Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillah wasyukrulillah
- wanikmatillah la haula wala quwwata illa
- billah. Dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur
- Bekasi. Inilah radio silaturahim dan
- Rasil TV untuk Islam yang satu. Apa
- kabarnya Iwan Ahwat di mana pun Anda
- berada? Senang sekali rasanya pada
- kesempatan sore hari ini saya Fajar
- Hidayat ditemani Yusuf Subangkit dan
- juga Muhammad Neza dari Meja Switcher
- bisa kembali menemani ruang dengan Iwan
- semuanya dalam program acara Tosiah sore
- yang setiap hari Jumat diisi oleh guru
- kita Ustaz Ahmad Saleh. Dan
- alhamdulillah guru kita sudah berada di
- tengah-tengah kita Iwan Awat. Kita sapa
- saja. Asalamualaikum Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar sehat hari ini?
- Alhamdulillah sehat walafiat.
- Alhamdulillah.
- Gimana ee perjalanan tadi, Ustaz?
- Ah, masyaallah cukup macet nih. Jadi,
- Masyaallah.
- Jadi, masyaallah ee cukup padat di
- perjalanan. ada beberapa titik ee
- selainnya lengang insyaallah tetapi ada
- beberapa titik yang cukup padat sehingga
- agak terlambat nih
- karena biasanya kalau Ramadan itu ap
- menjelangi akhir iya sore itu di
- mana-mana emang padatnya jalanan
- [tertawa]
- orang-orang pada keluar iya iya iya iya
- masyaallah ee Iwan Nawat kita sudah
- memasuki ke hari ke-21 di bulan Ramadan
- ya Iwan Awat dan biasanya ini kita sudah
- masuki ke 10 hari terakhir di bulan
- Ramadan Ramadan yang mana sunahnya 10
- hari terakhir itu kita ini disunahkan
- untuk beriktikaf di masjid. Dan
- kebetulan juga pada sore hari ini guru
- kita Ustaz Saleh akan menyampaikan
- temanya yaitu tentang iktikaf. Bagi Iwan
- akhwat yang mungkin nanti ada pertanyaan
- ataupun ingin mengirimkan atensinya bisa
- dikirimkan ke layanan NASA Berhasil di
- 0811999720
- atau yang menyaksikan via YouTube Rasil
- TV bisa mengirimkan pertanyaan via kolom
- live chat Rasil TV. Sebelum mengawali
- kajian sore hari ini, mari kita buka
- saja dengan membaca doa thabul ilmi.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- id allah bamtaniimzni
- ilman amin tafadal pak ustaz
- alhamdulillahi
- hamdan katsiran thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna wa yard ashadu alla
- ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa
- ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluhu wa innahu la nabiya ba'dah
- Allahumma sh wasall wik ala nabiina
- muhammadin waa alihibihi w tabiahum
- bisihsanin yaumilqiamah amma ba
- ikhwan dan akhwat pendengar radio
- silaturahim serta pemirsa rasil visual
- di mana pun berada
- alhamdulillah segala puji bagi Allah
- yang masih memberikan kesempatan kepada
- kita untuk senantiasa mendekatkan diri
- kepadanya nya untuk memperbaiki
- amalan-amalan kita dan yang paling
- penting senantiasa memohon rahmat-Nya.
- Ikhwan dan akhwat, pada kesempatan
- ini kita akan membahas tentang iktikaf.
- Ee iktikaf adalah berdiam diri di masjid
- dengan niat taqarub kepada Allah, baik
- sebentar maupun lama. Ah, bahkan satu
- istilahnya satu gek ya. Satu gek apa?
- Satu gek ya, satu dudukan saja
- diniatkan. Ini menurut Imam Syafi'i itu
- adalah kategori iktikad. Nah, namun
- kemudian ada beberapa yang kita pelajari
- [mendengus]
- mengapa iktikaf
- disunahkan dilakukan di masjid. Satu.
- Kedua,
- kenapa
- disunahkan
- itu 10 hari Ramadan terakhir?
- Meskipun banyak riwayat bahwa Nabi
- melakukan di luar itu gitu ya. Nah,
- paling tidak dua ini akan kita gali dan
- akan kita pahami insya insyaallah.
- Iktikaf
- itu mau ngapain sih? Iktikaf diam di
- masjid itu ngapain?
- P diam saja gitu, ngelamun atau
- bagaimana kan begitu.
- Nah, sekali lagi mesti ada tujuannya.
- Tidak sekedar diam di masjid, tidak
- sekedar pindah tidur.
- Ya, sekedar pindah tidur, tidak sekedar
- ee apa ya? Ya, tidak sekedar ee untuk
- rehat karena di rumah ribut, banyak
- anak-anak enggak bisa istirahat pindah
- ke masjid tidurnya gitu. Bukan itu. Nah,
- maka oleh sebab itu, pertama
- analisa bahwa kenapa disyariatkannya di
- 10 hari terakhir?
- Karena diduga ee diduga keras
- kondisi spiritual seorang
- shoimin, seorang shoimun
- telah matang gitu ya. Sekali lagi,
- kenapa kemudian di
- 10 hari terakhir meskipun sekali lagi
- bahwa Nabi pernah melakukan iktikaf 10
- hari awal di bulan Ramadan.
- Kemudian Nabi pernah melakukan juga
- iktikaf di 10 hari kedua bulan Ramadan.
- Nah, kemudian yang sekarang menjadi
- masyhur, yang menjadi kajian-kajian itu
- adalah di akhir ee bulan Ramadan. Nah,
- tadi karena pertama
- ee iktikaf itu adalah diam di masjid
- ya untuk ee ibadah kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Ibadah di sini juga
- ada uraiannya.
- Ibadah itu bisa jadi untuk mentafakuri
- perjalanan hidupnya
- gitu ya. Jadi untuk mentafakuri
- perjalanan hidup seorang hamba atau
- mentafakuri
- mengevaluasi amalan apa yang sudah
- dilakukan
- atau mentafakuri
- dosa-dosa apa yang sudah dia lakukan.
- Nah, gitu ya. Nah, dari tafakur itu
- kemudian hadir dalam perasaan.
- Ada perasaan bersalah,
- ada perasaan kurang bersyukur,
- ada perasaan harus memperbaiki
- amalan-amalan,
- dan yang paling penting ada perasaan
- yang mendalam menjadi seorang hamba yang
- harus mengabdi kepada Allah Subhanahu wa
- taala.
- Nah, makanya kemudian
- ee hubungan iktikaf itu kenapa iktikaf?
- Mencari malam lailatul qadar.
- Loh, memang
- kenapa dicari malam lailatul qadar? Nabi
- pernah mencari malam lailatul qadar di
- 10 hari pertama.
- Pernah juga menjadi di 10 hari
- pertengahan.
- Namun ada orang yang mengabarkan ya di
- situ orang itu man. Man itu ada sesuatu
- yang bernyawa. Bisa orang, bisa selain
- orang yang tetapi bernyawa gitu kan.
- Dikasih tahu bahwa malam lailatul qadar
- itu terdapat
- di 10 hari terakhir.
- Ini sesungguhnya membahas malam lailatul
- qadar itu menjadi unik
- gitu ya. Menjadi unik.
- Jika kita misalnya merujuk kepada
- tanda-tanda physically, sekali lagi jika
- kita merujuk kepada tanda-tanda fisik
- fisikali
- malam lailatul qadar, maka siangnya
- cuacanya
- ee bagus gitu loh. Bagus itu apa ya?
- Cuacanya tidak terlalu panas. Ah, tidak
- tidak mendung,
- adem.
- Adem gitu. Nah, ini menarik.
- Jika sekali lagi merujuk kepada khabar
- itu kan dikatakan khabar ya sebagian
- mengatakan orang hadis gitu.
- Bagaimana
- jika di satu
- zona zona itu kita katakanlah kabupaten.
- Saya ambil contoh Kabupaten Bogor
- ada Cileungsi, ada Citeureup,
- ada Bogor gitu.
- di Bogor pagi-paginya cuacanya tenang,
- tapi di Citerep mendung,
- di Cilengsi hujan deras. Mungkin terjadi
- enggak itu?
- Mungkin
- sangat mungkin. Lalu diduga keras
- malamnya lailatul qadar apa tidak?
- Nah, mohon maaf ya. Nah, ini ini analisa
- namanya gitu ya. ketika khabar itu
- sampai. Nah, maka kemudian ada ulama
- yang berpendapat,
- jadi ketika malamnya dapat lailatul
- qadar, cuaca siang harinya yang dimaksud
- cuaca itu
- menunjuknya bukan kepada cuaca
- physically,
- tapi menunjuknya kepada cuaca spiritual
- gitu ya.
- Cuaca spiritual, cuaca hati, cuaca
- ruhiah, cuaca spiritual.
- Nah, maka kalau cuaca spiritual tidak
- dipengaruhi oleh hujan, oleh mendung,
- oleh tidak dipengaruhi gitu ya. Oke.
- Baik. Nah, maka oleh sebab itu sekali
- lagi itu menjadi unik, menjadi rahasia.
- Kenapa kemudian lailatul qadar harus
- dicari gitu loh? Menarik lagi banyak
- riwayat.
- Carilah malam lailatul qadar di malam 27
- tuh.
- Kalau enggak dapat cari di
- tanggal-tanggal ganjil 10 hari terakhir
- Ramadan.
- Kalau tidak dapat
- cari di 10 hari terakhir bulan Ramadan.
- Nah, gitu. Jadi secara keseluruhan 21,
- 22, 23, 24, 25, 26, 27 dan seterusnya.
- Bisa jadi bukan 21, mulai 20, 20, 21.
- Kan ini aja sudah persoalan.
- Maksudnya 10 hari terakhir itu kalau
- diduga 29 hari kan berarti tanggal 20
- mulainya.
- Heeh.
- Kalau 30 baru tanggal 21. Berarti di
- sini menjadi perselisihan
- mulai iktikaf tuh kapan?
- Sebagian mengatakan mulai tanggal malam
- 21. Sebagian mengatakan malam 20. Ah,
- dua-duanya benar. Bahkan mulai tanggal 1
- Ramadan pun benar gitu loh. Kenapa?
- Karena tadi Nabi pernah iktikaf 10 hari
- awal. Jadi perdebatan-perdebatan itu
- menjadi tidak pantas dan tidak perlu
- gitu loh. Karena intinya bukan dimasuk
- tangga iktikaf itu bukan masuk di
- tanggal 20 atau 21 gitu. Karena Nabi pun
- pernah iktikaf di tanggal 1 sampai 10,
- tanggal 11 sampai 20 kan begitu. Nah,
- maka sekali lagi enggak usahlah, enggak
- usah debat-debat, ribut-ribut lah,
- habisin tenaga saja gitu loh. Nah, ya
- tapi kan supaya benar ya informasinya
- begitu kok. Yang paling penting tadi
- bagaimana
- merasakan menggapai suasana batiniah,
- suasana spiritual yang mendalam.
- Oke, nanti akan saya ee apa akan saya ee
- coba jelaskan. Nah, kemudian
- merujuk kepada hadis dari Abdullah bin
- Umar radhiallahu anhu radhiallahu anhuma
- dia menyatakan kana Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallama yaqiful
- asral awakiro min ramadana muttafaqun
- alaih. Imam Bukhari dan Imam Muslim
- meriwayatkan
- dengan muara atau sanadnya Abdullah bin
- Umar. Abdullah anak Umar bin al-Khattab
- yang menyatakan adalah Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam beriktikaf 10
- Ram 10 hari terakhir di bulan Ramadan
- gitu ya. Itu dari Abdullah bin Umar.
- Nah, kemudian
- ee
- dengan sanad Aisyah radhiallahu anha
- anan Nabi sallallahu alaihi wasallam
- kana yaqiful asr awak min ramadana
- hatta tawaahullahu
- taala adalah rasul sahu wasallam itu
- beriktikaf 10 hari terakhir di bulan
- Ramadan sehingga Allah mewafatkannya.
- Azwajuh. Kemudian setelah Nabi wafat,
- istri-istrinya iktikaf juga ya. Min
- ba'dih setelah beliau sallallahu alaihi
- wasallam
- gitu ya. Nah, kemudian
- dari Abu Hurairah karena Nabi sallallahu
- alaihi wasallam yaqi fi ramadana asrata
- ayyam.
- Kata Abu Hurairah, Nabi beriktikaf tiap
- Ramadan itu 10 hari.
- Falamal amuladzi.
- Adapun pada tahun di mana tahun
- kewafatannya
- fihi tahun kewafatan di dalamnyafa
- isrina yauman
- gitu ya. Nabi beriktikaf 20 hari
- selama Ramadan.
- Ah.
- Jadi kalau begitu
- ada orang yang mencari malam lailatul
- qadar malam 27-nya.
- Dia dengan ibadah, dengan salat
- malamnya, dengan baca Qurannya, dengan
- istigfarnya,
- dengan selawat atas Nabinya, dengan
- zikir-zikir lainnya untuk bisa menggapai
- lailatul qadar. Sekali lagi, Lailatul
- Qadar ini unik rahasia,
- tapi yang jelas ciri-cirinya tadi. Kalau
- merujuk kepada physically seperti tadi,
- tapi kalau merujuk kepada cuaca hati
- berarti hatinya ee spiritualnya,
- batiniahnya yang menjadi tenang. Oke.
- Jadi, ada orang mencari malam Lailatul
- Qadar malam 27.
- Ada orang yang mencari malam lailatul
- qadar malam 21, 23, 25, 27, 29.
- Tapi ada juga orang mencari malam
- lailatul qadar 21, 22, 23, 24, 25, 26,
- 27, 28, 29, bahkan malam 30.
- Heeh.
- Atau malam 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26,
- 27, 28, 29.
- Nah, ini menarik sekali menarik gitu
- loh. Nabi kok ikkafnya 20 hari?
- Berarti pencariannya kalau dihitung
- mulai tanggal 11, Nabi mulai tanggal 11
- atau tanggal 10
- iktikaf.
- Maka ada ulama mengatakan,
- "Siapa yang ingin mencari malam lailatul
- qadar, carilah mulai tanggal 1 Ramadan."
- Ah, bidah itu gitu misalnya ya bidah.
- Tapi itu dari pemahaman yang telah
- diurut. Oh, Nabi saja iktikaf 20 hari
- berarti saya 30 hari atau 20 1 bulan
- penuh saya iktikaf. Kan bisa saja
- begitu.
- Atau
- saya mulai apa namanya? Mencari lailatul
- qadarnya mulai bulan Rajab.
- Karena ada hadis meskipun dianggap diif.
- Allahumma bariklana fi Rajabin
- wa sya'bana wabalighna Ramadan. Nah,
- sejak Rajab dia sudah mencari malam
- lailatul qadar.
- Kalau begitu berarti bukan bidah,
- dolalah, [berteriak]
- bukan sebuah kesesatan. Jika ada orang
- mencari malam lailatul qadar sejak
- tanggal 1 Syawal.
- berarti 1 tahun penuh mencarinya gitu
- ya. Nah, justru apa yang dimaksud
- mencari lailatul qadar?
- Nah, maksudnya senantiasa mendekatkan
- diri kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Nah, kalau orang yang mulai mencarinya
- mulai tanggal 1 Syawal diduga keras dia
- mendapatkan malam lailatul qadar.
- Kalau dia mencarinya mulai bulan Rajab,
- kemungkinan dapat lailatul qadar.
- Kalau mulainya tanggal 1 Ramadan diduga
- keras dia mungkin dapat lailatul qadar.
- Nah,
- orang mencari tadi mulai 1 Ramadan,
- mulai tanggal 10 Ramadan. Bisa jadi
- dapat mulai tanggal 10 Ramadan.
- Heeh.
- 10 hari Ramadan bisa jadi kalau yang
- serius dapat lailatul qadar.
- Tapi bagi yang main-main
- iktikafnya jangankan 10 hari Ramadan
- terakhir
- sejak tanggal 1 Ramadan pun tidak dapat
- Lailatul Qadar.
- Sekali lagi Lailatul Qadar itu apa? Ah,
- kan begitu. Unik sekali lagi berbagai
- macam pemahaman para ulama. Namun saya
- lebih cenderung kepada pemahaman yang
- menyatakan bahwa lailatul qadar itu ah
- ya ciri lailatul qadar itu digapai
- dengan situasi rohani yang puncak gitu
- loh.
- H.
- Nah, kalau situasi rohani yang puncak,
- suasana rohani yang
- stabil gitu ya, maka tadi pertama
- iktikafnya harus serius.
- Iktikafnya harus se serius, serius,
- tidak dipakai main-main. Tapi Ustaz,
- boleh enggak saya iktikafnya malam hari
- saja karena siang harinya saya kerja.
- Maka sekali lagi tidak ada masalah untuk
- latihan mah
- yang namanya juga pencarian diri,
- pendekatan diri pada Allah asal serius
- gitu loh. Bisa jadi yang malam hari saja
- bisa dapat lailatul qadar. Adapun yang
- siang hari, siangnya, malamnya tidak
- dapat lailat mungkin bisa.
- Jika sekali lagi jika lailatul qadar itu
- bisa didapat tidak oleh semua orang
- dalam satu malam itu.
- Jadi hanya orang-orang yang
- mempersiapkan diri yang mendapatkan
- Lailatul Qadar.
- Tapi a yang main domino,
- main-main yang lagui bahkan yang haram,
- ya jelas tidak dapat lailatul qadar itu.
- Oke, sekali lagi ini harus bertahap
- pelan-pelan ya.
- Jadi lailatul qadar adalah puncak.
- Puncak di mana suana suasana ruhiyah itu
- mapan, stabil.
- Makanya Anda bisa lihat di medsos atau
- di TV-TV
- ada imam tarawih
- membaca khatmul Quran atau membaca
- doa lah tiap malamnya. Ada yang begini,
- Allahumma innakauun tuhibbula fafu anna.
- Allah inim.
- Menurut saya itu normatif saja. Doa
- semacam itu normatif.
- Sekali lagi karena lailatul qadar itu
- rahasia.
- Tapi beda.
- Bedakan dengan orang yang berdoanya
- sambil terisak nangis.
- Kemudian mengatakan,
- "Allahumma innaka afuun
- tuhibbul afwa
- fafu anna ya karim."
- Nah, suasana orang yang berdoa yang
- pertama
- dengan suasana orang yang berdoa yang
- seperti kedua diduga keras suasana
- hatinya berbeda. Iya.
- diduga keras suasana batiniahnya
- mukhtalif berbeda.
- Nah, bagaimana kita bisa mengejar
- ketika berdoa itu
- tembus ke hati?
- Allahumma
- inna nas'aluka hubbak
- wahubba yuhibbuk
- walalladzi
- yuballighuna hubbak.
- Allahumma ya Allah
- sesungguhnya kami memohon kecintaan-Mu
- wahubba yuhibbuk
- dan
- kecintaan orang-orang yang mencintaimu.
- Allahumma inna nasaluka hubbak wahubba
- ma yuhibbuk walalladzi
- dan hamba dan kami memohon kepada Engkau
- amalan yang dapat mengantarkan kepada
- kecintaanmu. Nah, ini kuncinya di situ.
- Ketika suasana itu
- sudah menyatu doa itu, doa tadi,
- Allahumma inna nasaluka hubbak
- wahubba yuhibbuk
- wal amalalladzi yuballiguna hubbak.
- Telah menyatu, telah menjadi
- perasaannya,
- telah menjadi syurnya.
- Maka sekali lagi diduga keras dia
- mendapatkan malam lailatul qadar.
- Kenapa?
- Karena bisa jadi diduga keras doanya,
- rukuknya, sujudnya akan berdampak kepada
- ketaatan kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Dia akan senantiasa taat kepada
- Allah azza wa jalla. Dia akan senantiasa
- mengabdi kepada Allah subhanahu wa
- taala. Nah, maka sekali lagi
- begitu juga orang yang mohon maaf ya,
- orang yang di Idul Fitrnya salaman gitu
- ya, salaman.
- Yang satu mengatakan taqobbalallahu
- minna waminkum siamana wasiamakum gitu
- ya. Ja'alallahu lana eh jaal eh
- ja'alanallahu minal aidina wal faizin.
- Itu normatif.
- Tapi kemudian ada juga orang yang
- memohon maafnya, [terkesiap]
- "Aki, maafkan ana.
- Ana banyak salah sama antum.
- Semoga Allah menerima amal ibadah kita."
- Semoga [mendengus] Allah menerima saum
- kita. Semoga Allah menjadikan kita dari
- bagian orang-orang yang kembali kepada
- fitrah, kembali mengibadahi Allah dengan
- benar dan kita termasuk orang-orang yang
- beruntung
- nangis dipelukan temannya gitu ya.
- Sekali lagi bidah itu ya kalau Anda
- menyebut bidah, bidah. Menyebut tidak
- juga tidak gitu ya. Karena begini, dalam
- pendekatan para ulama enggak ada
- ucapan-ucapan termasuk Imam Ahmad bin
- Hambal
- ee apa namanya ee
- gelarnya apa Imam Ahmad bin Hambal itu
- sayyidus sunah atau kalau enggak salah
- ya imamus sunah.
- Imamusna Imam Ahmad bin Hambal tuh tidak
- suka mendahului ngucapkan tadi
- taqoballahu minna wainkum gitu ya enggak
- suka kecuali ada orang yang memulai
- taqobbalallahu minna wainkum dijawab
- taqobbal ya karim
- atau mau ditambahkan siamana wasiamakum
- karena variasi dan itu bulakan kategori
- ibadah mahdoh maka kemudian menjadi
- bukan masalah gitu loh Ya apa
- mengucapkan minal aidin wal faizin
- enggak ada sunahnya itu lah mengucapkan
- taqobalallah minna winkum enggak ada
- sunahnya juga
- sok tunjukkan dalilnya kepada saya bahwa
- Nabi pernah mengucapkan taqobbalallahu
- minna wainkum
- enggak ada yang sepengetahuan saya mohon
- maaf ya siapa tahu bapak-bapak atau
- mustamiin semua ada yang mend yang saya
- tahu itu di kalangan sahabat
- Nabi sendiri tidak mengucapkan
- taqobbalallahu minna wa minkum.
- Nah, kalau begitu kemudian menarik untuk
- dipahami.
- Karena kemudian tidak ada nas yang ee
- kuat sampai kepada Nabi, maka kemudian
- menjadi variasi. Selama sekali lagi
- selama nilainya positif sejalan dengan
- ajaran Quran, sunah jaiz gitu loh
- pemahamannya. Bukan malah kemudian
- menjadi menjadi largapan hati itu gak
- bisa diatur-atur gitu loh
- ya. Jelas kalau mahdoh jelas itu ya
- harus diikuti. Tapi kalau yang buka yang
- ibadahnya giriru mahdoh ya gak bisa
- kemudian diatur-atur. Minal aidin wal
- faizin kan juga ucapan para ulama. Tapi
- maksudnya dengan penuh pemahaman. Ada
- latar belakang yang mendasari kalimat
- minal aidin wal faizin. Itu doa
- agar kita termasuk orang-orang yang id
- ada yaudu. Id ke mana? Id dekat kembali
- kepada Allah yang asalnya kita jauh.
- Kenapa jauh? Karena maksiat kepada
- Allah.
- dengan puasa sebulan penuh dengan
- diiringi diisi dengan baca Quran, dengan
- salat tahajud atau tarawih gitu dengan
- sodqah, dengan infak, dengan bayar zakat
- fitrah. Mudah-mudahan kita kembali
- menjadi fitrah. Fitrah itu beragama
- dengan benar.
- Mudah-mudahan kita kembali menjadi orang
- yang beragama benar kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Nah, jadi ini tujuan
- iktikaf itu adalah menggapai kesadaran,
- menggapai pemahaman sehingga situasi
- suasana ruhiah kita menjadi mafan. Ha,
- menjadi senantiasa dekat kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Itulah sebabnya
- kenapa iktikaf boleh enggak iktikaf di
- rumah?
- Tentu jawabannya tidak boleh. Karena
- Nabi iktikafnya di masjid
- loh. Bukannya masjid Nabi dengan rumah
- Nabi ber nempel.
- Apa yang membedakan di rumah Nabi dengan
- di masjid?
- Dengan di masjid.
- Ahah. Apa ya yang membedakan? I.
- [tertawa]
- Jadi sesungguhnya sekali lagi saya tidak
- menyebut iktikaf deh supaya tidak jadi
- fitnah ya. Pencarian kesadaran boleh
- dilakukan di manaun. Di masjid, di
- rumah, di majelis zikir, di majelis ilmu
- boleh dilakukan.
- Pencarian apa tadi?
- Jati diri.
- Jati diri.
- Pencarian
- perenungan terhadap suasana hati.
- Tapi kenapa Nabi mencontohkannya di
- masjid? Karena diduga keras, sekali lagi
- diduga keras. Di masjid tempatnya
- bersih,
- jauh dari kebisingan.
- Tapi kan ada ustaz masjid tapi kotornya
- minta ampun. Ya tentu bukan masjid itu
- yang dimaksud.
- Hm.
- Iktikaf itu disarankan diutamakan di
- masjid yang bersih, yang tenang, jauh
- dari kebisingan.
- Maka baca Qurannya bisa
- khusyuk,
- istigfarnya bisa khusyuk.
- Astagfirullahalazzim.
- Astagfirullahalazzim.
- Astagfirullahalazzim.
- Jadi ada gambaran-gambaran dosa yang dia
- mohonkan ampun. Kalau dia katakanlah dia
- ahlut taah sehingga tidak mendapatkan
- kesalahannya, maka istigfarnya dia
- beristigfar karena ketidaksempurnaan
- syukurnya kepada Allah Subhanahu wa
- taala.
- Saya mohon ampun kepada Engkau ya Allah
- atas segala kekurangan hamba gitu loh.
- Kalau dia menemukan tidak ada dosa yang
- dia lakukan.
- Kan ada juga orang yang gampang
- menemukan dosanya, tapi ada orang juga
- yang susah
- mendapatkan dosanya.
- H
- tapi sama-sama berdosa dua-duanya. Iya,
- sama-sama berdosa. Yang pertama bisa
- jadi belum diampuni dosanya, maka
- seringkiali ditemukan dosanya.
- Adapun yang kedua, meskipun sama-sama
- berdosa, sudah diampuni oleh Allah
- dosanya sehingga dia menjadi lupa, tidak
- ingat lagi kepada catatan dosanya. Bisa
- jadi begitu. Maka sekali lagi
- istigfarnya dia bukan istigfar kepada
- dosa maksiat tetapi istigfarnya karena
- kurang sempurnanya syukur kepada Allah
- Subhanahu wa taala.
- Sama-sama istigfar.
- Nah, maka oleh sebab itu
- memohon ampunan sekali lagi memohon
- ampunan atas dosa hendaknya ditingkatkan
- ke memohon ampun karena kurang
- sempurnanya syukur. Hm.
- Ini makamnya sudah beda gitu loh.
- Makamnya beda
- loh. Kok ada begitu? Ada makam-makam
- sendiri segala. Dari mana pemahamannya?
- Ya begini.
- [mendengus] Apakah orang yang dimohonkan
- ampun itu harus berdosa dulu?
- Jika jawabannya ya, berarti Nabi
- Muhammad berdosa. Hm. Tapi kalau tidak
- yang dimohonkan ampun itu tidak harus
- berdosa, berarti Nabi Muhammad tidak
- berdosa. Gitu loh. Kenapa? Karena Allah,
- malaikat itu berselawat atas Nabi.
- Ulama menjelaskan
- jadi asal ayatnya itu katanya begini.
- Innallaha
- yuslu
- wal malaikatu yusuna. Nah, asalnya
- begitu. Kemudian digabung.
- Ya, kenapa ulama menduga bahwa ada beda
- tadi? Innallaha
- yusolli yuslu
- sha
- yusolli ya innallah yusolli wal
- malaikatu yusuna.
- Karena yusollinya Allah dengan yusalluna
- malaikat berbeda. Selawatnya Allah
- dengan selawatnya malaikat berbeda.
- Kalau Allah berselawat kepada Nabi kata
- para ulama adalah memberi rahmat.
- Tapi kalau malaikat berselawat atas Nabi
- memohonkan ampunan. Maka tadi, oleh
- sebab itu kalau yang dimohonkan ampunan
- itu harus berdosa dulu. Begitu ya. Jadi
- pemahaman seperti itu. Tetapi ulama
- menjelaskan malaikat memohonkan ampunan
- bukan berarti Nabi Muhammad punya dosa,
- tapi agar supaya derajatnya
- didekatkan kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Derajatnya semakin dekat kepada
- Allah azza wa jalla. Surganya adalah
- surga tertinggi yang paling dekat. yaitu
- surga alwasilah.
- Surga yang paling dekat itu ya. Tentu
- dekat ini seringki kalau kita bicara
- dekat dan jauh seringki terbayang jarak.
- Padahal belum tentu tidak harus jarak
- dekat dan jauh. Misalnya buktinya
- begini.
- Orang itu mendekatkan diri kepada Allah.
- Sebelum mendekatkan diri dia ada di
- bumi. Saat mendekatkan diri ada di bumi.
- Berarti jaraknya kan enggak berubah.
- Heeh. Tapi kemudian dinyatakan, "Oh, dia
- mendekatkan diri kepada Allah." Yang
- dekat bukan jaraknya, tapi apa?
- Syuurnya, [berteriak] perasaannya.
- Apa yang dimaksud dengan perasaan?
- Ada orang bicara ke sana, ngelantur ke
- sana, lupa Allah, itu berarti jauh.
- Tapi apa-apa dia selalu menghubungkannya
- dengan Allah,
- dapat nikmat. Hmm. Alhamdulillah. Segala
- puji bagi Allah.
- Allah telah memberikan rezeki kepada
- hamba dan keluarga. Tuh. Ah, itu dekat
- dengan Allah. Berarti karena dekatnya
- maka selalu disebut-sebut nama Allah
- Subhanahu wa taala
- gitu ya. Oke. Jadi saya kira ee [batuk]
- ee
- beberapa hal yang harus dikasih catatan
- bahwa iktikaf itu bukan untuk bercanda.
- Bahkan sebaiknya tidak hanya melulu
- memperbanyak bacaan Quran, tetapi juga
- mentafakurinya.
- Mentafakuri ayat-ayat Allah Subhanahu wa
- taala. Meskipun dari pendekatan fikih.
- Kata Imam As-Syafi'i, "Yang banyak baca
- Quran itu banyak pahalanya." Ya, saya
- tidak bantah itu. Tapi maksudnya dari
- sisi ee apa? Pendekatan manfaat
- fungsional gitu, maka hendaknya
- dipahami,
- dibaca,
- hayati,
- baca, hayati, dalami, gitu loh ya. Heeh.
- Nah, maka oleh sebab itu saya kira ee
- menjadi catatan ya. Jadi iktikaf ini
- jadi berkualitas
- bukan hanya kuantitas dengan banyak
- amalan tadi ya saya katakan banyak
- amalan tuh baca Qurannya banyak
- kemudian apalagilah gitu. Itu bukan
- berarti disepelekan oleh Allah gak. ini
- juga dicatat sebagai kebaikan. Tapi yang
- kita kejar adalah kualitasnya,
- substantinya, substansinya gitu ya.
- Heeh. Nah, bagaimana ee meningkatkan
- kualitas tadi dengan pemahaman
- pemahaman yang dibimbing oleh Quran dan
- sunah serta taujih dari para ulama,
- arahan dari para ulama gitu. Nah, maka
- oleh sebab itu sekali lagi dia akan
- mendapatkan kenikmatan
- kenikmatan saat dia berpuasa dan isinya
- puasa dan isinya
- dia mendapatkan kenikmatan setelah ia
- berpuasa
- dan ia pun akan mendapatkan kenikmatan
- sepanjang hidupnya ketika dia berhasil
- mendapatkan lailatul qadar. Nah, ini
- saya kira ikhwan dan akhwat pendengar
- radio silaturahim serta pemirsa rasil
- visual hendaknya kita tingkatkan ya.
- Tidak bisa saja orang yang berkualitas
- iktikafnya orang-orang melek dia tidur
- terlihat tidur dia pada orang-orang
- sedang melek. Saat orang-orang sedang
- tidur dia melek.
- Selawat perbanyak selawat.
- Selawatnya bukan sekedar Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammadin.
- Tapi kemudian dia katakan Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala sayyidina
- Muhammadin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain.
- Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala sayyidina
- Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi
- ajmain. Ada kerinduan ingin berjumpa
- dengan Rasulullah.
- Ada kerinduan ingin dipertemukan
- oleh Allah dengan Rasulullah.
- ada keinginan,
- ada harapan dia ingin dikumpulkan
- bersama Rasulullah dan keluarganya.
- Ada kerinduan yang begitu mendalam
- ingin dipertemukan oleh Allah
- dengan Rasulullah,
- dengan keluarganya,
- dengan para sahabatnya, para pejuang,
- pembela,
- penegak risalah Islam.
- Nah, maka beda sekali selawatnya.
- Allahumma shalli ala sayyidina
- Muhammadin wa ala sayyidina Muhammad
- dengan tadi [mendengus] Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala sayyidina
- Muhammadin
- wa ala alihi
- wa ashabihi ajmain.
- Dia tidak mengejar banyaknya selawat
- tapi [mendengus] tiap bacaan selawat dia
- nikmati.
- Betapa rindunya dia kepada Rasulullah.
- Betapa [mendengus] rindunya dia kepada
- keluarga Rasulullah.
- Betapa rindunya dia kepada para sahabat
- Rasulullah ridwanullahi alaihim.
- [mendengus]
- Nah, maka itulah
- [mendengus]
- maka itulah kerinduan yang bisa
- mengantarkan kepada istiqamah
- mengandar ee kerinduan yang mengantarkan
- kepada
- ajeg,
- senantiasa taat kepada Allah, senantiasa
- menghidupkan sunah Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam wasallam.
- Nah, saya kira itu [mendengus] saja ya.
- Jadi sekali lagi, iktikaf itu ada
- pendekatan,
- ada pendekatan apa namanya?
- permukaan
- ada pendekatan
- isi
- ya pendekatan yang mencoba mengeksplore
- berbagai macam pemahaman untuk
- menjadikan kaya akan hasanah-hanah
- keislamannya.
- Jadi ada pendekatan apa sisi ee tataran
- luar approach gitu. Pendekatan kulit
- approach. Approach itu pendekatan.
- Tapi ada yang substantive approach.
- Substansi pendekatan substansi.
- Nah, kita hendaknya beralih dari
- pendekatan
- fisikli
- kepada pendekatan psikis.
- Dari pendekatan
- zohiri kepada pendekatan batini.
- Dari pendekatan
- kuantitas
- kepada pendekatan kualitas.
- Nah, mudah-mudahan ini akan mendorong
- kita semakin cinta kepada Allah, semakin
- rindu kepada Rasulullah Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Demikian
- yang dapat saya kemukakan.
- Wasallallahu
- ala nabiyina Muhammadin. Wallahu aam
- bisawab.
- Demikian Iwan Awat penyampaian materi
- yang disampaikan oleh guru kita Ustaz
- Saleh yang mana tadi Ustaz menyampaikan
- ee tentang iktikaf ya. Bagaimana Ustaz
- menjelaskan bahwa dalam kita menjalani
- iktikaf itu kita itu harus serius,
- bersungguh-sungguh dan juga di saat kita
- banyak membaca Al-Qur'an kita juga bukan
- hanya membacanya tetapi juga
- mendalaminya. memahami e maksudnya apa
- yang kita baca itu ayatnya kita harus
- mendalami itu dan memahaminya dan juga
- banyak berzikir dan juga berselawat agar
- hati kita ini bisa tenang untuk meraih
- lailatul qadar.
- Nah,
- dan ee Iwan Nawat mungkin yang ingin
- bergabung mengirimkan pertanyaannya bisa
- dikirimkan ke layanan masa berhasil di
- 0811999720.
- Jangan ke mana-mana kita akan kembali
- setelah nada takwa berikut ini. Tetap di
- radio Silahim Nas TV untuk Islam yang
- satu.
- Iwan Nawat, pendengar Radio Silaturrahim
- di manapun Anda berada. Saat ini kita
- kembali dalam program acara Tosiah sore
- kajian syarah kitab Riyadus Shihin
- bersama guru kita Ustaz Ahmad Saleh yang
- pada kesempatan sore hari ini Ustaz
- menyampaikan temanya yaitu tentang
- iktikaf. Tadi Ustaz menyampaikan temanya
- cukup panjang ya Iwan Awat dan sekarang
- kita sudah mengasiki sesi tanya jawab.
- Bagi wwat yang ingin bertanya bisa
- mengirimkan pertanyaannya di layanan
- berhasil di 08119997220
- atau ingin berinteraktif di 0218451512.
- Sudah ada beberapa pertanyaan yang
- masuk, Pak Ustaz. Namun sebelum itu saya
- juga ingin menyapa para pendengar kami.
- Ada dari Bapak Muhammad, Bapak Edwin,
- Bapak Arif, Ibu Anisa, Ibu Iswati, Ibu
- Supi, Eyang Sri,
- Bapak Mugi, Ibu Teti, Ibu Aminah, Bapak
- Abdul Rasyid, Ibu Nanai Fatimah dan juga
- Bapak Arwin dan masih banyak lagi yang
- menyimak kajian sore tausiah sore pada
- sore ini Pak Ustaz. Dan sekarang kita ke
- pertanyaan yang pertama.
- Pertanyaan pertama datang dari seorang
- ibu. Asalamualaikum, Pak Ustaz Mas
- Saleh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Saya seorang ibu mau bertanya, apakah
- iktikaf itu hanya boleh dilaksanakan di
- masjid saja? Lalu, bagaimana dengan saya
- yang seorang ibu rumah tangga ingin
- iktikaf, namun saya harus mengurus
- keluarga di rumah? Mohon pencerahannya,
- Pak Ustaz. Syukron. Nah, masyaallah.
- Baik. Saya ingin mendekatinya.
- menjawabnya dengan pendekatan fikih dulu
- ya, fikih approach ya, pendekatan fikih.
- Jadi, iktikaf itu sunahnya di masjid,
- tidak di tempat lainnya gitu ya.
- Namun setelah kita mendengarkan uraian
- tadi,
- meskipun saya tidak menyebutnya iktikaf,
- maka ibu boleh merenungi perjalanan,
- boleh menghayati bacaan Quran, boleh
- merenungi dosa-dosa,
- boleh mengevaluasi amalan-amalan di mana
- saja, termasuk di rumah, termasuk di
- dapur,
- gitu ya. Oke, sekali lagi. Jadi, iktikaf
- itu di masjid.
- Kalau di luar masjid bukan iktikaf, kan
- begitu. Namun setelah kita memaknai
- hakikat iktikaf itu, ya sudahlah saya
- enggak iktikaf, tapi saya evaluasi diri
- aja.
- Evaluasi dirinya kan Anda juga bisa
- sambil masak, bisa sambil baca Quran,
- bisa juga. Tapi yang jelas Anda sendiri
- ketika bekerja menyiapkan makan dan
- minuman untuk suami dan anak, itu aja
- sudah pahalanya besar.
- Kalaupun iktikafnya saya sebut dalam
- tanda petik sekarang, kalau iktikaf Anda
- di dapur tidak sempurna,
- Anda sudah dapat pahala banyak kalau
- pencariannya paha pahala kebaikan.
- Namun kalau pencariannya yang dicarinya
- adalah manfaat tambahan motivasi,
- tambahan stimulus
- untuk mendapatkan stimulan, dorongan
- gitu kan, maka perenungannya memang Anda
- bisa melakukannya tidak harus di masjid,
- di malam hari, habis salat Isya kan
- sudah pada selesai makan kan gitu. Nah,
- maka Anda bisa melakukannya. suami Anda
- di masjid iktikaf, Anda di rumah bada
- isya tuh memahaminya ya. Jadi Anda boleh
- melakukan itu di rumah tetapi bukan
- dengan niat iktikaf tapi hakikatnya Anda
- mengambilnya. Hakikat iktikaf Anda
- melaksanakannya
- kan begitu ya. Jadi begitu. Jadi kan
- begini ada orang tidak berpuasa tapi
- hakikatnya puasa.
- Di antaranya apa? Dia tidak berpuasa.
- Dia tidak berpuasa sunah, tidak puasa
- Senin Kamis, tidak puasa Nabi Daud, tapi
- dia senantiasa menjaga lisannya.
- Lisannya senantiasa terucap kalimah
- thayyibah, menghindari kalimat zur,
- menghindari kalimat dusta, kalimat
- maksiat, kalimat kotor, gitu. Nah,
- berarti dia hakikatnya berpuasa meskipun
- dia tidak berpuasa secara fikih gitu
- loh.
- Gitu ya. Oke. Baik. Demikian yang dapat
- saya jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Ya. Selanjutnya sebelum ke pertanyaan
- ada satu atensi dari Bapak Arwin. Terima
- kasih Pak Ustaz atas tausiahnya atau
- nasihatnya. Semoga Pak Ustaz dan pejuang
- dakwah serta para pendengar Radio Rasil
- selalu dalam keadaan sehat walafiat.
- Amin. Allah subhanahu wa taala. Amin
- rabbal alamin.
- Dan kita selanjutnya ke pertanyaan dari
- pertanyaan dari Ibu Mariah.
- Asalamualaikum Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz Saleh selalu dalam
- lindungan Allah Subhanahu wa taala.
- Amin. Allah.
- Bertanya Pak Ustaz kabarnya lailatul
- qadar itu datang di malam ganjil. Tapi
- mengapa ada yang beriktikaf full dari
- siang sampai malam selama 10 hari?
- Memang selain Lailatul Qadar, apalagi
- yang dituju itu Pak Ustaz mohon
- pencerahannya.
- Iya.
- Sebagaimana tadi saya jelaskan, malam
- lailatul qadar itu rahasia
- bahwa suruh dicari di ganjil itu anjuran
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- yang memiliki latar belakang yang
- menarik. Jadi, Nabi nyarankan
- cari tanggal malam 27, cari di tanggal
- ganjil 10 hari terakhir, cari di 10 hari
- terakhir di bulan Ramadan. Itu ada
- landasan, ada latar belakang Nabi
- kemudian menyuruh itu.
- Karena apa? Sekali lagi, malam lailatul
- qadar rahasia.
- Bahkan Nabi pernah ingat Lailatul Qadar,
- tapi dijadikan lupa. Begitu kata
- riwayat. Kan berarti Nabi sendiri
- menjadi tidak tahu
- setelah tahu gitu berdasarkan riwayat
- itu tuh ya. Namun kemudian Nabi
- nganjurkan suruh dicari
- ini sekali lagi ini arahan Nabi ini
- menarik gitu loh.
- Maka ada ulama memahaminya
- karena ada beberapa apa anjuran
- Rasulullah mencarinya di berbagai
- variasi perintah. Maka sampai ada ulama
- menyatakan, "Mulailah cari lailatul
- qadar mulai tanggal 1 Ramadan
- atau mulai tanggal 1 Rajab atau mulai
- tanggal 1 Syawal bahkan." Nah, karena
- rahasia tadi karena untuk sampai kepada
- tingkat pencapaian lailatul qadar itu
- perlu kesiapan ruhiyah gitu loh.
- Ah, untuk mempersiapkan ruhiyah itu
- enggak gampang.
- untuk mengakibatkan, untuk menjadikan
- hati kita ini lembut. Itulah pada
- hasilnya penjelasannya.
- Untuk menjadikan hati kita lembut bukan
- sesuatu yang gampang.
- Apalagi kita masih punya musuh, apalagi
- kita masih punya dendam kepada orang
- yang memusuhi kita.
- Kalau masih ada hal-hal semacam itu, kan
- badnya harus dibersihkan dulu untuk
- menyambut lailatul q lailatul qadar.
- Karena lailatul qadar tidak akan datang
- kepada pendendam.
- Lailatul qadar tidak akan datang kepada
- orang yang bermaksiat.
- Ah, lagi jodi nih sabung ayam malam
- lailatul qadar datang. Apa dia
- menghampiri dia? Tidak. [berteriak]
- Ah, dia lagi maksiat kok gitu. Nah, maka
- oleh sebab itu kembali kepada
- pertanyaannya.
- Jadi secara apa? Fikih. gitu ya. Heeh.
- Secara fikih jelas harus di masjid. Tapi
- kalau secara apa tadi? Pendekatan
- substantif.
- Substantif itu adalah hakikat maka boleh
- saja kita melakukannya. Tapi dengan niat
- bukan iktikaf.
- Jadi di rumah Anda baca Quran, istigfar,
- selawat, merenungi kehidupan dan
- seterusnya. Ya, demikian. Wallahu aam
- bisawab. AB ya. Semoga itu juga bisa
- menjadi jawaban ee atas pertanyaan dari
- Eyang Sri ya yang menanyakan apakah
- iktikaf itu hanya boleh dilaksanakan di
- masjid itu.
- Baik, kita ke pertanyaan selanjutnya Pak
- Ustaz datang dari Bapak Abdullah di
- Depok. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Pak Ustaz dan K Rasil dalam
- keadaan sehat walafiat. Amin.
- Amin. Allahum amin.
- Mohon izin bertanya, Pak Ustaz. Apakah
- dengan cara beriktikaf presentase
- mendapatkan lailatul qadar lebih besar?
- Terlihatkah orang yang mendapatkan
- Lailatul Qadar? Mohon pencerahannya, Pak
- Ustaz. Jazakullah khair.
- Iya. Masyaallah. Jadi, pertanyaannya
- saya rubah ya. Apakah orang yang
- senantiasa taat kepada Allah, peluang
- untuk mendapatkan Lailatul Qadar lebih
- besar daripada orang yang biasa-biasa
- saja? Gitu.
- Jadi iktikaf itu kan sebagai definisi
- iktikaf itu kan diisi dengan
- ketaatan-ketaatan.
- Jadi jelas bahwa peluang sekali lagi
- peluang ya hakikat itu di sisi Allah.
- Peluang orang yang iktikaf dan
- mengisinya dengan pendekatan diri kepada
- Allah secara substantif
- peluangnya lebih besar untuk mendapatkan
- lailatul qadar dibanding dengan orang
- yang tidak
- mengarah ke sana.
- Apa yang saya maksudkan tidak mengarah
- ke sana? Kan ada orang
- iktikaf di masjid tapi bercanda.
- Ada orang tidak iktikaf di masjid, tapi
- dia serius membaca perjalanan hidupnya,
- membaca catatan amalnya,
- membaca dan mengevaluasi
- kebaikan-kebaikannya.
- Bisa jadi yang dapat lailatul qadar yang
- di rumah.
- Tapi karena tadi pertanyaannya dengan
- iktikaf itu tentu maksudnya iktikaf
- dengan rentetan gitu loh, rentetan
- ibadah-ibadah lainnya. Meskipun jelas
- kalau pendekatannya pendekatan
- ee hadis atau pendekatan sunah. Jelas
- bahwa orang yang iktikaf
- ya orang iktikaf meskipun mohon maaf
- cuma bagian luarnya saja iktikafnya.
- Jelas dia lebih unggul dibanding dengan
- yang tidak iktikaf itu asalnya.
- Iya.
- Tapi sekali lagi kita jangan tertipu.
- Ada orang tidak iktikaf tapi substansi
- amalannya melebihi orang iktikaf gitu
- loh. Karena ada orang iktikaf dia pindah
- tidur.
- Hm.
- Hanya main-main
- mainan game,
- mainan medsos dan lain sebagainya. Ah,
- gitu loh. Jadi, maka oleh sebab itu
- analisanya harus lebih detail gitu,
- tidak bisa secara umum, secara global
- ya. Jadi ee jika yang dimaksudkan adalah
- pertanyaannya adalah
- orang yang iktikaf dengan pengertian
- orang yang senantiasa taat kepada Allah
- itu jelas lebih besar peluangnya untuk
- mendapatkan lailatul qadar dibanding
- orang yang maksiat kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Nah, demikian yang
- dapat saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Dari Bapak Abdullah ke lalu selanjutnya
- dari pertanyaan dari Bapak Nurwo.
- Asalamualaikum Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, saya orangnya senang sekali
- jalan-jalan. Jadi saya kalau iktikaf
- berpindah-pindah masjid karena ingin
- sekalian mengunjungi masjid-masjid besar
- di sekitar saya. Apakah niat saya ini
- salah, Pak Ustaz? Mohon nasihatnya, Pak
- Ustaz. Syukran.
- Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
- jelas tidak salah ya. Apalagi kemudian
- diniatkan sambil silaturahmi ziarah ke
- masjid-masjid.
- Tapi yang paling penting tadi jangan
- sampai pergerakan Anda mempengaruhi
- kualitas iktikaf. Itu saja yang harus
- dijaga. Selama kita konsentrasinya
- kepada iktikaf,
- kepada perenungan diri, kepada
- permohonan ampun, kan ada orang berjalan
- naik kendaraan tapi pikirannya kepada
- Allah. Kan ada yang begitu toh. Tapi ada
- orang yang pindah-pindah fokusnya ke
- pindah-pindahnya.
- Nah, sangat tergantung sekali lagi kalau
- Anda mampu mengendalikan konsentrasi
- iktikaf maka tidak apa-apa.
- Tapi kalau Anda termasuk orang yang
- gampang terbawa suasana keindahan
- sekitarnya
- ya, keramaian di sekitar perjalanannya,
- maka sebaiknya Anda tetap di satu masjid
- saja gitu loh ya. Jadi hukumnya bisa
- boleh, tapi juga menjadi tidak boleh.
- Jadi bisa jaiz, bisa juga menjadi mamnu
- menjadi tidak boleh. Sangat tergantung
- tadi ya. Kalau Anda bisa fokus, bisa ee
- khusyuk meskipun pindah-pindah, maka
- Anda dibolehkan. He.
- Tapi kalau kemudian Anda menjadi
- terganggu, kekhusyuan iktikaf Anda
- terganggu, maka tidak dibenarkan.
- Ini juga menjadi dalil, juga menjadi
- rujukan
- ya. keluar masuk masjid sering keluar
- masuk masjid dengan orang yang tetap
- diam di masjid itu jadi pengaruh kayak
- seperti tadi. Jadi lebih disukai fokus
- duduk blek duduk gitu loh gitu ya. Fokus
- khusyuk ah itu lebih disukai dibanding
- keluar masuk. Hm. meskipun sekedar
- keluar masuknya misalnya cari angin,
- sekedar menggerakkan badan. Ya udah
- kalau menggerak badannya kalau gitu
- berdiri di tempat itu di tempat iktikaf
- terus gerakkan badannya
- kalau memang betul-betul pegal
- gitu ya. Dan jangan sampai sekali lagi
- pada substansinya merusak. Nah, tapi
- kalau terjaga tidak ada apa-apa. keluar
- masuk masjid juga enggak apa-apa. Kalau
- kemudian menunaikan keperluan ke toilet
- ini kan keluar masjid juga gitu kan.
- Tapi kalau keluar masjid ee tidak ada
- keperluan bahkan mengganggu konsentrasi
- iktikaf maka sebaiknya tidak dilakukan
- gitu ya. Demikian yang dapat saya
- jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Baik Ustaz. Selanjutnya datang
- pertanyaan datang dari Ibu Aminah
- menanyakan tentang sahur. Pak Ustaz
- nam
- Pak Ustaz, saya sedang menyimak Pak
- Ustaz di sore hari ini. Izin bertanya
- saya dibangunin anak selalu jam 0.30.
- Jadi saya lebih baik salat tahajud
- terlebih dahulu. Setelah itu baru makan
- sahur sampai menjelang imsak. Kadang
- sampai azan berkumandang. Saya masih
- minum. Mohon pencerahannya, Pak Ustaz.
- Terima kasih.
- Iya. Baik. Ya, tidak apa-apa.
- Anda dibangunkan .30 kemudian salat
- tahajud dulu.
- Kemudian selesai tahajud baru makan
- sahur.
- Imsak itu adalah waktu subuh.
- Adapun yang dikurangi 10 menit itu untuk
- kehati-hatian.
- H gitu ya. Jadi kalau Anda menjelang ee
- apa imsak masih minum enggak ada masalah
- bahkan masih makan juga enggak ada
- masalah.
- Ah, apalagi kemudian jika itu dimaknai
- sebagai kias kepada azannya Abdullah bin
- Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah, Nabi
- katakan, "Kalau azan Bilal, kamu enggak
- usah berhenti makan. Makan dan minumlah.
- Ah, nanti kalau sudah azan Abdullah bin
- Ummi Maktum, baru kamu berhenti makan
- dan minumnya." Ah, berapa jarak di
- antara keduanya, ya Rasulullah? Ya,
- sekira kamu membaca ayat 50 ayat kan
- begitu. Nah, ini menjadi kias
- kehati-hatian. Jadi, tidak mengapa ya.
- Ya, tapi yang jelas selama ee kalau
- sudah tuntas makannya enggak usah nambah
- kalau sudah azan itu ya habiskan ya yang
- tersisa sampai azan kumandang selesai.
- Ah. Tapi kalau semua adam belum selesai,
- Anda sudah habis, Anda minum, ya cukupan
- sampai di situ, enggak usah nambah lagi,
- gitu ya. Demikian ya saya kira yang
- dapat saya jelaskan. Wallahu aam
- bisawab.
- Ini nampaknya jadi satu pertanyaan
- terakhir, Pak Ustaz datang dari Bapak
- Dodi di Cilangkap, Jakarta Timur.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Ustaz Amad Saleh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ada dua pertanyaan. Yang pertama izin
- Pak Ustaz pada saat kita qiamulail saat
- iktikaf kalau lagi khusyuk saya kadang
- sampai menangis dan mendalam dan
- mendalam kalbunya. Pertanyaannya
- bagaimana menjaga kondisi ini supaya
- stabil dan istikamah setelah Ramadan?
- Yang kedua, pertanyaan yang kedua,
- sebagaimana hadis Nabi bahwa bahwa
- sungguh bau mulut orang yang berpuasa
- lebih harum di sisi Allah daripada bau
- minyak kasturi. Apakah artinya hadis
- ini? Apakah makin bau mulutnya lebih
- baik? Terima kasih, Pak Ustaz atas
- penjelasannya. Oke. Baik, dicatat ya.
