran dalam ee perkawinan, 32:01 merawat orang tua, mendidik anak, 32:04 prioritas karir dan keluarga, semua itu 32:08 dan lain-lain. 32:10 DST-DST gitu ya, butuh kemampuan 32:13 berkomunikasi dalam menyampaikan 32:16 kebutuhan dan harapan, pikiran dan 32:18 perasaan secara terbuka. Seorang yang 32:20 enggak biasa berkomunikasi asertif 32:23 mungkin akan terus ngalah gitu yang tadi 32:26 yang yang submisif dan pasif gitu ya. 32:29 Untuk pengelolaan keuangan keluarganya 32:31 sampai sebenarnya dia keberatan atau 32:34 orang yang terlalu agresif misalnya, 32:37 mungkin maksain pendapatnya 32:40 tanpa mempertimbangkan pasangan. 32:42 Ini penting sekali, ya. Ini penting 32:44 sekali. Gaya berkomunikasi ini penting 32:47 sekali, eh Ikhwan dan Akhwat, ya. 32:49 Keduanya itu berpotensi untuk konflik 32:52 jangka panjang nih. Jadi, jadi yang 32:54 cinta jadinya makin enggak cinta, makin 32:56 sebel, makin eh udah deh, gitu loh. 32:59 Nah, komunikasi asertif membantu 33:01 pasangan bilang, "Saya punya kebutuhan 33:05 eh dan pendapat yang penting, tapi saya 33:07 juga menghargai kebutuhan dan pendapat 33:09 Anda." Jadi, ketika kita sudah bisa 33:11 berkomunikasi secara asertif, ini akan 33:14 bagus sekali. Itu perlu dilatih, ya. 33:17 Nah, eh Ikhwan dan Akhwat, yang kedua 33:20 adalah bagaimana kita menjadi 33:24 eh rekan ngobrol yang menyenangkan. 33:28 Gimana, ya, jadi teman ngobrol yang 33:30 menyenangkan? Modal sederhana untuk 33:33 perkawinan yang langgeng adalah tadi, 33:36 teman ngobrol yang menyenangkan adalah 33:38 yang asertif, gitu ya. Nyaman. 33:41 Perkawinan itu bukan hanya tentang 33:44 tinggal serumah, tapi bagaimana 33:48 keterampilan ber ber hidup bersama 33:51 setiap hari, ya. 33:54 Eh setelah masa perkenalan sebelum 33:57 pernikahan sudah selesai, pasangan akan 33:59 lebih banyak ngobrol tentang pekerjaan, 34:02 keluarga, keuangan, anak, kesehatan, 34:07 bahkan hal-hal yang sederhana 34:10 yang terjadi sehari-hari. Karena itu, 34:12 kemampuan menjadi rekan ngobrol yang 34:15 menyenangkan sering kali lebih penting 34:19 daripada kemampuan menjadi pembicara 34:21 yang hebat. 34:23 Jadi, apa yang dimaksud rekan ngobrol 34:24 yang menyenangkan? 34:26 Eh kita bisa didengar, 34:29 bisa dipahami, 34:31 bisa dihargai, 34:33 merasa aman untuk bercerita. Jadi, kita 34:37 perlu menjadi teman ngobrol yang 34:38 menyenangkan. Tadi 34:40 ee ketika berbicara kita asertif, 34:44 sekarang kita orang yang mendengarkan 34:47 pasangan kita, kita perlu memperhatikan, 34:50 kita dengar dia, kita pahami dia, kita 34:53 hargai dia, kita membuat dia merasa aman 34:56 bercerita. Itu penting. Ya. Ee ketika 35:00 seseorang merasa aman untuk bercerita, 35:02 hubungan tuh makin dekat. Jadi, ketika 35:06 setiap cerita disambut dengan kritik, 35:09 nasehat yang ee 35:12 enggak diminta atau penghakiman, orang 35:15 jadi bikin jarak gitu hubungannya. Coba 35:17 lihat dua situasi ini ya. 35:20 Pasangan yang enggak nyaman bercerita. 35:22 Ehem. 35:23 Ee suami 35:25 pulang kerja dan bilang, "Hari ini aku 35:29 dimarahi atasan." 35:32 Pasangan yang 35:36 langsung ngejawab kayak begini, "Makanya 35:39 kerjanya yang benar." Atau "Kamu sih 35:42 kurang teliti." Atau "Sudah kubilang 35:45 dari dulu." Gitu ya. Mungkin niatnya 35:48 baik, tapi respon itu bikin malas 35:51 ngobrol lagi gitu. 35:53 Nah, lama-lama jadi komunikasinya jadi 35:57 menghindar atau dangkal gitu ya. 36:00 "Kerjanya gimana?" "Biasa." Gitu ya. Ee 36:03 banyak hal yang sebenarnya ingin 36:05 diceritakan, tapi enggak berani 36:06 bercerita. 36:07 Kemudian 36:08 ini situasinya pasangan yang 36:11 ee didengar dengan baik gitu ya, merasa 36:13 didengar. 36:15 "Pulang kerja, hari ini aku dimarahi 36:17 atasan." Kata dia gitu ya. 36:20 "Wah, pasti enggak enak ya. Apa sih yang 36:22 terjadi?" 36:24 Respon sederhana itu buat pasangan 36:26 merasa mau di mau mau bercerita, merasa 36:28 diterima, merasa didengar gitu ya. 36:31 Masalahnya belum tentu selesai, tapi 36:35 hubungannya makin kuat karena ada 36:38 dukungan emosional. Penting sekali dalam 36:40 perkawinan dukungan emosional dari 36:42 pasangan kita. 36:44 Kebiasaan yang bikin orang nyaman 36:46 ngobrol itu dengerin dan memahami bukan 36:50 untuk menjawab. Banyak orang 36:53 mendengarkan sambil nyiapin jawaban. 36:56 Padahal seringkali orang ingin 36:58 didengerin loh. 37:00 Misalnya, "Aku capek banget." 37:04 "Nurus kuliah dan kerja." 37:06 Misalnya begitu ya. 37:08 "Ah, aku lebih capek lagi." Gitu ya. 37:10 [tertawa] 37:12 Padahal respon yang lebih baik adalah 37:15 "Kayaknya kamu sedang banyak tekanan 37:16 ya." Gitu. 37:19 Eee. Yang kedua adalah yang perlu kita 37:21 lakukan enggak terlalu cepat menghakimi 37:24 gitu ya. 37:26 Misalnya 37:27 "Aku pernah buat kesalahan yang sampai 37:30 sekarang masih aku sesali." Dia ngomong 37:33 kayak gitu ya. 37:35 Langsung dihakimi 37:37 dia mungkin enggak akan mau terbuka 37:38 lagi. 37:40 Gimana kalau kita bilang 37:43 "Makasih ya udah jujur cerita." 37:47 "Boleh enggak aku pahami situasi 37:49 situasinya dulu sampai kamu bikin 37:50 kesalahan itu?" 37:52 Jadi dia enggak merasa dihakimi. 37:54 Atau 37:56 nyimpen ponsel. Ini kan gimana caranya 37:59 bikin pasangan nyaman hubung ngobrol 38:01 sama kita kan tadi 38:03 cara kita ngobrol yang baik seperti apa, 38:06 sekarang bikin supaya pasangan nyaman 38:07 ngobrol sama kita. 38:08 Kita simpan 38:10 eee ponsel 38:12 waktu mau ngobrol gitu ya. Banyak orang 38:15 di era digital sibuk 38:18 main ponsel 38:19 jadi cerita dari pasangan itu enggak 38:22 penting, dan ini bisa mengurangi 38:24 kedekatan emosional. 38:25 Kemudian 38:27 kita perlu menunjukkan ketertarikan 38:29 pada kehidupan pasangan kita. 38:32 Eh, misalnya gimana 38:35 presentasinya tadi? Gimana ngantornya 38:38 tadi? Apa yang bikin kamu senang nih 38:41 minggu ini? Atau apa yang kamu pikirin 38:44 sekarang-sekarang ini gitu ya. 38:47 Itu 38:48 nunjukin eh, keinginan untuk 38:50 mendengarkan, keinginan untuk memberikan 38:52 perhatian. Kamu paling suka makanan apa 38:54 ya 38:55 sekarang ini gitu ya. 38:56 Iya, iya, iya. 38:57 Heeh. 38:58 Eh 39:00 banyak pasangan muda membayangkan bahwa 39:04 tantangan perkawinan terbesar adalah 39:06 ekonomi dan perbedaan karakter. Tetapi 39:09 masalah komunikasi ini penting gitu ya. 39:12 Eh, meskipun masalah-masalah lain juga 39:15 signifikan di dalam perkawinan karena 39:18 eh, urusan teknisnya itu eh, seperti 39:21 membangun 39:22 perusahaan atau organisasi begitu ya. 39:25 Eh 39:26 eh, masalah membesar karena pasangan itu 39:30 enggak lagi merasa nyaman 39:32 ya. 39:34 Eh, menyampaikan diskusi dengan kita 39:38 gitu ya. 39:39 Kalau sejak masa remaja sudah terbiasa 39:42 jadi pendengar yang baik 39:44 maka kita bisa menghargai orang lain, 39:47 bisa menciptakan 39:49 eh, percakapan yang nyaman, aman gitu 39:52 ya. Mengurangi kekhawatiran 39:55 atau juga 39:57 eh 39:58 nyaman ngomongin masalah keuangan gitu 40:00 ya, kebutuhan, harapan dan lain 40:03 sebagainya. 40:05 Eh 40:07 satu yang juga penting Mbak Nuning, 40:09 yaitu tentang hal-hal yang tabu. Boleh 40:11 kita bahas sekarang Mbak Nuning? 40:13 Ini nih. 40:14 hal yang mau didiskusiin dulu? 40:16 Eh, lanjut dulu aja karena tabu itu 40:18 penting banget ya. 40:18 [tertawa] 40:19 Oke. 40:21 Ini sulit dibahas, ya, saat pacaran atau 40:24 saat dekat dengan seseorang. Biasanya 40:27 akan lebih sulit lagi dibahas saat 40:31 perkawinan. Jadi, 40:32 [tertawa] 40:33 [terkesiap] 40:33 ini sulit dibahas waktu waktu kita 40:36 kenal, tapi sulit juga untuk ini. 40:40 Misalnya, 40:41 batasan dalam 40:44 eh, kita kenal sama pas calon pasangan 40:46 kita dan tekanan seksual. 40:49 Itu juga, ya. Banyak remaja merasa 40:52 enggak enak nolak ketika pasangannya 40:54 meminta atau seseorang yang dekat 40:57 meminta sesuatu yang membuatnya tidak 40:58 nyaman. 41:02 Eh, kalau ini bertentangan dengan nilai 41:05 dan keyakinan, 41:07 berani enggak saya nolak? 41:09 He em. 41:09 Nah, itu [berdehem] dia, ya. Itu perlu 41:11 di Bagaimana kalau pasangan menganggap 41:13 cinta itu harus dibuktikan dalam 41:17 hubungan seksual, misalnya begitu. 41:20 Eh, ini topik yang penting, gitu ya. 41:25 Karena kemampuan untuk bisa menetapkan 41:28 batasan-batasan 41:29 kita, ini dasar hubungan yang sehat. 41:33 Pasangan yang menghargai batasan 41:36 satu sama lain, itu cenderung membangun 41:39 hubungan yang lebih aman dan menghormati 41:42 setelah pernikahan. Jadi, 41:45 Ayah dan Nahwat yang 41:49 dirahmati Allah, hati-hati ini penting 41:51 sekali membangun batasan 41:54 dan berani menyampaikan. 41:57 Kemudian yang kedua adalah pandangan 41:58 tentang peran suami-istri. 42:01 Banyak pasangan ributan, konflik, bukan 42:05 karena kurang cinta, 42:07 tapi karena punya harapan berbeda 42:09 tentang peran dalam rumah tangga. 42:13 Apakah istri harus mengurus rumah 42:16 selalu? 42:18 Bagaimana kalau istri punya karir dan 42:20 lebih sukses? Gimana gimana tuh? 42:23 Apakah pekerjaan rumah adalah tanggung 42:25 jawab bersama? 42:27 Ini topik-topik yang harus disepakati 42:30 Ikhwan dan Akhwat ya. Ini penting karena 42:33 setiap orang dibesarkan dalam budaya 42:36 keluarga yang beda-beda. 42:38 Iya. 42:39 Membicarakannya 42:40 sejak awal 42:43 itu 42:44 membantu mencegah kekecewaan setelah 42:48 kita menikah. Jadi bahas 42:51 dengan baik dan sesuaikan dengan diri 42:54 kita. Kita ini maunya seperti apa? 42:56 He em. 42:57 Apakah ini cocok apa enggak gitu. 42:59 Kemudian isu tentang uang, hal tabu yang 43:02 juga 43:03 penting. Uang dan pengelolaan keuangan. 43:06 Banyak orang ngerasa enggak sopan 43:10 He em. 43:10 bahas gaji atau kondisi keuangan sebelum 43:14 menikah. 43:15 Padahal keuangan adalah salah satu 43:18 sumber konflik terbesar 43:21 He em, nah. 43:22 dalam rumah tangga. 43:24 Bagaimana cara mengelola penghasilan 43:27 setelah menikah? 43:29 Apakah ada utang yang perlu diketahui 43:31 oleh pasangan? 43:33 Apakah lebih nyaman punya rekening 43:36 bersama atau terpisah? 43:39 Nah, membicarakan uang 43:41 bukan berarti materialistis. 43:45 He em. 43:45 Ini justru 43:48 menunjukkan kesiapan untuk membangun 43:51 kehidupan bersama secara realistis. 43:56 Kemudian juga tentang tanggung jawab 43:59 pada orang tua. 44:00 Dalam budaya Indonesia, hubungan dengan 44:04 keluarga besar itu sering jadi 44:09 eh sesuatu yang memang masih kuat 44:12 setelah menikah gitu ya. Beda sama 44:14 budaya Barat. Budaya Timur atau budaya 44:17 Indonesia atau 44:19 eh Islam terutama juga sangat kuat. 44:23 Kalau orang tua sakit dan butuh bantuan 44:26 biaya, gimana sikap kita? 44:29 Itu pembahasan yang tepat sebelum 44:32 menikah. 44:33 Apakah setelah menikah masih perlu 44:35 membantu kebutuhan keluarga? 44:36 Didiskusikan. 44:38 Topik ini penting karena ini menyangkut 44:41 prioritas, 44:43 tanggung jawab, 44:45 dan pengelolaan keuangan di masa depan. 44:48 Kemudian rencana punya anak. 44:51 Sekarang sudah cukup banyak orang yang 44:53 akhirnya memilih untuk tidak memiliki 44:56 anak. Gitu ya. Jangan sampai itu 44:58 pembahasannya nanti setelah menikah, 45:00 mendingan sebelum ini. Sebagian orang 45:03 menganggap pembahasan ini terlalu jauh 45:06 saat masih dalam tahap persiapan 45:09 pernikahan. 45:10 Padahal 45:13 perbedaan pandangan tentang anak 45:16 bisa memicu konflik besar 45:21 di kemudian hari. 45:22 Jadi 45:23 eh contoh pertanyaannya adalah 45:27 eh 45:28 apakah kita sama-sama ingin punya anak? 45:33 Kapan 45:35 waktu yang dianggap tepat? Of course ini 45:37 juga ada hubungannya dengan eh apa 45:41 namanya eh pemberian dari Allah. Tetapi 45:45 eh ini bisa kita diskusikan. 45:47 Bagaimana kalau ternyata belum bisa 45:49 punya anak? 45:52 Ternyata tidak 45:54 dititipi anak oleh Allah Subhanahu wa 45:56 Ta'ala. Apa yang terjadi? 45:58 Tujuannya bukan mencari jawaban yang 46:00 pasti, tapi memahami 46:03 bagaimana harapan dan kesiapan 46:05 masing-masing. 46:08 Kemudian tentang isu kesehatan fisik 46:12 dan mental. 46:13 Banyak orang merasa malu untuk 46:16 membicarakan kondisi kesehatan karena 46:18 takut ditolak atau takut dihakimi. 46:21 Apa ada riwayat penyakit yang perlu 46:24 diketahui oleh pasangan? 46:25 Iya. 46:26 Bagaimana cara saya 46:28 menghadapi stres atau tekanan emosional? 46:32 Keterbukaan dalam kesehatan 46:37 bisa membantu 46:39 pasangan membangun kepercayaan dan 46:41 mempersiapkan dukungan yang mungkin 46:45 dibutuhkan di masa depan. 46:48 Kemudian pembahasan tentang konflik 46:50 dan kekerasan dalam hubungan. 46:53 Ini topik yang sering dianggap 46:57 terlalu negatif 46:58 untuk dibicarakan sebelum menikah, 47:01 padahal ini sangat penting. 47:04 Eh, kalau terjadi konflik besar, 47:06 bagaimana cara kita menyelesaikannya? 47:10 Siapa yang bisa menjadi tempat meminta 47:13 bantuan, itu juga tepat untuk dibahas. 47:17 Apa yang harus dilakukan kalau terjadi 47:19 kekerasan fisik, verbal atau psikologis? 47:23 Bahasan ini 47:25 tidak berarti mengharapkan hal buruk itu 47:28 terjadi, 47:29 tapi menunjukkan kesiapan 47:33 kita dalam menghadapi berbagai 47:35 kemungkinan secara dewasa dan 47:37 bertanggung jawab. 47:40 Kemudian ada eh, sedikit lagi tentang 47:42 media sosial karena ini adalah eh, isu 47:45 yang penting gitu ya, media sosial, 47:47 privasi dan kepercayaan. 47:49 Di generasi muda, media sosial sering 47:51 jadi sumber konflik yang tidak pernah 47:54 dialami generasi sebelumnya. 47:58 Apakah pasangan harus tahu semua kata 48:01 sandi akun medsos kita? 48:04 Ehm. 48:04 Medsos saya misalnya begitu. Apakah 48:07 boleh mengunggah semua aktivitas 48:10 keluarga di media sosial? 48:12 Itu kesepakatan. 48:14 Bagaimana kalau salah satu pasangan 48:16 merasa tidak nyaman dengan interaksi 48:18 tertentu di dunia digital? 48:21 Karena cukup banyak loh perceraian 48:22 terjadi karena digital itu. 48:24 Ehm. 48:24 Topik ini penting karena kepercayaan di 48:27 era digital itu tidak hanya dibangun di 48:30 dunia nyata tapi juga di dunia virtual. 48:37 Itu kira-kira yang utama tetapi ada hal 48:39 lain yang misalnya gimana cara 48:41 menunjukkan, 48:42 menerima kasih sayang, kebiasaan 48:45 sehari-hari, gaya hidup, kemudian juga 48:49 agama, 48:50 ehm gimana ehm kan bisa aja ya ada ehm 48:55 cara-cara praktek-praktek 48:56 Ehm. 48:57 spiritual yang berbeda gitu ya. Itu juga 49:00 cara mengambil keputusan besar, karir, 49:03 pendidikan, itu juga bisa dibahas tetapi 49:06 yang krusial-krusial yang pertama tadi 49:08 menurut saya ehm tepat untuk 49:10 dipertimbangkan. 49:11 Iya. 49:12 Itu sementara Mbak Nunung. 49:13 Wow, jadi memang persiapan itu penting 49:17 banget. 49:18 betul Mbak Nunung. 49:19 Meskipun kita tahu sih segala sesuatu 49:21 perlu persiapan tapi 49:23 karena kadang-kadang cinta dan harapan 49:26 Iya. 49:26 itu membuat kita tidak mempertimbangkan 49:29 hal semacam ini. Ini ada pertanyaan 49:32 bukan bagi yang akan menikah tapi yang 49:34 sudah menikah. 49:36 Tolong bantu saya dong, istri saya itu 49:40 tahu enggak sih selalu saja ada yang 49:42 diobrolin 49:44 padahal saya masih lelah pulang kerja. 49:46 Iya. 49:47 Benar sih tapi kan bisa nanti. Bagaimana 49:50 ya agar istri tahu kebutuhan saya yang 49:53 masih lelah ini? Tahu enggak Mbak Nuning 49:55 kalau dibilangin jawabnya "Mas lelah 49:58 cari uang, aku 50:00 enggak lelah? Lelah aku ngurusin rumah 50:01 tangga, anak-anak dan orang tua." 50:04 Harus bagaimana? 50:06 Iya. 50:06 Sebenarnya ini dua-duanya lelah. Ya. 50:09 Heeh. 50:10 Jadi ngobrolin yang berat-berat itu 50:12 entar aja itu. 50:13 Iya, heeh. Dua-duanya lelah. Jadi 50:15 dua-duanya perlu berempati. Gimana 50:17 caranya? Caranya adalah cari waktu, 50:20 menurut pendapat saya cari waktu untuk 50:22 ngobrol dan punya 50:24 kesepakatan-kesepakatan 50:27 "Aku butuh 50:29 kalau pulang kerja 50:32 Heeh. 50:32 eee 50:35 30 menit aja atau 50:38 berapa lama misalnya kita sebutkan gitu 50:40 ya untuk 50:41 Istirahat beneran, heeh. 50:43 Heeh. Enggak, jadi cooling down. Sama 50:46 saya juga kalau pulang dari kegiatan 50:48 juga rasanya 50:50 Entar dulu deh gitu. 50:51 jangan-jangan ngajak bahas yang 50:52 serius-serius dulu gitu ya, heeh. 50:54 Atau kita juga bisa sampaikan sama 50:56 anak-anak juga kadang-kadang baru datang 50:58 sudah 50:59 nguing-nguing sudah gitu ya. Jadi itu 51:01 juga mengganggu eee kita untuk enggak 51:05 jadi emosional. Maka dengan kita ngobrol 51:08 sama pasangan "Aku butuh 51:11 [mendengus] 51:11 untuk aku ngertiin kamu juga ingin 51:14 banget ngobrol dengan kerumitan di rumah 51:18 gitu ya. 51:19 Dia ingin cooling down, si ini ingin 51:22 ngomongin pikiran dan perasaannya 51:23 setelah di rumah lama dapat-dapat eee 51:26 kekasih hatinya datang gitu kan. Jadi 51:29 ingin ingin ingin curhat gitu. 51:32 [tertawa] 51:32 Jadi eee "Aku ngerti kamu itu tapi aku 51:36 butuh untuk beristirahat dulu kalau 51:38 pulang 51:40 eee dari kerja atau pulang dari luar 51:43 gitu. Jadi kasih waktu 51:46 30 menit misalnya atau 1 jam, terserah 51:48 gitu ya. 51:49 Eee baru kita boleh bahas atau kita 51:53 bahasnya sore-sore atau ini, tapi kasih 51:55 waktu dulu gitu. 51:56 Jadi yang jelas harus terbuka. 51:57 Harus terbuka. 51:58 Bukan terus sebel banget ya. 52:00 Jangan, he eh. 52:01 [tertawa] 52:01 Kan orang bukan pembaca pikiran, makanya 52:03 gaya komunikasi yang asertif itu penting 52:05 sekali. 