Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain. Ashadu
- alla ilahaillallah wa ashadu anna
- muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala nabiyina
- Muhammadin wa ala alihi wasohbihi
- ajmain. Qallahu taala fil quranil karim.
- Auzubillahiminasyaitanirjim.
- Innallaha wa malaikatahu yusuna alan
- nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
- wasallimu taslima. Sadaqallahulim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Masih
- dipancarkan dari jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Cibubur Bekasi.
- Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk
- Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang
- dimuliakan Allah Subhanahu wa taala,
- bagaimana kabar Anda di sore Jumat ini?
- Semoga selalu dalam keadaan sehat
- walafiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridwanul Haq ditemani oleh Atep dan juga
- Yusuf Subangkit dapat kembali menemani
- ikhwan akhwat dalam program tausiah sore
- edisi Jumat 25 Syakban. 1447
- Hijriah juga bertepatan dengan tanggal
- 13 Februari 2026 bersama guru kita
- almukaram Ustaz Ahmad Shoh MA.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita. Kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah berjumpa lagi, Ustaz.
- Sehat?
- Alhamdulillah. Lebih baikan.
- Alhamdulillah.
- Ustaz e Ustaz pakaiannya berbeda, Ustaz.
- Ah, masyaallah. I
- seperti imam yaallah. [tertawa]
- Iya, iya.
- Iya. Biasanya kan ustaz pakai gamis
- pakai peci putih.
- Iya. [tertawa]
- Alhamdulillah.
- Masyaallah. Iya. Baik, Ikhwan Ahmad.
- Semoga kesehatan juga dirasakan oleh
- hewan akhwat di mana pun Anda berada.
- Kami doakan semoga Allah subhanahu wa
- taala memberikan kesehatan dan
- kebahagiaan
- seperti yang dirasakan oleh Ustaz Ahmad
- Saleh kita.
- Baik ikhwan akhwat, semoga kajian ini
- dapat menemani ikhwan akhwat di
- penghujung Jumat untuk selalu
- mendekatkan diri kepada Allah,
- mempersiapkan bulan Ramadan, berzikir,
- berselawat kepada Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam dan tentunya
- ditemani oleh siaran bersama Ustaz Ahmad
- Saleh. Insyaallah pada sore kali ini
- Ustaz Ahmad Saleh akan membahas tentang
- haramnya berdusta. Insyaallah ini bekal
- ikhwan akhwat dalam menghadapi bulan
- Ramadan dan kehidupan setelahnya.
- Menarik sekali tentang haramnya berdusta
- ini. Karena setiap lisan kita selalu
- berkata. Berkata itu ima bisa jujur dan
- ima bisa berdusta. Namun kita harus
- selalu
- berkata dalam kejujuran dan ber ber
- menghindari dari segala kedustaan. Nanti
- akan diisi ilmunya oleh Ustaz Ahmad
- Saleh. Namun sebelumnya bagi ikhwan
- akhwat yang ingin bertanya,
- berpartisipasi kirimkan pertanyaan di
- 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Mari kita dengarkan ilmu yang akan
- disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- tentang haram berdusta. Tafadol Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiron thayiban mubarokan fih
- kama yuhibuna waard. Ashadu alla
- ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa
- ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluhu wa innahu la nabiya ba'dah.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- nabiyina Muhammadin waa alihi wa
- ashabihi waman tabiahum biihsanin ila
- yaumil qiamah. Amma ba'd. Ikhwan
- pendengar radio silaturahim serta
- pemirsa Rasil Visual di mana pun berada.
- Alhamdulillah pada sore hari ini pujian
- tetap tertuju kepada Allah karena Allah
- masih memberikan kesempatan kepada kita
- untuk melanjutkan kajian kita kajian
- kitab Syarhu Riyadus Shihin wal hadir
- sanataqallam.
- Sekarang kita akan membahas anil ee apa
- namanya? Haramnya berdusta. Ya, kemarin
- kita sudah membahas tentang namiman dan
- lain sebagainya. Ini sebagai bekal agar
- kita tidak ee apa? Tidak melakukan
- bahkan menjauhi hal-hal yang dilarang
- tersebut. Terutama di bulan Ramadan.
- Karena bulan Ramadan adalah betul-betul
- perkuliahan gitu ya. yang mana tujuannya
- bukan hanya lapar dan dahaga saja,
- tetapi kita mendapatkan
- kompetensinya, yaitu kompetensi
- kesalehan pribadi dan kesalehan sosial
- yang dalam bahasa Al-Qur'an dirangkum
- menjadi ketakwaan. Jadi, ketakwaan itu
- membentuk karakter saleh pribadi dan
- saleh sosial. Kemudian menjauhi hal-hal
- yang diharamkan oleh Allah dan oleh
- Rasulnya. wal hadir. Dan sekarang kita
- akan membahas tentang hal yang
- diharamkan ee tentang haramnya berdusta.
- Tiib. Kita mulai dengan ee ayat yang
- dinukil oleh Imam ee an-Nawawi di dalam
- kitab Riyadus Shihin yaitu surah al-Isra
- ayat 36.
- Auzubillah samil alim minasyaitanirjim
- min hamzihi
- wfu maaka bihi inalika
- w takfu dan janganlah kamu mengikuti
- malai salaka
- sesuatu yang tidak kamu bihi ilmun yang
- tidak kamu ketahui.
- ini menjadi pijakan ya. Jadi kita tidak
- boleh mengikuti sesuatu bidunil ilmi
- tanpa ilmu gitu ya. Kemudian ditegaskan
- oleh beberapa hadis di antaranya hadis
- pertama an ibni Mas'udin radhiallahu
- anhu
- qala
- qala Rasulullahi sallallahu alaihi
- wasallam
- inidqahdial
- birri. Sesungguhnya kejujuran sidqo
- yahdi memberikan petunjuk ilal birri
- kepada kebaikan wa inal bir dan
- sesungguhnya kebaikan
- yahdi ilal jannah akan menunjuki ke
- jalan surga wa innarula
- lasduqu hatta yuktaba ya sesungguhnya
- seseorangas
- benar-benar dia berbuat jujur
- sehingga dia dicatat
- sehingga ia dicatat di sisa Allah
- sebagai orang yang jujur.
- Sementara kedustaan memberikan petunjuk
- akan mengantarkan memberi petunjuk ilal
- fujur kepada kejahatan
- ya. Wa inal fujur yahdianar.
- Sementara kejahatan akan menunjukkan
- menuntun ke jalan neraka. Wa inajula
- yaqdibu. Sesungguhnya seorang lelaki
- benar-benar berdusta. Hatta yuktaba.
- Sehingga dia dicatat indallahi di sisi
- Allah kadzaban.
- Sebagai benar-benar orang perdusta.
- Kadzaban
- ya dengan kadiban. Kadziban berdusta.
- Kalau kadzaban benar-benar dusta. Nah,
- maka inilah ee pentingnya kita berkata
- jujur, sidqo atau sidqu
- ya. Mulai dari persoalan-persoalan yang
- kecil, persoalan apalagi
- persoalan-persoalan yang besar. Karena
- sekali lagi dengan kita berlatih berlaku
- jujur terus-menerus
- yuktabu indallah dicatat dia di sisi
- Allah.
- Siddiqan.
- Soddiq itu orang yang jujur. Tapi kalau
- siddiqan
- benar-benar berlaku jujur. Nah, begitu
- juga berdusta. Jangan coba-coba berdusta
- gitu loh ya. Jangan coba-coba berdusta.
- Gimana ini rahasia?
- Cari aja rahasia juga yang sepadan.
- meskipun tidak dimaksudkan seperti itu.
- Orang cerdas itu mesti dibimbing oleh
- Allah gitu loh ya. Misalnya
- ee
- misalnya ee misalnya katakanlah saya
- saya mau izin ya misalnya mohon maaf ya
- karena saya mau izin karena ada pilihan
- ada beberapa pilihan. pertama saya harus
- ngajar.
- Iya.
- Ee kedua saya harus ngisi taklim di
- mana? Di Rasil.
- Iya.
- Kemudian lain-lain sebagainya. Nah, saya
- ee kan kalau saya misalnya memilih
- ngajar sama-sama ngajar juga dihasil
- tapi menjadi tidak enak, menjadi tidak
- nyaman.
- Nah, gimana alasannya? Alasannya tidak
- berdusta tapi menyelesaikan persoalan.
- Aduh, maaf Aki saya enggak datang ke
- Rasil karena saya ada keperluan tidak
- disebutkan saya ngajar
- gitu loh. Karena kalau oh sini juga kan
- ngajar juga sama umat menunggu misalnya
- gitu. Nah, sampai saya ada keperluan.
- Keperluan dengan ngajar kan sama
- sesunggnya. Nah, itulah gambarannya
- kurang lebih seperti itu agar tidak
- memancing ee fitnah gitu loh, tetapi
- kita tidak berdusta gitu loh. Ini ya.
- Baik, yang pertama itu ya. Nah, ee
- mutian-mutian yang dapat kita gali dari
- hadis pertama ini anjuran untuk menjaga
- dan memperhatikan kejujuran. Apabila
- seseorang memperhatikan kejujuran, maka
- ia banyak melakukannya dan mengenalinya.
- Nah, itu yang pertama. Yang kedua,
- peringatan untuk tidak berdusta dan
- menyepelekan masalah dusta.
- Dusta merupakan perkara yang paling
- berbahaya dan jujur merupakan perilaku
- yang paling besar manfaatnya.
- Jadi, sebagai bagaimanapun sebisa
- mungkin jujur termasuk kepada musuh.
- Masyaallah. Banyak para pejuang itu,
- para pejuang itu bahkan jujur. Misalnya
- begini,
- dia ee misalnya ada di rumah digerebeg
- kemudian ditanya yang jawab anak buahnya
- tidak ada di rumah. Pergi dia nongol ada
- di sini ada apa perlu apa? [tertawa]
- Malah dia datang tuh nongol mengampahnya
- mengatakan tidak ada tapi dia lebih
- milih jujur gitu loh ya Imam Assyafi'i
- ya dikasih bekel sama ibunya mau ke Phan
- mau ke P dok lah bahasa kita dibegal
- gitu ya
- kamu bawa apa bawa ini bawa ini bawa ini
- dijelaskan tuh bahwa ibu saya apa begini
- loh si perampoknya nya heran ini anak
- ini malah ini kok terus belak-belakan
- ada apa gitu loh. Nah, jadi ada kalanya
- memang kejujuran itu solutif
- kejujuran itu solusi gitu loh ya. Ada
- kalanya tuh ya. Nah, tapi kemudian Allah
- memberikan pilihan-pilihan kepada kita
- gitu ya. Baik ya. Kemudian yang ketiga,
- kejujuran menunjukkan keberanian untuk
- menghadapi realitas. Sementara
- kebohongan menunjukkan sifat pengecut,
- ragu, dan tidak memiliki keyakinan dalam
- menghadapi realitas. Benar itu ya. Jadi
- memang orang jujuri itu apa namanya? No
- problem, enggak ada masalah gitu loh.
- Ya, ini jujur aja dia. Ya, bahkan itu
- tadi sekelas Imam Syafi'i dibekali sama
- ibunya. Ini ceritanya begal. [tertawa]
- Iya. Saya bawa ini bawa duit sekian sama
- ibu saya dikasih sekian gitu.
- Masyaallah. Justru orang lain mah tidak
- menginformasikan. Tapi beliau mengambil
- kejujuran. Heeh. Wah. Tapi kan nanti
- resikonya kalau jujur bisa begini dan
- begitu. Iya memang bisa begini dan
- begitu resikonya. Tapi dia paling tidak
- menempak dirinya sebagai orang jujur
- gitu loh. Ah nanti saya akan diraampok
- ya. Enggak apa-apa dirampok juga. begitu
- kata dia karena dia berani bertanggung
- jawab gitu. Paling juga dirampok, paling
- juga diambil kekayaan saya kan begitu.
- Tapi saya beraya berupaya untuk jujur
- gitu ya. Baik. Yang keempat kebiasaan
- untuk melakukan suatu perkara itu
- menjadi watak untuk mengenali seseorang.
- Nah, maka oleh sebab itu
- kejujuran itu mendidik kita memiliki
- sebuah karakter gitu loh. Jadi
- orangorang yang sudah jujur itu susah ma
- berdusta tuh gitu loh. Karena dusta itu
- malah jadi beban. H
- beda dengan orang yang masih belajar,
- masih ini berdusta itu masih
- sesuatu Heeh. Sesuatu yang gampang gitu.
- Tetapi orang jujur itu enggak, enggak
- lah. Saya enggak apa enggak dusta. Saya
- ngomong mending terus terang. Enggak ada
- beban kan begitu ya. Baik. Baik. Kita
- lanjutkan kepada hadis kedua. An
- Abdillah bin Amr ibnil radhiallahu
- anhuma anna Nabi shallallahu alaihi
- wasallamq arbaun man kunna fihiana
- munafiqon kholison.
- Empat perkara yang ada jika ada di
- dalamnya.
- Maka dia munafiknya khis
- gitu. Munafiknya benar-benar khison
- mukhlis
- murni
- khunat
- fiatun
- minfaqinataha
- wahaj.
- Jadi barang siapa memiliki sebagian dari
- keempat sifat itu, maka ia memiliki
- sebagian dari sifat-sifat munafik. Jadi
- kalau ada empat-empatnya dia munafiknya
- ikhlas, kholis, bersih, murni. Tapi
- kalau ada sebagian berarti nifaknya
- sebagian
- sehingga ia meninggalkannya. Yaitu bila
- dipercaya ia berkhianat. Tu satu
- dipercaya malah berkhianat. Bila berkata
- ia berdusta. ee bila berjanji ia tidak
- menepati dan bila berdebat ia
- keterlaluan ingin menang sendiri gitulah
- kalau debat itu kan rata-rata begitu
- kalau debat itu ya
- pengin menang sendiri padahal belum
- tentu itu adalah sebuah kebenaran. Ah
- tapi yang jelas saya pokoknya menanglah
- ngomong sama dia mah gitu bukan bukan
- menang nanti antum menang juga kalau
- salah kan bahaya gitu. Maka orang jujur
- itu yang penting teliti berdebatnya itu
- adalah kebenaran yang disampaikan. Jadi
- kalaupun dia menang betul-betul itu
- kebenaran bukan hanya mendominasi orang
- bicara dipotong gitu loh dia apa
- kemudian dia nyerocos ngomong ketika dia
- orang lain mau bicara lagi dipotong lagi
- supaya tidak ada kesempatan memberikan
- kesaksian supaya tidak ada kesempatan
- untuk mengemukakan keb kebenaran nah
- maka oleh sebab itu sekali lagi orang
- jujur itu bahkan kalau dia sedang
- ngomong dipotong Diam dulu, didengarkan
- dulu.
- Sudah kamu ngomongnya sudah. Ah,
- sekarang gilen aku ya. Kamu dengerin ya
- itu loh. Nabi itu sendiri begitu.
- Masyaallah.
- Berdebat dengan orang musyrik ya. Orang
- musyrik nyerocut didengerin sama Nabi.
- Dengerin sama Nabi.
- Masyaallah.
- Sampai puas itu. Sudah engkau bicaranya
- ya. Sudah ya Muhammad. Ah sekarang
- giliran aku yang ngomong. [tertawa]
- Masyaallah gitu ya. Baik gitu ya. Nah.
- Maka oleh sebab itu kemudian muti yang
- dapat kita lihat kewajiban menjauhi
- sifat-sifat tersebut karena termasuk
- sifat-sifat munafik. Nah, ini saya kira
- apa namanya ee satu hal yang menarik
- buat kita ya untuk memperhatikan ya
- kejujuran.
- Nah, dia kejujuran itu jadi orang jujur
- itu menang atau kalah enggak ada
- masalah.
- Enggak ada masalah.
- Enggak ada masalah. Bahkan kemudian
- menangnya dia kemudian tidak ada
- kesempatan untuk dikemukakan. Enggak
- apa-apa.
- Ketika ngomong dibanta di apa dipotong.
- Ketika ngomong dip dia diam aja
- sampai acaranya selesai acara debatnya
- dia belum mengemukakan enggak ada
- masalah. Oh salah kamu kok. Saya mau
- ngomong enggak boleh gitu. Ah nanti
- suatu saat ini kan enggak enggak begitu
- loh. Kamu kan waktu itu kan debat ini
- acara debat kamu enggak membantahnya.
- bukan tidak membantah, tapi kamu tidak
- ngasih kesempatan ngomong kepada saya
- kan gitu ya. Jadi makanya orang yang
- jujur itu baik dia diberi kesempatan
- atau tidak diberi kesempatan dia lapang
- aja dadanya ya. Tidak merasa kalah,
- tidak merasa ee apa namanya? Merasa
- terhina gitu gak gitu ya. Ya, jadi dia
- sopan debatnya dia sopan. Kalau kita kan
- yang penting menang gitu loh. Maka
- perdebatan-perdebatan itu, kemenangan
- debat itu seakan-akan kita mendapatkan
- supremasi yang hebat. Padahal enggak
- juga gitu loh ya. Heeh. Baik. Kemudian
- ee ikhwan sekalian
- ee hadis ketiga
- dari Ibnu Abbas radhiallahu anh ee dari
- Nabi sallallahu alaihi wasallam
- bersabda, "Man tahallama
- lam yarahu
- bairrain
- wali
- hadi wahu
- Albuki. Barang siapa mengaku bermimpi
- dengan suatu impian yang sebenarnya ia
- tidak memimpikannya,
- maka ia nanti akan dituntut untuk
- menyambung dua biji gandum.
- Padahal ia tidak mungkin bisa
- melaksanakannya. Barang siapa
- mendengarkan pembicaraan sekelompok
- orang di mana seb sebenarnya mereka
- tidak senang bila pembicaraannya itu
- didengar, maka pada hari kiamat nanti
- akan dituangkan ke dalam telinganya
- cairan timah.
- Dan barang siapa menggambar suatu benda
- yang hidup, maka ia nanti akan disiksa
- dan dituntut. untuk meniupkan roh ke
- dalam gambar itu. Padahal ia tidak akan
- mampu untuk meniupkannya.
- Nah, ini maka para ulama berbeda
- pendapat tuh kepada apaapa hukum para
- pelukis gitu ya. Sebagian ada yang
- mengharamkan dengan dasar hadis ini di
- antaranya karena dia akan diminta ahyu
- ma qolqtum. Hidupkanlah apa yang kamu
- ciptakan, apa yang kamu gambar, apa yang
- kamu paham. Kemudian para ulama berbeda
- pendapat. Yang dimaksud adalah
- menggambar patung. Kalau menggambar itu
- tidak apa-apa gitu loh. Karena gambar
- itu kan dua dimensi.
- Iya
- gitu loh. Maka tidak apa-apa. Yang
- diminta untuk ahyu ma khalaqtum adalah
- mereka yang membuat tiga dimensi
- ya, yaitu patung. Nah, kenapa? Karena
- memang wajar kalau patung itu ada
- kemungkinan diibadahi.
- Nah, maka kemudian kalau gambar tidak
- mungkin. Maka kalau gambar itu yang
- penting dipotong aja ee kepalanya gitu
- loh. Maka gambar dengan tanpa kepala
- maka kan tidak mungkin hidup. Nah, jadi
- dia tidak mungkin diperintah untuk
- menghidupkan karena dia gambarnya gambar
- mati meskipun gambar hi hidup. Adapun
- tiga dimensi ya seakan-akan dia tapi
- kemudian sekarang apa namanya ee hal-hal
- semacam itu sudah diabaikan
- dengan dikembangkannya robot ya bahkan
- menyerupai manusia gitu loh. Maka ada
- penelitian teman saya itu apa namanya ee
- digeksual.
- dig seksual ada seks.
- Nah, gimana seks digital? Nah, sekarang
- dia hubungannya dengan robot
- gitu. Jadi berhubungan dengan robot.
- Bagaimana hukumnya? Ah, itu menarik tuh
- kajian-kajian itu ya. Oke. Digi seksual
- karena sekarang sudah menghasilkan objek
- pelampiasan itu dengan ee apa? Robot.
- Berbentuk robot. Nah, ee maka kemudian
- apakah itu termasuk dalam larangan hadis
- ini atau bagaimana? Wallahuam gitu ya.
- Oke. Baik. Kemudian ee
- faedah yang dapat kita lihat atau
- mutiara-mutiara yang dapat kita lihat
- ancaman keras bagi orang yang berbohong
- dengan mimpi karena itu adalah
- kebohongan terhadap Allah dan manusia.
- Ancaman tidak memata-matai dan mencuri
- dengar untuk mengetahui apa yang
- dibicarakan manusia. Kemudian ketiga,
- balasan setimpal dengan perbuatan. Yang
- keempat, ancaman keras bagi para
- pelukis. Karena mereka dianggap
- menyaingi sang khali dalam kekuasaannya.
- Gitu loh, ya. Baik, kemudian kita ee apa
- kepada ee hadis yang keempat, hadis
- terakhir dalam bab ini.
- Oh, gak masih banyak ya. Baik, saya kira
- itu saja sebagai pengantar kajian kita.
- Tiga hadis ya untuk apa namanya? Ee kita
- hendaknya berhati-hati untuk tidak
- berdusta, kemudian tidak menyawingi ee
- perbuatan Allah dalam hal ini yaitu
- mencip apa? Menggambar makhluk hidup
- atau menciptakan makhluk hidup. Demikian
- wasallallahu ala nabiyina Muhammadin.
- Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bab. Alhamdulillahiabbil
- alamin. Jazakumullah kir ustaz. Demikian
- ikhwan akhwat yang tiga hadis yang sudah
- disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh.
- Semoga bermanfaat untuk ikhwan akhwat.
- Tetap di radio silaturahim. Kami akan
- segera kembali di sesi kedua insyaallah
- menjawab pertanyaan-pertanyaan dari
- ikhwan akhwat. Terima kasih.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Terima kasih
- ikhwan akhwat masih bersama Radio
- Silaturahim. Saat ini Anda sedang
- menyaksikan siaran langsung siaran live
- tausiah sore bersama Ustaz Ahmad Saleh
- tentang
- haramnya berdusta.
- Kami mengundang Anda untuk bergabung
- mengirimkan pertanyaan Anda di
- 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Kita bacakan atensi dari
- pertama dari
- Ibu Fiza Fitriana. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Alhamdulillah menyimak Ustaz. Semoga
- Ustaz dan Kurasil selalu dalam lindungan
- Allah Subhanahu wa taala.
- Amin. Allahum amin.
- Kemudian Bapak
- Sayan Rohili juga biasanya beliau
- bertanya kali ini hanya menyapa Ustaz di
- Pulau Gebang. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah Ustaz terima kasih
- tausiahnya. Kami sedang menyimak tausiah
- sore hari ini.
- Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Kemudian Bapak Fajar Alfatih,
- Bapak Arwin. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih atas tausiah, nasihat, dan
- pencerahannya.
- Masyaallah. Barakallah fikum.
- Semoga ustaz dan pejuang dakwah serta
- pendengar Rasil selalu dalam keadaan
- sehat walafiat dan dalam lindungan Allah
- subhanahu wa taala. Amin. Allahum amin.
- Kemudian
- ada dari Ibu Ani Hani Hufaidah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz Ahmad Saleh dan pejuang
- dakwah Rasil sehat walafiat.
- Alhamdulillah hadir menyimak tausiah
- sore di radio Ustaz. Jazakumullah.
- Barakallahu fikum.
- Kemudian Bapak Lukman di Jakarta
- Selatan. Alhamdulillah hadir menyimak
- Ustaz.
- Barakallahu fikum.
- Kemudian Ibu Retno juga alhamdulillah
- hadir menyimak tausiah sore Ustaz Ahmad
- sore.
- Barakallahu fikum.
- Kemudian pertanyaan
- pertama kita bacakan dari
- Bapak Abdullah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih, Ustaz atas tausiahnya.
- Tiga hadis yang ustaz sampaikan
- berkenaan dengan haram berdusta.
- Ustaz izin bertanya.
- Naam.
- Tadi Ustaz menyampaikan tentang debat.
- Bagaimana sesungguhnya debat itu apakah
- diperbolehkan atau dihindarkan?
- Kalau diperbolehkan seperti apa? Kalau
- dihindarkan apakah lebih baik
- dihindarkan untuk menghindari pertikaian
- Ustaz? Demikian jazakumullah khairan
- katsiran.
- Naam. Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Jadi perdepatan itu bisa terjadi ketika
- masing-masing tidak memberikan
- narasi-narasi yang sesuai dengan yang
- diharapkan gitu loh. Maka dikejar terus
- gitu yang menjelaskan maupun yang terus.
- Nah, tapi kalau sudah clear tidak harus
- debat lagi gitu loh. Yang persoalan itu
- yang e apa namanya? yang
- pemikiran-pemikiran radikal itu tidak
- dipakai. Pemikiran radikal maksudnya
- adalah pemikiran yang terus
- dipertanyakan sampai tidak ada lagi
- pertanyaan. Nah, gitu. Itu pendapatan
- itu sampai di situ tuh. Kalau sudah
- tidak sudah jawabannya sudah terjawab
- tidak ada lagi yang harus diperdebatkan.
- Ya, jadi apalagi kalau penjelasan sekali
- sudah clear, sudah paham, udah enggak
- usah debat lagi. Tapi kan sekarang itu
- harus harus debat gitu loh. Persoalannya
- gitu. Apalagi acaranya debat gitu loh.
- Kalau debat kok enggak ada debatnya kan
- menjadi tidak menarik. Nah, maka oleh
- sebab itu ee persoalan debat itu
- biasanya persoalan yang ambigu
- gitu loh. Nah, maka berbagai macam
- ijtihad digunakan gitu. Ijtihad itu
- dicoar lagi dengan ijtihad lain.
- Sesungguhnya biasa aja itu kalau apa
- namanya ee narasinya narasi-narasi biasa
- tidak akan terjadi seheboh seperti
- sekarang. Tetapi karena acaranya memang
- harus debat sehingga harus heboh. Kalau
- tidak heboh enggak asyik gitu loh.
- Persoalannya jika memang itu dalam
- tataran yang diperbenarkan dalam syariat
- itu batasan-batasan yang tidak
- mengakibatkan gil, tidak mengakibatkan
- kebencian, enggak ada masalah. silakan
- debat aja enggak apa-apa gitu lah. Tapi
- kalau kemudian sampai e debatnya sampai
- di luar forum dilanjutkan di luar forum
- sudah begitu kemudian pakai ancaman
- macam-macam itu yang tidak boleh gitu
- loh ya. Jadi memang tetap diselesaikan
- dengan kepala dingin gitu loh, dengan
- narasi-narasi penjelasan yang bisa
- dipahami, tidak menyinggung perasaan
- lawan. Itu yang dikehendaki ya. Tapi
- kalau kemudian ee ketika narasi itu
- dikemukakan dan tidak mendapatkan
- kepuasan dari lawan bicara, maka silakan
- lanjutkan debat. Tapi tadi batasannya
- tidak menyinggung gitu loh, tidak
- menyindir, tidak menyerang pribadi gitu
- loh. Tapi menyerangnya ada persoalannya
- aja dibahas gitu loh ya. Seperti itulah
- kurang lebih. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak
- Abdullah semoga dapat menjawab.
- Berikutnya pertanyaan dari
- kita bacakan pertanyaan dari Bapak
- Baron.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah kiran, Ustaz, ilmunya.
- Wumakallahu
- khairan.
- Semoga Ustaz selalu diberikan kesehatan,
- Ustaz.
- Amin. Allahum amin.
- Ustaz, izin bertanya. Kalau untuk bulan
- puasa Ramadan, kalau misalnya seseorang
- batal puasa, apakah dia boleh makan dan
- minum di siang hari atau harus menunggu
- sampai magrib tiba, Ustaz? Jazakumullah.
- Naam. Masyaallah. Pertama harus ditinjau
- kenapa dia batal puasanya?
- He.
- Kalau dia batal puasanya, jelas tidak
- ada qada menunjukkan dosa besar gitu loh
- ya. Jadi dia membatalkan dengan sengaja
- tanpa uzurrin, tanpa uzur maka dosa
- besar. Bahkan tidak ada qada tuh ya
- maksudnya tidak ada qada tu ancaman.
- Bisa saja dia mengqada hanya tidak
- sepadan karena dia menyengaja tidak
- menghormati bulan Ramadan. Seperti
- kita sebagai suami ee apa? Mendatangi
- istri
- di bulan Ramadan di siang hari. Jinah
- tidak? Tidak. Karena suami dengan istri.
- Iya.
- Tapi kenapa harus puasa 2 bulan
- berturut-turut?
- Padahal sah kan?
- Iya.
- Nih suami istri kok ee kenapa apa tidak
- dihukumi zina tapi harus puasa dua bulan
- berturut-turut? Karena itu yadullu ala
- bahwa dia menunjukkan tidak menghormati
- bulan Ramadan kan gitu sampai dihukum
- itu ya. Padahal sah suami istri kok gitu
- loh ya. Nah, itu ya. Maka oleh sebab itu
- ini yang batal puasanya kenapa batal
- puasanya musafir? Ya kalau musafir mah
- silakan aja makan minum sekeperluannya
- gitu loh. Kan di perjalanan tidak selalu
- makan minum terus enggak paling minum
- sekali gitu makan saatnya makan kan gak
- masalah. Jadi kalau uzurnya karena apa?
- Kemudian sakit. Sekali lagi fikih itu
- begini.
- fikih itu meskipun kita boleh makan dan
- minum karena kita sakit, maka tidak
- tidak boleh atraktif.
- Misalnya karena kita sakit, menyengaja
- dia hadapan cucu kita yang sedang
- belajar puasa. Hm. Dek, makan enak de,
- Dek. Aduh, masyaallah. Nah, jangan.
- Meskipun kita boleh makan, tetapi jangan
- mancing, gitu loh, ya. Jadi, kondisional
- jadinya. ya ee boleh makan boleh tidak
- itu sangat tergantung ke situasi.
- Meskipun kita boleh makan karena sakit,
- meskipun kita boleh makan karena apa
- namanya? Karena bepergian, tidak
- selamanya orang mengambil rusah itu. Ada
- juga orang yang bepergian tidak tidak
- ngambil rusah itu, tetap dia puasa gitu
- loh. Saya pergi ke Surabaya, saya tetap
- puasa. Boleh tuh, tapi saya pergi ke
- Bandung.
- gitu loh ya. Di Cianjur atau di
- Padalarang saya sudah buka gitu loh.
- Kenapa? Karena saya hak ee apa namanya?
- Hak musafirnya saya ambil. Tapi jangan
- mentang-mentang karena saya ngambil hak
- musafir. Kemudian makan dan minum
- seenaknya di hadapan anak-anak yang
- sedang belajar gitu loh. Mereka tidak
- oleh ibu bapaknya tidak diberi ruksah
- untuk berbuka puasa. gitu. Karena memang
- pendidikan untuk menjaga. Tapi kita
- jangan mancing-mancing.
- Dek, kenapa, Dek? Puasa kan kita sedang
- bepergian, Dek. Boleh makan, Dek. Gitu
- loh. Iya, bagi mereka mah boleh. Tapi
- nanti untuk mengqadanya bagi mereka mah
- berat.
- Lebih baik menderita bersama daripada
- menderita sendirian. [tertawa]
- Kalau menderita bersama sama wah, kenapa
- dia haus? Oh, orang lain juga haus sama
- He.
- Orang Oh, lapar, Pak. Orang lain juga
- lapar sama. Jadi, penderitaan
- bersama-sama itu bisa lebih meringankan
- dibanding penderitaan seorang diri gitu
- loh.
- Ya, bagi kita bisa mengqada, gampang
- mengqada gitu loh. Meskipun orang lain
- pada istilah orang Sunda balak kecrakan,
- bala kecrakan makan, minum kemudian kita
- puasa enggak ada masalah karena kita
- sudah biasa. Tapi anak-anak kita yang
- baru baru belajar, berat itu untuk
- mengqada. Jangankan untuk mengqada,
- untuk puasa Ramadan saja berat gitu loh
- ya. Jadi oleh sebab itu sekali lagi ya
- kondisional lah gitu, conditioning
- gituah ya. Jadi disesuaikanlah lagi pula
- untuk apa kita makan terus gitulah atau
- minum terus kalau kemudian bisa
- mengganggu yang lain. Demikian saya
- kira. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Baron
- semoga dapat menjawab. Kemudian
- berikutnya pertanyaan dari Bapak Mahfud
- Rafif. Ustaz
- nam
- masih tentang bulan Ramadan juga Ustaz.
- Namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah khairan kiran, Ustaz
- ilmunya.
- Wyakum jazakallahu khairon.
- Ustaz yang dihormat, yang dirahmati
- Allah. Batalkah puasa kalau saya
- mencabut gigi? Kebetulan dapat jadwal
- dari dokternya jam .00 siang. Terima
- kasih, Ustaz, penjelasannya.
- Oh, iya. Iya. Cabut aja gigi enggak apa
- salah. Kalau tidak mengakibatkan
- ee apa namanya ya? Kalau sekarang kan
- teknologinya sudah sudah maju ya. Mau
- jam .00, mau jam .00, mau jam 10. Enggak
- ada masalah. cabut aja giginya gitu loh.
- Kalau sekali lagi kalau tidak berdampak
- kepada kesehatan yang lebih parah gitu
- loh. Tapi kalau kemudian ee apa namanya?
- Jadwalnya jati jam berapa? Jam . gitu
- ya. Eak enggak masalah sekali lagi ya
- tidak membatalkan puasa gitu loh kalau
- dicabut gigi. Kecuali kalau dicabut gigi
- kumur-kumurnya pakai pakai apa? Pakai
- sirup kemudian ditelan. Nah itu beda
- gitu ya. Kalau kemudian ngumur-kumur
- pakai ini biasa enggak masalah gitu loh
- ya. Bahkan nanti dalam tanda petik bisa
- diabaikan.
- Jadi kumur-kumur
- gitu loh. Kumur-kumur itu sesungguhnya
- tidak boleh tuh kalau dikhawatirkan
- ketelen.
- Maka wudu-wudunya juga harus
- harus diatur. Tidak boleh kumur-kumur
- telukang.
- Mm gitu doang gitu loh. Jadi itu ada
- hadis memperingatkan maksudnya supaya
- tidak tidak batal, tidak ketelen gitu
- loh. Tapi kemudian kadang itu diabaikan
- ya. Jadi tidak masalah apalagi kalau
- kemudian harus merata kumur-kumurnya
- gitu loh ya. Yang tidak boleh
- kumur-kumur dalam wudu itu ee
- kumur-kumur beneran. itu dikhawatirkan
- karena
- tertelan gitu loh. Maka kalau misalnya
- itu terjaga tidak tertelan menjadi tidak
- masalah. Tetapi sekali lagi ya ini bagi
- kita yang menelitinya atau yang
- memperhatikannya
- tentang ee hal yang membatalkan puasa.
- Jadi hati-hati kumur-kumur harus
- hati-hati. Tapi nanti kalau orang sudah
- pandangannya kepada bukan fikih lagi ya
- sekali lagi pandangannya bukan fikih
- ansikh, maka tadi tidak ada masalah.
- Misalnya kan begini
- ee obat tetes mata. Sebagian ulama
- mengatakan batal.
- Kenapa? Karena takut masuk ke
- tenggorokan kan. THT tuh ya, telinga apa
- ee apa THT ya. Jadi ada hubungannya tapi
- kalau kemudian tidak ada tidak ada
- kekhawatiran enggak ada masalah maka ada
- orang bolehkan disuntik boleh enggak?
- Boleh
- gitu loh. Kenapa kok boleh disuntik
- satu gitu loh. Karena tidak melalui apa
- mulut
- ee mulut
- ya gitu loh. Ah sementara ee tadi yang
- pakai tetes apa? Tetes mata itu masuknya
- ke kerongkongan.
- Jadi masuknya lewat ini juga. Nah, maka
- sebagai perdebatan ulama menarik tuh.
- ada yang batal, ada yang tidak, gitu
- loh. Nah, padahal dasarnya adalah kalau
- kita kembali kepada tujuan puasa,
- tujuan puasa itu adalah menciptakan ee
- mengkader ee ee membentuk karakter saleh
- pribadi dan saleh sosial. Itu intinya.
- Maka kadang sekali lagi kadang jadi
- diabaikan hal semacam itu gitu loh. Tapi
- bukan berarti kita boleh seenaknya. gitu
- loh ya. Ah, bahkan tetap diperhatikan
- jangan sampai ke makan, jangan sampai ke
- minum gitu loh. Maka orang berenang
- makruh jadinya.
- Iya.
- Kenapa makruh? Khawatir
- tertelan.
- Heeh. Ketelan airnya gitu loh. Nah, jadi
- itu jadi ee dasar-dasar pemahamannya
- seperti itu. Kenapa ini makruh? Kenapa
- ini? Oh, karena ditakutkan ketelen gitu.
- Maka nyikat gigi juga enggak pakai odol.
- Kenapa? Karena pakai odot nanti takut
- ketelan ada rasa.
- Kumur-kumur juga makruh kalau
- kumur-kumurnya beneran karena takut
- keinum gitu loh. Itu dalam pikiran kita
- dalam pendekatan fikihnya. Fikih ee apa
- ya? ya permulaan fikih gitu loh. Nah,
- tapi kan kalau sudah terbiasa itu bahkan
- nyaris tidak pernah terjadi maka itu
- seakan-akan dalam t petik diabaikan
- fokusnya kepada pembentukan karakter
- saleh pribadi dan saleh sosial jadinya.
- Jadi tidak lagi kepada hal-hal yang ee
- mohon maaf ya dalam pandangan
- remeh-temeh
- syari seperti itu.
- Tapi fokusnya adalah kepada pencapaian
- gitu loh. Maka bagi mereka
- menahan lapar dan dahaga itu bukan
- tujuan
- gitu. Bahkan mereka kan terbiasa bahkan
- makan sahur aja enggak. Mereka mah puasa
- buka puasa sekedarnya. Karena nanti
- kalau sudah biasa itu lapan dan dahaga
- tuh enggak terasa.
- Bagi pemula itu hari kesatu sampai hari
- kelima tuh merasakan lapar dan dahaga.
- Nanti kalau sudah hari keenam ke haus
- enggak? Lapar enggak. Bahkan kalau yang
- sudah biasa puasa, rasa lapar, rasa
- dahaga itu sudah tidak terasa
- gitu loh. Saya mohon maaf saya tidak e
- jarang berpuasa tapi jarang makan
- tuh gitu loh. Ee ngemil aja gitu loh ya.
- Ngemil tuh apa aja? Tapi kemudian
- menjadi tidak fokus makan dan minumnya.
- Nah, jadi oleh sebab itu tidak makan dan
- tidak minum tidak mengakibatkan lemas.
- Nah, maka oleh sebab itu dapat kita
- pahami bahwa dibangunkan oleh Nabi agar
- kita bangun untuk sahur itu bukan untuk
- makan sesungguhnya, tapi untuk salat,
- untuk istigfar gitu loh ya. Tapi juga di
- awal-awal memang bangun untuk apa?
- Makan.
- Untuk makan meskipun kita paham inna fi
- sahuri barokah. Sesungguhnya dalam sahur
- itu ada berkah. Berkah apa coba? Makan.
- Tapi besoknya enggak puasa, berkah apa
- gitu loh. Maka oleh sebab itu berkah itu
- jika diisi mohon ampun, diisi salat.
- Sekali lagi itu bukan berarti yang makan
- itu tidak ber bukan, bukan bukan itu
- maksudnya perbandingan-perbandingan gitu
- loh. Jadi kita dibangunkan untuk salat
- apa? Untuk sahur itu utamanya adalah
- untuk istigfar. Karena ciri orang
- bertakwa itu wal mustagfirina
- bil ashar. Dan orang-orang yang memohon
- ampun di waktu sahur gitu loh ya. Jadi
- sekali lagi ee apa namanya? Hindari bagi
- kita yang pemula puasanya hal-hal yang
- bisa membatalkan puasanya secara fikih
- ya harus dihindari gitu. Maka ketelen
- apa keminum itu hindari gitu ya. seperti
- tadi. Kenapa wudunya kumur-kumurnya
- tidak boleh ini. Maka oleh sebab itu
- pertanyaan ee cabut gigi enggak ada
- masalah.
- Ini ada informasi tambahan, Ustaz.
- Heeh.
- Setelah itu kumur-kumurnya setelah cabut
- gigi kumur-kumurnya pakai air dingin.
- Oh iya. Mau air dingin, air hangat
- enggak ada masalah. K [tertawa] gitu.
- Yang tidak mas yang jadi masalah itu
- begini. Habis dicabut gigi kemudian
- kumur-kumur pakai sirup.
- itu godaan itu gitu ya sedikit aja
- ketelan. Ah gitu. Maka maka oleh sebab
- itu kumur-kumurnya mau pakai air dingin,
- mau pakai air hanget tidak ada masalah
- gitu ya. Hanya tadi yang di hati harus
- dijaga jangan sampai punya niat untuk
- meminumnya gitu ya. Demikian saya kira
- wallahuam bisawab.
- Wallahuam bawab. Demikian Bapak Mahfud
- Rafif semoga dapat menjawab.
- Berikutnya
- ada
- pernyataan Ustaz mungkin bisa disinggung
- Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah Ustaz menyimak. Saya
- pernah bangun sahur.
- E la sahur pas lagi sahur itu qat di
- masjid.
- Hm. He.
- Enggak dengar. Enggak dengar azan.
- Heeh. Heeh.
- Dengarnya komat. Tapi waktu berbuka saya
- tambah jamnya, Ustaz. Setelah [tertawa]
- magrib saya baru saya berbuka. Itu
- bagaimana, Ustaz?
- Iya. Kan ini persoalan menerik.
- Ketika kita sahurnya sedang komat gitu
- loh ya.
- Ini tinjauannya sebenarnya komand itu
- begini.
- dia menjadi batal ketika dia tahu bahwa
- itu sudah masuk e waktu subuh ya
- gitu ya. Tapi kalau dia tidak mengetahui
- itu waktu subuh sedang makan tiba-tiba
- qat. Nah, maka diperbolehkan dilanjutkan
- sampai habis tuh
- sebagian ulama habiskan sampai e ulama
- lain mengatakan berhenti tuh ketika tahu
- tuh itu pemahaman tuh fikih.
- Nah, tapi kemudian sekali lagi ya,
- ketika sudah tahu bahwa itu sudah waktu
- subuh maka berhenti.
- Tapi kalau dia sudah apa ngambil satu
- centong nasi, lagi makan terdengar azan
- Allah ee teran qat habiskan tuh gitu ya
- habiskan makannya gitu. Nah, tetapi ada
- ulama tetap ketat enggak kalau sudah
- tahu qat berhenti meskipun nyisanya
- banyak berarti ada yang mubadir kan
- begitu. Ah, itu ulama yang menganut
- kehati-hatian gitu loh. Nah, sementara
- puasa pun tidak boleh dinanti-nanti.
- Kalau kita berkeyakinan sampai gurub,
- sampai matahari terbenam, ya sampai
- matahari terbenam tidak harus ditambah
- lagi. Kecuali kita nganutnya puasanya
- sampai malam, yaitu waktu-waktu isya.
- Kalau kita nganutnya dalam waktu Isya,
- ya berarti isya buka puasanya. Karena
- ada yang ee memulai puasanya mulai dari
- terbit fajar hingga malam. Mulai terbit
- fajar hingga terbenam matahari. Kalau
- berpemahaman sampai terbenam matahari
- berarti magrib. Tetapi bagi mereka yang
- memahami malam kemudian memahami malam
- itu adalah isya. Karena kata mereka
- kalau magrib itu cahaya masih ada. Nah,
- sementara lail itu gelap gulita.
- Ada, Ustaz.
- Ada gitu loh, Mak. itu dengan mengambil
- ayat. Kalau dia ya sampai malam, maka
- dia sampai isya ya. Kalau kita sampai
- terbenam mentarik. Karena malam itu bagi
- kita pemahamannya diawali dengan
- gurubnya matahari. Namanya perdebatan
- gitu. Mana yang benar? Nanti terserah
- kepada Allah mana yang [tertawa]
- enggak usah ribut sekarang gitu. Anta
- mana sekarang? Oh, sambil matahari
- terbenam. Ya sudah sampai matahari
- terbenam biarkan mereka sampai isya
- karena pemahamannya sampai isya gitu
- loh. Jadi
- kata ee siapa ya? Ya ya ya ee Imam Ibnu
- Katsir kalau tidak salah. Jadi takwa itu
- wala tamutunna illa wa antum muslimun
- yaitu puasa kalau mulainya mulai terbit
- fajar hingga terbena matahari itu
- definisinya itu aturannya ya berarti
- mulai terbit fajar hingga terbang
- matahari. He.
- Jadi tidak harus ditambah-tambah atau
- dikurangi gitu loh. Jadi pas aja sesuai
- ukuran gitu takwa gitu loh ya. Jadi
- kalau kemudian kita berijtihad sudahlah
- karena saya sahurnya sudah qat maka
- puasanya mestinya jam .00 saya
- tambahilah jam .4 ya sama gitu loh.
