Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:24 [musik] 0:34 [musik] 0:41 him. 0:42 Assalamualaikum warahmatullahi 0:43 wabarakatuh Ikhwan Akhwat 0:45 rahimakumullah. 0:47 Alhamdulillah kita bersama-sama kembali 0:49 di acara Fiqih Wanita yang seperti biasa 0:53 menghadirkan Ustadzah Herlini Amran. 0:56 Hari ini Mbak Olin sedang giat di Mersi 0:59 jadi enggak bisa hadir 1:01 mudah-mudahan 1:02 apa yang dibahas kali ini juga akan 1:04 mempersuasi kita semua terutama wanita 1:08 karena 1:11 muslimah itu punya peran yang cukup 1:14 lumayan di dalam perjalanan hidup 1:16 siapapun. Ada yang bilang tanpa muslimah 1:18 enggak ada yang lahir. 1:20 Iya. Baiklah. 1:22 Tidak lupa salam selawat kita lantunkan 1:24 untuk junjungan umat kekasih kita 1:26 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 1:27 wasallam. Semoga kelak kita mendapatkan 1:30 syafaat beliau dan dipertemukan bersama 1:33 beliau di saat yang sangat kita rindukan 1:35 di yaumil akhir. 1:37 Ikhwan Akhwat 1:38 di seberang sana Ustadzah Herlini sudah 1:41 siap untuk kita semua. Kita sapa beliau. 1:43 Assalamualaikum warahmatullahi 1:45 wabarakatuh. 1:46 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:49 wabarakatuh. Sehat Mbak Olin? 1:50 Alhamdulillah iya. 1:52 Kalau enggak kita berdoa enggak bisa 1:54 hadir ya. Dan 1:56 persisnya terkait dengan muslimah tadi 1:59 itu 2:00 bahasan kita dibalik ke kesuksesan 2:04 hijrah. 2:05 Lengkapnya seperti apa nih? 2:07 Ya, eh kita mulai ya, Mbak. 2:09 Bismillahirohmanirohim, 2:11 alhamdulillah washolatuwasalamuala 2:14 rosulillah 2:14 walahaulawalaquwataillabillah. 2:17 Kita hari ini berada di bulan Muharram 2:20 ya, awal-awal Muharram yang selalu 2:24 dikaitkan dengan hijrah. Ya, jadi eh 2:27 kita akan bahas pada siang hari ini 2:30 bahwa ada sosok muslimah ya di antaranya 2:33 satu orang muslimah 2:35 yang eh memiliki peran yang sangat 2:37 penting. Jadi kalau kita mendengarkan 2:40 kata hijrah, itu seringkali kan yang 2:43 terbayang di kita tuh perpindahan 2:45 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam 2:47 itu dari Mekkah ke Madinah ya. 2:49 Eh kita hanya itu ya barangkali tapi 2:53 sangat 2:54 perlu 2:55 eh konsentrasi kali ya kalau kita me 2:58 merasakan bagaimana hijrah itu adalah 3:00 salah satu peristiwa yang sebenarnya tuh 3:03 paling menegangkan, paling berbahaya ya 3:07 sekaligus paling mengharukan ya. Kenapa? 3:09 Karena Rasulullah itu dikejar mau 3:12 dibunuh oleh kafir Quraisy. 3:15 Jadi 3:16 kalau [berdehem] kita 3:17 lihat bagaimana Rasulullah berdakwah 3:20 selama 13 tahun itu di Mekkah, itu kaum 3:23 muslimin itu mengalami sesuatu yang 3:27 sangat luar biasa ya penyiksaan, 3:30 eh penghinaan, pengusiran, bahkan 3:33 pemboikotan itu selama 3 tahun itu 3:35 sungguh luar biasa bahkan pembunuhan. 3:38 Dan kita tahu ada beberapa sahabat yang 3:40 dibunuh pada saat Rasulullah menyebarkan 3:43 dakwah di Mekkah itu di antaranya 3:45 Sumayyah ya radhiallahu anha ya, yang 3:47 ditusuk oleh tombak itu ya sampai tembus 3:50 itu kemaluannya ya. Kemudian Yasir 3:52 radhiallahu anhu. Sebagiannya disiksa di 3:55 padang pasir yang panas. Dan kita tahu 3:58 bagaimana eh mereka yang sebenarnya 4:02 Mekah itu adalah kampung halaman mereka, 4:04 tapi tempat itu tidak lagi menjadi aman. 4:08 Tempat itu mengancam keselamatan mereka. 4:11 Sehingga 4:13 puncaknya itu, ya, terjadi rencana 4:14 pembunuhan kepada Rasulullah sallallahu 4:17 alaihi wasallam, ya. Jadi, mereka ini 4:18 pemimpin-pemimpin Quraisy berkumpul di 4:21 Darun Nadwah. Mereka memutuskan Muhammad 4:23 harus dibunuh malam itu juga. Maka 4:26 dipilihlah pemuda-pemuda kuat dari 4:28 berbagai kabilah. Mereka itu mengepung 4:31 rumah Rasulullah sallallahu alaihi 4:33 wasallam dengan pedangnya yang sudah 4:34 siap, ya, terhunus, ya. Coba kita bisa 4:37 bayangkan, ya, suasananya itu, ya. Malam 4:39 gelap, rumah dikepung, musuh siap 4:42 menyerang, tuh, ya. Nah, tentu saja eh 4:46 ketika Rasulullah, ya, tentu saja 4:48 mendapatkan wahyu dari Allah, ya, Allah 4:50 menyelamatkan beliau itu untuk segera 4:53 berhijrah ke Madinah karena nyawa 4:55 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 4:57 itu terancam. Maka Rasulullah keluar 4:59 dari rumah, ya. Eh dan tentu saja eh 5:02 singkat cerita, ya, Rasulullah pergi ke 5:03 rumah Abu Bakar. Kemudian Allah 5:06 menyatakan, "Allah telah mengizinkanku 5:08 untuk berhijrah." Ya, Abu Bakar itu eh 5:11 ada rasa bahagia, menangis, takut itu, 5:14 ya. "Apakah aku menemanimu, wahai 5:16 Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Iya." 5:19 Nah, akhirnya "Kita inilah yang aku 5:21 tunggu, kesempatan untuk menjadi teman 5:23 perjalanan eh Rasulullah ke hijrah ke 5:26 Madinah." Sementara sebagian sahabat ada 5:28 yang sudah lebih dahulu, ya. Nah, 5:31 kemudian eh Rasulullah eh dengan 5:35 bersegera, ya. Tentu saja ini 5:37 kondisi genting. 5:39 Seluruh eh pem-pemimpin Quraisy itu 5:42 sudah bersepakat untuk membunuh 5:44 Rasulullah. Ini kan genting. Rasul 5:46 akhirnya eh tidak langsung 5:48 eh menuju Madinah karena itu kan jalan 5:50 kan diketahui. Beliau bersembunyi 5:53 terlebih dahulu selama 3 hari di Gua 5:55 Thur. Nah, Quraisy itu mengerahkan 5:57 seluruh kekuatan mereka. Mereka itu akan 6:00 memberikan hadiah yang besar bagi siapa 6:03 saja yang berhasil menangkap Rasulullah 6:06 sallallahu alaihi wasallam. Pasukan 6:08 pencari itu menyisir gunung-gunung ya. 6:11 Mereka sampai di tempat eh di depan 6:13 mulut gua itu ya. Abu Bakar sangat 6:15 khawatir sekali ya. Tapi Rasulullah 6:17 berbisik ya, "La tahzan ya, jangan 6:20 bersedih, jangan berduka cita ya." Jadi 6:22 eh inilah kondisinya. Kita bisa 6:24 membayangkan bagaimana sangat menakutkan 6:27 ya. Eh bagaimana nabi yang mengajarkan 6:31 eh keesaan Allah itu eh di akan eh 6:35 [berdehem] dibunuh ya. Nah, di sinilah 6:38 kita bicara muslimah di balik kesuksesan 6:42 hijrah ini yaitu Asma binti Abu Bakar. 6:46 Jadi peran 6:47 nah 6:48 ini penuh resiko ya. 6:51 Asma ini menjalankan tugas yang sangat 6:54 berbahaya. Ya kan kalau 3 hari di Gua 6:57 Thur itu kan butuh makan, butuh minum. 6:59 Ya. Perjalanan itu kan sangat eh 7:02 menakutkan sekali ya. Mata-mata kafir 7:05 Quraisy itu ada di mana-mana. Mereka 7:07 menyebar seluruh mata-mata untuk mencari 7:09 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 7:11 Maka Asma binti Abu Bakar radhiallahu 7:14 anha ini membawa makanan, menyiapkan 7:17 bekal, dan menjaga rahasia karena beliau 7:20 tahu ya di mana lokasi persembunyian 7:23 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 7:24 bersama eh ayahnya tersebut. Jika 7:27 rahasia itu bocor, pasti nyawa 7:29 Rasulullah dan ayahnya bisa 7:31 habis ya, bisa melayang, bisa dibunuh 7:34 ya. Bahkan kita tahu ketika Abu Jahal 7:36 datang eh ke rumahnya itu menampar 7:39 wajahnya sampai antingnya itu copot itu, 7:42 beliau tetap teguh tidak membocorkan, 7:45 tidak memberikan informasi yang telah 7:48 beliau ketahui. Dia beliau tetap diam 7:49 ya. Beliau lebih baik menanggung rasa 7:52 sakit daripada mengkhianati amanah. Nah, 7:55 jadi eh kita eh banyak ya belajar ya 7:59 dalam peristiwa hijrah ini, kesuksesan 8:03 di balik hijrah ini ada peran seorang 8:05 muslimah ya Asma binti Abu Bakar. Dan 8:08 kita tahu ya pelajaran hijrah saat untuk 8:10 kalau saat ini kan tidak lagi berpindah 8:12 antar negara atau antar kota atau atau 8:14 tempat ya. Kalau saat ini kan eh hijrah 8:16 itu secara maknawiyah ya. Hijrah secara 8:19 nilai-nilai dari kekufuran kepada 8:22 tauhid, dari keburukan kepada kebaikan, 8:25 dari syubhat ke dan haram kepada ke yang 8:28 halal, dari kemaksiatan menuju ketaatan 8:32 ya, eh dari malas menuju giat gitu ya. 8:34 Artinya hijrah saat ini masih tetap 8:37 maknanya itu masih tetap berlangsung. 8:39 Nah, ketika kita berbicara tentang 8:42 hijrah Rasulullah sallallahu alaihi 8:44 wasallam dari Mekah ke Madinah, itu kita 8:47 sudah bisa membayangkan apalagi yang 8:49 sudah pernah umrah ya, eh bisa eh pernah 8:52 ya diajak ke sana gua Tsur ya. Atau yang 8:56 belum pernah umrah kita doakan semoga 8:58 Allah berikan kesehatan, kesempatan, 9:00 rezeki ya agar bisa melihat langsung, 9:02 menyaksikan langsung jejak-jejak 9:04 peninggalan Rasulullah sallallahu alaihi 9:06 wasallam di sana. Nah, 9:08 Asma binti Abu Bakar ya. Beliau itu anak 9:11 dari eh Abu Bakar As-Siddiq. Beliau 9:13 itulah kakak dari Ibunda Aisyah 9:15 radhiallahu anha. Eh jadi memang Abu 9:18 Bakar ini eh istrinya itu ada empat ya. 9:20 Yang pertama ini adalah eh istri dari 9:25 eh apa ya yang anaknya itu adalah Asma 9:28 binti Abu Bakar ya. 9:29 Jadi eh eh ibunya itu adalah Qutailah 9:33 binti Abdul Uzza. Jadi memang eh ini 9:36 istri pertama Abu Bakar yang memiliki 9:38 anak Asma ya dan Abdullah ada dua 9:40 anaknya yang memang qadarullah Qutailah 9:44 ini tidak Islam ya 9:46 belum Islam. Nah sementara istri 9:48 keduanya Abu Bakar ini adalah Ummu 9:50 Ruman. Ummu Ruman inilah yang memiliki 9:53 anak Abdurrahman dan Ibunda Aisyah 9:55 radhiallahu anha yang menjadi istri 9:57 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 9:59 Jadi mereka kakak adik lain ibu ya. Nah 10:03 Asma ini lahir sekitar 10:06 27 tahun sebelum hijrah ya jadi 27 tahun 10:10 sebelum hijrah dan wafat beliau itu 10:13 tahun 73. Jadi usia beliau itu sekitar 10:15 100 ya tahun masyaallah usia panjang ya. 10:19 Dan beliau lebih tua dari Ibunda Aisyah 10:21 10 tahun. Nah 10:24 kita bicara tentang Asma 10:26 radhiallahu anha ini. Beliau berkembang 10:29 tumbuh hidup dalam lingkungan Quraisy 10:32 yang terhormat bangsa Quraisy ya. 10:34 Ayahnya masuk Islam, seluruh 10:37 anak-anaknya masuk Islam ini masyaallah 10:38 ya peran seorang pemimpin dalam keluarga 10:41 Abu Bakar Ash-Shiddiq itu mampu ya 10:43 mengajak Islam semua anaknya dan 10:45 perannya itu dalam hijrah ini memiliki 10:48 peran yang yang besar itu ya 10:50 bagaimana peran Abu Bakar dalam hijrah 10:53 ini keluarganya itu sangat sangat besar. 10:55 Nah Asma ini kita tahu ya beliau 10:58 menyaksikan turunnya wahyu, beliau juga 11:01 dapat melihat menyaksikan langsung 11:04 bagaimana dakwah Rasulullah sallallahu 11:06 alaihi wasallam. Beliau juga melihat 11:08 langsung bagaimana penyiksaan terhadap 11:10 kaum muslimin dan bagaimana pengorbanan 11:13 para sahabat saat itu. Jadi dari 11:15 lingkungan inilah yang membentuk 11:17 keteguhan iman beliau dan keberaniannya. 11:20 Ya jadi beliau ini Asma ini termasuk 11:23 kelompok yang pertama masuk Islam ya. 11:25 Jadi beliau itu 11:27 memasuki Islam itu di masa-masa awal 11:29 dakwah ya ketika itu jumlah umat Islam 11:32 itu sangat sedikit ya. Jadi eh beliau 11:35 masuk Islam dengan keluarganya, dengan 11:38 ayahnya dan beliau siap dalam menghadapi 11:40 tekanan sosial ya bot 11:43 ekonomi, ancaman fisik. Jadi keteguhan, 11:45 kekokohan, keberanian Asma ini sudah 11:48 terbentuk ya. Nah, kita tahu eh beliau 11:51 menikah ya dinikahkan oleh Ayahanda Abu 11:54 Bakar As-Siddiq ketika masih di Mekah ya 11:56 dengan Zubair bin Awwam. Zubair bin 11:59 Awwam ini sepupu Rasulullah Shallallahu 12:01 Alaihi Wasallam. Bahkan eh pada saat 12:04 pernikahan dengan Zubair ini, beliau itu 12:07 masih masih pemuda seorang pemuda yang 12:09 miskin, enggak banyak hartanya 12:12 eh tapi bertanggung jawab ya. Dan Asma 12:15 inilah yang membantu ya melayani Zubair 12:18 dengan seluruh urusan rumah tangga ya. 12:20 Beliau menggiling gandum, membuat roti 12:23 ya. Itu itu cerita rumah tangganya ya. 12:25 Tapi kita sebelumnya kita bahas dulu 12:26 bagaimana perannya itu dapat mengubah 12:30 sejarah. Jadi pada malam hijrah itu 12:33 ketika kaum Quraisy itu sudah sepakat 12:35 untuk eh mengepung Rasulullah 12:38 Shallallahu Alaihi Wasallam, kemudian 12:40 Rasulullah dengan ayahnya itu berangkat 12:43 menuju Madinah tapi mampir dulu ke Gua 12:45 Tsur selama 3 hari ya sebelum 12:47 melanjutkan perjalanan agar tidak mudah 12:50 dideteksi, dicari dan ditemukan oleh 12:53 orang-orang kafir Quraisy yang banyak 12:55 menyebarkan eh mata-mata untuk eh 12:57 mencari jejaknya. Nah, di saat yang 13:00 bahaya itulah ya Asma binti Abu Bakar 13:04 ini itu yang tentu mengetahui rahasia 13:07 besar di mana lokasi persembunyian 13:09 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam 13:11 itu dalam keadaan hamil. Ada yang 13:14 menyebutkannya dalam sejarah tuh 8 13:16 bulan. Jadi beliau itu menyiapkan bekal 13:19 ya Ibunda Aisyah yang memasaknya, beliau 13:21 yang menyiap dengan Asma kemudian eh 13:24 memasaknya kemudian ya tentu saja eh 13:27 persiapan-persiapan makanan, minuman, 13:29 kebutuhan semua itu kan disiapkan ya. 13:32 Nah tentu saja 13:34 ketika beliau mau membawa makanan itu 13:36 enggak ada untuk mengikatnya maka beliau 13:38 ambil ikat pinggangnya namanya nitok ya 13:40 nitok itu 13:42 ikat pinggang dibelah dua yang satu 13:44 untuk mengikat bajunya ya. 13:46 Mungkin kalau gesper itu agak ini agak 13:48 susah ya kalau gesper kalau orang dulu 13:50 itu ya kayak ikat pinggang ya mengikat 13:53 serbaguna ya jadi bisa mengikat pakaian 13:56 bisa mengikat makanan. Jadi beliau tanpa 13:58 ragu mengambil ikat pinggangnya yang 13:59 namanya nitok itu kemudian dibelah 14:02 menjadi dua untuk mengikat makanan dan 14:04 satunya lagi mengikat pakaiannya. Tentu 14:07 kita semua yang sudah pernah datang 14:10 ziarah ke Gua Sur atau ke Bukit Sur itu 14:13 ya. Itu kan naik ke atas itu mendaki 14:16 masya Allah itu enggak mudah ya. Nah 14:18 kita bisa bayangkan beliau yang hamil 8 14:21 bulan membawa makanan itu untuk 14:23 menyerahkan kepada makanan itu 14:25 memberikan makanan itu kepada ayah dan 14:28 kepada Rasul itu kan luar biasa ya. 14:30 Ya kalau kita yang sehat saja mau naik 14:31 Gua Sur itu ya rasanya kayaknya capek 14:34 banget ya masya Allah ini luar biasa 14:36 Asma ini ya. Maka dikenallah beliau 14:38 diberi gelar oleh Rasulullah dengan 14:41 dzatun nitokain artinya wanita pemilik 14:44 dua ikat pinggang. Ini sebuah gelar 14:47 kehormatan yang dikenang sepanjang 14:50 sejarah Islam ya. 14:52 Dan kita lihat bagaimana eh Asma binti 14:55 Abu Bakar ini mengantarkan makanan ya eh 14:58 semua itu itu luar biasa loh enggak 15:00 enggak mudah. Kalau kita baca sejarah 15:02 itu kalau tidak diresapi kalau tidak di 15:05 maknai ya di apa namanya dibayangkan 15:08 gitu ya ya Allah ini luar biasa ini 15:10 peristiwa besar sebenarnya ini ya. Oh 15:12 luar biasa bayangkan ya bayangkan kita 15:15 bisa bayangkan saat itu 15:17 Mekah sedang gempar sedang dalam keadaan 15:20 siaga seluruh kafir Quraisy itu mencari 15:23 dan membunuh yang akan memburu 15:26 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 15:26 untuk dibunuh. Ya, hadiah besar itu 15:29 dijanjikan bagi siapa yang dapat 15:32 menemukan beliau itu kan orang hadiahnya 15:34 tuh menggiurkan dan semuanya juga pengen 15:36 kan. Kemudian jalan menuju Gua Tsur itu 15:39 menanjak dan berbatu, ya. Perjalanan 15:42 dilakukan secara rahasia ya tentu 15:45 Asma binti Abu Bakar ini juga 15:48 taruhannya nyawa loh untuk mengantarkan 15:50 makanan itu ya. Beliau membawa makanan, 15:52 minuman, beliau perempuan itu masya 15:54 Allah hamil pula, masya Allah. Tapi 15:57 semua tantangan itu tidak menghalanginya 16:00 untuk melayani 16:02 atau untuk membantu perjuangan ini, ya. 16:05 Beliau keluar malam-malam membawa 16:08 makanan, menembus jalan yang sulit itu 16:10 ya ke Gua Tsur. Ya, jadi 16:12 Asma binti Abu Bakar ini sadar, kita 16:15 juga paham ya resikonya besar. Itu kan 16:18 sedang dicari-cari ya. Terus 16:21 luar biasa ya. Itu kalau tertangkap itu 16:23 bisa nyawa tuh jadi ancamannya tuh nyawa 16:25 Asma binti Abu Bakar. Tapi karena 16:28 cintanya kepada Allah dan Rasulnya itu 16:30 mengalahkan rasa takutnya, masya Allah. 16:33 Apalagi ketika menghadap Abu Jahal ya. 16:36 Jadi setelah Rasulullah dan Abu Bakar 16:38 meninggalkan Mekkah, enggak enggak 16:40 ketemu tuh ya enggak dapat itu Abu Jahal 16:42 datang tuh ke rumahnya untuk menteror, 16:44 untuk 16:45 menanyakan di mana tentu saja dengan 16:48 kasar ya. Di mana ayahmu? Ya, Asma 16:51 mengatakan aku enggak tahu ayahku di 16:52 mana. Marah kan Abu Jahal sampai 16:54 menampar wajah Asma tuh keras loh ya. 16:56 Sampai antingnya terlepas itu saking 16:59 kerasnya itu kan bisa bayangkan anting 17:02 yang sudah melekat di kuping kita itu 17:04 sampai sampai copot itu kan luar biasa 17:06 tamparannya itu ya keras itu. Tapi Asma 17:09 tetap tidak membocorkan rahasia hijrah. 17:12 Walaupun dia tidak 17:14 mengeluh, tidak ada tangisan ya, tapi 17:16 dia tetap setia. Dia tetap menyimpan 17:19 rahasia itu walaupun dirinya itu 17:21 dianiaya gitu ya. Tidak ada ketakutan 17:24 untuk membuat dia menyerah. Dia menjaga 17:26 amanah dakwah ya. Ini keberanian yang 17:28 luar biasa. Nah, ini tentu saja eh ini 17:31 ujian bagi keimanan ya, menunjukkan 17:33 keberanian beliau, keteguhan imannya, 17:36 kemampuan menjaga amanah ya. Nah, ini 17:39 Asma. 17:40 Berikutnya eh kita 17:43 eh 17:44 pelajari ya sejarah hidupnya. Setelah 17:47 itu beliau hijrah ke Madinah, melahirkan 17:50 seorang bayi dan bayi ini adalah bayi 17:53 pertama di Madinah yang dilahirkan oleh 17:57 eh kaum Muhajirin. Ya, jadi di ini bayi 18:00 pertama dilahirkan di Madinah bagi 18:02 orang-orang yang berhijrah di Madinah, 18:04 maka dinamakanlah eh bayi ini oleh 18:07 Rasulullah Abdullah. Abdullah bin 18:10 Zubair. Jadi, bayi pertama dari kalangan 18:13 Muhajirin eh yang lahir setelah hijrah 18:16 ya. Jadi, kaum muslimin itu sangat 18:18 gembira sekali ya dengan kedatangan 18:21 Rasulullah ya, masyaallah luar biasa ya. 18:24 Nah, inilah eh sunah dalam kelahiran 18:29 bayi yang kita kalau mengikutinya 18:31 mendapat pahala sunah, itu yang namanya 18:33 tahnik. Ya, bayi ini, Abdullah ini 18:36 ditahnik oleh Rasulullah sallallahu 18:38 alaihi wasallam ya. Itu me apa kurma 18:41 yang dihaluskan kemudian di letakkan di 18:45 eh langit-langit mulut bayi ya. Itu 18:48 tahnik namanya. Itu menjadi sunah ya eh 18:51 bagi bayi yang baru lahir sebelum dia 18:53 menyusu, nah itu ditahnik supaya dia 18:54 kuat menyusunya. Nah, 18:56 ini Asma. Jadi, beliau ini seorang 19:00 pejuang muslimah, beliau juga eh seorang 19:02 yang anak salehah juga ya. Karena ibunya 19:05 Qutailah itu pernah datang ke Madinah 19:08 untuk menjenguk beliau sebagai putrinya 19:10 ya. Nah, itu sebelum men eh men me apa 19:14 menyambut eh ibunya, tanya dulu beliau, 19:17 "Apakah aku boleh menyambut eh hu eh 19:19 ibuku atau menyambung hubunganku dengan 19:21 ibuku yang masih kafir?" Nah, Rasul 19:23 menjawab, "Boleh. Sambunglah hubungan 19:24 kalian, sambung silaturahim." Nah, ini 19:26 bagian dari ajaran Islam, ya. Se apapun 19:29 orang tua kita, walaupun beda agama, 19:31 tapi tetap harus wa sohib huma fid dunya 19:35 ma'rufa. Harus berbuat baik. Nah, ini di 19:38 ajaran Islam, ya. Jadi, beliau ini 19:39 akhirnya menjamu ibunya. 19:41 Eh beliau ini, Asma ini, termasuk eh 19:46 meriwayatkan hadis, walaupun tidak 19:48 banyak, tidak sebanyak eh adiknya, 19:51 Ibunda Aisyah radhiallahu anha, ya. 19:52 Beliau itu hanya 58 hadis yang beliau 19:55 riwayatkan, ya. Dan itu hadisnya hadis 19:57 sahih, ya, di Bukhari, Muslim, ya, 20:00 kitab-kitab hadis lainnya. 20:02 Dan eh beliau ini adalah seorang ibu 20:04 yang berhasil mendidik anaknya. 20:07 Anaknya yang terkenal itu yang kita 20:10 dalam sejarah itu adalah Abdullah bin 20:12 Zubair, ya. Beliau tuh tumbuh menjadi 20:14 seorang anak yang ahli ibadah, 20:16 pemberani, pemimpin kaum muslimin, ya. 20:20 Dan eh ini luar biasa, ya, didikan eh 20:23 apa namanya ibu, seorang ibu. 20:26 Nah, saya ingin eh menyampaikan 20:29 kisah hidup beliau yang sebenarnya kalau 20:32 kita mendramakan gitu, ya. Jadi, eh 20:35 beliau tuh mendidik anaknya luar biasa 20:37 menjadi seorang pemimpin, pejuang. 20:39 Beliau itu eh apa seorang yang itu 20:42 sampai syahid, ya, putranya tuh syahid. 20:44 Jadi, yang lebih dulu meninggal tuh 20:46 adalah putranya, Abdullah bin Zubair 20:47 itu. Beliau tuh di eh salib, ya, dibunuh 20:50 oleh Al Hajjaj pada saat itu, ya. Eh 20:53 bagaimana Asma ini mendatangi jasad 20:55 putranya dengan penuh ketabahan, ya. Itu 20:57 usianya sudah meninggalnya tuh kan 100 21:00 usia hampir 100 tahun lebih, ya, 100 21:02 tahun lebih. Itu beliau tidak meratap, 21:03 beliau tidak menyalahkan takdir, beliau 21:05 tidak kehilangan keimanannya. Karena 21:08 beliaulah yang menanamkan kesabaran 21:10 kepada 21:11 putranya Abdullah bin Zubair itu, ya. 21:13 Nah, ini yang ingin saya sampaikan 21:16 dalam hal ini adalah kisah rumah 21:19 tangganya dengan 21:21 ee 21:21 Zubair bin Awwam, ya. 21:23 Jadi, kita tahu ee menikah pertama 21:26 kalinya itu kan kondisi Zubair itu 21:28 enggak punya apa-apa. Miskin, tidak 21:31 memiliki harta, kehidupan rumah 21:33 tangganya sangat sederhana. Dan Asma 21:36 juga menyatakan dalam hadis Bukhari, ya, 21:37 "Aku melayani Zubair dalam seluruh 21:40 urusan rumah tangganya." Ya, menggiling 21:43 gandum, membuat roti, mengurus kuda 21:45 suaminya itu, ya. Ee istilahnya itu 21:48 membawa kurma dari kebun yang jauh. 21:50 Istilahnya itu ee turut membantu ee 21:55 mendukung, ya, perekonomian keluarga, 21:57 gitu, ya. Nah, kita lihat ee kita 21:59 belajar dari Asma ini bahwa perempuan 22:03 itu memiliki peran besar dalam dakwah 22:05 dalam rumah tangga, ya. Perempuan itu ee 22:08 tidak hanya ya, kalau yang dibangun oleh 22:11 Asma ini adalah bagaimana beliau seorang 22:13 ibu, seorang istri, seorang anak 22:15 perempuan itu ee menunjukkan ee 22:18 kedewasaannya, 22:20 keimanannya yang mantap, ya. 22:22 Pengorbanannya yang tidak bisa dinilai 22:24 dengan harta, ya. Pokoknya benar-benar 22:26 lah, all out kalau saya katakan, ya. Ee 22:29 bahwa 22:30 beliau itu sangat berjasa 22:32 dalam sejarah hijrah. 22:33 Ya, bangun subuh. Kalau sekarang ini kan 22:36 ibu-ibu ya 22:38 tentu hijrah tidak ada ya, tidak lagi 22:39 ada, ya. Dari perpindahan dari ee 22:41 seperti Rasulullah dari daerah ke satu 22:43 ke tempat satu yang lain, ya. Tapi peran 22:45 ibu saat ini, ya, seperti misalnya 22:47 bangun subuh itu, ya, menyiapkan 22:49 kebutuhan keluarga, mendukung ee suami 22:52 berdakwah, itu memang ee tidak ada yang 22:55 memuji, ya, itu biasalah. Tapi 22:57 sebenarnya di sisi Allah itu nilainya 22:59 sangat besar, gitu, ya. 23:00 Jadi, ee kita belajar dari Asma ini, ya, 23:05 bagaimana di balik kesusahan hijrah itu 23:07 dia adalah ibu rumah tangga yang sukses 23:10 mendidik anaknya, membantu suaminya, 23:13 memiliki keberanian, ya, ee, tidak ada 23:16 rasa takutnya kalau itu untuk membela 23:18 kebenaran, ya. Maka, ketika kita 23:21 berbicara tentang Muharram dan hijrah 23:24 ini, itu langsung connect-nya ke Asma 23:26 binti Abu Bakar. Dari Asma ini menjadi 23:28 motivasi kita. Motivasi kita bagaimana 23:32 mendidik anak agar mencintai Islam, 23:34 mendukung suami dalam kebaikan, menjaga 23:37 rumah sebagai pusat iman, ya, ee, 23:39 menjadi sumber kekuatan bagi keluarga, 23:41 gitu ya. Jadi, sejarah hijrah ini tidak 23:45 hanya ditulis oleh mereka yang, ee, 23:47 bekerja di depan, ya, tapi juga mereka 23:50 yang dengan ikhlas itu, ee, menopang 23:53 perjuangan dari belakang. Jadi, peran 23:54 Asma walaupun hanya sekedar membawa 23:58 makanan, tapi itu luar biasa, ya, itu 24:01 bisa, wah, kalau ketahuan sudah selesai 24:03 lah itu, ya. Nah, jadi ini memang 24:05 ee, hal-hal yang, ee, kita 24:08 jadikan motivasi buat kita, ya, 24:11 bagaimana menjadi sosok Asma. Nah, peran 24:13 besarnya itu luar biasa, sangat-sangat 24:15 luar biasa. Nah, kemudian kita bahas 24:17 masalah rumah tangga, ya. Jadi, ini 24:20 memang masalah rumah tangga ini memang 24:22 luar biasa, ya, ee, bahwa ketika usia 24:26 pernikahan sudah jauh, ya, mungkin 24:30 sekitar kalau usia 100 tahun itu, ya, 24:33 ee, Zubair itu sudah menjadi pemimpin, 24:37 itu, ee, dalam riwayat itu beliau 24:40 diceraikan oleh Zubair ketika di 24:43 usia-usia yang sudah, ee, tidak jelaskan 24:46 usia berapa, tapi, ee, sudah anak-anak 24:48 sudah pada besar lah, gitu, ya. Tentu 24:50 saja ketika kita membaca sirah ee, 24:54 shahabiyat, itu kan terpana, loh, kok 24:56 bisa ya 24:57 ee bercerai gitu ya, padahal kan ah 25:00 kayak gitu ya, padahal dulu kan waktu 25:02 dari nol gitu ya, kok sekarang gitu ya. 25:07 Ee kita berbicara perceraian ini 25:11 ee bukan berarti 25:14 kita menyuruh semuanya bercerai tapi 25:16 tidak, kita melihat secara utuh ya ee 25:18 dalam kisah Asma binti Abu Bakar ini 25:22 bahwa 25:23 pelajaran kita ambil bahwa bercerai itu 25:26 bukan aib ya, kalau saya mendengar 25:28 membaca sirah itu ada beberapa sebab ini 25:31 ya, jadi ketika itu Asma bertengkar 25:33 dengan ee Zubair, Zubair itu orangnya 25:35 keras, tegas gitu ya, jadi ee mereka 25:38 sedang ee bertengkar entah dalam masalah 25:41 apa, kemudian Abdullah ini mau membela 25:43 ibunya, mau membela ibunya, mau berpihak 25:46 kepada ibunya, membela ya, nah Zubair 25:48 itu kan emosional, orangnya keras, kata 25:51 ee Zubair kalau kamu masuk bela ibumu, 25:54 ibumu aku talak gitu ya, ya karena 25:57 memang 25:58 membela ibunya ya dia masuk ya kan 26:00 tertalak begitu ya, nah di sini kita 26:03 belajar bahwa perceraian itu memang 26:05 halal meskipun tidak disukai jika tanpa 26:08 kebutuhan ya, kan abghodul halal 26:10 indallah itu ya, namun ketika rumah 26:13 tangga itu tidak dapat mencapai tujuan 26:15 syariat, perceraian itu bisa menjadi 26:17 jalan keluar yang lebih baik sebenarnya 26:19 ya, jadi artinya 26:21 orang saleh pun bisa bercerai sebenarnya 26:24 karena ee iya karena memang tidak sesuai 26:27 tidak cocok lagi ya, karena kadang ada 26:29 anggapan bahwa jika pasangan sama-sama 26:31 taat pasti tidak akan pernah terjadi 26:34 perceraian, pasti begitu ya anggapan 26:35 semuanya ya, tapi kalau kita lihat 26:37 faktanya tentu ada perceraian, tentu ada 26:39 sebabnya, misalnya Zaid dan Zainab 26:44 Zaid bin Haritsah ya dengan Zainab ee 26:47 binti Jahsy ya 26:48 itu kan sama-sama ee orang-orang mulia, 26:51 Zubair ini kan yang dijamin ee, 10 orang 26:54 masuk Islam. Ya, itu kan akhirnya 26:56 bercerai. Kenapa? Ya, karena memang 26:57 Allah yang memerintahkan. Rasulullah 26:59 ingin ajaran Islam ingin mendobrak bahwa 27:02 anak kan anak angkat itu bukanlah anak 27:04 kandung. Jadi, mendobrak ee, tradisi 27:07 yang memang 27:09 melarang ayah ee, angkat menikahi istri 27:13 anak angkat. Karena itu tidak boleh jadi 27:15 dianggap mahram gitu ya, dianggap anak 27:16 angkat itu dianggap anak kandung. Nah, 27:18 [berdehem] Islam tuh meluruskan tradisi 27:20 itu, maka Allah me me memerintahkan 27:23 Rasulullah untuk menikahi istri Zaid bin 27:26 Haritsah yang memang diangkat menjadi 27:28 anak sebelumnya tuh ya. Kan dalam Islam 27:30 tuh anak adopsi itu kan bukan anak 27:32 kandung ya. 27:33 Ee, jadi ee, kan sama-sama mulia enggak 27:35 ada masalah itu kan terjadi perceraian 27:37 ya. Bisa dibayangkan yang namanya Zainab 27:40 itu ee, Zainab binti Jahsy radhiallahu 27:42 anha itu menjadi istri Nabi kan ketemu 27:44 dong dengan Zaid bin Haritsah. Iya kan 27:47 dalam aktivitas-aktivitas ee, 27:49 sehari-hari dan itu kan ketemu ya. 27:51 Artinya enggak ada masalah kan sudah 27:52 enggak bukan bersama bukan suami istri 27:54 lagi. Termasuk Asma binti Zubair 27:56 termasuk penghuni surga itu berdua. Ya. 27:59 Tetap saja ada terjadi perceraian karena 28:01 kecocokan rumah tangga itu melibatkan 28:03 banyak faktor-faktor selain kesalehan. 28:06 Jadi, artinya apa? Ee, perceraian itu 28:09 tidak mengurangi kemuliaan seseorang ya. 28:12 Asma tetap menjadi wanita mulia. Zainab 28:15 ee, binti Jahsy tetap menjadi umma 28:17 ummahatul mukminin ya. Para sahabat ya 28:20 termasuk generasi yang terbaik enggak 28:22 ada masalah. Yang terpenting adalah 28:24 adabnya setelah perceraian. Ya. Jadi, 28:27 kontribusi Zainab ee, kontribusi Asma 28:30 binti Abu Bakar itu yang ee, 28:33 menyukseskan hijrah Rasulullah itu 28:36 ee, rumah tangganya juga tergoncang 28:38 teruji. Ya. 28:40 Jadi, ee, kalau kita lihat misalnya 28:41 dalam surat Al-Baqarah ayat 229 itu 28:44 firman Allah ya. Faimsakum bima'rufin au 28:48 tasrihum biihsan. Pertahankanlah ya, 28:51 dengan cara yang baik rumah tangga itu 28:53 atau lepaskanlah dengan cara yang baik. 28:55 Jadi, intinya adab ya. Nah, ini yang 28:58 banyak dicontohkan oleh para sahabat 29:00 ketika mereka itu berpisah. Mereka tetap 29:03 menjaga kehormatan, hak dan akhlak, 29:06 tetap 29:07 menjalankan kewajibannya. 29:09 Jadi, karena itulah kisah para sahabat 29:12 ini menunjukkan bahwa kesuksesan hidup 29:15 itu tidak hanya diukur dari bertahan 29:18 atau tidaknya sebuah pernikahan 29:21 tetapi dari ketakwaan ya, dari akhlak 29:24 ya. Bagaimana seorang menjalani setiap 29:27 ketetapan Allah dengan benar tanpa 29:29 mengungkit-ungkit masa lalu, tanpa 29:31 menyesali takdir, tanpa membuka aib gitu 29:35 ya. Jadi, pernikahan yang sudah lama 29:38 namun berakhir dengan perceraian itu 29:39 adalah artinya ya itu takdir ya, takdir 29:43 ya. Ya, saya terus terang 29:46 sebelum membaca riwayat hidupnya Asma 29:49 binti Abu Bakar radhiallahu anha ini, 29:51 itu belum sampai ke bab perceraian ya, 29:52 baru kisah heroiknya, perjuangan segala 29:55 macam itu kagum masyaallah. Eh, pas 29:56 dibaca terakhir, "Ah, kok jadi bercerai 29:58 ya?" Jadi, ada kayak apa ya? "Ya Allah, 30:01 kok bisa ya?" Gitu ya. 30:02 Jadi, ketika kita mendengar ada pasangan 30:05 yang menikah 20 tahun, 30 tahun atau 40 30:08 tahun lalu kemudian bercerai, itu banyak 30:11 orang merasa heran kan ya. Sedih, 30:13 kemudian mempertanyakan 30:15 nilai dari pernikahan yang telah 30:17 dijalani sekian lama, kok bisa ya? Gitu 30:20 kan. Padahal, dalam pandangan Islam itu 30:23 tidak semua pernikahan yang berakhir 30:25 dengan perceraian itu berarti gagal dan 30:28 tidak semua pernikahan yang bertahan 30:30 hingga maut berarti berhasil. Kenapa? 30:34 Karena keberhasilan rumah tangga itu 30:36 dinilai oleh Allah dari ketakwaan, 30:40 kesabaran, dan bagaimana suami istri 30:42 menjalankan amanah selama mereka 30:45 bersama-sama. Ya, kalau sudah enggak 30:47 bersama lagi berarti sudah selesai, kan? 30:49 Tidak ada lagi hak apa namanya kewajiban 30:51 kecuali kewajiban terhadap anak, ya. 30:53 Seorang ayah itu tetap memiliki 30:55 kewajiban kepada anak-anaknya, itu 30:58 sampai mereka dewasa, sampai menikah 31:00 kalau anak perempuan, ya. Bertanggung 31:03 jawab untuk kebutuhan mereka, ya. Nah, 31:06 jadi [berdehem][batuk] 31:08 ini memang cukup saya itu cukup lama 31:11 ini, ya, tercenung, ya, kok bisa, ya, 31:12 Allah. Padahal dulu kan Asma binti Abu 31:15 Bakar ini radhiallahu anha itu bantu 31:17 bantu Zubair, itu kan sampai bawa 31:20 kudanya itu sampai berapa kilo itu, ya, 31:22 sampai ketemu Rasulullah. Rasul saja 31:24 kasihan itu, sudah deh ikutlah gitu, 31:27 tapi Asma itu menjaga karena Zubair itu 31:29 orangnya cemburuan. Jadi, sekali lagi 31:33 tidak ada rumah tangga yang kebal dari 31:35 ujian. Lama usia pernikahan itu tidak 31:38 menjamin tidak adanya masalah. Bahkan 31:41 para sahabat Nabi sallallahu alaihi 31:42 wasallam yang mulia pun ada yang 31:45 mengalami perceraian setelah 31:46 bertahun-tahun hidup jadi 31:49 bertahun-tahun 31:51 hidup bersama sampai usia ibunda apa 31:53 namanya Asma binti Abu Bakar ini sampai 31:55 100 tahun lebih, ya. Jadi, artinya 31:58 memang Allah mengingatkan kita, ya, 32:00 bahwa 32:02 ujian bagi yang lain satu sama lain itu 32:04 ujian bagi yang lain, ya. Suami menjadi 32:06 ujian bagi istri, istri menjadi ujian 32:08 bagi suami, ya. Jadi, Ibu-ibu yang 32:12 dirahmati Allah, pendengar dan pemirsa 32:14 Radio Rasid bahwa kesalehan itu tidak 32:18 selalu berarti kecocokan. Dua orang yang 32:21 bisa sama-sama baik tentu saja memiliki, 32:24 ya, karakter yang berbeda, cara berpikir 32:27 yang berbeda, tentu saja emosinya juga 32:29 berbeda, cara menyelesaikan juga 32:32 berbeda, ya, sebagaimana Zaid bin 32:35 Haritsah tadi, ya, apa Asma dengan 32:37 Zubair. Tapi, Allah menilai proses bukan 32:41 hanya akhirnya. Artinya apa? Mungkin 32:44 selama puluhan tahun mereka sudah 32:47 membesarkan anak-anaknya, anak-anaknya 32:49 menjadi sukses, berhasil, jadi anak yang 32:51 saleh, mereka saling membantu 32:53 menjalankan kewajiban, mereka tuh 32:55 masing-masing menjalankan hak dan 32:57 kewajiban, menjaga kehormatan keluarga, 32:59 ya. Semua amal itu tetap bernilai di 33:03 sisi Allah meskipun pada akhirnya mereka 33:05 berpisah. Ya. Ya, seperti ini, seperti 33:08 seorang guru 33:10 yang mengajar puluhan tahun, gitu, ya. 33:12 Eh, keberhasilannya kan tidak dihapus 33:15 hanya karena pensiun di akhir masa 33:17 tugasnya, kan? Sudah pensiun kan sudah 33:19 selesai. Ya, artinya kalau rumah tangga 33:22 sudah sekian puluh tahun berjalan dengan 33:24 eh menunaikan hak dan kewajiban, amanah, 33:27 bertanggung jawab, dan segala macam, itu 33:28 yang dinilai. Akhirnya kan sudah 33:30 selesai, enggak akan dihitung lagi, kan? 33:32 Kan sudah eh tidak ada lagi hak dan 33:34 kewajiban. Eh, artinya sudah suami istri 33:36 sudah enggak jadi suami istri, kan sudah 33:37 jadi orang lain. Jadi, kadang bertahan 33:40 itu bisa jadi lebih berat daripada 33:42 berpisah. 33:43 Ya, ada pasangan, ya, yang selama 33:45 bertahun-tahun hidup dalam satu rumah 33:47 tangga, tapi menahan luka. 33:50 Ya, dia bersabar atas kekurangan 33:52 pasangannya. Dia sudah berusaha 33:54 memperbaiki keadaannya. Tapi kan 33:57 kesabaran itu kan enggak selamanya eh 33:59 bisa bertahan, kan? Ya, kalau dia bisa 34:01 bersabar, itu ibadah yang besar. Tapi 34:03 kalau memang ada batasnya kali, ya. Eh, 34:06 sudah puncak, ya, akhirnya terjadilah 34:08 perceraian. Itu mungkin menjadi lebih 34:10 baik untuk menghindari madarat yang 34:12 lebih besar. Ya, itu kan juga bagian 34:15 dari syariat Islam juga, ya. Daripada 34:16 kita bersama-sama menahan luka, tapi 34:19 enggak ikhlas, gitu, ya. Eh, mungkin 34:21 berakhir tapi dengan cara yang 34:23 baik-baik, ya. Nah, jadi perceraian itu 34:25 tidak menghapus kebaikan masa lalu, ya. 34:28 Anak-anak kan dibesarkan bersama-sama, 34:30 pengorbanan yang pernah dilakukan tuh 34:32 luar biasa pasti dibalas oleh Allah, 34:35 kasih sayang pernah diberikan juga tidak 34:36 akan disia-siakan, semua tercatat dalam 34:39 amal saleh tidak akan pernah hilang, ya. 34:42 Kesalahan besar itu adalah ketika 34:44 [berdehem] seseorang menganggap seluruh 34:47 perjalanan puluhan tahun menjadi sia-sia 34:50 hanya karena akhirnya berpisah. 34:52 Maka sekali lagi 34:54 kalau sudah terjadi tidak bisa lagi 34:56 disatukan, ya, kalau masing-masing 34:58 mengambil jalan berpisah itu jangan 35:00 sampai mengungkit-ungkit 35:02 kebaikan kita. 35:04 Apa yang kita lakukan, kita 35:05 ungkit-ungkit itu nanti menghabiskan 35:08 semua pahala-pahala kita, ya. Jadi 35:10 sekali lagi jangan menilai kehidupan 35:12 orang dari satu bab terakhir saja, ya. 35:14 Ya, kita sering kadang-kadang melihat eh 35:18 suatu kisah dalam rumah tangga tuh akhir 35:21 cerita. 35:22 Padahal hanya Allah yang mengetahui, 35:24 kan? 35:24 Ya, bisa jadi dia sa bersabar, ya. Eh, 35:29 ke kesa kesabaran yang dia jalani selama 35:31 ini, pengorbanan yang mungkin orang lain 35:33 enggak tahu, tapi Allah kan tahu. Maka 35:35 kita tidak tidak tidak boleh mudah 35:37 menghakimi, ya. Jadi itu dalam dalam 35:40 kondisi orang tua. Nah, bagaimana 35:42 anak-anak? Anak-anak tetap memerlukan 35:43 kedua orang tuanya, meskipun eh 35:46 qadarullah 35:47 pernikahan ber berakhir, ya. Peran ayah 35:50 tetap 35:51 sama dengan peran ibu tidak akan pernah 35:53 berakhir, ya. Walaupun akad nikah 35:55 berakhir, ya. Yang tidak boleh berakhir 35:57 tuh apa? Kasih sayang kepada anak, 35:59 tanggung jawab pendidikan dan doa dan 36:00 perhatian gitu, ya. Jadi bisa jadi Allah 36:03 itu menyelamatkan dengan cara yang tidak 36:05 kita sukai, ya. 36:07 Asa antakrohu syai'an fahuwa khairul 36:09 lakum, bisa jadi kamu membenci sesuatu 36:11 tapi itu yang terbaik, ya. 36:13 Nah, 36:14 ada memang perceraian itu yang justru 36:16 menghentikan kezaliman, menghentikan 36:19 konflik berkepanjangan, menyelamatkan 36:22 kesehatan mental, membuka pintu kebaikan 36:25 yang baru, ya. Jadi jangan menjadikan 36:28 pasangan itu sebagai tujuan akhir hidup, 36:30 ya. Suami atau istri itu adalah teman 36:33 perjalanan menuju Allah. Tujuan akhir 36:36 tetaplah Allah dan surga-Nya. Karena 36:38 itulah hubungan 36:40 manusia itu bisa berubah-ubah. Tapi 36:42 kalau hubungan dengan Allah harus tetap 36:43 dijaga, ya. Nah, itulah ya husnul 36:47 khotimah dalam rumah tangga itu bukan 36:49 sekedar bertahan sampai mati. Husnul 36:52 khotimah dalam rumah tangga itu 36:53 menjalankan hak dan kewajiban dengan 36:55 baik, menjaga akhlak saat bersama, 36:58 menjaga akhlak saat berpisah, tidak 37:01 menzalimi satu sama lain, tetap takut 37:04 kepada Allah dalam setiap keadaan. Nah, 37:06 jadi ini 37:08 kisah dari muslimah di balik kesuksesan 37:12 hijrah, ya. Hijrah sukses apakah rumah 37:15 tangganya juga sukses? Insya Allah 37:17 sukses walaupun berakhirnya perceraian, 37:20 diakhiri dengan rumah tangga yang 37:22 bercerai. Sukses juga. Kenapa? Karena 37:24 berhasil mendidik anaknya yang kemudian 37:26 syahid di jalan Allah. Jadi, 37:28 kadang ya seorang wanita itu merasa 37:31 seluruh hidupnya gagal, ya. Padahal 37:33 dulu-dulu mungkin sukses, ya. 37:36 Ketika rumah tangganya berakhir setelah 37:38 puluhan tahun menikah kemudian bercerai, 37:41 itu merasa ya gagal. Enggak, ya. Padahal 37:44 boleh jadi Allah itu menerima 37:46 kesabarannya selama ini, air matanya 37:48 saat mendidik anak, susah payahnya, 37:50 pengorbanannya, menjaga keluarga, doanya 37:53 di setiap 37:54 seperti tiga malam. Yang dinilai Allah 37:56 tuh hanyalah apakah pernikahan itu jadi 37:59 maksudnya Allah itu bukan hanya bukan 38:02 hanya apakah pernikahan itu bertahan, 38:05 tapi bagaimana ia menjalani amanah dalam 38:07 pernikahan tersebut. Jadi, yang dinilai 38:09 oleh Allah itu adalah apa yang menjadi 38:11 kewajiban kita ketika kita menjadi 38:13 statusnya seorang istri, seorang ibu, 38:16 ya. 38:17 Jadi, sekali lagi 38:18 memang ini 38:20 membaca riwayat hidup Ibunda Asma binti 38:24 Abu Bakar ini, itu kadang-kadang penuh 38:27 renungan. Kita tahu kan ya kisah beliau 38:30 bagaimana perjuangannya ketika hijrah, 38:33 kemudian membantu suaminya dalam ee 38:36 rumah tangga itu luar biasa ya. 38:38 Kesabarannya, padahal Asma itu kan anak 38:41 orang kaya istilahnya. Abu Bakar itu kan 38:43 termasuk orang kaya ya, termasuk yang 38:45 hartanya itu di oh pokoknya banyak 38:48 hartanya mudah keluarnya gitu ya. Nah, 38:51 tapi kita lihat pernikahannya kok saja 38:53 jadi kok begitu ya sudah sudah tua 38:55 anak-anak sudah sudah besar sudah ee 38:58 berhasil mendidik anak untuk menjadi ee 39:01 pemuda pejuang ee 39:03 dakwah ya pejuang Islam kok rumah 39:06 tangganya kok jadi pisah ya, kok 39:07 diceraikan ya oleh Zubair. Kok Zubair 39:10 begitu ya, mungkin bahasa kita gitu. 39:11 Padahal Zubair itu adalah orang yang 39:13 dijamin Allah masuk surga. Ya, Asma juga 39:16 begitu. Jadi, 39:18 kita bisa merenungkan dalam ee ee kisah 39:21 ini bahwa tidak semua pernikahan yang 39:25 berakhir dengan perceraian adalah 39:28 kegagalan. 39:30 Sebagaimana tidak semua pernikahan yang 39:32 bertahan hingga akhir hayat adalah 39:34 keberhasilan. 39:36 Yang paling penting adalah apakah selama 39:39 perjalanan itu kita semakin dekat kepada 39:43 Allah atau justru semakin jauh darinya. 39:46 Nah, jadi ee rumah tangga itu memang 39:49 selalu ada ujiannya ya. Nah, ini yang 39:51 ujian inilah yang menyebabkan kedewasaan 39:53 iman, penghapusan dosa kita, kedekatan 39:56 kita kepada Allah. Ya, kita sih berharap 39:58 ya maunya kita tetap bersama-sama 40:01 berumah tangga penuh kasih sayang, 40:03 harmonis, sakinah, mawadah, warohmah di 40:06 dunia juga nanti di akhirat bersama-sama 40:09 di Jannatul Firdausil A'la. Barangkali 40:11 itu yang kita ee sampaikan menjadi 40:15 pelajaran buat kita semua, wallahu a'lam 40:17 bishawab. 40:22 Mbak 40:23 Nuning. 40:29 Kenapa di dalam Islam ada perceraian? 40:32 Karena 40:34 ternyata kalau bertumbuhnya sebuah 40:37 perjalanan rumah tangga itu prosesnya 40:40 untuk sejalan semakin dekat dengan Allah 40:42 memang eh sangat utama, ya. 40:45 Terima kasih sekali untuk Ibu Lisya, 40:47 kemudian Ibu Indra Jati, Tuan Baron 40:51 Betawi 40:52 yang sudah membersamai acara ini. 40:56 Eh 40:57 boleh langsung ke pertanyaan, ya, 40:59 Ustazah? 41:00 Ya, ya, ya. 41:01 Iya, silakan, Mbak Nuning. 41:03 Terus terang mendengar ini saya jadi 41:08 terus terangnya sih termotivasi karena 41:11 mendukung suami selama ini yang rasanya 41:14 seperti pengorbanan berat. Tetapi 41:17 mendengar apa yang barusan disampaikan 41:20 memotivasi untuk ikhlas luar biasa 41:23 sekali. 41:24 Tapi bagaimana untuk bisa bertahan dalam 41:27 pengorbanan 41:29 ini, ya, Ustazah? 41:30 Kadang-kadang ada luka, kadang-kadang 41:33 ada air mata. Oh, oh. 41:35 [tertawa] 41:38 Iya. 41:39 Kalau kasus Asma binti Abu Bakar, 41:42 sebenarnya beliau tidak ingin 41:44 diceraikan. 41:46 Beliau tuh ingin tetap mempertahankan 41:48 rumah tangganya. 41:50 Tapi kan hak cerai itu ada di tangan 41:51 suami. 41:52 Mmm. 41:52 Suaminyalah yang menceraikan. Jadi, 41:54 istri itu 41:56 sel walau bagaimanapun eh tidak 41:58 menginginkan perpisahan, ketika suami 42:01 sudah menjatuhkan talak, tetap jatuh. 42:03 Nah, adapun Ibu, insyaallah setiap tetes 42:07 air mata kita, pengorbanan kita, apapun 42:11 yang kita lakukan untuk keutuhan rumah 42:14 tangga, itu lakukan karena Allah dan itu 42:16 tidak akan pernah disia-siakan. Karena 42:19 kita hidup ini kan ya untuk cari apa 42:21 kita hidup ini? Untuk mencari ridho 42:22 Allah. 42:23 Jadi insya Allah selama kita ikhlas 42:26 karena Allah, kita jalani hidup ini 42:28 dengan berbagai ujian, kesabaran dan 42:31 segala macam, insya Allah tidak akan 42:33 pernah eh apa tidak akan pernah eh 42:36 sia-sia di hadapan Allah. Insya Allah 42:38 kita akan mendapatkan berkah. Kenapa? 42:40 Karena nanti di padang mahsyar 42:43 kita akan diminta pertanggungjawaban 42:46 atas apa yang telah menjadi kewajiban 42:48 kita. Adapun apa yang telah orang 42:51 lakukan kepada kita, suami kita, 42:53 siapapun, itu urusan dia dengan Allah. 42:56 Ketika dia menzalimi kita, dia yang 42:58 bertanggung jawab di hadapan Allah. Ya 43:00 jadi kita tidak ditanya atas apa yang 43:03 orang lakukan terhadap kita. Tapi kita 43:05 akan ditanya dan dimintai 43:07 pertanggungjawaban terhadap apa yang 43:09 telah menjadi kewajiban kita. Ya insya 43:12 Allah Ibu akan mendapatkan banyak sekali 43:15 pahala insya Allah. Selama ikhlas ya, 43:16 Bu. 43:17 Masya Allah. 43:19 Eh baik ini dari eh 43:21 Ibu Ita terkait dengan hijrah nih. Kalau 43:26 Muharram identik dengan hijrah, ini 43:29 kebetulan bulan hijrah. Apa yang harus 43:32 saya lakukan ketika ya ini terluka lagi 43:37 nih, Ibu Ustazah. Ketika suami begitu 43:41 tega 43:42 bersikap 43:44 tidak menyenangkan bahkan terhadap anak. 43:46 Tadi saya dengar 43:48 hadiah terbesar yang bisa kita berikan 43:50 untuk anak-anak adalah cinta. Kalau 43:53 ayahnya seperti itu hijrah seperti apa 43:56 yang bisa saya lakukan? Eh dari Ibu Ita 43:59 ya, gimana nih? 44:00 Ya Ibu Ita 44:02 eh begini walaupun suami kita ini kan 44:06 sudah takdir ya, Sudah takdir yang Allah 44:08 berikan kepada kita. Ujian 44:10 suami itu adalah ujian bagi kita dan 44:12 sebaliknya juga. Maka, hijrah kita untuk 44:16 mengisi tahun ini adalah meluaskan 44:19 lapang dada kita. Kemudian mengisi 44:23 ilmu-ilmu parenting. Jadi, ketika anak 44:25 kita tidak mendapatkan sesuatu yang dia 44:28 butuhkan dari ayahnya, kitalah yang 44:31 take over, ya. Artinya, kita jelaskan 44:34 kepada anak kita bahwa ayah mau begini, 44:36 kasihan dia, gitu ya. Artinya, kita 44:39 mulai 44:39 ya. 44:40 [tertawa] 44:41 Bukan dibela sebenarnya, tapi untuk 44:43 memberikan kekuatan kepada anak, ya. 44:46 Karena mempelajari juga kenapa bapaknya 44:49 tuh kayak begini. Coba dipelajari. Bisa 44:51 jadi itu kan pola asuh. Pola asuh yang 44:54 turun-temurun tidak disadari. Kan sikap 44:57 kasar, sikap abai. Perilaku kita ini kan 45:00 enggak lepas dari pola asuh buah dari 45:02 yang dilakukan orang tua kita, kan? 45:05 He eh. 45:05 Nah, ketika kita menyampaikan kepada 45:07 anak kita, artinya memahami nih ayah nih 45:10 latar belakangnya begini-begini-begini. 45:11 Maka kan kita tidak ingin lagi nanti 45:13 terulang kembali. Jadi, cara memutuskan 45:16 mata rantai pola asuh yang keliru itu 45:19 adalah memberikan pemahaman kepada anak 45:21 kita. Nih, ini ayahmu karena 45:23 begini-begini-begini, ya. Kan tahulah ya 45:25 masa lalunya, ya. Maka jangan nanti itu 45:27 terjadi pada dirimu dan anakmu, gitu ya. 45:29 Masya Allah. Jadi, menjadi pembelajar. 