Jonggol, Rasilnews — Di tengah meningkatnya persoalan kesehatan mental remaja akibat tekanan digital, ketergantungan gadget, hingga minimnya interaksi sosial, SMIT Insan Mandiri menghadirkan pendekatan berbeda melalui kegiatan Live In 2026 di Desa Sukasirna, Kampung Jati Nunggal.
Mengusung tema “Mandiri Bergerak Bersama Berdampak”, program ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran di luar kelas, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter mandiri dan kepedulian sosial siswa melalui kehidupan langsung bersama masyarakat.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tinggal di rumah warga dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama masyarakat desa. Mereka belajar hidup sederhana, beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun komunikasi sosial, hingga terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat.
Penanggung jawab kegiatan, Ustaz Manarul Iksan, menilai pengalaman seperti ini penting bagi remaja di tengah kondisi generasi muda saat ini yang semakin dekat dengan dunia digital dan cenderung minim interaksi sosial secara nyata.
“Anak-anak sekarang hidup sangat dekat dengan gadget. Banyak yang terbiasa menyendiri, kurang berinteraksi, bahkan kesulitan membangun kedekatan sosial. Karena itu mereka perlu ruang untuk belajar hidup bersama masyarakat secara langsung,” ujar Ustaz Iksan, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, kegiatan live in menjadi salah satu cara untuk melatih ketahanan mental remaja melalui pengalaman kehidupan nyata. Para siswa dilatih untuk mandiri, bertanggung jawab, serta menghadapi tantangan di luar zona nyaman mereka.
Selama tinggal bersama warga, siswa mulai terbiasa mengatur aktivitas sendiri, bangun sebelum subuh, mengikuti kegiatan masyarakat, hingga menyelesaikan tugas tanpa ketergantungan penuh kepada guru maupun fasilitas yang biasa mereka dapatkan.
“Hal-hal sederhana seperti belajar disiplin, berbicara sopan kepada warga, membantu masyarakat, dan hidup bersama orang lain ternyata sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kematangan emosional mereka,” jelasnya.
Selain tinggal bersama masyarakat, para siswa juga menjalankan berbagai program sosial seperti penyuluhan composting, budidaya maggot, dan fun learning bersama anak-anak desa. Interaksi tersebut dinilai mampu membangun rasa empati sekaligus meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Di tengah meningkatnya kasus stres, kecemasan, hingga krisis identitas pada remaja, kegiatan berbasis interaksi sosial dan pengabdian masyarakat dinilai menjadi salah satu alternatif pendidikan karakter yang relevan saat ini.
“Ketika anak-anak merasa dibutuhkan, bisa membantu orang lain, dan memiliki hubungan sosial yang sehat, itu sangat baik untuk kesehatan mental mereka,” kata Ustaz Iksan.
Ia berharap kegiatan seperti live in dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan karakter di sekolah, agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan mental, kepedulian sosial, dan kemampuan beradaptasi di tengah kehidupan masyarakat.
“Pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengejar nilai akademik. Anak-anak juga perlu dibangun mentalnya, emosinya, dan rasa tanggung jawab sosialnya,” tutupnya.