- Pertanyaan kedua. E saya jawab
- pertanyaan pertama dulu.
- Bagaimana menjaga
- sifat seperti tadi?
- Saya katakan berat.
- Apalagi kita hidup di dunia
- yang jauh dari sifat-sifat islami.
- Karena untuk bisa menjaga itu pertama
- pandangan mata harus dijaga.
- Kedua, telinga harus dijaga.
- Ketiga, yang paling penting hati harus
- dijaga.
- Jika itu masih ternodai, maka sulit kita
- mempertahankan keistikamahan seperti
- itu.
- Atau Anda boleh mencarinya dengan
- memperbanyak selawat atas Nabi
- sallallahu alaihi wasallam.
- Wasam. Karena tidak mungkin kita
- menghindari suasana suasana seperti itu
- di jalan raya, di perkantoran, ah sangat
- susah membayangkannya. Maka Anda
- perbanyak dengan selawat atas Nabi
- sallallahu alaihi wasallam. Siapa tahu
- dengan memperbanyak selawat atas Nabi
- dapat membantu mempertahankan sifat
- semacam itu.
- Karena itu tidak gampang
- berdoa, ruku, sujud, bahkan sujud
- menjadi betah.
- Sujud menjadi betah.
- Misalnya saya ambil doa sujud yang
- masyhur saja.
- Subhana rabbiyal a'la wabihamdih.
- Subhana rabbiyal a'la wabihamdih.
- Lama.
- [mendengus] Bahkan Anda ingin
- memperbanyak bacaan subhana rabbiyal aa
- wabihamdih 11 kali, 13 kali, 15 kali dan
- seterusnya. Kenapa? Karena Anda begitu
- rindunya,
- [mendengus]
- begitu mahabbahnya kepada Allah azza wa
- jalla sehingga pujiannya itu
- begitu dalam. Nah, untuk bisa
- mempertahankan tadi seluruh panca indra
- dipalingkan untuk taat kepada Allah
- Subhanahu wa taala dan menjauhi dari
- maksiat-maksiat.
- Kalau kemudian lingkungan kita seperti
- ini yang tidak memungkinkan kita
- berpaling dari maksiat-maksiat,
- berapapun hebatnya kita berpaling dari
- kemaksiatan yang ada di sekitar kita,
- tentu akan terperangkap. Maka
- perbanyaklah istigfar,
- perbanyaklah zikir kepada Allah,
- perbanyaklah selawat atas Rasulillah
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Insyaallah itu akan senantiasa terjaga
- gitu ya. Oke. Kemudian yang kedua
- tentang
- apa itu ya hadisnya? Rih. Rih itu bau
- mulut ya.
- Hmm.
- Bau mulut orang yang berpuasa
- di sisi Allah itu lebih baik daripada
- rihul miski. Misik. Misik itu ee apa
- namanya?
- Kesturi.
- Hm.
- Sekali lagi itu di sisi Allah.
- Di sisi Allah itu lebih wangi nanti itu
- lebih wangi. Tapi di sisi manusia mah
- tetap aja bau.
- Iya
- gitu ya. Nah, hanya saja orang yang
- berdekatan dengan yang mencium bau mulut
- orang yang berpuasa menjadi sadar gitu
- loh. Oh meskipun bau di sisi saya, di
- sisi Allah mah dia wangi gitu loh. Nah,
- maka terjadilah perdebatan para ulama.
- Semakin bau semakin wangi di sisi Allah.
- Gitu pendapatnya.
- Berarti
- gosok gigi pakai sesuatu yang
- mengakibatkan wangi jadi makruh. Tuh
- dengan pemahaman ini. Sekali lagi dengan
- pemahaman semakin bau semakin wangi gitu
- kan.
- Jadi maka oleh sebab itu ulama
- memakruhkan nyikat gigi pakai odol.
- Padahal kan enggak ada masalah. Masalah
- enggak nyikat gigi pakai odol? Enggak.
- Asal tidak ditelan aja kan gitu.
- Tapi yang kedua logikanya terbalik.
- Bau mulutnya aja wangi
- apalagi wangi.
- Iya. [tertawa]
- Nah, dari pendapat inilah muncul
- bolehnya sikat gigi pakai odol
- atau siwak.
- Bagi yang e berpuasa hari ini coba pakai
- siwak. Itu aromanya beda. Aromanya tidak
- sebau tanpa siwak. Jadi kalau pakai
- siwak aromanya itu mohon maaf ya apa ya?
- Wangilah wanginya jel jelas bukan wangi
- seperti parfum tapi tadi seperti kesturi
- itu
- gitu ya. Nah maka saya kira siwakan
- siwak g ada masalah.
- meskipun sesungguhnya
- sikat gigi terjemah dari siwak.
- Nah, maka oleh sebab itu menarik sekali.
- Jadi kalau sekali lagi ya, kalau
- mengikuti pendapat ulama yang menyatakan
- semakin bau semakin wangi di sisi Allah
- ya saya mohon maaf ya ya saya
- menghormati itu pendapat itu. Tapi saya
- lebih cenderung kepada pendapat yang
- mengatakan jika baunya saja dinilai
- wangi di sisi Allah apalagi wanginya
- gitu loh. Nah, maka yang kedualah saya
- ee mengikuti pendapat kedua, maka saya
- termasuk orang yang menyikat gigi pakai
- pasta gigi
- atau kalau gak saya menggunakan selain
- sikat gigi pakai odol, pakai pasta gigi,
- saya menggunakan siwak.
- Heeh.
- Gitu ya. Heeh. Karena akar siwak itu
- akar siwak itu masyaallah manfaatnya
- jelas sekali. Pertama, akar siwak itu
- selain untuk menguatkan gigi, yang kedua
- menjadikan aromanya
- menjadi netral. Paling tidak netral itu
- tidak terlalu bau. Yang ketiga,
- menjaga kesehatan mata.
- Jadi siwak itu.
- Hm.
- Itu pengaruhnya ke mata juga ya. Oke,
- demikian saya kira yang dapat saya
- jawab. Wallahu aam bisawab.
- Baik, Ustaz. Kita sudah di penghujung
- waktu. Mungkin ada kesimpulan dari
- seluruh kajian kita Ustaz.
- Masyaallah. Kesimpulan yang dapat saya
- kemukakan. Mari kita isi sisa siam
- Ramadan ini dengan serius melakukan
- iktikaf. Bagi mereka punya yang punya
- kelapangan. Tapi bagi mereka yang karena
- kesibukan mencari nafkah atau berjuang
- yang lainnya, maka Anda bisa melakukan
- perenungan-perenungan itu di rumah. Yang
- paling penting adalah kita menyongsong
- dan menyambut Lailatul Qadar dengan
- ketaatan kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Demikian yang dapat saya
- kemukakan. Wasallahu
- ala nabiyina Muhammadin.
- Walhamdulillahiabbil
- alamin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz atas
- ilmunya pada sore hari ini dan juga kami
- ucapkan mohon maaf kepada Bapak Yuman
- yang saat ini sedang sakit ya. ee
- pertanyaannya belum bisa kami bacakan
- karena keterbatasan waktu dan juga dari
- hamba Allah pendengar kami di Sukabumi
- pertanyaan belum dibacakan karena
- keterbatasan waktu mohon maaf dan juga
- kami ucapkan terima kasih kepada Iwan
- Awat semua yang sudah mengirimkan
- pertanyaannya atensinya semoga Allah
- membalas dengan kebaikan yang berlipat
- ganda dari studio saya Fajar Hidayat
- Yusuf Bangkit dan juga Neza mohon undur
- diri mari kita akhiri saja dengan
- membaca doa kafaratul majelis subhanaka
- allahummahamdika asadua ila anta
- astagfiruka waubuik billahi taufik
- walhidayah wasalam Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.