Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Maka ada yang warming up-nya itu sudah
- tanggal 1 Ramadan
- gitu loh. Tapi kemudian tidak cukup dari
- situ. Ada orang yang mulain dari Syawal,
- Syawal ke Ramadan. Kenapa? Karena di
- diisyaratkan Nabi sallallahu alaihi
- wasallam iktikaf di bulan Syawal.
- Kata mereka, kalau lailatul qadar itu
- hanya di bulan Ramadan, ngapain Nabi
- ngintip-ngintip iktikaf di bulan Syawal?
- Kan sudah kelewat itu gitu loh. Nah,
- maka oleh sebab itu semua rahasia. Nah,
- tapi mayoritas ulama mengatakan lailatul
- qadar terjadi di bulan Ramadan. Tetapi
- dalam pendekatan lain gitu, dalam
- pendekatan lain itu bisa terjadi bulan
- apa saja gitu. Lailatul Qadar itu karena
- jika dinisbatkan bahwa lailatul qadar
- itu adalah ee kondisi jiwa gitu ya,
- kondisi jiwa maka bisa jadi kapan saja.
- Tapi kalau kemudian kondisi langit dalam
- kondisi tertentu ditetapkan ya itu
- rahasia. Meskipun kondisi jiwa tetap
- akan sampainya kepada orang yang serius
- yang la hal-hal enggak gitu loh. Nah,
- oke ya. itu tentang lailat qadar
- khulasah dari bahasan kemarin.
- Iya.
- Kaidah mengatakan bahwa
- ketika kita jauh dari agama,
- semakin jauh kita dari Allah ya.
- Semakin kita maksiat
- semakin jauh sekali dari fitrah.
- Sejauh jauh sekali dari Allah karena mak
- maksiat. Jadi tidak mengamalkan agama
- saja gitu, jauh tuh dari fitrah. Nah,
- maka oleh sebab itu fitrah dimaknai
- bukan hanya dalam keadaan suci seperti
- anak baru lahir.
- Suci bersih seperti anak baru lahir itu
- bagian dari pengertian fitrah. Tapi
- bukan satu-satunya pengertian.
- Fitrah itu bisa juga dimaknai beragama
- dengan benar.
- Nah, saya lebih memahami Idul Fitri itu
- kembali memahami melaksanakan agama
- dengan benar
- gitu loh ya. Gitu loh. Kenapa? Karena
- pendidikan di Ramadan itu pendidikan
- jiwa,
- pendidikan kesalehan pribadi, pendidikan
- kesalehan sosial. Nah, kalau kita mampu
- dan berhasil mengikuti pendidikan itu,
- maka kita menjadi saleh pribadi dan
- saleh sosial. Maka itu menunjukkan bahwa
- kita kembali kepada fitrah, kembali
- kepada agama yang benar. Jadi kita
- beragama benar itu fitrah
- tuh. Bahwa kemudian kembali kepada suci
- bisa karena kita melakukan ee pengabdian
- kepada Allah sesuai dengan beragama yang
- benar maka akan diampuni dosa-dosa kita
- seperti bayi baru lahir. Itu fitrah tuh
- begitu rentetannya. Heeh. Jadi kembali
- kepada fitrah kembali kepada kondisi
- anak seperti baru dilahirkan oleh
- ibunya. Bisa begitu.
- Tapi pemahamannya adalah yang asalnya
- kita beragamanya asal-asalan
- bahkan kita banyak maksiat. Nah, maka
- kembali kembali dari mana? Dari jauh
- menjadi dekat. Asalnya jauh kembali
- dekat. Maka kemudian ada diisyaratkan
- oleh Quran.
- Waidza saaka ibadi
- fainni qib. Apabila bertanya kepadamu
- hamba-hambaku
- tentangku, jawab, "Fainni qorib." Maka
- sesungguhnya aku ini Allah dekat kepada
- mereka. Di situ ibad.
- Di dalam Al-Qur'an itu ada term ibad,
- ada term abid. Sama-sama jamak dari
- abdun,
- hamba.
- Hamba. Hanya kalau ibadun orang-orang
- yang taat, beriman.
- Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah irjiibi
- ilbiki ratan mardiah fadkuli fi ibadi.
- Karena itu hamba-hamba yang saleh,
- hamba-hamba yang taat, hamba-hamba
- beriman. Tapi kalau abid itu belum
- saleh,
- belum takwa, belum taat gitu loh. Itu
- abid. Ah, kita kan ngasih nama abid ya
- karena enggak ngerti itu terminologi
- Quran kan begitu. Padahal sama. Nah,
- kalau diganti ayatnya waidza saalaka
- abidi
- jawabnya gimana? Fainni qorib atau
- fainni baid.
- Baid.
- Nah, tentu baid.
- Iya.
- Oh, Nabi Adam saja Bapak kita melanggar
- satu kali pelanggaran jadi jauh. Apalagi
- ini ahli maksiat. Nah, maka oleh sebab
- itu dididik tuh selama sebulan.
- Nah, ya selama sebulan dididik,
- dicelup, dicuci jiwa itu gitu loh ya.
- Makanya kemudian dalam 30 hari itu
- dibagi tiga. 10 hari itu 10 hari pertama
- adalah Heeh. pengerikan dosa.
- Ah, dikerik dosanya.
- 10 hari kedua itu dicuci.
- 10 hari ketiga dikinclongkan.
- Maka kenapa kemudian iktikaf lebih
- ditekankan di 10 hari terakhir? Meskipun
- sekali lagi Nabi Muhammad pernah iktikaf
- di 10 pertama, 10 pertengahan bahkan di
- bulan Syawal gitu. Kenapa ee mesti
- ditekankan di 10 hari terakhir? Karena
- diduga keras dapat menangkap pesan-pesan
- langit. Kenapa? Karena hatinya jiwanya
- sudah kinclong.
- Kalau tertutup dosa, ah jangankan
- nangkap pesan langit gitu loh. Nangka
- apa namanya? Ee nangkap masalah
- tetangganya aja enggak kebaca gitu loh.
- Imam Syafi'i pernah ditatangi
- tetangganya.
- Tetangganya minta bantuan,
- mengutang.
- Ketika mendengar ungkapan tetangganya
- nangis Imam Syafi'i.
- Kenapa nangis? Tidak punya duit untuk
- menolongnya. Bukan.
- Karena Imam Syafi'i menyadari,
- jangan-jangan hati saya sudah kotor
- sehingga tidak bisa membaca masalah
- saudaranya, masalah tetangganya. Kenapa
- mesti dia yang omong? Mestinya saya yang
- peka. Wah, dia saudaraku punya masalah.
- Ya, akhi atau ukhti, kamu punya masalah
- apa? Aku punya duit nih, pakai. Jadi
- tidak harus ngomong gitu loh. Makanya oh
- coba itu ulama tuh mah lembut sekali. ke
- hatinya
- sampai situ ya,
- sampai sejauh itu. Masyaallah, ternyata
- saya enggak peka gitu loh
- gitu ya kan.
- Orang-orang terdahulu mah apa namanya
- menjaga menjaga kekurangan, menjaga ini
- tuh betul-betul
- lagi lapar nih. Ditanya antum sudah
- makan? Alhamdulillah.
- Padahal maksudnya alhamdulillah belum
- itu. Padahal maksudnya. Nah, karena kita
- tidak peka, alhamdulillah itu diduga dia
- sudah makan. Padahal dia selalu memuji
- Allah dalam keadaan lapar maupun dalam
- keadaan kenyang.
- Sudah makan antum, akhi? Alhamdulillah.
- Maka orang yang peka itu nanya,
- "Alhamdulillah sudah, alhamdulillah
- belum." Tuh. Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Alhamdulillah lagi
- Alhamdulillah sudah gitu [tertawa]
- 2 hari yang lalu gitu sudah 2 hari yang
- tetap dia tidak meng tidak menginginkan
- orang lain itu apa. Orang lain itu
- peduli bukan ya bukan peduli ya peduli.
- Dia tidak ingin merepotkan orang lain.
- Selama masih bisa nahan dia jawab dengan
- itu. Udah enggak usah enggak usah sudah
- alhamdulillah sudah saya. Padahal 2 hari
- yang lalu makannya kan gitu.
- Nah, maka oleh sebab itu sekali lagi
- puasa atau siamu Ramadan itu tarbiah
- yang serius.
- Maka oleh sebab itu, sekali lagi kalau
- siam di bulan Ramadan itu hanya nahan
- lapar dan dahaga, ah enggak dapat,
- enggak akan sampai
- gitu loh. Kalau hanya sekedar menahan
- lapar dan dahaga, sementara panca
- indranya tidak dijaga. H.
- Nah, setelah puasa dengan benar kembali
- itu kepada fitrah. Kembali kepada benar
- agamanya benar. Oh, kalau lihat orang
- fakir itu harus begini. Lihat orang yang
- memerlukan sesuatu tuh harus begini.
- Gitu loh. Dengan guiden Al-Qur'an dan
- sunah Rasulullah Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam. Nah, jadi Idul Fitri
- lebih bisa dimaknai kembali kepada
- beragama yang benar gitu loh. Maka oleh
- sebab itu seringkiali kita mengatakan
- minal aidin wal faizin. Bukan tanpa
- dasar itu para ulama mengatakan begitu.
- Minal ailin. Mudah-mudahan kita termasuk
- orang yang kembali.
- Kembali dari apa? Kembali dari asalnya
- jauh dengan Allah. Kembali menjadi
- dekat.
- tadi
- kembali dekat dengan Allah. Berarti apa?
- Kalau dekat dengan Allah taat ibadahnya
- serius, rajin, khusyuk gitu loh. Wal
- faizin. Dan termasuk orang-orang yang
- beruntung.
- Kenapa beruntung? diampuni dosa dan
- dibebaskan dari api api neraka gitu loh.
- Atau yang lebih asyik lagi pemahamannya
- beruntung karena mendapatkan
- kondisi jiwa yang khusyuk yang menyadari
- kelemahan dirinya
- karena dia berhasil memahami dirinya. Lu
- fakir ya Allah
- betapa rusaknya ibadah yang lakukan.
- Ya Allah,
- saya tahu
- bahwa ibadah saya tidak sempurna, tapi
- hanya itu yang bisa aku lakukan.
- Sempurnakan jika cacat, perbaiki jika
- rusak. Ya Allah,
- menyadari dia tidak merasa paling benar,
- tidak merasa paling suci. Padahal dia
- khusyuk, tapi tetap mengatakan, "Ya
- Allah, terimalah ibadah kami. Cuma ini
- yang bisa aku lakukan." Padahal khusyuk
- salatnya.
- Sudah nangis-nangis,
- nangis-nangis dan macam-macam. Tapi
- lagi-lagi menyadari bahwa dia bukan
- orang suci.
- Tidak merasa benar. Tidak merasa benar
- itu beda dengan tidak benar.
- Tidak merasa benar beda dengan tidak
- benar.
- Karena ketawaduan ya Allah masih sedikit
- amalan yang bisa aku lakukan.
- Padahal dia ahli tahajud, ahli sodqah.
- Hari ini dalam pandangan kita wah dia
- mah sudah hebatlah gitu. Tapi tetap dia
- ya Allah
- betapa sedikitnya. Makanya dia malu
- mohon meminta sesuatu pada Allah.
- Dia istigfar aja dia enggak berdoa
- enggak minta apa sama enggak
- engak minta ke
- enggak minta sama Allah kenapa ya Allah
- malu saya sama engkau
- saya hanya bisa meminta sementara
- kerjanya tidak ada tuh bisanya cuma
- minta kerja enggak gitu loh ibadah
- enggak minta aja ya Allah ampunannya ya
- Allah ya Allah nah dia itu pemal
- Hamba itu pemalu
- dan Allah tahu kebutuhannya tuh. Allah
- tahu.
- Kenapa saya tidak memohon? Malu saya
- sama Allah.
- Saya disuruh sodqah dilama-lamain.
- Saya disuruh zakat kadang tidak
- ditunaikan.
- Saya disuruh infak, sodqah, dan lainnya.
- Kadang saya masih nawar-nawar. Mm. Malu
- aku kepada Allah. Astagfirullahalazzim.
- Doanya dengan istigfar.
- Jadi doanya dengan istigfar. Karena
- istigfar itu doa.
- Masyaallah.
- No. Selain doa minta ampun, jadi juga
- dia akan oleh Allah kasih apa? Kasih
- amwal, harta kekayaan dan aulad dan
- anak-anak.
- Dia cuma istigfar. Astagfirullah.
- Allahumqobanaq
- abina wa umatina.
- Atau Allahumma ajirna minanar.
- Allahumma ajirna minanar. Ketika dia
- mengucapkan itu malu. Dia takut kepada
- Allah. Ya Allah. Begitu kurang lebih.
- Kayaknya saya pantas begitu loh dalam
- ketawaduannya. Sekali lagi saya pantas
- masuk ke nerakamu. Tapi ya Allah saya
- tidak akan sanggup untuk masuk nerakamu.
- Saya tidak [mendengus] akan sanggup ya
- Allah. Astagfirullah
- nangis dia
- karena dalam perhitungan dia nikmat
- Allahnya lebih banyak dibanding
- ibadahnya gitu.
- Kalau mau minta surga, malu. Ya Allah,
- saya enggak pantes masuk ke surgamu.
- Karena banyak sekali hal-hal yang dia
- lakukan, larangan-larangan yang ia
- lakukan,
- tapi tetap dalam jiwanya ada harapan
- kepada Allah.
- Itulah diungkapkan.
- Heeh.
- Ya Allah,
- [mendengus] malu saya sama Engkau. Jadi
- dalam di dalam dialog berdua dengan
- Allah kan ada orang berdoa ramai-ramai
- boleh bagus itu juga tapi dia
- komunikasinya dengan Allah saat
- menyendiri hingga meneteskan air
- matanya. Ini yang dijamin oleh Allah
- dalam hadis Nabi sallallahu alaihi
- wasallam. Sab'atun. Tujuh golongan yang
- akan dinaungi oleh Allah. di saat orang
- lain tidak dapat naungan. Di antaranya
- apa tadi yang menyendiri sehingga
- meneteskan air mata? Ya Allah.
- [terkesiap]
- Ya Allah.
- Terbayang dosa-dosanya,
- terbayang sedikit amalannya gitu loh.
- Kenapa terbayang sedikit amalannya?
- Padahal dia ahli ibadah.
- Karena dia sesungguhnya tidak lepas dari
- pertanyaan Allah. Waktu begitu banyak
- tapi masih banyak yang lowong.
- Tidak diisi dengan amalan amalan saleh.
- Nah, oleh sebab itu, Ikhwan dan akhwat
- sekalian, perbaikilah di bulan Ramadan
- ini akhlak kita, amalan-amalan kita, ya.
- Jadi kesalehan terbentuklah kesalehan
- pribadi, kesalehan sosial. Kesalehan
- pribadi itu dengan ibadah-ibadah
- mahdigfar,
- banyak berdoa,
- selawat kepada Rasulullah. Misalnya dia
- mengucapkan selawat. Allahumma sholli
- ala sayyidina Muhammad. Lama dia
- berhenti,
- rindu dia kepada Rasulullah. Ya Allah,
- pertemukan hambumu ini dengan
- Rasulullah.
- [mendengus]
- Saya ingin bertetangga dengan beliau ya
- Allah. Tapi saya malu kalau amalan saya
- jauh dari sunah-sunahnya. Begitu.
- Nah, maka oleh sebab itu dia senantiasa
- dekat dengan Allah, memohon kepada
- Allah, menyadari kekurang-kekurang. Jadi
- menyali kekurangannya itu tidak
- dipaksakan, tapi dengan penuh kesadaran.
- [mendengus]
- Ya Allah,
- saya belum belum menerima statement atau
- pernyataan bahwa saya telah diampuni
- oleh Engkau
- karena belum menerima itu. Itu yang
- mengakibatkan dia nangis terus.
- Kalau Nabi Muhammad kan sudah dapat
- ampunan.
- Ampunan,
- dapat statement.
- Dapat statement. Kalau kita
- belum
- sesaleh apapun belum belum keluar. Maka
- itu yang dikhawatirkan. H ya Allah.
- Allahumma antabi la ilahailla anta
- khalaqtani wa ana abduka wa ana ala
- ahlika waika
- dan seterusnya. Sayidul istigfar itu
- diucapkan ya. Jadi memang masyaallah
- semakin dia
- menyadari diri, semakin dia menyalari
- kekurangannya, maka dia semakin butuh,
- semakin perlu kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Maka semakin rindu kepada Allah,
- semakin rindu kepada Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam.
- Maka oleh sebab itu
- hendaknya kita sadar, kita tahu diri.
- Pertama, kalau kita bukan turunan
- Rasulullah,
- tidak ada darah yang mengalir dalam
- tubuh kita, darah Rasulullah, maka kita
- masih punya satu jalan untuk menjadi
- habib,
- yaitu mereguk
- tetesan darah spiritual Rasulullah.
- Karena sekali lagi, kalau melalui darah
- biologis sudah enggak mungkin karena
- kita bukan turunan Nabi misalnya gitu
- ya. Tapi masih ada satu jalan yaitu
- mereguk spiritualnya
- yaitu apa?
- Ittiba.
- E ittiba karena ee ya ayyuhalladina
- wauntumallah
- fatabi yuhkumullah. Begitu
- masyaallah. Tuh gitulah ya. Maka oleh
- sebab itu sekali lagi
- ini harus serius. Sunah-sunah,
- ajaran-ajaran yang dibawa oleh
- Rasulullah betul-betul harus
- diperjuangkan, harus menjadi akhlak.
- Kalau harus menjadi akhlak seperti
- Rasulullah, maka kemudian
- ee selawat yang ee apa sanadnya sampai
- kepada Habib Umar bin Hafid.
- itu di antaranya Allahumma sholli ala
- sayyidina Muhammadin nurikari
- waadikal jari wni bihi fi kulli atwari
- waa alihi wasohbihi ya nur.
- Jadi itu meminta selawat untuk meminta
- menyatukan karakter Rasulullah dalam
- diri kita. Hm. Karena dikatakan nur
- Allahumma shalloli ala sayyidina
- Muhammadin nuri kasari. Jadi Nabi
- Muhammad itu cahaya yang mengalir
- tuh. Nah, agar supaya cahaya itu ada
- pada diri kita, cahaya itu bersinar,
- berarti kita harus mengamalkan sunahnya
- sehingga kita menjadi dalam tanda petik
- menjadi Rasulullah.
- Tahu maksudnya? Kenapa? Karena berakhlak
- dengan akhlak Rasulullah, berkata dengan
- perkataan Rasulullah,
- beramal dengan beramalan rasul
- Rasulullah. Maka satu doa yang menarik,
- Allahumma inni asaluka maalak nabiyuna
- Muhammad Nabiuna Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam.
- Ya Allah, saya memohon kepada Engkau
- dengan apa-apa yang diminta oleh Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Jadi saya memohon kepadamu apa-apa yang
- Nabi Muhammad minta kepada engkau.
- Wazudubika mim mazabika Nabiuna Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam anhu.
- Dan saya berlindung kepadamu ya Allah
- sebagaimana
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- berlindung kepadamu darinya.
- Tuh nah itu juga doa itu sudah cukup
- sesungguhnya. Jadi enggak usah banyak
- doa-doa lagi. Udah itu aja sudah
- mencakup pokoknya diminta Rasul itu yang
- diminta. Apa yang Nabi berlindung itu
- yang kita berlindung gitu. Tapi
- lagi-lagi Nabi tetap mengajarkan
- doa-doa yang bisa menentramkan jiwa.
- sesungguhnya adalah ada
- terimalah ya Allah
- kalau Engkau
- enggan memberikan keridaan tapi catelah
- jadi sebuah kebaikan
- ya Allah
- ya Allah ya Allah begitu dalam hatinya
- dia tentu tidak teriak ya Allah ya gak
- tapi dalam hatinya itu ya Allah. Karena
- penuh rasa malu, penuh rasa takut,
- berarti kita tidak boleh melakukan
- pendidikan di luar Ramadan. Tetap gitu
- loh. Tah sampai kemudian tercapainya
- lailatul qadar, tercapainya kenikmatan
- ibadah.
- Bisa dipakah, bisa dipahami lailatul
- qadar itu adalah puncak kenikmatan
- ibadah. Itu pengertian. satu bagian dari
- pengertian gitu loh. Bahagia orang yang
- menang karena dapat lailatul qadar.
- Karena kita dapat menyadari tujuan hidup
- kita dapat menyadari mestinya ibadah
- kepada Allah. Menyadari nikmatnya
- ibadah. Menyadari ee mengakui banyak
- dosa dan seterusnya.
- Banyak maknanya.
- Banyak maknanya. Jadi gak bisa jadi satu
- titik ma gak.
- memang masyaallah gitu ya. Maka oleh
- sebab itu kan tadi ee apa namanya? Jadi
- Faiz itu menang
- jaya
- kemudian
- menang jaya unggul dan lain sebagainya
- gitulah ya. Baik saya kira itu saja
- pengantar untuk kajian pada sore hari
- ini. Wasallallahu ala nabiina Muhammadin
- walhamdulillahiabbil
- alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Wallahuam.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazak Ahmad Saleh MA
- tentang kembali kepada fitrah. Jadi
- fitrah itu kita yang tadinya jauh
- kembali menjadi dekat.
- Baik ikhwan kami mengundang Anda untuk
- bergabung bersama kami dalam tausiah
- sore bersama Ustaz Ahmad Saleh. Silakan
- kirimkan pertanyaan Anda di 0811999720.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin. Terima kasih Wawwat masih
- bersama Radio Silaturahim.
- Saat ini Anda sedang menyaksikan tausiah
- sore bersama Ustaz Ahmad Saleh dengan
- tema kembali kepada fitrah. Semoga kita
- semua insyaallah kembali kepada fitrah.
- Kembali kepada fitrah agama yang benar
- dengan cara menjalankan
- semua perintah Allah dan menjauhi segala
- larangan Allah. Baik ikhwan akhwat. Ee
- kita akan baca
- dari ikhwan akhwat yang sudah masuk
- pertanyaan. Namun sebelumnya sepertinya
- ee pendengar kita berkurang, Ustaz.
- Oh, iya.
- Karena ada yang iktikaf.
- Oh, masyaallah. Iya. Iktikaf [tertawa]
- tidak mungkin dengar radio, Ustaz.
- Iya. Ya. Oke, boleh.
- Masyaallah.
- Iya.
- Eh, ada
- Ibu Titik Indrayanti. Alhamdulillah
- menyimak, Ustaz. Dari Tambun Bekasi.
- Kemudian Bapak Baron di Betawi.
- Alhamdulillah senang mendengarnya,
- Ustaz.
- Kemudian ada Ibu Retno. Alhamdulillah
- menyimak tausiah sore Ustaz Ahmad Saleh.
- Syukran penjalannya fikumakum.
- Kemudian [berdehem]
- ada Bapak Fajar Alfatih.
- Alhamdulillah sedang menyimak.
- Kemudian
- Ibu
- Karmila di Tebet juga. Alhamdulillah
- Ustaz menyimak.
- Kemudian
- kita akan membacakan pertanyaan pertama
- dari Bapak Sayan Rohili, Ustaz di Pulau
- Gebang.
- Nam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, izin bertanya. Bagaimana?
- Bagaimana ya, Ustaz? Saya tidak bisa
- iktikaf di masjid tetapi di rumah saja
- karena menunggu orang yang sakit di
- rumah. Ustaz, bagaimana pahala [tertawa]
- iktikaf saya Ustaz? Jazakumullah khairan
- kir. Iya. Iya. Baik. Masyaallah.
- Barakallahu fik. Pandangan fikih iktikaf
- itu di masjid
- dan kemudian ada yang nambahkan yang
- biasa dipakai salat Jumat di luar tempat
- itu tidak masuk iktikaf gitu loh. Nah,
- tetapi kita jangan kehilangan momen gitu
- loh. Okelah saya enggak masuk iktikaf di
- rumah saja.
- Tapi tadi harus ada pekerjaan-pekerjaan
- sambil nunggu itu ya muhasabah ya zikir
- tetap dilakukan seperti kita melakukan
- iktikaf. Jadi kalau orang nanya kamu
- iktikaf di sini bukan saya merenung
- muhasabah gitu loh. Karena kalau disebut
- iktikaf ribut itu
- ya. Oh itu iktikaf mah harus di masjid
- loh. Nabi mah malah di gua ya. Tapi Nabi
- bukan iktikaf di gua kan gitu. Iya, tapi
- kan Nabi di gua sehingga datang malaikat
- Jibril bawa wahyu.
- Wasilahnya apa? Wasilahnya tahanus di
- gua.
- [mendengus]
- Iya,
- gitu loh. Jika iktikaf itu adalah
- gambaran untuk tadi menangkap suasana
- turunnya wahyu, berarti harus dibentuk
- tuh seperti tadi
- gitu ya. Tapi sekali lagi para ulama
- mengatakan bak iktikaf itu di mana? Di
- masjid gitu loh.
- Tentu ada tambahannya. Di masjid yang
- dipakai salat Jumat yang bersih dan
- harum
- dan tenang.
- Dan tenang itu
- betul karena memang perenungan muhasabah
- gitu loh.
- Nah, kalau kemudian seperti Anda
- menunggu orang sakit enggak apa-apa.
- Tidak harus diniatkan iktikaf. Tapi
- momennya jangan kehilangan.
- Tetap zikir, istigfar, selawat,
- muhasabah tetap dilakukan sambil
- menunggu orang sa orang sakit gitu loh
- ya. Jadi saya sesungguhnya
- ee apa menuju apa pendekatan Mokosidi.
- Oh maksudnya itu tetap mendekatkan diri
- ini apapun namanya mau iktikaf, mau
- tahannus gitu, mau muhasabah,
- terserahlah namanya apa gitu loh. Kalau
- memang saya tidak bisa di masjid berarti
- saya tidak iktikaf. Ya enggak apa-apa
- saya enggak iktikaf. Tapi ya Allah
- catatlah saya tetap beramal seperti
- amalan orang-orang yang muhasabah.
- seperti itu cuaca jiwa itu.
- Nah, cuaca jiwa itu yang penting cuaca
- jiwanya dipertahankan gitu loh. Jadi,
- wah kalau gitu nanti iktikaf jadi sepi
- kalau ada pemahaman seperti itu. Gak ini
- bagi yang tidak sempat gitu loh. Yang
- tidak sempat iktikaf tapi lagi-lagi
- jangan rugi gitu loh.
- Mentang-mentang saya tidak iktikaf
- kemudian tadarus enggak boleh, zikir
- enggak boleh. Bukan. Meskipun kita tidak
- iktikaf. Jelas katakanlah para ulama
- membagi, "Oh, iktikaf tu keutamanya ini,
- ini, ini." Tapi kita jangan semuanya
- dibuang. Kalau tidak bisa melakukan
- semuanya gitu loh ya, maka jangan juga
- dibuang semuanya gitu loh. Jadi kalau
- tidak bisa melakukan semuanya jangan
- dibuang semuanya. Apil yang bisa kita
- lakukan gitu loh. Jadi momen-momen
- seperti itu tap kita pakai, kita ambil.
- Bahkan bisa jadi orang yang tidak
- iktikaf tadi di masjid, bahkan lebih
- mulia di sisi Allah orang-orang seperti
- itu.
- Mungkin enggak?
- Mungkin.
- Mungkin kalau dia iktikafnya di masjid
- tapi malah pindah tidur doang kan
- begitu. Tapi kalau dia serius, muhasabah
- dan lain sebagainya. Maka oleh sebab
- itu, Akhinal habib, jadi tidak mengapa
- Anda tidak iktikaf. Toh iktikaf bukan
- wajib. Namun tadi kesempatan-kesempatan
- sebagai orang bertakwa, kesempatan
- sebagai orang pemenang itu ada
- muhasabah, e ada evaluasi diri untuk
- menentukan program kerja setahun
- kemudian gitu loh ya. Heeh. Demikian
- yang bisa saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Rohili
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan kedua datang dari Ibu
- Rosyada. Ustaz
- namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz Ahmad Saleh dan kru Rasil yang
- dirahmati Allah. Saya mau bertanya,
- memang ada salat kafarat, Ustaz, yang
- dikerjakan di Jumat terakhir di bulan
- Ramadan. Dan juga ada hadis dari Abu
- Bakar berkata, "Aku mendengar Rasulullah
- bersabda, salat tersebut sebagai kafarat
- atau pengganti 400 tahun." Itu apakah
- benar atau salah, Ustaz? Jazakumullah.
- H. Iya.
- Jadi secara teks seperti tadi saya belum
- tahu ya. Tapi sesungguhnya setiap salat
- yang kita lakukan bisa bernilai kafarat
- gitu ya. Heeh.
- Salat-salat sunah bahkan salat wajib itu
- jadi kafarat. Kafarat dosa-dosa kita
- gitu. Kafarot itu kan penutup,
- penutup, penghapus gitu loh.
- Nah, jadi sekali lagi kalau redaksinya
- seperti itu saya belum tahu. Tapi yang
- jelas sesungguhnya salat itu makanya
- orang asal salat benar saja, salatnya
- benar aja tidak berbuat baik ke yang
- lain lagi gitu loh.
- Itu sudah cukup. Semua
- kewajiban-kewajiban dilakukan. Dia tidak
- melakukan pasunahan-pasunahan gitu loh.
- Cukup dia
- tuh. Jadi, makanya saya menghayati nilai
- daripada salat. Waduh, masyaallah.
- Salat wajib. Kan Abu Bakar pernah nanya
- tuh,
- "Ya Rasulullah, kan kalau ini ada ini
- pahalanya, ini pahalanya. Kalau salat
- wajib apa pahalanya?" gitu.
- Kamu kalau di depan rumahmu
- ada kolam
- terus kamu mandi lima kali dalam sehari
- masih tersisakah kotoran?
- Oh, sudah bersih ya Rasulullah. Sudah
- tidak tersisa. Ah, begitu. Jadi salat
- wajib itu membersihkan dosa-dosa.
- Kan kalau sudah bersih dosa-dosa sudah
- cukup sesungguhnya kan gitu. Nah,
- kemudian Nabi memberikan dorongan agar
- mengikuti jenengan salat sun salat
- sunah. Dalam riwayat lain kan salat
- sunah itu fungsinya untuk nembel salat
- wajib. Kalau salat wajibnya
- bolong-bolong, bukan bolong-bolong,
- sobek-sobek ditembel tuh dengan salat
- sunah gitu loh ya. Jadi sekali lagi
- bahwa salat kafarat itu penghapus
- dosa-dosa.
- Bisa jadi dosa yang disadari
- beratus-ratus tahun gitu kalau dia
- berumur begitu gitu ya. Atau paling
- tidak ketika dia saat baligh kemudian
- tidak melaksanakan salat kan itu ada
- salat kafarat kemudian ada salat juga
- apa qada. Kalau qada itu kalau tahu,
- kalau sadar, "Oh, e saya meninggalkan
- salat nih lima kali." Kan jelas tuh
- qadanya.
- Tapi ini mah enggak tahu, "Lhkan
- salat ya."
- Sudah lama.
- Ah, sudah. Makanya tadi tambahlah salat
- sunah-salat sunah yang menjadikan
- kafarat
- begitu ya. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian ee Bapak
- Ibu Rasyadah semoga dapat menjawab.
- Berikutnya pertanyaan dari Ibu Karisa,
- Ustaz.
- Namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Izin bertanya, Ustaz. Di 10 hari
- terakhir di bulan Ramadan, saya merasa
- letih dan lemah, Ustaz.
- Nam. saya bekerja dan saat ini sedang
- menjalani iktikaf juga di sebuah masjid
- sepulang kerja.
- Mohon nasihatnya, Ustaz agar saya bisa
- menjadi
- fitrah dan mendapatkan faiz di bulan
- Ramadan atau di Idul Fitri nanti, Ustaz.
- Nam. Masyaallah. La haula wala quwwata
- illa billah. Ketika Anda iktikafnya
- sudah letih, sudah lelah karena habis
- bekerja,
- maka apa yang bisa dilakukan?
- Misalnya yang tidak menguras tenaga gitu
- loh ya, tidak mengeluarkan uang
- ya istigfar. Maka lakukanlah istigfar
- sebanyak-banyaknya.
- Astagfirullahalazzim.
- Astagfirullahalazim.
- Dalam keadaan letih tuh gitu loh ya.
- Nah, jadi kalau kan yang tadi harus baca
- Quran, harus khatam sekian, ada
- target-target tertentu itu berat gitu.
- Udah istigfar saja atau selawat saja
- gitu. Perbanyak mampunya ah saya
- mampunya cuma 1000 kali tidur gitu.
- Tapi yang jelas tadi sudah diisi dengan
- istigfar atau diisi dengan selawat atau
- diisi dengan doa-doa gitu loh ya. Jadi
- sesungguhnya Anda tidur saja tapi dengan
- niat gitu loh. Anda tidur saja bisa
- dapat pahala dengan catatan niatnya
- ingin meninggalkan maksiat. Kenapa kamu
- tidur? Ah, saya meninggalkan maksiat.
- Daripada saya nonton enggak jelas
- daripada melihat sesuatu yang haram,
- mending lebih baik saya tidur. Ah, dapat
- pahala. Insya insyaallah. Jadi, oleh
- sebab itu semuanya tergantung kepada
- niatnya. Anda letih, Anda capek, sudah
- niatkan istigfar. Astagfirullah,
- astagfirullah, astagfirullah. Ya Allah,
- saya mau tidur dulu. Ah, saya mau apa?
- Menghindari kemaksiatan. Tidur gitu ya.
- Baik. Saya kira demikian. Wallahu aam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Ibu Karisa,
- semoga dapat menjawab. Pertanyaan
- berikutnya dari Bapak Ramli di
- Tarengerang. Ustaz, asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Hm.
- Ustaz, pada ini ada kesamaan antara
- puasa dengan haji, Ustaz.
- Namam. Pada saat berhaji ke tanah suci,
- Makkah, jemaah dilarang berjidal dan
- berfat. Tentunya pada hal ini juga
- dilakukan saat kita berpuasa di bulan
- Ramadan, Ustaz.
- Namam,
- mohon pencerahannya, Ustaz. Hm. Apakah
- ada kaitannya kita dilarang berjidal dan
- berfat di bulan Ramadan?
- Nah,
- jazakumullah khairan katiran.
- Naam. Jadi semua syariat itu adalah satu
- kesatuan.
- Maka wajar banyak elemen-elemen yang ada
- irisannya gitu loh. Oh, puasa tidak
- boleh ropas, tidak boleh ribut. Iya,
- haji juga begitu. Karena setiap larangan
- tetap dilarang.
- Iya.
- Nah, setiap larangan tetap dilarang.
- Setiap anjuran tetap jadi an anjuran.
- Nah, maka oleh sebab itu larangan
- berjidal, ee larangan ribut itu ee
- menjadi larangan umum. Bukan hanya waktu
- haji, bukan hanya waktu bukan hanya
- waktu puasa. Dalam kehidupan sehari-hari
- pun itu menjadi tidak diperkenankan gitu
- loh ya. Hanya tingkatannya kalau dalam
- haji misalnya itu akan membatalkan
- misalnya gitu ya. Kalau di bulan di
- bukan haji itu hanya hanya dosa biasa
- gitu loh ya. Jadi sekali lagi setiap
- larangan itu akan tetap dilarang gitu
- loh ya. Maka dalam berbagai macam
- syariat maka itu mengandung ajaran itu
- gitu ajaran larangan jidal larangan ini
- gitu ya. Oke demikian. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Ramli
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan dari
- Ibu Dian Ustaz
- Nam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, saya izin bertanya tentang zakat
- fitrah. Ustaz
- nam.
- Apakah boleh zakat fitrah langsung
- diberikan kepada mustahik langsung atau
- memang harus melalui amil zakat di
- masjid? Ustaz jazakumullah khairan
- kiram. Jika zakat fitrah itu langsung
- diserahkan, yang penting tertuju kepada
- fakir dan miskin.
- Jika zakat fitrah itu tertuju kepada
- fakir miskin, tidak apa-apa.
- Kemudian persoalannya jika kita langsung
- sementara mustahiq itu banyak. Sementara
- kita cuma lima jiwa, akhirnya kalau
- langsung dibagi-bagi cuma kebagian
- berapa-berapa.
