Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Jadi maksud saya jangan awam diracuni
- oleh apa? Fanatis.
- Mazhab di sini menerangkan kepada kita
- bukan hanya menerangkan pendapat seorang
- mujtahidi, tapi juga menjelaskan
- metodologi pengambilan atau metodologi
- istimbar pengambilan hukum dari
- dalilnya. Jadi Imam Syafi'i punya mazhab
- atau punya manhaj. Begitu juga Imam
- Malik punya manhaj dan mazhab. Begitu
- juga Imam Abu Hanifah. Mereka
- masing-masing punya metode al-istimbar.
- Nah, masing-masing punya mazhab. Imam
- Syafi'i punya metode ya dalam istimbat.
- Begitu juga Imam Malik yang mengacu
- kepada masaleh mursalah. Masaleh
- mursalah. Saya enggak jelaskan metode
- ini secara apa. Kemudian kepada Abu
- Hanifah yang kembali kepada istihsan.
- Kepada istih ini metode-metode. Saya mau
- tanya, Kang Rizal. Saya jelaskan hal ini
- tidak terperinci. Kira-kira awam paham
- enggak masalah ini? Paham enggak metode
- pengambilan hukum ini? Orang-orang awam
- mah paham enggak? tukang gado-gado,
- tukang rujak, pegawai atau mereka-mereka
- yang bekerja dalam berbagai macam usaha,
- mereka tidak paham.
- Oleh karena itu, Tajuddin Assubki
- mengatakan alamila mazhabala. Orang awam
- tidak bermazhab. Dia tidak tahu sama
- sekali metode pengambilan hukum. Jadi
- maksud saya jangan awam diracuni oleh
- apa? Fanatis mazhab. Cukup ulama-ulama
- yang memahami hal ini ajarkan sesuai
- dengan apa yang diyakini kebenarannya.
- Tapi jangan diracuni dengan fanatisme.
- Kamu ini mazhabnya Syafi'i. Jadi jangan
- sekali-kali kamu apa? Kamu ikuti mazhab
- yang lain. Mazhab kita mazhab yang
- benar. Yang lainnya bidah. Ini berbahaya
- sekali. Tapi yang saya inginkan agar
- kita semua umat Islam dicelup dalam
- sibghatullah. Nah, perbedaan mazhab
- serahkan kepada ahlinya, kepada
- ulama-ulama dan jangan masyarakat di
- bawah disekat-sekat.