Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [Musik] 0:07 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:17 warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan 0:19 akhwat rahimakumullah. 0:21 senang sekali bisa hadir ke ruang Anda 0:24 untuk acara bincang hijrah karena Mas 0:27 Krishna berhalangan dan mudah-mudahan 0:31 bahasan kali ini juga akan 0:35 memberikan pencerahan terkait topiknya 0:39 dan tentu tidak lupa salam selawat kita 0:42 lantunkan untuk junjungan umat kekasih 0:46 kita Muhammad Rasulullah sallallahu 0:48 alaihi wasallam. Semoga kelak kita 0:50 dipertemukan beliau di saat yang sangat 0:53 kita rindukan di yaumil 0:55 akhir. Ikhwan akhwat, bincang hijrah 0:59 kali ini bukan hanya Bang Habib Emm 1:04 Alhusaini yang hadir, tapi juga ada 1:07 sahabat kita satu lagi yaitu 1:10 mudah-mudahan enggak salah sebut ya, Mas 1:13 Ismail 1:14 Fahmi yang merupakan pakar AI sekaligus 1:20 juga 1:22 emm sosok yang tahu banget tentang big 1:25 data. Ya. Dan 1:29 kalau sudah siap di ujung sana, 1:33 mudah-mudahan internet kita aman ya. 1:36 Karena kita tidak live langsung dari 1:39 studio. Berarti Anda enggak bisa telepon 1:41 ya, kirim saja WA. Baik, kita sapa 1:45 beliau. Asalamualaikum warahmatullahi 1:48 wabarakatuh. Bang Habib apa kabar nih? 1:53 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:54 wabarakatuh. Mbak Nuning, apa kabarnya? 1:56 Sehat, alhamdulillah. Iya, jadi Bang 1:59 Habib M. Alhusini SKOM, MM siap 2:04 menghadirkan juga sahabat kita yang 2:06 satunya, Mas Ismail Fahmi yang merupakan 2:10 pakar AI sekaligus juga big data dan 2:14 merupakan founder dari 2:17 Drone M. 2:20 Asalamualaikum, Mas Fahmi. 2:24 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:26 wabarakatuh. Ee Mbak Nuning ya, salam 2:29 kenal. Nah, ini juga ee Mas Habib, Bang 2:31 Habib. 2:33 Habib Habib kita baru kemarin kita 2:38 terima kasih sekali untuk kesediaannya 2:40 berada di Bincang HRA yang kalau enggak 2:43 salah tadi waktu di off air mau bicara 2:46 tentang pembahasan media sosial, 2:50 pembatasan media sosial bagi anak. Wow. 2:55 Iya, kayaknya enggak sabar deh, Bang 2:57 Habib dan juga Mas Fahmi. Silakan. 3:04 Oke, asalamualaikum warahmatullahi 3:05 wabarakatuh. Terima kasih pendengar yang 3:08 kami hormati dan kami banggakan. 3:10 Mudah-mudahan dalam lindungan dan kasih 3:12 sayang Allah Subhanahu wa taala. Amin. 3:15 Hari ini agak sedikit berbeda dengan 3:17 tema biasanya biasanya kita membahas 3:20 terkait bisnis ee digital ee dan scale 3:26 up usaha gitu. Hari ini kita ada tema 3:30 yang cukup menarik karena sedang viral 3:34 ya ee terkait pembatasan usia media 3:37 sosial. Nah, ini langkah strategis dari 3:41 pemerintah untuk melindungi generasi 3:44 emas ya untuk mempersiapkan Indonesia 3:46 emas 2045. 3:48 Nah, jadi 3:50 ee pemerintah Indonesia lewat KOMDI ee 3:54 sedang menyusun regulasi terkait 3:57 pembatasan usia ee media sosial buat 4:00 anak. Nah, jadi Indonesia ini sebetulnya 4:03 ee situasinya kritis, Mbak Nuning. Nah, 4:06 kenapa ee terkait penggunaan media 4:08 sosial ee oleh anak-anak dengan ee 4:11 urutan keempat dalam akses pornografi di 4:15 dunia? Ya, jadi di dunia ni kita urutan 4:17 keempat untuk akses pornografi dan ini 4:21 eh beresiko ya untuk anak ini ee 4:26 beberapa resikonya dari mulai gangguan 4:29 mental, depresi, kualitas e interaksi, 4:33 ee kecanduan pornografi, kecanduan 4:36 perangkat digital dan lain-lain. Jadi 4:38 kalau Mbak Nuning lihat e mungkin 4:40 fenomena yang kita sering ee lihat di 4:44 konten-konten media sosial, bagaimana 4:46 anak-anak ditanya hal-hal simpel, 4:48 pertambahan, pengurangan gitu ya. Ee itu 4:51 enggak bisa gitu ya. Banyak 4:54 ee hal-hal ee yang secara teknis itu ee 4:58 sangat mudah itu tidak bisa dijawab. 5:00 Nah, ini juga menarik ya. Nah, jadi 5:04 nanti ee pemerintah itu juga akan 5:07 membatasi dari mulaiin ee akses ee 5:12 YouTube apa Facebook dan lain-lain. Jadi 5:15 dari mulai pembuatan account sampai 5:18 mekanisme ee bagaimana cara 5:21 menggunakannya. Jadi bertahap 5:22 implementasinya kalau saya boleh ee 5:26 sedikit bahas 5:27 terkait bagaimana mekanisme media sosial 5:31 ini merusak otak anak ya. Jadi ada 5:35 namanya eh personalized marketing Mbak 5:37 Noning. Personalized marketing ini 5:39 bagaimana konten-konten itu disesuaikan 5:42 dengan ee apa yang anak-anak suka gitu 5:45 ya. Ee nah itu konten-konten itu 5:48 disajikan secara instan lewat 5:49 video-video gitu ya, lewat video-video 5:52 bagaimana ee video-video ini ee yang 5:55 disukai ini akan muncul terus di ee 5:59 hadapan anak-anak ini gitu ya. Jadi ada 6:01 media 6:02 sosial yang saya enggak sebutkan salah 6:04 satu media sosial yang berbasis video 6:06 dan itu ditiru oleh media sosial yang 6:09 lain itu menampilkan hal-hal yang 6:11 disukain oleh anak-anak gitu ya. Nah, 6:14 akhirnya apa? 6:16 sekarang ini ancamannya bukan ancaman ee 6:19 dari personal tetapi udah ancaman 6:21 nasional. Bagaimana penurunan ya fungsi 6:24 otak dari anak-anak gitu ya. Jadi ada 6:26 istilahnya namanya brand root gitu ya, 6:28 pembusukan otak. Nah, bagaimana ee 6:31 konsumsi konten berlebihan ini bisa 6:34 menggerogoti ee generasi muda gitu ya. 6:38 Jadi ee ada studi yang menunjukkan bahwa 6:42 ketika ee kita di suuhkan dengan 6:46 scrolling media sosial tanpa henti ini 6:49 akan memicu pelepasan dopamin dan 6:51 akhirnya itu akan menyebabkan fungsi ee 6:55 otak terutama di area yang bertanggung 6:58 jawab atas pengambilan keputusan ee itu 7:02 menurun. Jadi ada area abu-abu di 7:05 korttex namanya di daerah otak yang 7:08 bertanggung jawab buat pengambilan 7:10 keputusan dan pengendalian impuls. Jadi 7:12 anak-anak muda yang sering apa namanya 7:14 media sosial dan lain-lain dia enggak 7:16 respon sama teman-temannya. Dia enggak 7:18 respon sama apa enggak sensitif gitu ya. 7:21 Ee karena apa dia menurun itu fungsi 7:24 otaknya di di area abu-abu itu ada 7:27 studinya gitu ya. Nah, algoritma media 7:29 sosial yang semakin canggih dengan big 7:31 data dan AI ini ee makin parah 7:35 memperparah ini. Jadi, orang-orang yang 7:37 ee suka dengan misalnya Mbak Nuning suka 7:40 dengan apa misalnya ee apa ee Mbak 7:44 Nuning sukanya apa misalnya temanya itu 7:46 akan disuguhkan terus gitu. Ee nah 7:51 macam-macam ini. Jadi ee istilahnya itu 7:53 macam-macam. ada eko chamber, chamber, 7:56 dan lain-lain. Jadi istilahnya bagaimana 7:59 ee cara berpikir kritis dan objektif itu 8:02 terkikis gitu ya. Ketika kita sudah 8:03 dewasa mungkin bisa memfilter, tapi 8:05 anak-anak ini ee ee dia akan berkurang 8:10 gitu cara berpikirnya itu. Jadi ini yang 8:12 ee semakin menarik ya. Nah, eh 8:15 alhamdulillah hari ini kita kedatangan 8:18 ee sahabat saya Mas Ismail Mahmi. Beliau 8:20 itu ekspert praktisi ya di bidang eh big 8:24 data dan AI gitu ya. Beliau ngambil 8:27 doktornya tuh di Belanda gitu. Jadi ee 8:31 sangat ee ekspert di bidang ini gitu ya. 8:34 bagaimana ee mungkin kita membahas itu 8:37 nanti ee terkait ee ee gimana 8:40 digitalisasi ini gitu ya, bagaimana ee 8:43 terkait literasi digital mungkin ee 8:46 regulasi teknologinya atau bagaimana 8:48 dampak ke anak-anak kita ini. Jadi ini 8:50 penting e buat ee fondasi ketahanan 8:53 nasional gitu di era digital gitu. Itu 8:56 mungkin ee sedikit intro dari saya, Man 8:58 Nuning. Ee silakan dilanjutkan. 9:03 Terima kasih sekali. Ini enggak sabar 9:06 nih ya. Apa kata Mas Fahmi yang 9:08 merupakan pakar AI terkait dengan 9:11 bagaimana pembatasan medsos bagi 9:13 anak-anak nih. Monggo. 9:17 Baik, terima kasih Mbak Nuning ya dan 9:19 Habib eh baik para pendengar ee sekalian 9:23 ya dari ee Rasio TV di mana pun Anda 9:26 berada. Saya senang sekali terima kasih 9:28 ada di sini. ini yang kedua kalinya saya 9:30 di sini ee dulu di kantor saya dan saya 9:34 senang sekali di kesempatan sekarang 9:35 karena kita membahas satu topik yang 9:37 lagi hot yang sangat penting yaitu ee 9:41 tentang pembatasan usia ee anak untuk 9:44 mengakses media sosial yang sekarang 9:46 lagi digagas oleh KOMDKI ya gitu. Eh oke 9:49 tadi Habib sudah ceritakan sebagai latar 9:52 belakang landasannya dan Indonesia nomor 9:55 empat gitu dan begitu ee terkait dengan 9:57 akses pornografi ya. dan juga terkait 9:59 dengan pornografi anak itu termasuk 10:01 sangat tinggi itu ee di Indonesia. Nah, 10:05 sebetulnya tadi saya punya data ya kalau 10:07 bisa nanti saya share screen ee mohon 10:10 kasih tahu saya akan share. Ee kemarin 10:12 itu kebetulan saya diminta di salah satu 10:15 taus TV juga untuk menganalisis ini 10:17 minggu lalu dan saya siapin bagaimana 10:19 akses ee pornografi di salah satu 10:23 platform media sosial ee khususnya 10:25 Twitter. Eh kebetulan e drone kami 10:29 membantu komdiki itu sejak tahun 10:32 2018 sejak eh Menkominfo itu Pak 10:35 Rudiantara. Nah, di sana kita buat 10:38 sistem ee salah satu tugasnya itu adalah 10:40 bagaimana bisa meng-capture percakapan 10:43 terkait dengan pornografi dan perjudian 10:45 saat itu. Karena ee ujung-ujungnya itu 10:48 ee perjudian biasanya ada konten-konten 10:50 pornografi, orang masuk ke sana diwasa 10:53 kemudian dikasih link ke perjudian. saat 10:55 itu seperti itu. Dan ketika kita pasang 10:57 sistem yang kami kembangkan ee dulunya 11:00 situs-situs terkait dengan pornografi 11:02 itu butuh laporan dari masyarakat dan 11:05 secara manual dicari sendiri oleh 11:06 petugas dari Kominfo waktu itu. Nah, 11:09 dengan bantuan tools big data yang kita 11:10 kembangkan itu bisa langsung dapat 11:12 sekitar jutaan ee yang bisa diblokir ee 11:15 dan kemudian juga akun-akun di media 11:18 sosial ya itu kita dapat dan memang 11:21 ternyata pertumbuhannya itu luar biasa. 11:24 hampir tidak bisa mengejarlah. Apalagi 11:26 sekarang em kalau saat itu kita lihat ya 11:29 di Twitter itu video itu kan terbatas 11:31 yang paling cuma berapa detik ya paling 11:34 mentok 2 menit sekarang itu bisa 2 jam 11:36 dan enggak terbat ya. Dan kalau kita 11:39 lihat konten-konten terkait dengan 11:40 pornografi, kalau kita share eksplisit 11:43 di Facebook akan di-take down kan. Kalau 11:46 itu ada di IG juga sama di TikTok yang 11:49 eksplisit itu di-take down tetapi kalau 11:51 di Twitter enggak. Jadi video-video yang 11:55 asli apa adanya itu tidak diblokir sama 11:57 sekali dan bisa 2 jam berapapun gitu. 12:00 Nah, ini yang akses kalau yang akses itu 12:03 orang dewasa dia ya dia tahulah dia ada 12:05 harus ada mungkin tanggung jawab bekerja 12:07 dan lain-lain. Dia bisa tahu ee 12:09 membatasi waktunya. Tapi kalau yang 12:11 namanya anak-anak kadang mereka itu 12:12 enggak bisa ee mengontrol diri ya. 12:16 Kadang belum tahu mana yang benar dan 12:17 mana yang salah. Di dalam Islam pun juga 12:19 sama kan ada akil balik. Kenapa ada akil 12:21 balig? itu karena mereka bisa membedakan 12:23 mana yang baik dan benar. Nah, ini kalau 12:25 anak-anak mereka menggunakan akun-akun 12:27 yang ee pura-pura orang dewasa dan 12:30 menuju ke platform ini. Dan saya juga 12:32 banyak dapat laporan itu anak-anak itu 12:35 pada masuk ke slash-nya Twitter itu 12:36 untuk melihat gitu ya. Itu itu luar 12:39 biasa. Nah, dan 12:41 dan ini kalau dilihat ini gambar di 12:43 belakang saya ini adalah contoh 12:45 percakapannya nih. Nah, kalau dilihat 12:46 nih ya. Nah, ini ini adah contoh 12:47 percakapan di Twitter untuk periode 12:50 hanya 3 bulan. 12:51 tentang pornografi. Jadi saya masukkan 12:53 kata kunci terkait pornografi. Mohon 12:55 maaf kayak ee dalam bahasa Indonesia ya, 12:57 kayak dan lain-lain. Itu ada 12:59 sekitar berapa itu? Hampir 200 kata 13:01 kunci saya kumpulkan. Luar biasa banyak 13:03 percakapannya. Ini tahun eh tahun 2022 13:06 karena terakhir saya punya data itu. Ini 13:08 lagi saya kumpulkan untuk tahun 13:09 sekarang. Tahun 2022 video itu belum eh 13:12 masih dibatasi pendek. Nah, sekarang 13:14 enggak ada pembatasan, tidak ada content 13:16 filtering di Twitter, semuanya bebas dan 13:19 saya kira jauh lebih parah itu. Nah, ini 13:22 ini satu ya satu situasi yang kita 13:24 hadapi ee ketika kita bicara bagaimana 13:27 kita bisa membatasi anak itu untuk tidak 13:29 mengakses. Kebanyakan orang berargumen 13:33 bahwa kita enggak boleh membatasi. 13:34 Kenapa? Ada hak digital. Ee ases media 13:37 sosial sangat masih penting gitu ya. ee 13:40 harusnya literasi orang tua ini tanggung 13:43 jawabnya orang tua, tanggung jawabnya 13:44 guru misalnya kayak gitu. Kita sudah 13:46 mencoba untuk melakukan literasi 13:48 digital. Ee Kominfo itu kan ada beberapa 13:52 program ya yang dilakukan tetapi enggak 13:54 bisa mengejar itu ee enggak bisa 13:57 mengejar literasi digital. Anak-anak, 13:58 orang tua itu masih belum sadar. Jadi 14:01 kalau hanya mengandalkan literasi 14:02 digital, mengandalkan ee ee guru 14:06 kemudian orang tua saja sementara di 14:08 sumbernya ini masih begitu melimpah 14:11 seperti kalau saya melihat mungkin 14:13 tsunami ya bukan bukan air bah. Kemudian 14:15 juga tsunami tentang pornografi. 14:17 Pornografi ini salah satu kan ada 14:19 perjudian dan lain-lain. Ini baru satu 14:20 aja. Ini enggak enggak bisa jadi 14:23 tenggelam saja. Kalau saya bayangin itu 14:25 anak-anak kita sudah tenggelam. Diajari 14:27 berenang tidak diajarin berenang ya kan. 14:29 orang tua yang ada di pinggir sungai itu 14:31 tidak menolong juga membiarkan aja 14:33 anak-anak itu. Jadi situasinya seperti 14:34 itu. Sehingga yang salah satu yang 14:36 sekarang lagi dipikirkan oleh pemerintah 14:38 adalah untuk membatasi anak-anak tidak 14:41 boleh berenang di situ. Nah ee sehingga 14:44 ee usia berapa maksimal itu 16 tahun. 14:47 Jadi 16 tahun ke bawah itu di ini ada 14:50 pertimbangan psikologis ya. di usia 16 14:52 tahun ke bawah itu dianggap belum bisa 14:54 menentukan mana yang konten yang baik 14:56 dan atau tidak buat dia. Sehingga perlu 14:59 di di apa dihalangi supaya tidak 15:01 mengakses media sosial yang ini gitu. 15:04 Nah, ee ini salah satu langkah yang 15:06 dilakukan oleh pemerintah. Nah, dan ee 15:09 kemudian kita lihat bagaimana dengan 15:11 negara lain ya. Belum lama ini tahun 15:13 lalu itu cukup ramai itu ee Australia. 15:16 Australia 15:19 sudah mencahkan ya aturan ee DPR mereka 15:23 sudah menyetujui untuk beberapa waktu ke 15:26 depan itu akan menerapkan di mana ee 15:28 platform ee media sosial itu harus 15:31 benar-benar bisa mengontrol ini anak 15:34 usia berapa dan anak kalau usia di bawah 15:35 16 tahun tidak boleh mengakses. Dan 15:38 kalau di sana mereka kan punya kelebihan 15:40 ya itu pemerintahnya itu kan punya 15:41 otoritas yang kuat kan ee bisa ngpush, 15:44 bisa memberikan denda gitu kepada 15:46 platform gitu. Nah, sementara kalau kita 15:48 lihat di pemerintah kita kan masih lemah 15:50 ee kita belum kuat minta untuk ngepus 15:53 ya. Makanya ini jadi tantangan. Kalau 15:55 saya pribadi, saya sangat setuju. Saya 15:57 sangat setuju dengan rencana ee Komdigi 15:59 ini untuk membatasi karena tadi 16:01 ilustrasinya itu seperti ee tsunami atau 16:04 mungkin banjir. Ee anak-anak kita tidak 16:06 diajari berenang. Orang dewasa yang di 16:09 pinggir pun berenang pun kadang-kadang 16:10 juga enggak bisa berenang mereka dan 16:12 tidak bisa menolong gitu. Sehingga ya 16:14 sudah ditahan dulu supaya enggak terjadi 16:15 banjir ya gitu. Nah, tapi ini enggak 16:18 cukup ya ee membatasi saja enggak cukup. 16:22 Jadinya apa? kan harus diajari berenang 16:25 ya kan anak-anak harus diajari berenang, 16:26 orang tua diajari berenang. Artinya 16:28 harus ada proses literasi juga yang 16:30 dijalankan. Nah, pelajaran berenang ini 16:33 dijalankan ee sejak kapan dan bagaimana 16:36 seharusnya gitu. Nah, kalau kita lihat 16:39 di Indonesia selama ini ya pelajaran 16:41 berenang untuk ee literasi digital itu 16:44 kadang-kadang sifatnya kan kayak seminar 16:46 ya, pendidikan ee mungkin ada 16:49 pelatihan-pelatihan gitu dan itu sangat 16:51 jauh dari cukup. Di negara lain itu ada 16:53 namanya ee digital citizenship 16:57 kurikulum. Jadi kurikulum untuk menjadi 16:59 warga digital. Jadi sebetulnya kita ini 17:02 kan jadi masuk ke internet ini kan warga 17:03 digital sebetulnya. He di ee warga dunia 17:07 tapi dunia digital. Nah, sebagai warga 17:09 digital itu kita harus tahu di sana itu 17:12 ee hak dan kewajibannya apa, 17:14 ancaman-ancamannya apa saja, apa yang 17:17 boleh dan tidak boleh gitu. Misalnya 17:18 contoh anak-anak itu kan misalnya tidak 17:20 boleh mereka melihat konten pornografi 17:22 misalnya itu seperti kalau dia diajarin 17:25 nyetir ya kan tadi kan ada oh lampunya 17:28 merah kan harus berhenti. Kalau lampu 17:30 merah harus berhenti. Nah anak ini juga 17:32 diajarin ketika diat sebuah konten. 17:35 Konten ini kalau tentang pelajaran 17:37 matematika atau fisika berarti kan lampu 17:39 hijau kan dia bisa jalan terus. Nah 17:42 kalau kontennya itu pornografi, 17:44 anak-anak harus tahu bahwa itu lampu 17:45 merah. Stop ya. Enggak, jangan, jangan 17:47 jalan terus. Ada enggak pelajaran 17:49 seperti ini yang kita berikan kepada 17:51 anak-anak kita mulai dari play group, 17:54 SD, SMP, SMA? Ini sebagai contoh saja. 17:58 Belum ada kurikulum seperti ini, belum 17:59 ada gitu ya diberikan di kita. Di 18:02 beberapa negara yang lain eh digital 18:04 kurikulum itu di Amerika dan berbagai 18:06 negara itu sudah dijalankan. Ee jadi 18:09 setidaknya anak-anak di sana itu mereka 18:11 sudah tahu tentang bullying misalnya 18:13 gitu ya. ee tidak boleh melakukan 18:15 bullying. Oke, bullying juga ada, tapi 18:16 bagaimana mereka bisa ee menekan ee 18:20 kalau lihat temannya dibully, dia harus 18:22 ngapain kayak gitu. Ee dan bukan hanya 18:25 pornografi dan bullying, termasuk juga 18:27 identitas digital. Boleh enggak misalnya 18:29 ee menyebarkan fotokopi KTP misalnya 18:33 gitu, nulis nama dia, alamat lengkap dia 18:35 di dalam komen gitu dan dampaknya apa 18:37 misalnya gitu. Ini kan termasuk 18:40 identitas digital, keamanan digital. 18:42 Jadi banyak aspeknya, ada sekitar 18:43 delapan gitu. Ini di sana diajarkan 18:45 mulai dari play group, SD, SMP, SMA 18:49 untuk siap menjadi warga digital itu 18:51 supaya apa? Anak-anak bisa berenang ya 18:53 kan berenang di yang di di dunia tadi. 18:57 Jadi bukan hanya pornografi macam-macam 18:58 tadi, tapi kita di diadri berenang. 19:01 Jadi, jadi nanti ya saya kira ee KOMDI 19:03 kita dukung gitu, tapi perlu ada diikuti 19:06 oleh ee hal-hal yang lain tadi literasi 19:09 digital, pelajaran buat anak-anak, 19:11 kemudian kerja sama dengan guru, kerja 19:13 sama dengan orang tua, kemudian juga 19:15 dengan Kementerian Kesehatan. Tadi ee 19:18 Habib eh ini sudah cerita betapa anak 19:21 yang enggak bisa berenang. Saya pakai 19:24 metafor berenang aja ya biar gampang 19:25 gitu. Kalau bisa lebih gampang ya. Ya, 19:27 dia tenggelam. Tenggelamnya dalam bentuk 19:30 apa? dia bernan lihat konten di ee salah 19:33 satu media sosial yang banyak video ya 19:35 video singkat scroll 20 dia dilihat 8 19:38 detik 8 detik lagi 8 detik jadi dia e 19:41 adrenaloninya jalan em kemudian juga ee 19:46 otaknya akhirnya tidak bisa ee mengambil 19:49 keputus menganalisis kenema sebuah 19:51 pendek pendek berpikirnya sehingga ada 19:53 kerusakan di otak terus itu jadi kayak 19:55 tenggelamnya itu sudah hampir enggak 19:56 bisa nafas gitu. Nah, enggak bisa yaak 20:00 seperti mungkin lebih gampang 20:01 ngelihatnya ya. Nah, ini ini gimana coba 20:03 kita menghadapi itu? Artinya ee sudah 20:05 banyak mereka yang kecanduan digital, 20:08 kecanduan game online, kecanduan judi 20:11 online. Jadi pornografi itu baru salah 20:13 satu kan pornografi, perjudian, ee 20:16 kemudian ee pinjol, game online. Ini 20:20 semua membuat mereka tenggelam. Nah, 20:22 kalau sudah sakit, sudah tenggelam apa? 20:25 Kan butuh yang menyelamatkan ya. yang 20:27 menyelamatkan siapa? Kementerian 20:28 Kesehatan. Karena mereka di situ kan ada 20:30 psikolognya, ada dokter anaknya dan 20:33 lain-lain yang sudah terlanjur kena. 20:35 Nah, untuk mengajarin siapa? Kementerian 20:38 Pendidikan DID Dasmen kan ya diajarin di 20:41 situ. Jadi kita harus ngepush ke ke 20:44 Kemdik Dasdmen itu gimana caranya 20:46 anak-anak ini bisa belajar berenang 20:48 gitu. Mulai dari apa? Kalau belajar 20:50 berenang itu dari bayi kan kalau kita 20:52 lihat. Kebetulan saya tuh lama 10 tahun 20:54 di Belanda itu anak saya itu sudah dapat 20:56 diploma ABC itu lulus SD. ABC itu 21:00 sebenarnya berenang dalam kondisi apapun 21:01 gak bisa gitu. Heeh. Dan dan mungkin ada 21:05 pelajaran B masih sebelum belum sebelum 21:07 e SD kelas 1 pun sudah ada pelajarannya 21:09 itu. Nah di kita artinya apa? Pelajaran 21:11 berenang, pelajaran digital citisip itu 21:14 sudah harus berikan sejak mereka play 21:16 group. Di play group itu ada 21:18 pelajarannya. Misalnya nih ee berapa 21:21 lama sih anak boleh pakai gazet ini 21:24 melihat screen itu ada batasan menurut 21:26 ee AAP asosiasi ee pediatrik ya kalau di 21:30 kita itu IDAI asosiasi dokter anak itu 21:33 maksimal sebetulnya sampai usia 4 tahun 21:35 itu hanya mentok 2 jam bahkan kalau di 21:38 bawah 2 tahun enggak boleh itu lihat 21:40 screen karena akan merusak otaknya. Nah, 21:42 oke. Misalnya ini dikasih pelajaran 21:44 bentuknya seperti apa. Ana play grup 21:46 misalnya, oke, Nak. Ee di dalam 21:49 pelajaran itu stop ya HP-nya. Nah, oke. 21:52 Kalau HP 21:54 diop dia harus ngapain? Kadang-kadang 21:57 mereka enggak tahu loh. Oke, stop 21:59 HP-nya. Bingung. Mereka enggak tahu 22:02 harus ngapain. Nah, di sekolah itu 22:04 diajarin ayo keluar sekolah main 22:07 jongkat-jungkit, main peta umpet, 22:09 mungkin main apa itu kelereng atau 22:11 main-main tradisional sehingga mereka 22:13 punya ide permainan yang lain. Nah, ini 22:15 ini contoh ya. Ini contoh di dalam eh 22:17 digital citic curriculum. Saya saya mau 22:19 gambarkan bahwa semudah itu sebetulnya 22:22 termasuk ada PR nih. Oke, kamu nanti 22:24 sekolah ee pulang ke rumah ini ada tugas 22:26 kamu main sama orang tua. Kenapa? Karena 22:30 kadang-kadang orang tua enggak tahu 22:31 harus ngajarin anak kan. Dan ternyata 22:35 perlu untuk ee nyetop HP tapi diganti 22:37 dengan apa? Diganti dengan permainan. 22:40 Orang tua diajak permainan ini, 22:41 permainan itu. Ya mungkin mereka enggak 22:43 kepikiran. Tapi kalau ini tugas dari 22:45 sekolah mau enggak mau mungkin dari 10 22:48 orang tua ada lima yang mau menjalankan 22:49 bagus kan gitu. Jadi ini ini sebagai 22:51 contoh ya bahwa ini cukup kompleks yang 22:53 perlu kita lakukan. apa yang dilakukan 22:55 Komigi itu ee perlu kita dukung tapi 22:58 juga enggak cukup gitu harus ada 22:59 Kementerian Digdas kemudian dari 23:01 Kementerian Kesehatan juga gitu. Ee jadi 23:04 kira-kira itu ya sebagai awalan ya kalau 23:07 kita lihat isu tentang ee tentang apa 23:10 itu pentingnya pembatasan usia anak ee 23:14 di media sosial itu. Demikian Mbak 23:16 Runing. Masyaallah. Ee ini menarik 23:20 sekali nih Mas Fami jelasin. He ee 23:23 sebetulnya ada sedikit fenomena unik Mas 23:25 Fami dengan adanya AI dan big data itu 23:30 ee anak-anak di mana secara ee dahulu 23:34 kita belajar itu bagaimana cara menjawab 23:37 ya. Cara menjawab jadi leadership atau 23:41 pengajaran itu difokuskan bagaimana 23:43 fungsi kognitif ee dari anak gitu ya. 23:45 Anak pintar, anak bisa jawab ini bisa 23:48 jawab. Nah, dengan adanya AI ini anak 23:50 ini ee enggak perlu sebetulnya bisa 23:53 jawab, cuma lebih canggih AI gitu ya. 23:57 Banyak fenomena di Amerika, di mana-mana 23:59 universitas terkenal gitu. Ini ee S1 24:03 bisa menjawab atau membuat paper sekelas 24:05 S3 dengan AI dan hampir sekarang 50% 24:09 lebih itu 24:11 ee para mahasiswa menggunakan AI buat 24:14 bikin skripsi. dan lain-lain. Nah, ini 24:16 ee jadi fenomena yang unik. Jadi ee 24:20 akhirnya ee tahun 2021 42% dari riset 24:24 yang terjerat pinjol adalah guru. Ini 24:27 kan unik. Jadi guru itu bagaimana bisa 24:30 terjerat pinjol sedangkan dia mengajari 24:32 muridnya untuk bagaimana menjauhi apa 24:36 namanya ee jeratan seperti itu gitu. 24:39 Jadi ee leadership atau apa namanya 24:42 trennya itu nanti pengarahnya itu ee 24:45 menurut saya lebih ke bagaimana 24:47 menciptakan akhlak atau sosok yang 24:50 betul-betul bisa dicontoh dan anak-anak 24:52 itu bukan pintar menjawab lagi tapi 24:54 pintar bertanya ke AI gitu ya. Ini Mas 24:57 suami ekspert sekali di AI gitu ya. Ee 24:59 mentor saya juga untuk big data dan AI. 25:02 Bagaimana ee kalau misalnya gini, ada ee 25:07 orang tua ini fenomenanya orang tua, 25:09 anak itu ee misalnya ribut langsung 25:12 dikasih HP gitu ya. Orang tuanya pun 25:15 sendiri itu sama anak jarang komunikasi 25:18 sekarang gitu ya. Jadi fenomenanya itu 25:20 bahkan ada Mas Nuning ada kemarin saya 25:23 lihat video e menyentuh gitu ya realita 25:26 anak-anak ada satu anak ditanya 25:28 cita-citanya jadi apa? Saya mau jadi 25:30 temannya ibunya di HP gitu ya. Mas 25:32 karena ibunya, jadi ibunya itu main HP 25:35 terus anaknya dibiarin gitu ya. Jadi 25:38 begitu ditanya sama gurunya mau jadi 25:40 apa? Jadi teman ibunya di HP gitu. Jadi 25:43 bagaimana ini ee luar biasa menyentuh 25:45 gitu ya. Dan ee fenomena ini juga 25:49 sebetulnya kalau misalnya anak aja orang 25:52 tuanya 25:53 masih seperti itu ee agak susah gitu. 25:55 dan orang tuanya juga punya klaim nih, 25:58 Mas Fahmi misalnya gini, kalau dibatasin 26:00 ee anak kita kan e perlu informasi di 26:03 media sosial gitu ya, perlu belajar gitu 26:06 gimana gitu. Dan ee nanti kalau misalnya 26:09 anak ini masuhin KTP ee data-data orang 26:12 tua dimasukin ke media sosial, lu gimana 26:15 dong gitu. Jadi ee pertanyaan-pertanyaan 26:17 ini juga ee menarik tuh masi untuk 26:19 dibahas tuh. 26:23 Jadi iya Mas Fatmi ditunggu nih gimana 26:26 kita sebagai orang tua 26:30 bisa membatasi yang susah banget. Bahkan 26:33 kebanyakan sekarang orang tua tuh untuk 26:35 biar merdeka anaknya dikasih e benda 26:39 berukuran 5* 10 cm itu. 26:44 Jadi ada istilah yang saya suka itu Mbak 26:46 Nuning ya tentang benda itu namanya 26:49 setan gepeng. Oh, setan gepeng. Astaga. 26:53 Setan gepeng. Kebetulan istri saya 26:56 dokter spesialis anak dia. He. Dia 26:58 sering mendapatkan ee anak-anak masih 27:01 kecil 2 tahun 3 tahun sudah enggak bisa 27:04 lepas dari dari HP. He dari gadgetnya 27:07 itu. Waktu itu dia di Boyolali dan ada 27:10 orang tua bilang, "Ini ini kenapa, Pak?" 27:12 Gini, "Ini enggak bisa lepas ya dari 27:14 HP-nya?" "Enggak, Pak." "Enggak enggak 27:16 bisa, Dok." Ya, itu ya setan gepeng ya. 27:19 Ternyata istilah itu juga cukup ee 27:21 populer untuk e menggambarkan HP ini. 27:24 Jadi benar ini ee masalah cukup cukup 27:28 berat terutama itu di ee urban ya di 27:32 kota-kota. Di kota-kota itu kan orang 27:35 tua ee baik kelas menengah atau kelas ee 27:38 kelas bawah menengah tinggi kan kadang 27:40 sibuk ya sibuk bekerja. anak-anak itu 27:43 diserahkan kadang kepada orang tuanya 27:46 sendiri, neneknya atau mungkin pembantu 27:48 ya. Ee di mana itu kan orang-orang tua 27:51 kan enggak terbiasa dengan ee gadget dan 27:55 kalau mau diam ya dikasih lagi gadget. 27:57 Pembantu juga sama. Mungkin pembantunya 27:58 juga enggak diajarin. Enggak banyak 28:00 pembantu yang kemudian pintar kan 28:02 mengedukasi. Pembantu yang pintar 28:04 mengedukasi itu mahal harganya. Jadi 28:06 akhirnya apa ya? Pembantu kan juga main 28:08 HP juga. Kalau enggak dikontol ya 28:09 selesai. Ee kebetulan ini kaitannya 28:12 dengan stunting juga. Banyak stunting 28:14 itu terjadi malah di kota-kota. Kenapa? 28:16 Karena orang bukan karena miskin loh itu 28:19 ya karena orang tuanya itu ee sibuk 28:22 bekerja dikasihkan kepada kakek neneknya 28:24 ee kakeknya kemudian membantu dan itu 28:26 kadang kalau anak sudah nangis dibeliin 28:29 makanan dan seterusnya sudah lepas. Beda 28:32 dengan di desa. Waktu saya pernah ke 28:34 Bima di situ kan bareng kami ada acara 28:36 di sana. Kita cek di sana banyak enggak 28:39 tuh ee stunting ya itu di desa. Di desa 28:43 ee kami ngobrol sama Ibu Babi apa dari 28:46 Danrem di sana di desa enggak banyak 28:48 stuntingnya. Kenapa? Anak-anak itu 28:50 bareng sama orang tuanya. orang tuanya 28:53 ya di desa ya ee tapi kan punya punya 28:55 cukup banyak waktu dengan anaknya 28:57 sehingga sabar ngasih makan dan lain 28:59 malah stunting itu tinggi di orang. Nah, 29:02 ini sebagai contoh ya. Saya ambil contoh 29:04 stunting saja ee dan itu dampaknya 29:07 kepada dari karena mungkin si ee gadget 29:10 tadi dari orang tua yang tidak punya 29:12 cukup waktu. Ini kan bisa berdampak yang 29:15 sama kan dengan yang tadi dengan ee 29:17 akses media sosial dan lain-lain seperti 29:19 disampaikan. Ee sering kalau kita lihat 29:22 coba misalnya kalau lagi weekend saya 29:24 sering mengamati karena kita liburan ya. 29:26 Liburan tinggal di hotel mungkin gitu 29:29 terus lagi sarapan. lagi sarapan. Coba 29:32 diperhatikan ketika ada keluarga muda 29:34 dengan anaknya, berapa banyak mereka 29:37 yang anaknya itu tidak memegang HP? 29:39 Bahkan artinya dalam bentuk tablet dan 29:40 tabletnya itu sudah dikasih cover ee 29:44 apa? plastik ya, karet. Sehingga kalau 29:46 jatuh-jatuh enggak apa-apa gitu. 29:49 Betapa orang tuanya itu kadang enggak 29:51 pengin diganggu sama anaknya. 29:53 ee sedikit sekali saya lihat yang mereka 29:56 itu kemudian ada HP-nya, enggak ada 29:58 tabletnya, mau ngobrol dengan anak-anak 30:00 gitu. Mungkin orang tua sibuk ee update 30:03 status gitu. Dan ini memang situasi 30:05 sekarang, Mas. Nah, bagaimana coba 30:07 secara masif kita melakukan edukasi? 30:11 Habib tadi cerita betul kalau anaknya 30:12 diajarin tapi orang tuanya enggak 30:14 gimana. Memang kuncinya dari situ. Nah, 30:17 ee saya makanya sudah berkali-kali sejak 30:19 tahun 30:20 2020 2022 saya diminta sama info dan 30:24 beberapa kementerian untuk menyampaikan 30:25 pendapat saya. Saya selalu bilang bahwa 30:27 kita perlu yang namanya digital 30:29 citenship kurikulum. Itu bisa di-search 30:31 atau di internet digital citizenship 30:33 kurikulum. Itu kurikulumnya sudah clear, 30:35 sudah jelas tinggal diadopsi di versi di 30:38 Indonesia. Kalau enggak salah itu juga 30:40 jadi referensi mau diterapin juga tahun 30:43 lalu kalau enggak salah dalam bentuk 30:44 yang lebih disimplifikasi tapi kok saya 30:46 dengar juga belum juga. Nah, kebetulan 30:49 ini 30:50 ee saya juga bantu dias saya coba 30:53 sampaikan lagi nanti ya alam nanti bisa 30:54 masuk atau tidak gitu ya. Tapi intinya 30:56 harus masuk. Apakah belum itu kenapa Mas 30:59 Sami? Apakah karena ada ee faktor 31:03 ekonomi yang terganggu dari asing nih? 31:06 Misalnya gini, contoh misalnya oh ada 31:08 kebijakan ee 31:10 memberhentikan ee mobil ee bensin nih. 31:13 Nanti 31:14 yang terimpact adalah banyak nih ee 31:18 industri ini gitu ya, misalnya ee mobil 31:20 listrik gitu. Jadi apakah ee 31:22 faktor-faktor kebijakan ini juga 31:24 dipengaruhi? misalnya media sosial ini 31:27 profitnya bisa turun, penjualan kalau 31:30 kita lihat Mas Fami itu ee ada media 31:32 sosial yang warna hitam ya itu pembelian 31:36 paling besar umur ee 9 sampai 14 tahun. 31:41 Bayangin itu anak-anak kecil ya umur 9 31:43 sampai 14 tahun beli macam-macam barang 31:46 yang dikirimkan ke rumahnya Mas suami. 31:48 Akhirnya orang tuanya bingung ini dia 31:50 beli asal beli bisa COD segala macam. 31:52 Nah, apakah ada dampak gitu, Mas? 31:54 Maksudnya ee semudah itu kita 31:57 implementasi, apakah ada faktor-faktor 32:00 swasta eksternal yang ya enggak bisa 32:02 begitu begini, ada faktor lain lah 32:04 intinya. Jadi agak susah nih. Kalau saya 32:07 rasa enggak enggak sampai ee enggak 32:10 sampai segitu. Jadi biasa kalau kita di 32:12 masalah di pendidikan kan kepentingannya 32:14 kan banyak ya, soal kurikulum, soal 32:16 bagaimana memasukkan dan lain-lain. Iya. 32:19 Ee pernah waktu itu saya coba sampaikan 32:21 ee dalam beberagai kesempatan ya ee 32:24 susah masuk gitu. Kemudian kan kebetulan 32:26 saya di PP Muhammadiyah saya diminta di 32:29 Muhammadiyah kan ada majelis di dasmen 32:31 ya masuk di sana dites masih kalau se 32:34 enggak masuk enggak bisa masuk di 32:35 nasional kita tes diasmen di 32:37 Muhammadiyah diskusi Mas kita kita 32:39 diskusi bareng majelis Judgment kita 32:41 lihat yang kira-kira siap itu mana. 32:44 Apakah FL Group n 32:46 eh Raudatul Atfal ya kalau di 32:49 Muhammadiyah itu eh pustanul Atfal ya 32:53 atau kemudian di SD-nya madrasah atau 32:56 kemudian di SMA-nya atau kemudian di SMK 32:58 kita cari kemudian kita lihat ternyata 33:00 kesiapan guru, kesiapan materi ee yang 33:05 bisa kita lakukan itu adalah di SMK. SK 33:08 pun dicari-cari yang kira-kira yang bisa 33:10 siap yang mana? Kelas 2. Di kelas 2 itu 33:12 kan ada pelajaran tentang ee media dan 33:15 IT kayak gitu. Mungkin bisa 33:17 diperkenalkan karena cepatnya kita mau 33:18 uji coba saja ya gitu. Dan dari situ 33:21 saya langsung ketahuan langsung tahu 33:23 memang susah ketika mau masukkan 33:25 kurikulum ini tambahan ini ee tidak 33:28 mudah gitu. Meskipun sebetulnya kayak 33:30 pelajaran digital kurikulum itu satu 33:33 semester itu hanya 4 sampai 5 kali 33:35 pertemuan saja. Pertemuan gitu ya. 33:37 Artinya dalam 1 bulan mungkin sekali dua 33:38 kali kan gitu enggak besar dan cuma 1 33:41 jam gitu. Nah ee ada ada kesulitan di 33:44 sana mungkin ya dalam dalam ee menyusun 33:47 kurikulum dan kalau saya enggak terlalu 33:49 yakin ada dorongan force ya dari luar 33:52 supaya jangan ada edukasi dan lain-lain. 33:54 Saya kira kok tidak sampai sejauh itu. 33:55 Ini karena di dalam kita sendiri. Nah 33:57 itu kan terkait dengan fokus ya. 33:59 Anak-anak kan mungkin sekarang dengan 34:01 kurikulum yang ada sudah sangat sibuk 34:02 barangkali itu ya ditambahin ini jadi 34:04 makin pusing atau mungkin bisa 34:05 disampaikan toh sudah ada pelajaran 34:07 tentang IT gitu ya. Ee memang berapa ada 34:09 ada pelajaran tentang IT sudah cukup 34:11 sampai di sana padahal sebetulnya enggak 34:13 cukup. Itu kan harus ee serius di 34:16 disajikannya. Di situ pelajarannya bukan 34:18 hanya untuk anak-anak ada PR untuk 34:20 gurunya, PR anak bersama orang tuanya 34:23 ya. Kayak tadi kan di mana orang tua 34:25 kita nyadarin orang tua supaya dia itu 34:27 juga meluangkan waktu buat anak-anaknya 34:29 kalau tidak lewat tugas di sekolah 34:31 misalnya dan ini kan bisa dilakukan 34:33 secara masif kalau di sekolah ni tugas 34:36 anak ini ada lembaran kamu selesaikan di 34:38 rumah tugasnya apa bermain peta umpet 34:40 sama orang tuanya selama berapa 1 jam 34:43 saya misalnya gitu atau bermain kelereng 34:46 sama orang tuanya bisa dibayangkan orang 34:49 tua yang tidak pernah main kelereng yang 34:51 selalu main HP dia dipaksa 1 jam saja 34:55 sama anaknya. Harapannya apa? Dia 34:57 merasakan lagi, "Oh, ternyata asyik juga 35:00 nih dengan anak-anak. Oh, ternyata bisa 35:01 begini juga dengan anak. Anak-anak yang 35:03 rindu dengan orang tuanya dapat minimal 35:05 1 jam gitu ya. Dan ini sebagai contoh. 35:07 Ini kan harus ada force ya, harus ada 35:10 sesuatu yang sifatnya terstruktur lewat 35:13 pendidikan. Enggak bisa lewat hanya 35:14 pelatihan-pelatihan saja, itu harus 35:16 lewat kurikulum dan pendidikan 35:19 ya. 35:25 Iya, luar biasa bahasannya. Ini menarik 35:28 sekali nih 35:30 terkait pembatasan. Jadi, ada yang 35:34 dibatasin, ada yang dikasih akses gitu. 35:36 Karena kalau kita ibarat Mas suami 35:39 bilang kolam, nah enggak bisa masuk ke 35:41 kolam sama sekali, akhirnya anak ini 35:43 enggak bisa berenang gitu ya. 35:46 Nah, betul. Artinya kan ada pelatihan di 35:47 sana. Jadi latihan berenang ee media 35:50 sosial kan ada ee ada beberapa ya, ada 35:54 yang ada banyak yang bisa dimanfaatkan 35:55 juga oleh anak-anak ini. Nah, kalau kita 35:57 ambil contoh misalnya di Cina, Cina kan 36:00 yang bikin TikTok gitu. Dia ekspor ke 36:03 mana-mana tapi di Cina sendiri enggak 36:04 boleh itu TikTok karena dia tahu 36:07 dampaknya negatif ya. TikTok yang apa 36:09 adanya sangat negatif dampaknya sangat 36:11 merusak kepada anak-anak. algoritmanya 36:13 tadi, 36:14 konten-kontennya kalau dibiarkan 36:16 algoritma cenderung ngikutin apanya 36:18 maunya anak ya, maunya anak dan orang 36:21 dewasa juga biasanya kan hal sifatnya 36:23 entertainment gitu dan ee terjadi 36:27 normalisasi. Normalisasi hal-hal yang 36:29 harusnya tidak boleh meskipun di TikTok 36:31 itu yang seks yang vulgar mungkin tidak. 36:34 Tetapi paham-paham seks menyimpang dan 36:36 itu kan ada di sana. di Instagram juga 36:38 sama ya, meskipun enggak vulgar tetapi 36:41 ada normalisasi di situ. Nah, ee makanya 36:44 di sini kan perlu ada ee mungkin ada 36:47 alternatif media sosial yang diciptakan 36:49 oleh pemerintah. Saya kira ini penting 36:52 di Cina itu ada alternatifnya yaitu 36:54 doyen namanya. Doen itu eh 36:56 konten-kontennya di sana itu edukatif 36:59 dan contonent kreator didorong untuk 37:01 edukasi. Ada filtering untuk 37:03 anak-anaknya usianya. Nah, jadi ada 37:05 suatu survei, Habib ee Mbak Nuning itu 37:08 yang menarik, survei internasional dari 37:11 berbagai negara tentang cita-cita ee 37:14 anak remaja mereka kalau besar mau jadi 37:18 apa gitu. Nah, yang di Amerika itu 37:21 disurvei hasilnya adalah rata-rata 37:23 mereka pengin menjadi influencers, 37:26 YouTuber influencers. Ini kok mirip 37:29 dengan negara kita ya gitu. Nah, yang 37:32 yang menj yang jomplang banget itu 37:34 adalah Cina. Ketika ditanya anak-anak 37:36 nomor satu pengin menjadi apa? 37:39 Astronaut. Kalau saya dulu waktu kecil 37:42 kan cita-cita pengin jadi dokter, pengin 37:44 jadi pilot itu sudah keren ya. Karena di 37:46 desa kan ngelihatnya pesawat terbang 37:48 lewat-lewat aja dan dokter kayaknya 37:50 keren kayak baju putih gitu. Nah, 37:52 sekarang sekarang malah istrinya dokter 37:53 ya. Iya. Saya enggak bisa jadi dokter 37:55 ya. Tempat istri dokter lah. Nah, 37:57 sekarang anak-anak mereka lihatnya apa? 37:59 Ternyata yang bisa hidup enak dan 38:02 kemudian dinormalisasi sebuah kesuksesan 38:04 itu adalah influencers. Ee bisa pamer 38:07 rumahnya, mobilnya. Oh, kayak gini. Nah, 38:09 jadi imajinasinya itu enak. Enak juga ya 38:12 di influencers ya. Nah, ini yang terjadi 38:15 di Amerika, kemudian juga di Indonesia. 38:17 Nah, di Cina tidak mau jadi 38:20 astronaut.Bayangan saya ini kok bisa 38:22 aneh banget inin jadi astronut. Karena 38:24 mereka kan punya stasiun eh space 38:26 station sendiri. 38:28 eksperimen eh stem itu ada ee dilakukan 38:32 juga di ee pesawat ee ulangalik e di apa 38:36 di space station mereka. Kemudian ee 38:39 eksperimen ini eksperimen sepanjang 38:40 pendidikan edukasi itu banyak sekali di 38:43 di mana di doyen tadi sehingga anak-anak 38:46 terpapar dengan hal sifatnya edukatif 38:48 dan kompetisi di sana kan juga cukup 38:50 tinggi untuk dapatin ee apa sekolah yang 38:53 bagus, pendidik pelajar apa pekerjaan 38:56 yang bagus gitu sehingga mereka 38:58 berkompetisi untuk jadi yang terbaik dan 39:00 secara positif. Nah, ini kan ee luar 39:04 biasa bagaimana mindset generasi itu 39:06 diciptakan, bisa dibentuk, bisa 39:09 dipertahankan oleh negara gitu atau 39:12 negara bahkan tidak mampu berbuat 39:15 apa-apa ketika serangan dari ee banjir 39:18 bah dan tsunami seperti TikTok itu kan 39:20 meraja lela gitu. Jadi sekarang apa yang 39:22 harus kita lakukan kan gitu. ya kita 39:24 harus harus mungkin ee bisa membatasi 39:28 saya kira kita perlu mendorong adanya 39:29 alternatif media sosial. Alternatif bisa 39:33 diambil kontennya itu dari mana? Konten 39:35 dari TikTok, dari IG, dari YouTube yang 39:38 positif-positif. Banyak konten-konten 39:39 positif sebetulnya di TikTok itu 39:41 misalnya atau di YouTube ya. Anak-anak 39:44 belajar matematika, anak-anak belajar 39:46 main piano, belajar bahasa Inggris. 39:48 Betapa banyak itu anak-anak itu kan bisa 39:50 bahasa A B C dari akses ee YouTube 39:55 misalnya kan positifnya banyak gitu. 39:58 Nah, tetapi bagaimana pembatasan? Anak 40:00 harus dibatasi, mereka harus bisa 40:02 misalnya sekian jam saja dan konten apa 40:05 yang baiknya di bisa diakses kan harus 40:07 dieducate mereka. Jadi harus ada ee 40:10 pembatasan, ada tempat latihan berenang 40:13 ya. Kemudian juga 40:16 ee berbagai pihak itu harus harus bisa 40:19 kerja sama kalau seandainya anak 40:20 terlanjur ya nyebur gitu yang 40:23 mengamankan siapa gitu dan dan 40:25 seterusnya. Jadi ini ini kerja besar di 40:27 untuk masa depan Indonesia. 40:31 I menarik Mas Sam. Mungkin sedikit saya 40:34 respon satu ee respon terakhir dari 40:37 saya. Jadi ee yang Mas Fahmi bilang 40:40 terkait normalisasi itu bagus sekali ya. 40:42 Jadi saya ee pernah nonton juga di Rasil 40:45 TV ini ee ada dokter, dokter Inong kalau 40:47 enggak salah spesialis dia bilang ada 40:51 pasiennya itu yang ter ee punya 40:55 kecenderungan LGBT jadi e homoseksual. 40:58 Nah, itu ternyata setelah ditelusurin 41:01 itu dari YouTube gitu, 41:03 Masam. Jadi ee dia pertama lihat dia 41:07 jiji gitu ya, lama-lama di konten itu 41:10 dimunculin terus. Jadi ee kalau saya 41:13 lihatnya mungkin ada ee satu misi 41:16 tertentu untuk menyebarkan ee konten 41:19 konten LGBT supaya terjadi normalisasi 41:22 seperti itu. Lama-lama anak itu begitu 41:24 lihat pertama enggak mau, kedua enggak 41:27 mau, ketiga enggak mau, lama-lama akan 41:29 terjadi oh biasa aja normalisasi. Nah, 41:31 ee ini juga mungkin terkait literasi 41:34 digital gitu ya dan lain-lain. Bahkan 41:37 sekarang itu fenomena yang Mas Fahmi 41:39 bilang menarik banget gitu ya. Jadi 41:41 negara-negara kayak negara maju kayak 41:42 Amerika sendiri pun sekarang itu 41:45 presidennya bilang, "We have two gender" 41:47 gitu. Kita cuman punya laki-laki dan 41:50 perempuan gitu ya. Gitu ya. Terlepas 41:52 dari republik ya. Cuma memang ee LGBT 41:56 itu kan marak sekali di Amerika tapi ee 41:59 pemerintahnya sendiri sudah larang gitu. 42:01 Jadi kita cuma punya dua jenis kelamin 42:03 gitu. Di Rusia sendiri juga sudah tegas 42:05 dari dulu dihukum pidana gitu ya. ketika 42:09 orang sudah nyeleweng, tetapi 42:11 negara-negara berkembang ini jadi target 42:13 kampanye-kampanye seperti itu gitu ya. 42:15 Dari mulaiin saya pernah sendiri ee 42:17 seminar Mas Fami di Thailand itu pilihan 42:20 pendaftarannya ada tiga. Jadi eh 42:23 laki-laki, perempuan, satu lagi eh eh 42:26 not mention. Jadi eh saya enggak 42:29 disebutin gitu mau mau mau milih jenis 42:31 kelamin laki-laki perempuan atau not 42:33 mention. Jadi ee tidak mau jawab gitu 42:35 atau netral netral kalau enggak salah 42:37 saya pilih. Jadi itu berbahaya sekali 42:41 gitu. Jadi jadi itu fenomena cukup unik 42:43 Mas itu aja mungkin tambahan sedikit ya. 42:49 Ya betul. Itu itu yang terjadi ya dari 42:51 algoritma ee karena dia basicnya itu kan 42:56 supaya orang terus-terusan ee ada di 42:58 platform. dia melihat terus 43:00 keuntungannya apa itu iklan sebetulnya 43:03 em iklan dari semua platform itu 43:04 ujung-ujungnya bisnis aja iklan aja 43:06 kalau seandainya orang melihat sesuatu 43:09 ee di media sosial dan kok enggak cocok 43:12 dengan yang disukain kan dia akan pergi 43:13 kan dibuat ini ah kok beda sekali ya 43:16 dengan yang saya sukain dia pergi. Nah 43:17 untuk mengetahui apa yang disukain dia 43:19 ambil sampel aja apa yang sesuatu 43:21 dilihat ee kemudian ee ditampilkan lagi 43:25 suka atau tidak ditonton atau tidak. 43:27 Kalau enggak ditonton oh mungkin dia 43:28 enggak suka gitu. Ee itu kalau kalau 43:30 algoritmanya netral. Apalagi kalau seya 43:33 ditambah memang ada satu agenda tertentu 43:36 untuk nge-push topik-topik tertentu 43:38 sehingga begitu sebuah video muncul 43:40 terkait dengan agenda tadi dicoba dipush 43:42 terus dibombardir terus lama-lama kayak 43:45 seperti anak tadi ceritakan akhirnya dia 43:46 menerima dari enggak mau akhirnya jadi 43:48 menerima. Nah ini kan hal-hal yang ee 43:50 bagaimana kita ngajarinnya. Nah, ini di 43:53 dalam digital kurikulum itu kita ajarin 43:55 anak-anak itu ee untuk mengendarai 43:57 sepeda sepeda digital. Ee kapan itu 44:00 lihat lampu itu warnanya merah, kapan 44:02 lampunya hijau, kapan harus berhenti, 44:05 kapan harus jalan gitu. Dan ee tanpa itu 44:07 kan jadinya mirip ya. Ee kita itu lihat 44:11 kita seperti naik kendaraan motor gitu. 44:15 He. Tapi tidak diajarin gimana cari 44:17 motor yang benar. Nah, akhirnya dia naik 44:19 enggak pakai helm, boncengan tiga anak. 44:22 Nah, masuknya kepada ke di jalan tol 44:25 sudah salah semuanya. Kecelakaan yang 44:27 terjadi kan karena mereka enggak bisa 44:29 bagaimana mengendarain kendaraan yang 44:30 benar karena enggak diajarin dan itu 44:32 yang terjadi persis sama di media sosial 44:34 karena sifatnya abstrak saja. Jadi 44:37 seolah-olah enggak ada kecelakaan 44:39 membuat ee si anak ini terluka. lukanya 44:43 itu enggak kelihatan karena itu ada di 44:44 pola pikir, di otaknya, di sel-sel 44:47 otaknya itu terluka di sana. Tapi enggak 44:49 kelihatan. Jadi, akhirnya ini baik-baik 44:51 saja kok enggak ada masalah gitu. 44:53 Padahal di situ sudah terjadi kecelakaan 44:55 berkali-kali hampir setiap hari. Lukanya 44:57 mungkin juga sudah parah di sana ya. 44:59 Karena ee mereka tidak tahu kapan harus 45:01 stop, kapan harus jalan, kapan harus 45:04 minta tolong ke orang ya, kapan 45:06 bagaimana cara berenang, gimana cara 45:07 ngendarain, cara ngegas dan lain-lain 45:10 gitu. 45:11 Jadi ini ee memang jadi semakin pelik 45:14 sih kalau saya lihat. Jadi makanya 45:16 sekarang ini upaya mumpung ini ada upaya 45:18 untuk membatasi. Saya kira topiknya 45:21 bukan hanya membatasi. Kita harus ee 45:24 saya senang misalnya kayak di Rasil TV 45:26 ini. Ini kita kita bahas saya selalu 45:29 rekomendasikan supaya masyarakat sipil 45:31 ikut membahas memberikan pendapatnya. 45:33 Kalau mendukung disampaikan dukungannya 45:35 kalau ada keberatan disampaikan 45:37 keberatannya ada di mana supaya apa 45:39 solusinya lebih komprehensif. Heeh. 45:40 Pembatasan tidak cukup. Ya, jelas ya. 45:43 Sepakat kita enggak cukup cukup supaya 45:44 apa? Pemerintah melakukan hal yang lain 45:46 juga bukan pembatasan. Kebetulan kerja 45:48 sama dengan didasment kita dorong apa 45:50 nih solusinya. Jangan kemudian oke kerja 45:53 sama saja tapi realnya dalam bentuk apa 45:55 ini? Dan kalau kita punya gagasan kayak 45:57 sekarang gagasan yang saya sampaikan 45:59 adalah lewat kurikulum. Diasmen harus 46:01 punya kurikulum untuk itu. Ee dan 46:04 bagaimana memasukkan di dalam kurikulum 46:06 yang sudah sangat crowded ini misalnya 46:08 gitu. Nah, ini biarkan mereka berpikir 46:11 paling enggak dari kita dalam ini kan 46:13 masalah yang sangat pelik, sangat 46:14 penting. Kita bisa sampaikan konson 46:16 kita. 46:25 Halo. Baik, Mbak Nuning. Sebetulnya 46:28 kalau Kementerian 46:31 em apa tadi? Menkomdik ya itu sudah 46:35 bikin aturan belum sih untuk hal-hal 46:38 semacam pembatasan anak-anak kita di 46:41 usia berapa tadi? Di bawah 16 tahun ya? 46:43 16 ee baru minggu ini pembahasannya 46:47 dimulai. Oh baru mau akan. Betul. Heeh. 46:50 Jadi sekarang mereka melakukan kajian 46:52 FGD melibatkan berbagai macam pihak itu 46:55 mulai sekarang ee jadi Rasel TV ini 46:57 tepat nih. Kalau bisa ni maksud satu 46:59 agenda penting untuk supaya bagaimana 47:01 caranya pembahasan kita itu sampai di 47:03 mereka. Barangkali nanti juga bisa 47:06 mengundang tokoh-tokoh yang lain supaya 47:07 memberikan kontribusi pemikiran ee buat 47:09 KOMDI karena bagaimanapun mereka butuh. 47:12 Ini yang saya saya perhatikan ya mungkin 47:15 terjadi adalah ketika nanti terjadi 47:17 pembatasan. Betul gitu yang tadi ee 47:20 Habib cerita mungkin ada yang merasa 47:22 dirugikan kan yang digikan siapa? 47:25 Platform. Platform itu kalaunya betul 47:27 pertama dia harus repot, harus 47:29 membatasi. Gimana cara membatasinya? 47:32 Nanti ada denda. Barangkali kalau 47:34 seandainya ada beberapa yang lolos kok 47:36 anak-anak masih bisa akses mungkin akan 47:38 ada denda. Kalau seandainya peraturan 47:40 tanpa dendak kan juga enggak lucu kan 47:41 gitu. Kemudian juga kalau saya dibatasi 47:43 akan berkurang kan penggunanya di mana 47:45 anak-anak 16 tahun ke bawah ini cukup 47:48 tinggi itu ee persentasinya mungkin 47:50 mereka enggak mau dan apa yang mereka 47:52 lakukan bisa jadi kan lewat kampanye 47:55 kampanyenya ee melibatkan orang-orang 47:57 pakai influencers pura-puranya itu dalam 48:00 masyarakat sendiri memprotes kebijakan 48:03 dianggap tidak sesuai HAM dianggap bahwa 48:06 media sosial tadi sampaikan penting juga 48:09 kok kita perlu belajar banyak hal juga 48:10 di 48:11 Terus bilang juga bahwa ini tanggung 48:13 jawab keluarga harusnya guru, harusnya 48:15 orang tua yang bisa dididik anaknya, 48:17 salah mereka dan seterusnya. Argumen ini 48:19 akan muncul nanti. Jadi kalau tanpa 48:22 dukungan dari masyarakat, tanpa dukungan 48:24 dari kita yang mungkin paham masalahnya 48:25 ini, pemerintah jadinya sendirian 48:27 berhadapan dengan rakyatnya. Padahal itu 48:29 di belakangnya itu kan platform ini bisa 48:31 terjadi. Sehingga yang terjadi apa? 48:32 Nantinya peraturan bisa direvok lagi, 48:35 peraturan bisa ditarik lagi enggak jalan 48:37 gitu. Dan itu sudah beberapa kali kan 48:39 terjadi. Misalnya terkait dengan pernah 48:41 kejadian nih dengan ee Undang-Undang 48:44 Pers kalau enggak salah ya terkait 48:47 dengan penggunaan ee konten-konten dari 48:50 media digital oleh platform ee Detik, 48:54 Kompas, Tempo, dan lain-lain, Republika. 48:56 Mereka susah-susah bikin artikel. 48:59 Artikelnya akhirnya masuk di mana? 49:00 Akhirnya di-share di platform media 49:02 sosial. Oleh siapa? Oleh usernya. 49:05 sehingga usernya itu bisa melihat 49:06 gambarnya, teks lengkapnya tanpa harus 49:09 ngeklik ke mengunjungi ke situsnya. Nah, 49:13 jadi platformnya enak sekali kan tanpa 49:15 dia menciptakan orang ee berinteraksi di 49:17 dalam platformnya gitu. Ee kemudian 49:20 waktu itu ada aturan jadi platform harus 49:21 ikut membayar misalnya gitu ya. Ini 49:24 sebagai contoh ikut membayar dong share 49:26 ke media-media ini yang terjadi Google 49:29 terutama kan Google kan dapat keuntungan 49:30 besar. Orang itu bisa nyari berita cukup 49:33 dari hasil pencarian Google. Oh ada ini, 49:35 ini, ini, ini. Tanpa harus ngeklik loh. 49:38 Orang kadang cukup lihat judulnya dan 49:40 sedikit ee paragraf kan itu kadang sudah 49:43 tahu, oh kejadiannya apa tanpa harus 49:44 ngeklik. Google-nya untung tapi yang 49:46 membuat berita enggak. Google aturan itu 49:49 dia harus membayar. dia kan enggak mau 49:51 caranya apa dilibatkanlah masyarakat 49:53 protes jadinya akhirnya apa ditarik lagi 49:55 enggak jalan nah ini akan akan terjadi 49:57 juga di peraturan yang mungkin komigi 49:59 akan eh initiate ini ini saatnya ini 50:02 buat Rasil TV ee masyarakat juga untuk 50:05 memberikan pendapatnya dan dukungan 50:07 kalau yang mendukung kalau enggak 50:08 mendukung ya sampaikan penolakannya 50:10 sekarang biar kita tahu masalahnya ada 50:12 di mana gitu supaya kita bisa bantu 50:13 pecak juga he tadi bicara soal survei 50:19 tentang cita-cita cita anak kalau di 50:22 Indonesia sendiri apakah juga sebagai 50:25 influencer atau mau bikin lagi aja? 50:29 Kalau di Indonesia mirip yang di Amerika 50:31 ya ee Mbak Uning ya ee rata-rata pengin 50:34 jadi influencers eh YouTubers gitu. Ee 50:39 itu itu yang menjadi top of mind dan itu 50:41 bukan hanya di Amerika Indonesia, di 50:43 beberapa negara yang lain juga seperti 50:45 itu. Oke. Kenapa? ya, karena mereka ee 50:48 terpapar oleh media sosial ee kayak 50:51 TikTok, Instagram, YouTube. Kok enak 50:54 sekali ya banyak top-top tiba-tiba orang 50:57 itu jadi influencers dapat duit banyak 51:00 kayak gitu ya. Terus kemudian gaya 51:02 hidupnya seperti apa gitu mereka kan 51:04 jadi melihat Iya. Iya. Iya. Yang mereka 51:06 akses sehari-hari gitu. Ee kemudian 51:09 sementara di Indonesia menjadi peneliti 51:12 itu berat sekali. Bahkan peneliti 51:15 bilang, "Jangan jadi peneliti, berat 51:16 gitu. Anggarannya kurang. Harus ketika 51:20 ada penelitian sudah menang pun harus 51:22 pakai biaya sendiri diajanya baru 51:24 belakangan dan lain-lain. Jadi berat 51:26 sekali jadi peneliti di Indonesia. Beda 51:28 yang di luar negeri." Iya, Bang Habib. 51:30 Bagaimana kita lakukan sesuatu yang 51:33 intinya adalah 51:35 keberpihakan terhadap anak-anak tunas 51:38 bangsa kita yang jadi harapan 51:41 mencerahkan Indonesia? 51:43 peraturan yang berpihak pada mereka 51:46 kayaknya perlu banget nih ya. Iya, Mbak 51:49 Nuning. Terkait ee dengan ini kita itu 51:53 mesti mulai dari ee sosok. Jadi orang 51:57 tua itu mesti jadi role model dulu. Jadi 51:59 bagaimana orang tua membatasi anaknya 52:01 sedangkan dia sendiri edik sama 52:03 handphone gitu ya. Jadi, bagaimana ee 52:06 ciptakan quality time dalam keluarga. 52:09 Ketika anak-anak itu ee merasa hangat di 52:13 keluarga, dia enggak akan nyari pelarian 52:15 handphone. Dia akan menyari cari 52:17 perhatian ee apa namanya? Lingkungan 52:19 lain gitu ya. Jadi, quality time bersama 52:22 orang tua itu penting sekali gitu ya. 52:24 Jadi, pantesan tadi dibilang anak-anak 52:26 pengin jadi sahabat ibunya di 52:29 medsos. Nah, ini juga menarik Mbak 52:32 Nuneng. Jadi, he bagaimana ee kita itu 52:37 kebenaran saya anak saya juga pengguna 52:40 saya kasih handphone. Jadi, cuma memang 52:43 ee ada satu sistem dari orang tuanya. 52:45 Bagaimana handphone ini nyala cuman ee 52:47 10 menit gitu ya misalnya. terus dia 52:50 begitu ngakses ee itu juga ada 52:52 pembatasan dan sebetulnya orang tua ini 52:55 edukasinya ada sedikit edukasi mungkin 52:57 yang tadi Mas Fahmi bilang kurikulum eh 53:00 citizen ya ee digital kurikulum 53:02 citizenship itu e bagaimana akses 53:05 digital itu diajarin ke orang tua. Jadi 53:08 ini sebetulnya kita ini warga global 53:11 gitu ya, bukan cuman warga negara 53:12 Indonesia tetapi warga global. Bagaimana 53:15 ee lintas informasi masuk ke anak kita 53:17 gitu ya. itu mesti kita batasin gitu ya. 53:20 Bagaimana nih kalau enggak jadi ancaman 53:22 digital juga jadi ancaman nasional. 53:24 Mungkin Mas Fahmi bisa lihat dia punya 53:26 alat canggih sekali Mbak Nuning bisa 53:28 melihat ee apa yang diomongin di ee di 53:32 di internet ini gitu ya. Apa e trennya 53:35 tuh seperti apa gitu ya. Terus ee ee 53:38 arahnya ke mana dan lain-lain itu real 53:40 time gitu ya alatnya beliau. Jadi ketika 53:44 ee kita sebagai orang tua enggak bisa ee 53:47 enggak punya literasi digital, enggak 53:49 punya bagaimana cara ee membatasi itu, 53:53 itu juga berat gitu ya. Itu berat. 53:55 Ketika kita misalnya gini contoh Ming 53:58 sekarang saya lihat ini di masjid lah 54:00 contoh ya masjid kita 54:03 lagi mendorong anak ke masjid gitu ya 54:06 dengan ee misalnya dikasih hadiah kayak 54:09 gitu anak-anak mau datang dan itu ee 54:11 habis sisa itu ee 100 lebih anak-anak e 54:15 datang. Nah ee tetapi ketika kita enggak 54:19 ada manajemennya atau mereka cuman 54:21 datang karena hadiah itu juga masalah. 54:24 Jadi ketika datang itu misalnya kita 54:25 kasih edukasi, kasih apa namanya? Ee 54:29 dengan yang ringan-ringan gitu ya, kita 54:30 ngikutin umur mereka gitu. Kadang-kadang 54:32 orang tuh kan bilang gini, "Kayak bapak 54:34 dong dulu begini begini begini." Jadi ee 54:37 masanya anak sekarang itu dengan 54:39 terpapar digital gitu, itu beda banget 54:42 dengan mereka dulu gitu. gitu dengan 54:44 saya dulu masih kecil bisa main 54:46 angklung, bisa main apa namanya gundu 54:49 dan lain-lain. Sekarang anak-anak itu 54:51 banyak penyakit obesitas bahkan cuci 54:54 darah pada anak karena apa? Mereka semua 54:56 instan gitu ya belinya semua instan. Itu 54:58 bahayanya itu sih jadi digital ini ee 55:01 bermata dua. Kalau kita batasin ee kita 55:05 juga mesti e kasih informasi yang 55:07 berguna. Kalau kita betul-betul lost 55:10 juga bahaya sekali gitu ya. Jadi ini ee 55:12 Mas Fahmi, alhamdulillah kita hari ini 55:14 nih luar biasa nih dapat narasumber yang 55:16 hebat, luar biasa buat ee literasi kita 55:19 gitu. Silakan kalau ada pertanyaan Mbak 55:21 Nuni. Em semuanya banyak jempol mungkin 55:24 bingung. Yang jelas Pak Bambang Gatot 55:26 bilang sangat mendukung dan apa yang 55:29 dapat saya perbuat untuk anak bangsa 55:32 kita. Semua pertanyaan yang mungkin juga 55:35 sama, tapi kita enggak terasa sudah ada 55:38 di ujung. Jadi closing statement 55:42 penjelasan terkait dengan bahasan kita 55:45 bagaimana pembatasan metsos bagi anak 55:49 kayaknya baik Mas Fahmi ataupun ee Bang 55:54 Habib harus merangkumnya karena waktu 55:59 kita sudah mepet banget. Silakan. 56:04 Silakan. Baik. Ee saya dulu ya. Habib. 56:07 Oke ya. Oke, ing. Jadi, eh closing saja 56:11 dari saya ini eh call to action. Saya 56:15 lebih 56:15 lebih mengajak ya kepada para ee orang 56:20 tua, pendidik, masyarakat siapapun yang 56:22 punya kcern di bidang ini yang sama 56:24 punya kernnya supaya apa? supaya ee 56:28 kita ee kalau punya kalau punya dukungan 56:31 disampaikan dukungan itu karena ini 56:33 proses bukan hanya proses kebijakan 56:36 pemerintah dan politik tapi butuh 56:37 dukungan dari dari masyarakat dari 56:39 publik itu sendiri juga ya. Tanpa itu ee 56:42 kebijakan enggak bisa jalan nantinya. 56:44 Jadi ee tadi ada pertanyaan ya dari ee 56:47 pendengar apa yang bisa dilakukan? 56:49 sampaikan dalam bentuk komen, di dalam 56:51 bentuk postingan bahwa mendukung kasih 56:54 pemikirannya. Sampaikan sebuah case tadi 56:57 ee terkait dengan ee pengalaman mungkin 57:00 yang dilihat ee membaca berita di mana 57:03 ada masalah ee terkait dengan pornografi 57:05 anak yang luar biasa dan lain-lain dan 57:07 dihubungkan dengan pentingnya pembatasan 57:10 ini, pentingnya ee kurikulum pelajaran 57:13 dan seterusnya. Nah, hal ini saya kira 57:15 yang bisa kita lakukan. Ini call to 57:17 action yang dari saya supaya kita 57:18 bersuara lah itu untuk mendukung gagasan 57:21 ini. 57:24 Oke, Bang Habib ya. 57:27 Ya, terima kasih Mbak Nuning. Jadi, 57:28 dunia digital ini kan ee sudah dari 57:31 mulai mereka baik dari anak-anak kita 57:33 sudah terpapar digital gitu ya. Ee jadi 57:37 dunia yang serba memudahkan namun juga 57:40 tantangannya banyak gitu ya. 57:42 Nah, bagaimana bukan sekedar pembatasan 57:45 media sosial ini kita bukan batasin 57:47 kreativitas, tapi gimana melindungin 57:50 masa depan mereka gitu ya. Jadi kita 57:53 memberi ruang mereka untuk tumbuh dan 57:55 berkembang gitu ya. Bagaimana yuk 57:58 anak-anak kita hidup di dunia nyata 58:00 gitu, enggak di dunia digital aja gitu 58:02 ya. Jadi ee mari kita jaga anak-anak 58:05 kita ini di dan jadikan anak-anak ini 58:09 jadi warga dunia yang melek dengan 58:11 digital gitu. Bukan larangan yang kaku 58:14 tapi kita sebagai orang tua tetap bijak 58:16 edukasinya juga bisa mencerahkan sesuai 58:19 sama umur. Dan kita kasih contoh gitu 58:21 yang yang inspirasi. Saya juga masih 58:24 belajar terus gimana cara menghadapi ee 58:27 gen ee alfa ini gitu ya. bagaimana 58:30 menanami ee literasi digital ini dari 58:33 kecil gitu ya, dari mulai mereka ee 58:36 bayi, mulai mereka ee balita gitu ya. 58:39 Dan kita kerja sama dengan guru di 58:41 sekolah, kita kerja sama dengan berbagai 58:44 ee unsur yang melibatkan anak kita gitu. 58:46 Anak kita bukan ee projject percobaan, 58:49 anak kita juga bukan pengganggu dalam 58:51 hidup kita, gitu ya. jadikan anak kita 58:53 ini sebagai penerus warisan legasi yang 58:56 bisa bermanfaat buat bangsa, negara, dan 58:59 agama gitu. terutama itu mungkin ee Mbak 59:01 Toni terima kasih sekali lagi untuk Mas 59:05 Fahmi dan juga Bang Habib untuk 59:09 kehadirannya di acara bincang hijrah 59:12 ini. Ikhwan akhwat, satu hal yang pasti 59:14 adalah kita 59:17 jangan lengah dan jangan lemah 59:20 membiarkan saja segala sesuatu terjadi 59:23 pada buah hati kita yang membuat fungsi 59:28 otak mereka untuk mengambil keputusan 59:30 menurun hanya gara-gara hal-hal 59:32 sebagaimana yang tadi dibahas. Sekali 59:35 lagi terima kasih. Billahi taufik wal 59:37 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi 59:39 wabarakatuh.