Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:49 [musik] 0:49 Brail 1:00 Syahidallahu 1:01 annahu la 1:04 ilahaillahu 1:08 lailahailla 1:11 huwal azizul [bernyanyi] 1:13 hakim. 1:16 Innaddinaallahil 1:21 islam 1:24 waktalafalladina 1:26 utul kitaba illa mim ba'di maa jaahumul 1:33 ilmu baghyan bainahum 1:37 wam yakfur biayatillahi 1:40 fainnallaha 1:43 sariul hisab 1:47 Fain hajuka 1:50 faqul aslamtu wajhiya lillahi waman 1:55 ittabaan 1:56 waqul lilladzina utul kitaba wal 2:01 ummiyina 2:03 aaslamtum 2:05 fain aslamu faqad ihtadau 2:09 wain tawallau fainnama 2:12 [bernyanyi] alaikal 2:16 Wallahu bir 2:19 bilqallahul 2:24 adzim. 2:32 Dear leaders dan calon leaders di 2:35 seluruh Indonesia dan luar negeri. 2:37 Kembali lagi kita pada acara Indonesial 2:39 Leader Stalk pada malam ini yang 2:41 memasuki episode ke-272 2:45 yang mengangkat tema tentang memetakan 2:48 GenZ berkah atau musibah. 2:50 Sahabat-sahabat sekalian, di tengah 2:52 situasi sosial politik ekonomi Indonesia 2:54 yang tidak stabil ee dipenuhi dengan 2:57 demo-demo mahasiswa para generasi muda 3:01 dan juga beberapa isu terkait generasi 3:03 muda lainnya. Malam ini Indonesia ingin 3:06 mengangkat ee terkait dengan salah satu 3:09 bonus bonus demografi kita saat ini ee 3:13 besarnya e segmen anak muda Gen Z di 3:16 Indonesia ya. Apakah sebuah berkah bagi 3:19 Indonesia ataukah musibah yang hanya ee 3:23 menjadi masalah, menimbulkan masalah ee 3:26 ataupun memberatkan ee bangsa kita. Ya, 3:30 Genz di Indonesia merupakan kelompok 3:32 demografis ee terbesar saat ini dengan 3:35 jumlah mencapai 27,94% 3:38 dari total populasi atau sekitar 74,93 3:42 juta jiwa. Generasi Z yang lahir antara 3:46 tahun 97 hingga 2012 ini hidup di tengah 3:49 keterbukaan informasi yang masif 3:51 menghadapi tantangan ekonomi hingga ee 3:55 ketidakseteraan sosial. Sebagai generasi 3:57 yang tumbuh bersama internet dan 3:59 teknologi digital ee mereka memiliki 4:02 karakteristik yang berbeda dari generasi 4:04 sebelumnya. Namun meski dibebani dengan 4:07 tantangan yang kompleks, mereka turut 4:09 memiliki peluang besar untuk mendorong 4:11 perubahan positif. 4:13 di Indonesia. Saat ini generasi Z 4:17 menghadapi berbagai tantangan hingga 4:18 peluang di tengah pesatnya perkembangan 4:20 teknologi dan perubahan sosial. Salah 4:22 satu tantangan terbesar yang dihadapi 4:25 adalah ketidakpastian ekonomi global. Di 4:28 tengah gejola politik dan ekonomi dunia, 4:30 mencari pekerjaan yang stabil dan 4:32 berkualitas menjadi semakin sulit. 4:34 Selain itu, masalah kesehatan mental 4:36 menjadi perhatian serius di kalangan 4:38 Genzet. Laporan dari Kementerian 4:39 Kesehatan RI menunjukkan ada peningkatan 4:42 signifikan dalam kasus gangguan 4:44 kecemasan dan depresi di kalangan anak 4:46 muda. Tekanan sosial, ekspektasi tinggi, 4:50 dan kecanduan media sosial seringki 4:51 menjadi pemicu utama. 4:53 Dengan segala masalah yang ada itu, 4:55 apakah bonus demografi ini 4:58 merepresentasikan 5:00 akan benar-benar menjadi lokomotif 5:02 kemajuan bangsa atau justru sebaliknya 5:04 menjadi beban struktural dan juga 5:06 kultural dan sosial sangat bergantung 5:09 pada bagaimana negara, masyarakat dan 5:11 generasi Z itu sendiri mengelola potensi 5:13 dan tantangan tantangan tersebut secara 5:15 kolektif. Untuk itu kita ingin 5:18 mendiskusikan ee apa potensi anak muda, 5:21 apakah menjadi sebuah masalah ataukah ee 5:24 menjadi sebuah peluang. Ee sudah hadir 5:27 bersama kita pada malam hari ini yang 5:29 pertama ee Bunda Suci Susanti, 5:31 pendamping anak lapas. Asalamualaikum 5:33 Bunda Suci. 5:35 Waalaikumsalam warahmatullahi 5:37 wabarakatuh. terima kasih sudah hadir. 5:39 Ee kemudian berikutnya sudah hadir juga 5:42 ee bersama kita Mas Farhan ya atau Bang 5:46 Farhan content creator. Asalamualaikum 5:48 Bang Farhan. 5:50 Waalaikumsalam warahmatullahi. 5:52 Terima kasih sudah hadir dan juga Oh, Bu 5:55 Sri belum ya? Lestari belum. Nah, nanti 5:58 e Pak Mardani juga sudah hadir sebagai 6:00 tuan rumah Indonesia. Asalamualaikum Pak 6:02 Mardani. Salam Mang Hir dan semua. 6:05 I terima kasih atas kehadirannya semua 6:09 para narasumber. Sebelum kita mulai 6:11 acara Industal L Stok ini, kami 6:12 mengucapkan terima kasih yang besar 6:14 sebesar-besarnya kepada seluruh pemirsa 6:16 Indusial Lir Stok baik di dalam negeri 6:17 ataupun luar negeri dan juga kepada 6:20 rekan-rekan media dan wartawan yang 6:21 senantiasa menyaksikan meliput dan 6:23 memberitakan acara ILT ini. Acara 6:26 Industal Rok ini bisa disaksikan saat 6:28 ini secara langsung melalui siaran live 6:30 streaming YouTube Mardani Eliera dan 6:33 Rasil TV dan juga di siiarkan melalui 6:35 jaringan radio Rasil 720 AM untuk 6:38 sahabat-sahabat di sekitar Jabur Detabek 6:40 dan juga di juga disiarkan melalui 6:43 jaringan radio rasil di beberapa kota di 6:45 seluruh Indonesia. Baik, kita mulai 6:48 sahabat-sahabat diskusi kita pada malam 6:50 hari ini terkait Gen Z. Apakah sebuah 6:54 berkah atau musibah, peluang atau 6:56 tantangannya apa saja? Kepada Pak Merari 6:58 dipersilakan 7:01 Bang Haldi, Pak Suci, Mas Farhan izin 7:05 duluan. 7:07 Bismillahirrahmanirrahim. 7:09 Asalamualaikum warahmatullahi 7:11 wabarakatuh. 7:13 Alhamdulillah. Allahumma sholli ala 7:16 sayyidina Muhammad. Amma ba'd. 7:20 leaders dan calon leaders. Eh 7:23 tema Genzet selalu menarik ee karena 7:28 dominasi jumlahnya 7:31 yang kian membesar. Ya. 7:35 Ee izin Mbah Suci, Mas Farhan. Karena 7:38 saya ee suka urusan pemilu gitu loh. Di 7:43 ee 2024 kemarin 7:47 angkanya di 56% itu ya. Gabungan sih ya 7:51 40 tahun ke bawah. 7:54 Di 2029 nanti 7:57 diprediksi 73%. Jadi jumlah Genzet itu 8:03 sangat dominan dan karena itu maju atau 8:08 hancurnya satu negara sangat tergantung 8:11 kepada 8:13 adakah GenZ ini menjadi berkah atau 8:16 menjadi musibah. 8:18 Dan karena itu menjadi sangat menarik 8:20 kita membahas 8:23 kondisi faktual dan harapannya bagaimana 8:28 roadmap agar Genzet ini betul-betul 8:31 menjadi pewaris negeri yang punya 8:34 kapasitas, punya integritas 8:38 yang akhirnya menjadikan Indonesia Emas 8:41 2045 dapat tercapai. 8:44 Izin saya cuma menyampaikan 8:47 tiga poin pengantar. Yang pertama 8:51 eh dalam sejarah selalu numbers doesn't 8:56 matter ya. 8:58 Jumlah bukan penentu e tetapi quality 9:03 matters. 9:04 Kualitas yang sangat menentukan. Karena 9:08 itu 9:10 harus menjadi 9:13 perhatian dari negara, 9:16 dari lingkungan, dan dari keluarga. 9:20 Membangun generasi Z atau generasi muda 9:24 yang tangguh adalah pekerjaan utama 9:27 kita. 9:30 Saya ingat ee sebuah percakapan 9:34 sederhana ketika 9:36 para sahabat ee menceritakan 9:40 mimpi-mimpinya. Aku ingin punya dua 9:42 bukit Uhud 9:44 ee dua bukit ee emas sebanyak dua bukit 9:49 Uhud dan aku infakkan semuanya. Aku 9:52 ingin ee berjihad syahid, bangkit lagi, 9:57 maju lagi. Tapi ee Abu Bakar radhiallahu 10:00 anhu yang saya ingat, aku ingin 10:02 menuliskan kalimat lailahaillallah 10:05 pada diri anak-anak muda, ya. Biar kalau 10:08 meninggal pelanjut-pelanjutnya itu ada 10:11 gitu. 10:13 Jadi yang pertama ee pembangunan yang 10:18 berorientasi membangun kualitas Genz 10:23 ee pengarus utamaan ya pembangunan 10:27 ee yang membangun kualitas Genzet atau 10:30 generasi muda menjadi faktor penentu ya 10:34 sehingga perbaikan ee sistem pendidikan 10:39 kita, kualitas sekolah kita, guru guru 10:42 kita, ee iklim baca kita, perpustakaan 10:47 umum kita sampai kepada madrasah masjid 10:51 yang menyediakan tempat-tempat thabul 10:55 ilmi terbaik gitu loh. Pemberian 10:58 insentif kepada para ulama, guru, tokoh 11:02 masyarakat yang mampu membangun iklim 11:06 ilmiah itu menjadi satu turunan. 11:10 Nah, poin dua mohon izin ini mungkin 11:13 cukup kontroversi Mbah Suci, Mas Farhan 11:15 monggo dikritik. 11:18 Ada tren pembatasan media sosial ini ya 11:22 Norwegia, 11:24 ee Austral, 11:26 Inggris ya 11:28 ee internet, AI, sosial media 11:33 selalu 11:35 punya dua sisi ee mata uang. dia bisa 11:40 menjadi eh platform 11:43 knowledge man management system terbaik, 11:46 tapi dia juga bisa menjadi eh disaster 11:51 of the year gituah ya. Nah, dengan 11:56 kualitas 11:58 literasi dan numerasi yang sangat 12:00 terbatas ya, 12:02 saya agak khawatir ya, brand root ya dan 12:06 segala macamnya dapat terwujud. Jadi 12:09 poin dua harus ada sikap yang tegas 12:14 bagaimana ee manajemen 12:17 ee 12:19 ee 12:20 saya menyebutnya ee sistem ee ee arus 12:26 informasi ya melalui digital 12:30 ee dan sosial media perlu diatur dengan 12:33 sangat seksama. 12:35 Tentu era pembatasan, era pengekangan, 12:39 era sensor sudah hilang. Tetapi ee 12:45 Cina yang demikian saja masih membatasi 12:49 ruang ee udaranya, ruang pikiran 12:52 warganya dari beragam 12:55 informasi-informasi yang tidak tepat, 12:57 yang mungkin malah menyesatkan, yang 13:00 mungkin malah bisa merusak ya karena you 13:02 are what you think gitu kan. 13:05 apa yang pikiran itulah rajanya 13:07 seluruhnya tinggal ngikut kepada pikiran 13:09 dan itu berbahaya sekali kalau Genzet 13:13 ini dikenal ee sebagai native digital 13:18 gitu loh. ee baru lahir saja mereka 13:22 sudah akrab ya. Sekarang ini sangat 13:25 mudah dan jamak ya Mas Suci, Mas Farhan 13:28 kita ngelihat anak 2 tahun itu justru 13:32 disuruh diamnya itu dengan dikasih 13:34 gadget itu dan itu sangat luar biasa. 13:38 Padahal kemampuan orang tuanya melakukan 13:42 filtrasi juga sangat terbatas. terakhir 13:45 yang ketiga ya tentu 13:49 ee ini adalah ee 13:55 resep umum ya bagaimana saya setuju 13:58 dengan Pak Prabowo 8% pertumbuhan 14:01 ekonomi harus dikejar tetapi tentu 14:03 caranya bukan dengan ee 14:07 membuat private-nya mengecil tetapi 14:10 kolaborasi antara koperasi private 14:14 ee dan masyarakat untuk membangun 14:18 ekonomi yang sehat ya. 14:21 Karena ketika pertumbuhan tidak 8% gitu, 14:25 maka middle income trap countries-nya 14:27 terus berjalan, 14:29 otak kita tidak bertumbuh. Ya. Ee Mas 14:33 Menteri, Mas Nadim pernah cerita bagus 14:36 tu Bang Haldi. Ada kaitan antara 14:39 pertumbuhan ekonomi dengan 14:40 kecerdasannya. 14:42 Eh, setiap 3 tahun OECD itu selalu 14:46 menggelar PISA ya, Program for 14:49 International Student Assessment ya. 14:52 ee negara OECD itu 76 yang di survei 14:57 kita 67 14:59 65 68 ya bottom 10 lah kita itu. 15:04 Tapi kata Mas Nadim ee Pisa skor 15:07 Singapura itu 15:10 tidak beda dengan PISA skor dari ee 15:15 Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan 15:18 disatukan. Pisa skornya tidak beda 15:21 banyak dengan Singapura. Kita tidak 15:23 tertinggal jauh. Tapi ketika Pandegelang 15:26 masuk, Indramayu masuk, mungkin 15:30 daerah-daerah lain masuk, ambruk kita 15:32 ya. Nah, sehingga memang kemajuan 15:35 ekonomi sangat menentukan juga kemajuan 15:39 peradaban. Karena itu above of all 15:42 memang pemerintah harus good governance, 15:46 memerangi korupsi. Kemudian pemerintah 15:49 perlu untuk membangun ee transparansi, 15:53 akuntabilitas, 15:55 partisipasi publik yang dengannya 15:57 mudah-mudahan ee terwujudlah Indonesia 16:00 yang adil dan sejahtera. 16:03 Itu sedikit pengantarnya Bang Haldi, Mas 16:06 eh Farhan, Mbah Suci, dan teman-teman. 16:09 Monggo kita bahas bersama. Matur nuwun. 16:11 Asalamualaikum warahmatullahi 16:12 wabarakatuh. 16:14 Waalaikumsalam warahmatullahi 16:15 wabarakatuh. Terima kasih atas 16:17 pengantarnya, Pak Mardani. Sekarang kita 16:19 ingin dengar dari narasumber kepada 16:21 Bunda Suci. Dipersilakan untuk 16:23 kesempatan pertama ini. 16:27 Ya, baik. Asalamualaikum warahmatullahi 16:29 wabarakatuh. Eh, Ustaz, Mas Aldi, dan 16:32 Mas Farhan. 16:34 Alhamdulillah saya juga anak saya Genz, 16:37 Ustaz. Jadi yang lahir di tahun 2001 16:41 dan sekarang sudah punya anak. 16:43 Alhamdulillah anak saya laki-laki ya. 16:46 Jadi saya mempersempit saja ya karena 16:48 kan saya memang fokusnya di Islamic 16:51 parenting. Jadi saya tidak akan melebar 16:54 ke mana-mana. Saya akan fokus [berdehem] 16:57 saya akan fokus saja untuk membahas ee 16:59 yang memang saya jalani dan saya telaah 17:05 ee selama ini gitu. Qadarullah memang 17:09 dari tahun 2011 saya sudah mengamati 17:12 perilaku remaja dari tahun ke tahun. 17:15 Nah, cuma mungkin ada yang 17:20 ee tambahan mungkin ya ee tambahan 17:23 sedikit bahwa setiap generasi itu punya 17:27 karakteristiknya masing-masing ya. Jadi 17:31 setiap generasi pasti ada keunggulan dan 17:33 kekurangannya. saya misalnya dari 17:35 generasi X gitu, kemudian ee di atas ee 17:40 saya mungkin generasi boomers kemudian 17:43 di ee dilanjutkan lagi dengan generasi 17:47 milenial baru generasi Z dan seterusnya 17:50 gitu. Nah, maka di setiap generasi ini 17:53 selalu ada karakteristiknya 17:55 masing-masing karena kita semua beda 17:57 zaman gitu ya. Nah, ee masing-masing 18:01 generasi itu pasti punya keunggulan dan 18:04 kekurangannya masing-masing. Dan itu 18:06 sesuatu yang lumrah karena kita semua 18:08 manusia bukan malaikat ya. Nah, tapi 18:12 yang yang menjadi catatan mungkin ee 18:15 harus diingat juga oleh semua orang tua 18:17 termasuk saya gitu ya ee yang melahirkan 18:22 Gen Zet sekarang yang masuk ke dunia 18:25 kerja, anak-anak kita yang sedang ee 18:28 berjuang yang struggle di dunia kampus 18:31 atau malah anak-anak kita sekarang yang 18:33 sedang ee menyuarakan aspirasinya gitu. 18:37 Mereka lahir dari generasi X yaitu 18:39 generasi saya atau bisa jadi lahir dari 18:41 generasi boomers juga di atas 605 18:45 ya. Kalau boomers itu kalau Gen X kan 18:47 dari 65 sampai 80-an kalau saya enggak 18:50 salah. Nah, maka ketika kita melihat ee 18:55 generasi Z, gen Z saat ini, maka ee mau 18:59 enggak mau kita harus juga muhasabah 19:02 kepada generasi yang sebelumnya, gitu. 19:04 Karena kenapa? Karena Gen Z saat ini 19:08 adalah hasil pola asuh yang dilakukan 19:10 oleh saya, angkatan saya gitu ya dan 19:13 mungkin angkatannya baby boomers gitu. 19:16 Nah, dan kita tidak bisa mengenenalisir 19:20 gitu ya. Oh, Gen Z begini, Gen Z begitu 19:23 gitu. Ee enggak bisa kita 19:26 menggeneralisir berdasarkan hasil 1 2 3 19:31 atau ee kasuistik yang sifatnya 19:33 kasuistik gitu. 19:35 Nah, ee baiknya memang kita baca dari 19:38 data gitu ya. Dan di setiap generasi itu 19:42 selalu tantangannya adalah teknologi. 19:45 Karena saya lahir Gen Z gitu ya, eh Gen 19:49 X maksudnya. [tertawa] 19:51 [terkesiap] Nah, karena saya lahir di 19:53 GenX itu, GenX adalah generasi yang 19:56 struggle dan melalui 19:59 ee percepatan perubahan teknologi yang 20:01 luar biasa gitu. Bisa dibayangkan kita 20:04 dari menggunakan telepon umum ya sampai 20:08 kita harus belajar, saya khususnya yang 20:10 sudah nenek-nenek ini harus belajar 20:13 cepat gitu. asap. Kalau kata anak-anak 20:15 sekarang tuh harus belajar cepat 20:18 bagaimana cara menggunakan HV yang di 20:21 geser-geser gitu loh. 20:24 Nah, ee dari sisi Islamic parenting 20:30 ee setiap generasi itu pasti akan 20:33 menghadapi tantangannya dan tantangan 20:35 itu selalu melibatkan dunia teknologi 20:39 gitu. Kalau di zaman saya dulu enggak 20:41 boleh terlalu banyak nonton TV misalnya, 20:44 waktu masih kecil pakainya video Betamax 20:46 mungkin ya. Kemudian ada VCD dan 20:50 seterusnya dan seterusnya gitu. Masih 20:52 era-era Radio Brahumbara, Mantili gitu. 20:55 Ini pasti Genzet enggak kenal nih. Nah, 20:58 itu pun dibatasi oleh orang tua dari 21:00 yang majalah Bobo Kuncung gitu ya sampai 21:04 yang seterusnya seterusnya Harry Potter 21:06 dan seterusnya gitu. Nah, itu ada 21:08 tantangannya. Tantangan teknologi TV 21:11 jangan terlalu lama, tantangan ee di 21:14 dunia bacaan komik jangan terlalu 21:16 tenggelam. Nah, tantangan Gen Z pun 21:21 itu adalah algoritma 21:25 gitu ya. Jadi bagaimana algoritma ini 21:28 yang sekarang sudah ada di tangan Genzet 21:31 tapi dengan catatan yang memberikan 21:34 fasilitas adalah kita orang tua 21:39 gitu ya. Jadi hasil 21:41 bersikap berpikir berucapnya Gen Z itu 21:45 adalah hasil dari para orang tuanya. 21:48 Bagaimana pola asuh yang ee dilakukan 21:50 oleh orang tua sehingga menghasilkan Gen 21:52 Z yang sekarang gitu. Nah, ee saya 21:56 selalu membatasi pada ee ketika saya 21:59 sharing selalu saya membatasi dengan 22:01 tiga hal ya, berdasarkan ee agama pasti, 22:05 berdasarkan agama, keilmuan, dan data. 22:07 Saya enggak tertarik kalau ee di luar 22:10 tiga konteks ini. Dan paling asik memang 22:12 bicara by data gitu kan, karena data itu 22:16 adalah yang real walaupun ada miss-mis 22:19 dikit enggak masalahlah. Nah, 22:22 dari ee 22:25 data dari APJI sendiri, Asosiasi 22:27 Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 22:29 itu memang usia terbanyak yang memakai 22:32 internet. Dan ini dari zaman ke zaman ya 22:34 ee dari 2011 sampai sekarang saya selalu 22:38 tertarik dengan eeel ee data yang 22:42 meneliti pengguna internet berdasarkan 22:44 usia. Nah, ee yang terbaru 2024 ini 22:48 memang yang terbanyak usia 13 sampai 22:53 35 tahun ke atas gitu ya. Artinya dari 22:57 Gen Z sampai gen milenial 23:01 gitu. Nah, ee betul tadi 23:06 apa yang ada di pikiran kan soalnya 23:08 gini, output itu adalah sesuai dengan 23:12 input. Enggak mungkin ee isinya kopi 23:16 yang keluar teh itu enggak mungkin 23:19 ya. Nah, maka berdasarkan data ini 98% 23:23 pengguna internet itu 13 sampai 35 tahun 23:28 ya. Ini menjadi tantangan tersendiri 23:30 buat siapa? Buat kita orang tua. Karena 23:33 kan kita yang memberikan fasilitas 23:36 ya. Nah, ee kemudian terkait mental 23:42 health ya 23:44 ee di di kita membanding aja ya karena 23:48 kan ini terlihat sekali ya ee antara Gen 23:51 X dan Gen Z gitu ya. di zaman Gen X 23:55 dulu, di zaman saya itu akses untuk ke 23:59 taruhlah psikolog atau psikiater atau 24:01 apapun ee namanya gitu ya, apapun 24:05 gelarnya apa curhat ke ustazah atau 24:07 ustaz gitu. Itu aksesnya 24:10 susah, sulit. Nah, sekarang ini aksesnya 24:15 sangat sangat sangat mudah. 24:18 Nah, yang menarik berdasarkan data dari 24:21 Alodok 24:22 ee rata-rata Genzet yang melakukan 24:25 konseling atau ee curhat itu bukan 24:29 berarti dia 24:32 100% mengalami 24:34 em 24:36 apa ya misalnya anxiety atau yang 24:38 lainnya lah gitu. Enggak juga, tapi 24:42 mereka eh konseling itu karena mereka 24:44 sudah lebih terbuka, mereka sudah lebih 24:46 aware dengan isu mental health. Jadi, 24:49 ada apa-apa sedikit mereka langsung 24:51 aware gitu. Awareness-nya tuh tinggi 24:52 kalau Genzet gitu ya. Dan mereka lebih 24:55 nyaman ee melakukan secara online gitu. 24:59 Kenapa? Karena 25:03 ya Gen Z gitu ya, maksudnya gini, Gen Z 25:06 itu 25:08 untuk apa mereka? menghafal kalau bisa 25:11 mencari 25:13 gitu. Kalau angkatan saya dulu mungkin 25:15 ya ee oh kita harus ngfalin ee 20 sekian 25:19 menteri gitu kan gen sekarang enggak 25:22 usah tinggal klik keluar semuanya untuk 25:25 apa menghafal gitu. Nah ini menjadi 25:28 pilihan juga konseling online gitu ya 25:31 karena lebih lebih mudah online bisa 25:33 dilakukan kapan saja di mana saja sambil 25:35 baringan 24 jam enggak masalah ya. Nah, 25:39 ee kemudian mereka lebih akrab dengan 25:42 digital tadi. Seperti yang Ustaz 25:44 katakan, mereka bangun tidur pun, mereka 25:47 dari kecil pun itu sudah ada yang akrab 25:50 dengan gadget. Ya, balik lagi masalahnya 25:53 yang memberikan itu orang tua gitu ya. 25:56 Jadi anaknya kebiasaan. Nah, 25:59 ee ini tidak berarti menggambarkan ee 26:04 mereka mempunyai mental illness gitu ya, 26:07 tapi mereka aware terhadap apa yang 26:11 terjadi alarm di dalam jiwanya 26:14 gitu ya. Nah, ee kemudian kenapa sih 26:18 mereka 26:20 ke 26:21 psikolog online gitu ya? Nah, karena 26:25 bisa jadi ini terjadi lack of 26:28 communication, 26:30 gap yang besar 26:33 dalam komunikasi antara orang tua yang 26:36 bisa jadi misalnya baby boomers gitu ya 26:39 dengan atau gen Gen X lah angkatan saya 26:42 let's say gitu ya dengan eh gen Z yang 26:46 gen Z itu kan ee 26:49 gimana ya Mas Farhan terbiasa dengan 26:52 bahasa Inggris enggak sih gitu gitu kan. 26:54 Nah, sementara bisa jadi orang tuanya 26:57 yang ee apa bikin akun email aja 27:03 password-nya anaknya yang bikinin gitu 27:05 loh. Nah, maka ini terjadi gap yang 27:07 sangat jauh ee dalam hal komunikasi. 27:10 Makanya Genzet lebih memilih komunikasi 27:13 dengan ee online dengan psikolog online 27:16 ya. Ee seperti itu. Nah, kemudian 27:20 ee 27:22 teknologi ini tidak bisa dijadikan 27:26 apa ya saya menyebutnya kambing hitam 27:29 gitu ya. kambing hitam atas ee bukan 27:34 kegagalan tapi ke 27:38 mis 27:40 lah gitu ya pola asuh orang tua terhadap 27:44 anak yang qadarullahnya lahir sebagai 27:48 Genzet gitu dan ee saya yakin ya 27:51 insyaallah masih banyak sekali Genzet di 27:54 luar sana yang struggle yang berhasil 27:57 gitu ya cuma memang yang diangkat AT itu 28:01 yang lebih ramai biasanya kan gini kalau 28:03 kata koran itu apa ya zaman saya dulu 28:07 tuh masih ada pos kota ya kalau yang 28:09 diremes itu kayaknya diperes gitu kata 28:11 orang dulu diperes itu darah semua gitu 28:14 eh bad news it is good news gitu ya jadi 28:18 yang menarik selalu yang negatif padahal 28:20 kalau kita buka data, kita bedah data 28:23 itu ee enggak semuanya 28:27 gitu mungkin ee Ee seperti itu dulu dari 28:32 saya ya. Nanti kita mungkin lebih banyak 28:35 diskusi lagi ee pembukaannya seperti itu 28:39 mungkin 28:40 ya. Baik, saya kembalikan ke Mas Haldi. 28:43 Silakan Mas Hal. 28:44 Iya. kita nanti kita setelah ini 28:47 diskusinya kita dengar dulu dari Mas 28:49 Farhan ini dari Genjinya langsung 28:51 sekaligus content creator. Bagaimana sih 28:54 Gen memandang kehidupan kita ini dan 28:57 memandang orang yang memandang Gen pada 28:59 Mas Farhan? 29:02 Halo, Bang Farhan. 29:05 E mungkin lagi keluar. 29:09 Baik kita ke Pak Marani. Pak Marani apa 29:13 masih bergabung? 29:16 Halo. Ah, baik kalau gitu kita ke Bunda 29:20 Suci aja kita diskusi. 29:22 Ah, 29:25 silakan di apa, Di? Maaf baru salat tadi 29:27 ketemu tamu. Lanjut. 29:29 Iya, Pak Mardani. Ee kita diskusi dulu 29:32 ya sambil menunggu Bang Farhan ya. 29:35 Terkait dengan Gen ini di mana saat ini 29:38 Gen sudah mulai mengambil peran banyak 29:41 yang cukup signifikan. sudah mulai 29:43 memasuki dunia kerja dan mungkin sudah 29:46 akan segera memasuki pos-pos 29:48 kepemimpinan yang nanti akan 29:50 mempengaruhi jalan kehidupan bangsa 29:52 kita. 29:53 Nah, khusus untuk Indonesia dengan 29:55 perkembangan terbaru ini, kira-kira apa 29:58 yang perlu e peran apa yang perlu 30:01 diambil Genzi ya dalam situasi sosial 30:03 politik ekonomi sekarang dengan 30:04 ketidakpastian yang sangat tinggi dengan 30:06 berbagai permasalahan yang ada. 30:09 Iya, Bangaldi. Leaders dan calon leaders 30:12 eh 30:14 you are what you think gitu kan. Kamu 30:17 tuh apa yang kamu pikirkan? Dan ada 30:20 kalimat 30:21 al insan ibnul biah ya. Manusia itu ee 30:26 anak dari lingkungannya. 30:28 Gen Genzet ini 30:32 hidup di alam yang 30:34 dalam quote and nonquote mendapat banyak 30:38 kemudahan teknikal 30:40 tapi mendapat sedikit kesempatan yang 30:44 fundamental gitu. 30:46 Pemikiran-pemikiran yang fundamental 30:49 ee pengalaman-pengalaman yang 30:51 fundamental 30:53 yang mendalam 30:55 kesulitan ya. Misal, misal dulu enggak 30:59 ada Gojek ya, Bang Haldi. Dulu enggak 31:01 ada GoFood, dulu enggak ada AI ya. Kita 31:05 mau bikin paper itu ya kalau enggak baca 31:09 enggak ngerti gitu loh. Sekarang nih 31:10 dengan segala kemudahan yang ada itu 31:14 luar biasa gitu loh, Teman-teman. untuk 31:16 bisa mendapatkan banyak kelebihan gitu 31:19 loh. Nah, karena itu ee kita perlu ee 31:23 sekali Bang Haldi ee punya pemetaan yang 31:28 tepat. Salah kalau dikatakan bahwa ee 31:32 teman-teman Genzet itu manja. Salah 31:35 kalau dikatakan teman-teman Genzet itu 31:38 eh fragile, gampang punya mental 31:41 healing. Salah kalau dikatakan 31:44 teman-teman Genzet itu sesuatu yang ee 31:49 apa namanya? Ee tidak berpikir gitu, 31:52 salah ya. Buat saya mereka punya semua 31:56 ee prasarana dan prasyarat untuk maju 31:59 ya. Tetapi memang ee tadi ee ee dunia 32:05 artifisial, 32:07 dunia yang ee katakan 32:15 ee jadi memang ee kondisinya Genzet ini 32:22 punya lingkungan yang beda dengan kita. 32:25 Dan karena itu, Bang Haldi, saya tetap 32:28 percaya Genzet punya semua potensi 32:31 kebaikan, tetapi memang mesti ada ee 32:36 gerakan 32:38 ee bagaimana Genzet ini melakukan 32:42 refleksi, 32:44 melakukan proyeksi, melakukan 32:48 ee diskusi mendalam dengan generasi 32:51 sebelumnya gitu loh. Ee kalau ngelihat 32:56 dengan AI ini sekarang Maha Haldi mudah 32:58 sekali belajar bahasa asing ya, tetapi 33:03 mudah belajar satu hal tetapi menyadari 33:07 esensi belajar hal lain. Nah, jadi ee 33:10 dan berikan kesempatan bagi Genzet untuk 33:13 tumbuh berkembang. Tapi dampingi selalu 33:16 Genzet untuk mampu melakukan pendalaman, 33:20 untuk mampu melakukan penalaran, untuk 33:23 mampu terus ee rendah hati ee dan ee mau 33:28 ee ee 33:32 mengalami kesulitan-kesulitan ya. 33:35 Jangan sebentar ee pengin healing, 33:39 jangan sebentar ngerasa anxiety, jangan 33:42 sebentar punya mental health problem dan 33:45 macam-macam. Buat saya ee tanggung jawab 33:48 kita untuk menghadirkan Genzet yang 33:51 punya ketangguhan mental dan saat yang 33:54 sama kecerdasan 33:56 untuk menyelesaikan problem-problem yang 33:59 dihadapi. 