Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Ashadu alla
- ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabiyana muhammadin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Qallahu
- taala fil quranil karim.
- Azubillahiminasyaitanirjim.
- inaka antalimul
- waq inallaha waaikatahu yusuna alan nabi
- ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
- wasallimu taslim sadaqallahulim
- alhamdulillahiabbil alamin masih
- dipancarkan dari jalan masjid
- silaturahim nomor 36 Cibubur Bekasi
- inilah radio silaturahim dan rasil TV
- untuk Islam yang satu ikhwan Akhwat yang
- dimuliakan Allah subhanahu wa taala.
- Bagaimana kabar Anda di Jumat sore ini?
- Semoga selalu dalam keadaan sehat
- walafiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridanul Haq ditemani oleh Neza dan juga
- Yusuf Subangkit dapat kembali menemani
- ikhwan akhwat dalam program tausiah sore
- edisi Jumat 12 Rabiul Awal 1447
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 5 September 2025 bersama guru
- kita almukaram Ustaz Ahmad Saleh MA.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita.
- Oleh karena itu, maka kita sapa guru
- kita terlebih dahulu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Bagaimana kabarnya, Ustaz?
- Alhamdulillah sihat walafiat atas doa
- dari semuanya. Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Masyaallah. Baik, Ikhwan
- Awat Ustaz Ahmad Saleh dalam keadaan
- sehat walafiat dan semoga kesehatan juga
- dirasakan oleh ikhwan akhwat di mana pun
- Anda berada. Kami doakan selalu dalam
- keadaan sehat walafiat. Semoga kajiannya
- dapat menemani ikhwan akhwat di Jumat
- sore di hari yang baik, di momen yang
- baik, momen kelahiran Nabi di tanggal 12
- Rabiul Awal adalah kelahiran Nabi.
- Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat,
- semoga menjadi pahala yang besar dan
- banyak yang akan diterima oleh Allah
- subhanahu wa taala.
- Baik, Ikhwan. Selamat. Insyaallah Ustaz
- Ahmad Saleh pada sore ini akan membahas
- tentang
- ee kitab
- larangan.
- Kitab larangan bab haram menggunjing dan
- perintah untuk menjaga lidah.
- N [berdehem]
- baik ikhwanat. Bagi Anda yang ingin
- berpartisipasi dalam kajian ini dapat
- mengirimkan di nomor WhatsApp
- 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Baik, Masri kita dengarkan ilmu yang
- akan disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- tentang haram menggunjing dan perintah
- untuk menjaga lidah. Tafadol ustaz
- naam. Alhamdulillahi
- hamdan katsiran thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna wa yard. Ashadu alla
- ilahaillallah wahdahu la syarikalah
- wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluhu wa innahu la nabiya ba'da.
- Allahumma sholli ala Muhammadin wa
- [berdehem] ala alihi wa ashabihi waman
- tabiahum biihsanin ila yaumil qiamah.
- Amma ba'd. Ikhwan dan akhwat pendengar
- radio silaturahim serta pemirsa Rasil
- Visual di mana pun berada. Alhamdulillah
- pada suasana yang begitu bahagia,
- suasana ee saat dilahirkannya
- baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam
- ya ini 12 Rabiul Aal. Menarik
- sesungguhnya untuk kita pelajari dan
- kita pahami.
- Jadi maksud daripada memperingati atau
- mengingat kelahiran itu bisa jadi
- asalnya mengingat tanggalnya.
- Oh, tanggal 12 Rabiul Aal gitu. Namun
- kemudian orang yang berpikir akan
- meningkatkan bukan mengingat tanggal dan
- harinya tapi mengingat perjuangan
- [berdehem] Nabi Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam atau mengingat diutusnya
- mengingat kelahiran seorang nabi yang
- akan apa nam merubah dunia minadzulumati
- ilan nur
- bukan berarti mengingat tangganya
- memperingati kelahiran nabi itu. Tapi
- kemudian dikembangkan lagi mengingat
- akhlak-akhlaknya.
- Karena siapa yang mengingat akhlak
- akhlak baginda kemudian mengikutinya
- dijamin dia masuk surga.
- Amin.
- L. Kenapa lah? Karena Nabi itu
- Al-Qur'an.
- Karena akhlakul Quran adalah Nabi itu
- akhlaknya Quran. Berarti akhlaknya
- diingat, diikuti.
- Berarti kita sama dengan mengamalkan
- Al-Qur'an.
- Laqana lakum fi rasulillahi uswatun.
- Maka
- menarik sekali orang yang
- memperingatinya dengan e dengan ee mohon
- maaf ya istilahnya memahami kulitnya
- saja jelas akan berbeda dengan orang
- yang memperingatinya dengan mendalam.
- Sebagaimana orang yang berselawat
- kelasnya kelas apa? kelas kelas ee ee
- kulit dengan orang yang memahami
- berselawatnya dengan kelas pemahaman
- kan orang yang kan biasa kita Allahumma
- shalli ala sayyidina Muhammadin wa ala
- ali sayyidina Muhammad khata al amr
- i
- tapi bagi orang yang mengenal Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam mengenal
- perjuangannya yang begitu dalam dia
- katakan Allahumma ya Allah sholli
- berilah selawat
- Sayidina Muhammad kepada pejuang dakwah
- kepada orang yang membawa kami
- minulumati
- dari kegelapan jahiliah kepada terangnya
- keimanan gitu loh. Betapa beratnya
- perjuang baginda.
- Sekiranya saya mungkin dulu hidup
- bersamanya gitu ya. Jadi akhirnya ee apa
- namanya? Saya ingin membelanya, saya
- ingin mengikuti perjuangannya.
- Tetapi saya ditakdirkan lahir pada zaman
- ini. Tapi saksikanlah ya Allah bahwa
- saya mencintainya.
- Bahwa saya ingin bersamanya, ingin
- menjadi tetangga di surgamu ya Allah.
- Tuh gitu. Jadi dia Allahumma sholli ala
- sayyidina Muhammadin itu satu kali
- ngucapkan selawat saja itu. Nah itu ya.
- Oke, jadi ini saya kira ee hendaknya
- kita
- memaknai
- ee peristiwa-peristiwa itu tenteran
- dengan upaya-upaya dengan ilmu-ilmu yang
- ada kita kemudian ee apa namanya?
- bersungguh-sungguh
- ee menggali dengan ilmu-ilmu itu,
- alat-alat yang kita miliki dengan
- harapan kita sampai kepada kedalamannya,
- kemudian sampai kepada penghayatannya,
- sampai kepada mengaplikasikan apa yang
- kita pahami dari arahan-arahan baginda
- Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nah,
- ini saya kira sebagai pengantar karena
- memang ee lagi-lagi jangan sampai kita
- memperingatinya hanya sekedar
- seremonial.
- Ah, dulu kan seremonial itu bahkan
- perdebatan-perdebatan tuh seremonial.
- Wah, itu bidah. Ya sudah, gak apa-apa.
- Memang bidah.
- Sekali lagi memang bidah. Kenapa? Karena
- Nabi tidak melakukannya. Kalau mau
- pengertiannya memperingati kelahiran
- Nabinya setahun sekali.
- Yang sunah itu memperingati kelahiran
- Nabi tiap pekan.
- Tuh, tiap pekan, tiap hari Senin
- diperingati. Diperingati. Nabi sendiri
- memperingati kelahirannya dengan siam,
- dengan saum.
- Kenapa engkau puasa hari Senin ya
- Rasulullah? Karena pada harinya lianna
- wulidu fih. Karena aku dilahirkan di
- hari Senin. Tuh kalau mau jadi sunya
- dasar dari peringatan itu ada dasarnya.
- Hanya bedanya kalau kita frekuensinya
- setahun sekali, kalau baginda Nabi
- sepekan sekali gitu loh. Nah, oke. Baik,
- ya. Jadi saya bilang, "Ya sudah, enggak
- usah ributlah. Kalau misalnya Anda itu
- bilang, "Ya sudah, enggak usah
- ngadakan."
- Biarkanlah yang mengadakan.
- Merefleksikan kecintaannya dengan upaya
- tadi. Jadi, susunya upaya
- kemudian ada tablig atau apalah namanya
- gitu ya. Kemudian makan-makan.
- memberi makan fakir miskin kan mohon
- maaf ada kalanya fakir miskin juga punya
- rasa malu
- kalau dipanggil diundang ngusun ngantri
- gitu kan nah maka diajak makan bersama
- atau paling tidak ketika si anak yatim
- itu datang dapat berkat
- kan tidak kentara tidak ketahuan bahwa
- dia hanya orang yang diperhatikan
- karena ramai-ramai maka seakan-akan
- semuanya punya hak makan kan. Nah, itu
- juga upaya menutupi aib. Bukan aib ya,
- menutupi kelemahan orang lain juga.
- Jadi, masyaallah. Oh, saya bilang I ini
- saya juga tentu belakangan saja
- memahaminya gitu ya. Nah, intinya adalah
- bagi yang menyatakan bahwa itu bidah ya
- sudah enggak usah ngadakan
- tapi biarkan hormati orang yang
- mengadakannya. Nah, kecuali kalau dalam
- acara-acara itu memang ada
- kemaksiatan-kemaksiatan,
- maka kemaksiatan itulah yang harus
- dicegahnya,
- gitu ya. Oke. Baik. Nah, kita masuk
- kepada kitab memamcing dan perintah
- menjaga lisan. Tayib. Ee Imam an-Nawawi
- ee memulai bab ini dengan mengutip
- beberapa ayat. Di antaranya surah
- Al-Hujurat ayat 12. Kemudian surah QF
- ayat 18.
- Di dalam surah Alhujurat ayat 12 itu
- menarik. Wag
- ba'dukum ba
- ayuhibbu ahadukum
- lahma akhianum
- baukum ba. Dan janganlah ada di antara
- kamu yang mengguncing sebagian yang
- lain.
- Ayyuhibbu ahadukum. Apakah salah seorang
- kalian suka ayakul lahma akhihi memakan
- daging saudaranya maitan yang telah
- mati? Jadi daging yang dimakannya itu
- daging yang mati maitan. Berarti bisa
- dimai sukakah kamu memakan daging
- saudaranya telah mati gitu loh ya.
- Fakarihtumu.
- Di dalam terjemah teral diterjemahkan
- tentu kalian merasa jiji kepadanya.
- Itu sebutnya karihtumuh itu bisa
- bermakna jiji karena as kari tumuh itu
- enggan,
- engg
- engan. Kari kariha fakarihtumu.
- Maka kalian sangat enggan. Maka bisa
- dimenai jiji. Kemudian merasa kotor,
- merasa najis, merasa a macam-macam.
- Pokoknya sudah jiji. Nah, intinya adalah
- merasa enggan. Tentu kamu merasa enggan
- memakan daging saudaramu yang telah
- mati. Nah, itu ilustrasi daripada apa
- namanya? Mengguncing
- gibah.
- Ya, gibah itu menurut Quran itu sama
- dengan apa? Memakan daging bangkai
- saudaranya itu saking saking apa
- namanya? Saking ee kotornya perbuatan
- itu ya, saking jijinya perbuatan itu
- gitu loh, gitu ya. Kemudian di dalam
- surah QF ayat 18, ma yalfidu minulin
- illa ladaiqibun atid
- ma yalfidu. Kalau terjemahnya tidak ada
- suatu kata yang diucapkannya melainkan
- ada di sisinya malaikat pengawas yang
- selalu siap mencatat. Ma yalfidu
- tidaklah ia melafazkan. Asalnya begitu.
- Yalfidu itu melafazkan.
- Ma yalfidu tidaklah ia melafazkan. Min
- qulin dari satu perkataan, dari satu
- ucapan. Illa kecuali ladaihi pada
- sisinya atau di sisinya raqibun atid.
- Malaikat yang siap mencatat. Maka
- raqibun atid sebagian memaknai. Raqib
- itu nama malaikat sama atid itu gitu loh
- ya. Nah, asalnya ya wallahuam. Tapi yang
- jelas Quran menyatakan bahwa kita
- ucapan-ucapan kita itu ada rekamannya,
- ada catatannya. Kalau dulu kalimatnya
- kan ee catat. Nah, kalau sekarang kan
- lebih ee lebih memungkinkan kecepatan
- mencatat dengan kecepatan merekam. Jadi,
- ada rekamannya. Nah, kan e tidak harus
- dicatat, diputar aja, rekam aja pakai
- kamera. Suaranya ada, kemudian apa?
- Visualnya ada.
- Jadi seperti itu ya. Dulu e apa namanya
- pemahamannya adalah mencatat
- gitu. Karena dulu ee baru sebatas
- merekam itu memaknainya dengan catatan.
- Belum ada ilustrasi bahwa ucapan-ucapan
- itu, gambar-gambar itu terekam. Nah,
- setelah kamera ditemukan, oh ternyata
- itu yang dimaksud gitu loh ya. Jadi ada
- dokumentasinya. Heeh.
- Nah, jadi oleh sebab itu berdasarkan
- pengantar yang dikemukakan oleh Imam
- an-Nawawi bahwa setiap mukalaf itu
- seyogyanya menjaga lisannya dari semua
- pembicaraan
- kecuali yang jelas maslahatnya. Jadi
- kalau jelas maslahatnya ucapkan. Kalau
- tidak jelas maslahatnya diam.
- Nah, jadi tidak jelas saja diam. Apalagi
- diketahui perkataannya itu e mengundang
- kemudaratan,
- maka itu hendaknya diam gitu ya. Ah, nah
- ini ee apa namanya? Pengantar yang
- dikemakakan oleh Imam an-Nawawi
- rahimahullah tabaraka wa taala. Amma
- ahadis.
- Amma alahadis
- kirah. Adapun hadis-hadisnya banyak.
- Alhaditul awal hadis yang pertama an Abi
- Hurairat radhiallahu anh an Nabi
- shallallahu alaihi wasallam q manana
- yumminu billahi wal yaumil akhir
- falyaqul khairon a liyasmut.
- Enya hadis ini panjang tapi karena
- pembahasannya tentang bab apa ucapan
- maka di ngambil potongan ini. Mangkana
- barang siapa yukminu billah beriman
- kepada Allah wal yaumil akhir dan hari
- akhir. Nah berarti ini ini seringki Nabi
- meringkas ya. Ada e asasul iman yang sit
- ya. Ada asasul iman yang enam itu
- seringki oleh Nabi diringkas jadi dua.
- Iman kepada Allah dan hari akhir gitu.
- Barang siapa yang iman kepada Allah dan
- hari akhir falyaqul khairon maka
- hendaknya ia berkata kohairon berkata
- baik.
- Aasmut atau diam atau diam. Jadi kalau
- tidak bisa berkata baik hendaknya diam
- tapi kalau bisa berkata baik hendaknya
- berkata baik. Jika diam itu adalah emas
- gitu ya. Jika diam itu ya diam diam itu
- emas ada ada istilah seperti itu. Maka
- berkata baik adalah berlian. Tuh gitu
- ya. Heeh.
- Nah hadis ini secara jelas menyatakan
- bahwanya orang yang beriman itu tidak
- berbicara kecuali pembicaraan itu baik.
- Yaitu yang tampak jelas maslahatnya.
- Ketika ia meragukan maslahatnya, maka
- hendaknya ia tidak berbicara. Kamu lakum
- gitu ya. Heeh. Nah, mutiara yang dapat
- kita lihat dari hadis ini di antara
- kesempurnaan iman seorang hamba kepada
- Allah adalah berbicara yang baik-baik
- atau menahan lisannya untuk tidak bicara
- sesuatu yang tidak bermanfaat. Jadi
- kalau imannya sempurna, senantiasa yang
- keluar dari lisannya adalah perkataan
- yang baik. Bahkan tidak pernah keluar
- dari mulutnya, dari lisannya perkataan
- yang tidak jelas. Jangankan kotor, tidak
- ada manfaatnya saja, tidak terucap. Ah,
- itu menunjukkan kesempurnaan iman. Tapi
- ada orang beriman yang berkata masih
- berkata bicaranya bicara yang tidak
- jelas.
- Ah, itu kan berarti ya dia beriman tapi
- imannya belum kamilan belum tamaman
- gitu. Banyak sekali hadis mengatakan la
- yminu ahadukum atau manana yukmin
- billah. Maka yang dimaksud iman itu
- adalah al imanu kamil. Iman yang
- sempurna. Jadi la yukminu berarti
- tidaklah iman sempurna gitu loh ya. Dia
- tetap kategorinya iman tapi belum
- sempurna.
- Tiib al haditusani
- hadis yang kedua an Abi Musa radhiallahu
- anhu q qulu ya rasulallahi ayyul muslimi
- afdolu q manimal muslimuna min lisanihi
- waadi
- ya rasulallah wahai utusan Allah ayyul
- muslimina afdol muslim mana yang paling
- utama
- muslimanii
- yaitu orang yang lidah dan tangannya
- tidak menyakiti orang-orang Islam
- lainnya.
- Nah, ini kalau kemudian ada ee ada
- perbandingan dan analisa,
- maka orang yang tidak menyakiti muslim
- lainnya, jangankan muslim, orang kafir
- aja tidak dia sakiti.
- Maka hua afdolul muslim.
- Ya, dibanding orang yang salat salat
- tahajudnya tiap malam, puasa sunahnya
- tiap hari, tapi dia masih saja menyakiti
- tetangganya, tidaklah lebih baik
- daripada orang yang tidak salat tahajud,
- tidak puasa sunah, tapi dia menjaga
- lisan dan tangannya dari orang-orang
- muslim lainnya. Tuh, begitu. Maka itu
- loh dalilnya mana? Nah, ini dalilnya.
- Jadi, muslim yang afdal itu yang muslim
- lainnya bebas dari lisan dan tangannya.
- Nah, dibandingkan ketika ada orang yang
- salat tahajud, salat tahajud kan sunah.
- Iya.
- Saum sunah, wajibnya dia kerjakan gitu
- kan. Ee dibanding dia melakukan tahajud
- sunah, saum sunah juga melak tapi dia
- menyakiti tetangganya atau menyakiti
- orang Islam lainnya. ini tidak lebih
- baik dibanding ini.
- Masyaallah
- yang tidak salat tahajud, tidak puasa,
- sunah berturut-turut gitu kan, tapi dia
- menjaga
- lisan dan tangannya kepada orang lain
- tuh. Jadi kenapa? Karena dia cukup
- wajibnya saja pada akhirnya. Karena
- sesungguhnya salat-salat atau
- ibadah-ibadah mahdah itu harus berbuah
- kebaikan.
- Jadi kalau ibadah mahdah dilakukan,
- ibadah apa namanya? Ee ee buahnya,
- buahnya tidak memetik apa tidak
- menghasilkan kebaikan boleh dibilang
- percuma.
- Makanya
- persoalan orang yang salat rajin itu
- menjadi persoalan ketika dia tidak
- perhatian kepada yatim piatu,
- tidak perhatian kepada fakir miskin,
- tidak perhatian kepada orang-orang yang
- perlu bantuan.
- Nah, maka salatnya nanti dipertanyakan.
- Nah, maka kenapa? Karena salat itu
- wazalika bersamaan dengan salat itu
- harus ada buah. Buahnya yaitu apa?
- kebaikan,
- berbuat baik, kebaikan kepada orang lain
- gitu loh. Nah, maka Oh, maka nanti ada
- ahlil ibadah masuk neraka. Ada.
- Tapi ada orang yang ibadahnya terbatas
- tetapi karena dia peduli kepada tetangga
- atau kepada makhluk Allah yang lainnya.
- Bahkan dalam satu riwayat, pezina
- perempuan, pezina Yahudi.
- Pezina Yahudi
- gara-gara dia ngasih minum kepada
- anjing.
- Masyaallah. Tuh, itu apa maknanya? Oh,
- karena maka kesalehan sosial
- itu harus jadi buah daripada kesalehan
- ritual.
- Kalau kesalehan ritual saja tidak
- berbuah kesalehan sosial, dipertanyakan
- ini benar enggak ibadah pada Allah atau
- cuma main-main? Kan bisa begitu
- bisa main-main.
- Nah, maka oleh sebab itu agar tidak
- dinilai main-main, agar ditilai
- dinilainya serius maka harus buahnya
- tidak harus lebat.
- Tidak harus lebat. Sekemampuannya aja
- dia menolong. Misalnya berbagi
- istilahnya tiap Jumat berkah gitu. Masak
- lima apa? Lima bungkus. Karena
- kemampuannya lima bungkus. Kasih
- tetangganya yang miskin yang memerlukan.
- Ditingkatkan lagi 10 bungkus.
- Ditingkatkan 15 bungkus. Ditingkatkan
- bertahun-tahun jadi 20 bungkus bahkan
- 25. Masya itu sebagai bukti keimanan
- ritual.
- Kalau keimanan itu ee apa namanya?
- filqbi fur. Nah, diaplikasikannya dengan
- amal saleh. Ya, itu kalau dalam
- definisinya gitu. Waalun bil arkan dan
- diamalkan dengan rukun-rukun.
- Nah, maka kemudian pengamalan itu
- pengamalan itu sebagai bukti. Makanya
- iman dan amal saleh selalu digandingkan
- dalam Quran itu. Heeh. Jadi, iman dan
- amal saleh selalu digandingkan. Maka
- oleh sebab itu tadi kepedulian tidak
- harus kemudian wah karena saya ini
- orang-orang sampai jutaan miliaran untuk
- apa ngasih makan kepada orang-orang
- miskin ya Anda juga tidak harus jutaan
- ratusan ribu lah paling tidak ah ratusan
- ribu juga saya enggak punya ustaz ya
- puluhan ribu puluhan ribu juga enggak
- punya ya berdoa untuk tetangganya yang
- penting tetangganya tidak tersakiti.
- Kan senyum kepada tetangga itu kan
- sedekah.
- Nah, itu kan tidak bermodal sesungguhnya
- gitu ya. Tidak modal ratusan ribu atau
- jutaan. Sodqah dengan senyum. Selalu
- berbuat bermuka manis kepada tetangga,
- kepada sesama muslim itu juga sod sodqah
- gitu ya. Oke. Baik. Ini ee apa namanya?
- Hadis pertama. Nah, kemudian hadis kedua
- tadi bahwa yang selamat dari orang apa
- dari ee lisan dan tangannya umat Islam
- itulah ada apa namanya ee muslimin yang
- afdal. Maka oleh sebab itu kejar
- kedudukan ini agar orang lain selamat
- dari lisan dan tangan kita gitu loh ya.
- Oke. Baik. Nah, mutiara yang dapat kita
- lihat bahwa larangan menyakiti orang
- lain dan muslim yang terbaik adalah yang
- tidak mengganggu orang lain gitu ya. Tib
- kita lanjutkan hadis ketiga. Ikhwan an
- Sahal bin Sa'ad qala
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- muttafaqun alaih.
- Siapa yang menjamin kepadaku untuk
- menjaga apa yang ada di antara dua
- tulang dagunya
- dan apa yang ada di antara dua kakinya,
- maka terjamin surga baginya. Nah,
- maksudnya siapa yang bisa menjaga
- lisannya? Dua dagu itu maksudnya lisan.
- menjaga perkataannya.
- Dua kaki maksudnya parjinya ya. Parjinya
- hanya diarahkan kepada yang halal gitu
- ya. Adapun yang haram dia jaga. Betul.
- Nah, ketika dia mampu menjaga itu dua
- posisi itu yaitu lisan dan parjinya kata
- Nabi dijamin dia masuk surga gitu ya.
- Nah, mutiara-mutiara hadis yang dapat
- kita gali dari hadis ketiga ini, menjaga
- lisan dan kemaluan agar tidak jatuh
- dalam perkara haram merupakan jalan
- untuk masuk surga dan selamat dari
- neraka.
- Maka oleh sebab itu sesungguhnya
- salah satu untuk mendapatkan rahmat
- Allah atau salah satu untuk bisa selamat
- di dunia dan di akhirat. Jadi laksanakan
- aja kewajiban yang Allah tetapkan,
- jauhi larangannya. Ya, kalau larangan
- enggak boleh nawar-nawar.
- Tapi kalau perintah melaksanakan itu
- boleh pilih-pilih sesuai kemampuan gitu
- loh. Nah, kalau kita tidak bisa banyak
- beramal selama meninggalkan
- kemaksiatan-kemaksiat cukup bagi dia
- selama kewajibannya ditunaikan dan
- menjauhi segala larangannya. Itu
- kesimpulan sederhananya.
- Ah, dalam kehidupan sehari-hari bisa
- diurai.
- Oh, kita enggak boleh nyakiti tetangga
- gitu loh. Larangan aja dahulukan dahulu
- sehingga kita jauhi. Nah, adapun
- kewajiban tadi kewajiban kan bisa
- dihitung sesungguhnya kewajiban itu ee
- intinya adalah mastatna mastatum
- sesuai dengan kemampuanmu. Semuanya
- syariat itu mesti sesuai dengan
- kemampuannya.
- Ya, ibadah, haji dan umrah sesuai
- kemampuan. Termasuk takwa juga sesuai
- kemampuan.
- Ittaqulaha mastatum. Bertakwalah kepada
- Allah sesuai kemampuanmu.
- Masyaallah. Padahal kan sesungguhnya
- asalnya adalah haqqo tuqatih.
- Sebesar-besar apa? Sebenar-benar takwa.
- Namun karena kita punya keterbatasan
- tadi, aduh misalnya mohon maaf saya ini
- tidak bisa menjaga lisan.
- Padahal sekali lagi berkata berkata
- kotor, berkata yang menyinggung perasaan
- itu dilarang. Maka seringkiali saya
- masih apa masih mengucapkan kata-kata
- yang lague. Lagui. Maka ada lagu
- lagu.
- Lagu itu artinya iya lagu
- laguun.
- Lagu itu lagui tidak ada manfaatnya gitu
- loh asalnya begitu. Namun sekarang
- orang-orang berpikir oh bagaimana supaya
- lagu bisa bermanfaat. Nah maka bisa
- syairnya syairnya syair-syair selawat,
- syair-syair pujian. Nasyid namanya
- gituah. Nasyid juga susunnya tidak harus
- selalu ber apa penyebutan itu tidak
- harus selalu bernama ee bernuansa
- islami.
- Ee nasyid itu nasyid itu adalah lagu
- bahasa kita gitu ya. Hanya itu bahasa
- Arab aja gitu. Eh enggak boleh dengar
- nyanyian nasyid aja pada sama juga
- nasyid juga nyanyi nyanyian. Hanya
- maksudnya mungkin nasyid yang dimaksud
- adalah nyanyian yang bernuansa religius
- gitu ya. Oke, saya ki sebagai pengantar
- kajian kita pada sore hari ini. Tiga
- hadis yang dapat dikemukakan. Ee
- wasallallahu ala nabiyina Muhammadin
- wallahu aam bisawab.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Wallahuam
- bawab. jazakumullah khairan keiran ustaz
- atas ilmunya dari tiga hadis dari Imam
- Nawawi dalam kitab Riyadus Shihin yang
- disyarahkan oleh Syekh Dib Albugo dan
- kawan-kawan.
- Baik Ihman Ahmad tetap di radio
- silaturahim kami akan hadir di sesi
- kedua untuk tanya jawab tetap di Radio
- Silaturahim. Terima kasih.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Terima
- kasih Ikhwan Awat masih bersama Radio
- Silaturahim
- dengan program tausiah sore bersama
- Ustaz Ahmad Saleh
- dengan tema
- haram menggunjing dan perintah menjaga
- lidah. sudah disampaikan oleh Ustaz
- Ahmad Saleh tiga hadis. Ee sebelum kita
- menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
- ikhwan akhwat, izinkan kami untuk
- membacakan komentar-komentar. Yang
- pertama dari Bapak Anwar.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Jazakumullah khairan
- kirun ustaz ilmunya.
- Insyaallah.
- Kemudian yang kedua dari Bapak Arwin.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih atas tausiah,
- nasihat, dan pencerahannya, Ustaz.
- Semoga Ustaz dan pejuang dakwah serta
- pendengar Radio Rasil selalu dalam
- keadaan sehat walafiat dan dilindungan
- Allah Subhanahu wa taala. H.
- Kemudian yang
- ketiga dari Ibu Jamilah, yang keempat
- dari Ibu Lasmiati, Bapak Mustofa Hasan,
- Ibu Retno, Ibu Hati, Ibu Sri, Ibu Bapak
- Nana Sumarna. Alhamdulillah kami
- menyimak, Ustaz. Ibu Hani Hufaidah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz selalu sehat walafiat.
- Alhamdulillah kami hadir menyimak di
- radio pencerahan tausiah sore.
- Barakallahu fikum.
- Kemudian Ibu Angget alhamdulillah
- menyimak tausiah sore, Ustaz.
- Barakallah. Bapak Imam Pratomo,
- Bapak Abdullah Khaliq, Bapak Abdul
- Rasyid, Ibu Neli.
- Sekarang kita akan membacakan pertanyaan
- dari
- ya, dari Bapak
- dari Bapak Asep.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh,
- Ustaz. Bagaimana caranya ibadah ritual
- supaya bisa diaplikasikan ke ibadah
- sosial, Ustaz? Sehingga dapat membentuk
- akhlak yang lebih baik. Mohon
- pencerahannya, Ustaz.
- Ah, masyaallah. Barakallahu fikum.
- Semoga Allah Subhanahu wa taala
- merahmati yang bertanya dan membimbing
- yang akan menjawabnya. Tiib.
- [berdehem]
- Bagaimana caranya supaya
- ibadah mahdoh atau ibadah-ibadah ritual
- itu ee berdampak kepada ibadah sosial?
- Pertama, tentu harus paham
- ini pendidikan ini. Maksud saya pendidik
- itu ibadah ini
- hubungan sosialnya ke mana? Tentu harus
- senantiasa ikut kajian, kajian Quran,
- kajian sunah gitu ya. Nah, maka sekali
- lagi pesan salat itu dilihat dalam surat
- Almaun gitu. Oh, peduli kepada fakir
- miskin, menolong orang yang memerlukan.
- Nah. Oh, salat pendusta agama,
- penipu agama, orang yang rajin salat,
- rajin puasa ke Makkah, ke Madinah tiap
- tahun bolak-balik gitu loh. Tapi
- kemudian tidak peduli, wah penipu agama
- itu gitu loh. Nah, maka oleh sebab itu
- makna haji itu apa? Makna umrah itu apa?
- Makna salat itu apa? Makna puasa itu
- apa? Nah, nanti setelah kita tahu dari
- Quran dan sunah, oh berupaya tuh kan
- sering dibahas puasa. Puasa itu apa?
- Pengendalian lisan intinya.
- Kemudian mendorong perbuatan baik
- lainnya. Nah, itu disebut puasanya
- berhasil gitu loh. Kalau kemudian puasa
- tetap men itu baru tingkattingkat dasar.
- Kalau cuma puasanya saja, menahannya
- saja. Apa ada manfaatnya? Ada.
- Tapi kenapa dalam pembahasan-pembahasan
- seakan-akan menakutkan? Supaya kita
- beranjak
- dari tataran apa namanya? hisiah, dari
- tataran simbolistik taswiriah menuju
- kepada tataran maknawiah
- gitu loh ya. Kan kita sudah
- bertahun-tahun ngajinya gitu. Masa tetap
- di taswiriah saja disimbolis saja
- ributnya simbolistik.
- Ada yang angkat tangan sebegini, ada
- yang begini ribut. Kita sudah harus
- meninggalkan itu. Beranjak dari
- pembahasan simbolistik menuju kepada
- pembahasan-pembahasan maknawi agar
- bermanfaat beragamanya
- gitu. Agar kita tidak ribut internal.
- Fokuskan tuh Yahudi yang harus dihadapi.
- Itu kan begitu. Bukan hanya ribut antar
- kita, tapi musuh-musuh Islam yang jelas
- malah terabaikan.
- Maka saya katakan, "Sudah, orangnya
- sudah bersyahadat sudah enggak usah
- diganggu gugat gitu loh." Maka kemudian
- kita dorong mualaf-mualafnya untuk
- meningkatkan pemahamannya. Sebagaimana
- kita juga mendorong diri kita untuk
- meningkatkan pemahaman.
- asalnya pemahamannya sektoral,
- kemudian ee pemahaman ee apa namanya
- yang lainnya, pemahaman lainnya.
- Kemudian nanti seluruh pemahaman bisa
- dirangkum
- tuh. Nah, maka oleh sebab itu tidak lagi
- nanti kemudian gampang menyalahkan orang
- lain. Nah, saya paham orang yang gampang
- menyalahkan itu kenapa? Karena memang di
- zaman sahabat juga sama
- ada
- ada di zaman sahabat juga yang gampang
- gampang menjustifikasi.
- Kenapa? Karena pemahamannya nasiah
- tekstual.
- Iya.
- Maka wajar salah gak apa-apa disalahkan.
- Iya disalahkan. Makanya saya katakan ee
- termasuk misalnya ee apa namanya?
- pembahasan bidah kan ternyata di zaman
- Imam Assyafi'i setelah ditemukannya
- ushul fikih macam-macam bidah pun jadi
- macam-macam
- bidah macam-macam jadi maka kemudian
- dikenal ee oleh muridnya atau bidah
- hasanah. Kalau Imam Syafi'i sendiri ada
- bidah mahmudah.
- Bidah
- yaah ada bidah mahmudah maka mulailah
- dipahami dirinci. Karena bidah itu tidak
- semua bidah adalah kemaksiatan.
- Bahkan ada bidah yang hukumnya wajib tuh
- gitu loh. Nah, maka oleh sebab itu saya
- kira
- ee persoalan-persoalan tentang ee apa
- namanya tadi supaya mengaplikasikan
- ibadah ritual menjadi ee berdampak
- kepada kesalehan sosial, maka harus
- paham
- ya. Intinya begini untuk memahami semua
- ritual itu intinya berbuat baik kepada
- apa? Kepada sesama makhluk. ya kepada
- sesama muslim, ya kepada orang kafir ya
- kepada makhluk Allah lainnya itu intinya
- rahmatan lil alamin itu inti dari semua
- apa namanya dari semua ibadah mahdah
- itu. Karena Nabi Muhammad diutus illa
- rahmatan lil alamin kecuali untuk
- menjadi
- ee rahmat bagi seluruh alam. Jadi, Nabi
- Muhammad itu bukan rahmat untuk orang
- Islam saja, tapi rahmat juga untuk orang
- kafir. Nah, rahmat juga bagi makhluk
- yang lainnya, baik binatang maupun alam
- malakut gitu ya. Jadi ee maka saya kira
- kajian-kajian Anda atau kajian-kajian
- kita hendaknya ditingkatkan untuk
- mengetahui. Jadi tuntutan-tuntutan
- untuk berbuat baik kepada sesama, kepada
- makhluk Allah lainnya itu adalah
- proyeksi dari ibadah mahdoh.
- Ah jadi ini proyeksi itu adalah ibadah
- sosialnya, kebaikan sosial, kesalehan
- sosial dari proyeksi dari ibadah-ibadah
- mahdoh gitu loh. Jadi baik salat maupun
- puasa maka buahnya harus menjadi
- rahmatan lil alamin.
- Demikian saya kira yang dapat saya
- jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Asep
- semoga dapat menjawab. Jadi intinya yang
- penting ada buahnya, Ustaz. Ya.
- Betul ada buahnya. Iya.
- Ee berikutnya pertanyaan kedua dari
- Bapak
- Ruhaili. Bapak Rohili. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Saya Rohili di Pulau Gebang, Ustaz.
- Izin. Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Mengapa sesama umat Islam dalam
- memperingati hari kelahiran Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam selalu
- berbeda pendapat, Ustaz? Ada yang bidah.
- Jadi mana yang benar, Ustaz? Apakah yang
- merayakannya atau yang biasa-biasa saja,
- Ustaz? Jazakallah.
- Oke. Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Begini. Kenapa dalam menyikapinya
- berbeda? Karena semua manusia ilmunya
- berbeda-beda.
- Maka muncul perbedaan juga dalam
- menyimpulkan sebuah acara. Nah, saya
- ingin tegaskan tidak semua bidah itu
- maksiat. Maka ada bidah yang hukumnya
- wajibun.
- Nabi pernah membangun madrasah enggak?
- Nabi pernah membangun madrasah gak? Di
- zaman Nabi?
- Tidak.
- Madrasah?
- Tidak.
- Tidak pernah.
- Nah, makanya kata Imam Assyafi'i,
- membangun madrasah itu jadi bidah
- hasanah. Bahkan bisa hukumnya wajib.
- Ketika anak-anak tidak bisa belajar di
- masjid, kenapa? Karena masjidnya terbuat
- dari apa namanya? Ee atapnya terbuat
- dari ee apa itu? Alang-alang.
- ketika hujan merembes. [mendengus] Nah,
- ketika musim hujan anak-anak tidak bisa
- sekolah, tidak bisa belajar. Maka
- mengganti atap menjadi kewajiban.
- Meskipun ganti atap itu bidah,
- membangun madrasah menjadi wajib.
- Padahal membangun madrasah itu bidah.
- Oke, sekarang e kembali
- siaran tablig kajian sore di radio
- silaturahmi itu bidah apa bukan?
- Bidah.
- Bidah. Nabi enggak pernah ngisi acara di
- radio silaturahim.
- Nah, kan begitu pemahamannya. Jika bidah
- itu adalah segala sesuatu yang tidak
- pernah dikerjakan oleh Nabi, tidak
- pernah diucapkan oleh Nabi, maka dakwah
- lewat radio silaturahim atau radio-radio
- lain atau televisi lain itu bidah. Maka
- ada bidah yang hukumnya bukan hanya
- haram tapi wajib.
- Tuh gitu ya. Nah, begitu juga tentang
- tadi memperingati kelahiran. Isyarat
- memperingati kelahiran ada bagi yang
- enggak mengadakan karena Nabi tidak
- pernah ngadakan seperti sekarang ini. Ya
- enggak usah.
- Ketika Anda menyalahkan orang yang
- melakukan apa? Peringatan hari kelahiran
- Nabi. Dituntut dalil kalau ingin
- menyalahkan.
- mana larangannya. Kan begitu. Kemudian
- Anda kan nanya, "Mana perintahnya?"
- Jadi, para ikhwan sekalian, para
- pendengar sekalian, para ee hadir apa
- namanya? Mustami, jadi ada kalanya
- ketika kita melakukan sesuatu tidak
- dituntut dalil. Ada kalanya yang
- dituntut dalil itu adalah ibadah mahdoh.
- Pertanyaannya adalah ah ini juga
- debatable nih ketika saya mengatakan
- ibadah mahdoh debatable
- pertama gitu ya ee Nabi pernah melakukan
- peringatan hari kelahirannya enggak?
- Tadi sudah dibuktikan ada bahkan tiap
- pekan. Betul.
- Nah, kalau kita tiap tidak bisa, maka
- kemudian tiap tahun dengan bentuk
- kebaikan yang berbeda. Nabi ke bentuk
- kebaikannya memperingatinya dengan puasa
- kita, dengan mengurai perjalanan
- Rasulullah, dakwah Rasulullah,
- perjuangan Rasulullah sehingga kita bisa
- mengetahui akhlak Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam.
- Nah, maka oh kalau seperti itu apanya
- kemudian yang harus disalahkan? He.
- Nah, biasanya orang yang menjustifikasi
- bahwa ini bidah-bidah karena memang
- belum menganalisa dalil dan tidak
- membaginya. Ah, pokoknya Nabi tidak
- pernah melakukan. Nah, itu tekstualis
- namanya gitu ya. Pokok Nabi tidak pernah
- melakukan ya jangan. Berarti terlalu
- banyak bidah yang dilakukan sekarang.
- Kajian di radio bidah,
- kajian di televisi bidah, bahkan kajian
- kitab misalnya mohon maaf saya sebut
- kitab seperti gini, kajian kitab Riyadus
- Shihin bidah.
- Iya.
- Kalau kepada definisi itu bahwa bidah
- itu adalah sesuatu yang tidak pernah
- dikerjakan,
- tidak pernah diucapkan.
- Jika itu definisinya, kajian kitab
- Riyadus Shihin juga bidah. Karena Nabi
- tidak pernah mengkaji kitab Riyadus
- Shihin.
- Tuh kan jadinya begitu pemahamannya.
- Kalau mau kepada standar-standar
- pengetahuan, standar-standar ilmu.
- Tuh gitu. Maka oleh sebab apalagi kajian
- riyadus sholin tiap hari Jumat, apalagi
- tiap hari Jumatnya itu tiap hari
- jelas-jelas bidah. Nah, hanya sekali
- lagi tidak semua bidah itu maksiat.
- Bahkan ada bidah yang hukumnya wajib.
- yang hukumnya mustahab.
- Mustahab.
- Mustahab itu disukai, mandub,
- gitu ya. Jadi kalau begitu mana yang
- lebih baik, yang melakukan peringatan
- atau yang tidak? Ini juga tidak gampang
- menjawabnya.
- Saya katakan, "Oh, yang lebih bagus itu
- yang melakukan peringatan dan mengambil
- ibrah dari peringatan itu, kemudian
- mengikuti akhlak Rasulullah." Ah, itu
- lebih bagus.
- Ah, saya mah enggak enggak akan ngikuti
- apa tidak akan merayakan karena memang
- oke enggak apa-apa Anda tidak merayakan
- [berdehem] asal Anda akhlaknya seperti
- Rasulullah.
- Intinya di situ gitu loh. Nah, seringki
- ee [berdehem] wasilah-wasilah ini
- menjadi persoalan gitu ya.
- Jadi kesimpulannya
- siapa yang bisa mengambil ibrah baik
- dalam melakukan peringatan ataupun tidak
- mengalami ibrah dan mengikuti akhlak
- Rasulullah, dialah yang lebih bagus
- gitu ya. Nah, demikian saya kira yang
- dapat saya jelaskan. Wallahu aam
- bissawab.
- Wallahuam [berdehem]
- bisawab. Demikian Bapak Rohili semoga
- dapat menjawab. Berikutnya pertanyaan
- ketiga dari Bapak Baron, Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, bagaimana kalau
- orangnya orang tersebut tidak sama
- sekali
- seperti ke masjid untuk berjamaah atau
- ngaji dan tidak bermasyarakat juga tidak
- seperti ikut takziah tahlilah itu tidak
- ikut serta. Ustaz bagaimana Ustaz
- manusia macam apa seperti itu, Ustaz?
- [tertawa]
- Masyaallah nih. Terus jawabannya gimana
- kira-kira? Oh, ini enggak benar tuh.
- Gak. Makanya di syariat Islam itu ada
- hukum-hukum.
- Ada hukum wajib itu. Ini analisa para
- ulama. Hukum wajib mandub, mustahab atau
- sunah, ada makruh, ada haram gitu, ada
- mubah gitu. Itu sebennya tadi membantu
- untuk bisa menilai orang semacam itu.
- Memang masalahnya apa gitu loh. Kan
- begini kita tinjau tentang hukum salat
- berjamaah.
- Salat hukum apa? Salat berjamaah
- hukumnya para ulama kan berbeda
- pendapat.
- Ada yang mengatakan wajibun mutlaqun,
- wajib mutlak. Ada yang menyatakan
- wajibun giru mutlaqin, wajib tapi tidak
- mutlak gitu kan. Ada yang menghukumi ee
- apa namanya? Fardu kifayah. Ada yang
- mengupi sunah muakkad. Tuh.
- Kalau kemudian orang tersebut
- memaknainya sekali lagi ini ya ee bagi
- kita yang memaknai bahwa salat e
- berjamaah itu sunah muakkad, pegang
- sunah muakkad. Tapi kemudian tadi punya
- penilaian. Oh, jangan-jangan dia
- memaknainya salat sunah apa salat
- berjamaah itu adalah fardu kifayah.
- Ah, saya tidak salat berjamaah lah
- karena sudah banyak yang salat berjamaah
- misalnya begitu. Tetapi sekali lagi bagi
- kita yang sudah meyakini
- salat berjamaah itu sunah muakkad
- istiqamah
- tetap tidak terganggu oleh orang lain.
- Enggak pokoknya saya salat berjamaah.
- Nah, karena saya memahami bahwa salat
- berjamaah itu adalah sunah muakkad atau
- mengambil dalil misalnya ee apa namanya
- ee wajib giru mutlak. Wajib tapi tidak
- mutlak. seperti kalau tidak salah yang
- dipahami oleh mazhab Imam Ahmad bin
- Hambal.
- Tapi kalau wajibun girir mutlaqin eh
- wajibun mutlak ini pendapatnya Ibnu Hazm
- kalau tidak salah. Tapi dinyatakan oleh
- para ulama dia adalah adaful qul
- selemah-lemah pendapat gitu ya. Oke.
- Baik. Nah, jadi ketika ada orang tidak
- pernah ke masjid, tidak pernah salat,
- tapi dia salat wajib di rumah
- terus, tapi dia ustaz enggak pernah
- gaul.
- Lagi-lagi kita harus tahu alasannya.
- Paling tidak kita bisa berbaik sangat,
- udah biarin aja dia enggak mau gaul
- juga. Karena bisa jadi dia bisa jadi
- ketika ditanya, "Kenapa kamu enggak mau
- gaul sama masyarakat?" Aduh, aku ini
- orang yang tidak bisa menampik
- menolak keburukan orang lain. Daripada
- saya ikut terbawa-bawa oleh keburukan
- orang lain, lebih baik saya di rumah
- saja. Lah terus gitu gimana kalau
- alasannya begitu? Nah, maka baik sangka
- saja sudah. Jangan ngurusin orang lain,
- urusin aja kita gitu loh. Nah, maka
- ajak-ajak saja. Asalamualaikum, Kang
- Ujang. Kumaha damang? Ayo kita ke
- masjid. Oh iya, hatur nuhun. Insyaallah
- nanti abdin kek nyusul, nanti saya
- nyusul gitu. Gak apa-apa komunikasi
- semacam itu. Tapi masing-masing tidak
- boleh menilai.
- Kenapa? Kalau masing-masing boleh
- menilai nanti bisa ujub.
- Jadi, Anda tidak harus mencari siapa
- yang paling baik di antara kita,
- tetapi nyatakan bahwa saya harus hidup
- lebih baik dibanding masa lalu.
- Jadi, penekanannya dikit, oh saya harus
- lebih baik daripada masa lalu. Saya
- tidak harus membandingkan dengan ustaz
- ini. Saya tidak harus membandingkan
- dengan si fulan, saya tidak harus
- membandingkan dengan kadra wa kada. Gak.
- Maka oleh sebab itu penilaian itu hanya
- apa? penilaian secara mengistimbat hukum
- saja.
- Oh, orang yang seperti ini begini. Tapi
- tidak menjustifikasi bahwa orang
- tersebut begini begini. Jadi dihadapi
- aja misalnya kayak seperti tadi orang si
- sudah diajak aja ngajak ngaji. Ajak
- ngaji. Ah jawabannya seperti apa dia? Oh
- abdi mah di bumi baik saya mah di rumah
- saja. Ya udah enggak apa-apa.
- Terus kemudian jangan sampai juga mengat
- eh kalau di rumah aja mah kamu nanti
- jangan pakai sarung. Kalau salatnya
- pakai ini pakai muk kena ya tidak juga
- harus mengatakan begitu. Nah, makanya
- oleh sebab itu lisan juga harus dijaga
- tuh. Atau paling enggak Anda doakan
- kalau menurut Anda itu salah, ya Allah
- berilah hidayah kepada si fulan.
- Jadikanlah dia mau bergaul dengan
- masyarakat. Jadikanlah dia supaya salat
- berjamaah. begitu
- tidak harus dinilai dalam pengertian apa
- tadi dibanding-bandingkan dengan diri
- kita. Nanti kita akan merasa ujub,
- merasa paling paling hebat, paling suci.
- Nah, si eta mah dia mah jarang ke masjid
- ya. Padahal saya ke masjid tiap waktu.
- Ah, itu saja sudah gak boleh
- ujub ujub
- teu ucub tuh. Maka oleh sebab itu doakan
- saja. Ya Allah berilah kekuatan, berilah
- taufik kepada orang tersebut agar dia
- bisa kazad. Jadi begitu ya. Jadi oleh
- sebab itu ee penilaian tertuju harus
- pada diri kita bahwa kemudian kita
- melihat menilai orang lain itu
- menimbang-nimbang itu dengan Quran dan
- sunah dalam rangka bersikap tanpa
- menyimpulkan. Bersikap itu tadi ngajak
- ke masjid, ngajak misalnya tahlilan,
- ngajak ee apa namanya? Muludan.
- Ah, sekali lagi ee muludan kan
- dinyatakan ikhtilaf,
- Isra Mikraj ikhtilaf. Padahal tadi gitu
- loh. Jika ee apa substansinya adalah
- zikrullah, maka tidak ada masalah gitu
- loh. Hanya kan kita juga kajian hanya
- dikasih nama aja kajian sore
- misalnya sekarang nih tanggal 12 Rabiul
- Aal ee kita namanya apa ini? Tausiah
- sore.
- Tausiah sore.
- Tausiah sore kan bisa diganti juga
- sesungguhnya dalam upaya memperingati
- apa namanya kelahiran Nabi Muhammad maka
- ikutilah acara tausiah sore. Kan bisa
- dihubungkan atau bisa juga tidak
- dihubungkan. Tapi intinya substansinya
- ibadah kepada Allah thabul ilmi gitu.
- Nah kemudian masa thaabul ilmi apa
- namanya? Ee tidak boleh. Nah, kan
- manqala la ilahaillallah dakal jannah.
- Ini dalil menjadi tidak berlaku bagi
- yang melakukan tahlilan.
- Karena yang melakukan tahlilan finar
- katanya kan begitu
- di neraka. Loh, lailahaillallah jannah
- kok. Siapa yang mengata laillallah masuk
- surga? Masa jadi masuk neraka karena
- lailahaillallah. Nah, kan logika-logika
- seperti itulah yang kemudian mohon maaf
- ya saya tidak ingin memojokkan kepada
- pihak tertentu gak sama sekali. Tapi
- secara ilmiah, secara keilmuan harus
- dibedah satu persatu
- ya. Tadi oh ini bidah, ini bidah.
- Ternyata kita juga banyak melakukan
- bidah gitu loh. Misalnya tadi mengata,
- "Oh, ini bidah apa muludan itu bidah."
- Kenapa bidah? Karena Nabi gak pernah
- mengajarkan, enggak pernah mencontohkan.
- Iya. Ente kajian apa? Kitab A. Ah. Nah,
- itu juga bidah. Karena Nabi tidak pernah
- mengkaji kitab A. Apalagi di minggu
- kesatu atau minggu ketiga gitu. Nah, kan
- begitu. Nah, kan kita menuduh bidah
- kepada orang lain, maka dengan konsep
- yang sama itu berbalik kepada kita. Nah,
- maka oleh sebab itu sebumnya mohon maaf
- yang gampang itu tadi pertama nasiah.
- Pertama ee kemudian tidak menggunakan
- ilmu-ilmu lain ya, baik itu ilmu ushul
- fikih, ilmu maqasid dan lain sebagainya.
- Akibatnya tadi tekstualis.
- Sekali lagi tekstualis juga tidak salah.
- Tektualis itu tidak buruk ketika itu
- dipakai untuk dirinya.
- Seperti tadi, "Kang, ayo muludan."
- "Enggak, saya mah enggak muludan." "Oh,
- alhamdulillah, silakan."
- Tapi dia akhlaknya mulia seperti
- Rasulullah.
- "Ayo, Kang, ikut ini apa?" "Ira
- Mikrajan." "Enggak, saya mah enggak Isra
- Mikrajan." Enggak apa-apa selama dia
- tidak menghujat.
- Nah, selama lisannya hadis ini
- terpenuhi. Manana yummin billahi wal
- yaumil akhir falyaqul kohairon aasmut.
- Hendaknya berkata baik atau hendaknya
- dia diam. Selama dia diam gitu maka dia
- yang selamat, dia yang benar. Tuh. Tapi
- kalau kemudian apa-apaan itu kalau
- [tertawa]
- sudah itu ah jatuhlah gitu loh. Padahal
- kan sesungguhnya kalau kita melihat
- substansi
- kan sesungguhnya banyak juga
- contoh-contoh yang tidak diajarkan di
- zaman Nabi nih. Contoh-contoh yang belum
- diajarkan Nabi diamalkan sahabat. Banyak
- itu
- contohnya.
- Heeh. Contohnya apa? Ada sahabat ngimami
- ee salat di rakaat pertama baca surah
- Al-Ikhlas. Di rakaat kedua baca surah
- Al-Ikhlas juga. Kata makmumnya, "Loh,
- ini bidah nih. Nabi enggak pernah baca
- Al-Ikhlas di dua rakaat." Nah,
- dilaporkan kepada Rasulullah, "Ya
- Rasulullah, si fulan telah melakukan
- bidah."
- Kenapa? Bidah apa? Dia baca surat
- Al-Ikhlas di rakaat pertama dan rakaat
- kedua.
- Coba kamu tanya, kenapa dia baca surah
- Al-Ikhlas? [tertawa]
- Ditanya, "Eh, Fulan, kenapa kamu baca
- surah Al-Ikhlas rakaat pertama dan
- kedua?" Aduh, kata dia, "Karena saya
- suka dengan surah Al-Ikhlas. Karena di
- situ disebutkan sifat-sifat Allah
- Subhanahu wa taala." Tuh alasannya itu
- sebenarnya. Lapor lagi, "Ya Rasulullah,
- dia baca itu karena dia suka dengan maka
- apa kata Nabi? Sampaikan padanya
- sesungguhnya Allah suka kepada dia
- karena dia telah suka kepada isi
- al-Ikhlas."
- Berarti ada bidah yang mustahab tuh. Ada
- bidah yang disukai
- tuh kan begitu. Nah, belum. Ah, makanya
- itu menunjukkan bahwa sahabat melakukan
- baca surat Al-His di rakaat kesatu,
- kedua ini menunjukkan belum diajarkan
- oleh Nabi. Buktinya sahabat makmumnya
- protes dalam hatinya. Ah, ini bidah nih.
- Ah, gua laporin nih sama Nabi. Begitu.
- Nah, jadi banyak sekali riwayat-riwayat
- yang kita menyebutnya itu bidah. Namun
- kemudian ee Nabi ya tapi kan itu di
- zaman Nabi
- justru sikap Nabi itu jadi teladan, jadi
- contoh. Nabi berarti menyikapi perbuatan
- bidah sahabat.
- Kan begitu.
- Nabi bersikap terhadap bidah yang
- dilakukan sahabat. tadi baca surah
- Al-Ikhlas tidak diajarkan seperti orang
- yang merukiah dengan suratul fatihah
- sehingga mereka kemudian dikasih 30 ekor
- kambing. Sahabat lain ini bidah nih.
- Nabi enggak pernah ngajarkan begitu.
- Nah, akhirnya dilaporkan kepada Nabi
- setelah dijelaskan bahkan Nabi kan kalau
- gitu mana bagian aku. Kata Nabi. Ah itu
- menunjukkan Nabi setuju terhadap
- perbuatan dalam tanda petik bidah yang
- dilakukan oleh sahabat. Sikap Nabi jadi
- sunah bagi pengikutnya
- gitu loh ya. Nah, ini makanya sekali
- lagi kalau kita tidak membahas dari
- berbagai sudut pandang ilmunya maka
- menjadi keder menjadi cover. K ya keder
- cover keder ya. Baik saja itu yang bisa
- saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Baron
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- dari Ibu Rukmin, Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh,
- Ustaz. Kalau menggunjing orang yang
- zalim seperti atau pejabat yang zalim
- boleh apa tidak, Ustaz? Misalnya pejabat
- yang semena-mena kepada rakyatnya,
- Ustaz.
- Nam jika ya langsung saja saya jawab ya.
- Jika dia melakukan
- kesewenang-wenangannya
- itu secara terangterangan
- gitu, maka diceritakan juga enggak
- apa-apa. Karena kalaupun kita diam,
- tetap aja orang tahu karena dia
- terang-terangan.
- Tapi kalau kemudian dia melakukan apa
- namanya kemaksiatanlah saya sebut
- kemaksiatan atau kesewenang-wenangannya
- tanpa diketahui banyak orang, maka
- orang yang mengetahuinya hendaknya diam.
- Nah, sekali lagi itu menyembunyikan
- kemaksiatan orang tersebut. Kenapa?
- Karena khawatir kita nanti termasuk
- gibah.
- [berdehem]
- Tapi kalau dia terang-terangan, apalagi
- diliput diliput oleh televisi gitu kan
- dan lain sebagainya meskipun kita diam
- tetap itu akan menyebar karena sudah
- menjadi berita gitu ya. Jadi seperti itu
- ya. Begitu juga kita menyikapi orang
- lain.
- Ah kemudian ada yang dengan sengaja dia
- melakukan kesewenang-wenangan.
- Ada yang karena terpaksa.
- Kenapa? Karena ada terpaksa itu misalnya
- begini. ada kasus ee apa namanya? Dia
- sendiri tidak hati dia tidak menyetujui
- apa yang dia lakukan. Tetapi karena
- atasan dan institusinya menyuruh dia
- melakukan seperti itu, maka dia lakukan
- seperti mohon maaf ya kalau tidak salah
- ee peristiwa kemarin ya. Peristiwa
- kemarin ya ketika di apa disidang
- akhirnya kan dia nangis. Kenapa? Karena
- saya sesungguhnya bukan kehendak saya,
- tapi perintah atasan dan institusi
- katanya begitu. Wallahualam ya. Enggak
- tahu persis. Nah, maka oleh sebab itu
- saya kira ada yang mafu, dimaafkan tapi
- kemudian semuanya kan hakikat kepada
- Allah. di hukum manusia itu hanya hukum
- zahir. Nah, kalau zahirnya nabrak ya
- berarti dihukum nabrak gitu loh. Apapun
- alasannya gitu loh. Kalau kemudian dia
- seperti itu, paling nanti ada ee
- pertimbangan-pertimbangan dari hakim.
- Saya kira itu saja ya. Jadi oleh sebab
- itu [berdehem]
- ee hendaknya kita apa namanya?
- berhati-hati dalam segala hal gitu ya
- untuk ee bisa ee apa namanya ee bisa
- pada akhirnya kemudian kita dengan
- kajian kita menjaga lisan, menjaga sikap
- dan lain sebagainya. Saya kira itu yang
- bisa saya jawab. Wallahuam bisab.
- Wallahuam bawab. Demikian Ibu Rukmin
- semoga dapat menjawab. Baik, Iwat kami
- akan jeda sejenak setana nada takwa
- berikut. Insyaallah kami akan lanjutkan
- sesi pertanyaan tanya jawab di sesi
- kedua. Terima kasih.
- [musik]
- Alhamdulillahirabbil alamin. Terima
- kasih Iwan AT. Masih bersama Radio
- Silaturrahim. Saat ini Anda menyaksikan
- tausiah sore bersama Ustaz Ahmad Saleh
- dengan tema haram mengunjing dan
- perintah untuk menjaga lidah.
- Baik, sebelum kita bacakan pertanyaan,
- kita bacakan komentar terlebih dahulu.
- Selanjutnya dari Ibu Ida di Bekasi,
- Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih, [berdehem] Ustaz. Semoga
- Ustaz Ahmad Shoh dan kru dalam keadaan
- sehat, berkah rezekinya, Ustaz. Amin.
- Allahuma amin.
- Kemudian
- Bapak
- Sumarna. Alhamdulillah menyemak Ustaz.
- Ee asalamualaikum Ustaz. Apakah Ustaz
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apakah Ustaz orang Sunda, Ustaz?
- Oh iya iya saya orang Sunda ti Bandung
- abdi teh. [tertawa]
- Oh dari Bandung.
- Demikian Pak Nana Sumarna. Ustaz Ahmad
- Saleh dari Bandung.
- Kemudian Bapak Mulhen Ustaz jazakumullah
- khairan kasiron Ustaz ilmunya. Ya.
- Kemudian Bapak Mukhtar TNI AU, Ustaz.
- H. Masyaallah. Barakallah fikum.
- Alhamdulillah ikut mendengar.
- H
- ee perwakilan dari TNI Kangkat Udara.
- [berdehem]
- Masyaallah. Barakallah fik.
- Berikutnya
- kita akan bacakan pertanyaan dari Bapak
- Baron, Ustaz.
- Namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz,
- dari sekian banyak bacaan selawat,
- selawat apakah yang paling disukai oleh
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam, Ustaz? Mohon pencer.
- Ah, masyaallah. Barakallah fik. Tiib.
- Jadi kalau selawat mana yang paling
- disukai? Maka seluruh selawat itu
- disukai oleh Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam. Mengapa seluruh selawat
- itu disukai oleh Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam? Karena bisa jadi itu
- sebagai argumentasi untuk memberi
- syafaat kepada orang yang berselawat.
- Maka bentuk selawat semuanya disukai
- oleh Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam.
- Hanya para ulama membagi. Ada selawat
- buntung, ada selawat tidak buntung. Gitu
- loh. Selawat buntung hanya Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad. Ahah. Itu
- buntung.
- Kalau tidak buntung, Allahumma sholli
- ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi
- wasohbihi ajmain.
- Ah, jadi ada lanjutan untuk keluarganya
- dan untuk sahabat-sahabatnya
- gitu loh ya. Karena e kan man sha alaiya
- wahidan. Siapa yang berselawat kepadaku
- satu kali shallallahu alaihi asron. Maka
- Allah bersalat kepadanya 10 kali.
- Jadi kalau kemudian selawatnya hanya
- untuk Nabi berarti hanya 10 kali untuk
- dirinya, untuk yang membaca selawat.
- Tapi kalau kemudian kita berselawat atas
- Nabi dan keluarga Nabi, maka keluarga
- kita pun dapat kebagian. Ketika kita
- juga diikut sertakan para sahabat Nabi,
- maka teman-teman kita pun mendapatkan
- kebaikannya ke selawat dari Allah
- Subhanahu 10 kali lipat. Jadi kalau kita
- baca sekali 10 kali lipat. Kalau ee
- misalnya ee ee tiap bakda salat berarti
- lima kali berarti 50 kali selawat Allah
- kepada kita. Kalau kemudian yang tiap
- harinya 1000 kali berarti 10.000 selawat
- Allah untuknya. Kalau isinya bersama
- keluarga Nabi, berarti juga untuk
- keluarganya. Jika isinya juga bersama
- para sahabat Nabi selawatnya, maka juga
- buat teman-teman si pembaca selawat
- tersebut. Masyaallah. Tuh. Maka Oh,
- itilah dalil. Jadi dalil itu kenapa kita
- harus gaul sama orang saleh. Karena di
- enggak-enggak juga akan kecipratan. Baik
- kecipratan ilmunya maupun kecipratan
- barokahnya.
- Kecipratan barokahnya. Maka oleh sebab
- itu hendaknya kita menjaga perasaan
- orang-orang saleh dan orang-orang alim.
- Di samping juga orang alim dan orang
- saleh juga menjaga perasaan orang awam
- gitu loh. Nah, maka timbal balik. Tapi
- yang jelas ee kenapa kita harus
- mendahulukan menjaga perasaan orang alim
- dan orang-orang saleh? Karena tadi gitu
- ya, karena mereka bisa jadi sering
- berselawat, sering memohonkan ampun. Kan
- kita juga sering memohonkan Allahumfirli
- waliwalidaiya
- warhamhuma kama allahumfir lil muslimina
- wal muslimat wal mukminina wal mukminat.
- Tuh. Jadi sesungguhnya kalau kita ingat
- itu asal serius fokus
- insyaallah kebaikan kita itu ngalir
- terus.
- Ngalir terus. Mau kita selalu mendoakan
- muslimin dan muslimat seluruh dunia kok.
- Baik yang masih hidup maupun yang telah
- tiada.
- Maka itu kemudian kembali mereka akan
- balas kembali kepada kita.
- Kalau tadi selawat kepada Nabi Allah 10
- kali. Kalau kita mendoakan orang mukmin
- pun bisa jadi paling tidak satu kali
- balasannya.
- Tuh kan begitu. Maka aduh iya ya Allah.
- Nah tadi asal istikamah dan yakin gitu
- loh ya. Nah demikian saya kira yang
- dapat saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Baron
- semoga dapat menjawab. Berikutnya dari
- Ibu Siswati Rifai, Ustaz di Batam.
- Nam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Kalau kita berselawat
- kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam pada setiap hari Jumat
- namam
- tapi kita hadiahkan pahalanya untuk
- kedua orang tua tercinta, Ustaz. Apakah
- sampai pahalanya, [berdehem] Ustaz?
- H iya. Pertama tentang transfer pahala
- gitu ya. Nah, pertama begini. Kalaupun
- ibu sekali lagi tidak menghadiahkan
- pahalanya,
- tapi kemudian ibu bersalat kepada Nabi
- dan keluarganya, maka ibu bapak dari ibu
- sampai dapat pahalanya. Ya tadi 10 kali
- itu.
- Tapi kalau Ibu ingin pahalanya juga
- ditransfer,
- selama ibu bapak kita adalah orang yang
- iman kepada Allah gitu ya. Oh, saya tahu
- ibu bapak saya sudah syahadat atau sudah
- muslim. Maka insyaallah sampai.
- Amin.
- Gitu ya. Tentu pembahasan ini panjang
- ya. Pembahasan ini panjang tapi
- insyaallah lain waktulah kita bahas.
- Tapi intinya insyaallah sampai selama
- apa? Selama punya nomor rekeningnya
- diketahui ee apa finnya apa rekening
- itu? Syahadat.
- Pinnya syahadat.
- Syahadat. Kalau syahadatnya ee sudah
- bersyahadat insyaallah pahala kita bisa
- sampai gitu ya. Baik diperuntukkan
- untuk ibu bapak kita secara khusus
- maupun tidak diperuntukkan secara khusus
- tetap ngalir kebaikannya gitu ya.
- Demikian wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Ibu Siswati
- semoga dapat menjawab. Eh, baik
- ikhwanad. Demikianlah
- pertanyaan-pertanyaan dari Ikhwat Ahmad
- yang sudah kami bacakan dan dijawab oleh
- Ustaz Ahmad Saleh. Eh, kemudian
- ada Bapak Mugi Jumana hadir menyaksikan
- Ibu Ida di Bekasi juga, Ustaz. Terima
- kasih, Ustaz.
- Semoga Ustaz selalu sehat, berkah
- rezekinya, Ustaz.
- Amin. Allahum amin.
- Ibu Tati, alhamdulillah mendengar,
- Ustaz. Afwan lagi keluar rumah besok
- cucu keponakan yang lagi dirawat.
- Masyaallah. Ah, masyaallah. Syafahullah
- tabaraka wa taala.
- Amin. Terima kasih, Ustaz doanya.
- Kemudian, baik Ustaz. Demikian sebagai
- penutup dan kesimpulan Ustaz.
- Baik. Ee penutup yang dapat saya
- kemukakan maka hendaknya kita menjaga
- lisan.
- Menjaga lisan itu bukan sesuatu yang
- gampang.
- [berdehem]
- Apalagi kita di lingkungan tempat
- ngerumpi gitu, di lingkungan-lingkungan
- yang membaca peristiwa-peristiwa,
- maka seringkiali kita juga gatal kalau
- tidak ingin bicara, gitu. Maka oleh
- sebab ini sebagai orang beriman, kita
- baru bisa bicara ketika substansi
- pembicaraan kita adalah baik. Kalau
- dinilai substansi pembicaraan kita tidak
- baik, maka kita upayakan untuk
- senantiasa diam. Semoga Allah Subhanahu
- wa taala senantiasa membimbing kita
- untuk senantiasa berkata baik ya,
- berkata khair gitu kan dan menjaga kita
- dari berkata-kata yang tidak jelas,
- tidak tahu manfaatnya. Demikian
- wasallallahu ala nabiina Muhammadin
- walhamdulillahi rabbil alamin.
- Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khair khair.
- Wum. Jazakum khair.
- Demikian ikhwan aat Ibu Arsi di Sukabumi
- juga terima kasih kepada seluruh
- pendengar silaturahim. Terima kasih
- sudah mendengarkan tausiah sore bersama
- Ustaz Ahmad Saleh. Kami ucapkan banyak
- terima kasih. Insyaallah setelah magrib
- di Radio Silaturahim dan sekitarnya akan
- mengadakan
- Maulid Nabi dan tahlilan untuk almarhum
- Bapak Fikri Thalib.
- Oh iya.
- Disiarkan juga melalui YouTube, Ustaz.
- Insyaallah.
- Oh iya iya. Alhamdulillah. Semoga e
- pendengar yang dari jauh bisa melihatnya
- lewat YouTube. Terima kasih atas segala
- perhatiannya dan doanya untuk keluarga
- saya Fauzi Riyadul Haq Mohon diri serta
- Neza dan juga Yusuf Subangkit.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.