Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:09 [musik] 0:17 Bismillahirrahmanirrahim. 0:19 Asalamualaikum warahmatullahi 0:21 wabarakatuh, ikhwan akhwat yang disayang 0:23 Allah. Alhamdulillah ya, kita 0:25 dipertemukan kembali di acara yang 0:29 mudah-mudahan mempersuasi kita semua 0:31 tausiah pagi bersama Ustaz Abul Hidayah 0:34 Saioji. Mudah-mudahan semuanya sehat, 0:37 bugar, aman, terkendali dan tidak lupa 0:40 salam selawat kita lantunkan untuk 0:42 junjungan umat kekasih kita Muhammad 0:45 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 0:48 Semoga kelak kita dipertemukan beliau di 0:50 saat yang sangat kita rindukan di yaumil 0:52 akhir. Ikhwan akhwat kalau sempat minggu 0:57 sebelum ini menyimak ataupun melalui 1:01 YouTube-nya Rasil TV kita bicara tentang 1:03 lembutnya hati dan indahnya ukhuwah. Di 1:08 mana masih ingat ya hati kita ini Mbak 1:11 Dinamo masih aman enggak sih tanpa 1:13 gangguan? Nah, kali ini berlanjut dengan 1:18 bahasan dari buku Meniti Jalan Ke Surga, 1:22 kita akan lanjut bahas setang apa nanti 1:26 kita simak ya. Kita sapa beliau yang 1:28 sudah hadir di sini. Asalamualaikum 1:29 warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. 1:31 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:33 wabarakatuh. 1:35 Kalau lanjut jadi rindu banget deh. Apa 1:38 sih yang membuat Allah cinta kepada 1:41 kita? Insyaallah. 1:42 Jadi topik bahasan kita kali ini 1:43 iya 1:45 persisnya 1:46 Allah 1:47 mencintai 1:50 hati pemurah dari hamba-hambanya. 1:52 Masyaallah. Jadi kata murah adalah kata 1:55 yang ajaib sekali ya. Baik. 1:57 Bukan bukan murahan loh ya. 1:59 Eh kata dasarnya murah tapi pemurah. 2:03 Baiklah kita simak yuk dengan telinga 2:05 jiwa kita. Monggo, Ustaz. 2:06 Baik. 2:08 Bismillahirrahmanirrahim. 2:11 [berdehem] 2:12 Asalamualaikum warahmatullah 2:14 wabarakatuh. 2:15 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:17 wabarakatuh. 2:17 Alhamdulillah 2:20 wasalatu wasalamu ala rasulillah 2:24 wa ala alihi wa ashabihi 2:27 waman tabiahum biisanin [berdehem] 2:28 ila yaumil qiamah. 2:31 Masyaallahu kan wama lam yasya lam 2:33 yakun. La haula wala quwwata illa 2:37 billah. Amma ba'd. 2:41 Ayyuhal ikhwan rahimakumullah. Para 2:44 ikhwan, saudara-saudaraku, 2:47 kaum muslimin, muslimat di mana pun 2:50 antum berada. Mudah-mudahan pagi ini 2:53 pagi yang diberkati oleh Allah untuk 2:55 kita semua. 2:56 Amin. Allahuma 2:57 di pagi yang cerah ini, alhamdulillah di 3:01 bulan Syawal sesudah 1 bulan rama 3:04 Ramadan kita melakukan puasa. 3:07 Mudah-mudahan 3:09 masih ada asar, masih ada bekas, 3:13 masih ter 3:15 lukis, terpahat di dalam hati kita. 3:19 Pengaruh dari pendidikan 3:23 Ramadan 1 bulan lamanya. 3:26 Sekurang-kurangnya membekas sampai tahun 3:29 depan sehingga kita berjumpa kembali. 3:32 Amin. 3:33 dengan Ramadan untuk lebih meningkatkan 3:37 kualitas kita. Amin ya rabbal alamin. 3:42 Dari 3:43 salah satu di antara asar ataupun 3:46 pengaruh 3:49 dari 3:51 tarbiah ataupun 3:53 pemberian atau to educate terhadap puasa 3:56 pada pribadi kita. Sering saya sampaikan 4:00 bahwa asarus siam fi binaisiah, pengaruh 4:04 puasa dalam membangun karakter kita, 4:07 membangun kepribadian kita sebagai 4:09 mukmin sejati. 4:11 Mukmin yang bukan hanya dalam ungkapan 4:14 kata-kata indah, 4:16 dalam pengakuan, 4:19 tapi memang dibuktikan oleh realita. 4:24 Karena 4:25 Hasan Albasri sendiri mengungkapkan 4:27 bahwa iman itu bukan hiasan mulut. 4:31 He. 4:32 Bukan indahnya kata-kata. Laisal iman 4:35 bitamani. Dan ing iman itu bukan 4:38 angan-angan kosong. 4:41 Walakin ma waqo filqolbi wasodqohul 4:45 amal. 4:47 Tetapi yang dimaksud iman itu memang 4:49 menetapi hati terpatri dalam jiwanya. 4:53 tersibghah 4:54 jiwanya terwarnai 4:58 dicelup oleh celupan ilahi 5:01 dan menetap dalam hati sanubari kokoh 5:04 kuat. 5:06 Saya suka bilang terpatri. Terpatri itu 5:09 gak copot-copot. Kalau sekaligus dipatri 5:11 ya melekat dia. 5:14 Kemudian dibuktikan 5:17 apa yang menjadi keimanan di hati kita 5:19 pada mengukir jiwa kita dalam realita 5:23 kehidupan. Ma waqoro fil qolbi 5:26 wasodqohul amal. 5:30 Fainna gorhumul amani hatta khju minad 5:34 dunya wala hasanata lahum. 5:38 Ada satu kaum yang mereka tertipu oleh 5:41 angan-angan pengakuan GR Gede rumongso 5:45 merasa sudah 5:49 ini Hasan Albasri seorang tabiin ya yang 5:54 menyampaikan seperti itu. Ada orang yang 5:56 merasa dirinya orang beriman. 5:58 He. 6:00 Di mana merasanya? Satu di lingkungan 6:02 masyarakatnya muslim. 6:05 Mungkin rumahnya dekat masjid. 6:08 mungkin dari keturunannya, haji-haji 6:10 semua, mungkin dari suasananya dan 6:14 seterusnya. 6:16 Tapi sayang mereka tertipu oleh 6:18 pengakuannya. Hatta khoroju minad dunya 6:21 wala hasanata lahum. Sehingga mereka 6:25 keluar dari dunia ini, artinya kita 6:29 meninggalkan dunia. Wala hasanata lahum. 6:34 Tidak memiliki kebaikan sedikit pun. 6:37 Artinya imannya tidak berbuah. 6:41 Ibarat pohon pohon yang gak ada buahnya, 6:45 mandul. 6:47 Nah, kalau seperti ini maka kita tertipu 6:50 oleh angan-angan. Merasa beriman tapi 6:52 gak ada amalnya. 6:55 Jadi apa yang kita katakan dalam lisan 6:57 kita itu adalah kosong belaka. Kalau 7:01 kosong berarti zero. Kalau zero berarti 7:04 gak ada kualitas, gak berbobot. 7:09 Dalam perjalanan hidup manusia itu kan 7:12 dites oleh Allah. Karena dunia itu 7:14 tempat tes kualitas. 7:18 Semenjak dia baligh, berakal, maka di 7:21 situlah mulai dihitung oleh Allah 7:22 Subhanahu wa taala. Diberikan 7:25 ujian-ujian, diberikan godaan-godaan, 7:27 diberikan tes kualitas. Coba sejauh di 7:30 mana kualitas hamba ini? Ini memang 7:32 manusia yang berkualitas atau tidak? 7:36 Nah, itu kalau mau mikir tentang hidup 7:38 dan kehidupan kita semua. 7:41 Kadang-kadang kita terba-angan dan 7:44 merasa hebat, dapat sanjungan 7:47 di tengah orang-orang ahli ibadah. Tapi 7:50 kita sendiri kosong, kualitasnya enggak 7:52 ada, enggak ada amalnya. 7:56 Hanya ungkapan kata-kata indah, mungkin 7:58 pintar di andai bicara dan sebagainya. 8:01 Ilmunya juga ada. Tapi secara maknawi 8:05 kita tidak memberikan kontribusi apapun. 8:09 Iman kita tidak terwujud baik dari 8:12 dimensi vertikal 8:15 di hadapan Allah 8:18 dan juga dari dimensi horizontal. 8:21 Hablu minannas gak ada kualitasnya. 8:24 Gak ada kontribusinya. 8:27 Jadi ibarat pohon pohon rindang, subur 8:31 tapi tidak memberikan buah. 8:34 Gak ada buahnya. Biasanya kalau petani 8:37 punya pekarangan pohon yang rindang, gak 8:39 ada buahnya, ya ditebang 8:42 untuk kayu bakar. Nauzubillah minzalik. 8:45 Nah, oleh sebab itu mari Allah dengan 8:49 kasih sayanya tahu betul karakter 8:51 manusia itu tergesa-gesa. Maunya cepat 8:54 sampai maunya yang enak-enak. 8:58 Yang enak-enak 10 tahun enggak enaknya 9:00 cuma sebentar saja 22 hari 3 hari ngeluh 9:04 ya. Sehatnya sudah selama hidup tapi 9:06 kemudian sakitnya hanya seminggu saja 9:08 sudah mengelu menyalahkan Allah. 9:12 Senangnya sudah sekian lama, ndak 9:13 senangnya sebentar. Allah disalahkan, 9:16 tidak adilah dan sebagainya. Berarti ini 9:19 itu kualitas kita sebenarnya. Nah, maka 9:23 kembali Nabi kemudian di dalam sebuah 9:26 hadis mengatakan, "Alqaisu manana 9:29 nafsahu wa amila lima ba'dal maut." 9:34 Orang yang cerdas, orang yang biawai, 9:37 orang yang mempunyai kecerdasan, 9:40 ternyata tidak hanya kecerdasan 9:43 intelektual. 9:45 Tapi perlu ditopang dengan kecerdasan 9:47 emosional, 9:49 kecerdasan spiritual 9:52 sehingga dia tidak terjebak kepada yang 9:54 bersifat hisi atau zahir semata. 9:59 Casing-nya saja. Lihat dalamnya 10:01 mesinnya, 10:03 lihat hakikatnya, lihat maknanya dalam 10:06 kehidupan. Maka dalam hidup orang 10:09 beriman yang cerdas piawai dengan 10:12 kecerdasan spiritual 10:14 itu dia melihat sesuatu bukan yang 10:17 nampak 10:19 di pada pandangan mata. 10:23 Dia bisa melihat yang hakiki. 10:26 Dia tidak terjebak kepada hal yang 10:28 bersifat zahir semata. Dia melihat 10:31 dengan mata hati. 10:33 Bahkan lebih dalam lagi dia akan bisa 10:35 melihat dengan mata imannya. 10:38 Masyaallah. 10:39 Kalau dia melihat dengan mata hati, 10:41 insyaallah dia bisa menimbang, bisa 10:44 memilah dan memilih mana yang benar, 10:46 mana yang salah, mana yang lurus, mana 10:48 yang bengkok. Walaupun di sana sini ada 10:52 bunga-bunga kanan kiri yang indah 10:55 bertaburan dengan senyum, dengan riuh 10:58 rendah sanjungan. Dia tidak melihat itu. 11:01 Lihat garis ini lurus. Lihat ini jalan 11:04 yang benar atau jalan yang salah. 11:06 Apalagi ditopang dengan penglihatan mata 11:09 iman, maka dia akan mampu menembus 11:12 gelagat dari yang fisik kepada 11:16 metafisik. Dari yang nampak di permukaan 11:19 sampai dia melihat 11:21 ha melihat dari hikmah di balik setiap 11:26 peristiwa. 11:29 Dulu ada cerita di TV itu zaman dulu 11:32 masih belum ada TV 11:35 apa namanya ee masih TV republik DPR itu 11:39 ada kisah si Medun sengsara membawa 11:43 nikmat. 11:45 Jadi kesengsaraan itu di balik itu ada 11:47 hikmah. 11:49 Orang bisa menikmati sesuatu itu nikmat 11:52 kalau dia sudah merasakan betapa 11:53 susahnya dalam hidup ini. 11:56 Orang yang tiap hari makan enak, makanan 11:59 lezat, minuman segar, 12:03 macam-macam dia. Suatu saat dikasih 12:06 makan yang sederhana ala kehidupan di 12:08 kampung. Wah, sengsara itu. 12:12 Sengsara. 12:14 Orang yang bisa hidup di ruang yang AC, 12:16 yang dingin, yang sejuk. 12:19 Kemudian keluar gerah rasanya panas. 12:24 Orang yang biasa hidup di lampu terang 12:27 benerang di kota dengan sinar listrik 12:30 atau cahaya listrik. 12:32 Suatu saat di kampung gelap gulita. Uh 12:34 tersiksa. 12:36 Nah jadi sebenarnya bahagia itu terletak 12:38 pada perasaan ya. Bagaimana hati dia 12:41 bisa menerimanya. 12:43 Maka kembali kepada sabda Nabi, 12:46 disebut orang yang cerdik itu adalah 12:49 yang sekarang orang mengatakan para 12:51 pedagog, para ahli-ahli pendidikan 12:53 ternyata gak cukup IQ 12:57 intellectual quion gak cukup tapi IQ 13:03 emosional 13:04 question dan kemudian spiritual 13:06 question. Jadi kecerdasan itu tidak 13:09 hanya kecerdasan intelektual. He 13:12 yaitu orang yang Nah, ini kriterianya 13:17 orang yang ketika hidupnya dia mampu 13:19 mengendalikan emosi, 13:22 melaras, menimbang, menyaring, 13:26 nalar pikiran kita, keinginan kita 13:30 sehingga bisa memilah dan memilihi mana 13:32 keinginan yang benar, mana keinginan 13:34 yang berujung baik, mana keinginan yang 13:36 kelihatan berbunga-bunga tapi berujung 13:39 buruk dan seterusnya. mana yang bisa 13:41 memberi manfaat untuk dirinya, 13:43 bermanfaat untuk orang lain dan 13:44 seterusnya. Ini hanya bisa dengan 13:46 pandangan spiritual, keimanan yang 13:49 mantap 13:52 sehingga dia bisa memilih. 13:55 Dia mampu mengendalikan langkahnya ke 13:58 mana dia melangkah yang mesti positif, 14:00 punya kualitas dan mampu mengangkat 14:02 harkat, martabat dirinya di hadapan 14:04 Allah. 14:06 Kemudian 14:08 dia beramal. 14:11 Wa amila lima ba'dal maut. Nah, ini 14:14 jarang dibicarakan secara logika rasio 14:17 pemikiran banyak orang. 14:19 Dia beramal, beramal, beramal. Beramal 14:22 itu kan melakukan sesuatu. 14:25 Action. dia melakukan sesuatu tidak 14:28 hanya untuk dirinya, bisa jadi untuk 14:31 orang lain, 14:33 bisa jadi untuk orang banyak, bisa jadi 14:35 untuk masa depan dan seterusnya. Dia 14:38 beramal, beramal, beramal. Tidak pernah 14:41 hanya secara ekosentris 14:43 memikirkan sesuatu yang bisa memberi 14:46 manfaat untuk dirinya. 14:48 Dia menjauhkan dirinya dari hal yang 14:49 bersifat pragmatis semata, tapi yang 14:52 bisa memberi manfaat banyak orang. Maka 14:56 Nabi memberikan satu 15:00 menstressing bahwa khairun nas anfauhum 15:05 linnas. 15:06 Sebaik-baik manusia bukan yang paling 15:08 ganteng, 15:10 bukan yang paling cakep, bukan paling 15:12 tampan, bukan yang paling cantik, bukan 15:15 hidung yang jadi ukuran, bukan mata yang 15:19 berbinar-binar seperti bintang kecora, 15:21 bukan rambutnya, bukan kulit 15:25 tubuh yang mulus dan seterusnya, bukan 15:27 itu. 15:29 Tapi sebaik-baik manusia adalah yang dia 15:34 mampu 15:36 menciptakan nuansa, suasana 15:40 dalam kehidupan yang bisa banyak memberi 15:44 manfaat terhadap banyak orang. 15:49 Ayo, coba kita lihat diri kita. 15:52 Kira-kira keberadaan kita termasuk saya 15:55 ini di tengah-tengah manusia itu apa? 15:59 memberi manfaat atau memberi mudarat. 16:01 [tertawa] 16:02 Kalau tiap hari ketemu masyarakat semak 16:04 utang sana, utang sini buat masalah lah 16:08 berarti kita ini manusia yang gak ada 16:09 gunanya. Tapi kalau keberadaan kita itu 16:12 memberi manfaat 16:15 ya, memberikan nuansa suasana yang cerah 16:19 di keredupan suasana menjadi cerah 16:21 dikala dia datang atau memberikan solusi 16:25 dari problem masalah yang dihadapi oleh 16:28 teman kita, saudara kita, masyarakat 16:30 kita. Nah, inilah namanya manusia 16:34 memberikan kontribusi persis seperti 16:36 yang diabadikan oleh Al-Qur'an surah 16:38 Taubah ayat 24 dan 25. Dia seperti buah 16:44 titi ukulaha kulahin bidniha. 16:49 Dia memberikan buah setiap musim tanpa 16:51 diminta itu pohon. Masyaallah. 16:55 Nah, pertanyaannya buah apa yang sudah 16:58 kita berikan untuk orang lain? 17:04 Oleh karenanya sekali lagi kembali 17:06 kepada asar siyam 17:11 bekas ataupun yang membekas dari ibadah 17:14 puasa yang mampu membangun karakter 17:18 kita. 17:20 Dalam sebuah kisah ini juga pernah saya 17:22 sampaikan di buku 17:25 saya juga saya kutip 17:28 pada halaman 172 17:31 bab ke 7 kalau enggak salah halaman 172 17:36 tentang kasih sayang. 17:39 Saya bacakan di sini. 17:43 Dalam satu riwayat Aisyah radhiallahu 17:45 anh menceritakan bahwa pada satu hari 17:49 dia kedatangan tamu yang tidak diundang. 17:54 Tamu tadi seorang wanita paruh baya 17:58 yang berpenampilan amat sangat 18:00 sederhana. 18:03 dalam keadaan yang wajahnya 18:07 mukanya pucat, 18:10 anak-anak juga kelihatannya lesu. Ya 18:13 Allah, ini sudah jelas dari sini kita 18:17 bisa menilai ini adalah orang yang 18:19 sedang ditimpa 18:21 penderitaan. mungkin kelaparan, 18:24 mungkin dia tidak jumpai makanan dan 18:26 sebagainya. 18:28 Dengan dua orang 18:31 putranya, putra Puti sebutkan dua orang 18:34 anaknya yang satu digendong, yang satu 18:37 dituntun. 18:39 Datang mengetuk rumah Aisyah. 18:42 Bunda Aisyah, istri Baginda Nabi. 18:46 Adakah sesuatu Bunda yang bisa saya 18:51 makan karena saya sudah berhari-hari 18:53 tidak menjumpai makannya? 18:55 Tentu saja Aisyah 18:58 sebagai istri Rasulullah tentu saja 19:00 banyak menyerap ilmu-ilmu apa yang 19:02 diajarkan oleh baginda Nabi dan 19:04 kelemahlembutan beliau. 19:07 segera masuk ke dalam rumah 19:09 terkopoh-kopoh dengan harapan bisa 19:12 memberikan 19:15 makanan ataupun apa yang bisa 19:17 meringankan beban ataupun penderitaan 19:20 tamu yang tidak diundang tadi. Namun 19:23 apaada daya 19:25 maksud hati 19:28 memeluk gunung 19:30 tapi apa daya tangan tak sampai 19:33 peribahasa zaman dulu ini artinya 19:36 keinginannya besar tapi apa daya keadaan 19:41 menjadi lain ternyata di rumah bunda 19:44 Aisyah pun teayak naon-naon 19:47 heeh 19:48 nih kalau sudah ngomong naon-naon ini 19:50 orang Sunda aja ditanya mesti enggak 19:51 bisa jawab He 19:53 naon itu apa? Mis mesti enggak jawab. 19:56 Dia akan katakan apa? Nanya Bali. Jadi 20:00 tak naon-naon 20:02 gak ada apa-apa di rumah 20:06 ini. Bayangkan istri baginda Nabi 20:09 manusia termulia di dunia. 20:12 Kekasih Allah luar biasa. Di rumah 20:16 sampai gak ada makanan. Coba kita lihat 20:19 di di kita ini di rumah ni. 20:21 Sekurang-kurangnya kita ini yang hidup 20:23 sederhana aja mesti gak mungkin gak ada 20:25 makanan tiap hari. Ini di istri baginda 20:28 nabi rumah manusia paling mulia si Allah 20:31 kekasih Allah kok aya naon-naon. 20:35 Bayangkan betapa 20:38 gunda hati bunda Aisyah ingin memberikan 20:41 sesuatu yang jauh lebih banyak atau 20:43 menggembirakan, membahagiakan. Tapi 20:46 ternyata tak aya naon-naon 20:49 apa boleh buat. Cuma apa yang dijumpai? 20:53 Tiga butir kurma. 20:54 Masyaallah. 20:56 Tiga butir kurma. 20:59 Ya Allah 21:02 dengan berat hati inilah yang bisa 21:05 diberikan pada tamu yang tidak diundang. 21:09 Ya Allah ibu ini mohon maaf di rumah pun 21:11 hanya ada tiga butir kurma. 21:15 Namun rupanya tamu ini juga tidak 21:17 sembarangan tamu. Kalau dari segi sikap 21:21 dan perilaku kesabaran, ketulusan ini 21:24 adalah cermin orang-orang beriman. Dia 21:26 terima tiga butir kurma itu dengan 21:28 syukur. 21:32 Segera dibagikan sebutir kurma untuk 21:34 anaknya yang satu dan satu butir lagi 21:38 diberikan pada yang satu. 21:40 Dua butir kurma diberikan pada 21:42 masing-masing satu butir kurma. 21:45 Sementara satu butir kurma dipegangnya 21:47 sendiri oleh ibundanya tadi yang dia 21:50 sendiri sudah menahan lapar. Mungkin 21:52 berhari-hari dia tidak jumpai makanan. 21:57 Apa yang 21:59 menjadikan Aisyah terpanah di depan 22:02 pintu rumahnya? 22:05 Begitu mendapatkan anaknya satu butir 22:09 kurma, 22:11 ketika dimakan dipandangi 22:14 dari cahaya peng 22:17 apa yang di cahaya penglihatan mata 22:21 ibunda melihat penuh dengan curahan 22:24 kasih sayang dan mencerminkan 22:26 kebahagiaan yang tersimpan dari seorang 22:29 ibu yang sebenarnya dia sedang 22:31 menderita. 22:33 Kebahagiaan itu terpancar dari pandangan 22:36 matanya. Dia perhatikan kecap mulut 22:39 anaknya. Mengunya hanya sebutir kurma 22:42 itu. 22:45 Senyum dikulhum ibundanya. Walaupun 22:49 dalam keadaan kepedihan dia menjalani 22:52 hidup yang serba kekurangan. 22:55 Itu yang membuat terpanak Aisyah. 22:58 sampai masing-masing 23:00 habislah kurma itu. Orang cuma satu 23:03 butir 23:05 yang satu butir kurma niatnya mau 23:08 dimakan dirinya. 23:10 Tapi segera 23:12 masyaallah 23:13 ini bahasa asing ini 23:16 diranggeh [tertawa] 23:19 diranggehnya kembali satu butir kurma 23:22 oleh putranya yang tentu saja kurang 23:24 makan sebutir kurma itu bahasa Indonesia 23:27 apa diranggeh direbut bukan 23:31 di apa pokoknya dirangg itu maksudnya 23:35 dicawel dicawel juga bedambil 23:38 lagi 23:41 diambilnya oleh anaknya diminta tapi 23:44 dengan langsung mengambilnya namanya 23:46 dirangkeh bahasa asing bahasa Jawa 23:49 maksudnya. 23:49 He. 23:51 Kemudian oleh Bunda yang Malang tadi 23:53 satu butir kurma itu dibelahnya menjadi 23:57 dua dan setengah butir diberikan kepada 24:03 masing-masing pada dua anaknya. 24:07 Tetap 24:09 pandangan 24:11 mata seorang ibu yang 24:14 penuh dengan curahan kasih sayang 24:17 melewati sinar matanya. diperhatikan 24:21 kecap mulut dua anaknya yang senang 24:25 mendapatkan walau hanya satu setengah 24:28 butir kurma masing-masing. 24:33 Sampai 24:35 habis kurma itu, tidak lama kemudian 24:38 Bunda yang Malang dengan dua anaknya 24:40 pergi meninggalkan rumah Aisyah. 24:44 Aisyah masih termangu di depan pintu 24:46 rumahnya. 24:48 Tidak lama. Kemudian baginda Nabi 24:50 datang. 24:52 Kemudian diceritakanlah peristiwa yang 24:54 mengagumkan mempesona itu menggetarkan 24:58 hati Aisyah. 25:00 Lalu apa? Rasulullah sallallahu alaihi 25:02 wasallam kemudian bersabda, 25:06 "Sesungguhnya 25:08 Allah telah menentukan baginya surga 25:13 dan Allah 25:15 telah memerdekakan 25:18 dia dari api neraka dengan sebab kasih 25:22 sayang kepada kedua anaknya itu." Hadis 25:26 diriwayatkanlah Imam Muslim. 25:29 Kalau kamu mau tahu ahli surga, itulah 25:32 orangnya. 25:33 Masyaallah. 25:34 Seorang ibu yang malang, 25:37 tetapi memiliki 25:39 mutiara 25:41 iman yang luar biasa. 25:44 Dia mampu 25:46 menterjemahkan kasih sayangnya dalam 25:48 pandangan mata kepada kedua anaknya 25:50 walau di dalam keadaan penderitaan. 25:55 Maka 25:58 di sini kemudian 26:00 disebutkan bahwa ternyata Allah 26:03 mencintai kasih sayang seorang ibu yang 26:07 melahirkan 26:11 atau menjadikan seorang itu sebagai 26:13 ditetapkan oleh Allah sebagai ahli surga 26:16 dan menjadi dinding dari api neraka 26:18 karena penderitaan tapi dengan sabar 26:22 tulus dan ikhlas serta itu dia curahkan 26:25 kasih sayang kepada kedua anak-anaknya 26:28 itu. 26:32 Dalam riwayat lain disebutkan 26:33 sesungguhnya 26:36 Allah itu lemah lembut. 26:39 Innallaha rofiquun yuhibur rifqo wti 26:44 alar 26:46 rifqi ma la yuti ala alal unfi w la yuti 26:53 ala ma siwa. Hadis yang diriwayatkan 26:56 oleh Imam Muslim. Sesungguhnya Allah itu 26:59 lemah lembut 27:01 dan menyukai orang-orang yang lemah 27:04 lembut, pemurah kasih sayang. 27:09 dan memberi 27:11 karena kelemahlembutan 27:14 dari apa-apa yang tidak dapat diberikan 27:17 orang-orang yang keras hatinya 27:20 dan yang tidak diberikan 27:22 kepada 27:26 orang lainnya. 27:30 Jadi lemah lembut itu masyaallah luar 27:32 biasa. 27:33 Allah mencintai pada hamba-hamba yang 27:35 lemah lembut. Kemarin kita bicara 27:37 tentang taaluf klub-kulub, 27:41 lemah lembutnya hati. Dan ini menjadi 27:44 menjadi ciri khasnya daripada agama 27:46 Islam. 27:48 Islam itu bisa diterapkan, iman itu bisa 27:51 tegak, persatuan itu bisa terwujud, 27:54 kasih sayang itu bisa terlaksana. Kalau 27:57 faallafa baina qulubikum, 28:00 mereka punya hati yang lembut. 28:03 Faasbahtum binikmati ikhwana. sehingga 28:06 sesama saudara sama mukmin dia menjadi 28:08 seperti saudara. 28:11 Bahkan persaudaraan sama muslim itu 28:13 sebenarnya kal jasadil wahid seperti 28:16 tubuh yang satu. 28:18 Akau ainuku. 28:21 Kemudian apabila sakit matanya sakit 28:24 seluruh tubuhnya. 28:28 Kesatuan tubuh ini bisa kita lihat dalam 28:31 semua aktivitas. 28:33 Walaupun berbeda-beda fungsi dan 28:36 tugasnya, tetapi untuk satu tubuh. 28:39 Mata yang melihat 28:42 makanan, ada kue lezat dan seterusnya. 28:46 Tangan yang mengambil, 28:48 mulut yang mengunyah, 28:50 kemudian ditampung di perut, tetapi 28:52 semuanya untuk seluruh tubuh. 28:56 Tangan dua yang berbeda. Yang satu kanan 28:59 dan kiri jelas berbeda. Dua tangan itu 29:01 enggak mungkin sama. 29:03 Kalau berjalan menjadi indah. 29:07 Yang kalau kanan ke depan, tangan kiri 29:09 ke belakang. 29:11 Yang kiri ke depan, yang tangan kanan ke 29:13 belakang. 29:15 Masa ada jalan kok tangannya 29:17 kedua-duanya depan belakang sama-sama. 29:20 memang 29:23 begitu semua soal telinga, mata dan 29:25 seterusnya. Ini gambaran tubuh umat 29:28 Islam yang satu. Karena Islam agama yang 29:31 satu oleh seluruh umat. 29:34 Bukan agama yang dipilah-pilah 29:37 seperti kue lapis yang dipilah-pilah, 29:39 dipisah-pisah satu dengan yang lain. 29:42 Kemudian sebagian masa bodoh dengan yang 29:44 lain. Tidak peduli. Kalau ini yang 29:46 terjadi persis seperti tubuh yang 29:49 abnormal. 29:50 Sakit kepala kok tangannya yang satu 29:52 ngeplaki kepalanya sendiri. Kakinya 29:55 terantuk batu kok mulutnya kemudian 29:57 menyumpai. Rasain loh kaki 30:03 ini. Maka taaluf, 30:08 kasih sayang, lemah lembut, bahkan 30:12 apa yang disabdakan baginda Nabi menjadi 30:15 satu jaminan 30:17 tetap ketetapan Allah memasukkan seorang 30:19 beriman yang hatinya lembut dan yang 30:22 kedua menjadi dinding api neraka ketika 30:25 dia dengan kasih sayang merawat 30:28 putra-putrinya 30:30 yang menjadi tanggung jawabnya dengan 30:32 penuh kasih sayang walaupun dengan 30:34 segala 30:35 dan susah payahnya. 30:40 Di dalam hadis yang lain yang 30:42 diriwayatkan oleh 30:46 Abu Mansur at-Tailami, 30:49 ada dua budi pekerti yang dicintai Allah 30:52 Taala, 30:53 yaitu 30:55 akhlak yang baik dan pemurah. 30:59 Dan dua perilaku buruk 31:02 yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa 31:04 taala. Ada akhlak yang jelek dan bakhil, 31:08 pelit, metitil. Ya. Apabila 31:16 apabila seorang hamba dikehendaki oleh 31:18 Allah menjadi orang baik, maka orang 31:21 tersebut dijadikan oleh Allah sebagai 31:23 jalan untuk memenuhi 31:27 keperluan-keperluan orang banyak. 31:30 Jadi ada orang yang rezekinya itu mudah. 31:34 Cari uang tuh gampang, dagang laris, 31:36 usaha untung. 31:39 Tapi ternyata bukan hanya banyak harta 31:41 dia, bukan hanya kaya harta, tapi juga 31:45 kaya jiwa. Jiwanya itu loman dan 31:48 dermawan. 31:50 Rasanya kalau tidak memberi itu mungkin 31:52 dia merasa rugi dari rezeki yang dia 31:56 peroleh itu kemudian menjadi jalan untuk 32:00 rezeki bagi orang lain. Dia suka 32:03 bersedekah, dia suka memberi. Ini luar 32:07 biasa ya. Berarti kasih sayang Allah 32:09 pada hamba yang pemurah termasuk akhlak 32:12 yang baik dan pemurah. Pemurah dengan 32:15 sikap perilakunya. 32:18 angg-ungguhnya, ramah tamahnya dan juga 32:22 pemurah dalam arti dia pemurah untuk ada 32:26 dan peduli terhadap orang lain. 32:29 Sedangkan dua akhlak yang buruk adalah 32:31 bakhil dan jelek perilakunya. 32:35 Mudah-mudahan 32:37 dari sikap pemurah yang Allah sudah 32:39 menetapkan, Allah suka, Allah mencintai 32:43 terhadap hamba-hambanya yang punya sikap 32:45 pemurah. Dan sikap pemurah ini dari 32:49 antara lain hasil produk puasa yang 32:52 benar yang mampu mengikis egoistis 32:57 egoisme menjadi jiwa yang 33:01 isariah 33:02 dari manusia yang ananiah, egoistis 33:06 menjadi jiwa yang isariah atau 33:08 altruisme, care dan peduli terhadap 33:11 orang lain. Bahkan dia rela bersusah 33:15 payah, rela berjuang, rela berkorban 33:18 untuk kemaslahatan hidup banyak orang, 33:21 untuk kebahagiaan orang lain dan 33:24 seterusnya. Wallahuam bisawab. 33:28 Masyaallah. 33:30 Jadi, ikhwan akhwat karena ini live Anda 33:34 bisa langsung telepon tanya ya. Tetapi 33:37 yang kirim melalui WA juga mudah-mudahan 33:41 bisa terjawab. semuanya. Pertanyaan yang 33:44 paling dalam, telahkah 33:46 [menghela napas][terkesiap] 33:47 pandangan mata kita penuh dengan kasih 33:50 pada hamba-hamba Allah yang bersimbah 33:53 duka atau berlumur ee derita? Baik, kita 33:57 boleh langsung ke pertanyaannya, Ustaz, 33:59 ya. 34:01 Pertanyaan dari Mbak Karisa. 34:04 Asalamualaikum, Ustaz. 34:06 Waalaikumsalam warahmatullahi 34:08 wabarakatuh. izin bertanya, bagaimana 34:10 mengawali hati kita, keikhlasan kita, 34:15 cinta kita, sabar kita, ketakwaan kita 34:21 dan itu semua kepada Allah Subhanahu wa 34:23 taala. Bagaimana ridanya kita juga pada 34:26 takdir Allah agar tidak berpaling kepada 34:30 selain Allah? Terima kasih banyak, 34:33 Ustaz. Iya. 34:34 Masyaallah. Ini pertanyaan luar biasa. 34:38 Justru ini yang problem terbesar bagi 34:40 kita sebagai manusia. He 34:42 kalau kita mempersoleh diri 34:46 ya mempercantik diri bagi wanita yang 34:49 memang suka dandan ya fitrahnya manusia 34:52 suka dandan supaya kelihatan cakep. 34:55 Bagaimana kita merawat 34:58 wajah, mata, telinga, 35:01 mulut, gigi dan sebagainya. bahkan kuku 35:04 saja, rambut kita dan seterusnya mandi 35:07 sekurang-kurangnya dua kali dengan 35:09 berbagai macam cara yang kita lakukan 35:12 untuk merawat body ataupun jasmani kita. 35:18 Demikian juga mestinya ada kewajiban 35:21 kita merawat 35:26 rohani kita. 35:28 Seperti tadi hal-hal yang disampaikan 35:30 tentang kesabaran, tentang keikhlasan, 35:34 tentang ramah tamah, tentang dan 35:37 sebagainya itu kewajiban kita 35:40 masing-masing 35:42 mempercantik 35:44 diri. 35:47 Maka Rasulullah diutus itu buistu 35:50 liutamima makarimal akhlak. Akhlak bisa 35:53 baik kalau rohaninya tuh baik. 35:57 ya sabar ya ikhlas ya tawakal percaya 35:59 pada Allah dan seterusnya banyak hal 36:01 itu. Itu tugas kita bersama. Jadi 36:04 pertanyaan luar biasa termasuk 36:06 pertanyaan untuk diri saya sendiri. 36:08 Bagaimana membangun karakter? Bagaimana 36:10 membangun jiwa? Memperhalus budi pekerti 36:13 menjadi jiwa yang ramah, yang peduli, 36:17 yang sabar. 36:20 Kalau sabar lagi banyak duit ya mungkin 36:23 bisa. Tapi sabar dikala kita menurut 36:26 bayangan mata kita menjadi gelap poek 36:28 panon. Tetapi bagaimana kita yakin pada 36:31 Allah bahwa Allah itu adalah zat yang 36:35 maha pemurah yang tidak mungkin 36:37 melakukan kezaliman terhadap hambanya. 36:40 Allah tidak pernah berkehendak untuk 36:43 membuat sengsara, susah bagi 36:45 hamba-hambanya. 36:47 Ah, itu kan tidak mudah. Namanya 36:48 berprasangka baik kepada Allah Subhanahu 36:50 wa taala. Bagaimana kepasrahan diri kita 36:53 kepada Allah? Yakin Allah segala-galanya 36:55 dan yang terbaik 36:57 itu juga perlu kita bina. Itulah yang 37:00 dimaksud bimbingan rohani, bimbingan 37:03 agama supaya keimanan kita, pribadi kita 37:08 seperti yang diharapkan oleh kita 37:10 semuanya. 37:11 Jadi intinya agama justru di situ. Bukan 37:14 ketika salat, rukuk, sujudnya semata. 37:17 Bukan ketika kita ramai-ramai diantar 37:20 pergi ke bandara pergi haji. 37:23 Bukan ketu, bukan selendang, bukan 37:25 kerudung jilbabnya saja, tapi esensinya. 37:30 Itu yang harus kita bangun. Nah, ini 37:32 menjadi tugas kita bersama. Nah, oleh 37:34 karenanya perbaharuilah iman. Ayyujadida 37:37 imanakum fi qulubikum. Perbaharui imanmu 37:41 dalam dirimu. 37:43 Lembutkan hatimu dengan banyak zikir dan 37:45 banyak membaca Al-Qur'an. 37:48 Contoh keteladanan baginda Nabi, 37:50 bagaimana pola dan sikap hidup beliau, 37:53 kelemahlembutan beliau, keramah-tamahan 37:56 beliau, kasih sayang beliau, dan 37:58 seterusnya. 38:02 Suatu saat Rasulullah sahu alaii 38:04 wasallam mendapatkan 38:07 tawanan seorang wanita. 38:10 Tiba-tiba dalam suatu peristiwa 38:14 seorang wanita tadi kehilangan anak. 38:17 Anak harus berpisah masih dalam 38:18 buaiannya. 38:21 Kayak apa sedih seorang ibu yang 38:23 kehilangan anaknya dalam situasi 38:25 peperangan seperti itu? Tapi dengan izin 38:28 Allah bisa disatukan dalam satu 38:30 pertemuan menjadi 38:33 tawanan. 38:36 Begitu diperlihatkan anak yang tadi 38:39 hilang kemudian berjumpa. Bayangkan itu 38:43 bagaimana itu gembiranya seorang ibu. 38:47 Anaknya ketemu lagi 38:50 gage-gage 38:51 segera dia dia peluk anaknya. Kemudian 38:57 dengan curahan kasih sayang. Oh, luar 39:00 biasa sulit saya menggambarkannya. 39:02 Kasih sayang ibu pada saat itu. Kemudian 39:05 segera diberikan ASI 39:08 dan kemudian baginda Nabi bertanya pada 39:11 sahabat, 39:12 "Tahukah kamu? Adakah 39:16 di dunia ini yang lebih kasih sayang 39:18 melebihi dari seorang ibu terhadap 39:20 anaknya?" Seperti yang kita lihat, 39:25 para sahabat tahu kalau Rasulullah 39:27 bertanya itu sebuah metodologi 39:30 untuk memberikan penekanan betapa 39:32 pentingnya itu apa yang akan beliau 39:34 sampaikan. 39:36 Biasanya dalam pertanyaan seperti itu 39:38 selalu saja 39:39 sahabat mengatakan Allahu wa rasulhu 39:41 aam. Allah dan rasulnya yang lebih tahu. 39:45 Tapi untuk kasih sayang seorang ibu itu 39:48 zahir nyata. Mungkin kalau kita yang 39:50 ditanya, saya kira enggak ada 39:52 jawabannya. Lebih kasih sayang melebihi 39:55 daripada kasih sayang ibu pada anaknya. 39:58 Maka kemudian Rasulullah mengatakan 40:00 Allah terhadap hamba-Nya 40:03 yang sering kita berprasangka buruk 40:05 kepada Allah, merasa kita ini di 40:09 dikecilkan, merasa Allah itu membuat 40:11 sengsara kita menjadi orang susah dan 40:13 seterusnya. Padahal Allah itu maha 40:16 pemurah 40:17 jauh kasih sayang Allah dibanding 40:22 kehebatan kasih sayang seorang ibu pada 40:25 anaknya. 40:26 Itu baru ciptaannya percikan dari kasih 40:28 sayang Allah. 40:30 He 40:30 pada anaknya. Apalagi kasih sayang 40:33 Allah. 40:35 Maka dalam beragama seluruh aktivitas 40:37 dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim. 40:42 Ar-Rahman dan Ar-Rahim. 40:45 sekalipun kepada orang kafir yang 40:47 maksiat, yang durhaka, masih diberikan 40:51 kasih sayang Allah di dunia ini. Dan 40:55 lebih dari itu secara khusus kasih 40:56 sayang diberikan pada hamba-hamba 40:59 kekasih Allah, pilihan Allah, orang yang 41:01 beriman di surga nanti. 41:04 Kemudian ketika kita baca Al-Qur'an, 41:07 baca surah Fatihah, Alhamdulillahiabbil 41:09 alamin arrahmanirrahim, 41:12 diulang setiap hari. Berapa kali kita 41:14 mengacapkan? Tapi kadang-kadang ketika 41:17 kita diuji sedikit aja terus berpikiran 41:19 kita, "Ya Allah, Allah di kenapa apa 41:22 dosa saya, Ya Allah? Kenapa nasib saya 41:24 begini, Ya Allah? Kenapa doa saya tidak 41:26 dikabulkan, ya Allah? Kenapa? Kenapa? 41:29 Kenapa? Terus kenapa? 41:33 Walaupun kalau diberikan nikmat belum 41:35 tentu syukur, lupa. Kadang-kadang yang 41:37 membusungkan dadanya tuh. Karena akulah 41:41 aku bisa jadi begini. Karena aku hebat. 41:43 Aku ngerti ekonomi, aku ngerti pedagang, 41:45 aku jadi orang kaya lupa. Allah yang 41:48 memberikan. 41:50 Nah, jadi kembali pada pertanyaan yang 41:53 inti tadi. Betul. Kewajiban kita 41:57 mengukir prestasi, mengukir jiwa menjadi 42:01 hamba-hamba yang berdimensi 42:05 vertikal tadi. Sabar, tawakal, ikhlas, 42:08 taat, tunduk, cinta kepada Allah, rida 42:11 kepada takdirnya. rida pada syariatnya 42:15 dan kemudian kita menjadi lemah lembut, 42:18 kir dan peduli terhadap sesamanya dan 42:21 keinginan hatinya ingin berbuat banyak 42:24 untuk banyak orang dan lebih dari itu 42:26 perlu kita perkaya dalam jiwa kita. 42:29 Wallahuam. 42:30 Masyaallah. Emm, pertanyaan berikutnya 42:34 ini dari hamba Allah aja. Pak Ustaz, 42:40 saya hamba Allah dari Sukabumi. 42:43 Mohon pencerahannya. Bagaimana cara 42:45 menghadapi anak yang susah memaafkan 42:48 keluarganya? 42:49 Syukran. 42:53 Kalau namanya anak, ya jelas menjadi 42:55 kewajiban kita 42:58 untuk 43:00 membangun karakternya. 43:02 Makanya anak itu titipan. 43:06 Yang harus diperhatikan 43:08 oleh orang tuanya adalah 43:11 membangun jiwa, membangun akhlak yang 43:13 baik, akhlakl karimah. 43:17 Bahkan diajarkan kepada kita 43:21 di dalam kandungan pun sudah sering kita 43:24 lantunkan doa 43:26 munajat pada Allah. 43:29 Kita perintah diperintahkan mendidik 43:31 dari 43:33 kecil 43:34 bimbingan lisan, perilaku, sikap, rasat 43:38 syukur, terima kasih, sabar, dan 43:41 seterusnya. Itu kewajiban kita. 43:44 Kita sekolahkan. Cari sekolah yang bisa 43:47 membangun karakter. Bukan hanya pintar. 43:50 Kalau hanya pintar tanpa karakter ya 43:53 pintar ngapusi. 43:55 Sudah besar jadi pejabat, pintar 43:57 korupsi. 43:59 pintar siasat-siasat yang buruk dan 44:01 seterusnya. Ini tentu tidak kita 44:03 kehendaki. Jadi membangun karakter iman, 44:05 kejujuran dari kecil itu diajari 44:07 kewajiban kita. Cuma kadang-kadang kita 44:09 ini lupa anak itu yang kita cukupkan 44:12 adalah rezekinya, pakaiannya, pakai 44:15 kesehatannya, kemudian sekolahnya, 44:18 pintarnya. Itu saja yang kita 44:20 perhatikan. Tapi akhlaknya, 44:21 kejujurannya. 44:24 Lah orang-orang tua dulu masih ngajari 44:25 kita 44:27 itu kalau di Jawa kan ada istilah kromo 44:31 ya bahasa kromo itu di bicara sama anak 44:34 itu dengan bahasa kromo. Loh mboten 44:37 pareng loh dik moten pareng itu kan 44:40 mboten pareng tuh pareng itu ora oleh 44:42 gitu loh. W bukan enggak boleh bukan 44:45 gitu moten pareng mam riyin nggih 44:49 pun papung dereng itu kalau Jawa. Kalau 44:51 bahasa Sunda saya tengarti abdi mah 44:53 Bung 44:55 bahasa yang halus itu bukan karena kita 44:58 ini apa 45:01 mengab 45:04 apa tawadu bukan yang dimaksud mengajari 45:07 tawadu mengajari orang bertata 45:10 kromo berakhlak yang baik kalau diberi 45:13 sesuatu oleh orang apa katakan bagaimana 45:16 jazakallah khair matur nuwun terima 45:19 kasih 45:21 Ya, itu diajarkan. Nah, sekarang karena 45:23 sibuk kita kadang-kadang budat sudah 45:26 kasih makan, kasih HP sudah tenang. 45:29 Nah, inilah mungkin kesalahan kita. Oleh 45:31 karenanya tetap kembali pada pendidikan. 45:33 Walaupun orang-orang tua dulu pendidikan 45:36 sederhana tapi mengajari anak dengan 45:38 benar, jujur. Dapat uang ini uang dari 45:41 mana? Oo, ini dapat dari mana dan 45:44 sebagainya. Kalau mainan anak orang 45:47 lain, tetangga dibawa, ini mainan siapa? 45:50 Yo, dipulangkan ya. Pinjam, kasih tahu, 45:55 pinjam nanti sudah itu ucapkan 45:57 kembalikan terima kasih. Itu mendidik 45:59 anak jujur, amanah, dan tanggung jawab. 46:02 Kemudian jangan lupa dikawal dengan doa. 46:09 Doa itu tidak hanya sekedar ya kadanya 46:11 doa sajalah ingat doain. Bukan 46:14 sungguh-sungguh kita kalau perlu nangis 46:17 kita di hadapan Allah. Ya Allah jangan 46:19 kau jadikan aku pun sebagai orang tua 46:21 yang anaknya durhaka padamu ya Allah. 46:24 Durhaka pada sama nangis pada Allah. Ya 46:26 Allah, jadikan anak-anak saya yang 46:28 berhati lembut, yang beriman, yang 46:31 ikhlas, yang suka menolong dan 46:33 sebagainya. Dalam sujud kita ketika 46:35 salat sujud yang terakhir itu lantunkan 46:38 doa untuk anak-anak kita. Ketika 46:40 anak-anak sedang tidur kita lantunkan 46:43 doa di dekatnya. Bahkan aka sepertiga 46:46 malam kita bangun, doakan anak-anak 46:48 kita. Ya Allah jadikan dia yang 46:50 berakhlakul karimah, yang bisa memberi 46:52 manfaat banyak orang terhadap orang 46:54 lain, yang beragama yang tulus dan 46:56 seterusnya 46:57 terus dikawal. Kemudian hindarkan 47:01 rezeki-rezeki yang tidak halal, yang 47:04 haram, yang dapat nguntit, yang dapat 47:08 ngapusi dan seterusnya itu juga akan 47:10 berpengaruh ya. Kemudian tiap hari-hari 47:13 diajari pada kita. Kita sebagai orang 47:15 tua itu juga guru bagi anak-anaknya. 47:18 Bapaknya itu jangan hanya ngasih duit 47:20 doang. Udah itu masa bodoh. Itu urusan 47:22 emak. Tanggung jawab anak itu tanggung 47:25 jawab nanti jadi penyesalan di akhirat. 47:27 Apalagi seorang suami. 47:29 Seorang suami itu bertanggung jawab pada 47:31 keluarganya. 47:33 Satu pada ibu bapaknya. 47:36 Kalau sudah tua maka dia yang harus he 47:40 menjadi tanggung jawab. Saya yang harus 47:42 merawat ibu bapak saya. saya sebagai 47:44 anaknya atau kalau anaknya dua ya 47:47 berdua, anaknya tiga ya bertiga. Jangan 47:49 masing-masing. Kita sekarang ngurusi 47:51 orang tua yang sudah tidak berdaya itu 47:54 yang mengasihi sayangi dan seterusnya 47:56 seperti dia mengasihi mencintai kita. 47:58 Karena pada hakikatnya seorang anak yang 48:00 berjumpa dengan orang tuanya sudah tua, 48:02 yang sudah tidak bisa banyak berkarya, 48:07 berdagang, berusaha itu sebenarnya 48:10 memberikan kesempatan, peluang kita 48:13 membuka pintu surga yang 48:15 selebar-lebarnya. 48:17 Yang kedua, istri. 48:19 Istri itu ijab kabul itu kalimat luar 48:22 biasa sakral. Itu kalimat sakral. 48:26 Artinya sejak itu menjadi tanggung jawab 48:28 suami 48:29 dunia akhirat. 48:31 Kalau istrinya agamanya enggak diurus 48:34 oleh suaminya, enggak pernah 48:35 diperhatikan, enggak pernah disuruh 48:38 untuk belajar agama dan sebagainya 48:40 sehingga kelakuannya bertentangan dengan 48:42 syariat agama, nanti suaminya dilandrat 48:46 di akhirat walaupun suaminya itu orang 48:48 saleh. 48:50 Kenapa kau biarkan istrimu melakukan 48:53 maksiat? Dia termasuk akan disiksa oleh 48:57 Allah karena dosa istrinya. Karena dia 48:59 tidak kecuali kalau istri yang bedegul, 49:03 yang 49:05 enggak mau diatur, sudah diberikan 49:08 bimbingan tidak mau. Itu lain lagi 49:09 urusannya. Tapi kalau kita yang 49:11 laki-lakinya, suaminya tidak peduli 49:14 tentang pendidikan agamanya, akhlaknya, 49:16 dan seterusnya ibadahnya, maka kita akan 49:19 kenal. Yang ketiga, anak perempuan 49:22 khususnya ya. Bukan berarti tidak ada 49:24 anak laki-laki. 49:25 Ini anak perempuan harus diperhatikan. 49:27 Maka tadi mengasihi dua anak perempuan, 49:30 merawatnya dengan penuh kasih sayang itu 49:32 jaminannya surga. Ya Allah luar biasa 49:34 itu pendidikannya, terutama akhlaknya 49:36 dan seterusnya. Jadi dalam hal seperti 49:39 ini maka tetap anak-anak itu selain 49:42 diberikan perhatian serius tentang 49:44 akhlak, akidah, ibadah, kemudian 49:48 keimanannya 49:50 dikawal dengan doa-doa 49:53 setiap saat. Bahkan sekalipun sudah tua 49:56 misalnya anaknya jadi pejabat, tetap 49:58 orang tua itu tidak salah kalau kemudian 50:01 dia mengatakan, "Nak, kamu sekarang 50:03 sudah jadi pejabat. Semua itu adalah 50:06 merupakan titipan Allah. 50:08 Hati-hati, ojo sembrono, ojo korupsi. 50:11 Ndak apa-apa orang tua menasihati 50:13 walaupun anaknya jadi bupati, jadi 50:14 jenderal. Emang kenapa? 50:17 Tetap nasihati. Jangan malah ngikuti. Ya 50:20 ini doakan saya dapat uang banyak 50:22 begini. Iya saya doakan. Kalau enggak 50:25 benar ya tetap diingatkan. Wallahuam. 50:28 Terima kasih untuk Aa Nana Sumarna 50:31 penjelasan yang begitu gamblang. Terima 50:33 kasih Ustaz. Kemudian dari Ibu Ani C ya 50:38 itu juga menyimak acara kita. Dan ini 50:41 Mbak Siti Anisa bertanya, "Ustaz, kenapa 50:44 ada orang itu bisa bahil sama saudaranya 50:48 sendiri, tapi sama orang lain mereka 50:50 sangat memberi 50:52 ee mohon pencerahannya." 50:54 Ya, inilah perlunya pengetahuan agama. 50:59 Memang membangun karakter itu 51:03 ya tidak mudah hanya dengan kalimat 51:06 omongan semata, 51:09 tidak cukup hanya menyerahkan dalam 51:11 pendidikan sekolah dan seterusnya. 51:14 Tiga persyaratan untuk membangun 51:16 karakter. pertama 51:18 kow kowing 51:21 knowledge artinya ilmu. 51:24 Jadi beragama itu harus kita pelajari 51:26 gimana sih cara berinteraksi pada 51:29 sesama, bagaimana sih cara komunikasi 51:32 dan berkeluarga, bersaudara, 51:36 interaksi sosial, pribadi dan seterusnya 51:39 itu ada tata caranya dan diatur oleh 51:41 agama. 51:44 Saudara itu harus mendapatkan bisa dua 51:47 bagian, bisa tiga bagian. Kalau dia 51:49 saudara, dia tetangga, dia seagama, tiga 51:53 haknya harus kita tunaikan. 51:56 Jadi harus pendidikannya, terus 51:59 perhatiannya, dan seterusnya. 52:01 Kalau dia saudara semata bukan bukan 52:04 tetangga, agamanya berbeda sekali 52:07 perumpamanya tapi dia saudara tetap 52:09 berlaku bersaudara. 52:12 Yang kepada yang tua dia hormat dan 52:15 tawadu, kepada yang muda kepada yang 52:18 kecil dia kasih sayang. 52:20 Itu pergaulan. Dan sebelum pada yang 52:22 lain mulai dari keluargamu dulu, bukan 52:26 pada orang lain. Baru tetangga, baru 52:29 yang jauh dan seterusnya. Nah, jadi ini 52:31 kembali pada ilmu tadi ilmu pengetahuan 52:35 agama adabiah, akhlakul karimah, tata 52:37 cara kehidupan berinteraksi. Yang kedua, 52:41 acting 52:43 artinya dipraktikkan. 52:46 Kasih sayang praktiknya gimana. Kalau 52:50 enggak dipraktikkan ya hanya sebagai 52:51 ilmu belaka. Dan baru kemudian kalau 52:54 sudah punya ilmunya dan dia sudah 52:57 menjadi terbiasa, 52:59 maka dia menjadi habit, 53:02 sudah memb sudah matang dalam karakter, 53:04 nempel pada dirinya. Kalau orang sudah 53:07 terbiasa ibadah, itu sudah otomatis. 53:11 Orang biasa memberi, orang berkasih 53:12 sayang, sudah terbiasa berkasih sayang, 53:14 ya akan muncul dengan sendirinya ya. 53:16 Wallahuam. 53:18 Masyaallah. 53:20 Ini ke pertanyaan berikutnya dari Bung 53:24 Apidin Nurhidayat. Kenapa ya kita-kita 53:27 ini tidak ingat banyak dosa? Sementara 53:30 dari Cak Witono 53:33 bertanya, 53:35 "Apakah orang yang lagi diberi sakit 53:38 juga harus bersyukur, Ustaz? Bagaimana 53:40 kiatnya? Matur nuwun sanget. 53:43 Dan salam dari pecel Madiun yang siap 53:46 bantu halal bihalal rasil. Heeh. 53:49 Alhamdulillah. 53:50 Waduh, ini menantang juga maik datang 53:52 nih. 53:54 Inilah yang saya bilang bahwa melihat 53:57 itu kita tidaknya melihat keluar. 54:02 Melihat keluar ya ini banyak dilakukan 54:05 oleh orang apalagi orang-orang ahli ilmu 54:08 dia analisa, dia melakukan penyelidikan, 54:12 observasi, penelitian di luar dirinya. 54:16 Jagat makro, jagat mikro itu diketahui. 54:19 Tapi sedikit sekali orang yang mau 54:22 melihat, mau menganalisa, 54:25 mau memperhatikan bagaimana dirinya. 54:30 Maka dalam Al-Qur'an diperintahkan, 54:33 "Lihat dirimu." 54:35 Wal tanzur nafsum ma qodamat. Lihat 54:39 dirimu apa yang kau persiapkan untuk 54:40 hari esok. Hasibu an tu hasabu ya 54:44 dihitung-hitung dirimu. 54:48 Hasabu anfusak hasabu anfusakum qobla an 54:52 tuhasibu. Hitung dirimu sebelum kau 54:54 dihitung. 54:56 Jadi suruh melihat ke dalam. 54:59 Banyak sekarang orang gak kenal siapa 55:01 aku. Bahkan ada jarak di antara dirinya 55:04 sendiri. Dia enggak kenal siapa dirinya, 55:06 bagaimana hatinya, bagaimana jiwanya, 55:09 bagaimana nalurinya, dan seterusnya. 55:11 tidak pernah dia kenal. Yang dia kenal 55:12 itu uang di sana, proyek di sana ini 55:15 keuntungan si itu aja yang dia tahu. 55:18 Tapi siapa dirinya? 55:20 Pada posisi manakah dia? Derajat 55:23 martabatnya 55:24 sejauh di mana hubungan dia kepada 55:26 Allah? Bagaimana interaksi p sesama, 55:29 pada saudara, bakti sama orang tua, 55:32 kepedulian sama saudara dan seterusnya. 55:34 Ini yang jarang kita perhatikan. 55:39 Oleh karenanya orang kalau sama dosa 55:42 kadang-kadang lupa karena kita tidak 55:44 melihat ke dalam. 55:46 Untuk itu belajar mari seperti firman 55:48 Allah tadi ya ayyuhalladzina amanutqulah 55:51 wal tanzur nafsum ma qodamat. 55:55 Bertakwalah kamu dengan takwa dengan 55:57 takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah dan 56:01 lihatlah pada dirimu bekal apa yang 56:03 sudah kau persiapkan untuk hari esok. 56:07 anusakumabu 56:08 hitung-hitung dirimu sebelum kau 56:11 dihitung oleh Allah Subhanahu wa taala. 56:13 Jadi lebih banyak kita mulai 56:16 mengintrospeksi diri, menghitung diri, 56:19 mengenal lebih dalam siapa diri yang 56:20 sebenarnya sehingga dia tahu posisi di 56:23 mana dalam keberadaannya. Karena itu 56:25 semua akan ditanya oleh Allah, seberapa 56:27 tinggi derajat dan martabatmu ketika 56:30 diberikan waktu hidup di dunia sampai 60 56:33 tahun, 70 tahun itu akan dihitung oleh 56:35 Allah subhanahu wa taala. Wallahualam. 56:38 Yang bisa bersyukur saat sakit, Ustaz. 56:41 Dan dia harus melihat bukan dengan mata 56:44 kepala, 56:46 bukan hanya dengan rasa dan perasaan. 56:49 Kalau hanya sekitar logika, rasio, rasa 56:52 perasaan dengan mata kepala. Kalau kita 56:55 merasakan sakit ya yang dirasakan cuma 56:58 sakit. Duh Gusti loro teman awakku iki 57:03 sakit dan seterusnya. Tapi kalau dia 57:05 melihat dengan mata iman, 57:09 dengan mata hati dan mata iman, dia akan 57:12 melihat hikmah di balik peristiwa. 57:16 Karena orang sakit itu untuk bersa 57:19 merasakan betapa nikmatnya sehat. 57:22 Ayo kan dalam hidup ini kan lebih banyak 57:25 sehatnya daripada sakitnya. He he. 57:28 Tapi kadang-kadang kita merasa tersisa 57:29 karena kita hanya di permukaan. Ibarat 57:31 orang berenang itu pakai pelampung. 57:34 Enggak iso nyelem arep pakai pelampung 57:36 enggak bisa. Nah padahal sakit itu 57:39 antara lain ada hikmah di balik setiap 57:42 peristiwa. Peristiwa sakit ada hikmah di 57:46 palingnya. Satu, 57:48 Allah sedang menggugurkan dosa-dosanya. 57:53 Makin nemen sakitnya, makin berat 57:56 sakitnya, makin besar dosa-dosa yang 57:59 akan terhapus. Satu. Yang kedua, tiap 58:03 sakit itu dapat pahala. 58:06 Jangankan sakit, kecocok duri saja ada 58:10 balasannya pahala dari Allah Subhanahu 58:12 wa taala. Yang ketiga, sedang mengangkat 58:16 derajatnya kalau lulus 58:20 ya. Jadi deratnya akan naik. Diberi 58:23 sakit itu akan dinaikkan, dikasih ujian 58:25 itu akan dinaikkan derajatnya, 58:27 martabatnya. 58:29 Kemudian yang ketiga ya satu tadi di apa 58:34 akan diberikan diampuni dosanya, 58:36 berguguran dosanya yang kedua akan 58:39 diberikan pahala yang ketiga akan 58:41 dinaikkan derajatnya dan kemudian akan 58:45 dikembalikan sehatnya. 58:48 Empat yang diambil satu tenaganya letoy 58:51 orang sakit. Ya Allah jangankan untuk 58:54 main bola, ngangkat telinga aja enggak 58:57 mampu kita. Ya Allah. Nah, merasakan 58:59 betapa itu nikmatnya itu sehat. Yang 59:02 kedua, cahaya mukanya pucet. Ya, 59:05 walaupun yang cantik, tetap aja orang 59:07 sakit mah ya ya sakit namanya orang 59:11 cantik sakit ya tetap aja. Kemudian 59:15 nafsu makannya, 59:17 yang keempat dosanya yang tiga akan 59:19 dikembalikan 59:21 yang satu gak dikembalikan. Yang tiga 59:23 apa yang dikembalikan? Tenaganya, cahaya 59:26 mukanya, nafsu makannya. tambah gembul 59:29 sesudah sakit dan dosanya tidak 59:32 dikembalikan lagi. Kalau kita sabar 59:36 narimo, tapi kalau kita enggak sabar ya 59:38 sakitnya nemen tambah enggak enggak 59:41 enggak sembuh-sembuh kemudian dosanya 59:43 tambah enggak dapat derajat martabat dan 59:46 seterusnya maka dengan ilmu. 59:48 Wallahualam. 59:50 Baik kita sudah sampai di penghujung 59:52 Ustaz closing ideanya kami nantikan. 59:55 Allahu Akbar. Ya Allah ya Rabb. 59:58 Ternyata hidup ini misteri 1:00:01 penuh dengan teka-teki. 1:00:05 Tidak cukup dipecahkan oleh mata kepala, 1:00:07 rasio, logika semata-mata, 1:00:11 tapi dengan iman, dengan nur hidayah 1:00:14 dari Allah, dengan Al-Qur'an, dengan 1:00:17 petunjuk Nabi. Itulah pentingnya agama. 1:00:21 Menyuburkan rohani kita, meningkatkan 1:00:24 spiritual kita, keimanan kita. 1:00:26 Insyaallah sehingga kita bisa melihat 1:00:30 hal yang 1:00:33 substansi 1:00:35 di balik setiap peristiwa yang kita 1:00:38 hadapi. 1:00:40 Tidak ada hari tanpa masalah dan setiap 1:00:43 peristiwa mengandung hikmah. 1:00:45 bahagia orang yang mampu 1:00:48 mengumpulkan 1:00:50 memunguti 1:00:52 mutiara-mutiara hikmah yang bertebaran 1:00:55 hampir pada seluruh lini kehidupan yang 1:00:59 kita jumpai. Mudah-mudahan kita bisa 1:01:01 menjadi hamba yang bijak, yang arif 1:01:04 sehingga kita bisa mengumpulkan mutiara 1:01:06 hikmah dan menjadikan derajat martabat 1:01:08 kita di mata Allah dengan kemuliaan dan 1:01:11 keridaan Allah Subhanahu wa taala. Mohon 1:01:13 maaf segala kekurangan kekeliruan. 1:01:15 Wabillahi taufik wal hidayah. 1:01:16 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:01:18 wabarakatuh. 1:01:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:21 wabarakatuh. Terima kasih, Ustaz. Ikhwan 1:01:24 akhwat. Ada pertanyaan yang 1:01:26 mudah-mudahan jawabannya juga segera 1:01:29 terwujud. Telahkah sikap kita penuh 1:01:32 dengan kepedulian? Telahkah pandangan 1:01:35 tattapan mata kita penuh dengan kasih 1:01:38 kepada hamba-hamba Allah yang berlumpur 1:01:41 dengan duka? 1:01:43 Dan telahkah nada suara kita menyamankan 1:01:46 telinga yang mendengar? Oh. Oh. Mari 1:01:48 kita ukir jiwa kita untuk rida pada 1:01:51 takdir yang ada. Semoga kita bisa 1:01:54 genggam erat kata pemurah di dalam 1:01:57 perjalanan hidup kita. Sekali lagi 1:01:59 terima kasih. Billahi taufik walhidayah. 1:02:00 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:02:02 wabarakatuh.