Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Ikhwan dan akhwat
- yang dirahmati Allah subhanahu wa taala
- yang dapat meraih kami baik itu lewat
- radio maupun streaming via Rasil TV.
- Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah ikhwan dan akhwat, kami
- hadir lagi di ruang dengar Ikhwan dan
- Akhwat setiap hari Jumat fikih wanita
- bersama guru kita Ustazah Herlini Amran.
- Kami akan sapa terlebih dahulu guru kita
- yang berada di seberang sana.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustazah. Apa kabar?
- Alhamdulillah. Mudah-mudahan Mbak Olin
- dan semua pendengar ya, Tru Rasil juga
- sehat insyaallah. Oh, masyaallah.
- Alhamdulillah kita diberi kesempatan
- lagi untuk belajar bersama dan mengikuti
- kajian ustazah ya, Ustazah. Dan kurang
- lebih 90 menit ke depan tema yang akan
- diangkat ustazah relate sekali dengan
- akhir tahun yang akan kita sambut akhir
- tahun Masehi ya, yaitu ee muhasabah
- diri. Tafadul Ustazah ya. Akah mbak
- olin.
- Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah.
- Alhamdulillahilladzi alafa baina
- qulubina faasbahna binikmati
- ikhwana. Ya rabbana lakal hamdu bil
- iman. Ya rabbana lakal hamdu bil islam.
- Ya rabbana lakal hamdu bil quran. Lakal
- hamdu bil ahli wal mua.
- anta allahumma shi wasallim wabarik ala
- sayidina muhammadin waa alihi wa asabi
- ajma w allahum inna nasaluka ridal
- jannah naubika minatikaar amin ya rabbal
- alamin tidak terasa ya hari demi
- hari semakin terus ya usia bertambah
- pekan ah bulan bulan, tahun dan sekarang
- sudah berada di penghujung tahun.
- Sepertinya setiap akhir tahun selalu ya
- tema yang dibahas itu tentang muhasabah
- ya. Inilah perjalanan hidup kita di
- dunia
- ini. Waktu itu bergerak terus maju tanpa
- terasa sampailah nantinya kita di usia
- yang mungkin sudah tua ya, mungkin saat
- sebentar lagi akan ee menemui pencipta
- kita ya. Artinya tahun terus berlalu.
- Nah, muhasabah juga terus berjalan.
- Muhasabah ini tidak harus kita lakukan
- setahun sekali ya. Bahkan bisa jadi
- setiap hari. Sebagai sebagaimana Umar
- bin Khattab yang ee menyebutkan ya
- hasibu
- anfusakumbu. Hisab dirimu, evaluasi
- dirimu
- eh sebelum kamu dihisab. Nanti di yaumil
- akhir itu dalam surat Alanbiya ayat 1
- ya.
- telah dekat kepada manusia hari
- menghisab segala amalan mereka sedang
- mereka berada dalam kelalaian lagi
- berpaling daripadanya. Masyaallah. Jadi
- artinya memang Allah memerintahkan kita
- itu untuk ee menghisab diri ya.
- Hisabuhum. Hisab itu kan bukan hisab
- menghisab hasab ya, tapi hisab itu
- artinya dari akar kata hasiba yah sabu
- hisab ya. Kalau secara etimologinya
- secara artinya itu melakukan
- perhitungan, menghisab atau menghitung
- ya. Kemudian yang namanya muhasabah itu
- artinya menilai diri sendiri atau
- mengevaluasi atau intropeksi diri. Itu
- yang namanya menghisab. ee kira-kira
- pendengar atau kita semua itu kalau
- evaluasi yang selama ini dilakukan tuh
- terhadap apa ya? Penghasilanah. Mbak
- Olin dengar kita enggak? Dengar saya
- enggak, Mbak Olin? Enggak. Engar.
- Alhamdulillah ya. Selama ini yang kita
- evaluasi itu paling penghasilan gitu ya
- ee setiap tahun kemudian dihitung-hitung
- income-nya berapa, yang dizakati berapa
- gitu ya atau mungkin bulanan atau
- mungkin setiap pengeluaran harian pun
- dicatat. Nah, sehingga kita akan tahu
- ini apakah tekor atau apakah rugi ee
- runtuh dan segala macam. Nah, ini yang
- terkait hanya satu bagian saja terkait
- masalah ekonomi. Tapi yang diperintahkan
- oleh Allah karena memang menghisab diri
- ini ee perintah dari Allah. Jadi ee
- urgensi atau pentingnya muasabah ini
- karena memang Allah perintahkan kita
- dalam surat Al-Hasyr ayat 18 yang selalu
- kita dengarkan ayat ini di akhir tahun
- ya. Ya ayyuhalladina amanu
- ittaqulah
- maqulah
- inallahirun. Ini perintah kepada orang
- yang beriman itu bertakwalah kepada
- Allah dan hendaklah setiap diri
- memperhatikan apa yang telah
- diperbuatnya untuk hari esok. Hari esok
- itu adalah hari akhirat. Bertakwalah
- kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha
- mengetahui apa yang kamu kerjakan. Jadi
- menghisab diri, mengevaluasi diri ini
- adalah perintah Allah. Karena memang
- kita tidak selamanya di dunia ini. Di
- dunia ini hanya membawa bekal untuk
- nanti dibawa ke akhirat nanti kemudian
- Allah buat perhitungannya. Makanya kita
- ee kalau melihat hadis Rasulullah itu
- ya, manusia itu kan dalam tiga golongan
- tuh. Ada satu golongan yang beruntung.
- golongan yang beruntung tuh jika hari
- ini lebih baik dari hari kemarin ya.
- Yang kedua, golongan merugi jika hari
- ini sama dengan hari kemarin. Yang
- ketiga, golongan yang celaka jika hari
- ini lebih buruk daripada hari kemarin.
- Nah, jadi artinya kita berharap
- mudah-mudahan kita bisa menjadikan hari
- demi hari yang kita lewati ini
- mudah-mudahan lebih baik dari yang
- kemarin menjadi awal menuju perbaikan
- diri insyaallah. Itu pun kalau
- dievaluasi. Jadi kalau enggak dievaluasi
- kan kita enggak tahu ya apakah kita ini
- ee melakukan perbuatan dosa atau
- tidaknya karena suka melupakan ya
- lupakanlah masa lalu. Nah, itu kan yang
- menjadi permasalahan kita ya. Nah,
- inilah ee pembahasan bagaimana muhasabah
- diri ini adalah perintah dari Allah.
- Allahlah yang memerintahkan
- hamba-hambanya untuk memperhatikan apa
- yang telah dia bawa, dia buat untuk
- bekal di hari akhir. Nah, jadi kalau ee
- Ibnu Katsir ya dalam tafsirnya itu
- menjelaskan ya maksud ayat eh watanur
- nafsu maqod itu artinya hitunglah diri
- kalian, evaluasilah diri kalian,
- perhatikan apa yang telah kalian buat ee
- sebelum nanti dihitung nanti oleh Allah
- nanti ee lihat apakah amalan yang
- dilakukan itu adalah amal saleh atau
- amal salah gitu ya. Jadi karena apa?
- Karena semua manusia itu akan ditanya
- tentang nikmat yang telah dia diberikan
- Allah. Nikmat makan, minum, ya harta
- benda, rumah, kendaraan, pakaian, semua
- apapun yang dia peroleh itu juga akan
- ditanya.
- Tummausalunna yaumaidin naim. Kemudian
- kamu pasti akan ditanya pada hari itu
- tentang kenikmatan di dunia ini. Jadi,
- masyaallah ya sampai ee Rasulullah itu
- menjelaskan ya sampai sesuap makanan
- yang enak gitu ya, duren itu juga akan
- ditanya nanti itu. Jadi semua apa yang
- kita peroleh kenikmatan yang Allah
- berikan kepada kita itu akan ditanyakan,
- akan diminta
- pertanggungjawaban. Jadi karena memang
- setiap manusia itu nanti akan mendapat
- apa yang dia kerjakan. Karena memang
- kita hidup sementara kan di dunia.
- Karena memang kita tuh nanti ujungnya
- itu kan ee akhirat itu kan surga ya atau
- neraka itu kan tempat terakhir
- perjalanan hidup kita yang abadi itu
- nanti. Jadi kalau kita lihat orang yang
- meninggal itu bukan awal dari ee ee dari
- apa akhir dari kehidupan. Enggak. Orang
- yang meninggal itu adalah awal dari
- perjalanan yang abadi. Apakah baik atau
- tidaknya tergantung ketika dia hidup di
- dunia. Jadi, oleh karena itulah setiap
- manusia itu akan mendapati apa yang dia
- kerjakan di dunia nanti akan dia
- dapatkan balasan di akhirat. Karena
- tidak ada satuun perbuatan ee
- hamba-hamba Allah, manusia itu di dunia
- kecuali pasti ada pengawas yang menulis,
- yang menghitungnya. Ya,
- yalfidin tidak ada satuun ucapan yang
- keluar kalimat apapun, gerakan apun itu
- selalu tercatat ya. Jadi memang
- masa-masa kita di dunia ini adalah
- masa-masa ee ujian ya. Bekal apa yang
- kita bawa nanti akan dihisab. Karena
- nanti tempat pemberhentian terakhir kita
- yang abadi itu nanti adalah di akhirat.
- Wa inna alaikum lahafidin kiroman
- katibin yalamuna ma
- taf'alun. Bahwa eh di kita ini ada
- malaikat-malaikat yang mengawasi kita,
- mengawasi pekerjaan kita, gerak kita,
- perkataan kita, apapun. Nah, malaikat
- yang mulia di sisi Allah itu mencatatnya
- dan mereka mengetahui apa yang kita
- kerjakan, Ya Allah. Jadi, walaupun kita
- lihat enggak ada orang, tapi ada
- malaikat Allah yang mengawasi setiap
- saat. Nanti di hari kiamat ee setiap
- orang itu akan melihat rekaman dari
- perbuatannya selama di dunia. Ya, jadi
- tidak ada satu yang satu pun enggak ada
- yang bisa mengelak semuanya tercatat
- dengan rapi. Makanya penghisapan itu
- jauh apa cukup panjang ya, lama ya
- 50.000 rib tahun lamanya. Sejak kita
- baligh sampai kita meninggal, semua
- amal-amal kita itu rapi. Semua amal-amal
- kita itu tercatat dan sangat tersistem,
- teratur dan tidak ada yang terluput ya.
- Karena memang Allah dengan kekuasaannya
- itu telah mengatur alam ini. Kita lihat
- bagaimana rapihnya ya. Apalagi yang
- membahas tentang kita. Kita ini direkap
- ee amalan kita itu ya bisa bersifat
- harian, bisa bersifat pekanan atau
- tahunan. harian itu kan malaikat
- syif-sifan itu yang subuh dan asar itu
- kan mencatat tuh malaikat subuh semua
- gerak-gerik kita direkam dicatat
- semuanya tidak ada yang luput nanti yang
- magrib sampai subuh lagi itu tiap hari
- itu ada kemudian pekan Senin dan Kamis
- juga tuh ya jadi berlapis-lapis itu ya
- ee laporan-laporan amal kita selama di
- dunia nanti kalau yang ee Senin Kamis
- itu kan pekan tahunan itu Nisfu Syakban
- nanti sebentar lagi ya. Nah, itu semua
- akan mencatat apapun yang kita lakukan
- selama di dunia ini. Nah, nanti di hari
- kiamat nanti akan
- diungkap umtinahum.
- Jadi pada hari itu kamu lihat tiap-tiap
- umat itu berlutut. Tiap-tiap umat
- dipanggil untuk melihat buku catatan
- amalnya. Pada hari itu kamu diberi
- balasan terhadap apa yang telah kamu
- kerjakan. Kemudian Allah berfirman,
- "Inilah kitab catatan ya rekap apa yang
- kamu lakukan di dunia. Kami yang
- menuturkan terhadapmu dengan kebenaran.
- Sesungguhnya kami telah menyuruh
- mencatat apa yang telah kamu kerjakan."
- Nah, adapun orang yang beriman
- yain. Adapun orang-orang yang beriman
- mengerjakan amal-amal yang saleh, Allah
- memasukkan mereka ke dalam surganya.
- Itulah kesuksesan yang nyata,
- keberuntungan yang luar biasa.
- Masyaallah. Jadi, apa yang kita lakukan
- saat ini nanti akan kita tuai nanti di
- akhirat. Nah, inilah pentingnya yang
- namanya mengevaluasi diri atau menghisab
- karena kita akan ditanya terhadap apa
- yang kita lakukan. Ya, mungkin kita dulu
- lupa ya karena manusia itu kan ini
- misisian suka lupa ya. Kalau dievaluasi
- dulu betapa banyak ya mungkin dosa kita
- dengan orang tua ya yang banyak ya dulu
- ketika bal ya begitulah artinya. Apakah
- kita tidak mengevaluasi hubungan kita?
- Nanti kita bahas ya. apa sih yang
- seperti apa sih nanti mengevaluasi,
- menghisab atau
- me atau apa ya menghisab, mengevaluasi
- atau menghitung amal itu seperti apa.
- Kita akan bahas nanti insyaallah. Jadi
- yang penting sekarang ini pembahasan
- kita memunculkan kesadaran bahwa
- mengevaluasi diri itu, mengintropeksi
- diri itu, menghisab diri itu adalah
- perintah Allah kepada hamba-hambanya.
- Jadi Allahlah yang memerintahkan
- hambanya untuk mengevaluasi diri agar
- bisa membawa bekalan di akhir. Karena
- nanti pada hari kiamat orang-orang kafir
- dan ahli maksiat itu akan lemas, akan
- menyesal, menyesali perbuatannya selama
- di dunia. Mereka tentu dalam keadaan
- hina dan ketakutan. Ya, itu masyaallah
- ya. Kalau kita lihat Al-Qur'an itu kan
- semuanya tuh ee apa
- namanya? Memuat apa yang akan terjadi
- nanti ya.
- kitab
- ah. Dan diletakkanlah kitab ya, lalu
- kamu akan melihat orang-orang yang
- bersalah. Jadi hasil ee apa yang kita
- lakukan di dunia itu ya laporan-laporan
- dari perkataan perbuatan perilaku kita
- selama di dunia itu itu kitab catatan
- evaluasi itu itu diletakkan kemudian ee
- kamu akan melihat orang-orang yang
- mujrim, orang-orang yang berdosa,
- orang-orang yang bersalah yang melakukan
- perbuatan ee pelanggaran terhadap
- syariah, ketakutan terhadap apa yang
- tertulis di dalam buku rapor itu ya buku
- laporan itu. buku dalam kitab itu. Dan
- mereka berkata, "Ya
- laitana, aduhai celakalah kami. Kitab
- apa ini? Ini yang tidak meninggalkan
- yang kecil dan tidak pula yang besar.
- Semuanya ada dari
- ucapan-ucapan kedengkiannya, ucapan
- fitnahnya itu semuanya ada. tidak
- meninggalkan yang kecil dan tidak pula
- yang besar melainkan semua ada di situ
- dan mereka dapati apa yang telah mereka
- kerjakan tertulis dan Allah tidak
- menzalimi, tidak menganiaya seorang pun.
- Ya Allah. Jadi enggak ada yang bisa ya
- kita aja kan kadang-kadang dalam
- mengevaluasi misalnya kalau kita punya
- sekolahan misalnya kan ada evaluasi
- tahunan ya rapat guru-guru ada aja yang
- terlewatkan ya tapi Allah dengan maha
- kuasa, maha mulia maha agungnya itu
- dengan malaikat dengan masyaallah tu
- enggak ada yang tertinggal sedikit pun.
- Jadi kalau kita lihat misalnya kalau
- CCTV itu kan bergerak ini cip lah
- mungkin masuk cip dalam tubuh kita itu
- nanti itu itu semuanya aja ada ya. Nah,
- kalau kita tahu ada pengintai pada diri
- kita pasti ngomongnya enggak ini ya kan
- itu ee sudah ada teknologi itu kan
- sekarang sudah canggih ya Mbak ya chips
- itu ya kalau orang Yahudi itu kan pernah
- masukin ke dalam giginya para apa
- mujahidin tuh ya sampai ketika dia
- berobat ee ke dokter gigi dimasukin cip
- dalam gigi tuh ditambal itu ya terus kok
- bocor aja rahasianya ternyata memang
- dipasangin cip itu sedemikian candi
- canggihnya sampai begitu tuh ditaruh di
- apa namanya kecil kecil tapi bisa
- merekap semua apa ee apa yang dilakukan.
- Apalagi Allah penguasa alam semesta itu
- tentu lebih sempurna lagi ya, lebih baik
- lebih masyaallah itu tidak akan pernah
- ee
- terabaikan ya, tidak ada yang
- tertinggal. Nah, ini pentingnya kita
- muhasabah ya. Nah, ini yang pertama
- karena memang perintah Allah. Muhasabah
- itu memang perintah Allah kepada
- hamba-hambanya. Karena hitabnya itu ya
- ayyuhalladzina amanu ya. Yang kedua,
- muhasabah ini, evaluasi dan introseksi
- diri ini adalah merupakan sifat hamba
- Allah yang bertakwa. Jadi kalau seorang
- hamba yang bertakwa pastilah dia itu
- ingin membawa bekalan yang terbaik dalam
- perjalanan panjang menuju Allah. Tentu
- dia akan membawa bekal-bekal yang tidak
- akan pernah bosan, tidak akan pernah
- lelah dia mengumpulkannya. tentu dia
- tidak ingin tergelincir dan jatuh ke
- dalam lembah kemaksiatan. Dia tentu akan
- terus mengintropeksi dirinya,
- memuhasabahi dirinya agar perjalanan ini
- sukses dengan bekalan-bekalan yang ada
- ya. Apalagi nih akhir tahun kan kalau
- yang mau liburan tuh kan padahal cuman
- liburan akhir tahun 2 hari aja di vila
- atau di mana gitu Mbak ya. di atau yang
- umrah yang ke mana yang ke manah gitu ya
- hanya berapa hari sih ee safarnya. Tapi
- coba bekalnya tuh disiapkan dengan
- sedemikian rupa. Khawatir ee ada yang
- tidak terbawa. Dicatat tuh jangan lupa
- bahwa ini persiapan bekal diri ini
- selama 2 hari gitu ya. Itu perjalanan 2
- hari. Bagaimana dengan perjalanan kita
- menuju ke tempat yang abadi akhirat?
- Tentu kita ingin bekal kita itu tidak
- ada yang sedikit pun yang terlupa. Ya,
- maka di sini pentingnya muhasabah. Dan
- muhasabah itu adalah ee sifat hamba
- Allah yang bertakwa. Ya. Eh, ada seorang
- sahabat Maimun itu mengatakan, "La
- yakunul
- abduqiantaakfsih asadu muhasabatan." Ya,
- tidaklah seorang hamba menjadi bertakwa
- sampai dia melakukan muhasabah atas
- dirinya lebih keras lagi. Asyaddu
- muhasabatan minasari. Ya, jadi dia lebih
- detail ya, lebih ee mawas diri, lebih
- berusaha sekeras mungkin itu untuk
- muhasabah dirinya itu lebih daripada
- orang ya temannya yang pelit, yang suka
- perhitungan dengan temannya. Kalau orang
- yang pelit kan gitu ya.
- mungkin dipinjaman temannya, ditagih
- terus pokoknya terus saja ya dihitung,
- dicatat apalah gitu ya. Itu lebih
- mestinya seorang hamba itu jauh lebih ee
- melakukan muhasabah dibandingkan
- orang-orang yang suka menghitung-hitung
- itu ya yang pelit, yang bahil ya ee
- terhadap saudaranya. Nah, itu jugalah ee
- kita lihat Rasulullah ee banyak ya dalam
- beberapa riwayat itu ee orang yang
- pandai, orang yang pandai adalah orang
- yang mengevaluasi, yang menghisab
- dirinya ya dan dia beramal untuk
- kehidupan sesudah kematian. Itu orang
- yang pandai. Sedangkan orang yang lemah
- itu orang yang mengikuti hawa nafsu
- serta berangan-angan terhadap Allah.
- Jadi memang ee sifat hamba Allah yang
- bertakwa itu adalah mereka sudah
- siap-siap ya mempersiapkan
- bekalnya. Nah, itu yang kedua ya. Ee
- kenapa kita harus muhasabah diri?
- Pertama karena memang Allah perintahkan
- kita untuk mengevaluasi diri kita, ya,
- menghisab diri kita. Yang kedua memang
- sifat orang yang bertakwa memang selalu
- mawas, selalu dia berusaha untuk
- memperbaiki dirinya. Ketika banyak dosa
- dan salah, dia akan berusaha untuk
- memperbaikinya. dia tidak ingin nanti
- akan dihisab oleh Allah di yaumil akhir.
- Nah,
- ketiga, buah dari muhasabah ini adalah
- taubat, ya. Jadi, ketika seseorang
- melakukan muhasabah, maka akan nampak
- jelas di hadapannya dosa-dosa yang
- dilakukannya. Kalau kita muhasabah tuh
- begitu kan kadang-kadang suka secara
- tidak sadar kita muhasabah ya, Mbak ya.
- Misalnya habis kita ngomong dengan suami
- apa lagi bertengkar gitu ya. Terus
- kemudian setelah kita apa pergi terus
- kita kan suka kita memikir ulang itu
- namanya muhasabah. Tadi ngomong apa saya
- kok ngomongnya gitu ya kayaknya ada rasa
- rasa apa gitu ya rasa kayaknya enggak
- enak kayaknya nih udah terlalu. Nah itu
- yang kayaknya dosa. Nah ee alhaq itu
- artinya dosa itu adalah maha kafi nafs
- ada rasa enggak enak di hati kayaknya
- gimana kan yang tadi salah ya kayak gitu
- tuh. Itu kan namanya muhasabah. Nah,
- orang yang muhasabah ini ketika dia
- merasa berdosa, dia langsung ee bertobat
- ya atau minta maaf. Atau mungkin anak
- kepada orang tua ya, anak yang dengan
- kata-kata keras, mata melotot, lebih
- tinggi nadanya ketika dia tidak setuju
- dengan orang tuanya. Itu anak itu ketika
- dia udah udah mungkin pergi atau apa dia
- merenung kan suka-suka ada yang begitu
- ya. Terus dia merasa, "Ya Allah, tadi
- kok aku begitu ya." Nanti dia kalau
- memang dia ee berhasil muhasabahnya, dia
- akan bertobat. Dia akan datang lagi ke
- orang tuanya. Maafkan ya aku tadi
- berkata-kata. Nah, kayak begitu. Tu kan
- muhasabah. Jadi ketika seseorang
- melakukan muhasabah itu dia melihat
- dosa-dosanya maka dia akan bertobat. Itu
- buah dari muhasabah. Nah, bagaimana
- mungkin seorang anak cucu Adam dapat
- melihat dosa dan aibnya tanpa melakukan
- muhasabah? Enggak mungkinlah dia.
- Apalagi yang punya prinsip, "Ah, udahlah
- lewat, udah jangan pikirin." Enggak
- begitu. Udahlah masa lalu udah enggak
- usah, enggak usah diingat-ingat lagi.
- Betul, masa lalu tidak diingat-ingat
- lagi. Tapi kalau masa lalunya penuh
- dengan dosa, maksiat, apa enggak
- diingat-ingat lagi? Justru ini bahan
- untuk
- tbat di masa yang akan datang. Nanti
- kalau kita khawatirnya kalau tidak
- melakukan muhasabah, nanti Allah akan
- berikan kita nikmat. Tapi jadi istidraj.
- Dibiarkan dulu. dia ber akhirnya nanti
- baru disiksa ya. Nauzubillah minzalik.
- Jadi muasabah ini mengantarkan kita
- kepada taubat ya artinya diawali dengan
- penyesalan. Makanya annadamatu taubah
- menyesal itu adalah tobat ya. Jadi
- nyesal ya Allah tadi kok atau kita lagi
- ngomong sama teman terus tiba-tiba
- ngomong kita nyeplos gitu ya teman
- langsung wajahnya berubah terus kita
- kayaknya oh iya benar juga nih bahasanya
- kasar banget ya. Nah kayak gitu ya. Nah
- kemudian kita ee minta maaf ya. Jadi
- memang ee buah dari muhasabah ini adalah
- dengan bertobat. Dengan melakukan
- muhasabah ini kita bisa menilai diri
- kita apakah diri kita ini banyak berbuat
- baik atau banyak berbuat salah dalam
- kehidupan sehari-hari. Ya, tentu kita ee
- ingin ya melakukan penilaian itu ya
- tentu saja berdasarkan Al-Qur'an dan
- sunah ya, bukan berdasarkan keinginan
- kita sendiri ya. Jadi ee inilah
- pentingnya muhasabah itu ya. Karena kita
- ee nanti berhadapan dengan Allah, Mbak
- ini perjalanan hidup kita ini sebenarnya
- masih panjang loh ya. Panjang ini kan
- kita di dunia ini kan enggak tahu
- kayaknya sebentar amat. Sebentar dunia
- ini kayaknya sebentar deh. Kemarin kita
- baru aja kita perasaan baru nikah. Eh,
- sekarang anak kita sudah gede sudah
- nikah lagi gitu ya. Perasaan dulu orang
- tua kita masih nganterin ke sekolah eh
- sekarang orang tua kita sudah enggak
- ada, kita sudah jadi orang tua. Waktu
- itu cepat berlalu. Ya, perasaan dulu.
- Nah, banyak perasaan dulu cepat sekali
- berlalu, ya.
- Maka kita tahu ketika kita ee memahami
- waktu berlalu nanti kan kita dipisahkan
- oleh ee saudara-saudara kita anak
- keluarga yang tercinta dengan kematian
- ya. Ya. Jadi kalau sudah saatnya nanti
- saya, Mbak Olin atau kita mungkin sudah
- tua ya, Mbak ya. Entahlah namanya ajal
- kita enggak tahu ya. Itu kan hakatif
- Allah kapan diambilnya itu ya kita
- siap-siap ya. Kemudian kan kita
- dipisahkan masuk ke alam barzakh. Di
- alam barzakh itu kan penantiannya itu
- lebih lama dari alam dunia tuh ya.
- Menunggu dunia sampai kiamat. Ya Allah
- nanti udah kiamat dunia itu ya yang
- ditiupkan sangkakala dua dua kali di apa
- dibangkitkan kembali. itu kan nanti
- format ee kehidupan tuh enggak di
- seperti di bumi. Sejauh mata memandang
- tuh manusia dikumpulkan semuanya sejak
- dari ee awal sejak Nabi Adam sampai yang
- manusia terakhir miliaran itu
- bersiap-siap
- menghadapi ee evaluasi hisab Allah itu
- namanya dinamakan ya padang mahsyar ya
- mahsyar itu mempertanggungjawabkan
- seluruh amalnya. Ya Allah, perasaan
- kalau lagi di situ tuh enggak ingat
- anak, enggak ingat siapapun. Ya, yaul
- maru min akhi wa ummihi wa abi. Pokoknya
- pisah-pisah. Bahkan ada orang yang
- semuanya tuh pengin dia tuh selamat.
- Biarin dia anaknya jadi korban suaminya,
- ibu, orang tuanya biarin. Yang penting
- saya selamat. Karena ini masa-masa detik
- sangat menyeramkan ya. Sejengkal
- matahari di atas kepala. Ya Allah, itu
- detik-detik yang sangat aduh itu kita
- bisa bayangkan ya, bagaimana kita diri
- kita ini diperhitungkan amal kita ini
- wah masa-masa yang dahsyat ya huruhara
- kiamat itu dahsyat banget. Itu untuk
- menentukan di mana posisi kita nanti di
- akhirnya karena ini akati itu adalah
- awal dari kehidupan ya. Apakah
- kehidupannya itu baik atau tidaknya? Itu
- kan di Padang Mahsyar itu ya setelah
- kematian nanti kiamat di Padang Mahsyar
- itu kita belum lagi ketemu tuh dengan
- belum kumpul tuh masih menghujat itu
- antara keluarga ya. Artinya ya nanti
- masih masing-masing ingin selamat ya
- ingin selamat. Nah
- nanti ketika ee di hari kiamat itu
- waulluhum wauhum atihi yaumalqiamah
- fardan. Dan tiap-tiap mereka itu akan
- datang kepada Allah pada hari kiamat
- dengan
- sendiri-sendiri. Jadi pentingnya kita
- muhasabah ini karena nanti di hari akhir
- nanti kita akan datang menghadap Allah
- tuh sendiri-sendiri untuk
- mempertanggungjawabkan segala amal
- perbuatan kita. Kita enggak bisa lagi
- menyadar kepada orang lain, "Saya kan
- begini karena diajak. Saya kan begini
- karena begitu. Saya kan enggak bisa." Ya
- Allah akan meminta pertanggungjawaban
- kita karena kita diberikan akal ya.
- Karena sejak Balih tuh ya. Jadi bukan
- saya kan enggak berhijab nih kan karena
- suami saya nyuruh saya buka. Jadi kata
- suami saya, "Kamu buka aja nanti dosa
- aku yang menanggung." Mana bisa. Begitu.
- Jadi artinya di sini e muhasabah kita ya
- jangan sampai nauzubillah minzalik ee
- karena ketidaktahuan atau mungkin tidak
- punya ilmu ya. Akhirnya kita ee
- mengikuti hal-hal yang akan
- menjerumuskan kita ke dalam api neraka
- ya. Jadi kita akan bertanggung jawab
- terhadap diri kita. Maka sesuatu hal
- yang memang pelanggaran terhadap syariah
- kita hindari.
- Nah, Sofyan Asauri itu pernah
- mengatakan, "Jika kamu bertemu dengan
- Allah dengan membawa 70 dosa yang hanya
- terkait hubungan antara dirimu dengan
- Allah, dosa itu lebih ringan
- dibandingkan dengan sebuah dosa yang
- berkaitan antara dirimu dengan orang
- lain." Wah,
- ternyata dosa yang berat itu yang
- kaitannya dengan orang lain. Kalau orang
- lain itu belum memaafkan, dosanya belum
- diampuni. Tapi kalau dosa terhadap
- Allah, Allah maha pengampun. Innallaha
- gfurur rahim. Ya, Allah tuh maha
- pengampun. Nah, itulah sebabnya kita
- perlu muhasabah di sini. Nah, aspek apa
- saja yang kita perlu muhasabah, yang
- perlu kita
- evaluasi? Wama khalaqtul jinna wal insa
- illa liya'budun. Kita ini kan diciptakan
- Allah kan untuk ee menyembah Allah ya.
- Kita diciptakan Allah. Jin dan manusia
- itu menyembah Allah. Nah, berdasarkan
- ayat ini maka yang harus dimuhasabahi
- oleh kita semua itu aspek dalam aspek
- kehidupan kita itu adalah yang terkait
- dengan ubudiah. Ubudiah ibadah ya yang
- berhubungan dengan Allah ya nanti ee
- dengan ee hubungan dengan manusia juga
- ya yang mengandung nilai ibadah juga.
- Nah, jadi aspek ibadah dia taabudi ya
- yang pertama kali yang kita evaluasi
- adalah ee tujuan penciptaan kita di
- dunia ini adalah menyembah Allah.
- Artinya apa? Tugas dan pekerjaan utama
- manusia dalam menjalani kehidupannya ini
- adalah ibadah. Jadi, ibadah itu apa
- saja? Ibadah tuh yang mencakup ibadah
- wajib dan ibadah yang sunah. Ibadah
- wajib apa? Misalnya ibadah wajib itu
- adalah ibadah yang harus dikerjakan oleh
- setiap muslim. Ibadah yang terdapat
- dalam rukun Islam tu ya. Salat, puasa,
- zakat, haji. Bahkan salat
- itu amalan yang pertama yang dihisab
- oleh Allah pada hari kiamat. Awalabul
- abdu yaumamah itu ya kalau salatnya
- baik, seluruhnya amalan juga baik. Kalau
- cacat, maka amalnya juga akan e cacat
- ya. Maka dia akan merugi, ya. menyesal
- dia. Nah, jadi kaitannya dengan
- muhasabah ini setiap kita ee
- mudah-mudahan mampu ya meningkatkan amal
- ibadah fardunya ya. Maksudnya
- mengevaluasi selama ini niatnya gimana,
- tata caranya, pelaksanaannya,
- penghayatannya. Apakah salat kita ini
- berdampak kepada kehidupan kita atau
- tidak gitu ya. Apakah salat
- malas-malasan? Ya, ini yang perlu
- dievaluasi. Apakah salatnya on time,
- berusaha tepat waktu, yang seperti itu
- ya. tidak hanya diri kita. Nah, apalagi
- kepala keluarga dalam sebuah rumah
- tangga ya, karena qawam pemimpin dia
- akan diminta pertanggungjawaban di
- hadapan Allah. Bagaimana dengan salat
- anak dan istrinya? Ya, karena ini
- menjadi ee pertanggungjawaban karena
- seorang pemimpin itu akan diminta
- pertanggungjawaban di hadapan Allah.
- Kenapa anaknya sampai enggak salat?
- Kenapa istrinya meninggalkan salat? Ya,
- jadi ini memang
- ee apa namanya? ee muhasabah kita ya ee
- dalam keluarga ya. Tidak hanya untuk
- diri kita terkait dengan salat tapi juga
- untuk keluarga kita. Ku anfusakum
- waahlikum naro itu ditujukan kepada si
- bapak pemimpin dalam rumah tangga ya.
- Lindungilah dirimu dan keluargamu dari
- api neraka ya. Jadi memang ee ini bagian
- dari aspek yang harus kita perhatikan
- untuk dimuhasabahi. Jadi ibadah-ibadah
- wajib dulu deh ya. Ya Allah, ini
- tantangan juga buat ee Ibu juga ya ee
- sebagai orang tua ya, bagi anak-anak,
- sebagai pendidik utama ya. Jadi Bapak
- dan Ibu tuh mestinya saling bekerja sama
- ya dalam memperhatikan aspek ubudiah
- keluarganya ya. Ini kan kita enggak mau
- dong terpisah dengan keluarga kita nanti
- di yaumil akhir ya. Berpencar-pencar,
- berpisah-pisah, bercerai-berai ada
- anaknya di neraka tingkat berapa gitu
- ya. Terus kemudian, "Ya Allah, kita
- enggak mau itu. Kita maunya berkumpul di
- dunia sehidup sesurga." Ya, kita
- inginnya begitu. Maka yang pertama kali
- yang dievaluasi adalah salat. Nah, itu
- aspek ta'budi ya. Itu yang wajib. Nah,
- kemudian ibadah sunah juga. Ibadah sunah
- yang tidak kalah pentingnya dengan
- ibadah fardu ini karena ibadah sunah ini
- penyempurna ya. Nah, jadi bahkan ulama
- mengatakan bahwa salah satu indikasi
- kesempurnaan iman seorang mukmin itu
- adalah kelanggengannya dalam
- melaksanakan ibadah sunah. Ya, jadi
- Rasulullah sendiri memberikan porsi
- dalam aspek ini sangat besar ya. Kita
- lihat bagaimana perhatian ee bagaimana
- misalnya Ibunda Aisyah radhiallahu anha
- memperhatikan salat ee Rasulullah ya,
- salat malamnya ya itu sampai bengkak
- kaki Nabi. Masyaallah. Sampai ibunda
- Aisyah itu bertanya, "Ya, ya Rasulullah,
- engkau sudah diampuni dosamu yang lalu,
- yang akan datang kok masih salat itu
- masih bengkak gitu. Kaki itu kok masih
- masih lama salatnya." Nah, ini ya konsep
- rasa syukur yang dilakukan oleh
- Rasulullah untuk contoh bagi umatnya.
- Afala akuna abdan syakur. Tidakkah
- pantas aku menjadi hamba Allah yang
- bersyukur karena aku telah diampuni dosa
- kita. Ya
- Allah, udah jarang-jarang sunahnya,
- enggak ki mulai lagi. Ya Allah, ini
- evaluasi buat kita semua ya. Kemudian
- juga mengevaluasi ee puasa sunah,
- zikrullah, tilawah Al-Qur'an, infak,
- sodqah, ya. Dan semua aspek-aspek ibadah
- yang Rasulullah dan para sahabat ee
- sangat memperhatikannya ya. Itu masalah
- ibadah, ya. Jadi paling tidak untuk kita
- kita sendiri ya masalah ibadah nih coba
- dipahami bacaan salatnya. Berusaha untuk
- lebih khusyuk lagi gitu ya.
- Mudah-mudahan dalam aspek ibadah wajib
- ini ee kita tidak tekor ya.
- Mudah-mudahan ee ya mudah berusaha terus
- ya. Karena memang kita dengan setan tuh
- saling ini ya. Setan tuh kita luar
- biasa. Setan tuh sumpahnya tuh aku akan
- goda manusia sampai kapanpun gitu ya.
- sampai dia mati gitu ya dari depan
- belakang kiri kanan bahkan sampai mau
- meninggal saja itu setan tuh tidak lepas
- untuk menggodanya supaya meninggalnya
- dalam keadaan suul khatimah itu setan
- itu. Nauzubillah ya Allah godaannya itu
- luar biasa ya. Jadi ee itu yang pertama
- ya dalam aspek e taabudi ya
- ibadah-ibadah ya terutama tentu ee yang
- menjadi kewajiban kita.
- Kemudian evaluasi atau aspek yang perlu
- kita muhasabahi itu adalah ee janib
- amali ee jadi ee pekerjaan ya taksibi
- atau perolehan rezeki ya artinya ee
- sumber ee sumber rezeki kita itu sudah
- fix halal atau bagaimana ya karena tidak
- akan bergerak tapak kaki anak Adam pada
- hari kiamat itu dia itu pasti akan
- ditanya tentang lima hal ya, umurnya
- untuk apa dihabiskan ni. Usia-usia kita
- ini tuh habis untuk apa ya, masa
- mudanya ke mana dipergunakan untuk apa?
- Hartanya di mana dia memperolehnya dan
- ke mana dia dibelanjakan. Terus ilmunya
- sejauh mana dia amalkan. Jadi memang
- intinya ya dalam kehidupan kita selain
- tadi taabudi itu semuanya akan dihisab
- ya. pekerjaan, sumber penghasilan itu ee
- apakah wah pokoknya luar biasa deh ya
- Allah. Jangan sampai kita memakan makan
- yang haram ya. Lukmah wah hidayah
- kuluhanas sesuap yang kita makan aja itu
- sudah mampu ee menolak amal kita 40
- hari. Bagaimana kalau bersuap-suap
- bertahun-tahun? Ya Allah
- astagfirullahalazim ya. Apakah semuanya
- jelas ya halalnya? Apakah ada bau-bau
- syubhatnya apalagi haramnya. Ya Allah,
- ini luar biasa ya yang perlu kita kita
- perbaiki dalam ee kehalalan harta ini.
- Karena ini akan menyangkut dengan ibadah
- kita. Setiap yang kita konsumsi itu
- halal itu akan menjauhkan kita dari
- hidayah. Maka evaluasi terhadap sumber
- penghasilan ini penting. Apakah ada
- unsur haramnya atau syubhat itu harus
- ditinggalkan ya. Betapa besar pun
- penghasilannya ya. Kalau besar tapi
- haram itu ya Allah luar biasa ya. Ini
- yang kayak bunga itu yang riba-riba itu
- ya yang non syariah itu tuh ya Allah ini
- akan berdampak loh pada keluarga ya.
- Betapa banyak kita mengambil hikmah dari
- suatu perjalanan hidup manusia ya. Saya
- suka diberikan apa suka dikonsultasikan
- oleh para para ibu yang bermasalah dalam
- rumah tangganya. Ternyata bermula dari
- penghasilan yang haram. Karena suaminya
- bekerja di tempat-tempat yang
- penghasilannya itu haram, menyangkutlah
- itu semua akhlaknya, pribadinya.
- Akhirnya terjadilah perzinaan,
- selingkuh, dan segala macam itu tidak
- lepas dari kehalalan harta. Ya, jadi
- kalau hartanya tidak halal, berdampak ke
- mana-mana itu ya. Ya Allah, yang anaknya
- mah itu semuanya bermula dari harta yang
- haram ya. Jadi keharaman harta itu
- berdampak kepada semuanya terkait dengan
- jabatan, kedudukan, ya, risywah, suap
- itu akan berdampak loh pada dengan
- keluarga ya. Ya, mungkin perilaku ya
- kalau enggak perilaku suaminya anaknya
- lah atau istrinya lah gitu ya akan sulit
- ee mendapatkan hidayah ya terhalang
- hidayah karena keharaman harta yang
- didapat itu. Nauzubillah minzalik ya.
- Kemudian itu yang kedua ya terkait dari
- income ya, sumber penghasilan rumah
- tangga itu juga perlu dievaluasi ya.
- Banyak harta tapi haram itu enggak ada
- gunanya. Sedikit halal itu lebih berkah.
- Ya nanti akan pertanggung jawabnya akan
- berat itu. Ya Allah yang berani ngambil
- uang rakyat ya Allah
- pertanggungjawabannya itu berat ya. Nah
- kemudian yang ketiga aspek kehidupan
- sosial keislaman ya. Janibul hayat
- ijtimaiyiah alislamiyah. Ini penting
- dievaluasi ya. Aspek kehidupan sosial
- itu maksudnya muamalah kita dengan
- sesama ya. Akhlak kita, adab kita
- terhadap manusia. Bahkan kalau
- Rasulullah mengatakan ee bertanya kepada
- sahabat, "Tahukah kalian siapa orang
- yang bangkrut?" Ee sahabatanya menjawab,
- "Orang yang ee tidak ee yang bangkrut
- tuh orang yang enggak punya apa-apa ya
- Rasulullah. Enggak punya uang, enggak
- punya perhiasan." Nah, Rasulullah
- katakan bukan. Orang yang bangkrut itu
- dari umatku adalah orang yang nanti pada
- hari kiamat tuh bawa pahala banyak.
- Pahala salatnya, puasanya, zakatnya,
- amal ibadahnya banyak. Tapi dia juga
- membawa dosa. Dosa memfitnah, mencela,
- menggibah, memakan harta orang lain,
- mengintimidasi, menzalimi orang lain.
- Maka orang-orang yang yang dia zalimi
- itu itu nanti akan ditransfer tuh pahala
- dari dia. Jadi dia tuh buntung,
- bangkrut, rugi. Nah, kalau udah rugi itu
- kan ya Allah kan buat apa tuh? Merasa
- banyak amalnya
- ternyata zero ya. enggak ada lagi dia
- dapatkan nanti di akhirat karena
- kezalimannya terhadap manusia. Jadi ini
- dengan itulah nanti dia akan ee
- dimasukkan ke dalam neraka. Nauzubillah
- minzalik. Jadi memang ee evaluasi itu ya
- jangan sampai kita menzalimi orang tadi
- disebutkan ya itu lebih ee berat dosa
- terhadap sesama manusia. Kalau kita
- berdosa kepada Allah dengan 70 macam
- dosa, Allah akan ampuni. Tapi kalau
- dengan manusia, tunggu dulu sampai
- manusia itu mengikhlaskan. Itu orang
- yang bangkrut, yang muflis itu ya, yang
- suka mencela, memfitnah, memakan orang,
- pokoknya yang menyangkut orang lain lah
- gitu ya. Itu orang yang muflis yang dia
- merasa ee banyak amalnya ternyata dia
- tidak punya apa-apa. nih. Hati-hati juga
- nih ya dosa yang dibuat oleh ee jari ya
- netizen-netizen itu kan suka ya bikin
- komen-komen, komen-komen yang menuduh,
- dapat informasi baru dapat sepihak baru
- dengar langsung dihujat. Padahal kita
- belum tabayun. Hati-hati tuh yang kayak
- gitu ya. Betapa fitnah itu sangat kejam
- ya. Tidak hanya untuk diri orang yang
- memfitnah apalagi di-share belum
- diklarifikasi ee beritanya sudah
- di-share padahal itu tidak benar. Wah,
- dosanya tuh kena deh tuh. Ya Allah, itu
- akan diminta pertanggungjawaban di
- hadapan Allah. Nah, baik. Sekarang ee
- sebagai pembahasan penutup ya, ini kan
- hanya sebagai pengingat ya. Karena ini
- untuk saya kita semua ya untuk di akhir
- tahun selalu ada muhasabah-muhasabah ini
- ya. Di antaranya ee kita mengevaluasi ya
- masalah kita ya dengan Allah,
- ibadah-ibadah wajib, ibadah sunah,
- kemudian muamalah kita dengan orang
- lain, income semua itu di di apa
- diintropeksi ya. Sekarang caranya
- gimana? Ee teknis nih ya. Teknis ya. Ini
- kan semua orang kan berbeda ya. Punya
- masing-masing ee cara untuk intropeksi
- diri dan keluarga. Ee biasanya setelah
- salat Isya sebelum tidur ya mengevaluasi
- perilaku perbuatan yang selama ini ee
- terjadi ya dari ya apa yang kita
- lakukan. Biasa kalau harian itu kan dari
- pagi itu Umar tuh. Umar bin Khattab tuh
- suka begitu tuh. Sebelum tidur dia
- mengingat-ingat kembali tadi pagi
- ngapain? Terus oh ternyata tadi jalan
- enggak jelas itu jalannya. Kakinya
- dipukul kakinya. Ni kaki ini kena ke
- mana? Kenapa sih pergi ke tempat yang
- enggak enggak apa yang enggak
- bermanfaat. Nah kita suka gitu tuh ya.
- Ngapain ya ke mana ya? Ke mall jalan
- enggak ada apa-apanya. Nah itu ee biasa
- aja kan. Tapi kalau Umar tuh kadang
- dipukul kakinya sakit. Yang sakit juga
- dirinya ya. Tapi ini semuanya itu kan
- nanti akan menuntut ya. Kaki berbicara
- menyaksikan, tangan juga berbicara,
- lisan diam. Nah, itu kan nanti kita diri
- kita ini akan mempertanggungjawabkan apa
- yang telah kita lakukan. Nah, itu nih
- kadang-kadang kaki apa ngomong asal ya
- Allah saat ngomong ngomongin orang
- astagfirullahalazim. Makanya ini perlu
- bermuhasabah itu ya mulai dari hal-hal
- yang berkaitan dengan kalau kita
- muhasabah rukun Islam, rukun iman gu ya.
- Kemudian mengingat hal-hal yang
- berkaitan dengan sesama manusia tadi.
- Ngomong apa dengan orang tua?
- Ingat-ingat lagi tadi orang tua ee marah
- enggak ya dengan ucapan kita? Kayaknya
- tuh air matanya ee menggenang tuh di
- matanya ketika kita mengucapkan sesuatu.
- Kayaknya tersinggung tuh orang tua. Ya
- Allah merasa berdosa. Ah besok aku mau
- minta maaf. Kayak gitu ya. atau dengan
- suami ya atau suami dengan istri, dengan
- anak, tetangga, saudara, pokoknya kita
- muasabah ya. Kalau ada hal-hal yang
- tidak enak di hati ee berarti itulah
- dosa ya. Kita akan berusaha untuk minta
- maaf ya. Bahkan ee setiap akan
- meninggalkan rumah kita mencoba merenung
- sebentar. Kita bertekad dengan
- kesungguhan hati kita untuk mengontrol
- nafsu kita untuk bertindak sesuai dengan
- aturan main Allah. Jangan sampai kita ee
- terperdaya oleh hawa nafsu. Nih para
- suami nih nih keluar rumah ini on the
- track lah. Jangan sampai nanti di tempat
- kerja ada perempuan
- dibanding-bandingkan. Itu kan setan suka
- gitu. Akhirnya ah coba ah iseng-iseng
- lama-lama kan akhirnya terjerumus.
- Akhirnya nyesal kan akhirnya rumah
- tangganya berantakan. Itu kenapa? Karena
- tidak dievaluasi dari awal. Mestinya
- ketika sudah salah arah gitu ya sudah
- mulai nyaman berdua-duaan. Kemudian, nah
- itu setan tuh akhirnya memang berduaan
- di kamar. Nauzubillah. Terjadilah
- perzinaan. Mestinya dari awal tuh
- dievaluasi ini salah, ini harus
- dihentikan, gitu ya. Nah, ini ee dengan
- menyadari itu maka sepanjang hari ya
- insyaallah Allah bersama kita. Kita ini
- pasti ada ujian-ujian dalam kehidupan.
- Pasti banyak ujian kita ya. Nah,
- bagaimana kita mengantisipasinya ya?
- Mengantisipasi ujian-ujian yang ada.
- Nah, jadi caranya itu tergantung ee
- masing-masing ya. Tapi paling tidak
- jangan masa bodoh ya. Kadang-kadang kan
- orang suka lupakanlah masa lalu. Iya.
- Enggak begitu. Lupakan masa lalu tu
- artinya jangan ingat-ingat lagi ee
- kejahatan orang kepada kita ya. Sakit
- hati kita. Tapi yang diingat-ingat
- masalah tuh apa yang aku lakukan yang
- akan membawa dampak buruk pada diriku.
- Itu yang mestinya kita perbaiki gitu ya.
- Aku mah udah move on ya. Enggak apa-apa
- move on. Tapi jangan sampai kita lupa
- kita pernah melakukan mencatat perbuatan
- yang menyebabkan orang tersinggung,
- orang terfitnah, orang terzalimi karena
- kita tidak pernah memperbaiki diri. Nah,
- ini yang repotnya ya. Nah, jadi itulah
- Mbak ya ee kita memang senantiasa
- muhasabah dan sebaik-baik muhasabah itu
- adalah ketika kita minta kepada saudara
- kita yang mengenal kita, saya salah apa
- ya kira-kira apa yang harus saya
- diperbaiki? Itu penting banget tuh ya.
- Ini alangkah baiknya saling terbuka.
- Keterbukaan suami istri ya. Suami aku
- selama ini apa yang aku ya pokoknya
- baguslah. Tapi jarang sekali terjadi ya.
- Kadang-kadang adanya membela diri
- kadang-kadang malah menghujat gitu ya.
- Ya Allah ya. Semoga Allah merahmati
- seorang hamba yang ketika menginginkan
- sesuatu ia merenung terlebih dahulu.
- Kalau itu untuk Allah maka ia terus dan
- kalau itu untuk selainnya maka ia
- urungkan. Ini perkataan Alhan Albasri.
- Wallahuam.
- Ya. Baik, Ustazah. Boleh kita langsung
- ke tanya jawab atau masih ada yang ingin
- disampaikan, Ustazah? Ee ada dikit lagi,
- Mbak. He kita karena sudah jam lewat,
- kita langsung ke lanjutkan saja mungkin
- kalau ada yang masih Ustazah ingin eh
- saya lanjut aja, Mbak ya. Ininya ya
- sebentar dikit lagi ya. Jadi untuk
- pertanyaan mengukur tingkat
- spiritualitas kita tuh ada pertanyaannya
- misalnya ya, berapa banyak waktu yang
- dihabiskan untuk ibadah setiap harinya?
- Terus berapa banyak waktu yang
- dihabiskan untuk evaluasi? Ya, berapa
- lembar Al-Qur'an yang kita baca setiap
- hari? Berapa kali salat tahajud kita,
- salat sunah apa saja yang kita telah
- lakukan yang harus kita tingkatkan?
- Apakah kita ee sudah rutin puasa sunah
- gitu ya, Pak Senin Kamis atau ee 9
- Zulhijah atau Asyura atau apa Daud gitu
- ya. Terus kemudian iktikaf. Kemudian
- bagaimana tingkat salat kita, bagaimana
- konsentrasinya, bagaimana kita ketika
- salat apakah
- ee apa dapat menjalani kekhusyukan,
- terasa enggak bahagia di hati kita,
- bagaimana kenyamanan jiwa kita,
- bagaimana tingkat sedekah kita?
- Bagaimana kondisi hati kita terhadap ee
- saudara-saudara kita, keluarga kita.
- Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk
- perjalanan dakwah atau sedekah kita?
- Bagaimana dengan makanan kita? Apakah
- kita tahu ini halal atau tidaknya,
- berapa penghasilan kita yang halal atau
- yang subhat? Bagaimana kita ee
- berhati-hati dalam setiap mendengar atau
- menyampaikan ee perkataan atau men-share
- segala sesuatu. Jadi semuanya itu ee
- perlu dievaluasi. Termasuk ee terakhir
- kali kita menangis dalam keadaan kita
- bersendiri karena kita cinta kepada
- Allah itu berapa kali? Kapankah gitu.
- Jadi, berapa banyak perbuatan kita
- dipengaruhi oleh pemikiran orang lain
- dan berapa banyak yang kita murni hanya
- untuk mencari rida Allah. Dan itulah
- barangkali tambahan ee untuk evaluasi
- bahan evaluasi kita masing-masing.
- Wallahuam
- bawab. Baik, penutupnya tadi Ustaz sudah
- sampaikan yang paling penting adalah
- indikator-indikator yang bisa menjadi
- bahan muhasabah diri kita. Dan itu
- kayaknya kalau dibikin tabel dari
- dibikin skala 1 sampai 10 atau baik,
- cukup, kurang, sangat kurang, sangat
- baik. Saya kebayang kalau itu
- benar-benar kita aplikasikan dalam
- kehidupan ee dan setiap hari kita
- lakukan masyaallah mungkin akan terjaga
- sekali setiap langkah kita dalam
- kehidupan ya, Ustazah. Iya. Insyaallah.
- Masyaallah. Baik, Ikh ikhwan dan akhwat.
- Ee kami akan langsung saja ee masuk ke
- sesi tanya dan jawab. Sudah ada beberapa
- yang masuk. Izinkan saya langsung
- membacakannya. Ini di antaranya yang
- memberikan pertanyaan lewat WhatsApp
- adalah Ibu Aminah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Saya Ibu Aminah, pendengar
- setia. Betul. Ee ingin izin bertanya,
- Ustazah. Dulu seingat saya ketika muda
- kami banyak sekali dosanya dan setelah
- tua menyesali dan ingin bertobat. Apakah
- Allah menerima taubat dan mengampuni
- dosa-dosa kita yang sudah lama dan sudah
- lalu, Ustazah? Mohon pencerahannya.
- Terima kasih. Insyaallah, Ibu Aminah
- yang dirahmati Allah. Selama dosa kita
- dengan Allah sebesar apapun, sebanyak bu
- di lautan, sebanyak apapun, Allah itu
- maha pengampun, maha penyayang. Tapi
- kalau itu dosa kepada Allah, ya sebesar
- apapun Allah itu maha pengampun, Allah
- itu maha penyayang, Allah itu maha baik.
- ya dosa kita kepada Allah misalnya
- mungkin dulu kita salatnya enggak
- terlalu khusyuk gitu ya atau pokoknya
- karena ketidaktahuan kaitannya dengan
- dosa kepada Allah itu Allah ampuni. Tapi
- ketika kita memiliki sangkut paut dosa
- dengan manusia Allah tidak akan
- mengampuni sampai manusia itu memaafkan
- kita. Contoh misalnya ketika kita
- menjadi seorang anak pada saat itu,
- menyakiti hati orang tua kita sampai
- luka ya, sedih dan kita belum sempat
- untuk minta maaf gitu ya atau kita
- lupakan. Jadi pada saat kita seorang
- anak durhaka kepada orang tua tuh kan
- dicatat itu oleh malaikat. Nah, biasanya
- kan hubungan sehari-hari tu kan lupa ya.
- Mungkin si anak ya namanya orang tua
- sama anak kan biasa ya orang tua tu kan
- udahlah enggak ingat-ingat tapi
- catatannya masih ada. Nah, betapa banyak
- kita menyakiti hati orang tua. Terus
- kemudian kalau minta maafnya kan minta
- maaf sambil maafin bae. Iya, maaf. Maaf
- yang mana nih? Dari dosa yang mana gitu
- kan. Nah, jadi ketika kita memiliki
- sangkut paut dengan manusia ya, hutang
- yang belum terbayarkan, hati yang
- tersakiti, gibah, gunjing, ya, mencela
- dan segala macam, itu Allah akan ampuni
- kalau manusia itu pun telah memaafkan
- kita. Nah, jadi
- artinya yang menyangkut dengan Adami ya,
- menyangkut dengan manusia, maka kita
- perlu meminta maaf ya, mengembalikan
- hak-hak yang kita ambil. Yang punya
- hutang tuh bayar dulu. Enggak ada itu
- ceritanya. Aku punya hutang sudah tobat
- aja sama Allah deh nanti. Enggak bisa
- sampai orang aja dari hutang aku gitu.
- Ah, gitu. Enggak bisa begitu. Itu akan
- ditagih nanti. Ya Allah, sebesar apa
- tuh? Makanya Rasulullah tuh enggak mau
- tuh menyalati sahabat yang memiliki
- hutang. He ya. Karena ini enggak bisa.
- Allah itu tidak akan ee mengampuni atau
- menangguhkan dulu sampai selesai itu
- masalahnya. Makanya ini kalau hutang tuh
- berat itu kan hak orang. Sebesar apapun
- walaupun se seranting dahan itu ya
- sejengkal tanah sebesar apapun kalau ada
- hak orang yang masih kita miliki belum
- kita
- kembaliikembalikan maka selama itu Allah
- belum memaafkan kita. Nanti kan kalau
- orang-orang yang punya sangkut paut ya,
- Mbak ya, di hari akhirat nanti mungkin
- yang menyakiti orang, menzalimi orang,
- menggiba orang, hutang enggak bayar, itu
- kan hisabnya lama tuh di Padang Mahsyar.
- Bagaimana cara dia ee bisa meminta
- keikhlasan dari orang yang dulu pernah
- dia pinjam, dia sakiti? Itu kan sulit.
- Itu caranya gimana? itu pahalanya
- diberikan kepada orang itu. Itulah cara
- ketika tidak lagi ada dirham atau dinar
- di yaumil akhir. Jadi
- kebaikan-kebaikannya, amal salehnya
- diberikan kepada orang yang pernah dia
- sakiti. Kalau banyak kebaikan, kalau
- enggak ada gimana? Nah, itu ya. Jadi
- mumpung masih hidup ya mudah-mudahan
- kita minta ridanya orang yang pernah
- kita zalimi, orang tua, saudara atau
- siapapun ya, para suami tuh yang
- menyakiti anak dan istrinya dan tidak
- bertanggung jawab meninggalkan begitu
- saja. Hati-hati tuh berat itu nantinya
- ya. Tapi apakah istrinya nanti
- memaafkan? Ya itu tergantung ya. Kita
- kan bicara diri kita ya. Apakah kita
- dimaafkan atau tidak? Wallahuam bawab.
- Ya, intinya Allah maha pengampun, maha
- penyayang. Kalau itu dosa hanya terkait
- dengan ee Allah.
- Wallahuam. Baik, Ibu Amina sudah Ustazah
- jawab pertanyaannya. Saya akan lanjutkan
- ke Bapak Supriatna. Ini bertanya.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustazah di akhir tahun ini
- ingin sekali berkunjung ke orang tua.
- Namun kalau orang tua sudah tiada,
- siapakah yang sama derajatnya dengan
- orang tua?
- Ya, pernah ada ee dalam riwayat
- seseorang itu ee ini dari apa? Riwayat
- ada yang dari Ibnu Abbas meriwayatkan
- jadi ada orang yang berbuat dosa. Jadi
- dia tuh ee senang sama perempuan. Ini
- dalam riwayat itu, Mbak ya.
- orang laki-laki itu senang ee apa ee
- senang dengan seorang perempuan. Terus
- dia lamar, ditolak sama perempuan itu.
- Eh, perempuan itu menerima lamaran orang
- lain. Cemburu dia ya, dia bunuh
- perempuan itu. Masyaallah. Nah, di situ
- dia merasa dosa besar, cinta ditolak.
- Ya, itu kan parah itu ya ininya ya
- membunuh itu dia tobat ya. Tidak
- dijelaskan di situ apakah ee sudah di ee
- qisos itu sudah di ee sudah ada hukumnya
- atau tidak ya. Tapi kalau dia bertobat
- ee apa namanya? Melakukan tobat nasuha
- itu kan berarti bisa jadi kisos belum
- belum ada ya. Kemudian dia bertanya
- kepada ee sahabat saya berdosa perbuat
- berdosa besar adakah ee pintu tobat
- terbuka untuk saya? Terus kemudian dia
- kan tentu bertobat itu kan menyesali
- diri tidak mengulangi kembali. Terus
- kemudian ee ditanya oleh Rasulullah,
- "Kamu punya ibu? Punya orang tua?" Orang
- tua saya sudah enggak ada. Ee ibu ee
- kamu punya ibu, ibu saya sudah enggak
- ada. kamu punya kh ya. Khalah itu
- artinya saudara dari pihak ibu ya ada.
- Nah, berbaktilah kepadanya. Nah, artinya
- gini. Salah satu kita ee tobat kita
- diterima oleh Allah itu adalah berbakti
- dengan orang tua ya, terutama ibu gitu
- ya. Jadi kalau ibu enggak ada, bagaimana
- dengan saudaranya, dengan khalahnya.
- Jadi pengganti orang tua kita itu adalah
- kerabat ee saudara, kakak, adik dari
- orang tua kita ya. Kalau misalnya bapak
- ya itu berarti kakak, adiknya,
- keluarganya. Ibu juga begitu ya. Kalau
- kakek nenek pasti sudah enggak ada ya,
- karena kita sudah Nah, itu berarti
- kerabat-kerabatnya. Jadi artinya itu
- untuk menyambung silaturahim. Nah, tidak
- hanya itu sebenarnya ya dalam berbakti
- kepada orang tua ya, ketika orang tua
- sudah tidak ada itu menyambung kembali
- ee silaturahim atau sahabat-sahabatnya
- dulu. Ya mungkin orang tua kita punya ee
- apa kerabat atau teman atau orang-orang
- yang itu kita sambung. Nah, itu dalam
- rangka kita niatkan untuk ee bakti kita
- kepada orang tua ya, agar diampuni dosa
- orang tua dan itu bentuk bakti anak.
- Jadi kalau tidak ada lagi orang tua kita
- kerabat dari Bapak atau Ibu ya kholah
- itu saudara-saudara kandungnya. Jadi
- termasuk ya keturunannya itu kan bagian
- de kerabat kita ya anak-akriba begitu
- ya. He. Oke. Baik Pak Supriatna jelas
- sekali ya jawaban dari Ustazah. Saya
- akan lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
- Hamba Allah Ustazah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam. warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustazah, saya sering
- teringat dengan dosa saya masa lalu
- ketika saya masih kuliah dahulu kala dan
- saya kebetulan menjadi salah satu senior
- yang ikut acara ospek. Kemudian saya
- ingat sekali ada satu mahasiswi baru
- yang entah kenapa saya terbawa suasana
- saya memarahi dia bahkan mencaci maki
- dan mengeluarkan kata-kata yang sangat
- kasar sehingga dia menangis. Kalau saya
- teringat itu, Ustazah, saya bingung
- sekali. Karena pertama saya tidak tahu
- itu dia siapa. Kedua, saya tidak tahu
- juga mencarinya dia di mana. Bagaimana
- caranya, Ustazah menebus kesalahan dan
- dosa saya terhadap ia yang mungkin saja
- sakit hati pada saat itu. Terima kasih,
- Ustazah. Masyaallah, luar biasa ya.
- Masyaallah. Ini bagian dari muhasabah
- ya. Masyaallah, Ustazah ya. Yang penting
- pertama itu berusaha semaksimal mungkin
- untuk ketemu. Kalau enggak bisa, enggak
- ketemu, doakan. Jadi doakan spesial
- khusus ya kepada Allah terhadap
- mahasiswi itu. Ya Allah, ampuni dosanya
- ya Allah. Ee pokoknya doa deh ee ya
- Allah ee apa kalau dia sedang sakit
- sehatkan, mudahkan jalan hidupnya,
- terima amal ibadahnya. Pokoknya doa-doa
- yang yang sebaik-baik doa ya untuk
- saudara kita. Karena doa terbaik itu
- adalah doa saudaranya terhadap
- saudaranya di belakangnya yang apa ee
- apa tanpa diketahui ya. Jadi doa yang
- terbaik itu adalah ketika kita berdoa
- untuk saudara kita atau orang lain yang
- tidak dia ketahui. Nah, jadi ini bentuk
- ee upaya semoga Allah mengampuni
- dosa-dosa kita ya. Nah, ini juga
- termasuk dosa-dosa ketika kita
- menggibah. Jadi, kafaratul gibah.
- Kafarat bagi dosa gibah ya. ngomongin
- orang. Sama juga ya dengan menzalimi apa
- dengan kata-kata itu adalah dengan
- mendoakannya. Doakan doakan kebaikan. Ya
- Allah lapangkan rezekinya, terima amal
- ibadahnya. Berilah dia hidayahmu ya
- Allah. Ya Allah masukkan dia ke dalam
- surgau. Pokoknya yang terbaiklah itu ya.
- Mudah-mudahan dengan kita mendoakannya
- seikhlas seikhlas ee maksimal keikhlasan
- kita, kita doakan terus ya. Ketika ingat
- kita, kesalahan kita, kita doakan dia
- mudah-mudahan Allah ampuni dosa kita
- insyaallah. Insyaallah dan kalau perlu
- ya Allah temukan aku dengannya gitu ya.
- Biar tenang ya Ustazah ya. Baik Ustazah
- nambahi tiga pertanyaan ini cukup untuk
- ee dibahas Ustazah pada kesempatan kita
- kali ini. Dan sebelum kita tutup kiranya
- kesimpulan Ustazah tafadol. Pendengar
- yang dirahmati Allah, muhasabah diri ini
- adalah pengingat untuk saya, kita dan
- kita semua. Karena kita memahami sekali
- ya, bagaimana Rasulullah membagi manusia
- itu ke dalam tiga golongan. Golongan
- yang beruntung jika hari ini lebih baik
- dari hari kemarin. Golongan yang merugi
- jika hari ini sama dengan hari kemarin.
- Golongan yang celaka jika hari ini lebih
- buruk daripada hari kemarin. Nah, inilah
- yang kita waspadai. Semoga hari-hari
- kita dapat kita lewati bersama-sama
- dengan amal yang semakin hari semakin
- meningkat. sehingga kita mampu
- memperbaiki diri kita sehingga kita
- mendapatkan rida, ampunan dan kasih
- sayang Allah. Astagfirullahakum.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Jazakillah
- khairan kasiran untuk guru kita Ustazah
- Herlini Amran. Insyaallah bermanfaat
- besar pengingat dan kajian kita pada
- siang hari ini. Dan jangan lupa
- muhasabah seperti yang tadi disampaikan
- ustazah, jangan menanti akhir tahun,
- tapi keraplah dilakukan apabila ada
- kesempatan dengan tadi banyak
- indikator-indikator yang sudah
- disampaikan atau di ee berikan oleh
- Ustazah yang bertugas hari ini. Saya
- Karolin juga didampingi para pejuang
- dakwah di Rasil. Kami mohon maaf apabila
- ada kekurangan dalam kajian dan siaran
- kami pada siang hari ini. Mudah-mudahan
- tidak mengurangi semangat kita untuk
- mengikuti kajian-kajian lain berikutnya
- di Rasil setelah ini. Baik, kami pamit
- undur diri. Subhanaka Allahumma
- wabihamdika ashadu allaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik. Wabillahi
- taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.