Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan
- katsiran thayiban barokan fih kama
- yuhibbu waardo. Allahumma shalli
- wasallim wabarik ala sayyidina
- Muhammadin wa ala ali sayyidina
- Muhammad. Masih dipancarkan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis
- Cibur Bekasi. Radio Silaturahim dan juga
- Rasil TV untuk Islam yang satu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah. Alhamdulillah di
- kesempatan Senin pagi hari ini mengawali
- pekan ini di tanggal 22 September 2025
- bertepatan dengan hari terakhir ya di
- bulan Rabiul Aal ini. Alhamdulillah
- Ikhwan Ah kami kembali menyapa Ikhwan
- Ahwat dalam program acara renungan di
- bawah naungan Al-Qur'an bersama guru
- kita Ustaz Husein Alatas yang
- alhamdulillah guru kita Ustaz Husein
- sudah hadir di studio. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar baik dan sehat, Ustaz? Ya,
- alhamdulillah.
- Alhamdulillahiabbil alamin.
- Sebelumnya, Ikhwan akat, kami sampaikan
- terima kasih ucapan ee jazakallah
- khairan katir kepada ikhwan akhwat yang
- Sabtu lalu ya hadir di masjid
- silaturahim di acara peringatan Maulid
- Nabi Muhammad dan juga temu pendengar
- Radio Radio Silaturahim dalam rangka ee
- milad Radio Silaturahim yang ke-16.
- Terima kasih Wan Hawat yang juga sudah
- men-support kegiatan tersebut. Yang bawa
- makanan, minuman. Masyaallah ya hari
- Sabtu itu cukup banyak jauh-jauh dari
- berbagai tempat. Alhamdulillah. Dan kami
- juga memohon maaf ya jika pelayanan kami
- ada yang kurang, Ustaz.
- Ada yang mungkin sedikit tidak berkenan.
- Mohon dimaafkan dan insyaallah kita akan
- bertemu kembali di acara off air
- lainnya. Baik ikhwanat. Di kesempatan
- ini kita akan kembali melanjutkan ee
- renungan di bawah naungan Al-Qur'an.
- Insyaallah nanti akan ee disampaikan
- oleh guru kita kajiannya Ustaz Husein.
- Namun sebelumnya akan saya bacakan ee
- dua pertanyaan Ustaz ya.
- Di kesempatan ini ee dari Pak Sunardi di
- Ciputat dan juga ni hamba Allah. Kedua
- pertanyaannya ya hampir ee terkait ya.
- Yang pertama itu Al-Qur'an memberikan
- banyak contoh dan kisah dari nabi-nabi
- dan umat-umat terdahulu.
- Apa relevansi kisah-kisah ini bagi kita
- hari ini, Ustaz? Terutama ketika
- tantangan,
- masalah dan ujian yang dihadapi oleh
- umat manusia jauh lebih [berdehem]
- kompleks dan beragam daripada yang
- digambarkan di dalamnya. Satu lagi ini
- dari hamba Allah. Saat ini banyak orang
- berdebat tentang apakah agama masih
- relevan di dunia di ruang publik.
- Haruskah agama dibatasi hanya pada
- urusan pribadi atau apakah nilai-nilai
- agama seharusnya juga menjadi panduan
- [berdehem] dalam kebijakan publik,
- politik, dan hukum di sebuah negara yang
- majmuk. Demikian, Ustaz, kami [berdehem]
- persilakan, Ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- abdika wa rasulika sayyidina wa nabina
- Muhammadin wa alihi wasohbihi wasallim.
- Subhanaka la ilma lana illa ma alamtana.
- innaka antal alimul hakim.
- Wala haula wala quwwata illa billahil
- aliyil adzim. [berdehem]
- Allahumma alimna ma yunfauna
- wfaf'na bima alamtana. [berdehem]
- Allahumma sholli ala abdika wa rasulika
- sayyidina Muhammadin wa alihi thyibin
- wasohabatihil guril mayamin wasairina
- ala nahjihil qawimi ila yaumiddin.
- Assalamualaika ya Rasulullah assalamu
- alaina wa ala ibadillahis shihin.
- Allahumma aina minika rahmah waimna min
- ladunka ilman nafi wfaf'na bimaamtana.
- Allahumma inna naudubika anadilla nud
- [berdehem]
- nazilla nuzalima
- najhala yuj.
- W'du [berdehem] ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah.
- Para pendengar pemirsa radio TV
- silaturahmi
- beserta
- seluruh kerabat kerja di studio yang
- menemani kita. Semoga Allah subhanahu wa
- taala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya
- kepada kita semua, keluarga kita.
- Begitu pula
- kepada seluruh anak [berdehem] bangsa
- kita
- agar hati kita terbuka untuk menerima
- petunjuknya.
- Yakin dengan apa-apa yang Allah
- Subhanahu wa taala janjikan dalam
- kitabnya. Begitu pula
- peringatan-peringatan yang Allah
- Subhanahu wa taala peringatkan kepada
- kita agar kita dapat [berdehem]
- melaksanakan
- ujian kita dalam kehidupan dunia ini
- dengan sukses dan meraih kebahagiaan
- [berdehem]
- yang sempurna di hari akhir nanti.
- Dikumpulkan bersama Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
- Diselamatkan dari azab dan murkanya.
- Semoga Allah ampuni dosa kesalahan kita
- yang lalu, yang kini, yang kita sadari
- maupun yang tidak kita sadari. Begitu
- pula yang kita lakukan di masa akan
- datang. [berdehem] Semoga Allah jaga
- kita dari perbuatan-perbuatan yang akan
- menjerumuskan kita ke dalam murkanya.
- Amin ya rabbal alamin. Ikhwan [berdehem]
- akhwat yang dirahmati Allah,
- [berdehem]
- pertama-tama kita akan
- menjawab pertanyaan yang kedua.
- Apakah agama ini masih diperlukan
- di tengah-tengah kehidupan modern saat
- ini?
- Apakah agama itu hanya menjadi domain
- pribadi?
- sama sekali tidak dilibatkan
- dalam berbagai macam urusan dan
- tantangan kehidupan kita,
- baik [berdehem] dalam bidang
- ee sosial, politik, ekonomi,
- berbangsa dan bernegara. Begitu pula
- aturan-aturan dan undang-undang.
- Apakah aturan dan undang-undang tersebut
- harus merujuk kepada aturan-aturan yang
- datang dari Allah Subhanahu wa taala?
- [berdehem]
- Jawabannya
- bahwa Allah Subhanahu wa taala
- adalah Tuhan semesta alam.
- Bukan hanya Tuhan satu bangsa,
- satu ras, tapi Allah Subhanahu wa taala
- adalah Rabbul alamin. [berdehem]
- Allah Subhanahu wa taala
- tidak menciptakan kita dalam rangka
- bermain-main. [berdehem]
- Tapi Allah subhanahu wa taala
- menciptakan kita,
- menempatkan kita di atas muka bumi untuk
- masa yang terbatas.
- Allah berikan kita akal, berikan kita
- pilihan. Allah utus rasul-Nya, turunkan
- kitabnya [batuk][berdehem]
- untuk menjadi rujukan bagi kita semua
- agar kita [berdehem] dapat hidup sejalan
- dengan keridaan Allah Subhanahu wa
- taala.
- Maka orang-orang yang telah menerima
- petunjuk [berdehem]
- dan sampai kepadanya,
- tapi menolak untuk mengikuti
- [batuk]
- menolak untuk mengikuti petunjuk Allah
- Subhanahu wa taala. Setelah sampai
- argumen dan hujah Allah kepadanya,
- maka dengan sendirinya dia akan
- mempertanggungjawabkan seluruh
- perbuatannya,
- pelanggarannya di hari kemudian nanti
- dan dia akan menerima balasan sesuai
- dengan perbuatannya. Dan Allah Subhanahu
- wa taala tidak menzalimi hambnya dalam
- hal ini.
- Tapi siapa-siapa
- yang telah menerima petunjuk Allah,
- mengikutinya, beriman kepada Allah,
- beriman kepada hari akhir, beriman
- kepada rasul-Nya,
- beriman kepada kitab sebagai acuan dan
- rujukan dalam kehidupannya
- dan dia beramal sesuai dengan keimannya,
- maka dia akan menerima janji Allah yang
- Allah janjikan padanya. [berdehem]
- Allah menjelaskan tujuan hidup ini.
- Alladzi khalaqal mauta wal hayah
- liyabluakum ayyukum ahsanu amal.
- Dia yang telah menciptakan kematian dan
- kehidupan.
- Artinya kehidupan kita, kematian kita
- yang kita alami semua ini merupakan
- ketentuan Allah Subhanahu wa taala.
- Bukan dengan sia-sia, tapi liyabluakum
- ayyukum ahsanu amala untuk menguji
- kalian siapa di antara kalian yang
- terbaik amalnya.
- Maka dengan penuh keadilan, Allah
- Subhanahu wa taala akan membalas
- orang-orang yang beriman dan hidup
- dengan mengerjakan amal saleh, mengajak
- kepada yang makruf, mencegah dari yang
- mungkar dengan balasan
- yang amat mulia di sisinya.
- Bahkan bukan hanya dengan penuh
- keadilan, Allah Subhanahu wa taala
- bahkan membalas mereka dengan penuh
- kemurahan. Amal-amal kebaikan mereka
- dilipat gandakan. dosa-dosa mereka
- diampuni.
- Tapi sebaliknya, mereka-mereka yang
- tidak bersyukur kepada Allah dengan
- nikmatnya, hidup dengan mengikuti hawa
- nafsunya, melakukan kerusakan di atas
- muka bumi, maka semua amal-amal mereka
- tercatat di sisi Allah dan Allah akan
- membalas mereka dengan penuh keadilan.
- Oleh karena itu dalam sebuah hadis qudsi
- Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Ya
- bna Adam atau ya bani Adam, wahai
- anak-anak Adam, innama hiya a'maluk."
- Semua ini yang terkumpul di hadapan
- kalian, amal-amal kalian.
- Uhhakum, saya mengumpulkannya,
- mencatatkan bagi kalian. Faman wajada
- khairon falyahmadillah. Siapa yang
- mendapatkan balasan yang baik, maka dia
- bersyukurlah pada Allah dengan
- bimbingannya, dengan petunjuknya, dengan
- rahmatnya, kemurahannya yang telah
- melipat gandakan kebaikannya. Tapi waman
- wajada ghairalik fala yalumanna illa
- nafsah. Siapa yang menjumpai
- kebalikannya,
- maka dia jangan menyalahkan Allah
- subhanahu wa taala. Allah telah mengutus
- rasul-Nya, telah menurunkan kitabnya,
- memberikan mereka akal,
- tapi ternyata mereka bukan mengikuti
- petunjuk Allah, tapi mereka justru
- berpaling daripadanya.
- [berdehem]
- Jadi hendaknya setiap orang dari kita ya
- memahami bahwa kita tidak diciptakan
- dengan sia-sia. Wama khalaqnas samaa wal
- ardha wama bainahuma batila.
- Kami sekali-kali tidak menciptakan
- langit dan bumi dan apa yang terdapat di
- antara keduanya dengan sia-sia.
- Dalikaulladzina
- kafaru fawailul lilladzina kafaru minar.
- Itulah anggapan dugaan orang-orang yang
- kafir yang tidak beriman kepada hari
- akhirat. Maka celakalah bagi orang-orang
- kafir dari azab api neraka
- dengan sendirinya.
- Karena kita diciptakan oleh Allah
- Subhanahu wa taala dengan tujuan dan
- tidak sia-sia.
- Ditempatkan di muka bumi ini sebagai
- khalifahnya.
- Allah juga
- turunkan bagi kita pedoman hidup yang
- menjadi acuan rujukan bagi kita dan
- kelak kita akan dikumpulkan di hari
- akhir. Maka dengan sendirinya agama yang
- merupakan pedoman hidup yang datang dari
- Allah ini ya merupakan hal yang amat
- betul-betul penting dalam kehidupan
- manusia. Karena kalau seandainya tidak
- ada tuntunan dari Allah, manusia hidup
- dengan pilihan mereka, mereka akan
- beralasan di hadapan Allah, "Ya Allah,
- mengapa kamu menghukum kami padahal kamu
- sebelumnya tidak pernah sama sekali
- memberi peringatan kepada kami."
- Maka misi Rasul sebagai pembawa kabar
- gembira bagi mereka yang menyambut
- seruan Allah sebagai peringatan bagi
- mereka-mereka yang hidup jauh dari
- petunjuk Allah hanyut bersama hawa
- nafsunya. [berdehem]
- Kalau kita membaca firman Allah dalam
- surah
- [berdehem]
- Al-Hadid,
- Allah berfirman, "Laqad arsalna rasulana
- bil bayyinat
- wa anzalna maahumul kitaba wal mizan
- liyaquumanasu
- bilqist.
- Sesungguhnya kami telah mengutus
- rasul-rasul kami
- bilyinat dengan
- petunjuk
- penerangan yang sejelas-jelasnya
- yang diiringi dengan bukti dan argumen
- yang tak terbantahkan.
- Wa anzalna maahumul kitaba wal misa. Dan
- kami turunkan bagi mereka alkitab.
- Jadi bersama mereka kami turunkan
- Alkitab wal mizan. Lalu Allah jelaskan
- fungsi dari Alkitab tersebut apa?
- sebagai mizan neraka
- agar manusia di tengah-tengah kehidupan
- dunia ini
- yang dipengaruhi oleh berbagai macam
- pengaruh di antaranya hawa nafsu,
- tradisi,
- budaya,
- mereka memiliki rujukan yang jelas.
- Memiliki rujukan yang jelas ya
- yang disepakati hingga dalam
- pertentangan perselisihan. Demikian pula
- dalam kehidupan mereka yang hidup pikuk
- ini, mereka memiliki rujukan standar
- yang jelas untuk apa? Untuk menegakkan
- keadilan di tengah-tengah kehidupan
- mereka.
- Kalau neraca ini atau mizan ini berasal
- dari manusia, maka dia tidak akan lepas
- dari kepentingan manusia yang membuat
- dan meletakkan timbangan tersebut.
- Tapi kalau datang dari Tuhan semesta
- alam yang menciptakan seluruh manusia
- yang memuji mereka
- dan menerangkan kepada mereka bahwa
- mereka semua sederajat dan setara di
- hadapan Allah. Yang mulia di antara
- mereka hanyalah yang beriman dan
- bertakwa kepadanya.
- Dan Allah Subhanahu wa taala memuliakan
- mereka yang taat kepada Allah dan
- merujuk kepada timbangan tersebut.
- Sedangkan mereka-mereka yang ingkar
- kepada Allah dan menolak untuk merujuk
- kepada timbangan Allah dalam hidup ini,
- maka jangan mereka menyalahkan kecuali
- diri mereka. Jadi dalam kehidupan dunia
- ini kalau setiap manusia kembali kepada
- standar masing-masing apa jadinya?
- Apa yang akan terjadi? Tapi apabila
- manusia kembali kepada standar yang sama
- yang disepakati yang datang dari Tuhan
- mereka yang maha pengasih yang maha
- penyayang yang tidak membeda-bedakan di
- antara suku dan bangsa, di antara ras,
- begitu pula di antara warna kulit semua
- di hadapan Allah sebagaimana firmannya,
- "Ya ayyuhannas inna khalaqnakum
- minzakarin wa unsa wal ja'alnakum suuban
- waqoba litaaru.
- Oleh karena itu, tidak ada timbangan
- yang lebih adil daripada timbangan Allah
- Subhanahu wa taala. Dan Allah yang akan
- turun tangan mengadili manusia.
- Jadi kalau seandai seorang bertanya,
- "Apakah masih perlu kita merujuk kepada
- agama?" Ya, dalam apa? dalam mengatur
- kehidupan kita. Jawabannya
- Nah, dan ini merupakan satu hal yang
- betul-betul
- amat urgen dan penting bagi mereka.
- Karena ini akan menentukan keselamatan
- mereka atau kecelakaan mereka.
- Mereka bukan hanya bertanggung jawab di
- hadapan sesama manusia dalam kehidupan
- dunia dan juga ya penilaian ya penilaian
- atas perbuatan mereka dalam kehidupan
- dunia ini bukan hanya sebatas dan
- merujuk kepada penilaian manusia,
- tapi penilaian yang berlaku atas mereka
- adalah penilaian Allah Subhanahu wa
- taala sesuai dengan materi ujian yang
- Allah berikan kepada mereka.
- Maka dalam seluruh aspek kehidupan kita,
- baik kehidupan pribadi kita, kehidupan
- rumah tangga kita, kehidupan masyarakat
- kita, berbangsa kita atau dalam
- perekonomian kita, kita merujuk kepada
- wahyu.
- Merujuk kepada wahyu dan kepada akal
- sehat. Karena apa? Akal ini merupakan
- anugerah Allah Subhanahu wa taala yang
- memuliakan manusia dan dia layak menjadi
- mukalaf yang menerima amanat dari Allah.
- Kalau dia tidak memiliki akal, dia tidak
- akan menjadi mukalaf. Betul gak? Jadi
- dengan wahyu dan akal.
- Akal yang diterangi oleh wahyu berbeda
- dengan apa? Dengan akal yang dikuasai
- oleh hawa nafsu.
- Hawa nafsu menyesatkan manusia.
- Dan kita tahu tanpa ada rujukan yang
- betul-betul disepakati yang penuh
- keadilan, manusia akan
- diombang-ambingkan oleh berbagai macam
- eksperimen manusia yang akan
- mengakibatkan manusia ini berubah wali
- iyadzubillah lebih mengerikan daripada
- binatang. Oleh karena itu ketika Mahatir
- Muhammad mengatakan bahwa Zionis Israel
- dan jelmaan setan atau iblis,
- ucapannya ucapan yang benar. Padahal di
- tengah-tengah
- di tengah-tengah kehidupan manusia yang
- modern saat ini terdapat juga PBB-nya.
- Tapi kita saksikan bagaimana tumpulnya
- PBB di hadapan pelanggaran-pelanggaran
- Israel. Setiap PBB mengeluarkan dan
- memutuskan apa? Keputusan. Kita saksikan
- bagaimana negara-negara yang berada di
- Dewan Keaman PB melakukan vus seperti
- Amerika.
- Tapi keadilan Allah Subhanahu wa taala
- bersifat lurus bagaikan air walaupun
- dalamnya berbeda-beda, permukaannya
- sama. Dan manusia di hadapan Allah
- sebagaimana ucapan Rasul anasa
- wasiatunallah.
- Jadi laqad arsalna rusulana bil bayyinat
- wa anzalna maahumul kitaba wal mizan
- liyaquasu bilqist. Sesungguhnya kami
- telah mengutus rasul-rasul kami dan kami
- turunkan bersama mereka ee albayinat
- arsalna rasulana
- bil bayyinat. Kami utus rasul-rasul kami
- bil bayyinat dengan argumen-argumen,
- hujah-hujah yang terang benenderang yang
- tak terbantahkan.
- [mendengus]
- Dan kami turunkan bersama mereka sebagai
- rujukan dan pedoman bagi seluruh umat
- manusia. Alkitab wal mizan yang
- berfungsi sebagai mizan agar manusia
- dapat hidup dengan penuh keadilan.
- Dalam suratul baqarah Allah berfirman,
- "Karasu ummatan wahidah." Sesungguhnya
- umat manusia tadinya itu merupakan satu
- umat.
- Mereka berinduk kepada Tuhan yang sama
- karena Allah pencipta mereka dan mereka
- juga berasal dari asal-usul yang sama.
- Ayah mereka juga sama.
- Kemudian mereka menerima petunjuk dari
- Allah. Tapi disebabkan karena mereka
- mengikuti hawa nafsu mereka, akhirnya
- faktalau. Terjadilah perselisihan
- pertentangan di antara mereka. Kananasu
- umatan wahidatan. Di sini ada jumlah
- yang dibuang al sabil ijaz fakalafu
- mereka berselisih
- karena suatan wahidatan fabaatallahun
- nabiyina mubasyirina wa mundirin.
- Kemudian Allah utus para nabi
- dengan membawa kabar gembira bagi mereka
- yang mau mengikuti petunjuk Allah hidup.
- dengan penuh keadilan dan kebaikan dan
- juga memberikan peringatan bagi
- mereka-mereka yang ingkar, yang lupa dan
- lalai.
- Faballahun nabiyina mubasyirina wain
- wazala maahum kitaba bilhaqqiahkumainasi
- fi.
- Lalu Allah subhanahu wa taala turunkan
- kepada mereka alkitab
- liyahkuma bainanasi fala fi. Agar dengan
- kitab tersebut para nabi, para rasul
- memberikan keputusan di antara manusia
- pada apa-apa yang mereka perselisihkan.
- Kita dalam kehidupan berumah tangga
- antara suami istri, di antara orang tua
- dengan anak, di antara anak seringki
- enggak muncul perbedaan.
- Nah, kalau masing-masing mengikuti hawa
- nafsu kemauan, apa yang akan terjadi?
- Tapi di saat kita memiliki standar yang
- jelas, suami istri berselisih merujuk
- kepada neraca yang sama. Begitu juga
- anak dan orang tua ada perbedaan kembali
- kepada neraca yang sama. Di antara
- sesama saudara ada perbedaan pendapat,
- perselisihan. Mereka bisa merujuk kepada
- timbangan yang sama yang penuh keadilan.
- Karena datang dari Tuhan mereka yang
- maha pengasih lagi maha penyayang.
- Begitu pula dalam kehidupan
- bermasyarakat pasti akan terjadi
- gesekan.
- Tapi kalau kita mau menerima standar
- yang sama, rujukan yang sama, bukan
- mengikuti hawa nafsu kita atau kita
- merasa lebih pandai dari Allah Subhanahu
- wa taala, semua dapat diselesaikan.
- Wtalaftum fi minin fahmuhuallah. Apa
- saja yang kalian perselisihkan, apa saja
- dalam seluruh aspek kehidupan kalian,
- maka kembalikan hukumnya kepada Allah.
- Jadi wa anzala maahumul kitaba bilhaqqi
- liyahkuma bainanasi fala. Allah turunkan
- bersama mereka Alkitab agar memutuskan
- di antara mereka pada apa-apa yang
- mereka perselisihkan atau perselisihan
- yang berlangsung di tengah mereka. Lalu
- Allah terangkan, wtalafa fi illalladina
- utuhu min ba'di ma jaatumul bayinatuan
- bainahum. Ternyata tidak terjadi
- perselisihan di antara mereka
- melainkan setelah apa? Setelah datangnya
- petunjuk Allah kepada mereka.
- Setelah datangnya bukti-bukti,
- keterangan yang jelas dan
- terang-menerang, Allah turunkan kitabnya
- di tengah-tengah mereka. Ternyata mereka
- berselisih setelah datangnya petunjuk
- dan ilmu kepada mereka. Sebabnya apa?
- Baghian bainahum. Karena
- mereka mengikuti hawa nafsu mereka yang
- menyebabkan terjadinya konflik,
- terjadinya pertentangan, terjadinya
- perselisihan, terjadinya perebutan yang
- menyimpangkan mereka dari kebenaran.
- Jadi bukan karena mereka bodoh, tapi
- karena mereka dikuasai oleh hawa nafsu
- mereka.
- Sebagaimana dalam suratul bayyinah Allah
- jelaskan sebab perselisihan para ahli
- kitab. Wama tafarraqadina utul kitab
- illa min ba'di ma jaat humul bayinah.
- Dan tidak terjadi pertentangan,
- perpecahan di antara para ahli kitab
- kecuali setelah datangnya bayyinah,
- setelah datangnya bukti, hujah, argumen
- Allah yang terang benerang, mereka
- berselisih. Karenapa? Karena mengikuti
- hawa nafsu. Dalam surat Ali Imran Allah
- berfirman, "Innaddina indallahil islam."
- Sesungguhnya satu-satunya agama yang
- diterima oleh Allah adalah agama yang
- dasarnya adalah penyerahan diri secara
- total kepada Allah.
- Bagaimana patut seorang hamba ya yang
- menyadari bahwa dirinya ciptaan Allah
- lalu menolak apa yang datang dari Allah.
- Jadi innaddina indallahil Islam.
- Sesungguhnya satu-satunya jalan hidup,
- pedoman hidup agama yang diterima oleh
- Allah hanyalah yang dasarnya penyerahan
- diri kepada Allah. Bukan kita justru
- apa? Mengendalikan Allah, menggiring
- Allah untuk mengikuti hawa nafsu kita,
- tapi kita justru menyerahkan diri kita
- secara total untuk menerima apa yang
- datang dari Allah. Baik pada saat kita
- suka maupun tidak suka. [mendengus]
- utul kitab illa ba jaahumulahum
- dan tidak terjadi perselisihan di antara
- para ahli kitab kecuali setelah
- datangnya ilmu kepada mereka.
- Kita umat Islam,
- terutama sekali para ulama yang berilmu,
- mereka semua mempelajarinya
- Alkitab.
- Terjadinya pertentangan pada saat mereka
- meninggalkan kitab Allah, mengikuti
- pandangan-pandangan manusia tanpa
- dikembalikan pada kitab Allah. Akhirnya
- pada saat mereka berbeda pendapat,
- masing-masing mereka memiliki rujukan,
- memiliki pegangan [berdehem] yang
- berbeda. Padahal mereka merupakan satu
- umat. Nabi mereka sama, kitab mereka
- sama, tapi ternyata mereka memilih untuk
- berselisih karena mereka tidak mematuhi
- sama sekali perintah dan petunjuk Allah
- Subhanahu wa taala.
- Sebagai contoh sederhana, Kang Rizal.
- Kalau seandainya kita mau beli tanah,
- mau beli ta, katakan seluas 1000 m.
- Pemilik tanah mengatakan tanah saya 1000
- m. Baik, kita ukur ulang.
- He.
- Waktu diukur ulang, ternyata tanah hanya
- 900 m.
- He.
- Pemilik tanah mengatakan, "Menurut
- ukuran saya 1000 m."
- Hm.
- Si pembeli mengatakan tidak bisa. ini
- berdasarkan meteran hanya 900 m. Si
- penjual mengatakan, "Saya tidak mau tahu
- ukuran kamu, yang penting ukuran saya."
- Ternyata ukuran dia itu
- 1 mnya tidak merujuk kepada standar
- meter yang sama yang disepakati.
- Dia punya 2 meteran.
- Kalau dia mau menjual, ya meteran dia
- panjangnya hanya 90 cent.
- Kalau dia mau beli ee kalau dia menjual
- panjangnya hanya 90 sen.
- Heeh.
- Pada saat dia mau mau
- menjual
- menjual menjual 100.
- Kalau menjual 100. He.
- Tapi kalau mau beli ya meteran dia 90
- cent. Jadi kalau diukur tanah 90 cent
- menurut dia 1 m sudah.
- Hm. 100 m.
- Enggak. Salah. Salah.
- Terbalik.
- [berdehem]
- Kalau dia mau menjual
- meteran dia
- sepanjang 90 centti, tapi kalau mau beli
- ya
- ukuran meter dia lebih panjang.
- Katakan 110 atau 120. He.
- Si pemilik tanah dirugikan loh dengan
- sendirinya. Betul gak? Tanah saya ini
- 1000 merdaskan meteran yang standar. Dia
- mengatakan tidak. Menurut meteran saya
- tanah kamu kurang dari 1000 m.
- Karena [mendengus] 1 meternya 120
- pada saat dia mau beli. Tapi pada saat
- dia menjual,
- apa yang terjadi?
- Pada saat dia mau menjual, dia panjangin
- dia punya pemeteran.
- Enggak. Pada saat dia mau beli tadi 1 m
- 10, pada saat dia mau jual sengaja apa?
- Ukuran meteran dia lebih kurang.
- Waktu diukur ternyata cuma 900
- berdasarkan meteran standar.
- Tapi paket meteran dia ya
- sudah 1000 m. Karena meteran dia pada
- saat dia mau menjual lebih panjang, pada
- saat membeli lebih pendek. Nah, ini yang
- dikatakan dalam Al-Qur'an, wailun lil
- mutofifin.
- Alladinau alasi yastaufun waiduhum
- wazanuhum yuhsirun. Celakalah bagi para
- mutfifin, orang-orang yang curang.
- Kalau dia membeli dari orang, dia minta
- haknya dipenuhi.
- Bahkan dia berupaya untuk mengambil hak
- orang. Tapi ya kalau dia menimbang dan
- menjual untuk orang, dia kurangi hak
- orang.
- Kalau orang membeli barang minta
- dipenuhi haknya, wajar gak?
- Wajar. Tapi kalau dia menjual barang
- dikurangi hak orang lain, ini kan
- namanya perbuatan curang. He.
- Nah, kalau kita perhatikan bersama-sama
- kita ini umat Islam pada saat ini
- sebetulnya tidak merujuk kepada
- timbangan dan ukuran yang sama.
- Yang satu mengatakan
- saya ikut tolok ukur.
- Yang berasal katakan dari mazhab A. Satu
- lagi mengatakan dari mazhab B. Satu lagi
- dari mazhab C.
- Satu lagi mengatakan, "Saya merujuk
- kepada tolak ukur fulan guru saya."
- Yang satu lagi mengatakan saya ikuti
- guru saya. Yang satu lagi mengatakan
- saya ikut kepada salaf.
- Ini semua merupakan tolok ukur yang
- tidak pernah sama sekali mendapatkan
- izin rekomendasi dari Allah. Kalau kita
- mengikuti Imam Syafi'i, kita bukan
- mengikuti beliau dengan buta. Begitu
- juga kita mengikuti Malik bin Anas.
- atau Abu Hanifah atau Ahmad bin Hambal
- atau siapapun juga.
- Kita bukan ikut mereka secara membuta.
- Allah mengatakan wala takfu ma laisa
- laka bihi ilmun. Jangan ikuti sesuatu
- tanpa dasar ilmu.
- Dengan sendirinya
- kita merujuk pada dasarnya kembali
- kepada aturan yang datang dari Allah
- Subhanahu wa taala. Karena baik itu
- Syafi'i, Maliki, Hambali, Hanafi,
- siapapun dia, mereka bukan datang untuk
- mengubah aturan Allah. Sedangkan Rasul
- pun tugasnya menyampaikan aturan Allah
- Subhanahu wa taala.
- Nah, kalau ada perbedaan ya yang kembali
- kepada pendapat interpretasi manusia
- bukan hal-hal yang prinsip kembali
- kepada syariat yang datang dari Allah,
- kita berlapang kali dalam hal ini. Tapi
- kalau sudah menyentuh atau berkaitan
- dengan syariat yang datang dari Allah,
- kita hanya dapat mengatakan sam'na wa
- atna. Karena ini menentukan iman kita
- kepada Allah, iman kita kepada kitabnya,
- iman juga kepada rasul-Nya. ini bukan
- masalah sepele. Nah, terjadinya
- perselisihan di antara para ahli kitab,
- begitu pula di antara umat Islam bukan
- karena tidak jelasnya petunjuk Allah,
- [mendengus]
- tapi disebabkan bagian bainana wainahum,
- disebabkan juga karena kita mengikuti
- hawa nafsu kita. Kita keluar dari
- petunjuk Allah Subhanahu wa taala karena
- tidak selaras dengan hawa nafsu kita.
- Hingga Allah sebutkan dalam suratun
- nurak
- lahumul haqquaiin.
- Kalau hukum Allah sejalan dengan
- kepentingan mereka, keuntungan mereka,
- mereka akan menyambut dengan gembira.
- Tapi di saat hukum Allah bertentangan
- dengan kepentingan mereka, mereka
- mencari-cari jalan yang kira-kira dapat
- memenangkan mereka dan berpihak kepada
- mereka.
- [mendengus]
- Ini kesimpulannya, Kang Rizal,
- hukum Allah Subhanahu wa taala yang
- Allah Subhanahu wa taala turunkan
- melalui kitab yang disampaikan oleh
- rasulnya ini yang akan menjadi tolok
- ukur penilaian bagi kita orang yang
- beriman di dunia maupun di hari akhirat.
- Oleh karena itu, bagi setiap orang yang
- beriman, yang mengaku beriman kepada
- Allah, beriman kepada hari akhir,
- beriman kepada malaikat sebagai
- duta-duta Allah, beriman kepada kitab
- yang Allah turunkan dan rasul yang
- diutus oleh Allah Subhanahu wa taala,
- maka dengan sendirinya konsekuensi
- logisnya dia harus betul-betul beramal
- dalam hidup ini sesuai dengan petunjuk
- Allah Subhanahu wa taala. Tapi Allah
- tidak paksa.
- wamya falyakfur. Yang mau beriman
- silakan,
- ya mau ingkar juga silakan. Tapi setelah
- datangnya petunjuk Allah, maka para
- ulama di sini tugas mereka untuk
- menyampaikan pesan-pesan Allah dan
- risalah Allah sebagaimana disampaikan
- oleh para nabi dan para rasul. Kalau
- mereka menolak, umumkan faquadu
- muslimun. Umumkan bahwa kami adalah
- orang-orang yang berserah diri kepada
- Allah. Bukan hak kami untuk memaksa
- kalian beriman.
- Lakum dinukumana
- wakumalukum.
- Jadi kalau setiap orang dari kita
- memahami, mengetahui, dan mengimani
- bahwa dia dalam kehidupan dunia
- diciptakan bukan dengan sia-sia, tapi
- diciptakan sebagai khalifah yang akan
- mempertanggungjawabkan amal perbuatannya
- dalam kehidupan yang terbatas ini dengan
- sendirinya dia tidak akan bertanya-tanya
- apakah masih perlu kita merujuk kepada
- tuntunan agama.
- Tapi yang menyebabkan hilangnya
- kepercayaan terhadap agama adalah
- tokoh-tokoh agama.
- Tokoh-tokoh agama yang menempatkan
- ayat-ayat Allah bukan pada tempatnya.
- Yang tidak menghormati sama sekali
- petunjuk yang datang dari Allah. Mereka
- berselisih disebabkan karena hawa nafsu
- dan kecintaan mereka kepada dunia
- akhirnya menyebabkan manusia hilang
- kepercayaan pada agama. Agama hanya
- dijadikan sebagai alat dan kendaraan.
- Nah, ini menjadi kewajiban orang-orang
- yang merasa betul-betul mereka
- bertanggung jawab untuk menyampaikan
- amanat Allah. Menyampaikannya dengan
- murni, tanpa pameri, tanpa sama sekali
- menginginkan dunia di balik apa yang
- mereka sampaikan, tapi mereka
- menginginkan apa yang di sisi Allah. Dan
- mereka tidak perlu khawatir. Allah
- Subhanahu wa taala akan memberikan
- jaminan rezeki bagi mereka-mereka yang
- menjalankan dan menyampaikan risalah
- Allah.
- Tapi sayang sungguh sayang ketakutan
- kita terhadap kehidupan dunia ini,
- kecintaan kita kepada dunia ini yang
- menyelewengkan kita, menyimpangkan kita
- dari petunjuk Allah Subhanahu wa taala.
- Oleh karena itu kalau kita bicara
- mengenai perekonomian Islam sebagai
- contoh.
- Perekonomian Islam rujukannya adalah
- wahyu
- dan akal sehat.
- Sedangkan ekonomi yang tidak islami,
- kapitalis katakan
- rujukannya hanya semata-mata
- rasionalitas
- dan hawa nafsu.
- Rasionalitas dan hawa nafsu. Karena apa?
- Karena aturan yang dibuat oleh mereka.
- Mereka kaum kapitalis selalu merujuk
- kepada pemilik modal. Mereka menganggap
- buruh pegawai itu tak ubahnya bagaikan
- alat kerja. Tidak berbeda dengan alat
- kerja. Mereka ingin memproduksi
- semurah-murahnya, membayar buruh
- semurah-murahnya untuk keuntungan yang
- sebesar-besarnya.
- Tapi kalau dalam Islam tidak ada
- keadilan antara pemilik modal
- dengan pekerja itu bukan tuan dan budak
- tapi mitra
- sebagai mitra.
- Oleh karena itu, keuntungan bukan hanya
- dinikmati oleh pemilik modal, tapi juga
- mitra mereka yang bekerja bersama mereka
- memiliki hak untuk menikmati manfaat
- keuntungan bersama mereka.
- [mendengus]
- Oleh karena itu, tidak dibenarkan
- pemilik modal ini untuk memperlakukan
- pekerja mereka dengan semenah,
- tapi memperhatikan kesejahteraan mereka
- sebagaimana mereka juga apa? Sebagaimana
- mereka juga ingin ya diperhatikan
- kepentingan mereka.
- Dahulu kala kita jumpai
- negara-negara barat dapat dikatakan
- sebagai kapitalis munir. Mereka mengaruh
- kepada kali kapitalisme murni. Sekarang
- sudah mulai
- bercampur dengan sosialisme. Sebagai
- contoh, kita lihat
- di negara barat bagaimana ee kepedulian
- mereka terhadap apa terhadap ee hak
- asasi manusia kepada buruh. Perlindungan
- terhadap mereka. Kita jumpai juga di
- Australia, di Islandia baru. Bagaimana
- perlindungan mereka terhadap buruk ya,
- menjaga lingkungan hidup ya. Tapi kita
- umat Islam ternyata apa? Semua yang
- buruk dari kapitalisme ada pada kita.
- Yang buruk dari komunisme juga ada pada
- kita.
- Sedangkan kebaikan yang ada pada mereka
- tidak kita nikmati. Kita bisa jumpai di
- negara Arabnya maupun di negara kita
- betul-betul jauh dari apa? tuntunan
- Allah Subhanahu wa taala dan kitab
- sucinya.
- Ironis, Ustaz, ya.
- Nah, kemudian kalau kita perhatikan
- dalam Islam ya, di samping tadi kita
- lihat ya, rujukannya adalah wahyu dan
- akal
- ditambah lagi dengan nurani. Di mana
- dalam Islam perekonomian itu dan semua
- transaksi harus didasari bukan hanya
- dengan dasar kebenaran jauh dari
- kebatilan, tapi harus didasari suka sama
- suka.
- Jadi walaupun transaksinya dianggap
- wajar, tapi kalau ada unsur pemaksaan,
- maka dengan sendirinya
- hal tersebut dianggap tidak sah. Allah
- berfirman, "Wulu amwakumakum bil batil."
- Jangan kalian memakan harta sesama
- kalian dengan cara yang batil.
- Kecuali atas dasar perdagangan
- tukarmenukar manfaat atas dasar suka
- sama suka di antara kalian.
- Iya.
- Jadi jauh dari unsur garar penipuan,
- maisir perjudian ya jauh dari unsur
- riba. Karena semua ini merugikan
- manusia. Kemudian diiringi dengan rasa
- suka sama suka. Oleh karena itu, Islam
- mengharamkan monopoli ya. Pada saat
- seorang pedagang datang dari luar
- sebelum sampai di pasar, kita tidak
- boleh mencegat di tengah jalan agar
- mereka tahu berapa harga pasar dan
- mereka menjual barang mereka dalam
- keadaan betul-betul tahu tanpa tertipu.
- Jadi bukan hanya kesejahteraan yang
- dituntut seperti kaum kapitalis yang apa
- mengelola perekonomian mereka hanya
- untuk kesejahteraan dan keuntungan
- sebagian orang. Tapi dalam Islam ya, di
- samping kita berharap kesejahteraan
- dalam kehidupan dunia atas dasar
- kebenaran keadilan, tapi yang menjadi
- tujuan utama kita keselamatan dan
- kesejahteraan di hari akhirat. Beda
- enggak? Orang yang mengelola ekonominya
- hanya berpikir tentang keuntungan
- kesejahteraan duniawi dengan orang yang
- mengelola kehidupannya, kehidupan
- perekonomiannya secara apa? Secara
- khusus dengan merujuk kepada Allah. Akal
- sehat.
- Dan targetnya mengharapkan keselamatan
- di hari akhirat, kesejahteraan dalam
- kehidupan dunia dan hari akhir. Pasti
- dia akan berhati-hati, menghormati juga
- apa janji-janjinya, kesepakatan yang
- dibuat dengan dasar kebenaran dan
- keadilan.
- Bukan dengan kekuatan dia sebagai
- pemilik modal, dia bersikap semau-maunya
- terhadap orang yang bekerja padanya.
- Nah, kalau kita lihat bagaimana Rasul
- memperlakukan orang yang bekerja,
- jangankan manusia, hewan saja tidak
- boleh diberikan beban yang lebih
- daripada kemampuannya.
- H. [mendengus]
- Nah, semua diatur oleh Allah dalam kitab
- sucinya.
- Kemudian Allah Subhanahu wa taala juga
- tunjukkan kepada kita melalui kehidupan
- Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam. Nah, kita sebagai orang yang
- beriman diperintahkan untuk merujuk
- kepadanya.
- Jadi, ee keberadaan agama Allah dan
- petunjuknya bukan merupakan permainan,
- tapi ini merupakan neraca dalam
- kehidupan kita dan wajib atas setiap
- orang yang beriman untuk merujuk kepada
- kita.
- Lalu pertanyaan muncul,
- apakah
- agama mampu untuk menjawab tantangan
- zaman yang begitu kompleks pada saat
- ini? Sebetulnya
- terjadinya kompleksitas dan berbagai
- macam persoalan yang baru ini hanya
- sebatas permukaan. Tapi intinya manusia
- tuh sama.
- Intinya manusia
- sama. Manusia yang diciptakan Allah
- Subhanahu wa taala dulu maupun sekarang
- tidak berbeda. Kalau corak tantangannya
- berbeda-beda, tapi pada intinya sama.
- Begitu manusia kembali kepada Allah
- mengikuti petunjuknya
- dengan betul-betul patuh, maka dengan
- mudah kita menyelesaikan
- persoalan-persoalan
- kita,
- pertentangan, perbedaan di antara kita.
- Karena walaupun manusia sudah berbeda
- kalau dulu naik unta, naik kuda,
- sekarang naik pesawat ya atau
- menggunakan mobil katakan apa ee
- kendaraan bermotor, naik pesawat dan
- lain sebagainya. Menikmati berbagai
- macam fasilitas hidup. Kalau kita
- perhatikan intinya sama gak
- sama?
- Intinya sama.
- Apa yang diharamkan Allah dulu itu hal
- yang diharamkan. Saat ini Allah haramkan
- kita untuk ee berkhianat. Allah haramkan
- kita untuk berbohong. Allah haramkan
- kita untuk berbuat aniaya. Allah
- perintahkan kita untuk menegakkan
- keadilan, berbuat kebaikan terhadap
- sesama, peduli terhadap kerabat-kerabat
- kita, dilarang kita untuk mengabaikan
- mereka. Artinya pesan Allah dulu sama
- sekarang berlaku tidak berbeda.
- Manusianya intinya kemanusiaannya sama.
- Kalau pencurian haram pada masa dulu,
- sekarang juga haram. Kezaliman dulu
- haram, sekarang juga ha
- haram.
- Kalau dahulu kala seorang menzalimi
- saudaranya yang bekerja menggunakan
- menggunakan tenaganya, sekarang
- menggunakan katakan berbagai macam
- peralatan.
- Hanya peralatan yang berkembang, tapi
- manusianya intinya [berdehem] sama.
- Termasuk AI ya, Ustaz ya?
- Termasuk AI.
- [mendengus]
- Cuma sayangnya kita tidak melihat Allah
- dalam hidup ini. Kita tidak lagi melihat
- hari akhirat. Kita tidak melihat lagi
- bahwa kita sebetulnya merupakan satu
- keluarga yang berasal dari ayah ibu yang
- sama. Kita tidak melihat Nabi diutus
- oleh Allah untuk memberikan petunjuk
- kepada kita dan contoh tentang kehidupan
- yang ideal. Tapi semua ini kita abaikan.
- Kita ingin hidup dengan cara kita,
- dengan hawa nafsu kita. Siapa yang
- memilih dengan jalan hidupnya silakan.
- Keingkaran mereka ya yang ingkar
- terhadap petunjuk Allah, terhadap kitab
- maupun agamanya tidak akan mengubah yang
- benar itu menjadi salah, yang salah
- menjadi benar. Tetap yang benar itu
- benar, yang salah itu salah. Walaupun
- manusia semuanya bersepakat melakukan
- hal yang tidak benar, tidak akan
- mengubah yang benar itu menjadi apa?
- Salah atau yang salah menjadi benar.
- Jadi jangan kita terpedaya, tertipu oleh
- banyaknya orang yang berpaling dari
- Allah, banyaknya orang yang berkumpul di
- sekeliling dunia dan mereka berpaling
- dari Allah. Ketahuilah kita hidup di
- dunia ini di atas muka bumi, tempat
- hidup kita ini kecil.
- Bumi dibandingkan dengan luasnya alam
- tidak berarti apa-apa. Masa hidup kita
- singkat dan pendek. Satu hari di akhirat
- sama dengan 1000 tahun dalam hitungan
- kita. Seandai kita hidup 100 tahun hanya
- 1/10 satu hari di akhirat, apa yang kita
- banggakan?
- Ke mana perginya para pembesar di atas
- muka bumi? Seperti Firaun,
- Namrud,
- begitu juga Alexander Almdonia. Ke mana
- perginya mereka semua?
- Ke mana perginya para konglomerat yang
- dikenal? Ya, dalam beberapa dekada ini
- seperti Onasis. Katakan Donald Trump
- juga pernah menjadi seorang apa? seorang
- terkaya di Amerika.
- Begitu juga di negeri kita Li Suelion.
- Ke mana perginya sekarang?
- Ke mana perginya mereka? Ternyata
- kita menyaksikan satu persatu mereka
- meninggalkan dunia.
- Harta yang dulu mereka kumpulkan telah
- terbagi dan bercerai-berai.
- Mereka tidak mampu lagi untuk apa? untuk
- terlibat dalam kehidupan saat ini. Tapi
- hukum Allah, kekuasaan Allah tidak
- pernah berubah.
- Allah yang menetapkan kehidupan dan
- kematian. Sedangkan kehidupan kematian
- seperti kita ini tidak berlaku bagi
- Allah. Karena Allah yang menganugerahkan
- kehidupan. Allah juga yang menentukan
- kematian. Jadi kita semua tidak ada
- satuun yang lepas dari ketentuan Allah
- Subhanahu wa taala. Nah, kembali kepada
- kisah-kisah Al-Qur'an. Maaf jawabannya
- terlalu panjang ya karena perlu
- memberikan contoh dalam hal ini.
- Adapun berkaitan dengan kisah-kisah
- Al-Qur'an dalam surah Yusuf yang ayat
- 111 Allah berfirman, "Laqad kana fi
- qasosihim Ibrahim." Sesungguhnya pada
- kisah-kisah mereka, cerita-cerita mereka
- terdapat apa? Terdapat pelajaran dan
- ibrah yang berguna bagi kita.
- Sebagai contoh kisah yang Allah
- ceritakan mengenai kedua anak Adam
- atau kisah mengenai kakek kita di surga.
- Ini kisah yang penuh hikmah.
- Bagaimana kakek dan nenek kita Adam dan
- Hawa ketika mereka lupa terhadap
- peringatan Allah, percaya terhadap
- janji-janji iblis, bukan kemuliaan yang
- diterima, bukan kehidupan kekal seperti
- yang dijanjikan. Iblis berkata kepada
- kaki kita, "Ala aduka alajaril."
- Mau enggak kamu saya tunjukkan
- kepada sebuah pohon yang akan membuat
- kamu memiliki kekuasaan yang tak
- terbatas dan kehidupan yang abadi.
- Kamu akan hidup kekal dan mempunyai
- kekuasaan yang tidak akan pernah sirna.
- Ala adulluka ala khuldi. Maukah kamu
- saya tunjukkan pohon yang akan membawa
- hidup kamu kekal mulkin la yabla dan
- kekuasaan kerajaan yang tidak akan
- pernah sirna.
- Iblis datang menggoda kakek kita, nenek
- kita sampai pada akhirnya mereka lupa
- kepada peringatan Allah. Apa yang
- terjadi? Apakah mereka mendapatkan apa
- yang mereka inginkan dari janji setan?
- Yaiduhumni.
- Dia memberikan janji kepada mereka
- angan-angan yang indah.
- Dan setan tidak menjanjikan bagi mereka
- kecuali janji palsu.
- Dari tempat mulia mereka turun ke bumi.
- Dari kehidupan yang penuh kedamaian
- mereka menuju kehidupan dunia yang penuh
- dengan berbagai macam cobaan.
- [mendengus]
- Ternyata
- tidak lama kemudian setelah mereka
- memiliki anak keturunan
- kedua anaknya.
- Kedua, anaknya berselisih yang satu
- dengan tega untuk apa? Yang satu dengan
- tega
- ternyata membunuh saudaranya.
- H. Ini pelajaran bagi kita bagaimana di
- saat orang lupa kepada Allah, dikuasai
- oleh hawa nafsunya, dia bisa melakukan
- perbuatan-perbuatan yang tidak terlintas
- dalam benak kita. Saudaranya
- yang satu sudah mengatakan, "Saya tidak
- akan mengelurkan tangan saya di saat
- kamu mengelurkan tangan saya untuk
- tanganmu untuk membunuh saya. Karena
- saya takut kepada Allah Rabbal Alamin.
- Saya melakukan hal ini karena saya ingin
- kalau kamu tetap memaksa membunuh saya,
- kamu akan menanggung memikul dosa saya
- dan dosa kamu.
- H
- hingga kamu menjadi orang-orang yang
- zalim.
- Ternyata peringatan tak berguna di saat
- jiwa dikuasai oleh setan. Ini anak
- siapa?
- Nabi.
- Nabi.
- Begitu juga kejadian yang terjadi pada
- anak-anak Nabi Yakub. Anak Nabi tega
- untuk memasukkan ke dalam sumur.
- Hm.
- Bahkan sebelumnya berencana untuk
- membunuhnya.
- Iya. Iya.
- Sampai pada akhirnya mereka menyadari
- kesalahan mereka. Ya. Justru mengangkat
- Yusuf menuju kemuliaan. Ketika mereka
- menyadari kesalahan mereka.
- Laqadarakallahu alaina waun. Sungguh
- Allah telah mengutamakan kamu atas kami
- dan kami mengakui dulu kami berbuat
- salah pada kamu. Yusuf dengan lapang
- dada yang legowo menjadi manusia yang
- bijak. La tba alaikumulum. Tidak perlu
- kalian menyalahkan diri kalian. Semoga
- Allah mengampuni dosa kalian. Lalu
- beliau memberikan pelajaran yang amat
- indah buat kita. Innahu yattaqi. Siapa
- saja yang bertakwa menjaga Allah pada
- petunjuknya. Wasbir dan dia bersabar.
- Allah tidak akan menyia-nyiakan orang
- yang berbuat kebaikan. Allah Yusuf
- mengumpulkan keluarganya, saudaranya
- yang pernah menzaliminya untuk berkumpul
- datang ke Mesir
- dengan takwa dan apa?
- Dan bersabar menghadapi cobaan. Tidak
- goyah, tidak mengikuti hawa nafsu. Kisah
- Nabi Allah Nuh. Kita saksikan bagaimana
- nabi demi nabi Hud, Nuh, Saleh semua
- datang memberikan pesan kepada kaumnya.
- Laqad arsalna nuhan faq yaudullaha
- maakum min ilahin
- sungguh kami telah mengutus Nuh kepada
- kaumnya. Kami berkata kepada Nuh berkata
- kepada mereka, "Sembahlah Allah. Kalian
- tidak memiliki Tuhan selain dari Allah.
- Sembahlah Allah dengan sendiri kita
- beribadah padanya dan mengikuti
- bimbingan petunjuknya. menerima apa yang
- datang dari begitu juga waain akhum huda
- q yaudullah maakum min ilahin ghair
- begitu juga kepada nabi Allah saleh dan
- lain-lainnya semuanya mengajak agar
- mereka beribadah pada Allah dan
- mengikuti petunjuk Allah demi
- keselamatan mereka para nabi bukan
- berdakwah untuk kepentingan mereka
- saksikan bagaimana pelanggaran mereka
- mendatangkan akibat yang mengerikan kaum
- Nuh yang ditelan oleh badai dan tafan.
- Begitu juga kaum Hud, begitu juga kaum
- Saleh. Begitu juga praktik kaum Luth
- yang menyimpang di mana homoseksual
- bereda di tengah mereka. Akhirnya mereka
- terkena azab Allah. Pertama hujan, batu,
- kemudian bumi diterbalikkan di atas
- mereka. Nah, apa yang terjadi pada
- mereka? Terjadi juga pada kita saat ini.
- Begitu juga kaum Syuaib. Di samping
- mereka mempersekutukan Allah, mereka
- juga berlaku curang dalam timbangan.
- Berlaku cu
- melakukan intimidasi.
- Begitu juga eksploitasi terhadap apa?
- Terhadap yang lemah. Melakukan ancaman,
- tindakan terhadap mereka.
- Yang terjadi pada kaum Syuaib
- relevanseninya ada dalam kehidupan kita
- semua. Artinya kalau kita melakukan
- perbuatan yang sama, kita akan mengalami
- juga nasib yang sama.
- Jadi kisah para nabi ini ya di
- tengah-tengah kehidupan yang kompleks
- saat ini sebetulnya tidak kehilangan
- sama sekali ibrahnya. Kita jangan lihat
- di permukaan seperti riak-riak air
- [berdehem] tapi intinya manusia sama.
- Apa-apa yang baik bagi mereka dulu
- sekarang tidak berbeda. Kembali pada
- Allah mengikuti petunjuk. Apa-apa yang
- akan mencelakakan mereka sama dengan apa
- yang mencelakakan umat terdahulu. Tapi
- kita tertipu terpedaya dengan apa?
- Dengan corak hidup manusia saat ini atau
- gaya hidup mereka.
- Kita lupa kepada intinya. Kamu sebagai
- hamba Allah ditempatkan di atas muka
- bumi sebagai khalifahnya
- untuk bekerja beramal dalam kehidupan
- sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu
- wa taala. Ini untuk kebaikan,
- keselamatan kamu. Kalau kamu menolak,
- kamu akan menanggung akibatnya. Oleh
- karena itu, para ulama
- sebaiknya
- sibuk memberikan edukasi [berdehem]
- kepada umat akan tujuan hidup mereka,
- jalan hidup mereka, juga petunjuk Allah
- Subhanahu wa taala yang terdapat dalam
- kitabnya dan telah dicontohkan oleh nabi
- kita. Jangan kita menyibukkan umat dalam
- perdebatan khilafiah [mendengus] yang
- kembali kepada pendapat dan interpretasi
- manusia. Walaupun merujuk kepada hadis,
- tapi ada hadis lain lagi yang berbeda.
- Artinya pendapat mereka tidak sama
- sekali merujuk kepada dalil yang qat'i
- dan pasti, tapi kepada dalil yang doni.
- Karena hadis tidak dikumpulkan pada masa
- Nabi.
- [mendengus]
- Berbeda dengan Al-Qur'an. Oleh karena
- itu yang datang dalam Al-Qur'an kalau
- kita betul-betul fokuskan perhatian kita
- merujuk kepadanya dan para ulama
- memberikan edukasi yang sebaik-baiknya,
- umat akan memahami apa yang Allah minta
- dari mereka dan apa yang Allah larang
- dari mereka. Sebagai contohnya kalau
- suratul hujurat
- diterangkan oleh para ulama yang
- menjelaskan bagaimana ada pergaulan
- bersosial di tengah-tengah kita ini kita
- amalkan insyaallah umat Islam akan
- saling menghargai, menghormati. Tapi
- kitab Allah Subhanahu wa taala kita
- hanya baca tanpa kita resapi. Bagaikan
- keledai-keledai yang memikul
- tumpukan-tumpukan
- buku yang berisikan ilmu, tapi dia
- sendiri tidak mendapatkan kecuali hanya
- keletihan, kelelahan.
- Jadi, mari bersama-sama kita kembali
- kepada petunjuk Allah Subhanahu wa
- taala. Kemudian para ulama yang
- bertanggung jawab untuk menyampaikan
- amanat Allah, pertama-tama menerangkan
- kitab sucinya. Jangan justru mereka
- menghalang-halangi orang yang
- menyampaikan kitab suci dengan alasan
- ulama-ulama kami telah menjelaskan,
- menerangkan apa yang dalam Alkitab tidak
- perlu lagi kita kembali kepada
- Al-Qur'an. Jadi mereka
- menghalang-halangi orang untuk kembali
- kepada Al-Qur'an. Mereka adalah
- musuh-musuh Allah Subhanahu wa taala.
- Jadi bukan berarti kita mengingkari
- sunah Rasul. Kita harus bedakan antara
- sunah dan hadis. Kalau sunah itu
- menggambarkan
- perilaku Nabi manhaj hidupnya yang jelas
- terang benerang yang tidak berbeda. Tapi
- kalau hadis penuh dengan perbedaan
- pertentangan, maka riwayat-riwayat yang
- sejalan dengan Al-Qur'an yang disepakati
- dari Rasul itulah sunah.
- Tapi kalau yang berbeda itu bersifat
- relatif. Men sebagian sunah, sebagian
- lagi tidak sun sebagai contoh. Sebagian
- menganggap bahwa qunut itu sunah,
- sebagian lagi mengatakan
- bukan sunah. Ini dua perbedaan pendapat
- yang berlawanan.
- He.
- Dan ini kalau kita perhatikan merujuk
- kepada riwayat yang bukan yang pasti.
- Tapi kalau menegakkan keadilan wajib.
- Haramnya pengkhianatan itu jelas dalam
- Al-Qur'an. Perintah bersikap jujur
- jelas.
- Larangan untuk berdusta jelas dalam
- Al-Qur'an. Betul gak? Begitu juga
- larangan untuk mengumpat, menyebarkan
- fitnah, menyebarkan kebohongan itu jelas
- dalam Al-Qur'an.
- Tapi ternyata yang jelas-jelasan
- dilarang dikerjakan. Bukan hanya oleh
- masyarakat umum, ulama-ulama banyak yang
- menyebarkan hoax
- h
- menyebarkan fitnah terhadap orang-orang
- yang berbeda dengan mereka. Kenapa?
- Karena yang mereka sembah bukan Allah,
- tapi setan yang mereka sembah. Jadi, ini
- ala kadarnya mudah-mudahan ee bisa
- memberikan jawaban yang memuaskan ya.
- Baik, Ustaz. Baik. Dua pertanyaan tadi
- ee insyaallah terjawab cukup panjang dan
- jelas, Ustaz. Ya, terakhir, Ustaz, ya,
- satu pertanyaan lagi ini dari hamba
- Allah juga karena barusan terkait
- bersikap jujur nih. Ee ada pertanyaan
- dalam dunia pekerjaan yang kompetitif
- saat ini, Ustaz. Bagaimana kita bersikap
- jujur, menjaga integritas dan
- profesional tanpa harus mengorbankan
- prinsip-prinsip agama seperti
- menghindari korupsi, suap, ataupun
- persaingan yang tidak sehat, Ustaz.
- Demikian
- di tengah-tengah persaingan tantangan
- hidup ini yang carut-marut
- di mana yang hak dan batil bercampur
- menjadi satu.
- Allah Subhanahu wa taala ingatkan kita
- dalam surah at-Taubah
- kalau tidak salah ayat 119.
- Ya ayyuhalladzina amanutaqulah waunu
- maqin. Wahai orang-orang yang beriman,
- bertakwalah kepada Allah.
- Waunu maqin.
- Allah tidak mengatakan waunu
- minasodiqin.
- Kalau kunu minasin artinya jadilah
- kalian dari orang-orang yang jujur.
- Tapi Allah perintahkan waunu maodqin.
- Hendaklah kalian
- hidup bergaul bekerja bersama
- orang-orang yang jujur. He artinya
- kita di tengah-tengah kehidupan kita,
- baik rumah tangga kita, kalau kita
- berpasangan dengan orang yang tidak
- jujur, gimana?
- Walaupun cantik,
- h
- walaupun can
- cantik,
- tapi berpasangan dengan pasangan yang
- tidak jujur. Baik itu pasangan wanita
- atau wanita dengan suaminya tidak jujur,
- maka kegelisahan, keresahan, ya
- menderita,
- keguncangan bakal terus berlangsung. He.
- Begitu juga di antara saudara. Begitu
- juga dalam katakan
- perekonomian kita. Kalau kita bekerja
- sama dengan orang yang tidak jujur, itu
- diumpamakan bagaikan kanser yang akan
- terus menggerogoti apa?
- Sel-sel yang sehat
- dan akan mendorong yang lain juga untuk
- berbuat yang sama.
- Oleh karena itu, dalam berekonomi, dalam
- bekerja sama, kita hendaknya memilih
- teman-teman yang jujur,
- yang lurus, ya, yang dipercaya,
- dan yakin di tengah-tengah sekian banyak
- orang-orang yang bersepakat untuk tidak
- jujur, terdapat orang-orang yang
- merindukan kejujuran dan kebajikan.
- Walaupun kita mulai dari kerja sama yang
- kecil, kalau dibangun di atas kejujuran,
- kebenaran, keberkahannya berbeda dengan
- orang yang memulai dari kebohongan.
- Seperti orang yang membangun bangunan
- yang begitu tinggi, fondasinya rapuh
- karena fondasinya kebohongan.
- Iya,
- betul gak?
- Betul.
- Semakin tinggi bangunannya, semakin apa?
- Berpotensi untuk
- roboh.
- Rubuh. Jadi, dibangun di atas kebenaran
- itu yang paling indah. Jadi betapa
- indahnya firman Allahunu maodqin. Bukan
- waakunu minodqin, tapi waakunu maodqin.
- Hendaklah kalian hidup, bekerja, bergaul
- bersama orang-orang yang yang jujur.
- Oleh karena itu kita katakan umpamanya
- sebagai seorang pemborong.
- Kalau kita katakan
- memborong proyek-proyek pemerintah
- itu pada umumnya kita dipaksa untuk
- tidak jujur.
- Dari mulai kita menerima tender sudah
- ada kesepakatan ya untuk melakukan
- pengkhianatan. Kecuali kalau pejabat
- yang berwenangnya memang orang yang
- jujur.
- He.
- Dari mulai tender setelah itu apa?
- Karena pada saat tender sudah ada
- pemotongan dana yang cukup besar, maka
- biaya proyeknya mau tidak mau apa
- berkurang kan.
- Iya.
- Yang tadinya ketinggian aspal ya dan
- batu splitnya katakan pokoknya 10 cent
- hingga selesai. Kemudian juga mesin
- untuk memadatkannya katakanya 20 ton
- supaya mobil-mobil besar bisa meliwat.
- He.
- Ternyata mulai dikurangi cuma 10 ton.
- Kemudian juga kualitas
- aspalnya juga dikurangi, splitnya juga
- dikurangi. Hingga baru digunakan
- beberapa saat apa? Ternyata sudah mulai
- muncul jalannya apa?
- Jalannya mulai apa? Ee sering ambles ya
- karena kepadatannya tidak sama. Kemudian
- di samping itu juga mulai terjadi
- lubang-lubang seperti jalan yang
- dibangun menuju ke arah Jawa dari
- Cikampek. Terus paling sering kita
- menjumpai lubang-lubang. Tapi jago rawi
- yang dibangun oleh Korea, kita saksikan
- jalan tersebut mus.
- Betul gak?
- Iya.
- Sekian lama mobil-mobil besar liwat.
- Tapi ternyata kita saksikan jalan
- tersebut bertahan dengan baik.
- Tol paling tua, Ustaz, di Indonesia. Ya,
- tol paling tua pada saat itu. Kita ingat
- ini kejadian mungkin tol tersebut
- dibangun kira-kira sekitar 0-an kan.
- Tahun 0-an.
- Jadi kalau kita perhatikan bersama-sama,
- Kang Rizal, kalau kita katakan mengambil
- proyek pemerintah dan kita jumpai bahwa
- pejabatnya bukan pejabat yang jujur,
- pada saat mereka katakan mengajukan
- tender itu pasti ada main. Nah, ini akan
- menjerumuskan kita ke dalam kebohongan.
- Oleh karena itu hendaknya kita jauhi
- mereka. Jauhi mere
- mereka. Karena kalau kita sudah masuk
- berbohong, bekerja sama dengan mereka,
- mau tidak mau kita akan masuk dalam apa?
- Dalam gurita kebohongan. Susah untuk
- melepaskan diri sekali, dua kali,
- apalagi terlibat dalam skandal, nanti
- mereka bisa melakukan ancaman
- macam-macam. Dan kita harus tahu
- bahwasanya kehidupan apa? bukan hanya
- terbatas pada proyek pemerintah.
- Kita bisa bekerja ya bekerja membangun
- lingkungan ekonomi yang sehat, yang
- bersih.
- Begitu juga mencari teman juga yang
- jujur, mencari pasangan hidup juga yang
- jujur. Jangan hanya tergiur melihat
- kecantikan ya, melihat penampilan ya
- atau melihat katakan tubuh yang
- menggoda. Kalau bukan atas dasar
- kejujuran, mereka akan menjadi fitnah,
- menjadi bencana bagi kita semuanya. Oleh
- karena itu kalau kita dianugerahkan
- pasangan yang baik, yang saleh, yang
- setia hargai, kita baru merasakan apa?
- Keberadaan mereka pada saat kita telah
- kehilangan mereka. Apalagi kita
- menjumpai pasangan yang merongrong dan
- menimbulkan penderitaan bagi kita.
- Hargai orang-orang yang baik, yang
- jujur, dan muliakan mereka. Sebagaimana
- Rasul memuliakan Bilal dan Salman.
- Walaupun orang-orang yang Islam yang
- menyusul dari kalangan orang terkemuka,
- tapi tetap Rasul menghargai mereka
- orang-orang yang pertama.
- Jadi waunu maqin Bapak berusaha
- hendaknya selagi betul-betul
- Bapak mampu untuk mengendalikan
- hendaknya Bapak bersikap jujur. Berbeda
- kalau Bapak tidak mampu untuk melakukan.
- Artinya Bapak dalam kondisi tidak
- berdaya.
- Maka darurat ya membolehkan kita untuk
- melakukan yang dilarang. Darurat artinya
- apa? Tidak ada jalan lain.
- Tidak ada jalan la
- lain. Contoh-contoh bahwa kita
- kadang-kadang ee mau buat surat izin
- bangunan,
- tahu-tahu mereka perlambat, mereka e
- buat macam-macam
- ya.
- Bukan untuk apa? Ee mereka minta sesuatu
- dari kita bukan untuk menghalalkan yang
- haram. He.
- Tapi mereka menghambat hak kita.
- Menghambat hak kita. Dan kita enggak
- punya kemampuan sama sekali untuk bisa
- mengadukan perbuatannya atau menuntut
- keadilan. Maka dengan sendirinya ini
- [berdehem] tidak termasuk dalam kata
- suap. Suap itu kita dengan uang kita
- mengambil yang bukan hak kita. H.
- Nah, ini kalau kita perhatikan di Mesir
- sebagai contoh, kalau kita mengajukan
- surat-surat untuk daftar sekolah itu
- bisa diperlambat sebulan, 2 bulan, 3
- bulan.
- Bukan karena tidak sesuai dengan aturan,
- belum ada pelicinnya.
- Allah.
- Nah, ini kita jumpai termasuk [berdehem]
- proyek-proyek di Saudi Arabia juga pada
- saat kita majukan tender, ambil bertanya
- berapa yang kamu akan berikan untuk
- kita.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz
- Huseinatas atas jawaban-jawaban dari
- pertanyaan dan juga kajian yang
- komprehensif ini. Iwan Awat karena waktu
- juga yang terbatas nampaknya Pak Nui
- Hayat sudah menunggu juga dari Australia
- ya. Kita akhiri dengan baca doa fatul
- majis. Subhanak wabihamdika ashadu alla
- ilahailla anta astagfirik.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.