Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- irrahim. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah wasyukurillah kembali
- hadir ke ruang kita fikih wanita bersama
- Ustazah Herline Amran. Mbak Olin enggak
- bisa dampingi. Mudah-mudahan ee kita
- akan bersama-sama sampai 1 jam ke depan
- yang merupakan kesempatan bagi kita
- untuk belajar banyak nih. Karena
- topiknya bisa jadi memang
- perlu banget kita genggam erat ya nanti
- persisnya seperti apa. Kita sapa dulu
- ustazah kita. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Tambah bersinar cahaya wajahnya.
- Alhamdulillah
- belakangnya itu ada cahaya yang
- mencahayai kita semua, Mbak.
- Masyaallah. Allah Subhanahu wa taala.
- Baik, untuk hari ini persisnya bagaimana
- kita belajar tentang cinta. Terus apaagi
- tadi?
- Keteguhan iman.
- He
- tawakal dari Nabi Ibrahim Alaih Salam.
- Jadi, ikhwan akhwat, kita belajar bukan
- saja tentang hal-hal yang tidak ada
- kaitan dengannya dengan perasaan karena
- cinta, keteguhan tawakal itu semuanya
- ada semuanya ada dalam rohani rohani.
- Baik, Ustazah Herlini Amran, kami akan
- dengarkan sepenuh hati, sepenuh rasa
- dengan telinga jiwa kami. Silakan.
- Jazakillahir Mbak Nuning.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi
- alafa baubinaahna
- ikhwana. Ya rabbana lakal hamdu bil
- iman. Ya rabbana lakal hamdu bil islam.
- Ya rabbana lakal hamdu bil ahli wal mua.
- Allahumma shi wasallim wabik sayidina
- Muhammadin waa alihi
- aj
- Allah inaluka
- jannah naubika minatika amin ya rabbal
- alamin. Hari ini [berdehem] hari Jumat
- yang dimuliakan Allah ini kita belajar
- ya pada belajar dari Nabi ee Ibrahim
- Alaih Salam
- bahwa
- bahwa beliau merupakan teladan kita
- karena kita diingatkan, diberikan
- perintah oleh Allah dalam Al-Qur'an ya
- kan lakum fi Ibrahim uswatun hasanah.
- Sesungguhnya pada diri Nabi Ibrahim itu
- terdapat teladan yang baik bagi kalian.
- Jadi kita meneladani Nabi Ibrahim Alaih
- Salam. Kita belajar ya meneladani
- tentang cinta, keteguhan hati,
- ketawakalan ya. Ee sebenarnya banyak
- model ee kita lihat ya Nabi Ibrahim
- Alaih Salam ini ee dari wahyu Allah
- Al-Qur'an itu model manusia sempurna itu
- ya Nabi Ibrahim Alaih Salam dan
- Rasulullah. Karena dua manusia terpilih
- yang terbaik inilah yang kita umat Islam
- di akhir zaman itu wajib meneladani ee
- beliau berdua ya. Nah, kita kali ini
- belajar ee meneladani Nabi Ibrahim Alaih
- Salam. Beliau tuh model manusia yang
- sempurna dalam tauhidnya, dalam ee ujian
- yang Allah berikan ya keteguhan hatinya,
- ketawakalannya.
- ee beliau tuh model yang sempurna
- bagaimana beliau menghadapi dakwah ya
- dan juga terhadap keluarganya. Ee
- keistimewaan Nabi Ibrahim ini banyak,
- keteladanan beliau itu banyak. Tapi
- dalam kesempatan waktu kita yang singkat
- ini, kita ee sebagian kecil ya kita
- belajar dari Nabi Ibrahim Alaih Salam ee
- tentang cinta, keteguhan ee iman dan
- tawakal ya. di antaranya yang pertama ya
- ee bahwa dari kisah Nabi Ibrahim Alaih
- Salam ini kita belajar bahwa
- ketidakhadiran seorang ayah dalam
- menjalankan perannya itu tidak
- menggugurkan kewajiban berbakti seorang
- anak ya. Jadi maksudnya ee bisa jadi
- seorang ayah itu ee lalai atau mungkin
- beda akidah ya atau tidak se agama ya,
- tapi itu tidak menggugurkan kewajiban
- anak berbakti kepada orang tuanya. Nih
- indah banget ya yang bagaimana
- keteladanan Nabi Ibrahim Alaih Salam.
- Ya, kita lihat kan kita tahu bapaknya
- itu adalah ee memproduk berhala. Padahal
- Nabi Ibrahim diutus Allah untuk
- memberantasnya. Nah, kita lihat
- bagaimana ee Nabi Ibrahim Alaih Salam
- itu berkata kepada ayahnya namanya Azar
- ya. Azar itu dengan penuh kasih sayang
- dan kekhawatiran ya dalam surat Maryam
- ayat 44 ya. Ya abati la tabudusiton
- innyaitana kana lirrahmani asiya. Itu eh
- pakai kalimat ya abati. Wahai ayahku
- jangan engkau menyembah setan ya. Atau
- misalnya dalam surat Maryam ayat 45nya
- ya. Ya abati iniahmanya.
- Wahai ayahku ya abati. Ya nanti kita
- jelaskan sedikit tentang abati.
- Sesungguhnya aku khawatir engkau akan
- ditimpa azab dari Allah yang maha
- pengasih. Nah, kita lihat ya bagaimana
- Nabi Ibrahim Alaih Salam ini
- mempergunakan kalimat ya abati. Ya
- abati. Jadi kalau kita bicara ya abati
- ini itu ee memang bahasa Arab tuh luar
- biasa ya. Ee apa namanya?
- Kata-kata yang diucapkan itu tuh
- memiliki makna tersendiri ya. Makanya
- kita perhatikan misalnya ee
- maaf misalnya ee apa perbedaan ya antara
- ya abati dengan ya abi. Kan biasa kita
- kalau manggil ayah tuh kan abi abi gitu
- ya.
- Ini bukan sekedar bahasa biasa,
- panggilan biasa ya. Abi itu biasa sih ee
- artinya bukan ya biasa aja kalimat
- biasa. Tapi kalau ya abati itu dalam
- konteks bahasa Arab yang penuh dengan
- balagah, keindahan makna kata itu ada
- nuansa ya abati itu ee lembut ee penuh
- kecintaan, penuh kasih sayang itu ya
- bentuk yang lebih halus itu ya itu
- bedanya kalau ya Abi ya memang bahasa
- Indonesia susah sih Mbak ya kalau kita
- menterjemahkannya ya wahai ayahku gitu
- aja kan ini bentuk biasa manggil ayah
- secara umum ya makna Biasalah ayah. Tapi
- kalau ya abati kalau kita terjemahkan
- lebih detail ya. Wahai ayahku tercinta,
- wahai ayah yang aku hormati. Jadi halus,
- lembut, penuh kasih sayang. Itu jadi
- nuansa-nuansa penghormatan tinggi,
- nuansa-nuansa yang baik menunjukkan
- kecintaan. Nah, lihat bagaimana Nabi
- Ibrahim berdakwah kepada ayahnya. Ya
- abati la ta'buditan.
- Wahai ayahku tercinta, janganlah engkau
- janganlah engkau menyembah setan, gitu
- ya. Jadi perhatikan lihat kondisi
- ayahnya. Ayahnya itu musyrik. Ayahnya
- itu bertentangan dengan ee beliau diutus
- ya menolak dakwah bahkan mengancam. Tapi
- Nabi Ibrahim itu memilih kata yang
- lembut. Ya abati, wahai ayahku yang aku
- cintai, yang aku hormati, yang aku
- muliakan. Jadi di sini kita belajar
- bahwa berdakwah kepada orang tua itu ee
- walaupun orang tua kita berbeda
- pemahaman dengan kita itu wajib seorang
- anak itu memiliki adab yang tinggi. Ya
- walaupun ayah itu beda akidah dengan
- kita. Pergunakan bahasa yang lembut,
- tidak berkata kasar, tidak merendahkan.
- Sesuai dengan perintah Allah kan dalam
- surat Al-Isra ya. wa eh waahuma eh
- karima ucapkanlah kepada keduanya dengan
- perkataan yang mulia. Jadi menyampaikan
- kebenaran itu wajib tapi dengan siapa
- kita berhadapan. Padahal ayahnya Nabi
- Ibrahim itu menyembah berhala bahkan
- termasuk ee pengikut setan ya. Tapi
- berbakti di sini bukan berarti kita
- membenarkan kesalahan ya. Bukan berarti
- kita membenarkan kesalahan, tapi
- dilandasi rasa cinta, rasa khawatir.
- Nabi Ibrahim itu ee memberikan kalimat
- yang penuh dengan kasih sayang, tidak
- mendebat. Ya. Jadi dakwah beliau kepada
- ayahnya yang berbeda akidah itu lahir
- dari hati yang peduli. Bukan karena
- ingin apa ya ee mentang-mentang gitu ya.
- Jadi bagaimana kita belajar Nabi Ibrahim
- seapun bapaknya yang mengancamnya yang
- beda akidah tapi beliau berkata bertutur
- kata dengan kelembutan ya. Bahkan kita
- tahu ya di ayat lain bagaimana ayahnya
- tuh mengancam akan merajamnya,
- mengusirnya. Tapi respon Nabi Ibrahim
- tuh enggak begitu ya. Jadi ee salam jadi
- salam sejahta bagimu. Aku mohon ampunan
- kepada Allah untukmu. Jadi sikap Nabi
- Ibrahim tidak membalas dengan kasar,
- tidak memutuskan hubungan dengan
- kebencian, tapi mendoakan. Ini puncak
- akhlak seorang anak ya. Jadi luar biasa
- ini. Ini buat kita. Coba lihat,
- bayangkan atau bandingkan Mbak Nuning,
- anak kita masih bersama kita. kita yang
- menafkahi, membimbing, memberikan kasih
- sayang. Tapi dalam kebaikan kita ee
- dengan kasih sayang kita sampaikan, tapi
- apa balasan anak? Ya, jadi ini beda
- banget dengan Nabi Ibrahim. Makanya Nabi
- Ibrahim ini menjadi kduwah kita, uswah
- kita. Jadi Islam tuh sangat tegas. Wajib
- berbakti kepada orang tua. Tidak boleh
- taat jika mereka mengajak kepada
- kemaksiatan. Ya. Jadi di sinilah ee
- keteladanan kita ya tentang bagaimana
- cintanya Nabi Ibrahim kepada ayahnya itu
- ee walaupun berbeda akidah tapi dia
- tetap ee beliau ini tetap memberikan
- tutur kata yang santun, yang hormat itu
- dari ucapan itu sudah kelihatan ya. Nah,
- sekarang kita lihat contoh nyata ya
- dalam kehidupan kita. Misalnya ee ada
- orang tua yang tidak salat itu seorang
- anak tuh memang itu kan kemungkaran ya.
- tidak boleh membiarkan begitu saja. Ah,
- biarin aja orang tua ini. Tidak. Tetap
- diingatkan. Tapi tidak boleh dengan
- kata-kata yang kasar, menyinggung
- perasaan. Ya. Ya, mestinya kan gini, aku
- khawatir nanti begitu ya modelnya tuh
- Nabi Ibrahim itu lembut dan halus ya.
- Jadi ayah ee walaupun tidak hadir dalam
- pendidikan kepada anaknya ya ee orang
- tua bisa jadi keras ya mungkin ee
- memiliki ee pokoknya ya ini kan orang
- tua kita enggak kafir kan masih muslim
- masih baik ya maksudnya walaupun mungkin
- tidak tidak lembut gitu ya tapi tetap
- seorang anak itu enggak boleh durhaka
- tetap menjaga adab tetap mendoakan
- walaupun orang tua itu berbeda prinsip,
- berbeda agama, berbeda akidah, tetap
- dihormati, tetap disapa dengan baik,
- tetap dibantu. Jadi, tapi dengan tidak
- mengikuti kesalahan. Kalau memang salah
- orang tua itu kesalahan mereka ya.
- Mungkin pola asuhnya tidak baik, memang
- kasar. Nah, ini ibrah buat kita,
- pelajaran buat kita. Bagaimana Allah
- menggambarkan tutur kata Nabi Ibrahim
- itu sudah menjelaskan ucapannya saja ya
- abati. Itu bentuk kasih sayang ya. Jadi
- bahwa
- ee bakti kepada orang tua itu kewajiban
- mutlak ya, tidak gugur karena kekurangan
- mereka ya. Kemudian ee kita juga
- mengambil ee pelajaran bahwa jangan
- membalas keburukan dengan keburukan ya.
- Akhlak yang tinggi seorang anak itu
- terlihat ya saat dia disakiti ya. Jadi
- cinta sejati itu ingin menyelamatkan
- bukan ee memenangkan perdebatan ya. Jadi
- inilah bentuk bagaimana Nabi Ibrahim
- Alaih Salam bahkan beliau mendoakan
- ayahnya dan Allah tidak menerima ya
- mendoakan ee yang sudah kafir apalagi
- yang sudah meninggal ya. Tapi ee itu
- diralat oleh Allah. Jadi ini buat kita
- sekali lagi bahwa Nabi Ibrahim Alaih
- Salam itu mengajarkan kepada kita bahwa
- tetaplah menjadi anak yang baik meskipun
- tidak memiliki orang tua yang sempurna.
- Ya, karena kelak kita di hadapan Allah
- yang ditanya tuh bukan bagaimana orang
- tuamu memperlakukanmu,
- tapi bagaimana engkau berbakti kepada
- mereka. Masyaallah. Apalagi sekarang di
- tengah maraknya luka batin-luga batin
- ya, Mbak ya. Luka batin anak karena pola
- asuh orang tua. Ya sudahlah mau apalagi
- orang tuanya sudah golongan baby boomers
- kali ya yang [tertawa] sudah karatan
- enggak bisa di ee beri masukan ya. Jadi
- kita ee sebagai seorang anak pilih kata
- terbaik saat berbicara dengan orang tua
- ya. Jadi ee orang tua kita ini adalah
- merupakan ee wasiat Allah berbakti
- kepadanya. Karena digandeng, Mbak ya.
- Dalam Al-Qur'an kan suka ada dua
- perintah yang digandeng ya. Misalnya wa
- aminu waamilus shihat, iman beramal
- saleh. Kemudian ee waqimusah wau zakat.
- E jadi laksanakan ee salat, tunaikan
- zakat, kemudian ee
- apa wala tusik billah itu jangan
- mensekutukan Allah. Kemudian wabil
- walidain sana itu
- digandeng-gandengannya.
- Jadi sekali lagi kita dengan orang tua
- itu seperti Nabi Ibrahim Alaih Salam itu
- walau bagaimanapun orang tuanya itu
- tetap beliau itu ee penuh dengan
- kelembutan. Karena kita tahu ya ucapan
- lembut itu bisa mengetuk hati kita ya.
- Misalnya gini melihat kesalahan ayah
- gitu ya, salah langsung bilang salah tuh
- ayah bukan begitu ya. Jadi artinya
- bagaimana ya tutur kata itu yang perlu
- kita ee terapkan ya kepada orang tua
- kita. Jadi kalaupun misalnya salah salah
- asuh ya mungkin orang tua kita
- memberikan contoh yang buruk itu bukan
- berarti kita akan melakukannya juga
- kepada anak kita kan. Putuskan mata
- rantainya. Nah jadi inilah Nabi Ibrahim
- Alaih Salam. Subhanallah ya. Luar biasa
- beliau itu dengan kata-kata tadi, "Ya
- abati, ya abati, ya abati inni aku."
- Wahai aku, aku khawatir engkau ditimpa
- azab. Nah, itu jadi ini ee
- teladan yang pertama ya,
- maaf
- itu yang pertama ee dari ucapan Nabi
- Ibrahim Alaih Salam kepada ee
- ayahnya. Mbak Nuning sebentar ya. sama
- minum ya. He daripada kesedek. [tertawa]
- Alhamdulillah. Ini memang batuk ini
- sudah berapa lama? Masih ini aja.
- [berdehem]
- Itu yang pertama ya. bagaimana
- keteladanan Nabi Ibrahim
- yang wajib kita ikuti, yang wajib kita
- tiru. Ya. Kemudian yang kedua
- bahwa dari kisah Nabi Ibrahim Alaih
- Salam ini kita belajar bahwa kebatilan
- itu harus ee
- dibongkar ya dengan kecerdasan.
- Kebatilan itu harus diungkap dengan
- kecerdasan.
- Jadi cerdasnya Nabi Ibrahim ini ee
- contoh ya.
- He
- ketika
- beliau ee menghancurkan patung itu,
- Mbak.
- Iya.
- I kan ee ketika ada hari perayaannya itu
- Nabi Ibrahim enggak mau diajak ya yang
- penyembah berhala itu ada patung-patung
- semuanya dihancurin kecuali yang paling
- besar ya. Nah, kemudian ditanya siapa
- tuh yang menghancurkan patung itu? Ya,
- dalam Al-Qur'an kan diabadikan di surat
- Al-Anbiya ayat 63. Q.
- itu tuh yang e menghancurkan tu tuh yang
- gede tuh gitu [tertawa] ya. He.
- Jadi pas datang mereka tuh orang-orang
- menyembah berhala kok hancur semua nih
- patung-patung tapi tinggal satu nih yang
- paling besar. Terus oh ada tuh orang
- anak muda yang namanya Ibrahim yang
- menentang ee apa aktivitas kita nih
- penyembahan penyembahan tuhan-tuhan ini
- gitu. Terus dipanggil kamu ya yang ee
- menghancurkan. Terus kata Nabi Ibrahim
- tuh tanya aja tuh justru berhala yang
- paling besar itu yang melakukannya gitu.
- Jadi Nabi Ibrahim itu
- tuh yang gede tuh masih itu kan masih
- masih utuh tuh dia tuh yang ngerjain tuh
- yang yang menghancurkan semua gitu ya.
- Nah, ini yang disampaikan oleh Nabi
- Ibrahim Alaih Salam ini kan bukan
- bohong, ini bukan dusta, tapi ini adalah
- strategi dakwah ya maarf ya. Jadi secara
- zahir ucapan ini terlihat seperti
- menyandarkan perbuatan kepada ee berhala
- besar itu, patung besar itu. Jadi, Nabi
- itu enggak berdusta. Jadi, beliau itu
- ingin menegaskan ya maksudnya ee bahwa
- ya supaya dia berpikir ya ee kaumnya itu
- berpikir tanyakan saja kepada itu tuh ee
- berhala itu, patung itu, kalau mereka
- bisa bicara. Jadi ini bentuk sindiran ya
- secara tidak langsung itu ee biar mereka
- tuh berpikir karena kalau dituhankan
- berarti dia mampu menolong dirinya
- sendiri. Jadi Nabi Ibrahim
- itu menyampaikan itu dengan cerdas. Ini
- puncak kecerdasan dakwah sebenarnya.
- Jadi ke puncak kecerdasan dakwah itu
- adalah membuat lawan berpikir itu
- mengakui kesalahannya sendiri. Jadi
- membuktikan kelemahan apa yang mereka
- sembah selain Allah. Ya. Jadi itu
- argumennya Nabi Ibrahim Alaih Salam ya.
- Jadi jika berhala itu atau patung itu
- bisa menghancurkan berarti dia hidup.
- Kalau dia hidup berarti dia harus bisa
- bicara. Kalau dia enggak bisa bicara dia
- bukan Tuhan. Gitu ya. Makanya Allah
- menegaskan, "La yastaqiun
- w anfusahum yamsurun." Eh mereka tidak
- mampu menolong penyembahnya. Bahkan diri
- mereka sendiri pun tidak bisa menolong.
- Nah, jadi Allah tegaskan itu berhala
- yang mereka sembah, yang mereka anggap
- sebagai Tuhan itu enggak mampu
- menyelamatkan dirinya, gitu ya. Nah,
- jadi Nabi Ibrahim Alaih Salam
- mengajarkan kebenaran itu tidak hanya
- disampaikan, tapi juga diperjuangkan
- dengan kecerdasan.
- Ya, jadi ee kebatilan itu akan hancur
- itu bukan hanya karena kekuatan, Mbak,
- tapi dengan argumen yang tajam, hikmah
- gitu. memiliki hikmah dalam berdakwah,
- cara berpikir yang menggugah. Jadi
- artinya
- bahwa ee kita mengambil pelajaran dari
- Nabi Ibrahim itu bahwa kebatilan itu
- bisa diungkap dengan kecerdasan. Jadi
- dibongkar itu dengan kecerdasan. Jadi
- tidak hanya dengan kekuatan. Nah, itu ya
- itu yang kedua. Kemudian berikutnya kita
- belajar dari Nabi Ibrahim ini adalah
- bahwa ee berhala atau patung yang
- disembah itu bukan hanya batu dan kayu
- saja ya yang benda-benda itu ya, tapi
- patung berhala itu juga ada dalam jiwa
- manusia gu ya. seperti hawa nafsu yang
- merusak, kesesatan yang diikuti, adat
- usang atau tradisi yang diagung-agungkan
- yang bertentangan dengan Islam itu juga
- bisa menjadi Tuhan, menjadi berhala yang
- disembah. Ya. Nah, kan Allah ee dalam
- surat Aljasiyah yau
- hawa. Tidakkah kalian melihat orang yang
- menjadikan hawa nafsunya sebagai
- Tuhannya? Jadi ee dari kisah Nabi
- Ibrahim ini kita belajar bahwa ada loh
- manusia yang menjadikan hawa nafsu
- sebagai sesembahannya. Ya, apa
- maksudnya? Ee apa namanya? Berhala atau
- ee apa ya dalam jiwa tu Tuhan yang
- menjadi Tuhan itu ya. Jadi tidak hanya
- patung, tidak batu. Kalau dulu di masa
- Nabi Ibrahim kan itu berhala, patung,
- kayu ya kan. Sekarang sudah zaman now
- zaman kontemporer ini kan enggak patung
- yang disembah orang, tapi segala sesuatu
- yang lebih ditaati daripada Allah, yang
- lebih dicintai daripada Allah, yang
- lebih diikuti daripada perintah Allah,
- itulah yang dinamakan sesembahan ilah.
- Nah, jadi artinya kalimat
- lailahaillallah
- itu berlaku sepanjang masa. Kapan pun,
- di mana pun ya tidak ada ilah, tidak ada
- sesembahan apapun kecuali Allah.
- Jadi, Mbak hawa nafsu yang rusak, yang
- rusak itu hawa nafsu yang ee kan
- kebanyakan hawa nafsu orang tuh ya
- lebih dominan ya, Mbak ya.
- Ya, kayak misalnya kan kemarin Ramadan
- setan kan diikat, tapi kok masih ada
- juga orang yang masih ada juga yang
- korupsi gitu ya. Bahkan masih ada yang
- surupan gitu ya kan pada bingunglah kok
- bisa ini ya bisa kan setan katanya
- diikat ya itu setan diikat hawa nafsu
- kan enggak jadi hawa nafsu yang bisa
- menjadi Tuhan menjadi ilah yang disembah
- itu itu ketika dia tahu itu haram tapi
- dia masih juga melanggar dia masih
- memilih juga yang haram dan ee keinginan
- itu hawa nafsu itu menjadi standarnya
- benar atau salahnya bukan Al-Qur'an
- bukan Allah maka itu berarti dia sedang
- menyembah hawa nafsunya. Sedangkan Allah
- memberikan kita eh perintah ya
- wilayillah.
- Jangan kamu mengikuti hawa nafsu karena
- dia akan menyesatkan kamu dari jalan
- Allah. Jadi misal contoh ya ee kalau di
- masa Nabi Ibrahim itu kan ee yang
- disembah-sembah itu kan memang berhala,
- patung dan segala macam. Untuk saat ini
- yang namanya sesembahan itu bisa juga
- hal-hal yang bertentangan dengan syariat
- Allah. misalnya mengetahui riba itu
- haram, jelas haram, tapi masih juga ee
- ber apa namanya? bersentuhan,
- berinteraksi dengan dengan yang riba.
- Padahal ee dengan alasan ya butuh ini
- kan darurat, enggak ada yang namanya
- darurat. Kecuali kalau kemati nyawa ya
- jadi tantangan kan masih ada alternatif
- yang lain. Nah, itu berarti hawa nafsu
- menjadi ilah. Atau misalnya, Mbak ya,
- Islam atau Allah mewajibkan hambanya
- yang perempuan menutup aurat. Dia tahu
- itu wajib, tahu itu ada ayatnya semua
- jumhur ulama ya. Artinya itu memang
- wajib tapi masih juga dibuka aurat.
- Alasannya apa? Ya tren lah gitu ya. Yang
- penting percaya diri ya ee apa
- istilahnya tuh ee itu sih ya arti
- mumpung masih muda dan segala macam. Itu
- kan berarti hawa nafsu yang diutamakan
- ya. Jadi nafsu itu lebih ditaati
- daripada Allah. Itu berarti sudah
- mengilahkan hawa nafsu. Atau misalnya
- taklid buta ya. Kalau Nabi Ibrahim kan
- mengatakan inna wajadna aba ana ala eh
- kami mendapati nenek moyang kami
- melakukan ini gitu ya. Ee kaumnya itu
- ketika diajak menyembah Allah ini kan
- udah dari dulu nenek moyang kita
- menyembah ini ya udah enggak bisa
- diganti. Itu kan berarti tradisi taklid
- ya. Ini kan penyakit mengikuti tanpa
- ilmu, tanpa dalil ya. Jadi kalau ada hal
- yang tradisi apapun yang menyelisihi
- syariat yang bertentangan dengan syariat
- masih juga diikuti, itu berarti
- mengilahkan ee apa namanya? Taklid buta
- itu. Itu mengilahkan hawa nafsu. Taklid
- tadi tanpa ilmu itu mengilahkan selain
- Allah. Pokoknya apapun deh
- tradisi-tradisi yang bertentangan dengan
- syariat yang masih meyakini ada kekuatan
- selain kekuatan Allah itu kan berarti
- mengilahkan kekuatan tersebut ya. Atau
- misalnya
- apalagi contohnya Mbak ya keyakinan
- tentang hari sial misalnya angka sial
- itu ya
- ee ada hari sial angka sial atau mungkin
- ritual yang akan membawa keberkahan akan
- menyelamatkan.
- Artinya ada selain Allah yang mampu
- untuk menjaganya. Itu kan berarti sudah
- mengilahkan. Itu kan mirip dengan
- kaumnya Nabi Ibrahim. Nenek moyang kami
- sudah begini nanti kualat gitu kan. Nah
- itu jadi ee kalau kaumnya Nabi Ibrahim
- tuh masih mengikuti ee nenek moyangnya
- padahal dia tahu kan berpikir iya ya
- memang berhala ini enggak mampu
- menyelamatkan dirinya kenapa pula
- disembah. Tapi karena sudah mengikuti
- tradisi yang sudah mengakar, akhirnya
- mereka tetap mempertahankannya karena
- tekanan tradisi itu. Yait berarti dia
- mengilah mengilahkan Allah, ya
- mengilahkan sesuatu selain Allah. Jadi
- ini kan berbahaya, Mbak.
- Itu apa bedanya dengan yaitu mungkin
- umat ee apa kaum Nabi Ibrahim ee
- kontemporer gitu ya yang masih
- menganggap ada yang lebih ee yang sial
- yang segala macam ya. Tapi memang ini
- berat, ini bahaya. Kenapa? Kalau
- mengilahkan benda ya, batu, berhala,
- apapun itu enak ya bisa terlihat jelas
- salah ya, tahu nih dia nih, gitu ya.
- Masalahnya tuh kan berhala atau ee ilah
- tuh ada di hati tersembunyi gitu. Jadi
- seakan-akan menormalkannya ah sudahlah
- gitu ya. Bahkan bisa jadi dibela gitu
- ya. Nah, itulah sebabnya ee Rasulullah
- itu mengingatkan kita ya. Jadi yang aku
- minkum syirkul asar. Aku khawatir kalian
- tuh ee punya syirik kecil gitu ya.
- Seperti ri mengikuti hawa nafsu,
- mengagungkan selain Allah di hati. Itu
- kan juga ee termasuk itu syirik juga.
- Nah, sekarang
- bagaimana kita di zaman Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam umat yang
- terakhir ini agar kita ee menghancurkan
- berhala-berhala, sesembahan-sesembahan
- yang ada itu ya tentu saja kita
- menguatkan tauhid kita. Sebagaimana Nabi
- Ibrahim Alaih Salam tuh luar biasa.
- Beliau itu menjadikan Allah satu-satunya
- tujuan. Makanya beliau itu kan jadi
- Khalilullah, kekasihnya Allah. Jadi
- artinya kita juga bisa belajar
- meneladani Nabi Ibrahim Alaih Salam
- bahwa Allahlah satu-satunya tujuan hidup
- kita. Jadi semua apapun yang ada kita
- ukurannya itu adalah agar Allah rida
- enggak. Nah kemudian hawa nafsu itu
- dilawan ya. Ee tradisi yang tidak sesuai
- dengan syariat ya kita luruskan. Jadi
- artinya kita ee belajar ya dengan ee
- Nabi Ibrahim Alaih Salam. Dan Rasulullah
- kan Rasulullah itu kan juga mengikuti
- aba ana Ibrahim, abinya Rasulullah tuh
- ya abinya kita abul anbiya itu Nabi
- Ibrahim Alaih Salam. Jadi mudah-mudahan
- kita mampu ya ee menghancurkan
- berhala-berhala yang tersembunyi di hati
- kita. Kita hanya mengakui Allahlah
- satu-satunya yang menguasai kita ya.
- Sebagaimana Nabi Ibrahim telah ee
- contohkan itu. Yang kedua.
- Yang ketiga kita belajar dari Nabi
- Ibrahim Alaih Salam dari kisah beliau
- itu bahwa segala sesuatu di dunia ini
- hanyalah sebab-sebab yang berlaku bagi
- manusia, tidak berlaku bagi Allah.
- Maksudnya apa ya? Maksudnya ee yang di
- dunia ini kan sebab-sebab. Tapi itu
- berlakunya bagi manusia, tapi bagi Allah
- enggak berlaku. Contoh api yang membakar
- [berdehem]
- di bumi, di dunia ini pasti ee membakar
- ya, tapi ee tidak tidak menjadi dingin
- ee di sisi Allah. Bagi bagi Allah tuh
- bisa jadi dingin bahkan menyelamatkan
- menyelamatkan Nabi Ibrahim Alaih Salam.
- Jadi kita belajar dari sini bahwa tidak
- bergantung pada sebab, tetapi kepada
- Allahlah segala sebab. Jadi ini
- maksudnya apa? Maksudnya gini, Mbak. Ee
- pelajaran tauhid dan tawakal di sini
- yang paling tinggi ya dari kisah Nabi
- Ibrahim Alaih Salam ini tidak bergantung
- pada sebab, tapi kepada Rabb pemilik
- sebab, Rabbul Arbab gitu ya. Ee rabbul
- asbab. Contohnya gini, Mbak. Kan api itu
- membakar, tapi dengan izin Allah, dengan
- kekuasaan Allah bisa jadi enggak
- membakar. Yaaram
- wasalam ala Ibrahim. Wahai api. Itu
- firman Allah ya. Jadilah kamu dingin dan
- selamatkan ee Nabi Ibrahim. Jadi
- keselamatan bagi Nabi Ibrahim. Nah, itu
- kan ee bagi Allah tuh enggak berlaku tuh
- hukum sebab akibat. Tapi bagi manusia
- itu berlaku. Makanya kita hanya berusaha
- ya. Makanya Nabi Ibrahim kan kalimat
- yang beliau ucapkan, Mbak ya ketika
- dibakar itu ada riwayat menyebutkan
- sekitar 40 sampai 50 hari Nabi Ibrahim
- itu dibakar dengan ee api yang besar
- gitu menggunung. Tapi Nabi Ibrahim tidak
- merasakan panas ya. Kalau Nabi Ibrahim
- mengucapkan hasbiallah wanikmal wakil
- ya. Hasbiallah wanikmal wakil. Jadi
- hakikat sebab [berdehem] kita bicara
- sebab ya kan kita belajar dari kisah
- Nabi Ibrahim ini adalah kalau di dunia
- ini berlaku hukum sebab akibat tapi
- tidak berlaku bagi Allah gitu ya. Ee
- jadi hakikat sebab dalam pandangan Islam
- itu ee biasanya gini, kalau api itu kan
- membakar, kalau air itu kan
- menghilangkan haus, kalau obat itu kan
- menyembuhkan. Itu kan sunatullah di
- dunia ya. Tapi ingat sebab tidak bekerja
- sendiri karena ada Allah ya yang
- mengizinkannya. Kalau Allah enggak
- mengizinkan enggak akan terjadi. W
- tasyauna illa ayasya Allah. Kalian tidak
- dapat menghendaki sesuatu sesu kecuali
- [berdehem] Allah yang menghendaki. Jadi
- kita tuh hanya ikhtiar ya. Jadi kisah
- Nabi Ibrahim ini itu menjelaskan kepada
- kita bahwa saat sebab itu gagal total
- ya. Karena logikanya kan api itu panas.
- Jadi ee Raja Namrud itu membakar Nabi
- Ibrahim pasti hancur ya, pasti membakar.
- Tapi ingat
- api yang dinyalakan untuk Nabi Ibrahim
- yang sangat besar itu yang dikumpulkan
- kayu dalam jumlah yang banyak itu semua
- sebab itu sudah sempurna untuk membakar.
- Tapi ingat Allah memerintahkan kuni
- Bagdad jadilah dingin dan menyelamatkan.
- Maka api tetap api tapi tidak membakar.
- Jadi di sini pelajaran akidah buat kita
- bahwa Allah tidak tunduk pada sebab. Ya.
- Jadi sebab itu hanya berlaku pada
- makhluk tidak mengikat pada Allah.
- Artinya kan Allah yang menciptakan
- sebab, kan Allah yang mengatur sebab.
- Jadi Allah bisa membatalkan sebab itu
- kapan saja ya. Ee misalnya ada lagi ya
- dalam eh tentang Nabi Ibrahim ya.
- Alladzi khalaqoni fahua yahdin walladzi
- huaqin
- wa marah yasfin itu ya itu kan doa yang
- kita wau fahua yasin jadi dialah yang
- menciptakanku dia memberi petunjuk
- kepadaku. Dia memberikan makan dan minum
- kepadaku. Jika aku sakit dialah yang
- menyembuhkanku. Jadi perhatikan sini
- bukan obat yang menyembuhkan,
- tapi Allahlah yang menyembuhkan. Wa maru
- fahua yasfin. Kalau aku sakit, Allah
- yang menyembuhkan. Nah, kadang-kadang
- kita enggak sadar, Mbak. Seakan-akan
- yang menyembuhkan kita itu resep dokter
- tuh. Kalau sakit pilek nih, dokter itu
- tuh yang mantap tuh gitu ya. E sembuh
- deh kalau datang ke sana dikasih obat.
- itu keliru yang seperti itu. Jadi, sikap
- kita sebagai ee hamba Allah itu
- mengambil sebab tapi tidak bergantung
- pada sebab. Sekali lagi, sikap kita
- sebagai hamba Allah, kita mengambil
- sebab itu ikhtiar. Tapi tidak bergantung
- pada pada sebab itu. Islam tidak
- mengajarkan kita meninggalkan sebab ya,
- Mbak, tapi mengambil sebab itu sebagai
- ikhtiar. Misalnya gini, ah resikan di
- tangan Allah ya. Kalau rezeki mah dapat
- juga kita ngapain? Enggak bisa bekerja.
- Kerja dulu dong baru cari rezeki. Ya,
- berobat kalau sakit. Jadi ikhtiar tuh
- harus ditempuh. Itu sebab belajar dia
- mendapat ilmu. Nah, ini perintah syariat
- ini ya. Tapi ingat, hati kita tidak
- bergantung pada sebab. Hati itu
- bergantung kepada Allah. Nah, ini yang
- kita kadang-kadang tuh syirik itu syirik
- kecil, Mbak, ya. seakan-akan ini yang
- menyembuhkan itu adalah
- ee obat ini, dokter ini, atau
- seakan-akan kalau bekerja itu di sini
- dapat rezekinya banyak ya. Jadi ee yang
- namanya
- setelah kita usaha ikhtiar tawakal
- kepada Allah. Jadi seandainya kalian
- bertawakal kepada Allah dengan
- sebenar-benarnya kata Nabi, "Ya, niscaya
- kalian akan diberi rezeki sebagaimana
- burung diberi rezeki." Tapi ingat, tetap
- sambil ambil sebab burung kan keluar.
- Iya.
- Dia keluar. Nah, kemudian dia kan dia
- burung tuh tidak menyandarkan pada
- hasilnya daripada hasil usaha, tapi dia
- Allah berikan rezeki. Jadi, contohnya
- gini ya. Rezeki
- ee kalau kita kerja kan dapat gaji ya.
- Tapi ada orang yang kerjanya keras tapi
- hasilnya dikit gitu ya. Nah, ada orang
- yang ee dimudahkan ee apa namanya tanpa
- disangka. Jadi ini semuanya kehendak
- Allah yang penting kita berusaha. Jadi
- Allahlah yang memberi rezeki kita, bukan
- pekerjaan kita. Ya, kalau misalnya ada
- ada yang bingung sekarang banyak PHK ya
- Mbak, banyak yang ee pemutusan buang
- kerja
- akhirnya ya Allah mak kasih makan apa ya
- anakku istriku? Ya Allah, Allah yang
- memberezeki yang penting usaha kita
- usaha setelah itu fatawakal alallah
- pasti Allah akan berikan. Yang penting
- kita usaha dulu atau misalnya kesembuhan
- ya kan sebabnya obat kita berobat tapi
- yang menyembuhkan itu Allah. Jadi obat
- itu diminum. Makanya semua kembali
- kepada Allah. Ada yang minum obat tidak
- sembuh tapi ada yang tidak minum obat
- tanpa enggak enggak sembuh juga gitu.
- Jadi Allahlah yang menyembuhkan. Jadi
- semuanya kan kehendak Allah. Jadi sekali
- lagi kita hanya sebagai manusia di dunia
- ini berlaku hukum sebab akibat tapi itu
- tidak berlaku bagi Allah. Karena
- Allahlah yang memberikan kita
- segala-galanya. Kita hanya diperintahkan
- untuk berusaha. Ya, bahkan kita
- sudahctoh berdakwah ya sudah mengajak
- orang-orang terdekat kita untuk kembali
- kepada Allah segala macam kita tempuh
- tapi susah banget diajaknya ya. Karena
- memang hidayah itu di tangan Allah. Kita
- hanya kewajibannya menyampaikan saja.
- Innaka tahdi man ahbabta. Engkau tidak
- bisa beri hidayah kepada orang yang
- engkau cintai. Jadi ini luar biasa nih,
- Mbak ya. Bagaimana Nabi Ibrahim Alaih
- Salam tidak dibakar oleh api yang secara
- hukum sebab akibat itu kalau dibakar itu
- pasti merasakan panas. Tapi ini kan
- kembalikan kepada Allah. Jadi ini sekali
- lagi sangat berbahaya Mbak ya kalau kita
- bergantung pada sebab. Kalau hati
- bergantung pada sebab, pasti akan mudah
- putus asa,
- pasti akan merasa sombong, pasti mudah
- kecewa, pasti mudah stres karena dia
- menyandarkan harapannya pada sesuatu
- yang lemah. Sebab akhir artinya ketika
- sakit enggak sembuh-sembuh sudahudah
- akhirnya kecewa, putus. Iya, itu yang
- menyembuhkan Allah. Udah berusaha cari
- kerja masih juga enggak [tertawa] itu
- kan yang penting usaha. Nah, kita lihat
- kalau hati itu bergantung kepada Allah,
- kita hanya menempuh sebab saja. Pokoknya
- sebab itu harus harus dilakukan ya, Mbak
- ya. Karena hukum di dunia ini sebab
- akibat ya. Enggak mungkinlah kita tuh ke
- masjid siang malam berdoa minta rezeki
- tapi enggak keluar-keluar di masjid aja
- gimana gitu ya. Jadi yang penting usaha
- kemudian hasilnya serahkan kepada Allah.
- Nah, jika hati kita bergantung kepada
- Allah itu akan muncul ketenangan karena
- kita tahu semuanya itu di tangan Allah.
- tidak takut kehilangan sebab karena
- Allah bisa gantikan dengan yang lebih
- baik lagi. Dan tentu ketika berhasil
- kita tidak akan sombong ya karena kita
- sadar itu semuanya dari Allah. Jadi
- inilah hukum sebab akibat itu hanya
- berlaku di dunia tidak berlaku di sisi
- Allah. Jadi kalau kita lihat dari hikmah
- ini, api itu tidak membakar Nabi Ibrahim
- bukan karena api itu berubah sendiri
- tapi karena Allah segala sebab ya Rabb
- segala sebab yang menghendakinya. Maka
- pelajaran besar buat kita ya, kita
- gunakan sebab untuk seluruh apapun usaha
- kita di dunia, tapi gantungkan hati kita
- kepada Allah gitu. Masyaallah. Jadi ini
- ee lanjut Mbak atau kita rehat dulu?
- Lanjut. Lanjut banget.
- Baik. Lanjut ya. Ee kita belajar dari
- kisah Nabi Ibrahim ini bahwa Allah tidak
- butuh makhluknya.
- Ketika Allah memberi Nabi Ibrahim tugas
- ya, diutus untuk ee menyebarkan akidah
- tauhid ya itu kan tugas ya. Itu bukan
- kebutuhan Allah tapi itu untuk
- memuliakan Nabi Ibrahim. Jadi ketika
- Allah memberikan manusia itu tugas itu
- bukan untuk Allah tapi untuk kita
- sendiri.
- Heeh. Heeh.
- Kan contohnya misalnya Nabi Ibrahim kan
- dibakar oleh ee di di apa namanya? di ya
- oleh Raja Namrut itu kan dibakar ya
- karena memang ee berdakwah dihukumlah
- dihukum tapi kan tidak tidak berhasil ya
- kalau Allah mau Allah perintahkanlah ee
- malaikat Mikail ya untuk menuangkan air
- ke api dia padam gitu ya atau Jibril ee
- untuk memadamkannya dalam sekejap mata
- kan bisa. Tapi ketika Nabi Ibrahim tidak
- bergantung pada makhluk Allah pun
- mencukupkannya dari makhluk. Jadi kita
- belajar bahwa Allah tuh tidak butuh
- makhluknya, tapi Allahlah yang akan
- memberikan jalan keluar. Jadi ketika
- hati Nabi Ibrahim hanya bergantung
- kepada Allah, maka datanglah pertolongan
- dari Allah langsung. Masyaallah. Jadi
- sekali lagi ini pelajaran tauhid yang
- sangat mulia buat kita ya. Bagaimana
- Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan
- makhluknya. Setiap perintahnya kepada
- hamb-Nya itu adalah bentuk pemuliaan
- untuk hamba tersebut, bukan untuk Allah.
- Ya kan? kita diciptakan Allah kan e
- khalaqtul jinna wal insaudun itu untuk
- kita sebenarnya Allah tuh enggak butuh
- makhluknya. Allah itu ee tidak butuh
- kita tapi kitalah yang ee membutuhkan
- Allah ya. Jadi kita itu akan dimuliakan
- karena kita menjalankan tugas kita,
- melaksanakan kewajiban kita. Jadi ini ee
- tingkat tauhid yang luar biasa, Mbak ya.
- Allah enggak butuh ibadah kita, Allah
- enggak butuh ketaatan kita, Allah enggak
- butuh pertolongan kita. Tapi semua
- perintah Allah kepada kita,
- rambu-rambunya itu adalah untuk
- kemaslahatan dan kemuliaan kita sendiri.
- Kembali kepada kita. Jadi, apapun tugas
- kewajiban dari Allah itu sebenarnya
- bentuk pemuliaan kita, bukan bukan
- kebutuhan Allah. Jadi, ketika kita
- menjalankan ketaatan kepada Allah itu
- bukan karena Allah butuh, tapi kitalah
- yang butuh dan kita kembali untuk kita.
- Insyaallah.
- Iya. Jadi ee Allah tuh memerintahkan tuh
- bukan karena Allah butuh ya, tapi untuk
- mengangkat derajat manusia. Jadi
- contohnya Nabi Ibrahim deh ketika saat
- dilemparkan ke api ya kan bisa aja tadi
- malaikat disuruh ee madamin. Tapi Allah
- menguji Nabi Ibrahim hasilnya apa?
- Beliau lulus ujian. Beliau ee kuat ya.
- Beliau tuh ee akhirnya karena Allah
- bantu langsung itu api jadi dingin. Jadi
- ini bukan sekedar penyelamatan, tapi
- pemuliaan Nabi Ibrahim ya dari Allah
- penguasa alam semesta. Ee jadi ini ee
- kembali bahwa kita melakukan ketaatan
- bukan untuk Allah tapi untuk diri kita
- sendiri ya. Allah ingin mengangkat
- derajat kita, Allah ingin ee menguji
- kita. Atau contohnya misalnya Allah
- memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih
- Nabi Ismail ya. Ini kan luar biasa,
- Mbak. Bagaimana kita paham ya, sudah
- paham bagaimana sirahnya, sejarahnya.
- Susah dapat anaknya lama. Pas sudah
- dapat anak diperintahkan diasingkan di
- tempat yang jauh, yang tandus, enggak
- ada manusia. Kemudian setelah ee berusia
- ee apa namanya? Dewasa itu balih itu ya
- disuruh sembelih. Masyaallah itu berat
- banget ya. Jadi Allah memerintahkan Nabi
- Ibrahim menyembelih Nabi Ismail ya. Nah
- Allah sendiri menyebutkan, "Inna hadza
- lahual balaul mubin." Ini ujian yang
- berat. Ujiannya berat banget. Dapatnya
- aja susah kemudian diasingkan, jarang
- ketemu kemudian mau disembelih.
- Masyaallah. Dan Allah tidak butuh darah
- Nabi Ismail, tapi Allah ingin
- membersihkan hati Nabi Ibrahim dari
- ikatan selain Allah. Allah ingin
- mengangkat derajat Nabi Ibrahim sehingga
- beliau menjadi Khalilullah, kekasih
- Allah. Masyaallah ya. Jadi ketika kita
- tidak bergantung kepada makhluk, Allah
- cukupkan segalanya bagi kita. Dan ini
- memang berat ya. Watawakal alallah fahua
- hasbuh. Barang siapa yang bertawakal
- kepada Allah akan cukupkan. Maka kita
- lihat Nabi Ibrahim itu tadi ya ketika
- dilempar ke api itu ya Allah yang
- selamatkan jadikan dingin. Bukan
- malaikat Jibril yang memadamkan ya.
- Beliau cukup dengan keyakinan penuh
- keteguhan dan kekokohan. Beliau
- mengucapkan hasbiallah wikmal wakil.
- Cukup Allah bagiku dan dialah
- sebaik-baik menolong. Ini nih kalimat
- yang luar biasa nih Mbak ya. Ketika kita
- ada ee musibah atau apapun yang kita
- enggak tahu lagi ke mana kita akan
- meminta mengadu itu cukup katakan itu
- hasbiallah wanikmal wakil. Hasbiallah
- wanikmal wakil. Jadi tidak bergantung
- pada manusia, tapi hanya berharap kepada
- Allah saja. Langsung Allah akan turunkan
- pertolongan. Nah, kemudian secara
- sunatullah ketergantungan itu menentukan
- pertolongan. Jadi sekali lagi secara
- sunatullah ketergantungan itu menentukan
- pertolongan. Jadi ada kaidah nih, Mbak.
- Siapa yang bergantung pada manusia itu
- akan lemah. Tapi siapa yang bergantung
- kepada Allah itu akan ditolong Allah.
- itu sunatullah. Nah, alaisallah bikafin
- abdah. Bukankah Allah yang cukup bagi
- hambnya? Cukup Allah bagi kita. Ya. Jadi
- ee kalau kita contohkan dalam kehidupan
- sehari-hari misalnya ya,
- dalam berdakwah ini Mbak,
- kalau kita berharap pujian manusia pasti
- kecewa. Tapi kalau kita mengharapkan
- rida Allah, kita akan kuat. E begitu
- juga dalam rezeki. Kalau kita bergantung
- kepada pekerjaan, bergantung kepada
- kantor, bergantung kepada bos,
- bergantung ked itu pasti akan ee takut
- kehilangan. Waduh, PHK deg-degan gitu
- ya. PHK enggak ya gimana ya gitu ya.
- Tapi ketika kita bergantung kepada
- Allah, hati kita tenang. Kita enggak
- akan takut, enggak akan deg-degan.
- Apalagi sekarang ee lagi tren Mbak ya ee
- PHK besar-besaran ya. Ya Allah dengan
- kondisi ekonomi saat ini. Makanya ketika
- bergantung kepada Allah hati akan
- tenang. Ya. Kalau bergantung pada
- manusia ya putus asa. Tapi ketika
- bergantung pada Allah muncul kekuatan
- luar biasa. Masyaallah. Jadi Allah itu
- memuliakan orang yang bertawakal
- kepadanya. Kenapa? Karena orang itu
- pasti sudah makrifatullah. Tentu dia
- tidak menyekutukan Allah. Tentu dia
- menjadikan Allah satu-satunya sandaran
- hidupnya. Karena dia tahu Allahlah yang
- akan menolongnya. Allah yang akan
- memberinya kecukupan, Allah yang akan
- memuliakannya. Jadi sekali lagi,
- Subhanallah ya, dari Nabi Ibrahim tuh
- memang keimanan itu memang berat ya,
- Mbak ya, kalau kita tidak kita jadikan
- Allah satu-satunya dan itu memang butuh
- ilmu, butuh ee apa terus ya mengkaji
- nilai-nilai keilmuan keislaman, punya
- komunitas yang baik supaya kita bisa
- terjaga ee keimanan kita itu
- ketergantungan pada Allah itu memang
- tidak mudah ya. Jadi sekali lagi kita
- jadikan Nabi Ibrahim sebagai keteladanan
- ya. Beliau tu kan sendiri tapi beliau
- kuat ya dilemparkan ke api dan segala
- macam. Masyaallah itu langsung Allah
- yang menolong ya. Itu yang kelima
- sebenarnya banyak ya Mbak ya. Ini kan
- sedikit bagian sedikit aja. Nah, ini
- lagi ee dari kisah Nabi Ibrahim kita
- belajar bahwa bersikap netral dalam
- isu-isu moral besar adalah aib. Ya,
- bahkan binatang pun enggak mau
- melakukannya. Jadi maksudnya kalau ada
- isu-isu ee moral besar, ada isu-isu yang
- yang mengharuskan kita berpihak ya
- misalnya ee bagaim contoh ya di
- Palestina kan dalam kondisi
- saudara-saudara kita ditimpa ujian
- cobaan musibah ya, genus dan segala
- macam. Nah, kalau kita tidak
- memperlihatkan atau tidak bersikap ee
- dalam hal ini ee berpihak di mana kita
- itu luar biasa, itu aib, itu, oh
- nauzubillah minzalik, itu enggak pantas
- gitu ya. Maka sebagai seorang hamba
- Allah, kita enggak boleh menonton
- artinya mengamat, pengamati saja tapi
- kita harus berpihak. Nah, ini contohnya
- Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim ketika
- dilemparkan ke dalam api ya dalam
- kobaran api yang sangat besar yang
- kurang lebih itu lama loh itunya
- kobarannya itu sekitar 40 hari kalau
- menurut para ahli sejarah ada yang
- menyebutkan sampai 50 hari. Bayangin itu
- di dalam api. Masyaallah kita aja
- dekat-dekat api aja sudah panas ya. ini
- berada di dalam kobaran api selama 40
- atau yang menyebutkan 50 hari itu yang
- dibakar ee itu kan Raza Namrud ya yang
- apa yang ee menghukumnya itu ya. Nah,
- kita lihat ee banyak manusia yang
- menonton aja ngelihatin wah gitu ya. Ini
- enggak benar nih aib. Bahkan di masa itu
- binatang-binatang pun menolongnya ya
- artinya punya keberpihakan. Jadi kalau
- ada manusia yang hanya berdiam menonton
- tuh aib banget. itu nauzubillah ya. Nah,
- ini di Nabi Ibrahim ini yang ee binatang
- pun menolong. Bahkan kita ee
- pernah mendengar Bu, Mbak ya, semut.
- Semut membawa air di mulutnya. Berapa
- sih air ya yang bisa dibawa semut? Ih,
- setetes aja lebih banyak tetes [tertawa]
- kecil banget ya. Itu semut membawa air
- di mulutnya itu untuk membantu
- memadamkan api. Ketika ditanya, "Apa sih
- manfaat air sekecil itu?" Semut itu
- menjawab, "Agar aku tercatat di pihak
- yang membela Ibrahim."
- Masyaallah.
- Jadi, burung-burung juga begitu.
- Berusaha membawa air sebagai bentuk
- pembelaan terhadap Nabi Ibrahim. Nah,
- kecuali ada satu ya tokek. Kalau hewan
- atau cicak besar tuh, Mbak tokek ya, itu
- dia justru meniup api agar makin besar.
- Itu cokek ya. Jadi kita lihat, kita bisa
- belajar dari sini bahwa kebatilan itu
- memiliki anak buah tentara yang banyak.
- Begitu juga kebenaran. Jadi tidak ada
- netral dalam kebenaran ataupun dalam
- kebatilan. Maka dari kisah Nabi Ibrahim
- ini kita belajar bahwa bersikap netral
- dalam perkara besar itu antara tauhid
- dan syirik ya, antara kebenaran dan
- kebatilan itu bukan sikap aman, tapi aib
- dan kelemahan iman. Enggak, enggak boleh
- itu. Bahkan Allah kan dalam surah
- Almaidah ya alalqwa wwan.
- Tolongmenolonglah kalian dalam kebaikan
- dan ketakwaan. Jangan kalian
- tolong-menolong dalam dosa dan
- permusuhan. Jadi ayat ini menegaskan
- kepada kita bahwa seorang mukmin itu
- dituntut untuk berpihak kepada
- kebenaran. Masyaallah. Nih aib banget
- kalau ada umat Islam ketika saudara kita
- di Palestina itu sudah berusaha untuk
- membebaskan negerinya ya menyelamatkan
- Al-Aqsa tuh masih juga berpihak kepada
- Israel. Nauzubillah minzalik. Itu aib
- ya. Masyaallah. Masyaallah. Nauzubillah
- minzalik ya. Jadi ee dari kisah Nabi
- Ibrahim Alaih Salam ini ada makna yang
- besar ya. Ee saat Nabi Ibrahim dilempar
- ke dalam api itu manusia banyak yang
- diam menonton enggak berani ya. tidak
- membela, tidak menolong, takut ya. Ya,
- bahkan ee ya itulah manusia ya. Tapi
- kita lihat dalam kisah itu hewan-hewan
- yang berusaha membantu bahkan hewan yang
- tidak ada kekuatan maksudnya tuh yang
- bawanya sedikit tadi seperti burung atau
- semut. Nah, ini tentu saja ee makhluk
- kecil itu mengambil posisi di hadapan
- Allah ya. Jadi enggak ada yang
- benar-benar netral. Kalau netral itu di
- dalam Islam
- itu ee kan sering berarti tidak membela
- kebenaran ya, membiarkan kebatilan,
- takut mengambil sikap. Itu yang netral
- tuh dia takut ya. Jadi kalau diam dalam
- kondisi seperti itu bisa jadi bentuk
- pembiaran terhadap kebatilan. Ya kan
- Rasulullah menyatakan mana minkum
- munkarunadi. K. Jadi ee barang siapa
- yang melihat kemungkaran rubah yaitu
- dengan tangan failam yastati fabilisan
- kalau enggak bisa dengan lisan kalau
- enggak bisa dengan hati. Wadalika apaful
- iman itulah selemah-lama imannya. Jadi
- lihat kemungkaran ada kemaksiatan
- terang-terang kita tahu itu salah jangan
- netral.
- H
- jadi diam itu kadang-kadang ah enggak
- mau ikut campur. Ah enggak begitu salah
- ya. Tapi kita bisa dengan cara apapun
- kita bisa bantu ya. ya kita minimal doa
- gitu ya atau nasihati atau ya kalau
- kalau zaman kalau misalnya Palestina itu
- kan kita bisa berdoa ya kalau ada dana
- bantu gitu ya. Nah itu ee contohnya. Nah
- kalau dalam keluarga misalnya ada
- pelanggaran syariat ya kita enggak bisa
- diam membiarkan, tapi [berdehem] kita ee
- itu itu bukan netral namanya. Kita tetap
- mengingatkan tapi dengan kelembutan ya.
- Tidak membiarkan kesalahan terus gitu
- ya.
- Harus ada ee dakwah ya dengan ee bil ee
- hikmah wal maidah.
- Enggak usah diam, enggak boleh diam.
- Karena kebenaran itu akan kehilangan
- pembela kalau banyak yang diam.
- [berdehem]
- Jadi ikut ee memperbaiki ya apapun ya.
- Jadi sekali lagi ee dari kisah ini kita
- mengambil ee belajar dari Nabi Ibrahim
- bahwa tidak ada ruang netral dalam
- perkara besar.
- Setiap orang pasti berada di salah satu
- sisi ya bersama kebenaranah atau tanpa
- sadar menguatkan kebatilan. Bahkan yang
- menolong kebenaran itu bisa datang dari
- arah yang tidak terduga.
- Dan yang membantu kebatilan pun bisa
- juga dari hal yang kecil yang tidak
- disangka. Artinya masing-masing punya
- pengikut gitu ya. Jadi enggak boleh
- netral ketika kita berhadapan dengan
- isu-isu besar ya. Apalagi yang terkait
- dengan penodaan terhadap agama. Itu yang
- yang keenam. Nah, kemudian ee kita
- belajar dari Nabi dari kisah Nabi
- Ibrahim ini bahwa seburuk-buruk pemimpin
- tuh itu adalah penguasa yang bodoh tapi
- ditaati. Masyaallah. Kan Nabi Ibrahim
- kan berkata ya kepada rajanya ya ee
- rabbi apa namanya? Eh rbialladzi yuhyi
- wa yumit ya kan tuhanku Allahku ya ee
- Allah Tuhanku tuh bisa menghidupkan,
- bisa mematikan. Eh, dia menjawab, "Anak
- uhiwa umit, aku juga bisa menghidupkan
- dan mematikan." Ini maksudnya ee
- penguasa bodoh yang ditaati atau
- penguasa buruk ini maksudnya bukan bodoh
- secara IQ ya, tapi ee secara ee logika
- keimanan ya. Jadi dia itu Saku juga bisa
- menghidupkan mematikan. Dia panggil
- orang tuh yang dipenjara tuh dibiarkan
- tuh hidup. Ada panggil lagi dia bunuh
- tuh mati gitu. Bodoh banget ya. Jadi
- kebodohan yang berkuasa itu itu lebih
- berbahaya dari kebodohan ee yang biasa
- saja. Yang IQ itu bodoh itu apa ya
- secara akidah ya. Jadi sekali lagi Raja
- Namrud itu tidak paham hakikat
- menghidupkan dan mematikan. Jadi bodoh
- terhadap ee nilai-nilai ee tauhid
- maksudnya ya. Jadi memaksakan logika
- yang salah gitu ya. gitu. Jadi sekali
- lagi kebatilan itu ee sering dibungkus
- dengan logika yang palsu ya. Aku bisa
- menghidupkan, aku bisa mematikan. Tapi
- Nabi Ibrahim cerdas ee Tuhanku ee bisa
- ee apa namanya? Matahari itu ya yang di
- apa terbit ee dari timur bisa enggak
- kamu gitu. kan enggak bisa diam kan dia.
- Jadi taat kepada pemimpin itu enggak
- boleh dalam kebatilan kalau
- logika-logikanya itu melanggar syariat
- ya. Jadi penguasa zalim itu bisa
- mengubah standar kebenaran ya sesuai
- dengan logikanya ya. Jadi ee itu yang
- kita dapat. Eh, banyak sih sebenarnya
- Mbak Nuning dari Nabi Ibrahim itu
- riwayat hidupnya ini kan hanya sebagian
- kecilnya saja ya. Ee bahwa Nabi Ibrahim
- itu bagian dari ee uswah kita, kdwah
- kita pertama Rasulullah. Apalagi namanya
- diabadikan kita sebut-sebut dalam
- tasyahud akhir dalam selawat kita kepada
- baginda Nabi. Ya. Allahumma sholli ala
- Muhammad wa ala ali Muhammad kama shaita
- ala Ibrahim wa Ibrahim. Jadi begitu,
- Mbak. Mudah-mudahan
- masallah ini 10 seri juga enggak habis
- nih cerita tentang Nabi Ibrahim. Betul.
- Em, kita ke pertanyaan yang masuk ya.
- Ini tidak ada namanya. Saya di luar kota
- nih, Bu Ustazah. Jadi memberi contoh
- mengajari anak untuk taat kepada Allah
- sangat kurang. Apa yang harus saya
- lakukan? Terima kasih. maksudnya ee anak
- di luar kota.
- Terus ee bagaimana cara mendidik anaknya
- gitu ya
- untuk taat. Heeh.
- Untuk taat. Pertama tentu butuh
- lingkungan.
- Lingkungan. Ee sebentar.
- Lingkungan. Sebentar, Mbak. Agak.
- Iya.
- Lingkungan. Ya. Jadi kalau kita berada
- di luar kota atau menempatkan anak di
- luar kota, pastikan lingkungan anak itu
- lingkungan yang baik. Ya. Jadi ketika
- lingkungannya baik itu insyaallah kita
- bisa titipkan kepada lingkungan itu.
- Kemudian teman-teman, teman-teman ya
- karena almaru maini kholilih seseorang
- itu tergantung agama temannya. Nah, jadi
- ee untuk mengingatkan, mendidik atau
- mengajarkan anak kita makrifatullahnya
- itu memang ya perlu ada kondisi dan yang
- terpenting makrifatullah itu dimulai
- dari ee masa-masa golden age, masa-masa
- pondasi ya sebelum balih itu
- kalau dari sebelum balih pondasinya
- belum kuat itu akan mudah terpengaruh.
- Makanya ee kita lihat ya, bagaimana Nabi
- Ibrahim Alaih Salam ketika Nabi Ismail
- itu kan usia apa namanya ee sudah baligh
- ya pada saat balih itu kan pondasi yang
- sudah ditanamkan oleh Nabi ee Ibrahim ya
- lewat ee ibunda Hajar itu akidah yang
- fokoh kepada Nabi Ismail itu ee apa
- namanya? Maaf sebentar
- tidak terganggu ini ya. itu ee di
- masa-masa prabali sehingga kekokohan
- akidah dan tauhid Nabi Ismail itu
- terucap ketika perintah Allah untuk
- menyembelihnya. Itu spontan jawaban dari
- Nabi Ismail itu apa? Ee
- ifar satajiduni insyaallah minirin.
- Ya. Jadi lakukanlah apa yang
- diperintahkan Allah kepadamu. Engkau
- akan dapatkan aku. Ee
- sebentar Mbak agak terganggu ya. He
- ini apa? Ee
- ya enggak kelihatan ini. [tertawa]
- Ya udah enggak apa-apa ya. Enggak ada
- ininya
- buat tanpa wajah jadi
- wajah. Iya. Ini kalau disentuh-sentuh
- dikit suka terganggu. Tadi ada yang
- munuh. Sebentar.
- I
- oke.
- Iya. Lanjut ya, Mbak ya. ini walaupun
- enggak ada gambar ya.
- Sebentar Mbak ini agak ya em
- jadi
- Nabi Ismail itu kan siap ya. Jadi sekali
- lagi kalau anak kita di luar kota itu
- disiapkan perangkat-perangkatnya
- ee disiapkan ya dengan siapa anak kita,
- siapa pergaulannya. Kemudian ee tak
- kalah pentingnya itu adalah pondasi dari
- rumah sejak awal gitu ya. Bagaimana
- kekuatan pemahamannya, kesadarannya
- terhadap penciptanya. Contohnya gini
- deh, Mbak. masih bayi itu ya. Kalau dulu
- para ulama itu kan saat menyusui anaknya
- itu enggak hanya menyusu begitu saja,
- tapi juga ruhnya juga diberi makanan.
- Jadi ketika sedang ASI memberikan ASI
- itu diiringi dengan kalimat-kalimat
- zikir pada Allah, tasbih, jadi sambil
- makan secara ee fisik juga ruhinya diisi
- gitu ya. Kalau sekarang kan nyusuhi
- bayi, anak ibunya main HP [tertawa]
- gitu. [terkesiap]
- Makanan ruhi itu kan lebih penting itu
- kan doa ya. Terus kemudian pengenalan
- terhadap Allah ya. Jadi yang dikenalkan
- dulu adalah kalimat Allah gitu ya.
- Iya.
- Kalimat pertama itu Allah gitu kan. Ini
- enggak mama, papa, papi, mam. [tertawa]
- Itu itu pondasi ya ee para ulama. Kita
- belajar dari para ulama dulu seperti
- itu. Tapi insyaallah dengan doa. Jadi
- titipkan dengan Allah.
- Amin.
- Titipkan anak kita kepada Allah.
- Allahumma inni asuka alladzi la. Ya
- Allah aku titipkan kepadamu yang
- sebaik-baik e apa sebaik-baik ee tempat
- penitipan itu. Eh misalnya waladi atau
- auladi banati atau zurati. Titipkan anak
- kita kepada Allah. Allahlah yang jaga.
- Insyaallah mudah-mudahan bisa dijaga ya
- anak-anak kita.
- Baik. Dan ikhwan akhwat kalau Anda
- enggak sempat menyimak dari YouTube-nya
- Rasil TV juga ada kok ya. Nah, sekarang
- kita dengarkan closing ideanya dari
- Ustazah Herline Amran pada bahasan
- belajar tentang cinta, keteguhan iman,
- dan tawakal dari Nabi Ibrahim Alaih
- Salam.
- Pendengar yang dirahmati Allah, Nabi
- Ibrahim ini adalah nabi yang memiliki
- model kesempurnaan dalam tauhid yang
- menjadi kduwah kita, menjadi uswah kita
- beliau dan Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Dari beliau yang merupakan
- keteladanan yang terbaik bagi kita. Kita
- banyak belajar tentang bagaimana akidah
- tauhid yang murni yang tidak
- menyekutukan Allah, yang menyandarkan
- semua persoalan hidup kepada Allah, yang
- cerdas dalam berdakwah, yang bertawakal
- yang sempurna kepada Allah, ketaatannya
- total kepada Allah, kepada perintah
- Allah. Beliau dipilih sebagai
- Khalilullah, kekasih Allah. Tidak
- bergantung kepada sebab, tapi hanya
- kepada Allah. Walaupun di dunia ini
- hidup kita itu hukum sebab akibat itu
- berlaku, tapi itu berlakunya untuk
- manusia tidak berlaku untuk Allah. Jadi
- beliau itu sangat lembut, Halim Allah
- ya. Dan beliau itu adalah model ya yang
- semua jejak-jejaknya kita ikuti.
- Bagaimana Rasul juga mengikuti beliau
- karena beliau adalah Abul Anbiya ya
- jejaknya di lagi tawaf kita mengikuti ya
- ee makam Ibrahim itu semuanya adalah ee
- peninggalan dari kisah dari Nabi Ibrahim
- Alaih Salam. Mudah-mudahan kita menjadi
- umat Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- yang mengikuti beliau dan menjadikan
- Nabi Ibrahim sebagai ee teladan kita.
- Astagfirullahi wakum. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih pencerahannya
- Ustazah Herlini. Yang jelas
- mudah-mudahan tidak ada berhala dalam
- jiwa kita ya ikhwan akhwat. Dan
- sesembahan kita bukan nafsu dan
- keinginan. Mudah-mudahan insyaallah.
- Yang jelas lagi jangan membisu 1000
- bahasa ketika menghadapi ketidakadilan.
- Itu yang ee kita genggam erat dari
- bahasan kita kali ini. Belajar keteguhan
- imam dari Nabi Ibrahim. Sekali lagi
- terima kasih. Mudah-mudahan masih
- berseri-seri ke depan nih terkait dengan
- ini. Menarik sekali.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.