Peringatan Isra Mi’raj, ustaz Husein Alatas: Shalat Harus Membentuk Akhlak dan Ketakwaan Pemimpin

Bekasi, Rasilnews – Shalat tidak boleh dipahami sekadar sebagai ritual formalitas, melainkan harus mampu membentuk akhlak dan ketakwaan seseorang, terlebih bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan.

Dalam ceramahnya, Ustaz Husein menegaskan bahwa shalat sejatinya merupakan cerminan keimanan seorang Muslim. Namun dalam realitas kehidupan, tidak sedikit orang yang tetap melaksanakan shalat tetapi masih melakukan perbuatan tercela, seperti korupsi.

“Shalatnya jalan, tetapi kemaksiatannya juga jalan. Ini menunjukkan bahwa shalat belum benar-benar membentuk ketakwaan,” ujarnya dihadapan jamaah Masjid Babussalam dalam acara pengajian spesial Isra Mi’raj, Ahad (18/01/26).

Ia menjelaskan, jika shalat hanya dijalankan sebagai formalitas tanpa penghayatan, maka nilai-nilai shalat tidak akan tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Padahal, menurutnya, gambaran seorang Muslim dapat dilihat dari shalatnya. “Terlebih jika orang seperti ini menjadi pemimpin, maka amanah sangat berpotensi disalahgunakan,” tambahnya.

Ustaz Husein juga menyinggung tanggung jawab besar para ulama, ustaz, dan tokoh agama di hadapan Allah SWT. Menurutnya, mereka akan dimintai pertanggungjawaban yang lebih berat atas ilmu dan nasihat yang disampaikan kepada umat.

“Keadilan di hadapan Allah berbeda dengan standar keadilan manusia. Setiap perkataan akan diminta pertanggungjawabannya,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar para tokoh agama tidak tergelincir dalam ambisi kekuasaan dan jabatan. “Jangan sampai ustaz, ulama, dan habib dikumpulkan bersama orang-orang zalim yang berlaku sewenang-wenang karena haus akan kekuasaan,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Husein juga mengulas makna shalat dalam peristiwa Isra Mi’raj. Ia menyebutkan bahwa shalat merupakan anugerah agung yang diterima Rasulullah SAW langsung dari Allah SWT.

“Allah mengundang kita lima kali sehari untuk berkomunikasi langsung dengan-Nya. Shalat seharusnya menjadi penyejuk dan hiburan bagi hati orang beriman,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa orang yang menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah SWT akan dibukakan pintu-pintu rahmat-Nya. Meski umat Islam hidup jauh dari masa Rasulullah SAW, kecintaan yang tulus kepada beliau diyakini akan menjadi sebab dikumpulkannya umat bersama Rasulullah kelak.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *