Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalamu ala asrofil iyaai wal mursalin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Ashadu alla
- ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabiyana muhammadin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Qallahu
- taala fil quranil karim.
- Azubillahiminasyaitirjim.
- Innallaha wa malaikatahu yusuna alan
- nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
- wasallimu taslima. Sadaqallahulim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Masih
- dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36, Ciubur Bekasi.
- Inilah Radio Silaturahim dan Rasil TV
- untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat
- yang dimuliakan Allah Subhanahu wa
- taala, bagaimana kabar Anda di Jumat
- sore ini? Semoga selalu dalam keadaan
- sehat walafiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridwanul Ha ditemani oleh Atep dan juga
- Yusuf Subangkit dapat kembali menemani
- ikhwan akhwat dalam program tausiah sore
- edisi Jumat 14 Jumadil Akhirah 1447
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 5 Desember
- 2025 bersama guru kita almukaram Ustaz
- Ahmad Shoh MA. Alhamdulillah beliau
- sudah hadir bersama kita. Oleh karena
- itu, kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Lama tidak kelihatan, Ustaz?
- Alhamdulillah. Masyaallah. Iya. I
- Nah, semoga Ustaz selalu diberikan
- kesehatan dan di ditambahkan
- kesehatannya, Ustaz.
- Amin. Allahum amin. Amin. Atas doa dari
- ini alhamdulillah sehat walafiat.
- Alhamdulillah
- alhamdulillah. Masyaallah. [tertawa]
- Sudah sebulan ya, Ustaz? Ya,
- sudah sebulan. Iya. 5 pekan pekan.
- Masyaallah. Pekan. Masyaallah.
- Halo, Ustaz. Diberikan kesehatan untuk
- diberikan istirahat kemudian
- alhamdulillah sehat kembali, Ustaz.
- Alhamdulillah. Iya, insyaallah.
- Baik, Ikhwan [tertawa] Ahmad.
- Alhamdulillah sudah kita sudah tidak
- lama, sudah lama tidak bertemu dengan
- suara Ustaz Ahmad Saleh. Sudah 5 pekan
- kata beliau. Masyaallah.
- Iya.
- Baik, Ikhwan Awat. Mm terakhir kita
- belajar dengan Ustaz Ahmad Saleh tentang
- haram menggunjing dan perintah menjaga
- lidah. sampai dengan hadis ke-12.
- Insyaallah pada sore hari ini kita akan
- belajar dengan Ustaz Ahmad Saleh dari
- kitab Syarah Riyadus Shihin karya Syekh
- Dib Albugo dan kawan-kawan masih dalam
- tema haram menggunjingi dan perintah
- untuk menjaga lidah. Hadis yang ke-13.
- Namun sebelumnya bagi ikhwan akhwat yang
- ingin berpartisipasi dan ingin
- menyampaikan pertanyaan Anda dapat
- mengirimkan pertanyaan di nomor WhatsApp
- Rasil 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan Ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Mari kita persilakan kepada Ustaz untuk
- memberikan ilmu kepada kita semua.
- Tafadul Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katiron thiban mubarokan fih kama
- yuhibuna
- waard.
- Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluhu wa innahu la nabiya
- ba'dah.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- nabiina Muhammadin waa alihi wa ashabihi
- w tabiahum bianin yaumiddin. Amma ba'd.
- Ikhwan dan akhwat pendengar radio
- silaturahim serta pemirsa rasil visual
- di mana pun berada. Alhamdulillah
- Allah azza wa jalla mer memberikan
- kesempatan kepada kita untuk
- bermuwajahah lewat maya, lewat dunia
- maya untuk melanjutkan kajian kita
- kajian kitab Syarhu Riyad Shihin
- yang kemarin kita sudah membahasnya
- sampai hadis ke-12
- bab haram mengguncing dan perintah
- menjaga lidah tayib. Ibu untuk tidak
- memperpanjang percakapan, maka kita
- lanjutkan hadis ke-13 ya. An Abi Hurair
- radhiallahu anhu anna Rasulullahi
- sallallahu alaihi wasallam ee
- dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- bertanya,
- "Atadrunal gibah?"
- Tahukah kalian apa itu gibah?
- Q. Para sahabat menjawab,
- "Allahu waasuluhu aam."
- Allah dan rasulnya yang maha mengetahui.
- Qala Nabi menjawab kembaliikruka
- ak bima yaqrohu.
- Yaitu bila kamu menceritakan keadaan
- saudaramu yang tidak ia senangi atau
- yang ia benci. Yakrohu yang ia benci.
- Qila. Kemudian di antara sahabat ada
- yang bertanya ditanya Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam, "Apa roita
- inana fi akhi maqul?"
- Eh,
- bagaimana sekiranya
- apa yang aku ceritakan benar benar-benar
- terjadi pada saudaraku?
- Q nabi menjawab, inana fiqu
- faqabtahu.
- Kalau engkau menceritakan keadaannya
- jadi benar terjadi pada dirinya, maka
- engkau telah menggibahnya.
- Waam yakun fih. Dan apabila engkau
- menceritakannya itu dan tidak terjadi
- pada saudaramu itu, faqod bahatahu, maka
- engkau telah mendustakannya, telah apa
- namanya? Telah menuduhnya atau telah
- memfitnahnya gitulah ya. Ee bahat
- bahatahu itu artinya ee
- telah berbohong mengenainya.
- Jadi ini adalah dua hal ya yang
- sama-sama dua-duanya tidak
- diperkenankan.
- Menggibah, menceritakan sesuatu yang
- tidak disukai oleh saudara kita. Baik
- itu benar benar itu. Oh, dia itu sering
- sering menceritakan orang lain. Ya,
- benar. Dia sering menceritakan orang
- lain. Tetapi kalau didengar oleh yang e
- pelakunya dia menjadi tidak suka. Maka
- itulah yang disebut dengan gibah.
- Gibah.
- Tapi kalau ternyata kita menceritakan
- keburukannya
- tetap dan lagi yang di kita katakan itu
- tidak benar, maka kita telah berbohong
- atas namanya. Jadi telah berbohong,
- telah menuduhnya gitu loh. Maka
- dua-duanya baik itu benar maupun tidak
- benar, dua-duanya dilarang di dalam
- Islam. Nah, maka oleh sebab itu
- hendaknya kita menjaga dari berkata
- gibah. Ya, gibah itu menceritakan
- hal yang tidak disukai oleh saudara kita
- di belakangnya. Baik itu gibahnya benar
- maupun gibahnya tidak benar.
- Nah, maka oleh sebab itu, Ikhwan,
- bagaimana kalau kemudian yang kita
- ceritakan itu ada sesuatu yang ia
- senangi.
- Jika persoalannya adalah yang ia
- senangi, falaisa hunaka maka seperti
- laisunaka musykilah tidak ada masalah.
- Nah, jadi yang jadi masalah itu apabila
- apa namanya? Apabila dia tidak
- menyukainya.
- Ini menunjukkan bahwa Islam menutup
- segala pintu fitnah,
- segala bentuk apa namanya? Hal yang
- mengakibatkan persoalan, perselisihan,
- maka dilarang oleh Islam. Nah, kalaupun
- sesuatu yang disenangi apalagi itu
- sebuah kebaikan disenangi, maka tidak
- ada masalah gitu ya. Itu baik. Ah, hadis
- atau mutiara-mutiara dari hadis ini
- dapat kita lihat bahwa hadis ini
- mengandung definisi gibah dan bohong dan
- bahwa keduanya termasuk bencana lisan.
- Nah, gitu ya.
- baik itu terjadi maupun tidak terjadi,
- dua-duanya ya bencana lisan gitu loh.
- Maka oleh sebab itu ee pada dasarnya
- kita ini diperintahkan untuk berkata
- baik, berkata yang mengandung manfaat.
- Nah, berkata yang tidak manfaat apalagi
- yang tadi mengakibatkan ee sesuatu ya
- sesuatu yang tidak disukai tentang orang
- tersebut. Jangankan yang mengandung itu,
- yang tidak manfaat aja itu hendaknya
- kita menjauhi gitu ya. Apa kan dikatakan
- di dalam surah Al-Mukminun itu di
- antaranya orang yang selalu meninggalkan
- perkataan-perkataan yang tidak ber yang
- tidak berguna gitu ya. Baik,
- kita lanjutkan hadis ke-14.
- Dari Abu Bakar radhiallahu anhu bawad
- khotbah haji wada di Mina pada Idul
- Hadah. Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam bersabda,
- "Inna dimaakum wa amwalakum
- waum
- harun alikummati
- yaumikum
- fi syahrikum hadza fiikum hza alag
- mutfun alai
- sesungguhnya darahmu
- hartamu mu dan kehormatan dirimu itu
- haram diganggu sebagaimana haramnya hari
- kalian ini pada bulan kalian ini dan di
- negeri kalian ini. Ingatlah bukankah aku
- telah menyampaikannya
- muttafaqun alaih. Jadi ee apa namanya ee
- sebagaim
- kalian ini hari hari kalian itu hari
- Idul Adha, hari haram. Hari haram itu
- hari yang dihormati gitu loh. Pada bulan
- kalian ini pada bulan Zulhijah, maka
- bulan Zulhijah adalah bulan haram. Haram
- maksudnya adalah bulan yang dihormati
- yang di dalamnya tidak disukai perbuatan
- buruk gitu loh. Kalau di bulan lain
- tidak disukai perbuatan buruk apalagi di
- bulan haram ini. Gitu loh ya. Ah, dan di
- negeri kalian ini maksudnya di apa nam
- tanah haram ya. Kalau di apa namanya?
- Kalau di luar tanah haram tidak boleh
- melakukan kemaksiatan maka di tanah
- haram apalagi gitu loh ya. Jadi bukan oh
- kalau gitu berarti boleh dong berbuat
- buruk di luar tanah haram. Bukan gitu
- loh. Karena di di luar tanah haram kita
- tidak boleh apalagi di tanah haram gitu
- loh ya. Oke. Nah,
- mutiara-mutiara yang dapat kita lihat
- dan kita ambil dari hadis ini adalah
- keharaman mengganggu darah seorang
- muslim atau hartanya atau kehormatannya
- dengan tindakan yang tidak dibenarkan
- syariat. Demikianlah pula dengan gibah
- terhadap seorang muslim gitu ya. Nah,
- gibah itu sesungguhnya ini gibah itu
- sesungguhnya ajaran ee apa ya?
- Perventif.
- Permentif
- perventif susunya asalnya ngomongin
- orang tuh asalnya enggak ada masalah
- gitu loh. Ngomongin orang enggak ada
- masalah kalau yang diomongkan tidak
- tersinggung.
- Ya, makanya boleh kita ngomongin orang
- asalkan tidak menyinggungnya.
- Nah, kalau kalau kita ee apa komentar
- atau bicara tapi menyinggung yang
- dibicarakan maka itu diharamkan. Kenapa?
- Karena intinya menimbulkan masalah.
- Sekiranya tidak masalah boleh gitu loh.
- Gibah itu asalnya boleh tapi karena
- menimbulkan masalah menjadi tidak boleh.
- Jadi ee ilatnya adalah ketika gibah itu
- apa? mengantarkan
- kepada perselisihan
- kepada sesuatu yang tidak disukainya
- maka itu menjadi haram.
- Tapi kalau kita bicara misalnya bicara
- gitu ya bicara ee
- tetapi tidak mengakibatkan dia
- bermasalah, tidak ada masalah
- gitu loh. Nah, begitu juga sesungguhnya
- orang yang melakukan maksiat,
- orang melakukan maksiat korupsi misalnya
- gitu ya, korupsi.
- Iya.
- Terus digibahi sama kita di belakang
- gitu. Dia tidak berasa apa-apa digibahi
- juga, Bang. kerjaan gua enggak apa-ap
- lah [tertawa]
- enggak ada masalah juga gitu loh. Maka
- oleh sebab itu
- maka para ulama mebangi ada yang ee apa
- amalan
- amalan yang mengakibatkan si pelakunya
- masih punya malu. Maka ketika
- diceritakan oleh orang melihatnya itu
- dia menjadi lebih malu maka tidak boleh.
- Tapi kalau dia melakukan kemaksiatannya
- terang-terangan,
- ah itu mah meskipun kita tidak
- menceritakan aja orang sudah pada tahu
- gitu loh. Jadi oleh sebab itu kalau ee
- kemaksiatannya kemaksiatan
- individu
- yang dia sendiri malu melakukannya maka
- dijaga.
- Tapi kalau dia sudah melakukan
- kesalahannya, kesalahan sosial
- gitu ya. Maka menjadi tidak mengapa gitu
- loh. Hanya kemudian menjadi ngapain lagi
- kita juga hari-hari dihabiskan hanya
- untuk menceritakan keburukan orang lain.
- Enggak, bukan menyari keburukan orang
- lain. Kita ini sedang membahas bagaimana
- caranya supaya ini bisa kita cegah. Coba
- lihat tuh akibatnya banjir di mana-mana
- karena ah gitu loh. Tidak ada masalah
- itu. Menceritakan kejahatan-kejahatan
- orang yang seraka
- tidak mengapa ya. Karena kalau tidak
- diceritakan juga alam sudah menceritakan
- ee Kamboja banjir, Thailand banjir.
- Hanya di Indonesia banjirnya gelundungan
- kayu.
- Di negara-negara lain mah air tuh banjir
- tuh.
- Di Indonesia Subhanallahul
- bukan hanya air, gelundungan kayu.
- Masyaallah ya Allah. Nah, maka wajar itu
- kemudian bakal diusut.
- diusut kemaksiatan-kemaksiatan
- seperti karena dia sudah melakukan
- kesalahan sosial.
- Jadi apa namanya? Dia bukan bukan lagi
- enggan atau malu melakukan kesalahan.
- Terang-terangan dia melakukan
- kesalahannya gitu. Bahkan sengaja
- merusak. Masyaallah. Nah, oleh sebab itu
- jadi ada batasannya sekali lagi yakrohu
- itu yang dibenci itu adalah dibenci yang
- dia misalnya mohon maaf ya
- misalnya dia kepepet
- anaknya minta dibayarkan SPP
- yang satu minta uang kuliah dia sudah
- kehabisan sumber
- H
- ke koperasi utang gede.
- dari mana bayarnya sementara anak sudah
- maka dia kemudian ini contoh yang tidak
- benar juga si isunya tapi kemudian dia
- terpaksa melakukan sesuatu yang dia
- sendiri tidak menyukainya terpaksa
- sembunyi-sembunyi dia melakukan sesuatu
- yang tidak disukainya. Nah, itu apalagi
- itu harus memang dijaga.
- dijaga itu artinya ee tidak diumbar,
- tidak dipublikasi karena dia sendiri
- melakukannya sembunyi-sembunyi.
- Melakukannya
- apa ya? Melakukan ya sembunyi-sembunyi.
- Betul. Sembunyi-sembunyi karena terpaksa
- gitu. Nah, itulah yang dimaksud dengan
- gibah di sini. Itulah yang harus dijaga
- harga dirinya gitu loh. Karena dia
- sunggah orang jujur. Dia sendirinya
- sunggnya orang yang apa namanya? Selalu
- berbuat baik karena terpaksa dia harus
- melakukan seperti itu. Gitu ya. Baik.
- Nah, ini ee hadis ke-14. Nah, hadis
- ke-15.
- An Aisyah radhiallahu anh qal qulu lin
- nabii shallallahu alaihi wasallam alaihi
- wasallam.
- QQu
- insan
- Abu Dawudzi waqun hasan
- Nabi, aku berkata kepada Nabi,
- "Hasbuka, cukuplah bagimu bahwa sopiah
- itu begini dan begini."
- Seorang perawi mengatakan, "Maksudnya
- Safiah itu pendek gitu ya. Ini sesama
- istri Nabi ya." Aisyah mengatakan kad
- waz. Nah, tapi kemudian qasirah kata
- perawi maksudnya ee jadi Aisyah
- mengatakan bahwa Sofia itu pendek.
- Kemudian beliau bersabda, "Kamu telah
- mengatakan sesuatu perkataan yang
- seandainya dicampur dengan air laut
- niscaya dapat mencampurinya."
- Aisyah berkata, "Aku pernah menceritakan
- keadaan seorang kepada beliau. Kemudian
- beliau bersabda, "Aku tidak suka
- menceritakan keadaan seorang walaupun
- aku akan mendapat upah sekian dan
- sekian." Jadi ee ee ee begini
- jika sekali lagi ini kalau bermasalah,
- kalau mengakibatkan sebuah permasalahan
- maka haram atau harus dihindari.
- Misalnya orang e kita bicara tentang oh
- ustaz ahsa. Oh, Ustaz Asso itu. Oh,
- Ustaz Asso yang pendek itu. Nah, yang
- pendek itu dua pengertian. Jika memang
- itu karakteristik untuk membedakan
- dengan yang lainnya dan dengan maksud
- tidak untuk meremehkannya, maka tidak
- ada masalah.
- Ya memang pendek kok maksudnya. Masa
- kemudian oh yang jangkung itu orang
- pendek. Nah, gitu. Tapi kemudian dengan
- pengatan, "Oh, yang pendek itu si pendek
- itu tuh." Ah, itu maksudnya dengan
- maksud menghina,
- merendahkan.
- Nah, dengan maksud merendahkan atau
- menghina, maka oleh sebab itu tidak
- diperkenankan.
- Ya. Jadi sekali lagi, segala sesuatu
- yang berdampak, segala perbuatan dalam
- Islam yang berdampak mengakibatkan
- permasalahan, maka dilarang dalam Islam.
- Selama itu tidak berdampak atau tidak
- diduga mengakibatkan dampak yang
- berpengaruh, maka tidak ada masalah.
- Nah, ini saya kira ee ee dalam
- penjelasan ini saya tambahkan ya, dalam
- penjelasan kitab syarah Riyadus Shihin
- atau dalam hal lainnya saya mencoba
- memadukan maqasid syariah dan maqasidul
- Qur'an.
- Maka penjelasan-penjelasannya
- selain yang saya baca dalam kitab-kitab
- ee maka kemudian dan memang ini
- kesimpulan dari kitab-kitab maka sesuai
- dengan apa ee maqasid syariah, tujuan
- syariat itu seperti apa dan tujuan Quran
- itu seperti apa. Maka dijelaskannya
- seperti itu. Maka oleh sebab itu teks
- hadis atau teks ayat ee
- bisa berlaku atau berhukum seperti apa
- adanya.
- Jadi hukumnya apa adanya ketika sekali
- lagi sirrnya hikmahnya belum ditemukan.
- Tapi kalau kemudian hukum itu hikmahnya
- sudah ditemukan,
- maka ada situasi yang berbeda. Maka bisa
- jadi hukumnya berubah.
- gitu ya. Bisa jadi hukumnya berubah.
- Banyak sekali ee hal semacam itu. Di
- antaranya apa yang dikatakan oleh
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Rasulullah menghukumi satu hukum dengan
- A.
- Kemudian sahabat lain juga menghukumi A.
- Menghukumi A. Menghukumi A. sampai
- ditemukan ilat, sampai ditemukan hikmah,
- sampai ditemukan sir, asrar. Asr itu
- rahasia rahasia pensyariatan itu. Maka
- bisa berubah. Contoh,
- Nabi sallallahu alaihi wasallam
- menghukumi yang mentalak tiga kali dalam
- satu majelis dihukumi satu,
- tiga kali talak, tapi sekaligus dalam
- satu majelis.
- Maka oleh Nabi dihukumi satu kali talak.
- Satu.
- Heeh. Tapi kemudian di zaman Abu Bakar
- masih satu kali talak. Tapi di zaman
- Umar di awalnya satu kali talak. Tapi
- kemudian umat di 2 tahun kepemimpinannya
- menghukuminya tiga kali talak karena
- ditemukan hikmah baru. Di zaman Nabi
- orang keceplosan karena emosi gitu loh.
- Tapi di zaman Umar sudah mulai orang
- mempermainkan agama. Nah, rahasia inilah
- yang ditemukan oleh Umar. Maka Umar
- menghukumi jatuh tiga tuh tiga kali
- talak. Jadi tiga kali enak. Tiga
- hukumnya. talak tiga berarti harus ada
- muhalil kalau mau rujuk kembali gitu loh
- ya. Nah, ini saya kira ee pengantar
- dalam kajian sore hari ini tentang haram
- mengguncing dan perintah menjaga lidah.
- Wasallallahu ala nabiyina Muhammadin
- walhamdulillahiabbil
- alamin. Wallahu aam biswab.
- Alhamdulillahirabbil alamin. Wallahuam
- bisawab. Jazakumullah khairan kirsiran
- ustaz.
- Wakum.
- Demikian ikhwan awat tiga hadis yang
- sudah Ustaz Ahmad Saleh ajarkan kepada
- kita dari hadis ke-13 dan 14 dan 15 dari
- bab haram menggunjing dan perintah untuk
- menjaga lidah. Pada tema kali ini
- difokuskan kepada gibah dan berdusta.
- I.
- Baik ikhwan Ahwat. Kami akan kembali
- sejenak setelah nada takwa. Berikut
- tetap di Radio Silaturahim. Terima
- kasih.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
- Terima kasih ikhwan akhwat masih bersama
- kami tausiah sore bersama Ustaz Ahmad
- Saleh MA.
- So, baik, bagi Anda yang ingin
- berpartisipasi silakan kirimkan
- pertanyaan Anda di nomor WhatsApp Rasil
- di 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan Ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Sebelum kita
- ke sesi kedua tanya jawab, kita akan
- meneruskan lagi ee hadis yang akan
- disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh.
- Dilanjutkan dengan hadis yang ke16.
- Tafadul, Ustaz.
- Iya. Baik. Baik. Eh, dari Anas
- radhiallahu anh ya berkata, Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam bersabda,
- "Lamijabi
- maru biquin lahum adfarun
- min nuhasin yakmuna biha wujuhahumurahum
- faqulu man haulai ya jibril qulilladina
- yauna luhumas
- waqa fiodih
- Abu Daud. Ketika aku diperjalankan
- dalam Mikraj, aku melewati suatu kaum
- yang mempunyai kuku dari tembaga dan
- mereka mencakar-cakar muka dan dada
- mereka. Kemudian aku bertanya,
- "Eh, man haulai ya Jibril?" Siapakah
- mereka itu wahai Jibril? Jibril
- menjawab, "Mereka itu adalah orang-orang
- yang suka memakan daging manusia dan
- menandai kehormatan
- mereka." Ah, jadi yang memakan daging
- manusia itu maksudnya yang sering
- menggibah.
- Yang menggibah manusia itu
- diilustrasikan sebagai orang yang biasa
- makan daging manusia. Ee di dalam
- Al-Qur'an kan dijelaskan
- ee ya tentang apakah kamu suka makan
- daging saudaramu yang telah mati? Nah,
- tentu kamu tidak suka gitu ya. Nah, maka
- yang dimaksud dengan yaulunumas
- gitu adalah yang apa namanya? Memakan
- daging manusia itu maksudnya yang sering
- gibah. Kemudian eqim
- menandai kehormatan mereka dengan
- perkataan yang buruk. Jadi kibah
- menceritakan keburukan orang lain
- maksudnya adalah menceritakan sesama
- muslim gitu ya. Kalau di sini tidak
- disebutkan muslim, berarti orang-orang
- kafir juga
- orang-orang kafir yang tidak memerangi
- yang tidak boleh gitu loh. Seakan-akan
- begitu. Nah, maka saking terjaganya
- lisan, diajarkannya agar kita menjaga
- lisan. Bahwa kemudian orang kafir, orang
- kufar maksud saya kalau orang kufar
- melakukan kemaksiatan, hal yang wajar
- diceritakan
- gitu ya. Kalau orang ku kufar, apa
- bedanya kufar dengan kafir? Nah,
- lagi-lagi kan kalau kafir dia hanya
- menolak. Tapi kalau kufar selain menolak
- dia juga berupaya untuk merubah,
- memerangi dan memalingkan orang-orang
- yang memeluknya itu kufar. Nah, maka
- oleh sebab itu perbuatan orang kufar
- tidak masalah dikemukakan. Tapi kalau
- kemudian orang kafir, apalagi orang
- kafirnya baik sama kita.
- kita sakit mini mobilnya atau kita sakit
- dia ngantar ke rumah sakit. Itu mah
- memang harus dijaga. Islam itu adil gitu
- loh ya. Meskipun orang kafir tapi kalau
- dia berbuat baik, tolong-menolong gitu
- kan, maka kita juga harus menghormatinya
- gitu. Nah, di sini dinyatakan
- haulailladina yaakulunalumas,
- yaitu mereka orang yang senantiasa
- memakan ee daging-daging manusia, yaitu
- yang sering melakukan gibah. Gibah itu
- menceritakan kebenaran dan juga
- menceritakan yang tidak benar di
- belakangnya di saat dia tidak ha tidak
- hadir. Nah, butir yang dapat kita ambil
- dalam hadis ini adalah peringatan keras
- untuk tidak melakukan gibah dan
- penyerupaan gibah dengan memakan daging
- manusia dan jatuh ke jurang yang sangat
- dalam. Begitu ya. Nah, ini baik.
- Kemudian kita lanjutkan hadis ke-17 dari
- Abu Hurairah bahwa Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam bersabda, "Kullul
- muslimi alal muslimi haramun
- damuhu wauhu wauhu rawahu muslim."
- Setiap muslim terhadap muslim yang lain
- itu haram darahnya, kehormatan dirinya,
- dan hartanya.
- Nah, ini jelas sekali ya. setiap muslim
- itu. Jadi, maka oleh sebab muslim di
- mana pun berada dia haram darahnya,
- tidak boleh ditumpahkan darahnya tidak
- boleh dibunuh. Kehormatan di kehormatan
- juga tidak boleh dihinakan gitu. Muslim
- di mana pun tidak boleh dihinakan dan
- hartanya begitu juga kekayaannya tidak
- boleh diganggu gituah.
- Nah, mutiara yang dapat kita ambil dari
- hadis ini adalah perhatian yang besar
- dari Islam untuk menjaga darah,
- kehormatan, dan harta benda manusia.
- Maka oleh sebab itu sekali lagi ya ee
- Islam itu mengajarkan satu kebaikan,
- mengajarkan kebaikan-kebaikan yang
- banyak. Jangankan harta orang muslim
- gitu, harta orang kafir saja itu wajib
- dilindungi kalau mereka yang tidak
- memeraki Islam gitu loh. Tetap tidak
- boleh kita merampasnya tanpa alasan yang
- benar gitu. Misalnya kita jadi
- karyawannya.
- Wah di orang kafir ini kita karyawan di
- orang kafir ya sudah hartanya kita ambil
- tiap pulang tiap pulang ke rumah bawa
- sesuat gak boleh. He
- gitu loh. Tetap harus dijaga karena dia
- memenuhi perjanjian-perjanjian.
- Eh beda lagi dengan orang kufar, orang
- yang memerangi kita gitu ya. Nah, ini
- saya kira ee dua hadis tambahan dalam ee
- apa namanya? kajian pada sore hari ini
- ee mudah-mudah jadi lengkap sudah ya ee
- bab tentang
- mengguncing
- ee dan perintah menjaga lidah. Jadi
- sudah selesai. Insyaallah kita lanjutkan
- pada bab berikutnya ya, yaitu harap
- mendengarkan gibah dan perintah
- mengingatkan pelakunya atau meninggalkan
- tempat jika tidak mampu. Kalau tadi
- larangan gibah, ah sekarang larangan
- mendengarnya gitu ya. Baik, demikian.
- Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian ikhwana awat
- dua hadis yang sudah disampaikan oleh
- Ustaz Ahmad Saleh tentang cara
- mengunjing dan perintah menjaga lidah.
- Berarti kita sudah belajar ee ada 15
- hadis, ada 17 hadis ya, Ustaz.
- Tentang haram mengguning dan perintah
- menjaga lidah.
- Eh,
- baik ikhwan akhwat tetap di radio
- silaturahim. Kami akan segera kembali
- setelah nada tako berikut. Terima kasih.
- Subhan
- bersama tausiah sore bersama Ustaz Ahmad
- Saleh. Ya,
- sekarang kita akan membahas sesi kedua,
- sesi tanya jawab. Sebelum kita bacakan
- pertanyaan,
- ee Ustaz, ada yang ingin kami tanyakan
- tentang dari
- surah Al-Hujurat ayat 12, Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Ayuhibu ahadukum ya lahmahi maitanum.
- Yang tadi Ustaz sampaikan ada di hadis
- yang ke-16 ya, Ustaz.
- Naam. Naam. Dan tadi ada beberapa hadis,
- dua hadis, hadis ke-16 maupun hadis
- sebelumnya.
- Iya.
- Yang yang sebelumnya tentang
- ee kuku kuku tembaga, Ustaz.
- Ah, iya. Nah, berkuku tembaga dada. H
- gambar kuku tembaga. Kemudian yang hadis
- ke-16 tentang ee memakan daging manusia.
- Nah,
- gambaran seperti itu itu apakah
- ee benar atau itu adalah majas?
- Iya. Baik. Menarik sekali. Jadi teks
- Quran maupun teks hadis ya. Sekali lagi
- ee kalau teks Quran itu pasti ya, tetapi
- maknanya itu menarik.
- Masyaallah.
- Ada bisa bermakna hakiki.
- Ada makna hakiki tapi ada juga makna
- mazaji
- gitu ya. Ada hakiki, ada majazi.
- Tadi digambarkan oleh hadis bahwa Nabi
- pernah diperlihatkan satu kaum yang
- kukunya dari tembaga.
- Iya.
- Yang mencakar-cakar dadanya.
- Sesungguhnya pernyataan itu bisa jadi
- benar apa itu apa hakiki begitu.
- Tapi bagaimana kukunya dari dari tembaga
- gitu loh.
- Oh ya bisa jadi kukunya dari tembaga
- gitu loh.
- Tetapi kemudian ada pengertian yang di
- balik itu. Itu maksudnya
- mengilustrasikan
- betapa menderitanya orang yang suka
- gibah
- sehingga diilustrasikan seperti punya
- kuku dari tembaga dan mencakar-cakar
- dadanya. Tapi bisa jadi hakikatnya nanti
- lebih bahaya, lebih menderita dari
- sekedar itu.
- Karena kan siksa neraka atau kenikmatan
- surga itu kan enggak bisa dibayangkan.
- Gaib, Ustaz.
- Nah, gaib ya. Tidak pernah dibayangkan,
- tidak pernah terlintas dalam pikiran,
- tidak pernah didengar. Tapi kenapa
- kemudian diilustrasikan oleh hadis?
- diusikat itu adalah sesuatu yang bisa
- ditangkap oleh akal untuk bisa dipahami.
- Tapi hakikatnya wallahu aam bisawab gitu
- loh. Misalnya nanti bidadarinya itu apa?
- bahwa nanti kita kalau di surga itu
- punya pasangan atau bidadari-bidadari
- ya ee azwaj yang mutaharah,
- istri-istri yang disucikan
- bahkan diilustrasikan
- apa namanya betisnya itu bagian dalam
- betisnya itu bisa kelihatan dari luar
- gitu loh ya. itu wallahuam. Bisa jadi
- lebih tidak terbayang nanti tidak
- terbayang hakikatnya seperti apa. Oh,
- mengalir di bawahnya sungai-sungai ya.
- Kita paling tinggi melihat keindahan
- sungai yang mengalir di bawah
- gunung-gunung.
- Selebihnya kita tidak bisa menjangkau.
- Indahnya seperti apa, tidak tahu gitu.
- Nah, sekarang dengan kemajuan teknologi
- apalagi tambah AI gitu lah, maka ada
- pemandangan indah sekali. Itu baru bisa
- dibayangkan oleh pemikiran manusia.
- Adapun hakikatnya nanti bisa jadi lebih
- indah dari itu semua gitu loh ya.
- [tertawa]
- Jadi, maka oleh sebab itu kan
- gambarannya misalnya, oh kalau kita
- pengin makan ya terbayang apa terbesit
- dalam hati ada tiba-tiba. Kalau sekarang
- ilustrasinya kalau kita mau makan
- nelepon angka sekian sekian sekian
- datang kan begitu. Nah, lebih dari itu
- kita tidak tahu persis hakikatnya
- seperti apa. Bisa lebih cepat, bisa
- lebih indah, bisa ah masyaallah. Tetapi
- sekali lagi akal menerima itu, akal
- memahaminya seperti itu. Karena memang
- kemampuan manusia, kemampuan akal
- manusia hanya baru sampai di situ. Tapi
- hakikatnya wallahuam
- bisawab. Nah, maka oleh sebab itu
- seringki e tafsir
- beranka ragam
- karena memang dari sananya begitu. Ada
- bahasa maknawi, ada bahasa hakiki.
- Ada ulama tafsir memahami ayat ini
- dengan ayat ee hakiki. Tapi ada ulama
- lain memahami ayat maknawi.
- Maka itu dua versi. Belum lagi nanti ee
- penafsirannya bermacam-macam. Dari dua
- versi itu nanti bermacam-macam juga.
- Nah, maka wajar ya sekali lagi
- kalamullah yang tidak bertepi,
- tidak bertepi itu saking luasnya,
- tidak berdasar, tidak berdasar itu
- saking dalamnya. He,
- gitu ya. Maka wajar para ahli tafsir
- menghasilkan tafsir-tafsir yang variasi.
- Maka
- variasi tafsir itu anugerah. bukan
- malapetaka gitu loh. Nah, maka oleh
- sebab itu yang bisa diterima itu, yang
- bisa sama itu adalah akidah.
- Akidah itu
- dalilnya monotafsir,
- tidak multitafsir. Itu akidah. Kalau ada
- diyakini akidah tapi masih multitafsir,
- bisa jadi itu bukan akidah. Tuh, gitu
- ya. Itu satu. Yang kedua,
- yang bisa berubah selain akidah itu bisa
- berubah, maka hukum juga bisa berubah.
- Hukum di zaman Nabi belum tentu sama
- dengan hukum di zaman sahabat.
- Di zaman sahabat belum tentu sama dengan
- zaman tabiin. Tuh. Loh, kok bisa begitu?
- tadi kaidah menunjukkan bahwa e la
- yunkiruiril ahkam bitiril azman
- bisa jadi di zaman sahabat itu haram
- hukumnya di zaman sesudahnya bisa jadi
- makruh
- gitu loh di zaman nabi tadi satu
- contohnya huk dihukumi satu talak
- iya
- di zaman sahabat sudah berubah jadi tiga
- talak jadi sangat tergantung ee kondisi
- dan situasi
- ya. Maka kemudian hukum hukum mencium
- istri kan jadi dua macam. Ada yang
- boleh, ada yang dilarang gitulah. Nah,
- begitu juga ada pemahaman tekstual, ada
- pemahaman kontekstual. Maka wajar
- kemudian pemahaman itu menjadi variasi.
- Nah, maka oleh sebab itu harus ada
- kesepakatan,
- harus ada rujukan yang disepakati.
- Tapi yang jelas sudah sepakat kalau
- urusan akidah sama.
- Kalau urusan akidah itu sama. Allah qul
- huallahu ahad. Allahus somad lam yalid
- walam yulad walam yakun lahu kufuwan
- ahad. Itu sama semua tafsirannya enggak
- ada bedanya.
- Nah, tapi kalau sudah syariat, sekali
- lagi sudah syariat maka tadi kalau sudah
- syariat
- misalnya ayat maupun hadis
- mengilustrasikan hukumnya A.
- Tapi kalau tidak bisa dilaksanakan A
- tidak harus diwujudkan
- karena belum mampu melaksanakannya. Tapi
- hukumnya tetap A.
- Tapi kalau kemudian yang kedua hukumnya
- A, maka di pelaksanaannya adalah A. Tapi
- kalau kemudian ada ilat yang ditemukan
- atau ada ee sir asrar, ada sir yang
- ditemukan baru, maka hukum bisa berubah.
- Gitu. Misalnya begini,
- bisa jadi di zaman sahabat jenggot itu
- dengan e dengan apa? Celana cingkrang
- itu seakan-akan kokeh,
- harus punya jenggot dan harus
- cingkrang.
- Heeh. Cingkrang
- tuh. Kenapa? Karena pada zaman itu untuk
- membedakan dengan Yahudi, untuk
- membedakan dengan musyrikin muslim
- muslim.
- Maka menjadi wajib. Karena menjadi
- seragam dulu pakaian militernya
- bukan dengan seragam pakaian warnanya
- warna ini. Enggak.
- Karena orang musyrik dengan orang Islam
- pakaiannya sama.
- Iya.
- Untuk membedakannya, oh mana yang
- jegotnya panjang gitu ya, mana yang ee
- celananya ngatung. Nah, itu cirinya.
- Nah, sekarang aktivis-aktivis selain
- Islam ya, aktivis-aktivis
- agama mereka melihara jenggot
- tu gitu ya. Kemudian mereka pun
- celananya
- di atas mata kaki.
- Ngatung,
- mohon maaf ya, saya seringki melihat ee
- drakor,
- drama Korea.
- Drama Korea itu para aktornya celananya
- di atas mana kaki?
- [tertawa]
- Nah, makanya saya melihat saya kebeli
- saya menyimpulkan apa aktor-aktornya ini
- umat Islam
- atau itu m ciri mereka aktor-aktor apa
- drama Korea itu gitu loh. Nah, kalau
- kemudian kita tetap mempertahankan itu
- berarti enggak ada bedanya dengan aktor
- Korea kan gitu. Nah, maka sekali lagi
- itu menjadi pertimbangan. Jadi bahkan
- syariat itu
- lentur sifatnya, tidak
- kaku tapi elastis. Ee ya plastis gitu
- loh bisa. Heeh. Gitu kan syariat.
- Jadi syariat itu dulu kan di kita juga
- mengalami dulu pakai dasi kupu-kupu itu
- haram.
- H
- haram itu di zaman para tahun 60-an,
- 70-an itu seingat saya haram.
- Iya.
- Heeh. Umat Islam pakai dasi kupu-kupu
- haram tuh. Nah, maka tapi kemudian
- banyak ulama yang apa yang kuliahnya
- yang studinya di Eropa jangankan yang
- kupu-kupu dingambai aja boleh gitu loh.
- Nah, bahkan sekarang orang Eropa juga
- sudah mau sudah menggunakan pakaian
- pakaian muslim. Kalau menyebut pakaian
- Arab itu pakaian muslim.
- Iya. Sekarang tuh banyak orang-orang
- menggunakan Cina. Cina itu banyak yang
- pakai gamis. Maka dalam film-film kungfu
- itu pakaiannya pakaian apa? Mesti ada
- hubungan itu
- antara Cina dengan
- dengan Saudi paling tidak dengan Arab.
- bahwa kemudian nanti oh itu akibat
- dakwah umat Islam sehingga pakaian bisa
- jadi. Tapi sekali lagi bahwa pakaian itu
- ee bisa menjadi ciri tapi juga bisa
- menjadi bukan ciri gitu ya. Fisik itu
- bisa menjadi ciri atau tidak menjadi
- ciri. Tadi jenggot begitu juga celana
- cingkrang asalnya ciri. Tapi kemudian
- sekarang bukan menjadi cilik lagi,
- terutama di Indonesia kan. Mohon maaf
- dulu kita melihat orang muslim itu pakai
- sarung, pakai peci. Oh, dia muslim, dia
- kiai, dia ustaz.
- Sekarang sudah mulai juga banyak orang
- luar. Maksud orang luar itu selain Islam
- pakai sarung, apalagi sarung itu kalau
- enggak salah tidak bisa dipisahkan
- dengan Hindu. Hm. Nah, orang hidup pakai
- sarung gitu. Nah, maka sekali lagi ee
- sekali lagi kalau bukan syari bukan
- akidah maka itu bisa elasih, bisa
- plastis ya, bisa lentur gitu loh ya.
- Bisa lentur. Nah, maka oleh sebab itu
- makanya jangan terlalu apa namanya?
- jangan terlalu
- ee fanatik
- kepada selain non akidah. Tapi kalau
- urusannya akidah ah itu apa namanya?
- Tidak ada pilihan lain ya. Kalau akidah.
- Jadi akidah itu memang makanya kita
- selalu apa namanya? Selalu mempersalah
- mempersoalkan hal-hal yang bersifat
- aqaid. Kalau sifat-sifat muamalah mah
- kan begini, di Indonesia
- bank konvensional dinyatakan haram
- di Indonesia tuh.
- Indonesia
- ya salah satu. Tapi ada juga yang
- menyatakan itu bank konvensional asal
- itu plat merah itu tidak haram.
- Itu salah satunya Pak Koresiab yang
- berpendapat begitu ya. Jadi bank apa
- bank pemerintah itu tidak haram. Kenapa?
- Karena bunganya dipakai juga untuk
- pembangunan nasional. Kalau bank swasta
- ah beda tuh. Kalau bank swasta berarti
- dinikmati oleh sebagian. Nah, tetapi
- sekali bank konvensional yang saya tahu
- sekali lagi yang saya tahu di Mesir itu
- bukan bukan yang diharamkan.
- Bank konvensional.
- Bank konvensional itu makanya Oh. Oh
- iya. Maka saya kira ee apa namanya ee
- perkembangan ee pemikiran fikih itu
- selalu berkembang ya. Selalu berkembang.
- Maka oleh sebab itu sekali lagi zakat
- fitrah. Nah sekali lagi zakat fitrah itu
- ee asalnya itu dengan ee apa? Gandum
- dan lainnya. Tapi di Indonesia dengan
- beras.
- Iya. Nah, maka pernah terjadi di zaman
- ulama salaf ada zakat fitrahnya pakai
- baju.
- Nah, gitu loh. Loh, kok kenapa jadi
- pakai bayu? Kan zakat fitrah. Nah,
- sangat tergantung kondisinya.
- Kalau orang e orang yang susahnya perlu
- makanan berarti makanan.
- Kalau orang susahnya perlu pakaian ya
- berarti pakaian. Karena syariat Islam
- itu soluter of problem,
- solusi bagi berbagai masalah gitu loh.
- Jadi kalau [tertawa] kalau masalahnya
- kan enggak masuk akal. Orang perlu A
- disediakannya C.
- Nah, ini sekali lagi mohon maaf ya
- karena mungkin ee jarang sekali yang
- mengungkap tapi e analisa tentang ini
- maka maqasid syariah dengan maqasid
- Al-Qur'an perlu digalakkan agar ee
- menjadi menarik. bukan menjadi bukan
- menjadi menarik menjadi solusi. Jadi
- Islam itu betul-betul solusi dalam
- setiap keadaan, dalam setiap apapun
- Islam tetap menjadi solusi gitu loh ya.
- Nah, maka oleh sebab itu saya kira
- kembali kepada persoalan tadi. Jadi, ada
- teks yang bisa dimaknai maknawi,
- ada teks yang bisa dimaknai ee hakiki
- gitu loh. Belum nanti e jadi dalam
- pengertian para sahabat itu ada
- pandangan-pandangan ee tekstual, ada
- pandangan-pandangan kontekstual.
- Nah, itu saya kira ee apa sebagai
- jawaban yang dapat dikemukakan.
- Wallahuam bisawab.
- Wallahuam bawab. Baik, ikhwan akhwat. Ee
- kemudian kita akan bacakan atensi-atensi
- dulu, Ustaz.
- Iya. Siap.
- Dari Ibu Anihani Hufaidah. Ustaz,
- alhamdulillah, Ustaz, pendengar Setia
- Rasil hadir menyimak di tausiah. Ustaz,
- Alhamdulillah. Barakallahu fikum.
- Semoga Ustaz selalu sehat. Amin. Allahum
- amin.
- Kemudian Pak Arwin di Lenteng Agung.
- Alhamdulillahiabbil alamin, Ustaz sudah
- sembuh dari penyakitnya.
- Alhamdulillah. Bertas doa dari semua dan
- dukungannya.
- Terima kasih atas tausiah, nasihat, dan
- pencerahannya, Ustaz.
- Amin.
- E kemudian
- dari Ibu Sri juga hadir menyimak. Dari
- Bapak Rohili di Pulau Gebang.
- Alhamdulillah hadir menyimak.
- Alhamdulillah.
- Semoga Ustaz selalu sehat. Amin. Allahum
- amin.
- Kemudian pertanyaan dari
- dari hamba Allah tidak disebutkan
- namanya.
- Iya.
- Oh dari Bapak Toha di Tegal. Ustaz H.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz saya menceritakan tentang sikap
- istri yang tidak patuh pada suami. Ini
- harus diceritakan atau tidak? [tertawa]
- Iya.
- Kita termasuk gibah atau tidak?
- Jadi tentang sikap istri yang tidak
- patuh pada suami dan selalu merendahkan
- yaitu tidak bersyukur atas pemberian
- suami kepada bibinya.
- He.
- Dengan tujuan supaya ee menasehatinya.
- Saya selalu menasehatinya tapi tidak
- mempan, Ustaz.
- He.
- Bagaimana solusinya, Ustaz? Terima kasih
- atas nasihatnya. Jazakumullah khair kir.
- Baik. Baik. Baik. Jadi pertanyaannya ada
- seorang istri gitu ya yang kurang
- bersyukur atas pemberian suaminya.
- Bagaimana cara menyikapinya gitu ya.
- Jadi sekali lagi tuh ada seorang istri
- [tertawa]
- gitu ya. Baik. Pertama,
- dengan sabar kita memberi contoh.
- Yang kedua, dengan sabar pula kita
- senantiasa menasehati.
- Nah, nanti kalau kemudian kita sudah
- memberi contoh dan menasehati,
- kembalikan kepada Allah.
- Jadi, menasehati juga tidak harus
- berhasil.
- Memberi contoh tidak harus berpengaruh.
- Karena memberi contoh itu niatnya ibadah
- kepada Allah. Menasihati juga niatnya
- ibadah kepada Allah. Gitu loh. Jadi yang
- diharapkan pahala dari Allah.
- Kalau kemudian istri istri seseorang itu
- tidak juga berubah, serahkan kepada
- Allah. Yang membolak-balikkan hati dia
- kan Allah.
- Allah. Kalau yang mewolak-walikkan hati
- dia, mau kita nasihati, mau kita kasih
- contoh, enggak pengaruh.
- He.
- Karena yang membolak-balikkan hati kita
- adalah
- Allah, kan gitu. Ya Allah, saya sudah
- memberi contoh, saya sudah menasehati,
- tapi engkau yang membolak-balikkan
- hatinya. Dia bisa bersyukur kepada
- engkau, ya. Engkau yang menjadikan dia
- bersyukur. Adapun saya hanya
- melaksanakan perintah Engkau, yaitu
- ngasih contoh dan menasehati, gitu. Nah,
- seringki kita ini harus selalu berhasil.
- Mendidik anak harus berhasil. Iya,
- bagus. Kalau berhasil
- mendidik istri harus berhasil, harus
- salihah. Bagus kalau jadi salihah. Tapi
- sekali lagi kita harus menyadari bahwa
- yang membolak-balikkan hati istri kita,
- yang membolak-balikkan suami kita, yang
- membolak-balikkan hati anak-anak kita
- adalah Allah Subhanahu wa taala. Maka
- oleh sebab itu serahkanlah setelah
- usaha-usaha itu kepada Allah Subhanahu
- wa taala yang disebut dengan tawakal.
- Jadi pertama ee memberi contoh, kedua
- menasehati, ketiga tawakal kepada Allah
- subhanahu wa taala. Ya. Dan ada tambahan
- keempat tawakal itu mendoakannya.
- Mendoakan
- ya setelah salat doakan. Ya Allah, saya
- tidak bisa merubah sikap istri saya
- karena yang membolak-balikkan hati
- adalah Engkau. Saya ingin sekali punya
- istri-istri yang salihah.
- Amin.
- Tapi saya sekali lagi tidak bisa
- menjadikan istri saya salihah. Maka saya
- mohon kepada Engkau, jadikanlah istri
- saya istri yang salihah. Sebagaimana
- Engkau juga jadikan aku suami yang
- saleh. Jadi jangan nuntut istrinya aja
- salihah ee dirinya tidak saleh gitu loh.
- Maka oleh sebab itu tadi kasih contoh
- menjadi saleh. Maka oleh sebab itu
- kemudian kita berharap istri kita
- menjadi shih
- gitu ya. Demikian saya kira yang dapat
- saya jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisab. Demikian semoga dapat
- menjawab. Berarti ini untuk istri ya?
- Seorang istri ya Ustaz ya?
- Iya seorang istri. Betul.
- Baik. Ee alhamdulillah kita sudah di
- akhir acara bersama Ustaz Ahmad Saleh.
- Baik, Ustaz. Sebagai penutup untuk
- nasihat dan agar kita terhindar dari
- menggibah Ustaz. Tafadul Ustaz.
- Iya. Pertama
- bahwa kita
- menggibah itu
- bisa jadi kita lebih buruk di hadapan
- Allah.
- Maka oleh sebab itu kita hendaknya
- mencari jalan-jalan kesempurnaan.
- Ketika kita kita mau ngomongin orang,
- "Eh, jangan-jangan saya lebih buruk
- daripada dia."
- Yang kedua,
- ketika kita mau menggibah, ingat tadi,
- aduh saya nanti akan menderita di
- kehidupan berikutnya.
- saya akan seperti orang yang
- mencakar-cakar dada
- investasinya kan begitu.
- Iya.
- Artinya sangat menderita gitu loh,
- sangat tersiksa.
- Maka ketika kita ee apa namanya? Ketika
- kita mau menggibah, ingat lagi ee apa
- akibat yang akan didapatkan. Maka oleh
- sebab itu perbaikilah. Ketika mau
- bergegibah ganti dengan cari
- kebaikan-kebaikannya.
- Kalau tidak bisa mencari
- kebaikan-kebaikannya,
- doakan.
- Oh, ya Allah, saya punya tetangga. Beri
- dia hidayah, bimbing dia di jalan di
- jalan yang baik. Karena di di enggak
- enggak juga dia umat Nabi Muhammad, ya
- Allah. Begitu ya. Jadi ketika dia mau
- ketika kita terpikir keburukannya,
- buru-buru cari kebaikannya. Kalau susah
- mencari kebaikannya, doakan. Kan untuk
- apa kita berdoa? Allahumfirli wali walil
- muslimin wal muslimati wal mukminin wal
- mukminat. Untuk apa kita doa begitu
- kalau ternyata kita masih menyakitinya?
- Berarti kan percuma doang kita [tertawa]
- bohongan gitu loh. Nah, maka oleh sebab
- itu doakan ya, ya Allah ampuni hamba,
- ampuni dia, angkatlah hamba, angkatlah
- dia gitu loh. Sayangi saya, sayangi juga
- dia gitu ya. Karena ketika kita
- mendoakan orang lain sama dengan
- mendoakan diri sendiri. Demikian saya
- kira yang dapat saya garis bawahi dari
- apa yang telah kita sampaikan.
- Wasallallahu ala nabiina Muhammadin
- walhamdulillahi rabbil alamin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khair kiran
- Ustaz atas kehadiran dan ilmunya.
- Baik ikhwan awat. Demikian yang sudah
- disampaikan Ustaz Ahmad Shih tentang
- larangan menggunjing dan perintah untuk
- menjaga lidah, tentang gibah. Semoga
- kita dapat terhindar dari perbuatan
- gibah dan berpikir semua. Kita harus
- merasa lebih rendah daripada orang yang
- kita gibahi. Seperti itu atau tidak
- bergibah sama sekali.
- Ee insyaallah kita bertemu lagi di pekan
- depan, Ustaz, atas izin Allah Subhanahu
- wa taala. Demikian ikhwan awat saya
- Fauzi Riadunul Haq mohon undur diri
- mohon maaf atas segala khilaf
- subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.