45:32 Jadi, bukan membela, ya. Memahami. 45:34 Dan kemudian doakan. Doakan ayah agar 45:38 Allah membuka pintu hatinya, 45:40 memberikannya hidayah, begitu ya. Insya 45:43 Allah, mudah-mudahan Ibu itu banyak 45:45 sekali pahalanya, insya Allah. Biasanya 45:47 begini, Mbak Nuning. Biasanya begini, 45:49 Mbak Nuning. Kalau kita banyak menuntut, 45:51 kita pasti banyak kecewa. 45:54 Kita menuntut diperlakukan seperti ini. 45:56 Menuntut ini kan seorang suami itu kan 45:59 harus begini. Seorang ayah itu kan jadi 46:00 imam buat anaknya, jadi contoh dan 46:03 seterusnya. Itu kan kita bisa bayangkan 46:05 orang ketemu gede Mbak, sama Rodika itu 46:07 kan ketemu gede. Dia sudah diasuh dengan 46:10 sekian puluh tahun dengan pola asuh 46:12 orang tuanya. Enggak mudah kita untuk 46:14 memperbaiki akhlaknya kan? Maka ayo 46:17 sama-sama kita hijrah di mulai pada 46:20 tahun ini kita mulai belajar, ajak deh 46:23 kajian-kajian suaminya dengan cara baik 46:26 ya. Mulai dengan kesabaran insyaallah 46:28 bisa, insyaallah. Suami kita kan bukan 46:30 Firaun ya. Firaun saja yang kasar begitu 46:33 masih tunduk tuh sama istrinya Asiyah. 46:35 Ketika bayi yang lahir harus dibunuh 46:38 tapi dengan kelembutan Ibu Asiyah tuh 46:40 berhasil tuh membujuk Firaun tidak 46:42 dibunuh gitu ya. 46:44 Nah, masyaallah mudah-mudahan dengan 46:46 kelembutan 46:47 suami-suami kita mendapatkan hidayahnya, 46:49 insyaallah. 46:50 Masyaallah. Jadi 46:53 pola asuh itu ternyata perannya luar 46:56 biasa sekali. Bisa jadi ayahnya atau ibu 47:01 dari anak-anak kita mengalami pola asuh 47:04 yang tidak mendukung menjadi orang tua 47:07 yang 47:08 dalam tanda petik keren ya. Mari kita 47:12 terus berjuang untuk memperbaiki gitu ya 47:15 Ustazah ya. 47:17 Ini dari Bapak Andi di Ciledug. 47:20 Asalamualaikum, aduh alhamdulillah 47:22 makasih sekali acaranya 47:25 Keluarga Islam, tausiah Keluarga Islam 47:27 di siang hari Jumat ini sangat menarik, 47:30 bermanfaat tapi juga bikin saya sedih 47:33 mendengarnya karena saya juga pernah 47:35 bercerai dengan istri. 47:38 Terima kasih ya 47:40 Ustazah dan juga semua staf Rasel. 47:44 Mudah-mudahan kontinu mencerdaskan para 47:46 pendengarnya. 47:48 Enggak ada yang ditanya oleh Pak Andi 47:50 tetapi itu adalah gambaran dari 47:53 proses perjalanan 47:56 pernikahan ya Ustazah. Baik. 47:59 catatannya begini, Mbak Nuni. 48:01 Eh, buat pendengar semua, jangan sampai 48:04 apa yang telah kita tanam dengan banyak 48:08 kebaikan dan pahala dari tanggung jawab 48:11 kita selama pernikahan itu, itu habis 48:14 semua ke an haba an mansura, seperti 48:16 debu yang berterbangan. Karena apa? 48:18 Karena mengungkit-ngungkit lagi. 48:20 Iya. 48:21 Aib-aib lama diomongin lagi, dijadikan 48:24 viral. Ya Allah ya. Kemudian wajahnya 48:28 gitu kan suka gitu, Mbak ya. "Menikah 48:31 sekian tahun aku sudah berkorban, aku 48:33 sudah begini. Aku dapat begini." Ya 48:35 Allah, itu amal kita habis loh nantinya. 48:37 Rugi deh. 48:38 Jadi 48:39 kita tidak ingin 48:41 jerih payah kita yang telah kita tanam, 48:44 kemudian kita hancurkan. 48:46 Ya sudahlah masa lalu sudah biarkan 48:48 berlalu. Kita bersyukur kalau itu kita 48:51 tanam kebaikan. Kita bertobat kepada 48:53 Allah kalau itu adalah suatu suatu 48:55 kezaliman terhadap pasangan, mantan 48:57 pasangan hidup kita. Nah, perbaiki itu, 49:00 minta saling minta meminta maaf dan 49:02 sudah selesai. 49:03 Maksudnya jangan-jangan diingat-ingat 49:05 masa lalu lagi kalau itu ya memang sudah 49:09 berlalu. Ya, bersyukurlah kalau kita 49:11 banyak berbuat kebaikan, bertobatlah 49:13 kalau kita banyak menanamkan keburukan. 49:16 Berusaha mumpung masih hidup 49:17 orang-orangnya, berusahalah minta 49:19 dimaafkan. Karena nanti di 49:22 yaumil akhir kita akan diminta 49:23 pertanggungjawaban terhadap apa yang 49:25 telah menjadi kewajiban kita untuk 49:28 menjaga dan eh menaunginya. Ini bagi 49:31 yang rumah tangganya berakhir dengan 49:32 tidak baik ya. 49:34 Karena kezaliman-kezaliman, nah itu 49:36 segeralah bertobat, mohon ampun kepada 49:39 eh keluarga kita yang dulu pernah kita 49:41 sia-siakan. 49:43 Masya Allah, jadi Ikhwan Akhwat, andai 49:46 kata dalam 49:48 rumah tangga ada perceraian, tetapi 49:51 kalau ayah dan ibu tetap bersahabat 49:53 membesarkan anak-anak meskipun 49:55 masing-masing sudah berumah tangga 49:58 sendiri-sendiri, keren banget ya 50:00 Ustadzah ya. Tetap keren banget, enggak 50:02 usah mikirin masa lalu. 50:04 [tertawa] 50:04 Luar biasa itu ya. 50:06 Jadi marilah kita bersahabat dengan 50:08 mantan kita, membesarkan anak-anak kita 50:10 gitu ya. Baik, ini dari Mbak Fanny. 50:13 Assalamualaikum Ustadzah. 50:15 Waalaikumsalam warahmatullahi 50:17 wabarakatuh. 50:18 Perceraian adalah putusnya ikatan 50:21 pernikahan. Mohon pencerahannya tentang 50:24 kewajiban nafkah nih, kemudian harta 50:28 bersama, 50:30 hak asuh anak dan nafkah anak serta masa 50:33 iddah. Terima kasih. Iya. 50:37 Ini bagus pertanyaannya ya. 50:40 Jadi bikin apa namanya, bikin tema 50:42 sendiri jadinya ya masyaallah. 50:44 Tapi saya berusaha untuk 50:47 apa namanya menjawabnya ya. Jadi begini. 50:52 Kalau sudah 50:55 Bentar Mbak, ini agak ada ya gambarnya 50:58 tidak terini ya. 50:59 Heem. 51:00 Masalah nih. 51:01 Bentar. 51:02 Tapi suaranya aman. 51:04 Tapi aman ya suaranya deh ini agak agak 51:06 ini ya. Jadi begini. 51:08 Kalau terjadi perceraian itu kewajiban 51:11 ayah, itu kewajiban ayah itu adalah 51:16 tetap 51:16 Nah, kelihatan lagi wajahnya. Oke. 51:18 Kewajiban ayah gimana kewajiban ayah? 51:21 [tertawa] 51:21 Kewajiban ayah tetap menafkahi 51:24 anak-anaknya ya. Kalau dalam masa iddah 51:27 juga istri juga wajib dinafkahi. Terus 51:31 Mbak. 51:32 Jadi ee 51:34 istri tetap wajib dinafkahi selama masa 51:37 iddah ya. 51:39 Dan tentu saja anak itu punya kewajiban 51:43 ya, orang tua punya kewajiban ayah ya 51:45 untuk menafkahi anaknya sampai menikah 51:48 nantinya ya Ee apa yang perempuan yang 51:51 laki-laki itu sampai mandiri ya itu 51:53 tetap kewajiban. Jadi artinya 51:56 perhatian, kasih sayang ya pendidikan 51:59 itu memang tidak akan hilang, tidak akan 52:03 putus ketika terputusnya 52:07 perceraian suatu pernikahan. 52:09 Nah adapun istri 52:11 ketika terjadi perceraian ini beda ya 52:13 perceraian hidup dan perceraian mati itu 52:16 beda. 52:17 Kalau perceraian mati ya pasangan 52:19 meninggal ya itu tentu hartanya 52:21 diwariskan nah itu nanti untuk 52:23 anak-anaknya kan dan istri ya. Nah kalau 52:25 perceraian hidup itu masa iddahnya itu 52:29 salah satu quru 52:30 tiga kali masa suci ya kurang lebih tiga 52:33 bulan. Nah selama tiga bulan itu istri 52:36 tetap dina dinafkahi oleh suami gitu ya 52:39 kalau itu perceraiannya itu 52:42 bisa yang bisa rujuk ya 52:44 bain 52:45 sugro ya bukan kubro ya. 52:47 Kemudian 52:49 di masa iddah itu istri jangan keluar 52:51 rumah bila tidak dalam keadaan terpaksa, 52:54 jangan dandan gitu ya itu menunjukkan 52:56 berkaung berduka masa iddahnya ya 52:59 kecuali kalau memang 53:01 istri itu punya tugas yang tidak bisa 53:04 diwakilkan tapi jangan sampai 53:06 menginaplah gitu ya. 53:07 Dan memang beda kalau 53:10 masa perceraian hidup dan meninggal ya 53:13 kalau meninggal empat bulan sepuluh 53:14 hari. Itu 53:16 kalau istri itu memang bekerja tidak 53:18 bisa diwakilkan kepada orang lain hanya 53:20 untuk itu saja jadi tidak boleh 53:22 keluyuran. 53:23 Ya 53:24 termasuk juga yang perceraian 53:27 apa 53:28 bercerai itu ya tidak boleh keluyuran. 53:31 Kecuali untuk sesuatu yang tidak bisa 53:32 diwakilkan bekerja atau tugas-tugas gitu 53:35 ya tapi tidak boleh main ke rumah teman 53:37 ah jadi di rumah bosan enggak tetap di 53:40 rumah 53:41 dalam rumah Ya, bisa jadi suami berpikir 53:45 ulang. 53:46 Mungkin ini yang terburuk, tidak baik 53:48 atau berpisah, kemudian 53:50 merubah apa namanya rujuk lagi gitu ya, 53:53 kecuali itu. Seperti itu barangkali yang 53:55 ditanyakan ya, Bu ya. 53:56 Iya, jadi mudah-mudahan melengkapi harta 54:00 bersama kah, masa iddah. 54:02 Gitu, ya. 54:03 Kalau harta bersama itu kalau terjadi 54:06 perceraian itu ya, perceraian itu tentu 54:09 saja 54:10 dalam kompilasi hukum Islam di 54:12 Indonesia, harta bersama itu adalah 54:14 harta yang didapat setelah pernikahan. 54:17 Itu kalau yang 54:18 harta bersama gono-gini ya. Kalau dalam 54:21 pandangan agama, harta bersama itu 54:23 adalah harta yang memiliki andil 54:27 keduanya. 54:28 Apakah suami modal yang memodalkan, 54:31 istrinya yang menjalankan, itu jadi 54:33 gono-gini. Tapi kalau harta dari istri 54:38 atau suami bekerja, dia punya 54:39 penghasilan itu adalah harta milik dia 54:41 sendiri gitu ya. Nah, jadi itu beda. 54:44 Nah, di dari di Indonesia KHI 54:47 kompilasi hukum Islam di Indonesia ini, 54:49 itu 54:50 memberikan suatu kepastian hukum ya, 54:54 bahwa harta bersama itu adalah harta 54:57 yang di 55:00 dapat setelah terjadi pernikahan. Jadi 55:02 walaupun istrinya di rumah, yang bekerja 55:05 adalah suaminya, maka itu adalah harta 55:08 gono-gini. Jadi istri bisa dapat 55:11 sebagiannya. Begitu ya, Mbak ya. 55:13 Oke, dan 55:16 kita masih bisa satu pertanyaan lagi 55:18 nih, tidak ada namanya. Mohon 55:20 pencerahannya, Ustadzah. Kalau suami mau 55:24 balikan lagi, tapi sebetulnya dia sudah 55:27 bangkrut karena istri barunya boros 55:30 dan 55:31 mereka akhirnya bercerai, dia mau 55:33 kembali. Apa yang harus harus saya 55:36 lakukan dengan perilaku seperti ini. 55:38 Anak-anak sangat menginginkan ayahnya 55:41 bersama mereka. 55:42 Masya Allah, ya. 55:43 Jadi harus ngalah nih. 55:45 Masya Allah. Iya, memang gini kalau kita 55:47 memperturutkan ego, ya, sebagai seorang 55:50 manusia, tentu kita akan mengatakan 55:53 "Wah, enak aja sekarang sudah bangkrut 55:55 balik lagi dulu." Kan gitu, ya? 55:57 He em, he em. 55:57 Nah, padahal kan hidup kita tuh kan 55:59 enggak harus dengan ego. Jadi lakukanlah 56:02 karena Allah kalau suami mau rujuk lagi 56:05 kita menerima ya karena Allah. Dan juga 56:08 bukan karena anak-anak. Kalau kita 56:10 lakukan karena anak-anak enggak dapat 56:11 apa-apa, enggak dapat pahala. 56:13 Kasihan ya anak-anak, ya, kan butuh 56:15 sosok ayah, ya sudah deh karena kasihan 56:17 anak-anak sudah deh terima lagi itu 56:18 enggak jangan, jangan karena anak-anak. 56:20 Tapi lakukan karena Allah. Jadi karena 56:23 Allah aku gitu, ya, in eh apa kembali 56:26 lagi dengan suamiku karena Allah eh aku 56:30 ingin anak-anakku tuh mendapatkan kasih 56:32 sayang eh bapaknya. Karena Allahlah 56:34 gitu, ya. Jadi eh semua apa yang kita 56:38 lakukan itu landasannya hanya untuk 56:40 mencari rida dan cinta Allah. 56:43 Masya Allah. 56:44 yang lain itu. Kita sebenarnya memang 56:46 kalau menuruti ego, ya, Mbak Noni. Ya, 56:49 pastilah namanya perempuan-perempuan 56:50 "Ngapain sih balik lagi? Enak aja lagi 56:52 aja dia." Kayak gitu, kan? 56:54 He em. 56:54 Tapi hidup kita kan bukan kan bukan ego. 56:56 Kita kan ingin dapat bekal buah dari 56:59 kesabaran dan memaafkan itu luar biasa. 57:02 Jadi ada tiga amal yang pahalanya tuh 57:04 luar biasa besar. 57:06 Puasa itu jelas, ya, anak. 57:08 He em, he em. 57:09 Eh as-saumli wa ana ajzi bihi kan jadi 57:11 Allahlah yang yang memberikan pahala 57:13 yang kita enggak tahu. Yang kedua sabar. 57:16 Innama yuwaffa as-shabiruna ajrahum bi 57:18 ghairi hisab dapat tanpa hisab tuh 57:20 kesabaran. Nah, memaafkannya itu di atas 57:23 sabar. Karena kalau orang sabar belum 57:26 tentu bisa memaafkan, tapi orang yang 57:29 memaafkan pasti dia sudah melewati 57:31 kesabaran. 57:32 He em. Jadi lakukan itu karena Allah dan 57:35 kalau memang anak-anak memang 57:36 membutuhkan ayahnya mengajak untuk balik 57:39 lagi, tentu lakukan karena Allah. Tapi 57:42 perlu juga ya sebagai manusiawi buat 57:43 peraturan MOU begitu ya. 57:46 Supaya tidak terulang kembali, kita 57:48 perlu kehati-hatian, kewaspadaan. 57:49 Terserah MOU-nya gimana, apakah nanti 57:52 kalau terjadi lagi kayak gini seluruh 57:54 harta akan ini ini ini gitu ya. Itu itu 57:56 teknislah ya. Tapi sekali lagi kalau 57:59 saya menyarankan selama mantan suami itu 58:03 baik, bertanggung jawab, kemarin itu 58:05 hanya khilaf gitu ya. Karena ee ter apa 58:09 dengan hawa nafsu ya, tergoda. Nah ya 58:11 artinya selama dia baik, bertanggung 58:13 jawab dan selama ini tidak ada 58:14 masalahnya hanya karena terpeleset itu 58:16 aja. Nah udah kembali karena Allah, buat 58:18 MOU perjanjian. Anak-anak maunya apa 58:20 perjanjiannya? Udah semua sepakati 58:22 bersama. Kalau suami menyepakati 58:25 perjanjian itu udah bismillah. 58:27 Mudah-mudahan ini yang terbaik. 58:29 Masya Allah. 58:31 Jadi ikhwan akhwat 58:34 mudah-mudahan 58:36 bahasan kali ini benar-benar membuka 58:40 hati 58:41 dan juga memnyamankan 58:44 rasa. 58:45 Ikhlas itu nomor satu ya. Ikhlas. 58:47 Sementara kalau sabar 58:50 nomor berapa tuh? 58:52 Karena sabar tanpa ikhlas 58:55 apalagi seperti yang tadi dibilang harus 58:57 segala sesuatunya karena Allah. Masya 58:59 Allah. Oke kita ada di penghujung ee 59:02 acara kita. Mari kita simak ee closing 59:05 idenya dari Ustadzah Herlini. Silakan. 59:08 Ya pendengar yang dirahmati Allah dari 59:10 kisah Asma binti Abu Bakar ini 59:15 karena di balik kesuksesan hijrah itu 59:17 ada seorang muslimah itu ternyata dalam 59:21 rumah tangganya Allah berikan ujian. 59:24 Allah berikan 59:26 ee ujian dalam rumah tangganya di akhir 59:29 hidupnya itu terjadi perpisahan. 59:33 Jadi paling tidak kita dapat memahami 59:35 dan belajar bahwa 59:37 kesuksesan hidup itu tidak hanya diukur 59:41 dari bertahan atau tidaknya sebuah 59:43 pernikahan tapi dari ketakwaan, dari 59:46 akhlak, dari sikap dan perilaku dari 59:50 bagaimana seseorang itu menjalani setiap 59:52 ketetapan Allah dengan benar. Maka 59:55 setiap keputusan dalam hidup kita ini 59:57 hadirkan Allah bersama kita 1:00:00 bahwa kita yang kita lakukan ini hanya 1:00:01 untuk mencari ridho dan cintanya. Aku lo 1:00:05 qauli hadza, astagfirullahaladzim 1:00:06 walakum. Assalamualaikum warahmatullahi 1:00:09 wabarakatuh. 1:00:11 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:00:13 wabarakatuh. 1:00:15 Jadi terima kasih banyak Ustadzah 1:00:17 Herlini. Sementara untuk kita-kita entah 1:00:20 seperti apa kondisi perasaan kita yang 1:00:23 jelas cerai bukan berarti gagal dan 1:00:26 kasih sayang kita kepada buah hati tidak 1:00:29 akan pernah berakhir. 1:00:31 Karena ini Muharram bulan hijrah, 1:00:34 mudah-mudahan kita mampu membuat pribadi 1:00:38 kita lebih taat kepada Allah Subhanahu 1:00:40 Wa Ta'ala 1:00:41 dan terus menebarkan 1:00:44 keikhlasan dan kelonggaran hati. Ibu-ibu 1:00:48 dan bapak-bapak yang bersama-sama 1:00:50 menyimak acara ini mudah-mudahan 1:00:52 terpersuasi ya. Ustadzah Herlini terima 1:00:54 kasih banyak. Billahi taufik wal 1:00:56 hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi 1:00:58 wabarakatuh. 1:00:59 Waalaikumsalam 1:01:31 Hah.