Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
1:06 [Musik] 1:28 [Musik] 1:35 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 1:36 warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan 1:38 akhwat rahimakumullah. 1:40 Syukur alhamdulillah atas rahmat, 1:42 hidayah, inayah yang Allah karuniakan 1:45 kepada kita sehingga kita bisa berada 1:48 bersama-sama di acara tamu kita pada 1:52 pagi hari ini. 1:54 Mudah-mudahan apa yang akan di 1:58 persembahkan dari acara ini membuka 2:01 sekat pemahaman baru bagi kita. Tidak 2:04 lupa salam selawat kita lantunkan kepada 2:06 junjungan umat kekasih kita Muhammad 2:09 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 2:11 Semoga kelak kita dipertemukan beliau di 2:13 saat-saat yang sangat kita rindukan di 2:16 yaumil 2:17 akhir. Ikhwan akhwat, tamu kita hari ini 2:21 adalah sosok wanita yang luar biasa. 2:25 Beliau adalah Wiwit Taher. Pernah dengar 2:28 namanya kan? 2:30 Nah, beliau adalah seorang konsultan 2:33 bisnis dan sumber daya manusia, juga 2:35 seorang trainer dan beliau adalah 2:39 alumnus London School dan Universitas 2:42 Gunadarma. Saat ini masih kuliah di 2:45 Politeknik Bentara, jurusan Psikologi 2:48 Bimbingan dan Konseling dengan beasiswa 2:52 penuh. Subhanallah. 2:54 Dan beliau juga merupakan founder PT 2:58 Idea Citra 3:01 Prakarsa. Aktif 3:03 di sekitar ranah remajanya sungguh luar 3:07 biasa. pernah di remaja Islam Masjid 3:10 Sunda Kelapa atau Riska belasan tahun di 3:13 sana dan aktif juga berkontribusi 3:16 terhadap kegiatan sosial melalui bidang 3:21 pendidikan anak dan remaja bekerja sama 3:23 dengan beberapa NGO. Beliau sudah hadir 3:27 di sini. Kita sapa beliau yuk. 3:29 Asalamualaikum warahmatullahi 3:30 wabarakatuh. Waalaikumsalam 3:33 warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih 3:35 atas kesediaannya hadir di acara tamu 3:38 kita Radio Silaturahim yang em terus 3:42 terang ini juga direlay disampaikan oleh 3:46 radio-radio lain. Tansa di Sukabumi, 3:50 kemudian Habibullah di Banyuwangi, dan 3:53 radio Angkasa 7 di Temanggung, radio 3:56 silaturahimnya di Bondowoso, Seila FM di 4:00 Batam, Megapon di Aceh, dan juga 4:03 Silaturahim di Yogyakarta. Itu yang juga 4:07 akan men menyampaikan apa yang kita 4:09 sampaikan pada hari ini. Alhamdulillah. 4:12 Sehat, ya? Alhamdulillah. Tadi enggak 4:14 nyasar nih? Ee enggak ya? Kayaknya 4:16 sering nyasar-nyasar dikit tapi ya. 4:18 Cibubur udah lumayan kenal ya gitu ya. 4:21 Oke. Sehat Mbak Nuning. Ee kalau enggak 4:23 enggak duduk di sini keles. 4:26 Masyaallah. Alhamdulillah ya kita 4:28 dikasih kesehatan oleh Iya. 4:30 Alhamdulillah. ini sebagai trainer yang 4:33 memberikan begitu banyak ee hal-hal 4:35 positif di berbagai ee seminar dan itu 4:40 tentu bukan hanya organisasi ya, tapi 4:42 juga buat umum atau kalau secara 4:45 personal ada juga enggak aktivitas itu? 4:47 Ada, Mbak. Jadi sebenarnya gini, jadi ee 4:49 ee saya ee memang ee 4:53 waktu saya membuat ee mendirikan 4:55 Perusahaan Idea Citra Prakarsa memang ee 4:57 saya satu punya satu objektif atau goals 5:00 dalam diri saya yang saya sudah ee 5:02 cita-citakan sejak lama bahwa saya ingin 5:04 memberikan kontribusi kepada bangsa ini, 5:05 kepada Islam tentunya juga untuk menjadi 5:08 satu orang yang memberikan inputan 5:11 positif kepada generasi muda, kepada 5:14 anak-anak remaja, terutama saya fokus 5:16 kepada ee 5:17 perempuan ya kepada anak remaja wanita. 5:20 Tapi siapapun yang namanya anak, saya 5:22 sangat punya concern ee terhadap mereka. 5:25 Saya punya atensi yang sangat besar 5:27 terhadap mereka. Karena saya yakin bahwa 5:29 anak muda, generasi muda adalah generasi 5:32 ee peradaban bangsa kita ke depan. Dia 5:35 menjadi tulang punggung bangsa kita. Mau 5:36 jadi apa bangsa kita ini ditentukan oleh 5:39 ee anak-anak muda kita ee saat ini dan 5:41 bagaimana bagaimana nantinya dia ke 5:43 depan. itu yang menjadi ee atensi dan 5:45 konsen saya sebagai seorang ya edukator 5:48 ya. Kalau saya bilang saya seorang 5:49 edukator. Jadi apapun medianya apakah 5:51 itu melalui pelatihan corporate, public 5:54 workshop ataupun pelatihan-pelatihan 5:56 private maupun ketika saya diminta untuk 5:59 melakukan in company training atau masuk 6:01 ke sekolah-sekolah buat saya itu sama. 6:03 apa apapun itu bentuk pelatihan atau apa 6:06 ya pendekatannya buat saya sih yang 6:08 penting adalah intinya saya ingin 6:10 memberikan kontribusi kepada 6:11 pengembangan potensi remaja ee dan anak 6:13 itu luar biasa karena terus terang ee 6:17 masa depan membuat kita lebih bercahaya 6:19 negeri ini lebih bercahaya adalah 6:21 bagaimana dengan anak-anak muda