Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, ikhwan akhwat yang disayang
- Allah. Alhamdulillah ya, kita
- dipertemukan kembali di acara yang
- mudah-mudahan mempersuasi kita semua
- tausiah pagi bersama Ustaz Abul Hidayah
- Saioji. Mudah-mudahan semuanya sehat,
- bugar, aman, terkendali dan tidak lupa
- salam selawat kita lantunkan untuk
- junjungan umat kekasih kita Muhammad
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Semoga kelak kita dipertemukan beliau di
- saat yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir. Ikhwan akhwat kalau sempat minggu
- sebelum ini menyimak ataupun melalui
- YouTube-nya Rasil TV kita bicara tentang
- lembutnya hati dan indahnya ukhuwah. Di
- mana masih ingat ya hati kita ini Mbak
- Dinamo masih aman enggak sih tanpa
- gangguan? Nah, kali ini berlanjut dengan
- bahasan dari buku Meniti Jalan Ke Surga,
- kita akan lanjut bahas setang apa nanti
- kita simak ya. Kita sapa beliau yang
- sudah hadir di sini. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kalau lanjut jadi rindu banget deh. Apa
- sih yang membuat Allah cinta kepada
- kita? Insyaallah.
- Jadi topik bahasan kita kali ini
- iya
- persisnya
- Allah
- mencintai
- hati pemurah dari hamba-hambanya.
- Masyaallah. Jadi kata murah adalah kata
- yang ajaib sekali ya. Baik.
- Bukan bukan murahan loh ya.
- Eh kata dasarnya murah tapi pemurah.
- Baiklah kita simak yuk dengan telinga
- jiwa kita. Monggo, Ustaz.
- Baik.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- [berdehem]
- Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah
- wasalatu wasalamu ala rasulillah
- wa ala alihi wa ashabihi
- waman tabiahum biisanin [berdehem]
- ila yaumil qiamah.
- Masyaallahu kan wama lam yasya lam
- yakun. La haula wala quwwata illa
- billah. Amma ba'd.
- Ayyuhal ikhwan rahimakumullah. Para
- ikhwan, saudara-saudaraku,
- kaum muslimin, muslimat di mana pun
- antum berada. Mudah-mudahan pagi ini
- pagi yang diberkati oleh Allah untuk
- kita semua.
- Amin. Allahuma
- di pagi yang cerah ini, alhamdulillah di
- bulan Syawal sesudah 1 bulan rama
- Ramadan kita melakukan puasa.
- Mudah-mudahan
- masih ada asar, masih ada bekas,
- masih ter
- lukis, terpahat di dalam hati kita.
- Pengaruh dari pendidikan
- Ramadan 1 bulan lamanya.
- Sekurang-kurangnya membekas sampai tahun
- depan sehingga kita berjumpa kembali.
- Amin.
- dengan Ramadan untuk lebih meningkatkan
- kualitas kita. Amin ya rabbal alamin.
- Dari
- salah satu di antara asar ataupun
- pengaruh
- dari
- tarbiah ataupun
- pemberian atau to educate terhadap puasa
- pada pribadi kita. Sering saya sampaikan
- bahwa asarus siam fi binaisiah, pengaruh
- puasa dalam membangun karakter kita,
- membangun kepribadian kita sebagai
- mukmin sejati.
- Mukmin yang bukan hanya dalam ungkapan
- kata-kata indah,
- dalam pengakuan,
- tapi memang dibuktikan oleh realita.
- Karena
- Hasan Albasri sendiri mengungkapkan
- bahwa iman itu bukan hiasan mulut.
- He.
- Bukan indahnya kata-kata. Laisal iman
- bitamani. Dan ing iman itu bukan
- angan-angan kosong.
- Walakin ma waqo filqolbi wasodqohul
- amal.
- Tetapi yang dimaksud iman itu memang
- menetapi hati terpatri dalam jiwanya.
- tersibghah
- jiwanya terwarnai
- dicelup oleh celupan ilahi
- dan menetap dalam hati sanubari kokoh
- kuat.
- Saya suka bilang terpatri. Terpatri itu
- gak copot-copot. Kalau sekaligus dipatri
- ya melekat dia.
- Kemudian dibuktikan
- apa yang menjadi keimanan di hati kita
- pada mengukir jiwa kita dalam realita
- kehidupan. Ma waqoro fil qolbi
- wasodqohul amal.
- Fainna gorhumul amani hatta khju minad
- dunya wala hasanata lahum.
- Ada satu kaum yang mereka tertipu oleh
- angan-angan pengakuan GR Gede rumongso
- merasa sudah
- ini Hasan Albasri seorang tabiin ya yang
- menyampaikan seperti itu. Ada orang yang
- merasa dirinya orang beriman.
- He.
- Di mana merasanya? Satu di lingkungan
- masyarakatnya muslim.
- Mungkin rumahnya dekat masjid.
- mungkin dari keturunannya, haji-haji
- semua, mungkin dari suasananya dan
- seterusnya.
- Tapi sayang mereka tertipu oleh
- pengakuannya. Hatta khoroju minad dunya
- wala hasanata lahum. Sehingga mereka
- keluar dari dunia ini, artinya kita
- meninggalkan dunia. Wala hasanata lahum.
- Tidak memiliki kebaikan sedikit pun.
- Artinya imannya tidak berbuah.
- Ibarat pohon pohon yang gak ada buahnya,
- mandul.
- Nah, kalau seperti ini maka kita tertipu
- oleh angan-angan. Merasa beriman tapi
- gak ada amalnya.
- Jadi apa yang kita katakan dalam lisan
- kita itu adalah kosong belaka. Kalau
- kosong berarti zero. Kalau zero berarti
- gak ada kualitas, gak berbobot.
- Dalam perjalanan hidup manusia itu kan
- dites oleh Allah. Karena dunia itu
- tempat tes kualitas.
- Semenjak dia baligh, berakal, maka di
- situlah mulai dihitung oleh Allah
- Subhanahu wa taala. Diberikan
- ujian-ujian, diberikan godaan-godaan,
- diberikan tes kualitas. Coba sejauh di
- mana kualitas hamba ini? Ini memang
- manusia yang berkualitas atau tidak?
- Nah, itu kalau mau mikir tentang hidup
- dan kehidupan kita semua.
- Kadang-kadang kita terba-angan dan
- merasa hebat, dapat sanjungan
- di tengah orang-orang ahli ibadah. Tapi
- kita sendiri kosong, kualitasnya enggak
- ada, enggak ada amalnya.
- Hanya ungkapan kata-kata indah, mungkin
- pintar di andai bicara dan sebagainya.
- Ilmunya juga ada. Tapi secara maknawi
- kita tidak memberikan kontribusi apapun.
- Iman kita tidak terwujud baik dari
- dimensi vertikal
- di hadapan Allah
- dan juga dari dimensi horizontal.
- Hablu minannas gak ada kualitasnya.
- Gak ada kontribusinya.
- Jadi ibarat pohon pohon rindang, subur
- tapi tidak memberikan buah.
- Gak ada buahnya. Biasanya kalau petani
- punya pekarangan pohon yang rindang, gak
- ada buahnya, ya ditebang
- untuk kayu bakar. Nauzubillah minzalik.
- Nah, oleh sebab itu mari Allah dengan
- kasih sayanya tahu betul karakter
- manusia itu tergesa-gesa. Maunya cepat
- sampai maunya yang enak-enak.
- Yang enak-enak 10 tahun enggak enaknya
- cuma sebentar saja 22 hari 3 hari ngeluh
- ya. Sehatnya sudah selama hidup tapi
- kemudian sakitnya hanya seminggu saja
- sudah mengelu menyalahkan Allah.
- Senangnya sudah sekian lama, ndak
- senangnya sebentar. Allah disalahkan,
- tidak adilah dan sebagainya. Berarti ini
- itu kualitas kita sebenarnya. Nah, maka
- kembali Nabi kemudian di dalam sebuah
- hadis mengatakan, "Alqaisu manana
- nafsahu wa amila lima ba'dal maut."
- Orang yang cerdas, orang yang biawai,
- orang yang mempunyai kecerdasan,
- ternyata tidak hanya kecerdasan
- intelektual.
- Tapi perlu ditopang dengan kecerdasan
- emosional,
- kecerdasan spiritual
- sehingga dia tidak terjebak kepada yang
- bersifat hisi atau zahir semata.
- Casing-nya saja. Lihat dalamnya
- mesinnya,
- lihat hakikatnya, lihat maknanya dalam
- kehidupan. Maka dalam hidup orang
- beriman yang cerdas piawai dengan
- kecerdasan spiritual
- itu dia melihat sesuatu bukan yang
- nampak
- di pada pandangan mata.
- Dia bisa melihat yang hakiki.
- Dia tidak terjebak kepada hal yang
- bersifat zahir semata. Dia melihat
- dengan mata hati.
- Bahkan lebih dalam lagi dia akan bisa
- melihat dengan mata imannya.
- Masyaallah.
- Kalau dia melihat dengan mata hati,
- insyaallah dia bisa menimbang, bisa
- memilah dan memilih mana yang benar,
- mana yang salah, mana yang lurus, mana
- yang bengkok. Walaupun di sana sini ada
- bunga-bunga kanan kiri yang indah
- bertaburan dengan senyum, dengan riuh
- rendah sanjungan. Dia tidak melihat itu.
- Lihat garis ini lurus. Lihat ini jalan
- yang benar atau jalan yang salah.
- Apalagi ditopang dengan penglihatan mata
- iman, maka dia akan mampu menembus
- gelagat dari yang fisik kepada
- metafisik. Dari yang nampak di permukaan
- sampai dia melihat
- ha melihat dari hikmah di balik setiap
- peristiwa.
- Dulu ada cerita di TV itu zaman dulu
- masih belum ada TV
- apa namanya ee masih TV republik DPR itu
- ada kisah si Medun sengsara membawa
- nikmat.
- Jadi kesengsaraan itu di balik itu ada
- hikmah.
- Orang bisa menikmati sesuatu itu nikmat
- kalau dia sudah merasakan betapa
- susahnya dalam hidup ini.
- Orang yang tiap hari makan enak, makanan
- lezat, minuman segar,
- macam-macam dia. Suatu saat dikasih
- makan yang sederhana ala kehidupan di
- kampung. Wah, sengsara itu.
- Sengsara.
- Orang yang bisa hidup di ruang yang AC,
- yang dingin, yang sejuk.
- Kemudian keluar gerah rasanya panas.
- Orang yang biasa hidup di lampu terang
- benerang di kota dengan sinar listrik
- atau cahaya listrik.
- Suatu saat di kampung gelap gulita. Uh
- tersiksa.
- Nah jadi sebenarnya bahagia itu terletak
- pada perasaan ya. Bagaimana hati dia
- bisa menerimanya.
- Maka kembali kepada sabda Nabi,
- disebut orang yang cerdik itu adalah
- yang sekarang orang mengatakan para
- pedagog, para ahli-ahli pendidikan
- ternyata gak cukup IQ
- intellectual quion gak cukup tapi IQ
- emosional
- question dan kemudian spiritual
- question. Jadi kecerdasan itu tidak
- hanya kecerdasan intelektual. He
- yaitu orang yang Nah, ini kriterianya
- orang yang ketika hidupnya dia mampu
- mengendalikan emosi,
- melaras, menimbang, menyaring,
- nalar pikiran kita, keinginan kita
- sehingga bisa memilah dan memilihi mana
- keinginan yang benar, mana keinginan
- yang berujung baik, mana keinginan yang
- kelihatan berbunga-bunga tapi berujung
- buruk dan seterusnya. mana yang bisa
- memberi manfaat untuk dirinya,
- bermanfaat untuk orang lain dan
- seterusnya. Ini hanya bisa dengan
- pandangan spiritual, keimanan yang
- mantap
- sehingga dia bisa memilih.
- Dia mampu mengendalikan langkahnya ke
- mana dia melangkah yang mesti positif,
- punya kualitas dan mampu mengangkat
- harkat, martabat dirinya di hadapan
- Allah.
- Kemudian
- dia beramal.
- Wa amila lima ba'dal maut. Nah, ini
- jarang dibicarakan secara logika rasio
- pemikiran banyak orang.
- Dia beramal, beramal, beramal. Beramal
- itu kan melakukan sesuatu.
- Action. dia melakukan sesuatu tidak
- hanya untuk dirinya, bisa jadi untuk
- orang lain,
- bisa jadi untuk orang banyak, bisa jadi
- untuk masa depan dan seterusnya. Dia
- beramal, beramal, beramal. Tidak pernah
- hanya secara ekosentris
- memikirkan sesuatu yang bisa memberi
- manfaat untuk dirinya.
- Dia menjauhkan dirinya dari hal yang
- bersifat pragmatis semata, tapi yang
- bisa memberi manfaat banyak orang. Maka
- Nabi memberikan satu
- menstressing bahwa khairun nas anfauhum
- linnas.
- Sebaik-baik manusia bukan yang paling
- ganteng,
- bukan yang paling cakep, bukan paling
- tampan, bukan yang paling cantik, bukan
- hidung yang jadi ukuran, bukan mata yang
- berbinar-binar seperti bintang kecora,
- bukan rambutnya, bukan kulit
- tubuh yang mulus dan seterusnya, bukan
- itu.
- Tapi sebaik-baik manusia adalah yang dia
- mampu
- menciptakan nuansa, suasana
- dalam kehidupan yang bisa banyak memberi
- manfaat terhadap banyak orang.
- Ayo, coba kita lihat diri kita.
- Kira-kira keberadaan kita termasuk saya
- ini di tengah-tengah manusia itu apa?
- memberi manfaat atau memberi mudarat.
- [tertawa]
- Kalau tiap hari ketemu masyarakat semak
- utang sana, utang sini buat masalah lah
- berarti kita ini manusia yang gak ada
- gunanya. Tapi kalau keberadaan kita itu
- memberi manfaat
- ya, memberikan nuansa suasana yang cerah
- di keredupan suasana menjadi cerah
- dikala dia datang atau memberikan solusi
- dari problem masalah yang dihadapi oleh
- teman kita, saudara kita, masyarakat
- kita. Nah, inilah namanya manusia
- memberikan kontribusi persis seperti
- yang diabadikan oleh Al-Qur'an surah
- Taubah ayat 24 dan 25. Dia seperti buah
- titi ukulaha kulahin bidniha.
- Dia memberikan buah setiap musim tanpa
- diminta itu pohon. Masyaallah.
- Nah, pertanyaannya buah apa yang sudah
- kita berikan untuk orang lain?
- Oleh karenanya sekali lagi kembali
- kepada asar siyam
- bekas ataupun yang membekas dari ibadah
- puasa yang mampu membangun karakter
- kita.
- Dalam sebuah kisah ini juga pernah saya
- sampaikan di buku
- saya juga saya kutip
- pada halaman 172
- bab ke 7 kalau enggak salah halaman 172
- tentang kasih sayang.
- Saya bacakan di sini.
- Dalam satu riwayat Aisyah radhiallahu
- anh menceritakan bahwa pada satu hari
- dia kedatangan tamu yang tidak diundang.
- Tamu tadi seorang wanita paruh baya
- yang berpenampilan amat sangat
- sederhana.
- dalam keadaan yang wajahnya
- mukanya pucat,
- anak-anak juga kelihatannya lesu. Ya
- Allah, ini sudah jelas dari sini kita
- bisa menilai ini adalah orang yang
- sedang ditimpa
- penderitaan. mungkin kelaparan,
- mungkin dia tidak jumpai makanan dan
- sebagainya.
- Dengan dua orang
- putranya, putra Puti sebutkan dua orang
- anaknya yang satu digendong, yang satu
- dituntun.
- Datang mengetuk rumah Aisyah.
- Bunda Aisyah, istri Baginda Nabi.
- Adakah sesuatu Bunda yang bisa saya
- makan karena saya sudah berhari-hari
- tidak menjumpai makannya?
- Tentu saja Aisyah
- sebagai istri Rasulullah tentu saja
- banyak menyerap ilmu-ilmu apa yang
- diajarkan oleh baginda Nabi dan
- kelemahlembutan beliau.
- segera masuk ke dalam rumah
- terkopoh-kopoh dengan harapan bisa
- memberikan
- makanan ataupun apa yang bisa
- meringankan beban ataupun penderitaan
- tamu yang tidak diundang tadi. Namun
- apaada daya
- maksud hati
- memeluk gunung
- tapi apa daya tangan tak sampai
- peribahasa zaman dulu ini artinya
- keinginannya besar tapi apa daya keadaan
- menjadi lain ternyata di rumah bunda
- Aisyah pun teayak naon-naon
- heeh
- nih kalau sudah ngomong naon-naon ini
- orang Sunda aja ditanya mesti enggak
- bisa jawab He
- naon itu apa? Mis mesti enggak jawab.
- Dia akan katakan apa? Nanya Bali. Jadi
- tak naon-naon
- gak ada apa-apa di rumah
- ini. Bayangkan istri baginda Nabi
- manusia termulia di dunia.
- Kekasih Allah luar biasa. Di rumah
- sampai gak ada makanan. Coba kita lihat
- di di kita ini di rumah ni.
- Sekurang-kurangnya kita ini yang hidup
- sederhana aja mesti gak mungkin gak ada
- makanan tiap hari. Ini di istri baginda
- nabi rumah manusia paling mulia si Allah
- kekasih Allah kok aya naon-naon.
- Bayangkan betapa
- gunda hati bunda Aisyah ingin memberikan
- sesuatu yang jauh lebih banyak atau
- menggembirakan, membahagiakan. Tapi
- ternyata tak aya naon-naon
- apa boleh buat. Cuma apa yang dijumpai?
- Tiga butir kurma.
- Masyaallah.
- Tiga butir kurma.
- Ya Allah
- dengan berat hati inilah yang bisa
- diberikan pada tamu yang tidak diundang.
- Ya Allah ibu ini mohon maaf di rumah pun
- hanya ada tiga butir kurma.
- Namun rupanya tamu ini juga tidak
- sembarangan tamu. Kalau dari segi sikap
- dan perilaku kesabaran, ketulusan ini
- adalah cermin orang-orang beriman. Dia
- terima tiga butir kurma itu dengan
- syukur.
- Segera dibagikan sebutir kurma untuk
- anaknya yang satu dan satu butir lagi
- diberikan pada yang satu.
- Dua butir kurma diberikan pada
- masing-masing satu butir kurma.
- Sementara satu butir kurma dipegangnya
- sendiri oleh ibundanya tadi yang dia
- sendiri sudah menahan lapar. Mungkin
- berhari-hari dia tidak jumpai makanan.
- Apa yang
- menjadikan Aisyah terpanah di depan
- pintu rumahnya?
- Begitu mendapatkan anaknya satu butir
- kurma,
- ketika dimakan dipandangi
- dari cahaya peng
- apa yang di cahaya penglihatan mata
- ibunda melihat penuh dengan curahan
- kasih sayang dan mencerminkan
- kebahagiaan yang tersimpan dari seorang
- ibu yang sebenarnya dia sedang
- menderita.
- Kebahagiaan itu terpancar dari pandangan
- matanya. Dia perhatikan kecap mulut
- anaknya. Mengunya hanya sebutir kurma
- itu.
- Senyum dikulhum ibundanya. Walaupun
- dalam keadaan kepedihan dia menjalani
- hidup yang serba kekurangan.
- Itu yang membuat terpanak Aisyah.
- sampai masing-masing
- habislah kurma itu. Orang cuma satu
- butir
- yang satu butir kurma niatnya mau
- dimakan dirinya.
- Tapi segera
- masyaallah
- ini bahasa asing ini
- diranggeh [tertawa]
- diranggehnya kembali satu butir kurma
- oleh putranya yang tentu saja kurang
- makan sebutir kurma itu bahasa Indonesia
- apa diranggeh direbut bukan
- di apa pokoknya dirangg itu maksudnya
- dicawel dicawel juga bedambil
- lagi
- diambilnya oleh anaknya diminta tapi
- dengan langsung mengambilnya namanya
- dirangkeh bahasa asing bahasa Jawa
- maksudnya.
- He.
- Kemudian oleh Bunda yang Malang tadi
- satu butir kurma itu dibelahnya menjadi
- dua dan setengah butir diberikan kepada
- masing-masing pada dua anaknya.
- Tetap
- pandangan
- mata seorang ibu yang
- penuh dengan curahan kasih sayang
- melewati sinar matanya. diperhatikan
- kecap mulut dua anaknya yang senang
- mendapatkan walau hanya satu setengah
- butir kurma masing-masing.
- Sampai
- habis kurma itu, tidak lama kemudian
- Bunda yang Malang dengan dua anaknya
- pergi meninggalkan rumah Aisyah.
- Aisyah masih termangu di depan pintu
- rumahnya.
- Tidak lama. Kemudian baginda Nabi
- datang.
- Kemudian diceritakanlah peristiwa yang
- mengagumkan mempesona itu menggetarkan
- hati Aisyah.
- Lalu apa? Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam kemudian bersabda,
- "Sesungguhnya
- Allah telah menentukan baginya surga
- dan Allah
- telah memerdekakan
- dia dari api neraka dengan sebab kasih
- sayang kepada kedua anaknya itu." Hadis
- diriwayatkanlah Imam Muslim.
- Kalau kamu mau tahu ahli surga, itulah
- orangnya.
- Masyaallah.
- Seorang ibu yang malang,
- tetapi memiliki
- mutiara
- iman yang luar biasa.
- Dia mampu
- menterjemahkan kasih sayangnya dalam
- pandangan mata kepada kedua anaknya
- walau di dalam keadaan penderitaan.
- Maka
- di sini kemudian
- disebutkan bahwa ternyata Allah
- mencintai kasih sayang seorang ibu yang
- melahirkan
- atau menjadikan seorang itu sebagai
- ditetapkan oleh Allah sebagai ahli surga
- dan menjadi dinding dari api neraka
- karena penderitaan tapi dengan sabar
- tulus dan ikhlas serta itu dia curahkan
- kasih sayang kepada kedua anak-anaknya
- itu.
- Dalam riwayat lain disebutkan
- sesungguhnya
- Allah itu lemah lembut.
- Innallaha rofiquun yuhibur rifqo wti
- alar
- rifqi ma la yuti ala alal unfi w la yuti
- ala ma siwa. Hadis yang diriwayatkan
- oleh Imam Muslim. Sesungguhnya Allah itu
- lemah lembut
- dan menyukai orang-orang yang lemah
- lembut, pemurah kasih sayang.
- dan memberi
- karena kelemahlembutan
- dari apa-apa yang tidak dapat diberikan
- orang-orang yang keras hatinya
- dan yang tidak diberikan
- kepada
- orang lainnya.
- Jadi lemah lembut itu masyaallah luar
- biasa.
- Allah mencintai pada hamba-hamba yang
- lemah lembut. Kemarin kita bicara
- tentang taaluf klub-kulub,
- lemah lembutnya hati. Dan ini menjadi
- menjadi ciri khasnya daripada agama
- Islam.
- Islam itu bisa diterapkan, iman itu bisa
- tegak, persatuan itu bisa terwujud,
- kasih sayang itu bisa terlaksana. Kalau
- faallafa baina qulubikum,
- mereka punya hati yang lembut.
- Faasbahtum binikmati ikhwana. sehingga
- sesama saudara sama mukmin dia menjadi
- seperti saudara.
- Bahkan persaudaraan sama muslim itu
- sebenarnya kal jasadil wahid seperti
- tubuh yang satu.
- Akau ainuku.
- Kemudian apabila sakit matanya sakit
- seluruh tubuhnya.
- Kesatuan tubuh ini bisa kita lihat dalam
- semua aktivitas.
- Walaupun berbeda-beda fungsi dan
- tugasnya, tetapi untuk satu tubuh.
- Mata yang melihat
- makanan, ada kue lezat dan seterusnya.
- Tangan yang mengambil,
- mulut yang mengunyah,
- kemudian ditampung di perut, tetapi
- semuanya untuk seluruh tubuh.
- Tangan dua yang berbeda. Yang satu kanan
- dan kiri jelas berbeda. Dua tangan itu
- enggak mungkin sama.
- Kalau berjalan menjadi indah.
- Yang kalau kanan ke depan, tangan kiri
- ke belakang.
- Yang kiri ke depan, yang tangan kanan ke
- belakang.
- Masa ada jalan kok tangannya
- kedua-duanya depan belakang sama-sama.
- memang
- begitu semua soal telinga, mata dan
- seterusnya. Ini gambaran tubuh umat
- Islam yang satu. Karena Islam agama yang
- satu oleh seluruh umat.
- Bukan agama yang dipilah-pilah
- seperti kue lapis yang dipilah-pilah,
- dipisah-pisah satu dengan yang lain.
- Kemudian sebagian masa bodoh dengan yang
- lain. Tidak peduli. Kalau ini yang
- terjadi persis seperti tubuh yang
- abnormal.
- Sakit kepala kok tangannya yang satu
- ngeplaki kepalanya sendiri. Kakinya
- terantuk batu kok mulutnya kemudian
- menyumpai. Rasain loh kaki
- ini. Maka taaluf,
- kasih sayang, lemah lembut, bahkan
- apa yang disabdakan baginda Nabi menjadi
- satu jaminan
- tetap ketetapan Allah memasukkan seorang
- beriman yang hatinya lembut dan yang
- kedua menjadi dinding api neraka ketika
- dia dengan kasih sayang merawat
- putra-putrinya
- yang menjadi tanggung jawabnya dengan
- penuh kasih sayang walaupun dengan
- segala
- dan susah payahnya.
- Di dalam hadis yang lain yang
- diriwayatkan oleh
- Abu Mansur at-Tailami,
- ada dua budi pekerti yang dicintai Allah
- Taala,
- yaitu
- akhlak yang baik dan pemurah.
- Dan dua perilaku buruk
- yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa
- taala. Ada akhlak yang jelek dan bakhil,
- pelit, metitil. Ya. Apabila
- apabila seorang hamba dikehendaki oleh
- Allah menjadi orang baik, maka orang
- tersebut dijadikan oleh Allah sebagai
- jalan untuk memenuhi
- keperluan-keperluan orang banyak.
- Jadi ada orang yang rezekinya itu mudah.
- Cari uang tuh gampang, dagang laris,
- usaha untung.
- Tapi ternyata bukan hanya banyak harta
- dia, bukan hanya kaya harta, tapi juga
- kaya jiwa. Jiwanya itu loman dan
- dermawan.
- Rasanya kalau tidak memberi itu mungkin
- dia merasa rugi dari rezeki yang dia
- peroleh itu kemudian menjadi jalan untuk
- rezeki bagi orang lain. Dia suka
- bersedekah, dia suka memberi. Ini luar
- biasa ya. Berarti kasih sayang Allah
- pada hamba yang pemurah termasuk akhlak
- yang baik dan pemurah. Pemurah dengan
- sikap perilakunya.
- angg-ungguhnya, ramah tamahnya dan juga
- pemurah dalam arti dia pemurah untuk ada
- dan peduli terhadap orang lain.
- Sedangkan dua akhlak yang buruk adalah
- bakhil dan jelek perilakunya.
- Mudah-mudahan
- dari sikap pemurah yang Allah sudah
- menetapkan, Allah suka, Allah mencintai
- terhadap hamba-hambanya yang punya sikap
- pemurah. Dan sikap pemurah ini dari
- antara lain hasil produk puasa yang
- benar yang mampu mengikis egoistis
- egoisme menjadi jiwa yang
- isariah
- dari manusia yang ananiah, egoistis
- menjadi jiwa yang isariah atau
- altruisme, care dan peduli terhadap
- orang lain. Bahkan dia rela bersusah
- payah, rela berjuang, rela berkorban
- untuk kemaslahatan hidup banyak orang,
- untuk kebahagiaan orang lain dan
- seterusnya. Wallahuam bisawab.
- Masyaallah.
- Jadi, ikhwan akhwat karena ini live Anda
- bisa langsung telepon tanya ya. Tetapi
- yang kirim melalui WA juga mudah-mudahan
- bisa terjawab. semuanya. Pertanyaan yang
- paling dalam, telahkah
- [menghela napas][terkesiap]
- pandangan mata kita penuh dengan kasih
- pada hamba-hamba Allah yang bersimbah
- duka atau berlumur ee derita? Baik, kita
- boleh langsung ke pertanyaannya, Ustaz,
- ya.
- Pertanyaan dari Mbak Karisa.
- Asalamualaikum, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. izin bertanya, bagaimana
- mengawali hati kita, keikhlasan kita,
- cinta kita, sabar kita, ketakwaan kita
- dan itu semua kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Bagaimana ridanya kita juga pada
- takdir Allah agar tidak berpaling kepada
- selain Allah? Terima kasih banyak,
- Ustaz. Iya.
- Masyaallah. Ini pertanyaan luar biasa.
- Justru ini yang problem terbesar bagi
- kita sebagai manusia. He
- kalau kita mempersoleh diri
- ya mempercantik diri bagi wanita yang
- memang suka dandan ya fitrahnya manusia
- suka dandan supaya kelihatan cakep.
- Bagaimana kita merawat
- wajah, mata, telinga,
- mulut, gigi dan sebagainya. bahkan kuku
- saja, rambut kita dan seterusnya mandi
- sekurang-kurangnya dua kali dengan
- berbagai macam cara yang kita lakukan
- untuk merawat body ataupun jasmani kita.
- Demikian juga mestinya ada kewajiban
- kita merawat
- rohani kita.
- Seperti tadi hal-hal yang disampaikan
- tentang kesabaran, tentang keikhlasan,
- tentang ramah tamah, tentang dan
- sebagainya itu kewajiban kita
- masing-masing
- mempercantik
- diri.
- Maka Rasulullah diutus itu buistu
- liutamima makarimal akhlak. Akhlak bisa
- baik kalau rohaninya tuh baik.
- ya sabar ya ikhlas ya tawakal percaya
- pada Allah dan seterusnya banyak hal
- itu. Itu tugas kita bersama. Jadi
- pertanyaan luar biasa termasuk
- pertanyaan untuk diri saya sendiri.
- Bagaimana membangun karakter? Bagaimana
- membangun jiwa? Memperhalus budi pekerti
- menjadi jiwa yang ramah, yang peduli,
- yang sabar.
- Kalau sabar lagi banyak duit ya mungkin
- bisa. Tapi sabar dikala kita menurut
- bayangan mata kita menjadi gelap poek
- panon. Tetapi bagaimana kita yakin pada
- Allah bahwa Allah itu adalah zat yang
- maha pemurah yang tidak mungkin
- melakukan kezaliman terhadap hambanya.
- Allah tidak pernah berkehendak untuk
- membuat sengsara, susah bagi
- hamba-hambanya.
- Ah, itu kan tidak mudah. Namanya
- berprasangka baik kepada Allah Subhanahu
- wa taala. Bagaimana kepasrahan diri kita
- kepada Allah? Yakin Allah segala-galanya
- dan yang terbaik
- itu juga perlu kita bina. Itulah yang
- dimaksud bimbingan rohani, bimbingan
- agama supaya keimanan kita, pribadi kita
- seperti yang diharapkan oleh kita
- semuanya.
- Jadi intinya agama justru di situ. Bukan
- ketika salat, rukuk, sujudnya semata.
- Bukan ketika kita ramai-ramai diantar
- pergi ke bandara pergi haji.
- Bukan ketu, bukan selendang, bukan
- kerudung jilbabnya saja, tapi esensinya.
- Itu yang harus kita bangun. Nah, ini
- menjadi tugas kita bersama. Nah, oleh
- karenanya perbaharuilah iman. Ayyujadida
- imanakum fi qulubikum. Perbaharui imanmu
- dalam dirimu.
- Lembutkan hatimu dengan banyak zikir dan
- banyak membaca Al-Qur'an.
- Contoh keteladanan baginda Nabi,
- bagaimana pola dan sikap hidup beliau,
- kelemahlembutan beliau, keramah-tamahan
- beliau, kasih sayang beliau, dan
- seterusnya.
- Suatu saat Rasulullah sahu alaii
- wasallam mendapatkan
- tawanan seorang wanita.
- Tiba-tiba dalam suatu peristiwa
- seorang wanita tadi kehilangan anak.
- Anak harus berpisah masih dalam
- buaiannya.
- Kayak apa sedih seorang ibu yang
- kehilangan anaknya dalam situasi
- peperangan seperti itu? Tapi dengan izin
- Allah bisa disatukan dalam satu
- pertemuan menjadi
- tawanan.
- Begitu diperlihatkan anak yang tadi
- hilang kemudian berjumpa. Bayangkan itu
- bagaimana itu gembiranya seorang ibu.
- Anaknya ketemu lagi
- gage-gage
- segera dia dia peluk anaknya. Kemudian
- dengan curahan kasih sayang. Oh, luar
- biasa sulit saya menggambarkannya.
- Kasih sayang ibu pada saat itu. Kemudian
- segera diberikan ASI
- dan kemudian baginda Nabi bertanya pada
- sahabat,
- "Tahukah kamu? Adakah
- di dunia ini yang lebih kasih sayang
- melebihi dari seorang ibu terhadap
- anaknya?" Seperti yang kita lihat,
- para sahabat tahu kalau Rasulullah
- bertanya itu sebuah metodologi
- untuk memberikan penekanan betapa
- pentingnya itu apa yang akan beliau
- sampaikan.
- Biasanya dalam pertanyaan seperti itu
- selalu saja
- sahabat mengatakan Allahu wa rasulhu
- aam. Allah dan rasulnya yang lebih tahu.
- Tapi untuk kasih sayang seorang ibu itu
- zahir nyata. Mungkin kalau kita yang
- ditanya, saya kira enggak ada
- jawabannya. Lebih kasih sayang melebihi
- daripada kasih sayang ibu pada anaknya.
- Maka kemudian Rasulullah mengatakan
- Allah terhadap hamba-Nya
- yang sering kita berprasangka buruk
- kepada Allah, merasa kita ini di
- dikecilkan, merasa Allah itu membuat
- sengsara kita menjadi orang susah dan
- seterusnya. Padahal Allah itu maha
- pemurah
- jauh kasih sayang Allah dibanding
- kehebatan kasih sayang seorang ibu pada
- anaknya.
- Itu baru ciptaannya percikan dari kasih
- sayang Allah.
- He
- pada anaknya. Apalagi kasih sayang
- Allah.
- Maka dalam beragama seluruh aktivitas
- dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim.
- Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
- sekalipun kepada orang kafir yang
- maksiat, yang durhaka, masih diberikan
- kasih sayang Allah di dunia ini. Dan
- lebih dari itu secara khusus kasih
- sayang diberikan pada hamba-hamba
- kekasih Allah, pilihan Allah, orang yang
- beriman di surga nanti.
- Kemudian ketika kita baca Al-Qur'an,
- baca surah Fatihah, Alhamdulillahiabbil
- alamin arrahmanirrahim,
- diulang setiap hari. Berapa kali kita
- mengacapkan? Tapi kadang-kadang ketika
- kita diuji sedikit aja terus berpikiran
- kita, "Ya Allah, Allah di kenapa apa
- dosa saya, Ya Allah? Kenapa nasib saya
- begini, Ya Allah? Kenapa doa saya tidak
- dikabulkan, ya Allah? Kenapa? Kenapa?
- Kenapa? Terus kenapa?
- Walaupun kalau diberikan nikmat belum
- tentu syukur, lupa. Kadang-kadang yang
- membusungkan dadanya tuh. Karena akulah
- aku bisa jadi begini. Karena aku hebat.
- Aku ngerti ekonomi, aku ngerti pedagang,
- aku jadi orang kaya lupa. Allah yang
- memberikan.
- Nah, jadi kembali pada pertanyaan yang
- inti tadi. Betul. Kewajiban kita
- mengukir prestasi, mengukir jiwa menjadi
- hamba-hamba yang berdimensi
- vertikal tadi. Sabar, tawakal, ikhlas,
- taat, tunduk, cinta kepada Allah, rida
- kepada takdirnya. rida pada syariatnya
- dan kemudian kita menjadi lemah lembut,
- kir dan peduli terhadap sesamanya dan
- keinginan hatinya ingin berbuat banyak
- untuk banyak orang dan lebih dari itu
- perlu kita perkaya dalam jiwa kita.
- Wallahuam.
- Masyaallah. Emm, pertanyaan berikutnya
- ini dari hamba Allah aja. Pak Ustaz,
- saya hamba Allah dari Sukabumi.
- Mohon pencerahannya. Bagaimana cara
- menghadapi anak yang susah memaafkan
- keluarganya?
- Syukran.
- Kalau namanya anak, ya jelas menjadi
- kewajiban kita
- untuk
- membangun karakternya.
- Makanya anak itu titipan.
- Yang harus diperhatikan
- oleh orang tuanya adalah
- membangun jiwa, membangun akhlak yang
- baik, akhlakl karimah.
- Bahkan diajarkan kepada kita
- di dalam kandungan pun sudah sering kita
- lantunkan doa
- munajat pada Allah.
- Kita perintah diperintahkan mendidik
- dari
- kecil
- bimbingan lisan, perilaku, sikap, rasat
- syukur, terima kasih, sabar, dan
- seterusnya. Itu kewajiban kita.
- Kita sekolahkan. Cari sekolah yang bisa
- membangun karakter. Bukan hanya pintar.
- Kalau hanya pintar tanpa karakter ya
- pintar ngapusi.
- Sudah besar jadi pejabat, pintar
- korupsi.
- pintar siasat-siasat yang buruk dan
- seterusnya. Ini tentu tidak kita
- kehendaki. Jadi membangun karakter iman,
- kejujuran dari kecil itu diajari
- kewajiban kita. Cuma kadang-kadang kita
- ini lupa anak itu yang kita cukupkan
- adalah rezekinya, pakaiannya, pakai
- kesehatannya, kemudian sekolahnya,
- pintarnya. Itu saja yang kita
- perhatikan. Tapi akhlaknya,
- kejujurannya.
- Lah orang-orang tua dulu masih ngajari
- kita
- itu kalau di Jawa kan ada istilah kromo
- ya bahasa kromo itu di bicara sama anak
- itu dengan bahasa kromo. Loh mboten
- pareng loh dik moten pareng itu kan
- mboten pareng tuh pareng itu ora oleh
- gitu loh. W bukan enggak boleh bukan
- gitu moten pareng mam riyin nggih
- pun papung dereng itu kalau Jawa. Kalau
- bahasa Sunda saya tengarti abdi mah
- Bung
- bahasa yang halus itu bukan karena kita
- ini apa
- mengab
- apa tawadu bukan yang dimaksud mengajari
- tawadu mengajari orang bertata
- kromo berakhlak yang baik kalau diberi
- sesuatu oleh orang apa katakan bagaimana
- jazakallah khair matur nuwun terima
- kasih
- Ya, itu diajarkan. Nah, sekarang karena
- sibuk kita kadang-kadang budat sudah
- kasih makan, kasih HP sudah tenang.
- Nah, inilah mungkin kesalahan kita. Oleh
- karenanya tetap kembali pada pendidikan.
- Walaupun orang-orang tua dulu pendidikan
- sederhana tapi mengajari anak dengan
- benar, jujur. Dapat uang ini uang dari
- mana? Oo, ini dapat dari mana dan
- sebagainya. Kalau mainan anak orang
- lain, tetangga dibawa, ini mainan siapa?
- Yo, dipulangkan ya. Pinjam, kasih tahu,
- pinjam nanti sudah itu ucapkan
- kembalikan terima kasih. Itu mendidik
- anak jujur, amanah, dan tanggung jawab.
- Kemudian jangan lupa dikawal dengan doa.
- Doa itu tidak hanya sekedar ya kadanya
- doa sajalah ingat doain. Bukan
- sungguh-sungguh kita kalau perlu nangis
- kita di hadapan Allah. Ya Allah jangan
- kau jadikan aku pun sebagai orang tua
- yang anaknya durhaka padamu ya Allah.
- Durhaka pada sama nangis pada Allah. Ya
- Allah, jadikan anak-anak saya yang
- berhati lembut, yang beriman, yang
- ikhlas, yang suka menolong dan
- sebagainya. Dalam sujud kita ketika
- salat sujud yang terakhir itu lantunkan
- doa untuk anak-anak kita. Ketika
- anak-anak sedang tidur kita lantunkan
- doa di dekatnya. Bahkan aka sepertiga
- malam kita bangun, doakan anak-anak
- kita. Ya Allah jadikan dia yang
- berakhlakul karimah, yang bisa memberi
- manfaat banyak orang terhadap orang
- lain, yang beragama yang tulus dan
- seterusnya
- terus dikawal. Kemudian hindarkan
- rezeki-rezeki yang tidak halal, yang
- haram, yang dapat nguntit, yang dapat
- ngapusi dan seterusnya itu juga akan
- berpengaruh ya. Kemudian tiap hari-hari
- diajari pada kita. Kita sebagai orang
- tua itu juga guru bagi anak-anaknya.
- Bapaknya itu jangan hanya ngasih duit
- doang. Udah itu masa bodoh. Itu urusan
- emak. Tanggung jawab anak itu tanggung
- jawab nanti jadi penyesalan di akhirat.
- Apalagi seorang suami.
- Seorang suami itu bertanggung jawab pada
- keluarganya.
- Satu pada ibu bapaknya.
- Kalau sudah tua maka dia yang harus he
- menjadi tanggung jawab. Saya yang harus
- merawat ibu bapak saya. saya sebagai
- anaknya atau kalau anaknya dua ya
- berdua, anaknya tiga ya bertiga. Jangan
- masing-masing. Kita sekarang ngurusi
- orang tua yang sudah tidak berdaya itu
- yang mengasihi sayangi dan seterusnya
- seperti dia mengasihi mencintai kita.
- Karena pada hakikatnya seorang anak yang
- berjumpa dengan orang tuanya sudah tua,
- yang sudah tidak bisa banyak berkarya,
- berdagang, berusaha itu sebenarnya
- memberikan kesempatan, peluang kita
- membuka pintu surga yang
- selebar-lebarnya.
- Yang kedua, istri.
- Istri itu ijab kabul itu kalimat luar
- biasa sakral. Itu kalimat sakral.
- Artinya sejak itu menjadi tanggung jawab
- suami
- dunia akhirat.
- Kalau istrinya agamanya enggak diurus
- oleh suaminya, enggak pernah
- diperhatikan, enggak pernah disuruh
- untuk belajar agama dan sebagainya
- sehingga kelakuannya bertentangan dengan
- syariat agama, nanti suaminya dilandrat
- di akhirat walaupun suaminya itu orang
- saleh.
- Kenapa kau biarkan istrimu melakukan
- maksiat? Dia termasuk akan disiksa oleh
- Allah karena dosa istrinya. Karena dia
- tidak kecuali kalau istri yang bedegul,
- yang
- enggak mau diatur, sudah diberikan
- bimbingan tidak mau. Itu lain lagi
- urusannya. Tapi kalau kita yang
- laki-lakinya, suaminya tidak peduli
- tentang pendidikan agamanya, akhlaknya,
- dan seterusnya ibadahnya, maka kita akan
- kenal. Yang ketiga, anak perempuan
- khususnya ya. Bukan berarti tidak ada
- anak laki-laki.
- Ini anak perempuan harus diperhatikan.
- Maka tadi mengasihi dua anak perempuan,
- merawatnya dengan penuh kasih sayang itu
- jaminannya surga. Ya Allah luar biasa
- itu pendidikannya, terutama akhlaknya
- dan seterusnya. Jadi dalam hal seperti
- ini maka tetap anak-anak itu selain
- diberikan perhatian serius tentang
- akhlak, akidah, ibadah, kemudian
- keimanannya
- dikawal dengan doa-doa
- setiap saat. Bahkan sekalipun sudah tua
- misalnya anaknya jadi pejabat, tetap
- orang tua itu tidak salah kalau kemudian
- dia mengatakan, "Nak, kamu sekarang
- sudah jadi pejabat. Semua itu adalah
- merupakan titipan Allah.
- Hati-hati, ojo sembrono, ojo korupsi.
- Ndak apa-apa orang tua menasihati
- walaupun anaknya jadi bupati, jadi
- jenderal. Emang kenapa?
- Tetap nasihati. Jangan malah ngikuti. Ya
- ini doakan saya dapat uang banyak
- begini. Iya saya doakan. Kalau enggak
- benar ya tetap diingatkan. Wallahuam.
- Terima kasih untuk Aa Nana Sumarna
- penjelasan yang begitu gamblang. Terima
- kasih Ustaz. Kemudian dari Ibu Ani C ya
- itu juga menyimak acara kita. Dan ini
- Mbak Siti Anisa bertanya, "Ustaz, kenapa
- ada orang itu bisa bahil sama saudaranya
- sendiri, tapi sama orang lain mereka
- sangat memberi
- ee mohon pencerahannya."
- Ya, inilah perlunya pengetahuan agama.
- Memang membangun karakter itu
- ya tidak mudah hanya dengan kalimat
- omongan semata,
- tidak cukup hanya menyerahkan dalam
- pendidikan sekolah dan seterusnya.
- Tiga persyaratan untuk membangun
- karakter. pertama
- kow kowing
- knowledge artinya ilmu.
- Jadi beragama itu harus kita pelajari
- gimana sih cara berinteraksi pada
- sesama, bagaimana sih cara komunikasi
- dan berkeluarga, bersaudara,
- interaksi sosial, pribadi dan seterusnya
- itu ada tata caranya dan diatur oleh
- agama.
- Saudara itu harus mendapatkan bisa dua
- bagian, bisa tiga bagian. Kalau dia
- saudara, dia tetangga, dia seagama, tiga
- haknya harus kita tunaikan.
- Jadi harus pendidikannya, terus
- perhatiannya, dan seterusnya.
- Kalau dia saudara semata bukan bukan
- tetangga, agamanya berbeda sekali
- perumpamanya tapi dia saudara tetap
- berlaku bersaudara.
- Yang kepada yang tua dia hormat dan
- tawadu, kepada yang muda kepada yang
- kecil dia kasih sayang.
- Itu pergaulan. Dan sebelum pada yang
- lain mulai dari keluargamu dulu, bukan
- pada orang lain. Baru tetangga, baru
- yang jauh dan seterusnya. Nah, jadi ini
- kembali pada ilmu tadi ilmu pengetahuan
- agama adabiah, akhlakul karimah, tata
- cara kehidupan berinteraksi. Yang kedua,
- acting
- artinya dipraktikkan.
- Kasih sayang praktiknya gimana. Kalau
- enggak dipraktikkan ya hanya sebagai
- ilmu belaka. Dan baru kemudian kalau
- sudah punya ilmunya dan dia sudah
- menjadi terbiasa,
- maka dia menjadi habit,
- sudah memb sudah matang dalam karakter,
- nempel pada dirinya. Kalau orang sudah
- terbiasa ibadah, itu sudah otomatis.
- Orang biasa memberi, orang berkasih
- sayang, sudah terbiasa berkasih sayang,
- ya akan muncul dengan sendirinya ya.
- Wallahuam.
- Masyaallah.
- Ini ke pertanyaan berikutnya dari Bung
- Apidin Nurhidayat. Kenapa ya kita-kita
- ini tidak ingat banyak dosa? Sementara
- dari Cak Witono
- bertanya,
- "Apakah orang yang lagi diberi sakit
- juga harus bersyukur, Ustaz? Bagaimana
- kiatnya? Matur nuwun sanget.
- Dan salam dari pecel Madiun yang siap
- bantu halal bihalal rasil. Heeh.
- Alhamdulillah.
- Waduh, ini menantang juga maik datang
- nih.
- Inilah yang saya bilang bahwa melihat
- itu kita tidaknya melihat keluar.
- Melihat keluar ya ini banyak dilakukan
- oleh orang apalagi orang-orang ahli ilmu
- dia analisa, dia melakukan penyelidikan,
- observasi, penelitian di luar dirinya.
- Jagat makro, jagat mikro itu diketahui.
- Tapi sedikit sekali orang yang mau
- melihat, mau menganalisa,
- mau memperhatikan bagaimana dirinya.
- Maka dalam Al-Qur'an diperintahkan,
- "Lihat dirimu."
- Wal tanzur nafsum ma qodamat. Lihat
- dirimu apa yang kau persiapkan untuk
- hari esok. Hasibu an tu hasabu ya
- dihitung-hitung dirimu.
- Hasabu anfusak hasabu anfusakum qobla an
- tuhasibu. Hitung dirimu sebelum kau
- dihitung.
- Jadi suruh melihat ke dalam.
- Banyak sekarang orang gak kenal siapa
- aku. Bahkan ada jarak di antara dirinya
- sendiri. Dia enggak kenal siapa dirinya,
- bagaimana hatinya, bagaimana jiwanya,
- bagaimana nalurinya, dan seterusnya.
- tidak pernah dia kenal. Yang dia kenal
- itu uang di sana, proyek di sana ini
- keuntungan si itu aja yang dia tahu.
- Tapi siapa dirinya?
- Pada posisi manakah dia? Derajat
- martabatnya
- sejauh di mana hubungan dia kepada
- Allah? Bagaimana interaksi p sesama,
- pada saudara, bakti sama orang tua,
- kepedulian sama saudara dan seterusnya.
- Ini yang jarang kita perhatikan.
- Oleh karenanya orang kalau sama dosa
- kadang-kadang lupa karena kita tidak
- melihat ke dalam.
- Untuk itu belajar mari seperti firman
- Allah tadi ya ayyuhalladzina amanutqulah
- wal tanzur nafsum ma qodamat.
- Bertakwalah kamu dengan takwa dengan
- takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah dan
- lihatlah pada dirimu bekal apa yang
- sudah kau persiapkan untuk hari esok.
- anusakumabu
- hitung-hitung dirimu sebelum kau
- dihitung oleh Allah Subhanahu wa taala.
- Jadi lebih banyak kita mulai
- mengintrospeksi diri, menghitung diri,
- mengenal lebih dalam siapa diri yang
- sebenarnya sehingga dia tahu posisi di
- mana dalam keberadaannya. Karena itu
- semua akan ditanya oleh Allah, seberapa
- tinggi derajat dan martabatmu ketika
- diberikan waktu hidup di dunia sampai 60
- tahun, 70 tahun itu akan dihitung oleh
- Allah subhanahu wa taala. Wallahualam.
- Yang bisa bersyukur saat sakit, Ustaz.
- Dan dia harus melihat bukan dengan mata
- kepala,
- bukan hanya dengan rasa dan perasaan.
- Kalau hanya sekitar logika, rasio, rasa
- perasaan dengan mata kepala. Kalau kita
- merasakan sakit ya yang dirasakan cuma
- sakit. Duh Gusti loro teman awakku iki
- sakit dan seterusnya. Tapi kalau dia
- melihat dengan mata iman,
- dengan mata hati dan mata iman, dia akan
- melihat hikmah di balik peristiwa.
- Karena orang sakit itu untuk bersa
- merasakan betapa nikmatnya sehat.
- Ayo kan dalam hidup ini kan lebih banyak
- sehatnya daripada sakitnya. He he.
- Tapi kadang-kadang kita merasa tersisa
- karena kita hanya di permukaan. Ibarat
- orang berenang itu pakai pelampung.
- Enggak iso nyelem arep pakai pelampung
- enggak bisa. Nah padahal sakit itu
- antara lain ada hikmah di balik setiap
- peristiwa. Peristiwa sakit ada hikmah di
- palingnya. Satu,
- Allah sedang menggugurkan dosa-dosanya.
- Makin nemen sakitnya, makin berat
- sakitnya, makin besar dosa-dosa yang
- akan terhapus. Satu. Yang kedua, tiap
- sakit itu dapat pahala.
- Jangankan sakit, kecocok duri saja ada
- balasannya pahala dari Allah Subhanahu
- wa taala. Yang ketiga, sedang mengangkat
- derajatnya kalau lulus
- ya. Jadi deratnya akan naik. Diberi
- sakit itu akan dinaikkan, dikasih ujian
- itu akan dinaikkan derajatnya,
- martabatnya.
- Kemudian yang ketiga ya satu tadi di apa
- akan diberikan diampuni dosanya,
- berguguran dosanya yang kedua akan
- diberikan pahala yang ketiga akan
- dinaikkan derajatnya dan kemudian akan
- dikembalikan sehatnya.
- Empat yang diambil satu tenaganya letoy
- orang sakit. Ya Allah jangankan untuk
- main bola, ngangkat telinga aja enggak
- mampu kita. Ya Allah. Nah, merasakan
- betapa itu nikmatnya itu sehat. Yang
- kedua, cahaya mukanya pucet. Ya,
- walaupun yang cantik, tetap aja orang
- sakit mah ya ya sakit namanya orang
- cantik sakit ya tetap aja. Kemudian
- nafsu makannya,
- yang keempat dosanya yang tiga akan
- dikembalikan
- yang satu gak dikembalikan. Yang tiga
- apa yang dikembalikan? Tenaganya, cahaya
- mukanya, nafsu makannya. tambah gembul
- sesudah sakit dan dosanya tidak
- dikembalikan lagi. Kalau kita sabar
- narimo, tapi kalau kita enggak sabar ya
- sakitnya nemen tambah enggak enggak
- enggak sembuh-sembuh kemudian dosanya
- tambah enggak dapat derajat martabat dan
- seterusnya maka dengan ilmu.
- Wallahualam.
- Baik kita sudah sampai di penghujung
- Ustaz closing ideanya kami nantikan.
- Allahu Akbar. Ya Allah ya Rabb.
- Ternyata hidup ini misteri
- penuh dengan teka-teki.
- Tidak cukup dipecahkan oleh mata kepala,
- rasio, logika semata-mata,
- tapi dengan iman, dengan nur hidayah
- dari Allah, dengan Al-Qur'an, dengan
- petunjuk Nabi. Itulah pentingnya agama.
- Menyuburkan rohani kita, meningkatkan
- spiritual kita, keimanan kita.
- Insyaallah sehingga kita bisa melihat
- hal yang
- substansi
- di balik setiap peristiwa yang kita
- hadapi.
- Tidak ada hari tanpa masalah dan setiap
- peristiwa mengandung hikmah.
- bahagia orang yang mampu
- mengumpulkan
- memunguti
- mutiara-mutiara hikmah yang bertebaran
- hampir pada seluruh lini kehidupan yang
- kita jumpai. Mudah-mudahan kita bisa
- menjadi hamba yang bijak, yang arif
- sehingga kita bisa mengumpulkan mutiara
- hikmah dan menjadikan derajat martabat
- kita di mata Allah dengan kemuliaan dan
- keridaan Allah Subhanahu wa taala. Mohon
- maaf segala kekurangan kekeliruan.
- Wabillahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih, Ustaz. Ikhwan
- akhwat. Ada pertanyaan yang
- mudah-mudahan jawabannya juga segera
- terwujud. Telahkah sikap kita penuh
- dengan kepedulian? Telahkah pandangan
- tattapan mata kita penuh dengan kasih
- kepada hamba-hamba Allah yang berlumpur
- dengan duka?
- Dan telahkah nada suara kita menyamankan
- telinga yang mendengar? Oh. Oh. Mari
- kita ukir jiwa kita untuk rida pada
- takdir yang ada. Semoga kita bisa
- genggam erat kata pemurah di dalam
- perjalanan hidup kita. Sekali lagi
- terima kasih. Billahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.