oleh

Hidupkan Malam Terakhir mu Dibulan Ramadhan Dengan I’tikaf 

Hidupkan Malam Terakhir mu Dibulan Ramadhan Dengan I’tikaf 

Cibubur, Rasilnews – Tak terasa 24 hari sudah bulan Ramadhan berlalu. Artinya, tinggal tersisa 5 atau 6 hari terakhir dari bulan suci ini, yang para ulama menyebutkannya sebagai Al-‘Asyrul Awakhir.

Dalam fase ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin getol beribadah kepada Allah. Dalam sebuah hadits, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya” (HR. Bukhari).

Dr. KH. Zaki Mubarak, MA dari PBNU menjelaskan bahwa salah satu yang beliau kerjakan di sepuluh hari terakhir adalah dengan berdiam diri di masjid dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Berdiam diri di masjid dan melakukan peribadahan demi mendekatkan diri kepada Allah sering diistilahkan dengan I’tikaf,” ujarnya saat memberikan tauysiah di Radio Silaturahim.

Salah satu anjuran ibadah yang dilakukan ialah I’ktikaf. I’tikaf adalah salah satu dari sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits disebutkan :

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau,” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i, dan Ahmad)

Pengasuh Tausyiah Kitab Al Lu’lu wal marjan menyebutkan bahwa status hukum i’ktikaf adalah sunnah, dapat dikerjakan setiap waktu yang memungkinkan, terutama pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

“Rasulullah giat menghidupkan iktikaf di
Anjuran beri’ktikaf disebutkan dalam hadis, salah satunya hadis dari Aisyah “sesungguhnya Nabi SAW beri’ktikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau, lalu I’ktikaf dilanjutkan oleh para istri Rasulullah SAW setelah beliau wafat,” ujarnya.

I’ktikaf bulan ramadhan juga dijelaskan oleh hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu :

“Biasanya Rasulullah SAW beri’tikaf sepuluh hari di setiap Ramadan. Di tahun kematiannya, beliau beri’tikaf dua puluh hari.”

Nabi SAW juga pernah melakukan I’ktikaf di luar bulan Ramadhan, dalam Hadis Shahih Al-Bukhari No.1892, dari Aisyah Radhiyallahu Anha

“Nabi SAW. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dan aku membangun di masjid itu sebuah tempat khusus untuk Beliau, dan setiap beliau selesai dari shalat Shubuh Beliau masuk ke dalam tempat yang ditutupi oleh hordeng tersebut. Kemudian Hafshah meminta izin kepada Aisyah untuk juga membuat tempat, maka Aisyah mempersilahkan Hafsah untuk membuatnya, lalu Hafshah membuatnya. Ketika Zainab putri dari Jahsy melihatnya ia pun membuat tempat yang lain buatnya. Pada pagi harinya, Nabi SAW. melihat tempat tempat yang ditutupi hordeng tersebut lalu berkata: “Apa ini?” Lalu Beliau diberitahu. Maka Nabi SAW. berkata: “Apakah kalian melihat kebaikan ada padanya (dengan membuat tempat tempat yang di tutupi hordeng ini)?” Akhirnya Beliau meninggalkan i’tikaf pada bulan itu lalu Beliau ber’tikaf sepuluh hari pada bulan Syawal.

“Inilah yang menjelaskan bahwa I’ktikaf tidak harus di bulan Ramadhan, bisa di bulan Syawal atau bulan lainnya” Ujar Dr. KH. Zakki Mubarak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed