Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:02 [musik] 0:08 Brazil 0:11 [musik] 0:20 [musik] 0:32 [musik] 0:41 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:42 warahmatullahi wabarakatuh. 0:44 Alhamdulillahiabbil alamin. Wasalatu 0:46 wasalamu ala sayyidina Muhammad waa 0:48 alihi wasbihi ajmain. Rbi zidni ilma 0:51 Allahumf bima alamtani waimni ma 0:54 yangfoni warzuqni ilman yangfoni. 0:56 Dipancarkan dari Jalan Masjid 0:57 Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur 1:00 Bekasi. Radio Silaturahim dan Rasil TV 1:03 untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat 1:06 yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. 1:08 Apa kabar Anda di pagi menuju siang 1:11 hari? Kita alhamdulillah berjumpa lagi 1:14 ya di mana pun saja Anda berada. Semoga 1:15 Anda selalu dalam keadaan sehat 1:18 walafiat. Saya Angga Aminudin ditemani 1:21 oleh Algi dan juga Ondi. Kami hadir 1:24 dalam kajian ekonomi Islam edisi hari 1:27 Selasa 21 Safar 1448 Hijriah. Kita 1:31 bertepatan dengan hari yang keempat di 1:34 bulan Agustus 2026. Kajian Ekonomi Islam 1:38 Ikhwan Afad. Kita akan berjumpa dan kita 1:40 akan ee mendapatkan 1:44 ee materi ataupun ilmu ya tentang 1:47 ekonomi Islam bersama guru kita Ustaz 1:50 Ikhwan Basri yang alhamdulillah beliau 1:52 telah hadir di studio. Asalamualaikum 1:54 warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz. 1:56 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:57 wabarakatuh. 1:59 Apa kabarnya, Pak Ustaz hari ini? 2:01 Alhamdulillah sehat walafiat. 2:03 Alhamdulillah 2:05 kita di kesempatan kali ini ee kajian 2:09 ekonomi Islam akan mengangkat mengenai 2:13 middle income. Ini jadi sorotan ee 2:17 banyak pengamat termasuk juga masyarakat 2:21 alam nih, Pak Ustaz ya. 2:22 Iya, betul. 2:22 Tapi berita yang muncul itu kan dalam 2:24 beberapa tahun ini 2:26 ee bukan mencapai income justru malah 2:31 terjebak. terjebak, tersungkur, 2:34 terjebak dalam middle income. Ee kita 2:36 melihat bagaimana ee ketika pemerintah 2:40 dengan kewenangannya dan juga dengan 2:42 kebijakan-kebijakannya 2:44 ee itu bertujuan dalam hal ekonomi ya 2:47 ingin meningkatkan pendapatan masyarakat 2:50 bawah. Tapi justru ee yang terjadi 2:54 masyarakat bawah ini malah malah 2:55 bertambah, Pak Ustaz. Bertambah karena 2:57 ada masyarakat menengah yang sekarang 2:59 jadi masyarakat bawah. turun lagi 3:01 turun masyarakatnya malah bukan naik. 3:03 Ee dilihat ada ee beberapa ee data gitu 3:06 ya kaitannya dengan kebutuhan pokok 3:09 masyarakat gitu ya 3:11 yang dalam hal ini harusnya menjadi 3:13 tanggung jawab negara tapi negara tidak 3:15 bisa berkutik, tidak bisa berbuat 3:17 apa-apa karena yang bermain swasta nih 3:19 Pak Ustaz. 3:19 Akhirnya 3:20 urusan menentukan harga saja Pak Ustaz 3:23 ya kayak air gas itu negara tuh di luar 3:27 daya Pak Ustaz. Nah, kita lihatlah 3:29 beberapa hal di media sosial tuh cukup 3:31 ee viral gitu ya, pembahasan mengenai 3:33 harga gas melon. Pemerintah segini tapi 3:36 kenyataan di di rakyat gitu ya, air apa 3:39 gitu ya. Nah, jadi banyak pertanyaan 3:40 gitu, Pak Ustaz. Banyak pertanyaan. 3:42 Sebenarnya strategi meningkatkan 3:44 pendapatan kelas menengah 3:46 dari bawah itu ini gimana? Lalu 3:49 masalahnya kaitannya dengan bunyi 3:51 undang-undang juga sesuai dengan apa 3:54 Pancasila ini bagaimana itu, Pak Ustaz? 3:56 Ee jadi kita ee mengangkat satu hal 4:00 jebakan middle income. Nah, lalu 4:03 bagaimana ekonomi Islam itu memandang. 4:04 Nah, ini Pak Ustaz ya sebagai pembuka 4:06 Pak Ustaz ya kami persilakan Ustaz 4:08 memberikan ee openingnya kepada pemirsa 4:11 atau kepada pendengar. Monggo Pak Ustaz. 4:14 Terima kasih, Mas Angga. Asalamualaikum 4:16 warahmatullahi wabarakatuh. 4:18 Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu 4:21 wasalamu ala asrofil ibi iya wal 4:22 mursalin sayyidina wa nabiyina wa 4:25 rasulina Muhammadin wa ala alihi 4:27 washabihi ajmain. Amma ba'du. Para 4:30 pemirsa Rasil TV dan para pendengar 4:32 radio silaturahim yang dirahmati Allah 4:34 subhanahu wa taala. Alhamdulillah pada 4:38 pagi hari ini kita keluarga besar hasil 4:42 bisa bertemu dalam siaran live dalam ee 4:45 sesi ekonomi Islam. Dan alhamdulillah 4:48 pula teman-teman kita ini yang ada di 4:50 studio ini semuanya dalam keadaan sehat 4:53 dan giat untuk melaksanakan kegiatan 4:57 siaran yang 5:00 merupakan bagian daripada tugas dakwah 5:02 islamiyah. termasuk di dalamnya adalah 5:05 ee siaran ekonomi Islam secara live. Dan 5:08 pagi ini, pagi hari ini sudah ada tema 5:10 yang di pilih oleh Masangga, yaitu 5:13 tentang apa tadi itu ee semacam ee 5:18 pendapatan menengah 5:20 yang ingin kita raih sebagai negara yang 5:23 ee masuk pada golongan pendapatan 5:25 menengah, tapi apa daya tangan tak 5:27 sampai. Kira-kira begitu ya. Jadi kalau 5:30 kita lihat dari sisi pembangunan 5:32 ekonomi, semua negara-negara di dunia 5:35 ini yang dikategorikan menjadi tiga. Ada 5:39 yang mengatakan dua, ada yang tiga, dan 5:41 lain sebagainya. 5:42 Tapi bolehlah kalau kita katakan tiga, 5:43 ada yang kurang berkembang under 5:46 develop, ada yang develop country sedang 5:49 membangun dan ada yang advance. I ya 5:53 negara advance itu negara yang industri 5:55 ya yang terkumpul dalam G7 atau angkatan 5:59 20 itu boleh dikatakan demikian yaitu 6:02 negara-negara yang pendapatannya itu 6:03 sudah di atas 40.000 dolar per tahun ya 6:07 sampai pada yang tinggi sekali yang 6:09 80.000 atau R90.000 ya. E tapi meskipun 6:13 demikian itu perbeda perbedaan 6:15 pendapatan itu kadang tidak menjadikan 6:17 suatu negara itu maju ya tetapi hanya 6:20 negara kaya ya kayak seperti misalkan 6:22 negara-negara Timur Tengah, Petr Dool, 6:25 Brunei Darussalam itu negara kaya tetapi 6:28 bukan negara maju karena sistem 6:31 ekonominya tidak memenuhi kriteria 6:32 negara 6:33 maju ya 6:35 walaupun kaya ya. 6:37 Nah, sekarang itu yang dia yang 6:41 dicita-citakan negara kita yang sedang 6:44 dalam posisi developing countries atau 6:48 negara yang sedang membangun ini ada apa 6:51 namanya ee suatu tangga di mana kalau 6:55 dia bisa menaiki maka dia ada berada 6:58 pada medal income. Iya. Medal income itu 7:00 dimulai dari 5.000 sekian dolar per 7:03 kapita per tahun. Nah, dulu-dulu kita 7:06 itu memang jauh ya. Tahun-an, 80-an itu 7:10 kita cuman ratusan paling 300 dolar per 7:14 kapita per tahun dengan reabilitas 1 2 3 7:17 4 itu kita bisa sampai 1000 sekian dolar 7:21 per tahun. Terus kita kena krisis PDB 7:24 kita minus 30% tahun 99 2000. Kemudian 7:31 kita recover sedikit demi sedikit. 7:33 Akhirnya kita pertumbuhan kita positif 7:36 sampai dengan hari ini dirata-rata 7:38 antara 4% atau 5% gitu ya. 7:42 Sehingga pendapatan perkapita kita ini 7:43 sudah menjangkau hampir 3.000 atau 7:46 hampir 4.000 sebetulnya. 7:48 Tetapi karena tadi peristiwa ee ekonomi 7:51 tidak stabil, pertumbuhannya tidak 7:53 kontinue, maka terjadilah penurunan 7:56 kelas ya yang medal income atau apa 8:00 namanya kelas menengah kita ini banyak 8:02 yang jatuh turun lagi ee apa namanya ee 8:07 tangganya disebabkan karena apa? Di 8:09 antaranya tadi yang disebutkan oleh Mas 8:11 Angga adalah banyak sekali pendapatan 8:13 yang dipakai hanya untuk hal-hal yang 8:15 sangat esensial. 