Bogor, Rasilnews — Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan zaman, generasi muda dinilai semakin jauh dari sikap mandiri, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap nilai-nilai kehidupan masyarakat. Kondisi inilah yang mendorong SMAIT Insan Mandiri Cibubur kembali menghadirkan program Live-In 2026 sebagai sarana pembentukan karakter siswa.
Kegiatan yang berlangsung pada 21–23 Mei 2026 ini digelar di Saung Santri Jonggol, Desa Sukasirna, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Melalui kegiatan live-in, para siswa tidak hanya diajak tinggal bersama masyarakat, tetapi juga belajar memahami kehidupan sosial secara langsung. Mereka menjalani aktivitas sehari-hari warga, belajar hidup sederhana, mandiri, disiplin, hingga membangun rasa empati terhadap lingkungan sekitar.
Kepala SMAIT Insan Mandiri Cibubur, Manarul Iksan mengatakan, program live-in tahun ini hadir dengan konsep berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, siswa tidak hanya datang untuk mengenal budaya masyarakat desa, tetapi juga dilibatkan dalam proses riset kebutuhan warga sebelum kegiatan dilaksanakan.
“Live-In ini bukan sekadar tinggal di desa, tetapi bagaimana anak-anak belajar hidup bersama masyarakat, memahami kondisi mereka, lalu memberikan kontribusi nyata sesuai kemampuan yang dimiliki,” ujar Manarul Iksan kepada Rasilnews.
Ia menjelaskan, para siswa sebelumnya telah dipetakan berdasarkan minat dan bidang yang ingin mereka tekuni, mulai dari kedokteran, arsitektur, hingga kewirausahaan. Dari pemetaan tersebut, siswa kemudian diminta merancang program pengabdian yang dapat diterapkan langsung kepada masyarakat.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan di antaranya penyuluhan composting, pemeriksaan kesehatan gratis, fun learning, hingga permainan edukatif bagi anak-anak di Desa Sukasirna.
Manarul menyebut, seluruh program tersebut lahir dari hasil survei dan pengamatan langsung yang dilakukan para siswa sebelum kegiatan berlangsung. Dari hasil riset tersebut diketahui mayoritas masyarakat Desa Sukasirna berprofesi sebagai petani.
“Anak-anak melihat bahwa kebutuhan masyarakat di sini berkaitan dengan pertanian. Karena itu mereka membuat program composting yang diharapkan bisa membantu meningkatkan kesuburan tanah dan hasil pertanian warga,” jelasnya.
Program composting itu menggunakan metode berbasis bakteri dan maggot untuk menghasilkan pupuk organik yang ramah lingkungan. Selain fokus pada sektor pertanian, siswa juga melihat potensi besar pada anak-anak usia sekolah dasar di desa tersebut sehingga dibuat kegiatan belajar interaktif dan permainan edukatif.
Dalam pelaksanaannya, Live-In 2026 mengusung tema “Mandiri Bergerak Bersama Berdampak”. Tema tersebut menjadi semangat utama dalam membangun karakter siswa agar mampu mandiri, aktif bergerak, bekerja sama, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Mandiri itu bukan hanya nama sekolah, tetapi harus menjadi karakter siswa. Mereka harus mampu survive, aktif bergerak, bekerja sama dalam tim, dan memberikan dampak positif di masyarakat,” tandasnya.
Ia berharap kegiatan live-in dapat membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian sosial dan kesiapan menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
“Kalau anak-anak sudah punya empati dan kepedulian terhadap masyarakat, insya Allah mereka akan lebih siap menghadapi kehidupan dan tantangan ke depan,” ungkapnya.
Di akhir kegiatan, Manarul juga berpesan kepada seluruh siswa untuk terus bersemangat dalam menjalani proses meraih cita-cita dan tidak berhenti menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
“Dalam setiap perjuangan pasti ada proses. Yang penting terus semangat dan berusaha memberikan manfaat untuk sesama,” pungkasnya.