Nazir Wakaf Harus Punya Jiwa Besar dan Ikhlas Menjalankan Amanah

Puncak, Rasilnews — Pengelolaan wakaf tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan bisnis dan aspek ekonomi, tetapi juga membutuhkan kekuatan spiritual, keikhlasan, dan jiwa besar dari para nazir yang menjalankan amanah umat.

Dalam acara Pelatihan Wakaf “Mengoptimalkan Aset Wakaf Produktif” di Wisma Arga Mulya, Puncak, Bogor, Jawa Barat, Drs. Achmat Rizani menyampaikan bahwa seorang nazir, pengurus yayasan, maupun pengelola badan wakaf harus merasa bersyukur karena telah dipercaya mengelola amanah umat yang juga merupakan amanah dari Allah SWT.

“Kalau kita menjalankan amanah Allah dengan sungguh-sungguh, insyaAllah kebutuhan kita akan dicukupi. Bukan hanya untuk kepentingan umat, tetapi juga kebutuhan pribadi,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa jabatan dalam lembaga wakaf tidak boleh dijadikan sarana mencari gengsi atau kehormatan di tengah masyarakat. Sebab, tidak sedikit orang yang justru hancur karena terlalu membanggakan jabatan yang dimilikinya.

Sebaliknya, orang yang menjalankan amanah dengan rasa syukur dan niat ibadah akan memperoleh keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.

Menurut Achmat, rasa takut gagal memang wajar dimiliki seorang nazir. Namun rasa takut itu harus menjadi dorongan untuk bekerja lebih baik, bukan membuat seseorang berhenti melangkah.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip pesan Ahmad Dahlan yang menurutnya sangat relevan dalam pengelolaan wakaf. “Hidupilah Muhammadiyah, tetapi jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah,” tandasnya.

Pesan itu, kata dia, juga berlaku dalam dunia wakaf. “Hidupkan wakaf dan perjuangkan wakaf, tetapi jangan menjadikannya sekadar alat mencari penghidupan,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengelola wakaf tetap memiliki hak memperoleh penghasilan yang layak. Menurutnya, Islam juga mengatur hak bagi orang-orang yang mengelola amanah umat, sebagaimana amil dalam pengelolaan zakat.

Namun, ia menilai keberkahan jauh lebih penting daripada sekadar besarnya penghasilan. “Kadang secara materi terlihat sedikit, tetapi kalau penuh keberkahan nilainya jauh lebih besar,” ujarnya.

Achmat juga menekankan pentingnya kejujuran dan sikap rendah hati dalam mengelola wakaf. Menurutnya, orang yang merendahkan diri di hadapan Allah justru akan dimuliakan.

Selain itu, pengelola wakaf juga harus terbuka terhadap perkembangan zaman, termasuk teknologi dan sistem manajemen yang profesional. “Seseorang mungkin punya banyak ide, tetapi belum tentu menjadi pelaksana terbaik. Karena itu harus berlapang dada memberikan kepercayaan kepada orang yang lebih ahli dan profesional,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan agar para nazir dan pengurus lembaga wakaf memiliki mental yang kuat dan siap menerima kritik dari masyarakat. “Jangan baru dikritik langsung marah atau memusuhi orang. Mengelola amanah umat memang harus siap menerima masukan,” katanya.

Terkait pengelolaan wakaf di Singapura yang dinilai lebih maju dan mendapat tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, Achmat menilai hal itu tidak hanya dipengaruhi faktor keikhlasan, tetapi juga karena adanya penegakan hukum yang tegas dan manajemen yang baik.

“Di sana hukum berjalan tegas dan berlaku untuk semua. Itu membuat orang lebih disiplin dan amanah sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengelolaan wakaf yang baik membutuhkan perpaduan antara keikhlasan, amanah, profesionalitas, serta sistem hukum yang adil dan konsisten.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *