Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 [musik] Brail 0:24 [musik] 0:33 Bismillahirrahmanirrahim. 0:35 Asalamualaikum warahmatullah 0:36 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:38 rahimakumullah. 0:40 Syukur alhamdulillah kita dibersamai di 0:42 hari ini dalam acara tausiah pagi 0:45 bersama Ustaz Abul Hidayah Saioji yang 0:49 mudah-mudahan 0:50 urutan bahasan belakangan ini 0:53 benar-benar mempersuasi kita semua untuk 0:56 nanti [batuk] mampu [berdehem] melewati 0:58 dengan 1:00 mantap ya jalan menuju ke surga. 1:04 Pagi ini semua sehat? Alhamdulillah. 1:08 Dan tidak lupa tentu saja salam selawat 1:11 kita lantunkan [musik] untuk junjungan 1:13 umat kekasih kita Muhammad Rasulullah 1:15 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita 1:18 mendapatkan syafaat beliau ya dan nanti 1:20 bersama beliau di saat yang kita 1:23 rindukan di yaumil akhir. Ikhwan akhwat, 1:27 kita sudah semakin menuju ke akhir tahun 1:30 ini dan mudah-mudahan semua bisa kita 1:34 isi sebaik yang 1:37 seharusnya bukan cuman semampunya ya. 1:40 Pak Abdul Hidayat Sairji, Ustaz kita 1:43 pagi ini sudah siap kita sapa beliau. 1:46 Asalamualaikum warahmatullahi 1:48 wabarakatuh, Ustaz. 1:50 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:52 wabarakatuh. 1:53 Alhamdulillah sehat. Lanjutan kita kalau 1:56 yang minggu lalu tentang makna yang 2:00 tersirat dari sayidul Istigfar. Kali ini 2:03 masih di bab 3. Bahas apa nih, Ustaz? 2:04 Iya. 2:06 Alhamdulillah kita akan bahas tentang 2:08 bab ketiga ini. 2:11 Mencari nafkah sebagai kewajiban sudah 2:14 kita buka kemarin. 2:16 He. 2:16 Kemudian hari ini kita akan bicarakan 2:19 tanggung jawab suami sebagai kepala 2:22 rumah tangga. Oeh. 2:25 Bukan berarti hanya didengar oleh suami, 2:28 tapi wahai para istri nanti kalau juga 2:30 menyimak acara ini sementara ee belahan 2:34 [berdehem] jiwa tidak sempat karena ada 2:36 aktivitas bisa dilihat juga di YouTube 2:39 kami. Jadi mari kita simak apa sajakah 2:44 tanggung jawab suami sebagai kepala 2:46 rumah tangga? Yuk, kita dengarkan dengan 2:49 telinga jiwa kita. Silakan, Ustaz. 2:53 Bismillahirrahmanirrahim. 2:55 Asalamualaikum 2:57 warahmatullahi 2:59 wabarakatuh. 3:00 Waalaikumsalam warahmatullah. 3:02 Alhamdulillah wasyukrulillah 3:05 la haula wala quwwata illa billah. 3:09 Qallahu taala fil quranil karim. 3:12 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 3:15 Bismillahirrahmanirrahim. 3:18 Ya ayyuhalladzina amanu 3:21 qu anfusakum wa ahlikum naro al ayah 3:27 waqala nabi shallallallahu alaihi 3:29 wasallam 3:32 wattaqulaha fi nisaikum 3:37 fainnakum waakodumuhunna bianatillah 3:41 al hadis rawahul bukhari sadaqallahul 3:45 adzim wag rasulul karim 3:54 Ayuhal ikhwah rahimakumullah. 3:56 Para ikhwan, saudara-saudaraku kaum 3:59 muslimin dan muslimat di mana pun Anda 4:03 berada. 4:05 Tentu saja kita bersama-sama 4:08 mengucapkan syukur alhamdulillahiabbil 4:12 alamin. 4:14 Segala puji bagi Allah. segala kebajikan 4:18 yang kita miliki, keutamaan, 4:22 kekayaan, kepintaran, kehebatan, 4:27 pengaruh, apalagi pokoknya yang 4:29 baik-baik, yang utama, yang hebat-hebat 4:31 itu semuanya adalah milik Allah. He 4:37 kalimat ini mengingatkan pada kita 4:39 berarti yang kita sandang, 4:42 yang kita miliki 4:44 itu anugerah dan sekaligus statusnya 4:46 sebagai pinjaman. Anugerah dan pinjaman 4:50 yang akan diminta tanggung jawab. 4:55 Akan ditanya, 4:57 dikasih kesempatan 5:00 lama di dunia, apa saja yang kau 5:03 lakukan? 5:05 diberi modal harta, rezeki, 5:09 kau 5:11 dapat dari mana? Kau gunakan untuk apa? 5:15 Demikian juga soal ilmu, soal yang 5:18 lain-lain. Jadi, ada konsekuensinya 5:21 hidup ini, ada hitungannya. 5:25 Oleh karenanya kalimat hamdalah ini 5:28 harus selalu dikaitkan, disandarkan 5:32 motivasi dan orientasi hanya kepada 5:35 Allah. 5:38 Kesadaran ini akan melahirkan 5:40 rasa syukur 5:43 dan 5:44 tidak akan berani 5:47 menggunakan anugerah titipan dari Allah 5:50 berupa kehebatan-kehebatan 5:52 yang kita sandang, yang kita miliki 5:55 kecuali untuk kebaikan semata-mata. 6:00 Ibarat 6:02 [berdehem] 6:03 orang 6:05 berusaha 6:07 menjadi seorang pengusaha. 6:12 Anugerah yang Allah berikan berupa 6:14 waktu, tenaga, kecerdasan, pikiran, 6:17 harta, dan kehebatan lain itu bisa 6:20 sebagai modal. 6:25 Kalau modal berarti yang diharapkan dari 6:29 modal itu adalah keuntungan. 6:32 He. 6:33 Produknya, 6:34 hasilnya, 6:36 kontribusinya. 6:39 Makin besar modal 6:42 keuntungannya harus lebih besar. Makin 6:44 besar. 6:47 Kalau digambarkan 6:50 sebuah kendaraan, 6:53 kalau kendaraan motor yang CC-nya hanya 6:56 berapa? 6:58 150 cc dan seterusnya ya paling untuk 7:01 dua orang. 7:03 Kalau kemudian mobil 7:06 1500 cc 7:08 itu tentu muatan harus lebih banyak 7:10 apalagi tronton mobil gandeng CC-nya 7:14 besar. 7:16 kapasitas besar, tenaga besar, tentu 7:19 muatannya juga harus jauh lebih banyak. 7:24 Nah, pertanyaannya 7:27 kita kadang-kadang lupa misalnya orang 7:30 sukses berusaha menjadi orang kaya, 7:34 kekayaannya berlimpah. He. 7:36 Tapi lupa 7:38 ini keuntungannya, produknya apa 7:44 yang bisa kita berikan, kita sumbangkan, 7:46 kita persembahkan kepada yang nitipkan 7:49 kehebatan itu yaitu Allah. 7:54 Dan yang kedua, apa yang bisa kita 7:56 berikan pada sesama dari modal yang 7:59 besar yang Allah berikan pada kita. 8:02 Karena dua dimensi itu yang sering 8:04 bolak-balik saya sebut di sini dimensi 8:07 vertikal kepada Allah, dimensi 8:10 horizontal kepada sesama manusia. 8:13 Sejauh di mana rasa syukur kita kepada 8:15 Allah? Sejauh di mana ketaatan kita 8:18 kepada Allah. Sejauh di mana kita rida 8:22 cinta 8:24 menjalankan semua cita dan perintah 8:26 Allah. Sejauh di mana kedekatan kita dan 8:29 seterusnya. ini jadi parameter. 8:34 Jadi kalau modalnya besar ya tentu lebih 8:36 dekat, 8:38 lebih takarub, 8:41 lebih cinta, lebih berbakti dan 8:44 seterusnya. 8:46 Kemudian modal yang Allah miliki, Allah 8:49 berikan pada kita itu untuk berbuat 8:51 baik, untuk memenuhi dimensi kedua, 8:54 yaitu dimensi horizontal. Sejauh di mana 8:57 kau berbuat baik, memberi manfaat pada 8:59 sesama. 9:01 Khairun nas anfauhum linas. 9:05 Sebaik-baik manusia adalah yang paling 9:07 banyak memberi manfaat mereka terhadap 9:09 manusia lainnya. 9:11 He. 9:12 Nah, ini kan dua ini yang harus jadi 9:13 pertimbangan untuk mengukur diri, 9:16 parameter diri. 9:18 Maka di dalam Al-Qur'an, kenapa surat 9:21 yang jadi favorit dalam surat wal asri 9:25 innal insana lafi khusrin? 9:28 Allah menggunakan waktu sebagai 9:32 perhatian kita demi waktu. 9:36 Innal insana lafi khusrin. Sesungguhnya 9:41 manusia dalam keadaan rugi. Sungguh 9:45 dalam keadaan rugi. 9:47 Kalau rugi ini biasa dipakai untuk 9:49 niaga, untuk usaha. 9:52 Mungkin definisinya orang rugi itu 9:54 adalah orang yang tidak mendapatkan 9:56 keuntungan 9:58 dari modal yang ada. 10:00 Bahkan kadang-kadang kalau yang lebih 10:03 patah lagi, jangankan untung, modalnya 10:05 sampai habis juga 10:08 berarti krisis. He. 10:10 Nah, kenapa hidup ini Allah memberikan 10:13 satu gambaran hidup manusia itu rugi. 10:18 Nah, ternyata menurut pemikiran, 10:20 pemahaman saya karena Allah sudah 10:22 memberikan kesempatan, 10:24 potensi, 10:26 fasilitas, 10:28 kehebatan yang luar biasa pada manusia, 10:30 kepada kita. Walaupun masing-masing ada 10:33 yang diberikan kelebihan, di sisi lain 10:36 ada kekurangan. ada yang beri 10:38 kekurangan, sisi lain ada kelebihan dan 10:40 seterusnya. Itu yang disebut modal. Maka 10:45 kalau kita mau menghayati ternyata yang 10:48 ada kita yang kita sandang, yang kita 10:51 miliki ini adalah modal yang Allah 10:54 anugerahkan. Diharapkan 10:57 dengan modal itu kita bisa mendapatkan 11:00 prestasi yang bagus, bisa memberikan 11:04 kontribusi produk yang bisa mengantar 11:08 kita lebih dekat kepada sang pencipta, 11:11 bisa mempertanggungjawabkan hidup ini 11:12 kepada sang pencipta dan yang kedua 11:15 banyak memberi manfaat terhadap sesama. 11:17 Itu baru orang yang 11:20 untung. Tapi kalau enggak ada produknya, 11:24 mobil gede, CC-nya besar, mobilnya mobil 11:27 gandeng, sopirnya hebat, 11:29 tapi cuma lontang lantung sana kemarin 11:31 gak ada gunanya, gak bisa memberi 11:33 manfaat. 11:36 Jadi kalau modalnya besar, mestinya 11:37 produknya juga harus besar. 11:40 Nah, pertanyaannya apa yang kita sudah 11:43 usahakan menjadi memberikan kontribusi 11:46 dalam kehidupan? 11:49 itu selalu harus kita tanyakan karena 11:51 kita berpacu dengan waktu. 11:54 Makin lama kita bukan makin jauh, makin 11:58 dekat. Dekat ke mana? Dekat mati. 12:03 Semua mau mati. Raja-raja mati, 12:09 orang kaya mati, orang miskin 12:12 mati, 12:13 yang hebat mati, yang enggak hebat 12:15 apalagi? 12:17 Jadi kita akan mati. Jadi makin lama 12:19 berpacu dengan waktu kita makin dekat 12:22 pada kematian untuk kembali pada Allah. 12:25 Dan akan diminta itu modalnya itu 12:28 dikemanakan, 12:29 produknya mana, hasilnya mana, 12:32 manfaatnya mana kontribusinya mana. 12:36 Tuh. Jadi dari sekarang mulai itu 12:39 evaluasi. 12:41 Maka yang sudah umur 40 12:44 kan tua itu dimulai 40 bukan 70. 12:48 40 tiap tahun nambah nambah nambah 12:52 tahu-tahu 50 yang 50 setiap tahun nambah 12:56 lagi 60 12:58 dan seterusnya. Produknya mana? 13:03 Amal baiknya mana? Kedekatanmu dengan 13:06 yang telah memberikan segalanya kepadamu 13:09 itu mana? 13:12 Sejauh di mana keberadaan kamu di tengah 13:15 masyarakat dalam berinteraksi sosial? 13:18 Konstribusinya mana? Yang diberi ilmu 13:22 banyak produknya mana? Ilmunya 13:25 dikemanakan 13:26 sejauh di mana bisa memberi manfaat 13:28 terhadap banyak orang untuk masyarakat 13:31 bangsa. Kalau lebih besar lagi untuk 13:33 negara, umat manusia 13:36 yang diberi kekayaan sudah jauh di mana 13:39 kekayaan itu hartanya itu mengantar kamu 13:42 menjadi orang yang berguna di 13:44 tengah-tengah masyarakat dan seterusnya. 13:47 Itu semua akan diminta tanggung jawab. 13:53 Oleh karenanya sekali lagi di balik 13:55 kalimat hamdalah ternyata tersirat 13:58 banyak hal yang perlu kita kembangkan 14:01 untuk bisa menyelaminya sehingga akan 14:03 melahirkan betul menjadi hamba yang 14:05 selalu bersyukur dan memuji kepada Allah 14:08 Tuhan kita yang telah memberikan 14:11 segalanya. Sampai Rasulullah mengatakan, 14:14 "Siapa yang banyak bersyukur dengan 14:17 banyak mengucapkan kalimat hamdalah 14:19 dengan segala isi dan penghayatan yang 14:22 makin dalam, maka dia akan dijamin. 14:26 bangunkan rumah di surga namanya Baitul 14:30 Hamdi, rumah pujian 14:33 untuk orang-orang menghayati dari 14:36 kalimat hamdalah tadi yang melahirkan 14:39 diekspresikan 14:41 dalam kehidupan pujian riil sehingga dia 14:45 memuji Allah dan menjadi hamba yang 14:48 terpuji di sisi Allah Subhanahu wa 14:50 taala. Heeh. 14:52 Hari ini kita masih membahas dalam buku 14:55 yang sengaja saya bedah buku sayang 14:59 kalau kita lewatkan meniti jalan ke 15:01 surga agenda harian seorang muslim dalam 15:05 rangka upaya membangun karakter sebagai 15:09 seorang muslim yang tidak hanya 15:14 mengedepankan pengakuan sebagai seorang 15:17 muslim apalagi hanya mengaku dirinya 15:20 sebagai orang mukmin, tapi aplikasinya 15:23 di mana? Nah, kita mencoba 15:25 mengekspresikan, 15:27 menterjemahkan makna Islam, makna iman 15:30 dalam realita kehidupan sehari-hari. 15:33 Karena syarat iman itu adalah dibenarkan 15:37 oleh hatinya, diikrarkan oleh lisannya, 15:41 dan dipraktikkan 15:43 dalam realita kehidupan sehari-hari. 15:47 Jadi gak cukup hanya ngaku salat betul 15:50 ibadah kepada Allah dan disunahkan 15:54 berjamaah. Tetapi itu syarat makna. 15:57 Bagaimana aplikasinya di tengah ee 16:01 interaksi sosial di tengah masyarakat. 16:03 Bagaimana sikap kita, perilaku kita. 16:06 Nah, ini semua harus kita terjemahkan, 16:08 harus kita maknai dalam kehidupan. 16:11 Baik. Maka dari bab ketiga ini adalah 16:16 dimulai dari membangun peradaban, 16:21 membangun masyarakat, membangun sebuah 16:24 kaum dimulai dari rumah tangga. Rumah 16:29 tangga adalah gabungan antara dua 16:32 pribadi, dua karakter yang berbeda yang 16:36 berserikat untuk membangun sebuah rumah 16:39 tangga. 16:40 dari rumah tangga inilah kemudian 16:42 berkembang pihak menjadi masyarakat, 16:46 menjadi suku, menjadi kaum masyarakat 16:49 secara luas. Nah, oleh karenanya sebagai 16:53 pribadi sebenarnya di atas pundaknya itu 16:56 ada amanat, ada tanggung jawab ikut 16:59 serta membangun peradaban. 17:03 Peradaban satu bangsa, peradaban satu 17:05 masyarakat itu sangat tergantung kiprah 17:09 dimulai dari kita pribadi dan rumah 17:13 tangga. 17:14 Jadi Islam itu luar biasa ya dalam 17:16 masalah pernikahan itu 17:18 betul-betul diarahkan bukan sekadar 17:21 pertemuan laki-laki dan perempuan 17:24 melekalisir 17:26 pertemuan dua insan yang berbeda jenis 17:29 untuk membangun sebuah rumah tangga. 17:33 sekadar itu bukan lebih jauh ternyata 17:36 cikal bakal peradaban dimulai dari rumah 17:40 tangga yang rumah tangga dikepalai oleh 17:43 seorang suami yang akan bertanggung 17:46 jawab lajunya berjalannya tujuannya 17:51 mahligai rumah tangga atau nahoda 17:54 keluarga. Maka di sini [berdehem] pada 17:57 halaman 60 18:00 subjudul mengatakan tanggung jawab suami 18:04 sebagai kepala rumah tangga. Ini 18:07 dengerin suami-suami 18:09 ya, baik suami lama ataupun yang baru 18:12 atau mau jadi suami. Karena jadi suami 18:15 bukan hanya mengandalkan lanangane tok, 18:19 kejantanan. 18:21 Kalau kejantanan namanya sapi. Nah, itu 18:24 untuk pajak namanya. 18:27 Hanya untuk itu. Bukan manusia bukan 18:30 itu. Jangan sampai ada wong lanang 18:34 hilang kaprawirane. 18:36 Orang laki-laki hilang sifat satrianya. 18:39 Jati diri sebagai mukmin sejati dalam 18:41 bangun rumah tangga hilang. Yang sisa 18:44 hanya cuma karena kejantanannya saja. 18:46 Wah, repot ini ya. Kalau sapi sih 18:49 mending bisa dijual. Ya, kalau orang 18:51 enggak ada kepribadiannya yang berfungsi 18:54 sebagai seorang suami yang bertanggung 18:56 jawab. Nah, di sini diuraikan [berdehem] 19:01 sejak seorang laki-laki menerima atau 19:04 mengucapkan ijab qabul. 19:07 Tuh, ini penganten-penganten lama ini 19:09 dengerin kadang-kadang suka lupa. Lupa 19:12 pernah jadi penganten ya, apalagi yang 19:15 baru jadi penganten. Jadi ijab qabul 19:18 yang ucapannya hanya berapa kata saja, 19:21 berapa kalimat, ternyata ini luar biasa. 19:26 Ijab kabul di hadapan wali nikah 19:30 yang kemudian menjadi mertuanya. 19:32 Maka dia telah mengikat janji dengan 19:35 ikatan kokoh yang disebut dalam surat 19:38 An-Nisa itu adalah 19:41 dengan kalimat msaqon golidon. 19:46 Ikatan suci, ikatan agung, ikatan yang 19:51 kuat yang tentu penuh-penuh dengan 19:54 makna. 19:55 sebagai suami yang berfungsi sebagai 19:57 kepala rumah tangga yang mempunyai 20:00 kewajiban dan tanggung jawab terhadap 20:04 semua urusan keluarga. 20:07 Jadi ketika hijab kabul itu berarti dia 20:09 menerima estapet kepemimpinan, 20:12 penyerahan tanggung jawab dari 20:15 orang tua perempuan. 20:18 Bapak Ibu dari pihak wanita, penganten 20:21 wanita itu merawat gula mentah. curahan 20:25 kasih sayang diberikan pada anak 20:28 perempuan dengan kasih sayang yang luar 20:31 biasa. Kemudian sudah dewasa 20:35 kemudian ada yang minta dikasihkan gitu 20:37 loh. Masyaallah. Ini buah hati permata 20:40 jiwa orang tua. Ada yang minta calon 20:44 menantu itu. Ya memang sudah begitulah 20:48 sunatullah ya. diberikan coba 20:51 dikasihkan. 20:53 Kalau diminta duitnya R juta belum tentu 20:56 dikasih tapi diminta anaknya dikasih. 20:59 Nah, masyaallah maka ijab kabul tadi 21:02 adalah merupakan komitmen yang disebut 21:05 missaqon golidon. berarti menyerahkan 21:09 estabet kepemimpinan dan tanggung jawab 21:12 dari putra buah hati permata jiwanya 21:15 yang selama ini dicilik dientik-entik 21:18 gede dengan curahan kasih sayang 21:20 diberikan kepada menantunya calon 21:24 menantu yang kemudian menjadi menantu. 21:28 Berarti 21:30 suami setelah menerima estafet itu 21:33 berfungsi sebagai kepala rumah tangga. 21:37 yang mempunyai kewajiban dan tanggung 21:40 jawab terhadap semua urusan keluarga. 21:45 Nahoda, kalau kapal mau dibawa ke mana 21:49 kapal terserah nakhodanya ke barat, ke 21:52 timur, ke utara dia menghadapi gelombang 21:55 arus badai, dia harus bisa selamat. Ke 21:59 mana tujuannya? Ke pantai harapan 22:02 kebahagiaan. 22:03 Kalau orang beriman menjadikan hidup ini 22:06 ke mana tujuannya? Tentu rida Allah 22:08 Subhanahu wa taala. Pantai harapan yang 22:11 menjadikan kebahagiaan yang diridai oleh 22:14 Allah Subhanahu wa taala. Wih, berat 22:16 kalau gitu ya. Kalau tahu begini calon 22:18 penganten enggak jadi penganten ini 22:20 ditunda dululah. Oleh karenanya 22:22 dimatangkan dulu tanggung jawab ini. 22:24 Paling tidak dihayati tentang rasa 22:27 tanggung jawab. Oleh karenanya suami 22:31 setelah ijab kabul itu dia menjadi 22:33 pelindung 22:35 istri, keluarga, 22:38 menjadi pembimbing 22:41 yang juga pendidik bagi semua 22:43 keluarganya. 22:44 Istri berarti dia harus memposisikan 22:48 secara tidak langsung sebagai guru. Guru 22:51 laki, 22:52 sebagai guru suami menjadi membimbing, 22:55 mendidik istri. tidak membiarkan istri 22:59 dalam kesalahan dan dosa. Dia harus bawa 23:02 istrinya pada jalan yang benar, jalan 23:04 yang diridai oleh Allah Subhanahu wa 23:06 taala. Ahah. Ini antara lain jadi dia 23:08 harus menjadi guru. Dia pelindung 23:11 nakhoda, 23:13 sebagai guru yang membimbing. Belum lagi 23:15 nanti kalau Bu punya anak dan 23:17 seterusnya. 23:20 Suamilah yang berkewajiban memberikan 23:22 nafkah terhadap istri dan anak-anaknya. 23:26 Inilah makna ijab kabul sebagai ikrar 23:29 penerimaan estafet kepemimpinan dan 23:32 sekaligus penyerahan tanggung jawab dari 23:35 orang tua istri kepada menantunya. 23:40 Dan itu semua dilakukan dengan nama 23:42 Allah. 23:44 Jadi ijab kabul itu luar biasa loh. Itu 23:47 bukan sekadar aku terima nikahnya dengan 23:50 mahar sekian dibayar tunai sah terus 23:53 senang. Bu itu luar biasa. 23:56 Misakon golidon itu ikatan suci, ikatan 24:00 agung. Ada peristiwa yang luar biasa. 24:03 Dengan ucapan yang diucapkan hanya 24:05 beberapa detik saja peristiwa terjadi 24:08 yang tadinya haram menjadi halal. Coba 24:13 kalau enggak ada ucapan itu haram, 24:15 nyenggol itu haram. Tapi begitu ada 24:17 ucapan itu hukum yang tadinya haram 24:20 menjadi halal. 24:23 yang tadinya dosa dapat pahala 24:27 itu. Tapi di sisi lain juga ada begitu 24:31 tadinya sendiri kita hidup semaunya 24:34 sendiri tapi sekarang sudah berdua 24:37 berserikat dia harus tanggung jawab 24:40 memikul tanggung jawab hamba Allah yang 24:44 berjenis lain yang sudah diserahkan oleh 24:46 mertua kepada kita. 24:49 Jadi kita sudah tidak sendirian, 24:52 tanggung jawab mikul. Kalau mikul karung 24:54 aja berat ya. Ini mikul orang yang punya 24:57 pikiran, punya keinginan dan seterusnya. 25:01 Maka Rasulullah sallallahu alaihi 25:03 wasallam mengingatkan 25:05 nih pada suami-suami nih jangan lupa 25:07 nih. Wattaqulah fi nisaikum 25:12 fainnakum waakumuhunna biamanatillah. 25:17 Bertakwalah kamu kepada Allah. Takut 25:19 kamu kepada Allah 25:22 terhadap urusan istri-istrimu. 25:27 Oh, diingatkan oleh Rasulullah 25:30 itu bukan benda loh yang diserahkan. Dia 25:32 makhluk hidup 25:35 yang punya pikiran, punya latar 25:37 belakang, 25:38 punya keinginan. 25:41 Apalagi wanita yang tentu saja berbeda 25:43 karakternya dengan laki-laki. 25:46 Nah, sekarang kita diserahi itu. Wah, 25:47 ini gak gampang. 25:49 Makanya harus dengan ilmu ya yang saya 25:52 anjurkan saya saya sarankan bukan 25:55 anjurkan pada yang mau nikah itu mesti 25:58 belajar dulu tentang kejiwaan, tentang 26:01 apa itu [mendengus] anatomi seorang ee 26:05 psikis dari seorang wanita, perilakunya, 26:09 keinginannya, caranya dan seterusnya. 26:12 [mendengus] 26:13 Karena sesungguhnya kamu mengambil dia 26:16 kaum wanita 26:18 minta kepada calon mertua 26:21 itu bahkan kemudian dikabulkan 26:26 sehingga menjadi ijab qabul itu 26:28 biamanatilah dengan amanat Allah. 26:33 Jadi dengan nama Allah menjadi halal 26:36 boleh dijadikan ya sebagai partner 26:40 bahkan dalam Quran sebagai pakaian 26:43 yang kapan saja kau mau pakai dipakai 26:46 silakan coba luar biasa yang tadinya 26:50 dosa jadi pahala yang tadinya maksiat 26:52 jadi ibadat 26:54 yang tadinya haram menjadi halal luar 26:58 biasa itu hijab kabel itu. Nah, ini 27:00 ditagih oleh Allah, diingatkan oleh 27:01 Rasulullah sahu alaihi wasallam, 27:02 hati-hati kamu takut pada Allah hanya 27:05 dengan iman kamu dalam membangun sebuah 27:08 rumah tangga. Jangan asal-asal. 27:11 Pernikahan bukan sekedar legalisasi, 27:14 menghalalkan e menjadi hidup bersama 27:17 laki-laki dan perempuan dalam hidup 27:21 bersama. Bukan. Mesti punya misi jauh. 27:24 Kalau surat An-Nisa ayat 1 disebutkan 27:27 bahkan akibat dari rumah tangga itu kamu 27:31 akan berkembang biak laki-laki dan 27:33 perempuan yang banyak. Berarti membangun 27:36 sebuah kaum, sebuah peradaban yang mesti 27:41 dibangun pribadi-pribadi 27:44 yang bertanggung jawab. Yang itu dimulai 27:47 dari rumah tangga kecil. itu salah 27:50 seorang suami mewarnai, 27:54 membimbing, mengarahkan, membawa 27:57 keluarga itu tidak pada jalurnya akan 28:00 melahirkan kumpulan-kumpulan, 28:03 rumah tangga-rumah tangga, 28:05 keluarga-keluarga yang salah jalan, maka 28:08 menjadi satu masyarakat yang salah 28:10 jalan, salah kaprah. Tapi kalau rumah 28:12 tangganya baik, 28:15 melahirkan anak-anak yang baik, yang 28:17 beriman, yang bertakwa, yang saleh, 28:18 ngerti 28:20 fungsi dan kewajiban terhadap Allah dan 28:23 ngerti bagaimana dia mesti dalam 28:25 berinteraksi masyarakat sehingga menjadi 28:27 orang baik, dia akan menjadi konstitusi 28:30 positif dan akan terbangun sebuah 28:32 masyarakat dan peradaban yang santun. 28:36 Tuh 28:38 menurut hadis tersebut 28:40 bahwa istri dihalalkan bagi suami, 28:45 tetapi suami diberi tanggung jawab 28:46 sebagai pemimpin, pelindung, dan 28:49 kesejahteraan keluarga di atas 28:52 pundaknya. 28:54 Maka dia pun diberi hak untuk ditaati 28:57 istri. 29:00 Parameter kesalehan seorang istri diukur 29:03 dengan ketaatan dan baktinya kepada 29:06 suami. Ini luar biasa kehormatan yang 29:09 diberikan suami. Di samping tanggung 29:11 jawabnya yang memang besar juga. 29:14 Kemudian seorang istri kopilotnya 29:17 itu memang di situ ada kriterianya 29:20 tersendiri. dia semenjak ee mengatakan 29:26 oke waktu dilamar setuju siap maka 29:30 berarti dia sudah siap menjadi kopilot 29:32 mendampingi 29:34 pilot mendampingi nakhod dalam 29:36 mengarungi kehidupan dengan tujuan tentu 29:39 bukan hanya di dunia selamat dunia 29:42 akhirat membangun rumah tangga rumah 29:46 tangga yang sakinah mawadah warahmah itu 29:50 dari rumah tangga. 29:52 Kalau rumah tangga, 29:55 kumpulan rumah tangga dari kumpulan 29:57 rumah tangga yang sakinah, mawadah, 29:59 warahmah, masyaallah. Kehidupan itu 30:01 rahmah. 30:03 Kehidupan itu yang yang 30:05 berkembang adalah kehidupan yang ramah, 30:09 kehidupan yang harmonis, kehidupan yang 30:12 sakinah, tentram, adem, ayam, tentram. 30:17 Ini yang menjadi kewajiban kita suami 30:20 nih. Jadi bukan sekadar cari uang, cari 30:23 nafkah, senang sudah itu selesai. Bukan. 30:27 Ini membangun peradaban, 30:29 bangun rumah tangga yang sakinah, 30:31 mawadah warahmah. Kemudian akan 30:33 berkembang kumpulan dari rumah tangga 30:35 yang sakinah, mawadah, warahmah. Menjadi 30:37 sebuah masyarakat peradaban yang santun, 30:40 yang ramah, yang tahu tentang 30:43 nilai-nilai keutamaan. 30:47 Sedang parameter kesalehan seorang 30:49 suami, 30:51 kalau tadi parameter kesalehan seorang 30:53 muslimat itu diukur dari ketaatan bakti 30:57 kepada suami. Sedang parameter kesalehan 31:00 seorang suami diukur dari rasa dari 31:04 tanggung jawabnya terhadap kesejahteraan 31:07 [berdehem] 31:08 dan keselamatan 31:10 seluruh keluarga. 31:12 Berarti kalau seluruh keluarga berarti 31:14 istri nanti punya anak. 31:17 Heeh. 31:17 Kemudian juga terhadap orang tua tetap 31:20 masih sekarang orang tuanya bertambah. 31:23 Yang tadinya dua jadi empat ya. Yang 31:25 disebut mertua itu juga harus 31:27 perilakunya 31:29 sama sebagai orang tua kita. Nah, inilah 31:32 antara lain tanggung jawabnya ada pada 31:35 pundak suami. Dalam hadis Rasulullah 31:38 sallallahu alaihi wasallam disebutkan 31:41 yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, 31:43 Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah 31:46 akan 31:48 menanyai setiap pemimpin." Innallah 31:51 sailu kluin. 31:53 Ya, akan ditanya tiap pemimpin 31:57 tentang apa? Tentang apa yang 31:59 dipimpinnya. 32:00 Apakah dia menjaga atau 32:02 menyia-nyiakannya. 32:04 Sehingga seorang laki-laki maksudnya 32:06 suami akan ditanyai tentang keluarganya. 32:12 Maka seorang suami yang baik dan 32:15 bertanggung jawab akan menjaga amanah 32:18 keluarga tersebut dengan melakukan 32:20 hal-hal sebagai berikut. 32:25 Ini anak judul lagi satu. He 32:28 pembinaan agama 32:31 nih. Jadi ini juga menjadi tanggung 32:34 jawab suami bukan hanya ngasih uang 32:36 terus [tertawa] 32:38 ngasih uang dituruti apa kemauan istri 32:41 dibangunkan rumah itu jelas kewajiban 32:44 siapkan kendaraan kalau memang mampu oke 32:46 baik. Tapi tanggung jawab agama ini juga 32:50 menjadi tanggung jawab suami. 32:53 Pembinaan agama yaitu meliputi pembinaan 32:56 akidah. keimanan, ibadah, muamalah 33:01 dalam berinteraksi dengan akhlakul 33:03 karimah bagi seluruh keluarga seperti 33:07 istri dan anak-anaknya. 33:10 Ini jadi sang suami. Kalau seorang istri 33:14 banyak maksiat, banyak melancong ke 33:16 mana-mana, enggak jelas, tidak melakukan 33:19 ibadah dengan sebaik-baiknya, itu nanti 33:22 di akhirat akan ditanya di Mahmil luar 33:25 biasa akan ditanya di sana. Kenapa 33:27 suaminya gak pernah ngurusi ibadah, 33:31 gak mikirin akhlak istrinya? 33:34 Nutup aurat atau tidak, ibadahnya 33:37 bagaimana? 33:39 Pola dan cara pergaulan hidupnya 33:40 bagaimana? Itu ada ditanya. 33:44 Demikian juga anak-anaknya. Kalau 33:46 anak-anaknya kurang tot, gak punya 33:48 akhlak, ibadahnya dan seb dan seterusnya 33:52 tidak mendapat perhatian soal pembinaan 33:54 agamanya, wong tuane nanti yang menjadi 33:58 masalah. Anak polah bopo kepradah, anak 34:01 banyak maksiat, orang tuanya sekalipun 34:03 saleh, ahli tahajud diseret dulu ke 34:06 heula jangan masuk ke surga dulu. ini 34:09 urusi tanggung jawab ku anfusakum wa 34:13 ahlikum naro. 34:16 Dalam hal ini sedikit sekali suami yang 34:19 sadar akan tanggung jawab ini. 34:22 Ini kira-kira aja saya 34:24 tapi kayaknya betul. Dan sedikit pula 34:27 yang dapat melakukannya. Biasanya 34:30 hal-hal yang sifatnya 34:32 materi itu memang ya ditunaikan 34:36 menyiapkan tempat tinggal. 34:39 Kemudian keperluan rumah tangga, 34:42 kendaraan, bahkan sampai pada kemewahan, 34:45 perhiasan biasanya ini mendapat 34:47 perhatian. Tapi dalam hal urusan 34:50 keagamaan, akidah, akhlak, rohani, 34:53 jiwanya, itu kurang mendapat perhatian 34:56 dari kebanyakan orang. 34:59 Kebanyakan bersifat masa bodoh 35:02 dan kurang peduli. Kalaupun dilakukan 35:06 volumenya sangat sedikit dan sambil lalu 35:09 saja. 35:11 Tidak menjadikan sebagai pilar yang 35:14 sangat penting dalam membangun rumah 35:16 tangga. Kita kadang-kadang lebih 35:18 mengutamakan hal-hal yang sebenarnya 35:20 bersifat sekunder bukan primer. Misalnya 35:23 kita lebih mengutamakan kecerdasan 35:25 intelektual bagi anak-anak. He. 35:29 daripada kecerdasan emosional apalagi 35:32 kecerdasan spiritual karena adanya 35:35 iming-iming dan harapan yang dekat. 35:38 Harapan bisa mendatangkan kesejahteraan 35:40 materi. 35:42 Fenomena kehidupan dalam rumah tangga 35:45 hari ini bisa kita saksikan 35:48 ketika nilai rapot sekolah anak-anaknya 35:51 buruk, maka kegelisahan merebak pada 35:54 kedua orang tuanya. Terbayanglah apa 35:57 yang akan terjadi masa depan bagi 35:59 anak-anaknya. 36:01 Kesengsaraan, mungkin kerendahan status 36:05 sosialnya dan sebagainya. Tapi jika 36:09 agamanya kurang baik di usia SMP bahkan 36:13 usia SMU belum bisa salat dan tidak bisa 36:18 baca Al-Qur'an, belum lagi akhlak dan 36:20 sebagainya. Ketika ada yang mengingatkan 36:23 dengan enteng, dia akan mengatakan, "Ah, 36:27 begitu aja kok yo repot. Nanti juga 36:30 kalau sudah tua ya dia bisa sendiri." 36:33 Nah, enteng saja jawabnya. 36:35 Bahkan ketika menginjak remaja banyak 36:39 pelanggaran agama dilakukan 36:42 sampai pada mabukmabukan, pergaulan 36:44 bebas dan sebagainya, maka orang tua 36:47 yang lalai akan mengatakan, "Ya, namanya 36:50 juga anak muda." [tertawa] 36:52 Masyaallah, ini pemikiran liberal. 36:55 Bahkan kepada orang-orang yang 36:56 mengingatkan, dia mengatakan, 36:59 jadi ada saudaranya orang lain yang 37:02 mengingatkan. 37:03 malah dia jawab apa? Kayak enggak pernah 37:06 muda aja. Masyaallah. 37:08 Ini pengkhianatan terhadap amanat Allah 37:12 yang telah dilakukan oleh seorang suami 37:14 kepada keluarganya. Khususnya dalam 37:17 masalah akidah agama keluarganya. 37:20 Itu artinya dia telah menjadi seorang 37:22 suami yang tidak atau kurang bertanggung 37:25 jawab terhadap kebahagiaan dan 37:28 keselamatan seluruh keluarga dari 37:31 ancaman api neraka. 37:33 Karena perintah dari Allah tadi 37:35 dibacakan dalam surah Tahrim ayat 6. 37:40 Allah berfirman, 37:41 "Azubillahiminasyaitanirrajim." 37:43 Ya ayyuhalladzina amanu, wahai 37:46 orang-orang yang beriman qu anfusakum. 37:49 Jaga dirimu wa ahlikum dan keluargamu 37:52 naro dari api neraka. 37:55 Ini baru satu kewajiban. Selain mencari 37:58 nafkah, tapi kewajiban juga menjadi 38:01 pembinaan agama. menjadi penting dan ini 38:05 akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa 38:07 taala terhadap suami. Seorang laki-laki 38:10 punya tanggung jawab 38:13 satu kepada istrinya, 38:16 yang kedua terhadap ibunya dan ketiga 38:20 pada anak-anaknya. 38:22 Nanti di akhirat akan ditanya tentang 38:24 ini. Ibumu terlantar, 38:26 ibunya apa? Menderita, kurang perhatian 38:30 dan seterusnya ya. kita tanggung jawab 38:34 terhadap istri apalagi dan juga terhadap 38:37 anak-anaknya. Jadi harus menjadi 38:39 perhatian kita dalam hal agama, keimanan 38:43 dan kesalehannya. Wallahuam 38:46 bissawab. 38:49 Masyaallah. 38:51 Wahai para suami, mudah-mudahan 38:53 mempersuasi. Tapi kalau kebetulan lagi 38:56 enggak dengar para istri, boleh 38:57 sampaikan ke ee belahan jiwa tercinta 39:01 kita. Ustaz boleh langsung ke 39:02 pertanyaan, ya? 39:03 Iya, silakan. 39:06 Dari Ibu Tini. Asalamualaikum, Ustaz. 39:10 Waalaikumsalam warahmatullahi wabar. 39:11 Lansia 63 tahun nih, suami sudah 13 39:15 tahun meninggal, tidak dikaruniai 39:18 anak dan dulu bekerja 39:23 sampai usia pensiun, tapi sekarang sudah 39:27 tidak lagi 39:30 karena di perusahaan swasta enggak ada 39:32 pensiun. Dan sejak tahun lalu 39:36 saya [berdehem] 39:37 tadinya jualan tapi enggak berkembang. 39:40 Terus sekarang tinggal sama adik untuk 39:44 memenuhi kebutuhan sehari-hari ada 39:46 subsidi di dari kakak. Yang ingin saya 39:50 tanyakan, Ustaz, saya masih wajib enggak 39:53 sih mencari nafkah? Mohon pencerahannya 39:57 seorang ibu. 39:58 Allahu Akbar. [mendengus] 40:00 [berdehem] 40:02 sepanjang dia masih mampu 40:06 karena tidak ada suami sudah meninggal, 40:10 putra juga tidak ada. 40:12 Kalau mungkin orang tua juga jelas ya, 40:16 tetapi masih ada saudara laki-laki. 40:20 He he. 40:21 Nah, termasuk daripada saudara laki-laki 40:24 itu juga punya kewajiban. 40:26 Bahkan dia mencari nafkah dan sebagainya 40:29 ada kewajiban juga. terhadap 40:32 saudara-saudara perempuannya 40:35 walaupun yang tadinya belum nikah atau 40:37 mungkin seperti orang sudah tinggal 40:40 sendiri gak punya suami dan seterusnya. 40:42 Tapi untuk sepanjang masih mampu ya 40:46 upayakan untuk bisa 40:49 mengatasi keperluan-keperluan sendiri. 40:52 Kalau sudah tidak bisa, maka itu menjadi 40:54 kewajiban daripada saudaranya, terutama 40:57 saudara yang laki-laki. Wallahuam. 41:01 Baik. Kemudian [berdehem] ini tidak ada 41:04 namanya 08 41:06 11 sekian seekian. Ustaz, kalau di rumah 41:12 justru saya yang harus mencari nafkah. 41:15 Suami cuma sekedarnya saja. 41:19 Boleh enggak sih saya menuntut dia untuk 41:23 lebih serius, tapi nanti saya tidak 41:25 mendapatkan ridanya karena menuntut. 41:29 Mohon pencerahannya. Iya. 41:31 Iya. 41:33 Yang menuntut bukan istri kewajiban 41:36 Allah yang memerintahkan. 41:39 Tuntutan agama, tuntutan syariat. Suara 41:42 seorang suami ketika dia menerima ijab 41:45 kabul kemudian punya istri, dia yang 41:47 berkewajiban 41:49 untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. 41:53 Itu hukum. Kecuali kalau suaminya tidak 41:56 mampu, kecuali ya mungkin banyak hal dan 42:02 seterusnya. Tetapi tuntutan itu adalah 42:05 atau 42:07 sejauh kemampuan seorang suami. Jadi 42:10 istri gak boleh menuntut lebih daripada 42:12 kemampuannya. Bukan kemauannya loh ya. 42:15 Bukan kemauannya. Jadi harta yang 42:18 diperoleh hasil kerja suami itu ada di 42:21 dalamnya hak untuk keluarganya. 42:24 Kalau istri yang punya harta sekalipun 42:26 harta waris dari orang tuanya itu hak 42:29 dia gak boleh dipakai untuk 42:32 suaminya. Ya udah uang kamu aja. Engke 42:35 heula atuh. Kalau memang rida bagus 42:38 artinya sedekah dari istrinya tapi kalau 42:41 digunakan 42:43 dia menggunakan tanpa izin itu gak 42:45 boleh. Nah itulah bedanya. Maka di dalam 42:47 hukum waris kalau laki-laki dapat 42:49 sepikul, kalau perempuan dapat separuh 42:52 segendongan. Karena memang laki-laki 42:54 punya kewajiban memberikan nafkah 42:56 terhadap istri dan anak-anaknya. 42:59 Sedangkan harta istri, harta istri. Tapi 43:02 kalau rumah tangga dalam keadaan 43:04 kesulitan, krisis, yo mosok jadi istri 43:07 itu pelit, ya gak boleh itu. Tetapi 43:10 statusnya bukan kewajiban, tetapi 43:13 sodqah, 43:14 amal luar biasa. Jadi tetap suami itu 43:18 yang nuntut syariat Allah yang perintah. 43:22 Kalaupun istri ya mengingatkan ini 43:24 kewajiban loh, Mas, kewajiban agama, 43:26 perintahei Gusti Allah. Nah, adapun 43:29 kekurangannya boleh ibu membantu karena 43:31 ibu punya kemampuan bantu itu boleh. 43:34 Tapi bukan wajib dari istri yang suruh 43:36 kerja lanangane mung dolanan, mung 43:40 uyon-uyon, kemudian mung 43:42 ngonggar-nganggur begitu malas. itu gak 43:45 boleh kebalik-kbalikan agama. 43:47 Wallahualam. 43:48 Kalau yang suami sudah meninggal tinggal 43:52 hidup untuk diri sendiri tadi kan 43:54 ditanggung kakaknya dan segala macam 43:57 pertanyaan yang saya tetap harus cari 43:59 nafkah atau tidak. Kalau kakaknya bisa 44:02 nanggung. Oke 44:03 ya. Sepanjang dia masih mampu sebaiknya 44:06 dia jangan berharap 44:09 penuh kepada 44:10 kalau masih bisa cari n 44:12 masih bisa. Kecuali memang sudah tidak 44:13 bisa. Itu jelas. Jadi 44:16 jangan sampai terantar kewajiban saudara 44:18 laki-laki insyaallah. 44:19 Baik. Ini dari Bapak Sodikin yang ada di 44:22 Jakarta Timur. Ustaz, bermegah-megahan 44:26 telah melalaikan kamu itu ada di 44:28 Atakasur ayat 1. Mohon penjelasannya 44:32 untuk ayat ini, Ustaz. 44:36 Bermegah-megahan dalam arti bukan 44:38 berarti kita tidak boleh menikmati 44:40 dunia. 44:41 Punya rumah bagus silakan, 44:44 punya pakaian bagus silakan, gak 44:46 dilarang. 44:48 Tetapi yang dimaksud bermegah-megahan di 44:50 sini adalah untuk 44:53 kebanggaan, kesombongan, 44:56 persaingan, 44:58 apalagi untuk hal-hal yang kemewahan 45:01 yang di luar batas. Ya, itu memang sudah 45:03 masuk pada larangan 45:05 sampai lupa kepada Allah Subhanahu wa 45:07 taala. penonjolan materi, penonjolan 45:11 anak-anak yang hebat-hebat kemudian 45:13 pamer bangga. Nah, itu yang padahal 45:16 harta itu statusnya harus dikembalikan 45:19 bahwa harta itu sebagai titipan yang 45:21 digunakan untuk menopang. 45:23 Heeh. Heeh. 45:24 mengangkat derajat dan martabatnya 45:27 menjadi orang yang saleh, menjadi orang 45:29 beriman, yang bertakwa, yang banyak 45:31 memberi manfaat terhadap banyak orang. 45:34 Jadi bukan untuk bermegah-megahan, lupa 45:37 zakat, lupa kewajiban, lupa sodqah, lupa 45:41 orang tua, apalagi anak misalnya 45:43 terlantar, anak-anak yatim sekitarnya. 45:46 Itu antara lain menjadi kewajiban 45:47 orang-orang yang diberi kelapangan oleh 45:49 Allah Subhanahu wa taala. Pada 45:51 harta-harta yang Allah rezekikan padamu 45:54 itu ada hak-hak fakir miskin. 45:57 Berarti ada zakat, ada sodqah, ada tataw 45:59 dan seterusnya. Wallahuam. 46:01 Masyaallah. Baik, Mbak Nuning, tolong 46:05 nomor. Oh, ya ya, ya. Dari tadi belum 46:07 disebutin, Ustaz. Kalau ingin buku yang 46:12 meniti jalan ke surga, silakan hubungi 46:15 0899 46:18 0073991. 46:20 [menghela napas] 46:23 Jadi, hubungi Mas Rizal ya, 08990073991. 46:30 Baik, ke pertanyaan berikutnya, Ustaz. 46:33 Ini dari seorang istri yang merasa 46:35 bingung karena kalau suami di rumah itu 46:41 tidak atau kurang peduli pada akidah 46:44 anak-anak. Sementara kalau anak-anak 46:47 saya yang kasih tahu, "Ah, Papa enggak 46:49 apa-apa kok. Mama cerewet ini. Apa yang 46:53 harus saya lakukan, Ustaz? Tidakkah yang 46:57 mengajarkan tentang akidah, ibadah, dan 47:01 muamalah seperti yang ustaz bilang tadi, 47:03 tanggung jawab seorang suami mohon 47:06 pencerahan. 47:07 Iya. 47:09 Ini satu tuntunan. Kalau ingin membangun 47:13 pribadi seorang mukmin, he 47:16 yang memenuhi kriteria sehingga dia 47:18 menjadi seorang mukmin yang benar. 47:20 Antara lain tunaikan kewajiban-kewajiban 47:25 agama yang tidak hanya semata-mata 47:28 ibadah ritual, tapi tanpa ee 47:32 diekspresikan dalam kehidupan. Jadi 47:35 dalam beragama itu adalah mengatur 47:37 seluruh kehidupan. Maka adin yang kita 47:40 terjemahkan agama 47:42 itu juga bermakna annidam. Artinya 47:45 aturan-aturan hidup. Aturan hidup yang 47:48 diturunkan secara khusus oleh Allah 47:50 Subhanahu wa taala untuk mengatur 47:52 seluruh aspek hidup kita. Maka 47:55 perintahnya udkulu fisilmi kafa. Masuk 47:58 kamu ke dalam semuanya. Jangan 48:01 dipilih-pilih. 48:03 Maka sering saya menyampaikan, jangan 48:05 kita terjebak pada rutinitas ritual tapi 48:07 tanpa makna. Salatnya tekun tapi urusan 48:10 rumah tangga pembiaran. 48:12 Istri enggak pakai enggak nutup aurat 48:14 dibiarin. Istri kelayap ke mana-mana 48:17 sampai berhari-hari umpamanya karena 48:20 enggak jelas enggak ada mesti ada 48:22 aturan-aturannya. 48:24 Seorang istri mau keluar rumah mau ke 48:26 mana, izin suami. Suami bertanggung 48:28 jawab memberikan nafkah. apa 48:30 keperluannya dan seterusnya. Kewajiban 48:32 memberikan nafkah pada anak-anaknya, 48:34 disekolahkan, dididik agamanya, itu 48:37 banyak. Itulah aturan-aturan yang 48:39 diberikan oleh Allah. Kalau di antara 48:42 kita suami punya kewajiban kemudian 48:45 tidak ditunaikan. 48:46 Istri yang juga punya hak juga punya 48:48 kewajiban tidak ditunaikan. Berarti kita 48:52 tidak melakukan, 48:54 tidak beragama dengan yang sebenarnya. 48:57 mungkin terjebak hanya rutinitas merasa 49:00 sudah salat sudah 49:02 selesai dianggapnya sudah sempurna. 49:05 Wallahuam. 49:06 Masyaallah 49:08 luar biasa sekali. Sebetulnya ada 49:10 tanggung jawab yang memang 49:13 nilainya enggak bisa enggak kudu mesti. 49:16 Tapi kembali betapa mulianya ajaran 49:21 kalau semuanya memang bisa atau sanggup 49:24 kita laksanakan. Ini pertanyaan 49:26 terakhir, Ustaz. Ustaz, suami saya 49:29 kebetulan mengalami gangguan kesehatan 49:33 yang betul-betul selama 4 tahun 49:35 belakangan ini tidak bisa mencari nafkah 49:38 sehingga setengah 49:41 setengah mati. 49:43 Bersusah payahlah saya mencoba untuk 49:46 mengatasi urusan ini. Sementara 49:49 anak-anak mungkin kami salah didik agak 49:52 tidak peduli dengan kondisi kami. Apa 49:54 yang harus saya lakukan, Ustaz? Iya. 49:57 Alhamdulillah. 49:59 Ini berarti sudah dalam kondisi yang 50:01 tentu berbeda. 50:02 Artinya dalam keadaan sudah tidak 50:04 tidak mampu. 50:05 Tidak mampu. Berarti 50:07 kalau tidak mampu ya tidak ada tuntutan 50:10 kewajiban sebagaimana yang mampu. 50:13 Nah, kalau dalam hal rumah tangga 50:15 taawanu alal bir wat taqwa. Suaminya 50:18 tidak mampu, istrinya yang bertanggung 50:20 jawab. Tetapi sebenarnya kewajiban 50:23 seorang ketika sudah tua, sudah uzur, 50:27 itu adalah kewajiban anak-anaknya. 50:30 Kalau dulu anak-anak itu diurus orang 50:32 tua, kemudian ketika orang tuanya sudah 50:36 tidak mampu dibiarkan, loh itu dosa 50:38 besar itu, Bu ya, anak-anaknya. 50:40 Astagfirullah. Sebenarnya ketika Allah 50:42 memberikan peluang ah kok bukan peluang 50:45 situasi orang tua yang sudah uzur itu 50:50 sebenarnya 50:51 adalah Allah memberikan jalan 50:55 terbukanya menuju surga. Iya. Iya. Apa 50:59 enggak ingat anak itu dari kecil 51:02 ya ngompoli ya 51:05 mipisi ya macam-macam ya merengek apa 51:08 orang tua berkorban susah payah 51:11 kebahagiaan anaknya itu kebahagiaan 51:13 hatinya air mata menangis susah payah 51:16 yang dia pikirkan bagaimana anak ini 51:18 bisa selamat bisa hidup bisa sejahtera 51:21 bisa bisa menjadi jadi wong gitu loh itu 51:25 orang tua 51:27 maka Maka kalau kemudian orang tua sudah 51:29 tua, itulah peluang Allah memberikan 51:33 pada anak-anaknya untuk 51:35 jalan menuju ke surga. 51:38 Jadi, bagaimana langkahnya kumpulkan 51:40 anak-anak itu diingatkan 51:43 ya diingatkan aja. Diingatkan dan itu 51:47 insyaallah anak yang berbakti pada kedua 51:50 orang tua tidak akan berkurang hartanya. 51:53 Bahkan Allah jamin keberkahan dan tidak 51:56 akan menjadi berkurang. pasti hidupnya 51:58 akan sejahtera, akan dimudahkan urusan 52:01 terbukanya pintu rezeki dan sebagainya. 52:04 Jadi kumpulkan mereka kemudian 52:07 selalu diiringi, dikawal dengan doa. 52:11 Sementara Ibu sekuat sekuat mungkin 52:15 masih bisa usaha tetap upayakan. Dan ini 52:19 juga merupakan hal yang menunjukkan 52:21 kesetiaan seorang istri pada suami yang 52:24 sudah uzur seperti itu. Insyaallah 52:26 Allah, Gusti Allah ora sare Gusti Allah 52:29 itu amat sangat perhatian pada 52:32 orang-orang yang mau berjuang dalam 52:34 kebaikan. Insyaallah. Wallahuam. 52:36 Iya, ada tambahan sedikit di sini. Jadi 52:39 bukan salah kami yang sudah kurang 52:41 mendidik ya, Ustaz. Kalau mereka 52:43 kemudian seperti itu. Terima kasih 52:45 banyak. Em ya kadang-kadang 52:49 kalau seperti yang tadi ustaz bilang 52:51 bahwa tanggung jawab kita untuk akidah 52:53 anak-anak juga ya mulai sekarang 52:55 mudah-mudahan para pasangan muda yang 52:59 anak-anaknya masih anak belum jadi orang 53:01 dewasa akan tumbuh menjadi sebagaimana 53:04 yang kita dambahkan. Ustaz waktunya 53:07 sudah di penghujung. Boleh rangkum 53:09 bahasan? Saya akan menambahkan sedikit 53:11 tentang yang terakhir itu. 53:12 He. 53:13 Sekalipun anak-anak sudah dewasa, 53:17 mungkin dia lebih eksis dan sebagainya, 53:19 tetap orang tua itu mengingatkan. 53:22 Tentu berbeda waktu anak-anak dengan 53:25 mengingat orang tua. Tetap diingatkan, 53:27 "Nak, kui saiki wis dadi pejabat 53:31 sing hati-hati. 53:33 Ojo korupsi ya kan. Pantes orang tua 53:35 apalagi ibu. 53:37 Nak, alhamdulillah kamu sekarang 53:39 diberikan kelapangan. Ojo lali ngibadah, 53:43 ojo lali salat. Anak-anakmu yo 53:46 disekolahke, dididik agamane. Itu saya 53:50 tetap itu menjadi suatu kewajiban buat 53:52 kemampuan kita. Jangan membiarkan. 53:54 Apalagi kalau anaknya melakukan sesuatu 53:57 yang keliru dan salah. Jangan 53:59 sekali-kali kita membiarkan. 54:02 Tetap kalau perlu panggil orang tua kok. 54:04 K nak 54:05 dipanggil ibu ke rumah. 54:08 Ada apa ya? Embuh. Nah dinasihati. Nak 54:12 ibu ini mung nuturi kowe 54:15 hati-hati 54:17 nggenmu mlaku ojo nganti nyimpang kanan 54:20 nyimpang kiri. Wong kita iki wong agomo 54:24 mbok dalane sing bener. Ojo melu-melu 54:27 koy wong-wong. Umpamanya begitu. Ahah. 54:29 Itu tetap kewajiban. Bahkan kalau mau 54:32 perlu wasiat mau meninggal dunia itu. 54:36 Tapi jangan kayak wasiatnya sulit. Nak 54:39 nanti kalau Bapak meninggal itu tanah 54:42 yang di Ciancur yang tu 16 hektar jangan 54:45 dijual. 54:47 Kenapa, Pak? Itu punya orang katanya. 54:50 Dasar Sule ya namanya. I. 54:52 Nah, inilah mudah-mudahan ee ini masih 54:55 banyak lagi nanti apa saja yang harus 54:56 kita lakukan ketika anak-anak masih 54:59 kecil agama. Jangan sekali-kali 55:03 mengabaikan urusan akidah dan akhlak. 55:06 Membangun pribadi anak-anak dimulai dari 55:09 membangun akidah, membangun keimanan, 55:12 membangun akhlakul karimah, kemudian 55:15 dilengkapi dengan kecerdasan. Silakan 55:17 skill dan kemampuan bisa dikembangkan. 55:20 Mohon maaf segala kekurangan. Wabillahi 55:22 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 55:23 warahmatullahi wabarakatuh. 55:25 Waalaikumsalam warahmatullahi 55:27 wabarakatuh. Jadi para ayah, para suami, 55:31 ibu, istri, dan anak-anak tetap ada 55:34 dalam genggaman kita untuk hal-hal yang 55:37 terkait dengan tanggung jawab. Sementara 55:40 kalau 55:41 kita sudah menjaga marwah keluarga, 55:44 insyaallah segala sesuatunya akan lebih 55:47 em mudah. Dan sekali lagi untuk buku 55:51 Meniti Jalan Ke Surga silakan hubungi 55:53 Rizal di 089900 55:57 73991 55:59 ya 08990073991. 56:05 Terima kasih untuk kebersamaan ini. 56:07 Subhanakallahumma wabihamdika ashadu 56:09 alla ila anta astagfiruka wa atubu 56:12 ilaih. Billahi taufik wal hidayah. 56:14 Wasalamualaikum warahmatullahi 56:16 wabarakatuh.