atau 6:23 remaja kita sekarang ya benar sekali 6:26 nah kalau tadi ada disebutkan 6:29 kepeduliannya terhadap 6:31 perempu Mbak Wiwi duit terhadap kondisi 6:35 remaja wanita saat ini bisa digambarkan 6:40 jujur ee sebenarnya ada dua sisi ya 6:42 dengan adanya perkembangan zaman yang 6:45 semakin canggih, semakin advance gitu 6:47 ya, terlebih kita sudah memasuki era 6:49 digital gitu ya, kehidupan kita 6:52 seolah-olah beralih dari ee kehidupan 6:54 nyata ke handphone gitu ya. kehidupan 6:57 kita beralih ke handphone hampir 24 jam 7:01 kita semua termasuk anak-anak dan remaja 7:03 ini fokusnya teralihkan oleh yang 7:05 namanya ee handphone atau sosial media 7:08 gitu. Nah, ini menjadi concern buat e 7:11 saya sebagai seorang edukator karena 7:13 saya melihat memang ada dua sisi dari 7:15 kemajuan zaman yang terjadi sehingga 7:16 sekarang adanya teknologi yang sangat 7:18 candi AI gitu ya. kita sudah diel sangat 7:21 canggih sekali sehingga orang yang sudah 7:24 ee apa sudah tidak ada bisa terlihat 7:26 seperti hidup gitu ya. Ini menjadikan 7:29 sebenarnya menjadi seperti ee ada dua 7:32 mata sisi gitu ya. Jadi ada seperti 7:34 pisau bermata dua. Di satu sisi kemajuan 7:38 teknologi memberikan inputan yang sangat 7:40 positif kepada anak-anak kita. Sehingga 7:43 dengan adanya yang dunia yang sifatnya 7:46 tidak berbatas lagi, anak-anak bisa 7:47 mencari dan mendapatkan begitu banyak 7:50 informasi sesuai dengan kebutuhan mereka 7:52 sebagai seorang anak yang tentunya 7:54 membutuhkan banyak informasi untuk 7:55 tumbuh kembang mereka dan juga ee 7:57 informasi untuk kebutuhan pendidikan 7:59 mereka. mereka menjadi begitu banyak 8:01 mendapatkan asupan-asupan yang membuat 8:03 mereka menjadi lebih ee advance bahkan 8:07 membuat mereka menjadi banyak lebih tahu 8:10 daripada yang kita tahu sebagai orang 8:11 dewasa gitu ya, sebagai orang tua 8:12 katakanlah. ini bagus buat mereka di 8:14 satu sisi, tapi di sisi lain ini menjadi 8:18 ada semacam perhatian buat kita para 8:21 edukator untuk ee memberikan ken 8:24 terhadap apa yang terjadi saat ini. Kita 8:27 tahu bahwa sosial media sudah menjadi 8:30 tidak ada sepertinya tidak ada filter 8:32 lagi buat anak-anak sehingga yang 8:34 namanya kasus ee ee grooming ee 8:40 pornografi, 8:42 lalu informasi-informasi yang sifatnya 8:45 tidak tidak seharusnya di ee di dias ee 8:50 dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja, 8:53 tapi mereka bisa mendapatkan itu dengan 8:55 cara yang sangat mudah sehingga 8:57 anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang 9:00 ya secara negatifnya matang sebelum 9:04 waktunya 9:05 kayak dikarbit aja ya. Iya gitu. Jadi 9:08 bahaya kan kalau dikarbit ya kan tidak 9:10 ada sesuatu yang positif ketika kita 9:12 mengkarmbit gitu ya. Jadi ya ini yang 9:15 menjadi kern kita sebagai seorang 9:16 sebagai orang tua, sebagai pendidik, 9:18 sebagai edukator, maupun sebagai orang 9:19 yang punya apa perhatian terhadap 9:21 perkembangan generasi muda. Ini harus 9:24 menjadi concern buat kita apa yang harus 9:25 kita lakukan dengan adanya informasi 9:27 yang semakin tidak berbatas sehingga 9:29 anak-anak ee mendapatkan sesuatu yang 9:32 memang seharusnya bukan atau belum harus 9:34 dikonsumsi oleh mereka. He. Dan itu 9:38 remaja PR bagi orang tua muda sekarang 9:42 ini adalah anak-anak yang masih di bawah 9:44 remaja tapi terpengaruh oleh paparan 9:47 yang ada di media sosial itu ya. Nah, 9:50 terkait dengan optimalisasi teknologi 9:53 digital pada saat sekarang ini kan 9:56 memungkinkan banyak sekali remaja-remaja 9:58 kita bisa 10:00 mengoptimalisasi diri dengan lebih 10:03 efektif. Enggak usah ke sekolah pun, 10:06 enggak usah keluar rumah pun, itu bisa 10:08 dari benda kecil tadi ya. Iya, Teh. 10:12 Karena hanya satu alat kecil ya, alat 10:14 kecil itu. Nah, terkait dengan ini 10:18 kira-kira saran Mbak Wiwit apa nih biar 10:21 bisa efektif mengembangkan diri dengan 10:26 benda atau media sosial yang sekarang 10:28 sangat tinggi sekali perannya. 10:31 Eh kadang ee orang banyak bilang bahwa 10:34 bicara lebih mudah daripada praktik ya. 10:37 Karena kita-kita juga kadang-kadang ya 10:39 sampai rumah gitu ya kita ya kita saja 10:41 yang tua sampai rumah gitu ya. Selesai 10:43 Mas tadi niatnya tuh pengin ah rehat 10:46 gitu ya. Tapi ternyata setelah pegang HP 10:48 kadang-kadang tidak tidak terasa 10:50 berselancar 1 jam di handphone gitu. 10:52 Kalau kita memang tidak bisa mengeducate 10:54 dan memberikan warning kepada diri kita, 10:57 menciptakan alert sendiri, ya memang 11:00 agak susah. Dan itu ee itu kenapa saya 11:04 berharap bahwa orang tua harus membangun 11:07 komunikasi yang sangat terbuka, 11:09 transparan dengan anak. Karena ee ya 11:12 kita tahu bahwa remaja ini kan usia yang 11:14 rentan ya. Remaja ini adalah usia-usia 11:16 di mana kelihatannya sepertinya mereka 11:18 ingin menjadi rebel gitu ya. ingin ingin 11:21 terlihat ee mengerti sesuatu, paham 11:25 sesuatu, dan tapi juga tidak mau terlalu 11:27 banyak diberikan ee apa diberikan 11:30 larangan-larangan, diberikan semacam 11:31 kayak warning-warning buat mereka itu 11:34 menjadi satu hal yang ee membuat mereka 11:37 menjadi merasa tidak nyaman sebagai 11:39 seorang individu gitu ya. Padahal kita 11:41 tahu bahwa di usia-usia seperti mereka 11:43 adalah usia yang sangat rentan. Jadi 11:45 kalau menurut saya salah satu yang sang 11:47 yang paling penting harus dilakukan 11:49 adalah komunikasi orang tua kepada anak 11:51 itu harus transparan transparan, Mbak. 11:53 Jadi harus terbuka. Jadi jangan membuat 11:56 ee gap terlalu jauh dengan anak ya. Jadi 11:58 kita sebagai orang tua tahu kapan harus 12:01 meladit diri kita sebagai orang tua, 12:03 tapi juga kap ee tapi juga tahu harus 12:06 tahu kapan kita bisa membawakan diri 12:08 kita untuk lebih cair dengan anak. 12:11 mungkin tidak harus menjadi teman ya, 12:13 tapi eh boleh dibilang ya iya mungkin 12:18 bisa menjadi sebagai teman tapi 12:20 posisikan diri sebagai orang tua yang 12:23 warm yang terbuka kepada anak sehingga 12:24 anak tidak takut untuk bercerita. Itu 12:27 penting ya. Nah, yang ke yang kedua 12:29 adalah bagaimana orang tua membangun 12:32 komunikasi yang integrated dan terbuka 12:34 ee dengan pihak e sekolah. Karena 12:37 bagaimanapun nih banyak nih Mbak saya 12:39 lihat ya orang tua kalau sudah banyak ee 12:42 saya ini saya bukan mengenenalisir ya 12:44 tapi ini yang saya dapatkan secara 12:46 empiristik gitu ya secara keseharian 12:48 saya lihat bahwa orang tua ketika sudah 12:51 merasa bahwa oh anak saya sudah di 12:52 sekolah ee sudah aman, sudah ada gurunya 12:56 ee berarti well ee udah enggak ee udah 12:59 enggak ada masalah lagi nih gitu ya. 13:00 Maksudnya menyerahkan 100% menyerahkan 13:02 100% gitu ya kepada e pihak sekolah. 13:04 Padahal sebenarnya ee sekolah itu adalah 13:08 cuma salah satu medium ya. Tapi yang 13:11 paling terpenting adalah bagaimana orang 13:12 tua, keluarga di rumah bisa memberikan 13:16 edukasi yang lebih optimal terutama 13:19 untuk hal-hal yang sangat substansif 13:21 terutama yang menyangkut tentang moral 13:22 etika. Jadi jangan berharap anak-anak 13:26 ini menjadi individu-individu yang ee 13:28 katakanlah menjadi individu-individu 13:30 yang e sosok manusia yang baik tapi 13:34 orang tua, keluarga tidak mau terlibat 13:36 dan mempercayakan atau menyerahkan 13:37 sepenuhnya kepada sekolah gitu. Jadi 13:39 jangan jadi harusnya orang tua 13:41 terusmenerus untuk bersikap ee 13:44 integrated dengan pihak sekolah. 13:46 Meng-update terus apa yang terjadi 13:47 dengan anaknya di sekolah, bagaimana 13:49 perkembangannya, terutama perkembangan 13:51 tentang ee mental ya. Karena banyak 13:53 sekali ternyata permasalahan anak-anak 13:55 yang kita tidak tahu, tapi ternyata di 13:58 luaran itu mereka seperti gunung es dan 14:00 mereka punya problem sendiri yang hanya 14:02 terjadi di sekolah dan kita orang tua 14:04 banyak yang tidak tahu tuh, Mbak. Dan 14:05 itu banyak ee kejadian ee faktanya 14:09 realit adalah kemarin ini terjadi di 14:11 sekolah ee di kalau tidak salah di 14:14 daerah Jawa Tengah ya. Jadi ada anak 14:17 perempuan yang akhirnya ee wafat 14:20 dibunuh, dianiaya oleh ee teman satu 14:23 sekolahnya hanya karena hal-hal sepele, 14:26 karena hanya hal-hal yang sifatnya 14:28 sangat keseharian di sekolah gitu ya. 14:30 He. Dan ini kenapa bisa terjadi? Ini 14:33 harus menjadi pemikiran kenapa ini tidak 14:36 bisa terbaca oleh orang tua dan juga 14:38 tidak bisa terbaca oleh guru di sekolah. 14:42 Ya, jadi ini harus menjadi semacam 14:45 pemikiran buat kita semua. Jadi kita 14:47 tidak bisa ketika kita mau menciptakan 14:50 sebuah ee mekanisme pendidikan yang 14:53 optimal itu jangan terlalu mengharapkan 14:55 bahwa cukup hanya sekolah atau cukup 14:58 hanya orang tua dan sekolah. Tidak. ini 15:00 harus ada sistem atau mekanisme yang 15:02 integrated antara eh pembuat 15:05 kebijakan, sekolah, masyarakat, dan 15:09 orang tua. Jadi ketika nih contohnya 15:11 ketika kita melihat ada hal-hal di 15:14 luaran yang terjadi, kita menganggap 15:16 bahwa oh bukan anak saya, ya sudah tidak 15:18 masalah. Padahal seharusnya tidak bisa 15:20 seperti itu. Ketika kita melihat 15:21 misalnya ada tindakan buling di depan 15:23 mata kita, walaupun itu bukan keluarga 15:26 kita, bukan anak kita, tapi sebagai 15:27 masyarakat kita harus punya atensi, 15:31 punya obligasi untuk mau apa mau 15:35 mengeliminate kejadian-kejadian seperti 15:37 itu. Jadi harus ada ee tindakan nyata 15:40 yang real, yang proaktif antara berbagai 15:44 elemen di dalam e masyarakat. Jadi bukan 15:46 hanya pihak sekolah dan orang tua, tapi 15:47 juga pembuat kebijakan, lalu aparat dan 15:51 juga masyarakat secara umum. Iya, 15:52 kayaknya itu merupakan kerinduan kita 15:55 semua ya, kepedulian kita terhadap ee 15:58 remaja. Terakhir yang aku dengar Mbak 16:01 Wiwit, he seorang siswa yang karena 16:04 dibully dia lompat di lantai 4 dibully 16:07 temannya dan itu baru beberapa waktu 16:10 ini. Itu kan sesuatu yang juga 16:13 seharusnya tidak perlu terjadi, tapi 16:15 faktanya seperti itu. Nah, terkait 16:19 dengan bahasan ingin memberdayakan 16:22 remaja tadi, Heeh. 16:24 Potensi daripada remaja kita untuk 16:28 berdaya seperti yang sebagian tadi sudah 16:31 Mbak Wiwit sampaikan itu menurut Anda 16:33 bagaimana? 16:34 Ee potensi wanita-wanita remaja kita 16:37 potensi. Kalau kalau bicara potensi 16:38 gini, Mbak. Sebenarnya bangsa kita itu 16:40 adalah bangsa yang besar. ketika kita 16:42 bicara secara umum dan saya melihat 16:44 bahwa anak-anak remaja kita, adik-adik 16:46 kita ini adalah anak-anak yang 16:49 sebenarnya sangat luar biasa. Kita tahu 16:51 bahwa banyak sekali anak didik kita yang 16:52 sudah menjadi juara olimpiade ya kan 16:55 juara lomba MTQ tingkat internasional. 16:59 banyak sekali anak-anak kita yang sangat 17:01 berpotensi dan memang sudah membuktikan 17:04 ee ee kapasitas mereka sebagai seorang 17:07 individu, sebagai seorang anak, dan 17:08 sebagai seorang remaja. Jadi, sebenarnya 17:11 tinggal bagaimana kita orang tua 17:13 terutama di rumah mencoba mencermati 17:16 potensi-potensi anak ini apa gitu. 17:18 Jangan anak selalu melulu diberi kayak 17:22 semacam tuntutan-tuntutan gitu, Mbak. 17:23 Jadi sebenarnya seperti tadi saya bilang 17:25 bahwa ini adalah tugas kita bersama. 17:28 kita tidak bisa e hanya mengandalkan 17:30 satu sisi atau satu aspek saja. Semua 17:33 anak-anak kita, saya lihat anak bangsa 17:35 kita ini adalah bangsa yang sangat 17:37 potensil. Mereka sudah buktikan itu 17:39 melalui ee rekam jejak mereka dengan 17:42 kompetisi-kompetisi yang sifatnya 17:44 internasional. Dan ini menurut saya 17:45 sangat ee baik, sangat positif dan ini 17:47 harus direspon ee baik oleh para pembuat 17:49 kebijakan pemerintah dalam hal ini ya, 17:52 lalu juga pihak sekolah, masyarakat dan 17:56 ee utamanya juga termasuk para pendakwah 17:58 ya. Para pendakwah juga harus terlibat 18:01 dan kita juga sebagai orang tua juga 18:02 harus punya konsen terhadap itu. Jadi 18:04 kita harus menyediakan ee medium-medium 18:08 yang sangat tepat untuk anak-anak kita 18:10 ini bisa menyalurkan bakat-bakat dan 18:13 potensinya. Jadi menurut saya sih ee 18:15 potensi-potensi anak-anak kita tuh luar 18:17 biasa, sangat besar. Tinggal bagaimana 18:19 kita bisa memberikan medium atau ruang 18:22 buat mereka untuk berekspresi, Mbak. 18:24 Jadi itu intinya dan itulah yang sangat 18:27 diperlukan oleh anak-anak kita di 18:29 samping kepedulian terhadap kondisi yang 18:31 terjadi pada mereka. Ya, benar. Kalau 18:35 terkait dengan COVID yang sudah 18:37 menghambat begitu banyak hal kemarin 18:39 itu, Mbak Wiwit. Heeh. 18:42 hidup dan gaya hidup kita. Bahkan remaja 18:45 juga akan mengalami perubahan. Iya 18:46 pastinya ya. Nah, itu sekarang dengan 18:50 kembali sudah kan sekarang sudah tidak 18:53 lagi dalam kondisi tanda petik ya COVID 18:55 kita. Apa yang harus dilakukan? Bukan 18:57 hanya bagi remajanya, tapi bagi kita 19:00 orang tua atau orang-orang dewasa di 19:02 sekitarnya. Sebenarnya ee COVID ee yang 19:04 terjadi kemarin ini ee memberikan banyak 19:07 kayak semacam insight ya buat kita ya, 19:09 Mbak ya. baik sebagai seorang individu, 19:12 sebagai seorang profesional, dan juga 19:14 sebagai seorang ee orang tua gitu ya. Ee 19:17 COVID membuat kita kemarin menjadi dekat 19:21 ya, dekat tanda kutip karena terpaksa 19:22 gitu ya. Mau enggak mau jadi dekat. Yang 19:25 tadinya ee seharian banyak di luar 19:27 rumah, tapi ee ibu dan ayah menjadi 19:30 lebih sering di rumah dan anak-anak 19:32 sekolah juga ee lewat online gitu ya. 19:35 Dan ini sebenarnya kan sangat bagus ya, 19:36 sangat positif. Jadi memberi ruang buat 19:39 ee keluarga untuk menjadi dekat satu 19:41 sama lain, membangun komunikasi yang 19:42 tadinya sempat ee renggang menjadi lebih 19:46 dekat gitu ya. Dan saya lihat sih apa 19:48 yang sudah diberdayakan oleh ee 19:50 pemerintah kita melalui ee contohnya 19:53 program ee kampus merdeka gitu ya. Dan 19:56 ini adalah menjadi satu solusi yang 19:58 sangat positif gitu untuk anak-anak atau 20:01 orang tua misalnya menjadi lebih dekat 20:03 dengan keluarga. Jadi yang harus terus 20:05 dikembangkan adalah program-program yang 20:07 sudah dibangun yang setelah terjadi 20:09 COVID itu kan ada perubahan-perubahan 20:11 baik dalam dunia kerja, dunia 20:13 profesional, maupun dunia pendidikan. 20:15 Dan sekarang ee anak-anak kuliah pun 20:17 tidak harus selalu datang tiap hari ke 20:18 kampus gitu. Ee jadi mereka bisa 20:21 melakukan ee pola ee pola belajar dengan 20:24 ee hybrid ya. ada yang datang lalu ada 20:27 juga yang dilakukan via online dan untuk 20:29 full ee sekolah sih mungkin belum ya 20:32 kalau untuk tingkat SD sampai SMA mereka 20:34 masih harus datang ee full ke sekolah. 20:36 Tapi menurut saya dari apa yang sudah 20:38 kita alami selama COVID kemarin membuat 20:40 kita sadar bahwa yang paling terpenting 20:43 adalah interaksi. 20:45 Nah, interaksi penting. Kenapa saya 20:47 bilang interaksi penting? Sekarang gini 20:49 deh, ee Mbak Nuni ngerasa enggak 3 hari 20:52 eh sori 3 tahun diam di rumah tanpa 20:56 melakukan apapun dan ketika melakukan 20:59 apapun pun terpaksa dilakukan hanya 21:01 melalui online? Ada enggak perubahan ee 21:03 sikap mental kita? Koma. Iya. 21:07 Jadi itu yang membuat kita sadar bahwa 21:10 ternyata silaturahim ya itu sangat 21:13 penting. Tatap muka itu memberikan satu 21:17 ee ee nilai value yang sangat berharga 21:22 gitu ya. Dan ternyata komunikasi itu 21:25 komunikasi langsung ya komunikasi 21:27 langsung nih kita bicara komunikasi 21:29 langsung ternyata tidak bisa digantikan 21:32 oleh yang namanya teknologi dan itu 21:34 harus kita kembali kepada itu sebenarnya 21:36 substansinya di situ bahwa kita sadar 21:38 sebagai manusia kita selama ini sebelum 21:41 COVID kita sudah 21:43 terlalu dikuasai atau diperdaya 21:46 katakanlah oleh teknologi gitu ya. Nah, 21:49 sekarang setelah kita dipaksa oleh 21:51 keadaan kita berpisah satu sama lain, 21:54 berjarak gitu ya, kita merasa bahwa oh 21:56 ternyata sebagai 21:58 manusia interaksi, 22:01 komunikasi, silaturahmi itu sangat luar 22:04 biasa ee value-nya atau nilainya dan itu 22:08 tidak bisa digantikan oleh apapun. Tapi 22:11 ada juga e sisi lain yang kita belajar 22:13 bahwa ternyata untuk saat ini jarak 22:17 tidak ee tidak menjadi penghalang untuk 22:19 kita misalnya 22:21 berbisnis berinteraksi, berpromosi atau 22:25 dagang atau apapun aspek dalam kehidupan 22:28 dengan adanya COVID itu menciptakan 22:31 ruang-ruang baru, menciptakan 22:34 teknologi-teknologi baru, dan 22:36 menciptakan potensi atau ee 22:38 peluang-peluang baru. Contohnya kita ee 22:41 tanpa COVID kita enggak ngerti tuh yang 22:43 namanya meeting bisa dengan Zoom gitu 22:45 ya. Dan sekarang kita belajar, bekerja, 22:49 meeting ee kita bisa lakukan secara 22:52 dengan menggunakan bantuan teknologi dan 22:54 ini adalah tentunya positif ya. Jadi 22:56 sebenarnya menurut saya apapun yang 22:59 terjadi, apapun yang kita alami ini 23:01 sunatullah ya. Pasti Allah selalu 23:02 menciptakan ketika ketika ada suatu 23:05 masalah, Allah tuh sudah menyediakan 23:07 solusi terbaik, result yang terbaik dan 23:10 tapi juga Allah juga sudah menyiapkan 23:13 hikmah-hikmah terbaik yang bisa kita 23:15 ambil. Itu selalu ee terjadi dalam 23:17 setiap ee permasalahan yang ee yang kita 23:19 hadapi. Jadi, ada hikmah dan ada solusi. 23:22 Selalu seperti itu. 23:25 Ada hikmah, ada solusi. Asal kita enggak 23:27 diam bengong. Yes. Mau mau selalu untuk 23:30 ee apa ya? kreatif ya. Kreatif dan 23:33 responsif itu penting. Itu penting 23:34 banget. Kreatif, responsif, dan untuk 23:37 para remaja, wanita ee terutama mungkin 23:40 ya em karena kepedulian Mbak Wiwit 23:44 terhadap perempuan, terhadap remaja itu 23:47 sungguh luar biasa. Ee untuk bisa 23:50 mengembangkan diri dengan baik, kita 23:53 semua tahu ya tadi juga sudah disebutkan 23:55 bla bla bla harus ini itu dan 23:57 sebagainya. He. 23:59 Tetapi 24:00 bagaimana tips untuk bisa mengetahui 24:04 kekurangan diri sendiri atau apa 24:06 sehingga kita tahu mau ke kanan atau ke 24:08 kiri. Mungkin Mbak Bibit bisa bantu 24:11 kami-kami yang ada di rumah nih ya, 24:12 teman-teman remaja. Iya ya. Kayaknya 24:15 bagaimana kelemahan kita ini untuk bisa 24:17 dipindahkan menjadi ee sesuatu kekuatan. 24:21 Jadi ee sebagai individu ee sebagai 24:24 seorang muslim tentunya kan Rasulullah 24:25 bilang ya, orang yang beruntung adalah 24:27 orang yang hari ini lebih baik daripada 24:29 hari kemarin. Itu harus menjadi acuan 24:31 nih buat kita sebagai seorang muslim 24:32 nih, baik yang masih remaja maupun 24:35 kita-kita yang sudah dewasa. Itu adalah 24:37 satu ee basic dasar. Tapi tentunya gini 24:41 ee sama seperti ee progres apapun yang 24:45 kita butuhkan gitu ya. Apakah itu 24:47 bentuknya untuk bisnis, apakah itu 24:49 bentuknya untuk organisasi, dan apakah 24:52 untuk individu sekalipun kita harus 24:54 selalu melakukan yang namanya sword 24:56 analysis, gitu ya. Jadi sw analysis. 24:59 Jadi harus tahu tuh kekuatan kita tuh 25:02 apa sih gitu ya, kelebihan saya tuh apa. 25:05 Nah, nih untuk adik-adik remaja di 25:06 rumah. Jadi ee sekarang ini dengan 25:09 adanya sosial media kan orang tuh 25:11 semuanya pengin eksis gitu ya. Jadi yang 25:14 yang introvert tuh pun kadang-kadang 25:17 bisa tiba-tiba menjadi seorang yang ee 25:19 percaya diri dan kadang-kadang menjadi 25:21 narsis. Sebenarnya enggak ada yang salah 25:22 gitu ya. Saya pun orangnya kadang-kadang 25:24 narsis ya. Akui kok gitu ya. Jadi gini 25:29 untuk adik-adik di rumah, untuk adik 25:31 anak-anak remajaku sekalian gitu ya. 25:33 Jadi gunakanlah sosial media itu sebagai 25:37 tempat kita untuk bukan hanya berkreasi, 25:41 tapi juga menjadikan rekam jejak kita 25:43 untuk melihat sejauh mana sih 25:44 perkembangan saya sebagai seorang 25:46 individu. Tadi saya sudah bilang bahwa 25:47 kita tuh wajib sebagai individu pun kita 25:49 wajib melakukan SWAT analisis. kita 25:51 harus memahami diri kita apa kelebihan 25:54 kita, apa kekurangan kita, apa kekuatan 25:58 kita sebagai seorang individu, lalu apa 26:01 sih tantangan yang kita hadapi untuk ee 26:03 sesuai dengan kekuatan dan kekurangan 26:04 yang kita miliki itu tuh bisa dengan 26:06 mudah dilakukan ee oleh seorang individu 26:09 dan terutama oleh adik-adik remaja tuh 26:11 dengan mudah dan gampang dengan adanya 26:12 bantuan sosial media gitu. Karena kan 26:14 mereka tuh sering kan e apapun yang 26:17 mereka lakukan mereka posting ya kan. 26:19 apa apapun yang terjadi dalam kehidupan 26:21 mereka e mereka share lewat inst insta 26:24 story ya namanya ya insta story dan 26:27 artinya dari situ kan mereka bisa 26:29 melihat bisa membaca oh kalau misalnya 26:32 misalnya dia memposting sesuatu misalnya 26:34 dia memposting sesuatu dan ketika banyak 26:37 dapat komen negatif harusnya itu bisa 26:39 menjadi acuan buat mereka untuk oh ya 26:41 berarti saya untuk next time saya tidak 26:42 boleh melakukan hal ini lagi. Jadi, 26:44 justru dengan adanya teknologi ini 26:47 memudahkan buat anak-anak remaja di 26:49 rumah, adik-adikku sekalian di rumah, 26:51 anak-anakku sekalian untuk mengevaluasi 26:53 diri. Itu mudah banget karena evaluasi 26:56 itu memang harus dilakukan oleh diri 26:57 sendiri. Ee tentunya pihak eksternal 27:00 atau orang luar bisa menjadi satu 27:03 motivasi buat kita mencoba mengevaluate 27:06 diri kita apakah ini sudah benar atau 27:08 tidak. Dan dengan adanya sosial media 27:10 ini menjadi lebih mudah ya, Bu ya. 27:12 Menurut saya seperti itu. He. Heeh. Oke. 27:15 Boleh kita jawab pertanyaan yang masuk 27:17 melalui WA ya? Boleh. He ini 27:21 dari Oke. Kok ada telepon masuk? Mau 27:24 diangkat enggak nih Mas 27:27 Anis? Oke, kita langsung ke Pak Irfan di 27:31 Sukabumi. Asalamualaikum Mbak Wiwit. 27:33 Waalaikumsalam. 27:35 Belum lama ini di daerah Jawa Tengah ada 27:38 guru yang dibacok oleh muridnya sendiri. 27:40 permasalahannya hanya karena dapat nilai 27:43 kecil. Bagaimana dengan kondisi anak 27:46 bangsa yang seperti ini yang sudah mulai 27:49 mudah sekali berbeda? Terima kasih. 27:52 Bapak siapa tadi namanya? Ee tunggu 27:55 sebentar. 27:57 Pak Pak Afan Irfan. Pak Irfan di 28:00 Sukabumi. Asalamualaikum Pak Irfan. 28:02 Semoga sehat-sehat di sana semua. 28:03 Sukabumi semua sehat-sehat semua ya. 28:05 Amin. Ee menurut saya gini, problem kita 28:08 saat ini adalah ee ya mungkin ini adalah 28:12 efek dari perkembangan zaman ya. Ee 28:15 memang problem yang isu yang terbesar 28:17 saat ini adalah adanya ee norma etika ee 28:23 sudut pandang yang semakin ee berubah 28:27 mengalami degradasi moral gitu ya. 28:30 mengalami perubahan-perubahan sikap 28:31 moral yang menjadi lebih semakin ee 28:34 menurun gitu ya. Dulu zaman kita kecil 28:37 kita sangat respect, sangat hormat 28:39 kepada guru kita. Ee apapun yang guru 28:41 kita ucapkan itu menjadi semacam sebuah 28:44 perintah yang kita harus terima dan 28:47 lakukan tanpa banyak tanya gitu ya. Tapi 28:50 ya kembali lagi ini adalah menjadi kern 28:53 kita semua sebagai seorang edukator, 28:54 orang tua dan tentunya juga masyarakat 28:58 ee alim ulama gitu ya untuk lebih 29:01 memperhatikan 29:03 ee ee permasalahan ini sudah menjadi 29:06 semakin isu yang sangat krusial saat 29:08 ini. anak menjadi anak terutama anak 29:11 didik tidak tidak lagi menghormati 29:15 nilai-nilai ee penghormatan kepada ee 29:18 gurunya, kepada orang yang lebih tua dan 29:21 ya ini adalah resiko dan harus ee 29:23 situasi yang harus kita hadapi, Pak. 29:24 Tapi intinya yang paling penting adalah 29:28 orang tua di rumah. Ini memegang peranan 29:31 penting untuk memberikan edukasi dan 29:33 pemahaman kepada anak bahwa guru adalah 29:37 orang yang wajib dihormati dan didengar 29:40 ucapannya serta perkataannya. Ketika ada 29:42 seorang guru guru memberikan nilai yang 29:45 tidak diharapkan dan harusnya si anak 29:48 diberi pemahaman oleh orang tuanya bahwa 29:50 apapun yang dilakukan pasti akan ada 29:52 risikonya. I. Jadi ketika dia 29:54 mendapatkan misalnya nilainya buruk gitu 29:56 ya, harusnya orang tua itu di rumah ini 29:59 memang banyak ini mungkin udah menjadi 30:01 semacam kultur kali ya, Mbak ya. E 30:03 mungkin menjadi sebuah kebiasaan bahwa 30:06 ee kamu nilainya harus tinggi. Nah, itu 30:09 ini adalah semua ee brainwash yang 30:12 dimasukkan oleh orang tua kepada anak. 30:14 Kamu harus nilainya tinggi dan sehingga 30:16 ketika anak, Mbak ini permasalahannya 30:19 menjadi begini, Mbak. orang tua meminta 30:21 anak semua nilainya harus bagus dituntut 30:23 gitu ya. Memang wajar sih sebagai orang 30:24 tua harus ranking gitu ya. E wajar tapi 30:27 kan sebenarnya tidak perlu melakukan ini 30:29 seperti sebuah kayak semacam ee apa ya 30:32 pemaksaan gitu loh. Nah sehingga ketika 30:35 si anak punya nilai buruk he dia merasa 30:40 waduh ini bahaya buat saya. saya akan 30:43 mungkin mendapatkan konsekuensi 30:45 konsekuensi yang ee berat atas e nilai 30:49 saya yang buruk ini sehingga 30:51 emosi-emosi di dalam 30:53 dirinya tidak bisa dia kontrol sehingga 30:57 akhirnya dia mencari pelampiasan. 31:01 pelampiasanya. Akhirnya siapa yang 31:03 paling paling paling bisa dia ee jadikan 31:07 sasaran gitu ya sebagai balas dendam 31:10 atas kekecewaan dan mentalnya yang sudah 31:12 sakit tersebut. Akhirnya guru yang 31:14 memberi nilai. Iya. Oke, kita terima 31:16 telepon terlebih dahulu. Halo. 31:19 Asalamualaikum. Masih sambung? 31:21 Waalaikumsalam. Oke, silakan. Dengan 31:23 Bapak siapa? Di mana? 31:25 Iya, dengan Bang Fajar ini, Mbak Nuni 31:29 dan Mbak Wiwit. Oke, silakan Pak. 31:32 Iya. Asalamualaikum, Mbak Wiwit. 31:35 Waalaikumsalam, Pak. Apa kabar, Pak? 31:37 Sehat. 31:39 Sehat, alhamdulillah. Alhamdulillah. 31:42 Iya. Gini, Mbak. Emang kompleks sekali, 31:44 Mbak ya, zaman sekarang, Mbak ee intinya 31:47 ini memang budaya kita berubah, Mbak. 31:50 Kebersamaan terutama ya, Mbak ya. Iya. 31:52 Dulu zaman dulu, Mbak, biar kata-k 31:54 tetangga jauh gitu, Mbak. Ini kalau ada 31:56 anak remaja atau anak kecil main 31:58 jauh-jauh kadang-kadang suruh pulang 32:00 atau dibawa ke rumahnya gitu dianterin 32:02 gitu, Mbak ya. Sekarang mah cuek-cewek 32:04 aja itu salah satu gitu ya, Mbak ya. 32:07 Atau jadi berubah enggak ada kepedulian 32:09 itu kurang gitu. Yang kedua juga memang 32:12 media sosial dan handphone ini gimana 32:14 ya, Mbak ya? mungkin k bagi yang 32:17 memiliki ilmu bagaimana mengurangi 32:19 anak-anak supaya jangan candu sama media 32:21 sosial atau handphone gitu ya, Mbak ya. 32:23 Saling ber Iya. Saling berbagi gitu. 32:25 Ngeri banget, Mbak gitu loh. 32:27 Sampai-sampai ya itu dia ee seks bebas 32:29 itu anak kecil sudah tahu bagaimana 32:31 mengerjai lawan jenis itu sudah tahu, 32:33 Mbak. Itu seram banget, Pak. Terus 32:34 janjian tawuran sampai di medsos gitu. 32:37 Seram juga kan, Mbak? Saya tunggu di 32:39 sini, di sini ketemu tawuran gitu. Itu 32:41 dari medsos itu banyak sekali ee yang 32:44 kayak Iya. itu dia. Nah, makanya kembali 32:46 lagi tadi kebersamaan kita nih, rasa 32:48 peduli kita terhadap sesama gitu sudah 32:51 mulai berkurang. Makanya ini jadi ee apa 32:54 solusi ke depannya itu kira-kira 32:56 bagaimana yang baknya kompleks sekali 32:58 gitu loh Mbak. Seram, Mbak kalau dilihat 32:59 sekarang gitu kan. Enggak anak-anak, 33:01 enggak yang dewasa. Kadang yang dewasa 33:03 menyontohkan yang enggak benar gitu kan, 33:05 Mbak. Nah, ini ee memang memang jadi ee 33:09 problem kita ke depan ee dan sekarang 33:12 ini kan yang ke depan itu kan dari yang 33:13 sekarang Mbak ya. gitu kan. Nah, 33:15 mudah-mudahan kalau Mbak ada waktu atau 33:18 ada apa berbagi, saling meng-share gitu 33:20 loh, Mbak ee ilmu-ilmu supaya bagaimana 33:23 nih Heeh. Yang hal-hal seperti ini gitu 33:25 ya. Bolehlah, Mbak dikirim nomornya, 33:27 Mbak ke nomor saya gitu, Mbak. Saya akan 33:29 bantu akan kami berikan ya. Iya, share 33:32 nanti akan saya berikan kontak saya ya, 33:34 Pak. Oke, Pak Fajar. Terima kasih Pak 33:37 Fajar. Oke, di penghujung nanti akan 33:41 disebutkan juga nomor yang bisa 33:44 dihubungi dari Mbak Wiwit Tah ini ya. 33:48 Yang jelas tadi merupakan sebuah 33:49 informasi karena biar bagaimanapun juga 33:52 nanti berkomunikasi secara lebih intens 33:57 kalau tidak di radio yang waktunya 34:00 tinggal beberapa menit ini enggak enggak 34:03 kerasa ya, Mbak ya? Enggak terasa dan 34:05 kita 34:06 bikin apa ya sepas mungkin waktu yang 34:09 disediakan untuk acara ini dengan 34:12 closing statement terkait dengan 34:13 bagaimana seorangwi Tahir yang begitu 34:16 peduli pada remaja kita. Silakan. Oke. 34:20 Ee 34:23 eh kita tahu bahwa ee 34:27 mendidik ee seorang laki-laki adalah 34:31 berarti mendidik dirinya. Tapi ketika 34:33 mendidik seorang perempuan berarti kita 34:35 mendidik dan menciptakan generasi ke 34:38 depannya. Jadi artinya kenapa saya 34:40 sangat concern terhadap anak-anak remaja 34:42 gitu ya, anak-anak remaja wanita karena 34:45 anak remaja wanita ini adalah calon ibu 34:47 bangsa. He. Jadi saya berharap bahwa 34:49 kita sebagai seorang orang tua dan 34:51 sebagai seorang edukator punya konsern 34:54 yang sangat ee ee lebih gitu ya terhadap 34:57 ee anak-anak remaja kita, anak remaja 35:00 wanita kita. Dan harus kita ingat 35:03 mereka-mereka adalah calon ibu ke 35:05 depannya yang akan menciptakan generasi 35:09 generasi mendatang. Jadi, mari kita 35:11 sama-sama bergandengan tangan menjadi ee 35:14 orang tua dan edukator yang hangat, yang 35:17 terbuka, yang bisa berkomunikasi 35:21 secara intens dan secara ee apa ya, 35:25 secara akrab dengan anak-anak kita, 35:27 dengan anak-anak remaja kita. Dan mari 35:30 jadikan diri kita seorang sebagai orang 35:33 tua dan seorang edukator sebagai 35:35 resources, sebagai sumber ya. sehingga 35:38 anak kita tidak mencari informasi lagi 35:40 di handphone ketika mereka membutuhkan 35:42 pertanyaan, ketika mereka membutuhkan 35:44 jawaban, ketika mereka sori ketika 35:47 mereka sedang mencari 35:49 pertanyaan-pertanyaan dan membutuhkan 35:50 jawaban dalam pencarian jati diri mereka 35:53 sebagai seorang anak dan remaja, mereka 35:55 tidak lagi lari kepada handphone, tapi 35:57 mereka bisa bertanya kepada kita. Untuk 35:59 itulah. Jadi jangan lupa kita sebagai 36:02 orang tua, sebagai edukator, sebagai 36:05 apapun profesi dan latar belakang kita, 36:08 kita juga harus belajar terus untuk 36:10 meningkatkan diri kita, men-develop diri 36:12 kita, memberikan asupan-asupan yang 36:15 baru. Karena zaman semakin berkembang, 36:18 zaman semakin ya canggih ya, Mbak ya. 36:21 Anak-anak juga semakin pintar. Kalau 36:23 anaknya belajar tapi orang tuanya tidak 36:25 belajar, itu yang berbahaya gitu. 36:28 Jangan-jangan nanti akan terjadi gap 36:31 antara orang tua dengan anak yang sangat 36:33 jauh. Jadi kalau mau membangun 36:35 komunikasi yang sangat integrated, 36:37 sangat terbuka dengan anak, dengan 36:40 anak-anak remaja kita, dengan anak 36:42 remaja wanita kita, maka kita sebagai 36:44 seorang ibu, siapapun kita sebagai 36:46 seorang ayah, sebagai seorang edukator 36:48 itu harus juga terus men-develop diri 36:51 kita untuk mendapatkan banyak ilmu-ilmu 36:53 baru sehingga kita bisa berkomunikasi 36:54 dengan mereka secara optimal. Itu aja, 36:56 dari saya. Masyaallah. Terima kasih Mbak 36:59 Wiwita Tahir. Jadi ikhwan akhwat yang 37:02 jelas mendidik perempuan adalah mendidik 37:05 calon ibu bangsa. Yes. Kita perempuan, 37:08 anak kita perempuan, saudara kita dan 37:10 lain sebagainya. Tadi saya janji mau 37:12 memberikan contact person-nya dari 37:14 narasumber kita pada hari ini. Untuk IG 37:18 Anda bisa hubungi 37:21 @wiwiyet. E Wiwiet pakai ED ya, 37:24 belakangnya TH HR. Huruf kecil semua. 37:26 Sementara untuk emailnya eh ini juga 37:30 sama 37:34 wivthr@gmail.com ya. sebagai seorang 37:36 edukator kita semuanya seperti yang tadi 37:39 Mbak Wiwit bilang, mau ngasih nomor 37:41 teleponnya ya. Berapa yang 0812 37:46 081 ee 0812 37:49 8903 37:53 8951. Sekali lagi 37:56 0812 37:59 8903 38:00 8951. Kalau telepon enggak diangkat, WA 38:03 dulu karena biasanya sangat sibuk. 38:05 Mbak Wiwi, terima kasih banyak untuk 38:07 kehadirannya sebagai tamu dari ee Radio 38:10 Silaturahim dan untuk semua yang berada 38:13 bersama kami di daerah ataupun juga di 38:15 Jakarta. Terima kasih sekali lagi. 38:18 Billahi taufik wal hidayah. 38:19 Wasalamualaikum warahmatullahi 38:20 wabarakatuh.