8:18 [mendengus] 8:18 sangat esensial, primer sekali yaitu 8:21 hanya beli air galon, hanya untuk e 8:25 membeli gas besaran melon gitu ya, 8:28 istilahnya orang sini itu yang 3 kg atau 8:32 gas yang disubsidi oleh pemerintah ya. 8:35 Nah, karena banyaknya pendapatan yang 8:38 dipakai untuk hal-hal yang sangat-sangat 8:40 esensial ini, maka tabungan dari Medal 8:44 Class itu dan kelas menengah itu dipakai 8:47 untuk memenuhi kebutuhan pokok dan 8:49 akhirnya berkurang belanjanya berkurang 8:51 dan tingkat belanja dari konsumsi swasta 8:54 itu juga berkurang dan akhirnya turut 8:56 juga ekonomi ini seret begitu ya. itu. 9:01 Makanya kemudian ee banyak sekali 9:03 analisis ataupun observer di sana bahwa 9:07 Indonesia itu 9:09 ee diperkirakan ya akan terkena jebakan 9:14 middle income. Jadi sudah kalau kita 9:16 menggunakan tangan ini menggapai begini 9:18 sudah tinggal sedikit lagi kita pegang 9:20 itu tangganya kemudian tanah yang kita 9:24 injak ini ambrol gitu. Jadi akhirnya 9:26 jatuh ke bawah lagi. Dan seperti itu 9:28 banyak negara yang kena jebakan ee medal 9:31 income termasuk juga Malaysia. Nah ee 9:36 bagaimanakah negara-negara lain di luar 9:39 Indonesia ini bisa mencapai middle 9:42 income secara sedih ya kemudian stabil 9:46 begitu ya. Kemudian masuk tangga naik 9:48 tangga ya ke atas ke atas terus itu 9:51 berapa tahun kasus-kasusnya? Kalau kita 9:53 lihat di dalam ee pengetahuan di bidang 9:58 ilmu pembangunan ekonomi, ada beberapa 10:00 negara yang cepat ya. Kayak misalkan 10:03 Korea, Korea itu cepat kalau enggak 10:05 salah cuma 18 tahun dari bukeek gitu loh 10:09 ya sampai menjadi negara medal income. 10:11 Jepang pasca perang dunia kedua 20 10:14 tahun. Ada juga yang sampai 50 tahun dan 10:16 lain sebagainya ya bisa dicek di 10:19 internet itu ya. Nah, kalau Indonesia 10:21 ini belum sampai tapi sudah banyak 10:24 faktor yang turut ini ya, turut 10:27 memberikan ee pengaruh atau turut 10:30 memberikan hambatan sehingga ee level 10:34 midle income itu hendak dicapai dalam 10:36 kurang lebih berapa tahun yang akan 10:38 datang mungkin akan molor lebih panjang 10:41 lagi entah tahun kapan ya. Sekarang ini 10:44 kan strategi e pemerintahan sekarang ini 10:46 kan bagaimana meningkatkan pertumbuhan 10:48 itu 8% ya. 10:51 ini sangat ambisius ya. Pakai pakai 10:54 kriteria mana pun ini sangat ambisius 10:57 ya. Tapi kalau dilihat dari data ya ada 11:01 peningkatan meskipun tidak seperti yang 11:03 kita harapkan sampai pada tingkat itu. 11:06 Kalau enggak ada hambatan macam-macam ya 11:08 ya mungkin bisa. Sekarang hambatannya 11:11 sudah kita lihat ada perang perang 11:14 perang Timur Tengah, perang Ukraina dan 11:16 lain sebagainya. Dan mungkin perang ini 11:18 eskalasinya akan meluas. Dan jika itu 11:20 kemudian sampai ke kita mungkin ataupun 11:23 pengaruhnya secara langsung atau tidak 11:25 langsung ke kita, maka proyeksi 11:28 pertumbuhan 8% per tahun ya mungkin 11:31 ditunda sampai beberapa tahun yang akan 11:33 datang. 11:34 Resional saja atau itu kita realistik 11:36 gitu ya. Ee para pemirsa Rasil TV dan 11:40 para pendengar silaturahim ya. Jadi yang 11:43 yang 11:45 ingin disampaikan mungkin dalam hal ini 11:47 adalah bagaimana kita hendak mencapai 11:49 medal income jika 11:51 he 11:52 kemiskinan struktural ini belum 11:55 dihabiskan 11:57 belum di diatasi dengan baik ya 12:00 diatasi 12:00 karena kebayang enggak kita di sekitar 12:03 kita ini orang yang jualan mie goreng, 12:06 jualan nasi goreng, jualan bakso, jualan 12:09 apa-apa yang sejar kita yang pakai 12:11 gerobak pakai dorongan dan lain 12:12 sebagainya. Bagaimana orang-orang 12:15 seperti ini akan bisa mencapai 12:17 pendapatan lima kali lipat dalam waktu 5 12:20 tahun yang akan datang? Bagaimana 12:21 caranya? 12:22 Sedangkan mereka-mereka inilah 12:25 sebetulnya sektor yang 12:28 apa? Sektor menengah ke bawah tetapi 12:31 penopang ekonomi kita. Ya, penopang 12:34 ekonomi kita. Kalau lihat iklan-iklan di 12:38 YouTube, I 12:39 iklan tentang IT, 12:41 penguasaan IT, bapaknya pendapatannya 12:44 sebulan R5 juta, anaknya menguasai IT 12:47 tawarannya R50 juta per buan. Kan ini 12:50 begitu cepat ya. 12:52 Bapaknya sudah bekerja di sebuah 12:55 perusahaan 20 tahun tetapi tidak 12:58 menguasai IT. Anaknya disekolahkan ke 13:00 perguruan tinggi menguasai IT. 13:03 anak-anaknya baru masuk gajinya sudah 13:05 150 juta. Itu kan iklan doang. Mana ada 13:08 seperti itu. Kalau ada seperti itu bisa 13:10 kita melompat ke middle income. Tapi itu 13:13 kan cuma iklan ya. Jadi karena itu maka 13:18 secara realistik ini sukar kita apa 13:20 namanya? He 13:21 sukar kita 13:24 me me menalar ya bagaimana mayoritas 13:29 pekerja kita yang 13:31 nonformal atau informal yang yang 13:36 ini merupakan 13:38 begitu banyak atau segmen paling banyak 13:40 dari medal income ke bawah dan mereka 13:43 akan 13:43 menapaki tangga ke peningkatan 13:46 pendapatan tu dari tangga yang 13:48 sedikit-sedikit mungkin tahun ini dia 13:51 pendapatannya setahun katakanlah ee Rp15 13:53 juta. 13:54 Hm. 13:55 Tahun depan misalnya sampai R juta itu. 13:58 Tapi itu tidak dengan sendiri membuat 14:01 kita akan dapat mempertahankan atau 14:03 memajukan lebih cepat ke arah medal 14:05 inkah. Belum tentu. 14:07 Karena banyak sekali persoalan ya 14:10 persoalan tadi sebetulnya sudah 14:11 disinggung ya. Banyak sekali hal-hal 14:14 yang harusnya kita itu taken for granted 14:17 ya. Artinya misalnya air air itu artinya 14:20 gratis. 14:21 Ya, gratis bagi petani untuk mengairi 14:25 sawah, gratis bagi petani atau 14:28 orang-orang untuk mandi, gratis bagi 14:30 mereka untuk minum dan lain sebagainya. 14:32 Harusnya begitu karena ini esensial. 14:35 Tetapi tidak ada cara bagaimana membuat 14:37 hal-hal seperti ini gratis atau paling 14:39 tidak diringankan atau paling tidak 14:42 disubsidi atau paling tidak ada bantuan 14:45 dari negara untuk meringankan beban ini. 14:47 Selama ini enggak ada dalam bentuk 14:49 seperti ini. Cos untuk hidup itu bagi 14:52 menengah masyarakat menengah ke bawah 14:54 ini itu very high ya. Walaupun bisa 14:58 nyalain sanio misalnya air di rumah tapi 15:00 kan butuh listrik ya listrik harus 15:03 dibayar gitu kan. Ya, tapi untuk minum 15:06 semua rata-rata orang kampung saja itu 15:09 sudah pakai galon 15:11 dan terus bayar 15:12 air mineral 15:13 harus dibayar dan yang punya perusahaan 15:15 galon ya orang kaya. 15:17 Hm. 15:17 Yang menguasai sumber mata air itu kan 15:20 ini aneh. Jadi kalau di dalam 15:23 undang-undang negara kita itu 15:26 Undang-Undang Dasar pasal 33 itu 15:29 bumi dan langit dengan ee bumi dengan 15:32 segala isinya. Bum dan segala isinya 15:34 dikuasai oleh negara 15:36 dan dipergunakan sebesar-besar untuk 15:38 kemakmuran rakyat. 15:39 Ini pasal yang sebenarnya enggak pernah 15:41 dilihat dari bukan tidak dilihat dalam 15:44 enggak diperhatikan dan tidak 15:46 dilaksanakan. 15:47 Dilaksanakan. 15:47 Nah, kenapa? 15:49 Bagaimana mungkin pasar yang terang 15:51 benerang mengatakan isi bumi ini untuk 15:53 kemakmuran rakyat. Sekarang rakyat semua 15:55 yang paling miskin sekalipun minumnya 15:57 minum air beli 15:59 dari perusahaan orang kaya, bukan 16:01 perusahaan PDAM. ya. 16:02 H 16:03 perusahaan orang kaya untuk minum 16:07 karena enggak ada hubungannya itu antara 16:09 pasal itu dengan kenyataan di lapangan. 16:11 Kontras 16:12 kontras banget. Ironi lah gitu ya. 16:14 Ya. 16:15 Nah, kalau ini tidak dibenahi ini sangat 16:18 dasar sebetulnya. 16:20 Maka kita itu hanya mimpi saja masuk ke 16:24 medal income tetapi 16:28 keadaan ini tidak akan berubah. H 16:30 yang mungkin bisa kita masuk model 16:31 income karena kita menggunakan PDB itu 16:33 rata-rata ada pertumbuhan 16:36 7% mungkin 8% sampai pendapatan per 16:39 kapita rata-rata kita itu misalkan 5.000 16:42 atau 6.000 dolar per tahun per kapita 16:45 tapi itu enggak menjamin karena 16:47 pertumbuhan itu tidak menyentuh aspek 16:49 keadilan. 