Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Rasil TV
- Bismillahirahmanirahim, alhamdulillah
- wakafa washolatu wassalam ala nabiyil
- mustofa waala alihi wasohbihi ala sidik
- walofa. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ikhwan akhwat yang dirahmati
- Allah subhanahu wa taala, selamat datang
- di acara kajian tasawuf bersama Sayyid
- Ahmad Musytaba bersama saya Sayyid Alkaf
- Anis Muhalim dan juga Ondy sebagai
- kameramen. Dan ikhwan akhwat
- alhamdulillah Sayyid Ahmad Musytaba
- alhamdulillah sudah membersamai kita di
- studio. Assalamualaikum Habib.
- Waalaikumsalam
- Allah wa barakatuh
- Sayyid Habib
- Alhamdulillah alhamdulillah, perjalanan
- lancar Habib Alhamdulillah Habib
- Insyaallah insyaallah insyaallah
- pagi-pagi weekend alhamdulillah paling
- enak
- paling enak
- perjalanan Jakarta alhamdulillah. Hari
- ini kita ikhwan akhwat akan melanjutkan
- pembahasan oh membaca kitab mahiyatut
- tasawuf karangan Habib Umar bin Muhammad
- bin Salim bin Hafidz melanjutkan bab
- ikhlas Habib ya
- bahas salah satu ciri ahli tasawuf yaitu
- ikhlas kemarin sudah dibahas ee
- mukadimahnya sekarang kita akan
- menyelesaikan pembahasan bab ikhlas dan
- mungkin akan di na'am kalau ada waktu
- mungkin lanjut ke yang selanjutnya Habib
- ya insyaallah baik ikhwan akhwat mari
- sama-sama kita dengarkan penjelasan dari
- Habib Ahmad Musytaba tentang salah satu
- ciri ahli tasawuf yaitu ikhlas
- bismillah
- bismillahirahmanirahim
- alhamdulillahirobbil alamin
- washolatu wassalamu ala sayyidil
- mursalin sayyidina Muhammadin waala
- alihi wasohbihi ajma'in subhanaka laa
- ilmalana illa ma alamtana innaka antal
- alimul hakim wa tub alaina innaka antat
- tawwabur rahim
- allahumma ya fattahu ya alim ya fattahu
- ya alim ya fattahu ya alim iftah alaina
- fathan qoriba ya arhamar rohimin
- allahumma laa sahla illa ma ja'altahu
- sahla wa anta taj'alul hazana idza
- syi'ta sahla allahumma sahillana uluma
- wahablana wasi'atil fuhu bi jahin
- nabiyikal ma'sum shollallahu alaihi
- wasallam allahumma inna nas alukal ilmal
- ladunni wal masyrabash shofil hani ya
- wahab ya ghani wana'udzubika allahumma
- min ilmin laa yanfa' waqalbin laa
- yakhsya' wa'amalin laa yurfa' wa'ainin
- laa tadma' wa nafsin laa tasyba' wa
- da'watin laa yustajabu laha bi rahmatika
- ya arhamar rohimin ya arhamar rohimin ya
- arhamar rohimin
- alhamdulillahirobbil alamin
- senantiasa puji dan puji syukur kita
- haturkan ke hadirat Allah subhanahu wa
- taala atas limpahan karunia hidayat
- inayah dan riayah dan taufik kepada kita
- semua hingga bisa bersama kembali dalam
- kajian mingguan
- dan di sini kita membaca kitab mahiyatut
- tasawuf wasimatul ahlih karangan
- Sayyidil Habib Umar bin Muhammad bin
- Salim bin Hafidz
- ee
- pemirsa dan pendengar ee Rasil
- hafizakumullah wa ra'akum wa ballaghakum
- aqshaa munakum di sini
- ee dalam pertemuan yang lalu kita masuk
- di alamat ketiga al ikhlas Habib ya
- setelah ee kita membahas toban dari awal
- definisi tasawuf kemudian alamat pertama
- keluasan ilmu kemudian alamat kedua
- perhatian terhadap ee hati dan di sini
- alamat ketiga al ikhlas
- toban ee sempat dibahas juga dalam
- minggu lalu definisi al ikhlas itu dan
- juga dalil dari Alquran dan juga dari
- hadis Nabi shollallahu alaihi wa alihi
- wasallam
- kemudian menukil daripada kalam
- al harits al muhasibi al harits al
- muhasibi ketika beliau membahas perihal
- tentang ikhlas memang
- al ikhlas ini adalah
- inti nah sempat kita bahas Habib ya
- perumpamaan ikhlas bagaikan angka satu
- aya yang amal-amal yang lain itu kayak
- apa kayak angka nol nol nol wa akherah
- yang enggak ada artinya nol-nol itu
- kecuali ada angka sebelumnya wa akherah
- begitulah kata Sayyidil Imam Ibnu
- Athaillah As Sakandari
- al a'malu suwarun qaimah wa arwahuhal
- wujudus sirril ikhlas fiha wa akherah
- nah di sini kita akan masih membahas
- perihal tentang ikhlas
- menukil beberapa kalam daripada aimmas
- sholihin dimulai dari kalam al Imam al
- Qusyairi kemudian kalam al fudhail bin
- ayyadh kemudian kalam Sayyidil Habib
- sendiri
- saya bismillahirahmanirahim
- qala musonnif hafizahullah taala wa
- ra'ah
- waqala al Imam al Qusyairi fi risalatih
- nah di sini Sayyidil Habib menukil
- jumlah daripada kitab ar risalah al
- Qusyairiyah karangan al Imam al Qusyairi
- Imam Qusyairi ini siapa Habib nah
- mungkin orang kalau sering
- baca-baca kitab tasawuf enggak asing
- namanya ini enggak al Qusyairi apalagi
- kitab yang tenar itu ar risalah al
- Qusyairiyah wa akherah
- yang ajib memang risalah itu
- ee beliau namanya al Imam Abul Qasim
- Abdul Karim bin Hawazin al Qusyairi
- wa akherah
- beliau ini Habib berguru kepada seorang
- alim allamah yang bernama Abu Ali ad
- daqqaq
- ad daqqaq
- itu sebagai syekh fathah beliau
- banyak orang mengira Imam Qusyairi ini
- hanya
- ahli tasawuf
- padahal
- masyaallah luar biasa beliau ini Habib
- sebelum beliau tenar dengan tasawufnya
- dan dengan kitab ar risalah
- Qusyairiyahnya beliau tenar dengan al
- kalam ilmul kalam mutakallim wa akherah
- gowi dalam ilmu tauhid gowi dalam ilmu
- aqidah wa akherah beliau berguru dalam
- ilmu tauhid itu kepada syekh al ustadz
- Abu Ishaq al Isfirayini wa akherah
- ilmul ushul wa ilmul ilmul ashlein
- kalau di di apa namanya kita dengar
- ilmul ashlein maksudnya ashlu din wa
- ashlul fiqih wa akherah ushul ashlu din
- at tauhid wa ushul fiqih ya ma'ruf kitab
- ushul fiqih itu beliau selain mutakallim
- juga ushuli
- pakar hebat dalam ilmul ushul dan ya
- pastilah kalau orang masyaallah dalam
- ilmu ushul ya fiqihnya juga pasti
- masyaallah ee beliau juga apa namanya
- toban mazhab mazhab Syafii
- syafii al mazhab asy'ari al aqidah
- abul qasim abdul karim al Qusyairi
- wa akherah ee di Khurasan beliau ini
- Habib daerah apa namanya kalau sekarang
- ee Irak Iran dan sono wa akherah aslinya
- ee bukan dari sono beliau keturunan dari
- apa namanya dari bani Qusyair dari Arab
- tapi nenek moyangnya pindah sono
- hadza ajib ar risalah al Qusyairiyah eh
- kitab ar risalah al Qusyairiyah itu
- membahas tentang apa
- banyak pembahasan tentang di situ di
- situ dibahas tentang mustholahatil qaum
- istilah-istilah ulama tasawuf oke
- yang ajib lagi beliau di situ juga
- membahas rijal biografi-biografi ulama
- tasawuf nah makanya seringkali kita
- dengar rijalal Qusyairiyah na'am artinya
- ulama-ulama yang disebutkan biografinya
- dalam kitab ar risalah al Qusyairiyah wa
- akherah
- ini penting Habib penting penting banget
- ee seringkali kita belajar ilmu
- entah itu fiqihkah atau entah itu
- hadiskah atau entah itu tasawuf sekarang
- penting sekali kita
- mengkaji juga biografi-biografi ulama
- yang menjadi rujukan dalam ilmu ini dan
- ini banyak sekali apa namanya muallafat
- yang dikarang untuk membahas perihal ini
- yang dinamakan dengan tabaqat
- hmm tabaqat tingkatan-tingkatan atau
- generasi-generasi
- orang yang belajar fiqih
- enggak akan
- kecuali dia mempelajari 10 ilmu
- semua berkaitan dengan fiqih di
- antaranya at tabaqat
- dia tahu tuh apa namanya
- tingkatan-tingkatan ulama-ulama dari
- zaman ke zaman dari abad ke abad di
- mazhab dia itu contohnya
- dan ini banyak
- hampir tiap-tiap mazhab mereka mempunyai
- tabaqat wa akherah
- kalau di mazhab di mazhab arba'ah yang
- ajib di sini yang pertama kali
- mencetuskan tabaqat dari mazhab
- hanabilah
- tabaqatul hanabilah dari situ banyak
- yang niru habis itu
- kalau di mazhab syafi'iyah ee kitab yang
- ma'ruf dalam tabaqat
- ee al Imam as Subki ee tabaqat as
- syafi'iyah al kubra itu luar biasa Habib
- tujuh jilid
- yang kitab itu dibilang ee semuanya ada
- di bukan cuma biografi setiap Imam Subki
- menyebutkan biografi seorang ulama dia
- juga menyebutkan kisah-kisah keilmuannya
- wa akherah terjadi perdebatan antara dia
- sama siapa ya gitu dibilang kitab ini
- hadza ajib semuanya ada di situ ente mau
- fiqih ada di situ ente mau nahwu pun ada
- ente mau tentang ilmu tauhid juga ada di
- situ tabaqat
- hadza ajib ilmur rijal ilmur rijal apa
- lagi masalah hadis oh toban kalau ilmul
- hadis memang semuanya cerita tentang
- rijal wa akherah al jarh wa ta'dilnya
- dan banyak kalau masalah ee al hadis al
- hafiz al mizzi Ibnu Adi Ibnu Hajar al
- Asqalani mengarang tentang rijal wa
- akherah
- begitu Habib nah di tasawuf pun ada
- seperti itu
- nah di antara kitab yang membahas
- tentang tabaqat ini nih ar risalah al al
- Qusyairiyah dia nyebutin wa minhum fulan
- bin fulan gimana tarajimnya dan apa
- perkataan-perkataannya dan terus seperti
- itu makanya dinamakan sebagai dikatakan
- sebagai istilah rijalal Qusyairiyah ya
- ulama-ulama yang disebutkan di ee
- risalah al Qusyairiyah ini beliau
- tahun berapa sih abad ke berapa beliau
- ini Habib? Apa namanya lahir di tahun
- 300-an di akhir abad ke-4. Ehm. Dan
- beliau meninggal di awal tahun 400-an,
- awal abad ke-5 Hijriah. Nah, itulah masa
- beliau. Baik, bismillah.
- Qala Imam Al-Qusyairi, Imam Qusyairi
- berkata dalam risalahnya mengungkap
- hakikat ikhlas, al-ikhlasu ifradul haqqi
- subhanahu.
- Ikhlas adalah mengesakan Allah,
- menyatukan Allah subhanahu wa ta'ala fi
- ta'at dalam perihal
- ketaatan bil qasdi dengan tujuan
- menuju hanya kepada Allah ta'ala.
- Maksudnya bagaimana? Wahuwa an yurida bi
- ta'atihi at-taqarruba ilallah subhanahu.
- Bermaksud ketika dia melaksanakan taat
- itu hanyalah tujuannya at-taqarrub,
- mendekat kepada Allah subhanahu wa
- ta'ala. Duna syai'in akhar, bukan dia
- menuju apapun, mempunyai maksud apapun
- selainnya.
- Ehm, dari tasannu' lil makhluq, berbuat
- untuk seorang makhluq dipandang,
- wahakadza au mahmadah indan nas atau
- mendapatkan pujian au mahabbatun ada
- ataupun cinta, suka untuk dipuji
- daripada orang-orang, au ma'na minal
- ma'ani ataupun ma'na apapun siwa
- taqarrub yang selain daripada
- mendekatkan diri kepada Allah subhanahu
- wa ta'ala.
- Berarti harus satu, harus intinya adalah
- ente beribadah ini kenapa pengen dekat
- sama Allah ta'ala, wahakadza.
- Ehm. Pengen lebih mengenal Allah. Pengen
- dicintai oleh Allah ta'ala. Nah, ini
- yang kita cari.
- Wahakadza, bukanlah yang tadi kayak
- beliau sebutkan apa namanya ehm
- pandangan manusia ataupun pujian dari
- manusia ataupun yang selain itu,
- wahakadza. Ini
- ma'nal ikhlas dengan dengan standar yang
- ajib, wahakadza.
- Makanya Habib, orang kalau ikhlas
- dikatakan kalau seandainya orang sudah
- ehm apa namanya
- masuk dalam alam keikhlasan bagi mereka
- itu sama
- antara pujian dan celaan.
- Iya. Gitu.
- Enggak ada nilainya maksudnya? Enggak
- ada nilainya Habib.
- Ehm, maksudnya gimana? Kalau seandainya
- ada beberapa orang apa namanya dia
- dicela, dia ada ada ada syai' di hatinya
- gitu, kayak gimana? Tapi ditahan sama
- dia, disabar-sabarin gitu.
- Ketika dia dipuji, ada senang di hatinya
- tapi ditahan sama dia. Itu lumayanlah,
- wah itu bagus, masuk dalam kategori
- mujahadah.
- Tapi kalau di kalangan mereka, eh sama
- aja, artinya enggak ada rasa sama
- sekali, mati rasa.
- Iya, iya, iya, benar.
- Dipuji habis-habisan, biasa-biasa aja
- dia.
- Wahakadza.
- Enggak GR sama sekali, apalagi apalagi
- terbang, enggak sama sekali.
- Dicela habis-habisan, biasa-biasa aja
- dia.
- Ehm, orang nyuruh dia, "Ayo dong
- klarifikasi."
- Dia ngerasa enggak ada yang perlu
- diklarifikasi,
- apa namanya?
- Enggak enggak, artinya enggak enggak
- sama sekali, enggak merasa bahwasanya
- dia dicela.
- Gitu. Masya Allah, masya Allah. Hadza
- shaub Habib. Shaub shaub Habib. Tapi
- beda Habib ya antara celaan dan
- kritikan. Nah, hadza jamil, jamil jiddan
- ini, keren-keren.
- Mencela, menjudge, apa namanya? Masuk ke
- pribadinya ila akhirih, ini yang mereka
- enggak pedulikan. Tapi kalau kritikan
- justru dicari Habib. Ehm.
- Nasehat, kritikan, motivat motivasi,
- mereka suka itu. Ayo, bismillah.
- Rahimallah imra'an ahda ilayya uyubi,
- kata Sayyidina Umar. Masya Allah, masya
- Allah. Semoga Allah merahmati
- ehm memberikan rahmat kepada orang-orang
- yang telah Sayyidina Umar
- men-menta'birkan ahda, memberikan hadiah
- kepadaku yang berupa keburukanku.
- Nah, begitu Habib. Masya Allah. Ingat
- Sayyidina Zeinal Ali Zeinal Abidin.
- Allahu Akbar. Waktu ada orang mencela
- dia, mencela, dicela, dicela-cela dari
- bab 1 sampai bab 24 mah.
- Dicela-cela Habib.
- Pengawalnya mau menggerbekkan,
- pengawalnya mau menggerbek ditahan,
- jangan-jangan.
- Kemudian ehm di sisi saya orangnya.
- Ehm, kalau enggak salah mohon dikoreksi
- Habib. Nah, masya Allah, masya Allah.
- Ehm.
- "Apa yang kamu bilang itu belum
- lengkap." Lailahaillallah. "Sini duduk
- sama saya, saya kasih tahu aib-aib lain
- yang belum kamu sebutin tadi." kata
- Sayyidina
- Wallahi, artinya apa? Dia dicela enggak?
- Enggak ada rasa sama sekali.
- Masya Allah, malah dikasih uang menurut
- saya. Na'am, na'am, dari riwayat uang
- orang yang mencela mencela dikasih uang
- kemudian apa namanya orang itu akhirnya
- Enggak enakan. Enggak enakan. Enggak
- enakan, akhirnya tobat sama Allah
- subhanahu wa ta'ala, masya Allah. Hadza
- ajib subhanallah. Kalau kita bahas
- tentang Sayyidina Ali Zeinal Abidin,
- hadza luar biasa Habib, luar biasa.
- Makanya tadi masih cerita tadi,
- dicela-cela habis ehm wa ma khofi kana
- a'zham, yang ente enggak tahu lebih
- banyak katanya kan. Ehm.
- Bahkan dalam riwayat yang lain, di
- cerita yang lain
- bukan cuma dicela Habib, diludahin.
- Pernah Sayyidina Ali
- Zeinal Abidin
- dicela-cela habis dan diludahin
- akhirnya.
- Apa yang beliau buat?
- Ngebalas? Enggak, apalagi
- ngebalas celaan juga enggak. Itu ludah
- itu ya jatuh ke mukanya.
- Beliau usap-usap mukanya dengan ludah
- itu.
- Ehm.
- Dan beliau berkata
- riqul mu'mini syifa'.
- Ya Allah. Itu, ini
- ludah dari seorang mu'min adalah obat.
- Ya Allah. Wahakadza, wahadza warada fi
- riwayat, ada ada riwayat memang, riqul
- mu'mini syifa'.
- Wahakadza, Nabi Allah ketika mengambil
- turab dari turab syifa', bi riqi
- ba'dina, wahakadza yusyfa bihi mariduna,
- wahakadza.
- Nah, ini luar biasa Habib. Masya Allah,
- luar biasa.
- Riqul mu'mini syifa', luar biasa.
- Sayyidina Ali Zeinal Abidin.
- Pernah juga teman waktu zaman itu kan
- yang berkuasa adalah ini, ehm Bani
- Umayyah.
- Yang memang apa pada zaman itu banyak
- yang menyerang ahlul bait. Dan
- diwajibkan di khutbah-khutbah Jum'at itu
- untuk mencaci maki ahlul bait.
- Sayyidina Ali Zeinal Abidin ya
- biasa-biasa nyantai.
- Ehm, diceritakan ini ajib luar biasa
- ini, luar biasa Habib.
- Waktu beliau hadir shalat Jum'at Ehm.
- Sayyidina Ali Zeinal Abidin hadir sama
- anaknya, siapa? Muhammad Al-Baqir.
- Ini banyak anaknya di antaranya Zaid ila
- akhirih.
- Sayyidina Muhammad Al-Baqir hadir di
- situ.
- Yang khotib ini ya tanpa batas.
- Menyelanya habis.
- Enggak kayak biasalah.
- Ehm, dan sampai-sampai dibilang, "A'ni
- au wa wa wa iyyaka a'ni, yang aku maksud
- dengan celaan ini adalah engkau."
- Udah jelas sudah enggak pakai
- nyindir-nyindir lagi, inti yang dicela
- nih.
- Tetap aja.
- Akhirnya sama anaknya Sayyidina Muhammad
- Al-Baqir dibilang, "Abah
- ya, balas dong."
- Paling enggak klarifikasi kalau bahasa
- kita sekarang. Iya, iya. Jelasin ke
- orang bahwasanya ente enggak kayak gini.
- Oh, gitu.
- Gitu.
- Dibalas sama Sayyidina Ali Zeinal
- Abidin. Oh, ini subhanallah, gimana
- Habib?
- Sayyidina Al-Baqir na'am, itu yang yang
- apa? Yang itu yang Sayyidina Al-Baqir
- kan. Sama Sayyidina Ali Zeinal Abidin
- abahnya dibilangin ke anaknya. Ehm. Syuf
- ya waladi.
- Apa namanya? Ma mata ahitta abaka
- sabbaban,
- sejak kapan engkau melihat ayahmu pernah
- mencela orang?
- Gitu.
- Balas enggak? Enggak.
- Dia bilang, "Ente pernah lihat ane kayak
- gini? Ente pernah lihat ane ngomong
- enggak bagus ke orang lain?" Ehm, ehm.
- Mata ahitta, enggak pernah, ya sudah
- memang bukan begini caranya,
- gitu.
- Wallahi. Ajib, wallahi ajib. Mata ahitta
- abaka sabbaban.
- Ehm, ma'ruf kalau kita kembali ke hadis
- ma bu'itsu sabbaban wala la'anan ila
- akhirih, Nabi Allah bersabda, "Bukanlah
- aku orang pelaknat ataupun orang
- pencela." kata Nabi Allah bersabda.
- Gitu Habib. Ya Allah.
- Lailahaillallah.
- Jadi apa namanya? Ehm, ini kan pujian
- apa namanya? Celaan ini, celaan mereka
- enggak bakal balas.
- Sebenarnya, sebenarnya Syuf.
- Tapi ini agak gharib Habib ya.
- Ujian yang yang berat itu bukan celaan.
- Pujian. Pujian yang berat.
- Itu getarkan keikhlasan banget.
- Ehm. Kalau celaan, bisa saja kita sabar
- wa ila akhirih, wah insya Allah khair,
- kita maafin ila akhirih, oh it's okay.
- Tapi kalau pujian, wow, oh itu
- benar-benar gimana ya? Artinya ente mau
- maafin, mau emang ente enggak salah kok
- dipuji kok.
- Berarti ente yang yang main di sini.
- Ehm.
- Iya, benar. Ya, bismillah, jangan
- pedulikan. Itu susah tidak mempedulikan
- pujian ya.
- Makanya apa namanya?
- Ketika sebagian ulama dibilang, "Masya
- Allah, ya ente ini demen dipuji, demen
- dicium tangan." kalau bahasa
- Indonesianya. Aduh, benar. Demen dicium
- tangan, iya kata dia dibilang.
- Kalau ente tahu, tahu enggak? Ketika
- orang mencium tangan aku, itu dzobat
- persis kayak orang nabok aku katanya,
- nampar, sama persis. Ane rasakan sama
- itu.
- Pas orang kalau seandainya nampar,
- itu yang ane rasakan persis ketika
- tangan ane dicium orang lain,
- wahakadza.
- Hadza ajib.
- Yaqul Sayyidina Umar bin Abdul Aziz,
- "Barangsiapa yang memuji
- temannya, maka sungguh dia telah
- menggorok lehernya." Iya. Artinya gitu.
- Makanya pun pujian itu bahaya banget
- Habib.
- Karena akan membatalkan keikhlasan gitu
- Habib. Itu dia. Dan akan mendatangkan
- ketidakikhlasan di awal Habib. Betul
- banget. Karena dia nagih soalnya. Nagih
- ya.
- Dia akan misalnya dia beramal terus
- dipuji, terus dia melakukan amal yang
- sama kayak kok enggak dipuji lagi?
- Lailahaillallah. Ya Allah, benar, benar.
- Nah, ini Habib, memang yang
- yang semestinya enggak ditoleh sama
- sekali pujian itu kan, enggak sama
- sekali. Dia muji atau enggak muji ya
- sama aja, emang
- kalau kita pikir-pikir, entah kita bahas
- di akhir bab insya Allah perihal tentang
- ikhlas ini, ikhlas itu diobati dengan
- apa? Dengan pemikiran. Ehm.
- Dengan mindset gitu. Dengan mindset,
- wahakadza.
- Gitu-gitu.
- Dia muji ane
- apa yang bertambah?
- Dia mencela ane apa yang kurang?
- Enggak, berarti ngapain kita peduli sama
- mereka? Ehm. Ngapain kita mengorbankan
- amal baik kita demi perkara yang enggak
- ada artinya sebenarnya. Wah gitu.
- Al Imam ee Al Habib Muhammad bin
- Abdullah Al Haddar.
- Beliau punya Abah namanya Habib Abdullah
- Ma'ruf Al Haddar bin Syekh Abu Bakar bin
- Salim.
- Ee in hadza ajib. Beliau ini seorang
- yang saleh, yang polos gitu.
- Ee pas dia balik dari masjid, salat di
- masjid balik ke rumah.
- Dia sama anaknya.
- Ee ada orang Bib di tengah-tengah jalan.
- Wah habis, dihabisin, dicaci maki habis
- depan orang lagi.
- Dia buat kayak gini Syekh, hadza ajib.
- Dia di di dia diam aja pas orang tua
- nyaci maki dia depan orang, marhaba.
- Habis itu apaan?
- Dilihat bajunya.
- Lihat bajunya.
- Begini-giniin.
- Maksudnya apaan? Ini celaan ee enggak
- berpengaruh sama sekali.
- Ee hatta kotoran pun itu enggak ada,
- enggak nempel di baju anak. Ih ngapain
- berarti peduliin sama celaan itu? Benar.
- Kalau seandainya celaan itu kotoran yang
- tokek nempel jadi hitam baju kita gitu.
- Lah baru
- barulah mungkin kita mau ber beraksi
- gitu. Tapi ini enggak sama sekali
- berpengaruh. Wah gitu.
- Dilihat bajunya, masih bersih tetap
- masih oke. Ada yang kurang? Enggak ada
- yang kurang? Ya sudah jalan aja.
- Benar-benar, iya iya. Lailahaillallah,
- lailahaillallah.
- Begitu Habib. Ya Allah. Naam naam.
- Nah makanya dibilang
- ee itulah seorang yang mukhlis. Ketika
- celaan dan pujian itu sama.
- Wah gitu.
- Yagulu Sayyidah Rabi'ah Al Adawiyah yang
- minggu lalu kita bahas kan.
- Beliau masya Allah yang luar biasa dalam
- keikhlasan beliau. Beliau berkata
- apa namanya?
- Fakul idza shaha minkal wuddu ya
- ghayatul muna fakululladzi fauqot turabi
- turabun wasab ghairul mahrumah katanya.
- Nah ini, ini yang dibahas di pertama
- Habib.
- Ee kemarin ya? Lailahaillallah kata gal
- Imam Al Qusyairi.
- Nah kemudian di sini Sayyidil Habib di
- alinea kedua membahas tentang
- ee perkataan Sayyidina Fudhail bin
- Iyadh. Oke.
- Perkataan Sayyidina Fudhail bin Iyadh
- ini ma'ruf, ma'ruf juga.
- Gal Sayyid warawa bisanadihi, warawa
- yakni Imam Qusyairi meriwayatkan
- bisanadihi. Oh naam ana lupa.
- Risalah Qusyairiyah ini tab'an beliau di
- abad ketiga
- di abad keempat dan kelima itu masih
- pola-pola
- penyusunan kitab, pola-pola pengarang
- kitab itu masih menggunakan sanad-sanad.
- Jadi kalau mau menukil kalamnya si
- fulan, harus nyebutin dulu sanadnya dari
- ente sampai sampai fulan dari mana ente
- ambil ini. Dan terus gitu. Makanya di
- sini Al Imam Qusyairi ketika
- meriwayatkan kalam daripada Fudhail bin
- Iyadh pakai sanad.
- Warawina an kadza wa qala haddasani
- kadza gal sampai Fudhail bin Iyadh. Wah
- gitu. Warawa bisanadihi ada maknanya
- itu.
- Warawa beliau meriwayatkan dengan
- sanadnya sampai kepada Sayyidina
- Fudhail. Man Fudhail hadza?
- Hadza Imam
- ismuhu Fudhail bin Iyadh At Tamimi.
- Nah ma'ruf Fudhail bin Iyadh.
- Beliau ini Habib
- murid daripada Sayyidina Ja'far Shadiq
- bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal
- Abidin. Fudhail bin Iyadh.
- Dan juga murid daripada Sufyan bin
- Uyainah.
- Masya Allah.
- Beliau adalah di antara guru Imam
- Syafi'i.
- Imam Syafi'i sempat ngambil dari beliau,
- ngambil hadis dari beliau.
- Wah gitu. Sufyan Ats Tsauri juga sempat
- ngambil hadis dari beliau.
- Fudhail bin Iyadh. Sosok ulama yang luar
- biasa, azim.
- Ikhtalafu di mana khilaf ada yang
- sebagian yang sebagian menempatkan
- beliau sebagai tabi'in, tapi kebanyakan
- menempatkan beliau sebagai tabi'ut
- tabi'in. Wah gitu. Baik, Fudhail bin
- Iyadh.
- Fudhail bin Iyadh ini Habib
- ini banyak yang menyebutkan tarjamah
- beliau.
- Di antaranya kalau kita ee lihat apa
- namanya itu ee Syarah Al Ainiyah
- karangan Habib Ahmad bin Zein Al Habsyi
- itu menyebutkan lumayan panjang biografi
- Fudhail bin Iyadh.
- Yang ma'ruf dari Fudhail bin Iyadh ini
- kalimat-kalimat bijaknya, kata-kata
- bijaknya. Wah keren-keren. Banyak kata
- bijaknya. Di antaranya yang kita bakal
- baca ini.
- Yang gharib di sini yang ajib Fudhail
- bin Iyadh ini
- itu
- enggak kayak biografi ulama yang lain
- dari kecilnya masya Allah belajar enggak
- enggak. Ini dulunya nakal.
- Bahkan ini dulunya preman. Waduh.
- Oh benar Habib, lebih parah lagi?
- Bosnya preman.
- Bos orang yang gaul gitu. Atau riq, apa
- ya kalau bahasa begal? Perampok.
- Perampok, iya naam.
- Bosnya perampok nih Fudhail bin Iyadh.
- Aji bos perampok. Aji bukan ini saja,
- ada lagi satu lagi namanya Abu Bakar bin
- Al Hawari. Itu sama juga.
- Lailahaillallah.
- Dan banyak yang terjadi kayak ini.
- Lailahaillallah Habib, hadza ajib.
- Hatim apa namanya? Ee
- Bisyr Al Hafi juga kan. Bisyr Al Hafi
- dulunya pemabuk malahan.
- Wah gitu. Ini menjadi sosok ulama yang
- luar biasa semua. Yang kata-kata
- bijaknya dinukil di di mana-mana. Kalau
- kita melihat biografi mereka, loh kok
- bisa gitu ya?
- Kok bisa berubah
- emang ada ceritanya. Tiap-tiap mereka
- itu ada ceritanya gimana Bisyr Al Hafi,
- gimana Hatim Al Asham juga gimana
- ceritanya. Ini apa coba Fudhail bin
- Iyadh?
- Intinya di sini
- kalau Allah Ta'ala sudah menunjuk ya,
- maka Allah enggak peduli ini apa
- background-nya. Ehm. Begitu. Ehm. Iya
- enggak? Dikatakan oleh Imam Ibnu
- Athaillah As Sakandari dalam hikamnya.
- Idza fataha laka wujhatan fit ta'arufi
- ilaihi fala tubali ma'aha an galla
- amaluk. Dia bilang kalau seandainya
- Allah Ta'ala sudah membukakan pintu
- untuk berkenalan denganmu, maka jangan
- kau pedulikan sedikitnya amalmu itu.
- Enggak.
- Wah gitu. Fainnahuma fataha illa wahuwa
- yurid an yata'arrafa alaihi karena Allah
- Ta'ala tidaklah membukakan pintu itu
- kecuali Allah yang mau untuk berkenalan.
- Ehm. Wah gitu. Jangan ngandelin amal.
- Paham gitu.
- Gal am tara?
- Apakah kamu enggak tahu katanya?
- Bahwasanya al a'malu anta muriduh
- ilaihi.
- Wat ta'arufu wamuriduhu alaik.
- Kalau amal itu adalah perkara yang
- engkau persembahkan kepadanya. Ente
- nyodorin. Tapi kalau perkenalan sesuatu
- yang dimulai darinya kepadamu.
- Faina, makanya dibilang jauh banget
- perbedaan antara fainnama
- turiduhu
- ilaihi mimma huwa muriduhu alaik. Jauh
- banget perihal yang engkau sembahkan
- kepadanya
- dengan dan dibandingkan dengan perihal
- yang dimulai darinya dulu. Wah, jangan
- dibedakan itu jauh banget. Jauh banget.
- Artinya apa di sini?
- Kalau Allah sudah membukakan pintu
- kepada hambanya dan Allah pilih hambanya
- ini, teng.
- Ini enggak punya amal.
- Emang Allah enggak tahu dia enggak punya
- amal?
- Ini bejat dulunya, emang Allah enggak
- tahu dia bejat. Tapi Allah yang mau
- untuk berkenalan dengannya. Allah yang
- mau mendekatkannya. Udah jangan
- dipandang dulu-dulu itu apa gimana
- ceritanya.
- Nah ini suatu penyemangat besar artinya
- seburuk-buruknya seorang
- itu harapan untuk menjadi baik tetap
- ada. Tetap ada. Dan enggak bakal ditutup
- pintu tobat itu. Sampai kapan? Sampai
- nyawa sudah di sini baru kelar. Ehm.
- Hatta yughargir.
- Kalau sudah ghargor, sudah digargorah,
- nah sudah tutuplah pintu tobat. Sebelum
- itu
- harapan besar. Siapapun itu, lihatlah
- biografi-biografi ini. Bisyr Al Hafi
- dulunya pemabuk. Wah gitu.
- Fudhail bin Iyadh
- perampok.
- Abu Bakar bin Al Hawari juga sama
- perampok. Wah gitu.
- Tapi ujung ceritanya beliau menjadi luar
- biasa semua. Wah gitu.
- Makanya sempat kita bahas.
- Al Imam Junaid bin Muhammad Al Baghdadi,
- ma'ruf Sayyidut Thaifah.
- Nah.
- Suatu hari beliau apa namanya?
- Jalan bersama rombongannya balik itu.
- Banyak dia punya rombongan.
- Dia tengah jalan dicegat sama perampok.
- Dihabisin itu harta-hartanya.
- Dan dibawa mereka ke mana ke tempat ee
- basecamp-nya perampok itu.
- Wah yang ajib di sini
- jadi perampok sudah sudah ini nih. Apa
- namanya akhirnya?
- Mereka para perampok itu nuangin ini
- arak, khamr. Nuangin khamr.
- Sampailah ke bosnya, ke bosnya perampok
- ini.
- Pas ee si bos ini mau dituangin khamr
- bosnya bilang, "Enggak enggak enggak
- enggak usah.
- Aku lagi puasa hari ini."
- Ini soim katanya. Ana puasa nih hari.
- Bingung ini Sayyidina Junaid bin
- Muhammad. Nah puasa, puasa apaan nih?
- Ente udah ngerampok orang, ngambil harta
- orang, pakai puasa lagi. Ini apaan?
- Langsung dibilang sama "Ayyu soim
- katanya ini. Ayyu soim hadza ini. Puasa
- apaan ini sedangkan ente ngambil harta
- kita, puasa."
- "Gal ya fulan katanya, hei anak muda
- ketahuilah apa namanya?
- Satu helai tali ini tak akan aku
- putuskan hubungan antara aku dengan
- Allah Ta'ala.
- Walau ngambil harta orang wah ya lah,
- tapi harus ada satu helai tali antara
- aku dengannya yang mudah-mudahan ia akan
- menarikku dengan tali ini."
- Ajib. Ajib.
- Kelar tuh ceritanya. Balik Sayyidina
- Junaid bin Muhammad Al Baghdadi, balik
- semua ila akhiru.
- Sekian tahun kemudian, hadza ajib.
- Sekian tahun kemudian ketika Sayyidina
- Junaid lagi naik haji.
- Lagi naik haji dan di Multazam
- dia lagi nangis-nangis dilihat ada orang
- tua di sampingnya. Nangis-nangis. Dia
- bilang nih orang tua munawwar wajhuh.
- Wajahnya nur. Cahaya ini hadza ajib.
- Dideketin sama dia minta doa gitu.
- Pas dicolek sama dia, dia nengok ini
- orang tua.
- Enggak ada, ini kayaknya muka enggak
- asing. Ana pernah lihat muka ini.
- Nih orang tua juga? Iya.
- Kayak pernah ketemu.
- Ingat-ingat, nah ingat katanya. "Ente
- nih katanya".
- Ente dulu kan ketua perampok yang itu.
- Dia ingat juga, "nah betul ente anak
- muda yang itu kan".
- Nah semua.
- "Kok bisa kayak gini sekarang?"
- Kata saya, "luar biasa ini apa yang
- terjadi? Ah fulan".
- "Ingat enggak?"
- "Apa yang ane bilang waktu dulu?"
- Satu helai tali yang tak akan aku
- putuskan hubungan dengannya, yang
- harapanku.
- Mudah-mudahan Allah menarikku dengan
- berkat tali ini dan sekarang inilah aku
- sekarang.
- Aji. Berkat tali yang tipis itu satu
- helai tali walaupun semua sudah putus.
- Hubungan antara dia sama Allah sudah
- hablum minallah putus semua, tinggal
- satu jangan diputusin.
- Eh akhirnya Allah narik ane dengan tali
- itu menjadi begini ya sekarang.
- Nah makanya Habib.
- Hada ajib nah artinya.
- Subhanallah. Harapan masih ada dan
- enggak bakal ditutup.
- Wahai kita asagi bagi kalau orang
- Hadramaut bilang, asagi. Bagi. Bagi.
- Siapa sih yang ngasih. Mereka para ulama
- itu magam mereka kedudukan tinggi mereka
- ya Allah yang ngasih.
- Eh.
- Sang Maha Pemberi masih ada apa sudah
- sudah enggak ada sekarang?
- Eh masih ada kekal eh berarti masih
- masih mungkin bisa jadi kayak mereka.
- Betul.
- Kalau seandainya Sang Maha Pemberi
- enggak ada eh sudah enggak ada harapan
- lagi enggak selagi Allah Ta'ala masih
- ada berarti ada harapan untuk bisa jadi
- seperti mereka ya yang ngasih mereka
- juga yang ngasih kita.
- Wahai kita itu artinya.
- Ini di surat Az-Zumar ayat. Na'am. 53
- jika.
- Hada ajib.
- Kebanyakan. Ulama berkata ini adalah
- ayat arja ayah fil Quran.
- Arja artinya. Ayat yang paling
- membukakan pintu harapan.
- Arja raja pintu raja. Di ayat ini. Ini
- kalau kita ini Habib luar biasa.
- Artinya apa qul ya ibadi. Dikatakanlah
- wahai Muhammad.
- Serukanlah kepada hamba-hambaku ya ibadi
- wahai hamba-hambaku.
- Yang mana yang saleh enggak. He eh.
- Apa nah.
- Qul ya ibadi qul ya ibadiyal ladzina
- asrofu.
- Asrofu artinya telah. Eh telah lalai.
- Benar-benar lalai gitu setelah melewati
- batas. Melewati batas. Ala anfusihim
- yang mereka mendzalimi diri mereka
- sendiri.
- Ini nah ini ini berarti hamba-hamba yang
- yang masya. Masya banget ini.
- Tapi tapi entar dulu Allah Ta'ala masih
- nyatakan mereka adalah hambaku kata
- Allah Ta'ala.
- Hamba. Ini jangan jauh-jauh Habib jangan
- jauh-jauh kalau seandainya ada orang tua
- nih.
- Dia punya anak yang bandel.
- Bandel dan durhaka banget sama orang
- tuanya.
- Enggak sedikit dari orang tua yang
- enggak ngakuin lagi dia sebagai anaknya
- iya enggak. Iya benar. Banyak itu. Entah
- itu lain agama kah entah itu lain
- pemikiran kah entah itu dia buat
- perilaku yang dahsyat kah pokoknya si si
- orang tua ini. Enggak ngakuin lagi dia
- anak.
- Tapi Allah enggak.
- Sebejat-bejatnya hambanya tetap
- dinamakan ini hambaku loh. Hamba.
- Ada ya mutakalimnya ada ya mutakalimnya
- ibadi.
- Ini ya ibadi habis itu dibilang la
- taqnatum min rahmatillah jangan kalian.
- Putus asa dari rahmat Allah Ta'ala tetap
- ada rahmat Allah ada.
- Innallaha yaghfirudz dzunuba jami'a
- Allah itu mengampunkan dosa semuanya
- tanpa kecualian.
- Dibilang gini.
- Dosa ente besar.
- Banyak enggak terhitung.
- Iya. Tenang aja rahmat Allah lebih besar
- kok.
- Rahmat Allah lebih banyak bahagia.
- Wa rahmati sabagat gholobi nah kayak
- gitu rahmatku.
- Lebih didahulukan daripada kemurkaanku
- kata Allah Ta'ala. Dan terus gitu.
- Innahu huwal ghofurur rahim.
- Ala kulli hal Habib.
- Ini ceritanya menjadi cerita Fudail ini
- ceritanya. Fudail. Fudail bin Iyad.
- La ilaha illallah nah di sini beliau
- berkata.
- Qola.
- Tarkul amali min ajlin nasi riya.
- Oke.
- Wal amal min ajlillah syirik.
- Wal ikhlas an yu'afikallahu minhuma.
- Perkataan ini yang antum tanya nih
- minggu kemarin. Iya. Iya enggak. He eh.
- Ini dia di sini dibahas.
- Kita artiin dulu tarkul amal min ajlin
- nas ketika seseorang meninggalkan amal.
- Tidak beramal dia bukan beramal
- meninggalkan malah dia. Dia meninggalkan
- amal tapi itu dikarenakan manusia.
- Itu namanya riya tuh.
- Kalau wal amal adapun beramal min ajlin
- nas demi. Manusia itu namanya syirik
- kesyirikan.
- Wal ikhlas adapun ikhlas adalah an
- yu'afikallahu minhuma engkau
- diselamatkan Allah Ta'ala daripada kedua
- perkara itu. Tidak beramal untuk manusia
- dan juga tidak meninggalkan amal demi
- manusia.
- Oke. Maknanya apa oke kita bahas.
- Taman awalan ini perkataan ini banyak
- sekali yang meriwayatkannya.
- Di antara yang meriwayatkannya Al Imam
- Al Baihaqi.
- Dalam syu'abul iman meriwayatkan nas
- ini.
- Dan banyak yang mensyarahkannya Habib.
- Al Imam An-Nawawi. Dalam syarah adzkar
- dalam dalam adzkar dan juga Ibnu Allan
- dalam syarah adzkar.
- Membahas. Apa arti perkataan ini.
- Oke.
- Taman ma'ruf Habib.
- Yang kita yang kita pahamin riya itu apa
- sih riya pamer.
- Pamer dengan apa pamer dengan amal
- pastilah.
- Entah itu salat kah entah itu puasa kah
- entah itu belajar kah entah itu ngajar
- kah begitu.
- Ketika dia beramal.
- Demi manusia.
- Eh.
- Beliau nyatakan di sini ini masya Allah
- langsung naik ke atas namanya syirik itu
- namanya.
- Wah kafir dong begitu.
- Eh enggak.
- Hada guru
- asyirkul khofi dibilangkan memang arriya
- itu di nama lain dari riya adalah.
- Asyirkul khofi syirik yang tersembunyi.
- Memang betul kalau kita pikir-pikir
- ketika orang berbuat amal eh.
- Demi fulan melihat seakan-akan dia
- menyembah fulan.
- Seakan kalau fulan enggak lihat dia
- enggak bakal ngamalin ini.
- Berarti dia menyekutukan menyekutukan
- Allah Ta'ala dengan fulan ini.
- Maka dinamakan asyirk asyirkul khofi.
- Beramal demi orang itu suatu kesyirikan
- ya memang betul dia menyekutukan Allah
- dengan si fulan ini.
- Tapi apa temanya beramal.
- Tapi kalau meninggalkan amal.
- Demi manusia.
- Kok bisa dikatakan riya. Riya itu pamer
- pamer dengan amalan ini pamer dengan
- meninggalkan amal oh ini menjadi problem
- di sini.
- Tapi sebenarnya ini makna yang tinggi
- Habib Syuk.
- Isy makna hada contohnya gini contoh.
- Hada ajib Habib contoh.
- Kita masuk ke majelis contohnya
- majelisnya di masjid contohnya.
- Majelisnya di masjid.
- Iya kan sunah kalau masuk masjid sunah
- salat tahiyatul masjid dulu wahai kita.
- Kita masuk di masjid.
- Entah itu gurunya kah entah itu yang
- salah satu peserta di masjid itu apa
- ashab majelis.
- Pas dia masuk masjid ya orang pada
- ngelihatin ada orang masuk baru gitu.
- Semestinya di sini dia sunah
- sunah salat
- eh tahiyatul masjid wahai kita.
- Mau salat. Ah tapi enggak enak ah.
- Enggak enak dilihatin orang. Eh
- bahasanya gitu. Enggak enak dilihatin
- orang.
- dilihatin orang akhirnya sudah dia duduk
- dia enggak salat akhirnya.
- Nah ini masuk dalam kategori ini.
- Kenapa ente enggak salat.
- Enggak enak dilihat orang.
- Oh selagi ada nama orangnya di situ
- berarti riya di situ.
- Selagi entah itu beramal apa
- meninggalkan amal. Beramal demi orang.
- Meninggalkan amal demi orang sama riya
- juga. Termasuk kalau dia bilang.
- Enggak ah takut riya itu juga.
- Itu juga bisa loh. Hada ajib. Keren itu
- Habib keren keren keren.
- Meninggalkan amal. Enggak ah kenapa ente
- enggak mau salat. Takut riya ane.
- Justru ini juga masuk dalam kategori
- riya.
- Ya sama juga. Jadi solusinya apa Habib.
- Udah salat aja. Itu dia solusinya apa
- wal ikhlas an yu'afikallahu minhuma.
- Selagi ada nama di situ orang entah
- entah orang lihat kah entah orang
- mandang kah baikpun kita beramal atau
- enggak beramal.
- Masuk dalam daerah ikhlas jadikan beliau
- berkata wal ikhlas an yu'afikallahu
- minhuma. Ente selamat dari dua perkara
- ini.
- Lah ngamalin perkara demi orang. Walah
- ninggalin perkara demi orang.
- Masuk masjid gimana ya salat enggak.
- Bainaka wa bainallah.
- Allah nyuruh apa salat ya salat
- sekarang.
- Allah nyuruh duduk ya duduk wahai kita.
- Enggak ah enggak mau salat. Kenapa
- karena insya Allah deh entar apa namanya
- ganti dengan baqiyat sholihat aja
- subhanallah alhamdulillah Allahu Akbar
- empat kali ya samakan
- pengganti tahiyatul masjid gitu jadi
- emang enggak memandang ke orang.
- Ini solusinya di sini. Mau salat enggak
- salat terserah tapi.
- Intinya.
- Enggak mandang orang gitu.
- Itu dia solusinya itu.
- Keren Habib. Keren hada ajib. Kalau kita
- ibadah itu. Iya.
- Dan kita masih terikat sama tadi pujian
- pandangan orang. Kita tersiksa banget.
- Masya Allah antum.
- Sama. Benar enggak. Sama Habib. Tersiksa
- karena gimana ya.
- Karena pandangan orang bisa jadi tidak
- mungkin.
- Baik kalau dia benci sama kita.
- Iya oke. Bisa jadi akan selalu baik
- kalau dia cinta sama kita. Allahu Akbar
- benar-benar akhirnya lama-lama yang
- tersiksa kita iya enggak.
- Demi pandangan orang orang bilang entar
- orang bakal mandang gini ya sudah kita
- gini deh.
- Orang enggak tahu ya sudah kita gini
- deh. Terus. Enggak bakal selesai ini
- terus gitu.
- Dibilang gini ada cerita ajib ini ada
- cerita ma'ruf ini.
- Kalau ente ngurusin apa kata orang.
- Enggak bakal selamat.
- Benar.
- Ada dua dua orang. Di cerita itu.
- Apa.
- Bapak sama anaknya yang ma'rufkan
- ceritanya cerita ini cerita. cerita di
- ja di ayam jahil jahiliyah. Wa wa nusib
- aidan kalamnya ini cerita ini ke Juha.
- Tapi ala kulli hal bi qadar nazar siapa
- yang dalam cerita itu.
- Ada bapak sama anaknya. Dan ini mereka
- bawa himar keledai. Iya.
- Nah, keledai kecil gitu lumayan.
- Pertama-tama si bapak di atas keledai
- dan si anak di bawah yang itu yang bawa
- keledai itu.
- Orang pada ngelihatin, "Wah, itu
- bapaknya zalim banget, kejam. Anaknya
- disuruh kayak gitu, kasihan." Benar.
- Kedengar sama si bapak itu.
- Ah, ya sudah deh deh.
- Sudah ane turun deh. Ane turun, ente
- naik ke atas. He eh.
- Oke.
- Jalan lagi sebentar. Ada orang apa
- namanya komen.
- "Wah, itu anak kurang ajar banget."
- "Bapaknya disuruh di bawah, bawain ke
- dia."
- "Waduh, katanya enggak selamat lagi."
- "Jadi gimana sekarang?" Ya sudah, kita
- naik bareng-bareng.
- He eh. He eh, ente di depan ane di
- belakang.
- Jalan.
- Ada orang bilang, "Wah, kejamnya itu.
- Kasihan himarnya ditunggangi berdua
- lagi."
- "Ya Allah." katanya.
- Salah lagi. Salah lagi.
- Ya sudah akhirnya turun dua-duanya ini.
- Abangnya turun, anaknya turun. Ya kita
- bawa bareng-bareng saja.
- Maju ke depan, ada orang komen lagi.
- "Itu orang gila." katanya. "Dia punya
- himar tapi enggak ditunggangin."
- "Dibawain saja gitu. Ini enggak buat
- apaan itu bawa himar?"
- Katanya bilang, "Acu." Jadi solusinya
- apa ini? Solusi digotong himarnya.
- Himarnya digotong salah. Himarnya
- ditunggangi berdua salah, satu-satu juga
- salah. Iya. It ah, sudah capek. Benar
- benar. Ini artinya apa?
- Enggak bakal kelar kalau kita ya apa
- namanya
- eh memperhatikan ini. Orang bakal bilang
- gini, orang bakal bilang gini.
- Enggak bakal kelar. Ridwan nas ghayatun
- la atudrak, saya bilang. La tudrak. La
- tudrak.
- Nah, makanya jadi gimana cara selamat
- dari dua perkara ini?
- Selamatnya dengan ikhlas sudah. Eh anyu
- afi Allah minhum ketika memandang dalam
- beramal atau dalam meninggalkan amal
- jangan pandang manusia.
- Pandanglah Allah subhanahu wa taala.
- Oke, ini makna yang tinggi di sini yang
- makna yang ajib di di masa di di tarkul
- amali ajlin nas riya.
- Ada juga yang menafsirkan begini tarkul
- amali ajlin nas riya itu
- eh kayak tadi apa namanya kayak yang
- tadi antum apa bahas apa namanya ketika
- orang mau beramal.
- Ah, tapi ah ngeri ah. Ngeri riya. Ah,
- sudah ane ninggalin amal saja. Tarkul
- amal
- li ajliha. Nah, juga namanya riya juga
- persis makanya.
- Juga ada yang bilang gini, dia mau salat
- di depan
- eh di depan orang. Oh. Ah, entar kalau
- ane salat di depan orang bakal
- diomongin. Jadi ah, ane bilang ah ane
- enggak usah salat saja biar lebih
- dikenal dengan keikhlasan. "Wah, Fulan
- ikhlas tuh."
- Kenapa dia enggak mau salat di depan
- kita? Nah, iya riya juga berarti. Masya
- Allah. Eh, selagi ada
- selagi ada ya apa namanya gambaran ke
- orang
- He em he em. iya sudah berarti susah
- untuk ikhlas. Bib tadi ridwan nas
- ghayatun la tudrak artinya apa itu? Oh,
- hadza ajib. Ridwan nas ghayatun la
- tudrak.
- Apa kalau bahasa kita ini slogan ya ya
- kalau bahasanya slogan.
- Ridwan nas
- keridhoan manusia itu adalah target yang
- tak akan pernah tercapai. He em iya iya
- nah.
- Makanya jangan dicari. He em he em.
- Makanya jangan dijadikan target. Enggak
- bakal sampai ke target itu. Masya Allah.
- Tapi kalau ridho Allah naam tudrak.
- Masya Allah sekali
- Bagi ikhwan akhwat yang ingin bertanya
- diskusi silakan kirimkan WhatsApp ke
- 08111999720
- atau bisa telepon langsung ke
- 0218451512.
- Kita akan kembali setelah jeda lagu
- berikut ini.
- Sungguh nikmat orang yang sudah mendapat
- perhatian Allah dan Rasul-Nya.
- Jika perhatian dari atasan, pejabat, dan
- orang-orang yang berkuasa saja sudah
- bisa membuat kita kegirangan.
- Bagaimana jika perhatian itu datang dari
- pencipta alam semesta beserta ciptaannya
- yang paling indah yaitu Baginda Nabi?
- Apa lagi yang kita cari di dunia selain
- dua hal tersebut?
- Perhatian tadi bisa didapat hanya jika
- kita beramal saleh apa pun bentuknya.
- Bisa dengan tenaga, harta, pemikiran,
- dan lain sebagainya.
- Namun amalan yang paling menyenangkan
- Baginda Nabi adalah memperjuangkan
- ajarannya meneruskan perjuangan beliau
- berdakwah di jalannya.
- Kami mengajak ikhwan akhwat pendengar
- Radio Silaturahim dan pemirsa Ras TV
- bersama-sama berjuang bersama Radio
- Silaturahim dengan berdonasi ke nomor
- rekening berikut.
- Ras TV.
- Bismillahirrahmanirrahim. Selamat datang
- kembali ikhwan akhwat yang dirahmati
- Allah subhanahu wa taala. Kembali lagi
- di kajian tasawuf bersama Habib Ahmad
- Mujtaba bin Syahab membahas kitab
- Mahiyatut Tasawuf karangan Habib Umar
- bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dan
- kita sampai kepada pembahasan bab ikhlas
- eh tentang apa namanya eh salah satu
- ciri-ciri ahli tasawuf
- tentang ikhlas. Bagi ikhwan akhwat
- sekali lagi yang ingin bertanya silakan
- kirimkan pertanyaan ke 08111999720
- atau bisa telepon berkomunikasi secara
- langsung
- eh face to face sama Habib Ahmad Mujtaba
- ke 021 8451512.
- Sudah ada sebenarnya beberapa
- eh pesan WhatsApp cuman jujur belum ane
- bukain yang mana yang nanya yang mana
- yang bilang nyimak Habib. Mungkin Habib
- eh mau melengkapi? Boleh. Penjelasan
- tadi silakan bismillah.
- Bismillahirahmanirahim.
- Di sini ada dua alinea yang pertama
- Habib qala Sayyidil Habib walizalika
- jamu wa aradhu an kasir minal amali
- dzahirah lati lil nufus ilaiha mail.
- Walaha fiha ghardun wa matma' wa in
- adzumat fi nazaril awam malam tusih wa
- tasfu fiha niyah. Waqad aba wa rafadhal
- imarata wal walwilayata ala ahadil
- khulafa rasyidin kasiran minal sahabat
- di sini Habib menjelaskan bagaimana
- polanya salaf salihin dalam keikhlasan
- mereka.
- Walizalika oleh karena itu ahjamu
- karena perihal ikhlas ini
- wa aradhu
- mereka para salaf sholihin, mereka
- memalingkan diri artinya.
- Enggak begitu
- apa namanya mencari-cari.
- Mereka memalingkan diri dari banyak dari
- perihal amal-amal yang dzohir
- yang nampak.
- Gitu. Allati linufus ilaiha mail, yang
- mana ada kecondongan hati di situ.
- Walafiha warodun wamatma, yang mana
- nafsu itu ada tamak
- ada pengin banget untuk melaksanakan
- amal itu.
- Ya, biasanya amal yang ada kecondongan
- hawa nafsunya itu langsung mereka cegah.
- Mereka enggak mau untuk ngamalin itu.
- Apalagi amal-amal yang dipandang oleh
- manusia. Wain adzomat finadzoril awam,
- walaupun amal itu di kalangan
- orang-orang awam itu amal yang agung.
- Malam tasyih watosufiha niyah, selagi
- mereka tidak mendapatkan
- keikhlasan dalam niat, ya.
- Mereka menganggap niatnya tidak sah
- tidak bersih, maka mereka mencegah diri
- mereka untuk melaksanakan amal itu.
- Walaupun orang awam
- memandang ini amal-amal yang sangat
- bermanfaat. Nah
- banyak kali kita berkata, enggak apa-apa
- yang penting manfaat. Janganlah menjadi
- seperti lilin katanya kan, nerangin
- orang tapi dia sendiri terbakar.
- Akhirnya dia maju ke banyak kebanyakan
- orang ketika melihat amal ini amal yang
- manfaat, ya udah bismillah. Berkorban
- demi amal ini, tapi di hatinya belum ada
- keikhlasan. Di hatinya masih apa namanya
- mencari pandangan manusia dalam amal
- ini. Nah, kayak lilin itu akhirnya.
- Ciut sendiri lama-lama walaupun orang
- terang.
- Sayyidul Habib di sini mencontohkan.
- Nah, ini contoh sebenarnya panjang
- bahasanya Habib, tapi alaku hal kita
- baca sedikit.
- Banyak daripada sahabat mereka aba
- warofado, menolak al imaroh wal wilayah
- untuk dijadikan sebagai amir, ketua.
- Untuk dijadikan sebagai pemimpin.
- Alal khulafa rasyidin di zaman khulafa
- rasyidin banyak kasir minas sahabat,
- mereka tidak mau untuk apa namanya
- memegang suatu amanah itu.
- Wahakada walidzalika harosu aidon ala
- ikhfa ima gadoru min amalihim sholiha
- wasi wasifatihim toyyibah toyyibah
- alhasanah wakitman ahwalihim al fadilah
- asyarifah, oleh karena itu banyak juga
- di diantara aslaf sholihin
- mereka berusaha sebisa mungkin untuk
- menyembunyikan
- amal-amal sholeh
- amal-amal sholeh mereka dan juga
- sifat-sifat baik mereka
- dan kitman ahwalihim sangat-sangat
- merahasiakan apa namanya magam mereka
- ataupun perihal-perihal mereka yang
- mulia. Wahakada.
- Hada
- ajib, di pembahasan mereka itu dibilang
- begini.
- Berusahalah untuk menyembunyikan amal
- baikmu sebagaimana engkau berusaha untuk
- menyembunyikan amal burukmu.
- Wahakada.
- Kalau kita jelas, kalau kita punya amal
- buruk kita berusaha untuk jangan sampai
- orang tahu.
- Nah, ini semestinya ada juga di amal
- baik. Ketika orang apa namanya
- beramal-amal baik
- harus ada berusaha itu, berusaha jangan
- sampai orang tahu. Wahakada. Nabi salam
- bersabda
- dalam hadisnya yang di kalau dalam ilmu
- musolah dinobatkan sebagai hadis maglub,
- tapi alaku hal
- apa namanya Nabi salam menceritakan
- keikhlasan
- keikhlasan seorang hamba sekiranya dia
- bersedekah dengan tangan kanannya
- tangan kirinya itu enggak tahu. Nah,
- maksudnya apa?
- Orang terdekat pun enggak tahu dengan
- amal baiknya apalagi orang lain, apalagi
- mau ditenar-tenarin. Ah, enggak kayak
- gitu caranya. Wahakada.
- Beramallah amal baik dan berusahalah
- engkau menyembunyikannya sebagaimana
- engkau menyembunyikan amal buruk.
- Wahakada. Ini aliniyah terakhir yang
- dibahas oleh Sayyidul Habib. Sebelum itu
- Sayyidul Habib membahas perihal tentang
- al imaroh wal wilayah. Oke. Ini
- pembahasan yang sebenarnya ada manhaj di
- sini dan panjang pembahasannya.
- Ringkasnya ikhwan
- banyak orang memandang bahwasanya
- menjadi pemimpin itu suatu yang mulia
- dan bagus karena itu akan membawa
- manfaat untuk umat.
- Betulkah demikian? Betul. Iya.
- Kesejahteraan umat
- itu dengan dua faktor. Pertama
- kesholehan ulamanya dua, keadilan
- pemimpinnya. Wahakada. Ketika ulamanya
- sholeh dan pemimpinnya adil, maka
- insyaallah akan sejahtera umat itu.
- Nah, akhirnya banyak di sini orang-orang
- berupaya untuk menjadi pemimpin demi
- mensejahterakan rakyat. Benarkah
- demikian?
- Jawabannya ini kembali ke hatimu.
- Wahakada. Kalau seandainya engkau
- dinobatkan sebagai pemimpin
- dan memang ente ikhlas di situ.
- Enggak mencari pujian manusia, apalagi
- naudzubillah mencari manfaat duniawi
- dari itu, itu bahaya banget.
- Bahaya-bahaya.
- Apalagi apa namanya mengambil hak orang
- lain, oh naudzubillah mindzalik. Itu
- kita enggak bahas masalah itu, lah itu
- memang sudah jelas-jelas maksiat.
- Tapi yang kita bahas di sini, orang
- berusaha untuk adil. Tapi entar dulu,
- hatimu bagaimana? Apakah hatimu masih
- condong ke perkara itu? Condong untuk
- jadi pemimpin, condong untuk dipandang
- manusia?
- Selagi ada kecondongan, nah ini biasanya
- yang ditinggalkan oleh para aslaf
- sholihin dan para sahabat.
- Kebanyakan sahabat ketika mereka menjadi
- wali dalam dalam suatu wilayah atau amir
- dalam suatu rombongan
- itu kebanyakan Habib dipaksa.
- Wahakada. Sahabat pada enggak mau.
- Makruf kalau kita baca ceritanya
- Sayyidina
- Sayyidina Umar bin Khattab, bagaimana
- beliau menunjukkan wali-walinya di
- tiap-tiap wilayah. Enggak ada yang mau,
- tapi dipaksa oleh Sayyidina Umar. Yang
- kayak gini yang berhasil biasanya.
- Justru yang mencari-cari itu
- itu yang biasa yang yang yang kewalahan.
- Yang enggak mencari dan dipaksa, itu
- yang ditolong. Wahada makruf dalam hadis
- Nabi salam.
- Ketika seorang sahabat dinobatkan
- sebagai apa namanya ketua kelompok.
- Dia enggak mau.
- Akhirnya Nabi salam bilang, innaka
- insaal taha ukilta ilaiha.
- Wailam tas alha uinta alaiha.
- Kalau seandainya ente memang mencari,
- mencari-cari ini, maka engkau akan
- sendiri yang akan menanggung tanggung
- jawabnya.
- Wah, berat.
- Berat. Tapi kalau seandainya ente enggak
- mencari-cari tapi ente dinobatkan
- di tempat ini mau enggak mau, nah
- insyaallah engkau akan dibantu untuk
- melaksanakannya.
- Gitu Habib. Iya, iya. Masyaallah.
- Oke.
- Untuk penerapan masalah ini ya susah, ya
- pasti susahlah.
- Baikpun itu jabatan internal ataupun
- umum ya, menjadi contoh ketua organisasi
- atau ketua apa namanya komunitas, itu
- sudah masuk tuh, sudah masuk menjadi
- suatu amir.
- Apalagi
- lebih lebih ini lagi Habib, apa namanya
- ketua camatkah, lurahkah, RT atau RWkah
- dan terus ke atas sampai ke presiden
- sampai ke ya macam-macam gitu
- jabatan-jabatan. Semua perihal-perihal
- jabatan-jabatan ini, itu perihal yang
- terpandang oleh manusia dan dan mereka
- memandang ini penting.
- Dan memang penting untuk dijabat oleh
- orang-orang yang baik, yang sholeh. Nah,
- tapi tadi apa namanya syaratnya memang
- harus ikhlas kalau kita memandang dengan
- pandangan ulama tasawuf. Mereka enggak
- mandang
- dengan keadilannya pasti itu dengan
- pandangan fiqih yang dzohir saja sudah
- pastilah harus ada keadilan di situ,
- harus benar-benar dia memberikan hak
- kepada yang berhak dan tidak mengambil
- sama sekali hak dari perihal itu dan apa
- namanya tidak mendzolimi sama sekali
- kan Sayyidina Umar bin Khattab
- radhiallahu anhu
- waktu beliau menjadi khalifah
- ketika beliau duduk di kantor, kalau
- bahasa kita kantor sekarang. Ketika
- beliau duduk di tempat apa namanya
- imaroh itu, maka datang anaknya
- ngetok pintu.
- Dibilang
- fulan, ente mau bahas masalah keluarga
- atau masalah negara, masalah muslimin?
- Masalah keluarga Abah.
- Dimatiin dulu lilinnya.
- Baru masuk anaknya tuh.
- Eh, kok gelap-gelap Habib?
- Bingung, kok gelap begini? Karena ini
- lilin
- pakai biaya baitul mal, baitul muslimin.
- Wow. Lah, ente mau ngomong personal.
- Kalau ana pakai lilin ini, berarti ana
- dzolim sekarang, ngambil harta orang.
- Dimatiin jadi. Kalau seandainya
- pembahasan-pembahasan untuk umat enggak
- apa-apa kita pakai baitul mal ini.
- Segitunya Habib. Masyaallah, masyaallah.
- Iya.
- Perihal itu enggak dibahas di sini ya,
- pastilah keadilan apa namanya memberikan
- hak kepada yang berhaknya, tidak
- mengambil hak dari yang itu, tidak
- memanfaatkan jabatan itu ilal akhir. Itu
- perihal yang secara fiqihpun dibahas,
- tapi yang dibahas di sini kecondongan
- hati.
- Walau seandainya orang sudah masyaallah
- begitu, tapi hatinya masih condong
- kalau bisa jangan.
- Cari yang lain deh.
- Wah, itu rahasia kalau diterapin ini
- enggak ada yang
- Benar-benar. Benar-benar Habib. Ya
- Allah. Alaku hal, nah intinya entar
- jadi kalau kalau begini enggak bakal ada
- yang mau, justru itu yang dicari. Ketika
- orang enggak ada yang mau
- terjadilah keadilan yang seperti di
- zaman Sayyidina Umar bin Khattab, di
- zaman Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, ya
- enggak? Sayyidina Umar bin Abdul Aziz,
- bagaimana ketika bagaimana beliau
- menjabat menjabat
- khilafah, dipaksa.
- Beliau enggak mau. Dalam tempo cuma 2
- tahun lebih dikit keadilan menyebar di
- dunia Islam, makruf sampai-sampai
- hewan-hewanpun hadir enggak ada
- ceritanya apa namanya kalau bahasa kita
- iyyastod, apa namanya
- eee eee serigala makan kambing enggak
- ada, sudah masing-masing.
- Itu di zaman Sayyidina Umar bin Abdul
- Aziz, karena memang keadilan yang beliau
- buat luar biasa. Ini beliau menjadi
- khalifah gimana ceritanya? Dipaksa.
- Oleh yang sebelumnya karena ada wasiat
- daripada seorang tabi'i yang bernama
- Roja, Roja bin Khaiwah.
- Roja bin Khaiwah, naam. Itu yang ini
- kalau bisa ini nih Umar Abdul Aziz yang
- yang jadi khalifah. Dia enggak mau,
- akhirnya dipaksa juga. Masya Allah
- tabarakallah.
- Nah, kalau kayak gitu
- enggak tahu kapan ceritanya ya, tapi
- insya Allah insya Allah khair. Saking
- adilnya bahkan hewan pun Na'am.
- merasakan ya. Betul.
- Hada mujarab, ketika tersebar keadilan
- di suatu daerah maka hewan-hewan pun
- akan terpengaruh dengan keadilan itu.
- Benar.
- Sejahtera semua, makmur semua,
- tumbuh-tumbuhan juga, semuanya ikut.
- Nanti kita harus ikhlas.
- Sebaliknya Bib, kalau pemimpinnya zalim,
- hutan ditebang, ekosistem berantakan.
- justru sebaliknya.
- Musibah datang, Habib ya.
- Karena memang kalau pemimpinnya zalim,
- satu dirusak satu ekosistem, semuanya
- semuanya rusak. Semua akan berinteraksi.
- Hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda
- mati, semua akan berinteraksi dengan
- keadilan ataupun lawannya.
- Begitu. Allah, semoga kita di
- Ajib. jadikan negeri yang adil kembali.
- Amin, amin, insya Allah.
- Nah, ini jadi pembahasan di akhir bab
- ikhlas itu Sayyidul Hadad membahas
- masalah ini.
- Bagaimana banyak dari kalangan sahabat
- mereka
- apa namanya menolak untuk itu karena
- mereka pandang hati.
- Masih ada kecondongan, masih ada itu apa
- sudah tahan dulu sampai ikhlas akhirnya.
- Iya, iya, iya. Ya Allah.
- Masya Allah, Habib. Na'am.
- Insya Allah ini beberapa pesan yang
- masuk, ada yang
- menyemak bismillah dari Batam Ibu
- Nurjanah, masya Allah ada yang dari
- Sukabumi. Ada yang dari
- Jogja,
- masya Allah jazakumullah khair Semarang.
- Wah, yang dari Semarang paling semangat
- ini menyemak operator kita menyemak
- Habib Mustofa namanya Imran, masya
- Allah.
- Ahlan wa sahlan.
- Beliau bilang ana sujud syukur ada
- kajian tasawuf katanya.
- Allahu Akbar, masya Allah. Jazakumullah
- khair, jazakumullah khair.
- Kemudian ada dari Banyuwangi, Bondowoso,
- dan terima kasih banyak ikhwan akhwat
- yang sudah menyemak via YouTube dan
- sudah bergabung dan sudah berkomentar,
- jazakumullah khairan jaza. Ada satu
- pertanyaan Habib mungkin kita masukkan.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Dari Ibu
- Rahmawati. Kita hanya berharap kepada
- Allah subhanahu wa taala, lalu bagaimana
- kalau berharap kepada syafaat guru?
- Na'am.
- Nah, begitu Habib. Gimana, Bib? Berharap
- kepada syafaat guru sebenarnya karena
- Allah juga. Nah, itu dia jawabannya.
- Kalian hebat, masya Allah antum. Ajib.
- Apa gimana, Bib? Hada ajib jiddan. Ibu
- Rahmawati ya, Bib, ya. Jazakumullah
- khair, terima kasih banyak Bu Rahmawati
- atas apa namanya soalnya dan
- tanggapannya. Hada ajib, kita berharap
- kepada Allah taala.
- Ini yang puncaknya dan ini adalah target
- dari segala target, berharap kepada
- Allah taala. Kayak tadi yang dibahas
- berharap
- kepada syafaat guru atau kepada syafaat
- orang saleh ataupun sama juga
- walaupun lebih luhur lagi kepada syafaat
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam. Karena ini memang kan ada apa
- namanya kemuliaan-kemuliaan yang memang
- sudah disebutkan oleh Nabi sallallahu
- alaihi wasallam. Taman ma'ruf, syafaat
- Rasulullah syafaat yang paling besar di
- hari kiamat nanti.
- Juga ada syafaat-syafaat yang Allah
- taala berikan kepada hamba-hamba yang
- baik seperti
- orang yang hafal Quran.
- Orang yang hafal Quran itu diberikan
- kesempatan untuk memberikan syafaat, iya
- enggak?
- 70 daripada keluarganya.
- Orang yang hafal Quran. Dan ini Allah
- taala memang berikan kepada hamba-hamba
- yang saleh. Nah,
- kenapa karena kesalehannya, karena
- ketakwaannya kepada Allah. Dan Nabi
- sallallahu alaihi wasallam pun diberikan
- syafaat karena Nabi sallallahu alaihi
- wasallam adalah kekasih Allah. Berarti
- ketika kita berharap syafaat dari orang
- tua,
- mengharap syafaat dari guru, mengharap
- syafaat dari orang-orang saleh, itu
- inti-intinya kembali ke kepada Allah
- subhanahu wa taala karena Allahlah yang
- memberikan mereka keleluasaan untuk bisa
- memberikan syafaat. Subhanallah, nah
- begitu Habib. Jadi sama.
- Mengharap kepada Allah taala langsung.
- Jami' wa hada huwal ashl, ini adalah
- pokok dan target dari segala target.
- Mengharap dari Rasulullah itu juga
- dibenarkan.
- Karena Rasulullah diberikan keleluasaan
- untuk memberikan syafaat. Berharap
- kepada guru-guru kita, orang saleh juga
- bagus. Kepada adik kita yang hafal Quran
- contohnya, jangan lupa entar di hari
- kiamat nanti ingat kalau kakak di neraka
- apa namanya kasih syafaat. Memang Allah
- taala berikan mereka untuk apa namanya
- keleluasaan dalam memberikan syafaat
- kepada 70 keluarganya. Nah, terus begitu
- Bib. Jadi intinya sama.
- Eee
- minta syafaat dari minta syafaat, minta
- keberkahan dari seorang guru
- sama, intinya akan merujuk ke syafaat
- dan barakah minallah karena Allahlah
- yang menjadikan mereka seperti itu.
- Kayak antum bilang tadi lah persis.
- Masya Allah, jazakumullah.
- Ya khair, ya khair, Habib. Jazakumullah
- semoga kita mendapatkan syafaat dari
- Baginda Besar Nabi Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam dan dikumpulkan bersama
- orang-orang saleh. Amin, amin ya rabbal
- alamin. Jazakumullah khairan jaza. Habib
- atas penjelasannya dan jawaban dari
- pertanyaan-pertanyaannya. Serta
- kesabarannya menghadapi al fakir, masya
- Allah. Jazakumullah khair juga buat para
- pendengar Radio Silaturahim yang sudah
- mengirimkan pesan. Ada Ibu Nugroho
- Kemayoran yang baru masuk, ada Bu Maria,
- ada Pak Adi, ada Bapak Anugerah, ada
- Femi Tebet, Sunan, Ibu Tris, Bu Sari, Bu
- Ijah, wah dan masih banyak lagi kalau
- saya sebutkan satu-satu mungkin
- selesainya bisa zuhur.
- Dan terima kasih banyak yang sudah
- menyemak via YouTube, jazakumullah
- khairan jaza. Mohon maaf sekali tidak
- semua pertanyaan kami menjawabnya. Insya
- Allah kita akan kembali minggu depan
- bagi ikhwan akhwat yang ingin bertanya
- silakan kirimkan kembali minggu depan.
- Insya Allah jazakumullah khairan jaza,
- semoga ikhwan akhwat sekalian bisa
- mengamalkan, bisa mendapatkan manfaat
- dari apa yang kita diskusikan pada hari
- ini. Semoga kita diberikan hati ikhlas
- kepada Allah subhanahu wa taala dalam
- segala perbuatan kita, dalam segala
- ibadah kita, dalam segala apa yang kita
- lakukan di dunia semata-mata hanya
- karena Allah subhanahu wa taala. Semoga
- Allah bersihkan hati kita, semoga Allah
- beri cahaya kepada hati kita, dan ikhwan
- akhwat saya Isa Al Kaff, Andi dan juga
- Anis Mualim di meja operator mohon undur
- diri. Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.