52:07 Kalau kita tadi tadi mungkin 52:09 eee ngung-ngung grundel dalam hati, 52:12 pakai gaya submisif atau pasif. 52:14 Ehm, ehm. 52:15 Atau 52:16 langsung agresif marah, nah. Atau 52:19 nyindir-nyindir, gimana sih enggak 52:21 ngertiin aku baru pulang. Nah, itu 52:24 eee gaya komunikasi yang tidak baik. 52:27 Penting sekali untuk kita memperbaiki 52:28 gaya komunikasi kita yang asertif. 52:30 Ehm. 52:31 Jadi cari waktu untuk ini. 52:34 Itu sengaja enggak sengaja 52:36 bikin orang memendam perasaan enggak 52:38 suka ya, kalau kita 52:40 bersikap seperti itu. Iya, iya. 52:44 Kalau tadi dari seorang pria, ini dari 52:46 seorang ibu, Bu Nita. 52:48 Ehm. 52:50 Tolong deh. Suami aku tuh suka banget 52:52 motong pembicaraan. 52:54 Ehm. 52:54 Kayaknya enggak sabaran banget jadi 52:55 orang. 52:56 Ehm. 52:56 Saya enggak mau bikin salah, tapi saya 52:59 ingin didengar. Bagaimana caranya saya 53:01 memperbaiki diri? Terima kasih. 53:03 Ehm. 53:05 Eee menurut saya yang perlu dilakukan 53:07 adalah me 53:12 noted, mencatat gitu ya. 53:14 Ehm. 53:14 Situasi A, situasi B, situasi C misalnya 53:17 gitu ya, yang di mana pasangan kita atau 53:21 suami itu eee pas aku lagi ngomong ini 53:24 terus dia gini gitu. 53:26 Ehm. 53:26 Pas aku lagi ngomong ini terus dia gini. 53:28 Jadi kita tahu dia motong pembicaraan. 53:30 Titik-titiknya di mana. Heeh, dan itu 53:32 yang nanti dijadikan modal untuk 53:34 menyampaikan 53:36 bahwa aku tuh enggak nyaman loh kalau 53:38 diginiin, giniin nih gitu ya. Tetapi 53:42 cara menyampaikannya dengan asertif, 53:44 gitu. 53:45 Bukan dengan menuntut, gitu ya. 53:46 Bukan dengan [tertawa] galak-galakin, 53:48 agresif, atau juga nyindir-nyindir, 53:51 enggak. Tapi ngomong secara terbuka 53:53 sebagai informasi 53:57 eee suamiku 54:00 aku ingin ngobrol ya. 54:02 Aku ngalamin situasi kayak gini nih, A, 54:06 B, C. 54:07 Reaksi kamu kayak gitu. Atau kita eee 54:11 cari situasinya yang bikin suamiku, I 54:14 love you very much, eee gitu dulu, gitu 54:17 ya. Bikin suasananya nyaman. Jadi, gue 54:19 lagi enggak marah nih. Gue lagi ngajakin 54:22 eee apa, suami ngobrol nih, gitu. 54:25 Aku ngalamin situasi yang enggak nyaman 54:27 nih, gitu ya. 54:28 Eee 54:30 Kak, eee aku ngerasa kalau aku lagi 54:33 nyeritain sesuatu, kamu reaksinya 54:36 motong-motong. 54:37 Eee 54:39 please eee 54:42 support aku untuk enggak kayak gitu. Aku 54:44 kasih contoh ya. 54:46 Waktu peristiwa ini, kamu gini. 54:48 Peristiwa ini, kamu gini ini. Itu bikin 54:51 [berdehem] aku jadi ngerasa 54:54 eee 54:55 enggak selesai ngobrolnya, atau juga 54:58 ngerasa enggak diterima. Padahal, ak- 55:00 kamu itu orang penting untuk aku, gitu. 55:03 He em. 55:03 Jadi, eee ke 55:06 penerimaan kamu, eee eee pengertian kamu 55:10 kepada pikiran dan perasaan aku itu 55:12 penting banget. Sangat penting dalam 55:14 kehidupan ku, gitu. 55:16 Maka, aku berharap 55:19 tolong dong 55:20 dengerin aku kalau aku ngobrol, 55:23 gini-gini-gini-gini-gini, 55:24 gitu. 55:26 He em. 55:27 Dan 55:28 mungkin aku juga banyak yang kurang 55:30 tepat. 55:31 Coba coba ng- obrolin ke aku apa yang 55:34 harus aku perbaiki juga. Jadi 55:36 Minta pendapatnya juga ya. 55:39 Kadang-kadang memang ya Mbak Mona, orang 55:41 tuh pengin didengerin bukannya 55:43 dinasehatin atau dikasih solusi. 55:45 Dengerin dulu. Jadi, itu sebabnya kita 55:48 diberi telinga dua 55:49 [tertawa] 55:50 dan mulut satu ya. 55:53 Kalau eh ada hal-hal yang penting tapi 55:58 baru capek pulang kerja itu memang 56:00 sebaiknya jangan dibahas. 56:01 Betul. Betul. 56:03 Tunda. 56:03 Heeh. 56:04 Heeh. 56:05 Jangan dulu, jangan dulu. Calm down dulu 56:07 gitu. 56:08 Sepenting apapun. Pokoknya tunggu dulu 56:10 gitu ya. 56:11 Iya, heeh. Calm down dulu. Eh mungkin eh 56:16 apa namanya 56:17 beberapa saat saya 10 menit dan lain 56:20 sebagainya atau oke, terus kasih waktu 56:25 aku ada yang mau dibahas 56:28 dan cukup penting. 56:30 Kamu istirahat dulu. 56:31 Entar kalau sudah siap bilang ya gitu. 56:33 Heeh, keren banget. 56:35 Jadi 56:36 eh 56:37 memahami tentang kebutuhan 56:39 masing-masing itu memang perlu 56:41 dipelajari 56:43 dan dioptimalkan ya. 56:44 Kita life long education. Belajar seumur 56:48 hidup. 56:50 Misalnya Mbak Mona, ada sesuatu yang 56:51 sebetulnya kita takutkan untuk 56:54 menyampaikannya itu tunggu waktu yang 56:56 mana? Misalnya takut karena anak kita 56:59 yang sudah mulai 57:00 eh 57:02 remaja melakukan hal-hal yang aduh 57:04 gimana ya? 57:05 Heeh. 57:06 Ayahnya sibuk dan sebagainya. Itu 57:07 gimana? 57:09 Kalau eh eh pasangan eh apa anak kita 57:13 misalnya kita perlu ngobrol sama 57:15 pasangan kita atas masalah anak. Itu kan 57:17 perlu dibahas gitu ya. Nah, kita 57:19 benar-benar harus cari 57:22 eh waktu yang karena ini masalahnya 57:25 penting gitu ya. Misalnya eh kita 57:27 khawatir anak kita 57:29 eh pacaran sama seseorang yang tidak 57:32 sesuai misalnya begitu ya atau seseorang 57:34 yang 57:36 apa namanya kita tidak harapkan misalnya 57:38 begitu ya maka yang perlu kita lakukan 57:41 adalah 57:43 kita punya kesepakatan yang sama sama 57:45 pasangan dan cari waktu untuk ngobrol 57:48 maka 57:49 deep talk deep talk itu ya ngobrol 57:52 mendalam dan 57:54 berbagi pikiran dan perasaan itu perlu 57:56 dilakukan 57:57 di mana dilakukannya di 58:00 tempat-tempat 58:02 yang nyaman untuk semua termasuk di 58:05 antaranya di kamar tidur waktu mau tidur 58:08 dan lain sebagainya atau kalau penting 58:10 banget ya 58:12 sampaikan saja lebih dulu supaya punya 58:13 persiapan mental gitu 58:15 iya 58:17 oke lanjut dulu nanti 58:19 oke nah sekarang ini kunci membahas 58:22 topik yang sulit balik lagi ya jangan 58:27 bertujuan untuk memenangkan perdebatan 58:30 nah catat ini 58:32 tapi [tertawa] 58:33 memahami satu sama lain 58:36 karena ini sensitif 58:38 kemudian 58:40 pakai gaya komunikasi asertif 58:44 bukan menyalahkan bukan menghakimi gitu 58:47 ya atau malah 58:50 merendahkan diri enggak 58:52 perbedaan pendapat 58:55 tidak selalu berarti hubungan harus 58:58 berakhir 58:59 he em he em 59:01 ya karena konflik ada dalam setiap 59:03 hubungan yang penting 59:06 tapi perbedaan yang tidak pernah 59:09 dibicarakan 59:11 dapat menjadi masalah besar 59:13 di kemudian hari 59:15 ya 59:16 jadi 59:18 dengan adanya itu kan 59:21 ketika ada konflik kan itu tadi 59:24 kita punya punya masalah-masalah kita 59:27 sampaikan supaya meminimalisir konflik. 59:30 Atau kalau tadi itu kan 59:32 prediksi potensial konflik, gitu ya. 59:36 Kita diskusikan lebih dulu hal-hal yang 59:38 tabu untuk dibahas. Belum kejadian nih, 59:40 tapi kita sudah pikirin bakal bisa jadi 59:43 entar jadi masalah seperti itu karena 59:45 logik namanya hidup bersama, begitu ya 59:47 nantinya. Nah, sekarang kalau sudah ada 59:50 konflik, gimana caranya? 59:52 Banyak orang ngira konflik adalah tanda 59:56 hubungan enggak cocok lagi. Balik lagi, 59:59 konflik normal dalam setiap hubungan. 1:00:02 Yang penting 1:00:04 yang bedain hubungan sehat dan tidak 1:00:07 sehat 1:00:09 bukan ada atau enggak adanya konflik. 1:00:12 Tapi bagaimana pasangan berkomunikasi 1:00:15 ketika ada perbedaan. 1:00:18 Gimana ngelola konflik ketika kok kamu 1:00:21 berubah sih, gitu ya. 1:00:24 Konflik karena perbedaan prioritas, 1:00:26 misalnya begitu. 1:00:28 Waktu masih kuliah atau baru kerja 1:00:32 seorang mungkin 1:00:34 eh punya banyak prioritas baru, gitu. 1:00:37 Iya, kan? Punya tanggung jawab atau 1:00:38 prio-prioritas baru. 1:00:41 [mendengus] 1:00:42 Eh 1:00:43 seorang perempuan misalnya ya 1:00:46 eh mungkin ngerasa calon pasangannya 1:00:49 mulai jarang ngehubungin, misalnya gitu 1:00:52 ya, karena sedang fokus ngebangun karir. 1:00:55 Nah, si calonnya itu tadi merasa 1:00:59 "Aku nih sedang kerja keras untuk masa 1:01:02 depan kita." 1:01:03 He em, he em. 1:01:04 Nah 1:01:05 perempuan 1:01:07 eh merasa bahwa "Kamu sudah enggak 1:01:10 perhatian lagi." Itu kan perbedaan 1:01:12 prioritas kan, gitu loh. Masalah 1:01:14 sebenarnya bukan karena kurang sayang, 1:01:16 tapi kurang komunikasi tentang perubahan 1:01:20 prioritas. 1:01:22 Nah, dalam perkawinan kalau nanti 1:01:26 untuk memasuki perkawinan 1:01:28 setelah menikah pasangan akan terus 1:01:31 menghadapi perubahan prioritas. 1:01:35 Kerjaan, anak, orang tua, kesehatan, 1:01:39 keuangan, itu jadi prioritas. Dan 1:01:42 pasangan perlu belajar mengkomunikasikan 1:01:46 perubahan itu 1:01:48 tanpa membuat pihak lain merasa 1:01:50 diabaikan. Jadi, potensi untuk merasa 1:01:53 adanya perubahan prioritas yang tadinya 1:01:54 prioritasnya ke saya menjadi tidak ke 1:01:56 saya atau prioritas yang ini menjadi 1:01:58 tidak ini itu 1:02:00 perlu dibahas. 1:02:02 Atau misalnya 1:02:04 konflik. 1:02:08 "Kenapa kok kamu like fotonya dia?" gitu 1:02:11 ya. 1:02:13 Eh, di era digital ini bisa jadi masalah 1:02:16 nih. 1:02:17 Medsos bisa memunculkan 1:02:20 kecemburuan baru yang 1:02:24 mungkin 1:02:26 dulu enggak kayak gitu gitu ya. 1:02:27 Iya. 1:02:28 Pasangan sering ngecek aktivitas 1:02:31 media sosial. 1:02:33 Merasa terganggu karena pasangan terlalu 1:02:35 dekat sama teman lawan jenis secara 1:02:38 online, itu juga bisa jadi masalah. 1:02:41 Bandingin 1:02:42 eh, perubahan sendiri dengan pasangan 1:02:46 lain yang kelihatannya tuh pasangan lain 1:02:49 tuh sempurna banget di medsos gitu. 1:02:52 Padahal enggak kayak gitu gitu. Belum 1:02:55 tentu kayak gitu. Konflik sering muncul 1:02:59 bukan karena tindakan itu 1:03:04 ada tapi karena asumsi 1:03:08 yang enggak pernah dibahas. Jadi, 1:03:11 pelajaran penting untuk pernikahan 1:03:13 adalah kepercayaan 1:03:16 tidak 1:03:17 dibangun melalui pengawasan 1:03:19 terus-menerus, tapi melalui komunikasi 1:03:22 yang terbuka 1:03:24 tentang batasan-batasan 1:03:27 privasi, rasa aman dalam hubungan ini 1:03:29 penting sekali. 1:03:33 Konflik loyalitas, aku atau temanmu? 1:03:38 Nah, loh. 1:03:39 Iya. 1:03:41 Seseorang yang sedang dekat merasa kesal 1:03:43 karena pasangannya 1:03:45 lebih sering menghabiskan waktu sama 1:03:47 teman-temannya. 1:03:49 Pasangannya merasa 1:03:51 aku juga tetap butuh kehidupan sosial di 1:03:54 luar hubungan kita gitu. 1:03:57 Dan konflik ini sering terjadi karena 1:04:01 di awal 1:04:03 masa dewasa seseorang ketika seseorang 1:04:06 sedang membangun identitas, karir, 1:04:08 jejaring pertemanan, itu 1:04:12 mungkin saja terjadi. 1:04:14 Nah, sebelum masuk perkawinan, ini eh 1:04:17 sering terjadi. Setelah perkawinan, 1:04:19 pasangan yang sehat itu tidak menuntut 1:04:24 seluruh perhatian dari pasangannya. 1:04:27 Mereka belajar 1:04:28 menyeimbangkan hubungan dengan pasangan, 1:04:31 dengan keluarga, dengan pekerjaan, 1:04:33 dengan lingkungan sosial. Jadi, 1:04:35 eh dia enggak aduh semuanya nih 1:04:38 perhatiannya cuma sama aku nih, enggak 1:04:39 kayak gitu gitu. 1:04:43 Atau keluargaku dan keluargamu beda. 1:04:48 Misalnya ada 1:04:50 beda nilai, beda kebiasaan, beda budaya 1:04:54 begitu ya. 1:04:55 Setiap orang itu kan di 1:04:57 lahirkan dari keluarga yang dengan 1:04:59 budaya yang berbeda begitu. 1:05:03 Keluargaku itu biasa terbuka untuk 1:05:05 nyelesaiin masalah. 1:05:07 Keluarga yang menganggap masalah rumah 1:05:09 tangga enggak boleh dibicarakan, tuh ada 1:05:11 juga yang kayak gitu, gitu. 1:05:13 Atau 1:05:15 keluargaku 1:05:18 eee 1:05:19 santai dalam pengeluar penggunaan uang. 1:05:23 Keluargamu kok 1:05:24 sangat hemat, misalnya begitu ya. 1:05:26 Iya. 1:05:26 Perbedaan ini 1:05:29 sering enggak terlihat 1:05:32 waktu 1:05:33 pacaran atau waktu dekat. 1:05:35 Tetapi muncul ketika hubungan makin 1:05:38 serius. Atau ketika kita sudah mulai 1:05:40 melihat, makanya ada hal-hal yang tabu 1:05:43 itu kita perlu diskusikan. 1:05:46 Eee 1:05:47 dianggap tabu tadi gitu ya. 1:05:50 Nah, pasangan ketika pernikahan, 1:05:52 pasangan itu tidak hanya nikahin 1:05:55 seseorang. 1:05:56 Mmm. 1:05:56 Tapi dia juga lahir dengan nilai-nilai 1:06:00 budaya, kebiasaan yang dibentuk 1:06:03 oleh keluarganya sejak kecil dan itu 1:06:06 akan terbawa dalam kehidupannya. Jadi, 1:06:08 kita juga perlu memengerti. 1:06:11 Orang tuaku enggak setuju, misalnya 1:06:13 konflik restu dari 1:06:16 keluarga. 1:06:17 Kita sudah ngerasa cocok nih antara si A 1:06:19 sama si B gitu ya, si yang perempuan dan 1:06:21 yang laki-laki. Tapi keluarga 1:06:24 keberatan karena bisa jadi perbedaan 1:06:26 latar belakang, pekerjaan, budaya, atau 1:06:30 alasan-alasan lainnya gitu ya. 1:06:32 Situasi ini bikin seseorang bisa 1:06:36 terjebak pada keinginan pribadi dan 1:06:38 harapan dari keluarga. Nah, 1:06:41 di dalam eee perkawinan, kemampuan untuk 1:06:44 berdialog dengan keluarga 1:06:47 ini juga penting. Atau pasangan secara 1:06:50 dewasa 1:06:52 sangat dibutuhkan. 1:06:54 Ketika menghadapi kebutu keputusan besar 1:06:57 di dalam rumah tangga. Ini penting. 1:07:00 Urusan keluarga ini juga artinya masalah 1:07:03 dengan keluarga besar itu juga penting. 1:07:06 Eee komunikasi toksik misalnya dalam 1:07:09 hubungan, enggak pernah, enggak semua 1:07:12 konflik 1:07:14 itu adalah hal yang wajar. Ada perilaku 1:07:17 yang juga perlu diwaspadai seperti 1:07:21 eee toksik tadi ya. 1:07:23 Diemin berhari-hari 1:07:25 eee supaya dia ngerasa bersalah, itu eee 1:07:28 eee 1:07:29 apa ya? Sikap yang 1:07:31 treatment-nya diam-diaman 1:07:34 atau memanipulasi emosional misalnya 1:07:36 gitu ya. 1:07:39 "Kalau kamu sayang aku, pasti kamu bisa 1:07:41 melakukan ini." 1:07:42 Ya, yang bisa jadi boundaries tadi, 1:07:44 batasan-batasan tadi begitu ya. 1:07:46 Atau mengontrol berlebihan, ini juga 1:07:49 toksik nih. Minta 1:07:52 datang tiap saat, mengatur pergaulan, 1:07:56 membatasi hubungan dengan keluarga dan 1:07:58 teman, merendahkan pasangan. 1:08:02 "Kamu emang enggak pernah bisa apa-apa." 1:08:05 Nyelek ya. 1:08:06 Dan di dalam perkawinan 1:08:09 hubungan yang sehat dibangun atas dasar 1:08:12 rasa hormat 1:08:15 bukan rasa takut. 1:08:17 Mengenali tanda-tanda komunikasi 1:08:19 toksik sejak awal 1:08:23 sebelum masuk dunia pernikahan, itu bisa 1:08:27 membantu seseorang membangun hubungan 1:08:29 yang lebih aman dan lebih sehat. 1:08:33 Itu Mbak Donny. 1:08:33 Mmm. 1:08:35 Jadi lagi-lagi soal harus dibahas 1:08:39 sebelumnya, itu memang penting banget 1:08:42 ya. Eee, kita boleh kembali ke 1:08:44 pertanyaan ya. Ini 1:08:47 dari tidak disebut namanya 08 eee 77 1:08:51 sekian. 1:08:52 Mbak "Orang tua saya itu perlu dukungan 1:08:56 finansial dibandingkan mertua yang 1:08:58 kebetulan berke berkecukupan." 1:09:01 Heem. 1:09:01 "Bagaimana caranya menyentuh kepedulian 1:09:04 suami saya agar tidak merasa bahwa aku 1:09:08 egois ngurusin ayah ibu sendiri terus. 1:09:11 Oh, dari Ibu Surti, ya. 1:09:12 Iya, iya, iya. Iya, menurut saya 1:09:14 disampaikan saja tentang situasi itu 1:09:17 gitu. 1:09:18 Karena ketika 1:09:21 ketika pasangan itu bisa 1:09:24 balik lagi ya, komunikasi asertif ya. 1:09:27 Eee, aku punya situasi yang kayak gini, 1:09:30 gini, gini, gini gitu ya. Keluargaku 1:09:33 seperti ini. 1:09:34 Eee. 1:09:37 Punya kebutuhan untuk mendapat dukungan 1:09:39 dari anak gitu ya. 1:09:41 Ini yang terjadi. 1:09:44 Bagaimana pandangan kamu? 1:09:46 Jadi bertanya ya, bukannya iya, iya, 1:09:49 iya. 1:09:49 Bagaimana pandangan, kan, kan dia 1:09:51 apalagi ya, misalnya dia adalah eee pem, 1:09:54 pencari nafkah utama, iya kan? 1:09:56 Eee, kalau dia pencari nafkah utama, itu 1:10:00 eee ada keadilan juga yang eee dia 1:10:03 mungkin inginkan. Atau dengan kita 1:10:06 menyampaikan seperti itu 1:10:08 dia akan jadi ngerti dan akhirnya oke 1:10:10 deh, enggak apa-apa. 1:10:12 Eee. 1:10:13 Ikhlas gitu ya, bahwa oke, untuk ini 1:10:16 kita tahu bahwa kamu lebih penting, maka 1:10:20 eee kita akan berikan dukungan untuk 1:10:23 [mendengus] keluarga kamu begini, 1:10:24 begini, begini gitu. 1:10:26 Jadi nyaman saja gitu. 1:10:28 Eee. Saya tahu ini tidak mudah ya, 1:10:30 karena itu isu sensitif. Tetapi harus 1:10:33 cari waktu yang nyaman untuk 1:10:35 menyampaikannya. Kalau tidak disetujui, 1:10:38 ya sudah, yang kira-kira kira-kira eee 1:10:43 bisa apa namanya, eee kan ada ya, dana 1:10:47 untuk orang tua gitu ya. Nah, si dana 1:10:49 orang tua minimal itu gitu, minimal yang 1:10:51 disepakati saja gitu. 1:10:54 Seberapapun kebutuhannya ya, untuk aman 1:10:56 ya, oke. 1:10:57 heeh. 1:10:58 Iya. 1:10:59 Iya kan itu 1:10:59 juga ada keluarga, masing-masing punya 1:11:01 kebutuhan, ya, kan? 1:11:02 Heeh, heeh. 1:11:03 Heeh. 1:11:04 Ini ada pertanyaan, mungkin juga 1:11:06 mewakili beberapa yang lain yang dengar. 1:11:09 Saya belum menikah, tapi sudah mau akan. 1:11:13 Heeh. 1:11:13 Yang pengin saya tahu tuh bagaimana 1:11:15 ngetes dia. 1:11:17 Heeh. 1:11:18 Untuk tahu dia tuh sabar atau tulus di 1:11:21 dalam menghadapi kasus. Enaknya 1:11:25 dipancing dengan obrolan kasus apa dong, 1:11:28 biar saya tahu. 1:11:30 Heeh. 1:11:31 Iya. 1:11:31 Jadi, ngetes, ya, ngetes kesabaran atau 1:11:35 ketulusan pasangan. 1:11:36 Tanya aja, tanya aja dengan terbuka, 1:11:39 misalnya ingin ngetes tentang kasus. 1:11:43 Kalau misalnya 1:11:45 Heeh, heeh. 1:11:46 eee aku punya karir 1:11:49 yang lebih tinggi dari kamu. 1:11:53 Apa yang 1:11:55 kamu pikirkan? 1:11:57 Kalau saja 1:12:00 eee keluargaku membutuhkan bantuan dana 1:12:04 lebih besar dan kamu 1:12:06 adalah 1:12:08 eee pemberi eee 1:12:11 yang 1:12:12 kamulah yang bekerja. 1:12:13 Heeh, heeh. 1:12:14 Eee tetapi memang sedang benar-benar ada 1:12:18 kebutuhan untuk keluarga. 1:12:20 Bagaimana pandangan kamu? 1:12:23 Saya pretelin tuh semua semua 1:12:25 pertanyaan-pertanyaan itu pada saat mau 1:12:26 menikah, Mbak Nuning. 1:12:28 Oh, iya. Terus, terus? 1:12:29 Iya, saya tanya apa yang saya pikirin, 1:12:32 apa yang saya khawatirkan, saya tanyain 1:12:33 tuh. 1:12:35 Kalau kayak gini gimana? 1:12:38 Tapi pertanyaannya deskriptif, gitu. 1:12:40 Jadi, kayak per pernyataan. 1:12:42 Heeh. 1:12:42 Bagaimana ini situasinya, bagaimana 1:12:45 pendapat dirimu? 1:12:47 Situasinya ini, bagaimana pendapat 1:12:49 dirimu? Dijawab terus. 1:12:51 Nah. 1:12:52 Jadi, dengan bentuk bertanya, ya. 1:12:53 Bentuk eee pernyataan, terus bagaimana 1:12:55 pendapat kamu? 1:12:56 Oh, pernyataan ditanyakan pendapatnya, 1:12:58 ya. 1:12:58 Situasinya misalnya kayak tadi tuh. 1:13:00 Misalnya, ada keluargaku, misalnya gitu 1:13:03 ya. 1:13:04 Keluargaku membutuhkan 1:13:07 bantuan 1:13:08 lebih besar dan kamu adalah 1:13:12 pemberi ini, 1:13:13 apa yang kerja, salah satunya yang 1:13:16 kerja. Bagaimana pendapat kamu? Gitu. 1:13:19 Kan untuk tahu nih, gimana sih cara 1:13:21 berpikir dia. Kalau dia 1:13:23 kalau kan kita bisa melihat ya, ini 1:13:25 orang tulus ngomongnya apa enggak gitu. 1:13:27 Kan kita bisa menilai dengan berbagai 1:13:29 pertanyaan. 1:13:30 Jadi, 1:13:32 selain dari istikharah dan lain 1:13:35 sebagainya itu, yang saya lakukan adalah 1:13:38 menggali tuh, menanyakan A, B, C, D, E. 1:13:43 Apa jawabannya gitu. 1:13:44 Dari situ kita tahu, ya. 1:13:45 Dari situ tahu. Dari situ tahu. Oh, oke. 1:13:48 Ini nyaman. Ini enggak. Ini oke. 1:13:53 Ketika dominan nyaman, kan oke deh. 1:13:56 Kayaknya aku saja yang nyaman deh. 1:13:57 Jadi, di sini juga kita bisa mem 1:14:01 rasakan, memahami perbedaan yang ada di 1:14:04 antara kita dan dia, ya. 1:14:06 Iya, betul, Mbak Nuning. 1:14:07 Dan menghormati juga pendapat dari 1:14:11 masing-masing kita sih mestinya, ya. 1:14:13 Iya. 1:14:15 Kalau misalnya 1:14:17 ada, tunggu sebentar. Tadi ada satu yang 1:14:20 bertanya terkait dengan 1:14:23 kebiasaannya adalah mengungkapkan 1:14:25 kata-kata kasar. Saya sudah mencoba 1:14:28 untuk berusaha menjadi 1:14:31 pasangan yang 1:14:32 ikhlas dengan kekasarannya. 1:14:35 Tapi, sekarang setelah 13 tahun kok aku 1:14:40 makin lemah, ya. 1:14:42 Iya, iya, iya. Harus bagaimana? Kalau 1:14:44 orang mau sudah kasar, buka bukan 1:14:46 berarti salah ya, tapi kasar saja gitu 1:14:48 pilihannya menurut dia. 1:14:50 iya. Nah, kasar itu eee 1:14:56 eee ah, kan kan gini, kasar itu pilihan 1:14:59 katanya atau pilihan nadanya kan gitu 1:15:01 ya. 1:15:03 Ka, apakah pilihan nadanya ah 1:15:06 Yang meledak-ledak. 1:15:07 Heeh, [tertawa] 1:15:08 atau "Ayo, cepat berangkat." gitu ya, 1:15:10 gitu, heeh. 1:15:12 Eee dengan 1:15:13 eee 1:15:14 Diksi yang salah. 1:15:15 "Cepat berangkat." "Ayo, cepat 1:15:17 berangkat." gitu ya, kan beda ya, itu 1:15:19 itu nadanya. 1:15:20 Sekarang 1:15:22 eee kalau kata-katanya kasar, "Kamu ini 1:15:26 lelet." sudah sudah nadanya tinggi 1:15:29 eee pilihan katanya juga 1:15:31 Nyebelin. 1:15:31 Nyebelin gitu ya. 1:15:33 Iya, iya. 1:15:33 "Kamu ini selalu bikin eee 1:15:38 agenda terbengkalai, kamu ini lelet." 1:15:40 gitu ya, sudah nadanya ini semuanya 1:15:43 enggak nyaman gitu ya. Nah 1:15:45 eee 1:15:47 maka kita harus cek dulu apakah nada, 1:15:50 kalau nada itu biasanya karena kekhasan 1:15:53 individu atau suku dan lain sebagainya 1:15:55 gitu ya. 1:15:56 itu harus kita pahami betul. 1:15:58 Itu itu ya sudahlah gitu emang dia gitu 1:16:01 gitu, mungkin ya kalau enggak bisa 1:16:02 diperbaiki. 1:16:04 Eee tetapi kalaupun bisa kita ini kita 1:16:07 tetap sampaikan, "Saya nih enggak nyaman 1:16:10 loh dengan cara ngomong kamu yang 1:16:15 Kayak gitu. 1:16:16 nadanya ini coba dong diturunin dong." 1:16:19 misalnya gitu, itu nadanya. Tapi kalau 1:16:22 ngomong yang sudah kasar ya, berarti dia 1:16:24 mainnya agresif tadi 1:16:27 itu benar-benar perlu diupayakan dia 1:16:30 untuk disampaikan. Artinya artinya 1:16:33 disampaikannya jangan sampai bias 1:16:35 pemahamannya bahwa dia dia enggak ngerti 1:16:38 bahwa dia itu ngomongnya itu agresif dan 1:16:41 agresif itu menimbulkan saya tidak 1:16:43 nyaman 1:16:45 dan ini menimbulkan saya jadi eh menjaga 1:16:47 jarak dengan kamu. Eh implikasi dari 1:16:51 perilaku yang seperti itu membuat 1:16:54 implikasinya dia di dia juga rugi 1:16:56 sehingga dia juga mikir gitu. Cari-cari 1:16:58 deh, misalnya dia eh dengan kamu ngomong 1:17:01 yang eh keras dan pilihan katanya kasar, 1:17:05 contohnya ini-ini gitu ya. Itu membuat 1:17:09 saya jadi 1:17:11 eh enggak nyaman sama kamu, ingin 1:17:15 eh dekat, ingin 1:17:18 eh bermanja-manja sama kamu, ingin 1:17:21 menyapa, ingin ini jadi jadi berkurang 1:17:25 keinginan itu gitu. 1:17:27 Jadi dengan kita menyampaikan secara 1:17:28 terbuka itu 1:17:31 eh mudah-mudahan 1:17:34 yuk kita ini nanti noted pada saat dia 1:17:36 ngomong gitu, ayo jangan kasar ya gitu. 1:17:40 Why not? Kita coba untuk seperti itu 1:17:42 gitu. 1:17:43 Eh emang enggak enggak enggak semudah 1:17:45 itu tetapi jangan sampai 1:17:48 kita ambil posisi 1:17:51 pasif atau submissive gitu, itu 1:17:53 merugikan. 1:17:56 Ya ya he eh. 1:17:58 Belajar banyak kita nih ya ikhwan akhwat 1:18:00 terkait dengan kalau memang belum 1:18:03 menikah bisa dipersiapkan tapi kalau 1:18:05 yang sudah tetap juga harus kita 1:18:07 tingkatkan pemahaman kita. 1:18:09 Betul. 1:18:10 Oke masih ada waktu terkait dengan mohon 1:18:12 maaf atau minta maaf nih Mbak Nuning 1:18:14 tolong ditanyain deh. Kalau kita sering 1:18:17 bikin salah bolak-balik ya udah kita 1:18:19 minta maaf 1:18:22 sampai pada titik di mana 1:18:24 dia akan bilang tuh kan entar pasti 1:18:26 minta maaf lagi deh. 1:18:28 Apa yang harus saya lakukan dengan 1:18:30 kondisi perbedaan kami yang seperti ini? 1:18:33 Enggak paham. 1:18:34 Karena tadi minta maafnya maksudnya 1:18:36 kalau salah ya minta maaf kan. 1:18:38 Ya minta maaf melulu gitu kata dia ini 1:18:40 minta maaf melulu minta maaf melulu kamu 1:18:42 ini bolak-balik gitu. Jadi 1:18:44 Kitanya yang salah. 1:18:44 Heeh. 1:18:45 Nah, kita yang salah dan kita eh 1:18:47 melakukan kesalahan berulang-ulang. 1:18:49 Heeh. 1:18:50 Ya gini ya yang bisa kita kendalikan 1:18:52 adalah diri kita sendiri gitu ya kan. 1:18:55 Jadi minta maaf dulu sebelum ngomong. 1:18:57 Eh 1:18:57 [tertawa] 1:18:57 maksudnya bisa kita kendalikan adalah 1:18:59 diri kita sendiri maka yang perlu kita 1:19:01 lakukan adalah 1:19:02 jangan melakukan kesalahan upayakan eh 1:19:05 tidak melakukan kesalahan begitu. 1:19:07 Eh sehingga kita tidak perlu meminta 1:19:09 maaf gitu ya kan. 1:19:12 Eh mudah-mudahan saya enggak salah nih 1:19:14 memahaminya. 1:19:15 Heeh. 1:19:15 Kan ini kan eh pasangan kita bilang 1:19:20 balik lagi minta maaf gitu ya betul. 1:19:21 Heeh [berdehem] kalau dari bahasannya 1:19:23 tadi 1:19:24 Heeh. 1:19:24 kesannya pasangan bilang 1:19:26 Lu tuh biasa banget sih bolak-balik 1:19:27 minta 1:19:28 [tertawa] 1:19:28 Heeh salah melulu terus minta maaf 1:19:30 melulu gitu ya kan. Berarti kan karena 1:19:32 yang itu justru yang bisa kita 1:19:34 kendalikan adalah diri kita sendiri maka 1:19:36 kita upayakan untuk tidak berbuat salah 1:19:39 sehingga tidak perlu 1:19:42 eh meminta maaf begitu sama dia karena 1:19:45 memang kita sudah melakukan yang 1:19:46 terbaik. 1:19:48 Eh dan itu adalah tantangan. 1:19:52 Orang banyak yang sulit minta maaf tapi 1:19:54 ada juga yang mudah banget minta maaf ya 1:19:56 ini perbedaannya. Oke kita sudah di 1:19:58 penghujung bisa ditambahkan bagaimana 1:20:01 kalau mungkin nih jangan nikah dulu deh 1:20:03 sebelum kita melakukan 1:20:05 diskusi atau pembahasan terkait dengan 1:20:07 yang tadi disampaikan 1:20:09 oleh Mbak Nunung. 1:20:10 Setuju Mbak Nunung jadi 1:20:12 jangan nikah dulu 1:20:14 Dulu. 1:20:14 [tertawa] 1:20:16 sebelum 1:20:17 lakukan komunikasi efektif gitu ya eh 1:20:21 bahkan bahkan eh ada eh sepupu saya 1:20:25 bilang 1:20:26 kalau mau nikah bagus banget tuh ada tes 1:20:29 psikologis untuk tahu ini kepribadiannya 1:20:32 kayak gimana, kepribadiannya kayak 1:20:33 gimana, monggolah silakan dilakukan. 1:20:35 Tetapi dalam konteks komunikasi, pahami 1:20:39 gaya berkomunikasi kita, pahami gaya 1:20:42 berkomunikasi pasangan. Kalau ternyata 1:20:44 tidak asertif, coba usahakan untuk 1:20:46 menjadi asertif. Kemudian eh persiapkan 1:20:50 diri untuk menjadi pasangan yang enak 1:20:53 diajak berkomunikasi, itu adalah proses 1:20:57 eh apa ya, mau menjadi pendengar yang 1:21:00 baik, mau memahami, karena kita juga 1:21:04 setiap orang kebutuhan dasar manusia 1:21:06 adalah ingin dipahami, ingin didengar, 1:21:08 ingin diperhatikan, ingin dianggap 1:21:09 penting, dan lain sebagainya. Jadi teman 1:21:12 ngobrol yang menarik, itu penting sekali 1:21:14 dalam pasangan. Tentu saja sebagai 1:21:17 pasangan kita 1:21:19 mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan dasar, 1:21:21 iya kan? Eh menjalin perkawinan itu 1:21:24 tidak sederhana. 1:21:25 Selain dari kebutuhan-kebutuhan dasar 1:21:27 yang sudah clear itu, kebutuhan 1:21:29 komunikasi juga sangat penting. Nah, 1:21:32 untuk itu kita pastikan di dalam eh 1:21:35 sebelum kita memasuki dunia pernikahan, 1:21:37 hal-hal yang kita anggap penting untuk 1:21:40 dibahas 1:21:41 yang banyak orang merasa itu tabu, 1:21:44 tetapi itu penting untuk dibahas. 1:21:47 Beranikan diri untuk cari waktu untuk 1:21:48 membahas itu. 1:21:50 Kemudian kita juga eh eh apa namanya, eh 1:21:56 selesaikan kalau ada konflik dengan cara 1:21:59 yang sebaik mungkin. Fokus pada masalah, 1:22:02 jangan nyerang pribadi. 1:22:04 Eh gunakan gaya-gaya berkomunikasi yang 1:22:06 asertif. 1:22:07 Kesiapan menikah bukan ditentukan oleh 1:22:10 kemampuan menemukan pasangan yang 1:22:12 sempurna, 1:22:15 tapi oleh kemampuan berkomunikasi ketika 1:22:18 menghadapi perbedaan. 1:22:20 Demikian, semoga bermanfaat. Wabillahi 1:22:23 taufik wal hidayah, wassalamualaikum 1:22:24 warahmatullahi wabarakatuh. 1:22:26 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:22:28 wabarakatuh. 1:22:30 Jadi, memang ya 1:22:32 banyak hal yang harus kita pelajari, 1:22:35 kita persiapkan. Yang jelas kebiasaan 1:22:38 kita saling menyalahkan, misalnya itu 1:22:41 bisa kita pelajari. Apalagi kalau kita 1:22:45 sudah tahu banget karakter dia seperti 1:22:47 apa ketika berkomunikasi. Mudah-mudahan 1:22:50 untuk yang belum menikah coba diskusikan 1:22:54 apapun itu. Sementara untuk yang sudah 1:22:56 menikah bisa mengembangkan dengan 1:22:59 hal-hal yang yang jelas lagi orang itu 1:23:03 butuh perhatian, kepedulian ya. Apapun 1:23:06 juga. Mbak Mona, terima kasih banyak. 1:23:08 Sama-sama. 1:23:08 Dan untuk sahabat-sahabat kita, 1:23:11 orang-orang yang selalu bersama 1:23:14 eh kita di rumah, siapapun dia, dengan 1:23:17 pasangan kita dan anak-anak kita, 1:23:19 mudah-mudahan ya 1:23:20 ikhwan dan akhwat akan 1:23:23 benar-benar mampu meng- isi, melewati 1:23:25 hari-hari dengan sangat-sangat 1:23:28 menyenangkan. Billahi taufik wal 1:23:29 hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi 1:23:32 wabarakatuh. 1:23:32 Waalaikumsalam.