16:50 Iya. 16:50 Ya, 16:51 aspek keadilan enggak. Jadi yang tumbuh 16:53 siapa? Ya, yang tumbuh itu jelasnya 16:55 adalah orang kaya, jelas tumbuhnya 16:57 eksponensial ya. He he. 16:59 Sedangkan orang yang meningkatkan 17:01 pendapatannya dari midle income ke bawah 17:04 itu menapaki tanda sedikit demi sedikit 17:06 demi sedikit ya dan itu tidak bisa di 17:10 apa namanya di direkam atau dirkord oleh 17:15 data ya. Jadi misalkan kita gembira 17:19 setelah 5 tahun kita pembangunan dari 17:21 sekarang kita masuk medal income, masuk 17:23 OCDC, 17:26 masuk 20 kelompok ekonomi terdepan di 17:29 dunia. Tapi 17:31 orang di kampung 17:33 masih tetap jualan bakso, masih tetap 17:36 jualan cireng yang harganya segitu-gitu 17:39 juga ya. 17:40 He. 17:41 Dan lah yang parah lagi orang semacam 17:43 ini tetap membeli air galon. coba. 17:46 Sementara sebagian yang lain yang kecil 17:48 ya itu bisa ke mana-mana bisa apa 17:52 namanya ee pariwisata ke Amerika, ke 17:55 Eropa, ke Jepang, ke Korea dan 17:57 seterusnya 17:58 ya. 17:59 Tetapi jumlahnya cuma sedikit sekali ya. 18:02 Karena mereka itu jumlahnya sedikit dan 18:03 banyak maka pendapatan perkapita itu 18:05 terangkat secara rata-rata tapi keadilan 18:08 tetap sama. tidak ada sentuhan ee 18:12 kemajuan kemakmuran di tingkat 18:15 income ke bawah gitu loh. 18:18 Jadi di sini apakah ee persoalannya itu 18:22 adalah bagaimana kita itu 18:24 ee membangun tetapi dengan pemerataan 18:27 sehingga segmen dari Medal income ke 18:29 bawah ini terangkat lebih cepat dan 18:32 sebetulnya sudah banyak ya petunjuk 18:34 bagaimana itu akan kita perhatikan asal 18:37 kita mau mencoba melihat amanat 18:40 Undang-Undang Dasar 45 18:42 ya tegas sekali sekarang kalau kita 18:45 lihat sumber 18:47 sumber daya alam 18:50 mulai dari air yang paling pokok itu kan 18:51 air. Sekarang air ini yang menguasai 18:54 siapa? 18:55 I 18:56 iya yang banyak itu adalah ee kapitalis 19:00 dan itu luar negeri. 19:02 Ada dari pribumi terus kalau sudah besar 19:05 dijual ke luar negeri. 19:07 Iya. Nah, akhirnya orang luar negeri 19:09 yang menguasai air kita di gunung-gunung 19:12 di Jawa Barat ini dari Jakarta sampai 19:14 Sukabumi, 19:15 dari Jakarta sampai Cianjur, dari 19:18 Surabaya itu sampai Malang semua tuh 19:20 sudah gak tahu punya siapa. Dari Solo, 19:23 si di Klaten segala macam sudah dikuasai 19:26 sepenuhnya oleh swasta dan orang-orang 19:30 Indonesia, rakyat jelata disuruh membeli 19:33 dengan harga pasar. Tidak ada subsidi 19:35 sama sekali. 19:36 Hm. maka ini akan mengekalkan 19:39 kemiskinan, 19:40 mengekalkan struktural, kemiskinan 19:42 struktural ya. Dan kita akan bermimpi 19:44 kalau kita bisa menjadi negara ee maju 19:47 dalam konteks apa namanya middle income 19:51 itu semacam tipuan saja. Karena pada 19:54 hakikatnya sebagian besar masyarakat 19:56 kita tidak makmur. Yang makmur adalah 19:58 orang yang ketiban tadi itu, ketiban 20:00 rezeki itu. 20:01 Jadi, trickle down-nya itu enggak ada 20:03 ya. Menetes ke bawahnya itu enggak ada. 20:06 Kalaupun ada netes kan kecil sekali, 20:08 lama banget. 20:09 H 20:10 mungkin sampai 100 tahun kita enggak 20:11 sampai ketemu dengan tangga medal 20:14 income. 20:15 Kalau kita hitung dari tahun 5. Nah, 20:17 kita sudah merdeka sudah berapa tahun 20:19 sekarang? 20:19 Iya. 20:20 Sudah ee ee sudah 70 81 ya. 20:26 Heeh. 20:26 81 tahun ini kita merdeka. 20:28 Agustus sekarang ini. 20:29 Iya. 81 tahun. Tahunah. Kemudian apa 20:31 mungkin dalam 2019 tahun yang akan 20:34 datang 20:35 yaitu tahun berapa itu ee 30 36 ya itu 20:39 kita sudah menjadi 20:42 ee negara ee 46 ya kita sudah menjadi 20:45 negara maju wallahuam bawab ya dari 20:49 mulai masalah-masalah dan juga ee 20:52 alat-alat pemenuhan kebutuhan pokok yang 20:55 terjadi di masyarakat tadi ustaz 20:57 menyinggung juga bagaimana bunyi pasal 20:59 33 ayat 21:01 Undang-Undang Dasar 1945 21:04 bicara middle income trap ini kita 21:07 melihat real di masyarakat juga Pak 21:09 Ustaz sepertinya orang miskin ini 21:11 memperkaya orang kaya. 21:13 Benar 21:14 ini gimana loh ustaz kenapa kenapa ee 21:17 sistemnya mendukung itu gitu 21:19 padahal undang-undangnya kan 21:21 konstitusionalnya konstitusinya enggak 21:22 begitu Ustaz. 21:24 Contoh yang paling top ajalah air. Ee 21:27 jangan ke batu bara lagi tempatnya. Iya. 21:30 J tambang-tambang ya. 21:31 Iya. Itu kita agak pelik itu melihatnya 21:34 karena kita bukan ahlinya. 21:36 Ee enggak tahu detailnya. Tapi di depan 21:38 mata kita saja itu ya masalah air. 21:42 Air sumbernya dikuasai oleh swasta, oleh 21:45 kapitalis. Dalam hal ini dulu 21:48 orang-orang yang hidup di desa tempat 21:50 air itu diambil itu enggak enggak enggak 21:54 masalah enggak pernah ada masalah dengan 21:55 air. He. 21:56 Minum air dari langsung dari mata air 22:00 jernih bersih. Tetapi sesudah ada 22:03 industri air ini kapitalis itu 22:07 berkolaborasi dengan pemerintah daerah 22:10 dengan pemerintah pusat dan lain 22:11 sebagainya. diambil alelah itu apa 22:15 namanya sumber mata arit dan diproduksi 22:16 oleh mereka dan rakyat disuruh beli yang 22:19 tadinya itu mereka bebas 22:22 minum air akhirnya mereka sekarang beli 22:24 konyolnya lagi itu kan itu enggak ada 22:27 batas itu ya seharusnya kalau agak 22:30 mending sedikit masalah ini dikuasai 22:33 pemerintah daerah kalau gunung itu di e 22:36 milik Kabupaten A misalnya ya sudah 22:38 pemerintah daerah itu bikin ya seluruh 22:41 airnya dialirkan ke masyarakat selesai 22:43 ya. Jadi masyarakat itu ee gratis minum 22:46 air karena mereka bayar pajak ya sudah 22:49 ini akan mendapatkan ekonomi kita ini 22:52 mendapatkan pondasi yang cukup baik 22:53 untuk memaju 22:55 sehingga pendapatan yang diperoleh 22:58 penduduk itu tidak tidak apa tidak ada 23:00 yang dipakai untuk apa membayar yang 23:02 sesuatu yang mestinya mereka itu 23:04 dapatkan gratis gitu loh ya sehingga 23:07 pendapatan income mereka itu menjadi 23:09 atau pendapatan mereka menjadi menaik ya 23:11 tidak memikir lagi masalah yang super 23:13 esensial, 23:14 yang super primer ini karena ini sudah 23:17 dipenuhi gitu loh. 23:19 Banyak negara ya di dunia ini yang 23:22 menggratiskan air apa bagi rakyatnya itu 23:25 semuanya rata-rata ya di Pakistan, di 23:30 apa e di Mesir yang Mesir itu sendiri 23:32 cuma ada sungai Nil ya sebetulnya tapi 23:34 air itu gratis ya. 23:35 Hm. itu di negara-negara yang padang 23:39 pasir 23:40 itu kan air gratis itu karena air itu 23:42 esensial 23:43 dalam ekonomi Islam aja air itu suroka 23:46 annasu suroka fi salat manusia itu 23:49 bersekutu dalam tiga perkara satu air 23:52 heeh 23:52 dua api dan ketiga ee peternak lapangan 23:56 untuk 23:57 apa namanya me 24:00 apa nam lahan pertanian untuk dijadikan 24:02 lahan 24:03 pangan ternak kita gitu loh L al padang 24:07 rumput gitu loh rumput. 24:08 Sekarang enggak. Ini prinsip Islam ini 24:10 benar-benar dihabisin sama sekali. 24:13 Di negara yang 90% beragama Islam tapi 24:15 prinsip-prinsip ekonomi Islam 24:17 dihilangkan dijadikan kapitalis. Maka 24:20 yang kaya itu yang kaya kapitalis yang 24:23 mirisnya lagi kapitalisme ini cabang 24:25 dari negara lain. 24:26 Heeh. 24:27 Cabang dari Prancis, cabang dari bukan 24:30 kita ya. Kalau saya enggak mau tunjuk 24:32 mana, tapi perusahaan mana itu. Tapi kan 24:34 ada itu 24:36 ya perusahaan-perusahaan air mineral 24:38 yang gede-gede itu dikuasai oleh orang 24:41 asing. 24:42 Jadi kemudian kita suruh beli, disuruh 24:45 beli kita konsumsi. Karena yang kaya itu 24:47 bukan bukan ee orang kita yang mempunyai 24:50 pabrik itu. Kita hanya sebagai panjangan 24:52 tangan aja ya. Negara lain yang yang 24:55 berkuasa yang kaya. Nah, kalau seperti 24:58 ini struktur seperti ini ya sebetulnya 25:00 itu ya sangat naif ya, sangat aneh ya, 25:04 ironi banget ya. 25:05 Ironi banget dan kita apa namanya 25:08 mengharapkan menjadi negara maju sulit 25:11 diterima, dinalar itu sulit karena 25:13 ee ee apa nam kriteria negara maju itu 25:17 sebagian kita enggak miliki. Mungkin 25:19 juga sebagian kita hancurkan sendiri. 25:21 Iya. ya sehingga enggak bisa kita akan 25:23 berlama-lama menjadi negara yang 25:26 menapaki tangga middle income. Karena 25:28 sebagian daripada pendapatan kita pakai 25:31 untuk hal-hal yang super esensial 25:33 itu masalnya. 25:35 Ini Pak Ustaz saya mendapatkan data dari 25:39 ISDB Institute ini Islamic Development 25:42 Bank mung gitu ya. 25:43 Iya. eh di tahun 2026 eh laporan 25:48 mengenai development traps. Jadi jebakan 25:51 middle income di beberapa negara itu 25:54 sering muncul karena beberapa hal ee di 25:57 antaranya yang dari awal sudah kita 25:58 bahas ketimpangan yang tinggi ini 26:01 dilihat dari kelas menengah tergerus, 26:03 daya beli melemah dan ketimpangannya 26:06 makin kentara. Lalu ada juga di sini eh 26:10 proteksi berlebihan terhadap incumben 26:13 atau perusahaan besar 26:15 yang tidak efisien. Lalu juga lemahnya 26:19 pengawasan pemerintah. Nah, ini kondisi 26:21 di Indonesia ini apakah sesuai dengan 26:25 gambaran laporan ini, Pak Ustaz? 26:27 Ya, sebagian mirip. 26:29 Sebagian mirip maksudnya 26:31 enk itu kan artinya pemerintah yang 26:32 sekarang berkuasa. 26:34 Heeh. Nah, kalau di kaos-kausnya di 26:36 Pakistan negara itu 26:38 walaupun negara Pakistan itu ada di 26:41 mana-mana kita minum di pinggir-pinggir 26:43 itu ada keran. Iya. 26:44 Heeh. 26:45 Tapi enggak ada orang yang royokan nyari 26:47 air itu enggak ada. Karena meemang untuk 26:49 publik ya beda dengan kita. Kalau ada 26:51 yang bocor diroyok gitu 26:52 dikomersilin. 26:53 Heeh. Padahal Pakistan negara termasuk 26:55 negara yang sebenarnya kekurangan air. 26:57 Itu aja bisa meng-handle ya. 26:59 Nah, apa namanya? Ee jadi ee 27:03 pemerintahan yang sekarang ada dikuasai 27:04 oleh partai tertentu. Maka ini biasanya 27:07 ee dia kolaborasi dengan kapitalis. Nah, 27:11 kapitalis setelah kolaborasi akan 27:13 dipertahankan walaupun mungkin 27:15 akan ada pemilihan daerah, Pilkada 27:18 itu enggak ada masalah. Karena 27:20 sebenarnya yang tumbus itu kan di 27:21 pusatnya dulu. He. 27:23 Investor-investor ini yang dari luar 27:25 negeri ini ketemu dengan presiden, 27:29 ketemu dengan menteri. Setelah mendapat 27:31 izin ya mereka ketemu dengan kalau di 27:33 Pakistan itu namanya apa namanya? Chief 27:36 minister 27:37 ya, Menteri Besar ya. Nah, setelah itu 27:39 kemudian di di apa namanya di yang 27:42 dituju yang mana sudah selesai dan ini 27:44 terjadi hubungan antara kapitalis ya 27:46 dengan apa pemerintah dan akhirnya 27:49 terjadilah korupsi yang luar biasa. H 27:51 ya benar adanya pabrik itu di situ, tapi 27:54 manfaat pabrik ini sebagian kecil 27:56 dinikmati oleh tempat itu, tapi sebagian 27:58 besar dinikmati oleh kapitalis rata-rata 28:01 begini semua. Iya di kita ya kurang 28:03 lebih sama mungkin yang lebih buruk 28:05 lagi. 28:06 Iya kan? Nah saya melihat dengan mata 28:08 kepala ketika saya kuliah di Pakistan 28:09 ya. Nah di sini kita datanya lebih 28:11 banyak kita bisa pakai. Pernah juga 28:13 Muhammadiyah itu kan mengajukan ke 28:15 Mahkamah Agung K ya. 28:16 Iya tentang sumber air pengelolaan 28:18 sumber air itu pimpinan Pusat 28:19 Muhammadiyah itu 28:20 lah. Iya. 28:20 Heeh. itu kan diakui itu bahwa tesisnya 28:23 dan di dan dibenarkan kan. Tapi 28:25 pelaksanaannya sampai sekarang apa 28:27 itu 28:27 ya enggak ada ya karena incumben ini 28:31 sudah sudah menguasai ya kalau di 28:34 Pakistan itu mohon maaf aja ya kasar 28:37 jadinya ada yang enggak mau ya disikat 28:40 begitu kalau di sini kan agak agak 28:42 santun Masud ya 28:42 banyak lobi dan negosiasinya 28:45 [tertawa] 28:47 itu dan bahkan di Amerika itu lebih 28:50 parah saya kira dulu di Amerika enggak 28:51 seperti itu ya 28:52 hm 28:53 bagaimana orang kaya di Amerika itu 28:56 mengakalin sistem untuk meng apa? 29:00 menghindari pajak 29:01 supaya mereka tetap kaya. Makanya dengan 29:03 cara seperti itu orang kaya di Amerika 29:06 yang licik bisa apa 29:10 meningkatkan kekayaannya itu multi apa 29:12 namanya 29:13 apa namanya eksponensial. Nah, Ustaz 29:16 menyinggung Amerika Serikat. Terus 29:19 apakah ekonomi Indonesia juga akan 29:21 menuju seperti Amerika Serikat, Pak 29:23 Ustaz? Yang membuat kaum kaya ini 29:24 menguasai mayoritas penduduk gitu ya. 29:26 Saya kira itu ya kita menuju ke sana ya 29:30 lah. Kusnya itu yang di Papua itu apa? 29:33 Iya. 29:33 Tembaga apa si namanya? Bepot ya. 29:36 Itu lebih dari 29:38 lebih dari seperti ini lebih buruk lagi 29:41 buruk lagi. 29:42 Bagaimana yang punya dana sahamnya cuma 29:43 1%. 29:45 yang datang 29:46 dari Amerika menguasai 99% dan 29:49 pengawasannya gimana? Hm. 29:51 Iya. Makanya enggak ada ininya, enggak 29:54 ada bukan berkah, enggak ada manfaatnya 29:57 bagi negeri ini. Ya, bagi mereka ada. 30:00 Apalagi berkahnya enggak ada ya. Enggak 30:02 ada berkah sama sekali. Makanya panas di 30:04 situ itu sampai sekarang. 30:06 Iya. 30:07 Jadi itu lucu sekali. 30:09 Iya. Iya. Iya. meskipun sudah ada 30:10 perbaikan sekarang ya, tetapi bagaimana 30:13 mekanismenya, bagaimana pengawasannya 30:16 itu kita sebagai R biasa enggak tahu. 30:18 Enggak tahu DPR anggota DPR juga tahu 30:20 apa enggak ya 30:21 karena fungsi DPR kan menguasi ya itu 30:24 jadi apa kalau ditanya itu apakah 30:27 ekonomi Indonesia dalam hal ini akan 30:29 meniru seperti di Amerika ya bisa jadi. 30:32 Jadi kalau kita lihat itu ee kapitalisme 30:36 di sini udah ugal-ugalan ya. 30:39 Ugal-ugalan dan bisa mengancam 30:41 pemerintah, bisa mengancam penguasa. 30:45 Ya, kasusnya Freeport itu lama banget 30:47 itu 20 tahun at berapa itu kan 30:49 itu tarik ulur. Tarik ulur kan menduk 30:51 mereka itu ngancam 30:53 setiap habis perjanjian itu mau habis 30:56 kontrak itu 30:57 entah menteri luar negeri entah wakil 30:59 presidennya mereka datang ke sini entah 31:00 menteri pertahanannya. Iya, 31:02 itu dari zaman Pak Harto ya itu kan 31:05 sepertinya mengancam itu. Yo perpanjang 31:08 kalau enggak itu gesturnya begitu. Gaya 31:11 Amerika kubui seperti itu 31:13 dan kita anak baik ini surak manut-manut 31:16 aja good boy istilahnya. [tertawa] 31:20 Iya. Jadi kalau ditanya saya 100% setuju 31:23 kalau tidak ada pemimpin yang punya visi 31:26 kemudian pengawasan yang super ketat 31:29 dengan visi dan misi negara kita ini mau 31:31 dibuat ke mana ya kita enggak ada 31:35 harapan kalau tidak apa nam tidak 31:37 harapan untuk tidak mengikut apa yang 31:39 terjadi di Amerika 31:40 dalam dalam aspek yang tidak baiknya ya 31:44 dalam aspek yang tidak baiknya 31:46 tadi juga Ustaz menyinggung bagaimana ee 31:49 perusahaan-perusahaan besar kalau kaum 31:50 kaya ini karena dia menguasai 31:54 mayoritas penduduk sekaligus juga dengan 31:57 sistem pemerintahannya termasuk dalam 31:59 hal pajak gitu ya. Pajak juga mereka 32:01 sampai menguasai bagaimana supaya mereka 32:04 itu bisa memajak penduduknya untuk 32:07 keberlangsungan perusahaan. Begitu, 32:09 Ustaz. 32:09 Iya. Kalau perusahaan kan punya 32:11 konsultan pajak, punya tim ahli pajak 32:14 yang bisa inilah macam-macam aja. Tapi 32:17 kalau pajak orang miskin atau orang yang 32:19 wajib pajak individu 32:22 yang enggak ada kecuali dia harus bayar 32:23 seperti itu. 32:25 Kalau perusahaan-perusahaan yang gede ya 32:27 ada cara bagaimana menghitung pajak, 32:31 menggunakan krol pajak ya mungkin itu 32:33 tidak membayar 100% tapi dianggap tidak 32:36 melanggar gitu loh. Jadi ada semacam 32:39 dealing gitu ya. 32:40 Itu semuanya sudah diketahui umumlah 32:42 gitu ya. Tapi kalau kita anak orang 32:45 kampung di sini pajak pajak PBB apa 32:48 adanya kita bayar. 32:50 Iya. 32:50 I kan enggak ada negosiasi 32:53 baca motor kita bayar. 32:54 Wah langsung ada struknya itu 32:55 yang lucu itu yang punya mobil-mobil 32:58 luxur itu Alfa segala bayarnya 33:01 ngemplang semua. 33:03 Motor gede misalnya bodong semua. 33:05 Innalillahi wa inna rajiun. Ya. Jadi 33:07 sebetulnya 33:08 mereka yang ee apa namanya? yang 33:12 wrestling apa itu memperlihatkan otot 33:14 kekayaannya itu 33:15 apa itu blacking gitu ya 33:17 itu ternyata banyak yang bohong dan 33:20 mereka ternyata banyak yang tidak 33:22 membayar pajak. Nah, jadi di sini 33:25 kelihatan bahwa yang terjadi di Amerika 33:28 seperti itu di sini juga sudah 33:30 mengikuti. 33:31 Tapi itu baru ke baru puncak gunung S 33:33 saja ya. Karena beberapa tahun ini kan 33:37 pemerintah berapa apa bisa apa 33:41 mengembalikan dana-dana yang sampai 33:43 ratusan triliun itu dari 33:46 dari korupsi ya 33:48 itu belum semuanya itu ya baru ke puncak 33:52 Gunung Es saja semuanya iya 33:53 yang lainnya itu masyaallah wallah tidak 33:56 tahu berapa jumlahnya 33:58 nah kalau seperti ini modal kita untuk 34:01 naik tangga ke mid income apa bisa 34:04 mencukupi apa bisa ditanggung, apa bisa 34:06 dijamin? Kan enggak mungkin. 