Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Berasil TV [musik]
- untuk Islam yang satu. [musik]
- [musik]
- [musik]
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
- Dibancar luaskan dari jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur
- Bekasi. Radio Silaturahim untuk Islam
- yang satu. Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Alhamdulillah. Bagaimana kabar Anda di
- pagi hari ini? Semoga dalam keadaan
- sehat walafiat dan selalu dalam
- lindungan Allah Subhanahu wa taala.
- Di pagi hari ini kita kembali berjumpa
- dalam program Rungan Al-Qur'an bersama
- Ustaz Husein Alatas dan juga Ustaz Alfan
- Sunardi edisi hari Kamis 21 Jumadil Awal
- 1441
- Hijriah yang juga bertepatan di tanggal
- 16 Januari 2020. Saya Abi Agus ditemani
- Fajar dan juga Muhammad Fahri di meja
- operator. Baik, langsung saja. Mari kita
- sapa narasumber kita yang telah hadir.
- Ustaz Husin. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah,
- Ustaz Alfan sehat ya.
- Alhamdulillah.
- Baik, tema kita, Ikhwan dan Akhwat di
- pagi hari ini yaitu tentang amanah. Kita
- melanjutkan
- pembahasan pada hari Kamis yang lalu dan
- sekarang dilanjutkan masih membahas
- tentang masalah amanah ya, Ustaz. Ya.
- Iya.
- Baik, Ustaz. Baik. Mari kita mulai
- dengan membaca ummul Quran, Alfatihah.
- Tafadal, Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin
- iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqim
- Adina anamta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim wadin.
- Baik ikhwan dan akhwat. Langsung saja ke
- Ustaz Alfan. Monggo, Ustaz.
- Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Alhamdulillahilladzi
- sahala liibadihi wa yassar. Ashadu alla
- ilahaillallahu wahdahu la syarikalah
- ahaqquli ay yuhmada wa yuskar. Wa ashadu
- anna sayyidana wa nabiana Muhammadan
- abduhu wa rasuluhu nabiyul mukhtar.
- Allahumma sholli wasallim ala nuril
- anwar wasirril asrar watyaqil agyar
- waftahi babil yasar wa ala alihil adhar
- wa ashabihil akhyar
- subhanaka la ilma lana illa ma alamtana
- innaka antal alimul hakim rabbisrohli
- sodri waassirli amri wahlul uqdatan min
- lisani yafqohu qauli. Amma ba'du. Ikhwan
- dan akhwat, Bapak dan Ibu, Ayah dan
- Bunda pemirsa
- TV silaturahim dan pendengar radio
- silaturahim di mana pun terdengar suara
- ini. Mudah-mudahan membawakan manfaat
- bagi diri kita semua untuk kita belajar
- memproteksi diri menjadi orang yang baik
- di hadapan Allah Subhanahu wa taala dan
- berguna di hadapan masyarakat. Kita
- ranahkan itu semua sebagai amal ibadah
- kita. untuk meraih keridaan Allah
- Subhanahu wa taala. Semoga cita-cita
- kita, keinginan kita ini dipermudah oleh
- Allah dengan pertolongannya. Amin ya
- rabbal alamin.
- Jemaah yang dimuliakan oleh Allah,
- melanjutkan materi yang Kamis yang lalu
- yang telah kita bahas tentang amanah.
- bahwasanya di pertemuan yang lalu telah
- kita bahas apa amanah itu. Sebagaimana
- Allah telah mengamanahkan
- kepada manusia yang amanah ini sangat
- berat karena seluruh makhluk tidak
- sanggup untuk melaksanakannya. Tetapi
- manusia menerima amanah itu. Dan di ayat
- surah An-Nisa, Ustaz, Allah berfirman
- juga menegaskan bahwasanya amanah ini
- adalah suatu kewajiban yang harus
- ditunaikan bagi orang yang mengembannya
- kepada ahlinya. Innallaha yammurukum an
- tuaddul amanati ila ahliha. Sesungguhnya
- Allah memerintahkan
- untuk menunaikan amanah itu,
- melaksanakannya secara maksimal
- komprehensif kepada ahlinya. Waidza
- hakamtum bainanasi an tahkumu bil. Dan
- ketika engkau memberikan hukum
- kebijaksanaan
- terhadap manusia lintas agama karena
- kosakatanya adalah nas. adalah
- berhukumlah dengan memberikanlah hukum
- keputusan dengan adil.
- Jadi yang dimaksud ini adalah
- spesifikasinya amanah itu bagaimana
- Ustaz? Soalnya kalau misalkan inna
- aradnal amanata alas samawat itu kan
- masih ee umum gitu kan. Kita hidup di
- atas amanah, di atas kewajiban amanah
- itu. Ana pikir setiap kita, setiap
- individu itu mempunyai amanah.
- di dalam sekupnya masing-masing. Seorang
- bapak mempunyai kewajiban untuk
- menunaikan amanahnya. Seorang pimpinan
- berkewajiban untuk menunaikan amanahnya.
- Ataupun seorang anak sekalipun mempunyai
- kewajiban terhadap amanahnya yang harus
- ditunaikan secara maksimal, secara batas
- maksimal kemampuannya. Begitu ustaz.
- Insyaallah.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Hamdan
- katsiran thyiban mubarokan f kama
- yuhibub rabbuna waard. Ya rabbana lakal
- hamdu kama yambagalali wajhikal karim
- waliim.
- Subhanaka lasiana
- alika anta kamaita nafsik. Falakal hamdu
- hatta tard wakal hamdu rit wakal hamdu
- ba'd. Allahumma sholli ala Muhammad wa
- ali Muhammad. Subhanaka la ilma lana
- illa maamtana innaka antal alimul hakim.
- Wala haula wala quwwata illa billahil
- aliyil adzim. Rbana atina min ladunka
- rahmah wahayi lana min amrina rasyada.
- Rabbana zidna ilmannain.
- Amma ba'du. Ikhwan akhwat, pendengar,
- pemirsa di mana pun Anda berada.
- Begitu pula ikhwan yang menemani kita,
- Ustaz Alfar Sunardi. Begitu pula saudara
- Agus, Fajar, Fahri dan semua kru semua
- yang terlibat dalam perjuangan bersama
- kita dalam menyerukan Islam yang satu
- berpegang kepada kalimat Allah Subhanahu
- wa taala, menyembahnya, tidak
- mempersekutukannya dengan sesuatu dan
- tidak menjadikan sebahagian kita sebagai
- Rabb-raab selain dari Allah Subhanahu wa
- taala.
- Saya ucapkan salamullahi warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Di saat kita berbicara tentang amanat,
- maka kita akan kembali ya kepada
- kejadian dan peristiwa yang terjadi di
- antara malaikat dan Allah Subhanahu wa
- taala.
- Ketika Allah Subhanahu wa taala
- mengabarkan para malaikat bahwa Allah
- akan menempatkan di muka bumi ini
- makhluknya yang berstatus sebagai
- khalifah.
- Begitu malaikat mendengarkan
- kabar ini, mereka terkejut.
- Lalu mereka mengajukan pertanyaan kepada
- Allah.
- Pertanyaan dengan penuh rasa heran.
- Atajalu fihaufsidu
- fiha.
- Apa kamu akan menempatkan di muka bumi
- makhluk yang akan melakukan kerusakan
- dan menumpahkan darah?
- Wahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddis.
- Sedangkan kami selalu
- bertasbih kepadamu, mensucikan engkau
- ya, mengagungkan Engkau.
- Y seolah-olah kenapa bukan kami saja
- yang kamu tempatkan di bumi. Kami tidak
- akan melakukan kerusakan
- karena di hati kami tidak terdapat
- nafsu, tidak terdapat sama sekali apa?
- hal-hal yang mendorong kami untuk
- membangkang menentang perintah kamu.
- Kami selalu mensucikan dan mengagungkan
- Engkau.
- Allah menjawab, "Qala inni aamu maa
- ta'lamun. Sesungguhnya aku mengetahui
- apa yang kalian tidak tahu."
- Nah, sebagian orang bertanya, "Dari mana
- malaikat tahu bahwa manusia ini akan
- melakukan kerusakan dan menumpahkan
- darah?
- Muncul berbagai macam riwayat yang
- mengatakan sebelum bumi diduduki oleh
- manusia, diduduki oleh jin,
- mereka melakukan kerusakan.
- Akhirnya malaikat dikirim untuk
- memerangi mereka hingga mereka tinggal
- di puncak-puncak gunung dan pulau-pulau.
- Ini riwayat israiliyat yang tidak punya
- dasar kebenaran. Mereka lupa bahwa jin
- juga bahagian dari khalifah.
- Jin sebagaimana manusia juga apa?
- Merupakan khalifah yang menerima amanat
- dari Allah.
- Ketika malaikat mendengarkan kata
- khalifah, mereka paham kata khalifah itu
- berarti mereka diberikan kebebasan,
- diberikan pilihan. Karena kata khalifah
- menjelaskan khilafah. Artinya mereka
- diberikan amanah.
- Jadi status kehidupan kita manusia
- maupun jin sebagai khalifah yang
- diberikan ya
- pilihan kehendak kebebasan pada
- batas-batas ya peran kita sebagai
- khalifah.
- Tapi dalam hal-hal yang tidak
- berhubungan dengan peran kita ya tidak
- diserahkan kepada kita. Sebagai contoh,
- jantung kita beroperasi
- bukan dengan usaha kita. Paru-paru kita
- berkembang kuncuk bukan dengan usaha
- kita. Begitu pula pencernaan kita.
- Seluruh organ tubuh kita semua
- dikendalikan oleh Allah.
- Allah tidak akan bertanya di hari
- kemudian nanti, "Kenapa paru-paru kamu
- kembang kuncup? Kenapa ya katakan
- jantung kamu berdenyut sekian kali?"
- Iya.
- Ini karena bukan pekerjaan manusia. Nah,
- dengan apa yang Allah berikan ini semua
- merupakan nikmat karunia yang tak
- terhingga tubuh dengan kesehatannya,
- dengan kecerdasannya,
- dengan kehendaknya bumi yang ditempatkan
- bumi yang disediakan oleh Allah dengan
- berbagai macam nikmat karunianya. Allah
- ingin menguji kita bagaimana kira-kira
- sikap kita. Apakah kita bersyukur ya
- dalam menghadapi nikmatnya, bersabar
- menghadapi cobaannya atau kita
- orang-orang yang ingkar dan durhaka?
- Dengan sendirinya balasan Allah
- disesuaikan dengan perbuatan manusia.
- Jadi waktu malaikat mendengar kata
- khalifah terkejut. Karena malaikat
- dengan kesucian mereka status mereka
- bukan sebagai khalifah. Mereka
- menjalankan perintah Allah tanpa ada
- pembangkangan karena tidak terdapat hawa
- nafsu.
- Kalau iblis datang ke malaikat untuk
- mengajak mereka ke diskotik, ke sebar
- atau korupsi, malaikat tidak akan
- melakukan tidak akan menyambut seruan.
- Seruan siapa?
- Keseruan iblis.
- Di saat iblis datang kepada manusia
- mengajak mereka untuk melakukan tindakan
- korupsi, untuk memperkaya diri, sebagian
- manusia menyambut ya yang tertipu.
- Sebagian lagi apa?
- Sebagian lagi menolak yang beriman dan
- tahu bahwa semua janji iblis adalah
- kebohongan dan kepalsuan.
- Oleh karena itu, nasib para koruptor
- sebetulnya mereka tersiksa hidup mereka
- di dunia walaupun mereka bebas dari
- jerat jerat hukum. Hati mereka penuh
- perasaan bersalah, perasaan berdosa,
- melakukan perbuatan-perbuatan khianat
- yang membuat jiwa mereka tidak nyaman.
- Jadi berbicara mengenai amanat ya karena
- apa?
- Karena kita
- ditempatkan di muka bumi ini sebagai
- khalifah Allah yang akan
- mempertanggungjawabkan
- semua sikap sepak terjang ucapan yang
- kita lakukan dengan sadar di hadapan
- Allah.
- Adapun yang kita lakukan di luar
- kesadaran kita ya atau secara terpaksa
- itu dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa
- taala atau kita lakukan karena kita
- lupa.
- Seperti orang di bulan puasa di siang
- hari makan minum
- setelah selesai baru dia sadar dirinya
- berpuasa makanya tidak membatalkan
- dirinya karena dilakukan dalam keadaan
- lu tujuan umat khaisyan wukrihu al
- dibebaskan dari umatku ya
- tiga hal. Pertama orang melakukan
- kesalahan yang tidak disengaja. Kedua,
- lupa. Kedua, sesuatu yang dipaksakan.
- Dia makan babi karena terpaksa untuk
- menyelamatkan dirinya. Dima subhanahu wa
- taala.
- Iya.
- Artinya hukum ini berada di atas alam
- kesadaran, Ustaz.
- Iya. Apa yang dilakukan manusia dengan
- pilihannya, dengan kesadarannya, atas
- dasar pengetahuan itu yang akan diminta
- pertanggungjawabannya
- di atas akal yang sempurna.
- Iya. Oleh karena itu, orang yang tidak
- berakal bukan mukalaf.
- Tapi bagaimana kalau misalkan ada
- pengajaran dalam Islam ini tidak boleh
- memakai akal? Ya, itu sama aja mengajak
- untuk apa? Untuk melupakan peran kita
- sebagai manusia yang berstatus sebagai
- khalifah di atas muka bumi. Atas
- taklid begitu, Ustaz?
- Bukan. Ada orang mengatakan tidak boleh
- kita memahami Al-Qur'an dengan atau
- mahami agama dengan akal. Lalu kita
- bertanya dengan apa kita pahami agama?
- Iya.
- Al-Qur'an berbicara kepada akal kita ya
- untuk memberikan penerangan, pencerahan,
- mencerdaskan juga membebaskan akal kita
- dari penjajahan dan kendali hawa nafsu.
- Jadi peran akal ini ya bukan sebagai
- guru dan hakim di hadapan agama atau
- kitab Allah, tapi
- akal dengan agama Allah mendapatkan
- penerangan dan pencerahan. Dengan wahyu
- ilahi akal mendapatkan pencerahan,
- penerangan sebagaimana kedua bola mata
- kita walaupun sehat tanpa ada cahaya
- tidak akan dapat melihat.
- Iya.
- Walaupun sehat.
- Begitu juga akal kita.
- tanpa ada bimbingan petunjuk dari Allah
- dan penerangan daripadanya akan
- meraba-raba. Akhirnya apa? Kita
- menjadikan diri kita, bangsa kita, umat
- kita sebagai kelinci percobaan. Mencoba
- sana, mencoba ini sebelum menghasilkan
- apa? Hasil yang kita inginkan.
- Dan amanah itu berada di atas akal,
- Ustaz. Tanpa akal berarti tidak ada
- amanah, gitu.
- Artinya pada saat seorang kehilangan
- akalnya, contohnya dia dalam keadaan
- gila, maka dia bukan seorang mukalaf.
- Mukalaf. Saing dia membakar rumah
- seseorang, dia tidak dihukum. Bahkan
- saat dia membunuh orang karena tidak
- waras, dia tidak dihukum. Tapi
- keluarganya wajib memberikan dia ganti
- rugi pada keluarga yang menjadi korban.
- Saat dia membakar rumah orang, dia tidak
- dihukum karena membakar. Tapi
- keluarganya wajib menggantikan
- orang yang dirugikan.
- Seandainya seorang tertidur tanpa
- disengaja karena mungkin letih di malam
- hari bekerja,
- tidur sampai pukul .00 pagi subuh liwat,
- maka pada saat dia tertidur, dia bukan
- mukalaf. Begitu dia sadar maka dia wajib
- mengerjakan salat pada saat dia sadar.
- Karena pada saat itu baru statusnya
- menjadi mukalaf.
- Jadi rahmat Allah Subhanahu wa taala ya
- Allah Subhanahu wa taala mengangkat
- tanggung jawab dari mereka yang
- melakukan satu perbuatan tidak sengaja
- karena kebodohan. Bukan kebodohan yang
- disengaja. Dia sudah menuntut ilmu tapi
- dia tidak sampai pada kebenaran.
- Kemudian lupa atau sesuatu yang terpaksa
- dilakukan. Ini merupakan rahmat Allah.
- Jadi kalau kita berbicara mengenai
- ee
- peran kita sebagai khalifah, kata
- khalifah ini melahirkan status amanat
- dalam kehidupan kita.
- Contohnya ketika Ronald Regen menjalani
- operasi maka peran sebagai presiden
- diserahkan kepada wakilnya. Pada saat
- itu George Bos.
- George B sebagai wakil
- wakil presiden.
- Wakil presiden.
- Ketika Mahatir Muhammad melakukan juga
- ee kunjungan untuk kesehatannya keluar
- peran sebagai presiden digantikan oleh
- Anwar Ibrahim. Anwar Ibrahim. Maka
- selagi presiden
- dalam keadaan alpa dalam keadaan tidak
- menjalani tugasnya, semua wewenang
- ditangani oleh
- wakil
- wakilnya yang diberikan wewenang ya atas
- dasar undang-undang untuk mengemudikan
- kendali pemerintahan.
- Jadi kalau kita perhatikan bersama-sama
- Allah Subhanahu wa taala ketika
- memberikan amanat khilafah bukan Allah
- ya sedang gaib.
- Bukan Allah Subhanahu wa taala sedang
- berhalangan untuk menjalankan
- kekuasaannya. Tidak. Tapi Allah
- memberikan amanat khilafah kepada kita
- sebagai ujian untuk menguji kita. Siapa
- yang beriman, siapa yang ingkar, siapa
- yang tulus, dan siapa yang statusnya
- sebagai orang munafik. Melalui ujian
- kelihatan. Tanpa ujian
- orang bekerja di kantor
- menghadapi tawaran yang menggiurkan. Dia
- bertahan bayi bertahan dalam ujian. Tapi
- kalau orang yang tidak mengalami cobaan
- di luar gembar-gembor menyerang korupsi,
- menyerang kebohongan yang berlangsung di
- negara,
- belum menjabat. Begitu dia menjabat,
- ternyata dia melakukan perbuatan yang
- lebih buruk dari pejabat yang dicerca.
- Kenapa? waktu dia mengeritik bukan
- karena kesadaran tapi karena iri
- karena cemburu.
- Karena cemb
- cemburu.
- Nah, ada orang yang apa? Mengritik
- dengan benar. Begitu dia memegang
- amanat, dia menjaga amanat dengan
- sebaik-baiknya. Melalui ujian terlihat
- seorang yang mulia dan orang yang hina,
- orang yang baik dan orang yang buruk.
- Tanpa ujian kita tidak mengetahui
- keadaan dan hakikatnya.
- Jadi berbicara mengenai amanat ini
- sebetulnya karakteristik dari kehidupan
- kita seluruhnya adalah amanat.
- Amanat.
- Nah, yang kita bicarakan kemarin amanat
- secara makro.
- Heeh.
- Sekarang kita berbicara mengenai amanat
- secara mikro.
- Nah, atas dasar pemahaman kita ya akan
- amanat ya yang Allah amanatkan ya kepada
- kita semua melalui kehidupan kita dengan
- sendirinya.
- Setiap orang sesuai dengan potensi yang
- Allah berikan kepadanya, dia bertanggung
- jawab di hadapan Allah.
- Orang yang punya 1 juta dengan orang
- yang punya 100 juta berbeda amanatnya.
- Seorang RT bertanggung jawab terhadap
- apa? Amanat yang diemban.
- Seorang RW amanatnya lebih besar karena
- terdiri dari beberapa RT.
- Iya.
- Begitu pula juga lurah amanatnya lebih
- besar dari RW karena kelurahan terdiri
- dari beberapa RW.
- Beberapa RW.
- Dia bukan bertanggung jawab di hadapan
- masyarakat semata, bukan hanya
- bertanggung jawab di hadapan atasannya
- Bapak Camat, tapi tanggung jawab yang
- paling utama di hadapan Allah yang
- menempatkan dirinya sebagai khalifah di
- atas muka bumi. Di saat dia berkhianat
- walaupun katakan bebas dari mata Pak
- Camat, dari mata walikota, dari mata
- rakyat. Dia tidak akan lepas dari
- pengadilan Allah di hari kemudian nanti.
- Nah, seorang mukmin yang sadar bahwa
- statusnya adalah sebagai seorang yang
- menerima amanat di saat dia bekerja atas
- dasar tanggung jawab ini, dia tidak
- peduli apakah orang memuji, apakah orang
- mencela,
- apakah orang menyambut dirinya atau
- menolak, yang penting baginya
- menjalankan amanat. All di saat dia
- dicopot dari jabatannya karena
- menjalankan amanat, bagi dia merupakan
- kebebasan kemerdekaan, bukan kesedihan.
- Tapi yang menganggap
- jabatan sebagai apa? Sebagai ganimah,
- sebagai keuntungan, kesempatan, orang
- ini akan selalu berupaya untuk melakukan
- tugasnya demi memuluskan dia punya apa?
- Dia punya tujuan dan mencapaikan di
- menyampaikan dirinya pada apa-apa yang
- diinginkan dari hasrat duniawi.
- Nah, ini perbedaan antara pemimpin yang
- beriman sama pemimpin yang tidak
- beriman. Pemimpin yang beriman
- betul-betul khawatir terhadap amanat
- yang diemban, yang diamanatkan oleh
- Allah padanya. Jadi bukan takut pada
- DPRD atau DPR, bukan takut pada KPK.
- Karena KPK hanya bisa melihat yang di
- luar,
- tapi takutnya pada Allah hingga dalam
- dan luarnya sama.
- Nah, itu yang kita inginkan. Jadi
- pemimpin yang beriman atau khalifah yang
- beriman itu bukan yang radikal, bukan
- yang ekstrem, bukan yang berwajah seram,
- bukan. Tapi yang menjalankan amanat
- dengan sebaik-baiknya.
- Nah, seorang camat amanatnya lebih besar
- dari Bapak Lurah. Karena kecamatan
- terdiri dari beberapa kelurahan.
- Kelurahan.
- Seorang walikota lebih besar amanatnya
- dibandingkan camat karena terdiri dari
- apa?
- Beberapa
- beberapa kecamatan. Begitu pula seorang
- gubernur
- amanatnya lebih besar. Begitu pula
- seorang kepala negara. Kalau orang
- beriman pasti akan takut.
- Mereka khawatir tidak mampu untuk
- menjalankan amanat Allah dengan
- sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pada
- masa Nabi di saat orang diberikan
- jabatan, mereka menolak karena takut,
- bukan menawarkan dirinya. Hingga Nabi
- pernah satu kali waktu ketika menunjuk
- seorang untuk menerima amanat jabatan,
- dia mengatakan, "Ya Rasulullah, afini
- minzalik. Bebaskan saya pilih orang
- lain." Dia bilang, "Kami tidak akan."
- Rasulullah mengatakan, "Kami tidak akan
- memberikan jabatan ini pada orang yang
- berminat. Tapi siapa yang kami tunjuk
- wajib untuk menerima." Tapi sebaliknya
- Abu Dzar ketika datang meminta kedudukan
- bukan karena cinta pada dunia, karena
- ingin menjadi apa? Orang yang bisa
- berjuang. Rasulullah mengatakan, "Kamu
- tidak tepat untuk ini. Jiwa kamu lemah."
- Lemahnya bisa karena kasihan terhadap
- orang. Akhirnya apa?
- He
- melakukan apa?
- Tindakan-tindakan yang salah. Jadi kalau
- kita perhatikan bersama-sama,
- orang yang beriman takut dalam menerima
- amanat, bukan menyodorkan dirinya, bukan
- berkampanye, bukan propaganda, bukan
- mengeluarkan uang seperti seorang yang
- memancing ikan tuna mempergunakan
- bandeng.
- Begitu juga yang memancing bandang
- menggunakan cacing.
- Nah, orang yang beriman
- tidak akan seperti ini.
- Orang yang beriman bahkan akan
- mempersembahkan apa yang ada di
- tangannya untuk betul-betul dapat
- menjalankan amanat Allah dengan
- sebaik-baiknya. Oleh karena itu, Umar
- bin Abdul Aziz radhiallahu anhu sebelum
- menjadi khalifah, dia berpakaian baik,
- menjadi pemuda yang berpenampilan indah.
- Begitu dia ditunjuk menjadi khalifah,
- langsung status kehidupannya berubah.
- Pakaian sederhana. Bahkan dia pulang ke
- rumah dengan bermura burja berkata
- kepada istrinya Fatimah, "Ya Fatimah,
- sekarang saya sedang memikul amanah
- tanggung jawab yang berat, yang
- mengerikan, menakutkan." Lalu dia
- tawarkan kepada istrinya, "Saya berikan
- kamu dua pilihan.
- Pertama, kamu memilih kehidupan kamu
- seperti ini, tapi kita berpisah.
- Karena kehidupan kamu tidak membantu
- saya untuk menjalankan amanat ini. Atau
- kamu kembalikan hiasan-hiasan kamu semua
- ke Baitul Mal. Kita hidup sederhana
- berjuang untuk menjalankan amanat Allah.
- Fatimah sang istri mengatakan,
- "Bagaimana mungkin aku menukar engkau
- dengan dunia dan seluruh isinya?"
- Akhirnya kekayaan dia dikembalikan ke
- Baitul Mal. Dia hidup bersama suaminya
- hari raya menjalankan amanat Allah
- dengan sebaik-baiknya. Sampai pada saat
- hari raya anaknya tidak memiliki pakaian
- yang indah. Padahal dia seorang yang
- menguasai apa? Kekayaan negara. Dia
- bertanya pada anaknya, "Apa kamu tidak
- bersedih wahai anakku?" Dia bilang,
- "Orang yang bersedih itu adalah orang
- yang tidak mendapatkan keridaan dari
- Tuhannya dan kedua orang tuanya."
- Bukan orang yang bagaimana? Yang tidak
- memiliki pakaian yang baik. Jadi sistem
- nilainya orang yang beriman,
- harapan dambaannya, perhatiannya bukan
- kepada dunia ini yang penuh dengan
- kepalsuan, kebohongan, tapi
- mempersiapkan dirinya untuk menghadapi
- kematian yang merupakan kenyataan
- yang pahit yang dihadapi oleh kebanyakan
- manusia. Tapi bagi orang yang beriman,
- kematian justru merupakan kendaraan yang
- mengantarkan dirinya menuju keridaan
- Allah karena tidak tertipu dalam
- kehidupan dunia. Baik. Itu ketika
- pemimpin dia paham akan arti sebuah
- amanah, Ustaz. Namun, bagaimana dengan
- fenomena saat ini yang kita banyak
- sekali dihadirkan dengan pemimpin yang
- dia malah memperkaya diri sendiri,
- keluarganya, sanak saudaranya, bahkan
- dia mengkhianati amanah itu sendiri.
- Biasanya setiap ada pemimpin yang
- berkhianat
- ya, tumbuh di tengah masyarakat juga
- yang terbiasa dengan khianat.
- Tidak mungkin seorang pemimpin yang
- berkhianat lahir dari rahim masyarakat
- yang jujur, yang adil, yang beramar
- makruf dan bernahi mungkar. Betul gak?
- Iya.
- Coba kita lihat di tengah-tengah bangsa
- yang maju.
- Katakan sebagai contoh Selandia Baru,
- mungkin enggak lahir di tengah mereka
- seorang pemimpin ya yang berkhianat yang
- diketahui oleh rakyatnya?
- Rakyat tidak akan berdiam. tidak akan
- berdi dan tidak akan memilih orang yang
- diragukan.
- Begitu juga di Australia kira-kira
- memungkinkan enggak pemimpin yang
- memperkaya diri, bersenang-senang ya
- tidak peduli terhadap rakyat untuk
- mendapatkan dukungan dari rakyatnya.
- Tapi di Indonesia, di negara-negara Arab
- saat ini, kalau kita lihat rakyatnya
- kebanyakan dalam keadaan tidur.
- Rakyatnya tidak menyadari
- peran pemimpin yang dipilih dan ditunjuk
- yang kelak akan menentukan nasibnya maju
- atau mundur, ya, sejahtera atau meranah.
- Kebanyakan dari mereka memberikan suara
- bukan atas dasar pengetahuan, tapi atas
- dasar janji-janji palsu yang penuh
- dengan kebohongan. Bahkan mereka
- terkadang hanya dengan imbalan beberapa
- kilogram gula sama beras dan kaos mereka
- memberikan suara mereka.
- Jadi pemimpin yang zalim yang berkhianat
- itu lahir dari rahim rakyat yang lalai,
- yang lengah, yang tidak punya
- kepedulian, kecintaan pada bangsa dan
- negaranya. menyaksikan kebohongan,
- pengkhianatan berlangsung depan mata
- mereka, mereka berdiam, berpangku
- tangan.
- Jadi, jangan kita hanya menyalahkan
- pemimpin-pemimpin yang terpilih, tapi
- kesalahan sebetulnya berada pada rakyat,
- berada pada para ulama yang tidak
- mencerdaskan mendidik rakyatnya untuk
- betul-betul memahami kebenaran dan apa
- yang mereka harus lakukan. Peran para
- ulama kan menjalankan amanat Allah,
- memberikan pencerahan kepada um umat.
- Bukan mengadu domba, bukan memecah
- belah, bukan menyebarkan fitnah dan
- kefanatikan, tapi mengajak masyarakat
- semua untuk kembali kepada Allah.
- memberikan edukasi yang menyehatkan,
- yang memajukan, yang meluruskan, yang
- mendidik mereka untuk pandai, bukan
- mendidik mereka untuk bodoh.
- Menghabiskan waktu mereka dalam
- urusan-urusan yang sepele. Coba saksikan
- apa yang menjadi konsumsi dari
- media-media Islam kita
- yang menjadi pembicaraan, yang menjadi
- apa? Bahan-bahan perdebatan. Ya, coba
- perhatikan.
- Kita jarang menjumpai hal yang serius,
- yang mendidik, yang mengarahkan kepada
- kemajuan, yang memadamkan fitnah, yang
- membangun persatuan. Tidak.
- Jadi kalau kita lihat media-media Islam
- kita, juru dakwah kita, ya ulama-ulama
- kita, kebanyakan dari mereka masih belum
- menjalankan amanat Allah, mengajak
- manusia untuk kembali kepada Allah.
- Sebagaimana firman Allah, waman ahsanu
- mimman daaha waila shihan waqala innani
- minal
- minal muslimin. Siapakah yang tutur
- katanya lebih baik dari orang ya yang
- mengajak manusia kembali pada Allah.
- Bukan mengajak manusia
- berkelompok-kelompok,
- bergolong-golongan, dimanfaatkan untuk
- kepentingan kelompok dan golongan. Tidak
- mengajak manusia untuk kembali kepada
- Allah.
- L dia mengerjakan perbuatan-perbuatan
- baik dan mulia. ketika ditanya
- identitasnya bukan identitas kelompok
- dan golongan
- tapi dia mengatakan saya adalah
- orang-orang yang berserah diri kepada
- Allah minal muslimin. Nah kalau kamu
- ikut bersama kami maka kamu juga
- orang-orang yang berserah diri kepada
- Allah. Oleh karena itu, para dai, para
- ulama bukan membangun pengikut untuk
- dirinya, tapi mengajak manusia untuk
- menjadi teman seperjalan menuju Allah
- subhanahu wa taala. Nabi tidak
- memanfaatkan umatnya, justru membangun
- dan memajukan umatnya. Dari tadinya
- bercerai-berai, miskin, melarat,
- dikendalikan oleh Zionis. Ya, tahu-tahu
- Nabi membebaskan mereka, memajukan
- mereka. Itu peran dari para ulama
- sebagaimana peran para nabi.
- Seorang ayah dia bertanggung jawab atas
- istrinya, atas anak-anaknya.
- Bagaimana mendidik mereka untuk
- betul-betul mengenal Allah, menjalankan
- kewajiban mereka. Seorang ibu juga
- memegang amanat. Tanggung jawab seorang
- istri ya dia mengemban amanat. Oleh
- karena itu Rasulullah mengatakan rin
- wukum masulun.
- Setiap orang dari kalian memegang amanat
- sebagai seorang pemimpin dan dia
- bertanggung jawab atas bawahannya. L
- orang bertanya, "Kalau saya seorang
- bujang?" yang katakan atau duda tidak
- memiliki istri maupun anak, kamu
- bertanggung jawab atas apa yang kamu
- pimpin. Bola mata kamu, telinga kamu,
- lidah kamu, semua eksistensi kamu yang
- diamanatkan pada kamu. Allah akan tanya
- di hari kemudian nanti bagaimana kamu
- mempergunakan semua itu. Oleh karena
- itu, dalam satu riwayat dari Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam,
- Nabi mengatakan, "La tazulu qodama
- abdin."
- Tidak akan bergeser dua telapak kaki
- seorang hamba
- hingga dia menjawab empat pertanyaan.
- Pertama,
- bagaimana dia menghabiskan detik-detik
- umurnya?
- Begitu pula bagaimana dia mempergunakan
- tubuhnya dari mulai masa muda sampai dia
- meninggal dunia. Kemudian yang ketiga,
- wa malihi min aina waf anq. Dari mana
- dia dapatkan uangnya dan di mana dia
- pergunakan, bukan berapa yang kamu
- dapatkan.
- He.
- Tapi yang ditanya dari mana kamu
- dapatkan, ke mana uang tersebut kamu
- pergunakan?
- Coba bayangkan orang yang menghamburkan
- untuk perkawinan, untuk ulang tahun
- secara berlebih-lebihan di sekeliling
- banyak masyarakat yang susah.
- Heeh. Kira-kira waktu ditanya bagaimana
- jawaban dia di hadapan Allah Subhanahu
- wa taala. Apalagi yang menggunakannya
- untuk minum-minuman keras, apalagi yang
- menggunakan untuk membeli rokok. Ketika
- ditanya
- oleh Allah di hari kemudian nanti uang
- yang digunakan untuk membeli rokok yang
- merusak tubuhnya, yang mengganggu orang
- lain, kita bisa bayangkan betapa
- beratnya hisab di hari kemudian.
- Iya.
- Kemudian yang terakhir, ilmi tentang
- ilmunya.
- Fa fa'al bih. Apa yang telah diperbuat
- dengan ilmunya? Dia menyampaikan enggak
- amanat Allah, menyampaikan risalah Allah
- apa tidak? Apa mengajak umat untuk
- ribut, berkelahi, bermusuh-musuhan hanya
- karena qunut, tahlil, jenggot ya atau
- meletakkan tangan di sini? Saya lihat
- ini enggak wajar ni agama apa ini yang
- seperti ini. Bukan mengajak kepada
- Allah, mengajak bersatu dalam di jalan
- Allah, berpegang pada kalimat Allah,
- tapi mengajak umat untuk kocar-kacir,
- berpecah belah, melemahkan kekuatan
- mereka. akhirnya secara tidak langsung
- membantu musuh-musuh Islam, membantu
- setan untuk mencabik-cabik persatuan
- kita.
- Oleh karena itu, untuk perbaikan negeri
- kita ini harus dilakukan usaha yang
- komprehensif.
- Dari mulai kehidupan rumah tangga,
- anak-anak harus dididik untuk menjadi
- anak-anak yang cerdas, yang berani, yang
- jujur, dan betul-betul menjaga amanah.
- Bukan hanya sekolahnya tinggi
- ya, mendapatkan gelar PhD, tapi ternyata
- jiwanya penuh dengan semangat khianat.
- Begitu menjadi pejabat
- yang berjas berdasi, ternyata apa? Ilmu
- yang dimiliki digunakan untuk
- mengkhianati bangsa dan negaranya.
- Terutama berkhianat terhadap Allah
- Subhanahu wa taala. Kemudian juga apa?
- Tokoh masyarakat
- dari mulai Pak RT, Pak RW, ulama-ulama
- nih wajib betul-betul untuk mendidik
- masyarakatnya agar cerdas, maju,
- kemudian juga menjaga amanat. Harus
- dimulai dari mereka menjadi contoh yang
- baik. Ulamanya harus betul-betul menjaga
- amanat. RT RW-nya juga apa? Menjaga
- amanat. Jangan RT RW beranggapan
- tanggung jawabnya hanya di hadapan
- masyarakat. Kamu akan berdiri di hadapan
- Allah Subhanahu wa taala.
- Begitu juga wakil rakyat. Kalau mereka
- sadar bahwa apa? Mereka mewakili rakyat,
- amanat yang diamanatkan Allah di atas
- pundaknya, mereka tidak akan berkhianat.
- Tapi sayang kebanyakan wakil rakyat ini
- tidak menyadari bahwa mereka sedang
- mengemban amanat yang besar, rakyat yang
- mereka wakili. Kalau mereka tidak
- mewakili mereka sebagaimana yang
- diamanatkan, maka tanggung jawab mereka
- di hari kemudian nanti amat besar.
- Apalagi kalau mereka bersenang-senang
- berkeliling dari satu negara ke negara
- dengan alasan studi banding padahal
- menghambur-hamburkan uang negara.
- Uang perjalanan
- menjadi apa? Menjadi tujuan mereka.
- Mereka bilang kalau kita enggak pergi
- juga tetap saja itu sudah dipotong
- semuanya. Jadi kebohongan yang telah apa
- disepakati yang sistematis ini
- benar-benar telah merongrong dan merusak
- negara kita.
- Kemudian kita jumpai juga ya katakan
- sebagai seorang menteri mungkin dia
- beranggapan tanggung jawab dia di
- hadapan presiden.
- Oleh karena itu dia lebih loyal kepada
- presiden daripada kepada tanggung
- jawabnya di hadapan Allah. Presiden dan
- diri mereka semua orang yang menerima
- amanat dari Allah. Jangan dia
- mengatakan, "Saya enggak enak sama Bapak
- Presiden. Saya enggak bisa berkata yang
- benar karena dia telah ee saya berhutang
- budi padanya yang telah mengangkat saya
- menjadi seorang menteri atau menjadi
- seorang gubernur." Lah, hidup kamu dari
- siapa?
- Akal kecerdasan ilmu yang kamu miliki
- dari siapa? Nikmat-nikmat yang kamu
- pergunakan setiap hari dari siapa? Kok
- kamu enggak merasa berhutang budi pada
- Allah? Kok hutang budi kamu lebih besar
- kepada manusia?
- sesama kamu daripada kepada Allah yang
- telah mengangkat kamu menjadi
- khalifahnya di muka bumi ini. Itu jika
- seseorang memiliki iman yang kuat kepada
- Allah. Ustaz, saya ke Ustaz Alfan.
- Boleh, Ustaz?
- Ustaz Alfan, bagaimana kemudian kita
- bisa menjaga agar kita istikamah dalam
- beramanah?
- Iya, itu juga menjadi pertanyaan kalau
- misalkan state atau sebuah negara itu
- kan muncul dari sebuah individu, awalnya
- dari keluarga, Ustaz. Nah, bagaimana
- kalau misalkan memunculkan seorang
- leader, seorang pemimpin, seorang
- bertanggung jawab itu, nah sebuah proses
- itu semua kan berawal dari pendidikan.
- Bagaimanapun yang jadi gubernur, yang
- jadi apapun itu berawal dari pendidikan.
- Nah, layaknya di Indonesia ini bagaimana
- acuan pendidikan, Ustaz? Sementara kita
- lihat pendidikan apakah itu yang di
- formal atau nonformal ataupun di
- pesantren itu nyatanya itu justru dari
- semenjak kecil itu tidak dididik untuk
- mengarah kepada persatuan keimanan dan
- bertanggung jawab serta siap untuk
- mengemban amanah ustaz di hadapan Allah
- kita tahu di pesantren-pesantren juga
- justru dari awal pendidikan itu sudah ee
- terkesan untuk mencerai-beraikan umat
- sehingga jadi ustaz nanti jadi ustaz
- yang ee bukan menyatukan tetapi
- menceraiberikan umat. Sampai ada suatu
- istilah di dalam pesantren itu kalau
- pesantren saya itu adalah yang paling
- nyunah. Pesantren itu masih kurang. Kiai
- saya ini adalah ya Pak yang paling jago.
- Kiai itu kan nomor sekian. Itu dari
- pesantren sendiri Ustaz. Belum lagi kita
- saksikan di universitas-universitas
- almamater ya STM juga kan sering
- berantem karena hal-hal yang remeh-temeh
- ini, Ustaz.
- Kalau kita amati bersama-sama Ustaz
- Alfans.
- Iya.
- Ya, begitu juga saudara Agus
- dalam kehidupan sehari kita ini ya
- kira-kira
- berapa kali kita menyebutkan nama Allah
- dengan penuh kesadaran?
- Contohnya
- seorang bapak bicara pada anaknya atau
- seorang suami bicara pada istrinya.
- Kira-kira semua itu dikendalikan ya.
- dikendalikan ya oleh rasa hormat
- takutnya kepada Allah. Apakah semua ini
- berjalan terpisah dari Allah? Kebanyakan
- terpisah. Dari mulai seorang membuka
- matanya ya sampai malam hari hampir kita
- jumpai motif kerja perhatiannya tidak
- tertuju pada Allah.
- Baik itu bapak, baik itu ibu, suami,
- istri maupun anak. Baru kalau dalam
- keadaan susah, dalam keadaan terjepit,
- dalam keadaan butuh, baru memanggil
- Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena
- itu, pada saat kita dalam keadaan mudah,
- lapang, berdoa pun tidak keluar dari
- hati.
- Hanya doa-doa yang rutin kita baca.
- Heeh.
- Bukan keluar dari hati kita yang penuh
- harap. Betul gak?
- Betul, Ustaz.
- Nah, kesalahan kita selama ini kita
- pisahkan hidup kita dari Allah.
- Iya. Padahal Allah kan merupakan sentral
- kehidupan kita. Oleh karena itu Allah
- mengatakan qul huallahu ahad Allahus
- somad. Somad ini menggambarkan apa?
- Menggambarkan apa? Sentralnya yang
- menjadi rujukan seluruh makhluk juga
- menggambarkan tonggak dari seluruh
- kehidupan.
- Nah, kalau kita memisahkan diri kita
- dari Allah apa jadinya?
- Hamp.
- Meteor ketika terlepas dari pusatnya
- pertama dia menyala kan.
- Iya. Setelah itu
- padam.
- Padam.
- Begitu juga pohon yang kecil. Selagi
- dahan daunnya masih berhubungan, nampak
- bagaimana kehidupan ada pada pada apa?
- Pada pohon tersebut. Tapi pohon yang
- besar di saat batangnya terpisah.
- Katakan batangnya ya penuh dengan buah
- tapi terpisah dari apa?
- Dari pohonnya. He.
- Tidak lama kemudian dahan tersebut apa?
- Mati. akan layu. Buah-buahnya pun
- demikian.
- Begitu juga kita jumpai pohon yang kecil
- tumbuh dengan akarnya dia hidup. Tapi
- kalau kita ambil pohon yang besar yang
- penuh dengan buahnya, kita pindahkan ke
- rumah kita tanpa ada akarnya, kita tanam
- dalam sekejap mata penuh dengan
- pohon-pohon yang penuh dengan buah.
- Tidak lama kemudian bagaimana?
- Kering dan mati.
- Kering karena apa? Karena dia diambil
- dipisahkan dari akarnya menghubungkan
- dia dengan sumber kehidupan. Begitu juga
- kita manusia. Ada orang bertanya,
- "Ustaz, bagaimana kita mendidik anak
- kita untuk menjadi anak yang saleh?"
- Saya bilang, pertama-tama
- jadikan perhatian utama buat anak kita
- Allah.
- Kamu ingatkan anak kamu kepada Allah
- pada setiap ucapan, gerak-gerik dan
- perilakunya, tapi mulai dari diri kamu.
- Jangan kamu mengingatkan dia, jangan
- berbohong. Allah tidak menyukai orang
- yang berbohong, tapi ayahnya
- berbohong
- berbohong. Jangan ayah ibunya melarang
- dari sesuatu, tapi mereka mengerjakan.
- Mereka memerintahkan mengerjakan
- sesuatu, ya apa?
- Perintahkan mengerjakan sesuatu, tapi
- mereka tidak mengerjakan. Seperti ada
- seorang kiai
- bilang sama murid-muridnya mendorong
- mereka untuk apa?
- Untuk berinfak. Berinfak.
- Dan menjelaskan orang yang berinfak
- mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda
- hingga 700 kali lipat. Dan orang yang
- berinfak dicintai oleh Allah Subhanahu
- wa taala. Kebetulan anak kiai tersebut
- mendengarkan apa yang disampaikan
- bapaknya
- bahwa orang tidak akan mencapai puncak
- kebaktian
- sampai menginfakkan apa yang paling
- dicintai.
- Akhirnya si anak simpan di hati apa yang
- disampaikan orang tuanya. Waktu orang
- tuanya pergi datang orang meminta
- bantuan. Lalu si anak melihat apa di
- rumah yang paling baik kira-kira.
- Akhirnya ayam kalkun orang tuanya yang
- suaranya bagus
- dihadiah. Bukan ayam kalkun, ayam plung
- yang suaranya bagus diberikan hadiah
- buat yang datang meminta.
- Waktu bapaknya pulang,
- si bapak mencari ayam pulungnya.
- Dia tanya pada keluarganya,
- "Ke mana ayam saya?" Si anak bilang,
- "Saya hadiahkan buat orang yang minta
- bantuan."
- Si Bapak marah, "Kenapa kamu lakukan?
- dibilang kan bapak bilang
- kalian tidak akan mendapatkan kebajikan
- ya dalam arti yang sejati sampai
- menginfakkan apa yang kalian suka. Si
- Bapak marah
- diat i sanes ke orang ke batur ini bukan
- untuk kita, untuk orang lain dibilang
- katanya. Jadi kalau antum lihat
- bagaimana si anak bisa menjadi seorang
- yang dharmawan karim
- kalau bapaknya mengajak orang untuk
- bersikap darmawan tapi tidak mengerjakan
- waumunal kitabala
- itu artinya insyaallah akan menolong
- ayahnya ke di surga ustaz
- ya si ayah harus menyadari perbuatannya
- ada miskomunikasi
- si anaknya lebih karim daripada ayahnya.
- Jadi kalau kita perhatikan rusaknya
- masyarakat kita dimulai dari kerusak
- kerusakan yang ada pada apa? Pada tokoh
- dan kepala. Kita lihat ikan. Kalau kita
- ingin beli ikan, yang kita periksa
- apanya?
- Kepalanya.
- Insangnya.
- Iya.
- Kita periksa insangnya masih merah muda
- apa tidak. Ya. Kemudian kita periksa
- bahagian lehernya juga. Kalau dia masih
- segar insyaallah bahagian badannya apa?
- Segar.
- Bagus. Tapi begitu mulai terdapat
- pembusukan di bagian leher, kemudian
- diperiksa insangnya juga berwarna hitam,
- matanya tidak cerah, menunjukkan bahwa
- ikan tidak sehat.
- Begitu juga ini masyarakat di bawah
- tergantung tokoh dan para pemimpinnya di
- atas.
- Tapi pemimpin juga lahir dari rakyat
- kecil,
- dari rahim rakyat dibawa. Oleh karena
- itu, kalau kita menjumpai kondisi
- seperti ini harus tampil di
- tengah-tengah masyarakat satu umat yang
- serius, sungguh sungguh mendidik,
- memberikan contoh di tengah masyarakat,
- insyaallah akan menjadi ikutan bagi
- masyarakat banyak. Oleh karena itu, dia
- memulai dakwahnya seorang diri di tengah
- masyarakat jahiliah yang rusak, bobrok,
- tenggelam dalam kegelapan dengan para
- sahabatnya perlahan-lahan memberikan
- contoh di tengah mereka hingga terjadi
- perbaikan. Oleh karena itu,
- untuk mendidik anak kita, kita harus
- mulai bahkan bukan mendidik diri kita,
- anak kita, istri, keluarga kita,
- masyarakat kita harus dimulai dengan
- Allah. Oleh karena itu, sebaik-baiknya
- rumah tangga yang banyak disebutkan nama
- Allah.
- Sebaik-baiknya majelis yang selalu
- disebutkan nama Allah. Kalau saya
- menghadiri satu majelis,
- dalam majelis tersebut orang lebih lebih
- banyak bicara mengenai dunia, jabatan,
- kedudukan itu menggelisahkan hati yang
- luar biasa. Membuat kelihatan
- kesenjangan di antara masyarakat yang
- kumpul. Tapi subhanallah, begitu Allah
- disebutkan namanya, diceritakan
- kebesaran keagungannya juga dunia yang
- begitu remeh, jabatan yang merupakan
- amanat, yang berkumpul di tempat
- tersebut, yang di atas tidak merasa
- bangga dengan apa yang ada padanya.
- Malah khawatir. Yang di bawah tidak
- merasa minder, kecil karena mereka
- merasa mereka dibebaskan dari amanat
- berat yang dipikul oleh para pemimpin di
- atas.
- Jadi untuk ngebenerin ini melalui halnya
- ustaz ya perilaku ee dari diri sendiri
- dari
- kalbunya
- dari kalbu dari hati nurani berdasarkan
- beriman kepada Allah subhanahu wa taala
- sehingga menjadi nanti sekupnya
- membesar-bebesar dan ini mungkin yang di
- ee realisasikan oleh baginda nabi. Oleh
- karenanya Allah laqad kana lakum fi
- rasulillah uswah hasanah. Jadi liman
- tapi syaratnya di limangkan yarjullah.
- Saya juga ingin menyambung pernyataan
- saat Alfan bahwa
- ulama dan umara itu seharusnya dia
- seiring sejalan.
- He
- dan ulama itu harus berada di garda
- terdepan karena memang ulama ini adalah
- pewaris nabi. Namun terkadang kan ketik
- Umar ini memang dia kadang suka sedikit
- menyembang karena dia lebih dekat kepada
- kekuasaan harta dan juga jabatan. Karena
- itu ulama seharusnya dia bisa memberikan
- nasihat kepada Umar agar kemudian ulama
- ini bisa membimbing umat untuk apa
- namanya bisa ee saling membangun seperti
- yang saya sampaikan tadi. Begitu.
- Makanya ulama terbagi dua.
- Hm.
- Satu rabbaniun ya
- sebagaimana perintah Allah.
- Walakin kunu rabbaniina bima kuntum
- tuallimunal kitaba wabima kuntum
- tadusun. Jadilah kalian para rabbaniin
- karena kalian mengajarkan Alkitab dan
- mempelajarinya.
- Nah, rabbani ini betul-betul
- yuballighuna risalatillah waaksyaunahu w
- yaksyauna ahadan illallah. Menyampaikan
- risalah Allah hanya takut pada Allah,
- tidak takut pada selainnya. Jadi di
- hadapan siapapun sama.
- Mereka menyampaikan kitab Allah yang
- merupakan amanat dari
- Allah.
- Ada lagi ulama yang kedua, ulama su.
- Ulama su ini statusnya bukan memberikan
- peringatan pendidikan pada umat, pada
- para pemimpin di atas, tapi menjadi
- jongos penguasa dan pengusaha.
- Nah, kalau ulama sudah menjadi jongos
- pengusaha dan penguasa, maka kebenaran
- akan apa? kebenaran akan tertutup dan
- terkubur. Oleh karena itu, ulamanya
- betul-betul harus menjalankan amanat dan
- risalah Allah baru mereka menjadi
- pewaris para nabi.
- Betul.
- Nabi tidak mewariskan harta untuk kita,
- tapi mewariskan kitab suci yang datang
- dari sisi Al.
- Adapun hadis-hadis Nabi, kita tahu bahwa
- pada masa hidupnya Nabi tidak
- memerintahkan sahabatnya untuk mencatat.
- Betul gak?
- Betul.
- Tapi kitab ini yang ditulis dikumpulkan.
- Tapi sayangnya justru kitab Allah
- ditinggalkan, digantikan dengan apa yang
- Nabi tidak tinggalkan. Kemudian
- digantikan juga dengan
- pendapat-pendapat,
- kumpulan-kumpulan pendapat manusia yang
- lebih diagungkan dari kitab Allah. Dan
- manusia-manusia yang menulis buku-buku
- tersebut lebih diagungkan bahkan dari
- Nabi, bahkan dari Allah Subhanahu wa
- taala. Oleh karena itu kita masuk
- pesantren
- kita bukan diperkenalkan kepada Allah.
- Kita disuruh betul menghafal kata-kat
- Al-Qur'an. Ada yang tahfiz secara
- menyeluruh, ada yang juz ama. Kemudian
- mulai belajar apa? Belajar ilmu alat.
- Heeh.
- Belajar fikih. Ya, itu yang kita
- habiskan waktu fikihnya pun hanya
- berurusan dengan taharah biasanya.
- Betul.
- Artinya tamat dari pesantren hanya
- menghabiskan waktu dari mulai babut
- thaaharah
- kemudian sampai bab apa? Salat, siam,
- zakat yang dipelajari paling zakatul
- fitri. Kemudian setelah itu masuk Al-Haj
- ya. Adapun muamalah ya ke sana jarang
- mendapatkan perhatian. Jadi kalau kita
- perhatikan kita ini sebetulnya
- dipisahkan dari Allah dari kitabnya,
- dipisahkan juga dari nabinya tapi
- dihubungkan dengan manusia-manusia yang
- membawa perselisihan, pertentangan,
- perbedaan. Padahal para imam tersebut
- semuanya mengajak kepada Allah. Tapi di
- bawah ini justru para pengikut mengajak
- mereka bukan kepada Allah, tapi kepada
- imam-imam yang mengajak manusia kepada
- Allah Subhanahu wa taala.
- Oleh karena itu, jumpakan masyarakat
- pengikut Syafi'i menempatkan Imam
- Syafi'i bahkan lebih dari Rasul tanpa
- mereka sadari. Begitu juga pengikut
- Ahmad bin Hambal menempatkan Imam Ahmad
- lebih daripada Rasulullah. Pengikut Abu
- Hanifah juga begitu. Pengikut Malik juga
- sama. pengikut Ibnu Taimiyah menempatkan
- Ibnu Taimiyah bahkan sebagai hakim
- di atas Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam. Begitu juga yang
- terjadi pada saat ini pengikut Albani
- menempatkan Albani seolah-olah di atas
- kitab Allah dan sunah nabinya.
- Jadi bukan kembali kepada kitab Allah
- dan ayat-ayatnya ya, tapi kembali
- merujuk kepada apa yang diucapkan
- Albani. Kemudian yang berbeda dengan
- Albani menurut para pengikutnya adalah
- ahli bidah. Ini muncul fitnah di
- belakang hari wali iyadzubillah. Karena
- kefanatikan seseorang kepada sesamanya.
- Bukan merujuk kepada kitab Allah menjadi
- hakim pada perselisihan di antara
- mereka.
- Kalau sebagai ulamanya aja sudah seperti
- itu. Sementara ulama itu yang harusnya
- memberikan asesmen kepada ee pemerintah
- pada eksekutif. Lantas bagaimana yang
- harus kita lakukan, Ustaz,
- dalam apa ya mengemban amanah ini gitu
- loh. Ee skup kita kan harusnya
- memberikan juga ee perubahan atau
- memberikan ee sedikit warna bukan pasrah
- begitu saja terhadap kondisi ini. Lalu
- kiatnya bagaimana
- tugas kita? Bukan ya
- bukan apa tugas kita bukan ya
- menyerahkan tanggung jawab pada orang
- lain tapi tugas kita memulai dari diri
- kita. Kalau kita jumpai ulama, kiai,
- ustaz melalaikan amanat Allah, bahkan
- mereka merelakan diri mereka untuk
- menjadi jongos dan alat dari pengusaha
- maupun penguasa, maka tugas kita
- mengingatkan umat, mengingatkan para
- pemimpin tersebut. Bukan karena
- kedengkian, kebencian, bukan karena
- cemburu dengan apa yang ada pada mereka.
- Bahkan kita justru berlindung kepada
- Allah dari cobaan dan dunia yang
- diberikan kepada mereka.
- Jadi memang kita harus mulai dari diri
- kita. Maka kita berharap dihasil ini
- baik pejuang yang apa namanya dari
- kalangan ulamanya, krwya betul-betul
- bisa menjadi contoh yang sebaik-baiknya
- dalam menjalankan amanat Allah. Hingga
- Saudara Agus bekerja di Rasil sebagai
- kru di sini merasa bahwa ini amanat yang
- diamanatkan oleh Allah bukan oleh apa
- oleh komisaris maupun direksi atau dewan
- syariat.
- Oke.
- Jadi merasa kedudukannya apa? Sebagai
- pekerja pegawai khalifah yang memiliki
- kedudukan yang amat mulia di sisi Allah
- Subhanahu wa taala.
- Amin. Ustaz
- begitu juga para asatidnya. Jadi
- betul-betul kalau masing-masing merasa
- bahwa ini amanat yang
- dipertanggungjawabkan, dia tidak akan
- sama sekali berkhianat dan tidak akan
- berbuat zalim pada yang lain. Tidak akan
- memandang remeh yang lain karena
- perannya lebih kecil menurut dia. Tidak.
- Tapi manusia dihargai karena menjalankan
- amanat. Bukan karena kedudukan amanatnya
- yang besar, tapi pelaksanaannya yang
- dilihat oleh Allah.
- Oleh karena itu, RT yang menjalankan
- amanat Allah dengan sebaik-baiknya lebih
- mulia dari gubernur yang mengkhianati
- amanat.
- Tapi herannya orang kalau ketemu Pak
- Gubernur, Walikota sambutannya luar
- biasa. Kalau ketemu Pak RT gimana?
- Jadi kalau kita lihat orang ini tergiur
- pada dunia.
- Orang dibutakan oleh dunianya hingga
- melihat segala sesuatu. Bukan melihat
- pada apa? Pada esensi yang sebenarnya,
- hakikat dan tujuan hidup yang
- sebenarnya. Tapi melihat gemerlap dunia
- itu yang menjadi perhatiannya. Kita
- berharap di rumah Bapak, Ibu, suami,
- istri, Anak, begitu juga masyarakat coba
- selalu betul-betul mengingatkan dirinya
- dan umat kepada Allah.
- Ini tidak benar. Allah murka. Jangan kau
- menyinggung perasaan saya, kau
- menginjak-injak kehormatan saya. Kamu
- tidak peduli terhadap saya. Coba ajak
- ini orang untuk ingat Allah, peduli
- kepada Allah, insyaallah dia akan
- menjaga hak orang lain.
- Baik, Ustaz.
- Ada sebuah kepentingan, Ustaz. Ya,
- artinya sebuah keniscayaan yang kita
- rasakan. Kalau misalkan keimanan,
- pahala, surga itu kan rananya kekal dan
- yang mengukur adalah keimanan.
- Sementara kita setiap hari itu
- bersentuhan merasakan dengan sesuatu
- yang konkret, maka biasanya manusia itu
- lebih dominan yang konkret. Maka dalam
- hal ini harta, anak, keturunan dan
- kederajat, martabat itu biasanya lebih
- dikejar Ustaz daripada dan itu sering
- kalah keimanan dalam menghadapi ini.
- Baik, Ustaz ee Afan ee kita sudah
- dibatasi waktu.
- Kesimpulan, Ustaz.
- Jadi kesimpulannya begini,
- memang kita akui bahwa dunia ini
- bersifat apa namanya? ee dia merupakan
- materi yang disaksikan oleh indra kita
- konkret bukan bersifat abstrak atau
- gaib.
- Tapi kita harus tahu bahwasanya
- rasa senang, nikmat, kebahagiaan itu
- sifatnya konkret apa abstrak?
- Abstrak.
- Heeh.
- Kenikmatan kebahagiaan.
- Iya. Abstrak.
- Ada seorang yang dibuat senang bahagia
- dengan jabatan kedudukan.
- Ada orang yang bersedih, berduka karena
- menerima amalan.
- Artinya objek yang sama tidak
- menimbulkan apa? Tidak menimbulkan efek
- yang sama.
- Ada orang yang bahagia dengan
- mobil-mobil mewah
- ya. Padahal sebetulnya dia dikendalikan
- di penjara. Ada orang justru tidak
- menikmati semuanya. Dia lebih suka
- menikmati suasana yang sederhana. Ada
- orang yang dibuat terkesan senang
- menyaksikan gedung-gedung yang megah.
- Ada orang yang merasakan kenikmatan yang
- alami, yang natural, pemandangan
- sederhana. Walaupun tinggal pada sebuah
- rumah gubuk, rumah-rumah panggung,
- mereka berbahagia. Jadi kebahagiaan
- tidak ditentukan oleh materi. Walaupun
- yang menjadi objek-objek yang menarik
- perhatian sifatnya materi dan indrawi,
- tapi kebahagiaan itu sendiri tidak
- ditentukan oleh semua itu. Oleh karena
- itu, orang yang beriman kebahagiaan
- mereka justru di saat disebutkan nama
- Allah, hati mereka bergembira, senang,
- bukan dunia. Hingga Allah mengatakan
- zuina
- zuina lilladina kafarul hayat dunya.
- Untuk orang-orang yang kafir dunia itu
- apa? Begitu mau kau begitu menyenangkan.
- Mereka mengolok-olok orang yang beriman.
- Wallinaq faqahum yaumalqiam. Orang yang
- bertakwa tidak melihat dunia sebagai
- keindahan yang yang mempesona. Tidak.
- Dunia hanya merupakan wasilah. Oleh
- karena itu, kalau sebagian orang
- bersenang-senang di kafe, diskotek, di
- bar, di mall, ya di Trans Studio katakan
- atau keliling dunia, kebahagiaan dia di
- saat menyebut nama Allah, mengingat
- Allah. Sebagaimana firman Allah,
- wazukiradina minunihi waidukirallahu
- wahdahuina
- akir. Kalau disebutkan nama Allah
- semata, orang yang tidak beriman pada
- hari akhirat, hati mereka gelisah,
- pengap, sempit. Tapi sebaliknya orang
- yang beriman disebutkan nama Allah, hati
- mereka bergembira. Nah, kalau orang yang
- kafir waukirina
- yastabsirun, kalau disebutkan nama
- selain Allah yang berhubungan dengan
- selain Allah, langsung hati mereka
- bergembira, bersukar ria. Nah, sebagai
- penutup
- i
- sebagai penutup ee ada dialog antara
- kematian dan kehidupan.
- Kematian
- bertanya kepada ee kehidupan bertanya
- pada kematian
- kematian.
- Apa sebabnya orang membenci engkau
- mencintai aku?
- Apa sebabnya?
- Orang membenci engkau wahai kematian dan
- mencintai aku, mengerumuni aku? Kematian
- menjawab, "Sebabnya
- karena orang terpedaya, terpesona oleh
- keindahan Engkau yang penuh dengan
- kepalsuan dan kebohongan."
- Sedangkan mereka membenci saya karena
- saya merupakan kenyataan realita yang
- pahit dan menyakitkan.
- Jadi, manusia sebetulnya dipermainkan
- oleh dunia.
- Memberikan pengorbanan untuk dunia jauh
- lebih besar daripada apa yang diberikan
- oleh dunia untuk dirinya. Dia punya aset
- yang begitu banyak kekayaan ya, tapi
- digadaikan di bank dan dia harus
- membayar apa? Bunga setiap bulannya.
- Hatinya bergelisah, hatinya resah,
- diberikan kesenangan sedikit ya
- dikatakan sebagai seorang kongl berat
- tapi deritanya hanya Allah yang tahu
- bagaimana perasaannya.
- Jadi mari bersama-sama kita selalu
- mengedepankan Allah, mengutamakan Allah,
- mengingat Allah. Begitu pula untuk
- anak-anak dan keluarga kita, masyarakat
- kita hingga sikap perbuatan kita, ucapan
- kita juga selalu dalam keadaan
- terkendali. Subhanakallahumma wabihamdik
- ashadu alla ilahailla anta astagfiruka
- wa atubu ilaik walu minkum.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Husin
- atas penjelasan dan pencerahannya.
- Terima kasih Ustaz Alfan sudah menemani
- kami dan juga Ustaz Husein. Ikhwan dan
- akhwat, demikian tausiah kita di pagi
- hari ini. Renungan Al-Qur'an bersama
- Ustaz Husein dan juga Ustaz Alfan. Kita
- doakan semoga guru-guru kita diberikan
- kesehatan oleh Allah Subhanahu wa taala
- sehingga dan juga ketakwaan dan juga
- bisa istikamah dalam amanah, Ustaz. Ya,
- seperti yang beliau sampaikan. Begitu
- pula kita semua mendengarkan tausiah
- dari beliau. Setelah ini ikhwan akhwat
- akan hadir topik berita pagi bersama
- Iksan Bapak Ihsan Thalib dan saya Agus
- ditemani Fajar dan juga Fahri di meja
- operator serta para pejuang dakwah di
- berbagai daerah dan juga Anda semua kami
- mohon diri. Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.