Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:09 [musik] 0:17 Bismillahirrahmanirrahim. 0:19 Assalamualaikum warahmatullahi 0:21 wabarakatuh Ikhwan Akhwat yang disayang 0:23 Allah. Alhamdulillah ya kita 0:25 dipertemukan kembali di acara yang 0:29 mudah-mudahan mempersuasi kita semua 0:31 tausiyah pagi bersama Ustadz Abdul 0:33 Hidayat Saeroji. Mudah-mudahan semuanya 0:36 sehat, bugar, aman, terkendali dan tidak 0:40 lupa salam selawat kita lantunkan untuk 0:42 junjungan umat kekasih kita Muhammad 0:45 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. 0:48 Semoga kelak kita dipertemukan beliau di 0:50 saat yang sangat kita rindukan di yaumil 0:52 akhir. 0:53 Ikhwan Akhwat kalau sempat minggu 0:57 sebelum ini menyimak ataupun melalui 1:00 YouTube-nya Rasya TV kita bicara tentang 1:03 lembutnya hati dan indahnya ukhuwah. 1:08 Di mana masih ingat ya hati kita ini bak 1:10 dinamo, masih aman enggak sih tanpa 1:13 gangguan? Nah, kali ini 1:16 berlanjut dengan bahasan dari 1:19 buku Meniti Jalan ke Surga kita akan 1:22 lanjut bahas tentang apa? Nanti kita 1:26 simak ya. Kita sapa beliau yang sudah 1:28 hadir di sini. Assalamualaikum 1:29 warahmatullahi wabarakatuh Ustadz. 1:31 Assalamualaikum warahmatullahi 1:33 wabarakatuh. 1:35 Kalau lanjut jadi rindu banget deh. Apa 1:38 sih yang membuat Allah cinta kepada 1:41 kita? Iya, insya Allah. Jadi topik 1:42 bahasan kita kali ini? Iya. 1:45 Persisnya? Allah 1:47 mencintai 1:49 hati pemurah dari hamba-hambanya. Masya 1:52 Allah. Jadi kata murah adalah kata yang 1:55 ajaib sekali ya. Baik bukan murah loh 1:58 ya. 1:59 Eh, kata as, dasarnya murah tapi 2:02 pemurah. Baiklah, kita simak yuk dengan 2:05 telinga jiwa kita. Monggo, Ustaz. 2:08 Bismillahirrahmanirrahim. 2:11 [berdehem] 2:12 Assalamualaikum warahmatullahi 2:14 wabarakatuh. 2:15 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:17 wabarakatuh. Alhamdulillah. 2:20 Wasalatu wasalamu ala Rasulillah. 2:24 Wa ala alihi wa ashabihi. 2:26 Wa man tabi'ahum bi ihsanin [berdehem] 2:28 ila yaumil qiyamah. 2:30 Masya Allahu kan wa ma lam yasya lam 2:33 yakun. 2:34 La haula wala quwata illa billah. Amma 2:38 ba'd. 2:41 Ayyuhal ikhwan rahimakumullah, para 2:44 ikhwan, saudara-saudaraku. 2:47 Kaum muslimin, muslimat di manapun antum 2:50 berada, mudah-mudahan pagi ini pagi yang 2:53 diberkati oleh Allah untuk kita semua. 2:56 Amin, Allahumma amin. Di pagi yang cerah 2:59 ini, alhamdulillah di bulan Syawal, 3:02 sesudah satu bulan Rama, Ramadan kita 3:05 melakukan puasa. 3:07 Mudah-mudahan 3:09 masih ada asar. 3:11 Masih ada bekas. 3:13 Masih ter 3:15 lukis. 3:16 Terpahat di dalam hati kita. 3:19 Pengaruh dari pendidikan 3:23 Ramadan satu bulan lamanya. 3:26 Sekurang-kurangnya membekas sampai tahun 3:29 depan. Sehingga kita berjumpa kembali 3:32 Amin. dengan Ramadan untuk lebih 3:36 meningkatkan kualitas kita. Amin, ya 3:39 rabbal alamin. 3:42 Dari 3:43 salah satu di antara asar ataupun 3:46 pengaruh 3:49 dari 3:51 tarbiyah ataupun 3:53 pemberian atau to educate terhadap puasa 3:56 pada pribadi kita, sering saya sampaikan 3:59 bahwa 4:01 Asarus Siyam fi binais syahsiyah, 4:03 pengaruh puasa dalam bangun karakter 4:05 kita 4:07 membangun kepribadian kita sebagai 4:09 mukmin sejati. 4:11 Mukmin yang bukan hanya dalam ungkapan 4:14 kata-kata indah 4:16 dalam pengakuan 4:19 tapi memang 4:21 dibuktikan oleh realita. 4:23 Karena 4:25 Hasan Al Basri sendiri mengungkapkan 4:27 bahwa iman itu bukan hiasan mulut. He 4:31 em. Bukan indahnya kata-kata. Laisal 4:34 iman bitamani. 4:36 Dan iman itu iman itu bukan angan-angan 4:39 kosong. 4:41 Walakin ma waqara fil qalbi wa 4:43 saddaqahul amal. 4:46 Tetapi yang dimaksud iman itu memang 4:49 menetap di hati terpatri dalam jiwanya. 4:53 Tersibghah 4:54 jiwanya terwarnai 4:57 dicelup oleh celupan ilahi 5:01 dan menetap dalam hati sanubari, kokoh, 5:04 kuat. 5:06 Saya suka bilang terpatri. Terpatri itu 5:08 enggak copot-copot kalau sudah sekaligus 5:11 dipatri, dia melekat dia. He em. 5:14 Kemudian dibuktikan 5:17 apa yang jadi keimanan di hati kita pada 5:19 mengukir jiwa kita dalam merealita 5:23 kehidupan. Ma waqara fil qalbi wa 5:26 saddaqahul amal. 5:30 Fainna qauman ghararat humul amani hatta 5:33 kharaju minad dunya wala hasanata lahu. 5:38 Ada satu kaum yang mereka tertipu oleh 5:41 angan-angan, pengakuan, GR, gede 5:44 rumongso, merasa sudah 5:49 Ini Hasan Al Basri seorang tabiin ya 5:53 yang menyampaikan seperti itu. Ada orang 5:56 yang merasa dirinya orang beriman. 6:00 Di mana merasakannya? Satu, di 6:02 lingkungan masyarakatnya muslim. 6:05 Mungkin rumahnya dekat masjid. 6:08 Mungkin dari keturunannya haji-haji 6:10 semua. 6:12 Mungkin dari suasananya dan seterusnya. 6:16 Tapi sayang mereka tertipu oleh 6:18 pengakuannya. Hatta kharaju minad dunya 6:21 wala hasanatan lahum. 6:24 Sehingga mereka 6:25 keluar 6:27 dari dunia ini, artinya kita 6:29 meninggalkan dunia 6:31 wala hasanatan lahum. 6:34 Tidak memiliki kebaikan sedikitpun. 6:37 Artinya imannya tidak berbuah. 6:41 Ibarat pohon, pohon yang enggak ada 6:43 buahnya. 6:45 Mandul. 6:47 Nah, kalau seperti ini maka kita tertipu 6:50 oleh angan-angan. Merasa beriman tapi 6:52 enggak ada amalnya. 6:55 Jadi apa yang kita katakan dalam lisan 6:57 kita 6:58 itu adalah 6:59 kosong belaka. 7:01 Kalau kosong berarti zero. Kalau zero 7:04 berarti enggak ada kualitas, enggak 7:06 berbobot. 7:09 Dalam perjalanan hidup manusia itu kan 7:12 dites oleh Allah. Karena dunia itu 7:14 tempat 7:15 tes kualitas. 7:18 Semenjak dia balig, berakal, maka di 7:20 situlah mulai dihitung oleh Allah 7:22 subhanahu wa taala. 7:24 Diberikan ujian-ujian, diberikan 7:26 godaan-godaan, diberikan tes kualitas. 7:29 Coba sejauh di mana kualitas hamba ini. 7:31 Ini memang manusia yang berkualitas atau 7:33 tidak. 7:36 Nah, itu kalau mau mikir tentang hidup 7:38 dan kehidupan kita semua. 7:41 Kadang-kadang kita 7:43 terbawa oleh angan-angan dan merasa 7:44 hebat, dapat sanjungan 7:47 di tengah orang-orang ahli ibadah, tapi 7:50 kita sendiri kosong. 7:51 Kualitasnya enggak ada. 7:53 Enggak ada amalnya. 7:56 Hanya ungkapan kata-kata indah, mungkin 7:58 pintar dia pandai bicara dan sebagainya, 8:01 ilmunya juga ada. 8:03 Tapi secara maknawi kita tidak 8:05 memberikan kontribusi apapun. 8:09 Iman kita tidak terwujud baik dari 8:12 dimensi 8:14 vertikal 8:15 di hadapan Allah 8:18 dan juga dari dimensi horizontal 8:21 hablum minannas. 8:22 Enggak ada kualitasnya. 8:24 Enggak ada kontribusinya. 8:27 Jadi ibarat pohon 8:29 pohon rindang, subur, tapi tidak 8:32 memberikan buah. 8:34 Enggak ada buahnya. Biasanya kalau 8:36 petani punya pekarangan pohon yang 8:38 rindang enggak ada buahnya jadi tebang. 8:42 Untuk kayu bakar, nauzubillah min zalik. 8:45 Nah 8:46 oleh sebab itu mari 8:48 Allah dengan kasih sayangnya tahu betul 8:51 karakter manusia itu tergesa-gesa, 8:53 maunya cepat sampai, maunya yang 8:56 enak-enak 8:58 yang enak-enak 10 tahun enggak enaknya 9:00 cuma sebentar saja dua dua hari, tiga 9:02 hari ngeluh ya. Sehatnya sudah selama 9:05 hidup tapi kemudian sakitnya hanya 9:07 seminggu saja sudah 9:09 mengeluh, menyalahkan Allah. Senangnya 9:12 sudah sekian lama, enggak senangnya 9:14 sebentar Allah disalahkan, tidak adil 9:16 lah dan sebagainya. 9:18 Berarti ini itu kualitas kita 9:21 sebenarnya. 9:22 Nah maka kembali 9:24 Nabi kemudian di dalam sebuah hadis 9:26 mengatakan al kaisu man dana nafsahu wa 9:30 amila lima ba'dal maut. 9:34 Orang yang cerdas, orang yang piawai, 9:37 orang yang mempunyai kecerdasan ternyata 9:41 tidak hanya kecerdasan intelektual. 9:44 Tapi perlu ditopang dengan kecerdasan 9:47 emosional. 9:49 Kecerdasan spiritual. 9:52 Sehingga dia tidak terjebak kepada yang 9:54 bersifat fisik atau zahir semata. 9:58 Casing-nya saja, lihat dalamnya 10:01 mesinnya. 10:03 Lihat hakikatnya, lihat maknanya dalam 10:06 kehidupan. Maka dalam hidup orang 10:08 beriman. 10:10 Yang cerdas piawai dengan kecerdasan 10:13 spiritual, 10:14 itu dia melihat sesuatu bukan yang 10:17 nampak. 10:19 Di pada pandangan mata. 10:23 Dia bisa melihat yang hakiki. 10:26 Dia tidak terjebak kepada hal yang 10:28 bersifat zahir semata. 10:30 Dia melihat dengan mata hati. 10:33 Bahkan lebih dalam lagi dia akan bisa 10:34 melihat dengan mata imannya. Masya 10:38 Allah. Kalau dia melihat dengan mata 10:40 hati, insya Allah dia bisa menimbang. 10:43 Bisa memilah dan memilih mana yang 10:45 benar, mana yang salah. Mana yang lurus, 10:48 mana yang bengkok. 10:50 Walaupun di sana-sini ada bunga-bunga 10:52 kanan kiri yang indah. 10:55 Bertaburan dengan senyum, dengan riuh 10:58 rendah sanjungan. 11:00 Dia tidak melihat itu, lihat garis ini 11:02 lurus. 11:03 Lihat ini jalan yang benar atau jalan 11:05 yang salah. 11:06 Apalagi ditopang dengan penglihatan mata 11:09 iman, maka dia akan mampu menembus. 11:12 Gelagat. 11:13 Dari yang. 11:15 Fisik kepada metafisik, dari yang nampak 11:18 dipermukaan sampai dia melihat. 11:21 Melihat 11:23 dari hikmah di balik setiap peristiwa. 11:29 Dulu ada cerita di TV itu zaman dulu, 11:32 masih belum ada TV 11:35 apa namanya, ee masih TV Republik, TVRI 11:38 itu. 11:39 Ada kisah si Medun 11:42 sengsara membawa 11:43 nikmat. 11:45 Jadi kesengsaraan itu di balik itu ada 11:47 hikmah. 11:49 Orang bisa menikmati sesuatu itu nikmat 11:51 kalau dia belum merasakan betapa 11:53 susahnya dalam hidup ini. 11:56 Orang yang tiap hari makan enak, makanan 11:59 lezat, minuman segar, 12:03 macam-macam dia. Suatu saat dikasih 12:05 makan yang sederhana ala kehidupan di 12:08 kampung, wah, sengsara itu. 12:12 Sengsara. 12:14 Orang yang biasa hidup di ruang yang AC, 12:16 yang dingin, yang sejuk, 12:18 kemudian keluar, gerah rasanya. 12:21 Panas. 12:24 Orang yang biasa hidup di lampu terang 12:26 benderang di kota dengan 12:29 sinar listrik atau cahaya listrik, suatu 12:32 saat di kampung gelap gulita, uh 12:34 tersiksa. 12:36 Nah, jadi sebenarnya bahagia itu 12:38 terletak pada 12:39 perasaannya. Bagaimana hati dia bisa 12:42 menerimanya. 12:43 Maka kembali kepada sabda Nabi, 12:46 disebut orang yang cerdik itu adalah 12:49 yang sekarang orang mengatakan para 12:51 pedagog, 12:52 para ahli-ahli pendidikan ternyata 12:54 enggak cukup dengan 12:55 IQ, 12:57 intellectual quotient, 12:59 enggak cukup tapi EQ, 13:02 emotional quotient dan kemudian 13:06 spiritual quotient. 13:08 Jadi kecerdasan itu tidak hanya 13:09 kecerdasan intelektual. 13:12 Yaitu orang yang, nah, 13:14 ini kriterianya. 13:16 Orang yang ketika hidupnya dia mampu 13:19 mengendalikan emosi, 13:22 melaras, menimbang, menyaring 13:26 nalar pikiran kita, keinginan kita 13:30 sehingga bisa memilah dan memilih mana 13:32 keinginan yang benar, mana keinginan 13:34 yang berujung baik mana keinginan yang 13:36 kelihatan berbunga-bunga tapi berujung 13:39 buruk dan seterusnya 13:40 mana yang bisa memberi manfaat untuk 13:42 dirinya, bermanfaat untuk orang lain dan 13:44 seterusnya. Ini hanya bisa dengan 13:46 pandangan spiritual, keimanan yang 13:48 mantap 13:52 sehingga dia bisa memilih 13:55 dia mampu mengendalikan langkahnya, 13:57 kemana dia melangkah yang mesti positif, 14:00 punya kualitas 14:01 dan mampu mengangkat harkat martabat 14:03 dirinya dihadapan Allah 14:06 kemudian 14:08 dia beramal 14:11 wa amila lima ba'dal maut 14:14 nah ini jarang dibicarakan secara 14:15 logika, rasio, pemikiran banyak orang 14:19 dia beramal, beramal, beramal, beramal 14:22 itu kan melakukan sesuatu 14:25 action dia melakukan sesuatu 14:28 tidak hanya untuk dirinya 14:30 bisa jadi untuk orang lain 14:33 bisa jadi untuk orang banyak, bisa jadi 14:35 untuk masa depan dan seterusnya 14:37 dia beramal, beramal, beramal 14:40 tidak pernah hanya secara egosentris 14:43 memikirkan sesuatu yang bisa memberi 14:45 manfaat untuk dirinya 14:48 dia menjauhkan dirinya dari hal yang 14:49 bersifat pragmatis semata 14:52 tapi yang bisa memberi manfaat 14:55 banyak orang maka Nabi memberikan satu 15:00 men-stressing bahwa 15:02 khairunnas anfa'uhum linnas 15:06 sebaik-baik manusia bukan yang paling 15:08 ganteng 15:10 bukan yang paling cakep, bukan paling 15:12 tampan, bukan yang paling cantik bukan 15:15 hidung yang jadi ukuran, bukan mata yang 15:19 berbinar-binar seperti bintang kejora, 15:21 bukan rambutnya, bukan kulit 15:25 tubuh yang mulus dan seterusnya, bukan 15:26 itu. 15:29 Tapi 15:30 sebaik-baik manusia adalah yang 15:33 dia 15:34 mampu 15:36 menciptakan 15:38 nuansa, suasana 15:40 dalam kehidupan yang bisa banyak memberi 15:43 manfaat terhadap banyak orang. 15:49 Ayo, coba kita lihat diri kita. 15:52 Kira-kira keberadaan kita, termasuk saya 15:55 ini 15:56 di tengah-tengah manusia itu apa? 15:58 Memberi manfaat atau memberi mudarat? 16:01 [tertawa] 16:02 Kalau tiap hari ketemu masyarakat semua 16:04 banyak utang sana, utang sini, buat 16:06 masalah 16:08 lah, berarti kita ini manusia yang 16:09 enggak ada gunanya. 16:11 Tapi kalau keberadaan kita itu memberi 16:13 manfaat 16:16 memberikan nuansa, suasana yang cerah 16:19 di kerudung dan suasana menjadi cerah 16:21 dikala dia datang 16:23 atau memberikan solusi dari problem 16:26 masalah yang dihadapi oleh teman kita, 16:29 saudara kita, masyarakat kita. 16:31 Nah, inilah namanya manusia. 16:34 Memberikan kontribusi persis seperti 16:36 yang diabadikan oleh Alquran surat 16:38 Taubah ayat 24 dan 25. Dia seperti buah 16:44 tu'ti ukulaha kullahin biidzniha 16:47 rabbiha. 16:49 Dia memberikan buah setiap musim tanpa 16:51 diminta, itu pohon. 16:54 Masyaallah. 16:55 Nah, pertanyaannya buah apa yang bisa 16:58 kita berikan untuk orang lain? 17:04 Oleh karenanya, sekali lagi kembali 17:06 kepada 17:08 atsarus shiyam 17:11 bekas ataupun yang membekas dari ibadah 17:14 puasa yang mampu membangun karakter 17:18 kita. 17:20 Dalam sebuah kisah, ini juga pernah saya 17:22 sampaikan di buku 17:25 saya juga saya kutip 17:28 pada halaman 172 17:31 bab 17:32 7 kalau enggak salah 17:34 halaman 172 tentang kasih sayang. 17:39 Saya bacakan di sini. 17:42 Dalam satu riwayat Aisyah radhiallahu 17:45 anhu menceritakan bahwa pada suatu hari 17:49 dia kedatangan tamu yang tidak diundang. 17:54 Tamu tadi seorang wanita paruh baya 17:58 yang berpenampilan amat sangat sederhana 18:03 dalam keadaan yang 18:05 wajahnya 18:07 mukanya pucat 18:10 anak-anak juga kelihatannya lesu 18:13 ya Allah. 18:15 Ini sudah jelas dari sini kita 18:17 bisa menilai ini adalah orang yang 18:19 sedang ditimpa 18:21 penderitaan, mungkin kelaparan, mungkin 18:24 dia tidak menjumpai makanan dan 18:26 sebagainya. 18:28 Dengan dua orang 18:31 putra-putranya, putra apa putri tidak 18:33 disebutkan dua orang anaknya yang satu 18:36 digendong yang satu dituntun 18:39 datang mengetuk rumah Aisyah. 18:42 Ibunda Aisyah istri Baginda Nabi 18:46 adakah sesuatu Bunda yang bisa saya 18:50 makan karena saya sudah berhari-hari 18:53 tidak menjumpai makanan. 18:55 Tentu saja Aisyah 18:58 sebagai istri Rasulullah tentu saja 18:59 banyak menyerap ilmu-ilmu apa yang 19:02 diajarkan oleh Baginda Nabi 19:04 dan kelemahlembutan beliau 19:06 segera masuk ke dalam rumah 19:09 tergopoh-gopoh dengan harapan bisa 19:12 memberikan 19:15 makanan ataupun apa yang bisa 19:17 meringankan beban ataupun penderitaan 19:20 tamu yang tidak diundang tadi. 19:22 Namun apa daya 19:25 maksud hati 19:27 memeluk gunung 19:30 tapi apa daya tangan tak sampai. 19:32 Ini peribahasa zaman dulu ini. 19:35 Artinya keinginannya besar 19:38 tapi apa daya keadaan 19:41 menjadi lain. Ternyata di rumah Bunda 19:43 Aisyah pun 19:45 teu aya naon-naon. Heeh. 19:48 Nih kalau sudah ngomong naon-naon ini 19:50 orang Sunda saja ditanya mesti enggak 19:51 bisa jawab. 19:53 Naon itu apa? Mesti mesti enggak jawab. 19:56 Dia akan katakan apa? 19:58 Nanya kembali. 20:00 Jadi teu aya naon-naon. 20:02 Enggak ada apa-apa di rumah. 20:06 Ini bayangkan put istri Baginda Nabi, 20:09 manusia ter termulia di dunia. 20:12 Kekasih Allah 20:14 luar biasa. 20:15 Di rumah sampai enggak ada makanan. 20:18 Coba kita lihat di sini di kita ini di 20:20 rumah ini. 20:21 Sekurang-kurangnya kita ini yang hidup 20:23 sederhana saja mesti enggak enggak 20:24 mungkin enggak ada makanan tiap hari. 20:26 Ini di istri Baginda Nabi 20:29 rumah manusia paling mulia si Allah, 20:31 kekasih Allah. 20:33 Kok teu aya naon-naon? 20:35 Bayangkan betapa 20:38 gundah hati Bunda Aisyah ingin 20:40 memberikan sesuatu yang jauh lebih 20:42 banyak atau menggembirakan, 20:44 membahagiakan 20:45 tapi ternyata teu aya naon-naon. 20:49 Apa boleh buat? 20:51 Cuma apa yang dijumpai? Tiga butir 20:53 kurma. Masya Allah. 20:56 Tiga butir kurma. 20:59 Ya Allah. 21:01 Dengan berat hati inilah yang bisa 21:05 diberikan kepada tamu yang tidak 21:07 diundang. 21:08 Ya Allah, Ibu, ini mohon maaf di rumah 21:11 pun hanya ada tiga butir kurma. 21:15 Namun rupanya tamu ini juga tidak 21:17 sembarangan tamu. 21:19 Kalau dari segi sikap dan perilaku, 21:21 kesabaran, ketulusan, 21:24 ini adalah cermin orang-orang beriman. 21:26 Dia terima tiga butir kurma itu dengan 21:28 syukur. 21:31 Segera dibagikan sebutir kurma untuk 21:34 anaknya yang satu 21:36 dan satu butir lagi diberikan pada yang 21:38 satu. 21:40 Dua butir kurma diberikan pada 21:42 masing-masing satu butir kurma. 21:45 Sementara satu butir kurma dipegangnya 21:47 sendiri oleh ibundanya tadi yang dia 21:50 sendiri sudah menahan lapar mungkin 21:52 berhari-hari dia tidak jumpai makanan. 21:57 Apa yang 21:59 menjadikan Aisyah terpana di depan pintu 22:02 rumahnya? 22:05 Begitu mendapatkan anaknya 22:08 satu butir kurma, 22:11 ketika dimakan dipandangi wajah dari 22:14 cahaya 22:16 peng 22:17 apa yang di cahaya 22:19 penglihatan mata ibunda melihat penuh 22:23 dengan curahan kasih sayang dan men 22:25 mencerminkan kebahagiaan yang tersimpan 22:28 dari seorang ibu yang sebenarnya dia 22:30 sedang menderita. 22:33 Kebahagiaan itu terpancar dari pandangan 22:35 matanya. 22:37 Dia perhatikan kecap mulut anaknya 22:40 mengunyah hanya sebutir kurma itu. 22:45 Senyum 22:46 digulhum ibundanya walaupun dalam 22:49 keadaan kepedihan 22:51 dia menjalani hidup yang serba 22:53 kekurangan. 22:55 Itu yang membuat terpana Aisyah. 22:58 Sampai masing-masing 23:00 habislah kurma itu. 23:02 Karena cuma satu butir. 23:05 Yang satu butir kurma niatnya mau 23:08 dimakan dirinya. 23:10 Tapi segera Masya Allah. Di bahasa asing 23:14 ini. 23:16 Diranggeh. 23:17 [tertawa] 23:19 Diranggehnya kembali satu butir kurma 23:21 oleh putranya yang tentu saja kurang 23:24 makan sebutir kurma itu. 23:26 Bahasa Indonesia apa diranggeh itu Pak? 23:28 Direbut bukan. 23:31 Di apa? 23:33 Pokoknya diranggeh itu maksudnya 23:35 dicawel, dicawel juga beda. 23:37 Diambil lagi. 23:41 Diambilnya oleh anaknya. Diminta tapi 23:44 dengan langsung mengambilnya. Namanya 23:46 diranggeh bahasa asing. 23:48 Bahasa Jawa maksudnya. 23:50 Kemudian oleh bunda yang malang tadi 23:53 satu butir kurma itu dibelahnya menjadi 23:57 dua. 23:58 Dan setengah butir 24:01 diberikan kepada 24:03 masing-masing pada dua anaknya. 24:07 Tetap 24:09 pandangan 24:11 mata seorang ibu yang 24:13 meru, penuh dengan curahan kasih sayang 24:16 melewati sinar matanya. Diperhatikan 24:21 kecap mulut dua anaknya 24:24 yang senang mendapatkan walau hanya satu 24:28 setengah butir kurma masing-masing. 24:33 Sampai 24:35 habis kurma itu tidak lama kemudian 24:38 bunda yang malang dengan dua anaknya 24:40 pergi meninggalkan 24:42 rumah Aisyah. 24:44 Aisyah masih termangu di depan pintu 24:46 rumahnya. 24:48 Tidak lama kemudian Baginda Nabi datang. 24:52 Kemudian diceritakanlah peristiwa yang 24:54 mengagumkan, mempesona itu. 24:57 menggetarkan hati Aisyah. 25:00 Lalu apa? 25:01 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 25:03 kemudian bersabda 25:06 sesungguhnya 25:08 Allah telah menentukan baginya surga. 25:13 Dan Allah 25:15 telah memerdekakan 25:18 dia dari api neraka dengan sebab 25:22 kasih sayang kepada kedua anaknya itu. 25:25 Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim. 25:29 Kalau kamu mau tahu ahli surga, itulah 25:32 orangnya. Masya Allah. Seorang ibu yang 25:35 malang 25:37 tetapi memiliki 25:39 mutiara 25:41 iman yang luar biasa. 25:44 Dia mampu 25:46 menerjemahkan kasih sayangnya dalam 25:48 pandangan mata kepada kedua anaknya 25:50 walau di dalam keadaan penderitaan. 25:55 Maka 25:58 di sini kemudian 26:00 disebutkan bahwa ternyata 26:03 Allah mencintai 26:05 kasih sayang seorang ibu yang melahirkan 26:11 atau menjadikan seorang sebagai 26:13 ditetapkan oleh Allah sebagai ahli surga 26:16 dan menjadi dinding dari api neraka 26:18 karena penderitaan tapi dengan sabar, 26:22 tulus dan ikhlas serta ridho 26:24 dia curahkan kasih sayang kepada kedua 26:27 anak-anaknya itu. 26:31 Dalam riwayat lain disebutkan 26:33 sesungguhnya 26:36 Allah itu lemah lembut. 26:39 Innallaha rafiiqun yuhibbur rifqo. 26:43 Wayu'ti alar 26:46 rifqi mala yu'ti alal 26:51 unfi wama layu'ti ala masiwa. 26:55 Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. 26:57 Sesungguhnya Allah itu lemah lembut. 27:01 Dan menyukai 27:03 orang-orang yang lemah lembut, pemurah, 27:06 kasih sayang. 27:09 Dan memberi 27:11 karena kelemahlembutan 27:14 dari apa-apa yang tidak dapat diberikan 27:17 oleh orang-orang yang keras hatinya. 27:20 Dan yang tidak diberikan 27:22 kepada 27:26 orang 27:27 lainnya. 27:30 Jadi lemah lembut itu masyaallah luar 27:31 biasa. 27:33 Allah mencintai pada hamba-hamba yang 27:35 lemah lembut. 27:36 Kemarin kita bicara tentang ta'aluf 27:39 qulub qulub 27:41 lemah lembutnya hati. Dan ini menjadi 27:44 menjadi ciri khasnya daripada agama 27:46 Islam. 27:48 Islam itu bisa diterapkan. 27:50 Iman itu bisa tegak. 27:52 Persatuan kita bisa terwujud. Kasih 27:55 sayang itu bisa terlaksana kalau fa'ala 27:57 fabaina qulubikum. 28:00 Mereka punya hati yang lembut. 28:03 Fa asbahtum binikmati ikhwana. 28:06 Sehingga sesama saudara sesama mukmin 28:08 dia menjadi seperti saudara. 28:11 Bahkan persaudaraan sesama muslim itu 28:13 sebenarnya kal jasadil wahid. 28:15 Seperti tubuh yang satu. 28:17 Idas takainu ainuhu pas. 28:21 Kemudian apabila sakit matanya sakit 28:24 seluruh tubuhnya. 28:28 Kesatuan tubuh ini bisa kita lihat dalam 28:30 semua aktivitas. 28:33 Walaupun berbeda-beda fungsi dan 28:35 tugasnya tetapi untuk satu tubuh. 28:39 Mata yang melihat 28:42 makanan, ada kue lezat dan seterusnya. 28:46 Tangan yang mengambil, 28:48 mulut yang mengunyah, 28:50 kemudian ditampung di perut, tetapi 28:52 semuanya untuk seluruh tubuh. 28:56 Tangan dua yang berbeda, yang satu kanan 28:59 dan kiri, jelas berbeda dua tangan itu 29:01 enggak mungkin sama. 29:03 Kalau berjalan menjadi indah, 29:06 yang kalau kanan ke depan tangan kiri ke 29:09 belakang. 29:11 Yang kiri ke depan, yang tangan kanan ke 29:13 belakang. 29:15 Masa ada jalan kok tangannya 29:16 kedua-duanya depan belakang sama-sama, 29:20 emang vampir. 29:23 Begitu semua soal telinga, mata, dan 29:25 seterusnya. Ini gambaran tubuh umat 29:28 Islam yang satu karena Islam 29:30 agama yang satu oleh seluruh umat. 29:33 Bukan agama yang dipilah-pilah, 29:37 seperti kue lapis yang dipilah-pilah, 29:39 dipisah-pisah satu dengan yang lain. 29:42 Kemudian sebagian masa bodoh dengan yang 29:44 lain, tidak peduli. 29:46 Kalau ini yang terjadi ya persis seperti 29:48 tubuh yang abnormal. 29:50 Sakit kepala kok tangannya yang satu 29:52 ngeplaki kepalanya sendiri. 29:55 Kakinya terantuk batu kok mulutnya 29:57 kemudian menyumpahi, rasain loh kaki. 30:03 Ini 30:04 maka 30:05 ta'aluf, 30:08 kasih sayang, lemah lembut. 30:10 Bahkan 30:12 apa yang disabdakan Baginda Nabi, 30:14 menjadi satu jaminan. 30:16 Tetap ketetapan Allah memasukkan seorang 30:19 beriman yang hatinya lembut, 30:21 dan yang kedua menjadi dinding api 30:23 neraka ketika dia dengan kasih sayang 30:26 merawat putra-putrinya 30:30 yang menjadi tanggung jawabnya dengan 30:32 penuh kasih sayang, walaupun dengan 30:34 segala derita dan susah payahnya. 30:40 Di dalam hadis yang lain, yang 30:42 diriwayatkan oleh 30:46 Abu Mansur Ad-Dailami. Ehm. 30:49 Ada dua budi pekerti yang dicintai Allah 30:52 Ta'ala. 30:53 Yaitu 30:55 akhlak yang baik dan pemurah. 30:59 Dan dua perilaku buruk 31:02 yang dibenci oleh Allah Subhanahu Wa 31:04 Ta'ala. 31:05 Ada akhlak yang jelek dan bakhil, pelit, 31:08 meditil. 31:10 Ya. 31:11 Apabila 31:16 apabila seorang hamba dikehendaki oleh 31:18 Allah menjadi orang baik, 31:20 maka orang tersebut dijadikan oleh Allah 31:23 sebagai jalan untuk memenuhi 31:27 keperluan-keperluan orang banyak. Ehm. 31:30 Jadi, ada orang yang rezekinya itu 31:32 mudah. 31:34 Cari uang itu gampang, dagang laris, 31:36 usaha untung. 31:38 Tapi, ternyata bukan hanya banyak harta 31:41 dia. 31:43 Bukan hanya kaya harta, tapi juga kaya 31:45 jiwa. 31:46 Jiwanya itu loman dan dermawan. 31:50 Rasanya kalau tidak memberi itu mungkin 31:52 dia merasa rugi. 31:54 Dari rezeki yang dia peroleh itu 31:56 kemudian menjadi jalan untuk 32:00 rezeki bagi orang lain. 32:02 Dia suka bersedekah. Dia suka memberi. 32:06 Ini luar biasa, ya. Berarti kasih sayang 32:09 Allah pada hamba yang pemurah. Termasuk 32:11 akhlak yang baik dan pemurah. 32:14 Pemurah dalam artian sikap perilakunya, 32:18 a- am- anggo-onggonya, ramah tamahnya, 32:21 dan juga pemurah dalam arti dia pemurah 32:24 itu untuk 32:25 ada care dan peduli terhadap orang lain. 32:28 Sedangkan dua akhlak yang buruk adalah 32:31 bakhil 32:32 dan jelek perilakunya. 32:35 Mudah-mudahan 32:37 dari sikap pemurah yang Allah sudah 32:39 menetapkan Allah suka, Allah mencintai 32:43 terhadap hamba-hambanya yang punya sikap 32:45 pemurah. Dan sikap pemurah ini 32:48 dari antara lain hasil produk puasa yang 32:52 benar 32:53 yang mampu mengikis egoistis, egoisme 32:58 menjadi jiwa yang 33:00 isariyah. 33:02 Dari manusia yang ananiyah egoistis 33:06 menjadi jiwa yang isariyah atau 33:08 altruisme care dan peduli terhadap orang 33:11 lain. Bahkan 33:13 dia rela bersusah payah rela berjuang, 33:17 rela berkorban untuk kemaslahatan hidup 33:20 banyak orang, untuk kebahagiaan orang 33:23 lain dan seterusnya. Wallahualam 33:26 bissawab. 33:28 Masya Allah. 33:30 Jadi ikhwan akhwat karena ini live Anda 33:34 bisa langsung telepon tanya ya. Tetapi 33:37 yang kirim melalui WA juga mudah-mudahan 33:41 bisa terjawab semuanya. 33:43 Pertanyaan yang paling dalam telahkah 33:46 [menghela napas][terkesiap] 33:47 pandangan mata kita 33:49 penuh dengan kasih pada hamba-hamba 33:51 Allah yang bersimbah duka atau berlumur 33:55 eh derita. 33:57 Baik, kita boleh langsung ke 33:58 pertanyaannya Ustaz ya. 34:01 Pertanyaan dari Mbak Karisa 34:04 Assalamualaikum Ustaz. 34:06 Waalaikumsalam warahmatullahi 34:07 wabarakatuh. 34:08 Izin bertanya, bagaimana mengawal lihat 34:12 hati kita 34:13 keikhlasan kita 34:15 cinta kita 34:17 sabar kita, ketakwaan kita 34:21 dan itu semua kepada Allah Subhanahu wa 34:23 Ta'ala. Bagaimana ridhonya kita juga 34:26 pada takdir Allah agar tidak berpaling 34:30 kepada selain Allah. Terima kasih 34:32 banyak, Ustaz. Iya. 34:34 Masya Allah, ini pertanyaan luar biasa. 34:37 Justru ini yang problem terbesar bagi 34:39 kita sebagai manusia. He em. 34:42 Kalau kita mempercantik diri, 34:46 ya, 34:47 mempercantik diri bagi wanita yang 34:49 memang suka dandan, ya. Fitrahnya 34:51 manusia suka dandan supaya kelihatan 34:53 cakep. 34:55 Bagaimana kita merawat 34:58 wajah, mata, telinga, 35:01 mulut, gigi dan sebagainya. Bahkan kuku 35:04 saja, rambut kita dan seterusnya. Mandi 35:07 sekurang-kurangnya dua kali dengan 35:09 berbagai macam cara yang kita lakukan 35:12 untuk merawat body ataupun jasmani kita. 35:18 Demikian juga mestinya ada kewajiban 35:21 kita merawat 35:25 rohani kita. 35:28 Seperti tadi hal-hal yang di sampaikan 35:30 tentang kesabaran, tentang keikhlasan, 35:33 tentang ramah tamah, tentang dan 35:36 sebagainya. Itu kewajiban kita 35:40 masing-masing. 35:42 Memper cantik diri. 35:47 Maka Rasulullah diutus itu buaistu 35:50 liutammima makarimal akhlak. 35:52 Akhlak bisa baik kalau rohaninya tuh 35:55 baik. 35:56 Ya, sabar, ya, ikhlas, ya, tawakal, 35:59 percaya pada Allah dan seterusnya. 36:00 Banyak hal itu. Itu tugas kita bersama. 36:03 Jadi, pertanyaan ini luar biasa. 36:05 Termasuk pertanyaan untuk diri saya 36:07 sendiri. Bagaimana membangun karakter, 36:10 bagaimana membangun jiwa, memperhalus 36:12 budi pekerti, 36:13 menjadi jiwa yang ramah, yang peduli, 36:17 yang sabar. 36:20 Kalau sabar lagi banyak duit, ya, 36:21 mungkin 36:23 bisa. Tapi sabar di kala kita 36:25 menurut bayangan mata kita menjadi 36:27 gelap, poek panon, tetapi bagaimana kita 36:30 yakin pada Allah 36:32 bahwa Allah itu adalah 36:34 zat yang Maha Pemurah yang tidak mungkin 36:37 melakukan kezaliman terhadap hambanya. 36:40 Allah tidak pernah berkehendak untuk 36:43 membuat sengsara, susah bagi 36:45 hamba-hambanya. 36:47 Nah, itu kan tidak mudah namanya 36:48 berprasangka baik kepada Allah Subhanahu 36:50 Wa Ta'ala. 36:51 Bagaimana kepasrahan diri kita kepada 36:53 Allah? Yakin Allah segala-galanya dan 36:56 yang terbaik. 36:57 Itu juga perlu kita bina. Itulah yang 37:00 dimaksud bimbingan rohani, bimbingan 37:03 agama, supaya keimanan kita, pribadi 37:07 kita seperti yang diharapkan oleh kita 37:10 semuanya. 37:11 Jadi, intinya agama justru di situ, 37:14 bukan ketika salat, ruku, sujudnya 37:16 semata. 37:17 Bukan ketika kita ramai-ramai diantar 37:20 pergi ke bandara pergi haji. 37:23 Bukan ketu, bukan selendang, bukan 37:25 kerudung, jilbabnya saja, tapi 37:28 esensinya. 37:30 Itu yang harus kita bangun. Nah, ini 37:32 menjadi tugas kita bersama. Nah, oleh 37:33 karenanya 37:35 perbaharuilah iman, ayyujaddida imanacum 37:38 fi qulubicum. Perbaharui imanmu dalam 37:41 dirimu. 37:43 Lembutkan hatimu dengan banyak zikir dan 37:45 banyak membaca Alquran. 37:48 Contoh keteladanan Baginda Nabi, 37:50 bagaimana pola dan sikap hidup beliau. 37:53 Kelemahlembutan beliau, keramah-tamahan 37:55 beliau, kasih sayang beliau dan 37:58 seterusnya. 38:02 Suatu saat Rasulullah Sallallahu Alaihi 38:04 Wasallam 38:05 mendapatkan 38:07 tawanan seorang wanita. 38:10 Tiba-tiba dalam suatu 38:12 peristiwa 38:14 seorang wanita tadi kehilangan anak, 38:17 anak berpisah, masih dalam buaiannya. 38:21 Kaya apa sedih seorang ibu yang 38:23 kehilangan anaknya dalam situasi 38:25 peperangan seperti itu. 38:27 Tapi dengan izin Allah bisa disatukan 38:30 dalam satu pertemuan menjadi 38:33 tawanan. 38:36 Begitu diperlihatkan 38:38 anak yang tadi hilang kemudian berjumpa. 38:42 Bayangkan itu bagaimana itu gembiranya 38:45 seorang ibu. 38:47 Anaknya ketemu lagi. 38:50 Kaki-kaki segera dia 38:53 dia 38:55 peluk anaknya kemudian dengan curahan 38:57 kasih sayang. 38:59 Oh, luar biasa. Sulit saya 39:00 menggambarkannya. 39:02 Kasih sayang ibu pada saat itu. 39:04 Kemudian segera 39:06 diberikan ASI. 39:08 Dan kemudian Baginda Nabi bertanya pada 39:10 sahabat. 39:12 Tahukah kamu 39:14 adakah 39:15 di dunia ini yang lebih 39:17 kasih sayang melebihi dari seorang ibu 39:20 terhadap anaknya seperti yang kita 39:21 lihat. 39:25 Para sahabat tahu kalau Rasulullah 39:27 bertanya itu sebuah metodologi 39:30 untuk memberikan penekanan betapa 39:31 pentingnya itu apa yang akan beliau 39:34 sampaikan. 39:36 Biasanya dalam pertanyaan seperti itu 39:37 selalu saja 39:39 sahabat mengatakan Allahu wa Rasuluhu 39:41 a'lam. 39:42 Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. 39:45 Tapi untuk kasih sayang seorang ibu itu 39:48 zahir nyata. 39:49 Mungkin kalau kita yang ditanya saya 39:51 kira enggak ada jawabannya lebih kasih 39:53 sayang melebihi daripada kasih yang ibu 39:56 pada anaknya. 39:58 Maka kemudian Rasulullah mengatakan 40:00 Allah terhadap hamba-Nya 40:03 yang sering kita berprasangka buruk 40:05 kepada Allah 40:06 merasa kita ini di 40:09 dikucilkan, merasa Allah itu membuat 40:11 sengsara kita menjadi orang susah dan 40:13 seterusnya. Padahal Allah itu Maha 40:15 Pemurah. 40:17 Jauh kasih sayang Allah 40:20 dibanding 40:22 kehebatan kasih sayang seorang ibu pada 40:24 anaknya. 40:26 Itu baru ciptaannya percikan dari kasih 40:28 sayang Allah. Ehm. 40:30 Pada anaknya. 40:32 Apalagi kasih sayang Allah. 40:35 Maka dalam beragama seluruh aktivitas 40:37 dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim. 40:42 Ar-Rahman dan Ar-Rahim. 40:45 Sekalipun kepada orang kafir yang 40:47 maksiat, yang durhaka masih di 40:50 berikan kasih sayang Allah di dunia ini. 40:54 Dan lebih dari itu secara khusus kasih 40:56 sayang diberikan pada hamba-hamba 40:59 kekasih Allah, pilihan Allah, orang yang 41:01 beriman di surga nanti. 41:04 Kemudian ketika kita baca Alquran 41:07 baca surat Fatihah, 41:08 alhamdulillahirobbilalamin. 41:10 Ar-Rahmanir-Rahim. 41:12 Diulang setiap hari berapa kali kita 41:14 baca? 41:16 Tapi kadang-kadang ketika kita diuji 41:17 sedikit saja terus 41:19 pikiran kita, "Ya Allah, Allah, tim 41:20 kenapa? Apa dosa saya ya Allah? Kenapa 41:24 nasib saya begini ya Allah? Kenapa doa 41:26 saya tidak dikabulkan ya Allah? Kenapa, 41:28 kenapa, kenapa?" Terus kenapa? 41:33 Walaupun kalau diberikan nikmat belum 41:35 tentu syukur. Lupa kadang-kadang yang 41:37 membusungkan dadanya. 41:39 Tuh, karena akulah 41:41 aku bisa jadi begini, karena aku hebat, 41:43 aku ngerti ekonomi, aku ngerti 41:44 berdagang, aku jadi orang kaya. Lupa 41:48 Allah yang memberikan. 41:50 Nah, jadi kembali pada pertanyaan yang 41:53 inti tadi betul kewajiban kita 41:57 mengukir prestasi, mengukir jiwa menjadi 42:01 hamba-hamba yang 42:03 berdimensi 42:05 vertikal tadi, sabar, tawakal, ikhlas, 42:08 taat, tunduk, cinta kepada Allah, rida 42:11 kepada takdirnya, rida kepada 42:13 syariatnya, 42:15 dan kemudian 42:17 kita menjadi lemah lembut, cair, dan 42:19 peduli terhadap sesamanya. Dan keinginan 42:21 hatinya ingin berbuat banyak untuk 42:24 banyak orang. Dan lebih dari itu perlu 42:27 kita perkaya dalam jiwa kita. 42:29 Wallahualam. Masyaallah. 42:32 Ehm, pertanyaan berikutnya ini dari 42:36 ehm, hamba Allah saja. 42:38 Pak Ustaz, 42:40 saya hamba Allah dari Sukabumi. 42:42 Mohon pencerahannya, bagaimana cara 42:45 menghadapi anak yang susah memaafkan 42:48 keluarganya. 42:49 Syukron. 42:52 Kalau namanya anak, ya jelas menjadi 42:55 kewajiban kita 42:58 untuk 42:59 membangun karakternya. 43:02 Makanya anak itu titipan. 43:06 Yang harus diperhatikan 43:08 oleh orang tuanya adalah 43:11 membangun jiwa, membangun akhlak yang 43:13 baik, akhlakul karimah. 43:17 Bahkan diajarkan kepada kita 43:21 di dalam kandungan pun sudah sering kita 43:24 lantunkan doa, 43:26 munajat pada Allah. 43:29 Kita perintah, diperintahkan mendidik 43:31 dari 43:32 kecil, 43:34 bimbingan lisan, perilaku, sikap, rasa 43:38 syukur, terima kasih, 43:40 sabar, dan seterusnya. Itu kewajiban 43:42 kita. 43:44 Kita sekolahkan, kita cari sekolah yang 43:46 bisa membangun karakter. 43:48 Bukan hanya pintar. 43:50 Kalau hanya pintar tanpa karakter, ya 43:53 pintar ngapusi. 43:55 Sudah besar jadi pejabat, pintar 43:56 korupsi. 43:59 Pintar siasat-siasat yang buruk dan 44:01 seterusnya. Ini tentu tidak kita 44:03 kehendaki. Jadi, membangun karakter, 44:04 iman, kejujuran, dari kecil itu diajari. 44:07 Kewajiban kita, cuma kadang-kadang kita 44:09 ini lupa. 44:10 Anak itu yang kita cukupkan adalah 44:13 rezekinya, pakaiannya, pakai 44:15 kesehatannya, kemudian sekolahnya, 44:18 pintarnya. Itu saja yang kita 44:20 perhatikan, tapi akhlaknya, 44:21 kejujurannya. 44:24 Loh, orang-orang tua dulu masih ngajari 44:25 kita. 44:27 Itu kalau di Jawa kan ada istilah kromo 44:31 ya, bahasa kromo. Itu dia bicara sama 44:34 anak itu menggunakan bahasa kromo. "Loh, 44:36 mboten pareng loh, Dek. Mboten pareng." 44:39 Itu kan mboten pareng itu pareng itu ora 44:42 oleh gitu loh. 44:43 Bukan enggak boleh, bukan gitu. Mboten 44:46 pareng. 44:47 "Mam riyin, nggih?" "Pun papung dereng?" 44:50 Itu kalau Jawa. Kalau bahasa Sunda saya 44:52 teu ngarti abdi mah. 44:55 Bahasa yang halus, itu bukan karena 44:58 kita ini 44:59 apa 45:00 mengabdi pada anak ber apa tawa duk 45:05 bukan yang dimaksud mengajari tawa duk, 45:07 mengajari orang ber 45:09 bertata krama, berakhlak yang baik. 45:12 Kalau diberi sesuatu oleh orang, apa 45:15 katakan bagaimana? 45:16 Jazakallah khair, matur nuwun, terima 45:19 kasih. 45:21 Ya, itu diajarkan. Nah, sekarang karena 45:23 sibuk kita, kadang-kadang Bu Juli amat 45:25 udah dikasih makan, kasih HP, udah 45:27 tenang. 45:29 Nah, inilah mungkin kesalahan kita. Oleh 45:30 karenanya tetap kembali pada pendidikan. 45:33 Walaupun orang-orang tua dulu pendidikan 45:36 sederhana, tapi mengajari anak dengan 45:38 benar, jujur. Dapat uang ini uang dari 45:41 mana? Ayo. Ini dapat dari mana? Dan 45:44 sebagainya. Kalau mainan anak orang 45:47 lain, tetangga dibawa, ini mainan siapa? 45:50 Ayo, dipulangkan. Ya, pinjam, kasih tahu 45:54 ini pinjam, nanti sudah itu ucapkan 45:57 kembalikan, terima kasih. Itu mendidik 45:59 anak jujur, amanah, dan tanggung jawab. 46:02 Kemudian, jangan lupa 46:04 dikawal dengan doa. He eh. 46:09 Doa itu tidak hanya sekadar, "Ya, ala 46:10 kadarnya doa sajalah, ingat didoakan." 46:13 Bukan. 46:14 Sungguh-sungguh kita. 46:16 Kalau perlu nangis kita di hadapan 46:18 Allah, "Ya Allah, jangan Kau jadikan aku 46:20 mempunyai sebagai orang tua yang anaknya 46:21 durhaka padamu, ya Allah. 46:24 Durhaka pada sesama." Nangis pada Allah, 46:26 "Ya Allah, jadikan anak-anak saya yang 46:28 berhati lembut, yang beriman, yang 46:31 ikhlas, yang suka menolong, dan 46:32 sebagainya." Dalam sujud kita ketika 46:35 salat sujud yang terakhir itu, lantunkan 46:38 doa untuk anak-anak kita. 46:40 Ketika anak-anak sedang tidur, kita 46:42 melantunkan doa di dekatnya. 46:45 Bahkan tiga sepertiga malam kita bangun, 46:47 doakan anak-anak kita, "Ya Allah, 46:49 jadikan dia yang berakhlakul karimah, 46:51 yang bisa memberi manfaat banyak orang 46:53 terhadap orang lain, yang beragama, yang 46:55 tulus, dan seterusnya." Terus dikawal. 46:59 Kemudian, hindarkan rezeki-rezeki yang 47:02 tidak halal, 47:04 yang haram, yang dapat nguntit, yang 47:07 dapat ngapusi, dan seterusnya. Itu juga 47:09 akan berpengaruh. Ya. Kemudian, tiap 47:12 hari-hari diajari pada kita, kita 47:14 sebagai orang tua itu juga guru bagi 47:16 anak-anaknya. 47:18 Bapaknya itu jangan hanya ngasih duit 47:20 doang, sudah itu masa bodoh, itu urusan 47:22 emak. 47:23 Tanggung jawab. Anak itu tanggung jawab 47:25 nanti jadi penyesalan di akhirat. 47:27 Apalagi seorang suami, 47:29 seorang suami itu bertanggung jawab pada 47:31 keluarganya. 47:33 Satu pada ibu, bapaknya. 47:36 Kalau sudah tua, 47:38 maka dia yang harus He eh. menjadi 47:40 tanggung jawab. Saya yang harus merawat 47:42 ibu bapak saya, saya sebagai anaknya. 47:45 Atau kalau anaknya dua, ya berdua, 47:47 anaknya tiga, ya bertiga, jangan 47:49 masing-masing. Kita sekarang ngurusi 47:51 orang tua yang sudah tidak berdaya itu. 47:54 Yang mengasihi, menyayangi, dan 47:55 seterusnya seperti dia mengasihi, 47:57 mencintai kita. 47:58 Karena pada hakikatnya seorang anak yang 48:00 berjumpa dengan orang tuanya sudah tua, 48:02 yang sudah tidak 48:04 bisa 48:05 banyak berkarya, ber ber 48:07 dagang, berusaha, itu sebenarnya 48:10 memberikan kesempatan, peluang kita 48:13 membuka pintu surga yang 48:15 selebar-lebarnya. 48:17 Yang kedua, istri. 48:19 Istri itu ijab kabul itu kalimat luar 48:22 biasa, sakral itu. 48:24 Kalimat sakral. 48:26 Artinya sejak itu menjadi tanggung jawab 48:27 suami 48:29 dunia akhirat. 48:31 Kalau istrinya agamanya enggak diurus 48:33 oleh suaminya, enggak pernah 48:35 diperhatikan, enggak pernah disuruh 48:38 untuk belajar agama dan sebagainya, 48:40 sehingga kelakuannya bertentangan dengan 48:42 syariat agama, nanti suaminya dilandrat 48:46 di akhirat, walaupun suaminya itu orang 48:48 saleh. 48:50 Kenapa kau biarkan istrimu melakukan 48:52 maksiat? 48:54 Dia terbatut, akan disiksa oleh 48:57 Allah karena dosa istrinya, karena dia 48:59 tidak, kecuali kalau 49:01 istrinya yang 49:02 bedegul, yang 49:04 yang enggak mau diatur, sudah diberikan 49:07 bimbingan, tidak mau, itu lain lagi 49:09 urusannya. Tapi kalau kita yang 49:11 laki-lakinya, suaminya tidak peduli 49:14 tentang pendidikan agamanya, akhlaknya 49:16 dan seterusnya, ibadahnya, maka kita 49:18 akan kena. Yang ketiga, anak perempuan. 49:22 Terus khususnya, ya bukan berarti tidak 49:24 ada anak laki-laki. 49:25 Nanti anak perempuan sih perhatikan. 49:27 Maka tadi mengasihi dua anak perempuan, 49:30 me merawatnya dengan penuh kasih sayang, 49:32 itu jaminannya surga, ya Allah, luar 49:34 biasa itu pendidikannya, terutama 49:36 akhlaknya dan seterusnya. 49:38 Jadi dalam hal seperti ini, maka 49:40 tetap anak-anak itu selain diberikan 49:43 perhatian serius tentang akhlak, akidah, 49:45 ibadah, 49:47 kemudian aki keimanannya, 49:50 dikawal dengan doa-doa 49:52 setiap saat bahkan sekalipun sudah tua, 49:56 misalnya anaknya jadi pejabat tetap 49:58 orang tua itu tidak salah kalau kemudian 50:01 dia mengatakan Nak, kamu sekarang sudah 50:03 jadi pejabat semua itu adalah merupakan 50:06 titipan Allah hati-hati ojo sembrono ojo 50:10 korupsi ndak apa-apa orang tua 50:12 menasehati walaupun anaknya jadi bupati 50:14 jadi jenderal memang kenapa? 50:17 Tetap nasehati jangan malah ngikutin ya 50:20 ini 50:21 doakan saya dapat uang banyak begini iya 50:23 saya doakan kalau enggak benar ya tetap 50:25 diingatkan wallahualam 50:27 Terima kasih untuk Aak Nana Sumarna 50:31 penjelasan yang begitu gamblang terima 50:33 kasih Ustad kemudian dari Ibu Ani Chani 50:36 sudah ya ya Pak itu juga menyimak acara 50:40 kita dan ini Mbak Siti Anisa bertanya 50:43 Ustad kenapa ada orang itu bisa bakhil 50:47 sama saudaranya sendiri tapi sama orang 50:49 lain mereka sangat memberi 50:52 mohon pencerahannya 50:54 Ya inilah perlunya pengetahuan agama 50:59 memang membangun karakter itu 51:03 ya tidak mudah hanya dengan kalimat 51:06 omongan semata 51:09 tidak cukup hanya menyerahkan dalam 51:10 pendidikan sekolah dan seterusnya 51:14 tiga persyaratan untuk membangun 51:16 karakter pertama 51:18 know knowing 51:21 knowledge artinya ilmu 51:24 jadi beragama itu harus kita pelajari 51:26 gimana sih cara berinteraksi pada sesama 51:30 bagaimana sih cara komunikasi dan beru 51:33 berkeluarga bersaudara 51:35 interaksi sosial pribadi dan seterusnya 51:39 itu ada tata caranya dan diatur oleh 51:41 agama 51:44 saudara itu harus mendapatkan 51:46 bisa dua bagian bisa tiga bagian. Kalau 51:48 dia saudara, dia tetangga, dia se-agama, 51:52 tiga haknya harus kita tunaikan. 51:56 Jadi harus 51:57 pendidikannya, terus perhatiannya dan 52:00 seterusnya. 52:01 Kalau dia saudara semata, bukan bukan 52:04 tetangga, agamanya berbeda sekalipun 52:07 umpamanya, tapi dia saudara, tetap 52:09 berlaku bersaudara. 52:12 Yang 52:13 kepada yang tua dia hormat dan tawaduk, 52:16 kepada yang muda, kepada yang kecil dia 52:18 kasih sayang. 52:20 Itu pergaulan dan sebelum pada yang 52:22 lain, mulai dari keluargamu dulu. 52:25 Bukan pada orang lain. 52:27 Baru tetangga, baru yang jauh dan 52:30 seterusnya. Nah, jadi ini kembali pada 52:33 ilmu tadi, ilmu pengetahuan agama, 52:35 adabiah, akhlakul karimah, tata cara 52:38 kehidupan berinteraksi. Yang kedua, ex 52:42 ting. 52:43 Artinya dipraktikkan. 52:46 Kasih sayang, praktiknya gimana? 52:50 Kalau enggak dipraktikkan ya hanya 52:51 sebagai ilmu belaka. 52:53 Dan baru kemudian kalau sudah punya 52:55 ilmunya dan dia sudah menjadi terbiasa, 52:59 maka dia menjadi habit. 53:02 Sudah memba sudah matang dalam karakter, 53:04 nempel pada dirinya. Kalau orang sudah 53:07 terbiasa ibadah, itu sudah otomatis. 53:11 Orang biasa memberi, orang berkasih 53:12 sayang, sudah terbiasa berkasih sayang, 53:14 ya akan muncul dengan sendirinya. Ya, 53:16 wallahualam bisawab. 53:18 Masyaallah. 53:20 Ini ke pertanyaan berikutnya dari 53:24 Bung Apidin Nurhidayat. Kenapa ya 53:26 kita-kita ini tidak ingat banyak dosa? 53:29 Sementara dari Cak Witono 53:32 mengang bertanya 53:35 apakah orang yang lagi diberi sakit juga 53:38 harus bersyukur, Ustaz? Bagaimana 53:40 kiatnya? Matur nuwun sanget. 53:43 Iya. 53:43 Dan 53:44 salam dari pecel Madiun yang siap bantu 53:47 halal bihalal rasil. 53:48 Amin. Alhamdulillah. Waduh, ini 53:50 menantang juga menarik untuk datang nih. 53:53 Inilah yang saya bilang bahwa Kak 53:56 melihat itu kita tidak hanya melihat 53:59 keluar. 54:02 Melihat keluar ya, ini banyak dilakukan 54:05 oleh orang, apalagi orang-orang ahli 54:07 ilmu. 54:08 Dianalisa, 54:10 dia melakukan penyelidikan, observasi, 54:13 penelitian di luar dirinya. 54:15 Jagad makro, jagad mikro itu diketahui. 54:19 Tapi sedikit sekali orang yang mau 54:22 melihat, mau menganalisa, mau 54:25 memperhatikan bagaimana dirinya. 54:30 Maka dalam 54:31 Alquran diperintahkan lihat dirimu. 54:35 Wal tanzur nafsun ma qodamat liqod. 54:38 Lihat dirimu apa yang kau persiapkan 54:40 untuk hari esok. 54:42 Hasibu antu hasabu, ya, hitung-hitung 54:45 dirimu. 54:47 Hasabu anfusak, hasi hasabu anfusakum 54:52 qobla antu hasibu. Hitung dirimu sebelum 54:54 kau dihitung. 54:56 Jadi disuruh melihat ke dalam. 54:59 Banyak sekarang orang enggak kenal siapa 55:00 aku. 55:02 Bahkan ada jarak di antara dirinya 55:04 sendiri, dia enggak kenal siapa dirinya, 55:06 bagaimana hatinya, bagaimana jiwanya, 55:09 bagaimana nalurinya dan seterusnya. 55:10 Enggak pernah dia kenal, yang dia kenal 55:12 itu uang di sana, 55:14 proyek di sana, ini keuntungan sekian 55:16 dan itu saja yang dia tahu. Tapi siapa 55:18 dirinya? 55:20 Pada posisi manakah dia, derajat 55:22 martabatnya, 55:24 sejauh di mana hubungan dia kepada 55:26 Allah, bagaimana interaksi pada sesama, 55:29 pada saudara, bakti sama orang tua, 55:32 kepedulian sama saudara dan seterusnya. 55:34 Ini yang jarang kita perhatikan. 55:39 Oleh karenanya 55:40 orang kalau mau 55:41 sama dosa kadang-kadang lupa karena kita 55:44 tidak melihat ke dalam. 55:46 Untuk itu belajar mari seperti firman 55:48 Allah tadi ya ayyuhalladzina amanu 55:50 ittaqullah wal tanzur nafsun ma qaddamat 55:54 lighad. 55:55 Bertakwalah kamu dengan takwa yang 55:57 dengan takwa 55:58 bertakwalah kamu kepada Allah 56:01 dan lihatlah pada dirimu bekal apa yang 56:03 telah kau persiapkan untuk hari esok. 56:06 Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu 56:08 hitung-hitung dirimu sebelum kau 56:11 dihitung oleh Allah subhanahu wa taala. 56:13 Jadi lebih banyak kita mulai 56:15 mengintropeksi 56:17 diri, menghitung diri, mengenal lebih 56:19 dalam siapa dirinya sebenarnya sehingga 56:21 dia tahu posisi di mana dalam 56:23 keberadaannya. Karena itu semua akan 56:25 ditanya oleh Allah seberapa tinggi 56:28 derajat dan martabatmu ketika diberikan 56:31 waktu hidup di dunia sampai 60 tahun, 70 56:33 tahun. Itu akan dihitung oleh Allah 56:35 subhanahu wa taala. Wallahualam. Yang 56:38 bisa bersyukur saat sakit itu, Ustaz? 56:41 Dan dia harus melihat 56:43 bukan dengan mata kepala. 56:46 Bukan hanya dengan rasa dan perasaan. 56:49 Kalau hanya sekitar logika, rasio, rasa, 56:52 perasaan, dengan mata kepala 56:54 kalau kita merasakan sakit ya yang 56:57 dirasakan cuma sakit to Gusti loro temen 57:00 awakku iki. Lha sakit dan seterusnya. 57:04 Tapi kalau dia melihat dengan mata iman 57:09 dengan mata hati dan mata iman, dia akan 57:12 melihat hikmat di balik peristiwa. 57:16 Karena orang sakit itu untuk untuk 57:18 merasa merasakan betapa nikmatnya sehat. 57:22 Ayo ngono. 57:23 Kan dalam hidup ini kan lebih banyak 57:25 sehatnya daripada sakitnya. 57:27 Tapi kadang-kadang kita merasa tersesat 57:29 karena kita hanya di permukaan. Ibarat 57:31 orang berenang itu pakai pelampung. 57:34 Enggak iso nyelam arep pakai pelampung, 57:36 enggak bisa. 57:37 Nah, padahal sakit itu antara lain ada 57:40 hikmah di balik setiap peristiwa. 57:42 Peristiwa sakit 57:44 ada 57:45 hikmah di baliknya. Satu, 57:48 Allah sedang menggugurkan dosa-dosanya. 57:53 Makin nemen sakitnya, makin berat 57:56 sakitnya, makin besar dosa-dosa yang 57:59 akan terhapus. Satu. Yang kedua, tiap 58:03 sakit itu dapat pahala. 58:06 Jangankan sakit, kecocok duri saja ada 58:10 balasannya pahala dari Allah subhanahu 58:12 wa taala. 58:13 Yang ketiga, sedang mengangkat 58:16 derajatnya kalau lulus. 58:20 Ya, jadi derajatnya akan naik. 58:23 Diberi sakit itu akan dinaikkan, dikasih 58:25 ujian itu akan dinaikkan derajatnya, 58:27 martabatnya. 58:29 Kemudian yang ketiga, yang satu tadi di 58:33 apakan, diberikan diampuni dosanya, 58:36 berguguran dosanya. Yang kedua akan 58:39 diberikan pahala, yang ketiga akan 58:41 dinaikkan derajatnya, dan kemudian akan 58:45 dikembalikan sehatnya. 58:48 Empat yang diambil, satu tenaganya letoy 58:51 orang sakit. Ya Allah, jangankan untuk 58:54 main bola, ngangkat telinga saja enggak 58:56 mampu kita ya Allah. Nah, merasakan apa 59:00 itu nikmatnya itu sehat. 59:02 Yang kedua, cahaya mukanya pucat. Ya, 59:05 walaupun yang cantik tetap saja orang 59:07 sakit mah ya. 59:09 Ya, ya sakit namanya. Orang cantik sakit 59:11 ya tetap saja. 59:13 Kemudian 59:15 nafsu makannya. 59:17 Yang keempat, dosanya. Yang tiga akan 59:19 dikembalikan, 59:21 yang satu enggak dikembalikan. Yang tiga 59:23 apa yang dikembalikan? Tenaganya, cahaya 59:26 mukanya, nafsu makannya tambah gembul 59:29 sesudah sakit dan dosanya tidak 59:32 dikembalikan lagi. 59:34 Kalau kita sabar nerimo, tapi kalau kita 59:37 enggak sabar ya sakitnya nemen, tambah 59:40 enggak enggak 59:41 enggak sembuh-sembuh, kemudian dosanya 59:43 tambah, enggak dapat derajat, martabat 59:46 dan seterusnya. Maka dengan ilmu, 59:48 wallahualam. 59:50 Baik, kita sudah sampai di penghujung, 59:52 Ustaz. Closing idea-nya kami nantikan. 59:54 Allahu Akbar. Ya Allah, ya Rabb. 59:57 Ternyata 59:59 hidup ini misteri 1:00:01 penuh dengan teka-teki. 1:00:04 Tidak cukup dipecahkan oleh mata kepala, 1:00:07 radio, logika semata-mata. 1:00:11 Tapi dengan iman. 1:00:13 Dengan nur hidayah dari Allah. 1:00:16 Dengan Alquran, dengan petunjuk nabi. 1:00:18 Itulah pentingnya agama. 1:00:21 Menyuburkan rohani kita, meningkatkan 1:00:23 spiritual kita, keimanan kita, 1:00:26 insyaallah. Sehingga kita bisa melihat 1:00:30 hal yang 1:00:33 substansi 1:00:35 di balik setiap peristiwa yang kita 1:00:38 hadapi. 1:00:40 Tidak ada hari tanpa masalah 1:00:42 dan setiap peristiwa mengandung hikmah. 1:00:45 Bahagia orang yang mampu 1:00:48 mengumpulkan 1:00:50 memunguti 1:00:52 mutiara-mutiara hikmah yang bertebaran 1:00:55 hampir pada seluruh 1:00:58 lini kehidupan yang kita jumpai. 1:01:00 Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba 1:01:02 yang bijak, yang arif. Sehingga kita 1:01:04 bisa mengumpulkan mutiara hikmah dan 1:01:06 menjadikan derajat, martabat kita di 1:01:09 mata Allah dengan kemuliaan dan keridaan 1:01:11 Allah subhanahu wa taala. Mohon maaf 1:01:13 segala kekurangan, kekeliruan. Wabillahi 1:01:15 taufik wal hidayah. Wassalamualaikum 1:01:17 warahmatullahi wabarakatuh. 1:01:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:21 wabarakatuh. 1:01:22 Terima kasih, Ustaz. Ikhwan akhwat ada 1:01:25 pertanyaan yang mudah-mudahan jawabannya 1:01:28 juga segera terwujud. Telahkah sikap 1:01:31 kita penuh dengan kepedulian? 1:01:33 Telahkah pandangan tatapan mata kita 1:01:36 penuh dengan kasih kepada hamba-hamba 1:01:38 Allah yang ber lumpur dengan duka? 1:01:42 Dan telahkah nada suara kita menyamankan 1:01:46 telinga yang mendengar? 1:01:48 Oh, oh, mari kita ukir jiwa kita untuk 1:01:50 rida pada takdir yang ada. Semoga kita 1:01:54 bisa genggam erat kata pemurah di dalam 1:01:57 perjalanan hidup kita. 1:01:58 Sekali lagi terima kasih. Billahi taufik 1:02:00 walhidayah. Wasalamualaikum 1:02:01 warahmatullahi wabarakatuh.