34:08 Karena kebocorannya itu jauh lebih besar 34:10 daripada yang kita lihat ya. 34:12 Yang kita ketahui, yang kita sudah apa 34:15 namanya dibuka oleh Allah Subhanahu wa 34:17 taala sampai-sampai dengan ratusan 34:18 triliun. Belum lagi korupsi yang 34:21 jumlahnya juga ratusan ratusan triliun 34:24 ya 34:25 dari ee kegiatan pembohongan yang ada. 34:28 Ya, makanya sedih ya sedih karena 34:31 berbagai sedihnya karena kita ee 34:34 mendapatkan situasi yang tidak 34:35 menguntungkan, situasi yang ee ironi ya. 34:39 Sementara sumber daya kita ini banyak 34:42 sekali 34:43 dan berpotensi untuk menjadi negara 34:45 kaya. Mungkin terkait di dunia juga bisa 34:48 karena kita punya tambang emas ya dan 34:51 lain sebagainya. Tapi rakyatnya 34:54 pendapatan per kapitanya aduh ya. Heeh. 34:57 2.000, 3.000 dolar. Kemudian itu pun 35:01 rata-rata lah. Kalau ee tukang 35:05 apa namanya cimol begitu itu sudah ee 35:08 mikul, sudah beremari anaknya tiga 35:10 misalnya, bagaimana caranya me 35:14 meningkatkan pendapatan masyarakat 35:15 seperti ini? 35:16 H 35:17 ya. Kalau tetap menjadi pedagang kecil 35:20 seperti itu dalam 10 tahun yang akan 35:21 datang, 35:22 enggak bisa naik kelas. 35:23 Iya. Enggak akan bisa naik kelas. Belum 35:25 lagi masalah kesehatan mereka tentu saja 35:27 tidak mendapat JPS apa 35:30 BPJS ya. 35:31 Oh, untuk hidup sehari-hari sudah kayak 35:33 gitu. Dan jumlahnya itu banyak di 35:35 mana-mana ada seperti itu. Di sekitar 35:37 kita itu cukup banyak. Kita lihat di 35:40 mana-mana dan itu tidak berbeda di Bogor 35:43 sini ataupun di Sukabumi ataupun di 35:45 Anjur sama saja kondisinya seperti itu. 35:49 Di Garut 35:50 sama ya kan? Iya. Karena itu sulit bagi 35:53 kita secara kasat mata gimana kita 35:56 mengangkat ee tingkatan kemakmuran 35:59 rakyat midle income ke bawah ini supaya 36:02 menjadi negara yang masuk midle income 36:04 benar benar-benar bisa direalisasikan. 36:07 Nah, Pak Ustaz dari [berdehem] 36:10 prinsip-prinsip keadilan ya dalam 36:13 ekonomi Islam sebenarnya solusi ee yang 36:17 ditawarkanlah dalam ekonomi Islam ini 36:20 tentang masalah yang kita angkat ini 36:22 apa, Pak Ustaz? 36:23 Hadis Nabi Muhammad sallallahu alaihi 36:24 wasallam. Annasu sura fisal. 36:29 Manusia bersekutu dalam tiga hal. satu 36:32 air, dua api, tiga apa namanya ee tempat 36:38 pengembalaan 36:40 ya rumput ya. 36:41 Nah, para ulama itu mengartikan sesuai 36:45 dengan konteks zaman ya. Kalau air ya 36:48 sumber daya air ya air air untuk hidup, 36:51 air untuk pertanian, air untuk 36:53 segala-galanya ya tidak boleh dimonopoli 36:56 oleh siapapun. semua orang berhak untuk 36:59 mendapatkan. 37:01 Kemudian yang kedua adalah api. 37:05 Api ini pada zaman sekarang konteksnya 37:07 adalah energi. 37:08 Energi. 37:10 Energi tidak boleh dikuasai oleh ee 37:13 dimonopoli oleh satu orang. 37:14 He. 37:15 Jika ini dilakukan dan direalisasikan 37:19 itu negara menuju kehancuran. 37:22 Saya baca, saya kan penterjemah Dr. 37:23 Marsapraya. Beliau itu di dalam bukunya 37:26 misalkan Islam dan tantangan zaman, 37:28 kemudian masa depan ilmu ekonomi Islam 37:30 itu endingnya kan sama saja. Sebetulnya 37:33 suatu kekuasaan, suatu rezim, suatu 37:36 negara akan berujung kepada kehancuran 37:40 jikalau tiga prinsip ini sudah 37:42 dimonopoli 37:45 ya karena bertentangan dengan fitrah 37:47 manusia ya. 37:49 Bagaimana Islam menjadikan prinsip 37:52 ekonomi ini betul-betul terelang 37:54 bernerang dan sangat masuk akal ya. 37:58 Bahwa namanya air itu harus di-share ya. 38:02 Harus di-share itu ternyata dinikmati 38:04 semua orang. Tidak boleh ada hambatan 38:06 bagi pihak tertentu untuk mendapatkan 38:08 air sehingga petani bisa menjadi petani 38:11 profesional bisa mendapatkan air yang 38:13 cukup untuk tanamannya. Peternak juga 38:16 dapat air yang cukup untuk ternaknya. 38:19 Industri juga dapat air untuk 38:20 industrinya. Semuanya dapat lah. Yang 38:23 seperti ini enggak mungkin kalau enggak 38:24 dikasih oleh negara. H 38:25 ya. 38:27 Kalau kita serahkan, Pak, kita serahkan 38:28 pada swasta aja konyol itu namanya. 38:34 Konyol ya. Yang seperti ini 38:36 kekonyolan-kekonyolan terjadi di kita. 38:38 Iya. bertentangan bukan hanya prinsip 38:41 dasar ekonomi Islam, 38:43 tetapi juga bertentangan dengan 38:45 Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 tadi. 38:50 Dan inilah yang terjadi. Kalau sumber 38:51 daya bukan hanya air termasuk energi itu 38:54 dikuasai oleh swasta. seangan suastanya 38:58 mempergaya diri mereka sendiri 39:01 dan tidak apa tidak ambil pusing dengan 39:05 masyarakat yang lain. 39:06 H 39:07 dan contohnya banyak sekali ya kita 39:09 lihat itu sudah lihat di mata ya tiap 39:12 orang sudah tahu ya 39:14 itu masangga 39:15 ini saya kan ee mencari data Pak Ustaz 39:18 ya contoh negara yang berhasil keluar 39:21 dari middle income middle 39:25 berhasil naik gitu ya. Iya. Yang keluar 39:27 dari jebakan lah gitu. 39:28 Iya. 39:29 Kalau di sini ditunjukkan oleh A ini 39:30 Korea Selatan, Pak Ustaz. 39:31 Iya. 39:32 Korea Selatan. Ee tanpa dia mengandalkan 39:35 prinsip-prinsip keuangan Islam, tapi dia 39:37 mengandalkan prinsipnya itu kayak ee 39:39 orientasi ril, lalu juga keadilan. Ada 39:43 juga di sini ee resharing gitu ya, 39:46 meningkat meningkatkan produktivitas. 39:49 Ternyata ada negara-negara juga yang ee 39:52 sebenarnya mengalami masalah yang sama 39:53 terus berhasil keluar gitu maksud dia. 39:55 Tapi ada unsur keadilan di sini ternyata 39:56 juga orientasi ril juga e sharing juga. 40:00 Itu maksudnya apa, Pak? 40:00 Yang paling di apa? Termasuk guru saya 40:03 Mar Sapra itu dan kolega-koleganya 40:05 melakukan penelitian terhadap Korea itu 40:07 menyinggung bagus. Terjadi pada 80-an ya 40:11 70-an 80-an. Kalau Korea itu negara yang 40:14 hancur karena lapangan menjadi lapangan 40:17 perang itu kan. 40:17 Iya. Korea Utara, Korea Selatan. Tetapi 40:21 ee ada satu sisi yang kita enggak punya 40:23 sebetulnya yaitu wujudnya tentara 40:25 Amerika di situ. 40:27 H 40:27 ya. Amerika menempatkan kurang lebih 40:30 pangkalannya di situ. 40:30 Iya, itu 100.000 tentara segala. 40:33 Nah, itu yang tidak dimiliki oleh orang 40:35 lain. Karena itu Korea tidak mikir lagi 40:37 masalah aman. 40:39 Hm. 40:39 Aman keamanan ditangan oleh Amerika. 40:41 Maka sumber dayanya tidak dipakai untuk 40:44 siap tempur. Enggak. Tapi sumber dayanya 40:46 dipakai untuk membangun negara 40:49 full itu. Iya. Jadi di situ dan hebatnya 40:52 lagi pembangunan negara di apa nam 40:55 Korea, pasca perang Korea itu 40:57 itu bukan karena resep IMF ya. Seperti 41:00 yang sudah pernah kita singgung pada 41:02 tahun-tahun yang lalu itu ya, bahwa itu 41:04 semata-mata lebih banyak disebabkan 41:06 karena nilai-nilai kultural 41:09 ya. misalnya cinta kepada cinta kepada 41:12 negara, 41:13 cinta kepada produk-produk negara 41:16 sendiri atau produksi dalam negeri. 41:19 Kemudian apa namanya etos kerja yang 41:21 baik, 41:22 kemudian tabungan dan lain sebanyak 41:24 sekali faktor yang itu semuanya 41:26 sebenarnya bukan karena bantuan IMF. 41:28 Iya. 41:29 Ya. Meskipun IMF memberikan contoh bahwa 41:31 inilah contoh negara-negara yang kami 41:33 bantu bisa keluar dari kemiskinan, bisa 41:36 medal income lewat segala macam. Nah, 41:37 itu ngomong kosong ya. Enggak 41:41 e sudah kita cerita dulu lah. Kita 41:42 enggak usah cerita balik belakang lagi 41:44 ya. Tapi tapi disayangkan adalah karena 41:48 dia mengikuti sekularisme 41:51 ya, maka hasil pembangunan itu tidak 41:54 bisa membuat orang Korea itu damai. 41:57 Nah, 41:58 itu gak bisa damai. 42:00 Heeh. Heeh. 42:01 Karena apa? buktinya itu banyak sekali. 42:04 Orang Korea itu enggak enggak e 42:07 spiritualnya itu enggak ada kosong 42:08 hatinya. Kosong hatinya. 42:11 Dan karena itu maka 42:13 walaupun negara itu kaya, pendapatannya 42:15 tinggi, tetapi angka bunuh diri tinggi 42:18 banget ya 42:20 menunjukkan kekosongan rohani. Jadi 42:22 kalau untuk materialnya bisa kita 42:25 jadikan teladan untuk mencapai 42:27 kemakmuran 42:29 mungkin juga keadilan. Tetapi 42:32 kehilangan aspek spiritual ini ini 42:35 membuat apa yang dibangun selama ini 42:38 mungkin akan bisa dikatakan runtuh 42:41 dalam waktu sekejap ya seperti Jepang ya 42:44 Korea itu mirip-mirip dengan Jepang 42:46 nasibnya itu. 42:47 Sekarang Jepang kekurangan orang. Iya. 42:50 Nah, Korea juga sama sebetulnya kan. 42:53 Nah, ketika dia itu memasukkan orang 42:55 asing untuk 42:56 permintaan industri, budaya orang asing 42:59 enggak bisa diterima di Korea. 43:00 Jepang juga begitu. Enggak semua negara 43:02 itu bisa mengisi kekosongan ini. Mungkin 43:04 ada Indonesia lebih. Tapi orang 43:06 Indonesia enggak bisa semuanya. Dan ini 43:09 tinggal ee apa namanya? menunggu waktu 43:11 saja kapan itu konflik terjadi. 43:14 Ya, seperti itu. Jadi ke ke kemajuan 43:19 industri, kemajuan fisik, kemajuan 43:22 ekonomi dicapai betul tapi at the cost 43:26 of spiritualism 43:28 ya. Tapi harus dibayar adalah spiritual 43:30 yang kosong, 43:31 manusia yang tidak punya apa visi dan 43:34 misi kehidupan dunia sehingga penyakit 43:37 sosial banyak ya. bunuh diri, stres, dan 43:40 lain sebagainya menjadi hari-hari yang 43:42 kita saksikan di sana. Ya. 43:44 H. 43:45 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 43:47 Subhanahu wa taala, saat ini Anda sedang 43:49 menyimak siaran live kajian ekonomi 43:51 Islam bersama Usad Iwan Basri. Kami 43:53 mengundang Anda untuk menyampaikan 43:54 pertanyaan ataupun komentar mengenai 43:56 topik yang kita bahas. Silakan kirimkan 43:58 ke nomor WhatsApp Rasil di 0811999720. 44:04 Kami akan 44:06 istirahat sejenak ya hot. kami akan 44:09 kembali. Tetaplah bersama kami. 44:11 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah 44:13 subhanahu wa taala. Terima kasih masih 44:14 bersama kami dalam kajian ekonomi Islam. 44:17 Kita mengangkat topik mengenai ekonomi 44:19 Islam dan jebakan 44:22 pendapatan menengah. Nah, itu Pak Ustaz 44:23 ya. Saya ingin menyapa ada Ibu Ani Cani 44:26 Hudaifah yang menyampaikan atensinya. 44:28 Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi 44:29 wabarakatuh, Pak Ustaz. Saya hadir 44:32 menyimak 44:33 apa yang Pak Ustaz sampaikan. 44:35 Terima kasih. Insyaallah, Pak Ustaz dan 44:37 keluarga Rasil sehat walafiat. 44:39 Amin. 44:40 Ada juga Pak Budi. Asalamualaikum. 44:42 Alhamdulillah menyimak Pak Ustaz. 44:43 Begituun ini ada Ibu Ratna. 44:46 Asalamualaikum warahmatullahi 44:47 wabarakatuh. 44:48 Menyimak, Pak Ustaz. 44:50 Begituun 44:53 ini nama kontaknya pejuang devisa ini. 44:56 [tertawa] 44:57 Ini pejuang devisa. Siapa namanya gitu 45:00 ya? Ee menyimak Pak Ustaz dari Lombok. 45:02 Wah, dari Lombok menyimak ya. 45:04 Alhamdulill. 45:04 Masyaallah. Heeh. 45:05 Ada juga Ibu Juni. Asalamualaikum 45:07 warahmatullahi wabarakatuh. 45:08 Waalaikumsalam warahmatullahi 45:09 wabarakatuh. 45:10 Pak Ustaz, saya Ibu Juni di Ciputat. 45:13 Kalau di Amerika kaum kapitalis 45:16 menguasai pajak mungkin karena mereka 45:20 sedikit orang-orang 45:24 ulama Islam yang bisa mengingatkan ya 45:26 karena negara sekuler ya. Tapi bagaimana 45:30 di Indonesia? Kan kita mayoritas muslim. 45:33 Tentu banyak ulama yang menguasai ilmu 45:34 ekonomi Islam. Tapi mengapa kita tidak 45:37 bisa bersuara mengingatkan mengingatkan 45:39 pemerintah untuk tidak menyia-nyiakan 45:42 rakyat dengan sewenang-wenang? 45:44 Bagaimana, Pak Ustaz? 45:45 Iya. Ya, saya setuju dengan 45:48 pendapatannya, pendapat Bu Juni tentang 45:51 itu ya, bahwa kita di Indonesia ini ee 45:55 banyak ulama, tetapi ulama itu tidak 45:58 bersuara dalam konteks ini. Misalnya 46:01 dalam ketidakadilan ekonomi, dalam 46:04 ketidakmakmuran yang disengaja 46:07 dan praktik penghindaran pajak, praktik 46:10 apa namanya pelanggaran-pelanggaran yang 46:12 lain dalam bidang ekonomi. Ulama enggak 46:15 punya data. Karena mereka enggak 46:17 dilibatkan. Karena itu maka suaranya 46:19 enggak ada. Ya. Tapi yang ulama, 46:23 yang ulama tetapi anggota DPR misalnya 46:26 itu yang punya ya kan sekarang ini 46:29 banyak sekali anggota DPR yang ada Kiai 46:31 Hajin-nya, KH-nya di depan ya itu 46:34 menunjukkan bahwa dia ulama ya. Tapi 46:36 mereka-mereka ini yang seharusnya 46:38 memberikan 46:39 pengawasan terhadap pemerintah bahwa 46:42 praktik-praktik 46:43 yang ilegal, praktik-praktik yang 46:47 menyebabkan kebocoran dalam bidang 46:48 ekonomi, mereka punya datanya dan mereka 46:50 seharusnya yang apa namanya yang 46:53 memberikan suara. Karena tugas dari DPR 46:55 itu adalah mengawasi, mengawasi kinerja 46:58 pemerintah, mengawasi pembangunan ini 46:59 seluruhnya. Apakah itu pembangunan 47:02 dibuat oleh swasta atau diwakilkan 47:04 kepada swasta atau apapun ya ini 47:06 merupakan tanggung jawab mereka. Kalau 47:08 ulama-ulama di pesantren yang tidak ada 47:10 hubungannya dengan seperti itu, mereka 47:12 enggak punya akses, enggak punya akses, 47:15 enggak punya channel untuk berbicara. 47:17 Tapi yang ulama-ulama yang tergabung 47:19 menjadi anggota DPR, menjadi menteri, 47:21 menjadi eksekutif, bahkan juga ada yang 47:23 gubernur ya itu bagi mereka itu ada hak 47:27 amanah. 47:28 mana yang di ee apa namanya harus 47:31 dilaksanakan, ditunaikan. Keadilan harus 47:34 ditegakkan 47:36 ee pelestarian alam harus ditegakkan 47:38 pengawasan terhadap apa namanya 47:42 eksploitasi alam yang berlebihan yang 47:44 mengancam kepada keamanan manusia di 47:47 Indonesia ini ya. Mereka yang punya 47:49 data, yang mereka punya channel itu 47:51 mereka yang harus bertanggung jawab. Ya, 47:53 saya kira begitu. Tapi kalau seandainya 47:55 ulama-ulama di dalam konteks misalnya 47:58 ulama-ulama di pesantren-pesantren 48:00 ditambahin job untuk menagakkan ini, 48:02 mereka enggak punya 48:04 enggak punya data gitu loh ya. dan bukan 48:06 channelnya ya. Mereka fokus kepada 48:09 taklim, kepada pengembangan ilmu agama, 48:12 pada bagaimana mencerdaskan bangsa anak 48:16 bangsa ini menjadi anak yang saleh, anak 48:19 yang memiliki kemampuan untuk 48:21 berkompetisi dalam segala bidang 48:23 industri tapi punya iman dan takwa. 48:26 Itu tugas mereka, gitu. 48:28 Itu ya. Selanjutnya, Pak Ustaz, ini ada 48:31 Pak Ahmad di Bogor. Asalamualaikum 48:33 warahmatullahi wabarakatuh. 48:34 Waalaikumsalam warahmatullahi 48:35 wabarakatuh, 48:36 Pak Ustaz. Menjadi rakyat Indonesia ini 48:39 harus banyak sabar. 48:40 Hanya menjalankan rutinitas. Yang 48:43 penting keluarga bisa makan cukup. Tugas 48:46 siapa? Yang paling utama ini 48:47 mengingatkan orang-orang penting yang 48:51 bertanggung jawab. Terima kasih. 48:54 Inilah kehebatan masyarakat Indonesia 48:57 ya. 48:58 Walaupun di luar sana terjadi ee 49:01 pelanggaran 49:03 macam-macam di bidang segala macam, 49:05 bidang hukum, bidang ekonomi, bidang 49:07 perdagangan dan lain sebagainya. Tapi 49:09 rakyat jelata seperti yang disampaikan 49:11 ini tetap aman ya, tetap sabar ya, sabar 49:15 ya. Nah, ini gak dimiliki oleh negara 49:18 lain. Kalau negara lain kan sudah 49:19 merontak itu. Iya kan? Ini kasus 49:21 sekarang ini yang di Spanyol itu ya 49:24 bagaimana imigran bisa nerobos suatu 49:26 negara. 49:26 Oh iya. dari Maroko itu ya. 49:28 Iya [tertawa] kayak apa namanya Yakjuj 49:32 Makjud keluar dari gua 49:33 itu lihat videonya itu kayak gimana itu 49:36 kita enggak sampai seperti itu walaupun 49:38 kita sulit untuk mendapatkan makan yang 49:41 bergizi ya ini bangsa yang sabar ya. 49:44 Nah, mudah-mudahan begitu ya kita tetapi 49:47 ee kita tidak boleh toleran terhadap 49:50 praktik yang kita lihat di depan mata 49:52 sendiri tentang ketidakadilan, tentang 49:55 ee apa namanya apa namanya 49:59 pengeksploitasi alam ugal-ugalan. 