Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Ashadu alla
- ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabina muhammadin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Qallahu
- taala fil quranil karim.
- Aubillahiminasyaitanirrajim. [mendengus]
- Qulu subhanaka la ilma lana illa ma
- alamtana. Inaka antalimul hakim waq
- inallahaikatahu
- nabi ya ayyuhalladina amanu shu alaihi
- wasallimu taslimqallahulim
- alhamdulillahiabbil alamin masih
- dipancarkan dari jalan masjid
- silaturahim nomor 36 Cibubur Bekasi
- inilah radio silaturahim dan rasil TV
- untuk Islam yang satu ikhwan akhwat yang
- dimuliakan Allah subhanahu wa taala
- bagaimana kabar Anda di Jumat Jumat sore
- ini semoga selalu dalam keadaan sehat
- walafiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridwanul Haq ditemani oleh Neza dan juga
- Yusuf Subangkit dapat kembali menemani
- ikhwan akhwat dalam program tausiah sori
- edisi Jumat 24 Zulhijah 1446
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 20 Juni 2025 bersama guru kita
- almukaram Ustaz Ahmad Saleh.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita. Kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabarnya sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah sehat walafiat atas doa
- dari semuanya. Alhamdulillah.
- Alhamdulillahirabbilamin. Kita sudah
- Allah kasih kesempatan sampai akhir
- tahun
- 1446 Hijriah, Ustaz. Iya. Iya. Heeh.
- Amin. Semoga Allah menerima abal ibadah
- kita semua, Ustaz. Amin.
- Amin. Allahum amin.
- Baik, Ikhwan Akhwat. Ee alhamdulillah,
- Ustaz dalam keadaan sehat walafiat.
- Semoga kesehatan juga dirasakan oleh
- ikhwan akhwat di mana pun Anda berada.
- Semoga dalam keadaan sehat walafiat dan
- semoga kajian tausiah sore ini dapat
- menemani ikhwan akhwat di segala
- aktivitas Jumat sore. Tentunya wabil
- khusus Jumat sore adalah tempat yang
- mustajab untuk berdoa. Silakan gunakan
- waktu dengan sebaik-baiknya sambil
- mendengarkan Ustaz Ahmad Saleh ilmunya
- dari beliau. Insyaallah. Insyaallah.
- Ustaz Ahmad Saleh. Pada tausiah sore
- kali ini, Jumat yang lalu kita sudah
- membahas tentang
- kemuliaan dan keutamaan para wali Allah.
- Namun baru mukadimahnya. Insyaallah pada
- sore kali ini
- ee Ustaz Ahmad SH akan membahas tentang
- kemuliaan dan keutamaan para wali Allah
- dimulai dari hadis pertama dari bab
- tersebut. Namun sebelumnya bagi ikhwan
- akhwat yang ingin berpartisipasi dalam
- kajian ini dapat mengirimkan di WhatsApp
- 0811999
- 720. Dan bagi Anda yang ingin
- berinteraksi langsung dengan Ustaz dapat
- menghubungi di 0218451512.
- Kita persilakan kepada Ustaz Ahmad untuk
- menyampaikan ilmunya tentang kemuliaan
- dan keutamaan para wali Allah. Tafadul
- Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiron thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna waard.
- Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluhu wa innahu la nabiya
- ba'dah. Allahumma sholli wasallim
- wabarik ala nabiyina Muhammadin wa ala
- alihi wasahbihi wasallim.
- Ikhwan dan akhwat, pendengar Radio
- Silaturahim, serta pemirsa Rasil Visual
- di mana pun berada. Alhamdulillah,
- segala puji bagi Allah yang masih
- menganugerahkan kepada kita berbagai
- macam nikmat yang tidak terhitung.
- Khasatan nikmatil iman wa nikmatil
- Islam. Khususnya nikmat iman dan nikmat
- Islam. Ya, sekali lagi kalau kita mau
- menghitung nikmat-nikmat Allah yang
- diberikan kepada kita, maka kita tidak
- akan mampu menghitungnya.
- Ee yang sederhana saja, nikmat
- bernaapas.
- Nikmat bernafas kalau kita hitung-hitung
- sejak lahir sampai sekarang kemudian
- dikalikan misalnya kita habis berapa
- liter oksigennya gitu kan. E ee
- katakanlah 1 liter oksigen atau satu
- tabung oksigen yang kapasitas sekian
- kilogram itu sekian dikalikan saja kita
- sekira-kira habis berapa gram atau
- berapa ton gitu loh ya.
- E dikali itu saja sudah masyaallah
- betapa banyaknya hutang kita kepada
- Allah Subhanahu wa taala. Kita diberikan
- gratis untuk bernafas,
- belum untuk mendengar.
- Betapa banyak orang mengorbankan
- kerajaannya, harta kekayaannya, sekedar
- untuk mengoperasi agar telinganya bisa
- mendengar lagi.
- Tuh, masyaallah ya Allah.
- Betapa banyak juga orang membuang dalam
- tanda petik ya, membuang uang sekedar
- untuk bisa melihat kembali ya. Saya
- masyaallah
- saya juga operasi operasi mataas
- [tertawa]
- mata
- satu mata paling tidak 17 juta. Dua
- berarti R4 juta. Masyaallah tuh. Ya
- Allahu
- kalau kemudian itu satu kali. Kalau
- misalnya berkali-kali operasinya
- masyaallah
- masyaallah. Maka oleh sebab itu, la
- haula wala quwwata illa billah. tidak
- punya daya dan kekuatan kecuali ee apa
- yang Allah kehendaki. Makanya wajarlah
- kalau kita senantiasa bersyukur, wajar
- kalau lisan kita dibasahi tetap dengan
- kalimat alhamdulillah.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah juga belum mencukupi.
- Sesungguhnya tapi rahmat Allah saja kita
- dikasih pahala besar. sekedar
- mengucapkan alhamdulillah
- coba. Masyaallah alhamdulillah
- wasyukrulillah.
- Allah kasih pahala kepada kita. Padahal
- Allah juga yang memberikan kekuatan
- kepada kita untuk bisa mengucapkan
- alhamdulillah wasyukrulillah itu tuh
- itu. Makanya kalau mau menghitung nikmat
- Allah, mau menghitung rahmat Allah la
- tahsuha tidak akan mampu menghitungnya.
- Nah, maka oleh sebab itu dalam rukuk dan
- sujud kita hendaknya menyadari betul,
- memahami betul bahwa ruku dan sujud kita
- jauh dari kesempurnaan.
- Nabi saja memuji Allah,
- Nabi saja memuji Allah menyadari betul
- bahwa pujiannya tidak mewakili
- keberadaan Allah azza wa jalla.
- Maksudnya memujinya tuh tidak sesuai
- dengan faktanya.
- Maka kemudian Nabi selalu mengatakan,
- "Kama yuhibubuna
- waard." Sebagaimana Tuhan kami
- menyukainya dan meridainya. Itu yang
- saya maksudkan pujiannya gitu loh.
- Alhamdulillahi hamdan katsir Allah.
- Alhamdulillahi hamdan yuwafiamahu
- waukiu
- mazidah.
- Pokoknyaah yang memadai, yang mencukupi
- segala tambahan kemuliaan, kebaikan gitu
- menggambarkannya susah, enggak bisa.
- Nah, maka kemudian seringkiali Nabi
- ngajarkan kepada kita pokoknya pujian
- yang setimpal dengan keadaan Allah.
- Gimana menggambarkannya? Ah, enggak tahu
- kan begitu. Tapi kama yuhibubuna waard
- sebagaimana yang Tuhan kami sukai dan
- ridai. Nah, maka oleh sebab itu sekali
- lagi
- mumpung kita masih diberikan kesempatan
- oleh Allah Subhanahu wa taala untuk
- senantiasa bisa memuji ya, tidak harus
- kemudian memaksakan diri ya kalau kita
- tidak mampu bersyukurnya. Tidak harus
- tidak harus ee apa bersyukur dengan apa
- istilahnya bukur bukur [tertawa]
- apa isinya dengan ucapan alhamdulillah
- wasyukrulillah saja di awal-awal itu
- memadai.
- Kecuali nanti kalau kita mampu bukti
- syukurnya, potensi yang kita miliki,
- harta kekayaan dibelanjakan di jalan
- Allah. Nah, itu baru tuh follow up-nya.
- Tapi paling tidak di awal-awal itu
- ucapan tadi, ucapan kesadaran kita bahwa
- kita memerlukan Allah azza waalla harus
- selalu hidup dalam dada kita. Meskipun
- kita banyak kekayaan, meskipun kita
- punya kekuasaan, tetap saja belum
- seberapa dibanding kekayaan Allah dan
- kekuasaan Allah.
- Dan Allah maha berkuasa. Ketika kita
- berkuasa tidak terbatas bahkan
- berkuasanya, Allah bisa saja
- menghilangkan kekuasaan itu dalam
- sekejap. Sebagaimana Allah berkuasa
- menghilangkan kekayaan kita dalam
- sekejap. Makanya masyaallah selama Allah
- memberikan nikmat harta bisa
- dibelanjakan di Allah
- serupiah, Rupiah, sejuta, R juta, 100
- juta, R miliar.
- Mudah-mudahan meskipun tidak tidak yakin
- bisa bermanfaat bagi seluruh manusia,
- tapi paling tidak ada manusia-manusia
- yang terdampak dengan kebaikan kita dan
- kita niatkan kepada Allah, "Ya Allah,
- dengan seperti ini saya bisa berbuat,
- tapi saya yakin ini pun tidak berdampak
- apa-apa kecuali Engkau yang memberi
- rahmat, kecuali Engkau yang memberkahi."
- Nah, maka oleh sebab itu sekali lagi
- hendaknya senantiasa kita bersyukur
- kepada Allah atas berbagai nikmat yang
- telah diberikan. Kalau dihitung-hitung
- mah ya tadi salah satunya tidak bisa
- menghitung nikmat-nikmat Allah itu ya
- belum
- kedipan mata,
- belum cengkraman jari-jari kita. Ya,
- coba kalau kemudian ditakdirkan jari
- kita tidak bisa ditekuk,
- genggamak. tidak bisa menggenggam ini
- apa buku-buku ini tidak bisa ditekuk
- semuanya loh masyaallah tersiksa
- ini saja telunjuk telunjuk banyak
- fungsinya tidak bisa ditekuk tidak bisa
- digenggamkan aduh masyaallah
- tersiksa sekali lagi. Maka oleh sebab
- itu, segala puji bagi Allah yang telah
- menganugerahkan mata bisa berkedip,
- menganugerahkan buku-buku, jari-jari
- bisa menggenggam, buku-buku bisa ditekuk
- dan lain sebagainya. Tuh. Nah, karena
- kata para ulama ya sebelum kita
- menghitung nikmat Allah di luar, maka
- mulailah dari diri kita banyak nikmat.
- Berapa kita harus mengupayakan
- harta ee harta dan tenaga sekedar supaya
- detak jantung berdenyut terus.
- Coba berapa modalnya? Motor apa yang
- kita minta apa kita sewa pada Allah?
- Orang kalau sudah tidak berdetak
- jantungnya, wah dip macam-macam. Inna
- lillahi wa inna ilaihi rojiun. Tapi kita
- oleh Allah diberi sampai 30 tahun, 40
- tahun, 50 tahun dan seterusnya. Detak
- jantung itu tetap. Masyaallah.
- Bahkan ada yang jantungnya sudah harus
- dipasang ring, ada juga yang tidak. Itu
- semuanya karunia dan ujian dari Allah
- Subhanahu wa taala. Maka oleh sebab itu,
- aduh masyaallah kalau ingat itu tuh kita
- tidak ingin bekerja, tidak ingin macam,
- pokoknya bersyukur aja pada Allah.
- Tetapi Allah maha adil. Allah
- perintahkan kepada kita untuk berbuat.
- Maka oleh sebab itu ee perbuatan kita,
- pekerjaan kita harus dalam rangka ibadah
- kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Tiib. Saya kira kita lanjutkan ya pada
- kajian [berdehem] kita hadis pertama
- tentang kemuliaan dan keutamaan para
- waliullah.
- Nah, tentu ee saya tidak apa namanya
- tidak membatasi pengertian waliullah.
- Tidak sekedar waliullah itu orang-orang
- sakti gak gak ya. Tetapi intinya nanti
- kita bisa lihat sebagaimana kemarin ee
- dalam mukadimah membahas tentang
- ayat-ayatnya. Baik, kita mulai dengan ee
- hadis pertama dalam bab ini atau hadis
- ke-1504
- dalam kitab Riyadus Shihin. [berdehem]
- Wa an Abi Muhammadin Abdurrahman ibni
- Abi Bakar Assiddiq radhiallahu anhuma.
- Dan dari Abu Muhammad. Abu Muhammad itu
- siapa? Abdurrahman bin Abi Bakar. Jadi
- Abdurrahman putra lelakinya Abu Bakar.
- Menarik sekali Abdurrahman bin Abu Bakar
- ini ketika Abu apa? Abdurrahman bin Abu
- Bakar ini belum memeluk Islam dan
- terjadi peperangan antara muslimin
- dengan musyrikin Quraisy.
- Abdurrahman ini masih berpihak kepada
- Quraisy. Ketika beliau melihat Abu
- Bakar, dia bersembunyi
- karena tidak ingin berhadap-hadapan
- dengan ayahnya.
- Iya. Ini setelah masuk Islam cerita tuh
- beliau,
- "Aku menghindari engkau wahai ayah,"
- katanya karena aku tidak ingin berjumpa
- dengan kau di medan perang. Tapi apa
- kata kata Abu Bakar? Demi Allah
- sekiranya pada saat itu aku berjumpa
- dengan engkau di medan perang, saat
- tulak aku bunuh engkau. Tuh itu Abu
- Bakar tuh saking cintanya kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Masyaallah. Nah,
- setelah masuk Islam Abdurrahman
- bercerita sama ayahnya.
- Ya, Abi begitu kurang lebih atau ayah
- aku ini dulu ketika terjadi peperangan
- ini ini aku menghindari engkau. Tapi
- kata Abu Bakar, "Wallahi demi Allah jika
- pada saat itu aku berjumpa dengan
- engkau, saat tulak seakan aku bunuh
- engkau." Tuh, masyaallah itu tentu
- adalah ee apa namanya? karena kecintaan
- kepada Allah azza wa jalla dan itu sah
- karena dalam peperangan gitu loh ya.
- Oke. Baik. Anna ashabas suffah
- bahwasanya penduduk suffah suffah itu
- adalah ee ee suffah itu adalah beranda
- di sekitar Masjid Nabawi
- ya. beranda di sekitar Masjid Nabawi.
- Ah, tempat para sahabat ee menginap di
- situ karena belajar awalnya belajar di
- situ. Karena mereka tidak memiliki
- rumah, jadi kadang juga nginp di situ
- ya. Maka disebut ahlus suffah. Suffah
- itu adalah beranda di sekitar masjid.
- Misalnya di kami ada suffah. Ah, suffah
- itu karena ada masjid. Nah, ada kemudian
- ee di masjid itu ada tempat belajar.
- Nah, maka kemudian bisa di masjidnya,
- bisa di terasnya, di emperannya, bisa
- juga di asrama sekitar masjid. Ah,
- sekitar masjid ada asrama. Ah, gitu.
- Meskipun tidak nempel. Nah, maka
- kemudian hanya pengertian sufah itu
- asalnya adalah beranda yang menempel ke
- masjid Nabawi gitu ya.
- Anna ashab suffati kanu unasan fuqar.
- adalah penduduk sufah itu adalah mereka
- orang-orang yang fakir.
- Nabi sallallahu alaihi wasallam
- bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam atau Nabi sallallahu alaihi
- wasallam pernah bersabda suatu saat
- manana indahu thanaini barang siapa yang
- memiliki makanan untuk dua orang
- falyadhab bisin makainya pergi bersama
- tiga orang itu saking apa saking
- miskinnya dan memang ee di Madinah pada
- saat itu belum apa ya belum belum
- tersedia makanan yang cukup. Maka
- kemudian Nabi mengatakan seperti itu.
- Barang siapa yang memiliki makanan untuk
- empat orang falyadhab biin wabadisin,
- maka pergi dia untuk lima orang atau
- untuk enam orang.
- Nah, asalnya misalnya punya persediaan,
- punya makan untuk empat orang, sekarang
- jadi lima orang gitu ya. Jadi artinya
- ngambil satu orang. Kalau punya makanan
- untuk ee apa namanya ya? Di dalam
- hadisnya memang seperti ini ya. Tentu
- pemahamannya kalau misalnya bisa untuk
- makan sekeluarga tujuh orang bisa jadi
- ngambil satu orang jadi delan orang dan
- seterusnya.Q
- atau seperti yang Nabi sabdakan wa Abu
- Bakrin radhiallahu anhu jaa bitin
- dan bahwasanya Abu Bakar Assiddiq
- radhiallahu anhu datang dengan tiga
- orang. Maksudnya dengan makanan untuk
- tiga orang. Want Nabi sallallahu alaihi
- wasallam biasratin. Tetapi Nabi bertolak
- dengan 10 orang. Jadi Abu Bakar dengan
- tiga orang, Nabi pada 10 orang.
- Wana Abu Bakrin taasya Nabi sallallahu
- alaihi wasallam tma labisa hatta shal
- isya.
- Maka kemudian Abu Bakar ee apa namanya?
- Menghampiri Nabi sallallahu alaihi
- wasallam ya ee
- sampai menjelang Isya.
- kemudian pulang ya setelah salat isya
- pulang ba minili masyaallah
- ehu
- ee karena hadisnya ini panjang ya saya
- kira langsung saja kepada maknanya ya ee
- maka kemudian setelah waktu sudah cukup
- malam ia pulang.
- Jadi tadi setelah di sufah itu ya e maka
- kemudian Abu Bakar pulang dan sesampai
- di rumah ia ditanya oleh istrinya,
- "Apakah yang menyebabkan engkau
- menelantarkan tamu-tamunya?
- Tamu-tamumu?"
- Jadi di rumah Abu Bakar tuh sudah ada
- tamu.
- Oh.
- Ee sudah ada tamu. Sampai kenapa ee
- istrinya langsung nanya, "Kenapa engkau
- menelantarkan tamu-tamumu?" Karena Abu
- Bakar masih ada urusan bersama Nabi,
- bersama ahlusfah. Sementara di rumahnya
- ada tamunya. Padahal Abu Bakar sudah
- menyuruh Abdurrahman
- untuk menyantuni tamu. Hanya saja para
- tamu enggak mau makan sebelum Abu Bakar
- datang. Gitu loh. Gitu ya. Oke. Baik.
- Saya lanjutkan.
- Ee ia bertanya, "Apakah kamu belum
- menjamu mereka?" Abu Bakar bertanya nih
- kepada istrinya. Istrinya menjawab,
- "Mereka enggan sebelum engkau pulang
- padahal makanan telah dihidangkan untuk
- mereka. Abdurrahman berkata, "Kemudian
- aku pergi dan bersembunyi." Maka ia Abu
- Bakar memanggil-manggil, "Ya
- Abdurrahman. Ya Abdurrahman."
- Dipanggil-panggil tapi Abdurrahman tidak
- menyahut meskipun mendengar karena tahu
- dia akan dimarahi gitu loh ya. Heeh. Ee
- ee di situ dinyatakan bahwa Abu Bakar
- menghardikku kata Abdurrahman kata
- putranya, "Demi Allah aku sendiri tidak
- akan makan." Kata siapa? Kata Abu Bakar.
- Ya, Abu Bakar kemudian merevisi bahwa
- sumpahnya aku tidak akan makan itu dari
- setan. Pada akhirnya kemudian makan juga
- bersama tamu-tamunya. Nah,
- maka Abdurrahman berkata, "Demi Allah,
- setiap kali kami mengambil makanan itu,
- jadi kemudian kan ee Abu Bakar akhirnya
- ikut makan bersama tamu-tamunya, ya.
- Tamu-tamunya baru mau makan karena Abu
- Bakar makan. Maka dari bawahnya muncul
- makanan yang lebih banyak sehingga
- mereka semua kenyang." Jadi setiap
- ngambil makanan bukan berkurang tapi
- bertambah.
- Masyaallah ya. Heeh. Kemudian Abu Bakar
- memperhatikan makanan yang sudah malah
- bertambah itu. Maka kemudian dia
- bertanya kepada istrinya, "Wahai saudari
- Bani Firas, apakah ini apa yang
- terjadi?" gitu loh ya. Nah, istrinya
- berkata, "Betapa senangnya hatiku.
- Sekarang makanan ini malah lebih banyak
- daripada sebelum dimakan. bahkan lipat
- tiga kali. Kemudian Abu Bakar memakan
- sedikit dan berkata, "Sesungguhnya
- sumpahku tadi adalah ee semata-mata
- karena godaan setan." Maka kemudian yang
- dimakan Abu Bakar kemudian yang
- disisakannya ya sebagian lagi ini dibawa
- ke Rasulullah oleh Rasul. Kemudian dalam
- satu riwayat Rasul pun ber apa? berkenan
- memakannya. Dalam riwayat, Nabi kemudian
- membagikan kepada ahlusah
- yang bisa jadi sudah 3 hari atau sudah
- beberapa hari tidak makan kenyang. Tuh.
- Nah, ini ini artinya bahwa ee hadis ini
- menjelaskan bahwa
- keutamaan Abu Bakar Assiddiq gitu ya.
- Jadi bertambah banyaknya makanan sebagai
- karamah yang diberikan Allah kepada Abu
- Bakar radhiallahu anh
- gitu ya. Kenapa kok bisa karamah?
- Aslinya apa? Tidak ee tidak harus
- menggunakan
- ee di luar nalar. Dengan nalar aja masih
- bisa dipahami. Misalnya begini,
- satu keluarga dia bekerja,
- dia punya penghasilan Rp3 juta.
- Rp3 juta tuh pas-pasan.
- Ketika dia punya istri satu, anak dua,
- dia cukup tuh dengan R3 juta.
- Enggak lama kemudian anaknya nambah,
- sementara gajinya masih Rp3 juta.
- Padahal anaknya nambah,
- tapi dia tidak berhutang. Tuh, dia tidak
- berhutang untuk menombok. Kan mestinya
- RAB-nya kan nambah. Iya.
- Rencana anggaran belajarin jadi nambah
- karena datang atau lahir anak yang baru.
- Sementara penghasilan masih R3 juta,
- ternyata masih tetap cukup.
- Masyaallah.
- 2 tahun kemudian nambah lagi anaknya,
- gajinya masih tetap R3 juta, tetap
- cukup.
- Seperti itulah logika dasarnya. Apalagi
- kalau dipahami dengan keimanan ya bisa
- terjadi masyaallah. Jadi ee tapi logika
- ini sederhananya seperti itu. Kalau kita
- membacanya dengan keimanan, masyaallah
- maka dia akan semakin yakin karena itu
- makquul, masuk akal tuh. Masuk akal
- empat orang dimakan jadi lima orang
- tidak nambah, tidak berkurang tapi tetap
- memenuhi. Maka oleh sebab itu keberkahan
- dalam Islam itu aduh masyaallah
- masyaallah.
- Nah, padahal kemudian perbandingan orang
- muslim dengan orang kafir itu 1 banding
- 7 atau 1 banding 10. Jadi perutnya
- perutnya orang mukmin itu katakanlah
- satu, orang kafir tujuh
- atau sampai 10. Jadi kalau orang beriman
- cukup satu suap, orang kafir itu baru
- dianggap cukup kalau tujuh suap.
- Tujuh suap
- atau 10 suap. Tuh, gitu loh. Maka wajar
- kalau kita misalnya ada pernah
- berdengar, "Aduh saya mah 10 tusuk sate
- aja sudah kenyang." Wah, kemudian ada
- ini. Oh, kalau saya satu kambing.
- [tertawa]
- Satu kambing. Oh, kadang kita tahu lah
- perutmu memang perut orang kafir enggak
- baca bismillah, enggak macam-macam gitu.
- Maka wajar makannya juga dalam tanda
- petik rewog. Rewog. Jadi, subhanallah.
- Oke. Maka oleh sebab itu, oh iya.
- Makanya orang beriman itu kenapa berkah
- hidupnya? Karena makannya saja
- masyaallah tidak semua seleranya
- dipenuhi gak dikendalikan. Masyaallah.
- Nabi kita ngasih contoh, berhenti
- sebelum kenyang, makan setelah lapar.
- Masyaallah. Tuh, itu contohnya.
- Masyaallah. Makanya ketika baginda Nabi,
- Ibunda Aisyah mengatakan, "Wahai orang
- yang pernah merasakan kenyang."
- Jadi, wahai orang yang tidak pernah
- merasakan kenyang. Jadi, Rasulullah itu
- maka sehat terus.
- Sehat karena makan sudah lapar dan
- berhenti sebelum kenyang. Kalau kita
- kalau belum kenyang belum berhenti gitu
- ya. Bahkan masih kenyang aja makan lagi
- kan begitu. Nauzubillahzalik. Oke. Baik.
- Saya kira itu yang pertama ya. Bertambah
- banyaknya makanan sebagai karamah yang
- diberikan Allah kepada Abu Bakar.
- Kemuliaan yang kedua kemuliaan Abu
- Bakar. Istrinya dan anaknya. Hati mereka
- resah lantaran para tamu tidak mau
- makan. Jadi ee menghormati tamu itu
- betul-betul
- ya senang sekali kalau makanannya
- dinikmati oleh tamunya. Dan memang
- sampai sekarang ya, mohon maaf kalau
- orang Arab itu sampai sekarang ya ee
- menjamu tamu itu menjadi satu kemuliaan.
- Saya baru melihat ada yang ada unta
- guling.
- [tertawa]
- Saya bilang aduh baru melihat saya baru
- melihat itu di medsos itu. Wih, onta
- gulingnya. Betul itu onta. Uh,
- masyaallah. Kalau di kalau di kita kan
- kambing guling paling ngelihat ini unta
- guling. Masyaallah. Oh, dibagi. Kemudian
- dan itu bukan satu gulingnya. Satu
- nampan lima orang, satu nampan tiga
- orang, satu nampan ee empat orang.
- Banyak sekali. Waduh, masya Oh, iya
- orang Arab ya. Masyaallah. Barakallahu
- fihim. Semoga Allah berkahi mereka yang
- mempertahankan
- salah satu sunah
- ya kan. Menghormati orang tamu kan.
- Salah satu sunah. Salah satu sunah
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Nah, gitu ya. Oke. Baik. Yang kedua itu
- jadi Abu Bakar itu gelisah dengan
- istrinya, dengan anaknya karena
- tamu-tamunya enggak mau makan.
- Nah, gitu ya. Jadi dan memang masyaallah
- mereka itu betul-betul jadi
- mempersilakan makan itu betul-betul dari
- lubuk hati yang paling dalam.
- Senang sekali kalau kemudian ada tamu
- yang bisa ikut makan gitu ya. Kemudian
- yang kedua, boleh melanggar sumpah dan
- menebusnya jika isi sumpah adalah
- meninggalkan sesuatu yang baik sesuai
- hadis di dalam ee Bukhari Muslim gitu
- ya. Oke. Jadi ee
- kalau sumpah ya sumpah ee makanya ada
- sumpah yang disengaja, sumpah yang tidak
- disengaja. Tadi Abu Bakar mengatakan dan
- sumpah itu dari setan karena melihat
- makan bersama tamu itu lebih baik.
- gitu ya. Karena tamunya tidak mau makan.
- E Abu Bakar padahal bersumpah tidak mau
- makan. Ternyata mau tamunya juga enggak
- mau makan kalau Abu Bakar enggak makan.
- Maka kemudian kata Abu Bakar,
- "Sungguhnya sumpahku tadi dari setan.
- Ayo kita makan." Makan akhirnya gitu.
- Akhirnya kemudian tamu-tamunya juga ikut
- makan. Nah, ini saya kira sebagai
- pengantar ya. Saya kira tidak banyak ya.
- Ini satu apa namanya? satu hadis saja ee
- karena sesungguhnya ini menarik sekali
- ya. Pertama tadi ee bertambah banyaknya
- makanan itu karamah ya. Jadi dan ini ee
- bersamaan seperti ini atau yang seperti
- ini yaitu mukjizat kepada Rasulullah
- sahu alaihi wasallam. Jadi makanan juga
- dan minuman gitu kan. Di saat bersama
- para sahabatnya makanan senantiasa
- bertambah. Suatu saat Nabi sallallahu
- alaihi wasallam diundang oleh seorang
- sahabat.
- Ya Rasulullah, sudilah engkau kiranya
- mampir ke rumahku.
- Oh ya, insyaallah. Maka kemudian dia
- pulang, dia potong kambing, gitu kan.
- Dia potong kambing. Ah, ternyata Nabi
- sallallahu alaihi wasallam tidak datang
- sendirian
- membawa para sahabat. Wih, kaget itu
- yang gundang. Aduh, cukup enggak ya
- makanan? Begitu kurang lebih. Nabi kok
- bawa pasukan, bawa teman-teman, bawa
- sahabat. Padahal beliau hanya mengundang
- Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi
- kemudian Nabi katakan, "Sudah, kamu
- jangan khawatir.
- Berikan kepada aku." Maksudnya akulah
- yang membagi-baginya.
- Biarkan kamu duduk manis aja, biar aku
- yang bagi. Ah, datang satu orang ya
- ikannya set. Pokoknya kata Nabi, "Jangan
- kamu buka ini apa nama wazannya.
- Siapa lagi yang belum?
- Siapa lagi yang belum? Sampai semuanya
- telah menikmati hidangan dan ternyata di
- wawazan itu masih tetap utuh.
- Maka kemudian diriwayatkan oleh sahabat
- itu. Oh, masyaallah. Nah, maka kemudian
- itulah keberkahan. Keberkahan yang apa
- ya? Pada saatnya Allah memberikan
- mukjizat kepada Nabi seperti itu. Tapi
- ada ada saatnya juga Allah menguji para
- sahabat dengan musim pace cekelik.
- sampai di antara mereka ada yang makan
- kulit ee binatang ya, kulit binatang
- karena dia kencing berbunyi gitu. Pas
- dilihat kulit kemudian dicuci.
- Setelah dicuci kemudian dimasak itu
- musim paceklik. Tapi juga ada saatnya
- Allah membukakan keberkahan,
- membukakan mukjizat, membukakan karamah
- gitu ya. Kalau karamah untuk para
- sahabat, kalau Nabi itu mukjizat. Nah,
- maka oleh sebab itu kita tidak boleh
- khawatir
- kalau kemudian kita hidup susah gitu ya,
- bahkan berlama-lama itu juga Nabi
- merasakan dengan para sahabat hidup
- susah. Tapi nanti akan sampai kepada
- satu saat Allah membukakan mukjizat atau
- karamah. Begitu juga kepada kita.
- Ada saatnya Allah memberikan
- kemudahan-kemudahan dan
- keberkahan-keberkahan hidup. Nah, gitu
- ya. Oke. Baik. Saya kira ini sebagai
- pengantar yang [berdehem] dapat saya
- kemukakan. Wasallallahu ala nabiina
- Muhammadin. Walhamdulillahi rabbil
- alamin. Wallahu aam biswab.
- Wallahuam bisawab. Jazakumullah khairan
- kirakum. Alhamdulillah ikhwan ahad kita
- sudah mendengarkan satu hadis tentang
- kemuliaan Abu Bakar dari Ustaz Ahmad
- Saleh dari syarah kaji kitab syarah
- Riyadus Shihin karya Syekh Dib Albugo
- dan kawan-kawan. Baik, bagi Anda yang
- ingin bertanya silakan
- kirimkan pertanyaan ke 0811999720.
- Tetap di Radio Silaturahim. Kami akan
- segera kembali. Terima kasih.
- [musik]
- Alhamdulillahirabbil alamin. Terima
- kasih Ikhwanawat masih mendengarkan
- Radio Silaturahim dan Rasil TV.
- Alhamdulillah kita sudah masuk di sesi
- kedua. Insyaallah pada sesi kedua ini
- kita akan berdiskusi dengan Ustaz Ahmad
- Saleh tentang dan menjawab
- pertanyaanpertama pertanyaan yang
- disampaikan oleh Ikhwan Akhwat.
- Sebelum kita bacakan
- pertanyaan-pertanyaan,
- kita akan bacakan
- komentar-komentar yang sudah masuk
- melalui WhatsApp. Pertama dari Pak
- Arwin. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih atas tausiah
- dan nasihatnya, Ustaz.
- Masyaallah, barakallahu fikum.
- Semoga Ustaz dan pejuang dakwah serta
- para pendengarul selalu dalam keadaan
- sehat walafiat dan dalam lindungan Allah
- Subhanahu wa taala.
- Bapak Arwin 66 tahun di Lenteng Agung
- Jakarta Selatan.
- Masyaallah. Masyaallah. Barakallahu
- fikum.
- Kemudian Ibu Sri alhamdulillah menyimak.
- Kemudian Bapak Saian Rohili di Gebang
- Pulau Gebang Jaktim. Alhamdulillah.
- Kemudian
- Bapak Edwin Saleh,
- Ibu Darniwati.
- Terima kasih Ustaz atas ilmunya.
- Barakallahu fik.
- Kemudian Ibu Ani Hani.
- Alhamdulillah hadir menyimak tausiah
- saya Ustaz.
- Masyaallah. Barakallah.
- Semoga Ustaz sehat walafiat. Amin. Amin.
- Amin. Allahum amin.
- Ibu Retno, semoga Ustaz Ahmad Shoh
- selalu sehat selalu.
- Amin. Allahum amin. Amin.
- Kemudian
- kita bacakan pertanyaan pertama dari Ibu
- Aminah.
- Namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, izin bertanya
- tadi tentang
- apa ya?
- Bismillahirrahmanirrahim. Ustaz, izin
- bertanya tentang
- memuliakan
- tamu. Tadi Ustaz sempat memberikan
- contoh tentang memuliakan tamu di Arab
- itu satu unta untuk lima orang. Apakah
- itu tidak membazir atau memang habis
- itu, Ustaz di Arab tersebut? Ustaz
- jazakumullah khairan kalahat barakallah.
- Iya. Ya, kadang memang apa yang
- disampaikan itu tidak mewakili
- pemikiran, tidak mewakili apa yang ada
- di benak semuanya. Maksudnya begini,
- jadi ada di antara mereka ketika menjamu
- tamu itu dengan membuat unta guling gitu
- ya. unta guling. Dan selain unta guling
- juga ada kambing guling, ada juga yang
- lainnya. Nah, cara menyajikannya mereka
- dalam satu nampan itu untuk tiga orang,
- lima orang ini. Nah, bisa jadi itu satu
- unta itu dibagi, dipotong gitu. Tetapi
- yang jelas potongannya tidak seperti di
- kita. Kalau di kita misalnya ayam,
- [tertawa]
- ayam dipotong bisa jadi 40 potong, bisa
- jadi 10 potong. Paling banyak itu 10
- potong. Kalau di sana paling juga jadi
- empat potong atau jadi dua potong. He.
- Kami ketika di Yaman sampai kami ngasih
- masukan ke panitianya
- karena kami itu kasih makan itu ayam itu
- boleh dibilang cuma dibagi empat.
- H
- gede-gede. Sehingga kemudian kami
- nyampaikan ke panitianya, "Syekh, kalau
- kami orang Indonesia makannya tidak
- banyak.
- [tertawa]
- Ya dibagi aja lah jadi enam atau jadi
- delapan gitu loh. Karena kami
- kekenyangan itu meskipun nasinya juga
- kan nasi biryani
- i
- bukan nasi seperti di kita. Nasi n
- panjang-panjang. Nah sampai kemudian
- mereka ketawa gitu loh. Oh anunisi.
- Anunisi. Orang Indonesia orang
- Indonesia. Nah, kami ee tahu gitu loh.
- Jadi ketika kami dapat jatah makan itu
- tadi
- nasi kemudian ikan ayam, ikan ayamnya
- juga besar-besar
- di kita mohon maaf ya bisa Pak bisa
- untuk makan tiga kali atau empat kali
- gitu. Ini disajikan untuk sekali
- sehingga kami ngasih masukan. Sudahlah
- kalau untuk kami orang Indonesia
- dikurangi aja ukurannya jangan terlalu
- besar. Nah, jadi bagi mereka itu malah
- ini ukuran terkecil begitu loh
- [tertawa][terkesiap] dikit di kita
- ukuran terbesar di mereka ukuran
- terkecil. Nah, maka oleh sebab itu
- misalnya ee unta dibagi dua,
- bagi dua
- misalnya dibagi dua atau dibagi empat
- kemudian disajikan untuk tiga orang. Ada
- yang satu unta memang untuk tujuh orang
- untuk tujuh orang saja.
- Apa habis atau tidak? Wallahualam gitu
- ya. Tapi yang jelas ee apa namanya ee
- kan
- apa ya ee mereka kan tamunya bukan satu
- orang dua orang tapunya kan puluhan
- makanya rumah-rumah orang Arab kan
- besar-besar
- enggak kayak di kita umpet-umpetan lagi
- gitu ya [tertawa]
- ngontrak tiga tiga apa masyaallah ya
- tetapi ini bukan menunjukkan kemuliaan
- atau ketidakmuliaan tetapi rata-rata
- orang Arab itu rumahnya besar-besar gitu
- loh. Sehingga em apalagi kalau di Arab
- Badui. Arab Badui itu kan apalagi kan
- beratkan langit.
- Beratkan mereka tidur itu di bawah batu,
- di bawah rumah terbuat dari batu gitu.
- Mereka tidak begitu berpikir tentang
- keindahan rumah, artistik rumah gak.
- Yang penting mereka itu bisa makan, bisa
- ibadah. Jadi kerjaan mereka nunggu salat
- antar salat ke salat.
- Jadi dia bercocok tanam, dia tidak
- berpikir macam-macam. Tapi justru Allah
- berkahi
- pengairannya.
- Saya baru tahu tuh bahwa pengairannya
- begitu berkahnya.
- He.
- Bahkan para pekerjanya orang Indonesia.
- Orang Indonesia, orang Malaysia, orang
- Thailand para pekerjanya itu. Dan
- gajinya cukup memadai. tukang kebun saja
- bisa waktu tahun berapa itu R juta
- gitu. Itu paling berarti baru baru kerja
- setahun dia 4 juta. Wih, saya bilang R
- juta ya. Sementara makan dijamin ini.
- Nah, maka oleh sebab itu biasanya kalau
- hari libur atau hari raya ee
- keluarga-keluarganya di apa? Diundang.
- Woh, ininya masyaallah indah sekali.
- Sudah pemandangannya indah. Dikira saya,
- mohon maaf di Arab itu cuma padang
- tandus.
- Ternyata masyaallah gak juga ada yang
- begitu indah.
- Oh indah.
- Iya begitu indah. Ada apa namanya?
- perairannya memadai. Jadi cara berpikir
- orang Arab orang Arab Badui dari sisi
- apa? Pengairan juga cukup maju. maju itu
- dalam pengertian teknologinya sudah
- masuk meskipun tidak semodern di Jepang
- atau di tempat lainnya gitu loh. Nah,
- saya bilang, "Oh, masyaallah dikira
- mohon maaf adanya apa namanya pete
- itu misalnya impor dari Indonesia atau
- impor dari mana?" Ternyata memang
- Arab-Arab Badui itu apa? Menghasilkan
- itu juga. Termasuk apa? Batikh. Batikh
- itu semangka.
- semangkanya juga bukan seperti di kita,
- kecil-kecil, besar-besar.
- Masyaallah, saya bilang keberkahan. Nah,
- dari situlah saya tahu, oh iya ternyata
- apa yang didoakan Nabi Ibrahim gitu kan
- itu terwujud. Tadinya kami menganggap
- bahwa ah karena apa nam tanah tandus
- padang pasir paling impor
- ya mungkin bisa jadi ada impornya juga
- bisa jadi gitu tapi saya belum tahu
- gitu. Tapi yang jelas ternyata di
- Arab-arab gunung itu masyaallah ya. Jadi
- ada apa namanya ee seperti tempat air
- gitu loh, seperti kolam ya. Ada seperti
- kolam tapi di pegunungan itu pegunungan.
- Terus ada yang ee apa namanya ee apa
- namanya ya? Hijaulah gitu. Hijau itu
- artinya banyak tumbuh-tumbuhan. Tapi
- juga ada yang jagersang juga ada gitu.
- Hanya ketika ee apa namanya? Seorang
- YouTuber gitu ya.
- merekam itu saya, "Oh, kaget." Bahkan
- ada yang tumbuh di Indonesia. Jadi, ada
- orang Arab yang datang ke Indonesia itu
- dari Indonesia bawa ini bawa apa? Bawa
- bakal ini. Bakal tumbuhan apa istilahnya
- itu?
- Biji tunas.
- Heeh. Tunas gitu. Bawa apa ee bijinya
- atau tunasnya bawa ditanam di sana. Maka
- kemudian saya pernah melihat apa ya?
- Belimbing.
- Belimbing.
- Ah, belimbing juga tumbuh di Arab. Wih.
- Saya bilang sebagaimana kita juga bawa
- apa? Kurma tumbuh di Indonesia. Nah,
- gitu ya. Jadi sekali lagi tamu-tamu
- mereka itu bukan satu dua orang ya.
- Karena mereka bertamu itu juga merupakan
- satu kebaikan.
- Melayani, menghormati tamu juga satu
- kebaikan gitu ya. Kalau di kita kan
- paling tidak diajak ke restoran.
- Janjiannya di restoran ya. Ee saya
- undang makan malam di restoran ini, ini,
- ini, ini, gitu. Jadi kalau mereka itu di
- rumah
- makan, masak sendiri, ini sendiri,
- masyaallah. Masak sendiri juga bukan
- sendiri, tetapi maksudnya masak di rumah
- dengan dibantu ada pembantunya gitu loh.
- Nah, jadi ee saya kira ee apa namanya?
- Tentu apa yang kita bayangkan wah
- berazir dong banyak gak dak juga gitu
- ya. Bahkan kemudian mereka berbagi juga
- dengan tetangga-tetangganya. Kalaupun
- ada sisa misalnya ya, ada sisa mereka ee
- berbagi atau juga dikasihkan kepada
- binatang peliharaannya atau dikasihkan
- kepada ee hal-hal yang membutuhkan gitu.
- Karena mereka kan jauh dari Nah,
- kemudian mohon maaf ee orang Arab Badui
- itu
- ada yang mereka menggunakan unta ngambil
- uang ke bank
- dan pakai apa ngambil uangnya? Pakai
- kantong keresek.
- [tertawa]
- Kang kresek duit uang apa duit atau uang
- itu masyaallah dan mereka tidak takut
- dirampok
- e karena apa? karena sudah merasa a aman
- gitu loh. Nah, tetapi juga sekarang ee
- Arab-Abung itu, Arab Arab Badui
- maksudnya mereka sudah menggunakan
- ee apa namanya misal hasil panen, hasil
- ini itu menggunakan mobil dan mobilnya
- bukan mobil mohon maaf ya, bukan mobil
- ecek-ecek, mobil mewah.
- Mohon maaf ya, mohon maaf saya menyebut
- merek lah gitu. Atau yang kalau di kita
- harga ee 500 ee juta ah R00 juta itu
- untuk sekedar untuk nganggut sayuran ke
- pasar
- di kita kan itu untuk pelesiran R00 juta
- yang harga R miliar gitu ya kan. Kalau
- di sana saya lihat leh kok dipakai
- ngangkut sayuran, [tertawa] ngangkut
- buah-buahan. Nah gitu. Jadi, tetapi saya
- kira juga itu mungkin bukan sesuatu yang
- ajib, bukan sesuatu yang mengherankan
- karena mereka sudah terbiasa. Nah, itu
- juga manfaatnya kita banyak melihat ee
- perbandingan perbandingan terhadap
- kehidupan ee yang lain untuk bisa
- mengambil ibrah dan pelajaran. Nah, saya
- kira itu ya. Jadi, tamunya banyak
- sehingga kemudian tadi ee unta apa? Unta
- guling itu kadang tiga unta, dua unta
- atau satu unta. Kemudian ada yang
- dibagi, ada yang dibiarkan satu utuh,
- tapi kemudian ininya di apa? Nampannya
- sangat besar. Nampannya sangat besar.
- Kelilingnya 10 orang atau 7 orang. Ya,
- demikian. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian semoga dapat
- menjawab. Berikutnya pertanyaan kedua
- datang dari Bapak Ahad. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz mohon pencerahannya. Ustaz ada dua
- pertanyaan. Pertama
- mohon pencerahannya tentang syariat,
- hakikat, dan makrifat. Kedua, apa itu
- karamah, Ustaz? Apa arti karamah, irhas
- dan maunah dari Pak Hadi? Ini mangga
- dua.
- Masyaallah. Barakallahu fikum. Baik.
- Yang pertama apa dulu?
- Ee Bapak yang pertama syariat, hakikat,
- dan makrifat.
- Iya. syariat, hakikat, makrifat. Ya,
- kalau saya mau mengambil pandangan bahwa
- Islam itu tidak membagi syariat,
- hakikat, dan makrifat, berarti semuanya
- satu. Syariat ya berarti hakikat.
- Hakikat ya berarti makrifat. Itu satu
- ya. Kalau saya menggunakan approach-nya,
- pendekatannya bagi mereka yang tidak
- mengenal pembagian-pembagian itu,
- pembagian itu juga memang ada gitu loh
- ya. Ee jadi seperti begini
- ee
- para sahabat itu paska Rasul wafat
- mereka berpegang kepada syariat yang
- sama. Ketika kita memandangnya,
- menganggapnya, menelitinya, para sahabat
- itu sama-sama berpegang kepada syariat.
- Tapi kemudian ada peneliti mengatakan,
- "Oh, paskan Nabi wafat sudah mulai
- terbagi dua."
- Ada ee ada sahabat yang memahami
- lafaz-lafaz ee hadis
- ketat dengan teks. Oh, dari Nabi begini
- ketat, tapi ada yang memaknainya
- kontekstual.
- maknawi.
- Heeh. Maknawi
- apa? Memahami di belakang itu. Ah. Jadi
- sekali lagi kalau kita memaknai para
- sahabat itu semuanya pemahamannya sama
- dalam pengertian berpegang kepada
- syariat ya berarti enggak ada perbedaan.
- Tapi kalau kemudian ada peneliti
- mengatakan bahwa para sahabat itu
- terbagi menjadi sudnya bukan ini ada di
- antara sahabat yang berpahaman tekstual
- dan kontekstual. Nah, begitu juga sama
- di zaman Nabi tidak dikenal istilah apa
- pemisahan antara syariat, hakikat, sama
- makrifat. Tapi kemudian belakangan
- dipahami, oh ada syariat. Maksudnya
- orang hanya mempersoalkan masalah
- syariat tekstualis.
- Syariat begini tekstual secara tekstual,
- tapi dia kosong dari hakikatnya.
- salatnya saja jangankan memaknai
- bacaannya, kadang bacaannya juga masih
- salah-salah gitu loh. Nah, kalau
- kemudian tingkat kepada hakikat dia baca
- Al-Fatihah, dia menyadari betul,
- memaknai betul posisi dia sebagai hamba.
- Jadi baca Al-Fatihah saja bisa lama gitu
- loh. Nah, itu kepada apa? Hakikat. Kalau
- makrifat boleh dibilang begini.
- dia tidak lagi mementingkan syariat
- misalnya, bahkan dia menghindari
- menampakkan syariat. Jadi yang dia
- tampakkan hanya yang wajib-wajib aja.
- Adapun yang sunah-sunah dia tidak
- tampakkan, dia sembunyikan.
- Bahkan dia lebih suka dinilai kafir
- dibanding dia mukmin. [tertawa]
- Jadi kenapa? Wah ini mah orang kafir.
- Kenapa? salat aja enggak kelihatan. Nah,
- dia malah senang tuh. Kenapa? Karena
- pahalanya ngalir terus ke dia tuh.
- Karena karena dia sudah ah masyaallah
- ya. Jadi dia tidak ingin dapat pujian
- bahkan dia bersembunyi. Berbuat baiknya
- itu sembunyi-sembunyi.
- Jadi kalau dia sudah diketahui orang
- lain bahwa dia ahlul ibadah, ahl taah,
- ya Allah [tertawa]
- saya mohon ampun. mohon ampun dia. He.
- Padahal sekedar diketahui amalan
- baiknya.
- Nah, gitu ya. Maka oleh sebab itu saya
- kira ee pendekatan-pendekatan itu boleh
- diterima, boleh juga diabaikan
- bagi kita yang masih berkecimpung di
- dunia syariat gitu ya. Ya, tidak harus
- direpotkan dengan pemikiran-pemikiran
- itu. Tapi bagi kita yang sudah ee
- saatnya menginjak istilah-istilah itu,
- falyatafadol masyuro, maka dipersilakan,
- gitu ya. Nah, adapun kemudian tadi ada
- istilah karamah, irhas dan ee maunah ya
- semuanya itu kalau misalnya karamah itu
- asal kata dari karumah atau karimah.
- Karumah itu maksudnya mulia.
- Karamah itu maksudnya kemuliaan. Allah
- memberikan kemuliaan dengan berbagai
- cara. Di antaranya tadi kalau kepada Abu
- Bakar diberikan kemuliaan
- apa makanannya senantiasa bertambah itu
- karamah.
- Irhas dengan maunah saya belum bisa
- membedakan dulu ya. Tapi maunah
- pertolongan itu bisa diberikan kepada
- siapapun, kepada orang beriman. Ee jadi
- maunah itu semuanya adalah maunah
- pertolongan ya. Ee maunah itu adalah
- pertolongan. Maka ee nanti juga kita
- akan membedakan istilah-istilah
- [tertawa]
- ada tadi ya seperti mm ada karamah,
- kemudian ada mukjizat, kemudian ada tadi
- ya istilah-istilah. Jadi sesungguhnya
- itu istilah-istilah yang ditemukan hasil
- dari pengkajian.
- Ah, kan begini kita saja di dalam bahasa
- kita kalau Allah itu bukan berkata tapi
- berfirman.
- Kalau Nabi itu bukan berkata tapi
- bersabda. Untuk orang lain itu berkata.
- Maknanya berkata-berkata juga.
- Hanya tetapi sekali lagi, nah semuanya
- itu adalah pertolongan.
- Hanya kemudian oh kalau ini disebutnya
- ini, kalau ini disebutnya berbeda lagi.
- Seperti itu kurang lebih gitu ya. Heeh.
- Jadi ee seperti itu kurang lebihlah yang
- saya dapat ee kemukakan. Intinya adalah
- pertolongan dari Allah Subhanahu wa
- taala. Karamah-karamah. Jadi untuk para
- sahabat sampai ke bawah itu karamah
- namanya gitu ya. Kalau untuk Nabi itu
- mukjizat. Mukjizat itu maksudnya kalau
- mukjizat itu melemahkan
- ya bisa melemahkan orang-orang yang
- menentangnya. Kalau karamah adalah ee
- pemberian penghormatan gitu ya.
- kemuliaan pemberian kemuliaan dari Allah
- Subhanahu wa taala yang semuanya itu
- terangkum bisa dengan ee irhas atau
- maunah. Demikian saya kira yang dapat
- saya jawab. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Ee demikian semoga
- dapat menjawab Bapak Hadi.
- Berikutnya.
- Hm. Dari Bapak Rahman Ustaz
- Nam. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Insyaallah sehatkan Allah sehatkan
- jasmani dan rohani untuk ustaz dan
- keluarga.
- Amin. Allahum amin.
- Ustaz mohon pencerahannya tentang niat
- puasa kafarat itu bagaimana Ustaz?
- Oh, niat kafarat.
- Iya. Puasa
- ya apa namanya? Nawa itu ee nawa itu
- sauma gitu ya. Kafaratan lillahi taala.
- ya gitu kan atau dalam bahasa kita saya
- niat berpuasa sebagai kafarat ya karena
- Allah subhanahu wa taala misalnya sumpah
- paling tidak sumpah itu kafaratnya 3
- hari berpuasa niatkan saja saya berpuasa
- sebagai kafarat atas sumpah saya gitu ya
- jadi seperti itu kurang lebih e
- sesungguhnya niat itu kan ee bisa
- bermacam-macam ee redaksi
- hanya intinya seperti tadi Jadi intinya
- saya berniat, saya niat berpuasa sebagai
- kafarat terhadap sumpah saya gitu kan. E
- lillahi taala karena Allah subhanahu wa
- taala puasa.
- Kalau di bahasa Arab kan tadi nawa itu
- sauma gin gitu kan. Kafaratan lillahi
- taala sebagai kafarat karena Allah
- subhanahu wa taala. Atau mau ditambah
- lagi gitu ya. ditambah lagi. Jadi
- redaksinya itu tidak ada yang ee apa?
- Makanya karena persoalan ini adalah juga
- masuk perdebatan talafuzun niat dengan
- yang tidak talafuz. Melafazkan niat dan
- tidak melafazkan. Kenapa kemudian
- dibahas? Karena untuk hati meskipun
- dilafazkan atau tidak kan di hati ada
- niat gitu loh. Nah, maka [berdehem] baik
- dilafazkan atau tidak intinya seperti
- itu. Kalau misalnya tidak dilafazkan,
- niat saya berpuasa untuk kafarat atas
- sumpah saya
- karena Allah Subhanahu wa taala gitu.
- Fardu atau sunah, Ustaz?
- Ee kafaratan itu. Nah, kan menjadi
- bingung tuh apakah w fardu atau
- sunah.
- Sunah.
- Kalau kemudian ada nas Qurannya
- ee apa namanya? Ada nas Qurannya bahwa
- harus ada melakukan kafarat dan tidak
- ada yang membelokkannya, maka berarti
- itu wajib.
- Wajiban atau fardu. Nah, antara wajib
- dengan fardu juga para ulama berbeda
- mendefinisikannya. Nah, oke. Tapi
- kemudian saya ambil anggap sama fardu
- dengan wajib. Jadi ee fardu fardu karena
- Allah Subhanahu wa taala kalau teks
- Qurannya tidak ada yang memalingkan. Dan
- memang saya belum menemukan ee bahwa
- kafarat itu dipalingkan dia tidak
- dihukumi sunah gitu. Kafarat itu yang
- saya pahami. Sekali lagi yang saya
- pahami adalah wajib atau fardu. Demikian
- wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Rahman
- semoga dapat menjawab. H. Berikutnya
- pertanyaan dari Bapak Abdullah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah khairan kirsir Ustaz atas
- ilmunya.
- Waakum jazakallahu khairan. Ustaz, izin
- bertama, izin bertanya tentang
- salah satu riwayat hadis menjelaskan
- bahwasanya
- Rasulullah pernah Rasulullah kalau tidak
- suka dengan makanan tersebut, Rasulullah
- meninggalkannya. Nah, bagaimana dengan
- keadaan makanan yang tersebut yang
- ditinggalkan? Apakah tidak mubazir,
- Ustaz? [tertawa]
- Masyaallah. Masyaallah. Begini
- kan tidak mungkin. Tidak mungkin begini.
- Rasul menyuruh masak masakan yang tidak
- beliau sukai. Tentu bukan begitu. Tentu
- maksudnya adalah Nabi berkunjung ke
- rumah sahabat. Kemudian sahabat
- menghidangkan.
- Nah, yang dihidangkan ada yang disukai
- Rasul, ada yang tidak disukai. Yang
- disukai Nabi memakannya.
- Yang tidak Nabi sukai Nabi tidak
- mencibirnya.
- dibiarkan tidak dimakan tapi memakan
- yang disediakan lainnya gitu loh. Jadi
- bukan [tertawa] bukan kemudian jadi
- mubazir. Ya bisa jadi begitu gitu. Nah
- misalnya begini
- ada sahabat jadi Nabi bersama sahabat
- makan.
- He
- dialah salah satunya dihidangkan
- binatang dob.
- Dob. Dob itu bahasa kita sejenis biawak.
- Tapi bukan biawak. Sejenis biawak. Mirip
- seperti biawak.
- Sahabat makan aja biawak.
- Nabi tidak. Sahabat jangan-jangan haram
- nih. Karena Nabi tidak makan. Nanya
- kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah,
- apakah ini haram atau kenapa engkau
- tidak makan ini?" Kata Nabi, "Oh, karena
- di tempatku tidak dikenal binatang itu."
- Nabi tidak mengharamkan,
- tapi Nabi tidak suka karena tidak ada.
- Sekiranya mungkin ada, Nabi juga suka
- gitu loh. Jadi, ada yang disebut dengan
- mm termasuk makanan juga ada yang ee di
- diakibatkan oleh kebiasaan, tetapi juga
- ee diakibatkan oleh ketidakbiasaan. Bisa
- jadi orang tidak suka belut.
- Jiji melihat belut.
- Iya. Lele.
- Heeh. Atau lele lele. Ih. Ih, lele gitu
- ya. Mohon maaf, kami pernah ee apa
- namanya? Menghidangkan masakan lele
- kepada Allah yarham eh kepada imam
- Masjid Al-Aqsa tahun '8 rahimahullah.
- Ketika berkunjung ke tempat kami, kami
- sediakan lele maha. Apa ini? Dia CV.
- Bismillah. Enak nambah. Lihat [tertawa]
- tuh. Karena ternyata di di dirasa-rasa
- enak. Ah, bagi mereka yang suka maka
- suka. Tapi mereka yang tidak suka bisa
- jadi karena mohon maaf jiji karena tidak
- ditemukan di tempatnya sehingga kemudian
- tidak mengundang selera untuk memakannya
- maka tidak mengapa dia tinggalkan gitu.
- Meskipun itu statusnya halalun
- tapi dia karena tidak suka ditinggalkan.
- Begitu juga Nabi terhadap dobenis
- biawak itu karena lihat Nabi tidak
- makan, sahabat khawatir. Wah,
- jangan-jangan ini haram. Ahah. Nabi kok
- enggak makan gitu makan nanya. Oh,
- ternyata ada juga yang tidak disukai
- Nabi bukan berarti haram.
- Halal.
- Heeh. Bisa jadi statusnya halal tapi
- Tambi tidak menyukainya. Jadi begitu
- yang dimaksud jika Nabi tidak menyukai
- makanan, Nabi tinggalkan tuh begitu.
- Jadi, Nabi dihindangkan makanan yang
- banyak pilihan. Nabi memakan yang sesuai
- seleranya. Adapun yang tidak sesuai
- dengan seleranya, beliau tinggalkan
- tanpa harus mencaci maki dan
- menjelek-jelekkan makanannya, gitu ya.
- Demikian saya kira ya. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak
- Abdullah semoga [berdehem] dapat
- menjawab.
- Mm. Berikutnya dari Bapak Dodi di
- Cilangkap, Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Izin bertanya, Ustaz.
- Namam.
- Saya ini usaha kontraktor dan supplier
- di pemerintahan.
- He.
- Untuk menjalankan saya tidak bisa lepas
- dari bank dan investor di mana pada saat
- pengembalian uangnya ada yang dilebihkan
- beberapa persen sesuai kesepakatan.
- Apakah ini riba dalam usaha saya, Ustaz?
- Terima kasih, Ustaz, atas jawabannya.
- Masyaallah. Baik. Jelas begini.
- Ee kita mau ngambil hukumnya ke mana
- dulu, kan begitu. Jadi begini, tentang
- berinteraksi dengan bank konvensional.
- Sebagian ulama menyatakan haram,
- tapi sebagian ulama menyatakan
- tidak masalah.
- Pertimbangannya adalah
- sekali lagi nih ee
- ee saya ee persempit dulu berinteraksi
- dengan bank konvensional milik
- pemerintah
- gitu ya. Gitu.
- Jadi saya tidak menggunakan dulu seluruh
- bank, itu aja dulu. Karena bisa jadi ee
- mungkin Anda berinteraksinya dengan bank
- konvensional milik pemerintah atau
- bank plat merah istilahnya begitu. Nah,
- terhadap bank plat merah
- ada berpendapat haram tetap karena
- konvensional, ada, bunga, ada
- macam-macam.
- Sebaiknya dihindari. Sekali lagi
- sebaiknya dihindari. Enggak ada
- perdebatan dalam masalah itu. Dalam
- pengertian bisa dipahami.
- Tapi kemudian persoalannya menjadi sulit
- ketika kita mengembangkan usaha yang
- lebih besar. Mau tidak mau kita harus
- berinteraksi dengan bank konvensional
- dengan apa tadi? dengan aturan harus
- melebihkan sekian prosen.
- Sekali lagi, jika belum ada bank Islam
- yang mampu menutupi usaha kita gitu kan,
- maka tadi longgar gitu ya ee hukum bank
- konvensional menjadi longgar.
- Nah, tetapi sekali lagi Anda harus
- berkeyakinan bahwa ini harus
- ditinggalkan. Anda harus mencari
- alternatif lain gitu loh ya. Meskipun
- longgar tapi tetap itu darurat.
- Darurat mestinya juga kan sesungguhnya
- harus mengantarkan kepada kematian.
- Tetapi persoalannya usaha gitu usaha
- untuk kemaslahatan banyak orang juga
- gitu ya. Nah, maka sekali lagi ee maka
- ee kalau kita merujuk kepada ulama-ulama
- Mesir jadi bank konvensional itu bukan
- masalah.
- gitu ya. Kalau merujuk kepada
- ulama-ulama Mesir. Tapi kalau merujuk
- kepada ulama-ulama Indonesia, mereka ee
- mayoritas mengharamkan bank
- konvensional.
- Tapi ada juga di antaranya yang
- membolehkan bank konvensional milik
- pemerintah. Kenapa kok dibolehkan bank
- konvensional milik pemerintah? karena
- mereka karena ee apa ee ustaz ini
- berpendapat atau profesor ini
- berpendapat karena keuntungan dan apa
- bunga-bunga itu dipakai untuk
- pembangunan masyarakat gitu. Jadi bukan
- untuk memperkaya golongan tersendiri
- tetapi untuk pembangunan masyarakat.
- Jadi seperti itu ya. Jadi sekali lagi
- Anda tetap harus mencari alternatif
- lain. Ah gitu ya. mencari alternatif
- lain. Makanya ee
- misalnya kalau ada bank ee apa Islam,
- bank Islam juga mesti tidak sempurna.
- Sekali lagi tidak sempurna bebas dari
- riba gitu karena memang dinaungi oleh
- bank pemerintah juga gitu ya. Nah, maka
- oleh sebab itu saya kira sambil ee apa
- namanya? Simultan simultan kemudian
- mencari alternatif lain yang tidak ee
- terjebak kepada riba gitu ya. mencari
- alternatif itu sambil kemudian kita
- tetap mengurangi usaha-usaha itu. Sekali
- lagi ya, kalau tidak ditemukan lembaga
- konvensional atau lembaga ee bank
- syariah yang betul-betul 100% syariah,
- maka tadi mau tidak mau gitu kan harus
- berkehubungan dulu dengan yang ada
- ribanya.
- Meskipun sekali lagi bank syariah juga
- tidak seluruhnya syariah seringkiali
- dibahas oleh Ustaz Husein ya kan sering
- di kali dibahas. Nah, maka oleh sebab
- itu, nah sambil simultan tapi kalau ada
- ah enggak pokoknya saya akan betul-betul
- menghindari sehingga saya lebih baik
- bermain di bisnis kecil saja dibanding
- saya main di bisnis besar tapi saya
- terkena riba. Hua afdol itu lebih utama
- gitu ya, lebih utama. Nah, saya kira
- demikian yang dapat saya jelaskan.
- Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak semoga
- dapat menjawab Bapak Dudi. Semoga dapat
- menjawab. Berikutnya
- berikutnya dari Bapak Supriatna.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Ustaz
- saya izin mau membeli kitab syarah
- Riyadus Shihin. Di mana belinya, Ustaz?
- [tertawa]
- Ya, saya kira ee kalau saya karena
- belinya di Bandung. Ketika ke Bandung
- mampir ke toko buku beli di situ. Tapi
- saya kira di ee apa namanya? Toko-toko
- online juga banyak.
- Mungkin ketika book fair ada juga ya.
- Ah, ketulis bookfel tuh sekarang tuh
- bookfir sampai besok ya
- sampai eh iya sampai besok sampai taman
- 22 saya kira di book banyaklah stan-stan
- yang jual syarah kitab Riyadus Shihin.
- Syarah kitab Riyadus Solihin juga
- banyak.
- Ada syarah Syekh Usaimin, Asyarah, ada
- syarah Dib Albugha, ada syarah Imam
- Nawawi sendiri kalau tidak salah. Eh,
- saya yang Imam Nawawi sendiri itu syarah
- Arbain annawawiyah. Kalau Riyadus sholin
- saya belum menemukan syarahnya Imam
- an-Nawawi ya. Jadi saya kira silakan ya
- intinya sama, hadis-hadisnya sama, hanya
- beda penjelasan dari ulama gitu ya.
- Kalau kita ingin misalnya berpahaman
- kepada tekstual, ya saya kira misalnya
- syarahnya Syekh Utimin.
- Tapi kalau kemudian ingin
- meng apa memperdalam lebih jauh dengan
- pemahaman kontekstual bisa ee syarah
- yang lainnya. Kalau syarah di albughal
- itu boleh dibilang ee
- tekstual lafziah ya. Jadi penjelasannya
- ya kata-katanya
- kemudian ee mutiara-mutiaranya gitu loh.
- Tapi kalau ingin ini bisa di dilihat
- gitu ya syarahnya syarah apa ee riyadus
- shihin itu ada yang penjelasannya lebih
- mendalam gitu ya. Tapi sekali lagi kalau
- syarah yang ingin tekstual misalnya ya
- yang saya punya sekali lagi yang saya
- punya karena dulu saya di di bookfir
- juga belinya itu syarahnya ee Syekh
- Usaimin. Tapi kemudian saya secara
- simultan juga mencari pembanding gitu
- ya, pembanding syarah-syarah yang
- lainnya. Di antaranya adalah ee karya
- Syekh Dib Albugha.
- Ah, gitu saya perbandingnya itu. Nah,
- sesungguhnya kalau ada lagi yang lain
- saya kira gak masalah ya. Hanya untuk
- pemahaman ee tidak ada masalah. Tapi
- kalau untuk membandingkan dengan
- pengamalan orang lain, antar dulu gitu.
- Bukan kerjaan kita tuh
- banding-bandingkan pekerjaan dengan
- orang lain. Itu pekerjaan para ulama lah
- gitu. Pokoknya kita mah oh memahami, oh
- amalkan gitu. Kalau mau
- membanding-bandingkan tentu ada
- mukabalah, tentu ada komparasi ee atau
- ee dalam bahasa kita komparasi itu apa?
- Ee studi studi banding itu komparasi ee
- [tertawa]
- [terkesiap] ee muqaronah. Ah muqaronah
- gitu. Jadi ada muqaronahnya, ada
- pembanding dan itu biarlah para ulama
- lah yang kita ngambil hasil-hasilnya
- saja. Oh, mukar begini dipakai ini
- pakai. Nah, karena sesungguhnya kita
- masih di dalam ee dunianya masih dunia
- belajar gitu ya, belum sampai kepada
- dunia ijtihad gitu. Meskipun kadang kita
- dipaksa ijtihad juga ketika kita belum
- mendapatkan ee referensi-referensi yang
- memadai. Demikian saya kira yang dapat
- saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian terima kasih
- ee Ustaz, ini pertanyaan juga dari Bapak
- Supriatna, Ustaz. Heeh.
- Ee izin bertanya, Ustaz. Apakah tatkala
- kita beribadah sunah atau wajib dan
- merasa ibadah kita diterima atau merasa
- takut jangan-jangan ibadah kita
- diterima? Mohon pencerahannya, Ustaz.
- Terima kasih.
- Iya. Pertama, baik ibadah wajib maupun
- ibadah sunah harus yakin bahwa kita
- diterima.
- Tetapi rasa pertanyaan aduh bisa
- diterima Pak. itu juga bagus
- untuk mengendalikan kita tidak sampai
- kepada sok suci
- gitu ya. Sekali lagi kita harus yakin
- bahwa apa yang kita lakukan diterima
- Allah.
- Bah kemudian perkara hakikatnya diterima
- atau tidak serahkan kepada Allah.
- Makanya kan di dalam doa-doa aduh ya
- Allah cuma ini yang bisa aku lakukan.
- Saya sudah berusaha
- mengikuti anjuran para ulama,
- memenuhi anjuran Quran, mengikuti
- anjuran sunah gitu ya. Tapi kan
- hakikatnya diterima atau tidak mah
- pokoknya yakin diterima tapi kemudian
- aduh diterima enggak ya? Itu juga boleh.
- Bagus itu juga.
- Oh juga bagus.
- Bagus. Jadi ragu bukan ragu karena tidak
- yakin bukan. Tapi aduh iya saya diterima
- enggak ya? Karena kan tidak ada nas yang
- menjelaskan, "Oh, ibadahmu sudah
- diterima." Kan enggak ada, hanya
- keyakinan diterima. Ya Allah, terimalah.
- Nah, tetapi aduh kadang kita berpikir,
- diterima enggak ya ibadah saya?
- Pertanyaan diterima atau itu tuh
- maksudnya untuk mengerem agar kita tidak
- merasa sok suci. Oh, saya dosa saya
- sudah diampuni oleh Allah.
- Oh, ibadah saya sudah diterima oleh
- Allah semuanya sehingga saya boleh
- melakukan maksiat. Nah, itu yang tidak
- boleh. Maka tadi bentuk pertanyaan
- diterima apa enggak ya? Itu bukan
- keraguan.
- Tadi muhasabah, evaluasi kategorinya.
- Oh, ya Allah. Oh, iya. Ternyata masih
- begini saya. Oh, masyaallah. Saya baca
- Al-Fatihah, pikiran masih ke kantor.
- Saya baca Al-Fatihah, pikiran masih ke
- pasar.
- ee oh maka kemudian senantiasa
- memperbaiki diri tapi yakinkan kepada
- diri kita bahwa inilah yang bisa saya
- lakukan dan semoga Engkau terima ya
- Allah ibadah saya gitu. Bahwa kemudian
- evaluasi
- terima enggak ya? Ya Allah terimalah.
- Nah gitu. Jadi evaluasi tadi pertanyaan
- tadi agar mendorong semakin serius
- beribadah kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Demikian yang dapat saya jawab.
- Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak
- Supriatna semoga dapat menjawab.
- Baik, ikhwan akhwat, kita sudah berada
- di
- akhir waktu untuk sebelum kesimpulan ee
- ada
- alhamdulillah dari pendengar ada yang
- mewakafkan transfer wakaf untuk wakaf di
- lembaga wakaf silaturahim atas nama
- almarhum Bapak Hadi Suwiryo bin Karyo
- Suntoyo. Terima kasih atas
- he
- transformnya. Jazakah
- Ustaz Baik, Ustaz ee sebagai penutup
- untuk keutamaan dan kemuliaan para wali
- Allah, Ustaz.
- Iya. Jadi, para ikhwan sekalian tadi
- yang belum saya jelaskan adalah
- jadi karamah itu diberikan kepada orang
- yang sudah teruji.
- Makanya Abu Bakar kan dikasih gelar
- assiddiq.
- Benar imannya gitu loh ya. Jadi benar
- imannya, yakin betul kepada Allah,
- ibadahnya serius,
- maka kemudian dia selalu berpikir yang
- utama. Aduh, para tamu saya misalnya,
- kenapa enggak mau makan? Ya, gitu.
- Kenapa? Jadi berpikirnya itu tidak
- pernah berpikir yang mencelakakan, tidak
- berpikir tentang kemaksiatan, tapi yang
- ia pikirkan tentang ketaatan kepada
- Allah Subhanahu wa taala. Nah, paling
- tidak di momen hijrah ini kita begitu
- karena almuhajiru jadi banyak riwayat.
- Almuhajiru man hajaro mahallahu anhu.
- Itu satu riwayat. Almuhajiru man hajaro
- al khaya wadzunub.
- Jadi muhajir itu orang yang meninggalkan
- kesalahan-kesalahan dan dosa. Kalau tadi
- orang yang meninggalkan apa-apa yang
- dilarang oleh Allah. Ada lagi e apa
- namanya? Almuhajiru man hajaro al
- maasih.
- Meninggalkan maksiat-maksiat.
- Jadi banyak redaksi yang pada
- kesimpulannya
- hijrah setelah hijrah dari Makkah ke
- Yasrib
- hijrata
- ba'dal fathi. Tidak ada lagi hijrah
- setelah Fathul Makkah gitu ya. Ini
- maksudnya ketika e sekarang sudah aman.
- Tapi bagi mereka yang apa namanya yang
- dijajah yang ini boleh saja dia hijrah
- gitu ya. Tetapi bagi kita yang hidup di
- ee negeri yang merdeka maka hijrah
- makani itu sudah tidak ada. yang ada
- adalah hijrah sifat,
- hijrah karakter,
- hijrah maknawi,
- hijrah haliah.
- Jadi hijrah keadaan asalnya suka
- ngakhir-ngakhirkan salat, bersegera.
- Nah, itu hijrah
- di kita senantiasa mencari kesalahan
- istri.
- Yang ada istri aja yang salah,
- masaknya kurang asem
- dijadikan masalah. Padahal kalau mau di
- diungkit-ungkit, kalau mau diurut-urut
- masak itu tanggung jawab suami.
- Tuh. Kenapa? Karena yang berkewajiban
- memberi makan istri dan anak adalah sua
- suami. Memberi makan itu kan jadi.
- Berarti dia berkewajiban dari mentah
- kepada jadi. Jadi masak, belanja itu
- tanggung jawab suami tuh. Makanya aduh
- iya ya laka kemudian eh istriku aku
- mohon maaf
- selama [mendengus] ini aku hanya melihat
- kesalahan dan kekurangan. Engkau maafkan
- aku ya. Engkau telah berupaya membantu
- aku menyelesaikan tanggung jawabku
- sebagai suami.
- Jazakillahu khairon. Wahai istriku. Tuh
- hijrah tuh namanya.
- Ketika istri kita tidur dipandang ditat,
- "Ya Allah [mendengus] istriku bintang
- desa, bunga desa yang begitu cantik
- sekarang sudah pudar karena melayaniku.
- bukan melayani [berteriak] anak-anakku.
- Ya Allah terimalah segala kebaikannya.
- Ah itu hijrah.
- Jadi melihat istri kita itu senantiasa
- masyaallah punya kedudukan laha makanah
- baginya punya kedudukan di sisi kita dan
- kita berharap dia punya kedudukan juga
- di sisi di sisi Allah. Maka oleh sebab
- itu di penghujung tahun ini insyaallah
- ya satu pekan lagi kita akan sampai ke
- awal [mendengus] tahun kita evaluasi ya.
- Nah, bersamaan dengan kajian ini. Jadi
- orang yang mendapatkan karamah itu tidak
- sembarang orang
- tapi Allah sangat berkehendak. Jadi
- kalau diberikan kepada orang beriman itu
- karamah, tapi kalau diberikannya kepada
- orang kafir itu istijrad gitu ya. Oke.
- Maka oleh sebab itu saya kira ee sampai
- kapan kita mendapatkan karamah? Ya tidak
- tahu. Yang jelas kita senantiasa taat
- kepada Allah, membiasakan dia. Pokoknya
- gini sesungguhnya Anda cari amalan baik
- itu wajib maupun sunah dalam istikamah
- insyaallah.
- Jadi tidak harus kemudian Anda banyak
- amalannya, tidak harus juga bahwa
- kemudian banyak amalannya dan konsisten
- itu lebih bagus. Tapi juga Anda ngambil
- amalan sederhana sedikit tapi
- istimrariah, istiqamah insyaallah tuh
- mendatangkan karamah insyaallah. Nah,
- saya kira demikian yang dapat saya
- simpulkan dari apa yang telah kita
- uraikan. Wasallallahu ala nabiina
- Muhammadin walhamdulillahi rabbil
- alamin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Jazakumullah khairan
- kir ustaz.
- Wakum jazakumullah khair.
- Ini juga dari Pak Dodi yang tadi
- bertanya karamah tuh. Izin minta alamat
- ustaz kalau mau konsultasi agama.
- [tertawa]
- Ya boleh nanti di ini.
- Iya insyaallah nanti.
- Baik Pak Dudi. Terima kasih atas
- pertanyaan dan seluruh ikhwan awat yang
- sudah bertanya yang sudah beras
- berpartisipasi dalam kajian tausiah sore
- bersama Ustaz Ahmad Saleh. Kami ucapkan
- terima kasih. Saya Fauzi Riadul Haqohon
- diri, mohon maaf atas segala kata serta
- Neza dan juga Yusuf Subangkit.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ilahailla anta astagfiruka wauub.
- Alalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.