Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Brail TV.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan
- akhwat rahimakumullah. Alhamdulillah
- wasyukurillah kita bersama-sama lagi di
- acara perlindungan anak yang
- mudah-mudahan mempersuasi kita,
- memotivasi kita untuk mampu menjadi
- orang tua yang tepat untuk tumbuh
- kembang mereka. Seperti biasa sebelumnya
- kita mengucapkan salam selawat kepada
- kekasih kita junjungan umat Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam agar kelak
- kita dipertemukan beliau di saat-saat
- yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir. Ikhwan akhwat, seperti biasa
- perlindungan anak
- menghadirkan Dr. Hamid Fati yang sudah
- siap di sini. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam. Apa kabar Bunda?
- Alhamdulillah sehat. Jadi kita sebagai
- orang tua ini kan punya tanggung jawab
- membimbing, mendidik, mengasuh anak-anak
- biar siap dalam kehidupan mereka. Kali
- ini kita lanjutkan bahasan kemarin ya.
- Insyaallah. Alhamdulillah. Pengasuhan
- berbasis hak anak. Yuk kita dengarkan
- dengan sepenuh hati, sepenuh rasa.
- Silakan. Baik. Terima kasih Bunda.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam. Alhamdulillah kita masih
- diberi kesempatan oleh Allah untuk
- berjumpa pada hari ini. Insyaallah kita
- akan melanjutkan pembahasan terkait
- dengan pengasuhan berbasis hak
- anak. Ayahanda dan bunda di rumah, kita
- berharap Allah selalu memudahkan kita
- dalam
- mendampingi, membimbing, kemudian
- mengasuh anak-anak kita. sehingga mereka
- menjadi individu-individu yang
- berkualitas yang diharapkan oleh
- keluarga, bangsa, negara, dan yang
- paling utama adalah oleh
- agama. Sebagaimana kita
- ketahui, Indonesia telah meratifikasi
- konvensi hak anak melalui keputusan
- presiden nomor 36 tahun 1990.
- berharap ayahanda dan bunda pada saat
- proses
- melakukan pendampingan, pembimbingan
- pada anak, dokumen ini kalau boleh
- dibaca,
- dipahami, dimengerti
- sehingga kita menjadi seorang ayah,
- seorang ibu itu didasarkan oleh
- pengetahuan, keterampilan, dan sikap,
- yaitu yang kemudian membentuk sebuah
- kompetensi.
- Pada minggu 2 minggu yang lalu kita
- telah membahas salah satu bagian dari
- kompetensi yang harus dimiliki oleh
- seorang ayah dan seorang ibu menjadi
- seorang pengasuh. Dan ini juga kalau
- boleh dipahami juga oleh para kakek,
- nenek,
- pamani. Sehingga pada saat proses
- mendampingi cucu, membimbing cucu,
- mengasuh cucu atau ee keponakan, kita
- memiliki
- kompetensi. Pada pertemuan awal kita
- sudah menyentuh pada saat pembahasan
- terkait dengan perkembangan anak.
- Ada enam aspek perkembangan anak yang
- sudah kita bahas 2 minggu yang lalu. Itu
- baru dua, Bunda Nuning. Itu pertama
- terkait dengan nilai-nilai agama dan
- moral. Lalu kemudian yang kedua
- nilai-nilai Pancasila. Tapi sebelum kita
- lanjutkan, perlu saya menyentuh apa yang
- dimaksud dengan nilai-nilai agama ini.
- Kalau boleh ayahanda dan bunda selalu
- memastikan anak-anak kita apa saja yang
- mereka lakukan itu hanya karena Allah
- dan mereka merasa diawasi oleh Allah.
- Ini poin penting yang kita harus terus
- pastikan.
- Lalu yang
- kemudian yang terkait dengan moral, apa
- saja yang mau anak-anak kita lakukan itu
- selalu mereka minta izin dan kemudian
- mendapat persetujuan dari kita. itu
- sebetulnya ee akan membiasakan anak-anak
- kita itu segala sesuatu yang mereka
- lakukan itu itu sudah atas persetujuan
- orang-orang yang di sekitar dia. Dan ini
- yang kemudian akan membiasakan diri dia
- selalu Bunda ini punya aku bukan? Nah,
- kalau Bunda bilang iya ah dia sudah
- berhak untuk memiliki. Tapi kalau
- bagaimana saat dia tanya, "Bunda, ini
- milik siapa? ini milik ayahmu. Kalau
- kamu ingin memiliki, kamu harus minta
- izin. Itu berarti anak akan terbiasa.
- Ini dua hal yang penting dari aspek
- perkembangan pertama yaitu nilai-nilai
- agama dan moral. ini menjadi dasar
- kalau anak kita sudah terbiasa dari
- dalam kandungan sampai usia 8 tahun,
- insyaallah pada tahun-tahun yang
- berikutnya, usia 9 sampai 18 tahun itu
- anak kita sudah mulai terbiasa atau
- membiasakan diri melakukan hal-hal yang
- kita ee harapkan. Yang kedua,
- nilai-nilai Pancasila.
- Pancasila sudah kita ketahui ada lima
- sila. Tinggal pertanyaannya kepada ayah
- Anda, dan bunda. Apakah lima sila
- itu
- hidup atau ee mati? Hidup berarti kita
- harus memastikan sila ketuhanan itu
- benar-benar dipraktikkan dalam
- keseharian kita. Yang kedua, sila
- kemanusiaan. Anak adalah manusia yang
- memiliki harkat dan martabat. Untuk itu
- selalu ditinggikan. Apakah anak kita
- harkat dan martabatnya dia selalu
- ditinggikan? Insyaallah kalau itu sudah
- kita lakukan, kita akan menemukan anak
- kita menjadi individu yang selalu
- percaya diri. Lalu yang ketiga,
- persatuan. Apakah di rumah kita segala
- sesuatu itu dikerjakan?
- secara bersama-sama untuk memastikan
- tidak ada ee percekcokan atau apa. Lalu
- yang tidak kalah penting yang sila
- keempat adalah
- musyawarah. Segala sesuatu yang harus
- diputuskan oleh ayah itu selalu
- dimusyawarahkan dengan ibu,
- dimuswarahkan dengan anak. Apalagi kalau
- di keluarga juga ada tinggal
- bersama kakek, nenek, paman, bibi itu
- selalu kita harus pastikan. Kalau itu
- sudah kita pastikan insyaallah kita akan
- menemukan anak kita akan terbiasa.
- Segala sesuatu yang akan dia putuskan
- itu dia selalu harus memintai pendapat
- dari orang lain dan itu selalu
- dimusyawarahkan demi kebersamaan. Tapi
- yang tidak kalah penting ini adalah sila
- yang kelima tentang keadilan. Ini Ibu
- Bapak yang sudah kita bahas 2 minggu
- yang lalu. Nah, kita lanjutkan Bunda
- Nuning terkait dengan ee enam aspek
- lanjutan ee aspek perkembangan. Yang
- ketiga
- adalah perkembangan fisik motorik halus
- dan motorik kasar. Nah, ini sangat
- ditentukan oleh
- asupan apa yang
- dimakan dan apa yang diminum oleh anak.
- Yang paling tahu apa yang dimakan, apa
- yang diminum oleh anak kita itu siapa?
- Bunda
- Nun yang paling tahu orang tua lah.
- Otomatis ibu. Ibu. Ibu benar-benar harus
- memiliki pengetahuan yang banyak terkait
- dengan berbagai jenis makanan dan
- berbagai jenis minuman untuk pertumbuhan
- anak kita sehingga dia menjadi individu
- yang berkualitas. Tetapi Ibu juga harus
- tahu sumber keuangan yang didapat dari
- suami itu juga harus jelas. Nah, untuk
- itu sebagai seorang ayah dan seorang ya
- seorang ayah ya
- yang menjadi tulang punggung dari
- keluarga yang kemudian ee memiliki
- uang yang kemudian uang itu
- menjadi modal dasar untuk
- membelikan makanan dan minuman itu harus
- jelas sumbernya.
- Jadi untuk itu seorang ayah kalau
- menghendaki kita akan
- memiliki keturunan yang
- hebat terutama dari aspek perkembangan
- fisik
- motorik. Selalu berikan maka selalu
- berikan uang yang sumbernya jelas.
- Baik itu dari hasil penghasilan kita itu
- harus benar-benar dia benar-benar uang
- yang suaranya kita tahu dan itu yang
- kemudian akan dikelola oleh ibunya untuk
- membelikan makanan, membelikan minuman
- sehingga anak-anak kita itu memakan
- makanan yang halal dan thaib. Ah, untuk
- itu ayahanda dan bunda, kalau sekarang
- kita melihat ada anak-anak memiliki
- masalah dalam mengakses makanan dan
- minuman, itu yang kemudian akan
- mempengaruhi proses ee tumbuh kembang
- dia dari segi ee fisik motorik. Nah, itu
- yang juga perlu kita pertanyakan.
- Sebetulnya
- ibunya benar-benar memiliki tidak
- kemampuan untuk
- mengelola, menyajikan makanan-makanan
- yang berkualitas untuk ee anak-anak
- kita. Sebetulnya indikasinya sangat
- sederhana, Bunda Nuning. He. Kalau ada
- anak kita sering jajan, itu yang perlu
- kita pertanyakan
- siapanya di sana ibunya.
- Anak itu sebetulnya dia sangat
- tergantung pada apa yang diberikan oleh
- ibunya. He. Tapi kalau ibunya
- menggampangkan, udah kamu ke warung saja
- beli apa yang mau kamu ee mau makan atau
- mau kamu minum. Akhirnya anak-anak
- kita makan makanan yang kemudian membuat
- mereka mengalami ketergantungan.
- Lalu mereka minum-minuman yang membuat
- diri mereka ketergantungan
- karena tidak diawasi atau tidak
- dikontrol oleh orang tua. untuk itu
- menjadi ayah dan ibu yang hebat itu
- harus memiliki kemampuan di bidang ee
- kognitif eh di bidang fisik motorik ini
- sehingga kita akan membiasakan
- memberikan makanan-makanan yang
- berkualitas. Coba Bunda ini punya
- pengalaman apa dengan anak-anak waktu
- masih kecil dulu? Ini ditolak, itu
- ditolak
- makanan, tapi dengan cara akhirnya yang
- ditolak jadi diterima. H proses ya. Jadi
- untuk menemukan anak-anak yang hebat ini
- menjadi penting. Ah untuk terkait dengan
- fisik motorik ada satu hal yang
- diharapkan oleh negara. Apa itu Bunda
- Nuning? Ah, kalau boleh ayahanda dan
- bunda yang punya handphone coba ambil
- Undang-Undang Nomor 11 tahun
- 2000 22 tentang
- keolahragaan. Apa poin yang diharapkan
- oleh negara kepada orang tua?
- Negara itu sangat
- mengharapkan dari rumah itu lahir
- anak-anak
- yang berkualitas baik
- secara fisik motorik maupun fisik apa,
- motorik halus maupun motorik kasar.
- Nanti di sana anak-anak itu kalau
- terus-menerus dibimbing, diasuh oleh
- orang tuanya untuk latihan, untuk
- dipersiapkan di berbagai cabang
- olahraga. Ah, di sana kan nanti akan
- lahir
- calon-calon juara yang akan ee
- memperdengarkan lagu Indonesia Raya dan
- mengibarkan bendera sang merah putih di
- event internasional. Berarti di
- Olimpiade. Kalau itu
- terjadi, kita akan menemukan anak-anak
- yang hebat. Siapa nih yang akan
- mempersiapkan anak-anak seperti ini?
- Kita berharap kepada negara. Negara itu
- kalau kita telusuri pada
- belakangan, mereka itu hanya ee selalu
- menerima yang sudah
- jadi. Bagaimana untuk menjadikan anak
- itu berkualitas? itu melalui sebuah
- proses. Proses yang sangat menentukan
- itu adalah pada saat anak di dalam
- kandungan. Lalu kemudian pada saat anak
- itu dari usia 0 hari sampai 8 tahun.
- Heh. Mereka
- itu dari aspek makanan dan minuman itu
- benar-benar diawasi,
- dikontrol oleh orang
- tua. Dan ini yang kemudian dilanjutkan
- dengan melatih anak-anak untuk melakukan
- berbagai ee jenis ee latihan fisik
- terutama sehingga kita akan menemukan
- anak-anak yang kualitas fisiknya itu
- sangat menyenangkan siapapun. Dan salah
- satunya adalah para pencari bakat. Kalau
- para pencari bakat itu sudah turun dan
- mereka melihat anak-anak kita itu siap
- untuk mengikuti berbagai cabang olahraga
- dan ini kemudian apalagi kalau diikuti
- oleh ee daerah yang memiliki kepala
- dinas olahraga yang membaca potensi anak
- lalu kemudian
- memfasilitasi lalu
- kemudian dengan jadwal
- ee pertandingan ataupun perlombaan yang
- teratur itu sampai ke level nasional.
- Insyaallah kita akan memiliki anak-anak
- yang akan selalu membanggakan diri. Dia
- akan mengibarkan bendera merah putih
- lalu kemudian ee memperdengarkan lagu
- kebangsaan Indonesia Raya. Nah, ini ini
- menjadi sebuah tantangan. Tapi kuncinya
- Bunda Nuning, Heeh. Pada tanggal
- 27 November tinggal beberapa hari ya,
- tinggal sekitar kalau kita hitung maju
- ee ini tanggal 4 3 mingguah. Berarti
- tinggal ee 23 hari lagi kita akan
- menentukan pilihan siapa yang akan
- menjadi bupati, siapa yang akan menjadi
- walikota, dan siapa yang akan menjadi
- gubernur. Ah, mereka-mereka ini yang
- kemudian akan memilih ee kepala dinas
- yang kemudian akan memilih kepala dinas
- ee olahraga yang kemudian ee Kepala
- Dinas Pertanian dan Perikanan yang
- kemudian harus
- memprioritaskan anak-anak yang ada di
- daerah dia
- itu fisik motoriknya berkembang. Lalu
- kemudian latihan olahraganya
- terfasilitasi dan mereka menjadi
- calon-calon atlet yang hebat. Nah, ini
- ini poin tapi kuncinya ada di siapa? Ada
- di ayah dan ibu. Untuk itu kami dorong
- ayahanda dan bunda menjadi ayah yang
- hebat.
- Baca Undang-Undang Nomor 11 tahun 2022
- supaya kita memiliki dasar untuk
- memberikan makanan, memberikan minuman
- kepada anak-anak kita supaya kita akan
- menemukan anak
- yang fisik motoriknya itu berkembang
- sesuai dengan apa yang kita kehendaki.
- Kalau fisik ee motorik halus, ya
- itu kita dorong anak
- kita ke sanggar-sanggar tari, baik anak
- laki-laki maupun anak perempuan supaya
- mereka bisa menampilkan ee tarian-tarian
- yang selalu diharapkan
- oleh ee mereka yang tertarik di bidang
- seniari. Dan ini yang kemudian itu
- dilahirkan dari orang tua-orang tua yang
- selalu memperhatikan apa yang dimakan
- dan apa yang diminum oleh anak-anak
- mereka. Itu aspek perkembangan yang
- ketiga. Sekarang yang keempat, Bunda
- Nuning, yaitu
- aspek perkembangan ee kognitif. Wah,
- kita sekarang punya wakil menteri yang
- memiliki ee kemampuan di ilmu kognitif.
- Kita juga bangga ya. Semoga ee
- pengetahuan ini beliau tularkan untuk ee
- orang tua-orang tua yang ada di
- Indonesia. Tapi pada pertemuan kali ini
- sebetulnya apa sesungguhnya
- di kognitif yang perlu kita dorong
- sehingga kita memiliki anak-anak yang
- memiliki perkembangan kognitif. Ah,
- untuk itu ayahanda dan
- bunda, sekolah dan laboratorium yang
- terbaik di dunia itu sebetulnya ada di
- rumah.
- Tapi
- ini belum banyak
- dimanfaatkan oleh setiap bunda dan
- setiap ayah. Dan kalau boleh kalau ada
- anak-anak tinggal bersama kakek
- neneknya, ini juga kalau boleh
- dipotensian oleh kakek nenek agar
- cucu-cucunya itu kognitifnya berkembang
- secara optimal. Karena range usia
- perkembangan yang ee baik itu di usia 0
- sampai 4 tahun itu 50%.
- He kecerdasan itu berkembang. Lalu
- kemudian usia 5 sampai 8 tahun itu 30%.
- Jadi kalau kita totalkan 0 sampai 8 itu
- sekitar 80% kecerdasan anak itu
- berkembang. Dan siapa yang menjadi
- pendidik pertama dan utama? Tiada lain
- adalah ibu dan ayah. Ibu dan ayah. dan
- laboratorium dan sekolah yang terbaik
- itu sesungguhnya ada di rumah. Cuma
- tinggal kita ee kelompokkan.
- Pertama, coba pastikan anak-anak kita
- itu mendapatkan ee pengetahuan yang
- banyak dari ruang dapur. Coba Bunda
- Nuning di dapur itu ada apa saja yang
- kemudian terkait dengan profesi, terkait
- dengan ee berbagai ee jenis-jenis benda
- yang mereka ee akan pelajari nanti kalau
- sejak dari usia dini itu sudah
- diperkenalkan oleh ee ayah dan bundanya
- secara detail. Coba sebutkan salah satu
- apa yang di dapur yang ingin Bunda mau
- perkenalkan kepada Oh, nanti kan bakal
- punya cucu ya pada cucunya. Apa aja
- Bunda Nuni? Di dapur aja. Sebut satu
- benda aja. Sendok. Ah, sendok. Kita coba
- sendok itu terbuat dari apa, Bunda Nuni?
- Digunakan untuk apa? Digunakan untuk
- apa? St pertanya terbuat dari apa dulu?
- Nah, dari aluminium atau plastik kan?
- macam-macam itu. Macam-macam itu kan
- melalui sebuah proses. He. Dan di
- belakang itu ada
- profesi-profesi yang otomatis akan
- terkait dengan pembuatan itu tadi. Ee
- sebuah profesi itu lahir dari sekolah
- atau dari universitas. Kebayang tuh
- kalau seorang bunda, "Nak, tahu enggak
- sendok ini terbuat dari besi atau dari
- aluminium atau dari besi putih?" Nikel
- ya? Iya. Belajar tuh.
- Tahu enggak orang yang membuat ee sendok
- ini kita coba ambil ee gadget ketik
- siapa yang menemukan pertama sendok itu.
- Wah, dapat itu berbagai pengetahuan dan
- itu yang kemudian menjadi dasar untuk
- kita berdiskusi dengan anak kita. Jangan
- dibalik loh. Jangan bilang, "Pak, enggak
- ada waktu untuk itu. Kami sebagai orang
- tua harus cari uang." Ah, itu yang
- kemudian akhirnya anak kita seharusnya
- mendapatkan informasi yang banyak dari
- ayah dan ibunya justru
- hilang. Ambil lagi satu jenis ee bahan
- dasar untuk membuat makanan. Bunda
- Nuning, apa yang di di dapur yang ingin
- Bunda mau jelaskan? Ini sebagai contoh
- saja. Iya. Terlintas garam. Garam itu
- terbuat dari apa? Wah, itu proses ya.
- Heeh. Ada proses. Dan siapa yang bisa
- membuat
- garam? Orang sekolah dari mana itu yang
- membuat garam? Kalau petani kan tidak
- perlu sekolah. Dia ada di Madura,
- ada di NTT. Ini garam yang terbaik
- sekarang ini. Dari NTT. Eh, sekarang di
- Indonesia lautnya luas, mataharinya juga
- banyak. Eh, tapi impor dari luar negeri.
- Ini yang jadi tantangan. Boleh juga itu
- anak-anak tanya, "Bunda, kenapa kok
- bisa?" Kan kita bisa kita di bahan
- diskusi di rumah itu. Jadi akhirnya oh
- ini siapa menterinya, siapa presidennya?
- Jadi akhirnya anak-anak kita akan
- berdiskusi. Ada lagi misalnya sebutir
- beras. Beras itu dari mana, Bunda? Ah,
- kamu enggak usah tanya, ya. beli ini
- bunda beli dari warung itu anak langsung
- hilang ee apa daya imajinasi dan
- pikir-pil pikir kalau bunda jelasin ada
- kemarin populer Bunda no ada calon
- bupati bilang sebuah inovasi inovasinya
- apa ee padi berubah menjadi beras
- Iya iya iya menarik jadi agak viral
- Waktu itu ee beberapa waktu yang lalu
- saat ada kampanye seorang calon bupati
- ditanya oleh moderator apa itu
- inovasinya ee padi menjadi beras. Ah,
- jadi menarik juga.
- Jadi seorang ayah, seorang
- ibu ee
- memperkenalkan kepada anaknya sebutir
- beras itu, itu berproses dari ee padi.
- Wah, padi itu kayak apa, Bunda? Ah, dia
- tanya ke sawah. Ajak ke sawah. Jadi,
- padi itu diawali dengan ee sawah itu
- direndam.
- Berapa orang yang terlibat di sana?
- Bagaimana kok ada air
- dari got? Heeh. Lalu atau pematang lalu
- kemudian bisa naik ke sawah itu. Itu
- melus proses tuh. Lalu airnya dari dari
- mana, Bunda? Oh, dari sungai yang
- dikumpulkan melalui dam. Dam itu apaagi?
- Jadi, anak itu tahu banyak ya. Tahu
- banyak. Dan ini yang kemudian sekarang
- atau belakangan ya masih ada orang
- tua-orang tua yang hebat yang mau
- membantu perkembangan kognitif anaknya
- itu secara luas. Tapi ada orang tua yang
- ee
- mungkin supaya anaknya itu tidak nangis
- ya kasih aja gadget. lah. Akhirnya
- anak dapat sih ee kognitifnya berkembang
- tetapi tidak optimal yang seharusnya dia
- dapat informasi di dapur, dia dapat
- informasi dari tempat tidur. Tempat
- tidur apa saja itu, Bunda Nuning yang
- bisa kita jelaskan kepada anak kita itu
- menjadi menarik tuh. Misalnya ada kasur,
- bantal, selimut. Kasur terbuat dari apa?
- Terus bantal, selimut. Lalu ruang tamu.
- Oh, ruang tamu ada
- televisi,
- ada tape recorder, ada radio, lalu
- kemudian
- apalagi ruang tamu itu banyak juga di
- halaman rumah. Halaman rumah itu sebuah
- laboratorium untuk perkembangan kognitif
- anak. Coba,
- Dek. Ayah pengin kamu kumpulkan coba
- dari batu kerikil yang ukuran kecil
- kemudian diurutkan sampai ke yang besar.
- Wah. Kemudian coba bedakan ada kerikil
- yang berwarna putih, ada kerikil yang
- berwarna hitam. He. Ada yang mau pecah,
- ada yang mulus. coba kamu ee kumpulkan
- kamu ee
- itu proses yang sangat ee hebat kalau
- itu dilakukan oleh ayah ibu dan itu yang
- kemudian ee diikuti oleh anak-anak itu
- yang kemudian Bunda Nuning pada saat
- mereka mulai masuk kelas 3 SD, kelas 4
- SD sudah ada pelajaran yang terkait
- dengan apa yang mereka peroleh dari
- rumah itu yang kemudian akan mereka
- selalu ingat, "Oh, ini kan pernah
- disampaikan, pernah
- diceritakan atau pernah disimulasikan
- oleh ayah dan bunda di rumah bersama
- aku." He. Itu yang kemudian yang disebut
- anak saleh salehah yang selalu bersyukur
- kepada apa yang dia dapat dari ayah
- ibunya itu. Itu yang namanya terima
- kasih. Ya Allah, Engkau telah
- mengirimkan aku seorang ibu, seorang
- ayah yang hebat. Sehingga pada saat aku
- sekarang berada di kelas 3 SD, aku
- selalu ingat apa yang mereka sampaikan.
- Itu kalau orang tua yang mau memastikan
- aspek perkembangan kognitif anak dengan
- memanfaatkan sekolah dan laboratorium
- terbaik yang ada di rumah.
- Pertanyaannya, ada berapa ayah, berapa
- ibu seperti itu sekarang? Ayo, pendengar
- radio Rasil di mana saja
- berada. Kalau itu tidak kita lakukan,
- berarti kita telah melakukan pengabaian.
- Berarti hak-hak anak juga sudah kita
- regut sebelum anak-anak itu menjadi
- individu yang hebat. Padahal kita selalu
- berharap akan menemukan anak-anak yang
- berkualitas, tetapi kita tidak
- memfasilitasi, kita tidak mempotensikan,
- tapi justru kita kemudian menyerahkan
- itu semua ke sekolah. Nah, sekolah yang
- sesungguhnya siapa? Sekolah sesungguhnya
- itu adalah di rumah ayah dan ibu sebagai
- pendidik pertama dan utama. Tapi yang
- selalu dikambing hitamkan adalah
- guru-guru yang ada di rumah, di sekolah
- yang sekarang
- juga sedang mengalami tantangan juga
- seperti yang kasus di mana nih? Di salah
- satu di pulau
- Sulawesi. Guru sekarang berproses dan
- itu yang kemudian ee mendapatkan
- dukungan dari PGRI. Nah, ini juga ini
- sebetulnya ada banyak hal yang perlu
- kita bahas, tapi kita harus sempitkan
- dulu di dalam aspek kognitif ini. Ini
- kognitif Bunda Noning ini sangat
- menentukan terkait dengan ee berhasil
- tidaknya anak kita di kemudian hari. Itu
- semua sangat memang
- kita sangat ditentukan oleh ee Allah.
- Tapi upaya dari ayah dan ibu itu perlu
- juga untuk ee
- mengupayakan. Itu aspek yang keempat.
- Ah, aspek yang kelima ini, Bunda Nuning
- terkait dengan bahasa anak-anak kita ini
- di dalam pergaulan nanti di kehidupan
- keseharian itu sangat tergantung dari
- bahasa.
- bahasa ini ini yang paling dekat dengan
- anak siapa? Ibunya. Iya. Proses
- transformasi bahasa ibu ke anak bila
- melalui dengan sebuah proses yang
- lembut, dengan proses yang riang,
- gembira, insyaallah kita akan menemukan
- anak-anak kita pada saat dia bergaul
- dengan temannya itu penuh dengan
- kesejukan. Nah, kalau catatannya hari
- ini kita temukan oh ada anak kalau
- bicara itu
- kasar itu siapa dulu ayah dan siapa dulu
- ibunya. Karena cerminan pertama dari
- anak
- kita itu dari bahasa. Iya. Jadi kalau
- dia memiliki
- ayah, ibu, kakek, nenek yang hebat,
- insyaallah kita akan
- menemukan anak kita, anak yang hebat
- dari bahasanya. Untuk itu
- coba ayah Anda dan bunda
- pastikan dari perkembangan bahasa anak
- dari bunyi kemudian menghasilkan huruf
- lalu terangkai menjadi kata. kata
- kemudian bersusun menjadi kalimat dan
- itu yang kemudian kita harus pastikan
- apa yang keluar dari mulut anak itu kita
- pahami. Dan yang kedua ini yang menjadi
- penting. Pada saat dia berinteraksi
- dengan kita, apa yang kita sampaikan dia
- mengerti dan dia mampu melakukan. Ini
- ini yang harus kita pastikan. terutama
- bagi anak-anak yang abilitas. Nah,
- bagaimana dengan anak yang disabilitas?
- Ini juga orang tua harus mulai paham.
- Kalau bicara dengan anak yang tidak bisa
- mendengar, berarti anak harus membaca
- mulut dari orang yang berbicara. Untuk
- itu, bagaimana kita harus berbicara
- dengan anak yang ee mengalami
- disabilitas? itu juga harus ee
- membutuhkan
- proses. Apakah hanya orang tua yang
- memiliki anak disabilitas harus memiliki
- kemampuan untuk membaca? Itu
- tidak. Kita sebagai orang tua ya diberi
- ee kemampuan berlebih kita juga harus
- mempelajari itu apa yang harus dapat
- dimengerti oleh oleh anak-anak lain.
- Karena ini akan interaksi. Ah, sebagai
- orang tua bagaimana kita memastikan ah
- untuk itu tipsnya ini sangat sederhana.
- Ini sebetulnya dianjurkan oleh
- Rasulullah kalau dengan anak itu kita
- berbicara dengan jelas. Tetapi kuncinya
- Bunda Nuning, he
- syaratnya paling utama dari orang tua
- itu menjadi pendengar yang baik. Jadi
- kita mendengarkan dulu apa yang
- disampaikan oleh anak. Lalu kemudian
- kita harus pastikan yang keluar dari
- mulut kita itu harus jelas supaya anak
- sebagai pengikut
- atau apa?
- pencontoh atau pengulang itu jelas
- apa yang kita ucapkan dia mengerti, dia
- pahami dan tidak kalah penting dia bisa
- balik mengucapkan ulang he dari ucapan
- dia itu kita dapat mengerti dan kita
- pahamiah ini menjadi menarik benar ini.
- Dan itu diajarkan di golden age ya. Iya
- dari usia 0 sampai 8 tahun.
- tahun. Kuncinya ada saat pada saat
- pemberian air susu ibu. Wah, itu
- interaksi Benar Nuning. Ada enggak
- ibu-ibu? Eh, kamu minum minum. Enggak
- ada cerita lembut berbagai. Nah, ini air
- susu ibumu ini berasal dari proses alami
- tetapi sangat ditentukan oleh apa yang
- Bunda makan. apa yang Bunda minum dari
- uang yang dihasilkan oleh ayah dan dari
- ayah yang melakukan pekerjaan yang
- halal. Jadi itu menjadi penting tuh.
- Tapi kamu tahu enggak ini ee minuman ini
- dari hasil korupsi dari air kalau boleh
- mulai dicegat tu. ini menjadi penting.
- Anak-anak yang mengalami perkembangan
- bahasa yang hebat itu sangat ditentukan
- oleh dampingan bimbingan dari orang tua.
- Puncaknya itu adalah anak sampai bisa
- menulis. He. Apalagi kalau dia bisa buat
- puisi atau menulis karangan. itu adalah
- anak-anak yang sudah mampu
- mengekspresikan bahasanya dalam tingkat
- tinggi, tidak hanya dalam bentuk suara,
- tetapi dalam bentuk tulisan. Ah, kita
- berharap nanti ke depan kita akan
- menemukan anak-anak yang ee hebat di
- bidang sastra meskipun dia bukan anak
- sastra. Nah, itu sangat ditentukan oleh
- ibunya.
- Untuk itu, ayo ibu-ibu, pilihlah suami
- yang dapat menyenangkan hati ibu
- sehingga dalam proses
- mengandung, dalam proses membesarkan
- anak kita, kita mampu
- mentransformasi dari aspek bahasa. Ini
- tidak sembarang.
- Jadi, Pak, kok anak saya ini ngomongnya
- enggak jelas? Ibunya bagaimana?
- Ngomongnya jelas enggak?
- Tapi ada satu poin penting lagi ini pada
- saat proses perkembangan bahasa Bunda
- Nuning dan ini sebetulnya salah satu
- keterampilan nanti kita akan bahas. Tapi
- saya bocorkan dulu nih apa apa itu Bunda
- Nun? Kalau mau berbicara dengan anak
- gunakanlah frekuensi anak. Nah sekarang
- faktanya gimana Bu? Adik-adik kalau di
- rumah ayah pakai frekuensi ayah atau
- frekuensi anak saat berbicara dengan
- kalian? Frekuensi ayah
- udah makan
- belum? Jadi harusnya kita pakai
- frekuensi nak udah makan belum?
- Makan apa hari
- ini? Ini ini kalau kakek juga penting
- juga harus pakai frekuensi kakek atau
- frekuensi cucu nih kakek yang hebat.
- Nenek omak emm apaagi? E opung yang
- hebat adalah saat berinteraksi dengan
- cucunya menggunakan frekuensi cucu bukan
- frekuensi nenek yang suka menyogok. Ini
- kadang-kadang menyogok tuh. Nih ini poin
- penting.
- Aspek kelima adalah perkembangan bahasa.
- Jadi sebagai pendidik pertama dan utama
- kita harus mulai baca
- literaturskikal perkembangan bahasa
- itu atau yang dari India ada di
- Indonesia ada saya punya guru besar tapi
- beliau sudah diundang oleh Allah
- beberapa waktu yang lalu itu kemampuan
- beliau untuk menguasai berbagai bahasa
- atau coba cari berbagai literatur
- terutama ini
- ee
- pasangan ee muda yang sedang proses
- membimbing anaknya atau sedang
- mendampingi cucunya. Coba mulai pelajari
- ee tentang linguistik. Hm.
- neuroins,
- neurolinguistik itu kita pelajari dan
- itu yang kemudian pada saat kita
- mendampingi, pada saat kita
- membimbing anak dan cucu kita itu dengan
- penuh pengetahuan. Bukan diambil dari
- berbagai literatur yang sembarang
- di apa
- di chat CPTI. atau EI, kita harus coba
- baca buku-buku, cari buku-buku
- yang dapat dipahami, dapat dimengerti
- terkait dengan perkembangan bahasa anak.
- Ini menjadi penting. Lalu aspek yang
- keenam ini yang terakhir dari aspek
- perkembangan anak yaitu Bunda Nuning,
- yaitu
- emosi dan sosial. Pertanyaan Bunda
- Neneng
- kepada ibu-ibu atau aya di rumah atau
- kepada Bunda Nuneng juga? Pertanyaan
- saya, sejak kapan anak itu belajar marah
- atau belajar senyum atau dia belajar mau
- berbagi-bagi? Lagi-lagi di Golden Age
- lah. Golden Age tapi sebetulnya itu pada
- saat proses di dalam kandungan ibunya.
- Ya. Heeh. Jadi
- kalau seorang ibu mengandung, dia
- memiliki suami yang selalu menyenangkan
- hati
- istrinya, insyaallah pada saat bayi yang
- dikandung itu lahir, dia akan senyum.
- Dia menyenangkan hati orang lain. Tetapi
- kalau kita menemukan kok anak ini masih
- bayi atau balita mudah marah-marah.
- Lempar-lempar terus
- nangis-nangis. Dipastikan itu Bunda
- Nuning ini tolong di coba ayahanda dan
- bunda di rumah coba amati atau pernah
- punya pengalaman yang
- sama itu sebetulnya dia berasal dari ibu
- yang memiliki suami yang suaminya galak
- kepada istrinya.
- tu. Jadi, wahai para ayah, gitu. Untuk
- itu ini sangat ditentukan oleh calon
- ibu.
- Calon ibu kalau mau mencari suami,
- suaminya itu harus lulus konvensi Hana
- dulu. Materi-materi yang kita bahas ini
- Bunda Ni. Ah, itu tuh harus kita pahami
- itu. Kita Bunda Nureng ada anak itu
- masih balita usia 5 tahun ya Bunda. Dia
- mau bagi dia sangat menyenangkan orang
- lain dari segi sosial itu ditentukan
- saat kapan itu B nih?
- bagi-bagi. Kalau ada kue dia bagi terus
- apa-apa kalau tidak ada ee temannya itu
- kelas itu kayaknya tidak
- tidak bahagia,
- tidak itu sangat ditentukan
- oleh masa ee proses tumbuh kembang anak
- di dalam kandungan.
- Untuk itu, Ibu, Ibu-ibu, kalau
- membiasakan anak itu mau berbagi, dia
- sangat menyenangkan. Untuk itu saat
- sedang mengandung anak kita, berbuat
- banyaklah hal-hal yang baik. Dan itu
- yang kemudian kita akan menemukan anak
- yang memiliki aspek perkembangan emosi
- dan sosial yang sangat kita harapkan dan
- dia menjadi individu yang sangat
- menyenangkan orang lain. Wah, ini poin
- penting ini Bunda nih. Kita sampai di
- sini dulu ya. Oh, lumayan. Baru tadi as
- dari aspek ketiga sampai keenam ini
- sudah mengambil waktu yang banyak. Yang
- jelas di pertemuan berikutnya masih akan
- berlanjut karena masih banyak sekali.
- Kita boleh langsung ke pertanyaan ya.
- Boleh, boleh, boleh. Oke. Ini
- dari
- Ibu Ani ya. Terima kasih sekali
- bahasannya. Tapi kalau sudah terlambat
- gimana? Anak saya udah gede-gede dan
- mereka memang lebih emosional
- dibandingkan anak-anak yang lain. Apa
- yang harus saya lakukan, Pak? Baik.
- Kalau Ibu menyadari hal itu, kuncinya
- sangat sederhana. Ambil waktu bersama
- mereka
- berdiskusi. Tapi di akhir atau di awal
- diskusi, Ibu memulai dengan meminta
- maaf. Seharusnya ibu melakukan banyak
- hal, tetapi karena ini karenanya ini
- banyak sekali. Salah satunya tidak punya
- waktu apalagi ibu memiliki kesibukan,
- ambil waktu minta
- maaf. Apa keuntungannya? Keuntungannya
- mungkin
- ee anak-anak kita akan memaafkan hal itu
- dan itu yang kemudian mereka menjadikan
- dasar untuk mengoreksi diri mereka. Tapi
- kan mereka punya waktu yang panjang dan
- kemungkinan mereka akan menjadi ibu atau
- menjadi ayah. Dan itu yang kemudian kita
- akan menemukan cucu yang hebat karena
- dia bersumber dari ee ibu atau ayah yang
- dia sudah menyadari diri dia dulu tidak
- mendapatkan hal-hal yang seharusnya.
- Tetapi dia tidak mau mengulangi itu,
- tetapi diawali dengan permintaan maaf
- dari ibu. Nah, ini menjadi penting. Ini
- kunci. Betapa meminta maaf ternyata jadi
- jalan pembuka hati mereka. Ya. Iya. Dan
- itu menjadi dasar dan itu akan kemudian
- dia akan menelusuri hal-hal apa ya yang
- postif pada diri aku dan hal-hal apa
- yang negatif. ini yang mungkin karena
- mengalami kegagalan dalam proses
- perkembangan itu yang kemudian dia bisa
- ee menyesuaikan diri dengan perkembangan
- pengetahuan hari ini.
- Ini dari tidak ada namanya terkait
- dengan bersikap adil, tidak
- membeda-bedakan, tidak mudah karena
- terkait dengan karakter anak. Anak saya
- tiga kebetulan berbeda-beda. Itu
- bagaimana soal adilnya? Nah, ini yang
- menarik.
- Jadi satu
- ee keterampilan atau satu kemampuan yang
- harus dimiliki oleh seorang ayah dan
- seorang ibu itu melakukan
- asesmen. Setiap anak yang dikaruniai
- oleh Allah kepada kita atau yang
- dipercayakan oleh Allah kepada kita itu
- memiliki keunikan atau memiliki
- keunggulan tersendiri. Itu yang ditandai
- oleh Sidik Jari. Jadi masing-masing anak
- kalau boleh kita buatkan
- assesment. Hasil assesment ini itu yang
- kemudian kita bisa susun menjadi sebuah
- portofolio atau sebuah cerita. Lalu dari
- sebuah cerita itu kita akan tahu apa
- yang menjadi keunggulan anak dan apa
- yang menjadi hal-hal yang perlu dicatat.
- Rasa keadilan itu sebetulnya di situ.
- Bagaimana kita adil ke setiap anak itu
- memfasilitasi anak sesuai dengan apa
- yang menjadi bakat dia dan apa yang
- menjadi minat dia. Itu yang kemudian
- menjadi keunggulan. He. Tetapi
- juga ada hal yang
- kemudian anak ini memiliki keunggulan
- tetapi ada hal-hal yang kita catat atau
- kita garis bawahi. Saya tidak bilang
- hal-hal yang negatif ya Bundai. Tapi
- saya selalu menggunakan hal-hal yang
- perlu kita catat agar mendapatkan
- perhatian. Iya. Perhatian itu mungkin
- kalau kita biarkan akan merugikan anak
- baik bagi diri dia atau pada saat dia
- proses ee sosialisasi. Nah, kita adil di
- dalam hal itu. Lalu kemudian
- pertanyaan pertama kan dia kita temukan
- apa yang menjadi keunggulan dia itu yang
- kemudian bakat dan minat. Di situlah
- kita harus
- mengoptimalkan, memfasilitasi dia.
- Otomatis anak A, anak B, anak C itu
- memiliki keunggulan yang berbeda-beda.
- Ah, untuk itu supaya dia adil kita
- habiskan apa yang kita miliki, sumber
- daya yang kita miliki untuk
- mengoptimalkan potensi anak kita. Oke.
- Kalau kita tidak memiliki kelebihan,
- berarti kita harus mengkonekkan dengan
- potensi yang ada di luar seperti
- beasiswa atau kita mencari pelatih yang
- hebat agar bakat dan minat anak itu
- benar-benar berkembang. Nah, ini poin
- penting.
- Oke, ini pertanyaan terakhir kita sudah
- di penghujung dari Mbak atau Mas Angka
- nih. Sebagai anak linguistik senang
- sekali mendengar program Rasil kali ini.
- Semoga Dr. Hamid, Mbak Nuning, semua
- juga dapat rahmat. Pertanyaannya, anak
- pertama saya didiagnosa disleksia pada
- kelas 4 SD, saat ini SMP kelas 3 dan
- masih kesulitan membuat satu kalimat
- lengkap padahal sudah diajarin dengan
- mengenalkan tentang imbuhan dan
- sebagainya. Apa yang harus saya lakukan
- nih? Ah, ini menarik. Pertama, Ibu harus
- memperbanyak ee literatur. Ah, kalau
- boleh kalau di Jakarta Ibu ee berkunjung
- ke Komnas Nasional Disabilitas yang ada
- di Cawang. Ketuanya itu ee mengalami
- diseleksia.
- Oke.
- Untuk anak diseleksia itu dia harus
- memiliki ibu yang hebat yang harus tahu
- terkait dengan bagaimana
- memfasilitasi anak kita. Masing-masing
- anak diseleksia itu memiliki ee
- penanganan khusus. Itu tergantung dari
- pembacaan. He ah seperti yang Ibu
- ceritakan tadi itu coba Ibu ee perbanyak
- ee literatur itu yang pertama berarti
- banyak membaca. Yang kedua yang jadi
- tantangan kan anak kita itu tidak hanya
- berinteraksi dengan kita. Iya. Dia
- berinteraksi dengan beberapa orang. Ah,
- salah satu yang perlu kita beri
- pemahaman itu adalah orang-orang yang
- berinteraksi dengan dia supaya mereka
- memiliki pengetahuan yang sama seperti
- kita. Dan yang kemudian kita akan
- berharap pada saat ee teman-temannya
- atau gurunya atau orang yang ada di
- sekitar dia berinteraksi dengan anak
- kita, dia akan mendapatkan ee layanan
- atau mendapatkan sentuhan yang
- seharusnya ee dia dapat seperti yang
- kita berikan kepada anak kita. Dan ini
- yang kemudian ee membutuh waktu banyak
- atau ada guru yang tidak mau ee kamu ini
- udah besar kok enggak bisa baca. Padahal
- anak ini dia mengalami persoalan. Nah,
- untuk itu juga ee kalau boleh cari waktu
- berinteraksi
- dengan Dedy Kubuzer atau anaknya juga
- mengalami hal itu, bagaimana cara
- menangani atau cari ee komunitas. Ini
- satu keunggulan yang ada di orang tua
- yang memiliki anak disabilitas, mereka
- punya komunitas kalau boleh berinteraksi
- dengan mereka. Lalu kemudian ee berbagai
- ee pengalaman
- dan berbagai pengetahuan. Misalnya anak
- kita itu sudah kita ajarkan membaca tapi
- menggunakan satu bentuk tipe huruf
- misalnya Times New Roman. He he. Pada
- saat kita memberikan satu tulisan dengan
- menggunakan ee jenis huruf yang lain itu
- anak kita tidak bisa baca karena dia
- sudah terbiasa format times new roman.
- Kalau kita kasih kenal apa ee Arial
- apalagi yang huruf-huruf yang lain itu
- anak kita kok kamu masa ini tidak bisa
- baca huruf. Ah, ini juga menjadi
- tantangan. Untuk itu, ibu yang hebat
- yang memiliki anak ee khusus ini
- berharap dengan kemampuan Ibu
- mendampingi, membimbing anak Ibu, jangan
- ee simpan pengetahuan dan keterampilan
- itu untuk diri kita. Kalau boleh bisa
- dibukukan atau kalau boleh buat dalam
- bentuk TikTok atau dalam bentuk yang
- lain sehingga orang memiliki pemahaman
- yang sama dan pada suatu waktu mereka
- akan berjumpa dengan anak kita, mereka
- berinteraksi ee menjadi biasa sampai
- membaca buku atau apa. Ini butuh
- latihan. Untuk itu saran saya latih anak
- kita dengan berbagai jenis huruf. Huruf.
- Ini ada pertanyaan tambahannya.
- Lembaganya tadi apa? Komnas Anak
- Disabilitas. Komnas ee Komisi Nasional
- Disabilitas Republik Indonesia. Oke,
- tinggal klik aja ya. Tinggal klik. Tapi
- kalau mau kalau tinggal di Jakarta
- tinggal datang datang di Cawang ada itu
- ee kita ketik di Google nanti Om Google
- yang ngarahin ke mobil kita. Iya. Dan
- dari kelas 1 nih dari kelas 1 SD nih
- nilainya bagus
- di matematika dan bahasa Inggris. Oke,
- waktu kita sudah habis. Baik, closing
- statement. Terima kasih ayahanda dan
- bunda. Insyaallah kalau kita masih
- diberi kesempatan oleh Allah, kita akan
- membahas hal ini. untuk sebagai
- pengingat kalau boleh. Ada beberapa
- undang-undang yang saya sebutkan tadi,
- tapi yang paling penting
- adalah yang harus kita pahamkan menjadi
- ayah dan ibu yang hebat, kakek, nenek,
- dan paman bibi yang hebat terhadap cucu
- dan keponakannya. Kita harus memiliki
- pengetahuan terkait dengan perkembangan
- anak. Iya. Terkait
- dengan pengetahuan tentang anak kita,
- yang paling tahu adalah ayah ibu. Ah,
- untuk itu kalau boleh share juga kepada
- nenek, "Nek, ini cucu ini dia memiliki
- kemampuan seperti ini." Ah, itu harus
- diceritakan supaya mereka mendapatkan
- informasi yang sama. Ini mungkin yang
- bisa kami sampaikan. Demikian. Semoga
- kita tetap diberikan cahaya oleh Allah
- yang sudah lembut. semakin lembut dalam
- mendampingi,
- membimbing, mengasuh anak kita. Anak
- adalah cermin dari ayah dan ibunya,
- cermin dari kakek, nenek dan paman
- bibinya. Untuk itu, jadikanlah anak kita
- menjadi individu-individu yang hebat
- yang kemudian sangat diharapkan oleh
- keluarga.
- oleh bangsa negara dan yang paling utama
- oleh agama. Demikian. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Dr. Hamid
- untuk pencerahannya hari ini dan ikhwan
- akhwat mudah-mudahan ke depan kita
- semakin mampu menempatkan diri sebagai
- orang tua sebagaimana yang diharapkan
- dalam bahasan ini. Billahi taufik
- walhidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.