Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan
- katsir thyiban barokan fih kama yuhibuna
- waardu. Allahumma shi wasallim wabarik
- ala sayidina Muhammadin waa ali sayidina
- Muhammad. Masih dipancarkan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis
- Cibubur, Bekasi. Radio Silaturahim dan
- juga Rasil TV untuk Islam yang satu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah. Senang sekali di
- kesempatan ini kami bisa kembali
- menjumpai ikhwan akhwat dalam program
- acara renungan di bawah naungan
- Al-Qur'an untuk edisi Jumat ya, Jumat
- terakhir di bulan Syakban tepatnya
- sekarang sudah masuki tanggal ke-25
- ya di bulan Syakban bertepatan juga
- dengan 13 Februari
- 2026. Semoga ikhwan awan di kesempatan
- ini dalam keadaan baik, sehat dan selalu
- dalam lindungan Allah subhanahu wa
- taala. Amin. Amin ya rabbal alamin.
- Telah hadir guru kita Ustaz Husein
- Alatas yang insyaallah akan memberikan
- pencerahannya,
- memberikan ilmunya untuk kita semua.
- Kita sapa terlebih dahulu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar baik dan sehat, Ustaz? Ya,
- alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Baik, Ikhwanat. Kita
- awali dengan ee pembukaan pembacaan
- Quran surah Al-Fatihah
- yang akan dibimbing langsung oleh Ustaz
- Husein. Kami persilakan, Ustaz.
- Auubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maiki yaumiddin.
- Iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim waladin.
- Amin.
- Amin. Amin. Amin ya rabbal alamin.
- Ikhwan akhwat, telah kita buka bersama
- dengan pembacaan Quran surah Al-Fatihah
- yang dipimpin langsung oleh Ustaz Husain
- Alatas. Selanjutnya Ustaz, kita sudah
- berada di akhir-akhir bulan Syakban,
- Ustaz. Dan akan menyongsong bulan suci
- Ramadan. Nah, ini di Jumat terakhir,
- Ustaz, ya. Jumat terakhir di bulan
- Syakban. Mungkin ee ada nasihat dari
- Ustaz, amalan-amalan apa untuk supaya
- kita tidak menjadikan Ramadan nanti itu
- hanya sekedar rutinitas,
- rutinitas tahunan yang mungkin
- insyaallah lebih bermakna, lebih terisi
- dibandingkan Ramadan-Ramadan tahun
- sebelumnya. Ustaz, kami persilakan.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin
- hamdan katsiran thyyiban mubarokan f
- kama yuhibbu rabbuna.
- Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala abdika wa rasulika
- sayyidina Muhammadin wa alihi atyibin
- wasohabatihil gurril mayamin wasairina
- ala nahjihil qawim ila yaumiddin.
- Subhanaka la ilma lana illa ma alamtana
- innaka antal alimul hakim.
- Allahumma alimna ma yunfauna wfna bima
- alamtana wasroh sudurana limarasyidi
- amrik.
- Allahumdina subulasam waakrijna
- minadumati nur wahdina ilaatikal
- mustaqim wajirna min adzabi jahannama ya
- rahman ya rahim ya rabbal alamin. Amma
- ba'du.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Pertama-tama
- saya ucapkan selamat
- menyambut kehadiran bulan Ramadan yang
- penuh dengan rahmah, barokah, dan juga
- ampunan dari Allah Subhanahu wa taala.
- dan juga kesempatan bagi kita
- untuk
- mengerjakan amalan-amalan saleh yang
- menyusul keburukan-keburukan amal kita
- di masa yang lampau.
- Karena amalan saleh di bulan Ramadan ini
- Allah lipat gandakan.
- Allah Subhanahu wa taala jadikan
- saat-saat kita
- baik di siang harinya, di malam harinya,
- tarikan nafas kita, bahkan tidur kita
- masuk dalam bilangan ibadah.
- Allah juga menjanjikan pengabulan doa
- bagi kita.
- Allah Subhanahu wa taala tutup pintu api
- neraka dan buka pintu surga.
- Allah juga membelenggu setan memberikan
- kesempatan kepada kita ini untuk kembali
- kepada Allah. Setelah tadinya kita
- hanyut bersama hawa nafsu kita, berada
- di bawah kendali setan, maka tiba
- saatnya bagi kita untuk memproklamirkan
- kemerdekaan kita dengan kita kembali
- seutuhnya kepada Allah di bulan yang
- penuh dengan rahmat.
- Bulan di mana Allah Subhanahu wa taala
- turunkan Al-Qur'an
- dan Allah jadikan malam turunnya lebih
- baik dari 1000 bulan. Ini juga
- mengingatkan kita akan keutamaan
- Al-Qur'an. Bila malam turunnya lebih
- baik dari 1000 bulan, maka Al-Qur'an itu
- sendiri jauh lebih baik, lebih baik,
- lebih mulia dari malam turunnya bagi
- mereka-mereka yang mencintainya dan
- menjadikannya sebagai pedoman hidupnya.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Ini merupakan hari Jumat terakhir dari
- bulan Ramadan,
- bulan Syakban.
- Ya, ini merupakan hari Jumat terakhir
- dari bulan Syakban.
- Merupakan hari yang penuh dengan rahmat
- dan keberkahan. Mari bersama-sama
- kita jadikan hari ini sebagai hari
- kita kembali kepada Allah subhanahu wa
- taala sebelum Allah subhanahu wa taala
- memanggil kita untuk kembali kepadanya.
- Ini kesempatan yang amat berharga.
- Kita kembali kepada Allah. Kalau tadinya
- kita terbiasa mengerjakan
- kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik,
- kebiasaan-kebiasaan yang melalaikan
- kita, mari kita beralih menuju
- kebiasaan-kebiasaan yang dicintai Allah,
- yang mempererat hubungan kita dengan
- Allah, yang membuat hati kita merasakan
- betul-betul suasana mesra di saat kita
- bermunajat kepada Allah.
- Merasakan ketaatan
- merupakan jalan yang paling indah dan
- penuh dengan rahmah bagi kita. Dan
- kemaksiatan yang kita lakukan di masa
- lampau merupakan suasana yang gersang,
- suasana yang mencekam, yang menjadi
- hijab antara kita dengan Allah Subhanahu
- wa taala.
- Maka mari kita mulai pertama-tama dengan
- banyak-banyak beristigfar,
- memohon ampun kepada Allah.
- Kita semua tahu
- bahwa Allah Subhanahu wa taala
- menjanjikan bagi orang yang beristigfar
- memohon ampun dalam rangka melakukan
- koreksi terhadap kesalahannya.
- Melakukan evaluasi untuk meningkatkan
- betul-betul apa amalan-amalan,
- kebiasaan-kebiasaan yang baik kita
- lanjutkan dan sempurnakan. Sedangkan
- kebiasaan-kebiasaan buruk kita
- tinggalkan. Kita selalu melakukan
- muraqabah, pengawasan terhadap diri
- kita. Pengawasan terhadap perilaku kita.
- Dimulai dengan menjaga hati kita,
- menjaga pandangan mata kita, menjaga
- pendengaran kita, menjaga lisan kita,
- menjaga kemaluan kita. Karena ibadah
- siam di bulan Ramadan ini bukan hanya
- sekedar kita menahan lapar dan haus.
- Tapi tujuan dari ibadah siam selama 1
- bulan ini mendidik kita, membiasakan
- kita untuk menjaga hati kita agar selalu
- betul-betul ingat kepada Allah. Agar
- selalu menjaga Allah pada setiap ucapan
- kita, setiap gerak-gerik kita, pandangan
- mata kita, pendengaran kita.
- Dengan membiasakan ini selama 1 bulan,
- insyaallah kita bisa masuk dalam
- golongan orang-orang yang bertakwa
- kepada Allah. Setelah tadinya kita hidup
- dalam keadaan liar, tidak terkendali,
- masuk ke dalam suasana Ramadan. Inilah
- merupakan saat-saat kesempatan yang amat
- indah.
- Begitu
- masuk malam Ramadan, terdengar seruan
- dari malaikat, "Ya baqial khairi absir."
- Wahai orang yang mendambahkan kebaikan,
- sambutlah. Ini merupakan kabar gembira
- bagi kalian dengan datangnya Ramadan.
- aksir dan orang yang terbiasa
- mengerjakan hal-hal yang buruk ini
- saatnya kalian untuk berhenti bertobat
- kembali kepada Allah dengan niat yang
- betul-betul tulus untuk tidak kembali
- lagi kepada kebiasaan-kebiasaan buruk
- yang kita lakukan sebelumnya.
- Jadi banyak-banyak beristigfar kepada
- Allah Subhanahu wa taala, banyak-banyak
- juga bertasbih,
- banyak-banyak kita memuji Allah
- subhanahu wa taala, begitu pula
- mentakbirkannya.
- Sebagaimana Allah ingatkan dalam suratul
- Ahzab. Ya ayyuhalladzina
- amanukkurullahazikron
- katsir wasabbihuhu bukratan
- wasila. Wahai orang-orang yang beriman,
- banyak-banyaklah kalian berzikir kepada
- Allah, menyebut namanya juga mengingat
- Allah dalam hati kita.
- Ingatan yang akan selalu menjaga diri
- kita untuk selalu berjalan dalam
- keridaannya. Merasa malu untuk melakukan
- perbuatan-perbuatan yang tidak diridai
- Allah subhanahu wa taala. Ini yang akan
- menumbuhkan ketakwaan di hati kita.
- Wasabbihuhu bukratan waila. Dan
- bertasbihlah kepadanya pagi dan petang.
- Dari mulai pagi hari kita bertasbih
- mensucikan Allah, memuji Allah.
- Dan tujuan dari tasbih dan pujian ini
- kembali untuk mensucikan jiwa kita,
- untuk menumbuhkan rasa syukur di hati
- kita akan nikmat karunia Allah yang tak
- terhingga atas kita semua. Begitu pula
- mentakbdirkan Allah untuk membesarkan
- hati kita bahwa yang maha besar hanyalah
- Allah selain dari Allah makhluknya.
- Semua di bawah kekuasaannya. Begitu kita
- menghadapi ancaman, kita kembali kepada
- Allah akan menentramkan hati kita.
- Karena kita berlindung kepada Allah juga
- dengan mentakbdirkan Allah mengikis
- membersihkan kesombongan di hati kita
- terhadap sesama kita. Karena tidak layak
- kita melakukan hal tersebut. Yang maha
- besar, yang maha sempurna, yang maha
- agung adalah Allah. Sedangkan kita
- hamba-hamba Allah, sepatutnya kita
- bersikap merendah diri, bertawaduk di
- atas muka bumi terhadap sesama kita,
- memperlakukan mereka dengan mulia,
- mengulurkan tangan kita di saat mereka
- membutuhkan bantuan, memberikan nasihat
- yang baik, juga melipur lara hati mereka
- di saat mereka berhadapan dengan
- cobaan-cobaan yang mereka hadapi.
- Dengan kebersamaan ini hidup akan terasa
- indah sebagaimana yang digambarkan Allah
- mengenai masyarakat Islam wal mukminun
- wal mukminat ba'duhum auliyau ba'din
- orang-orang yang beriman. Sebahagian
- mereka merupakan wali sebahagian yang
- lain.
- Itu merupakan
- konsekuensi dan tuntutan dari keimanan.
- Begitu kita beriman, maka sikap kita
- terhadap sesama orang yang beriman
- betul-betul apa? terikat dengan hubungan
- wala dalam iman. Apabila kita
- menyaksikan saudara-saudari kita dalam
- keadaan susah, kita berpangku tangan,
- maka kita telah melangkah mengeluarkan
- diri kita dari dalam keimanan. Karena
- sikap pengabaian kita. Kalau ada iman di
- hati kita, pasti kita akan mengeluarkan
- tangan kita diminta maupun tidak
- diminta. Dan kalau kita lakukan hal ini,
- kita betul-betul memiliki rasa
- persaudaraan yang hangat mesra bersama
- orang yang beriman, saling menolong dan
- saling membantu. Tidak akan terjadi
- berbagai macam skandal, kejadian,
- peristiwa seperti yang terjadi di depan
- mata kita.
- Ada seorang anak yang di bawah umur
- melakukan bunuh diri
- bukan karena dia ingin mati, tapi karena
- ingin terlepas dari beban kehidupan yang
- tidak sanggup untuk dipikul.
- Dahulu kita dengar kasus berdiri terjadi
- pada orang-orang dewasa, orang tua yang
- terlilit huta, yang berhadapan dengan
- tekanan yang berat. Tapi sekarang
- anak-anak kecil pun banyak yang
- melakukan tindakan bunuh diri. Bukan
- karena mereka mainkan kematian, tapi
- mereka tidak tahan.
- Hidup tanpa
- merasakan betul-betul kehangatan dari
- orang-orang di sekelding mereka. Oleh
- karena itu, kasus bunuh diri anak-anak
- ini atau anak remaja bukan kasus
- individu,
- bukan kasus ya yang bersifat individual,
- tapi menyangkut apa? yang menyangkut
- persoalan sosial di mana melibatkan
- orang tua, melibatkan sekolah,
- melibatkan juga masyarakat. Ke mana
- perginya masyarakat kita? Apalagi bangsa
- kita yang dikenal sebagai bangsa yang
- tantun, yang penuh dengan rahmat. Ke
- mana perginya mereka? Di saat mereka
- menyaksikan salah satu anak mereka atau
- saudara mereka, saudari mereka dalam
- keadaan menderita.
- Bukan kita mengulurkan tangan kita,
- malah kita mencemohkan dan melewekkan.
- Kamu si begini, kamusi begitu. Bukan
- kita datang untuk mengeluarkan bantuan
- malah kita menambah derita mereka.
- Mereka merasa sudah terjepit atau
- masyarakat atau orang tua melakukan
- hampitan yang lebih berat buat mereka.
- Padahal mereka pada saat itu membutuhkan
- uluran tangan seperti kasus seorang anak
- remaja bunuh diri karena nilai dan
- angkanya yang rendah. Pulang ke rumah
- orang tua. Di saat anak tersebut
- membutuhkan dukungan dan hiburan, orang
- tua justru mencemohkannya, memarahinya,
- mencaci dan memakinya.
- Dia merasa soal dunia menjadi gelap.
- Seorang yang membutuhkan pertolongan dan
- uran tangan. Seharusnya orang tua
- menghibur dirinya. Kalau sekarang kamu
- belum berhasil, ayah, ibu doakan kamu,
- mari bersama-sama kita bekerja sama
- untuk meningkatkan hasil ujian kamu.
- Tapi orang tua ternyata mengecam,
- mengancam, ya memperlakukan dia dengan
- cara yang tidak baik.
- Akhirnya dia berputus asa, kehilangan
- harapan
- bukan karena ingin mati, tapi bunuh diri
- karena ingin keluar dari apa? Suasana
- yang mencekam dirinya.
- Jadi, ini merupakan tanggung jawab kita
- semuanya. Nah, suasana Ramadan suasana
- yang penuh dengan rahmat. Mari kita
- belajar dari Ramadan untuk menumbuhkan
- rasa rahmat di hati kita juga membangun
- kepedulian di antara sesama kita. Kita
- merupakan anggota masyarakat walaupun
- katakan tidak terikat dengan hubungan
- darah yang dekat, keimanan mengikat kita
- semua. Walaupun tidak seiman kita
- saudara yang berasal dari ayah ibu yang
- sama. Allah perintahkan kita
- memperlakukan manusia dengan baik dan
- mulia. Seanda dia tetangga kita
- nonmuslim, kita wajib untuk mengulurkan
- tangan kita. Bahkan di saat kita
- memasak, kita membagi sebagian masakan
- kita yang tercium oleh tetangga kita.
- Jadi kebaikan, perbuatan-perbuatan mulia
- itu merupakan ciri yang dilakukan
- orang-orang yang beriman kepada Allah.
- Baik terhadap sesama orang yang beriman
- maupun orang-orang yang tidak seiman
- dengan dirinya. Saksikan bagaimana
- negara-negara yang nonmuslim seperti
- dikatakan Australia,
- negara-negara di Eropa memperlakukan
- rakyatnya baik yang seiman dengan
- pemerintahnya maupun yang tidak seiman
- dengan perlakuan yang baik dan mulia.
- Seperti yang dilakukan Belanda terhadap
- rakyatnya, terhadap imigran yang datang
- kepada mereka. Oleh karena itu, mari
- kita sebagai orang yang beriman yang
- menjadi pengikut Nabi yang diutus
- sebagai pembawa rahmat bagi seluruh
- alalamin untuk betul-betul apa? Untuk
- menumbuhkan rahmat di hati kita. Bukan
- justru menjadikan agama sebagai
- pertentangan, perselisihan yang
- menumbuhkan kebencian, yang memalingkan
- kita dari pokok-pokok dan tujuan agama
- kita serta misi Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
- Oleh karena itu, Nabi berkata,
- "Irhamu man fil ardhi yarhamkum fisama."
- Kasihi sayangi yang di bumi. Bukan hanya
- manusia, bahkan hewan pun kita
- perlakukan mereka dengan baik dan mulia.
- Bukan hanya yang seiman, tapi yang tidak
- seiman dengan kita, kita wajib juga
- perlakukan mereka dengan mulia.
- Yarhamkum man fisama. Bila kalian
- perlakukan mereka dengan penuh kasih
- sayang, yang di langit pun akan
- mengasihi menyayangi kalian. Innallaha
- yarhamu min ibadihir ruhama. Allah
- mengasihi menyayangi hamba-hambanya yang
- pengasih penyayang.
- Man la yarham la yurham. Orang yang
- tidak memiliki rasa rahmat, orang yang
- jauh dari rahmat Allah. Maka barang
- siapa yang mendambahkan rahmat Allah,
- barang siapa yang ingin mendapatkan
- perhatian dari Allah dan uluran
- tangannya, hendaknya kita memperlakukan
- manusia juga. dengan cara yang sama.
- Jangan kita bersikap egois ingin
- mendapatkan perhatian dari Allah, rahmat
- dan kasih-Nya. Tapi kita perlakukan
- manusia dengan cara yang aniaya. Jadi
- banyak-banyak beristigfar, banyak
- berzikir kepada Allah, berselawat kepada
- Nabiya Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam.
- Bukan hanya selawat ya dalam ungkapan
- kalimat-kalimat yang kita baca yang tak
- bermakna, tapi selawat dalam arti yang
- menghubungkan diri kita dengan
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,
- menumbuhkan kecintaan kita kepada
- sunahnya, kepada perilakunya. Selawat
- dari Allah merupakan limpahan rahmat,
- merupakan ijabah pengabulan. Sedangkan
- selawat dari kita untuk rasulnya
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- sebagai istijabah, sebagai sambutan yang
- menyambut seruan Rasul sallallahu alaihi
- wasallam yang menumbuhkan cinta di hati
- kita hingga kita akan mengutamakan
- contoh-contoh dan sunah-sunah dari
- kehidupannya daripada kehidupan jahiliah
- yang sedang mewabah di tengah-tengah
- kita semua. Jadi di saat membaca
- selawat, resapilah. Resapi dengan
- betul-betul penuh penghayatan selawat
- yang kita baca dengan harapan untuk
- menghubungkan kita dengan Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam,
- memudahkan kita untuk menyambut seruan
- dan ajakannya, juga membentuk
- kepribadian kita sesuai dengan
- kepribadian nabi kita sebagaimana yang
- Allah arahkan. Laqad kan lakum fi
- rasulillahi uswatun hasanah.
- Kemudian di bulan Ramadan
- banyak-banyaklah kita membaca Al-Qur'an.
- Karena Allah menentukan puasa kita di
- bulan Ramadan. Bulan turunnya Al-Qur'an
- menjelaskan hubungan yang begitu akrab
- antara Al-Qur'an dan Ramadan.
- Baca Al-Qur'an baik sendiri maupun
- bersama keluarga sambil membaca
- terjemahkan artinya. Allah akan permudah
- bagi kita untuk memahami Al-Qur'an
- kita. Di samping
- membaca Al-Qur'an, meresapi maknanya,
- jangan tinggalkan bangun malam dan salat
- dalam suasana hening. Kita rukuk sujud
- di hadapan Allah Subhanahu wa taala yang
- akan
- mengangkat beban-beban yang berat di
- atas pundak kita semuanya yang akan
- mengampuni dosa kita. yang akan
- memasukkan kita ke dalam rahmat Allah
- Subhanahu wa taala. Oleh karena itu,
- salat merupakan amalan dan buah hati
- yang paling dicintai oleh Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Rasulullah mengatakan, "Wailat quratu
- aini fisah." Allah jadikan buah hatiku
- dalam salat. Begitu juga
- ubu amrun fa. Nabi kalau berhadapan
- dengan urusan yang berat, bergegas-gegas
- dia lari untuk melakukan salat
- berhubungan dengan Allah Subhanahu wa
- taala. Nah, mudah-mudahan
- dengan amalan-amalan saleh yang kita
- lakukan baik dalam menyambut Ramadan
- dimulai dari hari ini dan amalan saleh
- yang kita lakukan di bulan Ramadan,
- Allah Subhanahu wa taala bukakan pintu
- rahmatnya, ampunannya dan keberkahannya.
- Dan hal yang terakhir perlu ditekankan,
- hendaklah kita membiasakan diri kita
- untuk berzakat dan berinfak. Karena
- zakat merupakan kewajiban yang tidak ada
- tawar-menawar. Bagi yang punya kemampuan
- hendaklah dia mengeluarkan zakatnya
- dengan sebaik-baiknya.
- Kemudian juga di samping zakat yang
- dikeluarkan juga berinfak kepada
- kerabatnya,
- kerabat-kerabatnya ya yang membutuhkan
- baik untuk kebutuhan mereka makan di
- bulan Ramadannya,
- untuk kebutuhan berhari rayanya. Apabila
- dia diberikan kelebihan di samping zakat
- yang dikeluarkan yang Allah wajibkan,
- dia juga berinfak untuk meringankan
- beban-beban kerabatnya, keluarganya atau
- orang-orang yang membutuhkan. Dan ini
- merupakan amalan yang akan betul-betul
- membuka pintu rahmat dan rezeki yang
- seluas-luasnya dan juga ampunan dari
- Allah Subhanahu wa taala. Karena ada
- dosa-dosa ya yang tidak diampuni oleh
- Allah Subhanahu wa taala melainkan
- dengan mengulurkan tangan. Mengulurkan
- tangan kepada hamba-hambnya yang
- membutuhkan. Di saat kita mengelurkan
- tangan kepada hamba-hamba yang membantu,
- hamba-hamba tersebut bersyukur kepada
- Allah atas apa yang Allah berikan
- kepadanya. Dengan syukur tersebut Allah
- Subhanahu wa taala di samping memberikan
- kemurahan padanya, Allah ampuni dosanya.
- Tapi apabila orang-orang kaya yang mampu
- menahan diri mereka hingga menimbulkan
- keluh, kesah, putus asa di hati manusia,
- hingga mereka hanya mengutuk takdir
- Allah Subhanahu wa taala, maka
- mereka-mereka yang kaya ikut bertanggung
- jawab di hadapan Allah. Karena mereka
- yang menjadi penyebab menderitanya,
- merananya manusia tidak melaksanakan
- kewajiban mereka terhadap sesama mereka.
- Wallahuam.
- Baik, Ustaz. Terkait eh tadi menyinggung
- kasus ee di NTT, Ustaz, ya? bunuh
- dirinya seorang anak. Ini ada tanggapan
- dari pendengar dan juga mungkin
- pertanyaannya, Ustaz, mengenai
- kemiskinan, Ustaz.
- Ustaz, ee kemiskinan yang ee menjerat
- keluarga di daerah tersebut nampaknya
- bukan soal angka di atas kertas saja
- katanya, tapi sudah menjadi beban mental
- yang ditanggung hingga ke anak-anak.
- Seringki karena himpitan ekonomi orang
- tua itu menjadi stres, kehilangan
- kemampuan untuk ee memberikan rasa aman
- kepada anak-anaknya. Nah, dalam dalam
- pandangan Islam, bagaimana kita bisa
- menguatkan pondasi keluarga yang sedang
- dihimpit kemiskinan agar tetap memiliki
- harapan atau roja ya, Ustaz ya. Rojak
- dan tidak terjemus terjerumus dalam
- keputusasaan, Ustaz. Nah, saya lihat ee
- data juga, Ustaz. Ee jadi menurut KPAI
- ini Diah Puspir Tarini menyampaikan,
- Ustaz ee jadi Indonesia itu tingkat
- bunuh diri anaknya itu paling tinggi di
- ASEAN, Ustaz. Paling tinggi di ASEAN.
- Penyebab utamanya antara lain itu
- perudungan dan kemiskinan tadi, Ustaz.
- Nah, bagaimana Ustaz?
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Allahumma atina min indika rahmah waimna
- min ladunka ilman nafi wa faana bima
- alamta.
- Apabila satu keluarga
- yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak,
- mereka penuh keimanan kepada Allah
- subhanahu wa taala.
- Cobaan kemiskinan yang mereka hadapi
- itu bagaikan mendung
- sebelum turunnya hujan. Heeh.
- Mereka hadapi dengan tabah.
- Si Bapak pun ya dalam menghadapi tekanan
- tersebut tetap dengan penuh rasa yakin
- dan senyum mengharapkan apa yang datang
- dari sisi Allah. Dia mampu bertahan
- bahkan mengendalikan emosinya. Dia hibur
- istrinya, dia hibur anak-anaknya.
- Kita sabar sambil sambil menantikan
- pertolongan Allah. Bukan kita yang
- pertama kali menghadapi cobaan ini.
- Orang-orang sebelum kita juga banyak
- orang tua mengisahkan kisah Nabi Ayub
- yang anaknya satu persatu diambil oleh
- Allah. Kemudian juga hartanya, kemudian
- tubuhnya terkena penyakit, sedikit pun
- dia tidak berputus asa. Jadi kalau orang
- tua ya dalam keadaan tabah, penuh
- kepasrahan kepada Allah, cobaan
- bagaimanapun beratnya tidak akan
- berpengaruh terhadap dirinya.
- Tapi apabila rumah tangga dalam keadaan
- rapuh, rumah tangga dalam keadaan rapuh
- ini bukan hanya terjadi pada anak-anak
- yang punya kebutuhan.
- Bukan hanya terjadi pada rumah tangga
- yang kondisi ekonominya lemah, bahkan
- anak-anak yang berkecukupan.
- Heeh.
- Tapi karena suasana rumah tangga yang
- hangat, tidak mesra, sampai seorang anak
- tega membunuh ibunya.
- Atau karena kebiasaan-kebiasaan jejet.
- Sebagai contoh anak yang asyik ya
- bermain lalu orang tuanya mengingatkan
- dia atau mengambil merampas
- handphone-ya.
- He.
- Siarap menganggap orang tuanya merupakan
- musuhnya. Pada saat dia kehilangan
- kesadaran, dia melakukan
- tindakan-tindakan yang
- berlebihan sampai ada yang membunuh
- orang tuanya. Masyaallah.
- Begitu juga di sekolah, seorang murid
- ketika dirampas HP-nya oleh gurunya,
- diemosi meletup-letup,
- mengamuk-ngamuknya.
- hingga melakukan tindakan-tindakan
- yang tidak wajar pada gurunya. Nah, ini
- semua kalau kita perhatikan ini bukan
- hanya sekedar tanggung jawab orang tua,
- bukan juga hanya sekedar tanggung jawab
- sekolah, tapi kita semua mempunyai
- tanggung jawab bagaimana kita mampu
- untuk membangun masyarakat yang harmonik
- kalau wabah penyakit menyebar di
- tengah-tengah mereka. Nah, di antara
- penyebab terjadinya bunuh diri memang
- penyebab terbanyak di antaranya karena
- faktor kemiskinan. Sampai Imam Ali
- mengatakan, "Kadal faqru ayakuna kufro."
- Hampir-hampir kefakiran ini bisa
- menjerumuskan orang dalam kekafiran.
- Nah, Allah dengan rahmatnya
- melalui surah Al-Fatihah sebagai contoh
- yang sering kita baca tapi jarang
- diresapi. Allah mengingatkan kita untuk
- hidup ini selalu
- teriring dengan rahmat Allah yang maha
- pengasih lagi maha penyayang. Artinya
- jangan biarkan hidup kamu sendiri. Nah,
- bismillahirrahmanirrahim.
- tanpa harus mengeluarkan biaya, tanpa
- kita harus membayar sesuatu, tanpa harus
- pergi jauh-jauh,
- iya
- kita langsung bisa menghubungkan diri
- kita dengan Allah yang maha pengasih
- lagi maha penyayang. Jadi jangan jadikan
- bismillah hanya sekedar bacaan sebagai
- rutinitas dalam setiap awal pekerjaan
- kita. Tapi jadikan bismillah ini
- merupakan wasilah yang menghubungkan
- kita langsung dengan Allah hingga yang
- lemah merasa kuat, yang miskin juga
- merasa apa? Merasa kaya. Ya.
- Kemudian yang sedang kehilangan harapan,
- dia menemukan harapannya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- diingatkan kepada rahmat Allah yang maha
- pengasih hingga mendorong dirinya untuk
- melantunkan puja-puji kepadanya.
- Di sedikit dicoba sudah berkeluh kesah
- berputus asa betapa banyaknya nikmat
- karunia Allah yang Allah berikan
- kepadanya.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Lalu
- kembali Allah ulangi arrahmanirrahim.
- Lalu kita diingatkan juga Maliki
- yaumiddin. Hidup kita bukan hanya
- sebatas di sini.
- Kalau kita gagal di sini, tidak
- mengikuti petunjuk Allah, kita akan
- lebih menderita di hari akhir. Kalau di
- dunia orang menderita bisa melepaskan
- kehidupannya dengan kematian.
- Tapi kalau orang gagal dalam ujian
- menghadapi cobaan dalam kehidupan dunia,
- ke mana dia akan melarikan diri dari
- azab api neraka?
- Cuma kebanyakan orang tidak menyadari
- hal ini. Dia beranggapan dengan dia
- bunuh diri dia akan terputus dari
- penderitaannya. Padahal dia akan masuk
- ke dalam suasana putus asa yang amat
- mengerikan.
- Dia tidak mampu lagi memperbaiki
- dirinya, tidak mampu untuk menebus
- kesalahannya. Tapi bagaimanapun susahnya
- hidup, selagi ada kesempatan hidup yang
- merupakan satu nikmat yang tak
- terhingga, dia punya kesempatan
- bertobat, kesempatan untuk memperbaiki
- dirinya. Oleh karena itu hendaknya kita
- selalu memberikan harapan sebagaimana
- sabda Nabi, basyiru wala tunafiru.
- Sebarkan kabar gembira. Jangan kalian
- membuat orang takut. Yasiru wala
- tuasiru. Permudah. Jangan kalian
- mempersulit. Jadi hendaknya kita
- masyarakat ini satu sama lain bekerja
- sama bagaikan gambaran yang Rasulullah
- gambarkan. Almukmin lil mukmin kal
- bunyan yasyuddu bau ba. Orang yang
- beriman bersama saudaranya yang beriman
- laksana bangunan yang saling
- topang-menopang.
- Bangunan bukan hanya di fondasi saja,
- bukan juga pilar, bukan hanya dinding,
- bukan hanya atap. Atap pun bertumpu di
- atas dinding dan pilar. Tapi melalui
- kesatuan lahirlah bangunan yang kokoh
- dan kuat. Begitu juga masyarakat kita.
- Jangan yang diberikan kekayaan lupa,
- yang diberikan keutamaan lupa, tapi mari
- bersama-sama kita beramal, bekerja,
- memberikan kontribusi sesuai dengan
- peran kita, potensi yang Allah berikan
- kepada kita. Kalau ini kita lakukan,
- insyaallah
- kejadian-kejadian yang tadi disebutkan
- akan mampu kita hindari. Yang berilmu
- turun tangan memberikan masukan,
- nasihat-nasihat, hiburan-hiburan
- bagi anak-anak yang tumbuh. Agama bukan
- hanya hafalan, agama bukan hanya praktik
- salat, tapi agama penghayatan. Di mana
- para ustaz, para tokoh agama ini mereka
- memberikan kabar gembira, menyampaikan
- janji-janji Allah, pertolongan Allah
- asal mereka selalu ingat kepada Allah.
- Di samping mengingatkan mereka akan azab
- dan murka Allah Subhanahu wa taala. Bila
- mereka menyaksikan salah satu anak
- mereka dalam keadaan susah, dia ingatkan
- yang mampu untuk memberikan bantuan.
- Oleh karena itu diperlukan berkumpul
- kita dalam suasana salat berjamaah ini
- juga akan mempertemukan kita dan juga
- akan apa? Akan memberitahukan kita siapa
- di antara mereka yang membutuhkan. Tapi
- kalau masing-masing salat di rumahnya,
- masing-masing menutup dirinya, siapa
- yang tahu keadaan mereka? Jadi salat
- berjamaah ini sebetulnya merupakan apa?
- Merupakan suasana silaturahmi
- yang akan saling apa? Yang akan saling
- mengingatkan. juga akan saling apa
- menunjukkan
- keadaan-keadaan mereka yang sebenarnya
- pada saat mereka butuh, pada saat mereka
- susah begitu yang memiliki kelebihan.
- Dan insyaallah dengan salat berjamaah
- kita biasakan dalam lingkungan kita,
- bapak-bapak ibunya berjamaah, ibu-ibunya
- berkumpul dalam majelis taklim, kemudian
- majelis taklim tersebut bukan hanya
- sekedar menyampaikan ceramah, tapi
- menginventarisir juga orang-orang yang
- membutuhkan, orang-orang yang punya
- kemampuan kemudian bisa saling bekerja
- sama. Kalau diingatkan oleh tokoh agama
- sebagaimana yang Allah Subhanahu wa
- taala ingatkan, mereka berperan untuk
- mengingatkan orang untuk peduli
- memberikan bantuan kepada sesamanya. Itu
- akan lebih mudah. Apalagi kalau sudah
- menjadi kebiasaan dan karakter di satu
- masyarakat dengan kebiasaan yang
- berulang-ulang, lama-kelamaan menjadi
- karakter.
- Dan Allah ingatkan bahwa orang yang
- tidak punya kepedulian adalah orang yang
- mendustakan agama. Aritadzi
- yukadzibu bidinikalladzi
- wahub.
- Apa kamu pernah melihat orang yang
- mendustakan agama? Itu orang yang
- menghardik bersikap kasar pada anak
- yatim. Sikap kasar ini begitu juga
- perlakuan orang yang kasar bisa
- mendorong dia kepada suasana putus asa.
- W yahubamil miskin. Dan dia tidak
- menganjurkan orang untuk memberikan
- makan kepada orang miskin.
- Jadi kita lihat bagaimana hal-hal yang
- dianggap sepele oleh masyarakat atau
- oleh kaum muslimin ini justru bisa
- menjerumuskan dirinya ke dalam golongan
- orang yang mendustakan agama. Mungkin di
- mata masyarakat dia sesama muslim, tapi
- di mata Allah di hari kemudian nanti
- Allah tidak akui sama sekali keimanan
- dia. Karena perilakunya menunjukkan
- bahwa dia bukan orang yang beriman.
- Padahal orang yang beriman seharusnya
- memiliki rasa persaudaraan. Nah, ini
- yang kita harapkan sebagaimana terjadi
- pada kaum Muhajirin dan Ansar ketika
- mereka hijrah tidak memiliki rumah
- berdiam bertahun-tahun di rumah kaum
- Anshar. Kaum Anshar juga mengutamakan
- mereka dari keluarga mereka. Apa yang
- mereka harapkan? Allah. Jadi, mari
- bersama-sama kita beramal, berjuang
- untuk menumbuhkan apa?
- Harapan. Bukan datang dari orang yang
- kita perlakukan dengan baik, tapi kita
- berharap dari rahmat Allah Subhanahu wa
- taala. Ampunannya.
- Jadi persoalan kasus bunuh diri ini yang
- terjadi di Indonesia juga yang terjadi
- ya di berbagai macam negara termasuk di
- Mesir sering kita mendengarkan kasus
- bunuh diri anak-anak yang ujian ternyata
- gagal atau mendapatkan angka yang rendah
- di mana mereka kehilangan harapan untuk
- mendapatkan
- perguruan tinggi yang baik
- atau mendapatkan tempat pekerjaan yang
- baik
- seolah-olah kiamat saja
- iya mereka merasakan dunia mereka gelap
- Kenapa? Karena orang tua itu terlalu
- menekankan hal ini.
- Wanti-wanti jangan sampai kamu dapat
- angka yang rendah. Masa depan kamu
- tergantung pada hal ini. Bukan
- dikembalikan masa depannya pada Allah.
- Berjuanglah kamu semaksimal kemampuan
- kamu.
- Ayah ibu mendoakan kamu. Jadi kalau ayah
- ibunya mendoakan memberikan harapan
- kemudian katakan sewaktu dia gagal orang
- tua mengatakan jangan bersedih hati.
- Kegagalan bukan pertanda bahwa apa?
- Berakhirnya seluruh harapan hidupmu.
- Terkadang kegagalan itu merupakan awal
- kesuksesan keberhasilan kamu. Kalau kamu
- gagal pada saat ini, ulangi pada tahun
- berikutnya. Jadi, orang tua ini harus
- betul-betul bersikap bijak,
- menghibur, memberikan dorongan,
- memberikan motivasi. Dan memang kita
- sekarang orang-orang tua wajib mengawasi
- anak-anak kita dalam persoalan jajat
- ini.
- Iya. Karena bisa histeris, anak yang
- sudah menjadi pencandu jajet bisa
- menjadi seorang yang histeris, susah
- untuk dikendalikan. Jadi, mari
- bersama-sama kita alihkan mereka pada
- kesibukan-kesibukan yang mengalihkan
- mereka.
- Dulu pada masa kanak-kanak kan orang di
- luar bermain bola,
- bermain juga katakan pingpong,
- badminton, kemudian berbagai macam
- kesibukan bermain di luar yang
- mengalihkan mereka terhadap hal-hal yang
- tidak baik.
- Permainan tradisional, Ustaz. I banyak.
- Kalau sekarang orang banyak
- menahan anak-anak di rumah karena tempat
- bermain enggak ada lagi.
- Iya.
- Lapangan-lapangan bermain sudah hilang.
- Lebih banyak memperhatikan
- justru apa? Pembangunan yang tidak
- beraturan. Baik itu membangun rumah,
- membangun juga jalan-jalan. Sedangkan
- untuk orang berjalan kaki saja sekarang
- orang mengalami kesulitan. Iya. Jadi
- memang ee struktur masyarakat kita
- sekarang ini beda dengan masa lampau.
- Dulu kita merasakan memang ekonomi masih
- dalam kondisi apa? Apalagi setelah
- peralihan dari masa Bung Karno menuju
- Pak Harto itu masa-masa sulit. Tapi
- kehangatan di antara masyarakat saling
- mengenal, saling membantu kita enggak
- temukan saat ini.
- Padahal dulu belum banyak ustaz,
- belum banyak ulama, belum banyak doktor,
- maupun orang-orang yang meraih jenjang
- akademi tertinggi dalam agama. Tapi rasa
- rahmat di hati mereka
- ini yang hilang. Jadi kita harapkan
- mudah-mudahan kita bisa kembali ya
- kembali ke masa-masa yang indah penuh
- dengan rahmat dan kasih di antara sesama
- orang yang beriman di antara sesama juga
- saudara seayah seibu yang membuktikan
- keindahan Islam. Ajaran yang amat indah
- yang penuh dengan rahmat sebagaimana
- yang Allah gambarkan mengenai misi Nabi
- kita Muhammad sallallahu alaihi wa alihi
- wasallam. Jadi kesimpulannya mari
- bersama-sama kita apa? Kita mulai dengan
- beristigfar.
- Kemudian kita memperhatikan menjaga
- salat kita dengan sebaik-baiknya.
- Banyak-banyak berzikir kemudian
- mengeluarkan zakat kita, membaca
- Al-Qur'an, bangun di waktu malam. Dan
- istigfar ini dapat kita baca baik kita
- di rumah, baik kita di perjalanan, dalam
- kendaraan. Jangan berhenti kita
- beristigfar kepada Allah Subhanahu wa
- taala.
- Mudah-mudahan mungkin cukup sampai di
- sini ya. Subhanakallahumma wabihamdik
- ashadu alla ilahailla anta astagfiruka
- wa atubu ilaik walfu minkum.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz
- jazakullah khairan kato atas tausiahnya
- dan juga penjelasannya ya menjelang
- Ramadan di akhir Syakban di Jumat
- terakhir di bulan Syakban ini.
- Insyaallah ikhwan akhwat kita semua
- diberikan umur yang panjang dan sehat
- juga bisa mengamalkan amalan-amalan yang
- insyaallah lebih bermakna di bulan suci
- Ramadan yang akan datang dengan istigfar
- tadi kemudian tasbih, kemudian takbir
- ustaz ya diperbanyak di bulan di
- akhir-akhir Syakban ini insyaallah.
- dan juga tadi mengenai kepekaan,
- kepedulian terhadap sekitar, Ustaz.
- Karena
- Ramadan kita akan lebih bermakna ketika
- kita tetap peka terhadap saudara kita di
- sekitar.
- Betul. Betul sekali.
- Terutama
- mudah-mudahan Allah jadikan kita
- orang-orang yang peka ya. Sama-sama
- insyaallah. Begitupun pemerintahnya,
- Ustaz, pejabatnya yang mempunyai
- kewenangan dan sistem Ustaz,
- kita doakan mudah-mudahan Allah berikan
- hidayah buat mereka. Karena kalau tidak,
- semua kejadian-kejadian yang dialami
- oleh anak bangsa ini menjadi tanggung
- jawab mereka.
- Iya. Masyaallah.
- Seperti Sayidina Umar katakan,
- "Seandainya ada seekor keledai
- tergelincir di tepi sungai Furat, saya
- khawatir akan ditanya oleh Allah, kenapa
- kamu tidak perbaiki jalannya?"
- Masyaallah.
- Oleh karena itu, kasus bunuh diri juga
- yang berlangsung di tengah masyarakat,
- Allah akan bertanya kepada para
- pemimpin,
- "Bagaimana kalian membiarkan semua ini
- terjadi? Kalau karena pengabaian
- maka tanggung jawab mereka besar di sisi
- Allah Subhanahu wa taala. Waliillah.
- Masyaallah. Demikian ikhwan akhwat saya
- Rizal Alhaq dan juga ada teman-teman
- yang bertugas ada Kang Ondi dan juga
- Kang Algi undur diri. Billahi taufik
- walhidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.