Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan
- katsiran thyiban barokan fih kama
- yuhiburbuna waardu. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala sayyidina
- Muhammadin waa ali sayyidina Muhammad.
- masih dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibur
- Bekasi. Radio Silaturahim dan juga Rasil
- TV untuk Islam yang satu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan
- akhwatam warahmatullah.
- Yang dirahmati Allah. Alhamdulillah di
- jelang siang ini kami hadir secara live
- ya. Alhamdulillah, Ustaz Husin
- berkesempatan hadir di jelang zuhur ini.
- Kita masih dalam program acara renungan
- di bawah naungan Al-Qur'an bersama guru
- kita Ustaz Husein. Kita manfaatkan waktu
- untuk beberapa menjawab beberapa
- pertanyaan nanti
- yang akan kita bacakan dan akan dijawab
- oleh Ustaz Husein Alatas. Asalamualaikum
- warahmatullah Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Iya. Seperti biasa kami mohon untuk
- membuka e majelis ini dengan pembacaan
- Quran surah Al-Fatihah.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- maiki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim
- waladin
- Amin.
- Amin. Amin. Amin ya rabbal alamin. Baik,
- alhamdulillah telah kita buka bersama
- dengan pembacaan Quran surah Al-Fatihah.
- Insyaallah di hari ini kita mendapatkan
- naungan rahmat dari Allah subhanahu wa
- taala. Amin. Amin ya rabbal alamin.
- Ustaz, kita bacakan beberapa pertanyaan
- yang sudah masuk. Ini yang pertama dari
- hamba Allah di Bogor, Ustaz. Ini
- mengenai hari-hari terakhir di bulan
- Ramadan, Ustaz. Ustaz, bagaimana ee kita
- memanfaatkan hari-hari terakhir di
- Ramadan ini, Ustaz? Terusang saya masih
- harus bekerja dan tidak bisa iktikaf
- seperti yang lain.
- Dan saya juga belum bisa mengkhatamkan
- Al-Qur'an di Ramadan ini. Tarawih pun
- masih bolong-bolong katanya ustaz. Mohon
- nasihatnya. Terima kasih.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Allahumma sholli wasallim
- wabarik
- ala sayyidina wa nabina Muhammadin wa
- alihi thyibin wasohabatihil ghuril
- mayamin
- wasairina ala nahjihil qawim ila
- yaumiddin.
- Subhanaka la ilma lana illa ma alamtana
- innaka antal alimul hakim. Allahumma
- atina minika rahmah waimna min ladunka
- ilman nafi wfafna bimaamtana.
- Rbana zidna ilman waiknain.
- Asalamualaika ya rasulullah. Assalamu
- alaina wa ala ibadillah shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kepada [berdehem] Bapak kita yang
- bertanya dengan penuh keprihatinan.
- Selama bulan Ramadan dia belum
- mengkhatamkan Al-Qur'an, belum juga bisa
- beriktikaf.
- Sedangkan salat tarawihnya pun
- belentang-belentung karena dia terikat
- oleh pekerjaan.
- [berdehem]
- Perlu kita ingatkan kepada Bapak
- bahwa kalau Bapak membaca Al-Qur'an
- walaupun satu lembar diresapi,
- dihayati, dijadikan sebagai pelajaran
- diikuti lebih baik daripada Bapak
- membaca Al-Qur'an seluruhnya tanpa
- mengambil manfaat daripadanya.
- Karena Al-Qur'an bukan hanya sekedar
- untuk dibaca,
- tapi wahyu yang diturunkan Allah untuk
- menerangi hidup kita, mensucikan juga
- jiwa kita, amal kita, dan menjadi
- pedoman hidup.
- Oleh karena itu, banyak orang membaca
- Al-Qur'an berkali-kali khatam,
- tapi sama dengan orang yang menulis di
- atas air.
- Bahkan banyak orang mengkhatamkan
- Al-Qur'an
- bahkan menghafalnya, membacanya dengan
- suara yang indah. Tapi Al-Qur'an
- mengutuk dan melaknat dirinya.
- Rubbatalin lilil Quran wal Quran
- yalanuhu. Berapa banyak pembaca
- Al-Qur'an tapi Quran mengutuknya. Karena
- apa? Karena bukan menjadikan Quran
- sebagai pedoman hidupnya, tapi dia
- mempergunakan Al-Qur'an sebagai wasilah
- untuk meraih kehidupan dunia. Bukan
- untuk Allah, bukan untuk menempah
- dirinya, bukan juga untuk bekal bagi
- hari akhirnya.
- Oleh karena itu, kalau Bapak bekerja
- untuk mencari nafkah
- demi keluarga, hingga Bapak tidak bisa
- mengkhatamkan Al-Qur'an.
- tidak juga melakukan salat qiyamulailnya
- sebagaimana mestinya.
- Maka
- Bapak harus tahu
- pekerjaan Bapak untuk memberikan nafkah
- bagi keluarga itu merupakan ibadah
- bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa
- taala.
- Bapak bekerja mencari nafkah,
- menghidupkan keluarga lebih baik
- daripada Bapak beriktikaf selama 1000
- tahun bahkan.
- Karena tujuan kita beriktikaf itu untuk
- betul-betul mengkhusyukkan diri kita
- kembali kepada Allah Subhanahu wa taala
- untuk menjadikan kita manusia yang
- bertanggung jawab baik terhadap keluarga
- kita, masyarakat kita, bangsa kita,
- agama kita.
- Nah, Bapak bukan meninggalkan iktikaf
- karena kemauan Bapak, bukan juga
- meninggalkan salat qiamulail karena
- kemauan Bapak. Bapak juga tidak sempat
- mengkhatamkan Al-Qur'an.
- Tapi dengan jihad yang Bapak lakukan
- asal diniatkan betul-betul ini
- betul-betul ibadah pengabdian kepada
- Allah. Lebih mulia daripada Bapak
- beriktikaf ya dalam waktu yang panjang
- di dalam masjid. Nah, kapan Bapak
- kosong? Bapak masuk ke masjid walaupun
- setengah jam dengan iktiad dengan niat
- iktikaf Bapak mendapatkannya.
- Artinya tidak harus ya sepanjang hari,
- sepanjang waktu di dalam masjid ya
- dengan meninggalkan kewajiban kita untuk
- memberikan nafkah kepada keluarga. Ini
- merupakan apa? Merupakan pengabaian.
- Ada satu orang rajin beribadah dalam
- masjid.
- Rajin beribadah dalam masjid.
- Salat, berzikir, membaca Al-Qur'an. Lalu
- Rasul bertanya, "Siapa yang memberikan
- nafkah kamu?
- Siapa yang memberikan nafkah? Disebutkan
- fulan.
- Dijawab oleh Rasul, "Fulan lebih mulia
- dari kamu."
- Karena apa? Karena kita ini ya
- mengerjakan salat untuk menumbuhkan
- ketakwaan hingga kita terjaga dari
- perbuatan yang tidak patut. Dan baru
- kita bisa membuktikan hal tersebut di
- arena kehidupan perjuangan. Allah tidak
- menciptakan kita untuk menjadi malaikat.
- yang tidak makan, yang tidak minum, yang
- sepenuhnya mengabdi kepada Allah. Tapi
- Allah Subhanahu wa taala jadikan kita
- sebagai khalifahnya di atas muka bumi.
- Allah berikan pilihan, berikan kehendak,
- ya ada juga nafsu dalam diri kita. Nah,
- kalau seorang berjihad mengendalikan
- hawa nafsunya, menyesuaikan hidupnya
- dengan keridaan Allah, maka orang ini
- merupakan orang yang mulia di sisi Allah
- Subhanahu wa taala. Jadi, Bapak jangan
- berkecil hati. Bapak lakukan ibadah
- sesuai kemampuan Bapak. Yang penting
- jaga
- faraid yang Allah wajibkan. Salatnya,
- begitu pula zakatnya. Adapun iktikaf ada
- kosong waktu Bapak iktikaf. Bapak sempat
- membaca Al-Qur'an baca walaupun
- selembar. Usahakan untuk memahami
- ayat-ayat yang Bapak baca. Kemudian
- jadikan sebagai pelajaran untuk Bapak
- dan keluarga di rumah. Apa yang Bapak
- lakukan? Ini merupakan perbuatan yang
- nilainya amat tinggi di sisi Allah
- Subhanahu wa taala. Jangan seperti
- sebagian orang melakukan salat tarawih
- di waktu malam kemudian dia membuka
- restoran di waktu siang hari. Waktu
- ditanya kenapa? Dia bilang kalau saya
- buka di malam hari saya enggak bisa
- tarawih. Padahal tarawih ini bukan
- merupakan satu kewajiban. Bahkan Rasul
- pun tidak sama sekali mengumpulkan jemah
- untuk salat tarawih. Tapi ada orang ikut
- di belakang Rasul. Itu pun tidak setiap
- hal. Sekali Rasulullah melakukan salat,
- lalu sahabat, ada beberapa orang yang
- ikut di belakangnya, besok langsung
- Rasulullah ya salat sendiri. Kenapa?
- Takut sampai orang beranggapan ini
- merupakan hal yang wajib. Akhirnya yang
- wajib, yang lebih utama ditinggalkan.
- Oleh karena itu, kalau Bapak selama
- ibadah di bulan puasa bisa melakukan
- revolusi,
- mengubah karakter-karakter
- yang tadinya tidak baik, yang tertanam
- dalam diri kita menjadi karakter yang
- saleh, meninggalkan kebiasaan buruk,
- bertaubat kepada Allah, mensucikan jiwa,
- berarti Bapak sukses dalam menjalankan
- ibadah Ramadan. Karena tujuan kita
- menahan lapar dan haus tujuannya untuk
- melatih kita agar mampu mengendalikan
- diri kita dan syahwat kita. Semoga Bapak
- Allah anugerahkan rahmatnya,
- keberkahannya, ampunannya, hidayah
- hingga dapat menjadi sosok muslim yang
- sebaik-baiknya. Amin ya rabbal alamin.
- Amin. Amin. [berdehem] Amin ya rabbal
- alamin. Jadi memang semampu kita saja,
- Ustaz, ya.
- Semampu kita
- apalagi yang masih harus dituntut untuk
- bekerja gitu kan.
- Betul. Ada juga yang katanya dalam
- setahun tuh bisa kerja full. Nah, 10
- hari terakhirnya kita bisa libur tuh
- fokus untuk iktikaf. Ada juga yang
- arti kalau seandainya pendapatnya
- pendapatan dia mencukupi ya
- artinya bukan orang yang berpendapatan
- kecil atau ada orang katakan yang
- berderma untuk membantu dirinya agar
- dapat mendekatkan diri kepada Allah
- hingga dia dapat mencukupi kebutuhan
- keluarganya. Nah, sekarang di
- tengah-tengah kita, Kang Rizal, banyak
- orang masih bingung bertanya-tanya,
- "Bagaimana, Ustaz? Saya ini puasa saya
- belum mampu untuk menyediakan sodqatul
- fitri."
- Zakat fitrah itu, Ustaz.
- Jangankan untuk sodqatul fitri,
- hari-hari saja saya susah.
- Hm. Lalu saya bilang, "Ketahuilah
- sodqatul fitri itu diambil dari yang
- kaya, yang mampu diberikan kepada yang
- tidak mampu supaya bisa ikut serta
- bersenang-senang bersama orang yang
- mampu."
- Ini bukan pajak,
- tapi tuu min agnaihim [berdehem] wat
- turaddu
- ala fuqarim. diambil dari yang mampu,
- dikembalikan kepada yang tidak mampu.
- Supaya jangan hanya orang kaya saja yang
- bisa berhari raya,
- tapi orang-orang miskin juga apa? Dapat
- menikmati hari raya. Cuma kalau dulu ya
- cukup dengan kurma ya atau dengan gandum
- ya karena itu makanan yang biasa mereka
- makan. Kalau saat ini orang lebaran
- bukan hanya makan nasi, lebaran ada
- lauk-pauknya. Betul gak? Iya.
- Ada yang bikin katakan punya sambal
- godoknya, opornya. Masa hanya dinikmati
- orang-orang kaya. Oleh karena itu
- hendaknya yang mengeluarkan sodqatul
- fitri mereka keluarkan.
- Apa yang mereka keluarkan adalah ee sama
- dengan apa yang mereka makan untuk
- keluarganya pada hari raya. Siapkan
- paket berasnya, kemudian juga apa?
- Uangnya untuk beli bumbu dan beli
- lauknya.
- H.
- Jadi kalau seandainya keluarga yang
- mampu ya yang berkelebihan dia bisa
- siapkan beberapa paket untuk fuqara wal
- masakin. Jangan hanya beras. Paket beras
- kemudian uang atau berikan daging
- kemudian tambah uang untuk masak.
- Apalagi di hari lebaran
- barang-barang kan membumbung tinggi.
- Iya. Nah, ini mesti kita sadari pada
- saat lebaran Cina kita jumpai
- bandeng-bandeng dari Tambak keluar
- besar-besar dijual dengan harga murah.
- Itu lebaran Cina. Sedangkan lebaran kaum
- muslimin barang-barang membumbung
- tinggi. Cabe naik, bumbu naik, daging
- naik, ayam naik. Ke mana kesadaran kita?
- Kenapa justru kita mengambil manfaat
- sebesar-besarnya dari saudara kita yang
- banyak betul-betul apa? Bersedih.
- H
- walaupun mereka menerima infak dari
- sebagian orang ternyata apa? Ternyata
- harga barang yang membumbung tinggi
- tak mampu untuk mereka ya gunakan
- apa yang mereka terima untuk berbelanja
- di hari raya. Oleh karena itu yang kaya
- setiap hari makan enak hendaknya pada
- hari raya lebih banyak mempertimbangkan
- orang-orang yang butuh di sekelilingnya.
- Wallahuam.
- Baik ya. Ee karena tradisi ya, Ustaz.
- Jadi kita jadi seolah-olah yang miskin
- pun seperti wajib.
- Heeh.
- Untuk yang kita sebut zakat fitrah itu,
- Ustaz.
- Nah, ini kesalahan. Jadi kesannya pajak
- yang memberatkan.
- Kemudian ada ancaman dari para kiai.
- Kalau tidak dikeluarkan, puasanya tidak
- akan diterima. Itu kalau yang kaya, yang
- punya kelebihan, kemampuan kalau dia
- tidak keluarkan ini pertanda bahwa
- ibadah siamnya tidak sempurna bahkan
- bisa-bisa ditolak. Karena apa? Tidak
- punya kepedulian. Puasa ini tujuannya
- untuk melatih kita dengan rasa lapar,
- peduli terhadap mereka-mereka yang susah
- dan lapar dalam waktu yang lebih panjang
- dibandingkan kita. Kalau kita dari mulai
- subuh sampai magrib, kalau mereka hampir
- setiap hari bingung untuk dapat
- mencukupi kebutuhan mereka.
- Baik, Ustaz. Kemudian istilah itu memang
- sodqatul fitri, Ustaz, ya. Bukan zakat
- fitrah sebetulnya, Ustaz. Itu
- Iya. Ini sebetulnya kan kita di
- Indonesia ini kadang-kadang rancu dalam
- memahami apa itu sedekah, apa itu zakat.
- Iya,
- betul. Enggak apa itu infak. Infak itu
- merupakan sebuah kata ya. H
- yang mencakup semua jenis pengeluaran,
- baik pengeluaran di jalan Allah
- yang wajib atau yang sukarela,
- ya atau pengeluar di tempat maksiat.
- Dikatakan anfaq maahu fi maksiat.
- Nah, kemudian yang diinfakkan di jalan
- Allah Subhanahu wa taala ya ada infak
- pertama-tama untuk keluarga
- orang tua kita, istri kita yang wajib
- kita berikan nafkah itu merupakan infak
- yang Allah wajibkan pada kita. Bahkan
- sebelum kita berzakat keluar,
- h
- kita utamakan orang yang kita tanggung.
- Nah, setelah kita cukupi mereka, kita
- punya kelebihan kita berkontribusi
- kepada orang yang bukan dari keluarga
- yang wajib untuk kita tanggung. Nah,
- Al-Qur'an menyebutkan yas'alunaka
- yunfiquun.
- Mereka bertanya padamu apa yang mereka
- mesti infakkan.
- Allah enggak menjawab apa, tapi menjawab
- siapa yang lebih dulu harus kalian
- perhatikan. H
- karena orang sering salah paham kan.
- Iya.
- Qul ma anum min khairin. Katakan yang
- kalian infakkan dari kebaikan.
- Falil walidaini wal aqrabin.
- Pertama-tama orang tua kalian.
- Dengan sebab mereka kalian ada. Bahkan
- kalian menjadi orang yang bisa bekerja
- mandiri karena usaha mereka.
- Kemudian kaum kerabat yang terdekat
- dengan kita, jangan kita berikan bantuan
- orang yang jauh. Kerabat kita, kita
- abaikan. karena ini mendapatkan pujian
- dengan sendirinya ya anak-anak ya yang
- dekat dengan kita, istri kita, kemudian
- paman kita, saudara kita, saudari kita,
- sepupu kita. Allah enggak sebutkan anak.
- Kenapa, Kang Rizal? Tapi kedua orang tua
- disebutkan karena kalau air turunnya ke
- bawah.
- H
- tapi kalau ke atas mesti dipompa. Oleh
- karena itu dalam Quran selalu Allah
- ingatkan dengan wasiatnya untuk peduli
- berbuat kebaikan pada orang tua. Tapi
- enggak ada wasiat untuk memberikan
- nafkah buat anak.
- Karena orang tua kalau terhadap anaknya
- enggak berhitung.
- Iya.
- Betul enggak?
- Betul.
- Lalu Allah jelaskan ya falil walidaini
- wal aqrabin wal yatama wal masakin wis
- sabil. Untuk anak-anak yatim,
- orang-orang miskin dan ibnus sabil. W
- taf'alu min khairin fainnallaha bihiim.
- Apa yang kalian lakukan dari kebaikan
- Allah Maha Taala? Setelah itu Allah
- ditanya kedua kalinya, wasasalunaka
- yunfiquun. Dan apa mereka bertanya
- padamu? Apa yang mereka harus infakkan?
- Dijawab oleh Allah, "Qulil afwa." Awwa
- itu maola an hajatikum yang melebihi
- kebutuhan kalian. Begitu kamu punya
- kelebihan,
- setelah mencukupi kebutuhan kamu, kamu
- dituntut untuk berkontribusi terhadap
- saudara kamu.
- H.
- Perlakukan mereka sebagaimana kamu
- memperlakukan diri kamu dan orang yang
- kamu cintai. Jadi sebetulnya
- berkaitan dengan nisab kalau pada zaman
- dulu ditentukan 20 mital berkaitan
- dengan emas perak yang kita simpan.
- Kalau berkaitan dengan penghasilan kita
- seharusnya jangan ditentukan R juta atau
- R juta. Ada orang punya pendapatan 25
- juta.
- Anaknya banyak yang ditanggung banyak
- orang tua yang ditanggung.
- Maka apa yang didapatkan semua keluar
- untuk kebutuhan mereka. Orang ini belum
- wajib apa? Belum wajib bersedekah keluar
- tapi cukupi keluarganya. Tapi ada orang
- punya pendapatan cuma R juta, Kang
- Risal. Kebutuhannya cuma R juta. Dia
- sudah wajib untuk berinfak.
- Karena apa? Punya kelebihan.
- Iya.
- Nah, berkaitan dengan apa? Dengan zakah
- dan sedekah. Sebetulnya kata zakat
- maupun sedekah bukan menunjukkan infak
- asalnya. Heeh.
- Tapi menunjukkan tujuan dari infak kita.
- Zakah artinya mensucikan jiwa kita,
- mensucikan harta kita dari apa-apa yang
- diharamkan Allah Taala agar menjadi suci
- dan bersih
- dan menumbuhkan. Karena arti zaka yazku
- dalam bahasa Arab mensucikan gak
- menumbuhkan. Sedangkan sodqah ya asal
- katanya diambil dari shodqoh yasduqu
- yang artinya jujur. H. Nah, seodqah ini
- yang kita keluarkan dari infak kita
- sebagai shodqatan artinya bukti akan
- iman kita pada Allah. Sehingga dalam
- hadis yang diriwayatkan oleh Imam
- Bukhari, wasodqatu burhan dan shodqah
- itu bukti.
- Mahar juga dalam Al-Qur'an disebutkan
- sebagai shoduqah. Dibedakan antara
- shodqah sama shodqah. Waatunisa
- shoduqatihinna.
- Ini juga bukan jual beli atau laki-laki
- membeli seorang perempuan dari orang
- tuanya, tapi sebagai bukti keseriusan
- dia
- untuk bertanggung jawab sebagai seorang
- suami menikah juga dengan tujuan yang
- baik.
- Jadi kata zakah dan sodqah itu
- menjelaskan tujuan dari infak kita. Ya.
- Jadi kalau Allah mengatakan khud min
- amwalihim, ambil dari harta mereka
- shodqatan sebagai bukti akan keimanan
- mereka, ketundukan mereka kepada Allah.
- ini gak? H.
- Tapi semua tercakup dalam makna infak.
- Nah, pada periode Makkah banyak kata
- zakar digunakan karena memang pada saat
- itu umat Islam masih sedikit. Mereka
- juga ee teruji, dianiaya, disiksa,
- diboikot, tapi mereka bersabar. Oleh
- karena itu, kata zakat yang paling
- tepat.
- Artinya mereka dengan ikhlas
- mengeluarkan apa yang mereka miliki.
- Karena apa? Karena mereka betul-betul
- ingin mensucikan diri mereka. Apalagi
- dengan bekas-bekas syirik sebelumnya.
- Tapi di Madinah langsung perintahnya
- khud bukan diserahkan kepada mereka tapi
- ambil dari harta mereka. Ya, sebagai
- bukti bahwa mereka betul-betul
- orang-orang yang beriman dan tunduk
- kepada Allah. Karena zakat merupakan
- rukun Islam.
- Kalau dia mengingkarinya berarti dia
- bukan seorang muslim. Maka bukti
- keislamannya, kerelaan dia untuk
- mengeluarkan sedekahnya.
- Betapa indahnya ajaran Islam ya yang
- betul-betul hanya mengenakan kewajiban
- kepada setiap orang sesuai dengan
- kemampuannya.
- Sedangkan yang miskin justru ditunjang.
- Bukan yang miskin malah ditindas. Jadi
- zakat hanya diwajibkan untuk mereka yang
- mampu yang berkelebihan baik zakat mal
- maupun shodqatul fitri.
- Baik, Ustaz. Mengenai zakat ini ada dua
- pertanyaan dari pertama dari Pak Rahmat
- di Jakarta Timur. Ustaz, apakah
- mengeluarkan ee apakah boleh
- mengeluarkan zakat fitrah kepada saudara
- yang kurang mampu yang tinggalnya di
- luar kota dengan ijab kabulnya melalui
- video call katanya, Ustaz? He.
- Kemudian ee dari Pak Suhar di Ciputat,
- Ustaz. Ee
- sebentar mohon penjelasannya ee dan
- nasehatnya zakat, infak, sodqah saat
- sekarang ini sebaiknya kita salurkan ke
- mana? Kami kadang ragu terhadap lembaga
- zakat katanya, Ustaz. Itu dua pertanyaan
- terkait tadi, Ustaz ijab kabul melalui
- melalui video call. Sekarang juga kan
- banyak zakat via ee rekening keris gitu
- kan. Tidak ada ijab kabul jabat
- tangannya itu seperti apa, Ustaz? Mohon
- penjelasannya.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Zakat pada masa atau sedekah pada masa
- Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam diambil dari orang-orang yang
- kaya. Dikembalikan kepada orang-orang
- miskin setempat.
- Lingkungan mereka tinggal ya, kota
- mereka tinggal.
- Jadi dieventarisir orang-orang yang
- berkewajiban, mereka juga inventarisir
- orang yang berhak menerima zakat.
- Dan zakat tidak akan dipindahkan ke kota
- yang lain sebelum mencukupi
- tempat di mana muzaki mengeluarkan
- zakatnya.
- Oleh karena itu, Rasul kalau mengirim
- utusan untuk mengumpulkan zakat, ya
- mereka bukan mengumpulkan dari Yaman
- dibawa ke Madinah,
- tapi datang ke Yaman mengutus menghitung
- orang-orang yang wajib untuk berzakat
- dan harta mereka. Setelah itu menghitung
- jumlah orang-orang yang mustahik
- diberikan kepada mereka. Nah, satu hari
- sahabat yang diutus Rasulullah datang ke
- hadapan Rasul membawa kelebihan.
- dari zakat di Yaman. Rasulullah
- mengatakan, "Kami mengutus kalian bukan
- sebagai pemungut pajak, tapi zakat
- diambil dari orang-orang yang kaya
- diberikan kepada orang-orang fakir dari
- mereka."
- Mereka mengatakan, "Ya Rasulullah, kami
- sudah bagi, sudah mencukupi. Ini
- kelebihannya."
- Pada zaman Rasul, zakat itu yang
- dikumpulkan bisa mencukupi delapan
- golongan.
- Hm.
- fuqar masakin amilina alaiha wal
- muallafatiubuhum waq waliminaillahi
- wabil
- delapan golongan tercukupi
- orang-orang fakirnya miskinnya kemudian
- orang-orang juga yang berhutang kemudian
- untuk pembebasan budak juga untuk apa
- untuk para mualaf yang didekatkan
- hatinya ya dengan bantuan yang diberikan
- kepada mereka begitu juga fisabilillah
- untuk perjuangan di jalan Allah.
- Mendukung para ulama untuk berdakwah di
- jalan Allah agar mereka tidak apa? Tidak
- terhina. Agar mereka betul-betul
- berdakwah dengan tenang. Kebutuhan
- keluarga mereka tercukupi.
- Jadi Kang Rizal kalau kita lihat dulu ya
- pada saat sebetulnya ekonomi masih
- sederhana kok bisa mencukupi delapan
- golongan.
- Iya. Sekarang untuk fakir miskin saja
- enggak cukup karena kita terpaku pada
- 2,5%
- yang berhubungan dengan emas perak yang
- kita simpan yang tidak kita olah. Adapun
- untuk usaha pertanian 10%. Masa orang
- yang gajinya R25 juta mengeluarkan 2,5%
- itu pun setelah dipotong kebutuhan dia.
- Aneh enggak? Iya.
- Islam ini bukan agama feodal. Islam
- agama keadilan yang penuh dengan rahmat.
- Dan orang yang beriman ditempah hatinya
- untuk peduli terhadap saudaranya
- sebagaimana dia peduli terhadap dirinya
- dan keluarganya. La yukminu ahadukum
- hatta yuhibba liakhi ma yuhibbu linafsi.
- Dan saya bicara seperti ini bukan
- berarti apa? Saya mengajak orang lain,
- saya enggak melakukan. Saya setiap dapat
- sesuatu saya keluarkan bukan hanya 20%
- saya keluarkan bisa sampai 50 bahkan
- sampai 80%.
- Tapi Allah gantikan dengan yang lebih
- baik.
- Jadi apa yang saya dapat untuk keluarga
- setelah itu saya sebar keluar dan
- alhamdulillah enggak berpikir mau beli
- ini, mau beli itu, dan lain sebagainya.
- Kita merasa malu dengan Rasul,
- sahabatnya, keluarganya yang hidup
- sederhana dan kita merasa malu terhadap
- saudara kita di Gaza. Kang Rizal.
- Iya.
- Bayangkan mereka tinggal di rumah-rumah
- rumah yang hancur,
- kemudian kemah-kemah yang bolong,
- anak-anak mereka yang terlantar, yang
- kehilangan orang tua, kehilangan istri,
- kehilangan anak.
- Mereka hidup dalam penjara massal
- dipenjara oleh saudara mereka sesama
- kaum muslimin dan tidak dipedulikan
- seperti Saudi Arabia, Yordan, Suriah,
- Libanon ya. Kemudian
- Mesir tega sekali hati mereka.
- Lalu mereka dari belakang memberikan
- dukungan kepada Zionis. Tahu-tahu kita
- dengarkan di Indonesia juga banyak juru
- bicara. Apa juru bicara?
- Juru bicara zionis, berpakaian ulama,
- berpakaian ustaz. Ya, tahu-tahu mereka
- bukan memberikan dukungan bagi
- orang-orang yang membantu saudara
- mereka, bahkan menikam dari belakang,
- menyebarkan isu yang bermacam-macam.
- Seolah-olah Zionis merupakan ahlusunah.
- Jadi, kecintaan terhadap sesama kaum
- muslimin hampir dikatakan tidak ada di
- hati mereka. Kecuali orang-orang yang
- mendapatkan rahmat dari Allah yang tidak
- sama sekali beragama secara sektarian
- tapi untuk Allah, Rasulnya dan
- orang-orang yang beriman.
- Mereka betul-betul berjuang semata-mata
- untuk Allah. Oleh karena itu, tidak
- dipengaruhi oleh fanatisme terhadap
- kelompok, terhadap golongan ya. Tapi
- mereka betul-betul berjuang untuk Allah.
- Tapi kecintaan pada dunia membutakan,
- menulikan. Mudah-mudahan jangan sampai
- kita masuk dalam golongan orang-orang
- seperti mereka. Jadi kita kalau
- seandainya hidup hedonis,
- berlebih-lebihan, bermewah-mewahan,
- hanya memperhatikan apa? Memperhatikan
- gaya hidup yang tidak cocok dengan apa?
- Dengan ee keadaan yang dicontohkan oleh
- Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam, berarti kita akan melangkah
- semakin jauh
- dari Rasul, kan? Semakin jauh dari
- rasul. Nah, sebagai gambaran
- ketika Zionis bahkan orang-orang yang
- menjadi antik Zionis dari orang Islam
- menyebarkan bahwasanya ee mujtaba khamna
- ini terlibat dalam korupsi.
- Akhirnya dibuka. Sampai sekarang ini
- Mujtabah Khna tidak punya rumah tapi
- kontrak.
- Pakaian yang dipakai juga jarang
- berganti-ganti. Bahkan sendalnya pun
- sendal yang rusak.
- bagaimana dia hidup berjuang untuk
- bangsanya, agamanya ya dan berjuang juga
- untuk saudara-saudaranya yang berbeda
- mazhab. Dan subhanallah ini pun ya masih
- apa tidak diterima padahal tidak
- mengambil uang mereka, tidak juga
- memerangi mazhab mereka ya selalu
- menyerukan suara persaudaraan. Nah,
- seharusnya kita merasa malu. Oleh karena
- itu, banyak ulama di Mesir, di Libanon,
- di Suriah, ulama-ulama dari kalangan
- ahlusunah menyadari hal ini. Mereka
- mengatakan, "Alhamdulillah, Iran telah
- mewakili kami dalam membela saudara kami
- ketika kami meninggalkan mereka."
- Jadi, mari kita bangun kecintaan di
- jalan Allah Subhanahu wa taala.
- Kita memberikan dukungan segala
- kebaikan. Mengingkari yang mungkar.
- Naam.
- Dari siapapun juga, bukannya dari Syiah,
- dari ahlusunah juga. Kalau ada yang
- mungkar, ingkari dengan cara yang baik.
- Bil hikmah wal mauidatil hasanah. Jangan
- karena kemungkaran kita langsung
- kafirkan. Ajak mereka kembali pada Allah
- sebagaimana yang dilakukan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam.
- Baik, Ustaz. Mengenai tadi Ustaz ijab
- kabul ee virtual Ustaz. Oh,
- bagaimana?
- Saya begini sekarang katakan kalau saya
- katakan mengeluarkan sodqatul fitri
- tanpa menyebutkan kepada yang
- bersangkutan sah gak? Saya niat
- mengeluarkan sodqatul fitri tanpa
- menyebutkan kepadanya yang saya
- keluarkan sodqatul fitri. Sah enggak?
- Sah. Ustaz ya
- kan tergantung niat yang berinfak kan.
- Iya.
- Betul gak?
- Kita serahkan kepada mereka katakan 1
- hari sebelum lebaran atau 2 hari sebelum
- lebaran agar mereka bisa masak, bisa
- berbelanja. Betul gak?
- Kan? Indah sekali kan?
- Iya. Begitu juga zakat mal saya berikan
- kepada orang-orang yang membutuhkan di
- sekitar saya. Saya enggak serahkan ke
- Basnas. Kecuali kalau Basnas mau turun
- tangan.
- He
- menginventarisir orang-orang yang wajib
- berzakat, para muzaki dan orang-orang
- yang mustahik. Lalu diatur oleh mereka.
- Mereka turun mengatur.
- Kalau ada kelebihan diangkut keluar. Itu
- hak mereka. Tapi kalau sekarang yang
- terjadi,
- para muzaki tidak mengeluarkan zakat
- mereka kepada orang-orang dalam
- lingkungan mereka.
- Lalu dibawa ke tempat yang kita tidak
- tahu ke mana itu yang pergi.
- Hm.
- 107 miliar untuk amilin,
- sedangkan 63 miliar untuk fuqara wal
- masakin.
- Berdasarkan laporan yang 300 miliar
- katanya fisabilillah. Enggak jelas ke
- mananya
- kok. Kenapa amirin bisa lebih besar
- daripada fuqara wal masakin? Aneh
- enggak?
- Aneh.
- Nah, di sini berarti ada apa? Ada salah
- kaprah. Oleh karena itu, saya ingatkan
- kepada para muzakirin
- hendaknya mereka apa? Mengeluarkan zakat
- mereka kepada orang-orang dalam
- lingkungan mereka
- atau lingkungan usaha mereka. Katakan
- usaha tempat orang-orang fakir di
- sekitar mereka punya hak pada usaha
- mereka. Ini kan merupakan hak Allah.
- Betul gak?
- Iya.
- Atau lembaga zakatnya turun langsung
- untuk membagi-bagikan kepada mereka yang
- butuh. Oleh karena itu, kalau saya ada
- orang menitipkan zakat, saya bilang
- jangan untuk fuqara wal masakin.
- Bagikan untuk orang dalam lingkungan
- kalian. Pernah satu kali waktu dari
- wilayah Bekasi ada orang menitipkan
- zakat jamak kita. Saya bilang, "Untuk
- apa fuqhara masakin?" Saya bilang,
- "Bagikan untuk lingkungan masjid kamu."
- Coba kamu hitung. He.
- Tapi kalau kamu serahkan
- atau
- itu bisa digunakan untuk perjuangan.
- Jadi bagi mereka-mereka yang mau
- berinfak untuk mengeluarkan zakat ya
- bagi radio silaturahmi hendaknya ya
- mereka bisa sisihkan dari mualaf atau
- saham fisabilillah ya atau saham wafir
- liqab. Adapun fuqara wal masakin ya
- hendaknya dibagikan di tengah-tengah
- mereka. Begitu juga mungkin Ibnu Sabil
- mengenai sasarannya. Jadi kalau orang
- mengeluarkan zakat mal tanpa menyebutkan
- zakat mal yang penting niat dia h
- sah. Begitu juga orang mengeluarkan
- sodqatul fitri ya dari hatinya sebagai
- sodqatul fit tanpa menyebutkan sah.
- Kalau diatakan bahwa ini sodqatul fitri
- saya juga sah. Tidak disebutkan juga sah
- asal niat dan mengenai sasaran.
- Hm.
- Dan kita betul-betul ikhlas dalam
- mengeluarkan. Kalau dulu kita masih
- kecil, beras ya ditempatkan di tempat
- kemudian tangan kita dimasukkan ke dalam
- beras. Nawaitu shodqatul fitri ya. Ya
- lillahi taala satu persatu. Bagus ya.
- Artinya merupakan hal yang mencontohkan
- yang baik buat anak-anak tapi bukan
- berarti dengan cara ini sah yang tidak
- ya dengan yang lain tidak sah. Jadi
- enggak harus video call, enggak harus
- telepon buat saudara. Adapun buat
- saudara, saudara kita bukan merupakan
- orang yang wajib untuk kita berikan
- nafkah seperti ayah, anak, istri kita.
- Dia berhak untuk menerima zakat kita.
- Zakat mal atau apa? Atau sodqatul fitri.
- Bahkan istri boleh mengeluarkan untuk
- suami.
- Hm.
- Karena suami wajib memberikan nafkah
- buat istri. Tapi kalau istri tidak wajib
- memberikan nafkah buat suami. Jadi kalau
- diberikan untuk suaminya lalu suaminya
- gunakan untuk memberikan nafkah buat
- istrinya, sah.
- Jadi Islam itu betul-betul apa?
- Betul-betul dalam menetapkan kewajiban
- di samping disesuaikan dengan kemampuan
- juga memperhatikan kebutuhan setiap
- orang dengan cara yang penuh dengan
- rahmat. Wal mukminun wal mukminat
- ba'duhum auliya ba'din. Selanjutnya.
- Baik, Ustaz. Ee nampaknya cukup, Ustaz
- mungkin penutupnya. Silakan, Ustaz.
- Baik. Ee kesimpulannya di hari-hari
- terakhir ini ya kita jangan hanya fokus
- untuk bangun malam, jangan hanya fokus
- untuk iktikaf, tapi mari melakukan
- muhasabah. Muhasabah ya dan muraqabah.
- Kita awasi
- hati kita.
- Begitu juga ya niat kita dan berbagai
- macam rencana-rencana ya. yang merintas
- di hati kita. Hendaknya kita arahkan
- semuanya tertuju pada Allah. Kemudian
- kita juga mohon ampun atas dosa-dosa
- kesalahan yang kita lakukan.
- Kita juga memperbaiki hubungan
- silaturahmi kita. Kemudian berbagi
- dengan harta yang Allah Subhanahu wa
- taala berikan kepada kita. Ini merupakan
- saat-saat yang paling indah. Nah, pada
- saat kita salat bangun di waktu malam,
- jangan tinggalkan pada saat sujud kita
- berdoa pada Allah. Bukan hanya sujud
- terakhir, tapi setiap sujud kita bisa
- perpanjang rukuk kita. Memperpanjang
- rukuk kita ini akan meringankan pundak
- kita, beban kita. Memperpanjang sujud
- kita akan betul-betul apa? akan meraih
- kecintaan dan kemuliaan dari sisi Allah
- yang akan insyaallah menimbulkan
- refleksi yang amat indah dalam hidup
- kita. Tidak ada kesombongan, tidak ada
- keangkuhan. Nah, pada saat sujud setelah
- kita membaca subhana rabbiyal a'la
- wabihamdih
- sebelum kita doa boleh berselawat
- Allahumma sholli ala Muhammadin kemudian
- minta kalau mau mengungkapkan dalam
- bahasa Arab enggak mampu ungkapkan dalam
- bahasa Indonesia. Tapi ini pada saat
- salat-salat apa?
- salat-salat qiyamullail. Karena kalau
- salat wajib kan kita berjamaah.
- Jadi kita ungkapkan dalam bahasa kita
- karena doa itu permohonan. Kalau kita
- enggak mampu mengungkapkan dalam bahasa
- Arab, dalam bahasa kita atau bahasa Jawa
- bah silakan. Kemudian teteskan air mata
- kita dengan penuh kekhusyukan di jalan
- Allah Subhanahu wa taala. Mata-mata yang
- mencucurkan ee air mata berlinang-linang
- karena takut kepada Allah. Mata-mata
- yang akan diselamatkan dari api neraka.
- Insyaallah mudah-mudahan puasa kita
- tidak sia-sia. Allah juga berikan
- kesempatan kita untuk Ramadan yang akan
- datang. Sehatkan badan kita, ampuni dosa
- kita, sucikan hidup kita. Dan selesai
- Ramadan insyaallah akhlak kita akan
- lebih baik. Tutur kata kita, pendengaran
- kita, mata kita, dan tujuan hidup kita
- sepenuhnya teruntuk Allah Subhanahu wa
- taala. Amin ya rabbal alamin.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik walu minkum. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikianlah ikhwan akhwat
- yang dirahmati Allah renungan di bawah
- naungan Al-Qur'an untuk edisi jelang
- zuhur ini. Terima kasih Ustaz atas
- kehadiran juga jawaban-jawabannya dan
- juga penjelasannya ikhwan akhwat.
- Seperti yang ustaz sampaikan tadi,
- semoga di 10 hari terakhir ini kita
- dapat memaksimalkan ee waktu kita,
- ibadah kita yang semaksimal mungkin,
- ikhwan akhwat. Dan kami akhiri dengan
- doa majlis subhanak wabihamdika ashadu
- alla ilaha illa anta astagfiruka.
- Billahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.