34:01 Yang dihadapi, Genz luar biasa. kita 34:03 tidak merasakan ee krisis iklim mungkin 34:06 yang baru akan datang puncaknya mungkin 34:09 20 30 tahun yang akan datang mereka 34:11 berat sekali dan karena itu harus 34:13 dipersiapkan begitu Bang Haldi 34:18 ya. Terima kasih Pak Marani. Sekarang 34:20 kita dengar dari Bang Farhan. Bang 34:23 Farhan ya. Saatnya mendengar langsung 34:25 dari Genz-nya ya. Bagaimana sih 34:28 sebenarnya Genz memandang dunianya 34:31 sendiri, dirinya sendiri? kondisi yang 34:33 ada saat ini dan apa yang kira-kira ee 34:36 akan dilakukan Genzet dengan situasi 34:38 saat ini. 34:40 Siap. Terima kasih banyak, Bang Haldi 34:43 ya. Asalamualaikum warahmatullahi 34:44 wabarakatuh. 34:45 Waalaikumsalam. 34:48 Sebelumnya makasih juga buat Bang 34:51 Mardani dan Mbak Suci. Nah, saya manggil 34:56 Bang dan Mbak karena kan kita 34:58 ngomonginnya Genzi kan. 35:00 Setuju. Setuju. 35:02 Kalau saya makanya Pak Mardani dan Bunda 35:05 Suci kita kurang kurang dapat diskusi 35:08 genzinya. I kan umur itu menurut saya 35:12 umur itu hanyalah angka. Tapi soal jiwa 35:15 muda semua siapa saja. 35:17 Amin. Amin. Cakep tuh. Cakep. 35:19 Mudah-mudahan kita semua juga awet muda 35:21 gitu ya, Pak, Bu ya. 35:23 Bang dan Mbak ya. Oke. [mendengus] 35:26 [berdehem] 35:27 Ee mungkin 35:30 saya lebih banyak bahas Genzi di bidang 35:33 ee kerjaan atau usaha ya. Kenapa? Memang 35:38 selain saya membuat konten, saya itu 35:40 juga suka mengisi pelatihan seminar dan 35:44 workshop 35:45 ee buat ee buat content creator, 35:49 videografer, 35:51 video editing, 35:53 eh jadi sosm spesialis, jadi staff 35:56 digital marketing dan sejenisnya. Dan 35:59 itu rata-rata audiens-nya itu Genzi. 36:02 90% 99% itu Gen 36:07 baik Gen yang mau usaha mandiri tadi kan 36:11 sebagai content creator, afiliator, 36:14 bisnis owner yang memasarkan produk 36:17 digitalnya, yang memasarkan produk 36:19 softmate-nya atau Genzi yang mau 36:22 berkarir sebagai sosial media spesialis 36:24 atau digital marketing. Nah, 36:28 selain diskusi-diskusi yang masalah 36:30 teknis materi itu ya materi ee kita suka 36:34 sharing-sharing lah masalah yang 36:37 nonteknisnya 36:40 khususnya memang saya suka lihat banyak 36:43 yang Bang Abang kan jurusan ini ya 36:46 jurusan ee misalnya teknik mesin kok 36:49 kenapa belajar digital marketing? 36:52 Abang kan jurusan apa? Kenapa belajarnya 36:54 ini? Ya kan tadi soal digital yang tadi. 36:57 Iya, Bang. Ee ee enggak enggak sesuai 37:01 dengan jurusan kuliah. Nah, ternyata 37:05 memang banyak yang saya lihat 37:07 teman-teman kebetulan suka saya juga 37:09 ngisi di kampus juga banyak teman-teman 37:11 Gen ini yang salah apa ya? Salah ambil 37:15 jurusan. 37:17 Mungkin relate banget. Kenapa? 37:20 Karena ketika teman-teman Genzi ini 37:22 sudah lulus SMA kan urutan normalnya 37:25 dari SMA ke kampus ya kan. 37:28 Terkadang itu banyak yang feel-nya itu 37:31 belum siap, 37:33 belum siap. Oh, saya ngambil jurusan 37:35 ini. Ah, entar kerjanya apa ya yang 37:38 penting masuk dulu gitu. Banyak yang 37:40 kayak gitu. Saya ngelihat temuin 37:41 teman-teman Genzi. Ah, ee kuliah apa aja 37:44 deh yang penting kuliah atau kuliah apa 37:46 aja deh? Jurusan apa aja yang penting 37:47 negeri. Aduh, masa habis SMA enggak 37:50 kuliah nanti. Masa masa habis SMA Gepir 37:54 ee kuliahnya enggak salah. Cuma yang 37:57 terkadang yang salahnya ini kebelum 38:00 siapan mereka ini. Kebelum siapan. Dan 38:03 menurut saya, saya juga suka ngomong ke 38:06 teman-teman Genzi yang memang udah di 38:08 fase SMA kelas 3 belum mau ke kuliah 38:12 tapi masih bingung jurusan apa. Kalaupun 38:15 memang harus gepier setahun pun juga itu 38:19 sebenarnya enggak masalah. Yang penting 38:21 dengan gepir setahun itu juga mereka 38:23 mencari nih mencoba hal-hal baru ya kan 38:26 sudah selesai SMA dia GPR setahun 38:27 mencoba hal-hal baru, 38:29 pekerjaan-pekerjaan apa yang mereka suka 38:32 baru mereka perdalam di kampusnya. Itu 38:34 satu. Kedua, 38:37 ee kedua banyak kata-kata itu kalau kita 38:42 lihat konten-konten 38:44 di Instagram, di TikTok ya, Gen ini 38:46 baperan, ya kan? Gen susah diatur. Gen 38:51 apa ya? Kurang kurang solid anaknya. 38:54 Dikit-dikit pindah kerja. Dikit-dikit 38:56 pindah kerja. 38:59 Nah, makanya mulai sekarang itu di 39:02 pelatihan di bidang SDM sudah mulai 39:04 masukin kurikulum tentang mendidik Genzi 39:08 itu seperti apa, manajerial di ee ke 39:11 Genzinya tuh seperti apa. 39:14 Sebenarnya juga yang saya lihat ya dalam 39:16 ruang ruang kerja baik teman-teman saya 39:18 yang kerja maupun usaha 39:21 sebenarnya bukan baperan. 39:26 mereka lebih enggak pengin yang terlalu 39:28 formal, terlalu banyak basa-basi gitu ya 39:31 kan. Terlalu 39:34 cari muka penginnya to the point aja ya 39:37 kan ya kita suka lihatlah kalau kan 39:40 generasi-generasi sebelumnya oh kalau di 39:43 tempat kerja ya cari muka dengan atasan 39:45 apa gimana. Kalau Genzi kalau saya lihat 39:47 ya mayoritas 39:49 memang yang penting kerjaan kelar 39:52 yang penting kerjaan kelar sesuai SOP. 39:56 itu memang semuanya ada ada peraturannya 39:58 juga, tapi memang dia enggak gen saya 40:01 lihat enggak suka yang basa-basi, enggak 40:03 yang suka terlalu formal apalagi yang 40:05 terlalu terikat. Nah, makanya ee kita 40:08 mungkin mungkin ada yang pernah lihat 40:09 juga 40:12 Gen itu rata-rata dan mungkin tren ke 40:14 depannya banyak pekerjaan-pekerjaan itu 40:16 bukan pekerjaan yang ee terikat atau 40:21 kayak karyawan tetap. 40:23 Banyak Genzi itu lebih suka 40:24 pekerjaan-pekerjaan freelance per 40:27 project. Itu trennya karena 40:31 mereka bisa kerja kerjain di manaun 40:35 ee bisa enggak pakai pakai seragam 40:38 maupun enggak pakai seragam yang penting 40:40 kerjaan itu kelar. Mereka ada ya tadi ya 40:43 mungkin sesuai yang Bang Mardani bilang 40:45 gen pengin ada waktu buat healing lah, 40:48 refreshing lah, self reward mereka. Jadi 40:51 mereka lebih suka enggak terikat itu 40:53 dalam ruang lingkup kerja. 40:56 Terus juga Genzi ini sebenarnya banyak 41:00 keraguan. 41:02 [berdehem] Keraguan dalam arti tadi 41:04 lapangan pekerjaan. 41:06 Karena mayoritas Genzi ngelihat kenapa 41:09 tadi suka terkait pekerjaan-pekerjaan 41:11 freelance sekarang trennya karena mereka 41:14 lihat udah sangat minim pekerjaan tetap. 41:19 Kenapa? Karena tadi ngelihat berita di 41:22 mana-mana badai layof, PHK massal. Jadi 41:25 apa itu pekerjaan tetap gitu loh. 41:27 Makanya mereka lebih baik pekerjaan 41:29 freelance 41:31 atau usaha sendiri dari rumah, usaha 41:34 bisnis online atau menjadi content 41:36 creator atau freelance-felance apa kerja 41:39 kerja freelance eh mobile di kerjanya di 41:42 Indonesia tapi kerja untuk 41:43 perusahaan-perusahaan luar. 41:45 banyaknya seperti itu. 41:47 Udah gitu ee yang menariknya lagi 41:51 terkait 41:53 pendidikan untuk siap kerja 41:58 memang sih kalau kalau saya ngelihat 42:00 memang ada yang benar-benar 42:02 oh saya sih penginnya gen ada yang 42:05 memang benar-benar Gensi yang 42:08 oh saya penginnya praktis 42:10 yang penting ini yang penting tugas 42:13 semuanya beres. Tapi memang enggak 42:15 dipung enggak yang tapi memang ada Gensi 42:17 yang orangnya memang basicnya malas juga 42:19 memang ada. 42:21 Nah, yang saya lihat itu dalam aspek ee 42:26 pendidikan untuk siap kerja 42:29 mulai dari Genzi ngelihat banyak 42:34 lulusan sarjana-sarjana yang nganggur 42:37 sulit dapat kerja. Genzi ini mulai 42:39 lama-lama berpikir. 42:41 Iya kan? mulai berpikir enggak ada 42:43 kepastian di situ. Setelah mereka 42:46 ngelihat, oh banyak lulusan ketika lulus 42:48 kuliah 42:50 mulai harus bersaing seikut-sikutan 42:53 untuk mencari kerja. Dia mulai berpikir 42:56 di mana kepastian buat ketika mereka 42:59 sudah menuntut ilmu nih biar mendapat 43:02 pekerjaan. 43:05 Akhirnya yang saya lihat Genzi itu 43:08 sebenarnya banyak yang lebih tertarik 43:10 dengan 43:12 online kursus-online kursus yang 43:15 durasinya 3 bulan, 5 bulan, 6 bulan yang 43:17 mendapat sertifikasi yang siap kerja. 