Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Radio Silaturahim dan Rasil Visual untuk
- Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat,
- masih bersama kami dalam kajian tausiah
- sore bersama Ustaz Abul Hidayat Sayoji.
- Dan kali ini kita masih melanjutkan sesi
- selanjutnya yaitu sesi tanya jawab. Dan
- alhamdulillah Ustaz sudah ada lagi
- pertanyaan yang masuk kali ini datangnya
- dari Ibu Asraf di Cibubur.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Abul Hidayat Syaj.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz, saya ingin
- tanyakan dalam perjalanan hidup ini
- manakah yang lebih tinggi ilmu dan akal,
- Ustaz? Apakah harus sama-sama berjalan?
- Mohon penceranya, Ustaz. Terima kasih.
- Waduh, ini pertanyaan mana lebih tinggi
- ya? Masyaallah.
- Saya
- mungkin enggak tahu apakah nanti ini
- jawabannya pas apa gak, tapi menurut
- saya bak ilmu itu kan sifatnya
- netral.
- Pengetahuan kita dapatkan dari membaca,
- dari
- belajar, dari
- informasi. Jadi kita menjadi tahu karena
- ilmu pengetahuan.
- Kemudian yang Allah membekali kita
- dengan akal yang bisa
- membedakan ini baik, ini tidak baik itu
- akal. Akal itu dilengkapi oleh Allah
- Subhanahu wa taala agar kita ini
- berjalan di atas jalan kebenaran bisa
- membedakan yang benar dan yang
- salah. Jadi kalau akal kita tidak
- menggunakan akal atau akal kita kurang
- berperan sebagaimana mestinya kita gak
- bisa untuk bisa membedakan yang benar
- maupun salah. Mungkin ilmu, ilmu itu kan
- bisa ilmu. Ilmu kan netral. H ada ilmu
- kebaikan, ada ilmu yang gak benar kan.
- Makanya disebut ada ilmu hitam dan
- sebagainya. Tapi kalau akal tidak
- berperan ya ini tidak bisa membedakan.
- Bahkan diturunkan Al-Qur'an sendiri
- kalau tidak berakal ya tidak bisa dia
- menyerapi. Jadi menurut saya ya soal
- bukan soal tinggi rendahnya tapi
- dua-duanya mesti diperlukan.
- Ilmu kita perlu, akal jelas.
- sehingga langkah hidup kita ini menjadi
- apa namanya lurus dan berjalan. Akal
- sendiri kan perlu ilmu pengetahuan. Ilmu
- pengetahuan tanpa akal kita lebih
- berbahaya. Saya kira demikian.
- Wallahuam. Iya. Baik, terima kasih Ustaz
- ee atas jawabannya. Semoga Ibu Asraf
- tadi ikut menyimak. Jadi antara akal dan
- ilmu harus beriring ya. Berjalan ya.
- Selanjutnya ini SMS dari Ibu Farida
- Naim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz,
- bagaimana menurut Ustaz yang terjadi
- saat ini? Yang jujur dianggap
- pengkhianat, sementara pengkhianat
- dianggap jujur. Saat ini kejujuran sudah
- tidak dihargai dan kebohongan meraja
- lela. Terima kasih Ustaz atas
- pencerahannya. Ibu Farida Naim.
- Masyaallah, ini pertanyaan luar biasa.
- Dan ini kal apa namanya yang terjadi
- hari ini seperti yang Ibu katakan, yang
- jujur hancur, yang tidak jujur malah
- subur. Kan yang benar disalahkan, yang
- salah dibenarkan.
- Ini justru membuktikan kebenaran apa
- yang disabdakan oleh
- Nabi. Nabi pernah mengatakan dalam
- sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam
- Muslim, beliau mengatakan, "Badiru bil
- a'mali
- shihah. Fasatakunu fitanun kakitil
- mudlim. Yusbihu
- mukminan waumsi kafiron. Waumsi mukminan
- wausbihu
- kafiron. Yabiu dinahum biar minad
- dunya. Fattaqu dunya wattaqu nisa." Al
- hadis raw Muslim.
- Rasulullah menganjurkan pada kita
- bersegera berbuat baik, beramal,
- beramal,
- beramal. Biarin orang lain mau begini,
- mau begitu, mau bohong, mau dusta, mau
- nyalahkan yang benar, mau benarkan yang
- salah. Biarin orang lain. Kita
- diperintah beramal baik, kamu tetap
- istikamah di atas
- kebenaran. Artinya memang situasi gak
- kondusif. Kalau kita ngikuti mereka,
- kita ikut-ikutan gak benar.
- Bahkan sampai Nabi mengatakan nanti akan
- ada fitnah. Fitnah itu keburukan. Fitnah
- itu
- ujian. Ujian-ujian. Ujian kepada kita
- datang
- bergelombang. Dan fitnah itu digambarkan
- seperti sekeping malam yang
- gelap. Kalau yang saya tangkap kalau
- gelap itu berarti orang
- meraba-raba. Gak jelas melihat
- kehidupan. Mana jalan, mana yang bukan,
- mana barat, mana timur. Gak bisa
- melihat.
- Mana yang cantik, mana yang jelek. Jelek
- gak kelihatan, gelap
- namanya. Nah, itulah situasi seperti
- itu. Kenapa? Bahkan seorang paginya
- mukmin sore sudah berubah. Dia jual, dia
- jual, dia berubah agamanya menjadi
- kafir. Kafir dalam arti yang luas ya.
- Kafir dalam arti mengingkar kepada
- Allah, duraka, durjana. Ada kafir dalam
- arti mengingkari perintah Allah. Gak
- pakai aturan hidup dengan agama menurut
- nafsunya.
- sore mukmin, paginya kafir. Kenapa bisa
- begitu? Nabi mengatakan satu kaum yang
- hidupnya dia gadaikan
- iman dengan nilai
- dunia, dia gadaikan agamanya dengan
- nilai dunia. Materi, uang, senang.
- Sekarang kan uang yang paling dominan
- dunia ini. Pokoknya ada uang aja sudah
- pikiran tenang, perutnya kenyang, hati
- senang, uang semua. Bahkan sampai pada
- ukuran benar dan salah itu uang. Maju
- tak gentar bela yang bayar. Bukan
- ketuhanan yang maha esa, tapi keuangan
- yang maha kuasa. Jadi uang, uang, uang,
- uang. Orang mau milih mantu, lihat
- uangnya ada uang apa enggak. Bersaudara
- kalau ada uang atau tidak. Kalau enggak
- ada uang bukan saudara sekalipun saudara
- beneran dia akrab. Dia sayang kalau
- sama-sama punya uang. Tamu yang datang
- kalau bawa uang ramahnya bukan main tuan
- rumah. Tapi kalau datang gak bawa uang
- atau apa mesti e perilakunya berbeda.
- Orang kaya sama orang miskin berbeda
- perilakunya. Sama-sama tamu. Nah inilah
- molak-mali ing zaman
- owah-owahan. Wong lanang ilang
- kaprawiran. Wong wadon ilang wirange.
- Apa artinya? Artinya laki-laki hilang
- sifat muruah harga diri sebagai
- laki-laki sebagai sifat
- kesatria. Jadi yang ada cuma pejantan
- doang. Wong wadon hilang wirange. Orang
- perempuan hilang rasa malunya
- gak mikir lagi
- kehormatan. Jadi dunia sudah begitu
- polakpal. Jadi benar. Kalau ibu
- merasakan seperti dan kenyataan seperti
- itu berarti benar. Sabda
- Nabi bahkan Rasulullah pernah mengatakan
- badaal islama gorib fasayaudu gorib kama
- badaa fatuba lil
- ghuroba. Islam tuh pada awalnya
- asing. Namanya asing kan orang gumunu
- apa nih? Apa ini Muhammad bawa apa lagi
- nih?
- asing dan nanti pada suatu saat akan
- asing kembali asing karena orang sudah
- asik dengan materi dengan
- filsafat-filsafat ee sekulernya,
- liberalnya apalagi
- hedonismenya dan sebagainya sehingga
- agama ditinggalkan. Asing. Begitu orang
- ngomong benar itu asing. Maka ada orang
- Jawa mengatakan
- benar apa ora
- lumrah. Salah
- kaprah. Benar tapi gak umum gitu. Nah,
- orang lain enggak banyak ngamalkan.
- Katanya benar ning ora lumrah enggak
- dipakai. Akhirnya benar itu wong
- kebiasaan orang begitu salah ya sudah
- salah kaprah salah tapi sudah biasa.
- Misalnya kalau dulu namanya laki-laki
- perempuan masih ada batas-batas gitu ya,
- jalan berdua aja malu. Tapi lama-lama
- sekarang jam modern sudah pacaran bebas
- gitu ya sudah biasa hanya gak
- apa-apa
- bahkan nikah hamil duluan juga enggak
- apa-apa karena sudah salah kaprah.
- Jadi, Subhanallah. Dalam keadaan seperti
- itu,
- maka kita jangan
- ikut-ikutan. Ini ujian buat
- kita. Seperti
- emas kalau digosok makin mengkilat dia.
- Tapi kalau bukan emas ya luntur. Di sini
- ujian buat kita. Apakah betul kita orang
- beriman atau tidak.
- Kalau betul kita orang beriman, situasi
- kanan kiri gak akan berpengaruh. Kalau
- mutiara tetap mutiara. Kalau berlian
- tetap berian walaupun di tengah
- comberan. Nah, hidup di tengah-tengah
- seperti itu kalau kita istikamah
- mempertahankan akidah keimanan,
- pahalanya berlipat-lipat dibanding
- situasi yang kondusif ya, tidak ada
- ujian dan tidak ada tantangan. Jadi di
- sinilah makanya diperintahkan berpegang
- teguhlah pada Al-Qur'an dan sunah Nabi.
- Karena Al-Qur'an masih ada, sunah Nabi
- masih jelas, pedoman agama masih jelas.
- Ikut ini yang benar. Nabi juga pernah
- berpesan, "Alaikum bisunnati wasunatil
- khulafa rasyidin alam Majid." Fatamasaku
- biha waaddu alaiha binawajid.
- Pegang teguh sunahku dan sunah khulafa
- rasyidin almajin. Contoh khulafa
- rasyidin almajin, Abu Bakar, Umar,
- Utsman,
- Ali itu dapat
- jaminan bahkan gigit pegang teguh dia,
- gigit dengan gigi geraham kamu. Artinya
- memang supaya tidak lepas. Jangan
- mencoba melepaskan agama dalam kehidupan
- seperti ini. Melepaskan kehidupan agama
- dalam situasi seperti itu, kita akan
- hanyut di bawah.
- Ibarat kapal pegang teguh itu kompas dan
- kemudi sekalipun mengarungi samudra
- kehidupan. Kalau kita coba lepas itu
- kompas dan kemudian hanya dibawa oleh
- arus gelombang kehidupan. Kita akan
- terdampar dalam penyesalan yang
- berkepanjangan. Jadi Ibu Farida Naim
- mari sama-sama memang ini sebagai ujian
- buat kita semuanya maka amankan diriku
- anfusakum wa ahlikum naro.
- Jaga dirimu dan keluargamu dari api
- neraka. Artinya kehidupan agama itu
- serius gitu. Sebab kebanyakan kita
- kadang-kadang agama itu asal bisa sudah
- baca pernah belajar Quran sampai khatam
- terus khataman kenduren sudahudah
- dianggap hebat sempurna salatnya.
- Apalagi sudah pergi haji ya sudah pakai
- sorban dianggap sudah sempurna. Itu baru
- bagian
- saja. Agama itu seluruh aspek hidup
- kita.
- Bahkan harus mewarnai jiwa, relung hati
- kita, otak kita, pandangan hidup,
- sel-sel tubuh kita, darah kita diwarnai
- akidah keimanan lailahaillallah diwarnai
- oleh Al-Qur'an dan sunah
- nabinya. Itu jadi bukan sekadar ritual
- semata-mata. Nah, diuji oleh Allah
- dengan kegoncangan. Jadi semua yang
- terjadi sebenarnya, apapun yang terjadi
- ini merupakan ujian buat kita untuk
- menguji sejauh di mana keimanan kita
- kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Insyaallah ujian itu akan
- berlalu, badai akan berlalu, itu pasti
- pasti berlalu. Gak akan selamanya. Yang
- hak datang, yang batil pasti akan
- musnah.
- Kalau kita menghadapi gelapnya malam,
- segelap-gelap malam toh masih ada
- secercah bintang yang bersinar.
- Sekalipun hari ini mendung, insyaallah
- kita optimis, esok lusa mentari akan
- muncul juga. Nah, jadi hal-hal seperti
- itu memang kita yakini apalagi agama
- jelas agama akan bawa kepada
- keselamatan. Maka pegang teguh agama ini
- kita praktikkan dalam kehidupan.
- Keluarga, anak-anak semua. Syukur kita
- bisa mempengaruhi teman, sahabat,
- tetangga. Maka kewajiban kita untuk
- menyampaikan, mengajak mereka, mari kita
- hidupkan Islam dalam kehidupan kita.
- Mudah-mudahan kita bisa selamat
- semuanya, Bu. Alhamdulillah. Wallahuam.
- Ya, terima kasih, Ustaz, atas
- jawabannya. Semoga Ibu Farida tadi ikut
- menyimak. Jadi, kesimpulannya adalah
- badai pasti berlalu, Ustaz. Ya, pasti
- berlalu. Ya, kita beralih ke pertanyaan
- selanjutnya, Ustaz.
- dari Ahmad di Cibubur. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz, bagaimana tanggung
- jawab seorang sarjana muslim setelah ia
- mendapatkan gelar sarjana di jurusan
- dakwah dalam kehidupan sehari-hari?
- Apakah berdosa bila ilmu yang telah
- didapatkan namun tidak dilaksanakan
- dalam kehidupan yang sebenarnya?
- Jazakallah khair. Yah, seperti pohon
- yang tidak
- berbuah ya. punya ilmu tapi enggak
- diamalkan. Kalau ketemu tukang batak,
- tahu tukang bata yang bata itu perlu
- dibakar supaya merah. Yang dicari itu
- pohon yang tidak ada buahnya ditebang
- untuk bakar
- bata. Jadi ini masyaallah kewajiban kita
- sebagai seorang muslim. Muslim itu
- dilahirkan sebagai
- pejuang. Dia tidak boleh ariori dalam
- lingkungan.
- Kuntum khair umat ukhrijat linas
- tamuruna bil maruf watanhaunail munkar.
- Jadi dilahirkan sebagai di tengah-tengah
- umat. Memang gak bisa sendiri tapi
- sesuai dengan makam ilmunya. Jelas itu
- akan menuntut akan ditanya oleh Allah
- ilmunya untuk
- apa? Sejauh di mana kepedulian kamu
- terhadap
- agamamu? Ya. Kalau dia ambil juruhan
- dakwah jelas itu amanah.
- Sebisa mungkin dia harus bergerak
- memperhatikan Islam. Apalagi hari ini
- diperlukan sekali amar makruf nahi
- mungkar. Jadi kalau tidak diamalkan
- dosa, kewajiban harus berdakwah. Dakwah
- itu tidak hanya jangankan yang memang
- dia sarjana muslim, sarjana yang
- mengambil jurusan dakwah. Seorang muslim
- pun berkewajiban untuk terus
- menghidupkan agama dan mengajak pada
- orang lain. Amar makruf nahi mungkar.
- mencegah ya menyuruh kebaikan mencegah
- kemungkaran itu
- kewajiban diazab oleh Allah satu kaum
- yang mereka beramal sebagai amalan para
- nabi tapi tidak amar makruf nahi mungkar
- dia menjadi manusia a priori manusia
- yang tidak bertanggung jawab terhadap
- urusan Islam dan
- agamanya dosa dia. Jadi apalagi dia
- seorang sarjana harus dia jangan
- ditinggalkan itu ilmu dakwahnya bahkan
- dikembangkan ciptakan suasana kaderisasi
- kita dakwah dengan apa yang bisa kita
- lakukan maka bergabung gak bisa
- sendirian bergabung dengan teman-teman
- yang majelis dakwah atau apa komunitas
- yang sama-sama berdakwah sehingga itu
- akan berperan dalam kehidupan
- bermasyarakat. Tapi ini satu kewajiban
- dan yang dilakukan oleh para nabi justru
- ditugaskan untuk menyampaikan dakwah
- kepada manusia, amar makruf nahi
- mungkar. Menyeru manusia menyembah
- kepada Allah, mencegah kemungkaran
- supaya jangan ada
- kezaliman. Supaya mendamaikan manusia
- yang berseterut, mengajak manusia
- berbuat kebaikan. Ini luar biasa. Bahkan
- Rasulullah pernah mengatakan,
- "Sebaik-baik manusia yang berjalan di
- muka bumi adalah para murabbi,
- para dai, para alim.
- Kenapa? Karena ketika Islam tercemar,
- dia yang
- menetralisir. Karena ada yang
- membengkokkan apa kesalahan dan
- sebagainya, dia yang meluruskan. Itu
- kerjaan para
- dai. Cuma dari prospek ekonomi
- kadang-kadang itu yang menjadi hantu may
- bayang-bayangnya. Aduh nanti nanti
- kumahanya lamun jadi dakwah kita mah teu
- aya duitna cenah. Oi kira mending kita
- kerja, mending kita apa jadi apa anggota
- DPR atau partai yang kemudian dakwahnya
- ditinggalkan. Masyaallah dosa itu. Jadi
- jangan nanti Allah yang akan menjamin
- insyaallah kalau kita menghidupkan agama
- Allah melewati nanti Allah yang menjamin
- hidupnya. masa menjadi pegawai
- karyawan jadi digaji oleh atasannya maka
- menjadi karyawan Allah enggak digaji ya.
- Jadi saya kira demikian dosa kalau dia
- sampai menyanyiakan ilmu dakwahnya tidak
- dipraktikkan dalam kehidupan.
- Wallahuamubillah.
- Baik mungkin Ustaz ini pertanyaan
- terakhir Ustaz ya itu datangnya dari
- hamba Allah di Banyuwangi. Ustaz
- masyaallah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuhalikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz,
- tolong diberikan penjelasan tentang
- istilah dakwah dengan perbuatan lebih
- besar nilainya dibandingkan dengan
- dakwah yang hanya lewat lisan atau
- ucapan.
- Maksudnya dakwah bilhal atau gimana? Ya,
- ini di sini dakwah yang dilakukan
- langsung dengan lisan begini. Oh, iya.
- Jelas memang dakwah itu berbagai macam.
- Ada dakwah bil kutub dengan tulisan itu
- juga ya perintah tetap itu tidak
- mengurangi nilai dakwah karena bisa
- dibaca kapan saja dan bisa terus-menerus
- bisa dibaca banyak orang. Dakwah bilisan
- ya itu juga kewajiban jangan
- ditinggalkan lewat radio, lewat TV
- langsung di masyarakat. Ada dakwah
- bilhal. Dakwah bilah itu dengan tanpa
- kata-kata tapi perilaku. Memberikan
- contoh kemudian berikan penyeluhan. pada
- kebaikan dan berbagai amalan-amalan yang
- kebaikan yang langsung diterapkan dalam
- kehidupan. Tentu itu akan juga
- pengaruhnya akan lebih kuat karena ada
- praktik langsung ya. Tapi intinya ya
- sama-sama itu sudah bisa ditinggal
- semuanya menjadi penting bilisan, bil
- kutub ya bilhal itu semua harus kita
- lakukan. Makanya gak bisa dakwah itu
- sendiri. Maka perintahnya kuntum khair
- umat. Oh, kamu adalah sebaik-baik umat.
- Artinya dakwah itu kolektif bersama
- kekuatan lain. Tidak bisa dakwah
- menyelesaikan persoalan gak bisa. Mesti
- dengan harus dengan yang lain. Para
- agnianya, pengusahanya harus mendukung
- supaya bisa bilhalnya bagaimana
- membangkitkan ekonomi lemah, ekonomi
- umat. Berikan contoh bagaimana berusaha
- yang halal, yang jujur, yang baik, yang
- bisa membawa maslahat yang banyak dan
- seterusnya. juga dari berbagai komponen
- para umaranya dan seterusnya. Jadi ini
- memang dakwah itu sebenarnya bukan hanya
- pekerjaan dai saja, tapi sebenarnya
- adalah secara kolektif harus dikerjakan
- secara
- berintegritas seluruh kekuatan yang ada.
- Kalau ini yang terjadi, insyaallah umat
- Islam akan akan lebih maju dan
- berkembang. Jadi semuanya harus
- dilakukan dengan bersama-sama secara
- integral. Wallahuam. Insyaallah.
- Ya. Baik, terima kasih Ustaz atas
- pencerahan dan juga jawaban-jawabannya
- di kesempatan tausiah sore kali ini.
- Mungkin ada kesimpulan sedikit, Ustaz,
- di Iya.
- Inilah keyakinan kita bahwa Islam adalah
- agama yang
- benar. Pertama, karena itu wahyu
- Allah yang sama yang pernah diturunkan
- pada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.
- Ketika Nabi Muhammad wafat, itu pun
- sudah meninggalkan contoh-contoh dan
- pesan-pesan. selama 23 tahun cukuplah.
- Bahkan Allah sudah menyatakan lengkap
- dan sempurna. Dilanjutkan praktik
- kehidupan ri sehari-hari oleh Khulafa
- Rasyidin Almahdiin. Jadi jelas kemudian
- di abad ini Islam saat ayat-ayat Allah
- makin dikaji oleh orang-orang yang apa
- namanya dia ada kepedulian dan pengin
- tahu. Betul.
- Ternyata syariat butiran-butiran syariat
- itu ternyata menunjukkan kebenaran. baik
- secara ilmiah atau realita. Jadi kita
- sebagai orang beriman tentu lebih
- meyakini lagi bahwa benarlah Islam
- selain wahyu Allah. Yang kedua, Islam
- adalah agama yang benar. Innaddina
- indallah Islam. Demikian yang bisa saya
- sampaikan dalam kesempatan sore hari
- ini. Mohon maaf segala kekurangan
- kekeliruan sebagai hamba Allah yang
- tentu saja tidak lepas dari kekurangan
- dan kekeliruan. Mudah-mudahan Allah
- mengampuni dan para pendengar, para
- pemirsa bisa memaklumi. Mohon maaf.
- Wabillahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallah
- khair Ustaz Abul Hidayat Saraji dalam
- kesempatan tausiah seri kali ini dengan
- tema meyakini Islam adalah agama yang
- benar. Baik ikhwan dan akhwat. Saya
- Khalid Mustofa pamit undur diri ditemani
- Dedi, Yusuf Subangkit dan juga Rasyid
- pamit undur diri. Mohon maaf tidak semua
- SMS bisa dibacakan karena keterbatasan
- waktu. Subhanakallahumma wabihamdika
- ashadu alla ilahailla anta astagfiruka
- wa atubu ilaik. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]