Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail TV. 0:13 [Musik] 0:16 Bismillahirrahmanirrahim. 0:18 Asalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:22 rahimakumullah. 0:24 Hari ini 17 Juni 2025 21 Zulhijah 1446. 0:31 Ya, kita bersama kembali di acara 0:33 Psikologi keluarga yang semoga 0:36 mempersuasi dan memotivasi kita sehingga 0:40 bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, 0:42 mawadah, warahmah. 0:45 Asalamualaikum Ustaz Husein, Abu Bakar 0:48 dan juga semua yang bersama-sama radio 0:52 silaturahim. kali ini. 0:55 Oh ya, mohon maaf Mas Krishna tidak lagi 0:59 bisa mendampingi kita, Ustaz. 1:01 Mudah-mudahan acara yang hadir seminggu 1:05 sekali ini tanpa Mas Krishna bisa bantu, 1:09 bisa berjalan lancar doanya ya, Ustaz 1:11 ya. Dan untuk kasus hari ini nanti ada 1:14 dua. Tapi sebelumnya mari kita awali 1:18 dengan bersama-sama membaca ummul kitab. 1:23 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 1:29 Bismillahirrahmanirrahim. 1:35 Alhamdulillahirabbil 1:37 alamin 1:41 arrahmanirrahim. 1:45 Maliki yaumiddin. 1:50 Iyaka na'budu wa iyyaka nasta 1:56 ihdinasirathal 1:59 mustaqim 2:02 shathalladzina 2:04 an'amta alaihim 2:07 ghairil maghdubi alaihim waladin. 2:14 [Musik] 2:18 Amin. Allahum amin. Jadi, ikhwan akhwat, 2:23 Ustaz, kasus yang masuk dua itu yang 2:25 pertama dari 2:29 ee ini bagaimana mendidik anak khususnya 2:31 anak laki-laki menjadi anak yang 2:34 bertanggung jawab, berakhlak 2:37 baik bagi dirinya sendiri, bagi istri 2:40 dan juga anak-anaknya kelak. Karena 2:42 sekarang, Ustaz, banyak sekali pria 2:44 suami yang tidak lagi punya tanggung 2:46 jawab terhadap istri dan anaknya. Godaan 2:49 semakin berat melalui kecanggihan 2:51 teknologi atau melalui smartphone 2:54 semakin menggerogoti rasa tanggung jawab 2:56 para pria ini. Enggak sedikit yang 2:59 akhirnya selingkuh meninggalkan anak dan 3:01 istrinya. Enggak sedikit yang malas 3:04 berusaha maksimal untuk menafkahi 3:06 keluarganya. Mohon nasihatnya. Sementara 3:10 kasus yang satunya, Ustaz, itu seorang 3:14 ibu yang punya suami pendiam dengan dua 3:19 anak yang baik. Tapi masalahnya ada pada 3:22 diri saya, Ustaz. Saya selalu curiga dan 3:25 tidak bisa bergaul. Waktu itu saya 3:27 tinggal di keramat jati. Selalu 3:29 bertengkar dengan tetangga, selalu saya 3:32 yang dipersalahkan dan dia selalu yang 3:35 benar. suami enggak membantu. Kemudian 3:38 pindahlah kami ke kalender. Semoga bisa 3:41 rukun sama tetangga. Tapi ternyata sama 3:44 saja. Baru 8 bulan saya sudah ada orang 3:47 yang mempermasalahkan diri saya. Katanya 3:50 nih, "Ustaz, saya enggak bisa bergaul. 3:53 Saya selalu mau menang sendiri. Sekarang 3:55 saya enggak punya teman. Saya hidup 3:58 sendiri di rumah bersama anak-anak yang 4:01 baru kelas 5 SD. yang saya pikirkan 4:04 apakah saya ini memang enggak bisa 4:06 bergaul atau memang orang-orang ini yang 4:08 tidak baik, Ustaz. Jadi, bagaimana saya 4:11 menghadapi semua ini? Itu kasusnya. 4:15 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 4:17 Bismillahirrahmanirrahim. 4:21 Alhamdulillahi rabbil alamin. 4:25 Hamdan katsiran thyyiban mubarokan fi 4:29 kama yuhibubuna. 4:32 Allah. Shli ala Muhammadin wa ali 4:35 Muhammad. Asalamualaika 4:38 ya Rasulullah. Asalamualaina wa ala 4:41 ibadillah shihin. Wasalamualaikum 4:44 warahmatullahi wabarakatuh. 4:46 Waalaikumsalam warahmatullah. 4:48 Allahummaika 4:50 rahmah waimna ladunka ilman nafiana 4:56 bimaamtana waj'alna hudatan muhtadin 5:01 wala taj'alna doina mudin birahmatika ya 5:05 arhamar rahimin. 5:09 Rabbana zidna ilman waqna shihin. 5:13 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah. 5:16 Pagi hari ini alhamdulillah psikologi 5:19 keluarga kita ditemani oleh Ustaz Abu 5:21 Bakar, Mbak Nuning kita 5:25 Ustaz Abul Hasan Asyadili 5:28 Artep Setia yang berbudi, 5:32 begitu pula Rizal 5:35 dan kerabat kerja yang bekerja menemani 5:38 kita di studio. kepada seluruh keluarga 5:40 besar 5:42 pendengar Radio Silaturahmi, 5:45 kepada 5:48 saudara-saudara kita yang sedang 5:49 merindukan 5:52 penerangan, 5:55 bimbingan petunjuk dari Allah. Semoga 5:57 kita semua di tengah-tengah bulan suci 6:00 ini, begitu pula sebentar lagi kita akan 6:02 memasuki bulan Muharram. Semoga Allah 6:05 subhanahu wa taala membantu kita untuk 6:08 memperbaiki niat dan tujuan hidup kita 6:13 yang selama ini mungkin kita masih 6:15 terombang-ambing 6:17 di antara angan-angan kecintaan pada 6:19 dunia. Kita berharap sepenuhnya 6:23 hati kita Allah Subhanahu wa taala 6:25 murnikan untuk hidup dengan mengharapkan 6:28 ridanya. Menjadikan Allah dan kehidupan 6:31 akhirat sebagai tujuan kita. kehidupan 6:34 dunia sebagai sarana menuju ke sana. 6:38 Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah, tadi 6:40 telah kita dengarkan 6:42 kasus pertama 6:44 bagaimana kita mendidik anak kita untuk 6:48 menjadi pria yang bertanggung jawab. 6:54 Pertama-tama perlu saya ingatkan kepada 6:56 Ibu, 7:00 jangan sekali-kali terlintas dalam benak 7:03 ibu 7:06 yang ibu dan bahkan ibu inginkan dari 7:09 anak ibu ini. 7:11 Hanya menjadi seorang yang peduli pada 7:13 ayah ibunya bekerja mencari nafkah. Ya, 7:18 bertanggung jawab pada keluarganya, 7:20 begitu pula pada orang tuanya. Jangan 7:22 hanya sebatas ini. 7:25 Kalau orang tua bangga dengan anak yang 7:27 bekerja dengan gaji yang cukup besar, 7:30 tingkat pendidikan yang tinggi, hidupnya 7:33 juga terpandang, mencukupi kebutuhan 7:36 kedua orang tuanya maupun keluarganya. 7:40 Jangan hanya sampai di sini. 7:43 Ini semua hanya merupakan kehidupan 7:45 dunia. 7:48 Sebagaimana seorang ada yang berpakaian 7:50 indah, berpakaian mewah, sama dengan 7:54 orang yang berpakaian sederhana. Belum 7:56 tentu yang berpakaian mewah lebih baik 7:58 dari yang berpakaian sederhana. 8:00 Tapi yang berjiwa mulia, 8:03 yang bertakwa kepada Allah, 8:06 yang menjalani kehidupan ini tujuannya 8:09 adalah Allah. 8:11 hari akhir. Dia menyadari kehidupan 8:14 dunia bukan merupakan tujuan diciptakan 8:17 manusia. 8:19 Kalau ibu bisa betul-betul menanamkan di 8:22 hati anak-anak ibu semenjak dini 8:26 tujuan hidup yang sebenarnya sebagaimana 8:28 yang telah ditetapkan Allah. 8:31 Wama khalaqtul jinnah wal insa illa 8:34 liya'budun. 8:36 Aku tak menciptakan jin dan manusia 8:39 melainkan untuk mengabdikan hidup mereka 8:41 kepadaku. 8:45 Adapun rezeki Allah tegaskan, "Ma uidu 8:49 minhum mir rizqin widu yutimun." 8:53 Aku tidak menuntut dari mereka rezeki 8:55 dan aku tidak menuntut dari mereka untuk 8:57 memberikan aku makan. Innallaha hu 8:59 razzaquwil matin. Sesungguhnya Allah 9:02 dialah sang pemberi rezeki yang memiliki 9:06 kekuatan yang kokoh, kuat dan dahsyat. 