43:21 [berdehem] 43:21 Itu saya suka lihat. Kenapa? Memang saya 43:24 suka suka lihat itu ada Gen-Genzi itu 43:26 ikut pelatihan kayak tentang bootcamp 43:29 buat ngunding 43:32 menjadi IT, menjadi software developer, 43:36 menjadi sosial media spesialis, menjadi 43:38 digital marketing dan biaya pelatihan 43:41 itu di kursus itu yang saya lihat mereka 43:44 berani memberikan garansi dalam 1 tahun 43:48 tidak dapat kerja sesuai syarat dan 43:50 ketentuan berlaku, uang itu difundan 43:52 100%. 43:55 Makanya Genzi itu mulai ada dalam tadi 43:58 dalam ruang lingkup perkuliahan 44:01 ee mau masuk ke dunia kerja dia mulai 44:04 ada keraguan. 44:07 Dia lebih baik mengikuti yang online 44:09 kursus yang 3 bulan, 6 bulan, 5 bulan 44:14 memang lumayan. Tapi itu bergaransi 44:17 dalam arti mereka memang sudah sering 44:19 ikut pelatihannya, enggak pernah absen 44:21 melakukan tugas-tugasnya dan aktif untuk 44:24 apply-apply kerja dalam ruang lingkup 1 44:27 tahun itu pemberi pelatihan ee online 44:31 kursusnya memberikan garansi 100% 44:35 apabila dia enggak menerima kerja. 44:38 Dari situ saya ngelihat memang trennya 44:42 itu ee Gensi lebih suka yang 44:47 yang praktis tadi. Apa yang dia mau 44:49 kerjain itu yang mau dia dia pelajarin 44:51 di pendidikannya. 44:53 Kurang lebih gitu. sama yang kedua 44:57 ee terkait 45:01 soal gen susah di susah dipimpin 45:05 di ruang lingkup pendidikan atau ruang 45:07 lingkup kerja susah dipimpin susah 45:08 diarahin 45:10 sebenarnya 45:12 ee 45:14 mayoritas itu dia lebih banyak 45:16 terpengaruh 45:18 dengan lingkungannya 45:20 dengan lingkungannya dalam arti 45:24 kita ruang lingkup perkuliahan 45:28 Genzi itu ketika dia enggak suka suatu 45:33 suatu kelas suatu forum 45:38 dia itu bukan sebatas karena pelatihnya 45:41 atau pengajarnya tapi di mana dia 45:44 ngelihat teman-teman sekitarnya nyambung 45:46 apa enggak 45:48 dengan ee pembahasan dia, dengan 45:52 topik-topik yang sering dia dengan 45:56 hal-hal yang sering dia lakuin. Makanya 45:59 kenapa tadi permasalahan yang ee Mbak 46:04 Suci bilang, 46:06 Gen itu cerita sama psikiater ya, 46:09 psikiater online. 46:11 Masalahnya bukan sekedar psikiater 46:13 online-nya juga, terkadang Gen lebih 46:15 percaya bahkan sama temannya daripada 46:18 orang tuanya. 46:19 Nah, karena ya itu tadi mungkin ee 46:24 memang ya namanya orang tua penginnya 46:27 juga yang terbaik ya buat anak, tapi 46:30 memang cara penyampaiannya ini nih yang 46:32 kadang suka ada gap-nya itu loh. Nah, ya 46:37 teman teman ini teman ini cara 46:40 penyampaiannya memang ya enggak sekaku 46:43 seperti yang orang tua orang tua mereka 46:45 sampaiin gitu ya. Ada hal yang 46:48 berbobotnya, ada juga yang hal 46:50 bercanda-bercandanya dikit. Nah, makanya 46:52 Gensi enggak pengin yang terlalu 46:54 serius-serius banget sebenarnya. Tapi 46:56 bukan berarti enggak serius, lebih 46:57 rileks aja lah. Lebih lebih santai 47:01 ee itu terus ee 47:07 terkait lingkungan juga berpengaruh 47:09 banget. Makanya buat setiap saya ngasih 47:14 pelatihan buat teman-teman Genzi 47:18 pasti yang pasti mereka itu 47:23 kelanjutan dari acara itu mereka 47:24 tergantung dari temannya juga. 47:27 Itu 47:29 mungkin ee dari saya sekian gitu aja. 47:32 Nanti lebih banyak kita mungkin 47:33 diskusinya aja terkait ee permasalahan 47:37 GENZI dalam ruang lingkup pertemanan. 47:40 ruang lingkup kepemimpinan. Oh, sama ada 47:43 satu hal lagi. Satu hal lagi ini. Ini 47:45 yang baru saya nyampaiin juga kan ada 47:47 istilah katanya Genzi sulit dipimpin. 47:50 I 47:51 sebenarnya kalau menurut saya bukan 47:53 Genzinya yang sulit dipimpin. Waktu itu 47:55 saya juga pernah kan kalau di atasnya 47:57 Gen itu kan ada generasi ee milenial. di 48:01 atasnya milenial ada boomer. 48:04 Ternyata ada artikel zaman dulu tahun 48:07 1000 ee 9 48:11 80-an apa ya pokoknya dulu ada artikel 48:15 di luar negeri katanya generasi boomer 48:18 ini sulit dipimpin di ruang kerja. 48:23 beberapa tahun berikutnya ada artikel 48:25 ada artikel juga ya ee berita-berita 48:30 ee milenial sulit dipimpin dan 48:34 seterusnya gensi yang sekarang kita 48:35 bahas sulit dipimpin. Jadi permasalahan 48:38 kalau menurut saya sebenarnya bukan 48:41 Gensinya yang sulit dipimpin, tapi 48:43 memang ada gap dari antar generasi dan 48:47 memang ee ketika dari 48:51 dan memang ketika perbedaan generasi 48:53 untuk saling memimpin, saling 48:55 berkoordinasi memang ada 48:58 apa ya ada hal yang enggak bisa 49:01 disamaatakan antar generasi. Jadi ya 49:04 kalau permasalahan saya bukan Genzinya 49:06 yang sulit dipimpin, tapi antara 49:08 generasi yang satu ke generasi bawahnya 49:11 ya memang ada gap dan itu terus 49:13 diadaptasi. Ini sekarang kita topik 49:15 Gensi susah dipimpin. Beberapa tahun 49:18 kemudian mungkin kita akan membahas Gen 49:20 Alpa susah dipimpin, susah dikendalikan 49:22 dan seterusnya gitu ya. Ya kayak 49:24 senioritas lah, senior ke junior ya kan. 49:27 H iya. Oh, pengin yang senior 49:28 ngerasanya, "Oh, Gen kan harusnya 49:30 gini-gini loh di tempat kerja harusnya 49:33 kamu cari muka gitu kan." I 49:35 mungkin ospeknya belum sekeras gen 49:38 milenial atau gen bomer sekali. Ospeknya 49:40 Gensi. [tertawa] 49:41 Eh, 49:42 jadi susah dipimpin. 49:44 Nah, itu kan bisa jadi omongan dari 49:46 boomer atau milenial. 49:48 Iya, iya iya. [tertawa] 49:49 Gensi ngomong yang sama juga nanti ke 49:51 bawahnya ke Gen alpha. 49:52 Iya. 49:53 Nah, kurang lebih gitu. Jadi, 49:56 nah sama kayak Gen Alpa juga kemarin 49:58 saya juga diskusi 50:00 ee teman-teman saya yang milenial kan 50:03 udah banyak tuh yang punya anak-anak di 50:04 TK 50:05 eh sudah punya anak-anak yang playground 50:07 ya kan suka main. Bahkan anak-anak 50:09 playground yang sekarang atau Genzi yang 50:13 awal-awalan sudah mulai punya anak kecil 50:15 atau milenial awal yang sudah mulai 50:16 punya anak kecil playground ya. Kadang 50:19 juga ada kosakata 50:22 bahasa Indonesia dia enggak tahu eh dia 50:24 enggak tahu bahasa Indonesianya 50:26 karena biasa selalu dengan orang tuanya 50:28 ngomong bahasa Inggris sampai ditanya, 50:31 "Eh, kamu tahu ini enggak? Itu apa?" Ya, 50:34 dikasih tahu bahasa Inggrisnya baru 50:36 mereka paham. 50:37 Nah, artinya itu kan tadi Gen Alpha yang 50:40 sekarang-sekarang lagi playground 50:41 gitu-gitu ya. Artinya ketika nanti saya 50:45 mungkin saya di posisi dalam ruang 50:47 lingkup ee organisasi perusahaan dan di 50:51 bawahnya itu ada Gen Alpa, 50:53 cara mentreatmen, cara mendidiknya 50:56 enggak bisa saya samain ketika mendidik 50:59 teman-teman saya yang sesama Genzi. 51:02 Nah, itu makanya tadi terjadi terjadi 51:04 gap-nya di situ. 51:06 Nah, memang di awal itu memang agak 51:08 kaget ketika saya sudah bisa biasa 51:10 merangkul mengkoordinasikan 51:13 ee terkait kerjaan atau terkait apa 51:15 dengan teman-teman yang saying genzi 51:16 begitu ada bawahan baru gen alpa 51:17 nantinya saya pasti akan membawa habit 51:20 yang sama. Padahal itu yang harus kita 51:22 transisiin 51:24 gitu. Nah, jadi kalau dari saya sih 51:26 intinya ee bukan Genzi yang sulit 51:29 diatur. memang seringkiali ya memang ada 51:32 gap antar generasi ini. Kurang lebih 51:34 gitu. Mungkin nanti lebih baik kita 51:37 banyak diskusikan berima kasih. 51:41 Baik ee terima kasih ee Mas Farhan. 51:45 Sekarang ee kita diskusi lagi Bunda 51:48 Suci. Ee tadi sudah ada pandangan dari 51:51 sisi Genjya sendiri. Nah, gini bagaimana 51:54 nih tanggapan dari Bunda Suci sebagai BB 51:56 boomers melihat apa benar nih anak-anak 51:59 Gensi susah diatur, susah dipimpin ya 52:01 susah kerja tim cuma individualis. 52:05 Tapi sebenarnya kan setiap zaman itu 52:07 selalu ada potensi yang bisa 52:09 dioptimalkan ya di samping mungkin 52:11 tantangan dan kekurangannya. Bunda Suci 52:13 silakan. 52:14 Iya. Ee kakak ya kalau di trad saya 52:18 nenek-nenek tapi dipil kakak ya. Saya 52:20 senang main karena jadi awet muda saya 52:23 dipanggilnya kakak. 52:24 Oke. Ee tadi ada yang miss eh entah 52:27 kenapa ya ee sekarang ini ada yang ee 52:31 gen yang miss gitu loh yang jarang 52:34 sekali disebut padahal itu gen saya 52:36 gitu, generasi saya yaitu generasi X. 52:39 Jadi generasi X itu antara generasi baby 52:41 boomers dengan generasi milenial 52:43 gitu mungkin. Enggak tahu kenapa jadi 52:46 lost gitu ya. Nah, generasi X ini yang 52:48 tadi ya asik gitu karena ee kita 52:51 menghadapi perubahan zaman yang begitu 52:52 cepat dari warnet, wartel, telepon umum 52:56 kemudian menjadi telepon yang sekarang 52:57 harus digeser-geser gitu. Ee kalau saya 53:01 sendiri gini, saya tidak pernah karena 53:03 saya punya anak Genzet ya. 53:05 ee dan justru yang saya lihat dalam 53:07 realitas ee mereka lingkungan pertemanan 53:11 itu ee yang 53:15 tidak saya temui di kasus-kasus yang 53:18 ramai di media sosial. Artinya gini, 53:20 dalam setiap generasi itu pasti akan ada 53:22 terjadi gitu loh. Kayak yang dibilangin 53:24 sama Kakak Farhan tadi ya, 53:27 kebingungan dalam memilih jurusan. Loh, 53:30 pada saat saya pun generasi X pun kita 53:33 mengalami kebingungan penjurusan gitu. 53:36 Ee bayangin saya dulu UB UB belum se 53:39 Brawijaya ya. UB pun dulu disebutnya itu 53:41 kan Unibra ya, bukan bukan UB seperti 53:45 yang sekarang orang kenal gitu. Nah, ee 53:48 kita pun masuk Via, Via entar gue mau 53:50 jadi apa ya gitu. Ya udah deh yang 53:51 penting masuk aja dulu gitu. Ee yang 53:54 penting negeri gitu kan. Nah, apakah itu 53:56 terjadi di zaman sekarang? terjadi loh 53:59 ya. Ee saya banyak karena saya fokusnya 54:01 kan memang di Islamic Parenting ya. Eh 54:03 dan di trad saya itu lumayan banyak juga 54:06 ibu-ibu generasi milenial itu yang 54:09 kebingungan nih anak saya kalau ee masuk 54:12 ITB kayak gini nanti kerjaannya apa ya? 54:15 Nah, dari situ kita ngelihat ini 54:16 lingkaran kalau enggak di-cut ya itu 54:20 akan terus terus terus terjadi. 54:23 Itu kan yang hal-hal yang 54:26 sepertinya terlihat simpel tapi itu 54:27 enggak simpel sama sekali kalau di dunia 54:30 ee parenting gitu ya. Karena kita ini 54:32 ngomongin masa depan loh. Masa depan 54:34 mereka yang harusnya itu kan dari kecil. 54:39 Apa sih tugas orang tua? Tugas orang tua 54:41 itu kan memfasilitasi memfasilitasi 54:45 potensi anak. Siapa yang tahu potensi 54:47 anak? Orang tua gitu. Anak dari umur 54:52 tadi ee Kakak Farhan sepertinya belum 54:55 punya anak. Jadi playground disebut eh 54:57 playgoup disebutnya playground ya. 55:00 Makanya D tadi saya senyum-senyum gitu 55:02 play group. 55:04 Nah, jadi ee misalnya gini ee potensi 55:08 anak dari kecil misalnya dia suka dia 55:10 kinestetik ya. Jadi ee saya termasuk 55:13 orang tua yang enggak setuju dengan pe 55:16 apa tuh namanya ranking ya. ee pada saat 55:20 ee anak saya dari ee play group tadi 55:23 atau apa sih taman bukan sebelum play 55:26 group gitu ya, saya memang mencari 55:28 sekolah yang tidak ada ranking karena 55:31 dari berbagai jurnal zaman dulu sampai 55:33 sekarang pun itu tetap ya bahwa 55:36 kecerdasan seorang anak itu beda-beda. 55:39 Kalau zaman saya dulu kita masuk, saya 55:42 anak bio ya. Ee enggak tahu deh Mas 55:45 Haldi e tahu generasi apa nih? Kalau 55:48 saya tuh ada ee milenial, milenial saya. 55:50 Oh, milenial. Ada A1, A2, A3, A4. 55:54 Saya A1, Bu. Saya A1. [tertawa] 55:57 Waduh. Wah, itu kasta tertinggi tuh. Itu 56:00 kasta tertinggi kalau di SMA ya karena 56:02 wah orang isinya orang-orang pintar 56:04 semua. Kemudian kasta yang nomor dua 56:06 adalah A2 saya anak bio. Padahal saya 56:08 enggak suka bio. Tapi orang tua saya 56:11 bilangnya, "Udah masuk aja A2 semua 56:13 kakak-kakak kamu tuh sos. Masa sos 56:15 lagi." gitu. Jadi saya dengan sangat 56:17 terpaksa saya masuk biologi yang saya 56:20 enggak suka gitu. Karena anggapan saya 56:22 kenapa kimia itu rumusnya harus turun? 56:24 Kenapa rumus itu harus turun? Turunan 56:26 rumus, kenapa rumus itu enggak pernah 56:27 naik gitu. Biasa protes-protes itu akan 56:30 selalu ada di setiap generasi gitu kan. 56:33 Nah, kemudian ada SOS A3 itu custom 56:36 mulai turun lagi apalagi A4 bahasa. Wah, 56:38 itu dipandang sebelah mata. Nah, maka ee 56:42 yang seperti itu udah udah harus mulai 56:46 di kita pahami bahwa kecerdasan anak itu 56:49 banyak. Ada yang cerdas secara 56:50 kinestetik. Artinya sekarang 56:52 alhamdulillah kan ada sekolah ee atlet 56:55 ya, sekolah atlet ee difasilitasi oleh 56:58 pemerintah kan ada untuk memana dan 57:00 sebagainya gitu kan yang masyaallah 57:02 banget. Kemudian kecerdasan memang yang 57:04 akademis gitu. Jadi itu yang mulai 57:07 terkikis dan itu yang yang harus dilihat 57:10 oleh orang tua ini potensinya apa dan 57:13 orang tua harus paham bahwa enggak yang 57:17 matematika itu adalah yang paling 57:18 pintar. yang jago matematika itu adalah 57:20 yang paling pintar gitu ya. Sekarang 57:22 bahkan ada yang poligot ya. Ee saya 57:26 punya murid binaan itu poligot. Bisa 57:28 empat bahasa ya, bahasa Prancis, bahasa 57:31 Inggris, bukan bahasa Sunda, bahasa Jawa 57:33 Timur, bahasa Jogja ya enggak. Tapi ee 57:36 bisa bahasa Perancis, Inggris, Jepang 57:39 kalau saya enggak salah ya. Nah, itu kan 57:42 juga cerdas. Nah, siapa yang melihat 57:44 ini? Orang tua. Orang tua memfasilitasi 57:46 dari kecil gitu. Orang tua harus jeli 57:49 melihat. Nah, makanya kenapa perempuan 57:52 misalnya perempuan harus kuliah 57:54 setinggi-tingginya untuk apa? Untuk 57:55 mendidik generasi melihat potensi anak 57:58 ini seperti apa. Sehingga apa tadi yang 58:01 dikatakan oleh Kakak Farhan tidak 58:04 terjadi di semua jangan sampai terjadi 58:06 di semua generasi di apa ya? Kayak di di 58:10 apa sih namanya? diwariskan gitu loh. 58:13 Kebingungan penjurusan 58:15 ini ternyata terjadi di semua generasi. 58:18 Jangan kalau bisa di-cut off 58:22 ya dengan apa? Orang tua harus melihat 58:25 secara jeli gitu. Makanya kenapa 58:27 sekarang ada Genzet yang US gitu ya, 58:30 kayak kereta US aja tuh wah berhasil 58:32 gitu. Sementara ada juga Genze yang ee 58:35 biasa-biasa aja dan ternyata ini terjadi 58:38 kok di setiap generasi gitu ya. Nah, 58:40 kembali lagi ke Islamic Parenting, maka 58:44 orang tua harus melihat potensi anak 58:45 sejak dini. Nah, masalahnya yang kita 58:48 bicarakan adalah Genzi nih. Enggak ada 58:50 lagi Gen usia 3 tahun, 2 tahun. Genzi 58:54 sekarang anak saya sudah kerja, sudah 58:55 berkeluarga, sudah punya anak bahkan. 58:57 Nah, maka ee menghadapi Genzi yang usia 59:02 dewasa berarti kan itu bagaimana kita 59:05 sebagai generasi misalnya milenial, Mas 59:08 Haldi, saya Gen X tolong disebut ya Gen 59:11 X ini selalu miss nih GenX kenapa ya 59:14 loncat dari baby boomers ke milenial 59:16 gitu. 59:16 Paling ikhlas gen paling ikhlas Bu 59:19 [tertawa] 59:20 gen yang paling jarang disebut ya. 59:23 Nah, ee yang tadi seperti yang di benar 59:27 yang kata Kak Farhan tadi ya, maka akan 59:30 [tertawa] 59:31 terjadi terus-menerus gitu. Nah, ini kan 59:33 ya ini warisan yang jelek kalau menurut 59:36 saya warisan yang negatif yang tidak 59:38 harus jangan diwariskan gitu loh. Kita 59:41 yang generasi yang ee tua-tua nih ya 59:44 udahlah orang emang sudah tua kan ya 59:46 selalu komplain dengan generasi yang 59:48 seterusnya gitu. Nah, itu harus di 59:52 potong gitu. Jangan jangan diwariskan 59:54 yang kayak gitu. Gimana caranya? Ya udah 59:56 kita belajar dari yang ee yang atas-atas 1:00:00 kita betapa mereka berbesar hati 1:00:02 menyambut 1:00:05 memberikan peluang sebesar-besarnya 1:00:07 untuk ee generasi-generasi seterusnya 1:00:11 gitu. Jadi ee kitanya justru yang harus 1:00:15 berlapang dada gitu. Adapun sikap, 1:00:17 sekali lagi, sikap itu kan dipengaruhi 1:00:19 oleh lingkungan. Nah, kitanya sekarang 1:00:22 yang berlapang dada berbesar hati 1:00:24 menerima perbedaan kan. Menerima 1:00:26 perbedaan yang penting bukan 1:00:29 penyimpangan 1:00:30 gitu. Itu mungkin sedikit dari saya ya, 1:00:33 Mas Haldi. Nanti biar kita ramai lagi 1:00:35 ngobrolnya ya, Kakak Farhan dan oh Kakak 1:00:37 Haldi ya. [tertawa] 1:00:40 Kita ke Kak Farhan. K. Farhan ee ada ee 1:00:45 salah satu ciri khas yang kalau saya 1:00:47 generasi milenial diskusi ya melihat 1:00:49 Genz Genzi ini pertama Gen cukup 1:00:53 objektif ya menilai sesuatu kritis dan 1:00:56 objektif tidak ideologis ya. Jadi ee 1:01:00 justru ee kecenderungan di Gen ini kalau 1:01:03 gen G gen Baby boomers, Gen X ini agak 1:01:06 kental nih nuansa maksudnya secara 1:01:09 ideologisnya dia agak kuat tapi Genzi 1:01:12 ini dia tidak ideologis tapi objektif 1:01:14 dan kritis ya. Jadi dia tidak melihat 1:01:16 sesuatu dari sudut pandang nilai 1:01:19 ideologi, tapi secara objektif krisis 1:01:21 dia lihat ini logis kah gitu ya, 1:01:24 rasionalkah 1:01:25 ee memang benarkah gitu ya tanpa 1:01:29 embel-embel sisi ideologis. Itu yang 1:01:30 pertama. Kemudian cenderung kolaboratif 1:01:33 daripada mencari perbedaan dan konflik 1:01:36 gitu. Konon seperti itu yang ee kita 1:01:39 lihat ya. kita ingin lihat ee 1:01:41 kelebihan-kelebihan 1:01:42 ee Gen ini di mana mungkin seperti Baby 1:01:45 Boomers atau GenX gitu ya. Saya sebut 1:01:47 GenX sekarang sering-sering GenX. 1:01:50 Ini kadang kalau kita lihat di grup-grup 1:01:52 WhatsApp itu wah perdebatan soal 1:01:55 perbedaan-perbedaan pandangan politik 1:01:57 gitu ya, ideologi itu bisa kencang tuh. 1:01:59 Tapi kalau kalau Gen Z itu cenderung 1:02:03 enggak suka hal-hal yang melihat 1:02:04 perbedaan, tapi kolaboratif apa yang 1:02:07 bisa kita lakukan bareng-bareng gitu ya, 1:02:09 kerja-kerja bareng gitu ya. Apakah benar 1:02:12 seperti itu karakter ee Gen? 1:02:17 Terima kasih Kak Haldi. 1:02:20 Semuanya pokoknya di sini kakak-kakak 1:02:22 ya. 1:02:22 Kakak semua, 1:02:23 Kakak-kakak. 1:02:24 Oke. Tadi terkait Gen 1:02:28 memilih atau memutuskan 1:02:31 lebih banyak tadi lebih lebih cenderung 1:02:34 kurang apa ya kurang mengikuti tentang 1:02:37 ideologi ya. 1:02:38 Nah, betul 1:02:38 tentang ideologi 1:02:39 sesuai yang tadi saya bilang di awal 1:02:41 tadi, Kak. 1:02:42 Iya. 1:02:43 Genzi penginnya praktis aja. 1:02:44 Hm. 1:02:45 Dia pikir secara logika aja. Udah secara 1:02:47 logika 1:02:50 ya memang 1:02:52 memang ee minusnya ya minusnya terkadang 1:02:56 yang salah ya ini yang salah nih 1:02:58 terkadang yang salah kurang banyak 1:03:01 mengkaitkan nilai-nilai agamanya di situ 1:03:03 yang salah. 1:03:04 Hm. 1:03:05 Tapi pasti yang yang tahu batas yang 1:03:06 tahu batasan dia berpikir secara logika 1:03:09 dan tahu batasan dalam nilai aspek 1:03:11 agamanya itu di mana gitu. 1:03:14 Iya. Nah, tadi soal ideologi dan kenapa 1:03:17 mereka lebih praktis yang tadi saya 1:03:19 sampai di awal mereka penginnya ketika 1:03:22 ketika ini misal ketika 1:03:26 oke ketika waktu itu saya sekolah deh 1:03:28 saya sekolah SMA 1:03:29 H 1:03:30 rambut murid enggak boleh gondrong 1:03:34 H 1:03:34 ya kan Gensi mikirnya pakai logika gitu 1:03:38 ee bukan bukan apa ya bukan kayak loh 1:03:41 kalau mungkin ya generasi sebelumnya oh 1:03:43 iya kita sekolah harus dii disiplin, 1:03:45 terapi gitu kan. Gensi mikirnya kalau 1:03:48 gondrong salahnya di mana ya? Dia pasti 1:03:50 selalu bertanya-tanya ketika ada suatu 1:03:52 peraturan, suatu batasan, dia selalu 1:03:54 menanyakan itu, menggali itu. Sekolah 1:03:57 enggak boleh gondrong ya? Kenapa ya? 1:04:00 Kalau gondrong tapi kita enggak pernah 1:04:03 cabut kelas, selalu belajar nilainya 1:04:05 bagus, kenapa enggak ya? I 1:04:07 jadi dia selalu mengkaitkan dengan 1:04:09 logika. 1:04:11 itu dalam ruang lingkup tadi sekolah 1:04:14 pekerjaan 1:04:16 pekerjaan ee 1:04:20 seragam ya kan kita tahulah pasti kalau 1:04:22 kantor-kantor Genzi startupstarup Genzi 1:04:25 enggak ada itu seragam-seragaman jarang 1:04:26 kan enggak ada rapat-rapat apel-apel ya 1:04:29 kan kalau kalau BUMN kan Senin pagi 1:04:32 nyanyiin lagu Indonesia Raya gitu kan 1:04:35 10 iya 1:04:36 iya kan kalau gen enggak ada itu 1:04:38 setiap hari bukan senin tiap 1:04:39 hariap Tiap hari ya? Tiap hari pagi ya. 1:04:42 Setiap pagi jam 10. 1:04:44 Eh, nah kalau Gen 1:04:47 maupun kantor Gen Kalau saya lihat ya 1:04:49 kantor-kantor Gen kantor agency Gen kan 1:04:51 Genzy kadang suka ada yang bikin e 1:04:53 startup-starup juga isinya anak-anak Gen 1:04:55 juga 1:04:57 ya. Mereka yang penting kerjaannya beres 1:04:59 sesuai SOP. 1:05:00 He. 1:05:01 Entah ada yang datang kadang datangnya 1:05:03 siang ya. Tapi ya dia kerja sampai malam 1:05:05 sesuai emang kerjaan hari itu beres. Ada 1:05:08 yang ya memang enggak pakai seragam ya 1:05:10 pakai pakaian kayak main aja yang 1:05:11 penting tetap sopan juga ya kan enggak 1:05:13 melanggar aurat gitu. Jadi mereka itu 1:05:16 selalu menanyakan logika dan kayak dari 1:05:20 itu dari segi yang pekerjanya dari segi 1:05:22 bisnis ownernya juga yang genzi ya. 1:05:25 Bisnis owner yang genzy mereka juga 1:05:27 logika juga ya. Gua kalau misalnya 1:05:31 staf-staf gua gua suruh setiap pagi apel 1:05:34 nyanyi juga buut apa juga ya maksudnya 1:05:37 bukan bukan enggak nasionalis juga bukan 1:05:39 maksudnya lebih baik waktu yang ada gua 1:05:41 pergunain buat kegiatan produktif kerja 1:05:44 yang lain aja ya dan hal-hal yang 1:05:47 hal-hal yang udah bawaan masa lalu nih 1:05:50 yang ternyata enggak penting ya sama 1:05:51 genensin ya dievaluasi oh ini kayaknya 1:05:53 kurang penting kurang 1:05:56 ee enggak terlalu enggak jadi urgensi 1:05:59 si. Oh, ini kayaknya lebih baik yang 1:06:00 gini-gini aja ya. Itu kayak gitu. 1:06:03 Makanya sekarang ada ada kalau misalnya 1:06:08 kantor umum itu kan jam 09.925 ya. Genzy 1:06:11 itu juga banyak yang bikin kantor 1:06:13 masuknya jam 12.00 balik malam atau agak 1:06:16 siangan lagi baliknya malam. Ada yang 1:06:18 kayak gitu kan kan Gensi ada juga yang 1:06:19 bangun-bangun siang kan gitu. Jadi 1:06:21 ngantarnya benar siang kayak gitu dari 1:06:23 segi operasional tadi. Nah, tadi ya 1:06:27 terkait ee dengan dia lebih suka yang 1:06:30 berkelompok ya, berkawan ya, 1:06:32 berkolaborasi lah. 1:06:33 Iya, lebih berkolaborasi. 1:06:35 Yang tadi itu Mas Gen lebih ngelihat 1:06:39 lingkungannya sebenarnya. 1:06:41 Hm. He. 1:06:42 Dalam kerja aja deh. Kerja 1:06:45 mayoritas Genzi itu [berdehem] kalau 1:06:48 memang ada yang gajinya tinggi, 1:06:51 isi suasana kantornya itu boomer, 1:06:54 milenial semua yang enggak cocok sama 1:06:55 dia, yang satunya agak rendah tapi Genzi 1:06:58 semuanya nyambung. Dia lebih pilih yang 1:06:59 itu. 1:07:01 Karena apa? Dia ngelihat suasananya, 1:07:02 temannya. Makanya percuma gaji gede, ya 1:07:05 kan? Tapi eh tadi dia anxiety lah ya kan 1:07:10 dimarahin teruslah sama yang boomernya 1:07:13 yang atasnya. Dia lebih suka lihat 1:07:15 suasananya walaupun yang satu misalnya 1:07:18 tadi ruang ee konteks kerjaan nih yang 1:07:21 satu gaji tinggi tapi yang terlalu 1:07:23 formal isinya boomer milenial gitu kan. 1:07:26 Yang satu lagi agak rendah dikit tapi 1:07:28 Genzi cenderung lebih santai, lebih 1:07:31 bebas gitu ya. Dia pasti lebih milih 1:07:33 yang itu 1:07:35 mayoritas ya. Walaupun enggak enggak 1:07:36 semuanya juga dan dia pasti lebih milih 1:07:38 yang itu, tapi dia sambil 1:07:39 ngerjain-ngerjain part-time, freelance, 1:07:40 dan lain-lain. 1:07:41 Saya kok lebih mirip Gensi ini ceritanya 1:07:43 kok dengar penjelasan Kak Farhan 1:07:45 daripada generasi milenial. [tertawa] 1:07:47 Nah, tadi kan kata Kak Haldi, Kak Haldi 1:07:50 lebih mirip Gen kan? 1:07:52 Iya. Iya. 1:07:52 Jadi Gen di sini sebenarnya bukan lahir 1:07:54 tahun berapa, tapi jiwa 1:07:57 tapi masalah jiwa tadi kan. Iya. 1:07:59 I kan ta suci juga bisa kalau memil bisa 1:08:02 juga memiliki jiwa gen ya kan. 1:08:04 Iya iya iya. 1:08:06 Kak Mardani juga bisa memiliki jiwa 1:08:08 genzi itu sendiri ya. Itu dia. 1:08:09 Kalau Kak Mardani gen alfa dia kayaknya. 1:08:11 [tertawa] Oh gen alfa. Siap siap. 1:08:16 Ada. 1:08:18 [tertawa] 1:08:19 Iya 1:08:19 ya. Kurang lebih itu. 1:08:21 Iya. 1:08:21 Jadi milenial sudah bangga saya. 1:08:24 Baik. Kamaradi silakan kalau ada 1:08:26 pendapatnya. Tadi sudah jelaskan Kak 1:08:28 Farhan. 1:08:32 Eh, masih di-mute, Pak. 1:08:36 Maaf, Bang Haldi. Ee yang pertama 1:08:41 ee Genz ini punya demikian banyak 1:08:46 kelebihan. 1:08:48 Tapi memang, Bang Farhan 1:08:52 ee Genz ini hidup 1:08:55 dalam lingkungan yang sangat 1:08:59 berat. Kalau buat saya gitu kenapa 1:09:03 tadi mm 1:09:07 Mbah Suci mengingatkan itu A1, A2, A3. 1:09:12 Kita tuh Mbah Suci ee 1:09:18 lihatnya cuma satu TV-nya Bang Haldi ya, 1:09:21 TVRI ya. Saya ingat OSIN gitu loh, Bang 1:09:25 Haldi mungkin lihatnya udah RCTI, SCTV 1:09:30 gitu loh ya, Bang Farhan mungkin udah 1:09:34 tambah lagi. Nah, tapi kalau sekarang 1:09:38 anak-anak Gen Alfa tuh enggak lihat TV 1:09:42 gitu loh. Eh, gadgetnya itu sudah luar 1:09:45 biasa gitu. 1:09:47 Nah, itu jauh lebih berat tantangan 1:09:48 mereka. Berat sekali gitu loh. Gitu. 1:09:50 Kalau dulu kita sangat terbatas gitu loh 1:09:54 ee distraksinya. Kalau sekarang mereka 1:09:57 luar biasa. 1:09:59 Nah, karena itulah 1:10:02 ee 1:10:05 gerakan religi buat mereka harus lebih 1:10:08 kuat, lebih kokoh, lebih dalam karena 1:10:13 distraksinya luar biasa. Enggak bisa 1:10:15 kita katakan Genz ini cengeng. selalu eh 1:10:21 mental illness, selalu pengin healing 1:10:24 karena memang kondisinya sangat berbeda 1:10:27 distraksinya gitu. Dulu saya bacanya 1:10:29 koran gitu, mereka enggak kenal koran 1:10:32 gitu, digital semua gitu. Nah, jadi 1:10:36 lagi-lagi buat saya, Bang Haldi, ee ini 1:10:39 diskusi yang sangat menarik dan eh 1:10:42 selalu positive thinking eh baik baby 1:10:46 boomers, eh Gen X, Milenial, Gen Z, 1:10:52 Alfa, semua punya potensi yang luar 1:10:54 biasa. Tetapi gimana mengelolanya 1:10:58 dan melambungkannya? 1:11:00 Ini kemarin Pak Prabowo, Bang Haldi, 1:11:03 Bang Farhan, Mbah Suci itu waktu paparan 1:11:07 di DPR itu menargetkan human capital 1:11:12 index Indonesia di 2026 eh di 2027 itu 1:11:17 0,58. 1:11:19 Di 2026 targetnya 0,56. 1:11:22 Di 2024 posisinya 0,54. Ya, apa arti 1:11:27 0,54 Bang Haldi? 1:11:29 Rata-rata bayi yang lahir di Indonesia 1:11:33 cuma mampu tumbuh 54% dari kapasitasnya. 1:11:38 Kalau 2027 58%, 1:11:42 Singapura 88, Belanda 0,92. 1:11:47 Negara-negara nordik ee Eropa Utara tuh 1:11:50 ada yang 96. 1:11:51 Jadi ee bayi yang sama lahir di 1:11:55 Indonesia, kemudian bayi yang sama lahir 1:11:57 di Singapura. Kalau di Indonesia dia 1:11:59 cuma tumbuh 54% kapasitas. Kalau di 1:12:02 Singapura dia 88%. Kalau di Belanda 92%. 1:12:06 Kenapa sistem pendidikannya, 1:12:09 sistem kesehatannya, sistem sosialnya, 1:12:12 sistem risetnya dan lain-lain itu 1:12:14 menentukan. Nah, jadi Genzet yang lahir 1:12:17 di Indonesia berat karena apalagi 1:12:20 kondisi sekarang 1:12:23 kita ada pada posisi yang penuh dengan 1:12:27 ee 1:12:29 ee geopolitik yang luar biasa dan ini ee 1:12:33 perlu untuk kita letakkan. Jadi target 1:12:36 malam ini tuh adalah kita memberikan 1:12:40 Genzit itu satu perspektif bagaimana 1:12:43 mengembangkan kapasitas diri menjadi 1:12:46 generasi yang siap menerima estapeta 1:12:48 perjuangan. Karena di 2045 Gen Z dan Gen 1:12:52 alfa inilah yang menjadi tulang punggung 1:12:55 pencapaian Indonesia maju. Begitu, Bang 1:12:57 Haldi. 1:12:59 Baik, terima kasih Pak Marani. Ee 1:13:02 teman-teman, kita sudah tiba di 1:13:04 penghujung acara diskusi terkait dengan 1:13:07 Genzi ini. anak-anak muda, selain dari 1:13:10 memang harus kritis melihat permasalahan 1:13:13 sosial ee dan negara yang ada, bangsa, 1:13:16 peduli terhadap masalah bangsa, tapi 1:13:18 yang paling penting adalah jangan lupa 1:13:20 untuk berkarya ee solutif, kontributif, 1:13:25 dan inovatif terkait masalah yang ada. 1:13:27 bukan hanya soal kritik ya, tapi apa 1:13:29 inovasi-inovasi karya dan 1:13:31 peluang-peluang yang bisa kita ee 1:13:33 lakukan di saat seperti ini. E tadi juga 1:13:36 barusan saya lagi cari-cari berita ya, 1:13:38 bagaimana banyak orang-orang tokoh-tokoh 1:13:40 yang di saat-saat situasi sulit itu 1:13:42 justru titik baliknya menemukan inovasi 1:13:45 terbaik dalam hidupnya ya. Ee dan 1:13:47 mungkin di saat-saat saat ini situasi 1:13:49 sedang sangat sulit dari berbagai macam 1:13:52 aspek. eh Genzi mungkin bisa menemukan 1:13:55 saat-saat terbaik bagi dirinya untuk 1:13:57 berkontribusi karya berinovasi. Baik, ee 1:14:01 tiba kita di akhir acara eh seperti 1:14:03 biasa kita minta para narasumber 1:14:06 memberikan closing statement pada Kak 1:14:08 Suci. Dipersilakan closing statement-nya 1:14:11 Kak Suci. 1:14:13 Iya. Ee jadi di setiap generasi sekali 1:14:17 lagi selalu ada keunggulan dan ee 1:14:21 kekurangan masingmasing ya. Cuma saya 1:14:23 akan menekankan ee pada tiga hal aja 1:14:26 gitu. Jadi bagaimana agar ee antara 1:14:31 generasi ini itu kita bisa 1:14:32 berkolaborasi. Nah, untuk generasi gen Z 1:14:35 khususnya dan kemudian penerusnya gen 1:14:38 alfa gitu ya ee berharap bisa menerapkan 1:14:42 3 i. Kalau saya selalu bilang itu 3 I ya 1:14:45 atau 3K lah. 3 I itu yang pertama iman 1:14:48 yang kokoh. Ini tauhid tentu saja ya. 1:14:51 Nah, kemudian ilmu yang benar karena 1:14:53 tidak semua orang berilmu tapi jalannya 1:14:56 benar gitu ya. Nah, kemudian yang 1:14:59 terakhir yang ketiga adalah inner 1:15:01 strength atau jiwa jiwa yang sehat. Nah, 1:15:03 kalau kita fokus kepada tiga ini ya, 1:15:07 kemudian tambahan-tambahannya salah 1:15:09 satunya adalah kemampuan komunikasi yang 1:15:11 baik, maka ee antara satu generasi 1:15:15 dengan generasi yang lainnya itu akan 1:15:17 tercipta kolaborasi ya yang baik yang 1:15:20 bisa membawa negara ini semakin ee baik 1:15:25 lagi gitu loh. menciptakan gap yang 1:15:28 semakin 1:15:30 besar sehingga tidak bisa memberi 1:15:32 peluang kepada generasi-generasi 1:15:34 selanjutnya. Jadi fokusnya ke 3 I itu 1:15:36 sih atau 3 K ya, keimanan, keilmuan, dan 1:15:39 kejiwaan kalau bahasa Indonesia. Itu 1:15:41 mungkin Kak Haldi. Mudah-mudahan 1:15:43 bermanfaat. 1:15:44 Baik, terima kasih Kak Suci. Berikutnya 1:15:47 Kak Farhan silakan closing statement. 1:15:50 Oke, terima kasih 1:15:52 ee buat teman-teman Genzi 1:15:56 dengan situasi yang ada saat ini dan 1:16:01 belum lagi dengan dipengaruhi di 1:16:03 konten-konten di sosial media, 1:16:06 konten pencapaian-pencapaian orang, 1:16:09 pencapaian dalam har karir, pendapatan, 1:16:12 pasangan, dan lain-lain jangan dijadikan 1:16:15 keminderan. 1:16:17 Karena yang kasihannya ini teman-teman 1:16:20 Genzi ini mungkin kalau [berdehem] 1:16:22 Gen Alpa ya kan eh mungkin kalau Boomer 1:16:26 atau Gen X atau milenial hanya 1:16:28 dibandingkan sama orang tuanya dengan 1:16:30 tetangga atau temannya. 1:16:32 Tapi kalau Gen ini juga dibandingkan 1:16:34 dengan konten-konten yang dilihat di 1:16:36 sosial media. 1:16:39 Nah, jadi dengan konten-konten yang tadi 1:16:40 pencapaian-pencapaian orang di sosial 1:16:42 media dan lain-lain jangan dijadikan 1:16:45 keminderan. jangan dijadikan 1:16:47 kepesimisan, 1:16:48 tapi selalu dijadikan motivasi 1:16:51 untuk mencapai itu semua dan terus 1:16:54 berproses. Ee tetap 1:16:58 pilih jalan yang praktis tapi ketahui 1:17:00 juga tidak ada yang instan. Itu aja 1:17:03 mungkin dari saya. Sekian, terima kasih. 1:17:06 Baik, terima kasih Ken. Berikutnya 1:17:08 terakhir Kamerani. Persilakan closing 1:17:10 statement. 1:17:15 Baik, makasih Bang Haldi. Eh, leaders 1:17:18 dan calon leaders eh 1:17:21 wahadainahunajdain 1:17:23 selalu ada dua jalan, jalan yang nyaman 1:17:26 atau jalan yang menanjak. 1:17:28 Gen Z, 1:17:30 Gen Z seperti juga gen X atau baby 1:17:34 boomers atau milenial semuanya 1:17:37 menghadapi tantangan yang sama. 1:17:39 selalu ada setan, selalu ada hawa nafsu, 1:17:43 selalu ada kelompok ee kapitalis yang 1:17:47 pragmatis, selalu ada kelompok-kelompok 1:17:51 industrialis yang ingin mencapai 1:17:55 keuntungan terbesar. 1:17:57 Lagi-lagi ee kembali 1:18:01 kepada jati diri, kembali kepada akar, 1:18:04 kembali kepada Quran, kembali kepada 1:18:08 keluarga. kembali kepada 1:18:11 ulama ya, karena memang di sanalah 1:18:14 tempat ee semua kekuatan disalurkan 1:18:19 ee melalui nasihatnya, bimbingannya, 1:18:22 penjagaannya, doanya. 1:18:24 Genzet insyaallah akan mampu memikul 1:18:27 beban sebagai pelanjut estapeta 1:18:30 perjuangan umat, penjaga keutuhan 1:18:33 bangsa. Tetapi lagi-lagi ee beranilah 1:18:37 untuk bersikap dan tidak perlu bawa 1:18:41 beban masa lalu dan tidak perlu terlalu 1:18:44 terbebamin oleh harapan masa depan. 1:18:47 Enjoy the moment, eh be yourself dan 1:18:49 saat yang sama selalu dekat dengan Allah 1:18:52 dan Al-Qur'an. Begitu Bang Haldi. 1:18:55 Baik, terima kasih Kak Mardani, Kak 1:18:58 Suci, Kak Farhan atas pandangannya 1:19:00 terkait Genzi. Eh, di setengah situasi 1:19:03 ketidakpastian yang sangat tinggi ini, 1:19:05 mudah-mudahan Gen di Indonesia menemukan 1:19:08 momen terbaiknya, momen-momen inovasi, 1:19:11 karya, dan kontribusi terbaik. ya kita 1:19:14 menantikan di saat-saat sulit seperti 1:19:16 ini lahir ee karya-karya inovatif dari 1:19:19 Genzi yang bisa melakukan perubahan ee 1:19:23 dan juga kebangkitan bagi bangsa kita. 1:19:25 Terima kasih sampai ketemu pada acara 1:19:28 inisial stok pekan depan pada waktu dan 1:19:30 channel yang sama. Asalamualaikum 1:19:31 warahmatullahi wabarakatuh. 1:19:35 Warahmatullahi wabarakatuh. Bang Hi, 1:19:38 Bang Farhan, Mbak Suci 1:19:40 sukses selalu saling doa semuanya. 1:19:42 Makasih, Mbakardani. 1:19:44 Makasih. Makasih 1:19:49 Kang Haldi. Makasih semua. I 1:19:51 iya iya