50:01 Iya. 50:01 Yang akan berakhir kepada apa namanya? 50:04 Bencana alam yang bencana itu kalau 50:05 sudah datang bukan mereka yang melakukan 50:08 kejahatan itu yang kena yang enggak ada 50:10 hubungannya yang berduduk asli situ yang 50:13 terkena bencananya seperti yang kita 50:14 lihat di tahun kemarin eh tahun kemarin 50:17 atau ini juga di Aceh gitu kan 50:19 gelondongan kayu entah dari mana bisa 50:21 datang ke situ. Kemudian Sumatera Utara 50:24 juga begitu. Dan semua perusahaan yang 50:27 diduga menjadi penyebab ya 50:30 apa namanya? Enggak enggak bertanggung 50:33 jawab gitu. Enggak enggak ada satu 50:36 perusahaan pun yang bertanggung jawab 50:37 dan itu seperti terjadi dengan 50:38 sendirinya. Padahal enggak mungkin. Ya, 50:41 itulah apabila sebuah negara sudah 50:43 dikuasai oleh orang-orang kompador ini 50:46 ya, orang 50:46 kompador 50:47 orang-orang yang menguasai kekayaan 50:50 kemudian bergabung dengan pemerintah, 50:52 akhirnya alamnya rusak semuanya. Tapi 50:55 ketika kerusakan terjadi mereka tidak 50:58 mau dipersalahkan bahwa mereka 51:00 sembunyilah dan bisa melakukan sembunyi 51:02 ini selama di dunia ini ya. 51:05 Dan nanti di akhirat ditagih insyaallah. 51:07 Ya. Ya. Selanjutnya ada hamba Allah di 51:10 Jakarta Timur. Asalamualaikum 51:12 warahmatullahi wabarakatuh. 51:14 Waalaikumsalam warahmatullah. 51:16 Pak Ustaz, ini semua akibat dari sistem 51:19 yang jauh dari keadilan dan jauh dari 51:23 sistem ekonomi Islam. Makanya terjadi 51:26 ketimpangan dan semua-semua itu yang 51:28 merugikan rakyat. Itu saja, Pak Ustaz 51:30 Sukron. 51:31 Ya, sama setuju kita dengan pernyataan 51:33 itu. 51:34 Iya. itu fitting 100% itu sesuai 51:38 matching. 51:40 Masih ada lagi. 51:41 Iya. 51:42 Terus secara adil dan produktif ini ee 51:46 bagaimana masyarakat itu jadi bagian nih 51:49 Pak Ustaz ya. Jadi rakyat itu melihat 51:51 hal ini terus jadi bagian untuk ee 51:53 bergerak ke perbaikan itu gimana, Pak 51:55 Ustaz? Kalau kita tidak memiliki 51:57 pemerintah yang punya visi perbaikan, 52:00 koreksi terhadap sistem yang ada, yang 52:02 punya tekad, karena visi dan misi 52:05 penting. Tapi kalau enggak ada tekad ya 52:07 karena kerusakan sudah sangat parah, 52:09 risikonya tinggi ya. Resikonya tinggi 52:12 untuk mengkoreksi sistem yang salah ya 52:15 taruhannya banyak, taruannya besar 52:17 sekali ya. Apalagi kerusakan itu sudah 52:20 sampai di tingkat cabang di 52:22 ranting-ranting sudah sudah kena semua 52:25 ya. Jadi untuk apa namanya 52:28 mengembalikan mengkorasi menjadi lebih 52:30 baik itu perlu pemimpin yang tegas punya 52:35 visi dan misi dan dia tidak takut. Di 52:38 dalam Al-Qur'an dikatakan la yakhaufuna 52:41 laumalaim ya tidak takut celaan orang 52:44 yang mencela 52:45 ya. Kalau dibully marah, itu belum belum 52:48 kategori pemimpin yang seperti dalam 52:50 Al-Qur'an ini. Karena dia tidak takut 52:52 celaan orang yang mencela. Celaan 52:55 sekarang muncul dari apa namanya media 52:58 massa, 52:59 muncul dari banyak kalangan ya. Mungkin 53:02 dari kalangan pedagang, kalangan apa 53:05 namanya akademisi juga banyak. Semua 53:07 kalangan ada. Nah, dia memiliki visi 53:11 yang kuat, memiliki 53:13 apa namanya? 53:15 hal yang akan dicapai dengan tegas di 53:17 dalam kepalanya, dalam pikirannya dan 53:19 dia tidak takut untuk melaksanakan itu 53:21 di lapangan. Nah, dia tidak takut dengan 53:24 celaan orang mencela. Makan dalam 53:25 Al-Qur'an ini kata kata kuncinya itu 53:27 tadi 53:28 lahafuna 53:30 laumalaim. Orang yang punya kriteria 53:33 tidak takut celaan orang yang mencela 53:35 h 53:36 karena dia melakukan perbaikan. Nah, ini 53:38 kriterianya jika ada generasi yang 53:41 memiliki kriteria seperti ini ya bisa 53:43 ya. Itu jaminan dari Allah Subhanahu wa 53:45 taala 53:47 ya. Terakhir dari Pak Abi. Ustaz Ikhwan, 53:51 saat ini muslim itu terjangkit 5 K. 53:55 Kantong kosong, perut kosong, ilmu 53:57 kosong, iman kosong. Jadinya 54:00 kelantang-kelontong. Bagaimana ini, Pak 54:02 Ustaz? sepertinya harus duduk bareng 54:04 pakar-pakar ekonomi Islam supaya punya 54:07 solusi yang piawai tapi sederhana untuk 54:10 umat. Bagaimana, Pak Ustaz? Iya. 54:13 Ya, itu juga solusi satu cara ya. Tapi 54:17 kalau saya melihat bahwa kalau kita 54:19 tidak bisa memperbaiki banyak, 54:22 memperbaiki sedikit enggak masalah ya. 54:25 Karena terlalu ee terlalu kecil ee 54:27 kemampuan kita secara individual ya 54:30 untuk bisa memperbaiki yang begitu 54:32 banyak rusaknya. Maka yang bisa kita 54:35 lakukan adalah memperbaiki yang semampu 54:38 kita ya. Karena ee arus ini ee seringki 54:44 bertentangan dengan idealisme kita. 54:47 Arus yang kuat itu seringki bertentangan 54:49 dengan idealisme yang benar. ya. Maka 54:51 untuk mengharapkan ee perbaikan secara 54:54 makro ya itu hanya dalam kertas kerja, 54:57 tetapi dalam kenyataannya sulit kita 54:59 lakukan. Di Amerika [mendengus] sendiri 55:01 itu waktu kemarin ee awalnya Pak Trump 55:05 ini masuk pemerintah yang kedua itu kan 55:08 kebijakan itu ee mengasih tarif sana 55:11 sini sampai 100% gitu ya. Itu kan 55:13 sebenarnya secara 55:15 apa adanya bertentangan dengan prinsip 55:17 perdagangan internasional. Nah, 55:19 sampai-sampai saya itu cari-cari info 55:21 bagaimana profesor-profesor 55:24 yang di bidang perdagangan dan finansial 55:27 internasional ini menanggapi itu kok 55:29 diam saja. Ternyata enggak. Ternyata 55:31 banyak sekali ahli-ahli ekonomi Amerika 55:33 termasuk mereka yang mendapatkan harian 55:35 Nobel bertentangan 180 derajat dengan 55:39 Presiden Trump dan mereka bikin draf 55:41 agar supaya apa yang dilakukan oleh 55:43 Presiden Trump itu diselesaikan atau 55:45 diop kongres. I. 55:46 Tetapi draf ini enggak sampai ke 55:49 kongres. Dihadang. Dihadang sebelum 55:51 masuk. 55:53 Ya. Sama di sini dihadang ya tidak boleh 55:56 ada kajian-kajian ilmiah itu apa namanya 55:59 masuk ke kongres dan menjadi bahan 56:00 pertimbangan kongres sehingga apa? 56:02 Sehingga apa yang dilakukan oleh Trump 56:04 ini yang bertentangan dengan nurani, 56:06 bertentangan dengan prinsip-prinsip 56:07 ekonomi pada umumnya jalan begitu saja 56:10 ya gitu. Nah, di sini juga begitu ya ee 56:14 perbaikan seperti yang pengajuan PK 56:16 Muhammadiyah tentang penguasaan sumber 56:18 daya alam itu kan diaku itu kan benar. 56:21 Apa implementasinya sekarang? Tidak ada 56:23 perubahan apapun. Tidak. Bahkan lebih 56:25 kencang nih. 56:26 Heeh. 56:26 Semakin kencang 56:27 malah makin monopolinya kelihatan 56:29 [tertawa] terjadi. 56:30 Makin berani. 56:31 Berani. 56:32 Dan akhirnya h 56:34 semakin hari semakin banyak orang miskin 56:36 memperkaya orang kaya. 56:37 Nah, itu 56:39 Pak Ustaz ada satu pertanyaan lagi. 56:40 Boleh Pak Ustaz? Boleh, boleh. 56:41 Dari Pak Erik ini ya baru masuk 56:43 pertanyaannya. Asalamualaikum 56:45 warahmatullahi wabarakatuh. 56:46 Waalaikumsalam warahmatullahi 56:47 wabarakatuh. 56:47 Pak Ustaz ingin bertanya eh apa 56:50 maksudnya hubungan antara middle income 56:52 dengan fiscal policy, kemudian monetary 56:57 policy dan juga kaitannya dengan 56:59 negosiasi 57:01 kredit internasional yang harus dibayar 57:04 oleh negara. Terima kasih. 57:06 Iya. 57:07 kebijakan moneter dan fiskal itu kan 57:11 sebetulnya ee sekali tiga uang. Cuma di 57:15 Indonesia itu kan selama ini ee agak 57:18 agak sukar dikoordinasi karena 57:21 independensi Bank Indonesia atau bank 57:23 sentral. Kalau di negara yang menyatukan 57:27 itu dalam tangan departemen keuangan itu 57:31 tidak tidak mudah untuk koordinasi 57:33 he. 57:34 Sistem apa nam kebijakan moneter dengan 57:37 kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal 57:39 ditang menteri keuangan. Tapi kebijakan 57:41 moneter ditang oleh Bank Indonesia. Jika 57:43 undang-undangnya itu menganggap bahwa 57:46 bank sentral itu independen seperti 57:48 Federal Reserve di Amerika koordinasinya 57:50 kurang. Seperti kita juga begitu kan. H. 57:53 Makanya ada hal-hal yang kadang-kadang 57:55 harus kita selesaikan, tidak bisa kita 57:58 selesaikan dengan baik karena ada 58:00 hambatan hambatan kelembagaan. 58:02 Contoh misalnya currency atau currency 58:05 itu ee kurs ya, kurs kurs rupiah. 58:08 Bagaimana kita akan apa namanya? Rupiah 58:11 itu maunya segini dikatanya itu menurut 58:14 Kementerian Keuangan. Nah, kalau menurut 58:15 BI lain lagi gitu kan. Nah, kalau ini 58:17 berbeda terus-menerus yang enggak 58:18 sinkron. He. 58:19 Yang enak itu yang middle itu kayak yang 58:21 di pasar modal orang-orang investor, 58:23 bukan investor sebetulnya itu apa 58:25 gambler ya itu ya ee spekulan gitu ya 58:29 yang untung sana karena mereka mainnya 58:30 di rupiah. 58:32 Nah itu. Nah sekarang kalau untuk medal 58:35 income bagaimana kita akan membuat 58:38 Indonesia katakanlah naik ya harus ada 58:40 sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan 58:43 kebijakan moneter ini. Nah, kebijakan 58:46 mon semuanya itu kan masih 100% 58:49 kapitalis karena tidak ada invariabel 58:52 selain daripada bunga ya. Kalau 58:55 seandainya ada variabel yang lain kayak 58:57 misalnya bagi hasil keuangan dan lain 58:59 sebagainya itu ya mungkin berbeda 59:01 modelnya gitu ya. 59:02 Nah, harus sinkron istilahnya harus 59:04 sinkron ya. ada satu ya, 59:06 bagaimana meningkatkan ee produktivitas 59:09 ee supaya ee rakyat itu gampang mencari 59:11 pekerjaan ya mungkin pajaknya dikurangi 59:14 dan lain sebagainya atau bagaimana di 59:16 ini ee apa namanya interestnya harus 59:19 dipasang kayak apa disetel gitu istilah 59:22 dituning gitu loh supaya pas gitu 59:24 frekuensinya dan kalau sudah pas nanti 59:26 ekonomi akan bergerak. 59:28 Nah ini ini harus ada koordinasi yang 59:29 baik. Kemudian yang ketiga itu tentang 59:31 kredit dari internasional ini 59:33 seolah-olah kita ini ingin mengembangkan 59:36 ee apa namanya pembangunan dengan dengan 59:40 ee utang ya 59:41 dengan utang ya 59:43 itu ee memang kalau sampai dengan hari 59:46 ini tidak ada yang tidak ada sebuah 59:48 pembangunan di mana pun juga pasti ada 59:51 yang sifatnya itu utang ya 59:54 bahkan ada yang kaya banget seperti 59:57 Saudi Arabia ternyata sampai mengalami 1:00:00 defisit sehingga dia menutup defisit itu 1:00:02 dengan utang. Nah, nah kalau maunya 1:00:05 tidak ada utang ya kita harus pakai 1:00:08 musyarakah. Musyarokah itu ya 1:00:10 e kita kerja sama ya kita kerja kita 1:00:13 punya tanah kita punya ini. Yuk anda 1:00:15 punya teknologi. Tapi apa namanya ini 1:00:19 harus kita kelola bersama dan win-win 1:00:22 solution. Jangan sampai ada yang terlalu 1:00:25 apa ngambil banyak kita terlalu sedikit. 1:00:27 Nah itu bagaimana? Nah, yang ini kita 1:00:29 inginkan. Tapi sekali lagi saya kan 1:00:32 tidak masuk di dalam bidang itu. Saya 1:00:34 cuman melihat dari ee informasi yang 1:00:36 masuk ke saya dan background saya kan 1:00:38 ekonomi tahunya seperti itu tapi enggak 1:00:40 terlibat langsung gitu ya. Jadi 1:00:42 bagaimana negosiasi dengan 1:00:44 perusahaan-perusahaan yang lain itu kita 1:00:46 lakukan tidak berdasarkan utang tetapi 1:00:48 berdasarkan apa namanya join venture 1:00:50 gitu. Kalau menggunakan Join Venture kan 1:00:52 kita enggak terlibat utang ya. Kalau 1:00:55 kita ingin membangun pabrik pupuk tapi 1:00:58 dengan utang dari donor yang lain ya 1:01:01 seperti itu sudah dilakukan oleh Pak 1:01:03 Harto sudah puluhan tahun ya dan 1:01:05 menunjukkan 1:01:06 ee di akhir daripada periode itu 1:01:09 utangnya numpuk ya. Tapi kalau kita ee 1:01:13 tarik lagi ke belakang, kita cari 1:01:15 bagaimana model pembangunan yang 1:01:17 musyarakah yang saling join antara modal 1:01:20 dengan modal dan kita win-win solution 1:01:23 belum dicoba dengan baik ya. 1:01:25 Mudah-mudahan bisa dicubah. Saya kira 1:01:27 begitu. 1:01:27 Baik, itu menjadi pertanyaan terakhir 1:01:29 tuh Pak Ustaz yang bisa kita jawab. 1:01:31 Sebagai penutup, Pak Ustaz, singkat dari 1:01:34 topik kita, apa yang diingatkan kepada 1:01:35 pendengar, 1:01:36 para pemirsa Rasul TV dan para pendengar 1:01:39 silaturahim yang dirahmati Allah 1:01:40 Subhanahu wa taala. Jadi ee kalau kita 1:01:43 lihat dari sisi kemiskinan kita bahwa 1:01:48 apa namanya cita-cita untuk mencapai 1:01:51 sebuah negara pada tangga pendapatan 1:01:54 menengah ini diruntuhkan oleh ke 1:01:59 wujudnya kemiskinan struktural di 1:02:01 Indonesia dan itu menggerogoti sebagian 1:02:04 besar dari middle income ke bawah ya dan 1:02:07 itu penyebabnya adalah disebabkan karena 1:02:10 sebagian daripada pendapatan-pendapatan 1:02:12 menengah itu dipakai untuk membayar hal 1:02:14 yang sangat esensial. 1:02:16 Bayar air, kemudian bayar gas yang tidak 1:02:21 disubsidi. Kalaupun disusubsidi itu 1:02:23 enggak bisa dijalankan dengan baik 1:02:25 sehingga yang menerima subsidi itu nak 1:02:27 dapat gitu loh. Yang menerima subsidi 1:02:29 banyak orang kaya ya. Nah, ini harus 1:02:32 menjadi ee diperhatikan ya. bagaimana 1:02:35 sebuah negara yang ingin mencapai midle 1:02:39 income tapi struktural kemiskinan 1:02:42 struktural tidak bisa diperbaiki. Ya, 1:02:45 sebagian besar mungkin enggak dalam hal 1:02:47 tertentu mungkin sebagian besar orang di 1:02:50 bagian medal income ini hanya bisa 1:02:53 bertahan makan minum itu aja ya. Gak 1:02:57 punya kesempatan untuk investasi, gak 1:02:59 punya kesempatan untuk menabung, apalagi 1:03:02 untuk memperbaiki kesehatan mereka, 1:03:04 pendidikan mereka. Karena mereka ada 1:03:07 hanya dalam circular flow, lingkaran 1:03:09 setan yang ada dalam kemiskinan itu dan 1:03:13 mereka tidak bisa keluar dari jebakan 1:03:15 lingkaran kemiskinan itu ya. Dan ini 1:03:18 jumlahnya banyak. Kalau mau lihat itu 1:03:20 orang yang mikul-mikul, orang yang 1:03:22 dorong-dorong di jalan banyak banget 1:03:24 ini. Bagaimana mereka itu akan bisa 1:03:26 meningkat pendapatannya lima kali dalam 1:03:28 5 tahun kalau mereka tetap seperti itu. 1:03:31 Ya enggak kebayang saya juga ini yang 1:03:34 kita lihat itu datanya bisa ada di dalam 1:03:36 BPS ya. Tetapi kenyataan sehari-hari 1:03:39 kalau kita ke kantor BPS pun sebelah 1:03:41 kantor mesti ada orang yang dorong. 1:03:43 Iya. 1:03:43 Wah keluar gorengan segala macam. Nah, 1:03:46 kalau orang seperti ini 10 tahun yang 1:03:48 akan datang tidak berubah ya kita 1:03:51 harapkan bagaimana perubahan 1:03:52 pendapatannya. 1:03:53 Mungkin malah tidak bertambah karena 1:03:56 inflasi ya makin makin kecil. Nah, 1:03:59 itulah karena itu maka ee penguasaan 1:04:02 sumber daya yang ada di Indonesia ini 1:04:05 harus dikembalikan kepada inti ee pasal 1:04:10 33 Undang Dasar 45. 1:04:12 Iya. yaitu segala 1:04:14 air dan bumi dan segala isinya harus 1:04:16 dikuasai oleh negara. Dan dalam Islam 1:04:18 dikatakan bahwa manusia bersekutu dalam 1:04:20 tiga hal. 1:04:21 H 1:04:21 air, api, dan padang rumput. Ya, enggak 1:04:26 boleh dimonopoli air itu enggak boleh 1:04:28 dilimpahkan kepada perusahaan apalagi 1:04:30 perusahaan asing. 1:04:31 Energi enggak boleh dilimpahkan pada apa 1:04:34 nam enggak boleh dimonopoli. Semua orang 1:04:36 harus memiliki akses untuk mendapat 1:04:38 energi secara sufisien, secara cukup. 1:04:41 Ya, selama ini diabaikan maka saya kira 1:04:46 kita mimpi siang bolong 1:04:49 untuk menjadi sebuah negara dengan 1:04:51 predikat pendapatan menengah gitu, Mas. 1:04:54 Sangga. 1:04:55 Baik, demikianlah ikhwan akhwat yang 1:04:57 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 1:04:58 kajian ekonomi Islam edisi hari ini 1:05:00 bersama guru kita Ustaz Ikhwan Basri. 1:05:02 Semoga apa yang beliau sampaikan 1:05:04 bermanfaat bagi kita semua. Dari studio 1:05:07 kami pamit undur diri. Mohon maaf atas 1:05:10 segala kesalahan kata. Billahi taufik 1:05:11 wal hidayah. Subhanakallahumma 1:05:13 wabihamdika ashadu alla ilahailla anta 1:05:15 astagfiruka waubu ilaik. Asalamualaikum 1:05:17 warahmatullahi wabarakatuh. 1:05:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:05:19 wabarakatuh.