Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh. Allahumma shalli ala 0:19 Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. 0:21 Iwan dan akhwat dipancaruaskan dari 0:24 Jalan Masjid Silaturahim nomor 36, Radio 0:27 Silaturahim Cibubur, Bekasi. Ya, balik 0:30 lagi bareng saya Ondi Saputra yang biasa 0:33 Iwan Nawat cuma dengar tuh eh disebut 0:36 aja gitu oleh penyirannya. Tapi kali ini 0:37 saya langsung membuakan acara program 0:40 baru [tertawa] 0:42 yang mana nama acara itu adalah Bahlul 0:44 Bahlulan. 0:45 Kali ini saya tidak sendiri W dan Hat 0:48 tapi bareng rekan saya yang lama sudah 0:51 menghilang tapi masih ada sebenarnya 0:53 cuman dia di balik layar aja. Siapa 0:56 beliau? Langsung saja kita 1:00 sambut dan kita tanyakan kepada beliau. 1:03 Asalamualaikum Syekh. 1:05 Waalaikumsalam warahmatullahi. 1:07 Ini dia uncle Firman. [tertawa] 1:09 Udah lama banget ya. 1:10 Udah lama banget kita enggak siaran, 1:12 Bang. 1:12 Udah ada 1:13 malas gua sama Londi. 1:14 Sama saya juga sebenarnya [tertawa] tapi 1:16 berhubung Bang Firman yang mengajak dan 1:18 Bang Firman yang ayo kita siaran bareng. 1:20 Ayo saya mau gitu. 1:21 Tapi deg-degan ya. 1:22 Degdegan 1:22 degdegan gitu. 1:23 Sumpah serius. 1:24 Kita sudah ngesiaran bareng 1:25 2 tahun lebih ya. Tahun lebih 2 tahun. 1:27 Jadi maaf-maaf kalau banyak salah, 1:29 banyak grogi, keliru ya. 1:31 Kita sudah lama enggak siaran sih. 1:32 Betul. Nah, 1:33 apalagi lu ya. 1:34 Iya. Apagi saya 1:35 on enggak pernah siaran 1:36 cuma jadi bahan ledekan doang ya. 1:38 [tertawa] Perah cuma jadi bahan 1:39 seru-seruan doang. 1:40 Iya, benar. Benar. 1:41 Nah, kali ini Iwan dan Ahot kita akan ee 1:45 apa nih? 1:46 Acara baru nih. Namanya itu 1:47 bahu-bahluan. Bangulah. 1:48 Saya mau nanya, Bang. Bang Iman nih. 1:50 Kok bisa kita itu bikin program yang 1:52 namanya bahlul-bahlulan? 1:53 Iya, bahlul-balulan ya. 1:54 Iya. Kenapa tuh, Bang? Oni kalau kita 1:57 ingat 1:58 kalau saya omongin bahlul ingatnya apa? 2:01 Yang terlintas di pikiran saya itu 2:02 nama menteri. 2:03 Eh itu mah Bahlil bukan bahlul. 2:05 [tertawa] Ah gimana sih? Bukan 2:07 bukan bahlul. Bahlul kita biasa k kita 2:11 nih suka bercanda nih ya. Heeh. 2:12 Apalagi kalau orang yang nongkrong di 2:15 Condet atau mana bahlul tuh biasa 2:16 ngatain orang 2:17 ente bahul 2:18 agak bego gitu ya. Agak bego itu 2:20 ngatainnya bahul gitu. 2:22 Padahal coba Ondi punya Google Translate 2:24 enggak? He punya punya 2:25 kalau kita lihat di Google tuh bego atau 2:28 bodoh tuh 2:29 kalau enggak salah diartiinnya gabi. 2:32 Oh gabi. 2:34 Atau habla. Kalau kalau saudara-saudara 2:36 yang saya dari Saudi lagi datang ngatain 2:38 orang goblok tuh ente habla gitu. 2:40 Oh ente habla atau ente gabli gitu. 2:42 Gabi. Gabi itu kalau di Google Translate 2:44 gabi. He 2:45 gitu ya kalau enggak salah ya. Ada yang 2:47 magang tuh tuh. Nah ini Bahlul. 2:50 He 2:50 bukan menteri loh. Ingat. Oh, I saya 2:52 pikir itu 2:53 bukan bukan menteri bukan menteri. 2:55 Jadi saya cerita sedikit kenapa kita 2:57 opsi 2:59 nama bahlul-bahlulan 3:00 ya. Nah, kenapa tuh? 3:01 Ee ada historinya nihindi. 3:04 Heeh. Heeh. 3:04 Ondi tahu enggak siapa siapa yang 3:07 pertama sosok siapa yang pertama kali 3:10 jadi disebut orang Bahlul dan Bahlul itu 3:12 jadi demikian viral? Kalau bahasa 3:15 sekarang viral. 3:15 Heeh. 3:17 Itu enggak tahu dah. C mungkin tuh saya 3:19 sebelum lahir kali. Oh, belum lahir. 3:21 Belum lahir saya enggak tahu. 3:22 Jadi, 3:24 kita flashback kembali ke abad 8. 3:26 Heeh. Oh, lama banget ya. 3:27 Abadel 3:29 ada seorang ulama. 3:30 He. 3:31 Ulama yang masih kerabat dari raja. He. 3:35 Oh. 3:35 Yang punya posisi penting di istana. 3:39 Heh. 3:40 Namanya Wahab bin Amir. 3:41 Wahab bin Amir. 3:43 Heeh. Wahab bin Amir ini ulama yang 3:45 lurus. He. 3:46 Cuman pada saat itu ee beliau melihat 3:50 keadaan di mana ee banyak orang banyak 3:54 pemimpin-pemimpin yang zalim. 3:56 Heeh. 3:57 Ulama-ulama lurus, orang-orang yang 3:59 lurus, orang-orang yang saleh, 4:01 orang-orang yang berani menentang ke ee 4:04 keinginan penguasa dihukum, 4:07 diberi sanksi. Heeh. 4:09 Nah, Wahab bin Amir ini khawatir dengan 4:11 kondisi ini. Akhirnya dia terus 4:13 berpikir, berpikir, berpikir apa yang 4:15 harus dia lakukan. Sehingga suatu malam 4:18 Wahab bin Amir pergi menemui gurunya. 4:22 Nama gurunya Musa. 4:25 Musa ini Musa bin Jafar bin Muhammad 4:29 bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi 4:33 Thalib. 4:33 Oh. 4:34 Jadi gurunya Wah bin Amir ini masih 4:36 keturunan dari Rasulullah. He. 4:38 Heeh. Ditanya, "Wahai guru, apa yang 4:40 saya harus lakukan dengan kondisi 4:42 seperti ini, ini, ini." Diceritakan 4:44 gurunya cuma ngasih isyarat satu, 4:46 huruf jim. 4:47 Huruf jim. 4:49 Nah, pulang. 4:51 Lalu Wahab bin Amir ini mengartikan 4:53 huruf jim ini berupa O 4:56 junun. 4:57 Junun 4:58 menjadi kegila-gilaan. 5:00 Oh, 5:02 menjadi perah. Sejak saat itu Wahab bin 5:05 Amir yang tadinya dekat dengan raja, 5:08 tinggal di istana, dia keluar. 5:11 Dia menjadi pura-pura gila. Pura-pura 5:14 gila segala macam bertingkah aneh-aneh. 5:18 Ee ada beberapa buku tentang Wahab bin 5:20 Amir ini atau Bahlul ini tongkatnya dia 5:23 jadiin kuda-kudaan. Oh, i 5:25 dia main sama anak-anak kecil. 5:27 Tetapi Wahab bin Amir ini setiap ditanya 5:29 akan memberikan sesuatu yang 5:31 nasihat-nasihat yang baik. Oh, yang 5:33 bijak gitu. 5:33 Yang bijak. Nah, 5:35 akhirnya orang-orang 5:37 di sekitar itu memanggil Wapin Amir ini 5:41 jadi Bahlul dan. 5:43 Bahlul dana. 5:44 Bahlul dan. Bahlul itu istilahnya 5:46 sebetulnya orang yang selalu 5:47 tertawa-tawa. 5:48 Oh, orang 5:49 dalam kebijakan. 5:52 Jadi orang kalau konotasi orang yang 5:54 ketawa-tawa terus itu ya kayak oni gini 5:57 kan ketawa-tawa terus jadi wah kayak 5:59 orang gila nih gitu kan. 6:01 atau bodoh ya gitu kayak gitu. Padahal 6:03 enggak, dia orang bijak, orang saleh, 6:05 orang pintar cuman dia mengkamuflase 6:07 dirinya menjadi orang seperti itu. Iya. 6:09 I 6:10 Nah, kenapa dia lakukan seperti itu? 6:12 Kadang-kadang di 6:13 Heeh. 6:14 Ada orang banyak dari orang tidak bisa 6:17 menerima nasehat direct, "Ente salah 6:21 nih, ente jangan lakukan begini begini 6:22 begini." Orang tuh seringkiali terutama 6:25 yang hatinya udah keras, sudah membatu, 6:26 enggak nerima dinasihatin kayak gitu 6:28 kayak gua. He 6:29 gua enggak nerima tuh dinasehatin 6:30 baik-baik kayak gitu. 6:32 Apalagi sama saya, 6:32 apalagi sama el, apalagi sama Oni. 6:34 Enggak nerima banget dinasihatin kayak 6:36 gitu. Parah sih 6:37 tapi kalau kita nasehatin sesuatu dengan 6:41 yang nyeleneh, kadang-kadang yang 6:42 santai, yang bijak, 6:44 orang lebih nerima. Contoh, contoh saya 6:46 ambil contoh 6:47 dari kisah Bahlul ini. 6:49 Kisah Wahab bin Amir ini. 6:51 Suatu ketika Wahab bin Amir dipanggil 6:53 oleh raja. 6:54 Heeh. 6:56 Wahai Bahlul, ini saya kasih kamu 6:59 sejumlah uang 7:01 ee uang emas ya, 7:03 tolong dibagikan kepada orang yang 7:05 paling membutuhkan di negeri ini. 7:08 Lantas Wahab bin Amir ini bengoh aja 7:10 diam dulu mikir. 7:12 Oh ya, Raja, saya sudah tahu siapa orang 7:13 yang paling membutuhkan uang ini. Siapa 7:17 nih? Saya kembalikan ke raja. [tertawa] 7:20 Raja bingung. Jadi menurut kamu saya 7:21 orang paling membutuhkan, paling miskin 7:23 di negeri? Iya, Raja. Kamu enggak 7:25 ngelihat istana saya seperti apa? Iya, 7:27 tapi Anda adalah orang yang paling 7:28 membutuhkan dan paling miskin. 7:30 Heeh. 7:30 Raja nanya, "Kenapa?" Karena saya di 7:32 jalan itu melihat prajurit-prajurit 7:35 Anda, laskar-laskar Anda, 7:37 tentara-tentara Anda mengambil-ngambil 7:40 upeti dari masyarakat untuk kebutuhan 7:42 raja. Jadi enggak ada yang lebih 7:45 membutuhkan uang ini selain raja. Karena 7:47 orang lain butuh cuman sekedarnya kalau 7:49 raja sampai menghalalkan segala cara 7:51 untuk mendapatkan uang itu. 7:53 Kena enggak orang dinasihatin yang 7:54 nasihatin orang dianggap gila atau 7:56 bodoh? 7:56 Kena, kena. Kena. 7:59 Berarti kalau saya nasehatin orang bisa 8:00 dong ya. 8:01 Ah lu cocok banget nih lu. Cocok banget. 8:04 [tertawa] 8:04 Cocok banget. Cocok banget. Iya. Nah, 8:08 jadi kadang-kadang hikmah itu kan gini 8:12 ee ini saya lupa siapa yang ngomong. 8:14 Heeh. 8:15 Jangan lihat siapa yang bicara. Heeh. 8:17 Tapi perhatikan apa yang ada di apa yang 8:20 diucapkan. Kalau kata Ustaz Deri, 8:22 sekurus-kurusnya ikan ada dagingnya, 8:24 segemuk-gemuknya kambing ya ada 8:27 tulangnya. 8:27 Tulangnya. 8:28 Sejelek-jeleknya orang pasti dia bisa 8:31 memberikan sesuatu yang baik. 8:32 Baik-baik. 8:33 Nah, kita kadang-kadang enggak. 8:35 Apalagi zaman sekarang nih 8:37 I 8:37 dengan ee apa-apa dilihat dari viralogi. 8:41 Betul. 8:43 Kalau enggak viral kalian enggak 8:45 didengar. 8:46 Betul. Kalau enggak ngetop kalian enggak 8:48 didengar. 8:49 Padahal seringkiali orang ulama-ulama, 8:51 tokoh-tokoh yang viral ini menyampaikan 8:53 sesuatu yang salah. 8:54 Betul. 8:55 Yang viral-viral yang ilmunya mungkin ya 8:58 ada ilmunya, tapi begitu lebih dihargain 9:00 daripada kiai-kiai kampung yang ngajarin 9:02 oni alif ba. 9:03 Betul. 9:04 Yang ngajarin oni salat, yang ngajarin 9:06 oni bismillah. 9:07 Betul. 9:08 Orang-orang yang menuntun oni day by 9:11 day, daily. Enggak on diperhatikan. Tapi 9:14 kalau viral udah on diterima. 9:16 itu kita mindset kita salah. Bagi saya 9:19 kalau kita terus seperti itu, sakit ini 9:21 bangsa. 9:24 Sakit ini bangsa. 9:26 Kita jangan hanya memperhatkan sesuatu 9:27 yang viral itu gampang di dibikin. 9:29 Betul. 9:29 Gampang banget. Gampang. 9:31 Saya bukan sombong. 9:33 Saya bukan sombong. Tapi mau sombong. 9:35 [tertawa] 9:35 Ya. Ya udah, udah lanjutin sombongnya. 9:38 Goleh. 9:40 Ini bahasa sombongnya gini. Saya sudah 9:42 menciptakan Heeh. 9:45 Tokoh-tokoh ulama yang akhirnya viral. 9:48 Dietting gampang, mudah. 9:53 Tapi apakah viral itu benar-benar bisa 9:55 menjadi membawa kebaikan? 9:56 Belum tentu. 9:57 Jangan-jangan kebaik orang yang kita 9:59 viralkan itu justru akan membawa 10:01 keburukan. 10:02 Mudurot. Iya. 10:04 Setelah viral dia memanfaatkan untuk 10:06 maslahat dirinya sendiri. Umat 10:08 dimanfaatkan. Harusnya kan ulama itu 10:11 ee tokoh agama itu membawa manusia 10:13 kepada jalan yang benar. Ini enggak 10:15 malah sama-sama enggak benar. 10:16 Iya. Makanya banyak ulama-ulama yang 10:19 benar-benar saleh, yang pintar, yang 10:21 alim justru akan meninggalkan 10:23 panggung-panggung ketenaran. 10:26 Uzlah kembali enggak pengin terkenal. 10:29 Karena godaan viral itu kayak Ondi lah. 10:31 Godaannya kan berat banget. Ondi kan 10:33 terkenal banget. Ondi 10:34 berat. Enggak gitu juga konsepnya. 10:35 Enggak gitu juga enggak enggak gitu. 10:37 Enggak gitu konsepnya. Jadi kita ini 10:39 bisa ngambil hikmah dari Bahlul ini 10:42 sedikit tapi nyelekit gitu ya. 10:44 Bukan bukan sedikit banyak sebetulnya. 10:46 Tapi kita harus ee banyak cara 10:51 banyak cara untuk memberikan kebaikan. 10:53 Ada strategi-strategi untuk memberikan 10:55 kebaikan. 10:56 Walah 10:57 yang alim ada segala macam. Jadi enggak 10:59 semua orang yang dianggap enggak pintar 11:01 itu enggak bisa memberikan kebaikan. 11:02 He 11:03 aja saya dapat nasihat banyak di Ondi 11:05 banyak ya. 11:05 Oh iya. Ondi rutin puasa Senin Kamis. 11:07 Betul. 11:08 Sampai akhirnya mau kawin lagi. 11:09 Alhamdulillah. [tertawa] 11:10 Tapi habis setelah kawin jangan berhenti 11:12 puasa Senin Kamis. 11:13 Enggak. Enggak. 11:13 Sedangkan bagi saya puasa Senin Kamis 11:15 berat banget nih. 11:15 Berat banget ya. 11:16 Iya. 11:16 Bukan itu salah satu strategi buat 11:19 menguruskan. 11:20 Iya. Justru [tertawa] itu. Tapi, tapi 11:22 kata istri saya, "Kamu jangan terurus 11:23 nih, Pak. Nanti sombong gitu." 11:25 Oh, kalau kurus [tertawa] mah sombong. 11:27 Sombong. Jangan jangan biar geldut aja. 11:29 L gendut. Oke. Terus, Bang, selanjut 11:32 selanjutnya tuh dari kisah Balul ini. 11:34 Selain tadi tuh dia memberikan uang ke 11:36 raja itu apalagi, Bang? 11:38 Oh, banyak nih. Banyak. Tapi kalau kita 11:40 cuman cerita Bahlul aja selesai satu 11:42 sesi sudah selesai. 11:44 Sedangkan apa yang Mbah Lu lakukan 11:45 banyak kita bisa lihat di sini. 11:48 Banyak yang kita lihat. 11:49 Bahkan saya bilang banyak 11:51 pemimpin-pemimpin ini 11:52 Heeh. 11:53 Saya kategorikan bahlul beneran. 11:56 Yang suka ketawa-ketawa doang. 11:58 Yang suka ketawa-ketawa doang. Yang 12:00 ngomong enggak mikir kan? 12:02 Engak mikir. 12:02 Padahal 12:04 hmm Sayidina Ali pernah bilang begini. 12:06 Heeh. 12:08 Ee orang beriman itu 12:10 He 12:11 lidahnya di belakang akalnya. 12:12 Oh. 12:13 Orang bodoh itu 12:16 akalnya di belakang lidahnya. 12:17 Di belakang lidahnya. 12:18 Jadi orang-orang beriman, orang-orang 12:19 pintar sebelum berbicara harus mikir 12:21 dulu. 12:21 Mikir dulu. 12:22 Jangan asal jublang nanti minta maaf. 12:25 Enggak. Tapi orang-orang bodoh pasti dia 12:28 mikirnya nanti belakang. Udah gua 12:29 ngomong dulu. Saya ngomong dulu nanti 12:31 terserah nanti. Yang penting ngomong 12:33 dulu, keluar dulu. Ibaratnya kayak apa 12:34 ya? Kentut. 12:36 Keluar dulu baru bau. 12:37 Baru bau. [tertawa] 12:39 Enggak. Orang beriman sama orang pintar 12:41 enggak begitu. Kita harus sebelum apa? 12:44 Kita mau berbicara contoh. He. 12:46 Kita aja harus tahu siapa yang akan kita 12:48 ajak bicara. 12:49 Kalau anak kecil, anak kelas 2 SD, kelas 12:52 3 SD, kelas 4 SD, Ondi diundang jadi 12:54 bbicara. Tiba-tiba berbicara mengenai 12:57 bab perkawinan. Pantes enggak? 12:58 Enggak pantes. Kagak pantes itu. 13:00 Walaupun yang ente baca 13:02 semua dalil, semua ayat Al-Qur'an, 13:04 hadis, semua tentang perkawinan tapi ke 13:06 anak 2 SD. 13:07 Agak pantes 13:08 Andi mungkin pintar, tapi ente enggak 13:10 bijak dan enggak beriman kalau bicara 13:11 kayak gitu. 13:12 Enggak [tertawa] sesuai tempat. 13:13 Enggak sesuai tempat. Oke. Ente 13:15 berbicara di di depan ibu-ibu yang 13:18 kekurangan segala macam. 13:20 Heeh. 13:20 Ente berbicara, "Ibu, bagaimana cara 13:23 menghasilkan uang R miliar dalam 20 13:25 hari? Caranya begini, Ibu. Investasi 13:28 ini, Ibu berbicara sini enggak masuk." 13:32 Kenapa Rasulullah dakwahnya diterima di 13:34 mana-mana? 13:35 Kenapa tuh? 13:36 Pada saat Rasulullah berbicara dengan 13:38 anak-anak, 13:39 oh 13:41 Rasulullah masuk ke dalam dunia 13:42 anak-anak. Kan kita bicara kalau kita 13:45 bisa baca di sirah Nabi, Rasulullah 13:47 bermain sama anak-anak, main 13:49 kuda-kudaan, main apa. Pernah sampai 13:51 satu ketika Rasulullah agak telat datang 13:54 datang salat 13:56 karena memuaskan rasa keinginan 13:59 anak-anak untuk bermain. 14:00 He. 14:02 Pada saat ketemu orang tua, Rasulullah 14:05 berbicara dengan bahasa orang tua. 14:08 Pada kita contoh misalnya ada satu kisah 14:11 Rasulullah bertemu dengan nenek-nenek. 14:12 He. 14:14 Lantas ditanya ee Rasul kalau enggak 14:16 salah nenek-nenek itu bertanya 14:18 Rasulullah, "Saya nanti di akhirat di 14:20 mana? Saya masuk surga enggak?" "Oh, 14:21 enggak." Nenek enggak masuk surga. 14:24 Sedih. 14:24 Nenek itu sedih. 14:25 Rasulullah bilang, "Karena di surga 14:26 enggak ada orang tua. 14:28 Yang sudah tua akan dijadikan muda 14:29 lagi." 14:30 Itu bahasanya disesuaikan. Pada saat 14:32 ketemu politisi, pejabat disesuaikan. 14:35 Nah, sedangkan pejabat zaman sekarang, 14:38 para petinggi zaman sekarang banyak yang 14:39 enggak menyesuaikan itu. Enggak bisa 14:41 menempatkan kalimat kalimatnya. 14:43 Sedangkan, sedangkan ini saya nyontek 14:45 gimanaimana 14:45 nyontek sedikit nih. 14:48 Hadis Rasulullah. 14:49 He 14:49 ya, saya bahasa Indonesianya langsung. 14:52 Heeh. 14:54 Apabila segala urusan telah diserahkan 14:57 kepada orang yang bukan ahlinya, 14:59 maka tinggal tunggulah datangnya kiamat. 15:02 Patu kehancuran. Ada yang mengartikan 15:03 tanda-tanda kiamat itu adalah apabila 15:06 banyak 15:07 pemimpin atau pemegang kekuasaan tapi 15:09 tidak bukan ahlinya. 15:10 Ahlinya. 15:11 Ada juga yang mengartikan bahwa 15:12 kiamatnya itu sebagai kehancuran. 15:14 Kehancuran. 15:15 Nah, kita anggaplah kehancuran. 15:17 He. 15:17 Bisa jadi tanda-tanda kiamat. Oke. Kita 15:20 lihat 15:22 di semua negara saat ini 15:23 Heeh. 15:24 banyak sekali para pemimpin ya. pemimpin 15:26 yang 15:27 asal ngomong, enggak kompeten, 15:30 tetapi punya networking, punya posp, 15:32 punya posisi. Jangan begitu. 15:35 Bahkan Rasulullah, saya lupa nih nama 15:37 sahabatnya siapa. 15:38 Bahkan ada sahabat Rasulullah. 15:40 He. 15:41 Rasulullah mengakui sahabat ini orang 15:42 saleh, 15:43 orang alim, 15:44 orang bertakwa. He. 15:47 Orang ini meminta, sahabat ini minta 15:48 kepada Rasulullah, "Ya Allah, saya bisa 15:50 enggak dijadiin pemimpin di daerah 15:51 situ?" Rasulullah bilang, "Enggak. Kamu 15:53 lemah soalnya. 15:56 networking sama Rasulullah dekat dong. 15:57 Buktinya bisa ngomong kayak gitu. Ibar 15:59 ibaratnya kayak kita misalnya ke 16:00 presiden, "Pak presiden 16:02 jadi nong saya jadi menteri di situ atau 16:04 komisaris deh. Komisaris di salah satu 16:06 BUMN kan lumayan gitu. 16:10 Betul, betul betul. 16:10 Tapi Rasulullah sahabat yang punya 16:12 kedekatan seperti bisa Rasulullah tolak 16:15 enggak? Karena kamu lemah. Iya, kamu 16:16 alim, kamu pintar, kamu saleh. Tapi kamu 16:18 enggak. 16:20 Sekarang enggak. Sedangkan banyak diri 16:22 kita yang 16:23 akhirnya lihat banyak kalau kita 16:25 perhatikan banyak masyarakat yang 16:26 tersakiti oleh lisannya pejabat. 16:29 Iya betul. 16:30 Oke. Kalau kita dosa ke Allah kan 16:32 tinggal minta maaf selesai ni 16:33 selesai. 16:33 Oke. Kalau kita nyakitin orang lain 16:35 gimana? Minanas. Iya betul. 16:36 Nah misalnya ada menteri ini ditanya di 16:39 TV gini dia asal ngomong masyarakat yang 16:42 nonton tersakiti semua apa atas ucapan 16:45 dia. Kira-kira dia sanggup enggak minta 16:48 maaf ke semua orang yang dia sakitin 16:49 atas lisannya? Enggak sanggup. 16:52 Sanggup. Udah, udah sekarang jangan 16:55 makan, jangan makan beras dulu deh. 16:59 Beras susah, jangan makan nasi. Beras 17:00 susah, cari aja makanan lain. 17:03 Mikir dong. Bukan itu solusinya. Itu 17:05 bukan orang pintar. 17:06 Betul. 17:08 Pernah tuh. Itu pernah diucapin gitu. 17:11 Oh, ada. Saya sengaja ngasih contoh yang 17:12 benar. Saya sengaja [tertawa] 17:17 kita break dulu kali. 17:20 dulu ya. Sebelum kita lanjut ke 17:22 pembahasan yang lebih asik lagi, yang 17:24 lebih seru lagi, alangkah baiknya kita e 17:26 jeda dulu ya, Pak Ibu danat dan ke 17:28 mana-mana tetap di radio Silaturahim 720 17:30 AM tetap [tertawa] stay di sini. 18:20 Brail TV [musik] 18:27 ya. Iwan Ahwat kembali lagi bersama saya 18:30 Ondi Saputra yang memandu acara Bahlul 18:33 Bahlulan. Tadi kita sudah dengar banyak 18:35 banget cerita hikmah yang bisa kita 18:37 ambil tuh yang berasal dari saya siapa 18:40 tadi, Bang? Saya lupa namanya. 18:41 Ah, siapa? Ao. Lu baru sebentar aja udah 18:43 sebut [tertawa] 18:44 ya. Intinya namanya Bahlul disebutnya 18:46 ya. Itu kan saya lupa yang di mana itu 18:49 kita kita tadi kita sedikit ee apa 18:52 review seorang raja memberikan uang 18:55 kepada Bahlul dan disuruh membagikan 18:57 ternyata dibagikan ke raja. Nah, itu 18:59 ternyata itu di situ banyak hikmahnya. 19:02 Ternyata yang butuhkan itu bukan orang 19:04 miskin, tapi si rajanya yang dikasih. 19:06 Dan ternyata si raja berpikir, oh iya 19:08 benar juga ya. Karena dia ngambil dari 19:10 sepanjang ini kesimpulannya itu doang. 19:12 Kan kita flashback sedikit sedikit 19:14 jangan banyak-banyak. Nah, apakah 19:16 selanjutnya masih ada? Kita langsung aja 19:17 kita ngobrol-ngobrol uncle firman. Ee 19:20 dan juga saya ingin menyapa Iwan dan 19:21 Ahwat yang ada di berbagai wilayah, ada 19:24 di Batam, di Sukabumi, di Yogyakarta dan 19:27 seluruh di Indonesia dan juga pendengar 19:29 dan juga pemirsa Rasil TV dan ee 19:33 streaming ee Radio Silaturahim 720 AM. 19:37 Oke, Bang. Selanjutnya nih apa yang kita 19:40 bisa ambil hikmahnya dari acara program 19:45 baru ini bahul-balulan? 19:46 Belum selesai sudah diambil hikmahnya. 19:47 Kalau diambil hikmahnya penutup ya. 19:49 Oh iya iya maksudnya tuh 19:50 udah kita jadi bahlulnya deh. Kita kita 19:53 siaran bercanda-bercanda aja siapa tahu 19:55 ada yang benarnya. Iya enggak? 19:56 Iya sih. 19:56 Kisah selanjutnya kisah selanjutnya yang 19:58 bisa kita jadiin bahlul apa nih? 20:00 Nah kita jangan bicara kisah deh. Kita 20:02 apa? 20:02 Indonesia sedang berduka dan bersedih 20:04 saat ini. 20:05 Oh iya. 20:05 Sepanjang pulau Sumatera itu. 20:07 Oh iya benar. 20:08 Karena musibah baru-baru ini. 20:09 Iya lagi 20:10 ya kan? 20:11 Iya iya iya. 20:12 Banjir. Banjir di mana-mana sampai 20:15 ngerusak. Dan yang sedihnya lagi, 20:17 sedihnya 20:19 pas ditanya kenapa ini terjadi? Bencana 20:22 alam. Ada menteri ngomong gitu enggak 20:25 mikir gitu, 20:25 enggak ada solusi. Bukan enggak mikir 20:28 ngeluar gitu. Bencana alam 20:33 dia harus mempertanggungjawabkan ucapan 20:35 dia ke Allah. Loh, 20:37 bencana alam ini. 20:38 Iya sih. 20:39 Kok murni bencana alam? Tanya ini di 20:41 luar kehendak manusia. 20:44 Tandanya ini menyalahkan 100% kejadian 20:46 ini kepada Allah. 20:47 Iya. Tapi kan seusnya ada solusi juga. 20:48 Sama aja dia menganggap Allah ini zalim 20:50 sampai bikin seperti itu. Banyak loh 20:52 yang yang jadi rugi kena musibah. 20:54 Bahkan bukan di Sumatera aja kan di 20:55 Pulau Jawa juga kan erupsi gunung. Ya. 20:58 Erupsi gunung. 20:59 Kalau gunung gunung meleduk meletus 21:01 okelah. 21:03 Tapi banjir kemarin di Sumatera. Ondi 21:07 Ondi lihat enggak di TV atau di YouTube 21:09 atau di mana? 21:10 Heeh. Apa yang dibawa oleh air banjir? 21:14 Banyak pohon-pohonan. 21:16 Kayu-kayu ngapotong. Bukan pohon loh. On 21:18 diperhatiin. Beberapa kayu gelondongan 21:20 yang sudah selesai terkuliti. Oh iya iya 21:24 iya iya iya iya. Hm. 21:26 Oke. Bisa jadi 21:29 di sana ada penebangan penebangan pohon. 21:34 Sedangkan kalau air banyak pohonnya 21:36 kurang, otomatis banjir karena tidak ada 21:38 yang menyerap air itu. 21:39 Iya. Iya. 21:40 Oke. 21:42 Bisa jadi gini. Di Sumatera ini sekarang 21:46 lagi 21:47 ee hip naik daun juga tambang. 21:53 Oke, seperti di Riau Demri ini ada 21:57 tambang boxit 21:59 sehingga di sana ada perusahaan smell 22:02 terbesar. 22:05 Di Aceh, Aceh itu daerah sangat kaya. 22:07 Sangat kaya. 22:08 Iya. 22:09 Ada emas, 22:11 ada gas. 22:12 Heeh. 22:12 Di Sumatera Barat itu di daerah 22:14 Sawalunto tuh ada tambang batu barat tua 22:16 yang sudah ada dari zaman Jepang. 22:18 Kayaknya baru sekarang ya, Bang ya? 22:20 Apanya? bencana banjir itu yang makudnya 22:22 yang sampai luas gitu 22:23 mungkin karena sekarang 22:26 over eksploitasi. 22:28 Oh, 22:30 dan begini kalau di jadi kalau Ondi 22:35 melakukan penebangan pohon 22:36 Heeh. He 22:37 untuk ee untuk kegiatan salah satu 22:41 kegiatan, 22:42 maka Ondi akan diwajibkan untuk menanam 22:44 kembali pohon tersebut. 22:47 untuk rehabilitasi lingkungan yang oke. 22:49 Iya. 22:50 Tapi seringki seringki para pengu 22:53 pengusaha 22:53 Heeh. 22:54 bekerja sama dengan penguasa 22:57 enggak melakukan itu sesuai. Misalnya 22:58 dirusak 10 23:00 yang dibetulin lima. Lima lagi tetap 23:02 rusak dong. 23:02 Iya. Iya. Sedangkan oke oni rata-rata di 23:06 tengah hutan itu kan pohon tua pohon 23:09 yang umurnya di atas 30 tahun 23:11 ditebang habis hutan jadi botak tanah 23:15 jadi botak tanahnya digali 23:17 untuk timah kah entah batu bara kah 23:20 untuk boksit kah digali dirusak 23:22 heeh 23:23 bahkan kalau pergi ke Bangka Belitung 23:26 Heeh itu 23:26 itu banyak danau-danau bekas tambang 23:28 tambang timah 23:29 heeh 23:30 ya di mana kadang-kadang ee penambang 23:32 timah lokal itu tidak memperhatikan 23:36 keamanan untuk dirinya sendiri aja 23:37 enggak diperhatikan apalagi keamanan 23:39 lingkungan mereka semprot mereka gali 23:42 mereka semprot mereka ayak segala macam 23:44 dapat timah itu 23:46 di sini juga ada, Bang tapi bukan 23:47 tambang timah kalau di daerah Cilengsi 23:49 Jonggol situ tambang pasir 23:51 nah 23:51 jadi dia tuh bekas galian-galian banyak 23:53 banget tuh 23:54 nah 23:54 seperti itu mungkin ya 23:55 terus enggak dibetulin lagi kan 23:56 kagak 23:56 ya udah gitu merusak 23:58 enggakusak 23:58 terus pertanggung jawabannya ke Allah 23:59 gimana 24:00 itu di makanya 24:01 pertanggungjawaban ke lingkungan gimana 24:02 perang kepada Allah. Oke, nyari duit, 24:03 nyari duit. Tapi jangan gitu-gitu 24:05 banget. Oke, contoh saya ambil contoh di 24:07 Finlandia. 24:08 Heeh. 24:09 Di Finlandia itu salah satu pendapatan 24:11 Finlandia itu adalah jadi dari penjualan 24:13 kayu. 24:14 Dari kayu doang tuh 24:15 kayu. Salah satu pendapatan selain dari 24:17 perikanan. 24:17 Oh. 24:19 Jadi sepanjang fin Finlandia 24:21 hutan itu yang per tahun hanya yang 24:23 boleh di tebang itu antara 5 sampai 10%. 24:27 Oh 24:27 oke. Ini ditebang. 24:28 Heeh. Berat sudah selesai mereka 24:31 mengajukan untuk perpindahan berapa 24:33 area. 24:34 Nah, sebelum melakukan e kegiatan di 24:37 area yang baru, area yang ini sudah 24:38 harus ditanami dulu. 24:39 Heeh. 24:40 Oke. Sudah selesai baru boleh pindah. 24:42 Oh, 24:43 begitu aja terus 24:45 sudah rapi baru gitu ya. 24:46 Jadi pada saat kerusakan ada 24:49 tapi di diminimalisir gitu. 24:52 Kalau kita kan banyak 24:53 dibiarin 24:54 dibiarin tetap botak, tetap gundul. 24:57 Akhirnya ngerusak semuanya. 24:59 Rusak Kalimantan segimana dengan kaya. 25:01 Kalimantan tuh kaya banget. 25:03 Iya. Tuh kalau udah kayak gitu salah 25:05 siapa tuh? Pengusaha atau penguasa? 25:07 Ya dua-duanya. 25:08 Dua-duanya. 25:09 Heeh. Yang sebenar-benarnya penguasanya 25:11 jadinya yang pengusaha 25:13 kita bisa 25:13 penguasanya bisa diduitin. Eh lu bikin 25:15 peraturan kayak gini gini gini. Ya. 25:17 Dan yang lucu 25:18 he 25:20 penguasanya ini enggak bertanggung jawab 25:24 atas jabatan yang dia pegang. 25:25 Oh. Oh, 25:27 oke. Harusnya yang diperhatikan itu ada 25:30 sumpah jabatan loh, Ni. 25:32 Iya. 25:33 Setiap menteri dilantik tuh ada sumpah 25:34 jabatan. Kalau yang agama Islam di bawah 25:36 Al-Qur'an disumpahnya. He. 25:38 Kalau yang 25:40 yang Kristen di bawah Injil apa ada 25:42 sumpah jabatan pertanggungjawabannya. 25:43 Jadi bukan hanya ke manusia tapi ke 25:45 Tuhan juga. Kalau orang Islam ke Allah 25:48 mereka siap enggak? 25:49 Iya sih, betul. 25:51 Bah Luul ini dalam banget ya Bah Luul 25:54 ya. [tertawa] 25:55 Ini miris loh bencana alam sekarang tuh 25:57 miris loh. 25:58 Iya. Iya. Iya. 26:00 Ente tuh nik kalau misalnya kita mau 26:02 ngambil emas 26:03 Heeh. 26:04 yang di atas gini rata-rata batu bara. 26:07 Tambang batu bara tuh atasnya batu bara 26:10 boksit. 26:12 Oh boksit. 26:13 Yang saya tahu ya. Yang saya benar-benar 26:15 yang alhamdulillah Allah kasih 26:17 kesempatan saya mengetahui itu batu 26:19 bara. 26:19 Heeh. 26:20 Boksit. 26:20 Boksit. 26:21 Nikel. atasnya biasanya pohon-pohonan. 26:25 Oh, 26:26 sebelum digali. 26:26 Sebelum digali ya. 26:27 Iya. Jadi kalau mau digali apa yang 26:30 dilakukan? Pohon. Cebret. Oke. 26:36 Ini kalau ada orang pemerintah yang 26:38 dengar harus jujur. Berapa berapa berapa 26:42 ribu kubik pohon yang kalian 26:44 kongkal-kongi 26:46 supaya pohon itu bisa dijual? Padahal 26:48 tidak masuk daftar untuk pajaknya. Oh. 26:54 Pohon ditebang, dikumpulin. 26:57 Ada yang punya HPH. 26:58 He. 26:58 Kalau yang punya HPH mereka akan 27:00 mengelola kayu-kayunya. 27:01 Kalau yang enggak 27:03 enggak kok enggak ada. Selesai. 27:06 Fakta ini. Fakta. Faktanya emang begitu. 27:11 Oke. Oke. Jadi izinnya untuk tambang 27:16 duitnya dari ini, dari ini, dari ini. 27:19 Dari kayunya diambil. Iya. 27:23 Ya walaupun enggak bisa 100% berapa 27:24 persennya. 27:25 Kalau di situ ada masih tersimpan cacat. 27:27 Saya bilang pasir mungkin dari pasirnya 27:29 juga gitu. 27:29 Bisa jadi contoh kita ambil contoh lagi 27:31 ini kebanyakan contoh ya. 27:33 Iya enggak apa-apa kan gitu. 27:35 Saya saya dapat data mengenai Iupiup 27:37 yang ada di Maluku Utara. 27:39 Oh Iup. 27:39 Oke. Iup yang ada izin usaha 27:41 perusahaan pertambangan. Pertambangan 27:43 pertambangan yang ada di Maluku Utara. 27:46 Ada satu daerah namanya Kabupaten 27:50 Taliabo. 27:51 Taliabo. 27:52 Taliabo. 27:54 Kabupaten Taliabu itu punya berapa? 27:56 Berapa puluh IUP? 27:59 IUP ini di e yang ngurus adalah mantan 28:01 bupati, 28:02 He. 28:03 Mantan-mantan bupati, 28:05 dan keluarga-keluarganya. 28:07 Oh, 28:08 yang ditulis izinnya adalah untuk Iron 28:11 OR, 28:12 Iron Sand, nickel. 28:14 Nickel. 28:16 Pada beberapa waktu yang lalu saya dapat 28:18 info dari salah satu pejabat ES di ESDM 28:22 menyatakan bahwa itu sebetulnya emas. 28:25 Oh, sama dia dirubah 28:27 dari izinnya aja sudah bohong. 28:28 Oh. 28:30 Dan yang lebih gila lagi di daerah itu 28:33 ada perumahan rakyat 28:35 tapi pada pada peta produksinya 28:37 perumahan itu desa itu dianggap enggak 28:39 ada, enggak ada penduduknya. 28:40 Oh, segitu. 28:42 Zalim enggak? 28:42 Zalim banget lah itu. 28:43 Heeh. Rentetan kezalimannya banyak 28:45 banget. 28:45 Banyak banget itu. Ih. Dan itu fakta. 28:49 Ada 28:49 fakta. Fakta. 28:51 Oh ini mau lihat datanya. Ada tuh 28:53 datanya di handphone saya. Saya kasih 28:54 lihat. 28:54 Enggak. Enggak. Nanti aja. Nanti aja. 28:56 Nanti aja. 28:56 Fakta. 28:57 Fakta itu. 28:58 Makanya 29:00 ya saya agak saya lumayan mengapresiasi 29:02 apa yang Presiden saat ini lakukan ya. 29:05 Banyak yang dibongkar segala macam ya. 29:07 Tapi menurut 29:08 baru satu kasus tuh ya. 29:09 Itu baru satu kasus. Baru satu daerah. 29:11 daerah itu. 29:15 Dan yang lucu 29:17 berusahanya di kegiatannya di satu 29:20 daerah. 29:21 He. 29:22 Tapi perusahaannya 29:24 dan nomor NPWP-nya ada di Jakarta. 29:26 Eh, 29:28 pajaknya masuknya ke Jakarta. Daerah 29:31 yang dirusak enggak dapat apa-apa. 29:32 Iya. Ya, 29:33 ada satu daerah Talibo itu. Oh, pergi 29:35 sekarang deh ke sana. Pergi ke sana. 29:37 Enggak, enggak bisa kan lagi siaran ini 29:38 kita. 29:39 Habisaran pergi ke sana ya. [tertawa] 29:41 Boleh boleh boleh boleh modalin. 29:43 Miris di miris loh 29:45 miris. He 29:46 itu tanah jalannya hancur-hancuran 29:48 segala macam. 29:49 Heeh. 29:50 Miris nih. 29:51 Enggak enggak diperhatiin sama sekali 29:53 dari hasil pertama itu. 29:55 Tapi Bu pejabat-pejabatnya kaya. 29:59 Berarti cuma memperkaya diri sendiri 30:00 doang tanpa memperhatikan. 30:01 Iya. Itulah. Makanya apabila Rasulullah 30:04 sudah ngomong nih 1400 tahun yang lalu, 30:06 apabila intinya kalau kalian 30:10 ngasih sesuatu 30:11 yang 30:11 kebijaksana kebijakan kepada orang yang 30:14 bukan ahlinya rusak 30:16 rusak 30:17 dan itu kebukti 30:17 kebukti 30:21 parah sih itu. 30:22 Jadi hal terkecil misalnya ee jadi ketua 30:24 kelas. 30:25 Heeh. 30:26 Kalau yang dipilih jadi ketua kelas 30:27 emang orang yang enggak punya jiwa 30:28 pemimpin. Jangan. 30:29 Jangan nanti rusak. 30:30 Jangan. Contoh tadi sahabat Rasul. He 30:33 ini orang alim, orang saleh, 30:35 orang baik. 30:36 Dekat sedekat itu 30:37 sedekat itu dengan Rasulullah. 30:39 Tapi karena kedekatan Rasulullah tahu 30:41 kamu ini orang baik beneran tapi kamu 30:43 sayang. Kamu niak enggak bisa mimpin. 30:46 Enggak semua orang dijadikan setiap 30:48 orang dijadikan pemimpin. 30:49 H. 30:50 Oke. Tapi bisa jadi level pimpinan itu 30:53 berbeda-beda. Siapa tahu kita cuma jadi 30:56 pimpinan dalam sebuah geng. He. 30:58 Oke. Ini kan nge-geng nih tarik-tarikan 31:00 sampai jatuh segala macam. Geng motor 31:02 nih. ND nih. 31:03 Bukan belum begal kan? Di [tertawa] 31:05 jangan begal nih. Jangan begal. 31:08 Bisa jadi pemimpin di geng begal itu. Eh 31:10 geng motor itu. [tertawa] 31:12 Geng motor itu. 31:14 Tapi Oni mungkin belum bisa jadi 31:15 pemimpin di tempat lain. 31:16 Tempat lain. 31:17 Kecuali Oni bisa meng-upgrade diri 31:19 sendiri. 31:19 Betul. Tunggu ngomong tangan kenapa itu 31:22 tangan 31:22 ini. 31:23 Iya. [tertawa] berantem sama geng 31:24 begalnya onya 31:27 kenang iman. Oh, ada laporan ke saya 31:30 ini ada orang gendut kena bacok gitu ya. 31:32 [tertawa] 31:33 Orang gendut kena bacok. Oh, pantes. Oh, 31:36 gitu. Saya kepala gengnya 31:39 geng begal. 31:40 Ya Allah. 31:41 Tapi benar ya, bencana alam di Sumatera 31:43 ini dan Pulau Jawa ini cukup menyedihkan 31:45 ya. 31:46 Ya, semoga ini teguran ini dijadikan 31:50 bahan introspeksi. Yang pasti jangan 31:52 nyalahin Tuhan. Itu pejabat yang ngomong 31:54 ini karena bencana al bencana alam. Iya, 31:56 itu bencana alam. Tahu itu bencana alam. 31:59 Orang pintar nyari bencana alam itu 32:01 karena apa? 32:01 He, berarti PR-nya itu untuk kita semua 32:05 hewan dan HWAT itu jaga lisan sebelum 32:07 kita berbicara gitu ya. 32:08 Oh, iya dong. 32:09 Berpikir dulu sebelum kita. 32:10 Apalagi kalau kalau kalau sudah punya 32:12 jabatan harus dong mikir apa yang harus 32:14 diomongin ini pantas enggak diomongin 32:15 ini segala macam. 32:16 Kita flashback juga kasus yang kemarin 32:17 tuh sampai di zarah-jarah rumah pejabat 32:20 tuh kan 32:21 itu kan gara-gara lisannya juga kan yang 32:23 saya juga enggak tahu itu fak e 32:24 maksudnya hoak atau enggak. Cuma yang 32:25 jelas g-gara videonya itu apa? Viral 32:28 balik lagi ke viral. 32:29 Terus juga dia ngomong ucapannya itu 32:32 mungkin menyinggung rakyat. Akhirnya kan 32:34 terjadi seperti itu gitu. 32:36 Iya. Kita ingat gini aja kita berbicara 32:38 yang rusuh kemarin. 32:39 Heeh. Rusuh kemarin. 32:40 Tidak ada asap tanpa api. 32:42 Api. Betul. 32:44 Kita kita enggak bisa pungkiri 32:46 Heeh. 32:46 Tingkah laku. Maaf ya para pejabat DPR. 32:49 Heeh. 32:50 Ini tingkah kalian ini seringkiali 32:52 menyakiti kami. 32:53 Oh. Oke, 32:54 kita mewakili rakyat. 32:55 Tapi saya menyalahkan kepada rakyat 32:57 sendiri. 32:58 Kenapa tuh? 32:58 Kenapa kalian milih orang yang kalian 33:00 enggak kenal dengan duit Rp50.000, 33:02 R200.000? 33:03 Iyalah 33:04 atau ini ini juga ada kejadian benar. 33:07 Saya kenal seseorang yang tinggal di 33:10 Tangerang Selatan. He he. 33:12 Ini orang dari muda tinggal di Tangerang 33:14 Selatan aktif membantu masyarakat segala 33:16 macam. 33:16 He. 33:17 Oke. 33:19 Sempat menjabat jadi anggota DPRD Kota 33:22 Tangsel. He. 33:25 Lantas 33:27 kemarin itu didorong oleh partainya 33:29 setelah jadi pejabat DPRD Kota Tangsel 33:31 menjabat sebagai DPRD Provinsi Banten. 33:34 Heeh. 33:35 Lantas dipimpin oleh partainya untuk ke 33:36 DPR RI. 33:37 He. 33:38 Oke. Cuman beliau ini He. 33:41 Enggak banyak duit. Bukan orang banyak 33:42 duit. Emang aktivis. Aktivis 33:45 banyak yang yang dia bantuin banyak. He. 33:47 Enggak ada enggak lolos. Cuman karena 33:49 kenapa? sampai keluarga keluar orang 33:52 yang pernah dia bantu 33:54 ngegerakin masa untuk milih orang lain 33:56 karena dapat duit. 33:58 Iya. Iya. 33:58 Ya kan? 34:01 Ada istilah begini dalam Islam, pimpinan 34:03 itu cerminan dari masyarakatnya. 34:05 Masyarakat. 34:06 Kalau kalian ngerasa pemimpin DPR ini, 34:08 anggota-anggota DPR ini banyak yang 34:09 kacau, banyak yang enggak benar, kalian 34:11 salahnya masyarakat. 34:14 Berarti kita juga sebagai rakyat juga 34:16 harus bijak dalam memilih pemilik. 34:17 Haruslah, harus. Dia harus tahu bebas 34:19 bibitbit bebutnya. 34:20 Harus harus. Bagi saya sih kalau dikasih 34:23 duitnya ambil aja tuh duitnya. Jangan 34:25 pilih orangnya tandanya udah enggak 34:26 benar ya. Walaupun enggak boleh 34:27 sebetulnya di enggak boleh ni. Enggak 34:29 boleh terima sogokan. Enggak boleh 34:32 tapi terima sogokan itu enggak enggak 34:33 dosa n 34:35 apa tuh? 34:35 Enggak dosa 34:36 lu disogok tuh enggak dosa dosa. 34:38 Heeh. Tapi masuk neraka. [tertawa] 34:41 Ada jaminannya ya masuk neraka. 34:43 Iya yang nyogok dan nerima sogokan di 34:45 neraka tempatnya. Enggak dosa kok. Iya 34:48 dosa cuman 34:48 cuman direct gitu. [tertawa] 34:52 Aduh ya Allah iman dan amat. Jadi kita 34:54 tuh harus bijak dalam memilih dan juga 34:58 dalam menentukan sikap. Bukan itu ya 35:00 angkel firman ya. Ini kita sudah lama 35:02 banget ini kita enggak siarin ini. Jadi 35:03 jadi grogi ya 35:04 grogi gua gitu kan. 35:05 Apalagi tatap-tatapan sama [tertawa] Oi. 35:06 Aduh 35:10 kok bisa gitu loh. Aduh lagi kenapa sih 35:13 begini gitu kan settingannya gitu kan. 35:15 Enak enakan ginilah. Jadi kalau habis 35:18 siaran ini kesal kan kita bisa langsung 35:19 berantem. [tertawa] 35:22 Saya kan jadi malu gitu kan tetap sama 35:24 anggelan guru saya beliau masalahnya 35:26 gitu. 35:27 Gua pengin binak deh ini benar [tertawa] 35:29 bukan parang bukan kan bukan parang 35:31 bedak dulu parang sesi berikut parang. 35:34 [tertawa] 35:35 Oke Dakwat kita masih ngobrol di acara 35:38 Bahlul Bahlulan. Ee dulu 35:40 nanti dulu bagi Iwan yang pengin 35:43 ee mengirimkan pesan ataupun memberikan 35:46 komentar silakan di 35:47 ngirim makanan boleh enggak? 35:48 Ng makanan boleh boleh banget. [tertawa] 35:51 Boleh banget bisa dikirimkan melalui 35:53 nomor telepon atau WA 0811999720. 35:59 Ee tapi kita tidak membuka layanan 36:01 telepon ya Iwan dan Nawat karena ini 36:04 enggak live. 36:05 Enggak live akan dibacakan di sesi 36:07 berikutnya. 36:07 Di sesi berikutnya. Nah, jadi kalau Iwan 36:08 Ah mau ngirim pertanyaan atau komentar 36:11 atau Iwan Ahwad mau ngasih masukan 36:14 silakan di nomor WA tadi 0811999720. 36:20 Selanjutnya apa lagi nih? Bang 36:21 enggak break dulu. 36:22 Break dulu. 36:23 Break dulu deh. Gua mau minum. [tertawa] 36:24 Ternyata aus juga enggak firman. Bukan 36:26 masalah aus tapi groginya. 36:28 I grogi benar. 36:29 E karena saling tetap-tatapan. 36:30 Iya benar. 36:31 Oke. Iya lagi ya. Oke, jangan ke 36:33 mana-mana tetap di radio silaturahim di 36:36 acara Bahlul Bahlulan tetap stay di sini 36:39 saja. 37:26 [musik] 37:29 Brail TV. 37:36 Oke, balik lagi Iwan Wan dan Akwat 37:38 bareng saya Ondi Saputra di acara Bahlul 37:41 Bahlulan. Bagi Iwan dan Ah yang ingin 37:42 mengirimkan pesan SMS, silakan kirim ke 37:45 0811999720. 37:49 bisa nulis komentar ataupun kasih 37:52 masukan dan juga pertanyaan nanti kita 37:54 akan bacakan di segmen berikutnya, di 37:57 sesi berikutnya. Ee tadi kita sudah 38:00 membahas masalah ee Bahlul memberikan 38:04 balik ke raja, terus juga kita bahas 38:05 masalah banjir, ee masalah bencana, 38:09 pokoknya kita bahasanya itu sangat 38:13 relevan dan sangat keren. 38:16 Oh, ini bahasa geng, ketua geng motor 38:19 bahasanya. 38:19 Jangan gitu dong. Eh, ini korbannya. 38:22 [tertawa] 38:23 Oke, kita lanjut saja. kita ada mau saya 38:27 sebenarnya pengin nanya sih, Bang. 38:28 Jangan susah-susah 38:29 enggak? Enggak susah. 38:31 Yang saya ingin tanyakan itu 38:34 kenapa sih maksudnya itu di 38:38 Indonesia lah kita ambil Indonesia 38:39 jangan jangan dunia ya. Di Indonesia itu 38:41 para pejabat atau penguasanya itu mereka 38:44 lebih mementingkan diri sendiri tanpa 38:47 memikirkan masyarakatnya gitu. Sedangkan 38:50 kan mereka kan pasti kan sebelumnya kan 38:53 ingin memakmurkan dia janji atau apa 38:55 lagi tapi ternyata tidak. Nah, itu apa 38:58 sebabnya, Bang? Apakah karena hatinya 38:59 itu udah terkotori oleh hal-hal yang 39:03 dapat masukan dari orang sekitar atau 39:05 emang ada niat tersendiri? 39:08 Kenapa itu dia? 39:08 Nah, itu makanya 39:09 kenapa ya? 39:11 Enggak ngerti juga ya. 39:12 Iya. Kalau saya kalau kalau jawaban saya 39:15 itu kalau saya mikirnya gini, 39:16 kalau orang yang enggak megang sumpahnya 39:19 Heeh. Enggak takut pada tanggung jawab 39:21 yang diberikannya, enggak takut pada 39:22 amanahnya. He. 39:24 Mereka melanggar amanah, melanggar 39:26 sumpah, enggak melakukan pekerjaan 39:29 sebaik-baiknya. Simpel kok begitu. 39:32 Enggak takut Allah. 39:33 Oh, berarti enggak ada Allah di hatinya. 39:36 Yah, boro-boro Allah di hatinya. Enggak 39:38 takut. Enggak takut. 39:41 Enggak takut. Kalau kalau Allah aja 39:43 enggak ditakutin, apalagi yang lain ya. 39:46 Kalau Allah aja enggak ditakutin, dia 39:48 akan mencari celah kesempatan untuk 39:50 mengkhianati atasannya. 39:51 Oh, iya. 39:56 Bocoran dikit nih. Bocoran dikit. Apa 39:57 tuh? Seru nih. 39:58 Tapi jangan jangan beredar ya. 40:00 Tapi ini fakta. 40:01 Iya. Apa 40:02 ada di suatu di sebuah kementerian 40:04 jangan jangan beredar nih. 40:06 Karena ini bahasa politik nih. Bahasa 40:08 kita juga 40:09 ada di di sebuah kementerian 40:11 yang menterinya lagi digoyang untuk 40:13 diganti. 40:14 Oh. 40:14 Yang ngegoyang siapa? geng wakilnya. Eh, 40:17 karena ingin naik ke atas. 40:19 Iya. 40:19 Oh, 40:20 jangan kesebar. 40:23 Info valid nih. 40:25 Valid, valid. Valid. Enggak bohong. 40:28 Beneran. 40:28 Dan kayaknya rata-rata nih yang saya 40:30 tahu, Bang, itu kayaknya enggak cuman di 40:32 kementerian aja deh. Di setiap di setiap 40:35 pemerintahan 40:36 kan gua mainnya sama menteri. Oh, iya. 40:38 Sombong amat. 40:38 Sombong amat [tertawa] ya. 40:41 Sombong amat ya. Iya. Tapi yang saya 40:43 tahu juga begitu. Jadi setiap ada ada 40:46 ketua, ada wakil. Nah, itu wakil pasti 40:48 pengin menggeser ketua, pengin naik 40:50 gitu. 40:50 Itu itu kalau orang enggak takut sama 40:51 Allah, 40:52 kalau orang enggak ya bermental khianat. 40:58 Kalau orang bermental khianat itu 40:59 jabatan itu bukan sebagai suatu amanah, 41:02 tanggung jawab, tapi batu loncatan untuk 41:04 loncatan lebih tinggi. 41:05 Iya. Lagi 41:06 padahal makin tinggi jabatan makin berat 41:07 nih. 41:08 Iya. 41:09 Ondi nih nikah. 41:11 Hm. jadi pemimpin buat istri Ondi. He. 41:14 Oke. 41:15 Bebannya X. 41:16 Heeh. He. 41:16 Punya anak satu. 41:17 Heeh. 41:19 Tambah beban enggak? 41:21 Tambah beban. 41:22 Tambah anak lagi, tambah beban lagi. 41:24 Sebetulnya semakin banyak yang kita 41:26 pimpin, beban kita makin berat. 41:28 Iya. Tapi kalau kita serahkan ke Allah, 41:31 kuncinya itu. 41:33 Oh. Iya. 41:33 Jadilah orang yang bertakwa. Kan 41:35 bertakwa. Apa nih? Ngetopnya ayat 1000 41:39 dinar. Eh, 41:43 barang yang bertakwa kepada Allah, 41:46 ya kan? Apa tuh artinya? Barang yang 41:48 bertakwa kepada Allah maka akan Allah 41:49 berikan 41:50 jalan keluar atau segala masalahnya. 41:52 Kuncinya di takwa. Takwa itu apa? 41:56 I menyerahkan. 41:58 Paham? Kita harus oni memahami takwa itu 42:02 mungkin deep ya. Deep agak dalam. 42:05 Jadi oni itu kalau takwa itu bagaimana? 42:07 Ondi ingat enggak waktu Ondi PDKT sama 42:10 calon istri Ondi? He. 42:12 Ondi apakah melakukan apapun supaya 42:14 calon istri Ondi itu jatuh cinta ke Ondi 42:17 dan tidak melirik ke orang lain? 42:19 Sehingga Ondi minta apapun dia dia mau 42:22 turutin. Sehingga calon istri Ondi itu 42:24 begitu sayangnya ke Ondi karena Ondi 42:26 melakukan yang terbaik 42:29 untuk calon Ondi sehingga dia tidak 42:31 melirik ke orang lain. 42:33 Coba kita artikan takwa dengan bahasa 42:35 simpel itu. 42:36 Kita lakukan hal yang terbaik agar Allah 42:39 mencintai kita sedemikiannya sehingga 42:41 kita terbersit sesuatu aja Allah sudah 42:44 tahu. Ini paling enak kalau sudah 42:47 dictain Allah. 42:48 Iya. 42:50 Mungkin setiap orang akan naik level 42:54 hidupnya. 42:54 He. 42:55 Allah akan menguji seorang sesuai 42:56 kemampuannya. Oke. Kalau keimanan kita 42:59 sudah mulai naik, Allah akan 42:59 mengujiannya lebih berat. He. 43:01 Tetapi yang unik dari ujian Allah, ini 43:03 pernah kita bahas di acara santu 43:05 santu. 43:06 Yang unik dari ujian Allah, siapapun 43:08 yang diuji akan lulus 43:11 dan enggak tahu kapannya. Pokoknya gini 43:16 kunci ni 43:17 yang tadi wam yattaqillahajalahu mak 43:21 di bisa jadi sesuatu yang oni anggap 43:24 ringan tapi berat di orang lain 43:27 mungkin jadi sebaliknya bisa jadi 43:29 kalau oni bertakwa kepada Allah akan 43:32 diuji 43:33 tapi ujian itu akan menjadikan Ondi 43:35 bukan merasa tersiksa tetapi mendekatkan 43:38 ondi kepada Allah 43:38 lebih 43:41 iya iya 43:41 kita ini kadang-kadang ngerasa, "Wah, 43:44 ini ujian." Eh, tapi siapa tahu bisa 43:46 jadi ini hukuman loh karena dosa kita 43:48 yang banyak. 43:49 Nah, itu 43:50 pede banget loh kayak kayak kesalehan. 43:52 Tapi enggak kalau kita berusaha kan 43:54 Allah gini, 43:56 kita harus rajin bertobat ya kan. Allah 44:00 mencintai orang bertobat. Bahkan ada 44:02 satu hadis simpel bahasa simpelnya 44:04 Rasulullah bertobat kepada Allah lebih 44:06 dari 70 kali dalam sehari. Rasulullah 44:10 gimana kita ya 44:11 Rasulullah 44:13 jadi bahasa simpelnya ya terang aja 44:15 masuk surga tobatnya sebanyak itu, 44:17 akhlaknya sebaik ini, amalnya sebanyak 44:19 itu, salatnya sampai kakinya bengkak ya 44:21 pasti aja masuk surga. 44:24 Kita enggak usah seperti kadang ada 44:26 amalan-amalan yang di wajib bagi 44:28 Rasulullah, bagi kita sunah 44:30 saking sayangnya Allah kepada kita gitu. 44:34 Simpelnya kita bisa enggak jadi orang 44:35 bertakwa? 44:37 Bisa. 44:38 Dan Allah menghargai loh usaha orang di 44:40 Iya iya iya. 44:41 Oke. Sekarang nih ya Allah saya ingin 44:43 memperbaiki diri saya supaya mendapatkan 44:46 cinta dan kasih sayang Allah. Saya akan 44:49 rajin salat awal waktu. Niat oni salat 44:53 awal waktu. Udah udah terbiasa 44:56 oni naikin. Mau ngerjain sunahnya juga 44:59 deh. Tambah duhanya deh. Tambah 45:02 tahajudnya deh. Tambah puasa Senin 45:04 Kamisnya. Kan Allah ngelihat usaha Allah 45:07 itu memperhatikan usaha hambanya. Enggak 45:08 kayak manusia 45:10 harus jadi penjilat dulu baru 45:11 diperhatiin. 45:12 Perhatiin. Dan itu banyak lagi 45:15 ya banyak lagi [tertawa] 45:17 sedangkan kalau jadi ibaratnya jadi 45:19 penjilat ke Allah pasti diperhatiin 45:21 dan pasti apa yang kita kasih apa yang 45:23 kita mau dikasih. 45:24 Allah akan memperhatikan. 45:25 Iya. 45:27 Ente pernah dengar? Ah jangan deh yang 45:30 lain aja dulu. [tertawa] 45:33 Apa tuh? Jadi pemimpin-pemimpin ini di 45:35 seharusnya mereka pada saat diberikan 45:37 pimpinan contoh 45:39 jadi menteri ESDM karena tadi Ondri 45:42 nyebut 45:43 di awal 45:43 Bahlil 45:44 Bahlil 45:45 Menteri ESDM 45:47 kalau dia orang beriman 45:48 he 45:49 yang yang harus dilakukan pertama kali 45:51 pada saat menerima jabatan itu 45:52 beristigfar 45:54 karena dia akan mendapat ujian yang 45:56 berat. 45:57 Iya. 45:57 Satu dia harus memperkuat imannya. Dia 46:00 harus berbuat baik. Dia perhatikan 46:02 benar-benar segala macam. Dan orang 46:04 beriman kalau enggak sanggup akuin. 46:07 Datang presiden misalnya, "Pak, saya 46:09 kayaknya enggak sanggup nih. Berat 46:11 banget bagi saya ini. Saya enggak 46:12 sanggup seperti ini." Ada enggak yang 46:14 kayak gitu zaman sekarang? 46:15 Enggak ada. 46:16 Enggak sanggup aja dibilang sanggup. 46:17 Kok perlu dia? 46:19 Wah, pengin jadi ini pengin kok perlu 46:20 jabatan itu dipakai untuk memperkaya 46:22 dirinya. 46:22 Iya. 46:25 Dan kayaknya dia tuh kalau udah 46:26 mendapatkan jabatan tuh kayak enggak mau 46:28 lepas gitu, Bang. 46:28 Oh, iya. dia itu penginnya ngejabat 46:30 terus gitu kan. Gimana caranya? 46:31 Saya saya pernah saya pernah ketemu 46:36 ada seorang bupati nih. 46:38 Heeh. 46:39 Waktu mau ke periode keduanya dia 46:40 bilang, 46:42 "Tadinya ada orang yang bilang jabatan 46:45 itu enak." 46:46 Heeh. Ternyata 46:50 ternyata enggak gitu, Pak. Enggak 46:51 begitu. Oh, gitu, Pak. He, 46:53 ternyata enak banget. [tertawa] 46:56 Buset itu berat loh. 46:58 Kok bisa ya 46:59 jabatan itu berat 47:00 ya? Kok bisa dia ngucapin seperti itu 47:02 gitu 47:02 ya? Karena nikmatin. 47:03 Iya sih 47:04 asalnya tanahnya rumahnya tanahnya 500 m 47:08 sekarang jadi lebih. Asalnya mobilnya 47:10 apa jadi ini jadi ini 47:12 kayaknya. Iya. 47:13 Karena kenikmatan di surganya dia ada di 47:15 dunia. 47:15 Iya sih. 47:16 Padahal dunia ini adalah tempat 47:18 pelintasan. 47:19 Pelintasan. I 47:20 pelintasan ibaratnya jembatan. Karena 47:22 kita lahir jembatan ini di dunia nanti 47:24 endingnya di akhirat. 47:25 Berarti para pejabat sekarang ini 47:28 jangan pejabat mulu. Kita sendiri juga 47:29 begitu sering kali. 47:30 Iya sih. Berarti kita 47:31 kayak oni aja kan dapat kesempatan 47:33 ngumpulin orang jadi ketua geng begal. 47:35 [tertawa] 47:36 Nanti saya bik lagi ya. 47:38 Berarti berarti kita sendiri tuh tanpa 47:40 pernah berpikir beban ya kalau seperti 47:43 itu 47:44 harusnya jabat jabatan itu kan amanah. 47:46 Iya. Maksud kita tuh kayak 47:49 kayak ya udahlah akhirnya kita menikmati 47:52 dan yang yang ada memperkaya diri kalau 47:54 pejabat ya 47:55 akhirnya mereka lupa gitu. Wih si ini 47:59 jadi menteri saya dekat nih 48:01 kita manfaatin lah masuk kelompok dia 48:03 walaupun jadi walaupun berbuat zalim. 48:07 Berarti kalau saya jadi ketua geng 48:09 begal, Bang Iman mau masuk 48:11 ini [tertawa] Wani Piro 48:14 jadi bel sehat. Terus lanjut lanjut. 48:17 Ini pernah kejadian? Ini benar pernah 48:18 kejadian 48:19 apa tuh? Apa tuh? 48:20 Ini jangan disebar lagi nih karena ini 48:21 A1 nih. Info A1. He 48:24 ih banyak info A1 nih di sini nih. 48:25 A1 ini acara ini. Info A1 semua. 48:27 A1 semua nih. 48:28 Satu semua. Mudah-mudahan Rasil agak 48:30 digerebek ya. [tertawa] 48:33 Aduh. Aduh. 48:36 Ondi tahu minyak subsidi pemerintah? 48:37 Enggak 48:38 tahu. 48:38 Apa namanya? 48:39 Minyak saya. Minyak kita. 48:41 Minyak kita. Oke. 48:42 Aduh. Aduh. Terus terus 48:43 ini info satu nih. 48:44 Info satu. 48:46 Saya melihat dengan mata kepala sendiri. 48:47 Heeh. Apa? Oh. Langsung 48:49 ada ribuan liter liburan bungkusan 48:52 minyak. 48:53 Minyak apa? 48:53 Minyak kita. 48:54 Minyak kita dibawa ke rumah salah satu 48:56 orang menteri periode yang lalu. Bukan 48:57 yang sekarang. 48:58 Oh, yang lalu. 48:59 Yang lalu. 48:59 Ribuan. 49:00 Ribuan. 49:00 Ih. pada saat era kampanye. 49:03 Wih. Oh, saat kampanye. 49:05 Nanti kalau enggak kalau enggak siaran 49:07 saya kasih tahu rumah rumahnya di mana. 49:09 Off air. Off. 49:09 Offir. Saya tunjukin di rumahnya. Nama 49:12 nama pejabatnya ini. 49:15 Enggak mikirin tuh. Itu rumah subsidi 49:16 buat orang buat masyarakat loh. 49:18 Iya, minyak subsidi buat masyarakat itu. 49:19 Iya. 49:19 Tapi dibawa 49:20 dibawa 49:21 dan enggak beli. 49:23 Wallahualam bisowab. Harusnya enggak 49:24 boleh ditimbun kayak gitu dong. Iya sih 49:26 benar sih 49:26 kan jadi hilang di pasaran jadi apa itu 49:29 orang enggak enggak takut di Iya 49:31 walaupun dibeli juga tetap salah. Iya 49:32 iya benar ben 49:33 takut sama Allah. Nah 49:34 iya 49:34 saya baca lagi satu hadis dari 49:35 Rasulullah. 49:36 Apa tuh? 49:37 Rasulullah berkata begini. Akan ada 49:40 setelah setelahku nanti 49:41 He. 49:42 Para pemimpin yang berdusta. 49:43 Heeh. Barang siapa masuk pada mereka, 49:46 maksudnya ngegeng masuk mereka lalu 49:49 membenarkan 49:50 dalam kurung menyetujui kebohongan 49:51 mereka 49:52 dan mendukung kezaliman mereka, 49:54 maka dia bukan dari golonganku 49:57 dan aku bukan dari golongannya. 50:00 Dan dia tidak bisa mendatangi telagaku 50:02 di hari kiamat eh di hari kiamat. Dan 50:05 barang siapa yang tidak masuk pada 50:06 mereka pada penguasa itu dan tidak 50:09 membenarkan kebohongan mereka dan juga 50:11 tidak mendukung kezaliman mereka, maka 50:14 dia adalah bagian dari golonganku dan 50:16 aku dari golongannya dan Ia akan 50:18 mendatangiku di telagaku di hari kiamat. 50:23 Ondi punya punya sahabat menteri. 50:26 He 50:28 diakuin bahwa Oni orang terdekatnya 50:30 menteri. 50:32 Ondi ikut terlibat dan tidak pernah 50:36 menasehhati pejabat itu melakukan 50:37 kezaliman. 50:39 Ondi diakuin orang dekatnya, tapi Ondi 50:41 tidak diakui umatnya Nabi, golongannya 50:44 Nabi Muhammad. Mau enggak? 50:45 Gagak lah. Kita di dunia ini kan umat 50:48 Nabi Muhammad. Kita pengin diakuin sama 50:50 Nabi Muhammad. 50:50 Iya. Ya kan? Sekarang kalau kita cuman 50:54 pengin diakuin sama manusia tapi kita 50:56 tidak diakui oleh Nabi Muhammad apalagi 50:58 tidak mendapatkan syafaatnya buat apa? 51:00 Wah tuh 51:02 kalau bukan golong Nabi Muhammad 51:03 kira-kira Nabi Muhammad mau kasih 51:04 syafaatnya enggak? Kagak 51:05 lah. Kagak bakal 51:07 makanya buru-buru tobat 51:08 nah itu 51:09 sebelum meninggal. 51:09 Iya Allah sangat baik akan memberikan 51:12 kesempatan manusia untuk tobat selama 51:14 nyawanya belum sampai kerongkongan. 51:16 Iya. 51:16 Pertanyaannya tahu enggak kita mati 51:18 kapan? Enggak tahu. Nah, itu 51:22 kita harus siap-siap. Kita mati kapan. 51:25 Ibaratnya kayak gini. 51:26 Gimana 51:27 dulu G SMA 51:29 e ada teman yang gini, "Udah kita mas 51:31 kalau maksiat masih muda maksiat dulu. 51:33 Nanti pas sudah tua sebelum mati kita 51:35 tobat." Ternyata ni teman saya banyak 51:37 yang meninggal muda ni. 51:38 Ada teman saya meninggal pada saat 3 51:40 SMA. Ada yang teman saya meninggal pada 51:42 saat semester 1. Ada sem ada teman saya 51:44 meninggal baru lulus kuliah. Ada teman 51:48 saya meninggal di pertengahan kuliah. 51:51 Berarti bahasa tadi enggak berlaku tuh. 51:53 Tunggu tua sebelum meninggal. Enggak 51:55 meninggal. Enggak 51:56 tua tobat 51:58 meninggal enggak? 51:59 Saya ada kerabat meninggal umur 41. 52:04 Ya emang kematian itu kita enggak tahu 52:06 kapan. 52:07 Ada orang lagi sehat, lagi duduk 52:08 ketawa-tawa, terjin olahraga, istirahat 52:11 sebentar meninggal. Ada 52:13 meninggal itu enggak tunggu sakit. 52:14 Meninggal itu enggak tunggu tua. 52:15 Tua. 52:18 Jadi kita harus siap posisi kapan kita 52:20 meninggal 52:21 ya. Seperti buah kelapa aja gitu ya. 52:23 Apa enggak nyambung gua? 52:24 Buah kelapa kan kadang-kadang yang masih 52:25 muda aja jatuh. 52:26 Wah gitu ya. 52:27 I kan yang masih pentil jatuh. Yang 52:30 belum belum tentu yang sudah tua jatuh 52:31 belum. Hm. 52:33 Iya kan? Yang masih pentil jatuh, yang 52:35 masih muda jatuh, yang setengah jatuh. 52:37 Allah bisa menciptakan, menjadikan 52:39 sesuatu tanpa sebab. 52:40 Iya. 52:42 Allah bisa meningkat langit tanpa tiang. 52:44 Tiang. Nah, itu masyaallah. 52:47 Andai kita tahu nih, andai saya dikasih 52:49 tahu ya. 52:50 He, 52:50 man, umur firman itu sampai 65 tahun. 52:53 E, 52:54 wow. 52:55 Kebaikan terus. 52:56 Oke. Tahun segini kita bikin 52:57 macam-macam. Tahun segini gini ini 52:59 stoba. 53:00 Iya. 53:01 [tertawa] 53:02 Udah di ini duluan ya, diplan duluan. 53:04 Diplan duluan. 53:05 Kita enggak tahu. Siapa tahu pas lagi 53:06 bikin maksiat kita langsung meninggal 53:08 gimana. 53:09 Iya sih, benar sih. 53:10 Sebetulnya setiap orang yang masih 53:11 bernafas sampai saat ini itu bukti cinta 53:14 Allah kepada hambanya. Jangan buat 53:16 maksiat. Perbaikin diri. Sekecil apapun 53:18 Allah hargai. 53:21 Iyalah Ki. 53:22 Iya. 53:23 Tapi dari tadi kita ngritik pejabat 53:26 menteri apa kita sendiri gimana? 53:28 Iya. 53:29 kita sendiri zalim enggak pada saat pada 53:32 e posisi kita yang sekarang 53:34 banget. Kalau saya pribadi sih iya jolin 53:37 sama diri sendiri 53:38 ini bekas on ya. 53:40 Iya [tertawa] 53:41 ini bekas Bang Iman. 53:42 Oh iya ini Mas anggap iman iniwan 53:46 kepada dan kebanyakan dari kita itu bisa 53:48 ngeritik keluar tapi enggak enggak bisa 53:50 introspeksi ke diri sendiri. 53:51 Iya 53:52 apalagi suami nih biasa nih paling 53:53 enggak suka 53:55 kok dikritik sama istri. 53:56 Iya benar. Maaf ya, Rak itu aku banget. 53:58 [tertawa] 54:00 Wah, jadi ajang jadi ajang curhat nih di 54:03 sini. Curhat curhat 54:05 kadang-kadang kita suami apalagi kita 54:06 yang kerja, kita yang nyari duit, istri 54:08 gedik enggak mau terima. Kadang-kadang 54:10 kita ini butuh sudut pandang dan kita 54:13 itu bisa melihat sempurna kalau kita 54:14 keluar melihat dari agak jauh nih. 54:16 Agak jauh. Iya sih 54:17 ya kan. 54:18 Iya. 54:18 Kalau Andy Ondi berada di dalam 54:20 tempurung, Ondi tidak akan melihat 54:21 betapa indahnya dan luasnya dunia. 54:23 Betul. Betapa banyaknya pengetahuan 54:25 orang-orang bijak di luar sana. 54:27 Tapi setelah Ondi keluar ngelihat secara 54:30 secara global, 54:32 secara makro, Oni akan fokus untuk 54:34 melihat sesuatu yang mikro. Apa yang 54:35 harus dilakukan diperbaikin. 54:38 Iya sih. 54:39 Makanya kan Allah perintah, "Bertebarlah 54:40 kalian di bumi Allah ini silaturahim 54:44 nambah ilmu ni." 54:45 Betul sih silat itu nambah ilmu juga. 54:47 Iya. 54:48 Iya. Tapi kalau kalau 54:51 ya iya sih ke mau ada silaturahim ke 54:53 siapapun pasti nambah ilmu mau yang ke 54:55 tempat orang zalim preman segala macam 54:58 nama ilmu 54:59 iya 55:01 aneh di pernah ketemu sama 55:04 ini orang enggak salat ni terus 55:06 ini orang Islam enggak salat 55:07 nah terus terus 55:08 enggak salat tapi dia nasehatin ana 55:11 begini 55:12 ini bagi ana menusuk diri ana banget 55:15 iya 55:15 n bilang hah bang urusan duit mah 55:18 ngapain dipusing Ingin dia bilang 55:21 kalau saya mah lagi enggak punya duit 55:23 kalau saya mah kalau lagi enggak ada 55:24 duit lari ke Allah aja ngerenge ke Allah 55:27 kalau enggak dikasih saya ngambek saya 55:29 ini orang enggak salat apalagi abang 55:30 abang kan orang salat sekeluarga abang 55:32 lagi salat minta aja suruh istri abang 55:34 anak abang segala macam keroyokin deh 55:36 minta sesuatu insyaallah baik orang yang 55:39 enggak salat nasihatin saya kayak gitu 55:40 saya bilang aduh 55:42 ini lagi ya 55:43 kan tuhan kita kan masa maha pengasih 55:45 maha penyayang bang 55:47 enggak penginlah Ah, hambanya terlalu 55:50 gimana-gimana banget. Paling enggak dari 55:52 100 hari ada yang indikasihlah untuk 55:53 meringankan bebannya. Siapa tahu kita 55:55 lagi diuji atau dinaikin ee jabatannya. 55:57 Nah, 55:58 ya mudah-mudahan enggak lagi dihukum 55:59 gitu di jadi nasihat kita harus 56:01 perhatikan dari mana pun. Itu dalam 56:05 banget, Bang. Dia enggak salat tapi 56:07 nasihatinnya. 56:07 Iya. 56:08 Sampai segitunya. 56:09 Iya. 56:11 Dia salat kalau lagi diajak ketemu 56:12 pejabat. Kalau pejabat lagi ngajak 56:14 salat, dia salat. [tertawa] 56:16 Sama hari Jumat dia salat. 56:18 Berarti kalau diajak baru ya. 56:20 Iya. 56:20 Oh, kalau enggak diacak susuk hati dia. 56:22 Kadang-kadang bisa ah siapa nih yang eh 56:24 salat yuk? Ayo ayo a gitu ya. 56:26 Oh bukan bukan bukan karena dia pengin 56:29 dianggap baik. Bukan seperti itu. 56:31 Bu ya mungkin karena pengin bukan karena 56:33 salat merasa salat itu kebutuhan. 56:34 Kebutuhan. Heeh. 56:35 Kecuali dia lagi perlu sesuatu baru dia 56:37 salat. 56:37 Oh minta. Tapi emang Iwan danwat emang 56:41 saya pribadi pun ngalamin maksudnya 56:42 kayak ee mau minta apapun gitu kan ya 56:46 udah kita sahin sama Allah aja gitu kan 56:48 Allah itu kan maha pengasih maha 56:49 penyayang gitu dan kita tunggu aja minta 56:52 kita itu dikasihnya kapan ya pasti 56:53 dikasih cuman enggak tahu kapannya gitu 56:55 kan tapi yang jelas pasti dikasih dan 56:56 itu saya lakuin Bang seperti itu Bang 56:59 itu kan di saat saya lagi benar-benar ya 57:02 udah benar-benar enggak ada sama sekali 57:04 saya coba ngerengek ke Allah minta dan 57:07 Allah pasti kasih Ondi kan orang saleh 57:09 ya. Ondiak gitu 57:10 karena rajin puasa Senin ke walaupun 57:12 ketua begal gitu. Enggak gitu [tertawa] 57:14 begal tapi sering eh Ya Allah. Udah 57:17 udahlah kita tutup saja ya. 57:18 Udah 57:20 kita berbincang udah lama juga ini Bang. 57:22 Udah lama udah lama. 57:22 Udah lama juga. 57:23 Mudah-mudahan ada yang ngedengar jadi 57:24 ada acara sesi berikutnya. Kalau enggak 57:27 ada yang dengar langsung di-take down. 57:28 Soalnya [tertawa] 57:29 rating penentukan itu gimana? Ada 57:32 kesimpulan penutup atau 57:33 adah 57:34 enggak? Pokoknya yang penting 57:36 Heeh. Apa 57:37 kita ini jadi manusia jangan rasa paling 57:39 pintar, paling tinggi, paling hebat, 57:41 paling segalanya. Engak 57:42 di atas langit ada langit. Kita harus 57:44 mendengarkan nasihat dari siapapun. 57:46 Oke. 57:47 Bahkan dari anak kecil, bahkan dari 57:49 seperti yang bahu lakukan, dia menjadi 57:51 orang gila untuk memberikan nasihat ke 57:52 orang lain. 57:53 Masyaallah. 57:54 Nasihat itu datang dari mana Allah? 57:55 Kadang-kadang titipan Allah. 57:58 Titipan Allahnya mana? Yang menggerakkan 58:00 hati seseorang siapa? 58:01 Allah. Yang menggerakkan lisan seseorang 58:03 siapa? 58:03 Allah. 58:03 Allah. Bisa jadi Oni enggak niat ngomong 58:06 sesuatu, tapi tiba-tiba tergerak untuk 58:07 menyampaikan suatu hal kepada seseorang 58:10 karena Allah yang menggerakkan dan pesan 58:11 itu sampai. 58:12 I kan pokoknya jangan merasa paling 58:14 hebat deh. 58:15 Iya. Satu itu. Kedua, saya enggak mau 58:17 merasa paling besar. Cukup angkelman 58:19 saja [tertawa] yang merasa paling besar. 58:22 Saya tidak mau 58:23 paling berat soalnya. Berat itu. 58:25 [tertawa] 58:25 Oke, Wat. E mungkin cukup sekian kita 58:28 acara bahlul-bahlulan. Terima kasih 58:30 untuk Iwan Hawat yang sudah mendengarkan 58:32 yang mudah-mudahan 58:34 ada manfaatnya kalau kata Ustaz Sulaiman 58:37 ada dagingnya gitu ya. Ada tulangnya 58:39 pada dagingnya tuh 58:40 ada dagingnya dong. 58:40 Ada dagingnya gitu ya. Mungkin [tertawa] 58:43 mungkin cukup sekian dulu ya. Semoga 58:44 kita nanti bisa bertemu lagi di session 58:47 berikutnya. Semoga Iwan selalu diberikan 58:49 kesehatan dan juga ee keistikamahan 58:51 dalam mencari dan menuntut ilmu. Karena 58:54 ilmu itu adalah sesuatu yang harus kita 58:57 cari di dunia ini agar kita terus 58:59 berkembang dan terus bisa memberikan 59:01 manfaat untuk orang lain. Bukan begitu 59:03 firman? 59:03 Iya. 59:04 Oke, terima kasih Wad. Cukup sekian ee 59:06 dari saya dan juga uncle firman. Kita 59:09 tutup acara ini dengan doa kafaratul 59:11 majelis. Subhanaka Allahumma wabihamdik 59:13 asadua anta asagfiru asalamualaikum 59:16 warahmatullahi wabarakatuh. 59:18 Waalaikumsalam warahmatullahi 59:19 wabarakatuh.