Nuim Khaiyath: Gaya Kepemimpinan Cermin Cara Pandang Terhadap Kekuasaan

Dalam sejarah Islam, sosok seperti Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sebagai pemimpin yang tetap hidup sederhana meski memegang kekuasaan besar

Cibubur, Rasilnews – Perbedaan gaya kepemimpinan di berbagai negara, baik di tingkat nasional maupun internasional, dipengaruhi oleh faktor budaya, sistem politik, nilai sosial, dan sejarah masing-masing bangsa, sehingga menghasilkan pendekatan yang beragam dalam pengambilan keputusan, komunikasi, serta cara memotivasi dan mengelola masyarakat atau organisasi.

Cara seorang pemimpin bersikap, termasuk dalam menggunakan fasilitas negara, pada dasarnya mencerminkan cara pandang terhadap kekuasaan itu sendiri.

“Cara pemimpin menggunakan fasilitas negara itu sebenarnya menunjukkan bagaimana ia memaknai kekuasaan. Apakah itu amanah untuk melayani publik, atau justru dianggap sebagai privilese,” ujar Nuim Khaiyath dalam Dialog Topik Berita Radio Silaturahim, Senin (11/05/26).

Ia menjelaskan, dalam praktik pemerintahan modern, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara negara satu dengan lainnya. Di sebagian negara, fasilitas negara dikelola secara ketat, transparan, dan benar-benar difungsikan sebagai penunjang kerja. Namun di tempat lain, fasilitas tersebut masih kerap dipandang sebagai bagian dari hak istimewa pejabat.

Sebagai seorang jurnalis yang sudah malang melintang di dunia pemberitaan, Nuim mencontohkan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong yang disebut dalam beberapa kesempatan menggunakan penerbangan komersial, bahkan duduk di kelas ekonomi saat perjalanan dinas resmi.

“Ada contoh menarik seperti Perdana Menteri Singapura yang dalam beberapa kesempatan memilih penerbangan komersial, bahkan duduk di kelas ekonomi. Ini menunjukkan bahwa kesederhanaan dalam kepemimpinan itu masih sangat mungkin,” katanya.

Menurutnya, perbedaan tersebut tidak terlepas dari sistem dan budaya politik masing-masing negara. Negara dengan tata kelola yang lebih terbuka cenderung menempatkan fasilitas negara secara ketat sebagai alat kerja, bukan kenyamanan pribadi.

Sebaliknya, di sejumlah negara dengan budaya politik patrimonial, batas antara fasilitas publik dan privilese pejabat masih sering kabur. Kondisi ini, kata Nuim, dapat berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa nilai kesederhanaan dalam kepemimpinan bukan hal baru. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sebagai pemimpin yang tetap hidup sederhana meski memegang kekuasaan besar.

“Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq itu memberi teladan bahwa kekuasaan tidak harus dibungkus kemewahan. Justru yang utama adalah tanggung jawab dan keadilan,” ujarnya.

Nuim menegaskan bahwa gaya kepemimpinan tidak hanya terlihat dari kebijakan besar, tetapi juga dari sikap sehari-hari pemimpin dalam memperlakukan fasilitas Negara, “Hal-hal kecil seperti cara menggunakan fasilitas negara itu justru sering lebih jujur menunjukkan karakter kepemimpinan,” tambahnya.

Penyiar Radio ABC Australia ini juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan di tengah situasi dunia yang tidak pasti. Menurutnya, manusia sering kali lebih takut pada bayangan masa depan dibandingkan kenyataan yang sedang dihadapi.

“Yang sering membuat kita cemas itu bukan realitasnya, tapi bayangan di pikiran kita tentang masa depan,” katanya. Ia menutup dengan refleksi bahwa di balik kompleksitas kehidupan dan kekuasaan, selalu ada keteraturan dan hikmah yang bisa dipahami seiring waktu.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *