Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 10 tahunan dan kebetulan di radio itu 0:03 juga ada Yasir Denhas sebagai senior di 0:06 sana gitu kan 0:06 yang suara kejayaan ini. 0:07 Iya, suara kejayaan ini. Kemudian saya 0:10 merasa aduh kok cuman di radio aja ya 0:13 pengin berkembang. Ah 0:15 kalau di radio cuman suara aja pengin 0:17 dong keluarang saya gitu. 0:21 Alhamdulillah ganteng lagi. 0:24 Akhirnya saya tanya ke Bang Yasir, "Bang 0:27 Yasir ee kapan nih buka di TVRI gitu." 0:30 He. 0:31 Oh, nanti saya informasiin deh gitu. 0:34 Nah, suatu saat dia bilang, "Ada tuh 0:35 Yan, tapi bukan kamu tuh cocoknya di 0:38 hiburan di studio. Kamu bawain acara apa 0:42 gitu loh. 0:43 Yang ada cuman pemerintaan nih yang 0:45 buka. Ah, udah deh enggak apa-apa saya 0:48 mau coba kayak apa sih gitu kan. daftar 0:51 saya, Mas Kris. Masuk masukin lamaran 0:54 kemudian mau dites. 0:57 Karena saya waktu itu masih kuliah, Mas 0:59 Kris, 1:00 jadi saya pikir, "Ah, nanti deh potong 1:02 rambutnya 1:03 gondrong." 1:08 Akhirnya enggak sempat enggak sempat 1:10 untuk potong rambut. 1:12 Ya udahlah maju aja lah. 1:14 Paling juga karena terusan dalam benak 1:16 saya itu saya pengin tahu kayak apa sih 1:18 dites tuh. 1:19 Heeh. H 1:20 apa kayak di ee film 1:22 kamerol 1:24 action 1:24 gitu kan. 1:25 Ah pengin tahu gitu. Sekarang pengin 1:27 tahu aja udah saya ikut ee tes. 1:31 Waktu itu Sambas yang jadi apa ee 1:35 jurinya kemudian sama Batu Tiaditama. 1:37 Iya 1:38 gitu. 1:40 Nah saya terus terang waktu saya 1:42 ngelihat mau di tes gitu Mas saya jatuh 1:47 down banget gitu. Kenapa? Karena 1:49 mereka-mereka sudah siap pakai jas 1:52 keren-keren semuah pokoknya gitu. 1:54 Kangyan pakai apa waktu itu? 1:56 Pakai-pakaian 1:56 biasanya kuliah aja 1:58 gitu loh. 1:59 Akhirnya udah 2:00 cbay 2:01 masih cbai 2:02 rambut panjang gini gitu kan. Ya udah 2:04 deh cobain aja udah dites gitu loh. 2:08 Tapi alhamdulillah seminggu kemudian 2:10 dipanggil 2:11 weh keren. 2:12 Panggil bahwa kamu diterima di TV R 2:14 sebagai pembaca berita tetapi potong 2:17 rambut. gitu. 2:19 Saya bilang, "Siap saya potong rambut 2:21 gitu, Mas." 2:22 "Langsung diterima ya?" 2:23 "angsung diterima." 2:24 Oh, 2:25 cuman enggak semudah langsung kita 2:27 tampil, Mas Grace gitu loh. Saya sampai 2:29 2 3 bulan itu 2:31 di Milopen, 2:33 Milopen. Milopen itu meriksa naskah, 2:36 ikut-ikutan ngikutin apa penyiar-penar 2:39 yang mau tampilah. 2:40 Kita dampingi mereka kayaknya apa sih? 2:42 Lama-lama kan bosan Mas Kris. 2:44 Iya kan? Gitu lagi gitu lagi gitu kan. 2:47 Kemudian disuruh dabbing 2:49 ini ada filmnya, ini naskahnya kamu isi 2:52 gitu kan. Saya isi. Masa begini-bini 2:55 terus sih? 2:56 Saya nanya sama koordinator penyiarnya, 2:58 "Kenapa saya enggak tampil-tampil gitu 3:00 loh. 3:01 Kamu tuh terlampau muda." 3:03 Oh, wajahnya imut. 3:04 Terlalu muda. Sehingga orang bingung, 3:06 "Benar enggak nih beritanya gitu? Kalau 3:08 kamu yang baca katanya gitu, Mas." 3:11 Tahun berapa tuh, ya? 3:12 Ee tahun 18182. 3:15 Oh, 8182. 3:17 Akhirnya saya ganti kacamata sampai enam 3:19 kali, Mas. 3:20 Supaya kelihatan tua. 3:21 Supaya kelihatan tua. 3:22 Tapi belum juga tampil. 3:24 Akhirnya saya terus terang hampir putus 3:26 asa. 3:27 Saya bilang, "Wah, saya enggak kayaknya 3:28 enggak bisa diterima di TVRI lah. Saya 3:30 akan keluarnya dari TVRI lagi deh." 3:32 Gitu. 3:33 Eh, kebetulan ada pekan olahraga 3:35 nasional 3:36 gitu. 3:38 Dibutuhkan reporter-reporter olahraga 3:40 gitu kan. Jadi, ada ee pimpinan dari 3:43 olahraga datang ke studio kita. 3:46 Siapa nih dari penyiar yang bisa bantu 3:48 kita? Kekurangan reporter olahraga gitu. 3:50 Wah, saya langsung menunjuk 3:53 Yan. Kamu bisa apa gitu? 3:54 Saya bisa megang ee bowling, 3:57 saya bisa megang ee kempo kayu. 3:59 Uh, keren. 4:00 Oke, dua itu kamu pegang ya. Gitu. 4:03 Masuklah saya pegang gitu. 4:05 Cuman saya mikir saya pengin tampil mas 4:07 Kris. 4:08 Gimana caranya supaya bisa tampil gitu 4:10 kan. 4:11 Emang suara cuma suara doang? 4:12 Cuma suara doang kan laporan-laporan 4:14 doang. gitu kan. Akhirnya saya bilang 4:18 menyerah 4:18 kameramen 4:19 bisa enggak ya kita bikin ahit biar 4:22 tampil gitu kan. 4:24 Colek dua colek ya. 4:25 Ya pura-pura saya lagi ngelempar bola 4:27 bowling kemudian baru saya ngelihat ke 4:29 kamera baru kasih laporan. 4:31 Oh boleh boleh boleh boleh gitu. 4:34 Jadi saya 4:35 asik banget nih 4:36 lempar bola bowling gitu baru saya ee 4:38 lihat ke kamera saudara kami berada di 4:41 lapangan Bowling Ancol untuk melaporkan 4:44 kegiatan pekan olahraga nasional gitu 4:46 kan. Wah, semua orang pada bingung, 4:50 Teman-teman. Di reporter, "Jan emang 4:52 boleh begitu, Yan?" 4:53 "Ya, ya. Kita mah begitu aja biar 4:55 tampil." Saya bilang, "Wah, jadi 4:57 ikut-ikutan 5:00 dah, Saudara." 5:04 Transer, ya. Jadi setelah saya tampil di 5:07 situ baru 5:09 direktur pemberitaan mengatakan ini 5:11 Pak Hadi bukan 5:12 bukan waktu itu 5:13 ee bukannya Pak ee apa yang yang Bu Ani 5:18 Sumadi Pak Sumadi Pak Sumadi 5:19 bukan bukan 5:20 Pak Barata 5:21 Pak Barata 5:22 bawaah Pak Barata lagi. 5:24 Nah 5:24 ialah dialah pokoknya 5:25 iyalah. 5:26 Kemudian dia bilang, "Kenapa anak ini 5:27 enggak bisa ditampilin gitu loh. 5:29 Si koordinator penjara bilang tampang 5:31 muda, Pak." Enggak. Dia sudah pantas 5:34 untuk tampil. 5:36 Alhamdulillahwijaya 5:39 baru di situ tampil gitu loh. Tapi 5:42 dikasih pagi banget gitu jam .00 pagi 5:45 sudah siaran gitu kan orang belum lihat. 5:47 Kadang-kadang orang sudah tidur jam 5:49 11.00 malam disuruh siaran ter kuliahnya 5:51 sudah selesai belum? 5:52 Kenapa 5:53 kuliahnya sudah selesai? 5:53 Belum. 5:54 Belum selesai kuliahnya. 5:56 Jadi walau wajah imut tapi strateginya 5:58 banyak nih. 6:02 Oke. Iwan Masu ya. Keren banget nih 6:05 berhasil mengundang e mantan-mantan 6:08 penyiar dunia dalam berita yang 6:10 Pertawijaya 6:11 dan Mbak Utari Nur Permadi. Ini saya 6:14 baca WA duliriah 6:16 Agus. Asalamualaikum Kru Rasil. Terima 6:19 kasih acara tamu kita para penyiar 6:21 kesayangan sejak zaman TV hitam putih 6:23 punya keluarga. Jadi kangen almarhumah 6:26 Ibu dan almarhum Bapak yang telah 6:28 membeli hadiah TV hitam putih merek 6:31 nasional Gobel ketika masih 6:33 balita. Salam hormat selatu untuk Kang 6:36 Yan dan Mbak Utari tuh mau dibilang juga 6:39 tuh masih cantik aja Mbak Utari masallah 6:42 perawatan yang lain. 6:44 Wah 6:45 oke. 6:46 Soalnya temannya ini Mas Krishna 6:49 sama Kang Yan. 6:51 Pak Yan Partawijaya bukannya penyi radio 6:53 Trijaya katanya. 6:54 Bukan suara kejayaan. Suara kejayaan Ibu 6:57 Rukm ini. H. 7:00 Kemudian 7:00 ini cerita-cerita yang muncul ini. 7:02 SK 7:02 cerita yang benar-benar belum pernah 7:04 kami ketahui. 7:05 Iya. Nah, kalau Mbak Utari sendiri 7:07 gimana ceritanya dulu bisa bergabung di 7:09 TVRI terutama di dunia? dulu sesudah di 7:13 RRI tiba-tiba ee satu kali satu-satunya 7:18 apa sekali itu saja TVRI Jogja membuka 7:21 lowongan dipasang di ee disiarkan gitu 7:24 di apa istilahnya telop ya 7:26 telop 7:27 jadi ada tulisannya pas saya baca dan 7:29 itu rupanya hanya dipasang 3 hari 7:32 lalu daftarlah wah ada kesempatan begini 7:34 saya habis 7:35 TVRI Jogja 7:36 ee R TVRI Jogja 7:38 TVRI Jogja 7:39 iya biasanya penerimaan nya tuh tertutup 7:42 dan ee lebih sering kita kalau enggak 7:45 ada koneksi ya katanya ya waktu itu 7:47 kalau enggak ada koneksi itu enggak 7:48 mungkin masuk deh. 7:49 Jadi kalau di Jakarta mungkin lebih 7:52 lebih objektif saya juga kurang tahu ya 7:54 karena hanya mendengar cerita-cerita 7:56 orang. Nah masuklah ee daftar kita sudah 8:00 mahasiswa akhir gitu ternyata yang 8:03 daftar tuh ada berapa? Coba tebak berapa 8:05 yang daftar dalam 3 hari diumumkan waktu 8:08 itu tahun 8:11 80 8:13 9 ya 88. Heeh. 8:17 5.000 orang. 8:18 5.000 orang dari seluruh Indonesia 8:20 dari sekitar situ ee Jawa Tengah dan DIY 8:24 karena kan harus tinggal di situ. 8:26 Dipasangnya di 8:27 dipasangnya di TVRI Jogja. 8:28 Jogja. Heh. 8:29 5.000 orang. 8:31 Terus ee kami diseleksi tiga tahap. 8:34 akhirnya keluar nama enam orang 8:37 termasuk ee kalau enggak salah Mayong 8:39 Suryo Laksono yang 8:41 ee tapi kemudian dia jadi wartawan ya 8:44 kalau enggak salah. Jadi ada enam orang 8:46 itu kemudian kami dididik oleh Mas Damas 8:50 Yunus Mulono sangat-sangat perfect dan 8:53 ee guru yang baik, ilmunya luas gitu ya 8:57 ee all round bisa. Nah, sesudah itu baru 8:59 kita dilatih untuk ya kayak tadi melopen 9:03 tapi mula-mula dikirim untuk ikut 9:05 salah satu produser gitu kita ke mana ke 9:08 daerah untuk ikut meliput apa gitu. 9:11 Tapi waktu itu sudah modal 9:13 ee reporter on screen ya kan kalau yang 9:17 disebut tadi hanya suara yang muncul 9:20 ee hanya sound-nya aja ya apa istilahnya 9:22 ya kalau sekarang kan ada ROS gitu kan. 9:24 Iya. 9:25 Jadi selalu ada pembukaan kita muncul 9:28 gitu lama-lama ee karena di Jogja itu 9:33 kita harus siap untuk berita, tetapi 9:37 kadang-kadang juga harus siap untuk 9:38 acara-acara mendadak. Saya penyiar 9:41 berita ee jadi tidak pakai konde. E tapi 9:45 saya kesulitan untuk tampil itu dengan 9:48 wajah ramah 9:49 soalnya orangnya judes kali ya. 9:52 Enggak pernah lihat judes rasanya. Jadi 9:55 harus belajar senyum di kamera gituan. 9:58 Judus sih. 10:01 Oke. Masyaallah. Kemudian dari Bunda 10:06 Emilda. Asalamualaikum. Ikut menyimak 10:09 tamu kita. Masyaallah keren-keren nih 10:10 kegigian Mbak Utari dan Bang Yan. 10:13 Syukron motivasinya keren-keren. 10:16 Ini dari Bu Linda. Kemudian juga hinya 10:22 bagaimana Bapak dan Ibu melihat kondisi 10:24 TVRI dulu sama TVRI sekarang? Kenapa 10:27 TVRI tertinggal dengan TV swasta? Ee 10:30 dari Pak Andri bisa dijawabi. 10:35 Mungkin kita jawab berdua ya. Tapi saya 10:37 coba dulu. itu kalau mengenai TVRI itu 10:40 sebetulnya ada faktor internal dan 10:42 faktor eksternal. 10:44 Kalau sebuah ee lembaga penyiaran milik 10:48 publik seperti TVRI itu bisa menjadi 10:52 besar itu juga karena kebijakan 10:54 pemerintah. 10:55 Iya. Jadi kalau kebijakannya itu 10:58 kondusif untuk dia berperan seperti tadi 11:00 yang saya sebutkan sebagai suara yang 11:03 didengar oleh ee masyarakat, maka dia 11:06 bisa memenuhi tugasnya. Tinggal 11:08 bagaimana direktur utama dan timnya itu 11:11 mengelola. dan TVRI itu mampu sekali 11:15 karena ee orangnya apa istilahnya 11:18 SDM-nya banyak cukup mampu muampu 11:21 ee tingkat kemampuannya juga sangat 11:24 teruji. 11:25 Tetapi kadang ee apa ya istilahnya ada 11:30 rambu-rambu yang mungkin terlalu tinggi 11:33 sehingga tidak apa perlu dievaluasiah. 11:37 Saya rasa setiap zaman itu perlu 11:39 mengevaluasi mana yang bisa diteruskan, 11:42 mana yang tidak. Ee sehingga nanti 11:45 pemerintah secara umum dan negara 11:47 Republik Indonesia secara umum bisa 11:50 punya satu lembaga yang memang kuat. 11:53 Jadi jangan hanya faktor ee rating atau 11:57 keuangan yang dipertimbangkan. 11:59 Karena dalam seperti sebuah rumah tangga 12:01 kan, kalau bapaknya enggak didengar 12:03 suaranya, 12:04 bagaimana dia bisa membina anak? dan 12:07 istrinya kira-kira kan gitu. 12:10 Oke. Sekarang kalau menurut Bang Yan 12:12 gimana, Pak Yan? 12:13 Saya mendukung apa yang dikatakan oleh 12:16 ee Mbak Tari bahwa tergantung kepada 12:19 pimpinan dan pemerintah Mas Kris. 12:22 Karena terus terang saya punya 12:24 pengalaman yang betul-betul saya hadapi 12:27 pada waktu Pak Ishadi sebagai ee 12:30 direktur di TVRI. He. 12:33 Kita kan sudah ada punya iklan. 12:35 H. Karena untuk merunning ee apa siaran 12:38 itu kan perlulah dana. 12:40 Kita enggak tergantung terus sama 12:41 pemerintah. Kita harus punya dana 12:43 sendiri. 12:44 Mana suka siaran niaga. 12:45 Iya. Mana suka niaga sudahud. Tapi kan 12:48 dari teman-teman di RTTI, TPI pada waktu 12:52 itu komplain gitu loh. Karena 12:54 jat iklannya mungkin 12:57 tersedot ke TVRI. 12:59 Iklannya terkurang. 13:00 Jadi dihentikan gitu loh, Mas Kris. He. 13:02 Akhirnya diputuskan kalau kamu mau iklan 13:05 boleh, tapi bikin program satu, program 13:07 du gitu loh. 13:09 Jadi Pak IS Hadi bikinlah program dua 13:11 ya. 13:12 Program dua. 13:13 Programmer dua INS, English New Service 13:16 gitu kan. He. 13:17 Tetapi ya dibatasin juga ada 13:21 kekhawatiran bahwa takut tersedot 13:24 iklan-iklan itu gitu loh. Akhirnya ya 13:27 itulah terombang-ambing. 13:28 Terombang-ambing akhirnya kita mereka 13:30 sudah lari jauh kita terlambat untuk 13:32 mulai start mencari iklan. 13:35 Iya. 13:35 Jadi semua tergantung kepada pemerintah 13:38 lagi gitu loh Mas Kris. 13:39 Oke. 13:41 Baikbaik. 13:42 Itu pengalaman kita ya. Iya betul. Tapi 13:45 sekarang TVR yang sekarang ini kami 13:48 melihat semangatnya 13:49 untuk berubah untuk mendengar kebutuhan 13:52 masyarakat itu sangat besar. Jadi 13:55 program-programnya juga banyak bahkan 13:57 program-program perbatasan itu juga 13:59 mereka punya. 14:00 Karena saya sendiri pernah ee 5 tahun 14:02 yang lalu tuh membawa tim ee yang biasa 14:06 meliput untuk perbatasan untuk me apa 14:09 menjangkau daerah-daerah yang enggak 14:11 terbayang ee untuk sampai ke tempat 14:14 tersebut. Padahal kalau dari Malaysia 14:16 hanya 2 jam naik motor. Kalau dari kita 14:19 tuh 12 jam itu pakai ee apa namanya? 14:24 Perahu. Kalau kenapa sampai bisa sehari 14:27 semalam tidak hanya 12 jam? Kalau pas 14:29 kering nanti perahunya pakai di panggul. 14:32 Oh, gitu. 14:32 Begitu. 14:34 Dan desa tersebut waktu didatangi kru 14:37 kami itu 14:38 ee apa namanya? yang pertama kali 14:40 ditanyakan oleh para ee oleh kepala 14:43 desanya itu dia bawa borang-borang es 14:46 apa pajak itu loh pajak PBB. 14:49 Bagaimana cara mengisi borang-borang 14:51 ini? 14:52 Padahal itu desa terpencil banget tapi 14:54 waktu itu 100% untuk Pak SBY. Ee tapi 14:57 anak-anaknya stunting dan rambutnya 14:59 merah, 15:01 rumahnya panggung. Dan kru kru kami itu 15:04 sempat meliput sakaratul mautnya seorang 15:08 warga desa 15:10 yang asma. Penyakit asma kan sebetulnya 15:13 tidak mematikan. 15:14 Tetapi di situ enggak sadar dia. Dia 15:17 merekam itu sedang apa ee di salah satu 15:20 rumah lah ya ee kondisi sakit di 15:22 ditungguin saudaranya atau keluarganya. 15:25 Terus waktu sampai di entong lagi dapat 15:28 kabar dari kepala dusun yang tadi 15:30 diyuting itu meninggal. 15:32 Bayangkan. Jadi kepala dusunnya cuman 15:35 waktu di wawancara mengatakan kami tuh 15:37 cinta Indonesia tapi kami sering tidak 15:40 tahu Indonesia cinta tidak sama kami. 15:43 Itu pertanyaan yang sampai sekarang 15:45 membekas sekali 15:47 dalam ini kami dan karena TVRI saya bisa 15:50 iya 15:50 menjangkau daerah-daerah yang seperti 15:52 itu. 15:53 Itu dulu ada cara dari desa ke desa. 15:55 Dari des. 15:56 Iya betul. 15:58 Karena jangkauan terluasnya kan di TVRI. 16:00 Iya betul betul. Anda masih ingat enggak 16:02 nama-nama carte feri zaman dulu? Silakan 16:04 kirimnya ke 0811999720. 16:10 Wah, udah ada langsung jawab aneh karya 16:12 safari teleram. 16:15 Silakan, silakan dijawab ya. Apa 16:16 nama-nama acara TVRI pada zaman dahulu? 16:19 Silakan kirim ke 0811999720. 16:24 [Musik] 16:25 Kami akan bacakan juga nomor HP 16:27 narasumber kita yaitu baik yang 16:29 Partawijaya maupun Mbak ee Utari Nur 16:33 Prmadi. 16:34 Silakan disiapkan perpen sama kertas ya. 16:37 Ini nomor telepon dari Kang Yan 16:40 Partawijaya adalah 088 16:43 11 16:45 11 16:47 kemudian 282811 16:51 08 16:53 11 16:55 2811. 16:58 Kemudian nomor teleponnya Mbak Utari Nur 17:01 Permandi adalah 0816 17:04 84 17:05 82 17:07 30 0816 17:10 84 17:12 82 17:14 30 17:16 emang nomor lama 17:17 nom 17:17 nomor nomor lama ya 17:19 oke 17:19 ada ada protes sedikit boleh enggak 17:21 boleh 17:22 jangan acara TVRI zaman dahulu kalah 17:25 kesannya kayak 100 tahun 17:27 Aduh aku oke. Protes diterima. Terima 17:31 saran. 17:31 Protes diterima. 17:33 Syukran. 17:34 Heeh. Jadi TPRI 17:36 I 17:36 tahun-an gitu kali ya. 17:38 Iya itu lebih tepat. 17:39 Oke. 17:40 Soalnya saya terus berpikir emang umur 17:42 saya berapa ya? K banget gitu ya. 17:45 Masyaallah. 17:47 Oke. 17:51 Ini tamunya enggak bisa dikendalikan. 17:56 E saya paling suka acara Unyil. Waduh, 18:00 macam-macam nih. 18:01 Oh, Unyil. Iya, betul. 18:03 Betul. 18:04 Kita sempat bikin acara di luar TVRI 18:07 dengan Pak Raden. 18:08 Heeh. 18:08 Melukis itu di depan anak-anak untuk 18:11 acara festival budaya anak bangsa. 18:13 Wah, keren banget. 18:14 Almarhum ya, Pak Raden. 18:15 Almarhum. Iya, 18:16 betul. Betul. 18:17 Almarhum. Rumahnya di daerah Slipi ya. 18:21 Heeh. Heeh. 18:21 Dan orangnya baik sekali. Betul. Betul 18:24 ya. 18:25 Ya Allah, banyak sekali loh. Jadi TVR 18:27 itu sebetulnya kayak magnet. 18:28 He. 18:29 Dengan begitu banyak atau jejaring ya, 18:31 jejaring yang dahsyat sekali. 18:34 Tinggal sebetulnya 18:35 ee pemerintah dan pimpinan serta serta 18:39 internal ya menyadari 18:41 bahwa ini tuh berlian. 18:44 Kalau berlian jenisnya kohin gitu loh 18:46 ya. Enggak usah yang lain itu merasa 18:49 takut, merasa terancam tuh boleh ya. 18:51 Tapi itu menjadi bagian dari kompetisi. 18:55 Kopetisi, berkooperasi tetapi saling 18:58 berkompetisi. 18:59 Itu istilah manajemennya begitu. 19:03 Jangan mematikan. 19:05 Oke. 19:05 Tapi kita ngomong yang lucu-lucu aja 19:07 deh. 19:08 Pengalaman saya pada waktu apa ee di 19:11 TVRI Mas Kris 19:13 itu pada waktu berita sore jam .00 gitu 19:17 sore 19:18 itu kan saya cuman berdua dengan 19:19 kameramen. 19:20 Iya. E naskah sudah ada satu soalnya 19:23 punyana cuma satu gitu loh. 19:24 Naskah sudah ada 19:25 karena si kameraman ini perokok. 19:28 Jadi saya siapin saya keluar ya 19:31 di lock ya. 19:32 Di lock. 19:33 Heh 19:33 di lock lah saya siaran ya enggak 19:35 apa-apa sih. 19:36 Tiba-tiba apa yang terjadi Mas Kris? 19:38 Kameranya turun. 19:42 Kameranya memblin. 19:43 Jadi saya ikut turun Mas supaya tetap 19:46 ada di layar. Ah, terus enggak ada yang 19:48 tahu. 19:49 Enggak ada yang tahu. Kemudian buru-buru 19:50 kan masuk ee apa ee laporannya kan ee 19:55 ada sound-nya di dalam di dalam film itu 19:57 kan. Heeh. 19:58 Jadi pas itu masuk saya langsung gedor 20:01 ee apa pintu gerbang. Buruan-buruan itu 20:04 kamera turun masuk lagi setel lagi. 20:08 Ya Allah ya Rabb 20:09 itu pengalaman. Aduh rameai Mas ramai 20:13 sekali. 20:14 Pernah juga ada penyiar. Siapa itu yang 20:17 disangkatnya sudah off mic-nya tapi 20:19 ternyata masih nyala tapi dia 20:20 mengeluarkan kata-kata yang inah. 20:22 Oh gitu. 20:23 Kata-kata yang enggak bagus gitu kena 20:25 skor ya. 20:27 Ada juga penyiar perempuan dikiranya 20:29 belum siaran karena kan persiapan. Nah 20:32 itu pakai masukin tangan ke dalam baju 20:35 mungkin membetulkan mikrofon sebetulnya 20:37 ya. Tapi orang yang melihat karena itu 20:40 kan ditampilkan seluruh Indonesia 20:42 dikiranya ngapain gitu kan. kan dilarang 20:45 mengeluarkan anggota badan. 20:49 Jadi sejak itu kita dipesan kalau sudah 20:52 di depan kamera 20:53 jangan macam-macam. Heeh. Maam serius 20:56 pokoknya ingat itu sudah ter apa 20:59 terlihat 21:00 di mana saja. 21:02 Tapi salah satu pengalaman yang sangat 21:05 ee mendalam ya, membekas di hati itu 21:08 waktu diajak Pak Hadi 21:10 memang beliau itu ee benar-benar pegawan 21:13 ya, guru kami semua. 21:14 Betul. Guru 21:15 sekarang di Trans TV ya. Trans TV. 21:17 Iya, betul. Beliau itu mengajak saya 21:19 sebagai penyiar berita ke 21:21 ee peresmian salah satu pemancar di 21:23 Banda Aceh itu dengan Bu Isadi dan tim 21:26 dari TVRI. He. 21:27 Lalu kita dari Banda Aceh ke salah satu 21:30 pemancar. Dia ingin menengok 21:32 pemancarnya. 21:34 Bayangkan pemancar karena kan TVRI waktu 21:36 itu kan masih siaran ee bukan satelit ya 21:39 apa istilahnya dari darat ke darat gitu 21:41 kan. Jadi ada pemancarnya itu di puncak 21:44 gunung. 21:44 Heeh. 21:45 Jadi 21:45 repeater. 21:46 Heeh. repeater. Kita sudah naik 21:49 mobilnya itu yang ajrut-ajurrutan 7 jam. 21:52 7 jam loh. 21:53 Gila. 21:53 7 jam kayak ee apa namanya? goyang apa 21:56 istilahnya namanya? Terus sampai di 21:59 tempat itu ketinggiannya itu ee lebih 22:03 dari 60 derajat. Iya. I. 22:05 Nah, pas kita naik hampir sampai ke ee 22:09 pemancar, stasiun pemancar itu kita 22:11 melewati 22:12 ee orang beberapa orang yang sedang 22:14 mendorong 22:15 ee apa? Drum. Heeh. 22:17 Drum itu isinya 22:18 ee apa? Untuk solar solar 22:21 ya. Itu petugas TVRI itu. 22:24 Oh, gila. 22:25 dia mendorong sendiri 22:27 untuk membangkit listriknya. Membangkit 22:29 listriknya 22:30 dedikasinya ya. 22:31 Iya. Jadi saya sampai diingatkan, kami 22:34 semua diingatkan, kalau kamu keliru itu 22:36 berarti kamu melukai hati sekian ribu 22:39 orang yang bekerja. 22:41 Oke, Iwan out kita break dulu ya. Masih 22:44 bersama Yan Partawijaya dan Mbak Utari 22:48 Nur Permandi 22:50 Penyar TVRI. 22:52 [Musik] 23:11 Masih di acara tamu kita Radio Rasil di 23:14 mana kami menghadirkan 23:17 Bang Yan Partawijaya dan juga Mbak Utari 23:21 Nur Permadi. Beliau kita kenal dulu 23:23 sebagai pembawa acara dunia dalam berita 23:27 TVRI sekarang. Gimana rasanya hadir di 23:30 radio Mbakari? 23:32 Hadir di sini itu kegembiraan ya. 23:35 Iya kegembiraan 23:36 rasanya kami seperti 23:37 mengenang masa lalu ya. 23:38 Iya mengenang masa lalu ternyata masih 23:41 diapresiasi. 23:42 Kemudian juga ya itu tadi rasanya 23:44 seperti kita tuh ikan masuk ke dalam air 23:48 airnya air yang sejuk dan banyak 23:50 planktonnya lagi ya. 23:52 Ini ada dari dari Ibu di seorang ibu. 23:55 Terima kasih ada acara ini. Saya jadi 23:57 kangen sama almarhum suami saya yang 23:59 jadi bagian dari RCTI, Joko Pramoni, 24:02 reporter olahraga. Makanya kalau kalau 24:05 nunggu acara Pak Yasir Denas. Oh, dari 24:09 Ibu Hajah Dwi 24:11 sekarang usianya 24 tahun. Terima kasih 24:13 Mbak Utari dan Pak Yan sudah hadir di 24:15 Rasil katanya 24:18 mengobati kangen saya. Alhamdulillaham 24:20 untuk almarhum suaminya. 24:24 Ee asalamualaikum Pak Yan. Apa Bapak 24:27 yang aktif di perusahaan Sinarmas mohon 24:29 maaf ee dari Ramli Tangerang. Betul 24:32 100 24:33 100 direktur 24:36 app 24:37 direktur app Sinarmas ya itu tepatnya. 24:40 Terima kasih 24:41 yang ee apa ngurusin pembuatan kertas 24:44 tuh ya. 24:45 Iya kertas. 24:45 Nah kertas-kertas yang kita jumpai ini 24:47 terbuat dari pohon. dari pohon ya. Pohon 24:49 apa? 24:50 Akasia. 24:50 Akasia. 24:51 Akasia dan ealiptes. 24:52 Ekaliptus 24:54 itu berapa tahun bisa tumbuh? Bisa 24:55 dipanen itu 24:56 akasianya itu bisa dipanen 6 tahun. 25:00 He. 25:00 Paling lama. Kemudian kalau yang akasia 25:03 ee apa yang ealiptus itu kita impor. 25:07 Oh impor. 25:08 Nah karena di sini sangat terbatas di 25:09 Indonesianya. 25:11 Nah kalau kayak di Saudi itu kertasnya 25:13 dari berti impor ya. 25:14 Betul. Betul. Jadi kalau 25:17 negara-negara yang 25:18 baru pulang dari haji biasanya kan 25:20 dikasih 25:21 ee Al-Qur'an. 25:22 He. 25:23 Kertasnya itu dari Indonesia, 25:25 khutusnya dari Sinarmas. We 25:27 karena di Indah Kiat, salah satu pabrik 25:30 ee Sinarmas di Indah Kiat Tangerang 25:32 itu yang memproduksi kertas Al-Qur'an. 25:36 Oh, 25:36 khusus kertas Alquran. 25:37 Khusus untuk kertas Alquran. 25:38 Kertasnya bagus banget loh. 25:39 Iya. 25:40 Heeh. 25:40 Karena itu bisa bertahan sampai 100 25:43 tahunan. 25:44 Oh. Pohon-pohon apa aja yang bisa dibuat 25:46 kertas? 25:47 Sebetulnya pada prinsipnya semua pohon 25:49 bisa dipakai karena itu kan dicacah. 25:51 Jadi enggak perlu kayu gelondongan, 25:53 enggak perlu gitu loh. 25:55 Itu yang kayu-kayu kecil karena dicacah 25:57 gitu. Tapi yang terbaik adalah akasia 25:59 dan di kalim. 26:00 Oh, akasia ya. 26:01 Heeh. 26:02 Ee pembibitannya jalan terus ya? 26:04 Jalan terus. Kita punya hutan tanaman 26:06 industri kan HTI. Jadi kita enggak 26:08 ngebuka lahan lagi. Kita menggunakan 26:11 lahan-lahan yang sudah ada saja. Heeh. 26:13 Namanya hutan tanaman industri. 26:15 Berapa diameternya? 26:17 Ee diameternya berapa ya? Sekitar 26:20 seginilah. 26:21 Oh, enggak enggak besar-besar amat ya. 26:22 Besar-besar sepiring makan ya? 26:24 Iya. 26:24 H. 26:26 Betul. Betul. 26:26 Masyaallah. 26:27 Itu hanya batangnya. Kalau daun-daun 26:29 tidak bisa dibikin kertas ya. 26:31 Engak daun-daunnya enggak. Kita ambil 26:32 batangnya aja dicaca kemudian dimasak 26:36 gitu kan. 26:37 Dimasak keluar ee getahnya. H 26:39 getahnya itu kita akan pakai lagi 26:41 sebagai ee bahan bakar gitu gitu baru 26:46 kita jadikan bubur. 26:47 Bubur kita 26:49 ee packing-packing ada buburnya bisa 26:52 jadi kering gitu kan. 26:54 Jadi kemudian ee bubur yang basah. Kalau 26:56 yang bubur basah itu langsung 26:58 secara terintegrasi menjadi kertas. 27:01 Jadi dari bubur dari kayu gitu kemudian 27:05 dicacah kemudian jadi bubur kertas dan 27:07 akhirnya jadi kertas. Jadi kertas gitu. 27:09 Oke. 27:10 Tapi ada yang kita impor dalam bentuk ee 27:13 PP dalam bubuk ee bubur kertas ini gitu 27:16 loh. 27:16 Nah, bubur kertas inilah yang kita ee 27:19 apa itu paket-paketkan 27:22 dijual. 27:23 Masyaallah. Dari pembaca berita bisa ke 27:26 ngurusin kertas ya. Ini dengan adanya 27:29 paperless ini berpengaruh enggak 27:31 berkurang jadi produksinya 27:32 pertanyaannya sama. 27:33 Betul. Berpengaruh Mas Kris. berpengaruh 27:36 tap 27:36 kan orang juga sudah jarang, majalah 27:38 sudah jarang. 27:39 Tapi kita harus ee berkreativitas 27:42 berkreativitas 27:43 isu kan masih digunakan ya. 27:44 Iya. tisu yang ee terus berkembang 27:47 karena tisu enggak mungkin ee apa 27:50 dikurangi gitu kan karena ada tisu buat 27:53 masak, ada tisu buat ee apa itu ee 27:56 bersih-bersih yang lain segala macam 27:58 tisu kita siapkan gitu loh. Dan juga 28:01 kreativitas Mas Kris dalam pengertian 28:04 misalnya 28:05 ee 28:07 HP itu kan sekarang produksinya 28:09 gila-gilaan, 28:11 tapi kan perlu perlu karton boksnya, 28:13 pembungkusnya. Masyaallah. 28:15 Nah, pembukusnya inilah yang kita 28:16 siapkan gitu loh. H. 28:19 Jadi 28:19 ini yang kita garap terus gitu loh. 28:21 Apalagi yang perlu kita garap gitu loh. 28:24 Ee sepatu. Sepatu itu kan ada 28:26 pembungkusnya yang kertas tipis yang 28:28 halus 28:29 kita siapkan. 28:31 Masyaallah. Kalau perlu sana 28:33 ada ada bahan dari 28:35 serat serat itunya gitu kali ya. 28:37 Iya. Dan sekarang kan banyak yang apa ee 28:42 apa itu kita take away take away take 28:44 away. Iya. 28:44 Itu kan harusnya bungkusnya itu 28:46 betul-betul untuk makanan. 28:49 Enggak bisa sembarangan gitu loh. 28:51 Nah, food grade. 28:52 Nah, yang food grade itulah kita juga 28:54 ciptakan. 28:55 Keren. 28:55 Jadi istilahnya apapun ee apa isinya 28:59 bungkusnya adalah 29:01 app. 29:01 Appar 29:04 hidup app. Oke. 29:06 Kurang lebih seperti itulah. 29:09 Seru amat omongannya katanya. Minta 29:11 nomor teleponnya dong ya. Entar saya 29:12 saya bacakan lagi nomor telepon. Gimana 29:14 mau cerita apa Mbakari? 29:16 Saya baru membayangkan Kang Yan ini 29:18 waktu kecilnya waktu remaja itu pantes 29:21 sampai sekarang masih tetap imut ya. 29:23 Soalnya dari remaja itu terbiasa 29:24 menghadapi hal-hal yang di luar dugaan. 29:28 Siaran tapi beliau ada di atas apa? Di 29:30 langit-langit kan. 29:33 Pancar mati. 29:35 Mungkin Mas juga enggak tahu loh pada 29:37 waktu ee sekarang ini kan pakai pakai 29:40 telepromtur ya. 29:42 Itu hebat sekali. 29:44 Kita seakan-akan hafal 29:45 berita itu. 29:47 Nah, awalnya itu kan di TVRI 29:49 bagaimana kita membuat teleprompter 29:52 secara manual Mas K. 29:53 Oh, dipegangin sama gue 29:57 tulisan gede-gede gitu apa gimana? 29:58 Iya. Jadi ketik pakai e mesin TIK 3M. 30:00 Heeh. Terus 30:01 iya kan? Tapi ambil yang besar-besar 30:03 huruf yang terbesar 30:04 itu 30:04 huruf kapital semua. 30:05 Huruf kapital semua. 30:07 Huruf kapital semua. Kemudian disambung 30:09 pakai solotip 30:11 kemudian baru diputar gitu loh. 30:12 Iami 30:14 kita yang baca 30:16 saya alami Mas Kris gitu. 30:18 bisa dibayangkan Mas Kris salah nyambung 30:24 waktu itu Pak Harto ada di Amerika gitu 30:27 nyambung ke dari kebun ke kebon gitu 30:32 hancur lebur jadi kita balik lagi ke 30:34 naskah balik lagi ke naskah gitu kalau 30:36 udah aneh nih salah nyambung ni gitu kan 30:39 langsung lari ke naskah 30:41 itu Mas Kris 30:42 kita dulu enggak usah masuk TV masuk 30:44 pekarangan TV aja udah bangga banget 30:45 waktu itu ya masuk pekarangan tangannya 30:47 aja. Waduh nih orang TV ini. Ya, 30:50 itu yang diceritakan Kang Yan yang apa 30:53 ee disambung tadi saya masih ngalami dan 30:56 sempat 30:57 satu ruangan memeriksa kan itu ruang 31:00 redaksi gede banget. 31:02 Jadi kita mau persiapan untuk berita jam 31:05 5. Tapi 31:06 ee Mbak berita jam .00 Mbak Anita Rahman 31:08 atau Tuti Aditama sudah ada di situ. 31:11 Wih, rasanya 31:12 kayak kita tuh udah dekat-dekat sama 31:14 Dewait. 31:16 Ini dari Singapura lagi dengar nih. Kami 31:18 dari Singapura lagi dengar nih. Silakan 31:20 disapa dong. 31:21 Selamat siang. Apa kabar? 31:23 Ijana binti Madio. 31:24 Bu Nurjana terima kasih sudah 31:26 mendengarkan dari Singapura ya. 31:29 Dari Singapura. Salam. 31:31 Ibu Aisya juga dari Malaysia sedang 31:33 mendengar. Oke. 31:34 Apa kabar Mak Cik? 31:35 Mak C 31:38 sering ke Malaysia. 31:40 Heeh. Perbatasannya aja. 31:41 Perbatasannya. 31:42 Saya banyak bergerak di perbatasan. 31:45 Heeh. Mudah-mudahan nanti bisa kerja 31:46 sama dengan app nih, 31:48 anak-anak di perbatasan. 31:50 Oke. 31:52 Ee oh, minta nomor telepon. Oke. Oke. 31:54 Tadi saya sudah bacakan ini nomor 31:56 teleponnya. Silakan disiapkan PPEN sama 31:58 kertas. Kami akan bacakan nomor HP 32:00 narasumber kita kita yaitu Bapak 32:03 Yan Partawijaya 32:05 dan Mbak Utari Nur Permadi. Dari Utari 32:09 Utari Nur Permadi nomornya 0816. 32:13 Iya. 32:14 Kemudian 84. He. 32:17 Kemudian 82 32:19 30. 0816 32:22 84 32:24 82 30. Kemudian Bapak Yan nomornya 32:29 mana tadi itu ya? 32:31 088 32:32 08 32:34 kemudian 11 32:36 28 32:36 28 32:37 28 32:38 28 lagi 11 08 11 28 32:47 Ini ada minta baca berita lagi dong 32:51 waduh bisa 32:52 baca berita beneran ya 32:53 baca berita benar ada enggak ada ya ada 32:55 naskahnya 32:57 naskahnya harus kita cari dulu nih Carur 33:01 dulu deh berita-berita apa India yang 33:03 itu atau yang pergi haji itu yang 33:06 turun mau apa mau turun dari pesawat 33:09 karena belum kasih makan-makan ayam 33:11 ayam i 33:15 oke 33:17 silakan yang ee Oh nih ada yang menjawab 33:20 ee ee acara-acara itu eh Little House 33:24 Legendary. 33:27 Acara-acara legendaris ya. Ee ada acara 33:30 cerdas cermat cepat tepat kamera riul 33:34 album minggu kita. Wah. 33:37 Hm. Wah, banyak banget ya. Masyaallah 33:41 pada ingat ya. 33:42 Heeh. 33:45 Acara Candra Kirana. 33:47 Candra Kirana. 33:48 Candra Kirana di Iskandar tuh ya. 33:50 Iskandar. Heeh. Ini sebetulnya juga 33:53 momen baik kalau dari Rasil didengar 33:55 oleh TVRI ya, bahwa banyak pendengar 33:57 yang rindu dengan program-program itu. 34:00 Betul. Betul. 34:01 Kalau di ee barat kan di luar negeri 34:04 misalnya ada ditayangkan ee lagu-lagu 34:06 Andy Williams dengan program-program 34:09 lama. Ini mungkin juga 34:11 ee masyarakat Indonesia juga pengin 34:13 melihat di TV ada pojok ee sekilas 34:15 kenangan mungkin gitu ya. Jadi ada 34:17 program-program lama menarik sekali. 34:20 Kalau Bu Kantinn siapa? TPRT yang di 34:22 atas tuh. 34:23 Kalau di atas yang di sebelah kiri ya, 34:26 di atas Taman Buaya ya. 34:27 Masih enggak ya? 34:28 Saya tuh masih tapi saya lupa namanya. 34:30 Kalau kita malah hafalnya yang di bawah 34:33 karena pemberitaan kan. 34:34 Iya. 34:35 Yang legendes itu namanya Mbok Iro. Oh. 34:38 Sampai akhir hayat tuh benar-benar 34:41 anu apa seperti ibu ya buat kita-kita 34:44 semua. 34:44 Iya. Terus siapa yang yang suka anu 34:47 teleram bukan telerama apa dirigen jadi 34:49 dirigen 34:50 he 34:51 jadi dia masuk TVRI enggak enggak enggak 34:53 diterima begitu. Oh enggak terima di 34:54 balik lagi begitu lihat punggungnya. 34:57 Oh iya benar benar. Jadi dia karena 34:59 sering dioot bagian punggungnya 35:02 baru kenara 35:03 baru hafal. 35:04 Baru haal 35:05 ternyata dirigennya ya. Kendukter 35:07 dirigen kondukternya. 35:10 Kok ee apa rahasianya Mbak Utari? Kok 35:13 suaranya masih enak? Masih merdu apa 35:15 rahasianya, Pak? Ayan juga suaranya 35:16 masih enak tentunya. Oh, rahasianya 35:20 happy-happy terus. 35:21 Happy terus terus 35:22 happy-happy terus ketemu orang-orang 35:24 baik seperti Mas Krishna. 35:27 Pak pernah ketemu enggak sama sama 35:30 penggemar gitu waktu di ini anak kenal 35:32 di pergi ke mana gitu? 35:34 Ya sering sih cuman ibu-ibu semua. 35:39 Ngarinnya gimana? 35:41 Ngarapinnya yang masih muda belia kali. 35:43 Kalau yang sudah remaja enggak kenal 35:45 yang namanya Yan Pertawijaya itu siapa. 35:47 Kalauari pernah juga 35:49 kalau itu ya memang lebih banyak ibu-ibu 35:52 tapi dalam kasus saya plus bapak-bapak. 35:55 He. 35:55 Oh. Sama ini ee kalau masih anak muda 35:58 itu ee menyampaikannya gini sebenarnya 36:01 bukan muda-muda banget tapi ee belum 36:04 menikah gitu ya. Menyampaikannya ee ini 36:06 saya melihat Ibu tuh waktu saya masih 36:09 SMP gitu. Padahal waktu itu saya 36:11 memberikan materi ee apa training ya 36:14 untuk ee perusahaannya. Jadi bayangan 36:16 saya saya kok merasa kayak tua banget 36:18 ya. Beliau sudah jadi pejabat di situ 36:22 menyampaikan saya nonton TVRI Mbak 36:24 Butari waktu masih SMP. 36:28 Hm. Oke. 36:29 Iya. Iya. 36:30 Dari Abu Aska. Saya dulu pernah tiga 36:33 kali ngisi acara di rapatkan SHF di 36:36 TVRI. Saya punya tugas baca Quran. 36:39 Apakah acara tersebut masih ada? Terima 36:41 kasih. 36:41 He, 36:42 masih ada enggak? 36:42 Mungkin sudah berganti tapi acara agama 36:44 masih banyak. He. 36:46 Iya, karena itu acara yang sangat 36:48 diminati. 36:49 Heeh. 36:50 He, 36:51 betul. 36:53 Oke. Ee, Mbak Utari tadi mengadakan 36:56 pelatihan-pelatihan apa? Boleh enggak 36:57 saya ikut pelatihan apa sih? 36:59 Oh, boleh. ee kita biasanya antara 37:01 komunikasi 37:03 atau ee pengembangan kepribadian, 37:05 branding ya, self branding 37:08 atau kepemimpinan 37:09 itu bisa diundang di perusahaan gitu 37:11 dengan senang hati bisa. Kami baru saja, 37:14 saya baru saja dari Jogja 37:16 di apa dengan ibu-ibu dan ee apa dari 37:20 dalam negeri ya, Departemen Dalam Negeri 37:22 di sana 37:23 juga beberapa kali kami ke daerah-daerah 37:26 termasuk Papua 37:27 di Papua Barat. Jadi 37:29 ee ke mana saja istilahnya kami itu siap 37:33 membantu. 37:34 Heeh. 37:35 Dengan senang hati. 37:36 Oke. Oke. Silakan saja nomor telepon 37:37 Mbak ya di 0816 kemudian 84 8230. 37:44 Kalau teleponnya Pak Yan 088 08811 37:50 28 37:50 28 37:52 11. Nah, K Parta Wijaya. 37:55 Iya. Oke, kita sayang sekali sudah 37:58 dibatas sela waktu karena sebentar lagi 38:00 masuk waktu zuhur. 38:01 Terima kasih atas kehadirannya di 38:03 kasih. 38:05 Ada ter yang mau disampaikan Mbak Utari 38:06 atau Pak Yan dulu? 38:08 Silakan Ladies. 38:10 Ee jadi kalau buat kami terima kasih 38:13 sekali Radio Silaturahmi ini betul-betul 38:17 ee satu forum yang baik. Mudah-mudahan 38:19 semua pendengar juga bisa terus 38:22 bersilaturahmi 38:23 juga ee melaksanakan hal-hal yang baik 38:27 ee bersama dengan orang-orang di 38:29 sekitarnya. sukses dan semangat selalu. 38:32 Oke, kalau Kang Yan 38:35 eh saya selalu mengucapkan terima kasih 38:38 banyak Mas Kris atas kesempatan ini dan 38:41 kepada para pemirsa tentunya kita 38:44 berharap pertemuan ini ee akan terus 38:47 berlanjut silaturahmi ini 38:49 dan kita saling mendoakan 38:51 semoga kita selalu diberikan keberkahan 38:54 amin 38:54 dari Allah subhanahu wa taala. Amin. 38:56 Amin ya rabbal alamin. 38:57 Amin. 38:57 Baik, terima kasih Pak Yan Fartawijaya. 39:00 Senang sekali kami berjumpa dengan 39:02 ini nih penyer-penyer topek Dunia dalam 39:04 berita nih. Ya, Mbak Utari terima kasih. 39:07 Baik, saya Muhammad Krishna. Oh, di sini 39:10 kameranya ya. Saya Muhammad Krishna 39:13 juga Fajar Hidayah dan Anis Mualim. 39:17 Mohon pamit. Wabillahi taufik 39:19 walhidayah. Wasalamualaikum 39:20 warahmatullahi wabarakatuh. 39:21 Waalaikumsalam. 39:22 Waalaikumsalam. 39:25 Let's say thank you