Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirahmanirahim. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah dari tempat kediaman Ustaz
- Husein kita berjumpa lagi hari ini.
- Mudah-mudahan sehat semuanya.
- Kita kembali ke acara Ulumul Quran
- bersama Ustaz Husein Alatas dan Ustaz
- Otong Surasman.
- Kita akan mengambil tema masih di
- tema silsilah
- amsal Quran. Kita
- berangkat dari surat An Nur ayat 35
- insyaallah. Assalamualaikum Ustaz
- Husein.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- ya semua ya.
- Oke, sebelum kita mulai ke acara Ulumul
- Quran kita membaca Al Fatihah dulu.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirobbil
- Arrahmanirrahim.
- Maliki yaumiddin.
- Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.
- Ihdinas sirotol mustaqim.
- Sirotol ladzina an'amta alaihim.
- Ghoiril maghdubi alaihim walad dhollin.
- Alhamdulillah kita sudah membaca Al
- Fatihah mudah-mudahan Allah mudahkan
- kita dalam memahami
- isi Alquran. Baik sebagai pengantar akan
- disampaikan oleh oleh Ustaz Otong
- Surasman tafadhol Ustaz.
- Ustaz. Terima kasih. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
- Wasalatu wasalamu ala Rasulillah
- Muhammad Ibnu Abdillah
- wa ala alihi wa shahbihi wa mawalah la
- haula wala quwwata illa billah wa ba'du.
- Hadirin kiram Al Habib Zein Al Athas
- Bapak Haji Muhammad Krisna juga Qur
- Rashid
- para pendengar dan pemirsa Rashid TV
- yang dimuliakan Allah Subhanahu wa
- taala.
- Alhamdulillah di pagi hari yang
- cerah ya sejuk ya Bim ya ya luar biasa
- ini sebuah nikmat yang Allah berikan
- kepada kita terutama nikmat sehat tadi
- ya.
- Kita dapat berjumpa
- khususnya dalam kajian Ulumul Quran
- di mana pagi hari ini kita masih
- membahas tentang Amsalul Quran
- perumpamaan-perumpamaan dalam Alquran
- yang sempat saya
- terjemahkan
- perumpamaan yang sangat luar biasa gitu
- Bim ya
- karena
- perumpamaan dalam bahasa Indonesia itu
- tadi eh
- tidak perlu berpikir orang itu hanya
- dengan kata-katanya saja sudah paham ya.
- Yang sering kita kenal
- eh apa namanya air susu dibalas dengan
- air tuba orang sudah paham kebaikan
- dibalas dengan keburukan
- lebih
- besar pasak daripada tiang
- penghasilannya
- kurang ya gerang mencukupi kan paham ya
- tetapi amsal itu
- perlu eh perenungan pemahaman bahkan
- perlu riset ya termasuk ayat
- yang dibahas pagi ini surah An Nur ayat
- 35 ini ada problem Bib ya di kalangan
- apa namanya kajian
- di luar itu jadi jelimet malahan gitu
- kan bagaimana bisa memahami
- surah An-Nur ayat 35 dan seterusnya itu
- dengan mudah gitu sebagai sebuah
- ilustrasi ya
- dan di ayat 34 di sini diberikan
- penjelasan bahwa Allah telah menurunkan
- Alquran itu eh
- dengan ayat-ayat yang sangat jelas gitu
- wah itu kan sangat luar biasa
- juga di ayat ini diberikan bahwa Allah
- memberikan petunjuk ya
- dengan cahaya itu diberikan kepada
- orang-orang yang dikehendaki dan eh
- siapapun yang tidak diberikan cahaya
- oleh Allah maka hidupnya dalam kegelapan
- nah ini mungkin perlu di
- perjelas sehingga
- khususnya ayat ini bisa dipahami dalam
- kehidupan apalagi eh sebenarnya
- pelajaran sangat banyak buat kita semua
- ya
- termasuk kejadian siang dan malam ya
- Betul. Ini kan terang ini mulai terang
- gitu ya
- nah harusnya kan manusia itu bisa
- memahami kehidupan itu eh terang
- benderang seperti ini gitu tetapi kenapa
- eh banyak yang ditepuh oleh kebanyakan
- manusia itu justru jalan yang gelap
- jalan yang keliru gitu jalan yang sesat
- ya
- kenapa tadi karena mungkin mengikuti
- tadi hawa nafsu ya tidak mengikuti
- petunjuk-petunjuk yang Allah berikan
- khususnya dalam
- kitab suci Alquran
- mungkin ini sebagai pengantar bagaimana
- satu sisi
- agar kita bisa memahami eh surah An-Nur
- ya surah 24 ayat 35 dengan mudah ya
- sehingga bisa dicerna dan bagaimana agar
- eh kebanyakan umat Islam khususnya
- kembali kepada kitab suci Alquran karena
- dalam sebuah riset
- ya yang terakhir itu 65% Bib 65%
- umat Islam Indonesia buta huruf Alquran
- hanya 10% yang lancar baca Quran itu
- juga belum paham juga tentang Qurannya
- ini kan sebuah problem yang yang sangat
- luar biasa ya, bagaimana agar bisa
- menggiring kembali ya
- khususnya umat Islam kepada kitab suci
- Alquran, sehingga jalan hidupnya
- betul-betul
- sesuai dengan surah An Nur ya.
- Yaitu dalam cahaya petunjuk Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala. Ini sebuah
- pengantar lebih rincinya, lebih jelasnya
- kita
- serahkan kepada guru kita Alhabib Husein
- Alatas. Terima kasih. Assalamualaikum
- Warahmatullahi Wabarakatuh.
- Waalaikumsalam
- Audzubillahiminasyaitanirrajim
- Bismillahirrahmanirrahim
- Alhamdulillah
- hamdan katsiran thayyiban mubarokan fihi
- kama yuhimbu robbuna wa yaroh.
- Ya robbana lakal hamdu kama yang bagi di
- jalali wajhikal karim wa li adhimis
- sulthonik.
- Subhanaka la nuhsi sanaan alaika anta
- kama atsnaita ala nafsik.
- Falak alhamdu hatta tarubba, walakal
- hamdu idza rodhit, walakal hamdu ba'da
- ridho. Allahumma sholli ala Muhammadin
- wa ali Muhammad.
- Rabbana zidna ilman wa alhiqna
- bisholihin.
- Waj'al lana lisana sidqin fil akhirin.
- Waj'alna min waratsati jannatin na'im
- wala tuhzina yaumaddin, yauma la yanfa'u
- malun wala banun illa man atallaha
- biqalbin salim.
- Amma ba'du, ikhwan akhwat, pendengar,
- pemirsa di manapun Anda berada.
- Baik yang berada di tanah air maupun
- di luar tanah air kita.
- Yang mendengarkan tayangan langsung atau
- ulang, begitu pula ikhwan yang menemani
- kita pagi hari ini Ustaz Otong Surahman,
- Ustaz Muhammad Krisna kita yang tidak
- asing lagi di tengah-tengah kita.
- Begitu pula Neza dan
- semua kru hasil
- yang membantu kita dalam
- melakukan tayangan dan siaran ini.
- Salamullahi alaikum jamian warahmatullah
- wabarakatuh.
- Begitu banyak perumpamaan dalam Alquran.
- Allah subhanahu wa taala
- berikan perumpamaan-perumpamaan,
- ilustrasi yang begitu banyak dalam
- Alquran dalam rangka untuk
- membuat kita memahami bimbingan dan
- petunjuknya dengan jelas dan gamblang.
- Salah satu tujuan
- dari al amtsal, perumpamaan dalam
- Alquran
- untuk mempermudah
- kita memahami sesuatu yang sulit.
- Allah seringkali menggambarkan
- mengumpamakan hal-hal yang abstrak dalam
- gambaran yang konkret.
- Itu dalam bahasa Arabnya taswir
- al maknawi
- fi surat mahsusah, menggambarkan hal
- yang bersifat maknawi
- dalam gambaran-gambaran yang dapat
- dilihat, dijangkau oleh indra kita.
- Sebagai contoh ketika Allah ingin
- menggambarkan bagaimana indahnya
- kalimat tauhid.
- Diumpamakan bagaikan pohon
- yang betul-betul indah, penuh dengan
- manfaat.
- Bukan hanya sampai di sana, tapi kokoh
- dan kuat.
- Dengan akarnya menghujam ke dalam perut
- bumi.
- Kemudian batangnya yang menjulang di
- angkasa.
- Dengan ranting-rantingnya.
- Pada setiap pucuk ranting.
- Terdapat buah-buah yang terus berbuah
- tak pernah mengenal musim.
- Ini gambaran sosok dari orang yang
- beriman.
- Kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan
- berpegang pada kalimat tauhid.
- Tutur katanya, perilakunya, pribadinya
- penuh dengan manfaat.
- Dan tidak sama sekali apa? Mudah
- terombang ambing.
- Dengan.
- Akarnya kokoh. Dan kuat mengikat ke
- dalam perut bumi. Batang yang menjulang
- tinggi, daun-daunnya, ranting-rantingnya
- memberikan keteduhan.
- Buah-buahnya yang terus tumbuh tanpa
- mengenal musim memberikan manfaat.
- Lalu di sisi yang lain Allah gambarkan
- bagaimana.
- Orang yang hidup. Tidak berpegang.
- Kepada kalimat tauhid, tidak kembali
- kepada Tuhannya, tidak mensyukuri
- nikmatnya, tidak menghargai ayat-ayat
- bimbingan dan petunjuknya.
- Bagaikan apa? Bagaikan pohon-pohon.
- Yang tidak memiliki akar yang kuat.
- Yang dicabuti dari permukaan bumi.
- Yang menjadi musuh bagi para petani.
- Di saat mereka menanam. Selalu
- pohon-pohon liar bermunculan, para
- petani mencabuti pohon tersebut dan dia
- tidak memiliki akar yang kokoh dan kuat.
- Begitu juga kebatilan.
- Kebohongan, kepalsuan, dia tidak
- memiliki akar yang kuat di hati manusia.
- Selalu apa?
- Selalu menjadi musuh.
- Bagi umat manusia, bahkan bagi
- pelakunya.
- Tidak ada orang yang melakukan kejahatan
- kebohongan yang menyukai perbuatan jahat
- dan bohong. Sebagai bukti kalau dia
- dibohongi.
- diperlakukan dengan jahat dia tidak akan
- terima.
- Bahkan banyak penjahat-penjahat ingin
- anaknya menjadi orang baik dan saleh.
- Banyak pembohong-pembohong
- selalu mengingatkan anaknya untuk tidak
- berbohong.
- Jadi kebatilan, kebohongan, kepalsuan
- dan kejahatan sebetulnya menjadi musuh
- bahkan bagi pelakunya. Oleh karena itu
- orang yang berbuat kejahatan hati mereka
- gundah, resah dan gelisah.
- Tapi yang berbuat kebaikan hati mereka
- nyaman dan tentram. Nah kebenaran
- memiliki akar yang kokoh kuat dalam
- sanubari manusia.
- Disambut oleh jiwanya, disambut oleh
- alam raya dan seluruh isinya. Oleh
- karena itu buah-buahnya akan terus
- bermunculan tanpa mengenal musim.
- Nah pada kali ini
- kita akan
- merenungkan bersama-sama perumpamaan
- yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan
- di dalam suratun nur perumpamaan yang
- amat indah.
- Menggambarkan
- sesuatu yang maknawi yang abstrak dalam
- gambaran yang konkret.
- Dan perumpamaan yang kita akan bawa di
- sini pada ayat 35
- begitu pula pada ayat 40 merupakan dua
- perumpamaan yang saling berlawanan.
- Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- memberikan satu perumpamaan mengenai
- cahayanya yang begitu indah yang
- menunjuk kepada kitabnya. Lalu Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala di sisi yang lain
- menggambarkan orang-orang ya yang jauh
- dari penerangan dan petunjuk Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala bagaimana keadaan
- dan kondisi.
- Nah kita akan mulai
- dari ayat 34 yang menjadi pengantar dari
- ayat 35.
- Walaqad anzalna ilaikum
- ayatim mubayyinah.
- Wamatsalan minalladzina kholau
- minqoblikum wamauidhotan lilmuttaqin.
- Dan sesungguhnya kami telah menurunkan
- kepada kalian
- ayat-ayat
- mubayyinah.
- Dalam bahasa Arab
- kata bayyana yubayyinu
- kemudian isim fa'ilnya mubayyin artinya
- menerangkan, menjelaskan dengan
- sejelas-jelasnya.
- Jadi bayyana yubayyinu ya
- artinya menjelaskan dengan
- sejelas-jelasnya tanpa kesamaran
- sedikit.
- Kalau kata bayyinah jelas.
- Bisa juga kata bayyinah itu menjadi
- bukti argumentasi yang jelas yang tidak
- meragukan.
- Nah pada
- ayat ini 34
- ya, albayan
- dalam datang dalam bentuk isim fa'il.
- Kata bayan yang artinya penjelasan ya
- disebutkan Allah dalam bentuk isim fa'il
- yang berarti menjelaskan
- menerangkan
- dengan sejelas-jelasnya dan
- seterang-terangnya.
- Apalagi keterangan ini datang dari mana?
- Dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala.
- Dan sesungguhnya kami telah menurunkan
- bagi kalian ayat-ayat yang memberikan
- penerangan, penjelasan yang
- sejelas-jelasnya.
- Mungkin sebagian orang bertanya Ustaz
- Otong.
- Apabila keterangan Allah ini benar,
- Allah menurunkan ayat yang terang
- benderang dan sejelas-jelasnya.
- Kenapa justru banyak umat Islam ya
- memandang Alquran sebagai kitab yang
- sulit untuk dipahami.
- Bahkan banyak ulama-ulama ya yang
- menghalang-halangi orang untuk langsung
- berkomunikasi dengan Alquran.
- Mereka menggambarkan bahwasanya untuk
- memahami Alquran
- membutuhkan bekal persyaratan yang
- begitu banyak.
- Berarti keterangan Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala pada ayat ini
- menurut mereka
- tidak benar.
- Betul enggak?
- Yang mengherankan ketika ayat-ayat Quran
- diturunkan, bukan diturunkan pada para
- ulama
- atau di kalangan masyarakat yang
- berpendidikan. Pertama kali diturunkan
- diturunkan pada masyarakat masyarakat
- Arab yang tidak berpendidikan, yang
- tidak mengenal baca tulis.
- Tapi kenapa mereka mudah memahami
- Alquran?
- Mereka bukan dari perguruan tinggi.
- Kebanyakan dari mereka
- betul-betul berasal dari latar belakang
- orang-orang yang jauh dari pendidikan
- hingga mereka dikatakan sebagai umat
- yang ummi.
- Betul enggak? Um ummi. Ummi artinya
- tidak mengecap pendidikan.
- Bahkan dicemari oleh
- oleh pengaruh-pengaruh dan noda-noda
- jahiliyah yang menyimpangkan kehidupan
- mereka. Yang ummi mayoritas ya benar.
- Mayoritas yang dapat membaca hanya satu
- dua.
- Walladzii ba'atsa
- fil ummiyiina rasuulam minhum, Dia yang
- telah mengutus di tengah masyarakat
- ummiyiin seorang rasul
- dari kalangan mereka.
- Artinya
- sebagian besar dari mereka berada dalam
- keadaan tidak mengenal baca tulis,
- pendidikan dan peradaban.
- Nah, kira-kira siapa yang salah di sini?
- Ucapan-ucapan mereka ya yang mempersulit
- pemahaman Alquran ataukah firman Allah?
- Ya, jawabannya dengan jelas yang datang
- dari sisi Allah Ta'ala merupakan
- kebenaran yang tidak dipertanyakan.
- Tapi yang datang dari manusia. Munculnya
- salah paham ini bukan karena
- ketidakjelasan Alquran.
- Walaupun cahaya matahari terang-benerang
- tapi kalau kitanya menutup mata bisa
- melihat Quran enggak? Tidak. Bisa
- melihat Quran? Enggak bisa.
- Jadi untuk membuat kita ya melihat
- dengan jelas di samping cahaya kita juga
- diharuskan membuka mata kita.
- Nah, kebanyakan mereka ini tidak membuka
- mata mereka.
- Walaupun cahaya Allah begitu
- terang-benerang seperti yang kita akan
- jumpai nanti kita akan saksikan dari
- ayat berikutnya.
- Dan sesungguhnya kami telah
- menurunkannya bagi kalian ayat-ayat yang
- memberikan penjelasan yang
- sejelas-jelasnya.
- Kemudian
- Wa masalan minalladzina kholau
- minqoblikum juga
- membawakan perumpamaan-perumpamaan
- tentang orang sebelum kalian.
- Sejarah-sejarah umat terdahulu
- kemudian Allah jelaskan mengapa satu
- umat bangkit, mengapa satu umat hancur,
- sebab keruntuhan mereka, hukum sejarah
- dan sunah-sunah Allah diterangkan begitu
- jelas.
- Tapi
- yang memperhatikan semua di antara kita
- amat sedikit. Kebanyakan mereka hanya
- membaca, menghafalnya ya
- kemudian pada waktu salat mereka
- memperpanjang bacaan mereka tapi tanpa
- memahami isinya.
- Allah perumpamakan mereka bagaikan apa?
- Bagaikan seekor keledai yang memikul
- tumpukan buku.
- Buku ilmu pengetahuan berada di atas
- punggungnya. Tapi berapa banyak yang
- diambil manfaat oleh keledai? Enggak
- ada.
- Masalulladzina hummilut taurat summa lam
- yahmiluha kamasalil himar yahmilu
- asfaro.
- Perumpamaan mereka para ahli kitab yang
- diturunkan kitab Taurat pada mereka.
- Mereka mempelajari kitab tersebut tapi
- mereka tidak mengamalkan isinya dengan
- baik mirip dengan keledai yang terdapat
- tumpukan-tumpukan buku yang berisikan
- ilmu di atas punggung mereka.
- Bi'sa masalul qaumilladzina kadzabu bi
- ayatillah betapa buruknya perumpamaan
- orang yang mendustakan ayat Allah.
- Wallahu la yahdil qaumadzolimin Allah
- tidak akan memberikan hidayah bagi orang
- dzalim.
- Bagaimana hatinya penuh kesombongan.
- Matanya walaupun sehat tapi tidak
- melihat. Telinganya juga walaupun sehat
- tapi tidak mendengar.
- Akalnya tidak bekerja. Masa ayat-ayat
- Tuhan yang datang dari penciptanya
- diabaikan digantikan dengan yang lain.
- Jalan terang begitu jelas dia memilih
- jalan yang berliku-liku akhirnya
- menyesatkan diri.
- Nah, perumpamaan keledai di sini yang
- memikul tumpukan buku yang mereka
- dapatkan hanya keletihan, kelelahan
- tapi tetap dalam kebodohan. Begitu juga
- orang belajar ilmu sekian banyak Quran
- mereka campakkan mereka abaikan bagaikan
- orang yang matanya sehat tapi tidak
- mendapatkan penerangan cahaya dari sisi
- Allah Ta'ala.
- Jadi walaupun matanya sehat
- tapi kalau tidak ada cahaya
- dia tidak akan dapat sama sekali apa?
- Melihat.
- Wamasalun minalladzina kholau min
- qoblikum perumpamaan dari orang-orang
- sebelum kalian
- kemudian wa mau'izatan lil muttaqin dan
- petuah, nasehat, bimbingan untuk
- orang-orang yang bertakwa.
- Kenapa Allah bilang untuk orang yang
- bertakwa? Karena yang mau menyambut
- hidayah, bimbingan, petunjuk hanya orang
- yang bertakwa. Orang yang sombong
- walaupun dia berilmu
- bisa diberikan bimbingan, pengarahan dia
- tidak akan menyambutnya.
- Jadi di samping
- dibutuhkan wawasan dan pemahaman,
- dibutuhkan juga kesehajaan, ketawaduan
- ketakwaan, rasa hormat kepada Allah baru
- hidayah Allah subhanahu wa taala akan
- masuk ke dalam hati seseorang.
- Nah setelah itu
- Allah subhanahu wa taala
- ingin memberikan gambaran kepada kita
- mengenai ayat-ayat yang memberikan
- penerangan, penjelasan yang
- sejelas-jelasnya.
- Nah ini merupakan hal yang bersifat
- maknawi digambarkan dalam gambaran yang
- konkret.
- Jadi keterangan, penjelasan yang
- sejelas-jelasnya kan maknawi.
- Betul enggak? Penjelasan yang maknawi.
- Nah Allah ingin kita menyelediki
- ayat-ayat Allah dan penerangan yang
- sejelas-jelasnya dalam gambaran yang
- konkret maka Allah gambarkan pada ayat
- 35.
- Pertama Allah terangkan
- Allah adalah nur yang menerangi langit
- dan bumi.
- Ini juga merupakan bahasa metafora.
- Matahari
- merupakan cahaya ya yang menerangi
- pandangan mata kita di samping
- memberikan kehangatan dan fungsi yang
- begitu banyak.
- Tapi fungsi matahari yang sama-sama kita
- rasakan
- adalah cahaya yang membantu bola mata
- kita untuk melihat.
- Hingga kita mampu untuk membedakan apa
- yang di sekeliling kita, mampu untuk
- memilih jalan yang tepat dan benar,
- menghindari hal-hal yang berbahaya. Tapi
- di saat cahaya matahari padam walaupun
- apa? Mata melihat kita akan berada dalam
- kegelapan.
- Jadi matahari
- juga merupakan apa? Merupakan makhluk
- yang Allah ciptakan untuk menerangi
- kita. Sumbernya berasal dari Allah.
- Bayi,
- ya, sebelum dia menjadi bayi ketika
- sperma, ya,
- mengejar telur, kemudian membuahkannya
- kalau bukan karena nur bimbingan
- petunjuk Allah,
- dia tidak mungkin apa?
- Kemudian ketika dia telah membuahkan,
- kemudian melekat pada dinding rahim,
- kemudian bagaimana makhluk yang lemah
- tersebut mulai, ya, membangun dirinya.
- Setelah dia membelah, ya,
- mulai dia merajut organ-organ tubuhnya,
- kemudian juga kerangka dan tulangnya,
- saraf-sarafnya,
- seluruh jaringan-jaringan tubuhnya.
- Hingga tiba saat di mana dia telah
- menyempurnakan penciptaannya.
- Ini semua kan
- bimbingan petunjuk
- dari cahaya Allah.
- Kita enggak mampu berbuat apa saat itu.
- Kemudian yang mengantarkan dirinya untuk
- keluar dari rahim ibunya berjuang keluar
- dari rahim ibunya, menempuh jalannya
- siapa?
- Bayi dalam usia yang begitu ini sudah
- berjuang.
- Kemudian kita saksikan tadinya dia
- bernafas, ya,
- makan minum dari tali pusat ibunya,
- sekarang dia memulai era baru. Siapa
- yang membimbing dirinya
- untuk mengenal puting ibunya,
- untuk menghisap susu ibunya,
- untuk beradaptasi dengan alam yang baru,
- tempat yang tidak dikenal sebelumnya.
- Kemudian kita saksikan depan mata kita
- ini anak tumbuh hingga menjadi dewasa,
- kalau bukan karena nur hidayah Allah
- dari mana?
- Dia belum belajar sebelumnya.
- Pendidikan yang didapatkan ini
- pendidikan yang luar biasa, langsung
- ditangani oleh Allah.
- Jadi, Allah nurus samawati wal ard,
- Allah
- wa ta'ala
- hadis samawati wal ard. Yang memberikan
- hidayah petunjuk dengan cahayanya, ya.
- Yang menerangi langit bumi. Bumi kita
- berada pada
- orbitnya berputar mengitari dirinya
- kemudian mengitari mataharinya. Lalu
- matahari bersama seluruh planet
- mengitari pusat galaksi semua di bawah
- bimbingan nur Allah subhanahu wa ta'ala.
- Jadi Allah ingin menerangkan bahwa
- sumber cahaya, sumber petunjuk, sumber
- kebenaran berasal dari Allah.
- Jangan seperti sebagian orang mengatakan
- bahwa Allah itu nur
- dalam arti yang hakiki, padahal kita
- tahu bahwa cahaya itu bersumber dari
- matahari sedangkan matahari ciptaan
- Allah.
- Nanti orang akhirnya mengatakan betul
- kalau gitu Tuhan itu matahari.
- Matahari makhluk Allah.
- Cahayanya juga berasal dari apa?
- Dari Allah subhanahu wa ta'ala. Tapi ini
- sebuah bahasa yang amat indah, ya.
- Yang ingin menerangkan pada kita bahwa
- sumber kebenaran, sumber petunjuk yang
- sejati berasal dari Allah. Agar manusia
- tidak menyombongkan diri atau
- membanggakan ilmu yang Allah ajarkan
- padanya.
- Ilmu seharusnya membuat dirinya mengenal
- Tuhannya, bertawadhu di hadapannya bukan
- justru mendorong dirinya untuk bersikap
- angkuh dan sombong.
- Nah, setelah Allah menjelaskan sumber
- cahaya petunjuk
- berasal dari Allah,
- Allah berikan
- satu perumpamaan ilustrasi yang amat
- indah disesuaikan dengan kondisi bangsa
- Arab pada saat tersebut.
- Dulu kan belum ada lampu seperti lampu
- kita saat ini.
- Iya, orang menggunakan pelita.
- Allah berbicara sesuai dengan kondisi
- keadaan yang mereka pahami.
- Pelita ada. Mereka
- malah mereka bervariasi dalam
- menciptakan pelita. Baik yang melekat
- dalam lubang dinding, ya.
- Jadi, dalam hal ini kan mereka
- menggunakan pelita bermacam-macam. Ada
- yang menggunakan minyak dari
- tumbuh-tumbuhan, ya. Pada saat itu
- katakan minyak bumi belum dikenal di
- sebagian daerah, apalagi negara Arab
- yang primitif pada saat itu. Tapi
- minyak-minyak yang berasal dari apa?
- Dari nabatat, tumbuh-tumbuhan, mereka
- manfaatkan. Bahkan dari dari kambing
- atau sapi.
- Lemak-lemak, ya, dari lemak, ya.
- Dari lemak kambing, lemak sapi yang
- mereka cairkan, mereka gunakan juga
- untuk apa?
- Atau mereka menggunakan dari minyak
- zaitun.
- Minyak zaitun itu merupakan, ya, minyak
- zaitun merupakan minyak istimewa.
- Pertama dia jernih, ya.
- Dan disaat digunakan untuk api, apinya
- tidak mengeluarkan asap yang hitam.
- Kita kalau gunakan semprong pada zaman
- dulu, semprong, menggunakan minyak kan
- biasanya hidung kita apa?
- Hitam kan?
- Nah, minyak zaitun ini menghasilkan api
- yang bening, yang jernih.
- Antum lihat di sini.
- Perumpamaan yang amat indah.
- Allah nurus samawati wal ard. Ini
- merupakan
- keterangan bahwa sumber cahaya kebenaran
- petunjuk berasal dari Allah.
- Masalu nurihi, perumpamaan dari
- cahayanya.
- Karena ayat ini berbicara mengenai
- Alquran sebelumnya, maka dengan
- sendirinya cahaya ini disamping mencakup
- seluruh cahaya dan petunjuk Allah Ta'ala
- secara khusus bicara mengenai Quran.
- Karena Allah mengatakan, "Sungguh kami
- telah menurunkan bagi kalian ayat-ayat
- yang memberikan penerangan."
- Nah, untuk menegaskan bahwa ayat
- tersebut terang benderang, Allah bawakan
- perumpamaan ini.
- Wa masalu nurihi, perumpamaan dari
- nur-nya.
- Kamisykatin fiha misbah, seperti sebuah
- lubang.
- Dulu mereka meletakkan lampu bukan di
- bagian atas biasanya, di dinding.
- Dinding.
- Bahkan di
- kerajaan Romawi ya.
- Mereka letakkan lubang
- kotak begitu di dinding, mereka masukkan
- lampu.
- Jadi begitu mereka berjalan. Dari kanan
- kiri mereka, lampu apa?
- Memberi cahaya, itu namanya miskah.
- Begitu juga down light itu dikatakan
- miskah juga bisa.
- Down light itu.
- Tempat apa lampu yang apa namanya, yang
- cekung dinamakan juga miskah.
- Bagaikan sebuah lubang.
- Fiha misbah, terdapat pelita di
- dalamnya.
- Almisbah fi sujajah.
- Sedangkan pelit.
- Terbungkus oleh kristal.
- Kata sujajah sekarang digunakan untuk
- kaca.
- Untuk ya? Kaca. Kaca. Nah pada saat itu.
- Berlaku untuk kristal, mereka biasa
- menggunakan. Kristal sebagai pembungkus
- pelita.
- Dan kristal kan beda dengan dengan
- cermin biasa kan.
- Pelita terdapat dalam kristal.
- Azzujajatu kaannaha kaukabun durri.
- Sedangkan kristal tadi.
- Dari terangnya.
- Seolah-olah bagaikan bintang kejora yang
- terang benderang.
- Yuqodu min syajaratin mubarokatin
- zaitunatin la syarqiyatin wala
- gharbiyah. Sedangkan bahan bakarnya
- untuk menyalakan pelita tersebut.
- Diambil dari apa?
- Minyak zaitun, minyak yang dihasilkan
- dari buah zaitun.
- Yang tumbuhnya di tempat yang tinggi.
- Hingga waktu matahari.
- Terbit hingga siang dia mendapatkan
- cahaya matahari.
- Waktu menuju ke arah tenggelam, matahari
- juga menerangi dirinya.
- Membuat pohon tersebut menyerap cahaya
- matahari menghasilkan minyak yang jernih
- dan bening.
- Allah katakan la syarqiyyah wala
- gharbiyyah.
- Tidak berada di timur maupun di barat.
- Karena kalau di timur, waktu matahari
- terbenam enggak enggak apa enggak
- mendapatkan cahaya matahari.
- Jadi mesti di tempat yang tinggi.
- Seperti yang terdapat di Sinai kita
- saksikan. Matahari bersinar pada saat
- terbit hingga terbenam, pohon tersebut
- mendapatkan cahaya.
- Yakaadu zaituhayu walau lam tamsas
- hunar.
- Minyaknya ini
- dari jernihnya sampai seolah-olah dia
- menyala-nyala walaupun belum tersentuh
- oleh api.
- Maka dari paduan ini semuanya, dari
- kesatuan dan kumpulan
- tempat yang kecil.
- Tempat yang kecil yang membuat cahaya
- fokus kan?
- Kemudian
- kristal laksana bintang kejora yang
- menjadi pembungkus pelita tersebut dan
- minyak yang menyala-nyala walaupun belum
- tersentuh oleh api.
- Begitu tersentuh oleh api, apa hasilnya?
- Nurun ala nur. Nur di atas nur, cahaya
- di atas cahaya. Tidak terdapat
- sedikitpun kegelapan.
- Nah, yang memperkuat
- bahwa perumpamaan ini untuk Alquran,
- lihat berikutnya. Yahdillahu linurihi
- mayyasya'. Wayadhribullahul amtsala
- linnas wallahu bikulli syai'in alim.
- Allah memberikan bimbingan petunjuk
- dengan cahayanya ini siapa yang Allah
- kehendaki. Yang tidak sombong.
- Orang kalau menutup mata di hadapan
- cahaya
- sambil menegakkan dadanya menunjukkan
- keangkuhan, kesombongan. Tapi orang yang
- membuka mata
- memperhatikan ayat-ayat Allah dengan
- penuh ketawaduan seorang hamba di
- hadapan Tuhan, ini yang akan mendapatkan
- bimbingan.
- Allah memberikan bimbingannya ya
- untuk mendapatkan penerangan cahayanya
- siapa yang dikehendaki.
- Kehendaknya enggak sama sama kehendak
- kita. Kalau kita suka sama orang
- walaupun enggak benar, kita kasih.
- Kita benci sama orang walaupun itu orang
- baik,
- kita jauhin.
- Kalau Allah tidak.
- Allah semua atas dasar ilmu,
- kebijaksanaan dan kebenaran.
- Pak Ustaz, pada saat itu masyarakatnya
- kan mayoritas ummi. Bagaimana Alquran
- yang penuh dengan simbol-simbol dapat
- dipahami oleh mereka seperti api di
- dalam laut gitu. Dari mana mereka bisa
- Allah kasih, subhanallah.
- Allah subhanahu wa taala
- dengan rahmatnya mempermudah
- hamba-hambanya untuk memahami Alquran
- sesuai dengan wawasan mereka.
- Kan pemahaman Alquran berkembang
- wawasannya.
- Berkembang.
- Berkembang bukan berarti yang sebelumnya
- salah. Dari pemahaman yang tadinya
- dangkal, dengan ilmu semakin apa? Dalam.
- Seperti Mas Krisna kalau seandainya
- datang
- ke laut,
- satu bawa gayung, satu bawa baskom, satu
- lagi bawa tangki.
- Yang mereka angkut air laut, tapi kan
- jumlahnya berbeda-beda. Nah, Allah
- subhanahu wa taala jadikan ayatnya ini
- mudah dipahami oleh awam sesuai dengan
- wawasan mereka. Yang menengah sesuai
- dengan wawasan mereka. Yang berilmu akan
- menerima lebih luas. Tapi yang buruk itu
- yang berilmu menyombongkan diri di
- hadapan Allah padahal sumber kebenaran
- dan ilmu dari
- Allah.
- Nah, Allah lanjutkan wayadribullahul
- amsalalinnasi wallahu bikulli syaiin
- alim. Allah memberikan perumpamaan ini
- bagi manusia. Allah Maha mengetahui
- segala sesuatu.
- Jadi hubungan antara ayat ini dengan
- ayat sebelumnya
- yang berbicara mengenai Quran jelas apa
- tidak?
- Tapi sayangnya sebagian orang ketika
- berusaha memahami ayat ini dipisahkan
- dari ayat sebelumnya. Akhirnya mereka
- merawang-rawang.
- Ada yang membahasnya secara filosofis,
- padahal ayat ini jelas gamblang.
- Cuma sedikit yang merenungkan, apalagi
- kalau orang yang berilmu, ya, yang
- bergelar, ya.
- Bertepuk dada.
- Membanggakan juga wawasannya.
- Tapi tidak kembali kepada bimbingan dan
- petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Oleh karena itu.
- Kita banyak menjumpai orang
- berpendidikan tinggi.
- Tapi masih menyembah.
- Apa? Masih menyembah makhluk-makhluk
- Allah.
- Padahal pendidikannya amat tinggi.
- Masih percaya kepada mistik, mitos.
- Khurafat yang tidak masuk di akal.
- Bahkan.
- Datang kepada apa? Datang kepada orang
- yang tidak waras.
- Tanya nomor SDSB.
- Ini insinyur.
- Dokter berpendidikan tinggi rupanya mau
- cepat kaya, jalan pintas.
- Ada yang bilang, ini orang ini tahu
- nomor yang bakal keluar.
- Sekarang sudah enggak ada lagi, Ustaz.
- SDSB sekarang enggak ada, tapi banyak
- pejabat-pejabat mau jadi pejabat
- diruwat.
- Dimandikan, eh dimandikan air kotor
- lagi.
- Ah, setelah investasi besar-besaran,
- gagal.
- Akhirnya kesurupan.
- Akhirnya bernyanyi, menyanyikan
- kehilangan, ya, apa? Coba dagang cara
- baik-baik dari yang halal, buat modal
- usaha dia kan lebih bagus. Ini ingin
- jadi pejabat untuk cari untung.
- Akhirnya menjadikan bandeng sebagai
- umpan.
- Cacing enggak dapat.
- Dia berharap kasih bandeng dapat ikan
- tuna.
- Ternyata yang makan dia punya bandeng
- cacing.
- Jadi kalau kita lihat betul-betul
- kebodohan manusia ini luar biasa.
- Tapi kalau kita memandang kitab Allah
- ini sebagai kitab suci.
- Yang berasal dari Yang Maha Agung, Yang
- Maha Tahu, Yang Maha bijaksana,
- narasumber dari kebenaran. Kita
- menyadari hal ini waktu membaca beda.
- Beda enggak? Beda. Beda, tapi kita
- memandang Alquran seperti kitab-kitab
- yang ditulis oleh manusia. Bahkan kita
- memandang karya manusia lebih baik
- daripada Alquran.
- Itu bukan datang dari orang kafir,
- datang dari orang Islam. Di mana mereka
- menganjurkan murid-muridnya untuk fokus
- pada buku kuning, sedangkan Quran cuma
- dibaca dan dihafal.
- Mereka bilang, "Dalam buku kuning ini
- pemahaman ulama-ulama kita yang telah
- menerangkan Alquran dengan
- sejelas-jelasnya.
- Ini tidak perlu kalian kembali kepada
- Alquran." Ini kan orang yang betul-betul
- sakit.
- Sakit yang luar biasa.
- Pemahaman manusia bisa salah.
- Pemahaman manusia bisa berkembang terus.
- Nah, kita dipaksa untuk kembali kepada
- pemahaman-pemahaman yang dangkal di masa
- silam, kita jadikan sebagai apa?
- Sebagai jargon kita. Lalu orang melihat
- Islam melalui ini. Akhirnya mereka
- memandang Islam sempit dan dangkal.
- Jadi jelas bahwa ayat ini
- ketika Allah mengatakan nur ala nur,
- berbicara mengenai kebenaran ilahi dalam
- kitab sucinya.
- Dan Allah sebanyak empat kali dalam
- suratul qamar mengatakan, "Walakad
- yasarnal Qur'ana lidzikri fahal mim
- mudzakir." Sungguh kami telah
- mempermudah Alquran untuk
- diingat, dijadikan sebagai pelajaran,
- ya, untuk dipahami. Ada enggak di antara
- kalian yang mau mengambil pelajaran ini?
- Dan celakanya,
- orang yang fokus untuk menyampaikan
- Alquran dituduh bermacam-macam.
- Dan aneh,
- mereka mengatakan, "Ustaz Husein
- Qur'ani."
- Saya bilang kalau saya mendapatkan
- pangkat seperti ini luar biasa indahnya.
- Tapi mereka menjadikan ini sebagai
- olok-olokan,
- sebagai cemohan.
- Padahal pada zaman dulu nabinya
- adalah Qur'an yang berjalan.
- Tapi mereka menganggap ini merupakan
- cemohan dan olokan. Aneh enggak?
- Aneh luar biasa.
- Seperti orang yang makan makanan yang
- tidak sehat,
- yang
- tidak terjaga dari berbagai macam apa?
- Dari berbagai macam kuman,
- meledek orang yang makan makanan yang
- sehat.
- Enakan ini.
- Lebih bermanfaat ini.
- Harganya murah.
- Kalau makanan kamu enggak ada enaknya
- sama sekali, enggak ada micinnya, ya.
- Enggak ada micin?
- Enggak ada micinnya, enggak ada
- penyedapnya, enggak ada ini, enggak ada
- itu.
- Nah, kita melihat orang-orang yang awam
- ini,
- yang punya penilaian semacam ini,
- kalau kita tanggapi,
- akhirnya kita ikut sakit bersama mereka.
- Jadi kita berhadapan dengan mereka,
- mengucapkan salam, kita melintas,
- tidak meladeni orang-orang yang bodoh
- dan awam dalam menanggapi
- apa yang kita lakukan dengan mengikuti
- petunjuk Allah dan bimbingan Rasulnya
- Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Alihi
- Wasallam. Nabi sebelum menerima Alquran,
- seorang yang tidak tahu apa yang harus
- dilakukan.
- Beliau lebih banyak mengasingkan diri di
- Gua Hira, tidak berdaya menyaksikan
- kebodohan umatnya, tapi tidak mampu
- untuk melakukan apa-apa.
- Hingga turun Alquran
- dan tempat turunnya dinamakan Jabal Nur.
- Betul enggak? Berarti Jabal bukit atau
- gunung tempat turunnya Nur Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala adalah Alquran.
- Qad jaakum minallahi nurun wa kitabun
- mubin.
- Allah juga mengatakan wa anzalna ilaikum
- nuran mubina.
- Jadi kata nur menunjuk kepada Alquran.
- Manusia walaupun matanya melihat,
- walaupun telinganya mendengar, walaupun
- akalnya cerdas
- tanpa mendapatkan cahaya niscaya akan
- berada dalam kegelapan. Jadi Quran bukan
- musuh akal, tapi Quran ini menjadi apa?
- Menjadi penerang akal manusia. Jadi
- jangan mengatakan tidak boleh kita
- memahami Alquran dengan akal, justru
- Quran diturunkan untuk menerangi akal
- manusia.
- Supaya bisa melihat dengan jelas, bukan
- diselimuti oleh hawa nafsu yang carinya
- cuma yang enak-enak yang sesuai selera.
- Yang sesuai selera, yang enak mereka
- ikuti.
- Adapun kebenaran yang tidak sesuai
- dengan selera mereka anggap ini
- merupakan apa?
- Kebatinan. Oleh karena itu yang mengajak
- kepada kitab Allah menjadi musuh mereka.
- Mereka bilang ekstrem. Lalu tolong ukur
- ekstrem apa? Karena ekstrem itu keluar
- dari garis, keluar dari rel.
- Kalau ukurannya hawa nafsu maka Quran
- ekstrem.
- Tapi kalau ukurannya kebenaran,
- ukurannya Alquran, yang menyimpang dari
- kebenaran itu yang ekstrem.
- Nah sekarang kita beralih kepada
- beberapa ayat setelah ayat tadi, ayat
- 35.
- Nah sekarang kita akan ya memasuki
- perumpamaan berikutnya yang berhubungan
- dengan sebelumnya.
- Yaitu ayat 39 dan ayat 40.
- Dua-duanya merupakan perumpamaan yang
- amat indah.
- Tadi berbicara mengenai orang yang
- beriman
- yang diterangi oleh Allah, yang berjalan
- di jalan Allah.
- Pasti keadaan mereka berbeda
- sama orang yang tidak diterangi oleh
- Allah. Wamatsalulladzina
- kafaru.
- Dan perumpamaan orang-orang kafir,
- orang-orang yang ingkar kepada Allah,
- yang tidak menghiraukan, mengindahkan
- bimbingan dan petunjuk Allah.
- Kasarobin biqi'atin yahsabuhuzh-zham'anu
- maa.
- Hatta idza ja'ahu lam yajidhu syai'a,
- wawajadallaha indahu fawaffahu hisabah,
- wallahu sari'ul hisab.
- Dan perumpamaan orang-orang kafir, amal,
- usaha dan pekerjaan mereka.
- Bagaikan apa?
- Bagaikan seorang yang berada
- di mana?
- Di satu padang yang luas.
- Menempuh perjalanan yang jauh, tahu-tahu
- menjumpai bayang-bayang air. Dalam
- keadaan haus, menempuh perjalanan yang
- jauh, dia melihat bayang-bayang air.
- Dia menganggap itu air. Air.
- Maka dengan bergegas-gegas dia
- mendatangi tempat tersebut.
- Waktu tiba di tempat
- yang dituju, ternyata tidak terdapat
- apa-apa.
- Tahu-tahu dia menjumpai di tempat yang
- jauh lagi apa? Terdapat bayang-bayang
- tersebut. Dia berangkat lagi ke sana,
- ternyata dia menjumpai hal yang sama.
- Semua itu ternyata hanya bayang-bayang
- fatamorgana.
- Kita kalau sedang panas matahari,
- perjalanan di jalan aspal,
- ya.
- Subhanallah, dari jauh memandang seolah
- terdapat bayang-bayang air.
- Betul enggak? Iya, iya.
- Ternyata itu bukan air, itu merupakan
- bayangan palsu, bayang-bayang
- fatamorgana.
- Nah, banyak orang-orang yang kafir,
- yang tidak mengikuti petunjuk Allah,
- mereka beranggapan kesuksesan mereka,
- keberhasilan mereka, pada saat mereka
- mendapatkan jabatan, mengumpulkan dunia,
- berbagai macam cara mereka lakukan untuk
- mendapatkan apa yang mereka inginkan.
- Ada lagi yang beranggapan kalau saya
- mendapatkan wanita ini, maka sempurnalah
- kebahagiaannya.
- Itu angan-angan.
- Dia beranggapan bahwa semua ini penyebab
- kebahagiaan.
- Akhirnya dia dapatkan harta,
- dia dapatkan juga apa? Kedudukan, dia
- dapatkan wanita yang diidam-idamkan,
- ternyata kebahagiaan tidak ditemukan.
- Manusia semakin banyak yang dimiliki,
- semakin banyak bebannya dan takutnya.
- Betul enggak?
- Tanya sama pejabat di atas, takut enggak
- kalau jatuh? Takut, takut saya.
- Bagaimana pandangannya terhadap orang
- yang menggantikan dia? Suka, cinta apa
- benci? Benci. Benci.
- Kemarin bawahannya
- menyapa dia membukakan pintu, sekarang
- menyapa yang lain membukakan pintu bagi
- orang lain.
- Ketemu sama dia, pura-pura tidak
- melihat.
- Dia bilang apa? Yang paling menyakitkan,
- saya ketemu ajudan saya, yang tadinya
- begitu hormat membukakan pintu, sekarang
- ketemu saya pura-pura tidak melihat.
- Bayangkan.
- Bahkan wanita-wanita yang tadinya
- menjemput dia, memujinya, mengatakan
- Bapak ini awet muda dan tampan, begitu
- dia naik, turun dari jabatannya,
- wanita-wanita ini pergi sama yang baru.
- Itulah dunia.
- Bahkan istrinya yang tadinya suka
- memuji-muji, menyanjung, bahkan
- memperhatikannya, begitu dia jatuh,
- kehilangan pekerjaannya,
- mulai istrinya mengabaikan dirinya.
- Dunia.
- Dia lebih banyak mengambil dari kita
- dari apa yang diberikan. Bahkan semakin
- tulus kita mengabdi untuk dunia, semakin
- kita dikecewakan.
- Tapi kalau kita mengabdi kepada Allah
- mengikuti petunjuknya,
- sedikit yang kita lakukan dibalas dengan
- balasan yang melimpah ruah. Coba
- bagaimana kebodohan manusia yang lebih
- mengutamakan dunia daripada Allah.
- Yang lebih suka mengikuti kompas, ya.
- Yang berasal dari manusia daripada
- kompas kehidupan yang berasal dari Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala.
- Jadi perumpamaan manusia dalam usaha
- mereka dalam kehidupan mereka mirip
- dengan orang yang berada
- di tengah-tengah padang pasir atau di
- tengah-tengah padang dalam keadaan haus
- menempuh perjalanan yang panjang melihat
- bayang-bayang air. Dikejar, tiba di
- tempat yang dituju tidak mendapatkan
- apa-apa.
- Tahu-tahu di sana kehidupannya berakhir
- dia menjumpai Allah.
- Angan-angan masih begitu banyak,
- ternyata sampai di hadapan Allah dia
- tidak membawa sesuatu yang menjadi bekal
- hidupnya. Allah melunasi
- semua balasan amalnya dan Allah Maha
- cepat hisabnya. Ini gambaran dari
- manusia yang tidak menghargai Allah,
- tidak menghargai petunjuknya,
- mendapatkan nikmat karunianya tapi
- bersikap angkuh di hadapan Allah dengan
- ilmu yang Allah ajarkan. Kalla innal
- insana
- layatgoh anroahu istaghnah.
- Manusia mulai setelah dia merasa cukup
- kuat, mulai dia bersikap angkuh dan
- sombong.
- Nah, perumpamaan berikutnya kalau tadi
- menggambarkan usaha pekerjaan yang
- sia-sia.
- Dia berletih lelah berjuang siang malam
- tapi berakhir dengan penyesalan.
- Ternyata diabaikan bekal hidupnya yang
- sebenarnya, sibuk dengan apa?
- Dengan kehidupan dunianya yang membuat
- dirinya kecewa,
- menyesal, bersedih tiada akhir.
- Nah, pada ayat berikutnya Allah
- gambarkan orang
- yang jauh dari bimbingan dan petunjuk
- Allah dari sisi jiwanya dan
- Au kadhulmi
- Nah, perumpamaan yang lain bagi orang
- yang ingkar kepada Allah. Bagi kenapa?
- Bagaikan kegelapan yang berlapis-lapis
- di tengah kedalaman lautan.
- Bahrul Luji menggambarkan lautan dalam.
- Laut ya, yang dalam ya, dan luas.
- Orang tersebut berada di kedalaman
- lautan.
- Yasyahu maujud, diselimuti oleh
- gelombang.
- Kalau di kedalaman lautan ya,
- yang ditemukan gelombang di atas apa
- gelombang di bawah?
- Yang di atas.
- Kalau di kedalaman lautan, di bawah
- dong.
- Yang di bawah ya.
- Tapi kalau dia menyelam ke bawah, orang
- baru merasakan
- ya,
- dan memahami bagaimana tekanan air kalau
- dia menyelam ke bawah.
- Lebih kuat ya. Begitu dia menyelam
- semeter saja, dia merasakan berat kan?
- Menyelam 2 meter, dia merasakan
- telinganya semakin apa?
- Sakit. Iya.
- Oleh karena itu para penyelam untuk
- membuat dia dapat menyelam lebih dalam,
- dia menggunakan besi biasanya.
- Besi ya, karena tanpa besi ya, dia akan
- terapung.
- Air dari bawah menolak dirinya.
- Dia menyelam semakin dalam, tekanan air
- tersebut luar biasa.
- Telinganya ya, kemudian menyerang juga
- apa? Secara tidak langsung dia merasakan
- berat ya, beban yang begitu berat karena
- kurangnya oksigen
- membuat tubuhnya pun merasakan tekanan
- air. Semakin dalam, semakin berat.
- Allah gambarkan bagaimana kondisi orang
- yang ingkar kepada Allah berada di
- tengah kedalaman lautan
- yang gelap gulita. Bukan hanya satu
- kegelapan, tapi zulumaat, kegelapan yang
- berlapis-lapis.
- Yagsyaahu maujun, diselimuti oleh
- gelombang, arus bawah nih. Min fauqihi
- maujun, di atasnya ada lagi gelombang.
- Semakin ke dalam, semakin berat tekanan
- tersebut.
- Min fauqihi sahaab.
- Sudah gelombang yang berlapis-lapis yang
- menekan dirinya, membuat dirinya sesak
- yang luar biasa.
- Di atasnya terdapat awan yang
- menghalangi sinar matahari.
- Akhirnya apa? Zulumaatun ba'duha fauqa
- ba'din, kegelapan di atas kegelapan.
- Izaa akhraja yadaahu lam yakad yaraahaa,
- kalau dia mengeluarkan tangannya, dia
- tidak dapat melihat tangannya.
- Wamaa lam yaj'alillaahu lahuu nuuran
- famaalahuu min nuur, orang yang tidak
- diberikan penerangan oleh Allah, dia
- tidak akan menemukan penerangan di
- manapun juga.
- Antum perhatikan bagaimana gambaran
- orang di tengah-tengah kegelapan
- dalam tekanan yang berlapis-lapis.
- Gimana perasaannya?
- Kita jangankan menghadapi kenyataan,
- mimpi
- berada dalam kegelapan, kesuraman, kita
- merasakan
- bagaimana jantung kita berdebar-debar.
- Begitu kita bangun kita merasakan
- jantung kita berdebar-debar. Kegelapan
- yang suram membuat kehidupan kita begitu
- menakutkan. Nah, bagaimana seorang
- yang berada di kedalaman lautan
- dalam kegelapan yang berlapis-lapis,
- tekanan gelombang yang apa?
- Yang bermacam-macam ditambah
- awan yang menghalangi sinar matahari,
- membuat kita dalam kegelapan sampai
- tangan tidak mampu untuk melihat.
- Bukan hanya kegelapan, tapi tekanan.
- Kemudian juga sesaknya hati kita, jiwa
- kita, karena tidak terdapatnya oksigen.
- Suasana ini betul-betul suasana yang
- mengerikan, menakutkan. Ini yang dialami
- oleh mereka-mereka tidak mendapatkan
- penerangan dari Allah. Di luar mereka
- nampak jaya,
- berkuasa,
- tapi hidupnya ketakutan. Coba lihat
- Donald Trump.
- Begitu ada demo, ngumpet di bunker.
- Dengar teriakan Allahu Akbar, langsung
- apa?
- Dia lari dan semua orang berusaha
- pengawalnya melindungi dirinya.
- Bagaimana coba? Dengar teriakan dia
- merasa takut.
- Dan begitu juga orang-orang yang kaya,
- ketakutan mereka tuh lebih besar
- daripada orang awam.
- Orang-orang yang enggak punya tidur di
- bawah jembatan, tidak ada beban sama
- sekali, enak tidurnya.
- Sedangkan yang kaya raya,
- tidur dibantu obat tidur dapat sejam dua
- jam, dia sudah merasakan kenikmatan.
- Kenapa? Begitu dia membuka matanya,
- beban penderitaan yang terpikir dalam
- benaknya. Orang menganggap dia kaya,
- padahal dia menderita yang luar biasa.
- Termasuk juga pejabat-pejabat yang di
- atas.
- Saya yakin presiden,
- kalau bisa memilih kehidupan yang
- sebelumnya, sebelum menjadi pejabat, dia
- akan memilih tidak ada beban
- macam-macam, tidak ada fitnahan, tidak
- ada serangan, tidak ada sama sekali apa?
- Teror. Waktu di bawah enggak ada yang
- nyerang, begitu di atas
- mau benar mau salah, dia akan merasakan
- betul-betul teror yang bermacam-macam.
- Orang-orang yang senyum di hadapan
- dirinya, senyum yang palsu.
- Betul enggak? Besok dia akan senyum pada
- penggantinya.
- Ada yang tulus enggak cinta sama yang di
- atas?
- Kecuali yang beriman, bertakwa pada
- Allah, bekerja mengharapkan rida Allah,
- dia tidak peduli sukanya orang atau
- tidak. Yang penting dalam keridaan
- Allah, dia mendapatkan kebahagiaan,
- keselamatan di hari akhir. Begitu dia
- turun,
- walaupun tadinya banyak orang
- mengkritik, orang akan mengatakan dia
- seorang pahlawan.
- Jadi sebetulnya orang yang paling
- berbahagia itu yang jalan di bawah
- penerangan Allah, mengikuti bimbingan
- petunjuknya Allah, ridho padanya. Kalau
- sekarang manusia enggak suka, sementara.
- Karena kebanyakan
- mereka merasa
- mendengarkan gangguan dari
- nasehat-nasehatnya.
- Tapi nurani manusia tidak akan dapat
- dibohongi.
- Tetap mereka akan berpihak pada
- kebenaran.
- Oleh karena itu kita jumpai banyak
- pahlawan-pahlawan pada masa hidupnya,
- mereka diserang.
- Begitu mereka meninggal dunia, baru
- orang mengakui bahwa dia sebagai seorang
- pahlawan.
- Jadi gambaran ayat tadi, ya.
- Begitu jelas. Yang pertama menggambarkan
- usaha orang-orang yang ingkar kepada
- Allah, bagaikan orang yang mengejar
- bayang-bayang fatamorgana.
- Lalu gambaran yang kedua, gambaran orang
- yang berada dalam kegelapan, menghadapi
- tekanan yang bermacam-macam. Itulah
- mereka-mereka orang yang ingkar,
- walaupun bergelimangan harta,
- berkedudukan tinggi, memiliki sekian
- banyak penghibur, semua itu hanya
- hiburan yang semu.
- Oleh karena itu
- saya berkumpul bersama sebagian mereka.
- Dia mengatakan, "Orang takut sama saya,
- hormat sama saya.
- Padahal orang tidak tahu bagaimana
- perasaan saya."
- Dia bangun jarak bukan karena apa, bukan
- karena
- bukan karena dia bahagia, tapi karena
- takut.
- Sampai kalau dia buat jarak yang terlalu
- dekat, ya, nanti dia kurang orang orang
- kurang hormat dengan dia karena melihat
- perbuatan dia.
- Sampai-sampai terhadap istri, dia buat
- jarak.
- Ditanya, "Kenapa kamu membuat jarak
- terhadap istri kamu?" Dia bilang, "Nanti
- kalau terlalu dekat, dia bersikap kurang
- ajar, dia meremehkan saya."
- Padahal orang kalau dalam kebenaran,
- kebaikan memperlakukan istri dengan
- baik, dia akan temukan cinta. Tapi
- karena dia tidak melakukan hal ini,
- ya, dia hidup dengan cara dia mengikuti
- kesombongan, keangkuhannya
- dia buat jarak antara dia, istrinya,
- anaknya
- untuk menciptakan wibawa yang palsu dan
- semu.
- La haula wala quwwata illa billahil
- aliyil adzim.
- Jadi demikianlah ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah, bagaimana indahnya
- perumpamaan dalam Alquran. Mudah-mudahan
- hal ini dapat membantu kita untuk
- memahami indahnya, agungnya, mulianya
- Quran yang berasal dari sumber kebenaran
- Allahu nurus samawati wal ard dan
- kebenarannya merupakan nur ala nur dan
- jangan kita tergolong dari orang yang
- masuk dalam kedua perumpamaan terakhir
- tadi.
- Yang usahanya bagaikan orang yang
- mengejar bayang-bayang fatamorgana atau
- orang yang berada di tengah-tengah
- kedalaman samudra yang gelap gulita
- dengan awan yang menghalangi sinar
- matahari hingga hidupnya betul-betul
- dalam keadaan yang amat melangsa dan
- menderita. Subhanakallahumma wabihamdik
- asyhadu an la ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik wal afu
- minkum. Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah terima kasih satu sein,
- satu atong.
- Ikhwan dan akhwat demikian tadi ulumul
- Quran bersama satu sein Alatas dan satu
- atong. Mudah-mudahan kita
- dengan mendengarkan tadi kita lebih
- mencintai lagi Alquran dan terus
- mempelajarinya beserta dengan
- terjemahannya.
- Baik terima kasih kita akan jumpa lagi
- lain waktu. Saya Muhammad Krisna dan
- Nizar mohon pamit wabillahi taufik wal
- hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.