Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Ashadu alla
- ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabiyana muhammadin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Qallahu
- taala fil quranil karim.
- Aubillahiminasyaitanirjim.
- Innallaha wa malaikatahu yushalluna alan
- nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
- wasallimu taslima. Sadaqallahulzim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Masih
- dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Cibubur, Bekasi,
- radio silaturahim dan Rasil TV untuk
- Islam yang satu. Ikhwan akhwat yang
- dimuliakan Allah subhanahu wa taala,
- bagaimana kabar Anda di Jumat sore ini?
- Semoga selalu dalam keadaan sehat.
- Walifiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridwanul Haq ditemani oleh Neza dan juga
- Yusuf Subangkit dapat kembali menemani
- ikhwan akhwat dalam program tausiah sore
- edisi Jumat 7 Zulkaah 1447
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 24 April
- 2026 bersama guru kita almukaram Ustaz
- Ahmad Shoh. Alhamdulillah beliau sudah
- hadir bersama kita. Kita sapa guru kita
- terlebih dahulu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabarnya baik, Ustaz?
- Alhamdulillah atas doa dari Ikhwan dan
- Akhwat semuanya saya lebih baik.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Semakin hari semakin
- baik, Ustaz.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Semoga kesehatan juga
- dirasakan oleh ikhwan akhwat di mana pun
- Anda berada. Saya doakan semoga selalu
- dalam keadaan [berdehem] sehat walafiat.
- Semoga kajian tausiah sore ini dapat
- menemani ikhwan akhwat di segala
- aktivitas
- di Jumat sore, di ujung-ujung hari Jumat
- yang berkah, yang mubarok. Insyaallah
- sambil beribadah kepada Allah, sambil
- berzikir, sambil menuntut ilmu, sambil
- melakukan amal-amal saleh yang lain.
- Dan insyaallah
- pada Jumat kali ini Ustaz Ahmad Saleh
- akan membahas tentang
- haram melaknat seseorang atau binatang.
- Jumat yang lalu Ahmad SH sudah
- menjelaskan tentang haram menjadi saksi
- palsu.
- Nah, ini adalah kajian dari kitab Syarah
- Riyadus Shihin karya Syekh Deb Albugo
- dan kawan-kawan.
- Baik, Ikhwan Awat. Belum Ustaz Ahmad
- Saleh memberikan ilmu kepada kita, bagi
- ikhwan akhwat yang ingin berpartisipasi
- mengirimkan pertanyaan di 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan Ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Baik ikhwan. Mari kita dengar-dengar
- dan simak ilmu yang akan disampaikan
- oleh Ustaz Ahmad Shoh tentang haram
- melaknat seseorang atau binatang.
- Tafadul Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiron thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna
- waard.
- Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah lahul mulku walahul hamdu
- wahua ala kulliin qodir. Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala nabiyana
- Muhammadin wa ala alihi wasahbihi
- ajmain. Amma ba'd. Ikhwan dan akhwat
- yang sama-sama mengharapkan rida Allah
- subhanahu wa taala. Alhamdulillah pada
- kesempatan ini kita dipertemukan kembali
- lewat Dumai ya, lewat dunia maya untuk
- melanjutkan kajian kita kajian kitab
- Syarhu Riyadus Shihin.
- Kemarin kita sudah membahas tentang
- larangan apa namanya bersumpah palsu ee
- haram menjadi saksi palsu. Sekarang kita
- akan melanjutkan kajian kita kepada
- haram melaknat orang tertentu atau
- binatang. Tiib. Kita ee lanjutkan saja.
- An Abi Zaid Tsabit Ibnu Dhaq al-Anshari
- radhiallahu anhu ee yang mana ia
- termasuk sahabat-sahaba yang mengikuti
- Baiatu Ridwan.
- Berkata
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- bersabda, "Man khalafa ala yaminin
- bimillati
- islami kadiban
- mutaammidan
- fahua kamaq
- wamanqala nafsahu bisaiin uza bihi
- yaumalqiamati
- waisain
- famliku
- yang artinya kurang lebih manfaah
- ee ala yamin manfa ala yamin ee barang
- siapa bersumpah
- bimillati ghairil islam dengan agama
- selain Islam kadiban mutaadziban dengan
- berdusta dan sungguh-sungguh
- sengaja gitu
- mutaidan fahua kamaqal maka dia seperti
- yang ia sumpahkan itu sebagaimana ia
- sumpahkan
- waman qatala nafsuhu nafsahu bisyaaiin
- dan barang siapa yang membunuh dirinya
- dengan sesuatu uzziba bihi yaumalqiamah
- uzb maka akan disiksa bihi dengannya
- yaumalqiamati pada hari kiamatulin
- Eh, seseorang tidak berkewajiban untuk
- menunaikan nazar yang tidak
- disanggupinya
- dan melaknat orang mukmin itu seperti
- membunuhnya.
- rawahu Bukhari wa Muslim yakni
- muttafaqun alaih.
- Ee menarik sekali tentang ee apa namanya
- statement dari Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam ini. Iya. Jadi melaknat
- ya atau apa namanya
- ee ya tadi bersumpah dengan selain ee
- agama Allah yaitu selain agama Islam
- dengan kadiban mutaidan. Ini
- sesungguhnya aplikasi dari tujuan apa?
- Tujuan puasa.
- Nah, kemarin kita baru selesai puasa.
- Kemudian nanti tujuan haji.
- Tujuan haji itu apa? Mengendalikan
- lisan. Karena alhajjul mabruru laisa
- lahu jazaun illal jannah.
- Qila. Nabi ditanya gitu ya. Jadi haji
- mabrur itu tidak ada balasannya kecuali
- surga. Nabi ditanya wul haji ya
- Rasulullah apa itu haji mabrur
- thyibul kalam ah wa itamut thaam
- thayibul kalam ee thayib baik kalam
- ucapan
- lisan
- lisan nah maka pendidikan di Ramadan di
- sahur Ramadan dan pendidikan di haji ini
- kompetensi haji ini haji mabrur itu ini
- kompetensinya nya. Jadi kalau ada yang
- sudah menenaikan ibadah haji tapi masih
- suka melaknat,
- h
- masih suka berdusta, sumpah palsu, maka
- diduga keras
- haji.
- Hajinya hanya jalan-jalan, hanya wisata
- gitu loh.
- Dari mana antum? Dari Makkah habis
- ngapain? Habis jalan-jalan. Oh, dicatat
- tuh jalan-jalannya. Jadi bukan lagi
- kategori taabbudan, bukan kategorinya
- ibadah. He.
- Nah, jadi kan ee ini masuk kaidah betapa
- banyak orang yang dicatat jalan-jalan
- tapi tidak dicatat haji dan umrah tuh.
- Jadi catat jalan-jalan aja pelesiran
- wisata
- dan tidak dicatat ibadah kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Nah, pulang haji
- kompetensinya ini it'amut taam apa nama
- thayibul kalam dan it'amut thaam.
- Thyibul kalam itu kesalehan pribadi. Wa
- itamutam itu kesalehan sosial. Itu
- pendidikan syariat tuh itu untuk
- membentuk apa? Kesalehan pribadi dan
- kesalehan sosial. Kalau tidak saleh
- pribadi, tidak saleh sosial, ibadah
- apapun diduga keras hanya kalau tidak
- menghasilkan itu, maka ibadah apapun
- diduga keras hanya main-main
- tuh. Maka bisa jadi. Nah, bisa jadi yang
- tidak naik haji lebih mulia dibanding
- orang yang pergi haji. Lebih mulia yang
- tidak
- bisa lebih yang tidak tidak naik haji
- gitu loh. Orang yang tidak puasa bisa
- jadi lebih mulia daripada orang yang
- berpuasa.
- Itu bisa terjadi. Tetapi jika puasanya
- benar maka orang yang berpuasa lebih
- mulia dibanding yang tidak puasa.
- Jika manasik hajinya dihayati, didalami,
- makanya ada persiapan memahami manasik
- hajinya, persiapan ilmunya supaya
- hajinya berbekas dalam kehidupan.
- Nah, itu insyaallah hajinya lebih mulia
- dibanding yang tidak haji.
- Orang tidur, orang tidur lebih mulia
- dibanding orang yang salat tahajud
- gitu. Bisa begitu loh dia kok ngorok. Ya
- Allah dia sepanjang malam dia ngorok.
- Saya sepanjang malam tahajud.
- Iya kamu kan tahajudnya cuma olahraga
- tidak ada bekas yang didapat dari salat
- tahajudnya. Tapi jika salat tahajudnya
- benar berbekas dalam keimanan maka itu
- lebih baik dibanding orang yang tidak
- tahajud.
- Tu jadi ini nih mulai nih jadi mulai
- memahaminya ee apa namanya ee maqasid
- lebih kepada penjabarannya sekarang
- penjebaran kompetensi.
- Segala syariat mesti ada kompetensinya.
- Semua syariat yang disyariatkan oleh
- Allah itu ada tujuannya. Mustahil ada
- syariat tapi tidak punya tujuan.
- Tujuannya apa? membentuk ketakwaan,
- membentuk menjadikan si pelakunya lebih
- dekat kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Itu semua syariat begitu.
- Semua syariat. Maka oleh sebab itu
- hati-hati gidul syariat loh saya oh saya
- mah ahli saum, saya ahli tahajud
- tetapi tidak pengaruh kepada kesalehan.
- Sekali lagi diduga keras ibadahnya hanya
- main-main.
- Maka lh masyaallah ya Allah padahal
- kita beribadah
- padahal tidak berpengaruh.
- Ya Allah bimbinglah hamba
- agar hamba menjadi semakin dekat kepada
- Engkau ya Allah.
- Amin.
- Hm. Banyak aku melakukan ini, tapi saya
- tidak tahu di sisi Engkau seperti apa.
- Tapi ya Allah, terimalah ibadah ibadah
- kami. Kalau ada cacatnya ibadah kami,
- tutup sama Engkau.
- Kalau ada kekurangannya, sempurnakan ya
- Allah. Nah, jadi dia tidak ngaku, tidak
- ngaku dia sudah sempurna imannya,
- tidak ngaku ibadahnya sudah benar, tapi
- dia berharap agar semua ibadahnya
- diterima oleh Allah Subhanahu wa taala.
- Ah, kalau kita mengandalkan
- ibadah-ibadah kita mah wallahuam. Tapi
- tetap kita punya harapan diterima oleh
- Allah dengan segala permaafannya. Apa
- maksud segala permaafannya?
- alah ini mah harus dibuang ke tempat apa
- ibadah kayak gini mah kalau di hadis
- digambarkan itu seperti ee apa namanya
- amalan-amalan kita itu seperti baju
- kotor luhk
- kemudian dilempar ke muka kita seperti
- itu. daripada nanti di yaumil qiamah
- diperlakukan amalan kita seperti itu,
- maka kenapa kita berusaha mengamalkan
- yang sunah-sunah setelah yang wajib itu
- dalam rangka ingin supaya diterima oleh
- Allah kekurangannya agar ditambal. Maka
- sunah-sunah itu tadi agar sebagai
- penambal kekurangan-kekurangan
- ibadah ki kita
- gitu loh ya. Bukan berarti kemudian
- orang yang banyak ibadah di dunia
- tiba-tiba kemudian orang yang paling
- mulia di sisi Allah. Bisa jadi bisa
- paling mulia di sisi Allah. Tapi
- hakikatnya sekali lagi mana ada orang
- yang tahu bahwa ibadahnya diterima.
- Hanya yakin berharap ya Allah
- terimalah. Gitu kan. Ah masyaallah. Eh
- kan ada doa ya Allahumma taqobbal
- Allahum ya Allah taqobbal minna sujudana
- rukuana wa sujudana wa ibadatana
- wasiamana wa hajana dan seterusnya gitu.
- Nah, itu maksudnya itu kenapa mesti
- berdoa lagi? Kalau yakin diterima mah
- udah enggak usah. Tapi karena tadi ya
- Allah terimalah.
- Karena peluangnya belum tahu
- probability-nya tidak tahu diterima atau
- tidaknya, maka tetap dekat kepada Allah.
- Tawadu kepada Allah. Masyaallah. Tidak
- merasa paling taat, tidak merasa paling
- suci. Sama melihat orang ahli maksiat
- juga. Hmm. dia hari ini maksiat.
- Semoga Allah memberikan hidayah,
- memberikannya tobat kepada dia gitu tuh.
- Hati-hati tuh karena nanti ya Allah hari
- ini dia enggak maksiat, besok atau lusa,
- siapa tahu saya yang maksiat. Begitu
- hati-hatinya. Makanya maka lihat orang
- maksiat itu doakan aja
- tuh doakan. Ya Allah, berilah dia tobat,
- berilah dia kesadaran, hidayah agar dia
- bisa menjadi hamba-Mu yang lebih baik.
- Nah, doa itu ditujukan kepada dia
- hakikatnya tertuju kepada diri kita.
- Kalau kita kemudian membenci, hmm
- udah tua masih aja nyekek botol. Ah, itu
- hati-hati itu.
- Memang kenapa kalau nyekek botol katanya
- begitu? [tertawa]
- Memang kenapa? Eh, akhi, kenapa emang
- saya kalau nyengkek botol? Apa
- masalahnya buat Anda? Iya, tapi kan itu
- dibenci oleh Allah. Masa nyengkek botol
- dibenci sama Allah. Yang dibenci sama
- Allah meminumnya kayak [tertawa]
- dan orang pintter rupanya orang ngerti.
- Ini kalau sekedar nyekek botol mah masa
- nyekek botol. Nah, kan banyak sekali
- kita melihat potret-potret dalam
- tertentu. Dia nyekek botol padahal dia
- beli botol itu untuk dibuang di WC.
- dia beli itu kemudian dibuang dia WC,
- dibuang dia WC. Hanya orang menduga dia
- peminum.
- Oke, itu ada kisahnya. Ada kisahnya.
- Kemudian setelah meninggal dunia,
- istrinya bersaksi, "Demi Allah, suami
- saya ini bukan peminum. Adapun dia tiap
- malam dia beli minuman bukan untuk
- diminum, untuk dibuang di toilet kali
- gitu." Masyaallah. Tuh, itu rahasia.
- Makanya oleh sebethat
- nasihati akhi ngapain antum beli minuman
- keras setiap malam. Oh. Oh gitu.
- Barakallahu fikum gitu. Kalau tahu
- enggak masalah ya. Oke. Baik.
- Jadi ee siapa yang bersumpah dengan
- agama selain Islam sedang ia sengaja
- berdusta maka ia seperti apa yang
- diucapkannya.
- Ah, kemudian di sini dipahami dalam
- penjelasannya
- ee apa kata-kata dalam hadis itu ya.
- Baiatur Ridwan ee terjadi di Hudzaibiyah
- pada tahun 6 Hijriah. Ya, mengenai baiat
- ini ee di dalam surah al-Fat direkam ya.
- Oke. Baik. Manfaaminin
- bimillir Islam. Maksudnya siapa yang
- bersumpah dengan agama selain Islam
- seperti mengatakan begini, "Demi eh
- Allah telah merda ee demi Allah kalau
- aku melakukannya maka aku Yahudi atau
- Nasrani." Ya, kalau saya berdusta
- berarti aku Yahudi dan Nasrani. Nah,
- jangan ya kalau saya berdusta semoga
- Allah memaafkan. Begitu aja lebih aman
- gitu loh ya. Kalau ee apa saya berdusta
- semoga Allah memaafkan gitu ya. Ee
- mutiara-mutiara dalam hadis ini pertama
- peringatan tidak bersumpah dengan selain
- Allah. Keharaman bunuh diri dan bahwa
- orang yang bunuh diri itu akan diazab
- pada hari kiamat dengan cara ia membunuh
- dirinya secara berulang-ulang.
- Nah, hal itu karena balasan itu setimpal
- dengan perbuatan.
- Kemudian seseorang tidak wajib memenuhi
- nazar terhadap sesuatu yang tidak
- disanggupinya.
- Jadi memang ee apa namanya? batal demi
- hukum gitu ya. Kalau karena ee kaidah
- dalam Quran, la yukallifulahu nafsan
- illa wus'aha. Allah tidak akan membebani
- seseorang ee kecuali dengan apa? Sesuai
- apa? Kecuali sesuai dengan
- kesanggupannya. Kalau seseorang dia
- bernazar misalnya begini, jika anak saya
- lulus, saya akan beli pesawat terbang.
- Masyaallah.
- Padahal dia fakir miskin gitu loh. Jadi
- ketika anaknya lulus, aduh saya. Nah,
- itu mah babendiri. Ya sudah. Makanya du
- nazar-nazar itu disatusi kan nazar itu
- wajib.
- Iya.
- Tapi sesungguhnya nazar itu adalah
- perbuatan orang-orang bakhil.
- Orang bakhil. Jadi ngapain misalnya duh
- saya nanti ya kalau anak saya lulus saya
- akan bikin kebuli
- satu kampung saya bagi. Eh Mas ngapain
- nunggu anaknya lulus dulu? Wah, sekarang
- aja kalau mau gitu loh. Ngapain gitu,
- Bu? Gitu loh ya. Karena itu kebiasaan
- orang bakhil.
- Karena bakhil maka akhirnya nazarnya
- begitu. Kalau ini saya akan sedekah apa
- R10 juta untuk pembangunan masjid.
- Terus kalau tidak lulus gimana?
- [tertawa]
- Berarti enggak berarti enggak enggak
- nyumba, enggak sedekah gitu loh. Nah,
- maka kemudian nazar itu adalah kebiasaan
- orang-orang bakhil meskipun boleh
- gitu ya. Masyaallah ya Allah ya rabbal.
- Menarik sekali
- penjelasan tentang besarnya laknat
- terhadap seorang muslim dan dosa yang
- ditimbulkannya sama seperti dosa
- membunuh muslim tersebut.
- Ya, kalau melaknatnya maka
- melaknat laknatlah dengan baik. Apa
- maksudnya laknat dengan baik?
- Dengan baik
- gitu misalnya,
- awas kamu mudah-mudahan kamu masuk
- surga.
- Ya, dituduhin. Awas, mudah-mudahan kamu
- masuk ke surga. Mudah-mudahan kamu
- diampuni. Nadanya nada mengecam tapi
- kontennya tidak menyimpang dari syariat.
- Itu yang dimaksud lebih baik begitu gitu
- ya. Maka oleh sebab itu kan kita tidak
- boleh membandingkan keburukan.
- Tidak boleh ini misalnya dasar kamu ini
- seperti si A. Nah, tidak harus disebut
- seperti sy
- gitu ya. Misalnya dia apa? Pemabok.
- Terkenal di kampung itu si A tukang
- mabok.
- Maka kita katakan kamu seperti pemabuk.
- Nah, gitu aja. Tidak harus disebut
- dinilisbatkan kepada orang.
- Tidak. Mudah-mudahan kamu masuk surga,
- mudah-mudahan kamu saleh selamanya. Jadi
- kontennya itu senantiasa sejalan dengan
- syariat.
- Ah, tapi itu susah kayak Iya, justru
- susah makanya dibiasakan gitu loh. Jadi
- ketika melihat anak kita nakal ya aduh
- ya Allah nakal-nakal amat ini jangan.
- Hm. Masyaallah anak mama, anak pipih.
- anak mami mudah-mudahan tobat kepada
- oleh Allah diberi hidayah
- tuh jadi doa karena umpatan laknat itu
- juga seperti doa tapi doa yang bu yang
- buruk
- maka diganti orang cerdas itu ganti
- kiai itu anaknya tuh iku main apa main
- jud astagfirullah jadi ada anekdot
- astagfirullahalazim
- tapi dia menang alam Alhamdulillah.
- [tertawa]
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Nah. Nah, maka jadi
- pembahasan di fikih tuh.
- Jadi pembahasan di fikih
- kemas dipikir di gini. Menang judi itu
- nikmat faazab tuh kan gitu. Nah, okelah
- nanti di kajian berikutnya. Oke. Tapi
- yang jelas maka kita senantiasa
- thayyibul kalam perkataannya baik.
- Mengumpat, melaknat itu perkataan yang
- buruk. Berarti puasa kita enggak enggak
- sukses, enggak lulus. Haji kita tidak
- berfaedah kalau masih melaknat, masih
- sumpah palsu,
- berkata dusta, gitu. Gitu ya. Oke. Baik,
- tayib. Ee kita lanjutkan kepada hadis
- kedua. an Abi Hurairat radhiallahu anhu
- anna Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam q la yambagiiddiqin
- ayakuna lan
- laanan rahu muslim tidak sepantasnya
- bagi orang yang jujur itu suka melaknat
- jadi orang yang siddiq
- diterjemahkannya jujur siddiq itu tidak
- layak melaknat
- tidak layak melak
- Jadi kalau kita masih suka melaknat gitu
- ya, masih suka melaknat, maka diduga
- keras kita ini bukan orang siddiq, bukan
- bukan orang jujur.
- Dari mana ketawanya? cirinya masih suka
- melaknat, cirinya masih suka berbohong,
- cirinya masih suka bersumpah palsu gitu
- loh. Nah, saya kira saya tidak harus
- mencari siapa-siapa gitu loh. Pokoknya
- ya banyaklah dalam potret kehidupan kita
- orang yang ngomong waktu kampanye
- ngomongnya a setelah terpilih ee tidak
- hendak dilakukan tuh kampanyenya itu
- gitu loh. Lah sudahlah jangan banyak ini
- jangan banyak janji-janji lebih baik
- tidak banyak janji janji
- itu lebih selamat saya tidak akan
- dipilih ya berarti yang milihnya juga
- suka kepada janji-janji kan gitu
- kita padahalelihat aja kesalehannya
- seperti apa kan gitu ah tetapi kan nilai
- kesalehan oleh kita sekarang oleh
- kebanyakan kita tidak jadi standar yang
- penting popularitasnya
- i gitu loh ya. Jadi kesalehannya tidak
- akibatnya orang-orang saleh marginal
- sekarang terpinggirkan
- tuh.
- Dan memang itu mentalitas kita juga si
- pemilik begitu bukan ditanya itu
- kesalehannya dulu karena memang mencari
- orang saleh susah gitu loh akibatnya.
- Aduh subhanallah. Oke. Baik ya. Tapi ini
- menjadi perhatian
- mutiar hadis yang dapat kita ambil
- banyak melaknat itu kontrak dengan
- kesempurnaan
- iman. Nah, gitu ya. Jadi kalau sebanyak
- melaknat berarti imannya kurang sem
- sempurna. Tayib. Kita lanjutkan kepada
- hadis ketiga.
- An Abi Darda radhiallahu anhu qala qala
- Rasulullahi shallallahu alaihi wasallam,
- "La yakunul laanunafa
- wala syuhada yaumalqiamah."
- Rahu Muslim.
- Orang-orang yang suka melaknat itu nanti
- pada hari kiamat tidak bisa memberi
- syafaat dan tidak bisa menjadi saksi.
- Rawahu Muslim, riwayat Imam Muslim. Maka
- oleh sebab itu kalau Anda punya harapan
- untuk memberikan syafaat kepada istri,
- kepada anak-anak kita atau kepada
- siapapun yang kita cintai, maka jagalah.
- Jangan terbiasa melaknat.
- Tuh, ini kunci nih. Jadi paling tidak
- tadi doakan aja ya. Doakan ganti dengan
- doa.
- Misalnya orang tua kita, alhamdulillah
- dia nyekolahkan kita pesantren, tapi dia
- sendiri judi, dia sendiri ikut tidak
- salat. Berdoa pada Allah, "Ya Allah,
- berilah hidayah kepada bapak saya. Dia
- padahal sudah baik menyekolahkan saya di
- pesantren. Tapi ya Allah berilah dia
- hidayah supaya dia mau salat, supaya dia
- Nah, gitu dulu. Jadi segala sesuatu itu
- kunci dengan kebaikan.
- punya ibu enggak pakai jilbab.
- Ya Allah, ibu saya tuh salehah.
- Sesungguhnya dia ngedidik saya, ngajarin
- saya alif-alifan, mengenalkan saya
- kepada Allah sehingga dititik p ke kiai.
- Tapi ya Allah, berilah hidayah kepada
- ibu saya agar dia bisa melaksanakan
- perintah-perintahmu
- dan menjauhi larangan-laranganmu. Tuh,
- jadi motret satu keadaan tetap
- diikutinya dengan kebaikan, dengan
- doa-doa.
- Jangan menggerutu,
- jangan merasa putus asa. Hmm. Ya Allah,
- saya mah punya bapak begini, punya ibu
- begini. Begitu juga ibu bapaknya sama
- melihat anaknya nakal, namanya anak-anak
- gitu ya. Jangan kemudian buru-buru
- menjustifikasi,
- ee cuda anak saya mah belum nakal minta
- ampun. Enggak usah begitu.
- Jadi kalau kemudian jangan diungkapkan
- kenakalan anak-anak kita. Kalau dia
- tetangga kita nanya misal, "Aduh ee maaf
- ya, Ibu. anaknya itu kok begitu ya. Iya.
- Doakan saja ya anak saya mudah-mudahan
- Allah memberikan hidayah.
- H
- dan saya juga ibunya enggak bisa ngasih
- hidayah. Doakan ya. Tuh gitu. Jadi
- ketika orang mau menarik kepada
- pembahasan-pembahasan yang yang melebar
- jelek buru-buru tutup doa.
- Doakan ya Bu ya. Aduh. Iya memang anak
- saya belum jadi anak saleh belum bisa
- dibanggakan. Tapi doakan ya Bu ya.
- Mudah-mudahan jadi orang yang bermanfaat
- untuk tetangganya, untuk
- sahabat-sahabatnya.
- Tuh kan begitu. Masyaallah indah sekali
- itu. Jadi ee makanya kemudian itu juga
- kalau kedengar oleh anak kita, anak kita
- kan diceritakan begini. Kemudian kita
- sebagai ibunya atau sebagai ayahnya
- ngomong seperti itu, anaknya juga mikir
- tuh
- malu.
- Ya bukan. Aduh ya Allah ternyata ibu
- saya masih menjaga kehormatan saya.
- masih menjaga ini. Tapi kalau gini
- misalnya dia dengar juga nih si
- anakerita
- Bu dicerita ibu itu anaknya ternyata di
- sekolah nakal sekali itu anak tetangga
- saya temannya di tonjok gitu ya ya iya
- memang anak saya mang nakal
- enggak tahu saya juga harus bagaimana
- jadi dikatakan aja dh mohon maaf ya
- sampaikan sama tetangga mohon maaf
- saya yakin anak saya tidak sengaj mohon
- dimaafkan kalau memang mauembalas yang
- apa-apa ngebalas gitu. Dikisos dikisos
- tapi kalau dimaafkan alhamdulillah tuh
- gitu. Jadi memang kehidupan tuh begitu
- kan ada potret ee menjaga ke arah baik,
- ada potret yang menjaga memprovokasi
- sehingga kondisi buruknya terus-menerus.
- Nah, maka begini ya. MAT bimbingan Islam
- jangan suka melaknat. Itu benar sekali
- gitu ya. Oke. Ustaz
- kalau ungkapan misalnya tadi anak saya
- itu begini-begini apakah itu termasuk
- melaknat apa bukan?
- Enggak. Jadi kan begini semua perkataan
- itu ada nilai psikologis.
- Kalau misalnya kita mengang
- nakal kalau kedengaran oleh anaknya
- berarti oh ibu saya juga setuju tuh
- dengan perkataan tetangga bahwa saya ini
- tidak pantas dibanggakan tidak
- begini-begini gitu. Tapi kalau kemudian
- kita mengatakan apa? Mohon doanya ya
- mudah-mudahan anak saya diberi hidayah
- oleh Allah jadi orang yang saleh, orang
- yang berguna bagi masyarakat. Kedengaran
- suama anak itu mikir tuh anaknya
- insyaallah gitu. Paling tidak kalaupun
- tidak berubah mikir itu
- tuh
- pengaruhnya kepada anaknya.
- Pengaruh kepada anaknya juga pengaruh
- kepada tetangga yang mencoba mau
- menggusur kepada keburukan gitu loh ya.
- Oke. Ah e apa namanya? Ee inilah tiga
- hadis yang kita bahas pada kesempatan
- ini. Insyaallah kita lanjutkan lagi pada
- pertemuan berikutnya.
- na muhammadinhamdulillahilamin
- wallahuam
- alhamdulillahiabbil alamin wallahuam bab
- jazakumullahiran ustaz jazakumullah
- demikian ikhwan akhwat tiga hadis yang
- sudah disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- tentang haram melaknat seseorang ataupun
- binatang binatangnya belum Ustaz
- belum belum
- masih ada hadisnya
- insyaallah insyaallah
- baik Baik, Ikhwanaw tetap bersama kami
- di Radio Silaturahim. Silakan sampaikan
- pertanyaan Anda. Tetap di Radio
- Silaturahim. Kami akan segera kembali.
- Terima kasih.
- [musik]
- Alhamdulillahirabbil alamin. Terima
- kasih Iwan Wanawat masih bersama Radio
- Silaturahim. Saat ini Anda sedang
- menyaksikan tausiah sore live bersama
- Ustaz Ahmad Saleh. Saat ini ilmu yang
- disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh dalam
- kitab syarah Riyadus Shihin dengan tema
- haram melaknat seseorang ataupun
- binatang.
- Eh kemudian
- ee ikhwan akhwat yang sudah masuk
- sebelum pertanyaan kami bacakan adalah
- dari Ibu Retno. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah Ustaz hadir menyimak
- tausiah sore Ustaz. Jazakumullah khairan
- katsir
- wyakum jazakallahu khairan.
- Kemudian Ibu Ani Hani Hufaidah. Ustaz
- bismillah. Insyaallah Ustaz Ahmad Saleh
- dan pejuang dakwah Rasil sehat walafiat
- dan bahagia selalu.
- Amin. Allahum amin. Barakallahu fikum.
- Kemudian Bapak Arwin.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Ustaz terima kasih atas tausiah, nasihat
- dan pencerahannya. Semoga Ustaz dan
- pejuang dakwah Rasil serta para
- pendengar Rasil selalu dalam keadaan
- sehat walafiat.
- Amin. Allahum amin.
- Kemudian Bapak Rohili di Pulau Gebang.
- Alhamdulillah, Ustaz hadir menyimak
- tausiah sore hari ini. Ibu Sri juga
- menyimak
- dan men
- mengharapkan selalu mendapatkan rahmat
- dan rida Allah Subhanahu wa taala.
- Amin. Barakallah.
- Ibu Aminah juga alhamdulillah
- menyimak
- dan berharap ampunan dari Allah
- Subhanahu wa taala. Amin. Allahum amin.
- Hm. Berikutnya kita bacakan pertanyaan
- dari Bapak
- Ozi Fahrul, Ustaz.
- Naam. Oh. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz bertanya tentang
- ayat yang mengatakan dalam surah
- Alma'arij, Ustaz, alladzina hum ala
- shatihim daimun yang artinya
- itu adalah orang-orang yang selalu
- istikamah dalam salatnya.
- Itu maknanya berarti kita memang harus
- salat secara terus-menerus, Ustaz.
- Demikian, Ustaz.
- Iya. Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Semoga Allah merahmati yang bertanya dan
- membimbing orang yang akan menjawabnya.
- Naam.
- Daimun itu senantiasa.
- Senantiasa berarti diterjemahkan tadi
- istiqamah.
- Iya.
- Berarti dalam pengertian pertama dia
- senantiasa salat sesuai waktu-waktunya
- gitu ya. Ya. Tapi pengertian yang lebih
- luas lagi dia senantiasa salat tiap
- waktu. Kalau tadi tiap waktu-waktunya
- zuhur waktu zuhur, asar waktu asar,
- magrib waktu magrib. Jadi setiap kali
- waktu masuk waktu salat masuk maka dia
- salat. Baik itu daim juga. Tetapi ke
- dalam pengertian yang lebih luas yaitu
- senantiasa salat.
- Meskipun dia mendengarkan radio
- silaturahim, dia sedang salat. Tuh
- gituah salat. Jadi salat misalnya inata
- tanhail fahsya wal munkar. Meskipun dia
- tidak sedang salat tapi dia sedang
- mencegah perbuatan keji dan mungkar
- berarti dia sedang salat.
- Yang ustaz sampaikan.
- Heeh. Gitu. Makanya oleh sebab itu saya
- bilang, "Gimana memahami? Jadi jika baik
- salatnya maka akan baik seluruh
- amalnya." Nah, jadi saya memahaminya
- seperti itu. Nah, kita berarti
- senantiasa salat. Jangan lupa itu jangan
- berbohong.
- Kenapa? Karena ketika berbohong berarti
- kita tidak salat. Kenapa? Karena kita
- katakan innatiusuki
- wahyaya waamati lillahbil alamin. Tidak
- ada kalimat dusta, tidak ada kalimat
- laknat untuk Allah.
- Ya, karena Allah. Saya niat melaknat dia
- karena Allah. Gak ada itu, gitu ya. I.
- Oke. Jadi kalaupun ada harus didukung
- dengan dalil-dalilah
- sallallahu alaihi wasallam gitu ya. Jadi
- pengertian daimun tuh minimal dipahami
- bisa dua.
- He.
- Jadi tiap waktu dia salat atau bisa
- disederhanakan lagi. Ketika dia sedang
- salat dia selalu hadir salat pikirannya.
- pikirannya selalu hadir.
- Pikiran selalu hadir. Tidak sedang salat
- tapi pikirannya ke mana-mana. Bisa
- begitu juga pemahamannya.
- Ah maka khusyuk pengertiannya. Jadi
- daimun di situ bisa dimaknai
- khusyuk. Kan tadi dimaknai daimun itu
- istikamah
- gitu loh ya. Jadi [tertawa] memang
- menarik sekali memahami Quran itu.
- Masyaallah gitu loh. Bisa apa tadi? Bisa
- ee khusyuk, bisa istiqamah. kemudian
- bisa mengaplikasikan nilai-nilai salat.
- Nah, ini yang kalau kita membaginya e
- salatnya salat taswiriah dan maknawiah,
- maka daimun itu adalah ee melaksanakan
- makna salat
- maknawiah.
- Maknawiah gitu ya. Demikian yang dapat
- saya jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Rozi
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan kedua kami bacakan dari Bapak
- Rahman. [berdehem] Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz selalu sehat walafiat.
- Amin. Allahumma amin.
- Rohani dan jasmani, Ustaz. Alhamdulillah
- kami mendengar Radio Silaturahim.
- Ustaz izin bertanya. Apabila kita belum
- berilmu, mempunyai ilmu yang cukup atau
- cup cukup mapan, cukup banyak, namun
- sudah berhaji, bagaimana menurut Pak
- Kiai status hajinya tersebut, Ustaz?
- Jazakumullah khairan katirun. E
- naam. Jadi pertama ada pandangan fikih,
- kedua ada pandangan idealisme.
- Idealnya kita berangkat haji itu ilmunya
- sudah mapan, perbekalannya cukup,
- manasik hajinya sudah dikuasai, bahkan
- makna-maknanya dipahami. Maka itulah
- yang dikehendaki.
- Tapi kadang kita
- lebih suka bukan lebih suka e apa
- mengabaikan itu semua sehingga kita
- tahu-tahu usia 70 tahun
- baru punya duit lagi katakanlah nabung
- tapi waktu itu meskipun dari awal nabung
- tidak persiapan ilmunya tidak dikaji.
- Tiba-tiba usia 7 per tahun dipanggil
- untuk haji.
- Bagaimana? Apa diundur lagi karena saya
- belum tahu ilmunya gitu kan. Tidak.
- Nah, tidak tentu berangkat. Yang penting
- manasik hajinya paling tidak dihafal
- tahu paling tidak tuh.
- Iya.
- Nah, nanti ee secara simultan dia
- maknanya itu paham makna-maknanya.
- Bahkan bisa jadi pengertian
- makna-maknanya didapat setelah pulang
- haji gitu ya. Oke. Jadi yang paling
- penting sekali lagi kan ada pandangan
- idealisme, ada pandangan secara fikhi.
- Kalau secara fikih ya sah gitu kan. Yang
- penting apa? Pertama muslim itu dulu ya.
- Yang kedua dia mampu untuk di
- perjalanannya baik mampu punya ongkosnya
- maupun mampu menyediakan perbekalan
- untuk keluarganya. Jika itu sudah
- terpenuhi falyatafadol.
- Hanya nanti kalau ditinya dari idealisme
- ah dari mana? Eh enggak apa-apa. Paling
- tidak tanpa pemahaman dulu. Karena tadi
- kan tidak mungkin diundur lagi gitu loh
- ya. Maka sudah berangkat
- bisa jadi saat berangkat dipahami,
- dihayati gitu loh gitu ya. Jadi seperti
- itu. Jadi kalau secara fikih kalau
- terpenuhi tadi syarat-syaratnya berarti
- sah. Apakah diterima atau tidak?
- Pandangan idealis gitu loh. Sebaiknya
- memang harus tahu dulu ilmunya, memahami
- dulu pesan-pesannya.
- Kalau itu sudah memahami barulah. Tetapi
- persoalannya yang ngatur berangkat bukan
- kita.
- Kita daftar ee apa tahun 2000 2026 baru
- berangkat 26 tahun misalnya nunggu.
- Iya.
- Atau tahun 2010 berangkatnya 2026 16
- tahun nunggu kapus ditunggu lagi? Aduh
- pertama rugi apa? Rugi biaya. Kedua maka
- bismillah. Toh juga nanti kan dibimbing
- tuh. Iya.
- oleh pembimbing hajinya gitu ya. Nah,
- nanti ee yang penting dihafal dulu
- sambil menghafal tuh doa-doanya gitu.
- Labaik Allahum labbaik dan seterusnya
- gitu loh. Nanti penghayatannya simultan
- gitu ya. Ya, demikian yang dapat saya
- uraikan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Rahman
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan ketiga
- datang dari Bunda Nisah, Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khairan kiran,
- Ustaz ilmunya. Ustaz
- waakum jazakumullah khairan.
- Izin bertanya
- terkait aurat, Ustaz. Nah, tadi ustaz
- dibahas tentang ada seorang ibu yang
- tidak pakai kerudung didoakan. Kemudian
- Ustaz ini mau menanyakan tentang itu
- Ustaz, apakah tangan atau jari itu aurat
- Ustaz? Dan batasan aurat bagi wanita itu
- di mana, Ustaz? Lalu lebih baik mana
- menggunakan cadar burko atau cukup
- dengan jilbab saja, Ustaz? Demikian
- jazakumullah khairan kat Masyaallah
- barakallahu fikum. Alhamdulillah.
- Pertama, ketentuan tentang jilbab
- di dalam Al-Qur'an itu tidak detail
- gitu ya. Tidak detail. Oh, harus inin.
- Ada hadis yang menjelaskan
- ya, Nabi menegur Asma. Ya, Asma. Kalau
- perempuan sudah balig itu harus ditutupi
- auratnya kecuali yang biasa tampak
- daripadanya yaitu ini dengan ini sambil
- menunjuk mengisyaratkan kepada telapak
- tangan sama
- wajah
- wajah wakinna h hadisun diif kata para
- ulama
- diif
- diif kenapa itu dijadikan batasan kan
- jadinya itu dijadikan batasan karena
- tidak ditemukan hadis sahih yang
- membatasinya
- maka hadis diif pun dipakai gitu ya. Itu
- dulu tuh. Jadi ee paling tidak apa tadi?
- Telapak tangan dan wajah.
- Dan ini juga apa namanya burqa apa
- namanya cadar. Sesungguhnya tidak ada
- ditemukan nas.
- Iya.
- Baik dari Quran maupun dari sunah atau
- dari hadis.
- Cadar itu sepengetahuan saya.
- Adapun pendapat-pendapat ulama banyak.
- Maka kemudian akan ditemukan ada cadar
- yang menutup yang kecuali matanya saja
- dua, tapi juga ada menutup wajah cuma
- satu lubang.
- Satu lubang?
- Iya, satu lubang. Afghanistan tuh.
- Oh,
- Afghanistan satu lubang. Ada yang satu
- lubang. Hm. Tapi kemudian sekali lagi
- tidak pakai cadar pun sekali lagi bukan
- dosa
- gitu ya. Ah, jadi cadar. Jadi begini
- ee begini jika wajah kita kita tuh
- muslimat bisa menjadi fitnah
- maka tutup tuh wajahnya. Tidak mengapa
- loh. Kan enggak ada syariatnya. Iya
- enggak ada syariatnya tapi ini bisa jadi
- fitnah.
- Apa yang dimaksud dengan jadi fitnah?
- Setiap lelaki yang memandangnya,
- lelaki itu langsung apa istilahnya
- terpikat.
- Atau ada lelaki lain yang melihat
- wajahnya dia langsung bencinya minta
- ampun.
- Maka sebaiknya sekali lagi bukan wajib
- nih sebaiknya orang-orang seperti itu
- disarankan pakai cadar
- supaya tidak jadi
- fitnah.
- Fitnah.
- gitu ya kan. Sesungguhnya cadar apa ee
- jilbab itu apa menurut Quran?
- Menurut Quran supaya dapat dikenal.
- Dapat dikenal.
- Iya. Bukan nutup aurat sesungguhnya gitu
- loh. Tapi kemudian hadis menjelaskan.
- Maka kemudian jadi tujuan bisa dikenal
- dan menutup au menutup aurat.
- Jadi menarik tuh sejarahnya jilbab itu
- menarik gitu loh.
- Jadi cuma untuk dikenal aja.
- Dikenal bahwa dia orang merdeka.
- Oh gitu.
- Iya. Kalau orang merdeka oh dia muslim
- diamah muslimah sekarang. Nah tetapi dia
- jelas di apa dicatat sebagai orang
- merdeka. Orang budak itu tidak pakai
- jilbab.
- Maksudnya untuk membedakan antara budak
- dengan merdeka. Ustaz.
- Iya. Di antaranya begitu. Nah, itu untuk
- mengenal. Jadi untuk mengenal seang
- perempuan muslim apa? Pakai jilbab.
- Untuk mengenal bahwa itu muslimin
- laki-laki apa? Jenggotnya.
- Jadi, jenggot itu boleh dipahami sebagai
- seragam.
- Tanda ya.
- Tanda. Buktinya apa? Untuk membedakan
- orang Yahudi dengan orang beriman,
- dengan orang muslim. Ah, kalau Yahudi
- memelihara kumisnya baplang
- i
- dan mencukur jenggotnya, kamu pelihara
- jenggot, rapikan kumis. Tuh, itu untuk
- membedakan. Karena baju seragam waktu
- itu belum ditemukan.
- Bisa dipahami ya?
- Iya. Iya.
- Tidak. Tapi boleh aja dibantah itu ya.
- Boleh aja dibantah. Tapi maksudnya
- kenapa projek itu adalah tanda
- bahwa itu adalah
- tanda.
- Heeh. itu tanda bahwa itu adalah muslim.
- Ustaz, gimana? Saya mah enggak punya
- jenggot ya enggak apa-apa. Saya punya
- jenggot satu lembar, dua lembari.
- [tertawa]
- Anda mau melihara silakan enggak juga
- apa-apa. Hanya Nabi katakan selisih
- Yahudi,
- selisihlah musyrikin.
- Tuh, oh berarti seragam gitu loh.
- Gitu ya. Jadi untuk membedakan seragam
- ee muslimin dengan nonmuslim itu adalah
- jenggot gitu loh. Tuh kan begitu.
- Wallahuam bawab ya. Oke. Jadi
- maka oleh sebab itu sekali lagi cadar
- itu tidak disyariatkan.
- Bahkan imam mantan imam Masjidil Aqsa
- mengatakan hadza laisa minal Islam.
- ini bukan dari Islam kata beliau begitu.
- Tapi enggak apa-apa namanya juga apa ee
- kebiasaan
- he
- apa namanya adat itu diakomodir oleh
- syariat.
- Baju kita pakai pakai ee jaz boleh
- enggak
- pakai jaz? Pakai jaz boleh,
- boleh kan nyerupai orang kafir [tertawa]
- manabah bomin fawinhum. Awalnya pakai
- jaz kan boleh tuh pemahaman ulama,
- tapi sekarang para ulama juga pakai jaz
- gitu. Maka menjadi boleh nih hukum nih.
- Jadi hukum itu bisa berkembang
- tu.
- Yang sunah mah pakai gamis loh. Abu
- Jahal kan pakai gamis juga gitu loh ya.
- Nah, makahahum
- tasyabah di situ bukan yang bersifat
- bukan bersifat e bukan bersifat
- kebutuhan-kebutuhan duniawi.
- Jadi tasyabbah di situ. Kemudian
- sekarang beralih berkembang pemahamannya
- yaitu karakter buruk.
- Karakter buruk. Jadi kalau kita
- mengikuti karakter buruk Yahudi penipu,
- kemudian kita menipu, nah itu tasyabuh
- dengan Yahudi, maka kita bagian dari
- Yahudi gini gitu. Kalau kemudian Yahudi
- pakai jas, pakai dasi, celananya rapi,
- masa Islam tidak mengajarkan kerapihan
- tuh, maka berkembang gitu ya. Maka
- sekarang orang muslim Eropa gimana?
- Harus ganti jadi gamis.
- Yang mau pakai gamis silakan, Ma. pakai
- jasi pakai ini juga silakan karena itu
- adalah bukan karakter bukan karakter
- maknawi.
- Tuh simbolis
- itu simbolis. Kalau simbolis mah
- bolehak.
- Nah, kecuali simbolis keagamaan.
- Padahal simbolis keagamaan juga tidak
- mengapa.
- Pendeta
- itu pakai gamis,
- hanya ditutup pakai jaz warna hitam.
- Ya, itu gamis asalnya. Makanya ada toh
- pendeta-pendeta yang pakai gamis gituah
- itu maka tidak ada masalah. Sebenarnya
- tidak ada masalah. Yang bermasalah itu
- orang Islam pakai gamis akhlaknya
- Yahudi.
- Itu masalah. Pakai gamis akhlaknya
- musyrikin.
- Pakai gamis akhlaknya Nasrani. Tuh
- seperti Abu Jahal.
- Seperti Abu Jahal gitu loh. Jadi yang
- membedakan Nabi dengan Abu Jahal dia
- akhlak.
- Kalau sekedar pakaiannya gamis saja,
- mohon maaf dipertentangkan pakaiannya.
- Gak selama itu nutup aurat itu syarii.
- Hanya saja kenapa? Oh, daerah Arab itu
- panas begini. Cocoknya gamis seperti
- itu.
- Kalau kemudian kita seperti di kutub
- utara lebih lebih pasnya pakai apa
- namanya? Pakai baju hangat.
- Meskipun sekarang konon katanya di kutub
- utara juga sudah naik derajatnya.
- Derajat angetnya lebih hanget.
- Oh,
- karena memang es di beberapa tempat
- sudah mencair. Oke. Nah, jadi seperti
- itu ya. Jadi sekali lagi yang paling
- penting adalah nutup aurat. Nah, nutup
- aurat sekali lagi karena Quran tidak
- menjelaskan secara detail.
- Ada hadis tadi yang kita hanya terlihat
- apa? Muka dan telapak tangan. Karena
- sebagian ulama hadisnya diif.
- Iya.
- Oke. Maka saya mohon maaf saya menyuruh
- istri saya berpakaian rapi meskipun
- tidak bercadar tapi rapi nutupat, nutup
- kepala dan lain sebagainya. Tapi saya
- tidak mewajibkan kepada perempuan umat
- Islam untuk supaya nutup seluruh
- tubuhnya dan bercadar.
- gitu ya. Tidak, saya tidak tidak
- menyuruh tapi tetap saya tidak melarang
- jika ada muslimat pakai cadar.
- Apalagi tadi alasannya alasannya apa?
- Wajahnya wajah fitnah. Karena saking
- cantiknya setiap orang yang melihat.
- Nah, maka itu sudah pakai cadel lebih
- bagus supaya tidak jadi
- fitnah. fitnah atau bahkan saya
- perempuan itu pakai ee cadar ee pakai
- nutup aurat disyariatkannya usia berapa
- tahun?
- Balig.
- Balig kan?
- 9 tahun.
- Katakanlah usia 9 tahun itu
- disyariatkannya. Saya mengatakan bagi
- para ikhwan dan akhwat yang punya anak
- usia 8 tahun saya sarankan pakai cadar.
- Anak saya.
- Iya. Saya sarankan pakai cadar loh.
- Katanya balegnya 9 tahun. Kok anak saya
- baru 9 tahun eh 8 tahun sudah disuruh
- pakai cadar.
- Ini hubungannya begini.
- Atau saya buat lagi bagi para ikhwan
- yang memiliki istri dan anak yang pakai
- cadar. Saya sarankan untuk dibuka.
- [berdehem]
- Oh, dibalik
- dibalik.
- Kenapa?
- Ini syariat nih, ini fikih.
- Pertama saya nyarankan pakai cadar
- karena sekarang banyak pemerkosaan di
- bawah umur.
- Meskipun belum balik, tutup pakai aurat
- apa pakai cadar, pakai ini apa? Jilbab.
- Untuk menghindari apa? untuk menghindari
- mata jelalatannya para pemerkosa.
- Betul gitu ya. Loh, tapi kok tadi ustaz
- suruh apa namanya e membuka cadar.
- Jika itu terjadi fitnah.
- Karena dulu pernah terjadi orang yang
- jangankan pakai cadar, pakai jilbab saja
- diduga dituduh sebagai penyebar racun.
- Pernah terjadi tuh ya tahun berapa itu?
- Jadi ada orang pergi ke pasar, w
- [berteriak] penyebar racun
- pernah. Nah, untuk menghindari fitnah
- hidup ya. Tapi sekali lagi enggak
- pokoknya harus saya pakai-pakai jilbab
- bagus ya. Tapi kalau pemimpin agama
- melihat itu bahaya
- kemudian nyarankan lewat suaminya suruh
- istrimu tuh buka cadarnya.
- Pertama hukum cadar bukan wajib
- gitu ya. Karena bukan wajib maka sudahud
- minta aja dilepas daripada nyawanya
- terancam. Itu loh itu. Jadi ee
- penelusuran penyeruhan syariat tuh
- begitu.
- Kalau tadi kenapa harus pakai cadar?
- Karena terjadi pemerkosaan di bawah di
- bawah umur untuk menjaga.
- Maka oleh sebab itu kan begini
- berjalan
- ee ee apa namanya? berjalan dari Makkah.
- Seorang perempuan berjalan dari Makkah
- ke Hadr Maut harus pakai mahramnya apa
- tidak?
- Harus.
- Harus.
- Kenapa? Kan begitu. Kalau maqasid itu
- nanya kenapa? Karena jalannya belum
- aman. Maka harus dibandengi mahram.
- Kalau sekarang traveling aja sendiri.
- Traveling ke berbagai negara. sendiri.
- Jadi pertanyaannya, boleh enggak, Ustaz,
- saya pergi haji atau umrah tanpa
- dibarengi dengan mahram?
- Kalau melihat kondisinya seperti ini
- misalnya aman misalnya ya aman udah
- enggak apa-apa apalagi gabungkan nanti
- dengan KBIH-nya.
- Iya.
- Meskipun tidak dengan mahram tapi
- kemudian di Saudinya disyaratkan untuk
- pakai hak mahram. Kan banyak yang
- berangkat dari travel-travel itu enggak
- pakai mahram. Ada kan dipersaudarakan
- dengan catatan. Oh dia mahram saya ini.
- Oh dimahramkan di
- dimahramkan lah. Padahal juga belum
- tentu. Itu kan administrasi aja. Karena
- argumentasi kita ngapain kita haramping
- mahram ya takut apa-apa ya nanti ada ada
- kepala ini kepala rombongan
- tuh gitu ya. Oke oke oke. Jadi fikih
- senantiasa berkembang. yang tadinya oh
- harus didampingi mahram
- sekarang boleh jadi masalah
- harus didampingi mahram gitu [tertawa]
- misalnya mau umrah
- ya suaminya sudah umrah tinggal istrinya
- pas saatnya punya duit istrinya suruh
- diberangkat harus banyak punya apa punya
- mahram berarti suaminya harus punya duit
- lagi. Ya kalau gitu nunggu lagi aku. Ya,
- nunggu dulu Bapak punya duit lagi nanti
- sama Bapak lagi. Kan persoalan itu.
- Iya. Iya. Masalah baru
- masalah. Nah, tapi kalau kemudian pem ah
- lagi pula kan KBIH-nya ee rombongannya
- bisa dipercaya.
- He.
- Banyak rombongan akhwat gitu loh. Maka
- tidak ada masalah gitu loh. Itu
- pemahaman syariat tuh begitu. Yang
- paling penting kan Islam diturunkan
- untuk kesejahteraan, untuk kedamaian.
- Misalnya begini, walaqbuz zina.
- Jangan kau dekati zina.
- Maka dengan pemahaman itu pacaran
- pacaran itu diharamkan pada awalnya.
- Betul enggak?
- Iya.
- Kenapa diharamkan? karena sudah
- mendekat.
- Nah, karena dikhawatirkan terjadi
- perzinahan
- terus dia pacaran tapi tidak terjadi
- perzinahan. Boleh apa enggak?
- [tertawa]
- Eh, gitu ya. Heeh. Kat-sama terjaga
- misalnya nih kita baik sangka sama-sama
- terjaga dia apa namanya ya terjagalah
- kemudian kita benarkan. Tapi kenapa
- syariat mengharamkan pacaran?
- khawatir karena syariat bersifat
- preventif.
- Preventif.
- Heeh. Kan sesungguhnya pacaran enggak
- apa-apa kalau tidak tidak terjadi
- perzinahan.
- Kalau menjurus kepada perzinaan haram
- jelas. Nah, kemudian kan kita tidak bisa
- ngukur seorang peror maka tetap
- diharamkan. Kenapa? Prepentif.
- Meskipun bisa menjaga tetap aja pacaran
- jadi haram. Tapi kalau terdesak
- harus komunikasi
- di saat paca saat setelah khitbah itu
- harus komunikasi, maka tidak apa-apa
- jika tidak menjurus kepada perzinaan
- gitu ya. Jadi itu intinya.
- Kenapa? Jadi masyaallah la haula wala
- quwata ill. Jadi boleh istri kita pakai
- cadar jika terjadi fitnah.
- Tapi boleh juga membuka cadar kalau
- diduga keras aman
- tuh ya. Itu tadi pemahaman wala zina
- itu kemudian nanti kasus pergi ini pergi
- ini kan begitu ya. Nah karena ada satu
- hadis Nabi pernah ditarik oleh seorang
- budak perempuan di Madinah. Ditarik
- tangannya
- gitu ya. Dipawa ke mana? Si budak ini
- apa? Budak ini narik perempuan
- dan di riwayat itu tapi Nabi tidak
- menepisnya. Eh, lepaskan kamu. Kan bukan
- mahram saya. Enggak begitu.
- Oh, iya.
- Nah, namun kemudian ada ulama yang
- memahaminya
- ee apa namanya? Kontekstual.
- Yang dimaksud nari bukan memahaminya
- dengan majazi.
- Jadi, Nabi ditarik tangannya itu bukan
- ditarik tangan hakiki. Iya, bukan hakiki
- ditarik tangannya, tetapi ke mana si
- perempuan itu ngajak Nabi ngikuti. Itu
- pemahamannya. Namun kemudian dibanding
- dengan pendapat pelambat ulama yang
- memahami hadis itu memang yang memahami
- seperti itu hanya siapa gitu. Syekh
- siapa? Lupa lagi saya. Tapi yang jelas
- saya lebih condong kepada ulama yang
- memahaminya tekstualik
- hakiki. Jadi betul-betul dipegang
- gitu loh. Kenapa
- enggak ustaz?
- Kenapa misalnya ah bisa saja kan itu
- Nabi mah khusus untuk Nabi.
- Karena Nabi bisa mengendalikan hawa
- nafsu sehingga oleh Nabi tidak ditepis.
- Oke. Kalau begitu,
- kalau Nabi bisa mengendalikan hawa
- nafsu, berarti umatnya juga kalau bisa
- mengendalikan hawa nafsu boleh. Betul
- enggak?
- Betul.
- Karena apa yang dilakukan Nabi menjadi
- sunah buat umatnya.
- Ittiba.
- Itiba gitu loh. Jadi dikejar terus tuh.
- Kalau dulu oh itu khusus buat Nabi sudah
- selesai.
- Sekarang kalau khusus untuk Nabi itu
- kenapa?
- Ya, karena Nabi bisa mengendalikan hawa
- nafsunya.
- Seperti begini. Nabi bercengkerama
- dengan istrinya dalam keadaan head. Kata
- Aisyah, Nabi melakukan ini karena Nabi
- mampu melakukan eh mampu mengendalikan
- hawa nafsunya.
- Berdasarkan penjelasan itu berarti kita
- pun boleh bercengkeram dengan istri
- dalam keadaan head
- selama tidak tertuju kepada itu. Tuh
- gitu ya kan boleh. W istri kita halal
- kok. Hanya tidak bolehnya itu. Kenapa?
- Karena sedang head
- tuh ittiba juga kepada Nabi.
- Nabi juga bercengkrama dengan istrinya
- yang sedang head. Tapi Nabi ya lebih
- bisa mengendalikan hawa nafsunya.
- Nah, jadi pertanyaan tadi jadi sekali
- lagi ya jadi apa namanya e penjelasan
- tentang jadi ee ya penjelasan tentang
- batas-batas jilbab. Jadi pada umumnya
- sekali lagi pada umumnya dipahami
- kecuali muka dan telapak tangan. Selain
- itu harus tertutup. Maka sekarang ada
- pemahaman ya, ada pemahaman ee apa
- jari-jari itu termasuk aurat
- karena penjelasannya terima telapak
- tangan maka ada sarung tangan yang
- menutup kan sekarang sarung tangan
- muslimat yang menutup bagian atas. Saya
- kira juga itu bagus.
- He.
- Tapi saya tidak begitu menekankan
- wajibnya gitu loh ya. Kecuali kalau kita
- lihat ee jari jemari perempuan itu teng
- sawahwatnya naik ah berarti wajib tuh.
- Tapi kalau lihat jarinya doang gitu ya.
- Ya sekali lagi cuma melihat jarinya kan
- tadi begini. Kenapa harus pakai pakai
- cadar? Kenapa boleh dibuka?
- Nah kan di situ di persoalan fitnah.
- Jadi kalau kemudian istri kita atau
- perempuan-perempuan kita
- dari jemarinya kelihatan kemudian meng
- apa mengangkat syahwat laki-laki, maka
- wajib tuh ditutup.
- Oh, sampai jari-jari.
- Sampai jari-jari misalnya kalau ada
- gitu, kalau ada ada laki-laki lihat jari
- jemari uh langsung syatnya naik. Tapi
- kalau tidak ada berarti insyaallah mafu
- dimaafkan.
- Lagi-lagi tadi itu gitu ya. Begini,
- di negara Eropa banyak mualaf.
- Kalau dia pakai masuk Islam kemudian
- tiba-tiba disyariatkan jilbab kepadanya,
- padahal komunitasnya
- itu akan mengucilkannya, akan
- memfitnahnya, akan melakukan ini dan itu
- kepadanya, maka jangan dulu pakai
- jilbab.
- Tuh, gitulah ya. Jadi pensyariatan
- jilbab itu bukan tanpa alasan, bukan
- tanpa proses.
- Bahkan kemudian kan pernah terjadi
- diganggu tuh muslimat sehingga ee apa
- namanya? dilawan oleh para sahabat gitu
- gitu. Sehingga kemudian disyariatkanlah
- tadi jilbab gitu loh untuk bisa dikenal
- bisa. Masyaallah. Nah, tetapi itu
- menjadi multi multifungsi. pertama untuk
- dikenal, kedua untuk menutup aurat dan
- seterusnya. Demikian yang bisa saya
- jawab atas pertanyaan tadi ya. Wallahu
- aam bisawab.
- Allahuam bisawab. Demikian semoga dapat
- menjawab. M berikutnya
- pertanyaan keempat kami bacakan dari Ibu
- Nurjannah
- binti Madio. Ustaz, asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh,
- Ustaz. Semoga Ustaz selalu sehat
- walafiat, Ustaz.
- Amin. Allahum amin.
- Ustaz, mohon pencerahnya, Ustaz. Semalam
- saya menemukan uang kemudian saya ambil
- dalam hati saya,
- "Ya Allah, ini bukan hak saya kok saya
- ambil." Lalu saya melihat orang kerja di
- taman ada 15 orang. Saya kasihkan ke
- mereka biar buat beli cemilan. [tertawa]
- Apakah saya berdosa, Ustaz?
- Eh, iya. mengambil yang bukan hak saya,
- Ustazan.
- Iya. Jadi sebaiknya itu
- diserahkan kepada yang berwajib,
- kepada yang berwenang
- agar atau lapor duitnya dipegang sama
- Anda, enggak apa-apa. Tapi lapor,
- umumkan siapa yang kehilangan uang seki
- apa siapa yang kehilangan uang gitu.
- Harap menghubungi saya nomor HP-nya
- sekian. kasih waktu selama setahun
- gitu ya. Setahun.
- Setahun.
- Heeh. Kalau dalam setahun kemudian ada
- orang, "Oh iya saya kehilangan uang
- berapa, Pak?" "Huta." "Oh, saya cuma
- nemunya R1 juta, Pak. Berarti bukan?"
- "Oh, saya kehilangan R1 juta."
- 1 juta itu lembarannya berapa aja?
- Rp100.000-an ada 7, Rp50.000-an ada 6
- gitu ya. Berarti 700 + 300 kan berarti
- sejuta. Katakanlah sejuta dia
- nemukannya.
- Ee kapan Bapak ke ininya? Saya tahunya
- sih sadarnya tanggal sekian, tanggal
- sekian. Di mana, Pak? Saya enggak tahu.
- Namanya juga jatuh enggak tahu ke tengah
- keras. Oh, Pak boleh kalau gitu Bapak ke
- rumah saya. Saya di jalan ini, jalan
- ini, jalan ini. Ya, serahkan.
- Nah, kalau kemudian selama setahun tidak
- ada yang ngaku,
- tidak ada yang ya tidak ada yang
- mencari, berarti jadi milik Anda. Mau
- Anda belikan cemilan untuk yang bekerja
- enggak apa-apa. Mau Anda pakai juga
- enggak apa-apa
- karena masa tenggangnya sudah le sudah
- lewat. Begitu ya, Bu ya? Heeh. Atau Pak,
- demikian saya kira. Jadi, pertama tidak
- boleh langsung dibelanjakan.
- Iya. Maka oleh sebab itu kalau kita
- lihat uang lebih baik biarin aja
- biar nanti ketemu lagi oleh yang punya
- haknya. Ah tapi mana mungkin ada duit
- Rp100.000 pada dibiarkan mesti akan
- diambil. Enggak apa-apa diambil orang
- daripada menjadi tanggung jawab kita
- dunia akhirat. Kan begitu. Meskipun tadi
- diberikan untuk cemilan orang tapi tetap
- bukan hak kita gitu ya. Demikian wallahu
- aam biswab.
- Wallahuam biswab. Demikian, Ibu,
- semoga dapat menjawab.
- Berikutnya
- ee
- Ustaz M dari Bapak Rian, Ustaz.
- Nam.
- Oh,
- ini curhat, Ustaz.
- Oh, masyaallah.
- Kemudian,
- I dari Bapak Rian. Ustaz, izin surat.
- Kalau ana semisalnya senang dengan
- perempuan kemudian ana datangi orang
- tuanya dengan niat taaruf
- atau melamar atau khitbah atau
- menikahinya. Itu boleh enggak sih
- hukumnya, Ustaz?
- Apa mesti menggunakan [mendengus] wali
- atau perantara, Ustaz?
- Oh, iya iya.
- Jazakumullah khairan kasih.
- Wum. Jazakumullah khair. Nah, jadi
- intinya betul itu pertama taaruf atau
- mau khitbah atau minang itu ke orang
- tuanya. Jangan ditembak di tempat
- gitu loh. Kalau ditembak di tempat itu
- bisa jadi fitnah.
- Mending kalau diterima langsung. Kalau
- ditolak gimana? Aduh mau nolak gimana
- dia nembak langsung. Nah, jangan sampai
- ada perasaan-perasaan tidak enak lewat
- bapaknya dulu.
- Nanti kan bapaknya nanya, "Nduko, ini
- ada orang namanya ini, ini, ini." Nanya
- kamu, kamu katanya sudah siap nikah
- belum? Atuh, Bang, aku kan masih kuliah.
- Aku enggak mau nikah dulu lah, nyelesan
- kuliah lagi kan tinggal 1 semester lagi,
- Bang. Suruh nunggu aja dulu. Nah, gitu
- loh. Karena kalau mau mau nolak itu bisa
- alasan kuliah,
- bisa alasan bekerja. Tapi jangan lengan,
- enggak saya enggak mau. Itu menyakitkan.
- H. Mangka lebih baik alasannya mohon
- maaf saya masih studi apalagi baru studi
- awal masih lama saya tidak mau terganggu
- dulu. Satu boleh bah sampaikan saya
- ingin apa namanya maharnya senilai
- pesawat helikopter
- karena dia diduga keras tidak mampu tuh.
- Jadi kalau ada
- perempuan yang minta maharnya gede
- padahal tahu kita ini tidak mampu,
- itulah nolak halus.
- Saya terima alhamdulillah tapi saya
- minta maharnya. Kada kad
- eh qadarullah rupanya punya teman yang
- mau membantu mar. [tertawa]
- Oh ya sanggup aja gitu. Nah maka oleh
- sebab itu jadi ada pendekatan. Makanya
- kenapa lewat perantara? Bahkan kalau
- bisa jangan tahu dulu mana orangnya. H
- gitu loh. Apalagi dalam proses proses
- taaruf. Jangan tahu dulu mana orangnya,
- mana ininya. Nanti setelah cocok
- semuanya baru ee nzar,
- baru melihat.
- Tuh yang tadinya pakai cadar suruh
- dibuka ya gitu. Jadi boleh tuh lihat
- dulu. Oh, udah cocok cocok mah. Oke,
- gitu loh. Jadi baru tapi rupanya
- adab-adab seperti itu hari ini sudah
- jarang wong belum ditanya anak kita aja
- sudah bah nanti kalau ada si anu ya Bah
- terima aja ya.
- Karena rupanya belum apa-apa dia lewat
- jalan belakang.
- Meskipun bapaknya hati-hati ndok kamu
- gak boleh pacaran dulu sebelum selesai
- kuliah. Ya Bah.
- Kemudian ada kabar bahwa anaknya
- pacaran. Ditanya, "Kamu sudah punya
- pacar ya, Do?" "Ya enggak, belum, Bang.
- Bu punya aknya ternyata betul lewat
- belakang dia pacarannya." Nah, maka kita
- titipkan anak-anak kita kepada Allah
- karena kita tidak mungkin
- mengawasi 24 jam. Ya Allah, kutitipkan
- putri-putriku kepada Engkau. Bimbinglah
- dia, kokohkan keimanannya. Tuh, gitulah.
- Jadi kita juga tenang ah dititupkan ke
- Allah kok gitu ya. Sekaligus juga
- pengawasan tetap dilakukan. Nah, maka
- seperti itulah ya. Itu bagus antum. Jadi
- datang kepada orang tuanya langsung
- mengkhitbah. Adapun diterima atau enggak
- urusan dia, urusan nanti itu mah. Yang
- penting kamu lelaki enggak akan luka,
- enggak akan berdarah kalaupun ditolak
- gitu. Bah, saya e punya keinginan
- melamar putri Abah. Aduh, cet
- itu juga sudah ngomong ganya begini
- begini begini. Oh, enggak apa-apa, Pak.
- Baik kalau begitu, Ba. Ee mudah-mudahan
- Allah memberhak kita semua. Ditolak tuh
- tapi tetap mudah-mudahan. Jadi, awas
- nanti gak begitu tidak diancam-ancam
- gitu. Jadi semua bebas gitu loh dia.
- Jadi laki-laki boleh memilih, perempuan
- boleh menerima, boleh menolak. Wah,
- kalau gitu mah enak. Laki-laki boleh
- milih ya. Anda juga boleh nolak, boleh
- nerima. Tidak harus terima gitu loh ya.
- Kecuali kalau kita percaya kepada orang
- tua kita dulu kita atau kita percaya
- kepada guru-guru kita itu masyaallah ya.
- Oke. Baik. Seperti itu yang dapat saya
- jelaskan.
- Alhamdulillahabbilamin. Masyaallah.
- Demikian Bapak Rian semoga dapat
- menjawab Mamasrian atau Bapak Rian.
- Alhamdulillah Ibu Azwaf juga menyimak
- tausiah sore bersama Ustaz Ahmad Saleh.
- Barakallahu fikum.
- Kalau keimanan kita kafa, insyaallah
- tidak akan tergoda oleh setan. Ustaz
- kata Ibu Azraam nam sodqti. Iya.
- Masyaallah.
- Alhamdulillah Bapak Maman Sumantri masih
- mendengar sejak 13 tahun yang lalu.
- Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Usia sekarang sudah 85 tahun.
- Masyaallah. Masyaallah. Barakallahu
- fikum.
- Bapak Komaruddin
- dari Karawang. Alhamdulillah menyimak.
- Bapak Ahmad Rasyidin. Alhamdulillah
- menyimak. Baik. Barakallahu fikum.
- Demikian Ikhwan Akhwat yang sudah
- menuliskan di ee WhatsApp Rasil dan
- terima kasih kepada ikhwan akhwat semua
- yang sudah bertanya. Baik, Ikhwan ee
- Ustaz sebagai kesimpulan Ustaz tafad
- naam. Jadi sebagai kesimpulannya adalah
- hendaknya kita menjauhi laknat-melaknat
- ya. Karena itu melaknat itu tanpa
- alasan, tanpa alasan yang benar itu
- menunjukkan ketidak berhasilan salat
- kita, tidak berhasil saum kita, tidak
- berhasil juga haji kita.
- Maka oleh sebab itu juga itu menunjukkan
- kalau biasa melaknat menunjukkan bahwa
- kita bukan orang siddiq, bukan orang
- jujur. Demikian yang dapat saya
- simpulkan. Wasallallahu ala nabiyina
- Muhammadin. Walhamdulillahiabbil
- alamin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khair kasir
- Ustaz ilmunya. Baik ikhwan ahad.
- Demikian ilmu yang disampaikan oleh
- Ustaz Ahmad Saleh. Semoga bermanfaat
- untuk kita tentang haram melaknat
- seseorang.
- E dan semoga kita terhindar dari
- sifat-sifat laknat dan semoga kita
- selalu menjadi orang-orang yang jujur
- dengan thayibul kalam wa itamut thaam
- dan semuanya yang lainnya yang
- disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh.
- Semoga kita semoga Allah memberikan kita
- kesempatan
- amin
- untuk bertemu lagi di Jumat depan
- insyaallah atas izin Allah Subhanahu wa
- taala. Amin.
- Dan demikian ikhwana awat saya Fauzi
- Radunul Haq mohon maaf. atas segala
- khilaf dan mohon undur diri.
- Subhanakallahumma wabihamdika asadua
- ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.