Kembali ke berita

Artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Admin

Bagikan

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025
Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya

“Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan aku dalam doa tulusmu memohon ampunan dan penerimaan.” Pernyataan tersebut dituliskan oleh jurnalis Aljazeera Anas Jamal Al-Sharif pada 6 April 2025. Teman-teman Anas mengunggah tulisan tersebut di akun X Anas, beberapa saat setelah dia syahid mengembuskan napas terakhirnya.

Anas meninggal dunia bersama empat rekannya dalam serangan Israel ke sebuah tenda yang menampung jurnalis di Kota Gaza, Palestina, Senin kemarin. Sesaat sebelum dibunuh Israel, Anas juga sempat mengunggah di media sosialnya, Instagram dan X, bahwa Israel telah melancarkan pemboman yang sangat intens. Anas tahu dia telah menjadi target Israel. Dunia juga tahu. Pada 3 Agustus 2025, demonstran di Utrecth, Belanda, melakukan aksi solidaritas bersama Anas Al-Sharif. Dalam aksi tersebut, demonstran melakukan aksi solidaritas untuk Palestina dan dukungan kepada jurnalis di Gaza. Anas bergabung secara online dalam demonstrasi tersebut.

Dalam aksi tersebut, demonstran membawa banner bertuliskan “Journalism is not a crime. Stop Targeting Journalist.” Mereka juga membawa banner bergambar foto Anas sembari menyorakan agar Israel berhenti menargetkan jurnalis di Gaza. Selama 22 bulan, Anas tidak berhenti melaporkan berbagai hal yang terjadi di Gaza, termasuk kematian koleganya. Pada 21 Juli 2025, Anas berpakaian rompi bertuliskan PRESS dan memegang mic berwarna biru dengan logo Aljazeera tampil di depan televisi untuk mengabarkan kelaparan di Gaza. Dia mengusap air matanya dan menundukkan kepalanya untuk kemudian melaporkan kondisi di Gaza. Dalam unggahannya di X, Anas menyebutkan dia tidak kuasa menahan kengerian pembantaian yang dilakukan Israel di Gaza. “Namun, saya mendengar suara rakyat saya yang kelaparan berteriak di samping saya: ‘Teruslah maju, Anas, jangan berhenti, kaulah suara kami’.”

Harapan rakyat Gaza pada Anas bukan tanpa alasan. Media sering kali disebut sebagai voice of the voiceless. Namun, seperti yang pernah diucapkan Profesor Amerika Serikat Noam Chomsky, suara orang-orang Palestina sejalan dengan kekuasaan yang mereka miliki. Ini kemudian membuat media internasional lebih sering tidak berpihak pada Palestina.

Salah satu praktik yang dilakukan oleh media untuk menunjukkan keberpihakan atau ketidakberpihakan adalah melalui framing atau pembingkaian. Pembingkaian ditunjukkan melalui pilihan kata, sudut pandang, dan narasi yang disajikan dalam berita. Ketika melaporkan pendudukan Israel di Palestina, media internasional bukan aktor yang pasif. Sebaliknya, mereka menjadi aktor aktif yang membentuk cara publik memahami kondisi di Gaza. Namun, alih-alih menceritakan aktor yang membuat Hind Rajab, bocah berusia 6 tahun, tewas di Gaza. Media internasional menyembunyikan aktor tersebut.

Begitu pula ketika melaporkan Suleiman Al-Obeid, mantan pemain tim sepak bola nasional Palestina, dibunuh saat menunggu untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan pada pekan lalu. Media internasional tidak menyebutkan siapa aktor yang membunuhnya atau siapa aktor yang menyebabkan rakyat di Gaza harus mendapatkan bantuan kemanusiaan. Framing yang dilakukan media internasional berupaya menentukan siapa yang dianggap benar atau salah, korban atau pelaku dalam konteks Israel dan Palestina. Tidak hanya itu, media internasional juga menciptakan legitimasi moral dan politik bagi intervensi militer yang dilakukan Israel di Gaza.

Selama 22 bulan, Anas adalah suara rakyat Gaza dan kini dia telah dibungkam selamanya oleh Israel. Kematian Anas menjadi duka mendalam bagi siapapun yang mengikuti perkembangan Gaza selama hampir dua tahun. Anas awalnya hanya mengunggah pesan dengan bahasa Arab. Seiring berkurangnya jurnalis berbahasa Inggris di Gaza, Anas mulai mengunggah pesan dalam bahasa Inggris.

Kematian Anas Jamal Al-Sharif bukan sekadar kehilangan seorang jurnalis, tetapi juga hilangnya salah satu mata dan telinga dunia terhadap realitas di Gaza. Selama hampir dua tahun, ia menjadi saksi mata yang gigih, menyuarakan penderitaan rakyatnya di tengah ancaman kematian yang terus mengintai. Ia memahami risiko pekerjaannya, tetapi memilih tetap berada di garis depan demi memastikan kebenaran tersampaikan. Tragedi yang menimpa Anas juga mempertegas bahwa serangan terhadap jurnalis di Gaza bukan peristiwa acak, melainkan bagian dari pola sistematis untuk membungkam narasi yang menentang kepentingan pihak tertentu.

Kata-katanya, “Kaulah suara kami,” yang disampaikan rakyat Gaza kepadanya, kini menjadi warisan moral bagi jurnalis dan pembela kemanusiaan di seluruh dunia. Kepergiannya meninggalkan kekosongan, tetapi juga tantangan: siapa yang akan mengisi ruang yang ditinggalkannya, melanjutkan suara yang berusaha dibungkam Israel itu?

Wallahu ‘alam bishshawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim