Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:55 Yufid TV 1:43 Ahlan wa sahlan. 1:49 Bismillahirrahmanirrahim. 1:51 Assalamualaikum warahmatullahi 1:52 wabarakatuh. 1:54 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 1:55 wa ala sayyidina Muhammad. 1:57 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 1:59 ini, hari apa yang sekarang nih? Hari 2:00 Kamis 2:02 tanggal 2:04 berapa sekarang? 5 ya? 2:05 29 2:07 5 Jumadil Akhir 1444, 5 kan ya? 2:11 Ya 5 Jumadil Akhir 1444 Hijriah atau 29 2:15 Desember 2:16 2000 2:18 22. 2:21 Itu ada ada apa namanya narasi di grup 2:24 WA, katanya ini 2:27 tinggal berapa hari lagi nih kita nih ya 2:30 akhir tahun. Yang ulang tahun silakan 2:32 cepetan. 2:33 Yang belum ulang tahun silakan. 2:36 Aduh ada-ada aja. Oke kita jumpa lagi 2:38 dalam acara Ahlan Wa Sahlan. Di sini 2:40 juga ada Ondy Saputra yang megang 2:42 switcher dan kamera, ada Anis Muallim 2:45 mmm di operator. 2:47 Dan di sini juga ada 2:51 siapa ya? 2:52 Eee Bib Mahdi alhamdulillah ikut ada di 2:55 sini juga membuat kita menjadi tambah 2:57 semangat. 2:59 Kami menghadirkan seorang pria ganteng 3:01 benar memang ganteng nih ya. Eee dia 3:04 lahir di Jakarta tanggal 10 April tahun 3:06 1979. 3:08 SD-nya SD-nya di Pancawarga Kebayoran 3:13 Baru. 3:14 SMP-nya SMP 12 Kebayoran Baru juga. 3:17 SMA-nya SMA 46 Blok A. 3:20 S1-nya di Az-Zahra di Jakarta Timur. 3:23 S2-nya di Muhammadiyah. 3:26 Kemudian S3-nya Trisakti. 3:30 Beliau adalah pakar budaya organisasi. 3:34 Kalau bicara budaya ini bukan 3:37 bangunan-bangunan apa tarian-tarian atau 3:39 makanan. Nanti kita bicara apa itu yang 3:42 sebenarnya budaya. 3:44 Mmm 3:46 beliau 3:47 putranya ada ada 7, masih muda padahal 3:50 lahirnya tahun 79 tapi putranya 3:54 eh putranya tiga ya eh wanita 3:57 perempuannya ada 3:59 empat 4:01 tapi 4:02 awet muda 4:04 Dia adalah Agung Solihin. 4:06 Assalamualaikum Mas Agung. 4:07 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:09 wabarakatuh Mas Krisna. 4:10 Masyaallah. 4:12 Dari pertama ketemu berapa minggu yang 4:13 lalu selalu tersenyum nih Mas Agung eh 4:17 Solihin. 4:19 Senyum itu bagian dari budaya juga ya? 4:21 Senyum budaya. 4:22 Bagian budaya. 4:23 Bagian budaya. 4:24 Oke kita akan bicara 4:26 sebagai pakar budaya 4:28 organisasi. 4:30 Apa yang dimaksud budaya? 4:33 Ya jadi 4:34 budaya itu kan berasal dari bahasa 4:37 Sansekerta 4:38 yang artinya itu hasil kerja akal 4:41 kolektif 4:42 bukan individu 4:44 Nah yang menarik gini Mas Krisna 4:47 jadi wujud budaya itu sebenarnya ada 4:49 tiga 4:50 ada berupa ide 4:53 ada berupa gagasan eh sorry berupa 4:56 tindakan yang kedua 4:57 yang ketiga berupa 5:00 artefak 5:01 jadi ide atau gagasan kemudian tindakan 5:04 kemudian yang ketiga artefak 5:05 Kayak baju koko ini atau termasuk 5:07 artefak? 5:07 Artefak artefak. Jadi contohnya gini 5:10 kalau berupa ide itu kalau kita di 5:12 organisasi kita merumuskan 5:15 eh nilai atau visi atau misi yang 5:18 disepakati bersama 5:19 Itu ide. 5:20 Itu wujud dari sisi ide. 5:22 He 5:23 Kita mau 5:25 eh merencanakan tahun baru ini 5:27 jalan-jalan ke puncak 5:29 disepakati di dalam satu keluarga 5:31 Itu ide. 5:32 Nah itu wujud budaya dari sisi ide. 5:35 Terus kita 5:36 misalkan menyepakati nih bahwa di 5:39 organisasi kita itu ada nilai 5:41 profesional 5:43 Itu ide. 5:43 Nah ketika sudah menjadi tindakan sudah 5:47 diimplementasikan. 5:49 Contohnya tadi kita sepakat mau 5:50 berangkat ke Puncak. 5:51 He eh. 5:52 Kemudian akhirnya kita 5:54 jalan ke Puncak bareng-bareng, enggak 5:56 sendirian, bareng-bareng. 5:57 Itu namanya wujud budaya dari sisi 5:59 tindakan. 6:00 He em. 6:01 Nah, ketika di Puncak ada foto-foto yang 6:03 menarik, kemudian itu jadi kelihatan, 6:06 bareng-barengnya kelihatan, maka itulah 6:09 wujud budaya dari sisi artefak. Ini 6:11 contoh sederhananya seperti itu, Mas 6:12 Gusta. 6:12 He em. 6:13 Sebenarnya tahun baru tidak memasang 6:16 petasan, tidak mau kembang api, tidak 6:18 mau keluyuran di luar rumah, 6:20 di rumah saja. Itu itu ide. 6:22 Ide. Ide. Nah, jadi budaya itu ada ada 6:25 yang disadari, ada yang tanpa disadari. 6:28 He em. 6:29 Contoh paling gampang gini, kita datang 6:30 ke satu tempat, kita melihat ada 6:32 ternyata di sebagian besar tempat 6:34 tersebut orang-orangnya itu cuek. 6:36 He em. 6:37 Mereka enggak sadar kalau mereka itu 6:39 cuek. 6:39 He em. 6:40 Yang jadi itu 6:41 eee 6:42 kesepakatan yang tidak disadari. 6:45 He em. 6:46 Cuek itu mereka enggak sadar, tapi 6:47 mereka bersama-sama melakukan, ya itu 6:49 budaya juga. 6:50 He em. 6:51 Gitu. Nah, ada ketika kita datang ke 6:54 satu tempat, ternyata 6:56 sebelum mereka salat fardu, mereka salat 6:59 sunah dulu. Ternyata banyak yang 7:01 melakukan. 7:01 He em. 7:02 Berarti itu adalah wujud budaya dari 7:04 sisi tindakan. 7:05 He em. 7:06 Gitu. Jadi, kadang-kadang gini, budaya 7:08 itu sesuatu hal yang sifatnya sebenarnya 7:10 bukan bukan jauh dari kita, bukan satu 7:13 hal yang kayaknya hanya ada di 7:15 organisasi, tapi dalam kehidupan kita 7:17 sehari-hari pun 7:18 Dalam rumah tangga. 7:19 tangga. 7:20 kendaraan. 7:20 Dalam iya, itu ada semua tuh. 7:22 He em. 7:23 Yang sifatnya itu dia tidak sendirian, 7:24 tapi bersama-sama. 7:26 He em. 7:27 Sadar ataupun tanpa sadar. 7:29 He em, masyaallah. 7:30 Gitu, Mas Gusta. 7:31 Katanya budaya Indonesia ter-Indonesia 7:33 tuh 7:35 termasuk orang yang mudah tersenyum, 7:36 Mas. Itu ma- masih enggak tuh? Masih ya 7:39 masih 7:40 terasa enggak? 7:41 Kalau 7:42 kalau dulu mungkin kita masih bisa 7:44 merasakan ya Mas Krisna, tapi kalau 7:45 sekarang kayaknya 7:47 kita tuh terbiasa gini Mas, tanpa sadar 7:49 itu kita 7:51 selalu melihat tontonan-tontonan yang 7:53 yang bersifat masalah. 7:55 Ehm. 7:55 Jadi masalah terus musibah, masalah, 7:57 masalah terus saja. Jarang sekali kita 8:00 melihat sesuatu tontonan yang yang 8:02 bersifat itu hal yang membahagiakan, hal 8:05 yang bersifat membangun karakter dan 8:06 sebagainya, itu jarang sekali. 8:08 Sehingga akibatnya apa akibatnya 8:11 orang-orang yang menontonnya pun 8:12 akhirnya terpengaruh. 8:13 Ehm. 8:14 Masuklah ke pikiran bawah sadar, jadilah 8:16 apa? Jadilah akhirnya jadi karakter. 8:18 Ehm. 8:19 Dan senyum itu menjadi hal yang 8:21 sepertinya saat ini jadi hal yang langka 8:23 loh. 8:24 Ehm. 8:24 Gitu Mas Krisna, jadi hal yang rasanya 8:27 jadi susah ditemui gitu. Kan gini Mas 8:29 Krisna. 8:30 Saya melihat ya 8:32 ada orang yang memang tersenyum. Ada 8:35 orang yang dia 8:37 memang wajahnya tuh wajah senyum, itu 8:39 beda tuh Mas Krisna. 8:40 Beda ya? 8:41 Tersenyum dengan wajah senyum itu beda. 8:42 Ehm. 8:43 Kalau tersenyum itu dia harus ada 8:44 rumusnya. 8:45 Ehm. 8:46 Rumusnya 225. 8:47 Apa 225? 8:48 Jadi 2 cm kiri, 2 cm kanan. 8:50 5 cm. 8:51 Bukan 5 cm ke depan ya? 8:54 5 detik. 8:55 Ehm 2 cm ke kiri 8:56 2 cm kiri, 2 cm kanan, 5 detik. Nah, 8:59 jadi jangan 5 menit, kalau 5 menit 9:01 kelamaan. 9:03 Jangan 1 detik, 1 detik kecepatan gitu 9:04 kan. 9:05 Nah, syarat tersenyum itu harus ada 9:07 lawan. 9:08 Ehm. 9:09 Kalau enggak ada lawan bukan tersenyum 9:10 namanya. 9:11 Oh tapi ada sekarang lawan nih di HP 9:12 misalnya ada jokes di HP, dia senyum 9:15 sendiri. 9:16 Itu enggak ada lawan, lawannya 9:16 Lawannya apa? Lawannya berarti 9:18 handphone-nya. 9:18 Oh lawannya handphone-nya. 9:19 Tapi dia tersenyum tanpa ada sesuatu itu 9:22 something berarti ya. 9:23 Ehm. 9:23 Nah kemudian yang kedua, wajah senyum. 9:25 Ehm. 9:26 Wajah senyum itu adalah orang yang dia 9:29 terlihat 9:30 Wajah senyum saja kayak orang senyum ya? 9:31 Iya terlihat selalu bahagia. 9:32 Ehm. 9:33 Jadi rumusnya itu sederhana, 1/2 cm kiri 9:35 1/2 cm kanan 9:36 Ehm. 9:37 seumur hidup sampai meninggal dunia 9:39 Oh, masyaallah 9:40 Nah, itu itu orang yang wajah senyum. 9:42 Jadi, makanya yang perlu kita latih 9:44 sebenarnya adalah latihan wajah senyum 9:46 Bahkan sudah menjadi mayat pun ada yang 9:48 Mas tersenyum ya? 9:49 Ada yang tersenyum. Kenapa? Karena itu 9:51 dibiasakan, Mas Krishna 9:53 jadi budayanya 9:55 gitu nah 9:56 Ada waktu itu pernah gini, Mas Krishna. 9:57 Ada yang pernah datang ke saya curhat 9:59 gini, "Pak Agung 10:00 saya bisa enggak ya meninggal dalam 10:02 keadaan tersenyum?" 10:03 He Oh, enggak yakin 10:05 Iya, ngomongnya gitu, Mas Krishna. Saya 10:06 lihat wajahnya 10:07 He 10:07 wajahnya cemberut 10:11 Wajahnya nyaut tadi ingin 10:13 Saya minta maaf ke beliau kan, "Maaf ya, 10:15 Pak" gitu "Bapak hidup saja susah 10:17 senyum, apalagi meninggal" 10:21 Tapi itu harus dibiasakan dan memang 10:22 itulah kenapa kita perlu budaya 10:25 He 10:25 Dan bicara budaya itu enggak bisa 10:27 sendirian, makanya bicara budaya itu 10:28 bicara kolektif 10:29 He 10:30 Nah saya eh kalau kita mengacu, kita 10:35 mengikuti Nabi Muhammad sallallahu 10:36 alaihi wasallam, Rasul kita maka 10:38 sebenarnya juga yang dianjurkan oleh 10:39 beliau adalah membangun 10:42 jemaah, bukan membangun sendiri, bukan 10:43 membangun individu 10:45 Maka salat itu harus utamanya berjemaah, 10:47 bukan sendirian 10:48 He 10:49 Jadi, resikonya kita sudah sudah diajak, 10:51 sudah dianjurkan untuk apa? Untuk 10:53 berjemaah 10:54 He 10:55 Enggak bisa sendirian 10:57 Kalau 10:58 ada tuh, Mas Krishna, di dalam ayat 11:00 eh walau anna ahlal qura amanu wattaqau 11:02 lafatahna alaihim barakatin minassama'i 11:05 Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman 11:07 dan bertakwa kepada Allah 11:09 He 11:10 maka akan dibuka 11:11 keberkahan dari langit dan bumi 11:13 Masyaallah 11:14 Negeri-negeri, bukan sekiranya penduduk 11:16 negeri, suatu negeri, bukan. Tapi 11:17 penduduknya negeri-negeri 11:19 Negeri-negeri 11:19 Berarti kan kolektif 11:21 Siapapun gitu ya 11:22 Berarti berjemaah 11:23 Berjemaah 11:23 Enggak sendiri-sendiri 11:25 Nah 11:26 artinya apa? Kalau kita berjemaah, 11:28 beriman dan bertakwa kepada Allah, jadi 11:30 orang yang baik, jadi orang yang 11:32 betul-betul 11:33 nilai-nilai keislamannya itu juga 11:35 terlihat bukan hanya secara ritualnya 11:38 saja, maka pasti Allah akan buka itu 11:41 pintu keberkahan langit dan bumi, pasti 11:42 sukses, pasti bahagia bukan cuma dunia 11:45 tapi juga akhirat. 11:47 Nah, kenapa di dalam sebuah organisasi, 11:50 apa itu besar atau kecil, sering juga 11:52 terjadi ya klik-klikan, jadi dalam 11:54 sendiri ya 11:55 ada klik-klikan gitu tuh. 11:57 Itu bagaimana itu bisa terjadi? 11:59 Iya, jadi menarik gini Mas Krisna, 12:01 memang membangun budaya itu bukan 12:02 sesuatu hal yang sifatnya instan. 12:04 Tapi perlu proses. 12:07 Saya teringat waktu itu saya pernah 12:09 diundang acara dialog nasional Mas 12:12 Krisna, dihadiri banyak pejabat. 12:14 Kemudian saya mengatakan gini kepada 12:15 mereka, bahwa pejabat yang hebat itu 12:17 bukan pada saat dia menjabat. 12:19 Pada saat selesai menjabat 12:21 legasi apa yang ditinggalkan? 12:25 Jadi ada pemimpin yang dia saat itu 12:27 menjabat tapi ketika dia selesai 12:28 menjabat biasa-biasa saja. 12:30 Enggak dikenang ya, enggak dikenang, 12:32 gitu kan. 12:33 Nah, ada seorang pemimpin yang dia 12:35 selesai menjabat dia masih diingat. 12:38 Nah, saya meyakini Mas Krisna salah satu 12:40 legasi terbaik untuk seorang pemimpin 12:42 adalah budaya. 12:44 Jadi ini pernah ada riset, pernah ada 12:47 observasinya gini. 12:49 Ada 12:50 seorang pemimpin yang hebat dia bisa 12:52 membuat sebuah organisasi jadi hebat, 12:55 tapi dia tidak membangun budaya. 12:57 Apa impact-nya ketika nanti dia 12:59 dipindahkan ke organisasi lain 13:02 maka organisasi yang hebat itu hebatnya 13:05 berkurang atau turun, 13:07 berarti si pemimpin tersebut tidak 13:10 meninggalkan sesuatu yang disebut dengan 13:12 legasi. 13:14 Hebatnya hanya pada saat dia ada. 13:16 Ketika dia enggak ada, ketika pemimpin 13:17 itu enggak ada, jadi turun lagi. 13:20 Nah, kan 13:21 karena itu maka harusnya apa? Kalau mau 13:22 hebatnya berkelanjutan, kalau mau 13:24 hebatnya terus-menerus maka bangunlah 13:26 budaya. 13:28 Oke ya. 13:30 Legasi itu bentuknya bisa artefak apa 13:33 juga ide, Pak? Bagaimana? 13:34 Nah, 13:35 legasi terbaik itu harus sudah masuk ke 13:37 behavior gitu. Jadi behavior dan 13:39 artefak. Jadi kalau baru sifatnya ideas 13:41 itu berarti dia masih wacana, masih 13:44 bahasa-bahasa normatif. 13:46 Nah, yang bagus apa? Ketika sudah 13:47 diimplementasikan, ketika sudah menjadi 13:50 satu bentuk. 13:51 Nah, itulah sebenarnya legasi terbaik 13:53 dari sisi budaya. 13:54 Ketika seorang seseorang ketika hidupnya 13:56 banyak membangun masjid lalu dia wafat, 13:58 itu termasuk legasi juga? Termasuk 14:01 legasi ya? 14:02 Ehm, gitu Mas. Jadi 14:04 yang menarik gini, 14:05 yang tadi saya sampaikan ke Mas Kisna, 14:06 sadar atau tanpa sadar itu kita 14:08 menciptakan budaya. 14:10 Contoh kalau di organisasi gini, ada 14:12 orang yang dia enggak disiplin, 14:14 dia berbuat salah, dia enggak jujur, 14:16 tapi enggak pernah dikasih punishment, 14:19 enggak pernah ditegur. 14:21 Apa yang terjadi kemudian? Maka dia akan 14:23 menganggap perbuatan salah, perbuatan 14:26 tidak jujur, perbuatan tidak disiplin 14:28 enggak apa-apa. 14:30 Maka terciptalah budaya salah, tidak 14:33 disiplin, tidak apa-apa. 14:36 Sebaliknya, 14:38 ada orang yang dia jujur, orangnya baik, 14:41 orangnya tanggung jawab, enggak pernah 14:43 dikasih apresiasi, 14:45 enggak pernah dikasih reward. Apa yang 14:47 terjadi kemudian? 14:48 Maka dia akan menganggap perbuatan baik, 14:51 perbuatan jujur, tanggung jawab enggak 14:52 penting. 14:54 Maka tumbuh suburlah tidak baik, tidak 14:56 tanggung jawab, tidak jujur jadi budaya. 14:59 Jadi sadar atau tanpa sadar, 15:02 kita itu menciptakan budaya, Mas. 15:04 Cuma sekarang kalau misalkan kita 15:06 ditanya, jadi mana yang lebih efektif, 15:08 sadar menciptakan budaya atau tanpa 15:09 sadar? 15:10 Ya sadar tentunya. Tapi selama ini lebih 15:12 seringnya kita tanpa sadar 15:14 menciptakan budaya. Paling sederhananya 15:16 gini kalau di rumah, 15:18 bisa enggak kita di rumah itu setiap jam 15:21 malam, jam 08.00 malam sampai jam 09.00 15:23 itu kita sepakati di keluarga 15:25 bahwa handphone itu nonaktif. 15:27 Ehm. 15:28 Jadi, masing-masing orang itu 15:29 handphone-nya dinonaktifkan, kemudian 15:30 kita bangun komunikasi yang efektif. 15:33 Ehm. 15:34 Sebenarnya bisa saja kalau kita 15:35 bicarakan dengan baik-baik, kita 15:37 diskusikan dan akhirnya sepakat. 15:38 Ehm. 15:39 Nah, 15:40 yang terjadi selama ini apa? 15:42 Bapaknya pegang handphone, 15:44 ibunya pegang handphone, 15:45 ibunya pegang handphone, anaknya pegang 15:46 handphone. Kalau mengobrol pakai 15:48 WhatsApp grup. 15:49 Ehm. 15:51 Akhirnya individualis. 15:53 Yang terjadi kemudian apa? Ketika 15:54 pandemi kemarin shock culture. Jadi, ada 15:58 apa ya? Ada 16:00 ke kebingungan. 16:02 Kegamangan gitu ya. 16:02 Kegamangan. Biasanya mereka enggak 16:04 pernah ketemu, jarang ketemu, ketemu 16:06 juga kalau malam, itupun juga mereka 16:08 masih sibuk dengan handphone-nya 16:09 masing-masing. Nah, sekarang harus 16:11 ketemu setiap jam gitu kan, jadi kan 16:13 bingung. Itu akhirnya jadi jadi masalah 16:15 tuh, Mas. 16:16 Gitu nah, itu hal yang kalau kita enggak 16:18 persiapkan dari sekarang, maka jadilah 16:19 kacau. Seperti itu. 16:21 Oke, Iwan dan Rahmat, kami masih 16:23 bincang-bincang dengan Mas Agung 16:25 Solihin. 16:26 Beliau lahirnya tanggal 10 April tahun 16:29 79, tapi 16:32 putranya sudah tujuh. Oh, masya Allah, 16:35 luar biasa. 16:36 Alhamdulillah. 16:36 Beliau adalah pakar budaya organisasi. 16:40 Jadi, pengertian budaya ini bukan 16:42 makanan, pakaian, atau bangunan, tapi 16:45 lebih kepada sikap-sikapnya 16:47 Ehm. 16:47 yang yang positif. Beliau juga dosen di 16:50 Undira, eee dosen manajemen. 16:53 Silakan yang mau bertanya, kami tunggu, 16:56 mau memberi pendapat 16:57 di 08111 17:01 999720 17:04 atau telepon di 02184515 17:08 12. Kami juga nanti akan membacakan 17:10 nomor telepon beliau, nomor telepon 17:13 Mas Agung Solihin. 17:16 Dia adalah pakar budaya organisasi. 17:21 Eh. 17:23 Mas Agung, apa bedanya budaya Jepang 17:26 dengan budaya Singapura dari segi 17:27 kedisiplinan? 17:29 Ya. 17:30 Eh, nanti kayak gini Mas. Jadi, bicara 17:33 budaya itu ada dua tipenya. 17:34 He eh. 17:35 Yang pertama 17:36 culture based on value. 17:38 He eh. 17:38 Yang kedua culture based on system. 17:40 He eh. 17:41 Kalau culture based on value contohnya 17:42 adalah negara Jepang. 17:44 He eh. 17:45 Dia di manapun dia berada, dia tetap 17:47 santun. 17:47 He eh. 17:48 Dia tetap menjaga kebersihan. 17:50 Dia tetap disiplin. Itu berarti culture 17:52 based on value. 17:53 He eh. 17:54 Nah, sementara Singapura 17:56 Seperti waktu dia ke Qatar gitu ya, 17:57 orang Jepang. 17:58 Dan membuktikan bahwa dia 17:59 Membuktikan. Waktu dia kalah, walaupun 18:02 dia kalah ya kan. 18:03 Dia tetap 18:03 Dia tetap masih bersih-bersih loh. 18:05 He eh. 18:05 Dibersihkan sampah-sampah dan 18:07 sebagainya. Itu berarti culture based on 18:08 value. 18:09 Nah, yang kedua ada culture based on 18:11 system. 18:11 He eh, he eh. 18:12 Contohnya Singapura. 18:13 Singapura system itu ya. 18:14 System. Dia di di negaranya enggak 18:16 berani buang sampah sembarangan. 18:17 He eh. Karena kan dendanya tinggi. 18:19 Dendanya tinggi. Berarti ada system. 18:21 He eh. 18:21 Tapi kalau dia berangkat ke Indonesia 18:23 Kalau ke Batam? 18:26 Dia bisa sembarangan buang sampah. 18:27 Kenapa? Karena enggak ada system, enggak 18:29 ada denda dan sebagainya gitu. 18:31 He eh. 18:31 Berarti culture yang dibangun di 18:33 Singapura culture based on system. 18:37 Nah, 18:38 yang menarik gini. 18:40 Anak-anak muda kita yang di pesantren 18:43 anak muda kita yang di pesantren mereka 18:45 itu 18:47 di pesantren itu rajin, rajin salat 18:49 tepat waktu salatnya, ngajinya juga 18:51 bagus. 18:52 Pertanyaannya adalah ketika di rumah 18:55 kenapa enggak? 18:57 Berarti tanpa sadar 18:59 tanpa sadar ya, saya enggak bilang semua 19:00 pesantren Mas Krisna. 19:01 Tanpa sadar culture yang dibangun di 19:03 pesantren 19:05 based on berarti based on system. 19:08 Artinya apa? Hanya di sana. 19:10 He eh. 19:10 Kenapa enggak kita juga 19:12 perkuat culture based on value. 19:15 Heem. 19:15 Gitu. 19:17 Oke. 19:18 yang menariknya gitu. 19:20 Baik-baik, ee kita baca ee pertanyaan 19:22 dulu dari pendengar ya. 19:24 Iya, siap. 19:24 Dari Tanti, jadi 19:28 Mas Agung, sebetulnya budaya itu apa 19:30 sebetulnya? 19:35 Ya. 19:35 Gitu aja tanyanya. 19:36 Jadi, budaya itu kalau dari sisi tadi 19:38 bahasa asal asal katanya ya, itu kan 19:41 dari bahasa Sansekerta yaitu hasil kerja 19:43 akal kolektif bukan individu. 19:45 Tapi kalau dari beberapa ahli ada ahli 19:47 mengatakan bahwa sistem nilai ee makna 19:49 bersama yang dimiliki oleh 19:52 ee anggota organisasi yang menjadi 19:54 pembeda dari satu organisasi ke 19:56 organisasi lain, itu menurut ee itu ya, 19:58 Robbins, menurut Robbins. Tapi kita 20:01 melihat dari sisi secara umumnya bahwa 20:03 budaya itu adalah sesuatu yang di 20:06 ee apa hasilkan dari hasil kerja akal 20:09 kolektif dan itu sifatnya bukan 20:11 individu. 20:12 Seperti tadi. 20:13 Kalau kita misalkan jalan 20:16 dengan sahabat kita ke satu tempat, 20:19 ketika kita menyepakati berarti itu 20:20 sudah wujud-wujud budaya. 20:22 Heem. 20:22 Ya. Di rumah ternyata kita lebih senang 20:25 kumpul dan di situ kita ngobrol hal-hal 20:27 yang bermanfaat, itu budaya. 20:29 Heem. 20:30 Gitu. Nah, tapi di rumah juga ketika 20:33 kita 20:34 ternyata individualis 20:35 Heem. 20:36 masing-masing, kita enggak enggak kumpul 20:38 enggak guyub, itu juga budaya. Budaya 20:39 apa? Budaya individualis. 20:41 Kita sepakati apa enggak? Kita sepakati 20:43 tanpa sadar. Berarti sadar atau tanpa 20:46 sadar, itu kita menciptakan budaya. 20:48 Heem. 20:49 Jadi, budaya itu bukan sesuatu hal yang 20:51 hanya bersifat untuk organisasi. 20:54 Tapi dalam kehidupan kita itu ya, kita 20:56 bisa melihat banyak hal yang kita bisa 20:58 sebut sebagai budaya, seperti itu. 21:00 iya-iya. 21:02 Dari Susi, Assalamualaikum Mas Agung. 21:04 Ada yang mengatakan korupsi itu budaya. 21:07 Ini ada orang yang setuju ada yang tidak 21:08 bahwa korupsi itu budaya karena kalau 21:10 budaya kan berarti bahwa Indonesia 21:12 korupsi semua gitu. Nah, bagaimana 21:14 pemahaman eee Mas Agung mengenai ini? 21:18 Iya. 21:19 Jadi korupsi itu memang salah satunya 21:20 salah itu budaya juga. 21:22 Tapi bukan budaya yang baik ya. 21:24 Kan ada budaya yang memang itu 21:27 murni itu budaya yang baik. Ada juga 21:29 yang cross culture. Cross culture itu 21:31 bicara budaya yang kurang baik. 21:33 Yang menarik gini Mas. 21:36 Di Jepang itu kan itu mereka 21:37 budaya-budaya jujur. 21:38 He em. 21:39 Ketika mereka ditanya apa itu jujur itu 21:41 mereka sudah enggak tahu lagi. Saking 21:43 sudah definisinya sudah enggak tahu, 21:45 teorinya sudah enggak tahu. Kenapa? 21:46 Karena jujur itu bukan lagi teori. 21:48 He em. 21:49 Tapi sudah menjadi bagian di dalam diri. 21:51 He em. 21:52 Nah, di Indonesia sama juga. 21:55 Kalau ditanya apa itu korupsi? 21:58 Sudah enggak tahu lagi. 21:59 Enggak tahu lagi definisinya. Kenapa? 22:01 Karena tanpa sadar kita korupsi. 22:02 He em. 22:03 Kalau di organisasi kita korupsi. 22:05 Misalkan Wi-Fi harusnya buat pekerjaan, 22:07 buat urusan kantor. Ini buat pribadi itu 22:09 kan korupsi. 22:10 He em. 22:10 Cuma kita enggak sadar kalau itu korupsi 22:12 gitu. 22:12 He em. 22:13 Kenapa? Karena kita jadi susah 22:15 membedakan mana korupsi mana enggak. 22:17 Berarti tanpa sadar kita sudah masuk ke 22:19 dalam diri kita dan itu jadi budaya. 22:20 He em. 22:21 Jadi korupsi itu juga merupakan budaya. 22:23 Budaya yang tidak baik yang disepakati 22:25 tanpa sadar. 22:26 He em. 22:27 Maka tadi saya bilang budaya itu bisa 22:29 terbentuk sadar atau tanpa sadar. 22:32 He em. Oke. 22:33 Seperti itu. 22:34 Dari kantor Assalamualaikum Mas Agung. 22:37 Kalau orang bawa mobil lebih suka 22:40 dengarkan lagu-lagu dengan eee dibanding 22:42 kalau dia dengar Alquran, ini apakah 22:45 juga budaya juga atau bagaimana 22:48 sebaiknya? 22:49 Iya. 22:50 Kalau sifatnya dia sendirian 22:53 He em. 22:54 maka itu namanya karakter. 22:57 Karakter. 22:57 Tapi kalau dia lebih dari satu orang 23:01 He em. 23:01 misalkan di mobil nih, senangnya berdua, 23:03 bertiga itu dia senangnya dengerin 23:05 lagu-lagu. 23:06 Heem. 23:07 Ya, berarti itu masuk budaya. 23:09 Heem. 23:09 Tapi kalau dia hanya sendirian, yang 23:11 lainnya enggak, berarti itu bukan 23:12 budaya. 23:13 Heem. 23:14 Jadi, budaya itu sifatnya kolektif. 23:15 Oh, gitu. 23:16 Hal-hal yang bersifat kolektif berarti 23:18 lebih dari dua, dua atau lebih. 23:20 Heem. 23:20 Berarti itu masuk kategori budaya. Kalau 23:21 sendirian dia bukan budaya. 23:23 Heem. 23:23 Tapi sudah masuk jadi karakter. 23:25 Heem, oke. 23:26 Seperti itu. 23:28 Dari siapa lagi nih? Dari Mbak Tata, 23:31 Mbak Tata. Eh, dari Mbak Tata. Dari Mbak 23:33 Tata. Mas Agung, kalau di pesawat tuh 23:36 Pak pramugari ramah-ramah melayani kita. 23:39 Tapi setelah kita di airport sudah 23:42 enggak ketemu dia lagi, lah keramahan 23:43 itu hilang. Kami tidak dilayani lagi. 23:46 Apakah ini juga budaya? Ya, begitu. 23:48 Itu yang dibilang tadi culture based on 23:50 system. 23:51 Oh, sistem. 23:52 Iya, dia hanya baik itu, dia hanya ramah 23:54 itu karena apa? Karena ada SOP. 23:56 Heem. 23:57 Kalau dia tidak melakukan, tidak, tidak, 24:00 apa namanya? Tidak melakukan SOP, maka 24:01 akan ada reward, eh akan ada punishment. 24:03 Kalau dia dia melakukannya akan ada 24:05 reward dan sebagainya. Itu berarti SOP. 24:07 Heem. 24:08 Jadi, sering juga kita gini ya, 24:10 saya pernah waktu itu memberikan materi 24:13 di depan para customer service. 24:15 Heem. 24:15 Yang menarik ini, mereka tuh kalau lagi 24:17 ditelepon tuh 24:17 Ramah. 24:19 Tapi kalau di rumah, Mas, 24:21 Heem. 24:21 enggak, Mas. 24:22 Heem. 24:23 Kalau ditelepon, "Apa yang bisa saya 24:24 bantu?" 24:25 Kalau di rumah, ngapain? 24:28 Itu something gitu kan? Artinya gini, 24:31 berarti tanpa sadar memang kita sering 24:33 dibentuk culture based on system. 24:35 Heem. 24:36 Tanpa sadar. 24:38 Kalau ada punishment, kalau ada reward 24:40 baru kita melakukan. Kalau enggak ada, 24:42 enggak apa-apa lah. 24:42 Heem. 24:43 Itu yang terjadi. 24:44 Oke. 24:47 Assalamualaikum dari hamba Allah. Mas 24:49 Agung, sejauh mana pentingnya sebuah 24:52 budaya? 24:54 Menurut saya sangat penting. Kenapa? Ada 24:57 satu kalimat begini. 24:58 If we don't create culture, culture will 25:02 create us. 25:03 Kalau kita tidak menciptakan budaya, 25:05 maka budaya akan menciptakan kita. 25:08 Ada orang yang tadinya rajin, masuk ke 25:11 lingkungan yang malas, 25:12 Hmm. 25:13 jadi ikut malas dia. 25:14 Hmm. 25:14 Yang tadinya dia jujur, masuk ke 25:17 lingkungan yang kurang jujur, jadi ikut 25:18 enggak jujur. 25:19 Hmm. 25:20 Yang tadinya dia 25:22 jarang 25:23 jarang selawat, ya kan jarang ngaji, dia 25:26 masuk ke lingkungan yang memang itu 25:29 pengajian, yaitu habaib dan sebagainya, 25:31 ya berarti dia akan ikut. 25:32 Jadi sadar atau tanpa sadar kita 25:34 menciptakan budaya, dan ketika budaya 25:36 itu sudah tercipta, maka ya if we don't 25:39 create culture, kalau kita tidak 25:40 menciptakan budaya, maka kita yang akan 25:42 diciptakan oleh budaya. 25:43 Hmm. 25:44 Nah, pertanyaan besarnya begini. 25:45 Apa pilihan kita? Kita ingin diciptakan 25:48 oleh budaya atau kita yang menciptakan? 25:49 Hmm. 25:50 Kalau kita diciptakan oleh budaya, maka 25:52 berarti kita jadi follower saja sudah. 25:53 Ikut saja. Apakah itu budayanya benar 25:56 ataukah salah, diikutin saja. Tapi kalau 25:58 kita yang menciptakan budaya, maka kita 26:00 bisa meng-create, kita bisa membuat 26:02 strateginya. Kita membuat plan, rencana 26:05 ke depannya. Oh, budaya ini yang kita 26:07 ingin bangun nih. Ya sudah, berarti 26:08 langkah-langkahnya itu akan lebih 26:10 terarah dibandingkan kita hanya ikut 26:12 saja. 26:13 Oke. 26:14 Seperti itu, Mas Krisna. 26:16 Saya menyimak menarik sekali pembicaraan 26:18 hari ini tentang budaya. Baik. Minta 26:21 nomor teleponnya. Oke, baik. Saya akan 26:23 bacakan nomor telepon kita pada hari ini 26:26 di acara Alam Nasalan. 26:28 Namanya adalah Agung Solihin. 26:31 Beliau adalah dosen Undira. 26:34 Untuk mata kuliah manajemen, beliau 26:36 adalah pakar budaya organisasi. 26:40 Ini boleh juga diundang misalnya untuk 26:42 kantor untuk memberikan anu ya, 26:44 Boleh, Mas Krisna. 26:45 pengarahan, latihan-latihan atau apa ya. 26:47 Ya. 26:47 Oke, silakan dicatat nomor teleponnya 26:50 Mas Agung Solihin, nomornya 0818. 26:54 Sudah? 26:55 Kemudian 088 26:59 55 27:01 277 27:03 0818 27:07 088 27:09 55 27:11 277 27:13 Agung Solihin, beliau adalah pakar 27:16 budaya 27:18 organisasi. 27:20 Mmm, 27:22 dari 27:25 Wah, namanya Agung juga nih. Dasar saya. 27:28 Agung, tapi bukan di Lenteng Agung 27:29 tinggalnya ya. Agung di Kemayoran. Eee 27:33 Mas Agung, apakah ini bisa diterapkan 27:35 untuk skop eee pemerintah? Karena di 27:38 pemerintah ini juga 27:40 ada hal-hal yang tidak baik nih, Mas 27:41 Agung. 27:43 Iya. 27:43 Silakan. 27:43 Makasih. Pertanyaan bagus sekali, Mas 27:45 Agung. Jadi 27:46 justru malah saya itu lebih banyak fokus 27:48 membangun budaya itu di pemerintah. 27:50 He eh, Mas Krisna. 27:51 Mmm. 27:52 Jadi 27:53 selama ini kan gini 27:54 kalau 27:56 kita bicara tentang pemerintahan, maka 27:57 ada budaya yang sudah terbentuk. 28:00 Mmm. 28:00 Ada budaya yang sudah terbangun. 28:03 Yang sudah lama itu dibentuknya gitu. 28:06 Nah, jadi akhirnya saya saya sekarang 28:08 sih sebenarnya sangat sangat bahagia. 28:10 Kenapa? Karena 28:12 sekarang ini sudah 28:13 cukup banyak perubahannya, Mas Krisna. 28:16 Perubahan budaya di pemerintahan. 28:17 Walaupun memang belum secara menyeluruh 28:19 ya. 28:20 Belum secara totalitas. Kan sekarang di 28:21 pemerintah itu ada 28:22 ada nilai berakhlak namanya. 28:24 Mmm. 28:25 ASN berakhlak. 28:26 Mmm. 28:26 Itu bagus sekali itu. 28:28 Dan 28:30 sebenarnya budaya berakhlak ini ini 28:32 kalau diterapkan 28:33 itu maka 28:35 orang-orang yang ada di pemerintah itu 28:36 akan betul-betul menjadi pribadi-pribadi 28:38 yang itu berbudaya sangat baik. 28:41 Gitu. Jadi ini sangat sangat penting 28:43 juga dan sangat perlu perlu di 28:45 pemerintahan. Justru malah 28:47 kalau saya pribadi fokusnya 28:49 eh membantu sebagian besar pemerintah 28:51 khususnya Pemprov DKI Jakarta, Mas 28:52 Krisna, itu untuk membangun budayanya. 28:55 Apakah budaya organisasinya ataukah 28:58 budaya pelayanannya? 28:59 Jadi ada dua nih, ada budaya organisasi, 29:01 Mas Krisna, ada budaya pelayanan. 29:04 Ehm. 29:05 Nah, kenapa budaya pelayanan penting? 29:06 Karena kalau ASN, kalau pemerintah itu 29:08 memang mereka kan core-nya kan 29:09 pelayanan. 29:10 Ehm. 29:10 Bagaimana melayani masyarakat dengan 29:13 sepenuh hati, dengan ikhlas dan 29:15 sebagainya gitu. Nah, ini kita bangun. 29:18 Nah, yang menarik kalau kita bicara 29:19 budaya pelayanan dulu itu kita selalu 29:22 mengikutsertakan banyak ASN itu hanya 29:25 service excellent. 29:26 Ehm. 29:27 Jadi yang dibangun hanya bagaimana kita 29:29 bisa bagus service-nya tapi hanya 29:30 individu. 29:31 Ehm. 29:31 Akhirnya saya coba tawarkan ke 29:33 pemerintah 29:34 bahwa jangan hanya individunya yang 29:35 dibangun, jangan hanya frontliners yang 29:37 disuruh bagus pelayanannya, tapi harus 29:39 semuanya. 29:40 Ehm. 29:40 Dari depan sampai belakang, dari bawah 29:42 sampai atas. Supaya apa? Supaya feel-nya 29:45 itu sama. Kalau kita datang ke satu 29:46 organisasi yang bagus itu bukan hanya 29:47 bagian depan. 29:48 Ehm. 29:49 Tapi bagian dalamnya juga oke, bagian eh 29:51 atasannya juga oke. Jadi semuanya itu 29:53 benar-benar melakukan pelayanan yang 29:55 yang feel-nya itu sama, enggak beda-beda 29:57 gitu. Nah, ini penting dibangun seperti 29:59 itu. 30:00 Nah, kalau Mas Agung memberikan apa 30:02 namanya pelatihan ke kantor misalnya 30:04 mengenai 30:06 budaya organisasi. 30:08 Itu apakah um eh nantinya enggak mungkin 30:11 misalnya setelah se waktu ketika 30:14 pelatihan itu bagus. 30:15 Ehm. 30:16 Tapi begitu Mas Agung sudah enggak ASN 30:18 lagi 30:19 anu lagi, kendor lagi. Itu bagaimana 30:21 suka menjaga mereka tetap budayanya 30:23 menjadi bagus terus? 30:25 Iya. 30:25 Biasanya kalau yang sifatnya short term 30:28 ya, itu jangka pendek, hanya semangat di 30:31 awal itu biasanya hanya motivasi. 30:32 Ehm. 30:33 Saya dulu pernah jadi motivator, Mas 30:34 Krisna. 30:34 Ehm. 30:35 Jadi membangun semangat, membangun 30:38 perubahan kepada individu-individu yang 30:40 ada di organisasi. 30:42 Nah, yang menarik adalah ketika habis 30:43 ketemu dengan saya, mereka berubah. 30:45 Ehm. 30:45 Semangat mereka. Semangatnya 45. 30:47 Ehm. 30:47 45 hari kumat. 30:49 Kumat lagi, balik lagi gitu. 30:51 45 hari kumat lagi. 30:53 Nah, akhirnya saya berpikir, oh enggak 30:55 cukup berarti hanya membangun semangat 30:57 motivasi. 30:59 Karena itu harus dibangun culture-nya. 31:00 Bicara culture itu bicara membangun 31:01 arena. 31:02 Ehm. 31:02 Saya pernah waktu itu Mas Krisna 31:04 presentasi di depan beberapa profesor. 31:06 Mereka bilang gini ke saya, 31:08 eh Pak Agung, susah Pak. Bagaimana 31:10 mungkin Anda membuat orang-orang yang 31:12 berada di satu organisasi yang latar 31:14 belakangnya enggak sama itu jadi sama. 31:16 Ehm. 31:17 Jadi sesuai dengan nilai-nilai yang 31:18 diinginkan oleh organisasi. Susah. Saya 31:21 bilang gini, Mas Krisna, 31:22 memang susah, Prof. 31:24 Tapi susah bukan berarti tidak bisa. 31:25 Ehm. 31:27 Contoh sederhana gini, 31:28 orang yang berangkat ke tanah suci, 31:29 Ehm. 31:30 apakah negaranya sama? 31:32 Tidak. 31:33 Bahasa nya berbeda? 31:34 Berbeda. 31:34 Latar belakangnya berbeda, tapi ketika 31:36 mereka berangkat ke tanah suci, arahnya 31:38 sama, langkahnya sama, nilainya sama. 31:41 Ehm. 31:42 Kenapa? Karena sudah ada arena. 31:44 Jadi bukan sistem, itu bukan sistem, 31:46 bukan? 31:46 Bukan. Itu bicara artefak, arena yang 31:48 sudah ditinggalkan, dibangun. 31:49 Ehm. 31:50 Di situ ada ada campuran tuh, ada 31:52 sistemnya, ada behavior-nya, 31:54 Ehm. 31:55 ada artefaknya, itu campur di situ. Apa 31:57 arena untuk tanah suci itu? Ada arena 32:00 wukufnya. 32:01 Ehm. 32:02 Ada arena lontar jumrahnya. 32:04 Ehm. 32:04 Ada arena tawaf, ada arena sa'i-nya. 32:06 Siapapun yang datang ke sana, maka akan 32:09 sama gerakannya. 32:10 Ehm. 32:11 Berarti sebenarnya bisa membuat semua 32:13 orang yang ada di organisasi itu 32:15 arahnya sama, langkahnya sama, nilainya 32:17 sama kalau kita membangunnya apa? 32:19 Membangun arena. 32:20 Ehm. 32:20 Arena itu ada dua. Ada arena berupa 32:22 value, ada arena berupa sistem kalau di 32:24 organisasi. 32:25 Ehm. 32:26 Kalau di tanah suci, ada arena berupa 32:28 artefak. 32:29 Ehm. 32:29 Ada arena value-nya, ada arena 32:31 sistemnya. 32:32 Ehm. 32:32 Makanya kalau sistemnya kan kalau kita 32:34 langsung, kalau haji langsung sa'i kena 32:36 dam. 32:37 He em. 32:38 Berarti harus urut. 32:39 He em. 32:39 Enggak boleh langsung tawaf, harus urut 32:41 gitu. Itu sistemnya. Jadi enggak ada 32:43 yang berani tuh. Haji langsung tawaf 32:44 enggak berani. 32:45 He em. 32:45 Berarti ini salah gitu kan. Terus apa 32:47 arena behavior-nya? Bagaimana mereka 32:49 melakukan sesuatu kegiatan ketika ada di 32:52 arena wukuf. 32:53 He em. 32:54 Bagaimana mereka melakukan kegiatan 32:55 ketika mereka sedang lontar jumroh. 32:57 He em, oke. 32:58 Dan ketika yang menarik adalah Mas Kris, 33:00 Mas Krisna. Ketika berganti raja, 33:02 berganti pimpinan, mereka itu bukan 33:05 mengubah arena. 33:06 He em. 33:07 Tapi memperluas, menyempurnakan arena. 33:10 He em. 33:10 Jadi ketika arena sudah jelas 33:13 siapapun pemimpinnya, pemimpinnya enggak 33:15 akan ngubah. 33:15 He em. 33:16 Tapi kalau arenanya enggak jelas, maka 33:18 ketika berganti pemimpin pasti akan 33:20 dihancurkan, diubah. Itu yang sering 33:22 terjadi di pemerintahan. 33:24 Oke. 33:24 Ketika berganti baru pimpinan, berubah 33:26 lagi. Berganti berubah lagi. Kenapa? 33:28 Karena enggak clear arenanya. Nah, 33:30 bicara membangun arena itu, itulah 33:32 membangun budaya. 33:33 Oke. 33:34 Iya. 33:35 Baik, selanjutnya 33:39 dari Bapak Wawan. Mas Agung, saya selalu 33:44 di rumah salat jamaah. 33:47 Selalu baca Quran. Kenapa itu tidak 33:49 tertular ke anak-anak saya? Apa yang 33:51 salah budaya ini? 33:53 Iya. 33:53 He em. 33:54 Jadi ini sebenarnya enggak ada yang 33:55 salah. 33:57 Cuma kurang, kurang sedikit saja. Kurang 33:59 sedikitnya gini. 34:01 Ketika kita salat maka itu kan bicara 34:04 tindakan. 34:05 He em. 34:06 Nah, pertanyaan besarnya tindakan saat 34:08 salat, apakah per, apakah ketika 34:11 implementasi salat itu juga kita juga 34:13 bersama-sama, berjamaah? 34:15 He em. 34:16 Oke, ketika salat anak-anak kita, 34:19 pasangan hidup kita ikut. 34:21 Oh iya, semua disolat. Itu sudah jadi 34:22 budaya. Tapi pertanyaan besarnya adalah 34:25 bagaimana nilai-nilai salat itu 34:26 diterapkan, apakah kita juga sudah 34:28 memikirkan hal tersebut? 34:29 He em. 34:31 Di dalam salat ada disiplin. Apakah kita 34:33 juga sudah disiplin ketika di rumah 34:35 memperlihatkan sikap disiplin kita 34:37 supaya diikuti oleh anak kita. 34:40 Kalau tidak maka apa yang terjadi? Ya 34:41 sudah salat hanya ritual. 34:43 Ibadah yang sifatnya eh 34:45 culture yang sifatnya ritual. 34:46 He em. 34:47 Tapi tidak 34:49 tidak ada nilai-nilai yang 34:50 terimplementasi setelah salat. 34:52 he em. 34:53 Nah karena itu 34:54 kalau memang ingin dilengkapi itu enggak 34:57 enggak salah. Kalau ingin dilengkapi 34:58 maka nilai-nilai itulah yang kita 35:00 ajarkan ke anak kita. 35:01 He em. 35:02 Jadi kalau saya di rumah Mas Kisa saya 35:04 minta izin sharing 35:05 saya habis salat jemaah itu biasa saya 35:07 liqo dulu dengan anak saya. 35:09 He em. 35:09 Saya kalau saya enggak kebetulan 35:11 kebetulan saya kalau lagi lagi apa 35:12 namanya pulang dari satu acara kemudian 35:15 saya enggak enggak salat di masjid saya 35:17 maka di rumah saya ajak anak saya salat 35:18 berjemaah. 35:19 Kemudian setelah itu saya liqo itu saya 35:21 membahas misalkan satu 35:22 satu nilai. 35:24 He em. 35:25 Nilai apa nih? Nilai tentang menghargai. 35:28 He em. 35:29 Nilai tentang ketika kita dipuji oleh 35:31 orang maka kita ngucapin terima kasih 35:33 tapi ingat ngucapin terima kasihnya 35:35 bukan hanya ngucapin terima kasih tapi 35:36 apa kita kembalikan pujian kepada Allah. 35:38 He em. 35:39 Nilai ketika apa? Ketika kita dihina. 35:41 He em. 35:41 Kita enggak usah baper. Kita ucapin 35:44 alhamdulillah juga kenapa? Karena segala 35:46 puji hanya milik Allah bukan milik saya 35:48 dan saya tidak pantas dipuji. Jadi 35:50 enggak ada masalah mau dihina enggak ada 35:52 masalah mau dipuji enggak ada masalah 35:54 dan ketika kita 35:56 edukasi seperti itu maka nanti anak kita 35:58 akan menerapkan nilai salatnya. 36:01 He em. 36:02 Jadi salat itu bukan hanya bicara budaya 36:04 secara tindakan atau ritual tapi sudah 36:06 menjadi apa? Menjadi nilai-nilai yang 36:09 itu bisa diterapkan dalam kehidupan 36:11 sehari-hari. Nah kita enggak melanjutkan 36:13 Mas berhenti di salat. Berhenti di 36:16 ritualnya. 36:16 He em. 36:17 Tapi nilai-nilainya enggak benar-benar 36:19 kita apa? Enggak kita praktekkan di 36:20 depan anak-anak kita. 36:22 Nah karena itu maka 36:23 kalau ingin betul-betul tercipta budaya 36:25 yang yang baik yang Islami di rumah 36:28 He eh. 36:28 maka bukan hanya bicara ritual 36:31 tapi juga harus bicara tentang bagaimana 36:32 kita mengimplementasikan, 36:34 mengaplikasikan nilai-nilai itu ke dalam 36:36 keseharian. 36:37 Yang menarik adalah kalau kita 36:40 eh coba sama-sama melihat kita tuh 36:43 merasa berdosa ketika enggak salat. 36:45 He eh. 36:45 Karena salat itu wajib, tapi kita enggak 36:47 merasa berdosa ketika kita tidak 36:48 menghargai orang lain. 36:49 He eh. 36:50 Padahal menghargai orang lain juga 36:53 kewajiban beragama juga. 36:55 Tapi kita enggak merasa berdosa. 36:56 Kita enggak salat, kita merasa berdosa. 36:58 Ketika kita nyakitin perasaan orang tua 37:00 kita, kita enggak merasa berdosa. 37:01 He eh. 37:02 Biasa-biasa aja. 37:03 Berarti something wrong berarti. 37:05 Nah, harusnya budaya itu kan 37:07 sifatnya bukan hanya bicara antara diri 37:09 kita dengan Allah, tapi juga antara kita 37:11 dengan manusia yang lainnya. 37:13 Gitu. 37:13 Oke, baik. Selanjutnya dari Bapak Abi 37:16 Nizar. Assalamualaikum, Mas Agung. 37:18 Waalaikumsalam, Mas Krisna. 37:19 Mas Agung, kalau rasa malu apakah bagian 37:22 dari budaya atau bukan? Dari Abi Nizar. 37:26 Ya. 37:27 Rasa malu itu 37:28 kalau dilakukan secara kolektif. Sekali 37:31 lagi, kata kuncinya 37:33 Mas Krisna, para eh pemirsa semuanya 37:36 adalah kolektif. 37:39 Ada kata kolektif. Kalau sendirian 37:42 namanya bukan budaya. 37:43 He eh. 37:43 Tapi kalau kita 37:46 kemudian menginfluence orang untuk punya 37:48 rasa malu juga, maka jadilah itu budaya. 37:52 He eh. 37:53 Kita punya rasa malu. Ternyata cuma kita 37:55 sendirian. Yang lainnya nih di 37:56 organisasi kita ketika mereka berbuat 37:58 salah enggak punya rasa malu. Ya, 37:59 berarti budayanya tidak punya rasa malu 38:02 karena 38:04 majority enggak enggak malu kalau 38:06 berbuat salah. 38:07 He 38:07 Kan gitu. 38:09 Tapi kita 38:10 ingin mengubahnya nih. Oke, saya mau 38:12 mengubah deh. Saya ingin organisasi saya 38:14 itu punya rasa malu. Nah, akhirnya kita 38:16 mulai menginfluence nih. Kita mulai 38:18 ngajak. Kalau kita sebagai leader, 38:19 berarti kita bisa punya authority untuk 38:21 mengubahnya. Tapi kalau kita bukan 38:23 leader, kita bisa ajak para orang yang 38:25 bisa kita influence untuk mereka berubah 38:27 jadi punya rasa malu, maka saat itulah 38:29 kita sedang membangun budaya. 38:32 Oke. 38:33 Gitu, Sis. 38:34 Baik, selanjutnya. Assalamualaikum, Mas 38:36 Agung. 38:36 Waalaikumsalam warahmatullahi. 38:37 Saya, Ibu Hat 38:39 fi. 38:41 Saya, Ibu Hati. Kalau di rumah, kalau 38:43 setiap maghrib semua kita ini ngaji 38:45 terus. Kalau malam besok masuk sekolah, 38:49 eh kalau kalau malam besok masuk 38:51 sekolah, kami tidak menyalakan TV dan 38:54 anak-anak tidak masalah dengan itu. 38:56 HP juga eh di jam tertentu kami simpan. 39:00 Apakah itu termasuk budaya dalam 39:02 keluarga kami? 39:03 Ya. 39:04 Itu budaya. 39:05 Bagus itu, ya? 39:06 Bagus itu. Itu sudah kata gurunya. 39:08 ya? 39:09 Ada kesepakatan. 39:10 Kalau dalam tekanan gimana? Dia takut di 39:12 dibentak. 39:13 Bisa. Itu yang tadi, Mas Isna. Budaya 39:16 kalau ada tekanan berarti budaya based 39:18 on 39:19 sistem. 39:20 Ehm. 39:21 Jadi, ada paksaan dari luar. 39:24 Ehm. 39:24 Ada reward dan punishment. 39:26 Nah, kayak gitu. 39:27 Oke. 39:29 Kemudian, Assalamualaikum, Mas Agung, 39:31 dari Ibu Tini. 39:33 Apa bedanya budaya dan ajaran atau 39:35 syariat? Misalnya, puasa Ramadan. Karena 39:38 ketika sampai waktunya puasa Ramadan, 39:41 dilakukan bersama-sama. Dan kebanyakan 39:43 orang yang melakukan puasa pada bulan 39:46 Ramadan jarang atau sulit untuk 39:47 melakukan puasa sunah. Syukran. 39:50 Ya. 39:51 Jadi, kalau ajaran itu kan bicara 39:53 tentang sesuatu hal yang bersifat 39:56 kebaikan yang 39:57 yang disampaikan oleh seseorang 40:00 yang memang itu merupakan orang yang 40:02 terpilih, gitu kan. 40:04 Nah, ketika itu kemudian dijalankan 40:07 dan dijalankannya bukan oleh satu orang, 40:10 maka itu jadilah budaya. 40:12 Jadi, budaya itu bukan berarti sesuatu 40:14 hal yang hanya bersifat tradisi, 40:17 kemudian 40:18 ee adat istiadat, kesenian dan 40:21 sebagainya. Tapi sesuatu yang memang itu 40:23 dilakukan secara bersama-sama, 40:26 secara kolektif, itu jadi budaya. 40:28 Jadi budaya itu bukan suatu hal yang 40:30 yang khusus ini, khusus itu enggak. Ini 40:33 semua hal yang bersifat kolektif itu 40:35 bisa dikategorikan sebagai budaya. 40:37 Ehm, kalau kolektif ya. 40:38 termasuk tadi puasa di bulan Ramadan itu 40:41 jadi budaya. 40:42 Nah, pertanyaan besarnya adalah apakah 40:44 budaya itu hanya berhenti 40:47 di masalah artefak 40:49 atau di masalah behavior yang hanya 40:52 sesaat ataukah nilai-nilainya 40:53 dilanjutkan? 40:55 Ehm. 40:55 Seperti yang tadi saya bilang, ada 40:57 ada sebuah negara yang dia majority 40:59 bukan Islam, 41:01 tapi perilakunya Islami, tapi budayanya 41:03 Islami. Ada, tapi ada juga negara yang 41:06 dia majority-nya Islam, tapi 41:09 perilakunya, budayanya belum Islami. 41:12 Ehm. 41:12 Masih cuek sama orang, masih enggak 41:15 bersih, masih enggak disiplin. 41:17 Soalnya Islam itu kan bersih, disiplin, 41:19 ya itu kan budaya Islam. Nah, karena itu 41:22 ee perlu menjadi perenungan kita bersama 41:24 bahwa 41:26 ee yang kita pikirkan bukan hanya bicara 41:27 ritual culture-nya, tapi bagaimana 41:30 implementasi nilai-nilai dari ritual itu 41:33 yang kita 41:34 itu jadikan budaya, apakah di rumah dan 41:36 sebagainya. Seperti itu, Mas Krisna. 41:38 Oke, selanjutnya dari Nur Agung, namanya 41:40 mirip-mirip nih ya. Hehe, Nur Agung. 41:43 Assalamualaikum ee 41:45 Mas Agung. 41:46 Waalaikumsalam. 41:46 Sangat menarik dan bagus budaya positif 41:48 kalau 41:50 bisa diwujudkan dalam kehidupan. 41:52 Bagaimana pendapat Bapak untuk negara 41:54 kita agar dapat berbudaya positif? 41:57 Bagaimana juga dengan saat ini ayat 41:59 Alquran tadi sangat tepat untuk 42:01 dijadikan dasar budaya? 42:03 Dengan bertakwa akan berkah, semoga 42:05 rezeki lancar dan berkah. 42:07 Amin ya Allah. 42:07 Tadi kan surat berapa tuh ee 42:11 yang ee walau ana tuh ramah penduduk ya. 42:14 Dan sekiranya penduduk negeri beriman 42:17 dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan 42:19 kepada mereka 42:21 berkah dari langit dan bumi tetapi 42:24 ternyata 42:26 hmm 42:27 mereka 42:29 oke ya 42:31 silakan Mas Agung menjawab 42:32 iya 42:34 jadi memang 42:35 saya ada satu kalimat yang ini bisa jadi 42:37 kita sama-sama renungkan kalimatnya Mas 42:40 Krisna 42:41 kalau ada satu bunga yang tidak mekar 42:46 jangan dipotong bunganya 42:47 hmm 42:48 suburkan tanahnya 42:49 hmm 42:50 boleh jadi bukan salah bunganya 42:53 tapi tanahnya yang belum subur 42:55 hmm belum dikasih nutrisi ya 42:56 iya nah apa arti tanahnya? Berarti 42:58 lingkungannya 42:59 hmm hmm 43:00 nah bicara tentang lingkungannya kalau 43:02 kita ingin membangun budaya yang kita 43:03 ubah bukan 43:05 satu orang dua orang tapi perilaku 43:07 kolektif dari para pemimpinnya 43:10 jadi kalau Indonesia mau berubah ya para 43:12 pemimpinnya dulu 43:13 hmm 43:13 saya pernah kejadian Mas Krisna 43:15 waktu itu saya ngisi acara di salah satu 43:18 organisasi 43:19 untuk para karyawan 43:21 jadi para karyawannya itu kemudian 43:22 datang ke saya bilang gini ke saya 43:24 Pak Agung 43:26 jangan cuma kita doang yang disuruh 43:27 berubah 43:28 hmm 43:28 kita punya banyak pemimpin Pak beda-beda 43:30 Pak 43:31 hmm 43:31 ada yang maunya begini ada yang maunya 43:33 begitu Pak jadi kita bingung mau ikut 43:35 yang mana Pak 43:36 hmm 43:37 akhirnya ya memang akhirnya kita 43:39 sepakati bahwa kalau ingin mengubah 43:41 budaya 43:42 maka ubah perilaku kolektif para 43:43 pemimpinnya 43:45 leaders komitmen satukan arahnya satukan 43:47 langkahnya satukan nilainya 43:50 harus sama kalau enggak selesai sudah 43:52 maka yang bingung siapa? Yang bingung 43:53 adalah para tim di bawahnya seperti itu 43:56 sama juga dengan pemerintahan berarti 43:57 satukan para pemimpin di bangsa 44:00 Indonesia ini 44:01 oke dari Ibu Inge Mas Agung bagaimana 44:04 membudayakan 44:07 bagaimana membangun budaya Islam? Itu 44:10 pertanyaan dari Ibu Inggit. 44:12 Iya. 44:13 Eh 44:14 memang membangun budaya itu tidak bisa 44:16 instan. 44:17 Perlu proses. Jadi saya ingin cerita 44:20 sedikit saja nih, mudah-mudahan cukup 44:22 waktunya. 44:23 Jadi Mas Isna, Singapura zaman dulu ya 44:26 zaman sekarang itu enggak sama. 44:28 Tahun 1960-an itu Singapura kotor, 44:30 jorok, kumuh. 44:31 He em. 44:32 Jadi banyak orang yang buang sampah 44:33 sembarangan. 44:34 He em. 44:35 Kemudian tahun 59 terpilih Perdana 44:37 Menteri pertama Singapura namanya Lee 44:38 Kuan Yew. 44:39 Lahirnya di Semarang loh kalau enggak. 44:41 Lahir di Semarang ya? 44:42 Lahir di Semarang. 44:42 Yew. 44:43 Tapi jadi Perdana Menteri ya 44:46 di Singapura ya. Tahun 59 itu terpilih 44:49 jadi Perdana Menteri Lee Kuan Yew. 44:51 Kemudian dia ingin mengubah Singapura 44:53 jadi bersih. 44:54 He em. 44:55 Nah kemudian saat itu semua orang 44:57 mengatakan enggak mungkin, underestimate 44:59 kan mereka. 45:00 Akhirnya apa yang dilakukan oleh Lee 45:01 Kuan Yew? Dia kumpulkan seluruh pegawai 45:03 pemerintah. 45:04 He em. 45:04 Kemudian dia mengatakan gini, "Saya 45:06 ingin seluruh pegawai pemerintah 1 bulan 45:08 pertama 45:09 1 bulan penuh menjadi pelaku. 45:12 Kalau ada orang yang buang sampah 45:13 sembarangan, ambil kita yang buang. 45:16 He em. 45:17 Kalau ada orang yang buang macam-macam 45:18 sembarangan, pokoknya kita yang 45:19 bersihin. 45:20 He em. 45:21 Selama 1 bulan penuh. 45:22 He em. 45:23 Nah itu akhirnya dilakukan. 45:24 Nah setelah 1 bulan penuh dipanggil lagi 45:26 semuanya. 45:27 Dikatakan lagi oleh Lee Kuan Yew, "Saya 45:28 ingin seluruh pegawai pemerintah selama 45:31 bulan kedua ini menjadi pendidik. 45:33 He em. 45:34 1 bulan penuh. 45:35 Jadi kalau ada orang yang buang sampah, 45:37 suruh dia ambil sampahnya buang ke 45:38 tempatnya. Kalau dia enggak mau, panggil 45:40 keamanan. 45:41 He em. 45:42 Jadi jadi pendidik. 45:43 He em. 45:43 Nah setelah selesai 1 bulan kedua ini, 45:46 bulan ketiga dipanggil lagi semuanya. 45:47 He em. 45:48 "Sekarang saya ingin seluruh pegawai 45:50 pemerintah semuanya menjadi penghukum. 45:52 He em. 45:53 Pendisiplin. Jadi kalau ada orang yang 45:55 buang sampah sembarangan 45:57 tangkap, penjara, denda yang besar. 45:59 He em. 45:59 Selama 1 bulan penuh. 46:01 Bulan ke-4, bulan ke-5 dan seterusnya 46:04 pelan-pelan mulai berkurang yang buang 46:06 sampah. 46:07 Jadilah Singapura jadi bersih seperti 46:08 sekarang. 46:09 Jadi ada 3 tahapan sebenarnya yang yang 46:12 tadi kalau kita pelajari dari yang 46:13 dilakukan oleh Lee Kuan Yew itu ada 3. 46:14 Yang pertama apa? 46:16 Tahap pertama jadi pelaku dulu. 46:19 Tahap kedua jadi pendidik. 46:21 Tahap ketiga baru kita jadi pendisiplin. 46:25 Kalau ada yang benar kita kasih reward, 46:27 kalau ada yang salah kita 46:28 kasih punishment. 46:30 Nah kita dapat ilmu dari seseorang atau 46:34 dapat ilmu dari satu majelis 46:36 langsung jadi pendidik 46:38 tanpa jadi pelaku. 46:41 Akibatnya apa? 46:42 Gagal. 46:44 Kebanyakan kita maunya langsung 46:45 menghukum. 46:46 Kebanyakan kita langsungnya mau jadi 46:48 pendidik tanpa jadi pelaku. 46:50 Karena itu apa? Penting 46:51 3 tahapan ini kalau ingin membangun 46:53 budaya Islami di rumah 46:55 maka pertama kita jadi pelaku dulu. 46:58 Setelah jadi pelaku baru jadi pendidik, 46:59 yang ketiga baru jadi pendisiplin atau 47:02 penghukum ketika ada yang salah, pemberi 47:05 reward ketika ada yang benar. 47:07 Jadi jangan langsung mendidik. 47:10 Oh ini pertanyaannya berat juga. Nah 47:11 asalamualaikum Mas Agung. Mas Agung 47:13 seandainya Mas Agung diundang oleh satu 47:15 partai 47:16 untuk membudayakan mereka supaya 47:18 budayanya itu jujur, amanah, bagaimana 47:22 Mas Agung? Siap enggak? 47:25 Partai ini urusannya nih. Waduh. 47:27 Yang pasti saya 47:28 saya siap-siap saja. Kenapa? Karena kan 47:29 saya tidak membawa 47:31 eh apa namanya kepentingan apapun. 47:33 Netral ya? 47:34 Saya tetap netral. 47:35 Dan bahwa 47:37 budaya positif itu kan bagus ya. 47:38 Bagus itu bagus. Mau di manapun justru 47:40 malah mudah-mudahan ketika ada partai 47:41 yang memang punya budaya yang sangat 47:43 baik itu menjadi 47:45 harapan buat kita Indonesia akan bisa 47:47 berubah. 47:49 Gitu. Kalau buat saya sih enggak ada 47:51 masalah. 47:52 Yang pasti saya tetap netral. Saya 47:53 enggak saya tidak berwarna, saya tidak 47:56 masuk ke partai manapun tetap saya tetap 47:58 jadi Agung Solihin. 47:59 Agung Solihin. 48:01 Agung Solihin. 48:02 Banyak nomor teleponnya lagi. Nah, oke 48:04 ini nomor teleponnya Mas Agung Solihin, 48:07 silakan nih yang belum mencatat tadi 48:09 kami akan bacakan kembali. 48:11 Nomor telepon Agung Solihin, Solihin. 48:14 Beliau adalah pakar budaya organisasi. 48:18 Ini nomornya, 0818. 48:23 Sudah? Kemudian 088. 48:27 Kemudian 48:28 55. 48:30 Kemudian 277. 48:34 0818. 48:37 088. 48:40 55. 48:41 2. 48:43 77. 48:47 Mas Agung, bagaimana 48:49 cara 48:52 supaya penumpang di bus tidak ada yang 48:55 merokok karena saya merasa terganggu. 48:58 Kalau saya tegur 48:59 dia pasti akan marah. 49:04 Jadi, ini memang ini bicara 49:07 budaya itu tidak bisa 49:09 tidak bisa instan ya, tidak bisa 49:12 apa namanya 49:14 yang kita langsung berharap itu langsung 49:17 kemudian terwujud gitu enggak. 49:19 Jadi memang 49:20 kita itu sebenarnya enggak enggak enggak 49:23 kurang bagus di sistem Mas Agung Solihin 49:26 Sistem kita bagus. 49:28 Strategi pemerintah pun bagus sekali. 49:31 Nah, yang menarik ini ya. Yang menarik 49:32 adalah 49:33 strategi bagus, sistem bagus 49:36 tapi orang-orangnya belum berubah. 49:40 Orang-orangnya belum disiplin, 49:42 orang-orangnya belum tanggung jawab. 49:43 Maka sistem yang bagus, strategi yang 49:45 bagus enggak akan jadi apa-apa. 49:49 Itu yang terjadi di Indonesia. 49:51 Kenapa? Karena tadi, boleh jadi 49:54 ya, kita belum jadi pelaku. 49:55 Ehm. 49:58 Bangsa kita, para pemimpinnya, mohon 50:00 maaf, mungkin belum banyak yang jadi 50:03 pelaku. 50:04 Ehm. 50:05 Sehingga akibatnya apa? Akibatnya ya 50:06 sudah, hanya menghukum, hanya mendidik, 50:10 tapi enggak pernah jadi pelaku. Orang 50:11 bingung, bagaimana sebenarnya tindakan 50:13 yang pasnya? 50:14 Ini kejadian, Mas Krisna. 50:16 Waktu saya di rumah, saya kedatangan 50:18 tamu. 50:18 Ehm. 50:19 Kebetulan 50:20 tamu saya ketika lagi ngobrol, anak saya 50:22 lewat. 50:22 Ehm. 50:23 Namanya Mikail. Lewatnya dengan 50:25 patantang petenteng, jalan santai gitu 50:26 kan. Saya kan ngerasa adabnya agak 50:29 kurang nih gitu. Saya malu juga tuh saat 50:31 itu. Terus kemudian setelah tamu saya 50:33 pulang, saya 50:34 saya ajak ngobrol anak saya. Saya suruh 50:36 duduk di situ, kemudian saya lewat. 50:38 Abang duduk situ ya, nanti Abi lewat, 50:40 nanti Abang rasain. Yang pertama, saya 50:42 lewat patantang petenteng. 50:44 Gitu kan. Yang kedua, saya lewat pakai 50:45 permisi. 50:46 Ehm. 50:47 Terus saya tanya kepada anak saya, mana 50:48 lebih enak? 50:50 Yang pertama atau yang kedua? 50:52 Yang kedua, Bi. 50:54 Yang pakai begini. 50:55 Oh. 50:55 Saya langsung istigfar, 50:56 Ehm. 50:57 Istigfarnya apa? Berarti yang salah 50:59 saya. 51:00 Ehm. 51:01 Bukan anak saya. 51:02 Ehm. Tidak mendidiknya. 51:03 Bisa jadi anak saya enggak pernah 51:05 melihat perilaku seperti itu 51:06 Ehm. 51:07 dari saya. 51:08 Ehm. 51:09 Nah, ini jadi pelajaran penting buat 51:11 kita. 51:12 Ehm. 51:12 Jangan-jangan kita selama ini men-judge 51:14 orang, menyalahkan orang. Yang salah 51:16 bukan orang itu, tapi kita yang salah. 51:18 Ehm. 51:19 Kita belum memperlihatkan perilaku itu, 51:21 kita belum menjadi pelaku. 51:23 Tapi kita sudah berharap orang jadi 51:24 pelaku, gitu. 51:27 Gitu, Mas. 51:27 Oke, ini ada pertanyaan dari 51:31 Dace, Haji Dace Saifudin. 51:33 Assalamualaikum, Mas Agung. 51:35 Saya mau tanya, apakah betul korupsi di 51:37 negara kita ini di Indonesia ini sebagai 51:39 budaya? 51:41 Terima kasih jawabannya dari Haji Dace 51:44 Saifudin, Bekasi. 51:45 Iya. 51:46 Haji Dace Saifudin ini 51:48 sudah tadi sempat saya sampaikan juga 51:50 bahwa memang korupsi itu adalah budaya 51:53 yang tanpa sadar disepakati. 51:57 Jadi, tanpa sadar disepakati oleh kita. 51:59 Tanpa sadar. 52:01 Karena terlalu sering dilakukan dan 52:03 dilakukannya bukan hanya sendirian, tapi 52:05 kolektif. 52:06 Maka, itulah budaya. 52:08 Nah, makanya gini saya 52:10 saya sering mengatakan gini ketika 52:11 mengisi acara di pemerintahan, Mas 52:13 Krisna. 52:14 Bapak Ibu, 52:16 mana yang lebih 52:19 ingin kita lakukan? 52:21 Kita menunggu 52:23 kita mengikuti budaya yang kurang baik 52:26 yang ada saat ini di organisasi ataupun 52:28 di pemerintahan 52:30 atau kita mengubahnya menjadi budaya 52:32 yang lebih baik? 52:34 Nah, bicara budaya ini bicara sesuatu 52:35 hal yang bisa diwariskan, Mas. 52:37 Pertanyaan besarnya gini, 52:38 kalau kita coba lihat budaya di 52:40 pemerintahan kita saat ini, apakah 52:42 budayanya sudah layak untuk dilanjutkan 52:44 oleh generasi berikutnya 52:46 ataukah masih perlu disempurnakan? 52:50 Kebanyakan menjawab, disempurnakan, Pak 52:52 Agung. 52:53 Pertanyaannya, kalau tidak kita 52:55 sempurnakan, apa yang terjadi? Maka, 52:57 budaya-budaya yang buruk termasuk 52:59 korupsi tadi, itu akan terus dilakukan. 53:03 Pertanyaan besarnya, siapa yang 53:05 bertanggung jawab? 53:06 Siapa yang bersalah? 53:09 Dosanya siapa? Berarti kesalahan jariyah 53:12 itu. Dosa jariyah juga itu. 53:15 Dan kita saat ini punya kesempatan untuk 53:16 memperbaikinya. Untuk membangunnya, 53:18 kenapa enggak kita lakukan sekarang? 53:20 Kenapa enggak kita ubah gitu? 53:22 Gitu, Mas. 53:23 Oke, dari S Ummi. Assalamualaikum, Mas 53:27 Agung. Di sini ada menteri yang jadi 53:29 contoh sebagai pelaku kebersihan, tapi 53:32 orang kita menganggap itu suatu 53:34 pencitraan. Bagaimana? Dari Ummu Fauzan. 53:37 Ya. 53:38 Ya, memang 53:40 bicara tentang karena gini, karena 53:42 kita kan yang sering kita lihat sesuatu 53:44 hal yang 53:45 yang kurang baik. 53:48 Sesuatu hal yang, mohon maaf kategorinya 53:50 itu kategori 53:52 enggak pas lah. 53:54 Selalu kita melihat tontonan-tontonan 53:56 yang berupa kesalahan, musibah, 53:59 hal-hal yang buruk, berita-berita buruk 54:01 dan sebagainya gitu. Ketika ada berita 54:03 baik itu menjadi suatu hal yang 54:05 jadi aneh. Kan gitu. Orang baik sekarang 54:07 dianggap aneh. Mas Gista. 54:09 Orang yang buruk biasa aja. 54:13 Nah, muncullah interpretasi-interpretasi 54:15 yang berbeda-beda. 54:17 Ada yang mengatakannya bagus, ada yang 54:19 mengatakannya ah pencitraan dan 54:21 sebagainya. 54:22 Nah, solusinya apa? Solusinya ya udah. 54:24 Kenapa enggak kita sekarang kampanyekan 54:26 bersama-sama 54:28 hal-hal yang baik. Orang mau bilang kita 54:30 pencitraan, orang mau bilang kita 54:31 sombong, mau dibilang ujub, enggak 54:33 masalah. 54:35 Cukup kita dan Allah yang tahu, gitu 54:36 aja. 54:37 Nah, kita tuh sekarang jadi apa? Jadi 54:38 menarik diri. Orang-orang baik menarik 54:40 diri. Takut apa? Takut dibilang 54:41 pencitraan. Ketika show off, ketika dia 54:45 eh posting, 54:47 wah pencitraan. Akibatnya apa? Yang 54:48 diperlihatkan di tontonan adalah 54:50 orang-orang yang kurang baik. 54:53 Karena itu, ya udah kita bangun 54:54 bersama-sama aja budaya apa? Budaya 54:56 untuk sama-sama mencitrakan, bukan 54:58 pencitraan diri ya, pencitraan budaya 54:59 baik, gitu aja. 55:01 Enggak usah khawatir orang mau bilang 55:03 apa. 55:04 Seperti itu, Mas. 55:05 Oke, kemudian dari Bapak Jufri Assegaf. 55:07 Assalamualaikum. 55:08 Waalaikumsalam warahmatullahi 55:09 Kang Agung, tadi Mas Agung mengatakan 55:11 senyum itu suatu budaya. Dan dalam Islam 55:14 senyum itu ibadah. Nah, pertanyaan saya 55:16 apakah wangi 55:18 wangi badan itu suatu budaya atau dan 55:21 ibadah? Karena saya merasa rileks dan 55:23 tenang ketika dalam kendaraan umum 55:25 mencium aroma wangi dalam manusia. 55:28 Iya. Jadi, 55:30 kalau wangi kan bicaranya bersifat 55:32 individual. 55:33 Tapi ketika sudah di 55:36 instruksikan untuk 55:39 kita harus apa? Harus membuat orang itu 55:42 nyaman dekat dengan kita. 55:44 Kalau di pemerintah sekarang ada, Mas 55:46 Krisna namanya budaya hospitality. 55:47 Ehm. 55:48 Budaya hospitality itu budaya bagaimana 55:50 kita itu menjaga 55:52 wangi tubuh supaya orang yang dekat 55:54 dengan kita itu nyaman. 55:55 Ehm. 55:55 Ketika sudah dilakukan, disepakati 55:58 bersama bahwa ketika kita melayani orang 56:01 itu harus dengan dengan tubuh yang 56:03 wangi, maka itu jadi budaya. 56:05 Ehm, oke. 56:06 Tapi ketika itu sifatnya hanya kita 56:09 sendirian yang memutuskan, 56:12 maka itu jadi karakter. 56:13 Ehm. 56:14 Bukan budaya, tapi karakter. Karakter 56:16 diri kita yang nanti insyaallah itu akan 56:18 sangat bernilai baik sekali. 56:20 Gitu. Apalagi kalau kita bisa mengajak 56:21 orang untuk sama juga, ya, punya badan 56:25 yang wangi supaya bisa membuat orang 56:27 terasa nyaman dekat dengan kita. Jadilah 56:29 budaya. 56:31 Dari hamba Allah. Assalamualaikum, Mas 56:32 Ago. Mas Ago, mau tanya nih. 56:35 Kalau komunitas LGBT, apakah itu budaya 56:37 juga? 56:39 Pertanyaannya berat juga nih. 56:41 Jadi, 56:42 LGBT itu masuk kategori budaya. 56:47 Tapi budaya yang sangat dilarang dan 56:49 budaya yang sangat tidak baik. 56:51 Ya, karena itu dilakukannya kan enggak 56:53 sendirian dia. 56:54 Ehm. 56:54 Dia ada komunitasnya, dia juga menular 56:58 dan sebagainya. Dan itu 57:00 itu bisa 57:02 diregenerasikan itu, Mas Krisna. 57:04 Ngeri banget ya. 57:05 Ngeri banget. 57:07 Gitu. 57:07 Nah, itu budaya itu. Nah, karena itu 57:09 makanya gini, 57:10 budaya itu ada yang baik, ada yang tidak 57:13 baik. 57:14 Kalau yang baik itu bicara tentang 57:16 bagaimana budaya itu benar-benar pure. 57:18 Ehm. 57:19 Ya, budaya yang baik. Kalau misalkan itu 57:21 berarti cross culture dia, budaya yang 57:22 memang berlawanan dengan budaya baik. 57:25 Nah, LGBT itu masuk kategori budaya. 57:29 Budaya tidak 57:29 sendirian dia. Dia enggak sendirian, dia 57:31 banyak. budaya yang rusak. 57:33 Ehm. Itu seram ya, seram sekali. 57:36 Oke, Mas Agung sayang sekali kita sudah 57:39 dibatasi oleh waktu dan insya Allah 57:40 pertanyaan sih 57:42 semua sudah terjawab ya. 57:44 Oh, bagaimana cara membudayakan yang 57:46 positif untuk keluarga baik untuk istri 57:49 dan anak-anak dan apa saja contoh 57:51 kecilnya 57:53 dari Amar siap, Mas Krisna, yang 57:55 terakhir ini ini ya. 57:56 Terakhir, boleh. 58:00 Silakan. Jadi 58:02 eh di keluarga ya khususnya ya. 58:05 Kan ibaratnya gini 58:06 kalau kita mau buat rumah, yang pertama 58:08 kali kita buat 58:10 adalah desain. 58:12 Rumah tangga juga 58:14 penting punya desain. 58:15 Oh, punya desain harus punya desain juga 58:17 ya. 58:17 rumah tangga. 58:19 Nah, banyak diantara kita yang ketika 58:21 berumah tangga enggak pernah buat 58:23 desain. 58:25 Akibatnya apa? Ya sudah rumahnya kalau 58:27 enggak ada desain pasti berantakan. 58:30 Jadinya pun ya bisa jadi bagus, bisa 58:32 tidak enggak bagus. Nah, karena itu 58:34 kalau kita ingin rumah tangga kita bagus 58:36 maka harus punya desain. 58:39 Rumah tangga kita mau dibawa kemana? 58:41 Keluarga kita mau dibawa kemana? 58:43 Kemudian setelah itu apa? Buat, setelah 58:44 itu buat misinya. Apa ya 58:46 eh strategi supaya rumah tangga kita itu 58:48 jauh lebih baik. 58:50 Nilai-nilainya apa? Sudah jelas 58:51 nilai-nilai keislaman kita yang akan 58:53 kita bangun tapi bukan hanya bicara 58:54 tentang bahasa normatif. 58:56 Bukan hanya bicara tentang hal-hal yang 58:58 bersifat ritual tapi bagaimana itu ter 59:00 implementasi ke dalam keseharian kita. 59:02 Berarti apa? Jadi pelaku, jadi pendidik 59:06 dan jadi pendisiplin. 59:08 Jadi pelaku ya. 59:10 Oke, Mas Agung seperti tadi saya bilang 59:12 bahwa kita sudah dibatasi oleh waktu. 59:14 Barangkali terakhir ada yang mau 59:15 disampaikan? 59:16 Ya. 59:17 Mengenai budaya ini? 59:18 Iya, Mas Krisna. Jadi 59:20 sekali lagi 59:21 bicara budaya ini sadar atau tanpa sadar 59:23 kita menciptakan budaya dan kalau kita 59:25 tidak sadar menciptakan budaya, maka 59:28 akan tercipta budaya yang tidak baik 59:30 pastinya. 59:31 Karena itu 59:32 legasi terbaik untuk kita adalah 59:35 membangun budaya. 59:37 Dan hidup hanya sekali, Mas Krisna, 59:40 pemirsa, 59:41 sebelum kita 59:42 berakhir hidup kita, maka kita 59:44 tinggalkan legasi. 59:46 Salah satu legasi terbaik adalah budaya. 59:49 Mas Agung, budaya, akhlak yang baik. 59:52 Oke, terima kasih Mas Agung. Terakhir 59:54 ini nomor teleponnya akan kami bacakan 59:56 kembali. Agung Solihin, nomornya adalah 59:59 0818 1:00:03 088 1:00:05 55 1:00:08 277. 0818 1:00:12 08855277. 1:00:16 Terima kasih, Mas Agung. Mudah-mudahan 1:00:17 kita bisa bersama-sama lagi. 1:00:19 Amin, ya rabbal alamin. 1:00:19 Baik, eh saya Muhammad Krisna, Andy 1:00:22 Saputra, Anis Muallim, kemudian juga 1:00:25 tadi 1:00:26 ada Ikin, ada juga 1:00:31 eh Bim Hamdi. Terima kasih atas 1:00:33 kehadirannya. 1:00:34 Oke, kita jumpa lagi di lain waktu. Anis 1:00:36 Muallim 1:00:37 Andy Saputra, Krisna Firdaus mohon 1:00:39 pamit. Wabillahi taufik walhidayah. 1:00:40 Wassalamualaikum warahmatullahi 1:00:41 wabarakatuh.