Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan
- katsiran thyiban barokan fih kama
- yuhibuna waard. Allahumma shalli
- wasallim wabarik ala sayyidina
- Muhammadin wa ala ali sayyidina
- Muhammad. Masih dipancarkan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimbanggis
- Cibur, Bekasi. Radio Silaturahim dan
- juga Rasil TV untuk Islam yang satu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah. Senang sekali kami bisa
- kembali menjumpai ikhwan akhwat dalam
- program acara renungan di bawah naungan
- Al-Qur'an. Untuk edisi Kamis ini sudah
- masuki hari yang ke-8 ya di bulan
- Jumadil Awal 1447 Hijriah. Bertepatan
- juga dengan hari yang ke-30 di bulan
- Oktober 2025. Hewan semoga di pagi hari
- ini hewan hawat dalam keadaan baik,
- dalam keadaan sehat dan selalu dalam
- lindungan Allah subhanahu wa taala. Dan
- bagian yang mungkin saat ini tengah
- diuji sakit semoga diberikan kesembuhan
- oleh Allah subhanahu wa taala dan juga
- semoga sakitnya menjadi kafarat bagi
- dosa-dosanya insyaallah. Amin. Amin ya
- rabbal alamin. Telah hadir guru kita
- Ustaz Husein Alatas di pagi hari ini.
- Asalamualaikum warahmatullahi wabar.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Baik, langsung aja kita
- buka pertemuan ini dengan baca
- al-Fatihah bersama-sama
- yang akan dibimbing langsung oleh Ustaz
- Husein Alatas. Kami persilakan, Ustaz.
- Ya, langsung saja, Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin hamdan
- katsiron thyiban mubarakan fih kama
- yuhibbu rabbuna.
- Allahumma sholli ala Muhammadin wa ali
- Muhammad.
- Asalamualaika ya rasulullah. Assalamu
- alaina wa ala ibadillahi shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Allahumahdina subalam waakrijna
- minulumatianur
- wahdina ilaatikal
- mustaqim.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah, mari
- kita buka kajian kita dengan membaca
- ummul Qur'an terlebih dahulu.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maiki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim waladin.
- Am.
- Amin.
- Amin. [berdehem] Amin. Amin ya rabbal
- alamin. Baik, sudah kita buka bersama
- dengan bacaan al-Fatihah yang dipimpin
- langsung oleh Ustaz Husin Alat Atas.
- Ikhwan akhwat. Ee selanjutnya saya akan
- bacakan beberapa pertanyaan yang sudah
- masuk dari beberapa nomor nih dari hamba
- Allah.
- Yang pertama ini terkait ee tafsir dan
- otoritas. Ustaz, siapakah yang memiliki
- otoritas tertinggi?
- dalam menafsir demikian ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Rabbana
- zidna ilman walhikna bisolihin.
- Allahumma inna naudubika anadilla au
- nudol
- au nazilla au nuzal au nadlima nudlama
- najhala yujala. [berdehem]
- Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam
- suratul qamar
- diulang sebanyak empat kali. Walaqad
- yassarnal qurana lidzikri fahal mim
- muddakir.
- Sesungguhnya kami telah mempermudah
- Al-Qur'an untuk dapat dipelajari.
- Apakah ada di antara kalian yang mau
- mengambil pelajaran dalam Al-Qur'an?
- Jadi
- Allah Subhanahu wa taala yang menurunkan
- kitabnya sebagai pedoman hidup ya bagi
- umat manusia. Dengan sendirinya
- Allah Subhanahu wa taala memudahkan
- kitab suci ini untuk dapat dipahami.
- [mendengus]
- Begitu juga Allah Subhanahu wa taala
- berfirman pada ayat 29 dari surah Sad
- pada ayat 29 dari surah Sad.
- Kitabun anzalnahu ilaika mubarokun
- liyaddabbaru ayatihi waliyatadakar ulul
- arbab.
- Allah menunjuk kepada kitabnya ini
- adalah sebuah kitab yang kami turunkan
- kepadamu
- penuh dengan keberkahan
- agar mereka merenungkan ayat-ayatnya.
- agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan
- agar orang-orang yang berakal mengambil
- pelajaran daripadanya.
- Mengambil pelajaran daripadanya. Kitabun
- anzalnahu ilaika mubarakun
- liyadabbaru ayatihi watatadzakaro ulul
- albab.
- sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu
- penuh dengan keberkahan
- agar orang-orang yang berakal
- merenungkan ayat-ayatnya dan mengambil
- pelajaran daripadanya.
- Begitu juga pada ayat yang lain Allah
- berfirman, "Afala yatadabbarunal Quran
- am ala qulubin akfalu?" Apakah mereka
- tidak merenungkan
- Al-Qur'an? Apakah
- kalbu mereka memang telah terkunci,
- tertutup untuk dapat melihat, mendengar,
- dan menerima kebenaran?
- Jadi kalau kita perhatikan bersama-sama
- Al-Qur'an diturunkan
- ya kepada Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wa alihi wasallam untuk
- direnungkan dan dipelajari.
- Dalam ayat yang lain, afala
- yatadabbarunal Quran walauana mini
- ghairillah lawajadu fitilafan kat.
- Apakah mereka tidak merenungkan
- Al-Qur'an? Kalau Al-Qur'an bukan datang
- dari sisi Allah, niscaya mereka akan
- menjumpai
- pertentangan yang amat banyak di
- dalamnya.
- Begitu juga
- Allah Subhanahu wa taala mengingatkan
- kita semua
- dalam rangka mengingatkan peran Rasul
- sebagai
- seorang yang membawa kabar gembira,
- memberikan peringatan dan membacakan
- ayat-ayat Allah
- dan juga menjelaskan referensi
- bagi setiap orang yang mencari
- kebenaran.
- Kalla innaha tazkirah. Allah menjelaskan
- misi Rasul bukan memaksa orang untuk
- beriman.
- Bukan juga apa? Memasukkan iman dalam
- hati manusia. Tidak peran Rasul untuk
- menyampaikan pesan Allah. Kala sadarilah
- wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah
- peringatan.
- Famanya zakakaroh. Siapa yang mau dia
- bisa mengambil pelajaran dan
- mendengarkan peringatan yang kamu
- sampaikan.
- Dari mana? Fi suhufim mukarromah.
- Dalam lembaran-lembaran kitab mukarramah
- yang bagaimana? Yang betul-betul
- dimuliakan.
- Penuh dengan kemurahan dari Allah.
- Marfuatin yang ditinggikan.
- Karena ini merupakan apa? Ilmu all
- bukan ilmu manusia yang bersumber dari
- interpretasi,
- dari sudut pandang yang penuh dengan
- kekurangan.
- Oleh karena itu, ilmu Allah bersifat
- pasti. Kalau ilmu manusia bersifat apa?
- Dugaan.
- Dan terus mengalami penyempurnaan.
- Marfuatin yang ditinggikan.
- marfuatin
- mutahara
- kalla innaha tazkira
- fi suhufin mukarah marfuatin mutahara di
- samping kitab ini betul-betul ya'lu wala
- y'la alaih di atas seluruh pengetahuan
- manusia
- dia juga disucikan dari hawa nafsu
- disucikan dari berbagai macam apa
- noda-noda kepentingan yang membuat
- akhirnya apa? Tuntunannya tidak lagi
- murni. Kalau ilmu manusia kan mau tidak
- mau walaupun katakan benar seringkiali
- dimasuki oleh kepentingan hawa nafsu
- hingga akhir dibelokkan ya dari
- kebenaran yang murni dinodai oleh
- kepentingan yang bermacam-macam.
- Marfuatin mutahaharah biidi safarah yang
- diantarkan dan diterima oleh duta-duta
- Allah. kiram bararah yang mulia lagi
- berbakti dan taat kepada Allah dengan
- penuh amanat menyampaikan amanat Allah.
- Nah, bagaimana Allah menyeru manusia
- untuk mempelajari Al-Qur'an kalau
- Al-Qur'an tidak jelas?
- Oleh karena itu, kita harus bedakan ya
- di antara menafsirkan Al-Qur'an dan
- merenungkan Al-Qur'an. He
- merenungkan Al-Qur'an. Setiap muslim
- baik mereka yang menguasai bahasa Arab
- ataupun yang tidak menguasai bahasa Arab
- dengan terjemahan Al-Qur'an saat ini ya
- akan menjadi bantuan mereka untuk
- meresapi dan memahami Al-Qur'an walaupun
- tidak secara terperinci ya. ada hal-hal
- yang membutuhkan otoritas tertentu untuk
- dapat memahaminya secara apa terperinci.
- [berdehem] Dan seharusnya apa pang
- Rizal? Seharusnya para ulama ini bukan
- menyibukkan umat dengan pertentangan,
- dengan perselisihan, menjauhkan umat
- dari Al-Qur'an. Tapi seharusnya setiap
- ustaz, setiap kiai, setiap ulama, setiap
- habib sebagaimana Rasul menyampaikan
- Quran juga seharusnya mereka
- menyampaikan Al-Qur'an.
- Allah menjelaskan misi Rasul hualladzi
- baata fil ummiina rasulan minhum.
- Allah yang telah mengutus di tengah
- masyarakat al-umiin
- yang tidak mengecap pendidikan
- yang jauh dari peradaban
- dan pendidikan.
- Seorang rasul yang berasal dari kalangan
- mereka.
- Rasul ini langsung mendapatkan
- pengajaran pendidikan dari Allah.
- Apa perannya? Yatlu alaihim ayati
- [mendengus] yang menerangkan kepada
- mereka ayat-ayat Allah juga memberikan
- contoh di tengah-tengah mereka antara
- ucapan dan perbuatannya seiring
- seiraman.
- Wauzakihim. tidak hanya sebatas
- mencerahkan wawasan mereka, tapi dari
- pendidikan yang mencerahkan wawasan
- masuk kepada tahap kedua yaitu
- mensucikan jiwa mereka, mengubah wawasan
- berpikir mereka juga dengan sendirinya
- akan mengubah apa? akan mengubah sikap
- dan kebijakan mereka dalam hidup ini.
- Kalau tadi dikotori oleh kesyirikan,
- kejahiliahan dengan turunnya Al-Qur'an
- yang dibacakan Nabi mensucikan jiwa
- mereka, maka berubahlah. Dahulu mereka
- tenggelam dalam kejahiliahan, sekarang
- mereka diterangi cahaya Allah.
- Wallimuhumul kitab wal hikmah. Dan Nabi
- mengajarkan mereka alkitab dan hikmah.
- Wau mini mubin. Walaupun sebelumnya
- mereka berada dalam kesesatan yang amat
- nyata. Hanya dalam waktu relatif singkat
- Nabi membacakan Al-Qur'an terjadi
- perubahan. Sedangkan kita berabad-abad
- bukan maju malah mundur,
- bukan bersatu malah terpecah belah.
- Karena referensinya berbeda-beda.
- [berdehem]
- Bukan Al-Qur'an yang disampaikan, tapi
- terjadi tarik-menarik
- di antara berbagai macam kepentingan dan
- kefanatikan.
- [mendengus]
- Oleh karena itu kalau kita memperhatikan
- dakwah-dakwah yang viral di negeri kita,
- begitu pula yang diajarkan di pesantren,
- amat sedikit sekali perhatian
- mereka terhadap Al-Qur'an. Bahkan di
- tempat-tempat tahfid mereka hanya
- menghafal tapi tidak memahami isinya.
- Padahal tujuannya untuk dipahami. Nah,
- kalau seandainya seorang yang tidak
- menguasai bahasa Arab
- membaca terjemahan Al-Qur'an, kira-kira
- mereka dapat memahami enggak isinya?
- Membaca terjemahan Al-Qur'an apabila
- hatinya ada minat, ada kecintaan, Allah
- akan buka buat ilmunya. Tergantung
- bagaimana hatinya. Saya menjumpai
- seorang yang tadi dari latar belakang
- pemabuk, hidup dalam dunia malam. Dia
- bertobat mempelajari Al-Qur'an. Saya
- sering duduk di sampingnya. Ketika dia
- menyampaikan wawasan dan ceramahnya,
- ternyata apa yang disampaikan
- betul-betul amat menakjubkan.
- Dia berkeliling mengajarkan Al-Qur'an di
- sana saja dengan bekal yang dimiliki.
- Kalau dia tidak tahu, dia bertanya.
- Dan Al-Qur'an sebagian besar ayatnya,
- Kang Rizal
- bukan berbicara tentang hukum, berbicara
- tentang ayat-ayat Allah di langit,
- tentang sejarah umat-umat terdahulu,
- tentang hikmah-hikmah di mana untuk
- memahaminya apa? Bukan hanya terbatas
- pada mereka-mereka yang bertakhasus
- dalam bidang tafsir. [mendengus]
- Sedangkan ayat-ayat hukum kurang dari
- 5%.
- kurang dari 5%.
- Ayat-ayat hukum amat sedikit sekali.
- Tapi bagaimana Al-Qur'an mengajak
- manusia untuk bertafakur, mencerahkan
- wawasan mereka melalui kitab suci yang
- Allah turunkan juga melalui kitab alam
- semesta. Melalui kitab alam semesta dan
- menggugah akal pikiran mereka. Oleh
- karena itu, Al-Qur'an mengajak kita
- untuk berakal, bukan menutupi akal kita.
- Sebagaimana firman Allah, inna fi
- khalqis samawati wal ardhi wtilafil
- laili w nahar
- wal fulqillati tajri fil bahri bima
- yunfaunas w anzalallahu minama mim main
- [berdehem]
- faahya bihil ard ba'da mautiha w fiha
- minabah
- wasahabil musama walayil
- Semua ayat-ayat ini diperuntukkan untuk
- orang yang berakal.
- Begitu juga Allah Subhanahu wa taala ya
- dalam ayat yang lain berfirman, "Inna fi
- khalqis samawati wal ardhi waktilafil
- laili wahar laayatin liulil albab."
- Ulul albab ini albab jamak dari loop.
- Yaitu inti sesuatu di mana orang tidak
- hanya sebatas di permukaan, bukan hanya
- sebatas membaca, sebatas dia menghafal,
- tapi sampai ke dalamnya diresapi dan
- direnungkan. Itu mereka-mereka dengan
- kriteria alladina ykurunallaha qiaman
- wauda waa junubihimakaruna
- fi khqamawati walbanaqta
- bat.
- Mereka yang selalu ingat Allah,
- bertafakur dalam merenungkan ciptaan
- Allah di langit maupun di bumi.
- Mereka-mereka ini alladzina
- yadkurunallaha qiaman waquuda waa
- junubihim yang selalu mengingat Allah.
- Baik pada saat mereka apa? Baik pada
- saat mereka berdiri, duduk maupun
- berbaring, hati mereka tidak terlepas
- dari Allah. Dan mereka bertafakur
- merenungkan ayat-ayat Allah yang
- terdapat di langit dan di bumi hingga
- mengantarkan mereka pada apa? Hakikat
- yang betul-betul amat menakjubkan. Wahai
- Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan
- semuanya dengan sia-sia. Karena segala
- sesuatu diciptakan dengan tujuan dan
- ternyata semuanya mengarah kepada Allah
- dan kebesarannya.
- Subhanak maha suci Engkau. Faqinaabanar
- lindungi kami dari azab api neraka.
- Sedangkan mereka-mereka
- yang melakukan penelitian, eksplorasi
- dalam berbagai macam sumber kekayaan di
- bumi ini, mereka melakukan semua ini
- tapi terputus dari Allah. Hingga mereka
- tidak menemukan Allah, mereka justru ya
- dikuasai oleh apa? Oleh hawa nafsu, oleh
- kerakan, keserakahan, kemudian apa?
- Kebanggaan terhadap keberhasilan mereka.
- Hingga mereka dikenal di tengah-tengah
- manusia sebagai ilmuwan. pakar sains dan
- lain sebagainya. Tapi sayang, sungguh
- sayang, mereka buta dan tidak dapat
- melihat Allah Subhanahu wa taala. Karena
- apa? Pengetahuan mereka, penelitian
- mereka tidak terhubung dengan Allah.
- Padahal antara kitab Al-Qur'an dan kitab
- alam semesta ini berkaitan satu dengan
- lainnya. Allah mendidik manusia untuk
- apa? Untuk menemukan kebenaran yang
- sejati. Bukan terombang ambing di
- tengah-tengah hawa nafsu, angan-angan
- dan ambisinya.
- Karena pada akhirnya kehidupan dunia
- akan berakhir. Oleh karena itu,
- Al-Qur'an
- secara umum dapat dipahami oleh semua
- orang yang mencari kebenaran walaupun
- tidak menguasai bahasa Arab. Baik
- melalui terjemahan Al-Qur'an ataupun
- penyampaian yang disampaikan oleh
- ulama-ulama yang memahami Al-Qur'an.
- Seharusnya memang seluruh ulama sebelum
- mengajarkan yang lain mereka
- menyampaikan Al-Qur'an. Tapi sayang
- mereka tidak lagi mengikuti Rasul
- sebagai tauladan, tidak sama sekali
- menyampaikan pesan Allah sebagaimana
- dipesankan kepada rasulnya Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Mereka
- menggiring agama untuk mengikuti hawa
- nafsu mereka.
- Kemudian hubungan antara Quran dan ilmu
- pengetahuan
- hubungan yang betul-betul harmoni
- tidak ada dikotomi sama sekali. Oleh
- karena itu, Nabi mengatakan, "Wala takfu
- maaisa laka bihi ilmun." Jangan
- sekali-kali kamu mengikuti sesuatu tanpa
- dasar ilmu. Innama wal basar wal fuada
- kullu ulaika anhu masula. Sesungguhnya
- pendengaranmu, penglihatan kamu termasuk
- juga apa? Termasuk juga
- kalbumu,
- akal pikiranmu, kecerdasan kamu, semua
- akan diminta. pertanggungjawaban oleh
- Allah. Kalau orang mengikuti tanpa dasar
- ilmu, maka dia betul-betul orang yang
- tak ubahnya bagaikan seekor keledai yang
- memikul tumpukan buku hanya keletihan,
- kelelahan, tapi dia tidak dapat
- mengambil pelajaran apa-apa.
- Oleh karena itu,
- Al-Qur'an mengajak kita untuk menjadi
- manusia yang cerdas, berpikir, berakal,
- memperhatikan segala sesuatu hingga
- mereka menemukan kebesaran keagungan
- Allah di mana-mana. Karena setiap
- makhluk di bumi ini,
- setiap makhluknya di alam semesta ini
- jarinya menunjuk kepada Allah. Tapi
- sayang, hati kita lalai hingga kita
- tidak menyadarinya. Nah, kalau berkaitan
- dengan siapa yang punya otoritas
- menafsirkan Al-Qur'an dengan sendirinya
- yang punya ilmunya, persyaratannya.
- Beda antara berupaya memahami Al-Qur'an
- dan orang yang bertugas menafsirkan
- Al-Qur'an.
- Dia mengikuti Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam. Kalau memang ada
- keterangan dari Rasul yang pasti ya,
- yang betul-betul dapat diyakini
- berasal dari Rasul,
- kita dengan sendirinya mengutamakan apa
- yang datang dari Rasul sallallahu alaihi
- wasallam. Tapi harus diingat, banyak
- kebohongan-kebohongan yang dirajut untuk
- memalingkan manusia dari Al-Qur'an
- dengan mengatasnamakan Rasul maupun para
- sahabat. H
- yang dinamakan riwayat-riwayat
- susupan
- yang dikenal dengan nama israiliyat.
- Hadis-hadis semacam ini banyak sekali
- hingga membuat pemahaman kita mengenai
- Al-Qur'an kacau balau. Mereka tidak
- mampu mengubah Al-Qur'an tapi mereka
- memalingkannya melalui riwayat-riwayat
- yang dipalsukan. Sebagaimana Taurah
- ditinggalkan. Akhirnya orang berpaling
- menuju Talmud yang berisikan penafsiran
- mirip dengan riwayat-riwayat hadis.
- Jadi yang pertama dengan sendirinya apa?
- Kita akan mendengarkan apa yang datang
- dari Nabi dengan syarat itu betul betul
- dari Nabi dan sejalan dengan Al-Qur'an.
- Tapi sebetulnya penafsiran Al-Qur'an
- terdapat dalam Al-Qur'an itu sendiri. H
- di mana seluruh ulama ahli tafsir
- sebetulnya orang-orang yang memang kita
- anggap menguasai Al-Qur'an
- dalam arti pemahaman kata penguasaan ini
- sesuai dengan batas kemampuan manusia.
- Mereka bersepakat tidak ada tafsir yang
- lebih indah daripada tafsir Al-Qur'an
- bilquran. Quran dengan Qur
- Quran. Jadi kalau kita menemukan katakan
- satu tema
- dalam Al-Qur'an ya, kita jangan
- menafsirkannya sepotong-sepotong tapi
- apa? Kita mengaitkannya dengan ayat-ayat
- yang lain agar kita memahami secara apa?
- Komprehensif.
- Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala
- mengancam mereka orang-orang yang
- bagaimana yang menafsirkan Quran
- sepotong-sepotong.
- kama anzalna alalimin allina ja
- quridinika
- ajmain amma yalun.
- Sebagaimana peringatan yang kami berikan
- kepada para muktasimin. Tahu muktasimin
- gak?
- Iktasama yaktasim itu membagi-bagi. Jadi
- Al-Qur'an yang seharus ditafsirkan
- secara utuh dipisah-pisah dan
- dibagi-bagi. Alladina jaul quranain yang
- menjadikan Quran sebagai apa? Ibin ibin
- berasal dari kata udwun yang artinya
- anggota. Jadi dijadikan Quran ya dalam
- memahaminya tidak utuh tapi bagaikan
- anggota tubuh yang terpisah-pisah.
- Manusia kan bukan hanya kepalanya, bukan
- hanya tubuhnya, bukan hanya tangannya.
- Manusia secara utuh ya kalau kita lihat
- secara fisik dan anatominya itu
- keseluruhannya. Tapi kalau hanya
- kepalanya, kalau hanya tubuhnya atau
- tangannya itu tidak sama sekali
- menggambarkan manusia secara utuh. Nah,
- bagaimana kalau Al-Qur'an ditafsirkan
- secara terpisah-pisah?
- Jadi, pemahamannya bukan kembali kepada
- Al-Qur'an, tapi kembali kepada apa?
- kecondongan interpretasi
- dan pemahaman manusia yang dangkal.
- Contohnya kalau kita ingin memahami kata
- takdir,
- takdir.
- Takdir ya. Begitu juga kata qada
- seharusnya kembali kepada Al-Qur'an dan
- penggunaan kata Al-Qur'an. Penggunaan
- Al-Qur'an ya yang mempergunakan kata
- takdir. Begitu juga qada, begitu juga
- alghaib. Kalau kita ingin memahami kata
- alghaib, coba kumpulkan ayat-ayat ya
- yang terdapat padanya kata gaib.
- Kemudian perhatikan, renungkan
- penempatan dan penggunaannya. Karena
- kita harus tahu bahwa Quran merupakan
- kalamullah. Yang paling tahu mengenai
- kalamnya adalah
- Allah.
- Dan Allah Subhanahu wa taala memudahkan
- bagi kita untuk memahaminya. Sampai Imam
- Ali ketika pada masanya menjumpai
- sebagian orang menafsirkan Quran
- sepotong-sepotong
- yang mengakibatkan terjadinya benturan.
- Beliau mengatakan, "La tadribul qurana
- ba'dahu bibain." Jangan kalian benturkan
- Quran sebagian ayatnya dengan sebagian
- lain.
- Allahu nazala ahsanal hadi kitaban
- mutasyabiharu
- minhu julinaahum
- juluhumillah.
- Allah menurunkan Alquran.
- Allahu nazala ahsanal hadis sebagai
- seindah-indahnya firman dan tutup.
- Kitaban mutasyabihat. Kitab yang isi dan
- kandungannya betul-betul apa? Serupa,
- selaras. Ini kata mutasyabih di sini
- beda dengan kata mutasyabih dalam surah
- Al Imran. Kalau dalam surat Al Imran
- menunjukkan arti ada kesamaran. Kalau
- dalam surah Az-Zumar ini menunjukkan
- ayat-ayatnya saling menerangkan,
- menjelaskan satu dengan lainnya. Jadi
- beliau mengatakan labul qurahuin.
- Jangan benturkan Quran satu sama lain.
- Liannahu yufassiru bau ba. Karena dia
- saling menafsirkan.
- Tapi kalau kita giring Al-Qur'an ayatnya
- keluar pasti akan melahirkan perbedaan
- tafsir yang bermacam-macam. Jadi
- memahami takdir coba renungkan.
- Setiap penggunaan takdir dalam
- Al-Qur'an. Begitu juga qada, begitu juga
- alghaib, begitu juga takwa. Kalau kita
- ingin tahu siapa orang yang bertakwa,
- Quran jelaskan dalam suratul baqarah,
- dalam surah Al-Imran.
- Nah, dalam banyak ayat dijelaskan siapa
- yang dimaksudkan dengan orang yang
- bertakwa.
- Tapi kalau kita menafsirkan dengan
- mengikuti interpretasi kita yang tidak
- sama sekali kembali kepada Al-Qur'an,
- maka dengan sendirinya itu bukan lagi
- penafsiran yang benar dan sesuai, tapi
- penafsiran yang jauh. dari Al-Qur'an itu
- sendiri. Lalu berkaitan dengan
- hubungan antara para ilmuan, para pakar
- dengan Al-Qur'an. Sebagaimana kita tahu
- Al-Qur'an ini bukan hanya berisikan
- ayat-ayat hukum,
- bukan juga berisikan apa? Hanya sekedar
- ayat-ayat yang berbicara mengenai
- sejarah, tapi Al-Qur'an bagaikan
- samudera.
- Karena Al-Qur'an kitab suci ini mengajak
- kita ya untuk menyatu dengan seluruh
- alam semesta yang merupakan ciptaan
- Allah Subhanahu wa taala. Menemukan
- kebenaran kemudian pada akhirnya kita
- bertasbih memuji Allah. Langit bumi
- bertasbih kepada Allah. Nah, Allah
- mengajak kita juga untuk menyatu dengan
- alam, merenungkannya, mempelajarinya
- hingga pada akhirnya kita menemukan
- kebenaran sejati. Seperti dalam surah Al
- Imran tadi, subhanak
- ya e rabbana ma khalaqta hadza batila
- subhanaka faqina hadza benar. Maka yang
- berhubungan dengan sejarah, kalau ahli
- sejarah yang mempelajarinya akan lebih
- indah.
- He.
- Kalau yang berbicara mengenai [berdehem]
- katakan pertumbuhan bayi dalam
- kandungan, maka kalau seandainya
- diresapi, dikaji oleh mereka-mereka yang
- ahir dalam bidang apa? dalam bidang
- ginekologi kandungan itu akan lebih
- indah lagi.
- Ayat-ayat yang menjelaskan masalah
- astronomi.
- Kalau seandainya orang-orang yang
- beriman yang mempelajari ilmu astronomi
- akan lebih indah. Bukan lagi apa
- khayalan ya, bukan lagi pembicaraan
- tanpa dasar ilmu, tapi mereka akan
- menemukan kebenaran yang amat indah
- berbagi dengan orang-orang yang tidak
- menguasai ilmu tersebut. Berbicara
- mengenai biologi, ahli biologi silakan
- berbicara. Betul gak?
- Contoh jangan jauh-jauh bagaimana
- kesalahan
- para ahli fikih ketika mereka berbicara
- ya tanpa dasar ilmu.
- Kalau kita pelajari dalam buku fikih ya
- yang ditulis oleh para ulama yang tidak
- menguasai bidang yang mereka bicarakan.
- Berapa lamakah masa ya bayi dalam
- kandungan ibunya?
- Kita akan temukan perbedaan pendapat.
- Ada yang mengatakan 4 tahun, ada yang
- mengatakan 5 tahun. Paling sedikit ee
- ada yang mengatakan 9 bulan. Nah, paling
- rendah selama 7 bulan menurut mereka.
- Padahal kita tahu bahwa bayi kalau sudah
- lebih dari 10 bulan itu ketubahannya
- sudah tidak lagi memenuhi apa? Nutrisi,
- bahkan mengandung racun.
- Bagaimana mungkin
- bayi bisa bertahan selama 4 tahun, 5
- tahun dalam kandungan ibunya? Ini
- disebabkan karena apa? Para pengikut
- mazhab ini berlomba-lomba. Imam Syafi'i
- katakan 4 tahun dalam kandungan ibunya.
- Lalu kelompok yang lain mengatakan Imam
- Malik selama 5 tahun. Ini pembicaraan
- tanpa dasar ilmu. Coba serahkan kepada
- ahlinya biar mereka yang menerangkan
- masa kandungan. Begitu juga berkaitan
- dengan nifas. Alangkah indahnya kalau
- kita kembalikan pembicaraan mengenai
- nifas kepada ahlinya.
- Nah, ulama mendengarkan dari mereka
- kemudian menyampaikan atas dasar ilmu.
- Oleh karena itu, Al-Qur'an sebetulnya
- merupakan nutrisi bagi setiap setiap
- manusia, apapun latar belakang ilmunya.
- Dan Allah melarang kita mengikuti
- sesuatu tanpa dasar ilmu. Dan akal bukan
- musuh Al-Qur'an. Justru Al-Qur'an
- berbicara kepada orang yang berakal.
- Afala taqilun?
- Quran
- dalam surah alhaj Allah berfirman,
- awalam yasiru ardakun lahumubun
- bihaanun
- yasma biha. Apakah mereka tidak pesiar
- di muka bumi hingga mereka memiliki
- kalbu-kalbu yang berakal? Qulubun
- yaqiluna biha abanun yasmauna biha atau
- pendengaran. Heeh.
- yang mereka gunakan untuk mendengar dari
- kisah-kisah, pelajaran-pelajaran yang
- mereka lihat, mereka mengambil
- pelajaran. Oleh karena itu, para
- penghuni api neraka dengan penuh
- penyesalan berkata apa? Lau kunna nasmu
- a naqilu ma kunna fi ashab. Kalau dulu
- kita mau dengar saja dan mau berakal,
- tidak mungkin kita akan menjadi penghuni
- api neraka sair. Oleh karena itu,
- penghuni api neraka orang yang tidak mau
- mendengarkan nasihat dan tidak berakal.
- Jadi yang tidak berakal ini yang kelak
- akan menjadi penghuni api neraka. Dalam
- ayat yang lain, wq jahanam kir minal
- jinni wal ins. Kami telah persiapkan api
- neraka jahanam bagi kebanyakan jin dan
- manusia. Lahum qulubun lafqah biha.
- Mereka memiliki kalbu-kalbu tapi kalbu
- tersebut tidak belajar, tidak memahami
- dan tidak berakal. Walahum aunun la
- yubsiruna biha. Mereka diberikan mata
- tapi tidak tidak apa? Tidak mereka
- pergunakan untuk belajar dengan mata
- mereka. Sama dengan orang buta.
- Walahumanun la yasma biha. Mereka
- diberikan telinga tapi tidak belajar
- dari apa yang mereka dengar. Ulaika kal
- anam. Mereka bagaikan binatang ternak.
- Balhum adol. Bahkan mereka lebih sesat.
- Ulaika humul gofilun. Merekalah
- orang-orang yang lalai. Maka atas dasar
- ini, Kang Rizal, Quran ini bukan untuk
- dibaca, dihafal sebata, dipahami sesuai
- dengan kemampuannya. Melalui terjemahan
- Al-Qur'an kalau kita mau baca, kita
- dapat pelajaran. Kalau gak tahu fasalik
- intuntum laamun datang pada ulama,
- coba saya mau tahu apa maksud dari ayat
- ini. Adapun berkaitan dengan ayat-ayat
- hukum serahkan pada ahlinya.
- Tapi ayat hukum tidak mencapai 400 ayat.
- Ayat-ayat hukum amat sedikit.
- Ke mana perginya ayat yang mengajak kita
- untuk mengenal Allah melalui
- ayat-ayatnya di langit, di bumi, melalui
- diri kita belajar dari sejarah umat
- terdahulu. Ternyata semua ini berlalu
- sia-sia di hadapan orang yang tidak
- berakal. Wallahuam.
- Baik, Ustaz. Nah, ini dikaitkan juga
- dengan pertanyaan bagaimana [berdehem]
- seharusnya hierarki otoritas antara
- hadis ee dan Al-Qur'an ditentukan. Kapan
- hadis itu berfungsi sebagai penjelas
- Al-Qur'an dan bagaimana menyikapi kasus
- hadis yang tampak bertentangan dengan
- prinsip dasar Al-Qur'an ataupun akal
- sehat. Nah, ini juga beberapa kali
- sebenarnya sudah jelaskan ya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Rabbanaidna
- ilman waiknain.
- Sudah sering saya sampaikan hal ini
- bahwa rujukan kita dalam hidup ini
- adalah Al-Qur'an. Rujukan kita Al-Qur'an
- dan Nabi juga menerangkan Al-Quran.
- Di samping Nabi menerangkan Al-Qur'an,
- Nabi juga diperintahkan yang
- pertama-tama mengikuti Al-Qur'an
- dan diingatkan untuk tidak mengikuti
- hawa nafsu manusia dan meninggalkan
- Al-Qur'an. Waum bainahum bima anzarallah
- wala tattabi ahwahum. Dan hendaklah kamu
- putuskan sesuai dengan apa yang Allah
- turunkan dan jangan ikuti hawa nafsu
- manusia. Wahum.
- Dan hati-hati waspada jangan sampai
- mereka memalingkan kamu dari sebahagian
- yang Allah turunkan. Seperti kompromi
- ulama saat ini
- ya. Mereka kompromi untuk mencari jalan
- aman, meninggalkan sebagian hukum-hukum
- Allah. Padahal tugas mereka menyampaikan
- diterima, tidak diterima bukan tanggung
- jawab mereka.
- Jadi kita harus tahu bahwa pada masa
- Nabi hadis tidak ditulis.
- Bahkan Nabi melarang la taktubu anni
- ghairal Quran faman katabahu falyamhu.
- Jangan tulis dari aku selain Quran.
- Siapa yang menulis silakan
- menghapuskannya. Hadis ini diriwayatkan
- dalam Sahih Muslim.
- Adapun riwayat-riwayat yang lain seperti
- riwayat Abdullah bin Amr bin As ya yang
- kata menulis hadis itu riwayat-riwayat
- yang tidak kuat sama sekali. Artinya
- hadis baru dikumpulkan, baru beredar
- mungkin setelah 200 tahun wafatnya Nabi
- kita Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam. Itu pun penuh dengan
- pertentangan.
- Penuh dengan apa? Pertentangan. Dari
- 200.000 hadis yang terkumpul yang
- berulang dan tidak berulang sebagaimana
- disebutkan Sayuti dari gurunya Almanawi
- itu yang sahih tidak mencapai sepertiga.
- Kemudian apa? Dari 200.000 hadis tadi ya
- yang mutawatir lafaz dan maknanya hanya
- satu hadis.
- Jadi ahadis quliah yang mutawatir makna
- dan lafaznya hanya satu hadis. Yang lain
- kebanyakan hanya satu orang yang
- meriwayatkan. Dua orang yang
- meriwayatkan itu pun penuh perbedaan.
- Itu hadis yang berbunyi, "Man kadaba
- alaiya falyatwa ma'adahu minanar."
- Siapa-siapa yang berdusta atas namaku,
- silakan siapkan tempatnya dalam api
- neraka. Bahkan ini pun masih ada
- perbedaan. Ada yang mengatakan
- mutaammidan, ada yang mengatakan tidak
- menggunakan mutaamidan.
- Adapun sunah amaliah, sunah amaliah
- banyak yang mutawatir. Yaitu apa? sunah
- yang disepakati generasi demi generasi
- dari amalan rasul seperti salat.
- Rukun-rukun yang disepakati ya itu
- merupakan sunah amaliah. Tapi kalau yang
- sifatnya quliah ucapan Rasulullah begini
- atau begitu itu justru kebanyakan
- hadisnya ya tidak kuat diriwayatkan
- dalam bentuk ahad. Bahkan banyak
- hadis-hadis yang bertentangan secara
- pasti dengan Al-Qur'an. [mendengus]
- Oleh karena itu, Alkhatib Albaghdadi,
- Abu Ishaq Assyairazi dan ulama-ulama
- hadis mengatakan apabila benar satu
- hadis bertentangan Al-Qur'an, maka wajib
- hadis tersebut ditinggalkan. Begitu juga
- hadis yang bertentangan dengan
- albadihiyatul aqliyah dengan akal sehat
- ya yang disepakati oleh orang-orang yang
- berakal. Maka yakin hadis tersebut bukan
- dari Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam tapi kebohongan yang
- mengatasnamakan Rasul. Contoh jangan
- jauh-jauh. Hadis yang menggambarkan Nabi
- Musa ya yang menjadi bahan pembicaraan
- di tengah-tengah Bani Israil katanya
- kemaluannya ada kelainan.
- Allah ingin membuktikan bahwa hal
- tersebut tidak benar. Akhirnya Nabi Musa
- ketika sedang mandi,
- bajunya dibawa lari oleh batu.
- Nabi Musa dalam keadaan terbuka auratnya
- mengejar-ngejar baju ya batu tersebut.
- Saya mengata, "Wahai batuak bajuku."
- Wahai batu, wahai batu bajuku.
- Akhirnya Bani Israil melihat aurat Nabi
- Musa. Mereka mengatakan ternyata tidak
- benar ucapan kami.
- Isu yang beredar tidak ben
- tidak benar
- benar. Coba mungkin gak kira-kira Allah
- permalukan nabinya sedemikian rupa kalau
- kiai dipermalukan seperti ini, orang
- mengatakan, "Kiai,
- ada gangguan jiwa." Masa makhluk yang
- diutus sebagai rasul yang hidup dalam
- kebersihan, kemuliaan mengalami hal
- seperti ini dipermalukan. Begitu juga
- Nabi Musa katanya apa? Ketika mau
- dicabut nyawanya oleh Izrail,
- Musa menonjok Izrail hingga matanya
- keluar. Ini mustahil datang seorang nabi
- yang menghadap yang didatangi oleh
- utusan Allah untuk menjemput dirinya.
- Apalagi mereka lebih mencintai akhirat
- daripada kehidupan dunia. Ini hadis
- terdapat dalam Sahih Bukhari, dalam
- Sahih Muslim.
- Nah, Bukhari Muslim mengumpulkan hadis,
- tapi yang dikumpulkan tidak pasti ya
- sebagai hadis yang benar kecuali sejalan
- dengan Al-Qur'an dan nilai-nilai
- Al-Qur'an. Begitu juga dengan akal
- sehat. Oleh karena itu kalau ada hadis,
- ada hadis ya yang katakan diriwayatkan
- dari Nabi bertentangan dengan
- albadihiyatil aqliyah dan ilmiah ya
- secara aksiomatis, maka kita menolak
- hadis tersebut. Ini berdasarkan
- pernyataan dari ahli hadis sendiri
- seperti alkhatib, albaghdadi, Abu Ishaq,
- Assyairazi dan dia merupakan orang-orang
- yang berasal dari kal ahlus sunah. Jadi
- jangan dianggap mereka ingkar sunah.
- Mereka mengingkari kebohongan atas nama
- Rasul. Adapun sunah Nabi yang sejalan
- dengan Al-Qur'an karena Nabi
- menyampaikan amanat Allah risalahnya
- tidak mungkin antara ucapan perbuatannya
- bertentangan dengan Qur Quran. Mustahil.
- Nah, cuma orang kalau dari mulai kecil
- sudah belajar dimulai dari hadis dan
- fikih. Begitu baca Quran, Quran
- disesuaikan dengan fikih. Quran
- disesuaikan dengan hadis. Karena yang
- pertama kali dipelajari bukan kitab
- Allah. Padahal dia rukun iman.
- Dia rukun i iman. Sedangkan hadis
- terkumpul setelah wafatnya Rasul.
- Dikumpulkan oleh para penguasa Bani
- Umayyah. Pertama-tama
- dikumpulkan pada masa
- kekuasaan Bani Umayyah. Oleh karena itu,
- banyak kebohongan-kebohongan yang masuk
- ke dalamnya. Nah, kita memilih dari
- riwayat hadis yang sesuai dengan Quran.
- yang tidak sesuai mardudun ala rawihi
- waqilii ayan kita tolak siapapun rawinya
- siapapun penulisnya apapun golongannya
- kita tidak melihat mau Syiah mau sunah
- siapa saja yang meriwayatkan hadis yang
- bertentangan dengan Al-Qur'an maka orang
- ini jelas-jelasan menggantikan Al-Qur'an
- dengan apa-apa yang tidak benar. Jadi
- pegangan kita adalah Al-Qur'an
- dan Al-Qur'an juga saling menjelaskan
- satu dengan lainnya dan apa yang datang
- dari Rasul yang sejalan dengan Al-Qur'an
- itu yang kita ikuti dan kita bisa
- bertanggung jawab di hadapan Allah.
- Ketika ditanya, "Kenapa kamu menolak
- hadis ini?" Kita katakan, "Ya Allah,
- bagaimana kita menerima sesuatu yang
- bertolak belakang dengan kitabmu?" Tapi
- kalau kita menerima satu riwayat padahal
- yakin bertentangan dengan Quran. Kalau
- Allah bertanya, "Kenapa kamu menerima
- riwayat ini?" Karena ini hadis
- Rasulullah, mana mungkin Rasul kok
- menyampaikan sesuatu yang bertentangan
- dengan Al-Qur'an. Jadi, kita ingin punya
- hujah kuat di hadapan Allah bahwa kita
- mengikuti sesuatu atas dasar kebenaran
- yang datang dari Quran. Begitu juga
- sesuai dengan akal yang Allah berikan.
- Karena [berdehem] akal ini yang membuat
- seorang layak menjadi mukalaf. Kalau dia
- kehilangan akal, bukan lagi mukalaf.
- Quran berbicara kepada para mukalaf
- yaitu albaligh al-aqil. Orang yang
- baligh dan berakal. Adapun yang tidak
- berakal, orang-orang seperti mereka
- orang-orang yang makzur. Tapi sayang
- sekarang lebih banyak yang tidak berakal
- tampil daripada orang yang berakal.
- Jadi bukan Qurannya yang salah tapi
- orang-orang yang tidak berakalnya ini
- yang mengaku orang-orang yang
- menyampaikan agama padahal mereka
- berkhianat terhadap agama Allah
- Subhanahu wa taala. Wallahuam.
- Baik, Ustaz. Nah, ini saya jadi teringat
- ee anak-anak kita, Ustaz di pesantren
- banyak yang apa istilahnya dianjurkan
- untuk menghafal banyak hadis, kemudian
- juga mungkin tentunya Quran juga, Ustaz.
- E yang diutamakan tentunya Quran dan
- Ustaz
- mestinya
- mestinya gitu, Ustaz. Bagaimana, Ustaz?
- Sebetulnya ya saya ini punya pengalaman
- waktu di pesantren.
- Pertama kita belajar fikih dulu Fathul
- Qarib. Kemudian kita pindah kepada
- syarahnya Albaijuri.
- Belajar juga Fathul Muin, Ianah at
- Thalibin. Sebelum saya berangkat ke
- Mesir dulu, saya selalu mengatakan,
- "Saya tidak akan merasa puas sebelum
- menguasai al-minhaj dan syarahnya
- [mendengus] dalam fikih Syafi'i. Dan
- pada saat itu kita ini hitam putih. Apa
- yang bertentangan dengan apa yang
- terdapat dalam buku tersebut kita anggap
- batil. berbeda dengan kita. Golongan
- mereka beda dengan kita. H.
- Begitu saya berangkat ke Mesir sampai di
- sana merupakan rahmat Allah. Kalau kita
- berdialog dengan teman-teman, saya
- katakan
- Imam Fulan berkata begini,
- Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata
- begini, Ikhwan kita di sana mengatakan,
- "Kami ingin tahu dalilnya apa?"
- Dalil apa? supaya kami mengikuti sesuatu
- atas dasar dalil. Karena mereka kan
- merupakan ulama-ulama
- yang menyampaikan pesan Allah dan
- Rasul-Nya kan.
- He.
- Nah, kalau mereka berbicara tanpa dasar
- kita tidak wajib mengikuti. Lalu saya
- berkata pada mereka, "Memangnya kalian
- merasa lebih alim dibandingkan mereka?"
- Mereka mengatakan tidak. Tapi kita
- diperintahkan untuk mengikuti suatu asas
- dasar ilmu.
- Dari berbagai macam koreksi, kritikan,
- saya merasa seolah-olah saya menjadi
- orang yang paling bodoh.
- He.
- Perasaan kita gelap
- sampai kita menemukan Al-Qur'an.
- Walaupun dulu kita baca Al-Qur'an tapi
- belum meresapi Al-Qur'an.
- Hingga satu orang datang kepada saya
- mengatakan, "Ustadz, saya ingin membaca
- sebuah tafsir. Bisa enggak membantu
- saya?" Saya bilang, "Siap. Karena saya
- kebetulan hobi belajar, hobi mengajar.
- Begitu saya mengajarkan tafsir tersebut,
- mulai saat itu saya merasakan selama ini
- saya dalam kegelapan, kebodohan. Kitab
- suci Al-Qur'an di hadapan saya begitu
- indah memberikan jawaban terhadap
- berbagai macam persoalan. Tapi ternyata
- kita lebih suka hidup di empang yang
- tidak mengalir, yang penuh dengan jentik
- dan cuk.
- Begitu kita mempelajari Al-Qur'an, kita
- merasa umat Islam ini merupakan satu
- umat. Tuhan mereka satu, nabi mereka
- sama, pedoman hidupnya sama. Dan saya
- menemukan ternyata selama ini kita
- dibutakan oleh fanatisme kita, oleh
- kebodohan kita. Kita melihat tapi sama
- dengan buta, mendengar sama dengan orang
- yang tuli. Diberikan akal tapi tidak
- berpikir. Ternyata Al-Qur'an mengajak
- kita semua untuk bersatu dalam agama
- Allah. Berpegang pada kitabnya. Kita
- bedakan antara syariat yang datang dari
- Allah, keterangan yang langsung datang
- dari Allah dengan interpretasi manusia.
- Nah, interpretasi manusia ini pemahaman
- namanya fikih.
- Fikih bisa berbeda-beda.
- Dari satu sudut ya bisa berbeda dengan
- sudut yang lain. Dari satu keadaan bisa
- berbeda dengan keadaan yang lain. Oleh
- karena itu dalam menyikapi fikih manusia
- kita harus bersikap luas.
- Tapi syariat yang datang dari Allah yang
- pasti dari rasulnya kita katakan samna
- wa atna.
- Jadi saya menyadari keadaan ikhwan kita
- yang belajar hadis, yang belajar juga
- apa? Yang belajar fikih. Akhirnya ketika
- mereka mempelajari hadis fikih lebih
- awal kemudian Al-Qur'an hanya dibaca
- saja akhirnya mengakibatkan apa? Mereka
- berjalan di tengah-tengah apa?
- Kebimbangan dan dugaan.
- Karena alfiqhu sifatnya doni. Riwayat
- hadis juga sifatnya doni. Tapi kalau
- Al-Qur'an kan pasti. Oleh karena itu,
- satu orang ketika dibacakan Quran dia
- mengatakan qala Rasulullah.
- Ulama tersebut mengatakan aul laka
- qallallah wat taquul qala rasulullah
- aturidu alquran birasulillah
- war rasul sallallahu alaihi wasallam
- yuballah.
- Saya bacakan qalallah, kamu mengatakan
- qala Rasulullah. Padahal Rasul yang
- menyampaikan risalah Allah. Apa kamu
- ingin membenturkan mengadu antara
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- dengan Al-Qur'an? Jadi banyak keanehan.
- Yang lebih dahsyat lagi sewaktu kita
- bacakan Quran, bahkan kita bacakan hadis
- yang sejalan dengan Quran, mereka
- mengatakan kita hanya memahami Al-Qur'an
- dan hadis berdasarkan salaf. Jadi yang
- menjadi hakim bukan Quran tapi salaf.
- Saf
- kita bertanya salaf yang kalian
- maksudkan siapa? Sahabat. Kalau sahabat
- berbeda
- tunjukkan siapa salaf yang kau
- maksudkan.
- Orang-orang yang mengaku Salafi ini
- berbeda-beda rujukannya. Salafi Hadramut
- beda, Salafi Saudi beda, Salafi Yaman
- juga beda.
- Jadi betul-betul kita kembali kepada
- sesuatu yang tidak menentu. Kenapa tidak
- kembali kepada Al-Qur'an?
- Salaf, sahabat, dan siapapun juga
- dihakimi oleh Al-Qur'an bukan
- sebaliknya. Jadi mereka mengatakan kita
- wajib kembali kepada Quran, sunah tapi
- sesuai dengan pemahaman salaf. Karena
- mereka yang memahami maksud-maksud
- Al-Qur'an. Padahal kita tahu bahwa
- riwayat dari sahabat, riwayat dari
- tabiin tentang Al-Qur'an, banyak
- riwayat-riwayat tersebut dipertanyakan
- karena banyak riwayat israiliyatnya.
- Kita bukan mengingkari sahabatnya, kita
- mengingkari kebohongan atas nama Rasul
- dan atas nama sahabat Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Dan kita
- tidak terikat dan harus kembali kepada
- sahabat dalam memahami Al-Qur'an. Karena
- Al-Qur'an itu sendiri saling menjelaskan
- satu dengan lainnya. Kalau keterangan
- sahabat
- katakan bertentangan dengan
- kandungan Al-Qur'an, apalagi dengan
- berkembangnya ilmu pengetahuan, terbuka
- wawasan-wawasan yang dulu apa? yang dulu
- belum kita pahami. Maka dengan
- sendirinya dalam hal ini kita harus
- menempatkan Al-Qur'an pada urutan yang
- pertama di pesantren.
- Di samping mereka belajar ilmu yang
- lain, tapi yang paling utama Quran yang
- dijelaskan. Oleh karena itu, saya ingat
- mungkin sebagai ee jawaban yang terakhir
- untuk hari ini. Saya di antara pelajaran
- yang saya pelajari di pesantren yang
- paling menyentuh
- pada saat guru saya menyampaikan
- Al-Qur'an. Dia membacakan Al-Qur'an
- sambil berlinang-linang air matanya
- menjelaskan sesuai dengan pemahaman dia.
- Itu justru yang menyentuh. Saya punya
- ayah dulu di pesantren sering di masjid
- kumpulkan anak-anak membacakan tafsir.
- Saya merasakan di antara semua pelajaran
- yang saya pelajari justru tafsir yang
- paling menyentuh.
- Tafsir Quran yang paling menyentuh hati.
- Saya merasakan getarannya berbeda.
- Sentuhannya, kelembutannya. Demikian
- pula belayan. Kita merasakan sensasi
- kelembutan.
- belayan yang amat indah dan jauh dari
- sikap-sikap ekstrem yang membuat
- akhirnya agama ini betul-betul
- menakutkan, mengerikan dan menggambarkan
- Tuhan hantu bukan Tuhan yang pengasih
- dan penyayang. Wallahuam.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilaha illa anta astagfiruka wa atubu
- ilaik.
- Baik, demikianlah ikhwan akhwatungan di
- bawah nawangan Al-Qur'an bersama guru
- kita Ustaz Husein Alat Atas menjawab dan
- juga menjelaskan pertanyaan dari
- beberapa ikhwan dan akhwat tadi ya
- terkait ee Al-Qur'an dan juga hadis dan
- juga sunah Rasulat. Semoga ee penjelasan
- yang disampaikan oleh guru kita Ustaz
- Husain Alatas memberikan ibrah,
- pelajaran dan hikmah untuk kita semua.
- Saya Rizal Hak bersama teman-teman yang
- bertugas di kesempatan pagi hari ini ada
- Kang Ondi Saputra dan juga Ustaz Algi
- Fakrji undur diri subhanak asu ilahaill
- wasalamualaikum warahmatullahi wabarakat
- warahmatullah wabarakatuh H