Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:52 Bismillahirrahmanirrahim. 0:53 Assalamualaikum warahmatullahi 0:54 wabarakatuh. 0:57 Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad 0:59 wa ala alihi Sayyidina Muhammad. 1:00 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 1:02 ini hari Rabu tanggal 10 Zulkaidah 1441 1:05 Hijriah atau tanggal 1 Juli 2020. 1:08 Seperti biasa Radio Silaturahim dan 1:09 Radio Silaturahim melalui YouTube 1:11 kembali 1:12 menghadirkan acara Psikologi Keluarga 1:14 bersama Ustaz Husein Alatas, Ustaz Abu 1:16 Bakar Baraja, dan Mbak Hajah Nur Nuning. 1:19 Alhamdulillah semua sudah berada di 1:21 studio. 1:23 Kasus yang masuk 1:26 pagi ini 1:27 tentang seorang suami yang selalu 1:29 dicurigai. Kemudian tentang suami yang 1:32 selalu tidak tenang perasaannya dan 1:35 seorang istri yang selalu me 1:38 suaminya baik 1:39 tapi hati saya tidak bisa menerima 1:42 perasaan saya atau bagaimana entah akan 1:43 dijelaskan oleh akan dibacakan oleh Mbak 1:45 Nuning ya. Assalamualaikum Ustaz Husein, 1:47 Ustaz Abu Bakar Baraja ya. 1:49 Kita mulai acara ini dengan membaca Al 1:51 Fatihah. 1:54 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 1:59 Bismillahirrahmanirrahim. 2:05 Alhamdulillahirobbil 2:11 Arrahmanirrahim. 2:16 Maliki yaumiddin. 2:20 Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. 2:26 Ihdinash shirothol mustaqim. 2:31 Shirotholladzina 2:33 an'amta alaihim. 2:36 Ghoiril maghdubi alaihim waladh 2:41 dhollin. 2:46 Alhamdulillah kita sudah sama-sama 2:48 membaca Al Fatihah, mudah-mudahan Allah 2:49 memberi kemudahan dalam segala urusan 2:51 kita. 2:52 Baik, kasus lengkapnya 2:56 Hajah Nur Nuning, tafadhol. 2:59 Terima kasih Mas Krisna, assalamualaikum 3:01 warahmatullahi wabarakatuh Ustad Abu 3:03 Bakar, Ustad Husein dan juga 3:06 yang bersama-sama kita di manapun Anda 3:09 dapat menyimak Rasul baik melalui radio 3:13 ataupun YouTube televisi Rasul TV ya. 3:16 Baik Mas Krisna, jadi kasusnya di sini 3:20 kalau mau di 3:22 judul in 3:23 perasaan itu jauh 3:26 banyak dibanding pikiran berpengaruh 3:28 terhadap fisik kita atau bagaimana gitu 3:30 Ustad, assalamualaikum warahmatullahi 3:32 wabarakatuh. 3:33 Waalaikumsalam. 3:34 Saya seorang suami yang selalu 3:36 dicurigai, enggak bisa merasa tenang 3:38 kalau pulang ke rumah istri dan 3:40 anak-anak tidak bisa mendekat dengan 3:42 saya dan kebanyakan gerak-gerik saya 3:44 selalu disalahkan, hampir enggak pernah 3:46 ada yang benar. 3:48 Kebaikan diri saya juga enggak pernah 3:49 kelihatan. 3:50 Anak saya dua, dia mengikuti apa saja 3:53 yang dikatakan ibunya. 3:54 Memang saya pernah bersalah 3:57 karena persoalan itu pernah terjadi tapi 4:00 bukan prinsip, cuma pulang terlambat, 4:02 ngasih nafkah eh juga terlambat atau 4:06 beberapa kesalahan yang terkait dengan 4:09 agama seperti melalaikan beberapa ibadah 4:14 yang sunah-sunah dan baru 23 tahun ini 4:17 terus-menerus mengikuti taklim. Saya 4:21 penasaran dan akhirnya memang saya ikut 4:23 taklim. Saya mencoba mendengarkan dan 4:26 mencoba mencari informasi 4:29 dan 4:30 berhasil 4:31 mudah-mudahan sangat membantu terutama 4:33 di pagi hari ini. 4:35 Tentu saja Ustaz kebingungan pada hal 4:37 ini, apa yang harus saya lakukan kepada 4:39 anak dan istri yang serba salah ini, 4:42 mudah-mudahan dapat pencerahan. Dan yang 4:45 kurang lebih sama ini terkait dengan 4:48 para pria juga, enggak tenang 4:50 perasaannya. 4:51 Enggak bisa menentukan sesuatu enggak 4:54 bisa melakukan memilih sikap menghadapi 4:56 istri 4:58 jadi saya selalu bimbang, mau bilang 5:00 enggak 5:01 atau saya meluruskan atau membenarkan 5:04 ada rasa yang kita enggak bisa 5:07 rasakan ya kalau kita mengambil sikap 5:09 ketika istri saya selalu melakukan 5:12 tindakan 5:13 sesuatu yang tidak bisa saya terima 5:16 biasanya saya lebih baik diam meskipun 5:18 perasaan saya tidak menentu gelisah 5:20 terus-menerus tapi saya memilih diam. 5:24 Bagaimana bisa mengatakan sesuatu kepada 5:25 istri bahwa perasaan saya enggak enak 5:28 kalau dia melakukan hal-hal semacam itu. 5:31 Itu dari dua pria Ustaz, kemudian eh 5:34 saya mohon maaf ya karena beberapa yang 5:35 kemarin itu banyak yang tidak ter-cover 5:38 karena enggak langsung dibacain mungkin 5:40 nanti bisa sambil jalan. Ini yang dari 5:43 wanita 5:44 suami saya baik banget, selalu 5:46 memberikan kebaikan buat saya. Tapi 5:48 herannya hati saya tidak bisa menerima 5:50 perasaan saya yang tidak mau mampu 5:53 memperhatikan dan selalu perasaan saya 5:56 itu tidak bisa menyayangi. Baik juga 5:59 anak-anaknya, saya tidak mampu 6:01 memberikan rasa kasih sayang. 6:03 Bagaimana ini terjadi? Apakah perasaan 6:05 sayang saya ini yang salah? Apakah 6:08 perasaan saya ini atau ada 6:10 hambatan-hambatan yang bisa merusak rasa 6:12 sayang saya pada keluarga? 6:16 Intinya itu, Ustaz. Mas Krisna 6:19 eee teman-teman di manapun hasil bisa 6:21 didengar, mari kita simak ya. 6:23 Baik. Mari kita simak ya. 6:26 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 6:28 Bismillahirrahmanirrahim. 6:31 Alhamdulillahirobbil alamin. 6:34 Allahumma sholli wasallim wabarik ala 6:37 abdika warosulika Sayyidina Muhammadin 6:41 waalihi wasohbihi wasallim. 6:44 Subhanaka la ilmalana illa ma allamtana. 6:49 Innaka antal alimul hakim. 6:52 Wala haula wala quwwata illabillahil 6:55 aliyil adzim. 7:00 Robbana zidna ilman walhiqna bisholihin. 7:04 Allahumma inna na'udzubika an nadhilla 7:07 au nudhol au nazilla au nuzal au 7:09 nadhlima au nudhlama au najhala au 7:12 yujhala alaina. Amma ba'du. 7:16 Ikhwan akhwat pendengar, pemirsa 7:19 radio TV Silaturahim yang dirahmati 7:23 Allah. 7:24 Ikhwan yang menemani kita pagi hari ini 7:26 Ustaz Abu Bakar Baraja, Ustaz Muhammad 7:28 Krisna. Begitu pula Ibu Hajah Nur 7:33 dan semua kru 7:34 yang menemani kita. 7:37 Salamullahi alaikum jami'an 7:39 warahmatullahi wabarakatuh. 7:41 Waalaikumsalam warahmatullahi 7:44 wabarakatuh. 7:44 Alhamdulillah wasyukurillah atas 7:48 nikmatnya. 7:50 Yang tak terhingga baik yang lahir 7:52 maupun yang batin. Semoga Allah 7:54 menjadikan kita dari hamba-hambanya yang 7:56 selalu bersyukur padanya. 8:00 Baru saja kita mendengarkan 8:03 dua kasus yang datang dari 8:06 dua orang pria, satu kasus dari seorang 8:08 wanita. 8:12 Yang pertama 8:15 mengeluh bahwa dirinya selalu dicurigai. 8:21 Istrinya selalu menyalahkan dirinya. 8:27 Lalu pertanyaannya 8:30 apakah dia sudah menjalankan 8:32 kewajibannya sebagai seorang suami? 8:37 Apakah dia tidak menjalankan 8:38 kewajibannya? 8:40 Kalau dia sudah menjalankan kewajibannya 8:43 kepada istrinya 8:47 baik sebagai seorang suami atau sebagai 8:49 seorang ayah pada anak-anaknya. 8:54 Dan dia tidak melalaikan kewajiban dia 8:55 kepada Allah Subhanahu wa taala. 8:59 Dia penuh dengan tanggung jawab. 9:02 Kalau ada kesalahan 9:04 siapa manusia yang tidak pernah berbuat 9:06 salah? 9:08 Nabi Allah Yunus saja meninggalkan 9:10 kaumnya 9:12 tanpa seizin Allah hingga membuat 9:14 dirinya akhirnya 9:16 terlontar ke lautan dan ditelan 9:19 oleh seekor ikan. Kalau bukan karena 9:23 tasbihnya 9:24 permohonan ampunnya dia akan menetap 9:26 dalam perut ikan sampai hari kebangkitan 9:28 sebagaimana yang Allah katakan. 9:31 Falau la annahu kana minal musabbihin la 9:34 labisa fi batnihi ila yaumi yub'atsun. 9:37 Tapi dengan penyesalan dia, dengan 9:39 istigfar dia, Allah selamatkan dia. 9:43 Manusia tidak akan mungkin luput dari 9:45 kesalahan, siapapun juga. 9:47 Pria ataupun wanita, baik sebagai 9:49 seorang suami, seorang ayah. 9:53 Baik sebagai seorang istri, seorang ibu, 9:56 manusia tak akan pernah luput dari 9:58 kesalahan. 9:59 Nah, di saat 10:02 satu pasangan hidup bersama-sama. 10:06 Kalau masing-masing hanya melihat 10:08 kekurangan, kesalahan pihak lain. 10:10 Maka yang akan muncul kebencian. 10:13 Rasa tidak puas. 10:15 Oleh karena itu 10:17 jangan sekali-kali kita fokus pada 10:19 hal-hal yang buruk. Allah jadikan pria 10:22 itu sebagai penutup. Sebagai pakaian 10:25 bagi istrinya dan wanita juga sebagai 10:28 pakaian bagi suaminya. 10:30 Jadi hendaknya 10:32 pria ini selalu berusaha untuk 10:34 memunculkan kebaikan istrinya. 10:37 Mengingat kelebihannya, keutamaannya 10:39 hingga bisa memaklumi kekurangan 10:41 dirinya. 10:43 Demikian pula seorang wanita juga harus 10:45 pandai-pandai melihat kelebihan 10:46 suaminya. 10:49 Melihat juga keutamaannya, kebaikannya 10:51 selama ini. Kalau sekarang umpamanya 10:53 kurang, lihat sebelumnya. 10:55 Kalau sekarang dalam keadaan kurang 10:57 karena kondisi tertentu, insya Allah ada 10:59 harapan di masa akan datang. 11:02 Keadaan akan berubah lebih baik. 11:04 Tadinya dia bekerja dengan baik, datang 11:07 masa-masa sulit, di-PHK dari 11:09 pekerjaannya. 11:11 Jangan dia lihat suaminya yang sekarang 11:13 tidak berdaya untuk memberikan nafkah 11:15 sebagaimana keadaan sebelumnya. 11:18 Seorang wanita yang mulia, dia akan 11:20 ingat kebaikan suaminya. Jangan kondisi 11:23 keadaan di luar kemampuannya, bukan 11:25 dengan pilihannya 11:27 menjadi fokus perhatiannya, lalu mulai 11:29 memandang remeh suaminya. 11:32 Begitu pula seorang laki-laki 11:35 di saat dia menjumpai istrinya dalam 11:37 keadaan tidak berdaya, bisa saja sakit, 11:40 bisa saja cacat ya karena kecelakaan 11:44 jangan dia 11:46 melupakan kebaikan-kebaikan istrinya di 11:48 masa lampau. Kalau sekarang lemah, 11:51 sekarang telah tua 11:53 ingat bahwa dia menghabiskan 11:55 kecantikannya 11:56 keindahan tubuhnya bersama Anda melayani 12:00 Anda dengan penuh kesetiaan. 12:02 Jadi setiap orang 12:04 hendaknya selalu bisa melihat kebaikan 12:06 temannya. 12:08 Kalau seandainya tidak menemukan 12:10 kebaikan-kebaikan yang banyak paling 12:12 tidak dia melihat 12:13 karunia dan keutamaan Allah atas dirinya 12:16 hingga dia bersyukur kepada Allah 12:17 Subhanahu wa ta'ala. 12:21 Ada seorang wanita yang cantik jelita. 12:27 Sekian banyak pelamar datang melamar 12:29 dirinya. Tapi dia menolak. 12:34 Orang berpikir 12:35 bahwa wanita ini menginginkan pria yang 12:38 memiliki kesempurnaan dari ketampanan, 12:41 kecan- kegagahan ya. 12:43 Demikian pula kekayaan. 12:45 Tahu-tahu satu orang 12:48 yang biasa-biasa saja bahkan 12:50 tidak memiliki kelebihan dalam fisiknya 12:54 maupun kekayaan melamar dirinya. 12:56 Diterima. 12:58 Orang terkejut dan heboh. 13:03 Bahkan suaminya juga bertanya 13:06 "Kenapa kamu menolak sekian banyak pria 13:09 yang punya kelebihan, kamu terima saya?" 13:13 Dia mengatakan 13:14 "Saya ingin menjadi 13:16 apa? Menjadikan ini sebagai jalan saya 13:18 menuju rahmat Allah." 13:21 Allah Subhanahu wa ta'ala 13:23 mencoba saya ya dengan suami yang penuh 13:27 kekurangan. 13:28 Menguji saya. 13:30 Saya mohon agar Allah membantu saya 13:31 bersabar, melatih diri saya untuk 13:33 bersabar. 13:38 Dan saya harapkan kamu juga dengan 13:40 kelebihan yang Allah berikan kepada kamu 13:41 menikahi seorang wanita. 13:43 Yang diberikan kecantikan, kamu 13:45 bersyukur kepada Allah menjadi 13:46 orang-orang yang saleh. 13:49 Bagaimana wanita ini? Ya. 13:52 Dengan pertimbangan seperti ini dia bisa 13:54 mencintai suaminya, melayani suaminya. 13:57 Sedangkan suaminya dengan penuh rasa 14:00 syukur, dia memperlakukan istrinya 14:02 dengan mulia. 14:03 Oleh karena itu pria-pria yang mulia ini 14:05 sebetulnya memperlakukan orang lain 14:07 dengan sikap mulia. 14:09 Tanpa melihat bagaimana sikap orang lain 14:11 terhadap dirinya. 14:12 Tapi dia memuliakan orang lain. Untuk 14:15 betul-betul. 14:16 Mengungkapkan kemuliaan dirinya. 14:20 Karena kemuliaan dirinya bukan. 14:22 Dilihat dari perbuatan orang lain. 14:25 Perkataan orang, tapi dari apa yang 14:27 keluar dari mulutnya, dari sikap dan 14:29 perbuatannya. 14:31 Oleh karena itu kalau seandainya orang 14:33 berbuat mulia kepadanya, dia akan 14:35 membalasnya dengan lebih mulia lagi. 14:39 Kalau orang. 14:40 Berbuat keburukan, dia memberikan maaf 14:43 dengan penuh kelapangan dada. Dan dia 14:45 mengingat nikmat Allah atas dirinya 14:47 dengan kelebihan-kelebihan yang Allah 14:49 berikan. Dalam satu hadis Nabi. 14:52 Pernah bersabda. 14:55 Diriwayatkan dari Nabi Muhammad 14:56 Shallallahu Alaihi Wasallam. 14:59 La takunu imma. 15:03 Saya ingat, saya pertama kali 15:04 mendengarkan hadis ini ketika saya 15:06 sekolah di Al Azhar di tahun kedua. 15:10 Mungkin tahun 81 lah kurang lebih. 15:15 Guru. 15:16 Menjadikan ini sebagai kajian kita 15:18 semua. La takunu imma. 15:22 Jangan kalian jadi orang yang plin plan. 15:26 Tidak punya pendirian. 15:28 In ahsana nas ahsantum. 15:31 Kalau orang baik, kalian ikut baik. 15:34 Wa in asau asatum, orang bersikap buruk 15:37 kalian juga ikut seperti mereka. 15:41 Bal waqtidu anfusakum, tapi teguhkan 15:44 diri kalian in ahsana nas antuhsinu, 15:47 kalau orang berbuat baik kalian berbuat 15:49 yang lebih baik. Wa in asau fala 15:51 tazlimu, kalau mereka berbuat buruk 15:53 jangan kalian berbuat aniaya. 15:57 Artinya Allah 15:58 Nabi ya 16:00 mengingatkan kita semua untuk selalu 16:02 bersikap baik karena Allah menilai kita 16:05 dari sikap, dari tutur kata kita semua. 16:08 Maka suami yang baik yang memuliakan 16:10 istrinya 16:12 yang melihat kelebihan-kelebihannya 16:15 dan dia menutup mata dari kesalahannya, 16:17 berusaha mengarahkan istrinya menuju 16:18 kemuliaan. 16:20 Begitu pula seorang wanita yang mulia, 16:22 yang memuliakan suaminya. Dengan 16:24 memuliakan suaminya, dia memuliakan 16:26 dirinya. Dengan dia menjaga betul-betul 16:30 apa yang Allah wajibkan atas diri Allah 16:31 subhanahu wa taala menjaga dirinya. Fas 16:33 shalihat 16:35 qanitatun hafizatun lil ghaibi bima 16:38 hafizallah. Wanita-wanita yang shalih 16:40 ini wanita yang taat pada Allah. 16:43 Yang taat pada suaminya, yang menjaga 16:45 betul-betul apa? 16:47 Apa yang mesti dijaga dalam kehidupan 16:49 rumah tangganya, baik suaminya ada 16:50 maupun suami tidak ada. Bima hafizallah, 16:53 dengan pemeliharaan penjagaan Allah. 16:55 Begitu dia menjaga, Allah membantu 16:57 menjaga 16:59 memelihara dirinya. 17:01 Jadi hidup ini kalau kita hanya saling 17:03 menuntut maka yang terjadi buntutnya wal 17:06 iyazubillah adalah pertentangan, 17:08 perpecahan, kebencian dan permusuhan. 17:11 Tapi kalau masing-masing berusaha untuk 17:14 bersikap mulia pada pasangan dan 17:16 temannya, insyaallah kebencian 17:18 permusuhan akan hilang. 17:20 Kalau kita berhadapan dengan orang yang 17:22 kikir dengan sikap kikir, 17:24 maka tidak akan pernah terjadi 17:26 perubahan. Tapi kalau kita menyikapi 17:27 orang yang kikir dengan kebaikan dan 17:29 kemuliaan, mudah-mudahan dia tersentuh, 17:32 dia merubah dirinya. 17:34 Oleh karena itu, 17:35 bagi pria yang sedang mengalami cobaan 17:38 tadi dicurigai oleh istrinya, 17:41 kemudian sering dipersalahkan, 17:43 coba 17:44 dia banyak-banyak mendekatkan diri pada 17:46 Allah, 17:47 beristigfar kepadanya, mohon pada Allah 17:50 pertolongannya, 17:51 kemudian mengajak istrinya untuk 17:55 terbuka bersama dirinya. Coba tanya apa 17:57 alasan dia sebenarnya. 18:00 Apa alasannya 18:02 sampai dia bersikap seperti ini. 18:04 Cari betul-betul sumber persoalannya. 18:08 Mudah-mudahan dengan keterbukaan ini, 18:11 ya, 18:12 dia bisa memperbaiki yang salah. Mungkin 18:14 ada hal-hal yang tidak disukai istri 18:16 pada sikap perbuatan dia. 18:19 Kemudian istri juga harus betul-betul 18:21 bisa memperbaiki dirinya kalau dia ingin 18:23 betul-betul memperbaiki kehidupan rumah 18:26 tangganya. Karena Allah baru turun 18:27 tangan menolong seseorang kalau orang 18:30 tersebut apa? Ada minat melakukan 18:32 perbaikan. 18:34 Jadi kalau mereka in yurida islah 18:37 yuwafiqillah bainahuma. Kalau mereka 18:39 ingin melakukan perbaikan, Allah 18:41 memberikan taufik, memberikan dukungan. 18:43 Dan itu yang diinginkan Allah. 18:45 Tapi kalau tidak ada minat, tidak ada 18:47 sama sekali kesadaran untuk melakukan 18:50 perbaikan dan perubahan, 18:52 malah seolah-olah membiarkan keadaan ini 18:54 terus-menerus, 18:56 maka yang akan terjadi saya khawatirkan 18:58 rahmat Allah akan diangkat dari mereka. 19:02 Jadi jangan kita menempatkan diri kita 19:04 pada posisi 19:05 yang tidak sama sekali apa? 19:07 Menyenangkan, dalam posisi yang 19:09 merugikan kita. 19:11 Akhirnya yang terjadi dengan sendirinya 19:14 hal-hal yang buruk. Tapi kalau kita 19:16 selalu menempatkan diri kita dalam jalan 19:18 dan usaha yang benar, sambil kita berdoa 19:21 pada Allah Ta'ala, Allah Subhanahu Wa 19:23 Ta'ala akan membukakan pintu harapan 19:26 bagi kita semua. Jadi Bapak, di samping 19:29 beristighfar, berdoa kepada Allah, mohon 19:31 pertolongannya 19:33 coba ajak istri terbuka, apa kesalahan 19:35 saya? Kalau memang ada kesalahan, saya 19:37 siap untuk merubah diri saya. 19:40 Kalau seandainya kesalahan-kesalahan 19:41 yang lalu, saya mohon ampun kepada 19:44 Allah, saya juga berharap pengertian 19:46 kamu. Tidak ada seorang pun dari kita 19:48 yang tidak pernah berbuat salah. Coba 19:49 lihat hal-hal yang positif lihat yang 19:52 baik, kemudian berharap pada Allah. Ini 19:55 merupakan sikap seorang mukmin yang 19:56 tidak berputus asa dari rahmat Allah. 19:59 Selalu optimis. 20:01 Karena Allah mengatakan "wala ya'yasu 20:03 min rauhillahi illal qaumul kafirun". 20:06 Tidak ada orang yang putus asa dari 20:07 rahmat Allah kecuali orang-orang yang 20:09 kafir. 20:11 Jadi bagaimana sulitnya keadaan 20:13 tetap 20:15 betapapun sulitnya keadaan 20:17 rahmat Allah sebetulnya berada bersama 20:19 kita di sekeliling kita, tapi terkadang 20:21 kita menutup pintu. 20:24 Menutup pintu untuk menyambut datangnya 20:27 rahmat Allah dengan sikap, kesalahan dan 20:30 tindakan-tindakan yang tidak sama sekali 20:33 berjalan dalam kebenaran. 20:36 Nah, persoalan kedua laki-laki tadi 20:39 bisa diulang Ibu nih? 20:40 Mhm. 20:42 Ehm 20:44 tidak tenang perasaannya karena 20:46 eh istrinya itu selalu 20:49 sulit sekali untuk meluruskan dan 20:51 membenarkan kata-katanya. 20:53 Jadi ketika istrinya melakukan sesuatu 20:56 yang enggak bisa diterima, dia diam aja. 20:58 Padahal perasaannya 20:59 Iya. 20:59 sebetulnya tidak ingin diam saja. 21:01 Betul, memang 21:03 seringkali kita jumpai 21:05 seorang pria 21:08 tidak berdaya berhadapan dengan 21:10 tindakan-tindakan istrinya. Pertama dia 21:12 menegur, pertama dia memberikan 21:14 peringatan 21:15 tapi istrinya bukan hanya tidak menerima 21:18 bahkan menunjukkan sikap yang arogan. 21:21 Akhirnya membuat suami daripada ribut 21:23 mendingan dia mendiamkan. 21:26 Sebetulnya sikap seperti ini sikap yang 21:28 salah. 21:30 Karena akan muncul nanti wal iyazubillah 21:33 kesalahan yang berakumulasi. 21:35 Mmm. 21:36 Akhirnya apa? Menjadi bom waktu untuk 21:39 mereka. 21:42 Dari hari ke hari ya, mulai berkumpul 21:46 ya, kesalahan-kesalahan 21:48 akhirnya yang akan menjadi apa? Menjadi 21:51 deposit kebencian bagi mereka. 21:54 Alangkah baiknya 21:56 laki-laki dalam hal ini berusaha 21:58 betul-betul untuk melakukan 22:01 perbaikan. Kalau tidak bisa langsung 22:04 meminta kepada orang-orang 22:06 yang bagaimana? Yang bisa dipercaya 22:09 untuk memberikan nasehat pada istrinya. 22:11 Banyak orang tua istri atau pamannya. 22:15 Suami kalau bisa berbicara lebih terbuka 22:17 dan jangan pernah 22:20 kita bosan berdoa pada Allah. 22:23 Jangan pernah bosan berdoa kepada Allah 22:26 Allah Ta'ala. Karena doa ini luar biasa 22:28 betul-betul. 22:30 Saya temukan sebagai contoh kasus 22:32 seorang wanita 22:34 yang bermasalah bersama suaminya. 22:39 Wanita ini cantik. 22:40 Namanya pun amat indah. 22:43 Pria juga tampan. 22:45 Gagah. 22:46 Pengusaha yang berhasil. 22:50 Yang pria tampan, yang wanita cantik, 22:53 yang mereka hidup dalam suasana yang 22:54 cukup tahu-tahu si pria pernah tergoda 22:57 dengan seorang wanita. 22:58 Mmm. 23:00 Membuat 23:01 si istri terluka. 23:03 Akhirnya mulai saat itu, walaupun mereka 23:05 masih berumah tangga, 23:07 tapi sudah tidak bisa lagi menerima 23:09 suaminya. Hati wanita ini yang terluka 23:12 membuat setiap didekati oleh suaminya 23:14 dia menjauh. 23:15 Muncul rasa jijiknya, rasa marahnya 23:19 yang berakumulasi dalam hatinya, 23:21 akhirnya dia menolak suaminya. Tapi dia 23:23 masih cinta sama suaminya, tapi tidak 23:25 mau didekati suami. 23:28 Akhirnya setelah sekian lama, suami 23:30 istri datang ke hadapan saya 23:31 menceritakan kondisinya. 23:35 Saya bilang yang bisa melakukan 23:37 perbaikan, mengobati yang di hati kamu 23:41 hanya Allah. 23:43 Jadi cara yang terbaik, laki-laki yang 23:45 berbuat salah beristigfar. 23:47 Bangun di waktu malam, sujud mohon 23:50 kepada Allah untuk menghapuskan hal-hal 23:53 yang tidak baik di hati istrinya. 23:55 Kemudian membaca Alquran, 23:57 berselawat kepada Rasulnya, berdoa 24:00 kepada Allah. Insyaallah tidak lama apa 24:02 yang di hati istri kamu akan hilang. 24:04 Karena ini di luar kekuasaan kamu. 24:07 Dan kamu juga sebagai istri mohon 24:09 petunjuk kepada Allah, mohon juga 24:11 ampunannya, mohon rahmatnya agar Allah 24:14 subhanahu wa taala menjadikan rumah 24:16 tangga kalian setelah cobaan ini jadi 24:18 rumah tangga yang penuh dengan mawaddah, 24:20 rahmah. 24:22 Karena ini semuanya merugikan kalian 24:23 berdua. 24:25 Istri tidak mau berpisah dari suaminya, 24:27 suami masih cinta pada istrinya, cuma 24:30 mereka tidak bisa berhubungan secara 24:31 wajar. 24:32 Akhirnya suaminya mulai saat itu dia 24:34 bangun malam, dia berdoa, dia 24:35 beristigfar, mohon kepada Allah 24:38 bahkan pada saat sujudnya agar 24:40 menghilangkan di hati istrinya hal-hal 24:42 yang tidak baik akibat dari 24:44 perbuatannya. 24:45 Subhanallah, tidak sampai seminggu 24:48 Allah kasih terjadi perubahan pada 24:50 istrinya. 24:52 Yang tadinya penuh kemarahan, kejenuhan, 24:56 bahkan tiap didekati dia merasa apa 24:58 namanya 24:59 seperti kayak ada trauma begitu, 25:01 langsung semua itu hilang. 25:04 Oleh karena itu kita harus tahu yang 25:06 kuasa untuk meletakkan mawaddah, rahmah, 25:10 membuat jiwa ini penuh rasa sakinah 25:12 hanya Allah. 25:13 Tidak bisa dibeli di mall. 25:15 Bahkan Anda pergi ke Singapura, ke 25:17 Hongkong, ke Eropa Anda tidak akan mampu 25:19 untuk membeli rasa mawaddah dan rahmah. 25:21 Maka Allah mengatakan dalam Alquran 25:24 Wamin ayatihi ankholaqolakum min 25:26 anfusikum azwajan litaskunu ilaiha 25:29 waja'ala bainakum mawaddatan warahmah. 25:35 Dari ayat-ayat kebesarannya, Allah 25:37 menciptakan dari diri kalian, dari 25:39 asal-usul yang sama. 25:42 Bukan dari makhluk asing. Tapi dari diri 25:44 kalian pasangan kalian. 25:47 Agar menjadi apa? 25:49 Agar menjadi betul-betul apa? 25:52 Jalan untuk menyatukan 25:54 dua buah hati yang berasal apa? Dari 25:57 asal-usul yang sama. Oleh karena itu 25:59 laki-laki merupakan belahan jiwa 26:01 istrinya, istri juga merupakan belahan 26:03 jiwa dari suaminya. 26:05 An-nisa syakoiqurrijal. Rasulullah 26:08 mengatakan wanita ini belahan jiwa dari 26:10 apa? 26:11 Dari suaminya. 26:13 Waja'ala bainakum mawaddatan warahmah. 26:17 Dan Allah menjadikan di antara kalian 26:19 rasa mawaddah dan rahmah. Mawaddah 26:22 kecintaan, kedekatan. Tapi tidak cukup. 26:25 Allah tambahkan dengan rahmatnya. 26:27 Walaupun sudah tua 26:29 renta 26:31 ternyata mereka duduk bersama-sama di 26:32 hari tua dengan penuh kehangatan, 26:35 kerinduan. Satu baru pergi sebentar, 26:38 yang satu kepalanya ke sana kemari 26:39 mencari pasangan. 26:42 Rahmat ini luar biasa indahnya yang 26:44 mendorong laki-laki tidak berhitung 26:46 untuk selalu mengayomi istrinya, memberi 26:50 bahkan juga melayani istrinya tanpa ada 26:52 paksaan. 26:53 Orang mengatakan 26:55 pria ini tunduk pada istrinya, padahal 26:57 bukan karena tunduk. Karena rasa rahmat. 26:59 Begitu juga istrinya dengan penuh 27:01 kecintaan melayani suaminya, merawatnya 27:04 pada sakit dengan penuh kesabaran. 27:07 Ini merupakan hal yang tidak mungkin 27:09 tanpa rahmat dari Allah. Jadi 27:12 bagi kedua pria tadi yang bertanya 27:15 demikian pula wanita ini sebetulnya 27:17 satu-satunya jalan. 27:20 Kalau berhubungan dengan hati dan jiwa 27:22 kita, coba mohon pada Allah. Kalau ada 27:25 kesalahan kita beristigfar. 27:28 Kemudian baca ayat-ayat suci Alquran 27:30 yang akan memberikan teduh jiwa kita 27:32 karena Allah mengatakan dalam Alquran wa 27:34 nunazzilu minal Quran ma huwa syifaun wa 27:36 rahmatun. 27:38 Dan kami turunkan dari Alquran yang 27:39 merupakan syifa dan rahmat. Orang yang 27:42 tadinya gundah, resah, gelisah, panik 27:45 selesai membaca Alquran hatinya damai 27:48 luar biasa. 27:50 Nah, kalau jiwa-jiwa rumah-rumah tidak 27:52 terisikan ayat-ayat Allah, tidak 27:55 terisikan juga tasbih tahmid dengan 27:58 khusyuk walaupun kita mempelajari ilmu 28:01 agama sebanyak-banyaknya 28:03 akhirnya pelajaran agama hanya menjadi 28:05 wacana, perdebatan, pertentangan, 28:07 perselisihan merebutkan hal-hal yang 28:10 sama sekali tidak berarti akhirnya 28:12 membuat hati kita menjadi gersang. 28:15 Hati kita wal iyadzubillah menjadi 28:17 tandus karena tidak sama sekali disentuh 28:20 dan disirami dengan ayat-ayat Allah dan 28:23 kekhusyukan dalam berzikir, bertasbih 28:26 kepada Allah subhanahu wa taala. 28:28 Jadi 28:29 kepada keduanya dalam hal ini 28:32 hendaknya 28:33 suami maupun istri 28:35 dalam keadaan terbuka. Kalau mereka 28:38 ingin memperbaiki rumah tangga mereka. 28:40 Pria betul-betul selalu mengoreksi 28:42 dirinya. 28:44 Kalau seandainya istrinya melakukan 28:45 berbagai macam tindakan pembangkangan, 28:47 coba tanya, di mana letak kesalahan 28:49 saya? 28:50 Kalau tidak ada kesalahan, berarti 28:52 kesalahan ada pada istri. 28:54 Nah, di sini berusahalah istri 28:56 memperbaiki dirinya dan suami membantu 28:58 dengan sikap yang baik, lemah lembut, 29:01 sambil berdoa kepada Allah Subhanahu wa 29:03 taala. 29:04 Jadi, apa yang mampu kita lakukan, kita 29:06 usahakan, yang tidak kita mampu lakukan, 29:08 kita mohon pada Allah Subhanahu wa 29:10 taala. Kalau Allah kehendaki sesuatu, 29:13 idza arroda syai'an. 29:15 An yaqula lahu kun fayakun, tapi jangan 29:18 pernah kita memuja diri kita. 29:21 Jangan pernah menyombongkan diri, karena 29:23 begitu kita memuja diri kita, kita hanya 29:25 akan melihat diri kita sempurna, 29:27 sedangkan orang lain dalam keadaan 29:29 kurang. Ini yang akan membuat penilaian 29:31 kita terhadap orang lain tidak objektif, 29:34 tapi penuh dengan apa? Subjektivitas. 29:37 Karena selalu 29:39 kita menganggap orang lain kurang. 29:41 Kita selalu telah melayani, telah 29:43 menjalankan kewajiban, telah melakukan 29:45 perbuatan-perbuatan mulia, 29:47 dan kita tidak melihat kelebihan dan 29:48 keutamaan yang ada pada orang lain, wal 29:51 iyadzubillah. Wallahu a'lam. 29:54 Wow, mampukah kita mengakui rasa 29:57 bersalah kita? Itu yang mungkin harus 29:59 kita simak, apa yang akan dikatakan 30:01 Ustaz Abu Bakar. 30:03 Gimana, Mas Krisna? 30:04 Kenal Ustaz Abu Bakar? 30:05 Masya Allah. 30:07 Bismillahirrahmanirrahim. 30:09 Assalamualaikum warahmatullahi 30:11 wabarakatuh. 30:11 Waalaikumsalam warahmatullahi 30:13 wabarakatuh. 30:14 Begitu indahnya ayat-ayat Allah yang 30:16 bisa menyentuh hati manusia. 30:20 Ayat-ayat Allah ini selalu beredar di 30:23 dalam kehidupan kita dan dia akan 30:26 menyentuh hati manusia. 30:29 Hati manusia yang lembut, dia akan 30:32 mendengarkan, melihat, memperhatikan 30:36 ayat-ayat Allah ini dengan hati yang 30:39 lapang. 30:40 Namun, ada hati-hati yang 30:43 apa itu yang namanya tertutup atau yang 30:45 namanya keras 30:47 dan dia belum mampu menerima ayat-ayat 30:51 Allah. 30:53 Seperti inikah kehidupan 30:56 yang berjalan dalam diri kita? 30:59 Mana yang tersentuh dan mana yang belum 31:02 mampu menyentuhnya? Oleh karena itu 31:05 perasaan, jiwa kita 31:09 apa yang dinamakan dengan perasaan atau 31:11 kalau di psikologi dikatakan afeksi 31:15 bagaimana rasa itu penuh dengan berbagai 31:17 macam warna 31:19 ada rasa senang, ada rasa bahagia, ada 31:22 merasa kesal, ada merasa tidak suka, itu 31:26 yang biasa disebut dengan afeksi. 31:29 Perasaan inilah yang terlalu bermain 31:32 dengan kehidupan kita. 31:35 Jadi apapun yang di dalam kita selalu 31:38 Allah Allah berikan dua jalan itu. 31:41 Ya kalau mungkin di 31:44 fujuraha wa taqwaha, jadi ada jalan yang 31:48 menenangkan, ada jalan yang 31:51 bikin gelisah. 31:53 Di mana afeksi inilah yang membuat hati 31:57 kita tidak menentu. 31:59 Nah 32:00 apa yang membuat seseorang tidak mampu 32:02 merasakan 32:04 atau melihat selalu salah 32:07 melihat suaminya kok melihatnya salah 32:09 dan si suami itu menerima rasa kesalahan 32:13 dari seorang istri maupun sebaliknya. 32:16 Apa yang membuat 32:18 perasaan kita tidak mampu menyayangi? 32:22 Jadi apa yang membuat? Kalau kita 32:24 melihat bahwa afeksi inilah yang terjadi 32:28 dalam kehidupan kita maka Allah berikan 32:31 itu dua posisi dalam kehidupan kita, ada 32:34 yang benar, ada yang salah. 32:38 Ada yang menerima dengan baik, ada yang 32:40 tidak mampu menerima. Nah, apa yang 32:43 membuat semua tersebut adalah proses. 32:47 Kehidupan kita ini adalah proses. 32:49 Perjalanan kita ini adalah suatu proses. 32:52 Di mana kalau kita terus-menerus 32:55 mendapatkan, 32:57 menerima sesuatu yang tidak 33:00 menyenangkan, maka yang timbul dalam 33:02 pikiran kita selalu yang tidak 33:04 menyenangkan. Dan kita akan mencari yang 33:07 tidak menyenangkan. 33:10 Kalau kita lihat, 33:11 misalkan seorang istri yang sudah 33:14 terbiasa dia selalu salah, enggak benar, 33:18 selalu dipersalahkan, 33:21 selalu dipertanyakan, 33:23 maka ketika dia menikah, 33:26 maka ngelihat suaminya, 33:28 karena dia takut salah, maka dia lihat 33:31 kesalahan daripada suaminya. Inilah 33:34 proses 33:35 di mana dia sering mendapatkannya, 33:39 sering menerimanya, 33:42 dan sering mengelola bahwa kesalahan itu 33:45 adalah bagian dari dirinya. Ketika dia 33:48 sudah menyatakan bahwa dia adalah 33:51 seorang yang salah, salah, maka dia akan 33:54 mencari kesalahan daripada orang yang 33:56 berinteraksi dengan dirinya. 33:59 Orang-orang yang berinteraksi dengan 34:01 dirinya, maka dia akan cari yang salah, 34:03 bukan yang benar. Karena pikirannya dia, 34:06 proses dirinya dia selalu salah. 34:09 Perasaan tidak sayang, tidak bisa 34:11 memunculkan rasa sayang ini karena dia 34:15 kekurangan, terhambat rasa sayangnya 34:18 adalah terhambat. 34:20 Proses dirinya untuk bisa sayang itu 34:23 terhambat. Karena dia tidak pernah 34:25 dielus, enggak pernah disenyumkan, 34:28 enggak pernah dikatakan kamu benar. 34:32 Saya teringat 34:34 ee mungkin ada salah satu tulisan saya. 34:39 Usahakan kita tidak memberikan salah, 34:43 tapi membenarkan. 34:46 Kata salah atau mempermasalahkan 34:49 tidak perlu. Jadi ketika seseorang 34:52 mungkin anak, istri, ketika salah 34:56 sampaikan yang benar, yang salah tidak 34:58 perlu dibahas. 35:01 Kalau kita selalu yang kita bahas adalah 35:03 kesalahan, maka pikiran kita akan selalu 35:06 mencari yang salah. 35:09 Maka kita bisa perhatikan mengapa 35:12 konflik terjadi karena yang dibahas 35:16 adalah kesalahan, yang dicari adalah 35:18 kesalahan. 35:20 Yang diperhatikan adalah yang salah 35:22 untuk bagaimana pembahasan ini bertambah 35:26 meningkat. 35:27 Tapi kalau kita mana yang baik kita 35:29 harus lakukan. 35:31 Apa yang bisa kita lakukan untuk 35:33 kebaikan. Nah, kalau ini yang terpikir 35:36 oleh kita, maka insyaallah hati kita 35:39 tenang, yang mendengarkan pun akan 35:41 tenang. 35:42 Yang mau mendengarkan pun akan tenang. 35:45 Tapi yang kalau kita selalu 35:47 memperhatikan yang salah, melihat yang 35:49 salah, maka 35:52 hati kita ini, emosional kita ini 35:54 meningkat. 35:57 Pikiran kita selalu meningkat dengan 35:59 proses-proses untuk melihat yang salah. 36:03 Nah, 36:03 bagaimana seorang istri 36:06 melatih dirinya. Kalau kata-kata 36:11 bicaranya 36:13 selalu yang benar, 36:15 pasti hatinya akan melihat, merasakan 36:19 yang benar. 36:20 Maka ucapkan. 36:23 Ucapkan. Ketika suami datang, ucapkan 36:26 meskipun terlambat. 36:29 Subhanallah, senangnya kamu datang. 36:32 Anaknya pulang sekolah, dia datang 36:35 katakan, "Ya Allah, kerinduan ini hilang 36:38 karena kedatangan kamu." Masya Allah. 36:43 Jadi, bukan "Ya Allah, kelamaan banget 36:45 datangnya." 36:47 Kalau kita mampu melepaskan 36:50 kata-kata rasa sayang tersebut, maka 36:54 kita akan mendapatkan rasa sayang. Kita 36:56 kesal sama anak kita karena kita 36:58 menjatuhkan sesuatu barang. 37:01 Subhanallah, 37:03 ternyata kamu sedang merapikan 37:07 benda-benda yang berserakan, walaupun 37:09 dia tidak melakukannya. 37:11 Mudahkah melakukan itu? 37:13 Nah, 37:15 bagaimana perasaan kita? 37:17 Kalau perasaan kita ingin selalu benar, 37:19 kita ingin melihat seseorang itu benar, 37:22 maka kita tunjukkan yang benar. 37:25 Kita ingin memperbaiki seseorang, maka 37:27 tunjukkan yang benar. Perbaikan apa yang 37:30 harus dia lakukan, itu penting. 37:34 Jadi, bagaimana kita merasa bersalah? 37:37 Karena kita sendiri senang dengan 37:38 kesalahan. 37:40 Oleh karena itu, apakah itu si istri 37:43 yang selalu melihat kesalahannya dari 37:45 suami? 37:46 Ya, sang suami selalu menunjukkan yang 37:48 benar. Ketika disalahkan, "Loh, tadi aku 37:51 kemarin memberikan kamu A yang baik." 37:55 Jadi, ingatkan seperti saya katakan, 37:57 ingatkan. Eh, eh, terkesan sekali dengan 38:00 kata-kata yang ayat Allah fazakkir. 38:03 Jangan memaksakan pikiran kita, dia 38:05 harus mengikuti kita. Tapi, bagaimana 38:08 kita mengingatkan? Dia tidak mau ikut, 38:11 itu urusannya dia, bukan urusan kita. 38:14 Kalau dia tidak ingin bertobat pula, dia 38:17 tidak ingin merasakan, yang tersiksa itu 38:20 orang yang tidak ingin mendapatkan 38:22 kebaikan. 38:23 Tapi diri kita pertama terus berbuat 38:27 yang baik. 38:28 Walaupun disalahkan tapi kita selalu 38:30 meyakinkan diri kita yang baik, insya 38:33 Allah perasaan kita tidak akan pernah 38:36 susah. 38:39 Perasaan kita tidak akan pernah susah. 38:41 Oleh karena itu jadikan diri kita 38:43 seorang yang baik, berpikir yang baik, 38:46 berkata yang baik, rasa ini akan 38:48 mengikuti. 38:49 Oh, wow. 38:51 Jadi 38:52 perasaan kita ini adalah diri kita yang 38:55 kita bisa menentukan, bukan kita 38:58 ditentukan oleh perasaan yang 38:59 information negatif terus masuk. 39:03 Kalau kita sudah terbiasa 39:06 eh saya teringat karena kita membiasakan 39:09 kesalahan tiap salah kita langsung 39:11 membicarakan pada anak-anak kita, "Tadi 39:14 kamu itu naruhnya salah. Coba kalau kamu 39:17 taruh seperti itu, itu akan membuat 39:19 susah orang. Mencari nya kesusahan. Ibu 39:22 mencari sesuatu itu susah." 39:25 Maka si anak itu susah, susah, susah. 39:28 Yang didengar adalah yang susah. 39:30 Kalau dia selalu mendengar yang susah 39:34 apa yang terjadi dalam pikiran dia? 39:37 Susah, susah, susah. 39:39 Maka dia akan lakukan 39:41 yang susah-susah, bikin susah orang. 39:44 Oleh karena itulah terjadinya persoalan 39:46 ini, penuhnya informasi-informasi yang 39:49 selalu kita menyalahkan 39:52 dari anak kita. Saya melihat dari sekian 39:55 banyak yang saya hadapi, masya Allah, 39:58 ya, dasarnya pada umumnya eh mendapatkan 40:02 informasi-informasi yang salah. 40:04 Kesalahan itu selalu menjadi 40:08 dimarahin, disalah, dipertanyakan. Jadi 40:11 ada tiga poin yang ter dari sekian 40:14 banyak yang saya hadapi, tiga poin. Apa 40:16 itu tiga poin? Karena seorang anak 40:18 selalu dimarahin, selalu disalahkan, 40:21 selalu dipertanyakan, 40:23 maka pikirannya dia tidak menentu, tidak 40:26 tahu. 40:27 Nah, oleh karena itu, usahakan kita 40:30 tidak perlu marah, tidak perlu 40:32 menyalahkan, dan tidak perlu 40:33 mempertanyakan. 40:35 Tapi kita tunjukkan, berikan 40:37 pernyataan-pernyataan yang menyenangkan, 40:39 maka dia akan bahagia. 40:43 Kalau kita bisa memberikan pernyataan, 40:46 misalnya ada seorang anak 40:49 pakai bajunya 40:50 eh pakai kancingnya salah. 40:53 Ya, ada yang terbalik kayak gitu. 40:55 Ya Allah, coba lihat, kamu keren enggak 40:57 sekarang? 40:58 Coba lihat, lihat, baju kamu rapikan. 41:00 Eh, salah. 41:02 Sudah, biarkan dia berpikir bahwa dia sa 41:05 lah. Jangan, "Tuh lihat, cara memakai 41:08 kancing kamu saja terbalik-balik." 41:10 Misalnya. Nah, itu menyalahkan. Tapi 41:12 kalau lihat, "Kamu sekarang keren, coba 41:14 rapikan baju kamu." Begitu dia merapikan 41:16 bajunya, terlihat ada sesuatu 41:18 keganjilan, dia berpikir. 41:21 Berikan kesempatan orang untuk bisa 41:23 berpikir, bukan kita yang mikirin. 41:27 "Tuh lihat, kamu salah, salatnya salah, 41:30 tuh tangannya jangan terlalu ke atas." 41:36 Saya ingat salat. Saya ingat salat. 41:39 Waktu masih 10 tahunan gitu. 41:42 Eh, saya salat eh biasa di masjid karena 41:45 jadi ada di masjid tuh kan. 41:47 Terus saya ke masjid, tiba-tiba 41:49 ada satu, saya masih ingat orangnya juga 41:51 masih ingat, Allah yarham. 41:53 Ya. 41:55 Dia melihat saya salat, ya, dia saya 41:57 melihat salat, tangannya ke belakang ke 42:00 ba ini, semuanya itu tangannya terus ke 42:02 sana. 42:03 Enggak dibilang gini, "Tidak boleh kayak 42:05 gitu." Enggak begitu. 42:07 Dipanggil, dikumpulin semua berapa 42:09 anak-anak di situ dipanggil, dia 42:10 mengatakan, "Coba lihat, mau melihat Mi 42:14 Abdullah 42:16 sujud, coba lihat, enaknya bukan main. 42:18 Coba kamu perhatikan. Dia sujud dengan 42:21 baik, tangannya diangkat begini." Ya. 42:24 Terus dia bilang, "Nah, ini sujudnya 42:27 enak. Coba siapa yang mau mencoba?" 42:29 Semua mencoba mempraktekkan seperti itu. 42:32 Saya langsung berpikir, "Subhanallah." 42:35 Ternyata setelah saya belajar, saya 42:38 mempelajarinya, 42:40 proses mendidik, proses kalimat-kalimat 42:42 itu masuk sampai saat ini dan sampai 42:45 terekam. 42:47 Tidak disalahkan. 42:50 Kalau misalnya disalahkan, ya, misalnya 42:53 kita disalahkan seperti ini. 42:54 "Eh, kamu jangan nunjukin jangan begitu. 42:57 Kamu harus begini, kamu harus nunjukin 42:58 harus seperti ini. Jangan terlalu lama, 43:00 harusnya diinikan, harus digini." 43:03 Dia kesal. 43:05 Yang benar akhirnya dia tidak mau 43:07 melakukannya. 43:10 Nah, oleh karena itu, sampaikan 43:12 kalimat-kalimat yang benar. 43:14 Biarkan dia berpikir bahwa ada kesalahan 43:17 yang dia tidak akan ikuti. 43:19 Biarkan seorang berpikir, anak, suami, 43:24 istri, biarkan berpikir. Namun ketika 43:26 dia salah secara syar'i, tunjukkan yang 43:30 benar. Kalau dia tidak mau, tegaskan. 43:35 Kalau secara 43:36 Allah atas syar'i, kita harus tegaskan. 43:39 Nah, kembali kepada persoalan yang tadi 43:40 saya lihat merangkum bahwa perasaan itu 43:43 bagaimana kita sendirilah yang mencoba 43:45 untuk bisa berbuat yang baik, baik, baik 43:48 kepada siapapun. Kalau kita disalahkan, 43:51 katakan pikiran kita dan perasaan kita, 43:54 "Saya yang benar." 43:56 "Saya tidak salah. Tapi kalau 43:58 emang-emang itu salah, oke, saya tidak 44:01 akan lakukan lagi. Kita akan lakukan 44:03 yang baik, insya Allah. Jangan 44:05 perhatikan informasi yang salah. 44:08 Jangan dengarkan informasi yang salah, 44:10 tapi perhatikan yang benar dan yakinkan 44:12 yang benar itu adalah di dalam diri 44:14 kita. Insya Allah semuanya akan menjadi 44:16 kebaikan buat hidup kita. Terima kasih. 44:19 Subhanallah. 44:20 Masya Allah. Jadi, ikhwan akhwat waktu 44:23 sudah mepet, sekali lagi eh terima kasih 44:26 sekali untuk yang sudah mengapresiasi 44:28 acara Psikologi Keluarga pagi dari Rasel 44:32 untuk Islam yang satu. Ada Ibu Olan di 44:34 Depok, ada Ibu Darma di Bekasi, Ibu 44:37 Lisa, eh Ibu Emilda, dan yang tidak 44:40 menyebutkan nama cukup banyak. Jadi, 44:42 hanya eh hamba Allah. Sekali lagi terima 44:44 kasih. 44:45 Jadi 44:47 kalau memang seperti yang kita dengar, 44:49 menegur dengan elok, kemudian mengakui 44:52 kesalahan, itu adalah dua hal yang akan 44:55 memunculkan keharmonisan ya, Mas Krisna. 44:57 Sanggupkah kita melakukannya? Insya 44:59 Allah. Dan Ustaz Ustaz Abu Bakar, Ustaz 45:02 Husein, banyak sekali yang berterima 45:04 kasih untuk acara kita dengan catatan di 45:06 bawahnya, ditambahin dong waktunya. 45:11 Oke. 45:12 Baik, terima kasih, Mbak Nuning. 45:15 Eh kita akan jumpa lagi eh dalam acara 45:17 Psikologi Keluarga pada kami eh hari 45:19 Rabu depan ya. Terima kasih Ustaz 45:21 Husein, Ustaz Abu Bakar 45:23 berada 45:24 dan kami di sini ada juga Ustaz Junaedi 45:27 di sini 45:28 Kang Atep dan Fahri mohon pamit. 45:29 Wabillahi taufik wal hidayah. 45:30 Assalamualaikum warahmatullahi 45:31 wabarakatuh.