oleh

Tajuk Rasil : Hari Sumpah Pemuda, Ingat Tanggal Lupa Makna

-Tajuk-64 DIBACA

Senin, 5 Rabiul Akhir 1444 H/ 31 Oktober 2022

Beberapa hari lalu CNN Indonesia merilis sebuah berita mengenai “Sumpah Pemuda di Mata Warga: Ingat Tanggal, Lupa Makna”. Warga kebanyakan tak lagi ingat soal sejarah Sumpah Pemuda serta maknanya bagi kemerdekaan RI meski ingat tanggal peringatannya, yakni 28 Oktober. Hari Sumpah Pemuda sendiri ditetapkan untuk mengenang momen Kongres Pemuda II yang digelar 92 tahun silam di Batavia (Jakarta).

Kongres selama dua hari pada 27-28 Oktober 1928 tersebut kemudian melahirkan ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda, yani bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Ikrar ini dipandang sangat penting sebagai fondasi terbentuknya kesatuan Indonesia dan menjadi cikal bakal semangat nasionalisme kebangsaan di saat Indonesia masih dijajah Belanda.

Kini, 92 tahun usai peristiwa itu, sejumlah warga yang ditemui CNNIndonesia.com mengaku ingat peringatan Hari Sumpah Pemuda meski tak lagi tahu maknanya. Meski tak tahu persis sejarah dan makna dibalik peringatan itu, beberapa warga berpendapat Sumpah Pemuda memiliki andil dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Tentu hal ini menjadi ironi karena betapa pentingnya catatan sejarah bangsa ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi setiap generasi.

Mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, ketika melakukan Orasi Kebangsaan Sumpah Pemuda yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda. Prof Haedar mengatakan, negara Indonesia dibangun di atas fondasi persatuan untuk semua. Dari paham kesatuan tersebut, maka setiap bentuk oligarki, monopoli, dan kekuasaan mutlak oleh satu orang atau segelintir pihak berlawanan dengan jiwa Pancasila dan Konstitusi Indonesia.

Karena itu, Prof Haedar mengajak semua pihak menjauhi pandangan radikal-ekstrem yang menempatkan segala idiom keindonesiaan dalam nalar antagonistik yang memecah. Dia juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk menghindari segala bentuk ujaran dan tindakan yang menebar virus perpecahan, lebih-lebih menjelang tahun politik 2024. “Hindari segala bentuk ujaran dan tindakan yang menebar virus perpecahan. Pemilu 2024 harus menjadi komitmen bersama menyatukan bangsa dan mengakhiri pembelahan politik kebangsaan,”ungkapnya seperti dikutip laman resmi Muhammadiyah.

Profesor Haedar juga berpesan supaya momen memperingati Sumpah Pemuda menjadi komitmen bersama menyatukan bangsa dan mengakhiri pembelahan politik kebangsaan. Merujuk Pidato 1 Juni 1945 Soekarno, Prof Haedar menyebut bahwa Negara Indonesia bukan satu negara untuk segelintir satu orang maupun golongan saja, tetapi berdirinya Indonesia untuk semua. Beliau pun meneruskan, bahwa Indonesia dengan bangunan dasar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika mesti dikonstruksi dengan jiwa dan pandangan yang moderat.

Guru Besar Sosiologi ini juga berpesan pada generasi milenial sebagai pewaris, agar terus memupuk kesadaran menjadi aktor persatuan dan kemajuan bangsa. Ia mengajak menjadikan media sosial dan ruang publik sebagai arena persaudaraan. “Tumbuhkan pola pikir, sikap, dan tindakan bahwa semua anak bangsa dari latar belakang yang berbeda adalah saudara untuk hidup bersama secara harmoni, damai, toleran, dan berkemajuan,” pesan Prof Haedar.

Menurutnya, persatuan harus dibangun dengan jiwa tulus dan autentik, bukan disimulasi dengan kepentingan-kepentingan sesaat. Terkait ini, Prof Haedar mengutip Surat Al Hasyr ayat 13 yang menerangkan tentang persatuan yang banal, dan tidak sampai pada hati. Maka, semua elemen bangsa harus hadir dengan teladan dan kenegarawanan.

“Semua elite dan warga bangsa hadir dengan teladan dan kenegarawanan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur milik bersama. Persatuan dan kemajuan itu mahal harganya. Persatuan harus menjadi gerakan dan budaya kolektif seluruh komponen bangsa. Ruang publik Indonesia mesti dipenuhi suara-suara emas yang menggelorakan persatuan. Jangan biarkan para pembikin kegaduhan dan perpecahan menguasai jagad Nusantara agar Indonesia tetap utuh dan maju,” pungkasnya.

Wallahu ‘alam bisshawab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed