Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:02 [musik] 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Asalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Syukur alhamdulillah kita dikaruniai 0:23 kesempatan untuk berada bersama-sama di 0:26 hari Rabu ini di tausiah pagi yang 0:29 mudah-mudahan membuat kita semakin 0:32 pandai menjadi hamba Allah yang kemudian 0:36 kelak juga mendapatkan rida, ampunan dan 0:40 tempat yang sangat kita rindukan yaitu 0:42 surganya Allah. Tidak lupa salam selawat 0:45 kita salamkan, kita sampaikan, kita 0:47 lantunkan kepada kekasih kita penghulu 0:50 umat Muhammad Rasulullah sallallahu 0:53 alaihi wasallam beserta keluarga dan 0:55 kerabatnya. Ikhwan akhwat, seperti biasa 0:58 yang hadir untuk tausiah pagi Radio 1:01 Silaturahim adalah Ustaz Abul Hidayah 1:04 Sairoji. Beliau sudah hadir. 1:05 Asalamualaikum warahmatullahi 1:06 wabarakatuh, Ustaz. 1:07 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:08 wabarakatuh. 1:09 Alhamdulillah sehat, Bugar ya. 1:11 Sehat, insyaallah. E hari ini apakah 1:14 gerangan nutrisi bagi jiwa kami? 1:17 Kecenderungan manusia itu kita coba, 1:21 kita 1:22 telusuri, kemudian kita ambil yang 1:25 positifnya kita tinggal yang. 1:28 Jadi, ikhwan akhwat, seperti apakah 1:31 gerangan kecenderungan kita sebagai 1:33 umat, sebagai manusia, sebagai hamba 1:36 Allah yang harus kita cermati dan kita 1:38 sikapi? Yuk, kita simak. Silakan, Ustaz. 1:43 [berdehem] 1:44 Bismillahirrahmanirrahim. 1:46 Asalamualaikum 1:49 warahmatullahi wabarakatuh. 1:52 Alhamdulillah 1:55 Alhamdulillahilladzi 1:57 arsala rasulahu bilhuda winil haq 2:00 liyudhirahu aladdini kullihi 2:05 wa kafa billahi syahida. 2:08 Asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la 2:10 syarikalah 2:12 wa ashadu anna muhammadan abduhu wa 2:15 rasuluhu la nabiya ba'dah. 2:18 Allahumma sholli wasallim ala nabina 2:22 Muhammadin wa ala alihi 2:25 wasohbihi wa jundihi waman tabiahum 2:27 biisanin ila yaumil kiamah. Masyaallahu 2:31 kan wama lam yasya lam yakun 2:36 la haula wala quwwata illa billah. Amma 2:39 ba'du. 2:41 Ayyuhal ikhwah rahimakumullah. Para 2:43 ikhwan dan akhwat di mana pun berada. 2:45 Alhamdulillah 2:47 kita terus harus bersyukur kepada Allah 2:49 Subhanahu wa taala. Ternyata 2:52 di tengah gonjang-ganjingnya kehidupan, 2:55 munculnya kopat-kapit kehidupan, 2:58 banyak sekali terjadi 3:00 perubahan-perubahan dan sekaligus 3:02 mengingatkan kepada kita, 3:05 ternyata kita manusia di samping kita 3:08 sudah merasa hebat, tapi ternyata di 3:12 mata Allah lemah sekali. 3:15 Ketika Allah menyuruh Covid turun aja ke 3:18 dunia ini, kita sudah betul-betul kabid. 3:21 Mudah-mudahan dengan ini menjadikan 3:23 manusia pada umumnya insaf diri. Al 3:27 insofu minfsih, menyadari pada dirinya 3:31 untuk kembali 3:32 memposisikan diri sebagai hamba di 3:36 hadapan sang pencipta untuk tunduk dan 3:39 patuh terhadap semua titah dan 3:41 perintah-Nya. Amin ya rabbal alamin. 3:45 Mudah-mudahan ikhwan dan akhwat semuanya 3:46 senantiasa dalam lindungan dan naungan 3:50 rahmat Allah Subhanahu wa taala 3:52 dijauhkan dari marabahaya, dari bala dan 3:56 dari 3:57 berbagai macam keburukan-keburukan. 4:00 Mudah-mudahan bertambah imannya, lapang 4:03 rezekinya, 4:05 sehat jasmani rohaninya, dimudahkan 4:07 segala urusannya 4:09 sampai nanti pada saatnya kita mampu 4:12 menapai jenjang prestasi tertinggi 4:16 manusia di sisi Allah, yaitu menjadi 4:18 manusia takwa kepada Allah subhanahu wa 4:21 taala. Amin ya rabbal alamin. 4:26 Hari ini kita masih merasakan betapa 4:28 hebohnya dunia. 4:31 Gejola kehidupan tiada henti 4:35 yang ee yang mengindikasikan inilah 4:39 gejolak nafsu manusia. 4:41 Karena yang membuat gejolak sebenarnya 4:43 adalah manusia. Indah warnanya, bagus 4:47 bentuknya. Tetapi justru manusialah yang 4:50 membuat gendro. 4:52 membuat masalah di dunia ini bahkan 4:56 membuat rusak. 4:58 Selain memberikan nilai positif karena 5:01 sains dan teknologinya, 5:03 tapi juga membuat masalah dalam 5:06 kehidupan. 5:07 Sehingga 5:09 di abad milanium ketiga ini di kalam 5:12 manusia sampai pada puncak peradaban 5:15 sains dan teknologi. 5:17 Di samping kemudahan-kemudahan yang 5:19 didapatkan 5:22 dari dampak positifnya sains, penemuan 5:25 sains dan teknologi 5:28 ini zaman dulu juga mengatakan begitu. 5:30 Harta 5:32 tahta wanita tahta harta dan wanita ta 5:35 semua. 5:37 Inilah semua objek urep namanya manusia 5:41 itu urusannya urusan ini. 5:46 Muncul fitnah, muncul persaingan, muncul 5:49 perebutan, muncul perkelarian, muncul 5:52 tawuran, muncul peperangan. 5:56 Karena ini kecenderungan manusia yang 6:00 tidak terkendali. 6:04 Jadi bukan dilarang boleh memang manusia 6:06 itu harus saling mencintai membutuhkan 6:09 laki lawan jenisnya laki-laki pada 6:11 perempuan, perempuan dan kepada 6:13 laki-laki. Tetapi yang membedakan 6:16 manusia yang bermartabat dan tidak 6:18 bermartabat dalam aplikasinya. 6:23 Kalau main serobot saja enggak pakai 6:25 aturan. bahwa ini berarti nafsu yang 6:27 diikuti, kebinatangan yang diikuti. 6:31 Kalau manusia yang punya susila dan 6:34 punya budaya, punya martabat, dia akan 6:38 tempuh dengan prosedur yang baik 6:40 mengikuti aturan-aturan sang pencipta. 6:45 Karena memang Allah telah menurunkan 6:47 syariat itu untuk diikuti. Annidam atau 6:50 asyariah. Agama adalah aturan-aturan 6:53 hidup. 6:55 yang mengatur kita semuanya. Nah, dia 6:57 tempuh ini manusia bermartabat. 7:02 Demikian juga soal 7:05 kebanggaan pada anak. 7:08 Kalau seorang tua yang memang mengikuti 7:11 aturan Allah, dia sadar bahwa anak itu 7:13 titipan Allah, maka dia gulowentah, dia 7:17 didik anak itu, ditanamkan nilai-nilai 7:20 keutamaan. 7:22 Nilai-nilai keutamaan itu adalah 7:24 ditanamkan di dalamnya ada iman kepada 7:27 Allah Subhanahu wa taala. Dikenalkan 7:29 bahwa kita diciptakan oleh Allah dan 7:32 segala nikmat yang kita nikmati adalah 7:34 dari Allah. Kemudian kewajiban kita 7:36 bersyukur, menyembah, tidak 7:38 menyekutukannya dan melakukan 7:40 kebaikan-kebaikan. 7:42 Ini akan ditanamkan pada orang tua, dari 7:45 orang tua kepada anak-anaknya. 7:48 Tapi kadang-kadang berbeda. Karena yang 7:50 diikuti adalah kecenderungannya 7:53 semata-mata, maka yang ada adalah 7:55 kebanggaan. 7:57 Memang anak itu gegantilan ning hati. 7:59 Buah, buah e permata jiwa. 8:04 Namanya anak itu luar biasa menyenangkan 8:07 sekali. 8:08 Kebahagiaan itu pada anak. Susah payah 8:11 orang tua bekerja keras banting tulang. 8:14 Sikil nggo sirah, sirah nggo sikil. 8:17 Jungkir balik itu membelahi anak 8:20 kebanggaan. Jangankan kok anak yang 8:22 pintar, anak yang nakal aja. Ibu-ibu 8:25 sering ngerumpi sama tetangganya, dia 8:28 cerita anaknya, "Bu, alah ya Allah Bu, 8:30 anak saya koy bandelnya. 8:33 Ini nada apa ini seperti ini? 8:37 Keluhan tetapi ada kebanggaan." 8:40 "Ya Allah, Bu, anak saya itu bandelnya 8:44 tuh. itu ada kebanggaan bandel kok 8:47 bangga tetangganya enggak mau kalah 8:49 apalagi Bu anak saya ya Allah jadi 8:53 saling membanggakan kebandelannya 8:55 apalagi kalau pintar 8:57 nah kemudian kesalahan kita adalah 9:00 kebanggaan itu terus 9:03 dipupuk tetapi lupa pada kewajibannya 9:06 sebagai orang tua pada anak bahwa itu 9:08 titipan Allah 9:10 agama tidak diperhatikan 9:13 apalagi kalau orang tua Anya memang 9:15 makmur, berkecukupan, serba ada, enggak 9:19 ingin anaknya itu menjadi sengsara. Dulu 9:22 orang tua truko, susah payah 9:26 untuk bisa mengadakan menjadi orang 9:28 kaya, dimulai dari dengkul modalnya. 9:31 Tapi begitu sudah 9:34 apa namanya? 9:36 serba kecukupan, serba ada banyak uang. 9:40 Dia berpikirnya lain soal anak. Jangan 9:43 anak saya menderita seperti saya. Maka 9:46 belum lahir saja sudah disiapkan 9:48 fasilitas rumah sakit yang terbaik, 9:52 pakaian yang bagus-bagus, 9:54 nama yang bagus, 9:57 kemudian bahkan baby sister-nya 9:59 disiapkan tidak cukup satu. 10:02 Belum lagi kalau dia sudah sekolah 10:05 dimanjakan betul apa yang dia mau 10:07 dibelikan. Minta uang dibelikan. Mau 10:10 mainan dibelikan yang mahal. Apalagi 10:13 kalau sudah remaja, putri cantik, gelis, 10:16 jelita, h masyaallah. Gak boleh kena 10:19 tanah kakinya. 10:22 Pembantu disiapkan, mau pakai baju 10:24 disiapkan pembantu, mau pakai sepatu 10:26 disiapkan pembantu. 10:28 Jadi dia tidak pernah menyentuh 10:30 pekerjaan apapun seperti putri raja. 10:34 Nah, ini kesalahan orang tua tidak 10:36 menilaikan, tidak mendidik pada 10:38 nilai-nilai utama. Sehingga walaupun 10:41 secara fisik kecukupan, tetapi di sisi 10:45 lain secara psikis kejiwaan dia 10:48 menganggap bahwa hidup ini adalah serba 10:50 ada. 10:51 Kalau kemudian ketiadaan atau suatu saat 10:55 ada yang tidak bisa dipenuhi, 10:59 maka mereka akan tersiksa. 11:02 Orang biasa makan enak sekali waktu 11:04 ketemunya tempe sama ikan asin. Sengsara 11:07 itu. 11:09 Oh, biasa makan enak, biasa di rumah itu 11:12 mewah, segalanya ada, serba bersih. Satu 11:16 saat masuk kampung, masuk itu tersiksa. 11:21 Jadi di sisi lain sebenarnya orang tua 11:24 yang keliru memanjakan anaknya berarti 11:27 sebenarnya sedang menanamkan jiwa yang 11:31 manja. 11:34 Kemudian jiwa yang lemah 11:37 yang tidak fight untuk bertarung pada 11:41 iklim kehidupan. 11:43 Dia menganggap hidup itu serba ada, 11:45 harus ada. Kalau tidak ada atau dia 11:47 tidak jumpai, pasti akan tersiksa dan 11:50 sekaligus menanam pada dirinya, menuntut 11:54 anak menuntut pokoknya harus ada. Nah, 11:58 ini bahayanya 12:00 ya dan lain-lain. 12:03 Maka kewajiban orang tua mestinya 12:06 kecenderungan cinta kepada anak itu 12:09 didasari pada keimanan lebih dulu. 12:11 Tanamkan nilai-nilai keimanan. 12:16 tanamkan pada jiwa anak itu welas dan 12:18 asih, berkasih sayang, akhlakul karimah. 12:22 Itu orang tua yang baik. 12:26 Jadi tidak dimanjakan, tapi di sisi lain 12:28 kemudian agama jiwanya kosong, kering 12:32 kerontang. Orang tua yang bijak, orang 12:34 tua yang tanggung jawab justru 12:36 kecenderungan cintanya itu dimulai dari 12:40 ditanamkan nilai-nilai keutamaan. 12:45 Bahkan sudah dimulai dari awal 12:47 ketika suami 12:49 mencari istri bukan hanya yang cantik 12:53 saja dicarikan calon ibu yang bijak. Ibu 12:57 yang bisa menjadi tarbiyatul ula yang 13:00 akan mendidik anak-anaknya 13:03 yang beriman dan bertakwa. 13:05 Maka Rasul memberikan empat kriteria. 13:07 Cari istri itu ada empat kriterianya. 13:11 Satu karena jamali cantiknya 13:14 ini wajar karena cakepnya. Yang kedua 13:18 linasabiha karena nasabnya keturunan 13:20 orang-orang baik. 13:24 Yang ketiga limaliha dari hartanya. 13:27 Kemudian yang keempat dari litinah dari 13:28 agamanya. Kalau bisa dapat 13:30 empat-empatnya luar biasa ini. Tapi ini 13:33 kan jarang. Kalau yang pertama tidak 13:36 cantiknya tidak kemudian keturunannya 13:39 enggak begitu. 13:40 Kemudian yang ketiga, hartanya juga 13:43 enggak cukup satu litinia agamanya. 13:47 Nah, ini dari mulai awal sudah begitu 13:50 terhadap anak. Kemudian mulai dengan 13:52 doa-doa. Sepanjang dia berumah tangga 13:55 selalu dikawal dengan doa-doa. Suami 13:58 mendoakan istri, istri mendoakan suami. 14:01 Begitu lahir, anak didoakan bersama, 14:03 dibimbing, dikawal, terus dididik agama 14:07 sehingga anak tidak menjadi musuh dan 14:09 fitnah. 14:10 Demikian juga kecenderungan manusia 14:12 kepada harta ini kadang-kadang 14:14 jor-joran. 14:16 Lupa pematang batas antara [mendengus] 14:18 satu dengan yang lain. Kadang-kadang 14:21 karena over 14:24 actingnya, kecintaan, kecenderungannya 14:27 kepada dunia, pada harta benda, dia lupa 14:30 terhadap hak-hak orang lain. Sehingga 14:33 main sikat saja halal haram hantam. dia 14:36 tidak peduli korupsi, manipulasi, 14:40 fitnah, 14:42 dan banyak lagi cara-cara yang digunakan 14:45 dari masalah personal sampai kepada 14:48 urusan urusan kebangsaan, urusan negara. 14:52 Kita lihat berebut soal emas dan perak, 14:57 soal potensi sumber daya alam. kita 14:59 lihat di peperangan-peperangan yang 15:01 terjadi karena itu intinya perebutan 15:03 dengan karena pengendalian manusia dalam 15:06 menguasai harta benda yang tidak 15:08 terkendali. Demikian juga tentang 15:12 peternakan, 15:14 kebun, sawah ladang dan sebagainya. 15:17 Ini masalah 15:19 sebenarnya maksud Allah memberikan 15:21 kecenderungan itu memang di selain ruh 15:24 hadiah dari Allah agar manusia itu 15:27 bahagia, tapi di sisi lain agar ini bisa 15:30 dimanfaatkan sebaik mungkin. 15:34 Tapi ketika manusia kecenderungannya 15:37 hanya karena dorongan syahwat semata 15:41 mata nafsu terhadap tiga ta tadi, 15:46 inilah yang menimbulkan masalah hebohnya 15:49 dunia seperti sekarang. Nah, Allah 15:52 menyatakan dalika mataul hayatid dunya. 15:56 Allah yang menciptakan itu 15:57 menginformasikan kepada kita bahwa itu 16:00 barang yang jadi rebutanmu itu itu 16:04 sekedar kesenangan sedikit, 16:07 kesenangan yang semu, kesenangan yang 16:10 relatif, kesenangan yang tidak abadi. 16:15 Artinya jangan itu jadi fokus tujuan. 16:19 Apalagi sampai terjadi pembunuhan, 16:21 melahirkan dosa, fitnah dan sebagainya. 16:25 Jangan. 16:27 Dan Allah mengingatkan memberikan 16:30 orientasi 16:32 bahwa wallahu indahu husnul maad. Ada 16:36 yang lebih baik dari itu semua. 16:39 Kalau orang tua pada anaknya le 16:42 iku dudu kenikmatan sing hakiki. Kui 16:47 barang dolanan. 16:49 Ojo nganti podo pasulayan. Jangan kamu 16:52 itu rebutan nak. Itu kan barang mainan. 16:56 Nanti juga sebentar bosan. 16:59 Ingat ada yang lebih baik. 17:01 Mau enggak kamu saya beri yang lebih 17:03 baik? Tuh Allah dengan kasih sayang 17:06 mengatakan seperti itu. Wahai manusia, 17:08 ada yang lebih baik dari itu. Jangan 17:10 jadikan rebutan. Jangan kamu serakah. 17:13 Jangan kamu tomak. 17:16 Ada di sisi Allah. 17:19 Di sisiku, kata Allah itu ada yang 17:22 tempat kembali yang baik, yang lebih 17:25 baik daripada dunia yang barang saprit 17:28 itu barang yang semu relatif itu bisa 17:32 membahayakan. Maka pada ayat berikutnya 17:35 adalah Allah berfirman, "Qul a 17:37 unabbiukum bikhairim minzalikum." 17:40 Katakan, "Maukah aku tunjukkan kepadamu 17:43 kepada yang lebih baik dari itu? 17:48 Ini Gusti Allah loh yang nawarkan ini. 17:51 Kenapa sih kamu jadi berantem? Kenapa 17:54 kamu itu seolah-olah mau hidup 17:55 selamanya? Padahal hidup itu cuma 17:58 sebentar, hanya setengah hari aja enggak 18:00 nyampai. 18:02 Kenapa kenikmatan yang semu, yang 18:04 relatif itu yang bisa membahayakan 18:07 keimanan masih kau pertahankan rebutan 18:10 menimbulkan dosa? Ada yang aku tunjukkan 18:13 padamu yang jauh lebih baik. 18:16 lilladinaqbihim 18:19 jannatun tajri min tahtial anhar khidina 18:22 fiha wawajatidwan 18:26 minallah wallahu bir ibad ada yang lebih 18:30 baik apa itu takwa 18:36 kalau bisa kami itu jangan rebutan harta 18:40 kalau bisa itu semua jadikan satu sarana 18:45 yang mampu menopang hidupmu menjadi 18:47 orang yang takwa. 18:49 Karena di sisi Allah, di sisi Allah itu, 18:53 di sisi Tuhanmu, Allah siapkan surga 18:56 sebagai tempat kembali yang penuh dengan 18:59 segala kenikmatan dan di sana kekal dan 19:02 abadi. 19:03 Kurang apalah Gusti Allah itu jelas, 19:06 ceto, gamblang, ceto, welo-welo, 19:09 ditunjukkan ini loh jalanmu. Kalau mau 19:11 melampau, kalau kami ingin bahagia, 19:13 kalau ingin sukses ini, silakan dunia, 19:16 tapi jangan terlalu serius. biasa saja. 19:20 Jadikan ini sarana bukan sebagai the 19:23 ultimate goal, tujuan akhir. Ini sarana 19:26 saja. Jadikan hartamu mendorong kamu 19:29 lebih takwa. Jadikan pangkat jabatanmu 19:31 menjadi orang yang takwa. Jadikan 19:34 kehidupanmu semuanya raih takwa sebagai 19:37 obsesi kehidupan. 19:40 Nah, inilah kecenderungan manusia. Oleh 19:42 karenanya kecenderungan yang kita miliki 19:46 pada tiap manusia mari kita gulauwentah, 19:51 mari kita kelola agar ini bisa 19:54 mengangkat harkat martabat menjadi 19:56 manusia yang punya posisi kedudukan 19:58 tinggi di sisi Allah Subhanahu wa taala. 20:02 Ini mestinya harus kita gunakan. Jadi 20:04 kalau kita ber fokus ber kutik dengan 20:09 persoalan-persoalan seperti ini ya 20:11 akhirnya kita akan lelah sendiri dan 20:14 ternyata kita bisa saja selama hidup 20:16 kita ternyata tidak mempunyai nilai 20:18 apapun. Artinya ibarat padi itu namanya 20:23 gabuk. Gak berisi, gak berkualitas. 20:27 Banyak manusia yang kelihatan fisiknya 20:29 hebat, 20:31 tampan. Kalau wanita cantik, beautiful, 20:34 luar biasa, tapi ternyata nol, gak ada 20:38 nilai di mata Allah Subhanahu wa taala. 20:40 Wallahuam 20:42 bissawab. 20:44 Masyaallah. 20:46 Jadi, kecenderungan itu kita semua 20:49 miliki yang baik ataupun yang buruk. Dan 20:53 kalau kita abai selama ini, maka yang 20:56 buruk tadi akan menjadi bagian dari 20:58 kebiasaan. 21:00 Terus merugilah kita. Akankah kita 21:03 biarkan ini semua atau kita mulai untuk 21:07 mencoba 21:08 menyiangi, menelisik sedikit demi 21:11 sedikit, satu demi satu? mana 21:14 kecenderungan yang selama ini telah 21:16 menjebak kita pada kondisi-kondisi yang 21:19 sama sekali menjauhkan kita dari tujuan 21:23 destinasi tertinggi yang sangat-sangat 21:26 kita rindukan yaitu surganya Allah. Mari 21:29 kita renungkan. Kami kembali sesudah 21:31 jeda berikut. 21:38 [musik] 21:44 [musik] 21:49 [musik] 22:08 Terima kasih masih tetap bersama Rasil 22:10 untuk Islam yang satu di acara tausiah 22:12 pagi dengan menghadirkan Ustaz Abul 22:15 Hidayah Saiji. Bahasannya kecenderungan 22:19 manusia, kecenderungan kita nih kayak 22:22 apa, Ustaz? Kita boleh langsung ke 22:24 pertanyaan ya, Ustaz dari hamba Allah. 22:27 Ustaz, kalau egois menang sendiri itu 22:30 fitrah ya? Kok kita semuanya punya tapi 22:34 kadang-kadang enggak sadar untuk 22:36 membuangnya. menang sendiri ini 22:39 belajarnya harus dengan apa? Saya yatim 22:42 piatu, Ustaz. Heoh, 22:44 subhanallah. Mudah-mudahan diberkati 22:45 Allah. 22:46 Amin. Amin. Allahum amin. 22:48 Ee mbak atau abang atau enggak disebut 22:51 ya, laki-laki apa perempuan, muslimin 22:54 atau muslimat. 22:56 Ee ego sifat yang diberikan oleh Allah 22:59 Subhanahu wa taala itu penting. 23:01 Kalau sudah punya ego, nanti dia gimana? 23:03 memprotect diri, 23:06 menopang keberasaan diri. Cuma 23:08 masalahnya harus tetap terkendali, 23:11 jadi seimbang. 23:13 Dia memikirkan dirinya perlu, tapi juga 23:17 menimbang ada tenggang rasa terhadap 23:19 orang lain. Yang jadi masalah kalau 23:22 egoistis, 23:23 nah 23:25 menjadi aniah. Jadi dia hanya mikirkan 23:29 dirinya sendiri. Gak pernah tenggang 23:31 rasa memikir orang lain. Kalau bahasa 23:34 asing disebutnya tepo seliro. 23:36 He. 23:37 Jadi dia mesti ada mengukur orang lain. 23:39 Dia memperhatikan dirinya penting 23:42 tapi jangan sampai oper apalagi 23:45 mengambil hak-hak orang lain. Nah, di 23:47 sinilah keseimbangan itu harus dimanage 23:51 dalam hati kita. Maka dalam pengertian 23:55 agama dalam buku indahnya itu berakidah 23:58 yang saya tulis juga dijual di etaranya. 24:02 Agama itu bukan hanya sekadar ritual 24:06 salat, 24:07 umrah, haji, tapi agama, pengertian adin 24:12 yang artinya agama itu satu, almulk 24:16 artinya kekuasaan. 24:18 Dimaksud kekuasaan di sini bukan 24:19 kekuasaan politik diturunkan agama untuk 24:22 menguasai manusia bukan. Tapi adalah 24:25 orang beragama orang yang menguasai hawa 24:28 nafsunya. 24:30 Jadi orang beragama orang yang mampu 24:32 mengendalikan diri, mengendalikan 24:35 keinginan-keinginan 24:37 antara hak dan kewajiban antara dirinya 24:40 dan orang lain. Nah, itu seimbang. 24:42 Selalu seimbang, sejalan, harmonis. 24:46 Seperti yang disebut disabdakan baginda 24:48 Nabi, la yumminu ahadukum hatta yakun 24:51 hawahu tabanu bihi. Belum beriman salah 24:56 seorang di antara kamu sehingga hawa 24:58 nafsumu tunduk terhadap apa yang aku 25:00 bawa. Yang dibawa Rasul adalah Al-Qur'an 25:04 dan penjelasan-penjelasan beliau. Jadi 25:07 di sini agama harus didalami, 25:11 keimanan harus diperkuat sehingga nanti 25:13 kita mampu memanage keinginan-keinginan 25:17 termasuk membangun kepribadian dengan 25:20 ego yang tetap terkendali. Sehingga ego 25:24 disertai dengan sifat altruisme, 25:27 kepedulian, 25:29 bahkan rela berjuang untuk kebahagiaan 25:31 orang lain. Jadi dia memikirkan dirinya 25:33 juga memikirkan orang lain. Wallahuam. 25:37 Masyaallah. Jadi ada batasan 25:40 ego dan 25:42 mementingkan diri sendiri yang 25:45 tidak bisa dinafikan kalau waktunya 25:48 salat. Maaf aku mentingin diriku sendiri 25:50 juga gitu ya, Ustaz ya. 25:52 Yang lain entar dulu nunggu. Ini ada 25:54 pertanyaan dari seorang anak menghadapi 25:59 saudara sekandung sedarah yang 26:02 mentang-mentang ayah dan ibu sayang 26:05 sekali dia suka menghabis-habiskan uang. 26:08 Kemarin motornya baru dipakai 4 bulan 26:10 dijual dia bilang rusak udah enggak enak 26:13 dipakai. Kita sebagai 26:16 keluarga, sebagai saudaranya harus 26:18 ngapain, Ustaz? 26:20 diomelin. Tapi ayah sama ibu emang sih 26:22 uangnya cukup, tapi saya enggak suka aja 26:25 melihatnya. Oh, oke. 26:27 Iya. Karena keluarga sebaiknya itu 26:31 disampaikan apaanya jadi unek-unek 26:33 keluan itu kepada ayah bunda, 26:36 kepada ibunda dan ayah tercinta. 26:39 Sampaikan 26:41 dan kalau orang tua lupa supaya 26:43 diingatkan supaya ini kan akibatnya 26:46 tidak baik. memanjakan anak. 26:48 Mentang-mentang segalanya punya. Ingat 26:51 bahwa harta itu juga titipan Allah. 26:54 Kalau kita perlakukan semena-mena 26:56 digunakan untuk hura-hura yang tidak 26:58 jelas itu ada tanggung jawab. Karena 27:01 harta itu halalnya akan dihisab, 27:04 akan diaudit, akan diperiksa. Haramnya 27:07 pasti diazab. Nah, ini saya kira dengan 27:11 lapang dada dengan cara yang baik 27:13 sampaikan pada ayah bunda agar bisa 27:15 menasihati saudaranya. Kalau mungkin dia 27:18 yang nasihati ya kalau bisa ya enggak 27:21 bagus juga. Tapi biasanya kalau kedua 27:24 orang tua dan tua dia akan mendengarkan. 27:26 Wallahualam. 27:27 Beda ya. Baik. Ini meskipun ee di luar 27:32 tema tapi masuk juga sih. Asalamualaikum 27:35 Pak Ustaz. 27:36 Waalaikumsalam warahmatullahi 27:37 wabarakatuh. Semoga dalam berkah Allah, 27:41 Pak. Apakah kalau kita orang muslim ini 27:44 sakit itu berarti Allah sayang sama 27:46 kita? Berarti pandemi ini adalah bentuk 27:50 kasih sayang Allah pada kita, Ustaz? 27:53 Iya. 27:55 Segala sesuatu itu tergantung bagaimana 27:57 kita menyikapinya. 28:00 Rasulullah pernah memuji pada seorang 28:02 beriman. Aku kagum seorang beriman, 28:06 orang mukmin, 28:08 orang beragama. Kenapa? Karena hidupnya 28:11 itu stabil gitu loh. Kalau dia 28:14 mendapatkan kesenangan, kelapangan, 28:17 harta, kebahagiaan, bertambah-tambah 28:20 kebaikannya, bertambah-tambah syukurnya. 28:23 Jadi makin kaya makin loman, makin 28:25 dermawan, makin tinggi pangkatnya makin 28:28 merakyat, 28:29 makin pintar makin tawadu. 28:32 Jadi indah gitu loh. Ini yang namanya 28:34 berkah. Jadi banyaknya harta itu banyak 28:37 memberi manfaat kepada banyak orang. 28:39 Banyak orang tertolong. Kalau dia pintar 28:42 ilmunya itu nular, memberi banyak 28:45 manfaat terhadap orang banyak dan 28:47 seterusnya. Sedangkan kalau dia 28:50 mendapatkan kesempitan, kesusahan, 28:53 dia sabar. Nah, ternyata sabar itu lebih 28:56 hebat daripada kelapangan yang syukur. 28:59 Cuma memang sabar itu enak diucapkan. 29:02 Praktiknya memang enggak benar. Jadi, 29:04 terhadap penyakit kalau bahkan dalam 29:08 sebuah riwayat disebutkan kalau Allah 29:11 mencintai hambnya itu hambanya diuji, 29:16 diberikan ujian. 29:19 Kenapa ujian lah? Kalau kita ujian kan 29:21 mesti apa? Mau apa? Mesti mau naik kan? 29:23 Heeh. 29:24 Dari tamtama mau jadi bintara kan mesti 29:27 iya 29:27 ujian. Orang yang dikenai penyakit ada 29:31 tiga yang akan diambil. Empat malah. 29:33 Oke. 29:34 Satu 29:36 tenaganya 29:38 jadi letoi, lemah, gak berdaya. cahaya 29:42 mukanya dari pucat nafsu makannya 29:47 dan keempat dosanya. 29:50 Kalau dia iman dan sabar rida kepada 29:53 Allah ini yang tiga akan dikembalikan 29:55 tapi dosanya tidak dikembalikan. 29:58 Masyaallah. 29:58 Jadi kalau seorang dikasih penyakit itu 30:01 adalah sebenarnya sedang dicuci. Ibarat 30:04 pakaian yang sudah lama dipakai. Bau 30:06 keringat, bau apek ya kotor ya berdebu. 30:11 Masuk ke mesin cuci kan. Mesin cuci kan 30:13 enggak diam. 30:14 Heeh. 30:15 Diputar giling. 30:17 Diputar giling. Diwes-uwes. Maksudnya 30:20 supaya kotorannya itu hilang. 30:23 Belum cukup. Kemudian diperas, 30:26 dikeringkan, diputar-putar, 30:28 dijemur, 30:30 disetrika, baru dikasih pewangi. Masuk 30:33 lemari. 30:35 Kita juga manusia begitu. Jadi kalau 30:37 kita sedang diberikan sakit, sabar. 30:40 Ikhtiar kita lakukan. Kalau sakit 30:42 berobat kewajibannya. 30:45 Kalau wabah yang muncul 30:48 menimpa orang-orang beriman, justru itu 30:51 orang termasuk mati syahid kalau dia 30:53 meninggal akibat wabah. 30:56 Jadi artinya apa? Mempercepat dia masuk 30:59 ke dalam surga. 31:01 penderitaannya menjadikan menggugurkan 31:03 dosa. 31:05 Jadi sebenarnya 31:07 itu semuanya apa yang terjadi di muka 31:09 bumi ini wujud daripada kasih sayangnya 31:12 Allah Subhanahu wa taala. Hanya saja 31:15 tergantung bagaimana keimanan kita dalam 31:19 menghadapi 31:21 menyikapi terhadap hal yang ada ini. 31:23 Jadi pentingnya keimanan begitu. dengan 31:25 keimanan. Tidak hanya melihat dengan 31:28 mata kepala, tidak hanya merasa-asa 31:31 dengan selera, tapi dengan mata akidah 31:34 keimanan, hati nurani sehingga dia 31:36 jernih melihat persoalan bahkan bisa 31:39 melihat hikmah di balik peristiwa. 31:43 Wallahuam. 31:44 Iya. Bagaimana kita merespon itu yang 31:47 penting. Tapi biasanya kalau sakit itu 31:49 ngeluh dulu ya. Ini masih ada kaitannya 31:51 dengan sakit, Ustaz. 31:52 Iya. Bagaimana kalau dalam kondisi 31:55 seperti sekarang ini kan ada orang yang 31:57 sakit, tapi bukan karena ee pandemi 32:01 corona, Ustaz. Cuma masalahnya dia itu 32:04 benci banget sama saya. Kalau saya tetap 32:07 datangi, saya tidak menambah 32:09 penderitaannya, Kak. Karena saya 32:12 diingatkan oleh suami saya, ditiliki 32:15 nduk, orang itu tuh biar bagaimanapun 32:19 saudara. Oh, berarti masih saudara. Iya. 32:22 Iya kan ada istilah Jawa sing waras 32:26 ngalah 32:26 ngalah. 32:28 Kalau orang lain membenci kita perlu 32:30 yang kita lakukan adalah evaluasi diri. 32:33 Kenapa orang benci kepada saya? Opo 32:37 salahku? 32:39 Apa yang menyebabkan orang benci pada 32:40 saya? Nah, itu metani badan syario. 32:43 Dicari itu kelemandi apa. Oh, kalau 32:47 kemarin saya ternyata memang 32:48 memperlakukan dia dengan cara yang 32:51 menyakitkan, nah evaluasi diri kemudian 32:54 minta maaf. Tapi kalau kita sudah 32:57 evaluasi memang kita tidak pernah 32:59 berbuat salah, berbuat dosa kepada dia, 33:02 dia kok benci. Nah, itu urusan dia. 33:05 Misalnya 33:07 kita banyak uang kok dia meriang 33:09 umpamanya. He. Nah, ini kan masalah 33:11 hasad berarti penyakit hati. Jadi, kalau 33:14 orang lain membenci kita, jangan dibalas 33:18 dengan kebencian. 33:20 Kita tetap berbuat baik. 33:23 Ya, kalau tadi misalnya dia sakit, kita 33:25 tengok kita doakan, 33:27 kita bawa apa sesuatu yang bisa 33:30 meluluhkan hatinya. Kalau tidak diterima 33:33 juga ya itu urusan dia. Tapi bagus si 33:35 suaminya tadi mengatakan telek ono 33:38 artinya lihat sana dan didoakan. Tapi 33:41 teleknya jangan terus buat buat apa ya 33:45 buat masalah sampai sana terus pamer 33:47 gelang, pamer kalung, pakaiannya yang 33:50 mewah bukan. Ya, tunjukkan keprihatinan 33:53 kita, empati dan simpati dan empati 33:56 kita. Kemudian kita doakan. Wallahualam. 34:01 Iya. Jadi kembali lagi kalau ustaz tadi 34:05 katakan metani itu penting banget. Anda 34:08 tahu enggak sih metani 34:10 mencari kutu. 34:11 Kalau orang nyari kutu itu berarti 34:12 dicari-cari ya enggak kelihatan tapi 34:14 harus dicari belayan rambut itu dicari. 34:18 Ee Ustaz banyak sekali yang bertanya 34:20 soal penyakit mungkin karena sedang 34:22 pandemi ya. I 34:23 kalau misalnya orang-orang dengan COVID 34:26 tidak boleh dijenguk 34:29 kan kasihan Ustaz siapa tahu sakaratul 34:31 mautnya bisa dibimbing. 34:34 Kalau menurut agama kita seperti apakah 34:36 gerangan, Ustaz? Karena 34:38 tidak bisa membantu 34:41 membimbingnya ketika di sakaratul maut. 34:44 Ya, mestinya yang pakai APD 34:48 perawat ya. Ini ada namanya SOP-nya. 34:53 Kalau orang begitu jangan hanya 34:54 dientrok-entrok napas buat napas buatan, 34:58 tapi juga ditalkin gitu. Tapi di rumah 35:00 sakit kan enggak tahu kalau rumah sakit 35:02 Islam itu diajari apa tidak. Ya karena 35:06 situasi darurat seperti itu bagaimana 35:08 ya? Tidak ada jalan lain kecuali berdoa. 35:12 Doa toh tengok besuk orang sakit itu kan 35:15 juga doa yang penting. Jadi ketika ada 35:18 saudara kita, teman kita yang sakit 35:21 seperti itu, lantunkan doa. Tidak hanya 35:23 sekali dua kali, mungkin setiap salat 35:26 kita doakan, 35:28 kemudian jemaah di masjid kita minta 35:30 doakan. 35:32 Kalau dalam situasi kritis kita doakan 35:34 mudah-mudahan husnul khatimah. Saya kira 35:36 insyaallah itu juga lebih efektif karena 35:38 langsung kepada sang pencipta karena 35:41 kita tidak bisa mentalkinnya langsung. 35:44 Wallahuam. 35:45 Ee pertanyaan berikutnya agak lucu sih. 35:49 Bicara soal kecenderungan, Ustaz. Apakah 35:51 pria memang cenderung untuk poligami? 35:53 Ya. Heeh. 35:56 Iya. Enggak usah nanya kalau laki-laki 35:59 itu laki-laki perempuan tuh yang nanya. 36:01 Enggak ada namanya. 36:03 Ya, inilah sebab sebaiknya kalau nanya 36:06 pakai indikasi ya e apa namanya supaya 36:09 kita tahu jawabnya 36:11 Mas apa Mbak gitu. 36:12 Kalau laki-laki memang terus terang aja 36:15 jujur saya sampaikan penginnya begitu. 36:17 E jadi itu ada kecenderungan yang hampir 36:20 dimiliki oleh semua pria cuma kan ada 36:22 batas-batasnya dan nikah 2 3 sampai 36:26 empat yang dibolehkan agama itu 36:28 bersyarat. 36:31 Jangan hanya 2 3 empatnya saja. 36:34 Mentang-mentang punya uang terus 36:35 semena-mena dia kawin lagi, kawin lagi, 36:37 kawin lagi. Ada syaratnya. 36:40 Syaratnya dia mampu enggak membimbing 36:43 dua wanita menjadi istrinya kemudian dia 36:46 menjadi bersaudara. 36:49 Ayo, ini enggak mudah. Ini satu aja 36:52 rewelnya amit-amit nih kadang-kadang ya 36:56 apa n susah suami gak bisa mengendalikan 36:59 atau membimbingnya apalagi dua apalagi 37:02 tiga apalagi empat. Jadi inti rumah 37:05 tangga itu adalah baik mau satu mau dua 37:07 mau tiga sakinah mawaddah warahmah 37:12 bertebarnya kasih sayang. 37:15 Nah kasih sayang itu kan buah. Buah dari 37:18 keimanan. Buah dari keincapan diri. buat 37:21 dari matangnya kepribadian yang 37:23 bersangkutan. 37:24 Kalau mau dua istri berarti trio. Ini 37:26 tiga-tiganya harus tahu posisinya. 37:30 Sehingga tercipta rumah tangga itu 37:32 sakinah, mawadah warahmah. Kalau ngotot 37:35 dia punya istri dua, mau nikah dua 37:38 karena banyak uangnya, tapi pasea aja, 37:41 berantem melulu, fitnah, suaminya bohong 37:45 melulu, kemudian selimpat-selimpat sana 37:48 sini, itu bukan rumah tangga yang 37:49 dikehendaki oleh Islam. 37:52 Jadi kalau memang dia mampu laki-laki, 37:54 betul dia berarti dia apa namanya? Ee 37:58 leader, seorang leader yang mampu, 38:01 gentleman. dia mampu mengendalikan rumah 38:04 tangga sehingga akur yang tadi yang 38:06 musuhan menjadi bersaudara. 38:08 Bisa? 38:09 Iya. Harus begitu. Yang tua masuk angin 38:12 dikerokin sama yang muda gitu loh. 38:15 Boleh juga tuh ngambek berdua. 38:16 Nah itu kalau bisa begitu. Tapi kalau 38:18 enggak bisa berlaku adil kata Nabi, 38:20 "Jangan satu saja. Enggak iso koniku 38:23 enggak iso loro-loro. Enggak iso. Jadi 38:26 mesti satu aja. Jadi ada syaratnya. 38:29 Kalau enggak bisa menciptakan rumah 38:31 tangga yang bukan surga malah neraka. 38:34 Nauzubillah. Wallahu Allah. 38:36 Em berikutnya dari Pak Budi. Ini 38:38 pertanyaannya terkait dengan anak-anak 38:40 yang punya kecenderungan abai terhadap 38:43 nasehat orang tua karena asik dengan 38:45 gawai. Gawai itu gadget. 38:48 Ini dialami semua anak rasanya, "Ustaz, 38:51 apa yang harus kami lakukan?" Karena 38:53 ketika kasar direbut, dia ngambek malah 38:58 lari dari kami, tidak pernah turun dari 39:00 lantai atas. Kenapa anak-anak sekarang 39:03 seperti itu, Ustaz? 39:04 Iya, inilah kalau mau disebut wabah juga 39:07 wabah. Sebenarnya teknologi itu kan 39:09 sebenarnya ada dua nilai, positif bisa 39:12 negatif, tapi kebanyakan yang diambil 39:14 tuh yang negatifnya. 39:17 Nah, di sinilah pandai-pandai kita orang 39:19 tua bagaimana supaya mengalihkan itu ada 39:22 kegiatan, ada program, ada apa sehingga 39:25 dia kalaupun bermain gadget itu ada 39:27 waktunya dibatasi. Kamu bermain boleh 39:29 nih waktunya 10 menit misalnya sudah itu 39:33 sudah dan seterusnya. Jadi kedisiplinan 39:36 dan aturan-aturan yang jelas kemudian 39:39 ada pengalihan-pengalihan 39:42 kepada pengalihan yang positif ini 39:44 memang harus dilakukan. Di samping itu, 39:46 terus kalau punya anak dikawal dengan 39:49 doa setiap saat. Kita ini kalau anak ya 39:53 ngertinya senang aja anaknya ganteng, 39:55 cakep. Weh, di main-main dicandain tapi 39:59 lupa doa. Padahal kalau gendong anak, 40:02 anak masih digendong itu lantunkan doa. 40:07 Doa pada anak kita itu. Lihat anak 40:10 sedang bermain, jangan hanya senang aja. 40:12 Eh, anakku pintar sudah bisa jalan. 40:15 Lantunkan doa 40:17 dalam hati kita. Kita lantun mohon pada 40:19 Allah agar anakku ini menjadi orang yang 40:22 berguna, menjadi orang yang saleh. Itu 40:24 dilantarkan doa melihat anak tidur di 40:27 tempat tidurnya ditengok begitu. Bukan 40:29 hanya dicium di tapi lantunkan doa. 40:33 Bahkan ketika kita salat, ketika anak 40:37 sedang sekolah kita kawal dengan doa 40:39 dari rumah atau dari kita sedang bekerja 40:42 ingat di rumah, ingat anak-anak, kita 40:43 lantunkan doa. Jadi selalu dikawal 40:46 dengan doa-doa insyaallah. Wallahuam. 40:50 Iya, kelihatannya mudah tapi sering 40:54 terlewat ya. 40:55 Sering terlewat karena sibuk 40:56 yang tidak bisa tidak kita abaikan 41:00 memang menjadi bagian PR kita semuanya. 41:03 Dan waktu kita sudah mepet, Ustaz 41:06 mungkin bisa dirangkum bahasan terkait 41:08 dengan kecenderungan kita sebagai 41:10 manusia. Mana yang mesti dibuang, mana 41:12 yang mesti dipertahankan agar kita bisa 41:14 menjadi hamba Allah sebagaimana yang 41:16 kita rindukan. Baik para ikhwan 41:19 rahimakumullah. 41:21 Allah memang memberikan kecenderungan 41:23 itu kepada selera. 41:25 Islam tidak mematikan selera nafsu itu. 41:28 Boleh silakan cinta pedalawan jenisnya. 41:31 Masa ora oleh cuma aturannya ditempuh. 41:36 Boleh kita cinta bangga pada anak-anak 41:38 cuma jangan lupa didik anak dengan baik 41:42 supaya terarah hidupnya. 41:44 dibangun kepribadiannya di atas takwa. 41:48 Boleh kita cinta harta yang banyak, yang 41:51 banyak pun boleh. Emas perak silakan. 41:54 Cuma juga harus tahu aturannya bagaimana 41:57 mendapatkannya, bagaimana 41:59 membelanjakannya, 42:01 apa kewajibannya dia sebagai orang kaya 42:04 terhadap Allah, terhadap lingkungan, 42:07 terhadap saudaranya, terhadap orang 42:09 tuanya. Itu harus dipenuhi. Kalau enggak 42:12 jadi malapetaka, harta yang banyak itu 42:14 akan dibebankan, ditimpakan kepada kita. 42:17 Syukur enggak jadi api neraka. Kalau 42:19 kita salah gunakan jadi api neraka. 42:21 Nauzubillah minzalik. Kemudian juga pada 42:25 kendaraan. Orang beli kendaraan bisa 42:29 menjadi azab bisa pahala. 42:32 Kalau umpamanya seseorang beli kendaraan 42:36 karena manas-manasi tetangga, 42:40 tetangganya beli motor, kita jangan 42:43 motor, Bu. Kita harus beli mobil supaya 42:46 dia tahu bahwa kita ini lebih kaya dari 42:47 dia. Nah, ini sudah lain niatnya. Dia 42:50 beli mobil Avanza, kita beli mobil 42:52 Innova. Jangan kalah, Bu. Panas-panas. 42:55 Nah, ini justru sepanjang perjalanan 42:58 hidupnya itu hanya memberikan 43:00 catatan-catatan buruk yang menimbulkan 43:02 siksa dan tidak akhirat karena 43:04 kebanggaan seperti itu. Jadi, kendaraan 43:06 itu diniatkan untuk silaturahim, untuk 43:10 yang bermanfaat, untuk ngaji, untuk 43:15 berjuang di jalan Allah, itu baru 43:17 berpahala. 43:18 Demikian juga yang lain-lain. Maka 43:22 insyaallah 43:24 keinginan atau kecenderungan kita 43:26 terarah dan terukur 43:30 dengan kaidah-kaidah agama. Mana yang 43:33 boleh, mana yang tidak. Kalau sudah 43:35 dapat harus bagaimana dan seterusnya. 43:38 Itulah yang membedakan antara manusia 43:40 beradab dan manusia biadab adalah 43:43 tergantung bagaimana kita menjalani 43:44 kehidupan sesuai dengan aturan-aturan 43:47 hidup yang Allah turunkan kepada kita. 43:50 Mohon maaf segala kekurangan, kekeliruan 43:52 sebagai manusia biasa tentu saja tidak 43:54 luput dari itu semua. Ee semudah semoga 43:58 Allah memberkati antum semuanya di mana 44:01 pun berada dan tetap hidup dengan di 44:03 atas landasan akidah lailahaillallah. 44:06 Tujuannya adalah rida Allah subhanahu wa 44:09 taala. Walu minkum. Wasalamualaikum 44:11 warahmatullah wabarakatuh. 44:13 Waalaikumsalam warahmatullahi 44:15 wabarakatuh. Ustaz Abul terima kasih 44:18 sekali untuk em nutrisi pada pagi ini 44:24 yang melengkapi sarapan pagi tadi kita 44:26 ya. Ee ikhwan akhwat. Mudah-mudahan 44:30 kalau toh kita harus iri, jangan karena 44:33 tetangga punya mobil atau punya motor, 44:35 tapi kita iri yang bisa menghadirkan 44:38 rida Allah. Iri kepada orang-orang yang 44:40 begitu taat, yang begitu rajin, dan 44:43 begitu istikamah. Dan jangan lupa kita 44:47 semua tanpa henti doa-doa dan berdoa 44:51 terus untuk buah hati kita. Karena terus 44:53 terang hanya Dialah yang akan 44:55 meringankan siksa kubur kita kelak 44:57 insyaallah. Ya, terima kasih sekali 44:59 lagi. Mudah-mudahan kita jumpa kembali 45:01 di tausiah pagi di minggu depan. Billahi 45:03 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 45:06 warahmatullahi wabarakatuh.