9:10 Allah ciptakan dunia ini, ciptakan bumi 9:13 kita dan seluruh kehidupan yang terdapat 9:17 di dalamnya untuk melayani manusia. 9:23 Bagaimana sikap kita terhadap Allah yang 9:25 telah menciptakan kita, memuliakan kita 9:28 di antara sekian banyak makhluknya, 9:30 menganugerahkan kita rezeki, memberikan 9:32 kita akal, lalu mengajarkan Al-Qur'an 9:36 sebagai pedoman hidup kita. Bagaimana 9:37 syukur kita? 9:40 Nah, di sinilah 9:43 kewajiban kita dalam hidup ini dengan 9:46 nikmat yang Allah telah limpahkan pada 9:48 kita untuk mengabdikan hidup kita 9:51 kepadanya. 9:52 Menjadikan Allah sebagai tujuan 9:56 jalan hidupnya sebagai jalan yang kita 9:59 lalui. 10:01 Kitabnya sebagai pedoman hidup. 10:04 Begitu kita menjalani tuntunan Allah 10:06 Subhanahu wa taala, rahmat dan 10:08 keberkahan akan Allah curahkan pada kita 10:10 semua. 10:12 Jadi kalau Ibu mendidik anak ibu 10:18 selalu mengingatkan kepada mereka akan 10:20 tujuan hidup mereka, 10:22 mengingatkan mereka untuk mendirikan 10:24 salat dan bukan hanya 10:27 salat secara lahir, tapi hatinya 10:30 terhubung dengan Allah. Dia menyadari 10:33 dia salat bukan karena Allah butuh 10:34 padanya, tapi dia yang butuh kepada 10:36 Allah. Salat adalah wasilah komunikasi 10:39 baginya untuk berhubungan dengan Allah 10:42 yang maha pengasih penyayang, yang maha 10:45 kuasa untuk memenuhi seluruh 10:46 kebutuhannya, melindungi dirinya, 10:49 melindungi semua orang yang dicintainya. 10:51 Begitu dia melakukan salat memohon 10:53 kepada Allah, Allah Subhanahu wa taala 10:56 akan kabulkan permintaan. 10:59 Begitu dia mengenali pedoman hidupnya, 11:01 dia akan selalu terjaga tahu kewajiban 11:04 dia kepada Allah, kewajibannya kepada 11:05 kedua orang tua, kewajibannya kepada 11:08 keluarganya, anak-anaknya itu 11:11 otomatically. 11:13 Tapi begitu hati seorang pria maupun 11:16 wanita terputus hubungannya dengan 11:18 Allah, maka pada saat itu 11:22 dia akan hidup dalam keadaan 11:24 terlunta-lunta, terombang-ambing, tidak 11:27 mengenal tujuannya, tidak mengenal jalan 11:29 hidupnya. Mungkin dia merasa dirinya 11:31 sukses, meraih gelar yang cukup baik, 11:35 menjabat jabatan yang begitu baik, 11:37 kemudian fasilitas hidupnya mewah, 11:40 memiliki aset di sana sini. Begitu juga 11:44 uang yang 11:47 membanjiri kehidupannya. Apakah dia 11:48 bahagia kalau dia menjadi seorang 11:51 koruptor, 11:53 jadi seorang pengkhianat bangsa, jadi 11:55 seorang yang hanyut bersama hawa nafsu, 11:58 menganiaya keluarganya, menyia-nyiakan 12:00 mereka. Karena apa? Karena hatinya 12:02 terputus dari Allah. 12:06 Oleh karena itu, anak dari mulai dini ya 12:11 hingga usia 7 tahun di samping diberikan 12:14 kesempatan buat mereka bermain 12:17 permainan-permainan yang bersih yang 12:19 tidak membahayakan dirinya, 12:22 mendidik mereka juga untuk berkata-kata 12:24 yang baik. Bila dia berkata salah pada 12:26 usia tersebut, berikan peringatan ini 12:29 perkataan yang tidak baikah atau ini 12:31 perbuatan yang tidak baik secara 12:33 perlahan-lahan pada usia tersebut ini 12:36 merupakan usia yang betul-betul akan 12:39 menentukan sikapnya di masa akan datang. 12:41 Jangan dianggap sepele perlakuan yang 12:44 baik orang tua pada anak, kedekatannya, 12:46 perhatiannya, pengarahannya 12:49 dan dicontohkan dari sikap perbuatan 12:52 orang tua. Jangan orang tua mengatakan 12:54 berkata yang tidak baik tidak boleh. Dia 12:56 berkata yang tidak baik. 12:59 Menyalahi janji tidak boleh. dia 13:01 menyalahi janji. 13:03 Jadi, betul-betul contoh kepribadian 13:05 orang tua amat penting harus diketahui 13:07 kita anak-anak sejak kecil selalu 13:09 menganggap orang tua kita merupakan 13:12 sebaik-baiknya idola. Seandainya mereka 13:15 bicara bohong, kita percaya 13:17 sampai terbukti kebohongannya. 13:20 Tapi pada saat kita, kanak-kanak, kita 13:23 melihat orang tua kita itu yang terbaik. 13:25 Di saat mereka bercerita, di saat mereka 13:27 berbicara, kita melihat mereka merupakan 13:30 sosok yang paling apa? Kita banggakan. 13:34 Nah, 13:36 hal seperti ini seharusnya menjadi apa? 13:39 Kesempatan buat orang tua untuk 13:41 menanamkan sistem nilai yang baik. 13:44 Tanamkan sistem nilai yang baik. 13:46 Perkenalkan dia kepada Allah. Saya 13:48 bicara jujur 13:51 kepada para pendengar sekalian 13:54 bahwa 13:55 pendidikan yang saya rasakan indah bagi 13:58 saya 14:00 bukan sewaktu saya di pesantren bersama 14:02 orang tua yang laki-laki, tapi pada saat 14:04 saya bersama nenek saya dan saudari ibu 14:08 saya. Karena ibu saya meninggal pada 14:09 saat kita masih kanak-kanak. 14:12 Tidak banyak yang mereka lakukan. 14:15 Bahkan terkadang pendidikan disampaikan 14:17 dalam bentuk cerita. 14:19 Cerita-cerita, 14:21 contoh yang diberikan dalam keluarga. 14:24 Kita merupakan anak nakal kebetulan 14:26 karena hiperaktif ya, agak aktif luar 14:29 biasa bergaul ke sana kemari. Mereka 14:31 hadapi dengan kesabaran. Mereka juga 14:34 mendidik kita dengan apa? Dengan cara 14:36 yang lemah. 14:40 Ini penting sekali. Hingga kita 14:43 betul-betul ya merasakan kenakalan kita 14:46 berlalu. Kita mengingat, mengenang 14:48 bagaimana kesabaran mereka, kepedulian 14:50 mereka, perhatian mereka. 14:53 Kita tidak ingin menyakiti perasaan 14:55 mereka atau mempermalukan mereka. 14:56 Kenapa? 14:58 Hal jazaul ihsan al ihsan. Bukankah 15:01 balasan kebaikan untuk kebaikan? 15:04 Jadi tidak perlu berbicara keras, tidak 15:06 perlu berbicara kasar. Anak harus 15:07 menyadari bahwa orang tuanya peduli 15:09 sayang kepada mereka. 15:12 Saya punya cucu satu 15:15 dimarahi oleh orang tuanya. 15:18 Dia pada saat itu marah dan emosi. 15:21 Usianya masih baru pada saat itu sebelum 15:24 SD hingga SD. Saya tanya, "Bagaimana 15:27 perasaan kamu orang tua kamu marah-marah 15:28 seperti itu?" Dia bilang, "Jit, Abah 15:31 marah-marah sayang." Marah-marah sayang. 15:34 Kenapa? Karena walaupun pada saat Abah 15:36 itu marah, tapi pada saat lain si Abah 15:38 memberikan perhatian yang luar biasa 15:40 kepadanya. 15:44 Jadi di sini kita lihat ya, kita ini 15:47 terkadang memandang anak-anak kecil 15:49 mereka belum punya kesadaran. Padahal 15:52 pada saat itu mereka amat-amat sensitif. 15:56 Apa yang ditanam pada saat itu akan 15:59 menjadi apa? tanaman yang memiliki akar 16:01 yang kokoh. Oleh karena itu, hubungkan 16:04 dia dengan Allah. 16:07 Perkenalkan rahmat kasih sayangnya 16:09 kepada kita melalui Asmaul Husna dan 16:11 contoh-contoh dalam kehidupan ini. 16:14 Kemudian ceritakan padanya bahwa kita 16:18 ini merupakan makhluk yang lemah, 16:21 yang tak berdaya. Hanya dengan bantuan 16:24 Allah Subhanahu wa taala yang maha 16:26 pengasih baru kita akan mengalami 16:27 kesuksesan. Jadi selalu ingatkan dia 16:30 untuk selalu bergantung berpegang pada 16:32 Allah Subhanahu wa taala. Saya ingat ada 16:35 seorang anak berkulit hitam dalam satu 16:37 wawancara televisi di Amerika. 16:41 B dalam ditanya, "Bagaimana kamu 16:44 mengajarkan anak kamu salat?" 16:47 Si ibu mengatakan, "Anak saya pernah 16:49 bertanya, kenapa saya harus salat?" 16:52 Si ibu berkata pada anaknya, "Nak, kita 16:55 ini manusia yang lemah, 16:57 tidak berdaya, tidak punya kekuatan." 17:02 Pada saat kita mengalami kebutuhan, 17:04 kepada siapa kita harus memohon? 17:07 Contohnya di saat aku, kita membutuhkan 17:09 sesuatu atau katakan, "Kamu butuhkan 17:12 sesuatu, dari mana ibu bisa membelikan 17:13 kamu?" 17:17 Maka kita kembali kepada Allah Subhanahu 17:20 wa taala. 17:21 melalui doa, melalui salat agar Allah 17:23 membantu kita. Malah bisa memberikan 17:26 kamu pakaian, bisa menyekolahkan kamu, 17:30 bisa mendidik kamu, mencukupi kebutuhan 17:32 kamu karena bantuan Allah. 17:36 Jadi si anak merasa bahwa salat ini 17:38 bukan satu beban dan tekanan. Tapi 17:40 ibunya mengajarkan dengan salat ibu bisa 17:44 mendidik kamu, membesarkan kamu juga 17:47 memberikan berbagai macam apa kebutuhan 17:49 kamu. Kalau kamu lakukan hal ini 17:51 semenjak kamu kecil, ketahuilah oh tidak 17:54 diuntungkan dengan salat kamu. Tapi kamu 17:56 akan selalu mendapatkan perhatian 17:58 kecintaan dari Tuhan. Jadi jangan hanya 18:01 kita melaksanakan kewajiban. 18:05 Kita merasa kalau ada panggilan salat 18:06 seolah merupakan beban di hati kita. 18:08 Salat lagi, salat lagi. Tapi kalau kita 18:11 merasa kita diundang oleh Allah 18:13 Subhanahu wa taala menghadap ke 18:14 hadapannya, mengajak kita mencurahkan 18:17 isi hati kita, kemudian juga membantu 18:20 kita keluar dari kelemahan kita dan di 18:23 sana segala-galanya 18:25 terdapat pada Allah Subhanahu wa taala. 18:28 Jadi, Ibu dari mulai di ini tanamkan 18:33 betul-betul di hatinya kebutuhan dia 18:36 kepada Allah. Jadikan Allah sebagai 18:38 tujuannya. Bila dia lemah, ajak dia 18:41 untuk bersama-sama kembali kepada Allah 18:43 Subhanahu wa taala. Dan terangkan 18:46 tuntunan agama yang Allah berikan 18:48 merupakan tuntunan yang terbaik. Karena 18:50 Dia yang paling tahu betul-betul kondisi 18:52 kita, keadaan kita. Karena Dia sang 18:54 pencipta. Jadi betul-betul tumbuhkan di 18:57 hatinya rasa baik sangka terhadap 19:00 apa-apa yang datang dari Allah. 19:03 Nah, orang tua pada saat tersebut dengan 19:05 sendirinya 19:07 mengontrol pergaulannya. Biarkan dia 19:09 bermain bebas, tapi jauhi dari 19:11 teman-teman yang bakal berpengaruh buruk 19:14 terhadap dirinya. Tontonan yang ditonton 19:16 pun juga harus diawasi karena dia akan 19:19 belajar dari tontonannya. 19:21 Bahkan sekarang anak lebih banyak 19:22 bersama jej daripada bersama orang 19:24 tuanya. 19:25 Jadi usahakan berikan tontonan yang 19:27 bermanfaat. Bukan dilarang untuk 19:29 menonton. Berikan tontonan yang 19:31 bermanfaat yang bisa menumbuhkan 19:33 kesadarannya, memperbaiki akhlaknya. 19:37 Kemudian pada saat waktu istirahat 19:39 hentikan. Pada saat waktu belajar pun 19:40 demikian. Jadi mampu untuk mengatur 19:43 waktunya dengan baik. 19:48 Begitu mulai dia meningkat ya usianya, 19:52 tiba saatnya di mana orang tua ya di 19:56 samping menanamkan sistem nilai ikut 19:59 sertakan dia dalam berpikir, dalam 20:01 bermusyawarah, dalam pengambilan 20:04 keputusan untuk melatih dirinya mandiri. 20:07 Jangan semua keputusan kita ambil. 20:11 Pada akhirnya begitu dia dewasa, dia 20:13 tidak punya rasa percaya diri. 20:15 Saya kenal satu orang baik, 20:19 ahli ibadah, suka menderma, 20:23 kaya raya, pengusaha. 20:27 Tapi dalam usaha, dalam transaksi, baik 20:31 dalam pembelian maupun dalam penjualan, 20:34 dalam mencari solusi, tidak pernah 20:36 sekalipun anaknya ikut sertakan. 20:40 Selalu dia mengambil keputusan. Dia 20:42 selalu merasa anaknya belum punya 20:45 kemampuan. 20:47 Subhanallah. 20:48 Pada saat ayahnya meninggal dunia, harta 20:52 yang ditinggalkan mereka tidak mampu 20:54 jaga. 20:57 Mereka bingung harus berbuat apa pada 20:59 harta yang yang ditinggalkan. Kenapa? 21:02 Karena ayahnya tidak pernah mengajak 21:04 mereka 21:06 mengambil keputusan. Bahkan kalau berdua 21:08 bersama ayahnya 21:10 pada saat si anak membawa mobil, semua 21:13 kendali ayahnya mengendalikan. 21:17 Jadi perjalanan bukan anak ya sebagai 21:20 seorang yang membawa kendaraan yang 21:22 mutuskan. Dia mau naik tol mau katakan 21:25 jalan kemari jalan mana, Bah? Naik tol 21:27 jangan, Pah. Jadi selalu keputusan 21:29 diserahkan pada siapa? Pada orang tuanya 21:32 dia pegang usaha bapaknya tapi apa? 21:36 Keputusan keputusan semua orang tuanya. 21:40 Bayangkan dari mulai kecil sampai beli 21:42 baju, beli sepatu, beli apa, semua 21:45 pilihan orang tuanya. Akhirnya membuat 21:47 itu anak di saat mulai dewasa tidak 21:50 punya kepercayaan diri. Harta yang 21:52 melimpah yang dikumpulkan dengan susah 21:55 payah dihabiskan oleh anaknya karena si 21:57 anak tidak mampu untuk bersikap secara 22:01 baik. Tapi ada lagi 22:04 orang tua pengusaha. 22:07 Begitu anaknya mulai tamat SMA, dibilang 22:10 sama anaknya, "Sambil sekolah 22:14 kamu cari tanah, 22:17 cari tah. 22:18 Kemudian 22:20 kamu bangun. Keuntungan kita bagi dua. 22:25 Dalam tahap awal si ayah lihat tanahnya 22:27 posisinya bagus apa tidak. Di sasi lihat 22:29 posisi cukup bagus, dia beli. 22:33 Kemudian pada saat gambar dia 22:35 berhubungan dengan tukang gambar. 22:36 Setelah itu tanya sama ayah, "Gimana 22:38 ayah si ayah berikan pendapat sesuai 22:40 dengan pengalamannya. Setelah itu ini 22:42 urusan kamu, kamu kerja." 22:47 Allah kasih dari mulai ya dia mulai 22:49 menggarap pekerjaannya sampai si anak 22:52 berkembang. Waktu ayahnya meninggal 22:54 dunia, si anak sudah kaya raya, tidak 22:55 terlalu berharap terhadap warisannya. 22:59 Jadi seharusnya didik anak kita untuk 23:02 mandiri ya, maka dia akan mandiri. Tapi 23:05 kalau kita selalu putuskan 23:10 keputusan pada urusan yang menyangkut 23:13 dirinya, begitu pula tidak melatih 23:14 kecerdasannya, ya anak tersebut tidak 23:18 akan pernah dewasa walaupun kita 23:20 merupakan orang yang kita anggap unggul, 23:23 bijak, anak kita rusak akibat ulah 23:26 perbuatan kita. 23:28 Jadi hendaknya begitu anak mulai 23:30 meningkat dewasa, bukan lagi anak yang 23:33 kita kendalikan, tapi ajak anak tersebut 23:35 untuk berpikir, berdialog. 23:39 Begitu juga berkaitan dengan kamarnya, 23:41 serahkan pilihannya, warna yang dia 23:43 suka, apa yang dia suka. Ya, bahkan 23:46 termasuk di saat dia memilih jodoh, kita 23:49 hanya memberikan pengarahan, memberikan 23:52 nasihat, tapi jangan kita paksakan baik 23:54 laki atau perempuan. 23:56 Saya tidak mengatakan pada anak 23:58 perempuan saya, "Ya, kamu terima si 24:01 Fulan." Tidak. Saya bilang, "Coba kamu 24:02 lihat, kamu bicara sama dia. Kalau tidak 24:05 cocok, jangan kamu paksakan diri kamu. 24:09 Kalau dia cocok, lelakinya baik-baik, 24:11 orang tuanya, keluarganya juga 24:13 baik-baik. Allaha barakatillah." 24:17 Karena di saat dia mengambil keputusan 24:19 sendiri, dia akan punya rasa tanggung 24:20 jawab. dia tidak akan menyalahkan orang 24:22 tuanya, tidak akan menyalahkan takdir. 24:25 Tapi kalau orang tua yang pilihkan ini 24:27 pilihan babah ini, ini pilihan mama, ini 24:29 bukan keputusan saya, akhirnya dia tidak 24:32 akan berjuang untuk apa? Untuk 24:34 menghadapi seluk-beluk kesulitan dalam 24:36 rumah tangganya. 24:38 Jadi kembali Ibu kepada pokok 24:40 pembicaraan kita. Anak ibu tumbuh 24:43 tergantung bagaimana ibu mendidik. 24:47 Kalau ibu hanya mendidik dia untuk 24:49 urusan dunianya, maka ingat 24:52 dia bisa menyia-nyiakan ibu, bisa 24:55 menyia-nyiakan keluarganya karena dia 24:57 tidak merasa apa pernah mendapatkan 24:59 pendidikan tentang hal tersebut. Tapi 25:02 kalau kita ingin anak kita berbakti pada 25:04 kita menjadi orang yang bertanggung 25:05 jawab, mulai hubungkan dia dengan Allah 25:09 yang selalu mengawasi hamba-hambanya 25:11 walaupun dalam kesendirian. Sehingga 25:13 walaupun anak ibu jauh dari ibu, anak 25:16 tersebut akan selalu menjaga dirinya, 25:19 menjaga juga perasaan ibu. 25:22 Ada seorang anak sudah dewasa 25:27 ketika sedang berkumpul dengan 25:28 teman-temannya 25:30 pukul .00 malam, dibilang sama temannya, 25:33 "Saya mau pulang ke rumah." 25:36 Kenapa banci kamu? Dia bilang, "Saya 25:40 tidak ingin membuat gelisah orang tua 25:42 saya. 25:43 Orang tua saya di rumah menunggu. 25:45 Selama ini dia memberikan perhatian, 25:47 mendidik. Saya bisa menjadi seperti ini 25:49 karena orang tua saya. Saya tidak ingin 25:52 membuat dirinya menunggu. Dia 25:54 bergegas-gegas pulang, orang tuanya 25:56 menunggu. Orang tua walaupun anaknya 25:59 sudah dewasa, tetap di matanya adalah 26:01 anaknya. 26:03 Begitu juga istrinya. Istrinya kalau 26:06 istrinya taat, baik, peduli padanya, 26:08 suami juga yang bertakwa pada Allah. 26:10 tidak ingin membuat istrinya bergelisah 26:12 dan susah. 26:14 Pembicaraan yang menyenangkan dia, yang 26:17 baik, yang memberikan semangat, 26:19 memberikan motivasi, apresiasi terhadap 26:22 apa yang dilakukan. Dan dia di saat dia 26:26 selalu ingat Allah, dia akan memaklumi 26:28 kekurangan-kekurangan istrinya. Bukan 26:30 mencercanya, tapi berusaha melakukan 26:32 perbaikannya. Jadi, mulai 26:35 mulai pendidikan kita dengan 26:37 menghubungkan anak kita kepada Allah. 26:39 Dia milik Allah bukan milik kita. 26:41 Sekarang milik kita sebentar lagi. 26:47 Jangankan sebelum kita meninggal dunia, 26:48 pada saat dia mulai dewasa, dia merasa 26:50 dia memiliki dirinya. Terkadang kita mau 26:52 ajak pergi bersama kita, dia mengatakan, 26:54 "Saya punya pilihan yang lain." Ingat, 26:57 di saat dia selalu bersama Allah, dia 27:00 akan tahu kewajibannya kepada Allah, 27:02 kewajibannya kepada ibu, kewajibannya 27:04 pada istri, kewajiban pada anak-anaknya. 27:07 Dan ibu orang tua tidak akan berletih, 27:09 lelah untuk mengarahkan anaknya. 27:14 Tapi kalau kita lupa mengingatkan anak 27:16 kepada Allah, balasan dari Allah anak 27:18 tersebut yang kita besarkan, yang kita 27:22 didik, yang kita perhatikan akan 27:24 mengabaikan ibu. Karena kita mengabaikan 27:26 Allah. Allah berfirman, "Wala takunu 27:29 kalladzina nasulullah faansahum 27:31 anfusahum." Jangan kalian termasuk dari 27:33 orang yang lupa kepada Allah. Akhirnya 27:36 Allah membuat mereka lupa diri. 27:40 Mereka lupa diri, anaknya juga lupa 27:42 diri. Laki-lakinya main perempuan 27:44 selingkuhan. Anak perempuannya juga 27:46 lepas dari kendali. Ini banyak keluhan 27:48 orang tua sekarang ini. Anak perempuan 27:51 yang baik-baik sampai SMA begitu masuk 27:54 perguruan tinggi tidak lagi mau dengar 27:56 orang tuanya. Yang laki-laki pun 27:58 demikian. Tadinya baik, Ustaz, rajin 28:01 beribadah. tahu-tahu ternyata begitu dia 28:04 mulai di perguruan tinggi kenal dengan 28:06 teman-temannya bahkan di SMA mulai tidak 28:09 mendengarkan orang tua. Kenapa? Karena 28:12 mungkin dia salat tapi hatinya tidak 28:14 pernah sama sekali apa dihubungkan, 28:17 diperkenalkan dengan Allah. 28:20 Sebetulnya hidup ini indah. Cinta kepada 28:22 Allah merupakan apa? Merupakan pangkal 28:25 dari segala kecintaan yang positif dan 28:27 baik yang akan dapat menguruskan 28:29 kehidupan kita. Tapi lupa kepada Allah 28:31 merupakan pangkal segala kerusakan. 28:34 Jawaban saya ini bukan jawaban seorang 28:36 psikolog, tapi jawaban seorang ustaz. 28:38 Nanti psikolog insyaallah akan 28:40 memberikan jawaban yang berkaitan dengan 28:42 problema Ibu. Tapi saya merasakan 28:43 betul-betul saya bersama anak-anak. 28:47 Saya sendiri waktu kanak-kanak yang 28:49 paling betul-betul berpengaruh pada kita 28:52 itu apa? Betul-betul pada saat kita 28:54 diingatkan pada Allah. Saya terkadang 28:57 mendengarkan cerita saya punya bibi ya. 28:59 Karena ibu sudah meninggal dunia, dia 29:02 bercerita mengenai cerita tadi malam 29:03 yang didengarkan dari Bang Zaid. 29:07 Bang pernah ngalami enggak, Bang Zaid? 29:10 Diceritakan cerita-cerita, 29:12 pelajaran-pelajaran walaupun dengan 29:13 humor pada saat itu, itu ternyata 29:16 berbekas betul buat hati kita. Mana 29:18 kebaktian pada orang tua, ketaatan pada 29:21 Allah, bagaimana juga memberikan maaf 29:24 kepada saudara kita yang bersalah. itu 29:27 betul-betul merupakan pelajaran yang 29:29 kita enggak sangka-sangka tanpa 29:31 disengaja melalui cerita masuk ke dalam 29:33 hati kita. 29:36 Nah, kasus yang kedua 29:38 berkaitan dengan seorang wanita 29:43 yang merasa dia tidak apa tidak bisa 29:46 memiliki teman. 29:50 Dia merasa bahwa 29:53 setiap kali dia berteman selalu terjadi 29:55 keributan. 29:57 Apakah sebabnya karena dirinya tidak 29:59 pandai bergaul, 30:01 egois seperti yang dikatakan oleh 30:03 teman-teman yang mau menang sendiri 30:06 atau disebabkan karena teman-teman yang 30:09 tidak baik 30:11 dan dia sudah berusaha untuk pindah 30:14 rumah dari tetangga yang lama berpindah 30:17 kepada tetangga yang baru. 30:20 Jawabannya Ibu sederhana. 30:27 Seorang 30:29 yang pandai dan baik itu 30:34 bukan yang mampu untuk mencari banyak 30:37 teman kemudian menyia-nyiakan mereka. 30:41 Ada orang berteman banyak tapi tidak 30:43 lama kemudian apa? 30:45 Dia menyia-nyiakan teman yang begitu 30:47 banyak. 30:49 Tapi orang yang betul-betul apa 30:53 menjadi perhatian dari teman-temannya. 30:57 Orang yang di saat berbicara, 30:59 di saat dia berlaku, 31:02 selalu yang menjadi perhatian adalah 31:04 perasaan teman-temannya. 31:07 Bukan bukan apa bukan mengikuti 31:10 perasaannya, mengukur mereka dengan 31:13 tolok ukur dirinya. Orang yang mengukur 31:15 orang lain dengan apa? dengan 31:18 perasaannya 31:20 semua orang harus memberikan perhatian 31:22 kepada dirinya, 31:24 maka orang seperti jangan harap akan 31:25 memiliki teman. 31:27 Tapi kalau dia berteman dengan orang, 31:30 dia berikan perhatian pada 31:31 teman-temannya ya, dia menghormati 31:35 mereka bahkan dia mengalah dari mereka, 31:39 pada saat itu teman-temannya akan 31:41 memberikan hati mereka untuk dirinya. 31:47 Nah, seringki kita ini apa? Merasa semua 31:49 orang tuh bersalah pada kita. 31:52 Semua orang bersalah kepada kita, tidak 31:55 menghargai kita. Kita lupa. 31:58 Kamu selama ini menghargai mereka. 32:01 Tidak. Berikan tidak perhatian kepada 32:04 mereka. Kalau kamu kehilangan teman kamu 32:07 yang tadinya baik kepada kamu, maka kamu 32:10 akan bisa apa? 32:12 selamanya kamu tidak akan bisa menarik 32:14 orang yang tidak suka pada kamu. Tapi 32:17 sebaik-baiknya orang itu bukan hanya 32:18 menjaga teman yang sudah ada, tapi bisa 32:21 mengubah orang lain yang membenci 32:22 dirinya, yang tidak suka padanya, 32:25 berubah menjadi orang yang baik padanya. 32:28 Ada pepatah dalam bahasa Indonesia, 32:32 teman 1000 sedikit, 32:35 musuh satu banyak. 32:39 Kalau orang logikanya seperti ini ya, 32:41 dia tidak akan mencari musuh. Dia akan 32:43 berusaha betul-betul apa? Untuk bisa 32:46 betul-betul mendekatkan orang di 32:47 sekelinya. Sebagaimana Rasul sallallahu 32:50 alaihi wasallam diperintahkan Allah, 32:52 idfa billati hiya ahsan. 32:55 Hadapi orang, sikapi orang dengan cara 32:57 yang lebih baik. Faidalladzi bainaka 32:59 wainahu adawatun kaahu waliyun ham. 33:02 Hingga orang yang tadinya membenci kamu 33:04 berubah menjadi orang yang begitu 33:06 mencintai kamu. Lalu wama yulaqoha 33:10 illalladina shobaru w yulaqoha illaim. 33:14 Orang yang seperti ini tidak akan sama 33:17 sekali apa diberikan sikap seperti ini 33:20 kecuali yang sabar dan orang-orang yang 33:22 beriman. 33:24 Kalau kita tahu tujuan hidup kita bukan 33:26 di dunia, 33:28 tujuan hidup kita kelak di hari akhir 33:31 nanti. Dan Allah Subhanahu wa taala 33:33 perintahkan kita berlomba-lomba 33:36 untuk melakukan kebaikan, maka semua 33:38 kebaikan yang kita lakukan tidak akan 33:41 sia-sia. Tapi yang paling berbahaya di 33:43 saat setan membisik-bisikkan ke dalam 33:45 hati kamu, jangan kamu rendahkan diri 33:48 kamu. Jangan kamu mengalah. Jangan kamu 33:52 ini, jangan kamu ini memanas-manasi 33:54 hatinya. Itu perbuatan setan. Tapi kalau 33:58 orang yang beriman selalu perilakunya 34:01 didasari ingatan kepada Allah dan 34:03 mengharapkan ridanya. Kalau dia mengalah 34:06 dari temannya, mengalah dari temannya 34:09 walaupun temannya salah, itu akan 34:12 membuat hatinya yang keras akan luluh. 34:15 Saya teringat kepada seorang 34:18 yang alim. 34:21 Seorang a alim dari keluarga Rasul. 34:25 Ketika dia sedang menyampaikan ceramah 34:27 di hadapan murid-muridnya, 34:29 saudara sepupunya datang kepadanya 34:32 mencaci maki di muka umum. 34:37 Bahkan mengatakan kamu ini tidak berguna 34:39 mengajarkan orang lain, tapi kamu begini 34:41 begitu dan lain sebagainya. Dan semua 34:43 yang diucapkan merupakan apa? Merupakan 34:47 ee hasil dari perasaan negatif sebunya. 34:50 Bukan yang sebenarnya 34:52 kan perasaan ini terkadang 34:54 waliyadubillah apa? Bisa membuat orang 34:56 melihat yang putih menjadi hitam, yang 34:59 hijau menjadi kuning. Ya, sebaliknya 35:02 kalau dia cinta yang hitam bisa menjadi 35:04 putih. Betul gak? 35:13 Pandangan cinta itu akan membuat segala 35:16 sesuatu begitu indah di matanya. Tapi 35:18 pandangan kebencian akan mengubah yang 35:20 baik, yang indah menjadi buruk. 35:24 Saudara sepupu yang sedang mengajar ini 35:26 berdiam. 35:28 Ada lagi yang kamu mau sampaikan? 35:32 Dia bilang, "Sudah tidak baik." 35:35 Malam-malam dia datang ke tempat saudara 35:37 sepupunya. Dia ketuk pintunya 35:41 ucapkan salam saudara sepupunya. Sehabis 35:43 dia tumpahkan emosinya, marahnya kan 35:45 timbul penyesalan. Pasti 35:48 dia merasa apa? Merasa malu kan? 35:51 Tapi ternyata ini orang mengatakan 35:54 saya ingin mengucapkan kepada kamu. 35:56 Seandai tadi yang kamu ucapkan ya di 35:59 majelis saya merupakan kebenaran, 36:02 saya mohon ampun pada Allah. Semoga 36:04 Allah membalas kebaikan kamu karena 36:05 mengingatkan saya. 36:08 Seandainya ucapan yang kamu sampaikan 36:10 tidak benar, saya mohon kepada Allah 36:12 semoga Allah memaafkan kamu. 36:16 Saudara sepupunya langsung menangis, 36:19 merangkul dirinya 36:21 memohon maaf bahwa dia sampaikan itu 36:23 karena rasa iri. Dia saksikan saudara 36:25 sepupunya begitu menonjol sedangkan dia 36:29 tidak seperti saudaranya. 36:32 Nah, dia sadar bahwa untuk meraih 36:33 kemuliaan bukan dengan cara kita 36:35 melampiaskan iri kita, tapi dengan 36:37 berbuat yang serupa. 36:39 Dan jangan kita beranggapan kalau kita 36:42 enggak bisa berbuat yang serupa dengan 36:43 Dia, kita enggak bisa buat yang lain. 36:45 Manusia diberikan keistimewaan dan 36:47 keutamaan masing-masing. 36:50 Jadi, ibu dalam pergaulan jangan ibu 36:53 melihat benar salah dengan perasaan ibu 36:58 atau ibu ukur dengan menyenangkan ibu 37:00 atau menyakiti ibu. Karena belum tentu 37:02 yang menyenangkan ibu benar. Belum tentu 37:04 yang menyakiti ibu itu salah. Jadi, kita 37:08 harus berusaha betul-betul apa? Bekerja, 37:10 berbuat kebaikan sebagaimana petunjuk 37:13 yang Allah berikan. Kalau kita salah, 37:15 jangan malu untuk mengakui kesalahan 37:17 kita. Kalau kita benar, bersyukurlah 37:20 kepada Allah dan jangan kita 37:22 menyombongkan diri lalu kita melecehkan 37:24 orang lain yang tidak serupa dengan 37:26 kita. Oleh karena itu, Allah ingatkan 37:28 kita dalam hidup ini untuk selalu 37:30 menggunakan kalimah thayibah. Kalimah 37:34 thayibah. Kalimah thayibah ini bagaikan 37:36 pohon yang akarnya 37:38 menghujam ke dalam batang yang tinggi, 37:41 ranting-rantingnya memberikan kesejukan 37:44 dan buah-buahnya tidak akan pernah 37:45 berhenti. Seorang walaupun tidak 37:47 memiliki sesuatu, tidak memiliki 37:49 kekayaan, tidak memiliki berbagai macam 37:51 fasil hid, tapi kalau dia orang yang 37:53 selalu berkata baik, menjadi orang yang 37:55 paling kaya, menjadi sebutan bagi setiap 37:57 orang. Di rumahnya, di tengah 38:00 keluarganya, anak-anaknya, tetangganya, 38:03 masyarakatnya, setiap orang yang 38:04 mengenal akan menyebutkan kebaikan 38:06 dirinya. Dan itu menjadi modal yang amat 38:09 indah untuk membuat orang terpikat, 38:12 terpesona padanya. Jadi, Ibu mulai saat 38:16 ini coba Ibu banyak melakukan evaluasi 38:19 dan muhasabah. Ibu jangan pernah mau 38:22 menyalahkan orang lain. Salahkan diri 38:24 sendiri, tapi bukan karena putus asa. 38:27 Untuk memperbaiki dan menyempurnakan 38:29 diri ibu hingga ibu, subhanallah bisa 38:33 mengubah bukan hanya orang yang cinta 38:35 lebih cinta, tapi bisa mengubah 38:37 kebencian orang lain menjadi orang yang 38:40 mencintau. 38:41 Waquulu linasi husna. Berkata baiklah 38:46 kamu kepada siapa? Kepada manusia. Itu 38:49 pesan dari Allah Subhanahu wa taala. Dan 38:52 jangan gunakan kata-kata yang tidak 38:53 baik, yang buruk. Saya terkadang tanpa 38:57 disadari 38:59 bertanya kepada seseorang 39:02 tidak dengan maksud buruk, tapi 39:05 pertanyaan tersebut menyinggung dirinya. 39:08 Saya bertanya, "Berapa anak kamu 39:10 sekarang?" Saya lupa. Itu orang ternyata 39:14 enggak punya anak. 39:17 Kan bisa aja dia beranggapan saya 39:18 menyindir dirinya kan itu pulang ke 39:20 rumah menjadi kegelapan yang membuat 39:22 kita sumpek. Sumpek yang luar biasa. 39:26 Jadi kalau kita berbicara tanpa 39:28 disengaja kita menyinggung seseorang itu 39:31 di rumah perasaan gelisah yang luar 39:33 biasa. Jadi kegelisahan tersebut datang 39:36 karena kita salah berbicara. Oleh karena 39:38 itu, mohon pada Allah agar menjaga lidah 39:41 kita. Dan yang paling banyak 39:42 menjerumuskan orang ke dalam api neraka 39:46 adalah lidah kita. Dan yang paling 39:48 banyak menaburkan kebencian lidah kita. 39:52 Lidah kita ini yang paling banyak 39:54 menaburkan kebencian. Nah, sebagai 39:55 penutup dari jawaban ini, 39:58 ada seorang laki-laki 40:00 punya istri empat. 40:03 Tadinya alhamdulillah punya penghasilan 40:05 yang mencukupi, tahu-tahu dia 40:08 ambruh. 40:10 Karena ambruk kan dia enggak bisa apa 40:13 memenuhi kewajiban dia. 40:17 Akhirnya dia bilang, "Sudah, daripada 40:19 saya berdosa, mendingan saya tinggalkan 40:21 sebagian istri saya." Istri yang pertama 40:24 yang punya anak banyak, ya. Kemudian 40:27 datang pada yang kedua, dia bilang, 40:29 "Kamu tahu kondisi saya sekarang? 40:32 Saya enggak bisa melaksanakan kewajiban 40:34 saya sebagai suami. Saya takut berdosa 40:36 di hadapan Allah." 40:39 Jadi saya berpikir, "Bim kalau kita 40:41 berpisah, 40:43 istrinya marah, tidak ada berpisah. 40:46 Kalau kamu tidak punya uang, enggak 40:48 punya ongkos untuk kemari, saya yang 40:49 berikan ongkos." 40:53 Ternyata yang ketiga juga sama, 40:58 yang keempat sama, tidak ada yang mau 41:00 berpisah. Kenapa? 41:03 Karena yang paling mengesankan bagi 41:06 mereka suaminya yang selalu berkata 41:08 lembut. 41:10 Suaminya selalu berkata. Padahal 41:12 biasanya kan di antara madu terjadi 41:14 persaingan. 41:15 Tapi bagaimana coba yang berpotensi 41:18 biasanya sering melakukan keributan? 41:20 Karena kata-kata yang manis bisa membuat 41:23 empat istri menolak untuk berpisah. 41:26 Jadi, Ibu kalau ibu selalu berkata baik, 41:30 berhati baik, dan ibu ingat berikan 41:33 perhatian pada orang di sekeliling ibu, 41:35 ibu akan mendapatkan 1000 perhatian. 41:38 Berikan rasa hormat kepada orang 41:39 sekalian kita. Mereka akan berikan 1000 41:41 hormat buat ibu. Tapi kalau ibu menunggu 41:43 orang menghormati kita, menegur kita, 41:45 menghargai kita, perhatian pada kita, 41:48 lama-kelamaan ibu sakit jiwa. Ibu merasa 41:51 seolah-olah apa? Orang semuanya sinis, 41:54 orang semuanya dengki, orang-orang 41:56 semuanya sedang membicarakan dia. Ini 41:57 kan bahaya sekali kan. Betul. Datang ke 42:00 acara perkawinan, dia berjalan ke sana 42:02 kemari, dia mengharap orang menegur 42:04 dirinya. Enggak ada yang menegur. 42:06 Akhirnya orang kan merasa ini orang 42:08 sombong kan. Tapi kalau Ibu ketemu orang 42:10 dengar senyum, apa kabar Pak? Apa kabar 42:13 jeng? Apa kabar ses? Dihadapi dengan 42:15 senyum. Orang yang tadinya mukanya asem 42:18 berubah menjadi gula aren. 42:21 Jadi mulai dari diri kita semua 42:24 tergantung yang kita tanam. Fammal 42:26 mqatin khairar wal mqaratinar 42:32 yarar. Wallahuam. 42:34 Masyaallah. 42:36 Untuk tidak dibenci orang, disukai orang 42:39 ternyata bukan khas sederhana. Lidah 42:42 memang tidak bertulang. Ya, lantas dari 42:44 dua kasus ini apakah gerangan yang 42:47 disampaikan oleh psikolog kita? Yuk kita 42:49 simak. 42:52 Bismillahirrahmanirrahim. 42:55 Asalamualaikum warahmatullahi 42:58 wabarakatuh. Waalaikumsalam 43:00 warahmatullahi wabarakatuh. 43:02 Alhamdulillah, 43:04 begitu banyak Allah memberikan 43:08 nikmatnya kepada kehidupan kita. dari 43:12 kita kecil hingga kita dewasa. 43:15 Kenikmatan itu penuh dengan berbagai 43:19 macam 43:21 berbagai peristiwa yang kita alami. Itu 43:25 adalah kenikmatan yang luar biasa 43:29 dari kecil hingga dewasa. kenikmatan itu 43:34 kalau kita perhatikan 43:37 kenikmatan-kenikmatan 43:39 yang kita dapatkan lebih besar daripada 43:43 ketidaknikmat. 43:45 Tapi apa yang terjadi? Kok kita 43:48 merindukan yang tidak nikmat 43:52 kok kenapa begini? Kenapa begitu? 43:56 Kita ketahui setiap kita melangkah 44:00 adalah kenikmatan. kita berkata, 44:03 bertemu, berinteraksi 44:07 dengan teman, dengan siapa, itu adalah 44:10 satu kenikmatan dari Allah. 44:13 Tapi kenapa kok perasaan saya dia tuh 44:17 selalu begitu, dia selalu begini? 44:21 Kenapa kok dia selalu mempermasalahkan 44:24 saya? Jadi dia mengatakan dia 44:28 mempermasalahkan 44:29 saya. 44:32 Nah, ada kata-kata dia mempermasalahkan 44:36 saya. Ada kata-kata mempermasalahkan 44:40 saya. Kata mempermasalahkan ini dari 44:45 dirinya atau dari dirinya? 44:49 Dari orang tersebut atau dari dirinya 44:52 yang merasakan. 44:55 Dengan jelas kalau kita perhatikan 44:59 bahwa permasalahan itu datang dari 45:04 dirinya, bukan dari orang lain. 45:09 Bukan dari orang lain, tapi dari 45:12 dirinya. Kenapa kok permasalahan itu 45:15 datang dari dirinya? Karena dia yang 45:18 melihat masalah itu diambil, dirasakan 45:22 di situ tempatnya dia mempunyai masalah. 45:28 Ketika Ibu pindah dari satu tempat ke 45:33 tempat yang lain masih sama juga. 45:38 Yang pertama tetangganya tidak 45:40 menyenangkan. Yang kedua tetangganya pun 45:44 tidak menyenangkan. 45:48 apa yang terjadi semuanya itu kembali 45:52 kepada dirinya. 45:55 Kembali kepada dirinya yang 45:59 mempermasalahkan. 46:01 Kita perhatikan bahwa ada orang yang 46:04 datang kepada kita dengan berbagai macam 46:08 karena baru. 46:11 Karena baru dia enak 46:15 menyenangkan, 46:16 bergembira sekali, dua kali, tiga kali 46:20 melihat perilaku kita yang berbeda. maka 46:24 orang itu sudah tidak menjadikan teman 46:27 lagi. 46:31 Seperti misalnya ketika orang datang, 46:35 assalamualaikum. Waalaikumsalam. 46:38 Kita senyum, kita tertawa, kita gembira, 46:42 kita berikan air minum dan sebagainya. 46:45 kita mendengarkan 46:48 apa yang menjadi keinginan orang itu. 46:52 Karena dia datang, dia ingin membutuhkan 46:55 keinginan. 46:56 Kalau dia datang, dia ingin mendengar 46:59 perkataan kita, kita berikan perkataan 47:02 yang baik. 47:05 Dia datang, 47:08 asalamualaikum. Waalaikumsalam. Oh, iya. 47:10 Silakan duduk. Oh, iya. Iya. kemarin itu 47:13 ada terjadi di situ ya. Kenapa kok dia 47:17 selalu memperhatikan saya? Kita mengadu 47:21 kepada dirinya. 47:25 Waktu kita mengadu, apa yang terjadi? 47:30 Orang itu ngelihat, "Loh, kok 47:31 datang-datang sudah mengeluh ke orang 47:33 lain. Oh, datang-datang mempermasalahkan 47:36 orang lain, mempersoalkan 47:39 orang lain. 47:42 Di sinilah." 47:44 Maka orang yang lain yang datang yang 47:46 teman lagi, yang dekat lagi, dia sudah 47:48 tidak akan mendekat lagi. 47:54 Karena apa-apa yang terjadi dia sudah 47:57 mengeluhkan orang si fulan, si fulan, si 48:00 fulan bukan berkata baik, 48:05 bukan perkataan-perkataan yang baik yang 48:08 dilontarkan, 48:10 bukan melainkan keluhan 48:14 tindakan yang tidak baik. Karena orang 48:17 itu tidak menyenangkan. Itu yang 48:20 disampaikan kepada orang. Apa akibatnya? 48:26 akibatnya dia tidak akan pernah 48:27 mendengarkan dan orang sudah tidak ada 48:29 yang mau dekat lagi sama dirinya. 48:34 Makanya ketika 48:37 ada tamu datang, 48:40 kita sampaikan dengan baik, dengan 48:42 senyuman, dengan kata-kata yang baik, 48:46 dengan menyenangkan. Di sini dia akan 48:49 menyenangkan. 48:51 dan bertemu dengan orang lain mengatakan 48:53 si fulan baik, tidak pernah menyalahkan. 48:59 Karena itulah dia datang untuk 49:04 berteman, bergaul bersama, mau 49:09 mendengarkan kisahnya, mau mendengarkan 49:12 sesuatu yang lebih baik. 49:16 Itu teman yang terbaik. 49:19 Dan yang kedua, coba kita perhatikan. 49:25 Kita perhatikan apa-apa yang kita 49:27 katakan. 49:30 Ketika dia berbicara, kita dengarkan 49:35 apa yang menjadi keluhannya, 49:39 apa yang menjadi kebutuhannya. 49:41 Itu yang kita berikan. Kalau kita mampu, 49:45 kita berikan. Kalau kita enggak mampu, 49:47 kita mohon maaf bahwa saya tidak bisa. 49:54 Sehingga ada ketertarikan orang yang 49:58 datang. 50:00 Dan yang ketiga ketika lagi berjalan, 50:02 lagi di lapangan, di luar bertemu, kita 50:07 senyum, 50:10 kita senyumkan, kita tertawakan, 50:14 di situ akan terjadi interaksi. 50:20 Insyaallah ibu akan menyenangkan. 50:23 Ibu akan senang dengan permasalahan ini. 50:29 Oke. Dan yang kedua, bagaimana mendidik 50:33 anak 50:37 sebagaimana ee Allah memberikan 50:41 kehidupan kita tentu ada tatanya. 50:45 Yang kita ketahui bahwa mendidik anak 50:49 pertama kali kita tidak boleh marah. 50:54 Anak kecil umur 2 tahun menjatuhkan 50:58 gelas pecah. Loh, kenapa kamu 51:02 melakukan itu? Kenapa? Tidak boleh. 51:06 Jadi tidak boleh marah mengomel 51:12 kepada anak-anak. 51:15 pada usia 0 tahun hingga 12 tahun tidak 51:21 boleh dimarahin. 51:27 Ketika dia melakukan, dia melakukan 51:29 sesuatu yang dahsyat, lompat dari ee 51:33 bangku satu ke tempat yang lain, dia 51:36 lompat, dia bergerak, dia tindakan itu 51:40 adalah anak-anak. 51:43 Karena itu proses perkembangannya. 51:47 Kenapa kau dia lari ke sana lari ke 51:49 sini? Karena dia belum mendapat 51:53 sentuhan. 51:55 Kalau dia mendapat sentuhan sering 51:58 dipeluk, waktu disusui dipelukin, dan 52:01 waktu lagi berjalan diambil dipeluk 52:04 dilepas lagi. Tidak terlalu lama 52:07 pelukannya. Kalau pelukan terus nanti 52:10 dipeluk lagi, dipeluk lagi, maka dia 52:12 menjadi kelekatan, maka dia megangin 52:15 terus si mamanya. 52:19 Maka semua itu dengan keseimbangan. 52:25 Jadi kita tidak boleh marah. Tidak 52:27 marah, tidak mengomel, tidak menunjukkan 52:31 yang negatif. Ketika dia salah tuh kamu 52:35 naruhnya salah. 52:39 Tidak sampai dengan umur 12 tahun. 52:45 Setelah umur 12 tahun, kita tinggal 52:48 berdialog. 52:50 Kita tidak marah, tidak ngomel. 52:54 Dan yang kedua tidak menyalahkan. 52:59 Ini kamu nanti yang meletakkan ini, ini 53:02 kamu yang jatuhkan. 53:04 Ini kamu membuat suatu permasalahan. 53:08 Tidak. 53:11 Tidak dipermasalahkan. 53:16 Karena dia itu 53:20 merupakan proses perkembangan. 53:23 Ketika itu dia mengambil. Mengambil itu 53:26 merupakan satu proses perkembangan. Dia 53:29 mengambil kalau kita katakan kamu bisa 53:33 mendapatkan, oh dia senang, dia 53:35 bergembira. 53:39 Dia mendapatkan sesuatu, dia meletakkan 53:42 sesuatu dia senang. Dan kita katakan 53:47 sampai tuh kamu sudah bisa tuh kamu 53:51 sudah bisa melakukan ini. Kamu sudah 53:54 mampu mengerjakan kamu sudah apresiasi 53:59 ini meningkatkan dirinya. 54:05 Dengan kita tidak marahin, kita tidak 54:08 mempermasalahkan, dia akan membuka, 54:12 pikirannya akan terbuka, 54:17 pikirannya akan menjadikan senang, 54:20 bangga. 54:24 Kita tidak marah-marah, tidak memberikan 54:26 ee sesuatu yang salah, tidak. Tapi kita 54:31 melembutkan, kita kata-kata yang baik, 54:34 kita menyenangkan dan kemudian kita 54:37 berikan apresiasi. 54:40 Apresiasi ini yang membuat dirinya 54:44 meningkat. 54:47 Jadi, harga dirinya juga meningkat. 54:50 Sampai umur 12 tahun dia merasa dirinya 54:53 keker. Dia bisa melakukan sesuatu. 54:58 Dan yang ketiga tidak dipertanyakan, 55:04 tidak dipertanyakan. 55:08 Kamu sudah salat belum? 55:10 Kamu sudah makan belum? Kamu sudah mandi 55:12 belum? Tidak. 55:17 Yuk, kita salat kita bersama-sama. 55:23 Walaupun kitanya sudah salat, dianya 55:25 yang salat, kita tetap mengatakan, "Yuk 55:29 kita salat." 55:31 Kalau usianya sudah sampai waktu makan, 55:34 yuk kita makan kita. Jadi di usia 55:40 12 tahun ke bawah, dari 0 sampai dengan 55:43 12 tahun itu kita barangkan, kita 55:47 masukkan kata-kata kita. 55:53 tidak bilang nah kamu kamu sudah makan 55:56 belum? Kamu makan dulu nih makanan ini. 55:58 Ini dimakan nih. Tuh kalau kamu makan 56:00 nanti cepat gemuk kamu akan sehat. 56:03 Enggak gitu nih makanan kita makan. 56:10 Ini makanan enak sekali. Yuk kita 56:14 cobain. Kita cobain. 56:18 Coba kita rasakan. 56:21 kita rasakan 56:24 bukan bilang coba kamu rasain dulu kamu 56:26 enak enggak kalau kamu enak langsung 56:28 kamu makan enggak gitu 56:32 yuk kita coba 56:35 yuk kita rasakan ada kita di sini bukan 56:40 pertanyaan bukan apa membuat statement 56:47 jadi yang ketiga itu membuat statement 56:50 Bagaimana statement-statement itu yang 56:53 dia akan kagum, dia akan berpikir, dia 56:56 akan melakukan sesuatu dengan 56:59 kognitifnya, 57:01 pengetahuannya. 57:03 Yang tadinya enggak tahu jadi tahu, oh 57:05 itu tidak boleh, oh ini enggak boleh. 57:08 Dia akan berpikir. 57:13 Kalau dia sudah berpikir, wah senang 57:16 sekali. Setelah 12 dia mulai merasakan, 57:20 dia melakukan sesuatu dengan 57:22 menyenangkan. 57:26 Jadi bagaimana? 57:29 Tidak marah, 57:31 tidak menyalahkan, dan tidak banyak 57:34 bertanya. Kita tidak mempertanyakan 57:38 personal, tapi kita ajak dia 57:41 bersama-sama. 57:43 Insyaallah tiga poin, tidak marah. 57:47 tidak mempermasalahkan, 57:51 tidak bertanya, itu adalah keindahan. 57:55 Insyaallah. Masyaallah, ikhwan akhwat, 57:59 semoga kita semakin mampu membimbing 58:02 anak-anak kita menjadi sosok yang kita 58:04 dambahkan. Sayang sekali waktunya 58:07 sedikit. Bisa tambahkan, Ustaz? Jadi 58:09 kesimpulannya 58:11 seperti yang Ustaz Ab Bakar sampaikan 58:12 tadi ya, 58:14 mendidik anak ini memang 58:18 di samping 58:20 kita betul-betul ya 58:25 punya konsistensi istikamah. 58:28 Kemudian ketauladanan orang tua paling 58:31 penting. 58:32 Jadi kalau saya suka menyalahi janji, 58:37 tidak bertanggung jawab, anak kita 58:39 menyaksikan hal tersebut, ini akan 58:41 menjadi contoh yang melekat lebih 58:43 daripada ucapan yang kita ucapkan. 58:46 Kalau orang tua mengatakan pada anaknya, 58:50 "Kamu tidak boleh merokok." Anak kecil 58:52 tidak boleh merokok. Si anak beranggapan 58:55 bahwa kalau sudah dewasa dia boleh 58:56 merokok. 58:58 Seharusnya kalau orang tuanya ingin 58:59 menjauhi anaknya dari rokok, mulai dari 59:02 dirinya. Wabda binafsik, mulai dari diri 59:05 kamu. 59:07 Jadi pertama ketauladanan, kedua 59:10 istiqamah ya. Kemudian yang ketiga 59:14 yang menjadi roh dari pendidikan 59:15 tersebut cinta. 59:18 Cinta ini subhanallah 59:21 tidak membutuhkan biaya besar. Tidak 59:23 harus kita pergi ke sana kemari untuk 59:26 membeli cinta. 59:27 Apabila hati kita memiliki betul-betul 59:29 luapan cinta yang bersumber dari rahmat 59:32 Allah Taala, Allah kasih, Subhanallah, 59:34 dapat menjadi samudra yang menggenangi 59:37 kehidupan ini, akan membuat orang 59:40 merasakan rasa damai, kedekatan, dan 59:43 tentram. 59:44 Kemudian 59:46 didik anak kita juga dengan apa? Dengan 59:49 tanggung jawab. 59:52 berikan tugas-tugas sesuai dengan 59:53 kemampuan dia. 59:56 Kalau dia melakukan tugas dengan baik, 59:58 berikan apresiasi. Kalau dia melakukan 1:00:00 kesalahan, 1:00:02 dia harus menanggung konsekuensinya. 1:00:04 Bukan dengan cara-cara yang menyakiti 1:00:07 fisiknya atau menyakiti perasaannya, 1:00:10 tapi supaya dia menyadari kesalahannya 1:00:11 agar dia bisa meningkatkan kinerjanya 1:00:13 lebih baik lagi dan pilih pilihkan 1:00:17 teman-teman dan lingkungan yang baik 1:00:19 baginya. Saya merasa kemunduran yang 1:00:21 saya alami 1:00:23 di antaranya berteman dengan teman yang 1:00:25 salah. Tapi kemajuan yang kita dapatkan 1:00:28 terkadang hanya duduk satu hari bersama 1:00:31 teman kita. Ternyata membawa kita menuju 1:00:33 wawasan dan subhanallah memperlihatkan 1:00:36 kesalahan kita selama ini. Kesalahan 1:00:39 kita terlihat karena bersama teman yang 1:00:41 baik. 1:00:43 Teman yang menjadi contoh dan lingkungan 1:00:45 yang baik. Dan saya banyak melihat 1:00:47 contoh-contoh orang-orang yang baik ya. 1:00:50 di antaranya merupakan orang yang dekat 1:00:52 dengan kita, keluarga, orang tuanya 1:00:54 berikan kepercayaan. Dari mulai 1:00:55 kanak-kanak ternyata begitu orang tuanya 1:00:59 tua, orang tuanya tidak letih lagi. Anak 1:01:02 ini yang menjadi apa? Orang yang 1:01:04 bertanggung jawab bahkan mengurus 1:01:06 saudara-saudarinya sampai pada 1:01:08 anak-anaknya. 1:01:10 Jadi menjadi bapak dalam usia muda. 1:01:12 Karena apa? Karena dia menikmati. 1:01:15 Menikmati pekerjaan tersebut sebagai 1:01:17 apa? bukan sebagai beban buat dia, tapi 1:01:20 sebagai satu kenikmatan. Dia bisa 1:01:22 berbakti kepada kedua orang tuanya, bisa 1:01:24 berbuat baik kepada saudara saudarinya 1:01:26 hingga dia menjadi apa? menjadi orang 1:01:29 yang betul-betul paling dicintai, 1:01:31 dihormati oleh kedua orang tuanya maupun 1:01:35 keluarga-keluarganya yang lain. Maka di 1:01:38 saat kita ini hidup bukan hanya untuk 1:01:40 diri kita, tapi untuk keluarga kita, 1:01:42 untuk orang lain, kecintaan Allah 1:01:45 Subhanahu wa taala akan bertambah dan 1:01:47 petunjuknya pun demikian. Sebagaimana 1:01:49 firman Allah, inna rahmatullah 1:01:52 qoribun minal muhsinin. Sesungguhnya 1:01:55 rahmat Allah amat dekat dari orang yang 1:01:57 berbuat kebaikan. Maka Nabi dalam 1:02:00 mendidik umatnya, begitu juga mendidik 1:02:03 keluarganya, selalu berpegang kepada 1:02:05 peribasyiru 1:02:07 wala tunafiru. Sebarkan kabar gembira. 1:02:11 Jangan kalian membuat orang lari. 1:02:13 Kemudian yasiru wala tuassir. Permudah. 1:02:16 Jangan kalian mempersulit dalam agama 1:02:19 demikian. Permudah. Kalau memang itu 1:02:21 mudah, jangan kita persulit bagi orang 1:02:24 lain. Dan apa-apa yang kita lakukan ini 1:02:28 menjadi contoh buat keluarga kita, buat 1:02:31 juga orang-orang di sekeliling kita. 1:02:33 Nah, kita menyadari sebagai seorang 1:02:34 ustaz bukan orang yang sempurna, penuh 1:02:36 dengan kesalahan. Terkadang kita belajar 1:02:40 dari teman bicara kita, belajar dari 1:02:43 teman-teman di sekeliling kita. Kita 1:02:45 buka mata kita dan jangan pernah kita 1:02:49 malu untuk mengakui kesalahan kita dan 1:02:52 memperbaiki kesalahan-kesalahan yang 1:02:55 pernah kita ucapkan ataupun pernah kita 1:02:57 lakukan. Semoga Allah Subhanahu wa taala 1:03:01 membimbing kita semua untuk senantiasa 1:03:04 terus menuju kemuliaan. 1:03:07 Bila kita berdosa, bersalah, kita mohon 1:03:09 ampun. Bila kita melakukan kebaikan, 1:03:12 kita bersyukur memuji kepada Allah yang 1:03:14 telah memberikan hidayahnya kepada kita 1:03:16 semua. Semoga para pendengar, para 1:03:18 pemirsa yang ikut dalam psikologi 1:03:21 keluarga ini, Allah Subhanahu wa taala 1:03:24 sempurnakan hidayahnya, bahagiakan rumah 1:03:26 tangganya, jadikan anak-anaknya sebagai 1:03:28 anak-anak yang saleh, yang berbakti 1:03:30 kepada kedua orang tua, yang bertanggung 1:03:33 jawab sebagai khalifah Allah di atas 1:03:36 muka bumi ini. Hingga membawa kemuliaan 1:03:38 bagi mereka, bagi orang tua mereka, 1:03:41 begitu pula bagi bangsa dan umat mereka. 1:03:43 Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla 1:03:46 ilahailla anta astagfiruka wa atubu 1:03:49 ilaik walu minkum. Wasalamualaikum 1:03:52 warahmatullahi wabarakatuh. 1:03:54 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:03:56 wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Hutain, 1:03:58 Ustaz Abu Bakar, kemudian juga Ateb, 1:04:02 Rizal, dan Algi untuk kebersamaan kita 1:04:05 di psikologi keluarga kali ini. Billahi 1:04:07 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 1:04:10 warahmatullahi wabarakatuh.