- Bahkan harus disegerakan berpuasa. buka
- puasa itu tuh sampai ada anjuran untuk
- berbuka puasa dengan se dengan segera
- gituah ya demikian wallahuam
- biswabu
- bisab kalau di Al-Qur'an ini kan ustaz
- ayatnya watimusiama ilil
- itu gelap gulita gelap gulita
- heeh jadi makanya dimaninya oleh mereka
- ilal lail itu waktu isya
- karena kalau magrib belum gelap gulita
- gitu kata mereka gitu ya. Jadi namanya
- pemahaman fikihlah gitu. Maka wallahuam
- bisawab ya. Nah nanti mana yang benarnya
- di sisi Allah lah nanti. Wah salah itu
- mestinya begini. Iya menurut kita salah
- itu benar ya. Menurut kita benar itu kan
- gitu. Makanya karena ada kasus-kasus
- yang tidak terjadi di zaman Nabi tapi
- terjadi di zaman kita gitu loh. Seperti
- begini.
- Ketika kami umrah, itu kami ketika
- menyangka sudah masuk magrib salat
- magrib itu sudah salat magrib di daerah
- mana gitu, negara mana. Enggak lama
- kemudian kok terang lagi gitu loh.
- [tertawa]
- Apa kemudian harus diulang lagi salat
- salat magribnya? Kan begitu
- pertanyaannya. Nah, ada ikhwan kita yang
- hati-hati salat magrib lagi. Ah, saya
- mah karena sudah tadi sudah salat magrib
- ngapain salat dua kali? Kan begitu. Nah,
- jadi maka sekali lagi dikembalikan
- kepada
- dikembalikan kepada ee dihen
- dikembalikan kepada pemikiran kita,
- pemahaman kita. Ya, kalau dianggap saya
- sudah salat magrib, ya udah enggak usah
- salat magrib lagi kan gitu. Apalagi
- [tertawa]
- masyaallah sudah salat magrib dijamak
- lagi isya gitu loh. Ah, gitu kok masih
- terang ya ng itu terjadi itu ketika kami
- umrah. Masyaallah ya. Akhirnya ee apa
- namanya ini kan ee Heeh ya men ijtihad
- fikhiah yang belum pernah terjadi di
- zaman para ulama kan begitu. [tertawa]
- Masyaallah lah gitulah ya. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Ini yang bertanya ee
- menambahi. Maklum ustaz saya di rumah
- sendiri ustaz.
- Oh masyaallah. Barakallahu fikum. Iya ya
- enggak ada mengingatkan. Oke. Baik. Ini
- bagi yang hidupnya sendiri di rumah gitu
- loh,
- pakai timer aja
- ya. Misalnya, oh bangun saya ee apa
- namanya sekarang subuh setengah berapa?
- Ya, jam . L jangan lama-lama kan ada
- setengah jam tuh katakanlah kurangi wudu
- dan macam-macam 10 menit masih ada waktu
- 15 menit kalau mau disisakan 5 menit ke
- subuh gitu loh ya. Heeh. Jadi pakai
- timer. Maka oleh sebab itu saya tidak
- menyatakan
- bidah kepada mereka yang bangunkan waktu
- sahur.
- Meskipun sebagian orang merasa
- terganggu, tapi kebanyakan mereka merasa
- dibangunkan. Asal jangan terlalu malam
- bisa gitu ya. Tadi kan misalnya .30 lah
- bangunkannya. Heeh. Ya, tetapi juga
- tidak masalah mereka juga tidak tiap
- hari kok. Tapi lagi-lagi kan namamannya
- manusia beda-beda ya gitu. Maka kemudian
- saya mendukung juga kepada tim yang
- membangunkan sahur.
- Wah, saya tidak mengatakan bidah dolalah
- nak saya gitu. Bahkan bersyukur,
- berterima kasih. Saya kadang sering
- terganggu karena baru jam atau .30 T
- bahkan dia sudah nabuh apa? Dulang
- keliling sambil baca selawat.
- Awal-awalnya kesal. Tapi saya pikir
- kembali, "Oh, iya ya. Lebih baik apa ee
- bangun lebih awal daripada kesiangan,
- kan begitu gitu ya." Nah, nanti kemudian
- nyesal ketika bangun kesiangan, nyesel.
- Duh, kok enggak ada yang bangunkan.
- Dibangunkan marah-marah ketika kesiangan
- kok enggak ada yang bangunkan kan gitu.
- Itulah manusia gitu ya. Ya. Baik. Saya
- kira seperti itu. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian semoga dapat
- menjawab. Baik, Ikhwan akhwat. Kami akan
- istirahat sejenak. Terima kasih. Ee
- tetap di radio silaturahim. Kami akan
- segera kembali.
- Terima kasih. Terima kasih ikhwan akhwat
- masih bersama Radio Silaturahim. Saat
- ini Anda sedang menyaksikan siaran live
- tausiah sore bersama Ustaz Ahmad Saleh.
- Alhamdulillah kita masih melanjutkan
- diskusi menjawab pertanyaan-pertanyaan
- dari ikhwan akhwat.
- Kemudian selanjutnya dari Ibu Sundari.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih, Ustaz, atas tausiahnya.
- Kami alhamdulillah menyimak melalui
- radio.
- Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Kemudian
- Ibu Fani.
- Alhamdulillah, Ustaz, saya menyimak.
- Terima kasih. E saya sedang
- sakit badan sakit panas, Ustaz. Ma
- masyaallah. Syafaqillah tabaraka wa
- taalaurun warahmatun. Insyaallah.
- Amin. Jazakumullah khairan kasir. Ini
- saya lagi otw ke rumah sakit, Ustaz.
- Masyaallah. Maasalamah. H.
- Kemudian pertanyaan berikutnya dari
- Ibu Asma di Jakarta Selatan.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh,
- Ustaz. Ee untuk bulan Ramadan
- kemudian kita mau umrah di bulan
- Ramadan. Kita naik pesawat dari
- Indonesia ke Makkah. Berarti
- bukanya tambah 9 jam ya, Ustaz. Juga
- sebaliknya dari Makkah ke Indonesia
- kurang 9 jam, Ustaz. Demikian, Ustaz,
- pencerahannya.
- Iya, itu
- iya. Masyaallah. Jadi, paling tidak
- memang ada deviasi dari 0 sampai 4 jam
- itu selisihnya baik bertambah. Karena
- nanti biasanya berangkat jam 12.00
- magribnya itu di daerah Bangladesh kalau
- enggak salah gitu loh. Jadi belum ke
- Makkah, magribnya sudah dapat di jalan
- tapi tetap ada tambahan gitu. Tapi
- sebaliknya dari Makkah juga kembali ke
- Indonesia jadi berkurang. puasanya gitu
- loh. Jadi berkurang puasanya 0 sampai 4
- jam gitu loh. E sampai 4 jam kan gitu. 0
- sampai 4 jam. Jadi 0 sampai 4 jam tuh
- berkisar kekurangannya, kecepatannya.
- Kalau apa namanya? Kalau konstan itu
- berarti 4 jam kan. Serihnya kita dengan
- Saudi kan 4 jam. Tetapi karena magribnya
- di tengah jalan ya sudah keluar dari
- Saudi. Kemudian magribnya itu di mana
- gitu loh. Jadi memang apa namanya bisa
- berkurang. Nah, tapi memang Allah ma
- adil gitu biasanya. Nah, tetapi
- bagaimana dengan yang ee memulai
- puasanya
- seperti tadi mulai puasanya di Saudi.
- Nah, pulangnya juga setelah selesai
- puasa kan enggak ada masalah itu mah.
- Tapi jangankan Saudi dengan Indonesia,
- misalnya saya waktu ke Kupang gitu ya,
- berangkat dari sini ee apa namanya? Jam
- . Gitulah ya, jam .00 malam. Jam .00
- malam sampai sana jam 0.00. Berarti saya
- sudah apa namanya? Sudah ee boleh
- dibilang sudah melampaui du eh melampaui
- 2 jam, melampaui 1 jam. Jadi berkurang 1
- jam karena saya mulai nahannya hanya
- lebih lebih dulu mulai nahannya. Jadi
- boleh dibilang mulai nahannya ee apa ni
- seakan-akan kalau misalnya puasanya
- katakan 6 jam jadi 7 jam tapi saat
- pulang begitu juga berkurang gitu loh
- ya. Jadi memang karena ada selisih waktu
- ya, ada selisih waktu. Tapi sekali lagi
- kan itu menjadi diabaikan karena memang
- tujuannya itu bukan lapar, bukan dahaga,
- tapi tujuannya adalah kompetensinya
- adalah karakter ketakwaan gitu loh. Jadi
- menjadi tidak ada masalah. Ongkok tetap
- ada menjadi ya sudah bagi mereka yang
- memahami fikihnya masih fikihnya fikih
- seperti itu ya enggak apa-apa
- dipelajari. Betul gitu loh ya. Hanya
- sekali lagi pokoknya kita mulai nahan
- mulai terbit fajar gitu lah. Kalau
- berangkat dari Soekarno jam .00 terbit
- fajarnya misalnya misalnya kan ee jam
- 0.30 mestinya waktu Indonesia Barat.
- Iya.
- Tapi kemudian karena sudah masuk waktu
- Indonesia Timur bukan lagi jam 0.30 30
- gitu loh. Bisa jadi lebih awal ya, bisa
- jadi jam ee jam .00 misalnya gitu kan.
- Terus berkurang, berkurang, berkurang.
- Nanti buka puasanya bisa lebih cepat 1
- jam gitu loh ya. Karena mah waktunya
- menggunakan waktu Indonesia Tengah gitu
- loh, tidak lagi waktu Indonesia Barat
- gitu loh ya. Jadi kalau memang kita
- masih terikat dengan fikih itu ya tetap
- dilaksanakan.
- Tapi yang jelas adalah bagaimana
- pencapaian ketakwaan itu yang semestinya
- kita perhatikan gitu ya. Demikian
- wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Ibu Asma
- semoga dapat menjawab.
- Berikutnya
- pertanyaan
- dari Bapak Ridwan. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz dalam berdusta
- ketika kita
- menggunakan media atau pembuatan film
- banyak menggunakan
- ee misalnya green screen, Ustaz.
- Bagaimana hukumnya menggunakan media
- yang bisa memperindah visualisasi atau
- gambar seperti itu, Ustaz? Jazakullah
- khairan k.
- Baik. Baik. Kalau film gitu loh, kan
- film mah bohong.
- Meskipun itu apa? true story. Meskipun
- judulnya cerita benar, tapi karena film
- ya berarti bohong gitu loh.
- Bikin film atau sandiwara
- itu pada dasarnya dibenarkan.
- Kenapa? Karena ada hadisu Jibril. Karena
- ada hadis Jibril. Jibril pun pura-pura
- berderama.
- Pura-pura nanya kepada Rasulullah.
- Akbirni anil iman. Kabarkan kepadaku
- tentang iman. Pertanyaan memang Jibril
- enggak tahu iman tuh apa gitu. Islam tuh
- apa? Ihsan tuh apa. Tapi kenapa
- pura-pura nanya? Oh, ternyata Nabi
- jelaskan
- ee apa namanya? Hua Jibrilu atakum
- yuallimu dinukum. Itu Jibril datang
- kepadamu mengajarkan agama kamu. Oh,
- jadi sandiwaranya Jibril itu dalam
- rangka mengajarkan. Kita pun buka buat
- cerita. Tapi di dalamnya ada unsur
- pembelajaran, ada unsur edukasi. Maka
- setiap yang terjadi di dalamnya itu
- ditujukan untuk edukasi termasuk
- penipuan dalam tanda petik e green
- screen kan gitu loh ya. Karena tujuannya
- untuk mengajari enggak ada masalah gitu
- loh ya. E tapi yang jelas tadi tujuannya
- ee green screen itu untuk mendukung
- nilai cerita gitu ya. Jadi sekali lagi
- meskipun itu true story, kalau sudah
- jadi film berarti bohong. Nah kita harus
- ngambil bisa ngambil manfaatnya. Tadinya
- saya ragu,
- ah film bohong, drama bohong, e gitu ya.
- Tapi kemudian saya baca hadis Jibril di
- antara di antara pensyarahnya dia
- katakan inilah dalil bolehnya
- bersandiwara gitu loh ya. Karena tadi
- Jibril pura-pura nanya kepada Nabi.
- Memang Jibril enggak tahu apa gitu gitu
- loh. Oh itu pura-puranya pura-pura
- mengajarkan agama kepada para saha para
- sahabat. Maka dijadikanlah rujukan,
- dijadikan dalil bolehnya membuat derama
- atau
- sandiw.
- Heeh. Gitu. Demikian. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian semoga dapat
- menjawab. M ada para pejuang. Oh ini
- yang tadi sudah tadi bertanya tentang
- sakit gigi, Ustaz.
- Oh iya. Kemudian
- Bapak Fajar alhamdulillah menyimak,
- Ustaz.
- Ibu Fani masih dalam perjalanan menuju
- rumah sakit.
- Masyaallah. Masyaallah.
- Baik, Ikhwan Akhwat. Demikian, Ustaz,
- kita sebagai penutup kesimpulan atas
- tentang haram berdusta. Tafadul Ustaz
- Nam. Jadi kesimpulannya hendaknya kita
- belajar untuk berkata jujur.
- Karena jujur itu akan menunjukkan
- kepada kebaikan.
- Kebaikan akan menunjukkan ke dalam
- surga. Jadi boleh dibilang pintu surga
- itu dimulai dengan jujur. Pintu surga
- gitu loh. Begitu juga dengan kedustaan.
- Kedustaan itu menunjukkan kepada
- kefajiran. Kefajiran menunjukkan kepada
- neraka. Jadi seakan-akan neraka itu
- dimulainya dengan kedustaan.
- Maka oleh sebab itu meskipun dusta itu
- boleh dalam satu kondisi sebaiknya jujur
- gitu loh. Sekali lagi tuh meskipun dusta
- itu boleh dalam satu kondisi, tapi
- diupayakan tetap jujur, khawatir nanti
- kalau kita mengambil ruksah gitu ya.
- Ruksah bolehnya jujur, bolehnya dusta,
- akhirnya nanti jadi terbiasa. Kan kita
- mah begitu ya. Rush, rusoh, ruso kita
- banyak pinjam karena lama pinjam
- kemudian nanti ngaku gitu loh ya. Pinjam
- ya lama pinjamnya akhirnya diaku jadi
- milik kita. Nah, begitu juga tadi ya
- berdusta itu kan pinjam boleh saya
- dusta, dusta dusta dusta. Akhirnya kamu
- dia karakter.
- Nah, itu lebih berbahaya ya. Tetapi oleh
- sebab itu tetap kita semaksimal mungkin
- mengutamakan kejujuran. Demikian yang
- dapat saya simpulkan. Wasallallahu ala
- nabiyina Muhammadin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khairan
- khairan. Ustaz sudah hadir
- mengajarkan kita syarah riyadus shihin
- tentang haram berdusta. Demikian ikhwan
- akhwat tiga hadis yang sudah disampaikan
- oleh Ustaz Ahmad Saleh tentang haram
- berdusta semoga menjadi bekal untuk
- menyambut bulan Ramadan. Saya Fauzi
- Ridwanul Ha mohon maaf dan mohon diri.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi.