Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Tema yang akan ustaz sampaikan adalah
- mengenai keutamaan Ramadan. Ya, kita
- akan bersama-sama simak dan nanti yang
- ingin bergabung bertanya silakan Anda
- bisa kirimkan pertanyaan Anda melalui
- WhatsApp kami di 0811999720.
- Tad ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Mursalin
- bin Haji Abdurahman. Humidullah Irfan
- Marid
- K. Ahmadwani nawi akam
- ulama k muhammadim asari
- muhammadahmadanah
- minal muslimin muslimat wal mukminin
- mukminat
- alfatihahubillahiminasyaitanirjim
- bismillahirrahmanirrahimhamdulillah
- Iaka naudu iaka ihdal mustaqimatina
- anamta alaihim ghairil magdubi
- alaihimadin.
- Amin.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu
- wassalamu ala asrofil mursalin sayyidina
- wa maulana Muhammadin wa ala alihi
- wasohbihi ajmain. Amma ba'd. Fa inna
- asqal hadis kitabullah taala wahair hadi
- Muhammadin shallallahu alaihi wasallam.
- Waa mukdatin bidah wa bidatin dolalah
- waalatin finar. Para pendengar Radio
- Silaturahim dan pemirsa Rasil TV
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah [berdehem] kembali kita
- panjatkan puji serta syukur ke hadirat
- Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa
- melimpah curahkan nikmat karunianya
- kepada kita, terutama nikmat iman dan
- Islam, nikmat sehat walafiat, nikmat
- panjang usia dalam taat, termasuk nikmat
- dipertemukannya kita sore ini dalam
- keadaan sehat walafiat guna menjalani
- kan salah satu perintahnya yang
- diwajibkan atas kita semua yaitu
- menuntut ilmu yang insyaallah pada sore
- ini kita tidak seperti biasanya membahas
- akidah akhlak sehubungan ini memasuki
- bulan Ramadan maka saya akan membahas
- tentang khotbahnya Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam di akhir bulan bulan
- Syakban
- yang isinya adalah menjelaskan tentang
- keutamaan Ramadan. Mudah-mudahan dengan
- dengan kita mendengarkan
- apa yang
- disampaikan oleh Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam ya itu bisa kita ee
- manfaatkan, kita amalkan sebaik-baiknya
- sehingga kita benar-benar akan
- memperoleh ee [berdehem] kebaikan yang
- banyak sesuai dengan yang disampaikan
- Nabi Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam. Selawat dan salam
- semoga selalu tercurah atas junjungan
- kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam beserta keluarganya, para
- sahabatnya, para pengikut dan pengamal
- sunahnya, [tertawa]
- para pendengar hadiah silaturahim dan
- pemirsa Rasil TV.
- ee
- di akhir Ramadan, di akhir bulan Syawal
- ya, di akhir bulan Syakban seperti
- diriwayatkan
- oleh Salman al-Farisi
- ya, bahwa
- Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah
- berpidato
- atau berkhotbah kepada para sahabat
- sebagai berikut. ikut beliau bersabda,
- "Ya ayyuhannas
- qod adollakum syahrun adzim syahrun
- mubarok."
- Wahai manusia,
- telah datang kepada kalian bulan yang
- agung, bulan yang penuh berkah.
- Ya, bulan yang agung, bulan yang berkah,
- agung atau luar biasa.
- Syahrun fihi lailatun
- khairun min syar. Jadi bulan Ramadan ini
- oleh Nabi disebut sebagai syahrun adzim,
- bulan yang luar biasa. Syahrun mubarak
- bulan yang diberkahi.
- Kenapa
- disebut dengan bulan yang luar biasa?
- Ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam
- menyebutkan
- satu, syahrun fihi lailatun khairun min
- alfi syahr.
- Yaitu bulan [berdehem]
- yang di dalamnya ada satu malam yang
- lebih baik dari 1000 bulan.
- Nabi tidak menjelaskan ya satu malam itu
- [berdehem]
- ee malam tanggalnya tanggal berapa atau
- malam apa. Namun beliau menyebutkan
- syahrun fihi di dalam bulan tersebut
- yakni bulan Ramadan ya ada satu malam
- yang lebih baik dari 1000 bulan. Oleh
- sebab itu di sini ulama kemudian berbeda
- pendapat ya. Ada yang mengatakan adalah
- tanggal sekian, tanggal sekian itu sudah
- biasa ya. Bahkan ada juga yang
- mengatakan bahwa ee lailatul qadar itu
- terjadi satu kali tidak mesti di bulan
- Ramadan. Ada. Tapi ada juga yang
- menentukan hanya di bulan Ramadan tapi
- tidak menentukan tanggal berapa.
- Jadi di awal, di pertengahan atau akhir.
- Namun kalau kita lihat
- sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam,
- beliau menganjurkan kepada kita untuk
- mencarinya
- ya di sepertiga yang ee sepertiga yang
- ketiga ya. Jadi tanggal 21,
- 23, 25, 27 atau 29.
- Ee yang menarik di sini adalah ya bahwa
- pada ee kalau kita lihat di dalam Sahih
- Bukhari
- itu ada cerita bahwa suatu hari Nabi
- kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- itu mau [berdehem]
- ee menginformasikan
- kepada para sahabat tentang Lailatul
- Qadar.
- Namun dijumpai oleh Rasulullah
- ya pada saat itu dua orang yang dua
- orang sahabat yang sedang bertengkar di
- dalam masjid.
- Ya, karena itulah kemudian
- oleh Allah diangkat itu lailatul qadar
- ya. Sehingga tidak bisa diketahui lagi
- gara-gara dua orang ini enggak bisa
- diketahui lagi tanggal berapa lailatul
- qadar. H. [berdehem] Namun kata
- Rasulullah,
- boleh jadi dihilangkannya
- lailatul tanda-tanda lailatul qadar itu
- akan lebih baik buat kalian semua para
- pendengar radia silaturahim.
- Ee setiap bulan Ramadan itu pasti ada
- satu malam yang namanya lailatul qadar.
- Entah tanggal berapa itu sudah pasti
- ada.
- Ya. Nah, dengan demikian karena sudah
- pasti di dalam satu bulan itu ada satu
- malam yang disebut lailatul qadar, maka
- kita semua pasti bertemu dengan malam
- itu.
- Oleh sebab itu, Saudara enggak usah
- nyari lailatul qadar pasti ketemu
- ya. kita pasti ketemu
- setiap tahun tuh kita ketemu lailatul
- qadar ya. Ya, katakan sekarang kalau
- lailatul Qadar itu jatuhnya tanggal 17
- Ramadan.
- Ya, kalau kita tanggal 17 Ramadan itu
- hidup atau selama bulan Ramadan kita
- hidup, kita kan pasti ketemu dengan
- tanggal 17 itu.
- Itu artinya kita pasti ketemu dengan
- lailatul qadar.
- Ya, oleh sebab itu lailatul qadar enggak
- usah dicari, pasti ketemu dengan kita
- ya. Cuma kita tidak tahu tanggalnya
- berapa.
- Dan ini yang kata Nabi boleh jadi itu
- lebih baik ya dengan dihilangkannya.
- Yang dimaksud dihilangkan di sini bukan
- lailatul qadarnya,
- tapi tanda-tanda atau ciri-ciri khusus
- lailatul qadar itu yang dicabut, yang
- dihilangkan oleh Allah Subhanahu wa
- taala sehingga kita tidak bisa
- mengetahuinya lagi. Bukan berarti
- lailatul qadarnya hilang. Tidak ya.
- Malam lailatul qadarnya terus setiap
- tahun ada. Cuma ciri-ciri khususnya saja
- yang dihilangkan.
- Ya. Nah, hal ini kata Nabi boleh jadi
- itu lebih baik buat kita. Karena memang
- benar jamaah rahimahullah, banyak
- hal-hal yang dirahasiakan oleh Allah ya.
- Yang tujuannya apa? Tujuannya supa untuk
- kebaikan kita semua
- ya.
- di antaranya adalah ya ini ee lailatul
- qadar itu oleh Allah dirahasiakan
- tanggal berapa?
- Ini jelaslah untuk kebaikan kita semua.
- Kita tahu satu malam itu kalau kita
- beribadah lebih baik dari ibadah 1000
- bulan. Ya, lebih baik dari ibadah 1000
- bulan. Seandainya kita mengetahui
- malam lailatul qadar itu jatuhnya kapan,
- terjadinya kapan, di tahun 200026
- ini ya. Jangan-jangan kita ini
- ibadahnya hanya di tanggal itu saja
- ya, dari pagi dari apa namanya pokoknya
- dari terbenam matahari sampai subuh
- ya. kita enggak ke mana-mana. Ibadah
- terus supaya lebih baik dari 1000 bulan.
- Begitu malam-malam lainnya
- ah udah apa namanya sudah lain lagi.
- Bisa jadi seperti itu rahim Allah. Tapi
- dengan dihilangkannya
- tanda-tanda lailatul qadar. Kita tidak
- tahu lailatul qadar itu kapan. Maka
- akhirnya tiap malam kita beribadah.
- dengan penuh semangat ya, dengan harapan
- ya kalau kita mengisi setiap malam itu
- dengan ibadah pasti di lailatul qadar
- itu kita mengisinya dengan ibadah bukan
- dengan perbuatan maksiat.
- Kita juga dirahasiakan oleh Allah
- tentang kematian. Kapan kita akan mati?
- Ya, tidak diberitahu.
- Seandainya orang itu diberitahu kapan
- matinya, bulan apa, tanggal berapa, jam
- berapa misalnya diberitahu hidup manusia
- sudah enggak ada yang karuan-karuan
- nantinya. Enggak beres semua manusia
- hidupnya.
- Kalau Ahmad Jazuli oleh Allah ditetapkan
- umurnya 65 tahun dan saya sendiri tahu
- itu sebelum umur 65 tahun. Wah, sudah
- berbuat gila-gilaan
- ya. Ee toh enggak bakalan mati gitu,
- enggak bakalan mati. Ini masih lama
- matinya nanti menjelang umur 65 baru
- taubatan nasuha. Enggak karu-karuanlah
- hidup manusia ini. Tapi oleh Allah
- dirahasiakan kematian seseorang supaya
- apa? supaya setiap saat dia sudah apa
- namanya? Sudah bersiap-siap
- seandainya kematian itu datang secara
- tiba-tiba
- sehingga perbuatannya jadinya baik,
- teratur
- ya dan masih banyak lagi yang
- dirahasiakan oleh Allah Subhanahu wa
- taala.
- Para jemaah rahimakumullah. Nah, ada
- lagi yang menarik ya ini tentang
- ungkapan seorang ulama ya, termasuk
- beliau ini adalah gurunya Syekh Abdul
- Qadir Jailani yaitu Syekh Abdul Qasim
- Junaidi Albaghdadi.
- Beliau mengatakan begini,
- "Bagi kalian lailatul qadar itu seatu
- kali dalam satu tahun.
- Kalau bagi kami kata beliau tiap malam
- itu lailatul qadar.
- Kalimat ini adalah kalimat nyeleneh.
- Saya sering katakan kepada jemaah saya
- begini.
- Apabila seseorang melakukan kebaikan, ya
- melakukan kebaikan, maka jangan melihat
- siapa yang melakukannya. Tapi yang
- dilihat adalah
- yang dilakukannya.
- Ya, ini inilah ungkapan dari Sayidina
- Ali kan. Undur maqola wala tandur
- manqola. Lihatlah oleh kamu apa yang
- diucapkannya atau perkataannya. Jangan
- melihat yang mengatakan kalau yang
- diucapkan itu adalah kebaikan.
- Kalau yang dilakukan itu kebaikan. ini
- enggak berlaku kalau memang yang
- diucapkan itu tidak baik.
- Jadi kalau masalah kebaikan enggak usah
- ngelihat siapa yang melakukannya. Kalau
- itu kebaikan, lakukan kita ikuti.
- Tapi kalau keburukan
- ya kemungkaran
- sepintas nih kayaknya enggak benar
- kalimat ini, ucapan ini enggak benar,
- perbuatan itu tidak baik. Nah, yang kita
- harus perhatikan bukan
- ee perbuatannya, tapi siapa yang
- melakukan. Boleh jadi satu perbuatan
- dilakukan oleh A itu buruk, itu
- kemungkaran. Tapi kalau yang
- melakukannya B itu belum tentu berupa ee
- apa namanya? Mungkar itu belum tentu.
- Hm.
- Ya,
- kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam,
- "Wahai Rasulullah, kalau lagi puasa
- ya, lagi puasa mencium istri boleh
- enggak?" Kata Rasulullah, "Boleh."
- Ya, orang itu yang melakukannya lah.
- Lalu enggak enggak kemudian ada lagi
- yang bertanya yang sama, "Rasulullah
- lagi puasa nyum istri boleh enggak?"
- Kata Rasulullah, "Enggak boleh."
- Nah, padahal kan perbuatannya sama.
- Kenapa? Ketika yang pertama
- diperbolehkan oleh Nabi, yang keduanya
- tidak diperbolehkan.
- Hmm.
- Ya. Jadi, di sini yang dilihat adalah
- bukan perbuatannya, yang dilihat siapa
- nanti yang melakukannya. Ni siapa yang
- bertanya?
- Nah, nah ulama itu ketika melihat ee
- jawaban Nabi sallallahu alaihi wasallam
- seperti ini, maka menggelitik pikiran
- mereka. Kenapa Nabi ini kok memberi
- jawaban berbeda kepada ee
- pertanyaan yang diajukan oleh dua orang
- ini? Yang pertanyaan itu sama
- diteliti oleh Nabi, oleh para ulama.
- Ternyata akhirnya mereka temukan
- jawabannya. Oh, pantes yang bertanya
- pertama itu adalah kakek-kakek.
- Ya, orang yang sudah lanjut usia.
- Taruhlah umur 80 tahun, istrinya 75
- tahun
- ya. Lagi puasa dia mencium istrinya
- boleh enggak? Boleh. Enggak apa-apa.
- Kenapa? Karena enggak mungkin orang
- seusai itu
- ya walaupun mungkin ya jarang sekalilah
- dasarnya karena syahwat
- sudah enggak ada syahwatnya sudah.
- Tapi yang nanya kedua, nah itu masih
- muda yang nanya.
- Maka kalau dia mencium boleh jadi
- dorongannya adalah karena syahwat,
- karena nafsu. Makanya oleh Nabi dijawab
- enggak boleh.
- Nah. Nah, kemudian dari sini buatlah
- kesimpulan.
- Nah,
- nanti membuat kesimpulan itu orang ini
- bisa jadi kesimpulannya benar, bisa jadi
- juga kesimpulannya salah.
- Ya, tergantung orangnya berilmu apa
- tidak.
- Ya, ketika sampai saya bahas masalah
- ini, lalu tanyakan kepada
- jemaah, kepada murid-murid saya,
- apa kesimpulannya?
- Oh, jadi kesimpulannya begini. katanya
- kalau apa namanya yang berpuasa itu
- orang tua
- ya kakek kakek dia boleh mencium
- istrinya tapi kalau mereka itu muda
- enggak boleh lah ini kesimpulan yang
- keliru
- bukan begitu ya membuat kesimpulan
- kenapa si kakek-kakek ini diizinkan itu
- ya bukan karena kakek-kakeknya
- Ya, begitu. A kenapa tidak diizinkan
- yang muda? Bukan karena mudanya, tapi
- masalahnya adalah karena masalah
- syahwat, masalah nafsu
- gitu ya. Jadi kalau biarpun kakek-kakek
- kalau memang menciumnya itu karena dasar
- nafsu, dasar sawah, enggak boleh.
- anaknya masih muda mencium istrinya lagi
- puasa bukan karena nafsu
- ya bukan karena sawah bagaimana ya
- enggak apa-apa boleh jadi bukan karena
- tua atau mudanya cuma umumnya kalau yang
- tua ya ya udah enggak ada lagi
- syahwatnya umumnya yang masih ada glora
- apa namanya syahwat itu adalah yang
- masih muda. Oh, demikian
- jemaah jemaah rahimakumullah.
- ketika sal ketika ee sahabat Hamzah
- sahabat maaf Bilal
- sahabat Bilal setelah wafatnya
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- beliau minta izin kepada Abu sahabat Abu
- Bakar ya mau ikut berjihad bersama
- dengan sahabat lain karena beliau sudah
- enggak kuat lagi tinggal di Madinah
- karena semua sudut-sudut di Madinah itu
- mengingatkan beliau kepada Rasulullah
- sehingga di mana pun dia berada sedih
- terus nangis terus karena terbayang
- selalu Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Makanya beliau kemudian pergi
- ke Panas Syria.
- Nah, 2 tahun di sana beliau enggak
- pulang-pulang
- ya sampai wafatnya sahabat Abu Bakar
- berganti Khalifah Umar bin Khattab.
- Suatu malam beliau ini ya mimpi ketemu
- dengan Rasulullah
- ya. Jadi oleh Rasulullah ditegur,
- "Kenapa katanya kamu enggak berkunjung
- kepadaku? yang enggak mengunjungi aku.
- Wah, sahabat Bilal ini
- dari Syria itu segera pagi-paginya ya ee
- kalau [berdehem]
- pergi ke apa nam kembali ke Madinah
- hanya satu tujuannya mau menemui
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- yang saat itu Rasulullah sudah wafat ya
- berarti kuburnya yang menjadi tujuan
- beliau berangkat sahabat Bilal ke tanah
- berziarah kepada Rasulullah.
- Nah, di sini perlu juga ya bagi
- saudara-saudara
- yang mengharamkan ziarah ya. Ya,
- tolonglah nih sahabat Bilal ini murid
- langsung, murid kesayangan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Orang yang
- sangat alim beliau ini ziarah ke kubur
- Nabi, menangis di depan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. dipeluknya
- kuburan Nabi sallallahu alaihi wasallam
- sambil menangis ya.
- Nah, sahabat Umar melihat fenomena ini.
- Wah, kata sahabat Umar ini bahaya. Ini
- bahaya. Maka beliau membawa cambuk.
- Tujuannya mau mencambuk orang yang
- sedang memeluk kuburan ini. Artinya apa,
- sahabat Umar melihat ini perbuatan
- mungkar ini
- ya. perbuatan mungkar. Bahaya ini orang
- kalau ziarah sampai meluk-meluk kuburan,
- meluk-meluk apa namanya ininya, nisannya
- ya. Nah, ini berbahaya bisa berbahaya.
- Ini adalah bagian dari kemungkaran yang
- harus diberantas. Nah,
- begitu beliau sudah dekat, siap
- mencambuk, dilihat ternyata sahabat
- Bilal.
- Lalu apa yang dilakukan sahabat Umar?
- Enggak jadi sahabat Umar mencambuk.
- Kenapa enggak jadi? Karena sahabat Umar
- tahu, sahabat Bilal enggak mungkin
- melakukan perbuatan syirik.
- Jadi perbuatan itu ketika yang melakukan
- Bilal bukan perbuatan
- buruk, bukan perbuatan mungkar. Tapi
- kalau bukan Bilal ya itu akan dicambuk
- oleh sahabat Umar. Jadi dua ada satu
- perbuatan dilakukan oleh dua orang yang
- ya berbeda orang ini bisa jadi perbuatan
- itu
- kalau oleh si A ini adalah mungkar tapi
- kalau si B yang melakukannya buat bukan
- perbuatan mungkar.
- Nah, demikianlah jama rahimakumullah.
- Syekh Junaidi albaghdadi mengungkapkan
- bahwa bagi kalian lailatul qadar itu
- setahun cuma satu kali. Kalau bagi kami
- lailatul qadar itu setiap malam.
- Ya, nyeleneh ini begini itu nyeleneh.
- Tapi ya kalau kita kemudian memponis
- ini wali enggak beres, kiai enggak beres
- ya. Nah, itu namanya gegabah kita ini
- ya. Gegabah. N saya masih ingat ketika
- ngaji Fathul Muin dulu kelas 1 Aliah ya.
- Dalam kitab Fatul ini dijelaskan enggak
- boleh makmum kepada imam yang umi
- ya. Imam yang umi, imam bacaannya enggak
- bagus, enggak baik.
- Nah, tapi di sana si kiai mengatakan,
- "Tapi kalau yang jadi imamnya itu kiai
- atau ulama, ya enggak usah mufaraqahoh,
- kamu ikut aja." Kenapa? yang namanya
- ulama tahu batasan ya, syarat orang
- membaca yang memenuhi syarat sahnya itu
- ya ee pasti mereka tahu yang namanya
- ulama. Karena itu enggak usah mufaraqah
- katanya gitu.
- Baik para pendengar ee radio silaturahim
- dan pemirsa Rasil TV rahimakumullah.
- Kembali kepada ungkapan beliau ya, Sy
- Junidal Baghdadi nih. Kalau kita tahu
- nanti malam Lailatul Qadar,
- saya yakin ya saya dan saudara-saudara
- semua tidak ada yang mau tidur ya. Kalau
- kita tahu betul ya nanti malam itu
- lailatul qadar ya. Bodoh sekali kita
- kalau sudah tahu lailatul qadar masih
- tidur juga
- ya. Pasti kita akan isi sejak ee habis
- berbuka dengan berbagai ibadah salat,
- baca Quran, sedekah dan lain sebagainya.
- Hatta matlail fajr.
- Nah,
- ibadah ini kan namanya tumben.
- Inilah semangat lailatul qadar, Saudara.
- Ini semangat lailatul qadar.
- Yang tadinya kita enggak pernah ibadah
- sampai pagi, tapi karena lailatul qadar
- akan ibadah sampai pagi. Ini namanya
- semangat lailatul qadar.
- Ya. Dan semangat ini dalam 1 tahun cuma
- satu kali buat kita
- ya. Dan kenapa kita penuh semangat
- ibadah malam itu? Karena kita melihat
- apa yang akan kita terima dari Allah
- Subhanahu wa taala.
- Ya, gitu.
- Jadi apa yang akan kita terima
- dari Allah
- bukan apa yang harus kita persembahkan
- kepada Allah, tapi apa yang akan kita
- terima dari Allah itu yang kita lihat.
- Padahal semangat lailatul qadar itu
- adalah mestinya apa yang bisa kita
- persembahkan
- gitu ya.
- Nah,
- karena di malam-malam lainnya itu tidak
- ada ya yang kita apa namanya harapkan
- dari Allah,
- maka semangat tadi hilang enggak ada.
- Sementara buat orang seperti Syekh Junid
- Al Baghdadi.
- Nah, ini semangat ini tidak dipengaruhi
- oleh lailatul qadar.
- Baik lailatul qadar maupun bukan
- lailatul qadar. Semangat ibadah tadi
- sampai pagi itu yang terjadi
- ya.
- Sehingga kata beliau, "Bagi kalian
- lailatul qadar seumur se setahun satu
- kali. Bagi kami tidak. Bagi kami setiap
- malam. Karena semangat
- lailatul qadar itu
- bukan hanya di lailatul qadar, tapi juga
- di malam-malam lainnya.
- Karena mereka beribadah
- itu bukan ibadahnya pedagang.
- Kita ini beribadah masih ibadahnya
- pedagang melihat balasannya.
- Ya, melihat balasannya. Makanya kalau
- baca ini sekali baca ini nanti pahalanya
- ini
- ya di bulan Rajab kita itu
- sunahnya memperbanyak baca
- ee
- apa namanya istigfar. Rabbigfirli
- waliwalidaiya. Ya rabbfirli wali walidai
- watub ala
- n itu sem lama bulan Rajab dibaca terus
- rutin
- begitu selesai bulan Rajab istigfarnya
- juga selesai
- masuk bulan Syakban
- ya masuk bulan Syakban memperbanyak
- selawat kepada Nabi. Terus perbanyak
- selawat Nabi. Syakbannya lewat,
- selawatnya juga lewat juga.
- Masuk bulan Ramadan kita salat sunah
- 20 rakaat ya.
- Ditambah witir bagi yang 20 nih. Bagi
- yang 8 ya delan ditambah witir 3. Rutin
- setiap malam.
- Nanti begitu Ramadan lewat, 20 rakaatnya
- juga lewat lagi.
- Nah, itulah ibadahnya kita kan masih
- seperti itu ya. Baik, para pendengar
- hadiah silaturahim yang dirahmati Allah.
- Itu ungkapan Syekh Junaidi Albaghdadi.
- Saya pernah ketika menerangkan ini juga
- ada yang bertanya kepada saya begini,
- "Pak Ustaz," katanya,
- "Kayaknya Allah itu mengistimewakan
- orang Arab deh."
- Kata saya, "Loh, kenapa Anda ngomong
- begitu?
- Gimana tidak?" Katanya, "Pak Ustaz,
- orang Arab satu kali ibadah di Makkah
- tuh sama dengan di kita 100.000 kali.
- Satu kali ibadah di Madinah
- ya sama dengan di kita 1000 kali."
- Ya, itu kan namanya mengutamakan,
- mengistimewakan orang Arab.
- Maka kata saya ya bisa jadi seperti itu,
- bisa jadi juga
- karena mereka orang dosanya mungkin
- lebih banyak bisa jadi juga. Kalau
- pahalanya enggak digedein nanti enggak
- seimbang dengan dosanya
- ya kan bisa jadi juga seperti itu saking
- sayangnya Allah.
- Tapi yang jelas saya katakan begini.
- Al Imam Ghazali rahimahullah beliau
- mengatakan orang yang fisiknya jauh dari
- Baitullah
- tapi hatinya di depan Baitullah itu jauh
- lebih baik daripada orang yang fisiknya
- di depan Baitullah tapi hatinya jauh
- dari Baitullah
- ya. Karena Allah tidak melihat di mana
- fisik kita,
- sedang apa fisik kita. Yang dilihat oleh
- Allah adalah hati kita.
- Ya,
- bukankah banyak hadis yang menerangkan
- kalau kita melihat
- di televisi, satu siaran di televisi di
- sana ada seorang nenek
- yang mengumpulkan nasi dari tempat
- sampah. Dicucinya sudah dicuci kemudian
- dijemur. Nanti kalau mau makan baru nasi
- itu dihangatkan.
- Ya Allah. kita kemudian melihat kadang
- itu ya nangis
- sakit rasanya hati kita melihat orang
- menderita seperti itu sehingga kemudian
- keluar dari hati kita, "Ya Allah,
- seandainya
- si nenek itu rumahnya dekat dengan rumah
- kami di sini, tiap hari akan saya kirimi
- nasi dia. Ya, pagi sore." Nah, kita yang
- menjerit begitu.
- Walaupun kita enggak pernah ngasih, Pak.
- Maka tiap hari kita mendapatkan pahala
- ngasih-nasi ke si nenek itu pagi dan
- sore.
- Jadi, Allah tidak melihat bagaimana
- fisik kita, tapi yang dilihat oleh Allah
- adalah hati kita. Begitu juga walaupun
- kita jauh dari dari Masjidil Haram, jauh
- dari Masjid Nabawi, kita bisa memperoleh
- pahala salat di Masjid Nabawi dan juga
- pahala salat di Masjidil Haram setiap
- hari. H itu bisa
- ya. Karena sekali lagi, Allah itu tidak
- melihat di mana fisik kita, tapi hati
- kita.
- Tidak berbuat apa-apa, tapi karena
- jeritan hati kita, ya. Kesedihan
- didasarkan karena keprihatinan
- kepada seorang nenek-nenek yang tadi
- itu, maka Allah akan berikan kepada kita
- ini pahala [berdehem]
- ya. Padahal kita tidak berbuat apa-apa.
- Ah inilah syahrun fihi fihi eh syahrun
- fihi lailatun. khairun min alfi syar ya.
- Jadi disebut bulan yang luar biasa
- karena pertama di bulan itu ada satu
- malam yang lebih baik dari 1000 bulan
- ya. Yang tanggalnya kapan wallahualam.
- Tapi insyaallah kalau kita setiap malam
- beribadah
- maka
- kita pasti akan bertemu dengan Lailatul
- Qadar ya. yang kita isi sebagiannya
- dengan ibadah. Walaupun tidak sepenuhnya
- sepenuh malam ibadah, sebagian dari
- lailatul qadar itu kita isi dengan
- ibadah.
- Barangkali ini dulu karena sudah jam
- 5.00 lebih ya. Nanti kita akan lanjutkan
- ee keutamaan kedua dan ketiga pada
- pertemuan yang akan datang.
- Mudah-mudahan bermanfaat buat kita
- semua. Wallahuam.
- Baik, telah kita bersama-sama simak
- tausiah sore yang telah disampaikan oleh
- Ustaz Ahmad Zazuli Kholil mengenai
- keutamaan Ramadan dan sudah banyak yang
- bergabung di WhatsApp Rasil. Ustaz,
- langsung kita bacakan saja, Ustaz ya
- yang sudah bergabung di sore hari ini.
- Iya. Ee pertama ini sapaan dari Bapak
- Arwin. Bapak Arwin di Lenteng Agung,
- Jakarta Selatan. Terima kasih Ustaz atas
- tausiah dan nasihatnya. Sedang menyimak
- Ibu Hajah Saidah juga ada Ibu Imani Sani
- Hudaifa yang selalu setia menyimak Rasil
- ada Muhammad Utsman di Bekasi. Ada juga
- Ibu Sundari sedang menyimak Ibu
- Nurhaidah juga ya. Terima kasih Ustaz
- tausiahnya di sore hari ini. [mendengus]
- Selanjutnya sapaan-sapaan yang sudah
- masuk ini sambil ngebuburit katanya ya
- mendengarkan ada Rasil dari Ibu Enji dan
- Ibu Mutia juga ada Bapak Dedek.
- Ada Bapak Sumardi di Jakarta Timur. Ada
- juga Bapak Nuryadi, Ibu Retno Nuke.
- Bapak pertama Mahendra juga sedang
- menyimak. Ibu Sunarsih, Ibu Karim di
- Tebet, Bapak Fajar Sika, Ibu Aider, ada
- juga Ibu Siswa Tripai di Batam dan masih
- banyak lagi. Pertanyaan pertama yang
- masuk, Ustaz, ini ee saya bacakan
- langsung dari Bapak Khairul di Bekasi.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz Ahmad Zuzuli Kholil.
- Ustaz, mohon dijelaskan tentang
- dibolehkannya tidak puasa bagi orang
- yang dalam perjalanan. [mendengus] Itu
- bagaimana aturannya menurut yang
- dicontohkan oleh Rasulullah, batasannya
- dan ketentuannya seperti apa? Karena
- katanya ada banyak perbedaan pendapat di
- antara para ulama tentang ee
- dibolehkannya tidak puasa ini.
- Baik,
- demikian. [berdehem]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- [berdehem]
- bagi orang yang bepergian
- ya, maka diperbolehkan
- meninggalkan
- ee puasa diperbolehkan ya. Nah, perginya
- seperti apa? Ingat pertama bahwa ruksah
- kemurahan dari Allah itu hanya berlaku
- bagi mereka, bagi hamba yang tidak
- menentang Allah.
- Bagi yang menentang ya enggaklah enggak
- dikasih kemurahan. Artinya apa?
- Perjalanannya bukan perjalanan maksiat
- gitu ya. Kalau orang perjalanannya atau
- perjalanan maksiat, rusah itu enggak
- diberikan, enggak dibenarkan buat dia
- membatalkan puasa
- karena tujuannya maksiat. Satu. Yang
- kedua adalah perjalanannya
- mencapai batas orang yang boleh
- mengqasar atau menjamak
- gitu ya.
- Ah, mengqasar atau menjamak berapa
- jauhnya?
- Ah, nah ini para ulama beda memang
- berbeda pendapat. Minimallah 84 km
- ya 84 km.
- Maka kalau umpamanya perjalanannya
- mencapai 85
- 80 di atas 84 lah, maka itu boleh tidak
- berpuasa
- walaupun kuat gitu. Kalau puasa kuat
- sebenarnya enggak enggak ada masalah ya.
- Ya, pusing enggak atau apa enggak gitu.
- itu diperbolehkan seperti itu. Nah,
- sekarang kalau dekat dari itu enggak
- boleh ya di bawah 80 tadi 84 enggak
- diperbolehkan berbuka gitu ya. Sekarang
- Pak
- kalau umpamanya saya ini dari Jakarta
- pergi ke Bogor naik mobil biasanya kalau
- bau bensin itu saya puyeng.
- Hm.
- Maboklah saya sudah. Nah, jadinya sakit
- masih enggak boleh juga. Iya, tetap
- enggak boleh buka sebagai musafir.
- Ya, tapi Bapak boleh enggak puasa
- sebagai marid?
- Iya. orang yang sakit ya, bukan sebagai
- orang yang sedang bepergian
- tapi boleh enggak berpuasa
- ya dalam kapasitasnya sebagai orang yang
- sedang sakit gitu.
- Sebab kalau orang yang sakit jangankan
- bepergian, enggak bepergian pun kayak
- tinggal di rumah itu boleh dia enggak
- berpuasa
- begitu ya. Ah, penanya. Wallahualam.
- Baik. Semoga terjawab. Selanjutnya dari
- Ibu Amri di Sukabumi. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, doa apa atau amalan apa saja
- untuk menjaga lisan kita dan ee untuk
- supaya puasa kita di 10 hari awal ini
- mendapatkan keridaan Allah dan
- mendapatkan Lailatul Qadar di
- malam-malam terakhir nanti? Demikian
- Ustaz.
- Ee pertama mengenai doa
- itu kalau yang banyak doa bisa diajarkan
- adalah
- mohon maaf dari Allah dan mohon surga
- dan rida. Allahumma innaka afuun
- tuhibbul afa fafu anna. Ya. Kemudian
- Allahumma inni as'aluka ridoka wal
- jannah wazubika minqatika.
- Itu yang banyak kaitannya dengan
- Ramadan. Doa itu adalah istigfar dan
- permohonan maaf. Kalau istigfar mohon
- ampun dan juga mohon maaf. Karena memang
- sayidud doa itu istigfar.
- Tuannya doa itu adalah mohon ampunan.
- Kalau kita sudah diampuni oleh Allah,
- sudah dimaafkan oleh Allah, maka Allah
- tentu jadinya suka kepada kita. Kalau
- Allah suka, jangankan kita minta, enggak
- minta juga akan dikasih. Namanya juga
- [berdehem] sudah suka, ya. Kemudian yang
- keduanya supaya memperoleh nanti
- lailatul qadar. Ya, sekali lagi saya
- katakan, Ibu bahwa kita semua pasti
- ketemu lailatul qadar ya. Pasti ketemu
- lailatul qadar. Jadi kalau ibu misalkan
- pengin la ketemu lailatul qadar di tahun
- ini, bagaimana caranya ya? Atau
- syaratnya? Syaratnya satu, yaitu ibu
- hidup di bulan Ramadan ini.
- Kalau di bulan Ramadan ini ibu hidup
- pasti ketemu Lailatul Qadar.
- Nah, cuma ketemunya ini bisa jadi pas
- ibu lagi tarawih, ibu lagi ibadah atau
- juga lagi shopping misalnya. Bisa jadi.
- Nah, kalau Ibu pas lailatul qadarnya
- lagi belanja ya boleh jadi belanjanya
- lebih baik dari belanja 1000 bulan
- nantinya mungkin begitu ya. Nah, karena
- itu saya sering katakan kalau mau mau
- ini mau belanja-belanja atau mau yang
- ini ya jangan malam hariah ya
- di siang hari aja gitu
- nanti takutnya kalau malam hari pas itu
- lailatul qadar gitu ya
- begitu ya Ibu ya wallahuam.
- Baik. Jadi setiap orang pasti menemukan
- malam Lailatul Qadar Ustaz ya.
- Iya pasti. Pasti ketemu yangu.
- Iya kan? Ada orang yang pakai nanya,
- "Enggak sembarang orang ketemu lailatul
- qadar." Lah ini orang enggak ngerti
- lailatul qadar. Berarti dia sekarang
- kalau lailatul qadar itu jatuhnya
- tanggal 20 misalnya ya.
- Kalau enggak sembarang orang artinya
- belum tentu semua ada orang semua orang
- bisa bertemu tanggal 20 kan begitu
- berarti ya. He
- mana mungkinlah itu. Nah ini. Nah jadi
- bukan lailatul qadarnya yang diangkat
- tapi ciri-ciri tanda-tanda khusus yang
- keluar di malam di lailatul qadar itu
- yang dihilangkan. Bukan malamnya hilang.
- Enggak begitu. Wah.
- Baik. Selanjutnya pertanyaan yang masuk
- dari Bapak Wawan di Bogor.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, apakah benar kalau ibadah puasa
- itu ada tingkatannya? Dapatkah kita
- sebagai orang awam mendapatkan pahala
- puasa seperti orang yang tingkat
- keilmuannya tinggi, Pak Ustaz? Demikian.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Ada ungkapan begini ya.
- Eh khairul ee abror syarrul muqorbin
- wahairul muqarin syarrul ee syarul
- muhibbin. Kebaikan orang-orang yang baik
- itu adalah kejahatan orang-orang yang
- dekat dengan Allah.
- Kebaikan orang-orang yang dekat dengan
- Allah itu adalah kejahatan buat
- orang-orang yang pencinta Allah.
- Begini ya.
- Nah, sebenarnya di dunia ini juga banyak
- kok yang begitu.
- Ee Bapak penanya tadi ya, saya ini punya
- anak umur 9 tahun.
- Dari umur dari kecil dia senang melukis.
- Umur 7 tahun anak kita umur 7 tahun
- melukis.
- I
- begitu sudah selesai lukisannya dia
- merasa bangga luar biasa.
- Karena menurut dia itu lukisannya bagus
- ya, bagus sekali. Lalu disampaikan
- kepada kita ya,
- maka kita jangan menilai lukisan dia ini
- dengan kemampuan kita.
- Iya.
- Menurut kita bagaimana? Dia jeleklah
- lukisan dia. He
- ya. Jelek lukisan dia dibanding dengan
- lukisan kita ya. Cakepan lukisan kita.
- Nah, tapi lukisan kita dengan lukisan
- pelukis
- ya itu jelek lagi punya kita. Kenapa?
- Karena kemampuan anak kita dengan kita,
- kemampuan kita dengan pelukis dalam seni
- lukis jelas berbeda.
- Maka yang baik menurut kita, buruk
- menurut
- para pelukis yang sudah handal. Bagus
- menurut anak kita, jelek menurut kita
- karena kita punya kemampuan yang lebih
- dari dia. Begitulah ibadah ya sama.
- Iya.
- Ibadahnya orang bodoh ya dengan orang
- pintar pasti nilainya berbeda.
- Kain itu sama-sama mereknya Tetoron tapi
- ada yang semeter 5.000, ada yang
- Rp10.000, ada yang Rp50.000. rib ada
- yang Rp100.000 semeternya. Kenapa ya?
- Apa yang membedakan wong sama-sama ee
- mereknya itu kok Oh, kualitas yang
- berbeda.
- Kualitas yang berbeda ya. Loh, sama-sama
- kerja di kantor itu juga sama ya. Tapi
- kenapa sih ini gajinya sebulan ada yang
- R juta, ada R juta, 30 juta, ada yang
- cuma R juta. Kenapa ya? apa pekerjaannya
- apa kualitasnya apa. Nah, itulah
- kehadiran Allah. Begitu itu adil Allah
- ya. Kemudian sekarang orang salat di
- masjid, salat di masjid ya. Nah,
- semuanya dilipat gandakan pahalanya 27
- kali lipat. Ya, betul sekali. Tapi
- pahalanya tidak sama.
- Ya, pahalanya tidak sama.
- Ya, kita berjamaah nih A B C berjamaah
- salat semuanya dikalikan di 27. Cuma
- yang dikalikannya berapa?
- Mungkin si A kalau salat sendirian
- nilainya 5 * 27.
- Si B kalau salat sendirian nilainya 7
- berarti 7 * 27.
- Si C kalau salat sendirian nilainya 10,
- maka 10 * 27 tidak pahalanya sama semua.
- Iya.
- Itulah keadilan Allah Subhanahu wa
- taala. Kualitas menentukan.
- Maka sekarang bagaimana supaya kita ya
- walaupun apa namanya kita ini orang awam
- ya, tapi pengin mempunyai pahala seperti
- mereka. Nah, ya tadi itu ada jeritan di
- hati, "Ya Allah, seandainya saya kayak
- beliau, saya pun akan berbuat seperti
- beliau." Nah, kata Allah, kata kata
- Rasulullah, dua orang ini mempunyai
- nilai yang sama di sisi Allah Subhanahu
- wa taala ya. Tapi kalau enggak ada
- keinginan seperti itu ya ya sesuai
- dengan kapasitasnya masing-masing
- begitu ya. Wallahualam. Itulah adilnya
- Allah. Begitu.
- He. Masyaallah. Dari Ibu Ani Cani
- Hudaifah. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. [mendengus]
- Waalaikumsalam, Mbak Ani.
- I ee apa tanda-tandanya orang yang dapat
- Lailatul Qadar, Pak Ustaz? Mohon
- pencerahannya.
- Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim.
- Saya enggak tahu tanda-tandanya orang
- yang dapat lailatul qadar ya. Ee
- tadi saya sudah katakan
- ya, bahwa kita ini
- setiap tahun ketemu lailatul qadar. Mbak
- Ani juga sama
- ini kayaknya Mbak Ani ini merasa beliau
- ini belum pernah ketemu lailatul qadar
- gitu ya. Makanya banyak orang kalau
- ditanya pernah enggak sampean ketemu
- lailatul qadar itu jawabannya katanya
- belum pernah ya. Belum pernah. Kenapa
- belum pernah? Karena enggak ngerti
- ya. Kenapa enggak ngerti? Karena banyak
- ustaz atau dai yang mengatakan enggak
- sembarangan orang bisa ketemu lailatul
- qadar.
- Artinya enggak semua orang ketemu
- lailatul qadar. Perlu diketahui ya nih
- se lailatul qadar itu bukan hanya ada di
- zaman Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam. Dari dulu lailatul qadar itu
- sudah ada.
- Ya, dari zaman azali lailatul qadar
- sudah ada. Kenapa saya katakan begitu?
- Allah menetapkan qada dan qadar manusia
- di malam lailatul qadar.
- H
- ya.
- Dan itu adalah penetapan terhadap
- Rasulullah.
- Sudah ada. Terhadap Nabi Adam itu sudah
- ada. Berarti lailatul qadar itu sudah
- ada dari dulu.
- Nih yang harus dipahami ya. Satu, cuma
- nilai lailatul qadar itu sama dengan
- 1000 bulan
- itu hanya terjadi di masa Rasulullah
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Ya gitu. Di nabi-nabi sebelumnya enggak.
- Lailatul Qadar itu nilainya sama dengan
- malam-malam lainnya. Kalau ibadah di
- malam lailatul qadar dulu sama aja
- dengan ibadah di malam-malam lainnya.
- Nah, berbeda itu hanya untuk umatnya
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- gitu ya.
- Nah, kemudian lailatul qadar itu adalah
- salah satu malam yang ada di bulan
- Ramadan.
- Sekarang ini bulan Ramadan tahun 2026
- dimulai dari malam Kamis.
- Iya.
- Ya, malam Kamis. [mendengus]
- Kemudian umpamanya lebaran itu nanti
- hari Jumat ya selama 29
- atau 30 hari bulan Ramadan itu salah
- satunya
- ya salah satunya itu lailatul qadar.
- Entah tanggal 1, entah tanggal 7, entah
- tanggal 11, 21 atau berapa. Yang jelas
- satu dari 29 atau 30 malam di bulan
- Ramadan ini namanya lailatul qadar.
- Taruhlah sekarang lailatul qadar tahun
- ini terjadi tanggal 21. H
- misalnya ya 21 nanti. Nah,
- apakah kita bisa ketemu tanggal 21?
- Bisa.
- Bisa.
- Asalkan kita hidup.
- Jadi kalau kita hidup tanggal 21,
- berarti tanggal 21 itu ya kita ini
- bertemu dengan lailatul qadar.
- Tapi kalau kita tanggal 20 sudah
- meninggal, nah kita enggak ketemu dengan
- lailatul qadar di tahun ini. Makanya
- tadi saya sampaikan syaratnya ketemu
- lailatul qadar apa syaratnya? Di bulan
- Ramadan kita harus hidup.
- Masih hidup.
- Iya. Kalau kita masih hidup pasti ketemu
- dengan lailatul qadar.
- Nah, cuma ketemunya itu bisa jadi kita
- lagi maksiat,
- kita lagi gapleh
- gitu ya, lagi belanja, lagi ibadah. Nah,
- cuma itu doang bedanya. Kalau ketemunya
- pasti ketemu.
- Makanya saya kalau ditanya oleh orang
- ya, Pak Ustaz, Pak Kiai, katanya pernah
- ketemu lailatul Qadar? Lah, tiap tahun
- saya ketemu. Saya begitu.
- Ya, tiap tahun saya ketemu kayak apa
- lailatul qadar ya kayak malam-malam
- biasanya aja gitu ya. Biasa aja gitu.
- Nah, kalaupun itu diangkat yang enggak
- sembarangan orang bertemu bukan dengan
- malamnya.
- Ciri khas lailatul qadar misalnya ciri
- khas itu di malam itu terasa syahdu.
- Ya. Kemudian
- tidak ada angin tapi panas enggak,
- dingin enggak gitu.
- Sedang-sedang saja
- ya. Nih ciri-cirinya. Kemudian kalau
- kita di dalam rumah
- ya, dalam rumah itu tidak ada bayangan.
- Tidak ada bayangan di kolong ya terang
- dikolong gitu ya. sebagaimana terangnya
- di atas tempat tidur.
- Nah, kemudian tadi tidak ada angin,
- tidak ada gerakan, maka tidak ada
- daun-daun yang bergoyang.
- Enggak ada ya. Hatta air pun tidak ber
- apa namanya bergerak semuanya tenang.
- Nah,
- kemudian nanti pagi harinya matahari itu
- akan terbit ya terang sekali, jelas
- sekali itu matahari. Nah, tanda-tanda
- yang seperti ini tidak semua orang
- dikasih lihat oleh Allah. Itu yang
- diangkat. Maksudnya yang dihilangkan tuh
- itu dihilangkan dari semua orang. Hanya
- sebagian saja orang yang dikasih tahu
- sesuai dengan kehendak Allah. Adapun
- malamnya, Lailatul Qadarnya
- setiap orang pasti ketemu gitu ya. Nah,
- ini yang salah banyak salah dipahami
- oleh kita semua. Wallahualam.
- Baik, selanjutnya pertanyaan yang masuk
- dari Ali Basya di Sukabumi.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam,
- Pak Ali Basah.
- Mohon maaf di luar tema, Ustaz.
- Bagaimana cara bertobatnya seorang
- penegak hukum ketika melaksanakan
- tugasnya? ada sebagian yang melenceng
- dari aturan dan bagaimana harta yang
- melekat pada dirinya yang tidak sesuai
- dengan aturan juga. Mohon arahan dan
- bimbingannya, Pak Ustaz. Terima kasih.
- Baik.
- Bertobat itu kan karena kesalahan.
- Kesalahan itu ada dua. Ada kesalahan
- kepada Allah,
- ada kesalahan kepada sesama. Ni.
- Ya, kalau kita punya bertobat karena
- kesalahan kepada Allah, misalnya karena
- kita dari muda enggak pernah salat lima
- waktu, enggak per ya. Nah, itu namanya
- kita punya salah kepada Allah. enggak
- pernah puasa di bulan Ramadan, maka
- bertobatnya, minta ampunnya langsung
- kepada Allah.
- Tapi kalau kita punya salahnya itu
- kepada manusia ya, maka kita harus minta
- maaf dulu kepada manusia itu
- tuh nanti baru kepada Allah.
- Makanya kalau kesalahan lebih berat kita
- punya salah kepada manusia daripada
- Allah. Ya, kalau enggak salah kepada
- Allah mah gampang kita tobatnya lah. Ini
- yang punya salah kepada manusia. Makanya
- saya pernah menyampaikan begini.
- Kalaulah kita harus mencuri,
- ya kalau kita harus mencuri, mencurilah
- dari seseorang saja.
- gitu. Jadi nanti kalau bertobatnya
- enggak
- h
- minta maaf sama orang itu atau
- mengembalikan kepada orang itu
- satu orang ya.
- Tapi kalau saya sekarang nyolongnya duit
- rakyat Indonesia. Nah rakyat Indonesia
- itu berapa juta? Ratus juta ya. Apa
- enggak
- budek sampean nantinya? Ya begitu. Jadi
- jangan mencuri duit rakyat, susah nanti
- mengembalikannya
- ya.
- Apakah dia adalah penegak hukum atau
- siapapun juga kalau dia punya salah
- kepada manusia ya, maka ee [mendengus]
- dia harus minta maaf dulu kepada manusia
- itu sendiri.
- Ada satu riwayat ya nih ketika Nabi
- sallallahu alaihi wasallam wukuf di
- Arafah,
- Nabi itu ee memohon kepada Allah
- semua dosa umatnya.
- Hm.
- Maka kata Allah, "Baik Muhammad, aku
- ampuni semua dosa umatmu itu yang wukuf
- di Arafah."
- Ya, kalau itu menyangkut dosa hak
- hakullah.
- Tapi kalau hak adami hmm yang punya
- salah kepada manusia,
- dia harus minta maaf dulu, katanya
- kepada manusia.
- Jadi Allah enggak mau memaafkan orang
- yang meminta, Nabi Muhammad yang
- meminta. Enggak dikabulkan oleh Allah
- ya. Ketika wukuf di Arafah tuh dalam
- haji wada.
- Ya. Jadi yang punya salah kepada sesama
- harus minta maaf dulu kepada sesamanya
- baru oleh Allah dimaafkan.
- Nah, akhirnya ketika
- jadi nabi itu ya mikir model begini nih
- ya boleh jadi
- orang yang punya salah.
- Begitu di Muzdalifah, Nabi berdoa lagi
- kepada Allah, "Ya Allah, Engkau mampu
- memaafkan dosa ya orang yang bersalah
- kepadamu."
- H
- ya, ya. Karena Engkau Maha Pengampun.
- Makanya engkau juga pasti mampu kok
- memaafkan dosa orang yang punya salah
- kepada sesamanya. Ya, engkau itu pasti
- mampu.
- Sebagaimana engkau memaafkan, mengampuni
- dosa orang yang punya salah kepadamu,
- ampuni pula dosa orang yang punya salah
- ya kepada sesamanya. Tuh,
- Nabi Muhammad ngebelain umat kayak
- begitu, Pak. Ya.
- Iya.
- Akhirnya oleh Allah apa? Baik, katanya
- Muhammad, "Aku ampuni semuanya di
- Muzdalifah.
- Nah, kalau dari dasar ini jalan satu
- h
- yang model tadi tadi yang punya salah
- kepada sesama melaksanakan ibadah haji
- kemudian minta ampun kepada Allah waktu
- mabid di muzdalifah.
- Wallahuam.
- Baik ustaz. Kita dibatasi oleh waktu
- mungkin sebelum pamit disimpulkan tema
- kita di hari ini, Ustaz. Silakan.
- Baik. Nah, belum ada kesimpulan karena
- masih baru satu ya. Nanti kedu
- tunjukkan kepada kemuliaan Ramadan kita
- akan bahas pada pertemuan yang datang.
- Kita hanya mengharap saja memohon kepada
- Allah semoga Allah panjangkan umur kita
- dalam taat kepadanya. Allah bimbing hati
- kita ke jalan yang diridai dan
- dicintainya. Allah hiasi hati kita
- dengan akhlak yang mulia. Allah
- bersihkan hati kita dari akhlak yang
- hina. Allah limpahkan rahmat, taufik,
- dan hidayah kepada kita anak cucu kita
- sehingga selahnya
- menu larangannya.
- yaana
- akabanarallahu
- sayidina Muhammadin
- wasallamhamdulillahiabbil
- alamin asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh
- waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh demikian telah kita
- bersama-sama simak tausiah sore yang
- telah disampaikan oleh Ustaz Ahmad
- Zazuli Kholil membahas tema mengenai
- keutamaan Ramadan semoga Semoga apa yang
- tadi ustaz sampaikan banyak manfaat
- untuk kita semuanya. Saya yang bertugas
- pahri ditemani Neza dan juga Yusuf
- Subamit. Subhanakallahum wabihamdika
- ashadu alla ilahailla anta astagfiruka
- wa atubu ilaik. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.