Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [musik] 0:13 Brail TV 0:28 [musik] 0:36 [musik] 0:40 Allahu Akbar. 0:43 [musik] Allahu Akbar. 0:47 Lailahaillallah. 0:49 [musik] 0:55 [musik] 1:01 Bismillahirrahmanirrahim. 1:03 Asalamualaikum warahmatullahi 1:04 wabarakatuh. Allahumma sholli ala 1:06 sayyidina Muhammad waa ali sayyidina 1:08 Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa 1:10 lagi hari ini hari Jumat tanggal 15 1:12 Rajab 1442 Hijriah atau 26 Februari 1:17 2021. 1:19 Ya, kita baru saja mendapat kabar 1:21 innillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah 1:23 berpulang ke rahmatullah. guru kita 1:26 narasumber Rasil setiap hari 1:29 Senin 1:29 Senin pagi ya ee dalam acara sirah 1:32 sahabat itu Ustaz 1:35 Komaruddin Basuni 1:37 wafat tanggal 25 Februari kemarin malam 1:42 ya kita doakan mudah-mudahan Ustaz nanti 1:44 ketemu dengan para sahabat dengan 1:47 Rasulullah dengan para sahabat yang suka 1:49 diceritakannya di dalam acara sirah 1:51 sahabat ya 1:53 beliau orang baik insyaallah 1:55 Oh, jam . semalam ya. Masyaallah ya. 1:59 Kami keluarga besar Radio Silaturahim 2:01 menyatakan turut berdukacita yang 2:03 sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke 2:06 rahmatullah ustaz kita, guru kita, Ustaz 2:10 Qaruddin Basuni. Mudah-mudahan Allah 2:12 terima segalaam ibadahnya, Allah ampuni 2:15 segala kehilafannya dan kepada keluarga 2:18 yang ditinggalkan diberi kekuatan iman 2:20 dan juga kesabaran Allah. [mendengus] 2:23 Baik. 2:24 ee dimakamkan insyaallah hari ini ya 2:26 Andi ya mungkin di di Alfatan nih kami 2:29 juga belum sempat ke sana. 2:31 [terkesiap] 2:31 Oke. Baik. Kita jumpa lagi dalam acara 2:34 sirah sahabat seperti biasa hari Jumat 2:36 bersama Ustaz Salh. 2:38 Oh sir oh sir Nabaw 2:42 sirah Nabawi sahabat Ustaz Komarudin 2:46 Basuni ya S nabawi bersama Ustaz Salman 2:50 Alfarisi. Kali ini kita mengambil tema 2:53 akhlak tapi saya alhamdulillah tadi 2:55 dibuatkan kopi oleh Ustaz Salman. Enak 2:58 sekali. Cara masak kopi ada? 3:01 cara tersendiri harus masak sekali. 3:03 Salaman ke Salmanam warahmatullahi 3:05 wabarakatuh. 3:05 Terima kasih kopinya enak nih yang 3:07 Salman sendiri yang masak nih. Jadi 3:09 gimana caranya di 3:11 airnya dididihkan? 3:12 Didih 3:13 dibiarkan dulu minimal semenit mendidih. 3:15 Heeh. 3:16 Matikan apinya. Taruh kopinya. 3:18 Aduk ke kiri. 3:20 Oh ke kiri. Kayak orang tawaf gitu ya. 3:21 Iya. Aduk ke kiri ee sampai merata. 3:25 Kalau bisa ngaduknya ganjil sambil baca 3:27 bismillah dan selawat. [tertawa] 3:29 Iya kan? Pantes. 3:31 Kemudian sekali ini ya. Enak. 3:32 Nyalain lagi apinya tapi kecil sampai 3:35 dia mendidih lagi. 3:37 Waduh. 3:37 Diaduknya kalau bisa pakai sendok yang 3:39 dari kayu. Nah, tadi enggak ada. 3:41 Oh, gitu. Pakai 3:44 kalau ada ngaduknya pakai sinabon 3:46 [tertawa] 3:47 lebih mantap lagi. 3:48 Jadi kalau ada orang nyugen kopi kod 3:51 Salman tidak sesuai [mendengus] 3:53 seperti itu udah kerasa tuh. Ya 3:54 terasa 3:55 saya sudah terbiasa kopi yang matang. 3:57 [tertawa] 4:00 Oke. Baik. Hari ini ya ngasih khatib di 4:02 mana? 4:04 Enggak ngasih khatib di mana-mana. 4:06 Sekarang khotbah saya pensiun, ceramah 4:08 saya pensiun 4:08 lebih banyak. 4:10 Ada sekarang saya lebih cocok dipanggil 4:12 petani sebenarnya. 4:13 H peti. 4:14 Karena sekarang saya tani, saya ternah 4:16 hiruk piku ceramah ini memang 4:17 benar-benar ingin saya hindari. Sudah 4:20 [tertawa] 4:21 sekarang sedang menanam kedele kalau 4:23 salah ya. 4:23 Sekarang ada timun suri, kedele, jagung 4:25 yang sedang kita. 4:27 menyambut bulan Ramadan itu. 4:28 Betul, Pak Krna. 4:30 Masyaallah. Oke, kita dengarkan ee 4:32 tausiah dari Ustaz Salman dalam acara 4:36 Sirah Nabawi. 4:37 Iya. 4:38 Dengan tema akhlak. 4:40 Iyawah. Terima kasih, Pak Krisna. 4:43 Asalamualaikum warahmatullahi 4:45 wabarakatuh. Nahmaduka ya man ahtana 4:48 subal hidayah. Wasalatu wasalamu ala 4:51 sayyidina Muhammad ibn Abdillah waa 4:54 alihi wasahbihi wawalah. Bismillahi 4:56 awaluhu wa akhiruhu. 4:58 Bismillahirrahmanirrahim. 5:00 Amma ba'du. 5:02 Pendengar pemirsa yang saya muliakan, 5:04 semoga di mana pun berada selalu 5:06 diberkahi oleh Allah subhanahu wa taala. 5:09 Amin ya Allah. 5:10 Eh ee innal lillahi wa inna ilaihi 5:13 rojiun. Banyak yang meninggal kita 5:14 dengar ee orang tua Bang Acit ya. 5:17 Iya. Mamanya Mas Acit. 5:19 Mamanya Mas Acid. Kemudian tadi Ustaz 5:21 Komarud Masuni. Semoga semua dirahmati 5:23 oleh Allah Subhanahu wa taala. Ada 5:25 pendengar kita juga Mas Gatot hari ini 5:28 ya. Mas Gatot, 5:28 Mas Gatot ya. 5:30 Suami dari Ibu Rini, pendengar hasil 5:32 juga di Kalender rumahnya. 5:34 Oh, baik baik baik baik. Semoga yang 5:36 yang sudah mendahului kita di rahmati 5:40 oleh Allah Subhanahu wa taala, 5:41 dilapangkan oleh Allah subhanahu wa 5:42 taala. Semoga kita yang masih hidup 5:44 tetap beriman kepada Allah, tetap 5:46 istiqamah, tetap beribadah, tetap ee 5:48 mengabdi kepada Allah subhanahu wa 5:51 taala. 5:52 hadiahli niyatin shihah wa had nabi 5:55 mustofa sallallahu alaihi wasallam 5:57 alfatihah auzubillahim 6:00 minasyaitanirrajim 6:01 bismillahirrahmanirrahim 6:03 alhamdulillahi rabbil alamin 6:05 arahmanirrahimiki yaumiddin iyaka 6:07 na'budu [mendengus] wa iyaka nastain 6:09 ihdinasiratal mustaqimathalladzina 6:13 anamta alaihim ghairil magdubi alaihim 6:16 wabdin amin 6:18 pemirsa pendengar yang kami muliakan 6:24 Kita kembali cerita mengenai Nabi kita 6:28 Muhammad sallallahu alaihi wasallam. 6:31 Sejarah secara sejarah kita itu sudah 6:34 sampai di peperangan Uhud dan masuk ke 6:36 peperangan Khandak. Mudah-mudahan nanti 6:38 bisa saya disiplin mengatur sehingga 6:41 kita lanjutkan cerita sejarahnya. 6:44 Tapi hari ini kita ingin cerita mengenai 6:47 tema. Ada dua tema besar yang ee kita 6:51 ulang-ulang dirhasil ya mengenai sirah 6:53 nabawi ini. Entrepreneur dan akhlak ya. 6:57 Kadang-kadang kita bikin temanya 6:59 spesifik seperti sebelumnya bercap 7:01 ucapkan terima kasih. Kalau kali ini 7:04 universal kita bikin akhlak saja. 7:08 Tentu tidak tidaklah ini semacam 7:13 dibuat-buat ya. Karena saya alfakir 7:17 selalu melihat bahwa akhlak saya sendiri 7:21 pun jauh dari yang saya pelajari gitu 7:24 ya. Bahwa berkali-kali kita sampaikan 7:28 problem umat khususnya umat Islam adalah 7:32 karena akhlak hilang. Bukan karena kita 7:35 kekurangan kiai, kekurangan habib, 7:37 kekurangan ustaz, bukan. Tapi karena 7:39 akhlak hilang. Bukan karena kita 7:41 kekurangan generasi penghafal Quran, 7:43 bukan, tapi karena akhlak hilang. 7:45 Hilangnya ini bisa kita panggil lagi 7:47 gitu ya. 7:49 Sekarang akhlak justru ingin saya cerita 7:54 bahwa 7:56 alhamdulillah di tengah-tengah kita 7:59 bilang akhlak itu hilang muncul 8:01 manusia-manusia spesial. 8:04 ee yang menunjukkan akhlak yang terpuji. 8:06 Nah, gitu ya. Muncul manusia-manusia 8:09 spesial yang menunjukkan akhlak terpuji. 8:11 Hanya saja yang menjadi pertanyaan bagi 8:14 saya pribadi, kenapa belakangan ini 8:16 muncul akhlak itu justru dari 8:18 orang-orang yang tidak berpendidikan? 8:20 Nah, gitu ya. Quote and quote maksud 8:23 saya enggak S1, enggak S2 gitu ya. Ya, 8:26 enggak S1, enggak S2. Seperti pernah 8:28 saya ceritakan, kita punya orang yang ee 8:32 kerja di pesantren. 8:34 Kalau dia masuk pagi jam 12.00 hujan, 8:38 dia pulang. 8:39 H 8:39 nanti sore kan kita enggak tahu ya. Kita 8:42 kasih dia sebut saja gaji lah ya. Kita 8:45 kasih dia gaji sehari. Dia bilang apa? 8:48 Ustaz, saya tadi kerjanya enggak nyampai 8:50 sehari karena jam 12.00 hujan. Jadi gaji 8:54 yang harusnya antum kasih sehari kasih 8:57 saya setengah hari saja. 9:00 Nah, gitu. Dan ini orang enggak sekolah 9:02 gitu. Dan saya belum pernah nemukan 9:04 orang sekolah begitu ya. Belum pernah 9:07 menemukan orang yang sekolah begitu, 9:09 belum pernah menemukan ustaz yang begitu 9:11 juga belum pernah gitu ya. Artinya dia 9:15 punya akad kerja dengan seseorang. 9:18 kerjanya kerja di lapangan kerja keras 9:21 tapi saat menerima gaji dia terus terang 9:26 saya tadi kerjanya cuma setengah hari 9:28 masyaallah 9:29 jadi saya hanya berhak mengambil upah 9:31 setengah hari 9:33 nah makanya ini menjadi bahan renungan 9:36 bagi kita semua ya kenapa justru datang 9:39 dari orang yang tidak sekolah nah ini 9:43 entah pula kawan-kawan ada menemukan 9:45 orang yang sekolah begini atau habib 9:47 yang begini begini atau kiai yang begini 9:49 berarti alhamdulillah kita ucapkan bagus 9:51 kan. 9:53 Ah kemudian 9:55 saya juga cerita kemarin sama pemirsa 9:57 ini menjadi bahan renungan buat saya ke 10:00 seminggu eh sebulan yang lalu lebih lah 10:02 sudah ya kita bawa santri jalan-jalan ke 10:05 Anyer. 10:06 Hm. 10:07 Ya. Sampai di Anyer kita perlu MCK. 10:11 Hm. 10:11 Seluruh MCK meminta bayar dulu baru 10:15 masuk. 10:15 Hm. 10:17 Ada satu MCK enggak perlu bayar dulu. 10:20 Kita pakai gratis. Semua santri 10:22 kira-kira ada 100 orang ya. Sana santri 10:25 keluarga ikut, keluarga guru ikut. Pada 10:27 waktu itu apa yang terjadi? 10:33 Sewaktu kita mau pulang, kita pamit, 10:36 "Pak, kita kan anaknya sekian orang, 10:38 Pak. Kami enggak mampu kalau bayar 10:41 termasuk sekian. Kita hanya punya uang 10:43 sekian nih, Pak." 10:45 Masyaallah. CU Bapak ya. Dia bilang, 10:47 "Enggak apa-apa, Nak. Kalau memang ini 10:50 buat santri, ini juga saya kembalikan 10:52 sedekah buat santri." 10:54 Masyaallah. 10:55 Ah, itu itu sedekah buat santri. Dia 10:58 sebenarnya sangat membutuhkan karena 11:00 hasil mata pencaharian dia dari toilet 11:02 itu gitu kan. Tapi masyaallah dia mampu 11:05 memberikan tanpa tedeng aling-aling gitu 11:07 ya. Sementara orang yang sekolah kalau 11:10 mau sedekah, kalau mau wakaf banyak 11:12 sekali dikt 11:14 ya kan. Harus beginilah, harus 11:17 begitulah, harus begitu. Jadi 11:19 orang-orang sekolah ini saya lihat 11:21 justru lebih menuhankan otaknya 11:23 ketimbang Allah Subhanahu wa taala gitu 11:25 ya. Jadi otaknya itu dipakai betul, tapi 11:28 sayangnya dipakai untuk justru membuat 11:32 sepertinya dia kehilangan norma yang 11:36 seharusnya tidak perlu dia lakukan gitu 11:38 kan. Lihat tadi si Bapak yang saya 11:40 bilang di Any itu tadi, dia tidak pernah 11:43 tanya kita, dia tidak pernah apa namanya 11:46 ee ee ee ya ee enggak ada dia tulus 11:49 saja. 11:51 Udah enggak apa-apa, Nak. Dia enggak 11:52 manggil saya, Ustaz. Karena saya di sana 11:54 juga pakaiannya pakai kaos, pakai ini, 11:57 pakai apa namanya? Celana 11:59 se perapat. 12:00 Hal-hal seperti itu lahirnya dari mana 12:02 ya? 12:03 Nah, ini makanya sama-samalah kita ini 12:05 saya berang ngajak beberapa ustaz muda, 12:08 kita harus pikirkan ini. Kenapa sekolah 12:12 pesantren gak mampu mencetak ini? Justru 12:15 alam bebas ini kita temukan orang-orang 12:18 seperti itu. Mungkin saja saya belum 12:20 ketemu. Ada ada ternyata orang yang 12:22 berpendidikan yang seperti itu kan bisa 12:24 saja Pak Krishna. 12:25 Tetapi walaupun ada tetap saya ajak 12:28 orang memikirkan kenapa ini jadi gitu. H 12:32 gitu loh. Kenapa ini jadi? 12:34 Orang yang enggak bersekolah enggak 12:35 jujur enggak juga banyak. 12:37 Hanya saja 12:39 melihat ini menjadi tanda tanya besar di 12:42 kepala saya. Ini ini wajib kita 12:44 pelajari. 12:45 Hm. 12:46 Ini wajib kita pelajari apa yang dia 12:48 miliki. Apa yang membuat apa apa proses 12:52 yang membuat dia punya jiwa itu gitu 12:54 loh. Pak Krishna misalnya miliarder nih. 12:58 Pak Krishna punya uang 1000 triliun. 13:00 He. 13:02 Akhirnya Pak Krishna bantu Salman 13:04 membangun pesantren putri. Uangnya Bapak 13:06 kasih misalnya R miliar. Hm. 13:09 Kira-kira Bapak mampu enggak kayak Bapak 13:11 yang tukang toilet tadi ngasih ke saya 13:14 padahal saya tidak beratribut Ustaz. 13:17 Hmm. 13:18 Pasti Pak Krishna karena orang kaya, 13:20 orang hebat, cek dulu ini pesantren nih. 13:22 Betul enggak? [tertawa] Ini Ustaz Salman 13:24 nih siapa? Ini Syiah bukan? Ya. HTI 13:27 bukan, Wahabi bukan, NU bukan. Kan gitu 13:30 kan orang yang pintar gitu kan. 13:32 Iya. Iya. 13:33 Kenapa? Kalau Syiah nih, kalau Syiah nih 13:36 begini gitu kan. Kalau si B nanti begini 13:39 kan. [tertawa] 13:41 Ah, tapi si beliau ini tadi enggak 13:43 begitu. 13:45 Hebat kan ya? Berarti ada sesuatu yang 13:48 kudu kita pelajari 13:49 yang dihadap manusia atau gimana? 13:51 Manus ya itu yang saya itu ini yang saya 13:54 poin yang sayaat hebat yang saya 13:56 dapatkan dari cerita saya di Anyer tadi. 13:59 Berarti ini orang humanisnya 14:01 humanismenya 100%. 14:04 Sekarang enggak habib kiai, kalau dia 14:07 habib versi NU, Habib versi Wahabi dia 14:10 enggak udah enggak respectek. 14:11 Mustahil di kepala kita ada Habib versi 14:14 NU memberikan sumbangan ke Habib versi 14:16 Wahabi. 14:17 H 14:17 enggak usah Habib. Kita bilang dah Pak 14:19 Krishna ternyata miliarder atau 14:22 triliuner ini tadi Wahabi. 14:24 He. 14:25 Ternyata pesantren saya Syiah. Kira-kira 14:27 kebayang enggak Bapak mau bantu saya? 14:29 Enggak, 14:30 enggak mungkin mau. Atau sebaliknya, 14:32 miliardernya Syiah. 14:34 H 14:34 Bapak nih Syiah misalnya, Bapak tiroler, 14:37 saya Wahabi. He. 14:39 Kira-kira mau enggak? Enggak mungkin. 14:41 Nah, itu 14:42 artinya gini. 14:44 Pendidikan itu akhirnya mempersempit 14:46 kemanusiaan-manusia itu sendiri, gitu 14:48 kan. Harusnya enggak kan. He 14:51 harusnya pendidikan atau ilmu 14:53 pengetahuan 14:56 membuat seseorang semakin 14:58 manusia semakin besar ya. 15:00 Iya. Nah, ini ini kudu kita pelajari dan 15:03 ini akhlak Pak Krishna ya. 15:05 Loh, ini real ya. Jangankan sesama 15:08 Wahabi misalnya ini Wahabi mana nih? 15:11 H 15:11 ini pendengar RJ atau pendengar Fajri? 15:14 Beda udah. H 15:15 dan mustahil pendengar Fajri membantu 15:18 pendengar Raja itu mustahil. 15:20 Padahal dengerin Al-Qur'an, dengerin 15:23 ceramah sama 15:24 sama. 15:24 Kalau menurut kita dia sama-sama Wahabi. 15:26 Heeh. 15:27 Tapi enggak bisa. Ini di sini maksud 15:29 saya akhlak ini kan tapi saya berangkat 15:32 tadi tentang akhlak terpuji ya. Tentang 15:34 akhlak terpuji yang kita lihat tadi ada 15:37 orang enggak enggak pakai tedeng 15:39 aling-aling. Dan terus terang Pak Gris 15:41 saya selama di Anyeri itu tidak 15:43 berpenampilan selayaknya seorang ustaz. 15:45 Saya pakai celana 3/4 saya pakai kaos 15:48 oblong. He. 15:48 Saya berenang, saya ee santai berjemur, 15:52 saya ini ingat segitu aja. 15:55 Dan yang saya tugaskan ngasih amplopnya 15:58 ke si Bapak ini juga berpakaian preman. 16:01 Hm. 16:04 Tapi kemudian diketahui bahwa ini untuk 16:06 pesantren gitu ya. 16:07 Karena anak-anak ini kan karena ada kit 16:10 dia pakaiannya pakaian santri memang. 16:12 H. 16:13 Loh, kalau orang pintar, "Ah, 16:15 jangan-jangan pesantren Wahabi lagi nih 16:17 kan gitu, Pak. 16:19 Jangan-jangan pesantren Syiah lagi ini. 16:21 Jangan pesantren Ahmadiyah lagi ini. Itu 16:24 itu ini kan artinya kenapa ilmu 16:28 pengetahuan mempersempit kemanusiaan ya 16:30 gitu. Seharusnya ilmu pengetahuan 16:34 memperluas kemanusiaan itu sendiri. 16:36 H. 16:37 Nah, ini akhlak terpuji yang harus kita 16:39 pupuk di dalam jiwa. Saat bicara 16:42 membantu, saat bicara mengulurkan 16:44 tangan, tidak usah kita merasa ee bahwa 16:48 kita ini apa namanya ya? Berhak 16:51 memfilter. 16:53 Berhak ee ee ee ee ee 16:56 dan Islam tidak mengajarkan demikian ya. 16:58 Ya, tidaklah Pak Krishna. 17:00 Apalagi kita ke Nabi sallallahu alaihi 17:02 wasallam 17:03 hanya memberikan kepada yang satu 17:04 jurusan saja. Enggak ada. Enggak ada 17:05 itu. Kalau kita sekarang udah kalau kita 17:09 sekarang sudah betul-betul sempit dan 17:11 ini saya mengkhawatirkan ini inilah yang 17:14 memicu perang saudara itu nanti kan 17:15 karena mempersempit, mengekklusifkan 17:19 diri sehingga menganggap diri ini suci 17:21 gitu. Sebenarnya ini muncul karena 17:24 kesombongan yang jarang kita kikis. 17:27 Salman ini sombong karena apa? Karena 17:30 dia memahami sebuah wilayah kebenaran. 17:32 Dan kebenaran ini hanya dimonopoli oleh 17:35 dia. 17:36 Dia enggak mau mengakui 17:37 kebenaran-kebenaran di titik lain. 17:40 Dan itu salah. 17:42 Enggak boleh kita saya ini secara 17:45 kultural NU 17:47 gak pernah kita mencaci-caci misalnya ya 17:50 saya enggak sepaham sama Wahabi 17:52 enggaklah. Enggak sepaham tidak mencaci. 17:54 Saya bisa mencaci. Saya sering ditanya 17:56 orang kenapa maulid? Ya, enggak apa-apa 17:58 enggak perlu saya ajak debat saya secara 18:01 k anu tapi misalnya Syiah itu salah 18:04 menurut saya gak pernah saya caci. H 18:06 santai aja kita. Karena bukan berarti 18:08 kebenaran yang kita yakini dan kita 18:10 pelajari, kita monopoli dan kemudian 18:12 membuat kita antipati dengan 18:14 kebenaran-kebenaran yang lain. Saya 18:16 kembali lagi ke akhlak terpuji karena ee 18:19 akhlak terpuji yang ingin kita angkat 18:21 malam sore ini ya, siang ini. Jadi kita 18:24 lihat tadi ada orang ee di pesantren 18:29 kita sama sekali tidak berpendidikan, 18:32 kerja sama kita. 18:35 Biasanya dia gaji harian. Hari itu saya 18:38 sama sekali enggak ngol hujan siang itu 18:42 saya enggak di lokasi 18:44 sore seperti biasa dia datang ke rumah 18:47 dia akan ee ambil upah dia sehari 18:51 dan itu dia saya terkejut sekali ustaz 18:54 saya tadi cuma sampai 12 saya dikasih 18:58 untuk setengah hari saja ya Allah 18:59 lah ustaz memoni harapan dia 19:01 i 19:01 setengah 19:02 setengah gak saya suruh ambil aja kan 19:04 [tertawa] 19:04 udah ini 19:05 sama akhlaknya sama engak kuat 19:08 Nah, itu jadinya. [tertawa] 19:11 Jadi yang ingin saya sampaikan dari 19:13 situ. Pertama, tentukan pertanyaan 19:17 akhlak ini ternyata 19:21 membuat kita gini, oh enggak belajar loh 19:25 padahal Bapak ini. H 19:26 gitu kan. 19:27 Bapak ini enggak belajar. Jujurnya itu 19:30 insting apa-apa. Makanya tentu 19:32 orang-orang psikolog yang paham. Ini 19:33 orang psikolog, orang ahli pendidikan 19:36 pasti paham nanti ada ada pasti babnya. 19:39 Kalau saya berbicara mengenai seperti 19:41 itu, ada saja hal-hal yang fitrah 19:43 diberikan oleh Allah kepada kita kan. 19:45 Nah, dia itu memanfaatkan hal fitrahnya 19:49 dia. 19:51 Jujur 19:52 udah jarang orang sejujur itu. 19:54 Hm. 19:55 Jaranglah orang sejujur itu. Sengking 19:57 enggak jujurnya kita kan kita perlu 19:59 absen elektronik. Terima kasih [tertawa] 20:02 ya kan. Kenapa kalau enggak pakai itu 20:04 dia sembarangan datangin 20:07 ya pulangnya juga terima kasih gitu kan. 20:09 [tertawa] 20:11 Nah semua semua akhirnya karena 20:13 kejujuran hilang. Jadi jadi pertanyaan 20:16 besar di kepala kita pendidikan modern 20:19 ini justru membikin orang pintar 20:21 berbohong. 20:21 H 20:22 buktinya apa kita bilang? Buktinya ya 20:25 negara ini kan dikelola sama orang-orang 20:26 yang sekolah semua. 20:27 He betul. Apa boleh orang yang enggak 20:30 sekolah ngelola negara ini? Enggak boleh 20:32 kan, Pak? 20:32 Enggak boleh. 20:34 Tapi negara ini rusak oleh orang-orang 20:36 yang mengelola negara ini yang dia 20:38 sekolah. 20:38 H pintar-pintar, 20:40 pintar-pintar. Kita mundur 40 tahun yang 20:42 akan datang, Pak Dirman enggak sekolah, 20:45 tapi sebagai seorang jenderal 20:47 keren dia. 20:48 Hah? Mantap. Bermartabat. 20:52 Saya bilang Pak Harto dululah, Pak Harto 20:54 walaupun gimanapun akhirnya kita lihat 20:56 banyak baiknya kan gitu ya. Enggak 20:57 sekolah tinggi dia kan 21:00 kalau saya gak salah SMP dia sekolahnya 21:02 keren kesatria bagus menurut saya ya ada 21:05 ada buruknya kan pastilah kan itu itu 21:08 wajar maksud saya apalagi balik kita 21:10 jauh ke belakang ya memang orang-orang 21:13 enggak sekolah itu punya punya citra 21:16 gemilang kejujuran, keikhlasan, 21:18 kepedulian dahsyat luar biasa kearifan 21:22 lokal 21:24 saya saya mau mengaj Ajak siapapun. 21:28 Cobalah baca kearifan lokal Nusantara di 21:31 kampung mana pun kau berada. Kira-kira 21:33 100 tahun yang lalu. Apa yang terjadi di 21:35 di negara kita ini? 21:38 Luar biasa. Saya coba ya. Tanah Betawi 21:42 ini dulu emak-emak itu pergi ke ke 21:46 ketapian ke sungai itu hanya pakai BH 21:49 saja. 21:50 Kemben, BH, rok segini. H. 21:53 Itu kan seksi sebenarnya, Pak Krishna. H 21:55 dia pulang dari mandi menjunjung 21:57 pakaiannya tapi tidak terjadi 21:59 pemerkosaan dan lain sebagainya. Gak 22:01 terjadi. 22:02 H 22:02 ada tapi kecil sekali. 22:04 Hm. 22:07 Ada tapi kecil sekali. 22:10 Sekarang 22:12 semakin banyak orang yang berjilbab kita 22:14 lihat perzinahan di mana-mana dan lain 22:18 sebagainya. Kita menemukan 22:20 pelaku-pelakunya adalah orang-orang yang 22:21 berjilbab, orang-orang yang ee ber apa 22:24 namanya? ee perawakannya Islam gitu kan 22:27 atau sebaliknya gereja juga begitu kan 22:29 gitu ya bukan hanya Islam saja justru 22:31 saya ingin mengatakan manusia-manusia di 22:35 zaman kita ini berkedok agama mereka 22:39 mengambil hati orang lain tetapi 22:41 sesungguhnya dia lebih buruk daripada 22:43 orang-orang yang yang diambil hati sama 22:46 mereka itu. Dan ini bukan di Islam saja. 22:48 Ini bukan di Islam saja. Kita boleh 22:50 mempelajari di Kristen, di Katolik, di 22:53 Buddha. Baru-baru saja ada bihu dari 22:57 Thailand apa dari mana tertangkap karena 22:59 kekayaan bla bla bla bla bla bla. 23:02 Ee ee kita mempelajari coba aja baca 23:05 fenomena-fenomena manusia-manusia yang 23:07 bermental spiritual yang mampu 23:09 menginspirasi orang akhirnya ee ternyata 23:11 gitu kan ee melakukan hal-hal yang 23:14 memalukan menurut ajaran yang dianut 23:17 sendiri ataupun ajaran yang disampaikan 23:18 sendiri. Ah, di sini kita mempelajari 23:20 ternyata manusia ini semakin pintar. 23:24 Saya pengin 23:25 akhlak itu bergeser gitu dia. Akhlak itu 23:28 bergeser loh. Bukan berarti kita harus 23:30 bodoh. Bukan. Jangan begitu cara 23:32 berpikirnya. Kita berpikir bagaimana 23:35 sisi kemanusiaan fitri yang memang Allah 23:37 kasih ke kita ini justru membaik sesudah 23:41 kita belajar. 23:42 Ini yang harus kita pikirkan. 23:44 Iya. Karena ilmu dikasih oleh Allah 23:46 Subhanahu wa taala harusnya harusnya 23:50 membikin seseorang semakin punya akhlak. 23:52 Tetapi walaupun begitu, Pak Krishna, 23:55 Allah sudah wanti-wanti di surah 23:57 Albayyinah ya. Apa kata Allah di surah 23:59 Albayyinah? 24:01 Eh wtalafa eh 24:05 wtalafadina utul kitaba illa ba'di ma 24:08 jaahumul ilm. Itu bukan di surah 24:10 Albayin. Lupa saya suruh apa itu ya. 24:12 Kalau ada pemirsa pendengar yang 24:14 mendengarkan kita di sini eh tolong di 24:17 di dicari dulu ya. Wtalafina utul illa 24:22 ba utul kitaba illa ba'di maahumul ilm. 24:25 Eh di sini kalau di surah Albayyinah 24:28 w tafarraqalladzina 24:31 utul kitaba illa mim ba'di ma jaathumul 24:38 bayyinah. 24:40 Tidaklah berpecah belah. 24:42 Mereka-mereka yang diberikan oleh Allah 24:44 kitab ilmu pengetahuan 24:47 jaah kecubyinah kecuali sesudah ee 24:51 justru sesudah 24:54 didatangkan oleh Allah kepada mereka 24:56 bayinah bukti ilmu pengetahuan di ayat 25:00 lain di disebut oleh Allah Subhanahu wa 25:02 taala. Jadi ada wanti-wanti dari Allah 25:05 Subhanahu wa taala bahwa ilmu 25:07 pengetahuan pembuktian terhadap 25:09 kebenaran sesuatu kadang-kadang justru 25:11 membuat akhlak kita itu hilang. Tapi 25:14 Allah menceritakannya dengan istilah 25:16 tafarraqo. Tafarraqo itu bercerai-berai. 25:19 Ya, itu tadi Pak Krishna karena Syiah 25:23 walaupun banyak duit dan pemurah karena 25:26 punya bayinah, karena punya ilmu 25:28 pengetahuan, akhirnya enggak mau bantu 25:30 orang kecuali orang Syiah. 25:32 Karena Bapak Yahudi, Bapak juga tidak 25:35 mau membantu kecuali orang Yahudi. 25:38 Karena Bapak NU, Bapak tidak mau 25:39 membantu kecuali NU. Nah, ini yang 25:41 membuat saya bertanya-tahlut 25:44 saya. H 25:46 akhlak yang baik itu saat membantu. 25:48 Jangan tanya dia siapa lah. H 25:51 enggak usah curiga. Kalau curiga enggak 25:53 usah bantu. 25:54 Hm. 25:56 Gitu loh. 25:59 Nah, ini ee hal yang harus dipelajari 26:02 oleh kita sehingga apa? Generasi kita 26:04 berikutnya lebih bagus. Generasi kita 26:06 berikutnya ilmu pengetahuannya bagus, 26:10 tapi akhlaknya juga bagus. Itu yang 26:12 dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad. 26:15 sallallahu alaihi wasallam. Kembali lagi 26:17 nanti saya bilang apa? Sistem pendidikan 26:19 kita ini harus kita bangun yang berbeda. 26:23 Tapi belum ada yang berani. 26:26 Kita sendiri pun di Ruhama Alfajar masih 26:29 melibatkan kognitif kognitif ya 26:31 pengetahuan. Belum dengan jantan berani 26:34 ini pesantren hanya mengkadar akhlak. 26:38 berani kita 26:40 walaupun kita coba pelan-pelan akhlak 26:43 itu lebih kepada bilhal. Bilhal ini 26:45 maksudnya ya kita langsung kita jadikan 26:48 dia sebuah tradisi ya bahwa kita mencoba 26:51 ee akhlak ini kita pelajari 26:53 sebaik-baiknya gitu kan. 26:54 Itu bisa dibentuk enggak ya orang-orang 26:56 seperti itu? 26:56 Harusnya bisa. 26:59 Harusnya bisa, Pak Krishna. Jangan 27:00 jangan kita bilang enggak bisa. Buktinya 27:02 ee Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 27:03 berhasil. Walaupun sebenarnya Rasulullah 27:05 sallallahu alaihi wasallam pun ee ee 27:07 menghadapi ee hal yang membuat dia 27:10 sangat tertantang ketika menemukan 27:12 sahabat-sahabatnya sendiri yang masih 27:14 suka ee ee berbohong, yang masih suka ee 27:17 ee ee di di depan beda, di belakang 27:20 beda. Akhirnya mereka disebut munafik ya 27:22 kan gitu ya. 27:24 Ini tantangan tentunya. Dan sekarang ini 27:29 saya heran sekarang ini ya kalau saya 27:31 ketemu orang tuh yang semangat agamanya 27:33 kuat tuh ya gampang sekali menyebutkan 27:36 orang lain munafik. 27:37 H 27:38 ini 27:38 berat itu ya. Berat ya. 27:39 Waduh itu bukan hal yang mudah Pak 27:41 konsekuensinya berat itu. 27:44 Bukan tugas kita melabel siapapun 27:47 munafik. 27:50 Bukan tugas kita. Itu tugasnya siapa? 27:53 Allah. 27:53 Allah. 27:54 Loh, kalaulah Nabi ajarkan kita melabel 27:57 orang lain munafik, maka tidak perlu ada 28:00 Huzaifah ibn Yaman yang menyimpan 28:02 rahasia sahabat-sahabat di sekitar Nabi 28:04 yang bermental munafik. Dan tidak 28:07 mungkin Nabi berpesan ke Hzaifah, jangan 28:09 kau sampaikan ini ke siapapun. 28:12 Umar bin Khattab radhiallahu anhu wardah 28:15 membujuk berkali-kali Hudzaifah agar 28:18 menyebut namanya. Nama siapa yang 28:20 disebutkan Nabi tidak pernah diucapkan 28:22 oleh Hudzaifah. Akhirnya karena Umar bin 28:24 Khattab frustasi bahwa Huzaifah memang 28:26 sirru Rasulullah sallallahu alaihi 28:28 wasallam, penyimpan rahasia Rasulullah 28:29 sallallahu alaihi wasallam. Makanya 28:30 Huzaifah eh Umar hanya bertanya, "Saya 28:33 termasuk tidak di dalam [tertawa] nama 28:34 itu." 28:35 Masyaallah. 28:37 Dan dan kita gak tahu sekarang alim 28:39 kita, kiai kita, habib kita dengan 28:41 gampang menuduh orang munafik 28:45 dan ini akhlak, Pak Krishna. 28:49 Akhlak itu akhlak. Tapi wallahualam ya. 28:51 Saya enggak enggak belum tentu saya 28:53 benar dalam analisa saya ini. Saya pasti 28:54 bisa salah dan kalau salah saya saya 28:57 salah ya berarti saya harus perbaiki 28:58 lagi. Tapi menurut saya bahwa akhlak 29:01 kita sebagai manusia yang belajar ilmu 29:03 agama apalagi bila benar panduan kita 29:07 adalah Nabi kita Muhammad sallallahu 29:09 alaihi wasallam. Keterpujian akhlak yang 29:11 kita punya ini harusnya dijaga 29:13 betul-betul dengan sebaik-baiknya. Nah, 29:16 itu ya. Tentu nanti ya kemarin kan sudah 29:18 pernah kita belajar tentang terima 29:20 kasih, tentang bersyukur, tentang sabar 29:22 lain sebagainya. Nanti kita kita bikin 29:24 lagi bahwa kita ingin betul spesifik. 29:27 Misalnya nanti kita coba husnuzzan. 29:29 Belum pernah kita mungkin bahas itu. 29:31 Bagaimana berbaik sangka, 29:34 tapi hari ini kita universal berbicara 29:37 mengenai akhlak. Karena PR terberat kita 29:39 hari ini akhlak. Tapi ini sangat ringan 29:42 kalau kita mau fokus. 29:44 Ini sangat ringan. Kenapa kita punya 6 29:47 juta sekian masjid, Pak? 29:50 Ayolah masjid-masjid kita kita ceramah 29:53 akhlak dulu 100% 5 tahun ini. Enggak 29:56 usah dulu ribut-ribut bicara politik 29:59 lagi, bicara politik lagi. Kayak enggak 30:01 ada permasalahan kecuali politik di 30:03 kehidupan ini. Masalah sampah 30:06 dibicarakan seolah-olah itu penting. 30:09 Enggak perlu itu. Yang perlu bagaimana 30:12 memperbaiki manusia ini. Kalau kita 30:14 berhasil memperbaiki manusia ini jadi 30:16 baik, mereka nanti 5 tahun akan datang 30:18 berpolitik. Selesai permasalahan kita 30:21 ini. Tapi kalau kita sekarang hanya 30:22 sekedar memaki, memereki, melebeli orang 30:25 dengan bermacam-macam label ya enggak 30:27 akan selesai masalah kita ini. Kita 30:30 cooling down sebentar. 30:33 Kita cooling down sambil mengeker. 30:35 Pernah lihat sniper enggak, Pak? Sniper 30:37 itu cooling down. Dia tenang dari ke 30:40 jarak ee 30:43 200 m 30:43 200 300 m dia keker dia ukur angin 30:46 kecepatannya berapa e dia ukur semuanya 30:49 dia dia dia hafal betul berat pelurunya 30:52 berapa, dia hafal betul tekanan kokang 30:55 senjatanya berapa, dia ukur dia bagi. 30:57 Kemudian dia 31:00 langsung mati. 31:05 Ketenangan yang perlu kita miliki. 31:07 Kenapa permasalahan kita jelas? Akhlak, 31:09 Pak. Mau di agama mana pun saat ini 31:12 sedang bobrok akhlak. Mau di negara mana 31:15 pun saat ini bobrok akhlak. Manusia 31:17 hanya memikirkan dirinya. Yang penting 31:19 dia makan, yang penting dia terkenal, 31:20 yang penting dia populer. Dia punya 31:22 mobil, dia punya rumah, dia punya masa, 31:25 dia punya ini yang sekarang 31:27 dipertontonkan kan. 31:30 dia harus terkenal, dia harus bla. Dia 31:32 harus, dia harus, dia harus, dia harus, 31:33 dia harus. Sementara alhamdulillah, Kak 31:36 saya bertemu W di hasil ee petualangan 31:42 saya setahun sudah saya benar-benar 31:44 ngendap di pesantren ini, saya 31:46 dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa 31:47 taala manusia-manusia yang punya 31:49 potensi, punya kebaikan, tak 31:52 berpendidikan, tak ada masalah. Ee 31:54 mereka tidak terkenal, justru tidak 31:56 pengin terkenal. Mereka tidak punya 31:58 cita-cita ingin memperbaiki Indonesia. 32:01 Saya memperbaiki rumah saya dan RT saya 32:04 aja. Kalaupun enggak bisa RT saya, 32:05 tetangga saya lima rumah saja. 32:07 H. 32:08 Dan saya lihat justru ini yang bagus 32:11 lebih ini. Kadang-kadang kita harus 32:14 reformasi Indonesia berakap bam eh 32:19 hepeng dua mangja lagi. Ho kayak gitu 32:22 kan. 32:23 Jadi, 32:25 ayo kita kembali memperbaiki akhlak kita 32:28 ini. Dan itu bisa gampang, gampang 32:30 sekali. Kelihatan sulit tapi gampang. 32:33 Gampang sih. Kenapa? Karena kita punya 32:35 kekuatan masjid. 32:37 Kalau agama lain mau diajak kerja sama, 32:39 ini gereja juga diajak begitu. 32:42 Jadi si Romo-Romo gereja ini saat 32:45 berceramah di depan ee apa jemaatnya 32:50 dia kembalikan lagi nilai-nilai akhlak 32:52 yang mereka anut selama ini. Bikhu pun 32:55 saat dibihara atau apa kalau Hindu apa 32:58 namanya? Saat mereka beribadah yang 33:00 dikembalikan adalah akhlak-akhlak 33:02 universe. Sehingga 33:05 bumi ini bisa lebih lama tinggal kita 33:07 nanti di sini. 33:10 Lihatlah ketika akhlak hilang, pengusaha 33:13 properti tidak berpikir apakah tanah 33:16 yang dia keruk, pohon yang dia tebang 33:19 akan mengakibatkan apa nanti. Yang 33:22 penting bagi dia tanahku ini jadi rata, 33:25 bisa ku bangun rumah di atasnya, bisa ku 33:28 jual mahal. Sudah itu aja. 33:31 Enggak ada yang mikir. Lihatlah 33:33 pengusaha-pengusaha internet, dia enggak 33:35 mikir bagaimana radiasinya, bagaimana. 33:38 Lihatlah semerautnya tiang telepon di 33:41 kampung-kampung kita. Itu sudah enggak 33:42 ada yang mikir itu, Pak. Pokoknya saya 33:44 apa untung 33:46 yang dipikir hanya untung. Untung untung 33:48 untung untung untung duit duit duit. Dan 33:53 ini luar biasa. Gak ada lagi yang mikir 33:56 pabrik tahu misalnya dia gak dia enggak 33:58 dipikirkan kalau saya buang ke sungai 34:00 ini airnya apa yang akan terjadi 34:03 dan dia akhirnya berangkat haji pakai 34:05 hasil pabrik tahu itu kan. Enggak ada 34:08 yang memikirkan itu sudah. Karena apa? 34:11 Itu tadi, Pak, akhlak itu hilang. 34:13 Padahal label label mereknya Islam pergi 34:17 haji sembahyang. Padahal ketika apa 34:20 ketika apa yang kenapa ini terjadi? 34:23 Tidak dikawinkan antara iman dan akhlak. 34:27 Ini bukan di agama kita saja, Pak 34:29 Krishna. Ini di agama lain juga terjadi. 34:31 Hanya saja karena saya Islam, saya 34:32 mengajak yang Islam yang berpikir gitu 34:34 ya. 34:36 kita yang Islam ini berpikir sehingga 34:37 apapun yang kita lakukan norma atau 34:40 akhlak ada di sana. Tentu jangan kalian 34:44 pikir aku sudah berakhlak, saya sangat 34:46 belum berakhlak. Ah, saya umumkan dulu 34:49 nanti. Dikira pula saya sudah berakhlak. 34:51 Ya enggaklah. Kalau kau aja aku marah, 34:53 lebih ngamuk aku daripada [tertawa] kau. 34:57 Jauh. Saya ini menceramahkan ini 34:59 sekaligus menceramahi siapa ya? Saya 35:01 sendiri. 35:02 Karena saya mengihat diri saya. Saya 35:04 sekolah di pesantren 7 tahun, pergi ke 35:07 Makkah 7 tahun, haji saya berkali-kali, 35:10 umrah saya berkali-kali, baca saya 35:12 Al-Qur'an, analisa Al-Qur'an sering saya 35:15 lakukan. Analisa hadis sering saya 35:17 lakukan. Sejarah Nabi sering saya baca, 35:19 namun tidak mencapai akhlak yang seperti 35:23 kita bicarakan hari ini. Ketika saya 35:25 ingin bantu, "Wah, ini Syiah ini, enggak 35:27 mau gua. [tertawa] Wah, ini Wahabi nih, 35:29 aku enggak mau." Ah, masih begitu. 35:32 Sementara saya seolah-olah ditempeleng 35:34 oleh Allah. Ini ada manusia Salman pakai 35:37 celana pendek lagi dia, Pak. [tertawa] 35:39 C keren kan? Itu kan pakai celana pendek 35:42 dia. Yang pakai ilmu saya dia berdosa 35:45 itu. [tertawa] 35:47 Tapi ketulusan yang sangat kalau 35:50 dihitung Pak Krisna 100 orang. 100 orang 35:53 minimal tiga kali mungkin dia kamar 35:55 mandi. 35:56 H 35:57 100 orang minimal satu orang tuh tiga 35:59 kali kamar. Karena saya sampai jam .00 36:00 Subuh baru pulang magrib. 36:02 He. 36:03 Kalau 5.000 sekali pakai berarti 36:05 Rp15.000 kan Pak Krisna? 36:07 15.000* 100 jadi berapa? 36:12 Jadi Rp15ut. 36:15 Kira-kira kau mampu enggak kasih orang 36:17 kayak R15UT, Pak Krishna enggak kau 36:19 kenal, enggak kau apa 36:22 dan saya berpakaian tidak seorang 36:25 pakaian seorang ustaz. 36:28 Dan itu bagi saya seperti saya 36:29 ditempeleng ditempeleng oleh Allah 36:32 dengan message seperti ini. Lu Salman ya 36:35 belum ada apa-apanya kau sekolah kau 36:38 jauh-jauh ke Makkah baru diprotes orang 36:40 dibilang kau Syiah sudah marah kau. Ya 36:43 saya kan masih begitu kan. Misalnya ada 36:45 yang bilang saya Syiah saya marah masih 36:48 pasti saya cecer dia kan gitu. [tertawa] 36:50 Kenapa? Karena akhlak saya belum seperti 36:53 yang saya ceritakan hari ini. Jauhlah. 36:56 Saya justru bertanya-tanya juga, "Ya 36:59 Allah, kenapa ya saya ini 37:02 akhirnya saya dikontrol oleh ilmu 37:03 pengetahuan yang sedikit yang saya 37:05 punya?" Ini harusnya rasa kemanusiaan 37:09 yang justru mengkontrol diri saya 37:11 gitu-gitu ya. Tapi tentunya sama-sama 37:15 kita berjuang, sama-sama kita pelajari 37:17 gitu ya. 37:19 Saya kasih contoh misalnya 37:23 setiap saya kemari Bang Samit yang bikin 37:24 kopi sama saya. Hm. 37:26 Betul. Enggak pernah enggak terpikir 37:28 saya datang kemari bikin kopi sama Bang 37:30 Samit? 37:30 H. 37:31 Enggak pernah. Kenapa? Loh, gua ustaz di 37:33 sini, [tertawa] 37:34 gua di mari narasumber. Lu kan memang 37:36 tugasnya, Bang Samit. Itu kan dalam hati 37:38 saya 37:39 sudah ngeblok itu. Ya 37:40 udah dong. Padahal bila berbicara akhlak 37:43 loh gak boleh kayak gitu. 37:45 Ente ini Salman sudah dilayani sesekali 37:47 bikin kopi kayak Bang Samit. Ya enggak 37:49 pernah saya lakukan. 37:50 H. 37:52 [tertawa] 37:52 Kenapa? Karena itu tadi ilmu pengetahuan 37:55 mengangkat strata sosial kita. Strata 37:58 sosial kita terangkat, kemanusiaan kita 38:00 pun sedikit-sedikit terkikis. Sehingga 38:03 muncul firauni 38:05 di dalam hati kita. 38:07 bukan nabawi. Harusnya dengan ilmu 38:10 pengetahuan, kajian demi kajian 38:12 Al-Qur'an ayat demi ayat yang kita 38:14 pelajari, hadis, sabda demi sabda yang 38:16 kita baca, sirah nabawi, 38:18 peristiwa-peristiwa yang kita analisa 38:21 harusnya mempertebal akhlak kemanusiaan 38:24 itu tadi. 38:28 Nah, tapi lagi-lagi saya juga belum 38:31 ketemu ada apa sebenarnya ini. Apa salah 38:34 ngaduk, apa salah racikan. 38:37 apa kita sama-sama kita lihat ee apa 38:40 yang harus kita lakukan. Tapi kalau saya 38:42 pribadi bisa kita coba kan karena atau 38:46 kita cari narasumber yang paham betul 38:48 mengenai ini tapi jangan di teori. Kalau 38:51 teorinya bisa gampang kan banyak 38:53 bukunya. 38:53 H 38:54 tapi sebuah peradaban yang sudah 38:56 tercipta gitu 38:59 yang kita melihat itu bukan karena teori 39:01 tapi karena sistem jujur peduli. Sampah 39:05 enggak lagi dibuang sembarangan. 39:06 pepohonan dibiarkan hidup dengan dengan 39:08 indah dan bagus, peternakan, pertanian, 39:11 ee ee manusia di sana saling membantu. 39:13 Itu itu perlu diwujudkan sehingga akhlak 39:17 ini tidak lagi 39:21 apa namanya diceramahkan, tapi 39:23 diejawantahkan. 39:25 dijawantahkan oleh seseorang yang 39:28 benar-benar memahami ee ee ee apa 39:30 namanya ee 39:33 akhlak Rasulullah 39:35 sallallahu alaihi wa wasallam. Nah, 39:38 pemirsa pendengar yang kami muliakan, 39:41 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 39:44 menegaskan 39:46 bahwa saya ini diutus ya untuk berbicara 39:49 akhlak ya. Nah, maka ee persentase 39:55 ajaran atau dakwah Nabi tentang akhlak 39:57 itu besar sekali ya. Besar sekali. Ee 40:01 sementara persentase wilayah-wilayah 40:04 yang lain tidaklah sebesar persentasenya 40:07 akhlak Nabi kita Muhammad sallallahu 40:09 alaihi wasallam. Saya kira sudah 40:11 beberapa kali kita coba mengambil contoh 40:14 dari Nabi kita Muhammad sallallahu 40:17 alaihi wasallam. Namun saya ingin 40:19 sampaikan akhlak yang luar biasa. 40:22 Kita nih Pak Krishna setiap malam 40:24 reboantren 40:26 ada kajian hadis tapi begadang menyalahi 40:29 sunah juga sebenarnya ini ya. [tertawa] 40:32 Karena ada sahabat-sahabat yang 40:35 penginnya ngaji malam. 40:36 Nah, itu ya. Jadi kita itu di pesantren 40:38 sekarang ada ngaji subuh hari Jumat tadi 40:40 pagi. Sahih Muslim juga tapi akhlak gitu 40:43 ya. Kemudian hari Ahad, subuh itu fikih 40:48 gitu ya. Kemudian hari Ahad habis Asar 40:51 aneka ragam ada fikih, ada eh ada 40:53 tafsir, ada hadis, ada akhlak, ada 40:55 tasawuf gitu ya. Habis asar, hari Ahad 40:58 itu umum siapa aja boleh datang. Pemirsa 41:00 pendengar rasil yang dekat ke pesantren 41:02 boleh hubungi saya nanti saya share 41:05 nomor penanggung jawab ee kajiannya. 41:07 Jumat pagi habis subuh ada kajian. Ee 41:10 Ahad pagi, habis subuh ada kajian. Ada 41:12 pendengar yang datang itu 41:13 ya. ee orang pertanian situ lupa saya 41:16 Pak Zainuddin kalau enggak salah 41:17 namanya. Kemudian ada habis asar hari 41:21 Ahad. Ahad pertama, Ahad ketiga, Ahad 41:24 kelima itu pengajian umum. Nah, malam 41:26 rebo setiap malam rebo tapi mulai jam 41:29 09. Bahkan kadang-kadang .30 baru 41:31 selesai jam 12. Kita ngaji hadis 41:33 entrepreneur. H. 41:34 Nah, kemarin hadisnya keren sekali ingin 41:36 saya share di sini dan itu. Tapi tema 41:38 yang ingin saya angkat akhlaknya bukan 41:40 entrepreneurnya. 41:42 Ada datang seorang hamba menemui Nabi 41:44 sallallahu alaihi wasallam. Ketemu Nabi 41:47 langsung berbaiah masuk Islam. 41:48 H. 41:49 Nah, 41:51 ini ini kita ambil sesudah dia masuk 41:54 Islam diterima oleh Nabi sallallahu 41:56 alaihi wasallam datang majikannya Pak 41:57 Krishna. 41:58 Hm. 41:58 Muhammad loh ente kenapa ambil hamba 42:01 aneh? 42:02 Hm. 42:03 Kira-kira kira-kira gitulah ya 42:04 dialognya. 42:07 Oh, dia sudah berbaiat kepada saya. Wah, 42:11 enggak boleh gitu. 42:12 H 42:13 kalau gak beli saya saya beli saja. 42:16 Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. 42:17 Akhirnya si majikan ini mengangkat 42:20 harganya tinggi sekali ya sampai dua 42:22 kali lipat malah ya. 42:23 Diangkat harganya sampai dua kali lipat. 42:26 Ee ee ee ya satu hamba dibayar dengan 42:28 dua hamba tapi diterima oleh Rasulullah 42:31 sallallahu alaihi wasallam. 42:32 Apa yang ingin saya sampaikan di sini? 42:34 Lihat. 42:35 Ada seorang hamba datang ke Nabi tanpa 42:39 banyak berpikir masuk Islam. 42:41 Iya. 42:42 Apa yang kita ambil situ, Pak? Kalau kau 42:44 ingin berjuang bersama Allah, jangan 42:46 pakai mikir. 42:47 Jangan pakai bukan mikir itu maksudnya 42:49 enggak berpikir ya. Ada orang kan mau 42:51 kembali ke jalan Allah, entar makan gua 42:53 gimana? 42:54 H 42:56 entar anak bini gua gimana? Entar anak 42:58 saya sekolahnya pakai apa? Kan ada yang 43:00 begitu kan? Itu maksud saya itu bukan 43:02 mikir sebenarnya. Jangan pakai alasan 43:04 yang aneh-aneh gitu ya. Si hamba ini 43:06 kalau dia pakai alasan yang aneh-aneh, 43:08 dia banyak kali mikirnya, "Pak, 43:10 entar gua ketahuan gimana?" 43:11 "Entar gua ketangkap gimana? Entar 43:13 begini gimana, Mas itu kan?" Tapi si 43:15 hamba ini makanya saya saya 43:19 ee unik betul ini hamba loh, Pak 43:21 Krishna. 43:23 Hamba yang kalau strata di zaman 43:26 sekarang ini dia di bawah pembantu 43:28 istilahnya itu. 43:30 Karena dia enggak merdeka ya. Enggak 43:32 merdeka. Berani datang ke rumah Nabi 43:34 mengucapkan dua kalimat syahadat 43:36 berbaiah kepada Rasulullah sallallahu 43:37 alaihi wasallam. Ini luar biasa. Yang 43:41 juga lebih luar biasa nabinya. 43:43 Hm. 43:44 Bersedia bayar dua kali lipat. 43:46 Wah itu dia. H 43:48 itu kalau kita pahami Pak Krisna gini 43:50 ya. Ada orang mau hijrah datang ke radio 43:53 Rasil. 43:56 Hm. Saya mau hijrah. Kalau kita saya aja 44:00 jangan rasil entar enggak [tertawa] enak 44:02 rahasilnya. Pesantren aja kita bilang. 44:04 Datang orang ke pesantren, saya mau 44:06 hijrah berubah. Saya boleh enggak 44:07 tinggal di sini? Kita banyak kali 44:08 syaratnya. Harus anak yatimlah, harus 44:11 dua lah, harus beginilah, harus begitu, 44:14 baru diterima. 44:17 Lihat nabi tadi kayak gitu enggak? 44:18 Ah, enggak. 44:19 Ah, itu dia kerannya nabi kita. Makanya 44:21 nabi kita ini super duper hebat ini nabi 44:24 kita ini. 44:25 Masyaallah. Jangan kita hilangkan 44:27 pelajaran-pelajaran seperti itu. Kita 44:30 enggak harus anak dua harus minim 15 44:34 tahun, maksimal sekian tahun. Orang mau 44:36 hijrah ini, orang mau ke jalan agama ini 44:40 gimana loh gitu. Dan itu hama belum bisa 44:42 Pak Krista bukan berarti kita bisa. 44:44 Makanya saya bilang tadi saya juga 44:45 enggak bisa. Cuman kan prototype dari 44:48 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 44:49 ini ya harus kita gambarkan bahwa kudu 44:52 sadar kita ya. Kalaupun buruk jangan 44:54 buruk-buruk amatlah. 44:56 [tertawa] 44:57 Kalau enggak bisa 100% ya minyal 30, 40 44:59 atau 60% atau berapa persen yang bisa 45:01 kita perjuangkan. Lihat tuh Nabi 45:03 sallallahu alaihi wasallam ketika tapi 45:05 hambanya juga keren nih Pak Krisna tidak 45:07 pakai mikir datang ke Nabi. Maksudnya 45:10 bukan tidak pakai mikir gak banyak 45:11 alasan. Saya mau beriman, saya mau 45:13 bertuhankan Allah, bernabikan Muhammad 45:16 sallallahu alaihi wasallam. Pergi dari 45:18 majikannya dengan segala resikonya 45:21 berbaiah ke Rasulullah sallallahu alaihi 45:22 wasallam. Dan Rasulullah sallallahu 45:23 alaihi wasallam ketika menerima dua 45:25 kalimat syahadatnya, datang majikannya, 45:27 "Lu jual berapa?" "Dua hamba gua bayar." 45:31 Enggak pakai pertanyaan. 45:33 Kira-kira ente nanya enggak, Pak Krna? 45:35 Kalau Presiden [tertawa] kira-kira 45:36 nabinya ente gitu loh. Ente masih pikir, 45:39 "Jangan-jangan nih hamba memang penipu 45:41 di sononya. 45:42 Jangan-jangan nih hamba, jangan-jangan 45:44 banyak kali ininya gitu." Kenapa? itu 45:47 tadi ketika akhlak tidak sempurna di 45:50 jiwa, di sanubari memang ini yang akan 45:54 terjadi. Tapi sekali lagi saya belum 45:57 bisa mengamalkan apa yang saya 45:59 ceramahkan ini. Saya hanya melihat 46:01 kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi 46:02 wasallam. Saya ceritakan supaya kita 46:05 jadikan apa? Semacam plaapon gitu loh, 46:07 Pak. semacam standarisasi supaya akhlak 46:10 kita semakin baik, semakin hebat, dan 46:13 sehingga masyarakat di Indonesia ini 46:16 juga semakin maju, semakin modern, 46:19 semakin ini k kayaknya masyarakat kita 46:21 semakin primitif. 46:23 Tapi banyak di kalangan bisnis yang ini 46:26 orang jujur gitu apa kelihatannya 46:28 kesannya baik. 46:29 Heeh. 46:29 Lalu dia percayakanlah modal apa tahunya 46:32 dia tipu gitu. Oh, itu banyak Pak 46:34 Krishna. 46:35 Kita mengalami itu. 46:39 Kita mengalami itu. 46:42 Nah, ini karena pertanyaan dialog kita 46:44 begini. Justru bukan hanya gitu. Jadi, 46:46 ada orang datang ke kita misalnya, waduh 46:49 ini berat nih. Tapi harus di-sharingkan 46:51 ya. 46:53 Ada orang minta bantuan ke kita bla bla 46:55 bla bla bla. Dan kebetulan pengetahuan 46:57 agamanya sangat sangat sangat sangat 46:59 sangat bagus. Hm. 47:00 Akhirnya meminjamlah istilah kita kan. 47:03 Kita kita bantulah sesudah enggak enggak 47:06 ini lagi dia enggak bersama apa namanya 47:09 dia pergi dia jelekin kita dan hutang 47:11 tidak dibayar [tertawa] 47:13 itu ada dan itu enggak berakhlak tapi 47:15 kita tidak boleh mencaci orangnya. Saya 47:17 enggak akan mencaci dia dan saya tidak 47:19 akan pernah dan saya tidak sebutkan 47:20 namanya kan. Apa yang menjadi PR kita 47:22 ini? Ini harus dicari solusinya apa ini. 47:25 Sehingga besok masyarakat kita 47:27 sepeninggal kita ini ada manusia minimal 47:30 setengah orang yang kita cetak tidak 47:31 begitu mentalnya. 47:33 Datang misalnya ke Pak Krishna enggak 47:35 punya modal dibantu modal wajahnya 47:38 awalnya jujurnya minta ampun bla bla 47:40 bla. Eh sesudah dikasih modal mah sama 47:43 aja lebih garong daripada garong yang 47:45 sebenarnya. 47:47 Loh, itu terjadi Pak Gris dan itu bukan 47:49 bukan dongeng. Nyata terjadi itu nyata 47:53 betul terjadi itu 47:55 itu spontan juga tapi enggak benar 47:57 spontannya. Iya. Atau benar gini juga 48:00 itu sebenarnya bukan spontan dia tuh 48:02 udah terudah 48:03 udah udah terencana itu. 48:06 Cuman dia bisa bikin mimik wajah spontan 48:09 itu aja mungkin lebih ahli komeng 48:12 spontannya kali Pak Krisna. 48:14 Atau sebaliknya Pak Krishna kita punya 48:17 tenaga Pak Krishna punya modal ya. 48:21 permasalahan kadang-kadang karena kita 48:25 ini justru lebih nyaman bekerja sama 48:28 modal dengan orang yang benar-benar 48:31 pengetahuan agamanya rendah sekali gitu 48:34 ya, pendidikannya rendah sekali 48:37 daripada yang pendidikannya benar gitu 48:38 loh. [tertawa] 48:40 Loh, ini fakta ini bukan bukan bukan ini 48:42 bukan bukan saya baca bukan ini di di 48:45 kenyataan gitu loh. 48:48 Di kenyataan. 48:51 Dan itu memang PR bagi kita apa yang 48:53 harus kita lakukan. Karena si orang 48:56 berpendidikan ini banyak sekali 48:57 filternya. Sementara orang yang enggak 49:00 yang enggak berpendidikan ini nothing to 49:02 lose. 49:04 Nothing to lose kan tidak ada rasa 49:06 apa-apa dia udah enggak ada yang harus 49:08 di enggak ada harus yang dirasa hilang 49:10 kan gitu. Santai aja dia ingin berbuat 49:12 baik aja. Sekali lagi ini bahan renungan 49:15 kita Pak Krishna pemirsa. Semoga di 49:17 masjid-masjid pemirsa, di musala-musala 49:19 pemirsa mulai ganti kurikulum 49:21 pengajiannya. Wah, apa? Total 100% 49:26 akhlak. Enggak usah kau takut. Kalau kau 49:29 berani, masuk surga kau nanti. 49:30 Insyaallah. 49:31 Wah, itu tuh. Iya, silakan, Pak Krisan. 49:34 Oke, silakan yang mau bertanya mau 49:35 sharing untuk WA di 0811999 49:42 720 atau telepon di 021845 49:46 1512. Kami tunggu 49:50 [musik] 50:03 berasil 50:11 [musik] 50:22 [musik] 50:29 Allahu Akbar 50:32 [musik] 50:32 Allahu Akbar 50:35 [bernyanyi] 50:36 Lailahaillallah. 50:49 [musik] 50:50 Radio Silaturahim yang dipancarkan dari 50:52 jalan Masjid Silaturahim 36 Kalimanggis 50:55 Cibur. Masih di acara sirah Nabawiyah 50:58 bersama Ustaz Salman Alfarisi dengan 51:00 tema akhlak. Saudara telepon atau dari 51:03 Nela ya? Ibu Nela di Batam. Dia senang 51:06 dengan ceramahnya Ustaz Salman dan dia 51:08 sekarang sudah membuat kolam [mendengus] 51:11 di WA 51:12 nilah. Oh, ada di WA ya? 51:13 Bukan di WA Rasil. 51:15 Di WAil. 51:17 Ee 51:19 mesti cari dulu dong nih 51:20 di atas. 51:23 Silakan yang mau kirim ya di 08111999 51:29 720. 51:31 Hm. Ini ya ee 51:36 ee Nelaxclusif 51:39 desain. 51:41 Ee saya Bu Weni di bawah kepada Bu Weni 51:44 namanya. 51:45 Oh perusahaannya Nela Max exclusive 51:48 design namanya Bu Weni di Batam. Jangan 51:51 berhenti berdakwah di Rasil Ustaz. 51:53 Banyak inspirasi dari ceramah Ustaz ini. 51:55 Insyaallah kami akan membuat kolam ikan 51:58 ee nila di salah satu pondok. 52:01 Masyaallah. 52:01 Pondok pesantren di Bintan. Mohon doanya 52:04 ya, Ustaz. Di sini juga banyak anak 52:05 yatim dan duafa. Semoga Allah mudahkan. 52:09 Masyaallah. Siapa tadi namanya? Bu Neli 52:12 ya? 52:13 Weni. Weni. 52:14 Weni. Bu Weni. Kita doakan semoga kolam 52:16 ikan nilanya berhasil ya. Halo. 52:19 Tadi tadi malam 52:23 ya ini lagi siaran ini Reni Jayusman. 52:26 Sekarang kita ee kemarin kita 52:29 alhamdulillah tadi malam bukan sekar 52:31 tadi malam kita 52:34 diskusi mengenai ternak nila bioplok. 52:37 Alhamdulillah lebih ee lebih ingin kita 52:40 matangkan lagi konsep-konsep 52:42 peternakannya sehingga hasil dari ternak 52:45 ikan ini lebih dirasakan oleh santri 52:47 gitu ya. Dan saya doakan semoga Bu Weni 52:50 berhasil. Tapi bila ada anak-anak yatim 52:53 Dua di Batam yang di sana misalnya 52:56 overload boleh dikirim ke saya Bu Weni 53:00 ya biar kita saling membantu Batam 53:03 antara Batam dan Jakarta kan gitu. 53:05 [tertawa] 53:07 Boleh Bu Eni. Nanti kan sudah punya 53:09 nomor handphone saya. Kalau enggak 53:10 ngubing Rasil nanti biar punya nomor 53:11 handphone saya. Ee ada anak yang lulus 53:14 SD laki-laki ya. Karena perempuan kita 53:16 belum bangun, sedang sedang berusaha 53:19 kita nih supaya lokasi pesantren 53:21 perempuan ee bisa kita adakan. Doakan Bu 53:25 Eeni ya. Tapi kalau yang laki-laki 53:26 boleh. Selamat SD ee laki-laki umur 12 53:30 atau 13 kita sangat sangat sangat senang 53:33 bila dikirim dari Batam. 2 3 5 orang 53:35 boleh Bu Uni. Terima kasih. 53:37 Oke. Baik. Selanjut Ibu Asraf. Asalam 53:39 Ustaz Salman. War. 53:41 Harusnya akhlak sudah harus dimulai dari 53:43 rumah. 53:44 Heeh. Ustaz, orang tua menjadi madrasah 53:47 saja. Madrasahnya baru lingk baru 53:50 lingkungan sekeliling. Bagaimana Ustaz? 53:53 Terima kasih. 53:53 Benar sekali Bu. Bu siapa? Bu Sarafah. 53:57 Bu Asrof. Asraf. 53:59 Asraf. Bu Asyraf 54:02 memang. Nah, inilah ya karena adanya 54:05 PAUD TK SD, SMP, SMA ini saya lihat 54:10 akhirnya rumah itu gersang ya. rumah itu 54:13 tidak terisi dengan konten pendidikan 54:16 dari ayah ataupun ibunya. Apalagi 54:19 sekarang sekolah memaksa anak juga 54:23 menjadikan rumahnya sekolah gitu kan. 54:26 Kenapa aku bilang gitu? Ada ada istilah 54:29 pekerjaan rumah kan kalau di sekolah itu 54:31 kan PR kan pekerjaan rumah. dikasih nama 54:35 pekerjaan rumah itu bukan pekerjaan 54:37 rumah PS harusnya pekerjaan sekolah 54:40 harusnya sekolah berani hanya 54:44 menggunakan waktu anak pagi sampai siang 54:47 biarkan di di rumah siang sampai ketemu 54:51 pagi lagi anak ini mendapatkan 54:54 pendidikan dari rumah tapi dengan 54:57 catatan orang tua harus mampu 54:59 mengkondisikan rumahnya jadi sarana dan 55:02 prasarana pendidik 55:04 lanjutan dari sekolah. Ini juga menjadi 55:08 PR lah bagi kita semua antara sekolah 55:11 dan rumah jarang yang sinkron ya. Jadi 55:15 sekolah ngapain, rumah ngapain gitu kan. 55:18 [mendengus] Itu enggak bukan jarang ya, 55:21 belum nemu kita yang sinkron 55:23 ya. Kita aja di Ruhama belum ke sinkron. 55:25 Makanya anak-anak kita akhirnya 55:26 diasramakan kan supaya full bersama 55:29 kita. Mainnya di kita, santainya di 55:31 kita, belajarnya juga di kita, gitu kan. 55:34 Namun begituun saat dia pulang ke rumah 55:37 karena di rumah tadi tidak sinkron 55:39 dengan apa yang kita program dengan 55:41 pesantren. Nanti setelah musim libur dia 55:44 datang lagi pesantren. Mulai lagi kita 55:46 ada lagi yang kita restorasi lagi supaya 55:49 senyawa lagi dengan pesantren. Nah, ini 55:52 ini juga Bu Asyraf ya. Kita enggak usah 55:55 berharap Indonesia berubah lah ya. kita 55:58 aja dulu kita berubah di rumah tetangga 56:00 kita atau anak kita atau sepupu kita dan 56:03 dekat-dekat kita aja. Dulu saya sekarang 56:05 nih dulu punya cita-cita ingin merubah 56:07 Indonesia jadi lebih baik. 56:08 Makanya saya ceramah ke mana-mana kan 56:10 sekarang sudah putus-putuskan. Saya 56:11 hanya ingin merubah RT saya aja sudah. 56:14 Iya. Ngapain? Enggak mungkin kita enggak 56:15 punya waktu kita, Pak ngerobah Indonesia 56:17 ini enggak punya waktu kita sombong kali 56:19 kita kan gitu ya. Emang siapa kita? 56:21 Enggaklah. Kita 20 orang, 30 orang kita 56:25 coba didik baik kita maintain 56:28 maintenance yang enggak yang enggak bisa 56:29 kita lakukan kan. Nah, itu kita coba 56:32 sehingga apa? Ee kalau semua orang 56:35 bermental seperti itu fokus terhadap 56:37 pendidikan-pendidikan di wilayahnya 56:39 masing-masing ini negara ini akan jadi 56:42 baik. Ini enggak. Banyak kita yang 56:44 mendidik secara universal. Tablig akbar 56:47 sifatnya yang sekali hadir 4 juta 56:49 manusia, sekali hadir 3.000 manusia. Itu 56:52 kalau dianalisa hasilnya dengan energi 56:55 yang kita buang 56:56 enggak seimbang. 56:56 Itu enggak seimbang. Kalau kita bisnis 56:59 ini HPP-nya 1.000 dijual cuma Rp100. 57:02 H. 57:03 Itu yang terjadi, Pak. Maka beda dengan 57:05 pendidikan-pendidikan yang kita lakukan 57:07 di TPA, TPA, di musala-musala oleh 57:09 seorang guru ngaji. Guru ngaji di 57:12 musala-musala TPA digaji kecil malah ya, 57:15 kecil [menangis] 57:17 sekali. 57:18 Tapi luar biasa dari berkah tangan 57:21 dingin mereka, anak-anak itu bisa baca 57:24 Quran. 57:25 Nah, ini justru yang harus kita 57:27 perbanyak. Bukan tablig akbar, tablig 57:29 akbar lagi, tablig akbar lagi, webinar, 57:31 webinar entah apa-apa. Tapi di akar 57:34 rumput kegiatan kita ini kosong 57:36 melompong. 57:38 Silakan cek kalau saya salah boleh kau 57:41 sentil 17 kali telingaku. 57:43 Hm. 57:43 Kita nih asyik seminar lagi, training 57:45 lagi, seminar lagi, training lagi. Dan 57:48 ujung-ujungnya seminar training ini I 57:50 happen lagi. 57:51 H 57:52 ikut seminarnya bayar ikut. Kau ini 57:55 dikasih Allah ilmu, masa sih harus 57:56 dibayar baru kau kasih. 57:58 Kadang-kadang mengatasnamakan agama, ya 58:01 kan? mengatasnamakan agama, ilmunya 58:03 harus dibayar baru dilaksanakan. Ya, ini 58:06 orang kayak gini kalau kalau nurutin 58:08 hawa nafsunya ditempeleng 17 kali. Tapi 58:11 enggak boleh gitu kan. Biar terasa juga 58:13 medannya ini kan gitu ya. Enggak boleh. 58:16 Jangan kayak gitu. Cuman kita ingatkan 58:17 masa sih ente ustaz bikin training hanya 58:21 training tentang motivasi orang harus 58:23 bayar dengar ente nyeloteh doang. H 58:26 iya kan? Nah, mending kita urus nih di 58:30 akar rumput ini loh. TPA TPA seluruh 58:33 Indonesia ini powernya besar tapi enggak 58:37 diurus. 58:39 Kalau aku presidennya ini yang kurus 58:41 pertama kali TPA. 58:42 H. 58:43 Ada orang yang WA aku kemarin, tapi aku 58:46 enggak begitu kenal nih karena ku cek 58:47 namanya hanya simbol gitu ya. Saya yakin 58:50 dia kenal saya. Dia dia SMS saya gini 58:53 WA. Ustaz Salmad, kalau Ustaz jadi 58:56 presiden Indonesia kira-kira apa yang 58:57 akan Ustaz lakukan? Pujuk Kondoneng 59:00 bilang saya jawab waalaikumsalam Pak. 59:02 Saya bilang memimpin diri kendiri aja 59:05 belum bisa. Bilang [tertawa] 59:07 gimana kita memimpin Indonesia? Aku 59:09 bilang ya kita belum belum belum belum 59:12 baik secara memimpin diri kita belum 59:14 baik ya kan. Ketawa kita kapan senyum 59:17 kita kapan kita belum bisa. [tertawa] 59:19 Gimana Indonesia? 59:22 Tapi kalau presidennya siapapun nih, 59:25 presidennya dia berani membenahi TPA ini 59:27 ya TPA atau SD lah. Di fokus dia 59:31 membenahi TPA sama SD. Mau orang bilang 59:33 dia apa, mau bilang apa, mau bilang apa. 59:36 Saya yakin Indonesia ini akan baik. 59:39 Akhlak ya. 59:40 Ya, akhlak. Karena percuma kita bangun 59:43 gedung tinggi, jalan layang apa macam 59:46 ini semua. Internet kita bagus, lapangan 59:48 terbang kita nanti akan terasa gersang 59:52 sang 59:54 ini semua kalau akhlaknya salah. Justru 59:57 revolusi akhlaknya ketinggalan malah 59:59 revolusi industrinya menang. 1:00:02 Harus revolusi industri ini akan 1:00:04 mempercepat kiamat. Yakin dan percayalah 1:00:08 revolusi industri ini akan sangat 1:00:10 mempercepat kiamat. Karena revolusi 1:00:12 industri pohon ditebang pohon yang 1:00:15 ditanyam hanya yang menghasilkan. Pohon 1:00:17 yang enggak menghasilkan ditebangi. 1:00:19 Sawit sekarang di mana-mana semua. 1:00:21 Kenapa make money? Nanti baru tahu kita 1:00:25 hasilnya apa yang terjadi unsur hara 1:00:27 tanah ketika si sawit sudah apa namanya 1:00:30 expire. Apa yang terjadi? pernah 1:00:32 dipelajari sama IPB ini juga enggak 1:00:34 mempelajari itu. Saudara revolusi 1:00:37 industri ini 4 4.0 5. Enggak usah 1:00:41 terlalu kau kagumi. Itu ecek-ecek itu 1:00:43 isu primitif harusnya di kepala kita 1:00:46 karena mempercepat kiamat itu 1:00:49 banyak yang kita korbankan hanya sekedar 1:00:51 untuk revolusi industri yang harus 1:00:53 dikembalikan agraria. 1:00:56 Pertanian, peternakan. Alam ini harus di 1:00:59 di disayang, disanjung kembali sebelum 1:01:02 dia ngamuk terus. 1:01:05 Ngamuk terus. Salah, Pak. Hujan tak 1:01:07 berhenti-berhenti. Tiba-tiba kita 1:01:09 salahkan hujan karena banjir. Ya kagak 1:01:11 ente salah. Rawanya ente uruk ya kan? 1:01:14 Rawanya ente uruk, ente bikin gedung, 1:01:18 ente bupatinya, ente walikotanya, ente 1:01:20 ente gubernurnya. 1:01:24 Enggak ada yang berani. Kenapa? Hepeng. 1:01:26 Hai hepeng. doangatur [berteriak] 1:01:30 negara 1:01:32 gitu kan kalau ada hepeng highlight kan 1:01:35 katanya. 1:01:36 Terima kasih [tertawa] Bu Asraf agak 1:01:39 melebar tadi jawabannya ya. Semoga kita 1:01:41 bisa mensinkronkan antara akhlak dan 1:01:45 pendidikan. Terima kasih. Terima kasih. 1:01:46 Mohon maaf kalau salah saya. 1:01:47 Terima kasih Bapak. Oh ada telepon. 1:01:49 Halo. Asalamualaikum. 1:01:50 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:52 wabarakatuh. 1:01:53 Halo. Halo. 1:01:54 Ya. Dengan siapa ini, Mas? 1:01:55 Asalamualaikum warahmatullahi 1:01:57 wabarakatuh. Ustaz Salman. 1:01:59 Ini ini dengan Ibu Sriam. 1:02:01 Ibu Sri, silakan Ibu Sri. Ini tentang 1:02:04 akhlak itu sebetulnya kalau menurut saya 1:02:07 ya, Ustaz Salman itu sentralnya paling 1:02:10 yang mendasar adalah di dalam Al-Qur'an 1:02:13 bahwa apabila orang itu apa lupa 1:02:18 berzikir kepada Allah. Heeh. itu di 1:02:20 surat berapa ayat berapa saya agak lupa 1:02:23 itu kalau sudah lupa berzikir kepada 1:02:26 Allah itu akan jadi pasukannya setan. 1:02:29 Jadi kalau sudah jadi p anu apa 1:02:32 pasukannya setan itu sudah disuruh apa 1:02:35 saja manusia itu akhlaknya pasti seperti 1:02:37 itu. 1:02:38 Itu sentral utamanya seperti menurut 1:02:40 saya di Al-Qur'an itu apa? orang yang 1:02:44 tidak pernah berzikir kepada Allah yang 1:02:47 zikirnya sedikit kalau enggak salah coba 1:02:50 diperjelas lagi. 1:02:51 Maaf [tertawa] Ustaz Salman di surat 1:02:54 berapa ayat berapa ituih? 1:02:56 Ya begitu ya Pak ee Ustaz Salman terima 1:02:59 kasih sami-sami 1:03:00 atas jawabannya 1:03:02 warahmatullahi wabarakatuh. 1:03:04 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:03:05 wabarakatualam warahmatullahi 1:03:06 wabarakatuh. Terima kasih Bu Sri, semoga 1:03:08 selalu sehat, semoga diberikan oleh 1:03:12 Allah subhanahu wa taala selalu 1:03:14 pertolongan baik di rumah di mana pun 1:03:18 berada ya memang ya ee nanti 1:03:23 ee ini tentang zikir ya. Zikir itu kalau 1:03:27 boleh saya simpulkan gitu ya, akhlak itu 1:03:30 bisa dipantik melalui zikir. Kalau 1:03:33 pertanyaannya ya bisa. Kenapa? Karena 1:03:36 Allah bilang, "Ala bizikrillahi 1:03:39 tatmainnul qulub." 1:03:42 Dengan zikir kepada Allah, hati akan 1:03:45 tentram, hati akan tenang. Ee e di dalam 1:03:50 Al-Qur'an wazkur rabbaka idza nasita ya 1:03:54 gitu ya. Ee ingatlah Allah bila kau 1:03:57 lupa, gitu ya. di beberapa ayat 1:03:59 Al-Qur'an lain tentang eh fazkuruni 1:04:03 azkurukum gitu ya, tentang zikir. Apakah 1:04:07 zikir mampu memperbaiki akhlak? Saya 1:04:10 jawabnya bisa. Makanya ee di dalam di 1:04:15 pesantren kita selain mereka diajarkan 1:04:18 akhlak, mereka bukan diajarkan zikir, 1:04:21 diwajibkan berzikir gitu ya. Maka setiap 1:04:24 selesai salat kita harus zikir. Setiap 1:04:28 salat itu kita harus baca Quran, kita 1:04:30 harus zikir, kita harus doa bersama. 1:04:33 Setengah jam minimal itu mereka zikir, 1:04:35 baca Al-Qur'an bersama sesudah salat. 1:04:38 Awal-awalnya saya pernah ditanya, 1:04:40 "Kenapa banyak kali zikirnya?" Aku 1:04:42 bilang, "Kurang ini malah." Maka setiap 1:04:44 Jumat kita adakan khatam Al-Qur'an. 1:04:48 Setiap malam Jumat kita ada adakan lagi 1:04:51 zikir spesial Naqsyah Bandi. Setiap 1:04:53 malam Jumat kita adakan lagi Maulid 1:04:55 Nabi. Nah, gitu ya. Jadi ada Maulid 1:04:58 Nabi, ada zikir, ada Al-Qur'an, ada 1:05:01 khatam Al-Qur'an. Semuanya ini kenapa 1:05:03 kita lakukan? Karena nilai-nilai akhlak 1:05:07 bila hatinya berontak, sulit masuk. 1:05:11 Nilai-nilai akhlak kalau hatinya tentram 1:05:13 dengan zikir itu ibarat ibarat nanam 1:05:17 pohon. 1:05:18 Ibarat rempohon si tanahnya udah kita 1:05:21 paculin dulu, udah kita campur sekam teh 1:05:25 ayam, sekam ee sekam kosong, tek 1:05:27 kambing, bakaran. Kalau perlu kita bikin 1:05:31 daun bambu yang dibakar, ya kan? Ee kita 1:05:34 busukkan dulu di situ. Ee kulit-kulit 1:05:37 buah, pisang, gedebong pisang kita 1:05:40 hancurin, kita fermentasi 3 minggu kita 1:05:43 lihat e kepanasannya udah mulai dingin, 1:05:46 kita taruh di tanah. kita kita kita aduk 1:05:50 itu namanya hati yang berzikir. H 1:05:54 sehingga bibit ini ketika ditaruh 1:05:58 memua apa namanya ihtazat warabatnya itu 1:06:01 ee keluar itu bagus sempurna. Tapi bila 1:06:04 akhlak diajarkan kepada orang yang 1:06:07 kosong dari zikir biasanya berontak tapi 1:06:11 tidak juga selalu begitu. Makanya tadi 1:06:13 saya bilang kan ya, bahwa tidak melulu 1:06:17 orang yang berzikir, orang yang berilmu 1:06:19 banyak akhlaknya. Mohon maaf loh kita 1:06:22 sudah mendengarkan jemaah-jamaah zikir 1:06:24 pun baik di Indonesia atau di dunia 1:06:28 pimpinan zikirnya meninggal loh. 1:06:30 Masyarakatnya berpecah belah rebutan 1:06:33 siapa yang jadi pemimpin sesudah sudah 1:06:35 pimpinan zikir ini meninggal. Nah, kan 1:06:37 gitu kan. Padahal dia sudah berzikir. 1:06:40 Padahal kaidahnya tadi kalau sudah 1:06:43 berzikir harusnya hatinya lembut. 1:06:46 Makanya saya kira harus dipelajari 1:06:49 baik-baik. Tapi untuk sementara akhlak 1:06:51 ini harus didominankan. Sebelum dia 1:06:53 zikir akhlak sudah dibangun. Sebelum dia 1:06:55 menuntut ilmu, akhlak sudah dibangun. 1:06:57 Sehingga nanti akhlak yang terpuji ini 1:06:59 dikasih zikir, dikasih ilmu pengetahuan. 1:07:02 Jadi komposisinya itu keren sekali. Tapi 1:07:05 untuk membangun peradaban yang seperti 1:07:07 ini, kita memang harus bersama-sama 1:07:09 mengerjakannya, bersama-sama kita ee ee 1:07:12 memulainya dan harus disiplin. 1:07:15 Wallahuam. 1:07:17 Baik. Dari siapa ini? Asalamualaikum, 1:07:19 Ustaz Salman. 1:07:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:07:20 wabarakatuh. 1:07:21 Susah, sulit sekali mencari yang bisa 1:07:23 kita jadikan teladan untuk memperbaiki 1:07:25 akhlak kita dalam urusan menebar salam. 1:07:28 Contohnya banyak ustaz kalau ketemu di 1:07:30 jalan enggak ucap salam. Padahal kan 1:07:32 katanya Nabi Muhammad sallallahu alaihi 1:07:34 wasallam suka ucap salam duluan dan 1:07:36 sekarang ini berat untuk memulai maklum 1:07:39 iman masih diif katanya. 1:07:41 Makanya besar harapan kami agar para 1:07:43 ustaz mengajak kami ini untuk menebar 1:07:46 salam. 1:07:46 Iya. Uh. Ini yang nanya ini luar biasa. 1:07:50 Saya pernah ngalami ini. 1:07:53 Saya pernah ngalam ini. 1:07:56 Dia ini narasumber radio sebelah. 1:08:00 Hm. 1:08:01 Saya ketemu di umrah ini. He. 1:08:03 Kalau enggak salah di Palestina malah 1:08:04 ketemunya. 1:08:05 He. 1:08:06 Dia juga mengetahui bahwa saya juga 1:08:09 narasumber di radio sebelahnya lagi kan 1:08:10 gitu. He. 1:08:12 Saya masuk klip dan dia di bersama 1:08:14 istrinya. Assalamualaikum. 1:08:16 Saya gitu kan enggak dijawab. 1:08:18 H. 1:08:18 Ya, mungkin karena dianggap kita Syiah, 1:08:20 dia Islam kan gitu kan. Nah, jadi enggak 1:08:22 enggak perlu dijawab ee ee e salam itu. 1:08:25 Jadi, ya Allah ya. Hai, udah luar biasa 1:08:28 Ibu atau Bapak yang bertanya ini ya. 1:08:30 mengenai salam ini dahsyat sekali ya 1:08:33 kalau kita berani amalkan. Ee tapi saya 1:08:36 lagi-lagi belum juga berhasil di wilayah 1:08:39 ini. Tapi coba kita mulai ya anak-anak 1:08:42 mengucapkan salam ke gurunya. Nah itu 1:08:45 dulu masyarakat ya pelan-pelan kita ajak 1:08:49 agar setiap masyarakat bila bertemu 1:08:51 mengucapkan salam dan salam bagian dari 1:08:53 akhlaknya. Greetings. Eh walaupun e 1:08:57 salam di seluruh dunia berbeda-beda ya. 1:09:00 ee tidak sama greetings di setiap 1:09:03 daerah, di setiap negara itu beda-beda. 1:09:06 Tapi Islam mengajarkan kita salam yang 1:09:10 paling bagus ya itu assalamualaikum 1:09:13 tentu paling bagus menurut kita ya. 1:09:15 Paling bagus menurut kita ya. 1:09:17 Assalamualaikum 1:09:19 ya. Berbeda dengan how are you? Berbeda 1:09:21 dengan good morning atau kaif halak atau 1:09:24 isyak khabarak atau shbahal khair 1:09:26 shbahal ful shbahal isytah. Kalau di 1:09:29 Mesir sabahal full shbahal isytah. Kalau 1:09:32 di di di Syria mungkin atau di Riyad eh 1:09:37 Sholonak gitu kan. Sholonek gitu. Kalau 1:09:40 di tanah Batak Horas gitu kan. Kalau di 1:09:44 tanah Jawa apa? 1:09:46 Wilujeng. 1:09:47 Wilujeng sumpeng. [tertawa] 1:09:49 Kali Betawi apa, Bang? 1:09:51 Betawi, 1:09:52 Bang Krisna. 1:09:52 Asalamualaikum. 1:09:53 Asalamualaikum gitu ya. E enggak ada 1:09:56 yang Betawi banget. Enggak ada ya? 1:09:59 Apa ya? 1:09:59 Enggak ada ya? Kalau di Tanah Batak kan 1:10:01 horas itu kan. 1:10:03 H. 1:10:05 Kalau di tanah Arab sebenarnya enggak 1:10:06 juga pakai salam. Awal 1:10:08 salamikum lah. 1:10:09 Awalnya tanah Arab itu sholo nak shfulah 1:10:12 halal khair 1:10:13 tergantung pagi apa sore kan gitu ya. eh 1:10:17 KF 1:10:18 Syekh Barok kalau sekarang ya. Tapi 1:10:21 Islam menawarkan greetings yang kalau 1:10:25 dipikirkan sih bagus sekali 1:10:27 assalamualaikum 1:10:28 ya kan artinya kan semoga kau selamat 1:10:31 kan gitu ya kalau kita bahasa Indonesia 1:10:33 kan semoga kau selamat itu kan enak 1:10:36 sekali kan didoain selamat terus gitu 1:10:39 ente. Semoga jadi Pak Selamat gitu 1:10:41 [tertawa] 1:10:42 ya. kita doakanlah ee dan yang bertanya 1:10:45 ini jangan terlalu kecewa ya. Saya kan 1:10:47 tadi saya bilang ya bahwa saya sendiri 1:10:49 belum bisa dan saya melihat bahwa memang 1:10:52 justru yang berilmu belum bisa tapi saya 1:10:55 tidak kecewa. Kita yang membahas ini 1:10:57 tidak boleh kecewa. Kita harus tetap 1:10:59 semangat, kita harus tetap kerjakan, 1:11:02 kita harus tetap berjuang. Bagaimana 1:11:04 agar akhlak ini lebih terjawantahkan di 1:11:07 kehidupan kita sehari-hari. apa yang 1:11:09 kita bahas hari ini jangan menjadi 1:11:11 bentuk pesimis, tapi menjadi bentuk apa? 1:11:14 Optimisme kita bersama. Terima kasih Pak 1:11:15 Kr 1:11:16 selanjutnya dari Bapak Suma di Bintara. 1:11:18 Salam Ustaz Salman. 1:11:19 Bagaimana Ustaz pendapat ustaz tentang 1:11:21 seorang ikon Islam suka mengeluarkan 1:11:23 kata-kata yang kurang sopan 1:11:25 tapi dia membela kepentingan-kepentingan 1:11:26 umat Islam dari Sumadi Bintara. 1:11:30 Lah gini ya, membela Islam ini harusnya 1:11:33 bisa tanpa caci dan maki harusnya. Ya, 1:11:37 itu yang saya anut ya. Tapi saya bukan 1:11:40 berarti kita harus menghakimi orang yang 1:11:42 mencaci memaki. Ya, saya tidak jangan 1:11:44 jangan arahkan saya menghakimi gitu ya. 1:11:48 Ee karena saya tidak suka menghakimi. 1:11:50 Tapi bahwa pilihan saya padahal saya 1:11:53 aslinya pencaci pemaki karena darah saya 1:11:55 Batak Hasibuan pula kan. Kalau aslinya 1:11:59 kalau Anda mempelajari profile saya, 1:12:01 biografi saya dari sejak saya masih SD 1:12:04 ya, mulut saya ini tajam sekali ya. Em 1:12:07 saya itu selalu nasehati saya, "Nak, kau 1:12:10 sudah jadi ujian buat kau. Mulut kau ini 1:12:12 tajam, Salman. Hati-hati." Nah, gitu ya. 1:12:15 Makanya anakku sama emak saya disuruh 1:12:17 dikasih madu pas baru lahir 1:12:19 bibirnya sama lidahnya 1:12:21 supaya enggak tajam lidahnya kayak kau 1:12:22 katanya gitu. Itu aslinya saya. Tapi kan 1:12:25 ilmu pengetahuan mencoba mengkontrol apa 1:12:27 yang menjadi sifat dasar saya itu tadi. 1:12:29 Sehingga saya memilih lebih baik kita 1:12:31 mencoba ee lebih persuasif lah, lebih 1:12:35 banyak menasehhati. Tapi lagi-lagi 1:12:38 jangan jadikan ceramah ini menghakimi 1:12:40 yang tidak seperti itu. Gak boleh ya. 1:12:43 Enggak boleh kita begitu. Kita ini 1:12:45 setiap mempelajari sebuah kebenaran yang 1:12:47 kita yakini, kita amalkan dia dan kita 1:12:50 jadikan apa? Yang kita yakini menasehati 1:12:52 orang yang tidak meyakininya. Ya, tapi 1:12:55 bukan kita pelajari apa yang kita yakini 1:12:57 itu benar. Kemudian kita hakimi apa yang 1:12:59 juga diyakini oleh orang lain benar. Ah, 1:13:01 jangan begitu kita ya. Kita ini ada 1:13:04 perbedaan. Pastilah ada perbedaan. Ee 1:13:07 enggak mungkin kita sama ya gitu. T 1:13:09 penting ayo akhlak kita harus diperbaiki 1:13:13 gitu ya. Terima kasih. 1:13:15 Baik Ustaz kita sayang sekali sudah 1:13:17 dibatas oleh waktu. Mas Ondi sudah 1:13:19 memberikan kode dan terima kasih untuk 1:13:21 Anda yang sudah kirim 1:13:23 WA. Tapi mohon maaf tidak semua dapat 1:13:25 kami udarakan tapi kami akan membacakan 1:13:28 nomor HP dari Ustaz Salman. Tolong 1:13:30 siapkan purpen. Kami akan bacakan nomor 1:13:32 HP dari Ustaz Salman supaya Anda bisa 1:13:35 menghubungi beliau untuk bertanya. 1:13:37 nomornya 0812 1:13:42 84 1:13:44 0nya 1:13:46 4 kali lalu 94 0812 1:13:52 84 1:13:53 0nya 1:13:56 4 * 94 1:13:59 terima kasih Ustaz Salman 1:14:01 terima kasih Pak Krishna pemirsa 1:14:02 semuanya 1:14:03 jazakumullah khair saya Muhammad Krishna 1:14:05 Ondi Saputra dan Fahri Abu Atar mohon 1:14:09 pamit. Wabillahi taufik walhidayah. 1:14:11 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:14:12 wabarakatuh.