- Maka lebih baik sentral. gitu loh.
- Sentral lewat pengurus zakat, panitia
- lah. Kan kalau zakat biasa kan gak ada
- amilin.
- Nah, kalau di zakat fitrah itu setahu
- saya tidak dikenal amilin.
- Oh, bukan.
- Heeh. Jadi ada panitia biasa
- namanya panitia zakat.
- He, panitia. Karena kalau amilin itu
- lembaga.
- Hm.
- Tapi zakat fitrah itu bisa ad
- sementara gitu. Pengurusnya bisa
- sementara gitu ya. Nah, maka oleh sebab
- itu sekali lagi kalau zakat fitrah
- sebaiknya sentral
- ya. Kalau misalnya ada komunitas atau
- jemah gitu loh, sentral ke jemahnya
- nanti jemaah yang bagi-bagi. Oh,
- misalnya dari sini ada sekian orang. Oh,
- di sini e sedikit nih orangnya tapi ee
- muzakinya banyak. Tapi kalau di sini
- mustahiknya banyak, muzakinya sedikit.
- Jadi minus. Kalau ini minus, kalau ini
- plus. Nah, maka di kita itu biasanya
- digubungkan, "Oh, sekian ini dikirim ke
- sini."
- J sehingga nanti diputuskan. Oh, kan
- gini, mustahik ada berapa orang? Oh,
- mustahik ada 2.000 orang. Muzaki, oh
- muzaki ada 4.000 orang misalnya.
- Kemudian perjiwa rata-rata perjiwa
- rata-rata misalnya 5 lit dapatnya. He.
- Ah, kalau ini kok di daerah ini kok
- kurang nih. Cuma kebagian 3,5 lit kalau
- dibagi. Kalau di sini 2,5 lit. Kalau di
- sini 10 lit. Nah, makaeh maka kemudian
- oh ini kirim ke sini sekian kuintal,
- kirim ke sini sekian kuintal.
- Ah, susah ngirim beras sekian kuintal.
- Kasih duitnya yang seikan nanti seharga
- segini sekian kuintal. Yang harga segini
- sekian kuintal.
- Nah, jadi seluruhnya menjadi binaan kita
- menjadi sama dapatnya. Jadi tidak tidak
- ini misalnya 7 kilo, yang ini cuma 2,5
- kilo gak. Nah, maka oleh sebab itu
- kenapa disarankan agar dikumpulkan dulu
- yaitu di mana? Di panitia zakat fit
- zakat fitrah tidak langsung diberikan
- kecuali tempatnya sangat jauh terpencil.
- Hm.
- Tapi tadi lagi-lagi kasih tuh kalau ini
- dikasih di sono, mustahik sono enggak
- kebagian
- jadi masalah lagi gitu loh. Maka oleh
- sebab itu ee sebisa mungkin itu
- dikolektif dulu gitu kemudian nanti
- dibagi sebanyak mustah begitu ya.
- Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Ibu Dian
- semoga dapat menjawab. Baikwat kami akan
- jedah dulu kami akan segela kembali
- setelah narada tauka berikut. Terima
- kasih.
- [musik]
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Terima
- kasih Iwan masih setia bersama Radio
- Silaturahim. Saat ini Anda sedang
- menyaksikan siaran live tausiah sore
- bersama Ustaz Ahmad Saleh dengan tema
- Kembali kepada fitrah. Insyaallah kita
- semua kembali kepada fitrah. E
- pertanyaan selanjutnya kita bacakan dari
- Bapak Arwin di Lenteng Agung, Jakarta
- Selatan. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, terima kasih nasihat dan
- tausiahnya, Ustaz. Semoga ustaz dan
- pejuang Rasil serta pendengar Rasil
- dalam keadaan sehat walafiat.
- Amin. Allahum amin.
- Ustaz, saya mohon izin bertanya, Ustaz,
- tentang apakah ada acara buka bersama
- atau sahur bersama di bulan Ramadan?
- Apakah ada dasar hukumnya, Ustaz?
- Jazakumullah khairan kafiran.
- Masyaallah. Jika Anda mencari dasar
- tekstualnya,
- maka misalnya berbuka bersamalah kalian
- atau enggak akan ditemukan atau paling
- tidak saya belum menemukan.
- Tapi proses buka bersama itu ada. Kan
- gini, Nabi kan menganjurkan kita memberi
- makan kepada orang yang berpuasa. Kan
- bisa begini. Kita lagi puasa kemudian
- ada orang lewat. Oh, itu tuh ada orang
- lewat. Jangan-jangan belum ini,
- jangan-jangan belum buka puasa, Mas.
- Ini, Mas. Mas,
- iya
- kamu ayo ini buka buuka dulu. Buka dulu.
- Nah, ini kan jadi buka bersama gitu kan.
- Jadi dibuka bersama kan menjadi tuh gitu
- loh. Jadi sekali lagi kalau e mencarinya
- adalah yang tekstual agak sulit kita
- menemukan. Tapi Nabi mengajarkan untuk
- bisa memberi makan atau membuka bukaan
- kepada orang yang berpuasa sehingga kita
- dapat pahala pahala puasa orang tersebut
- tanpa dikurangi gitu loh. Maka kan
- prosesnya seperti itu. Bisa prosesnya
- disengaja, bisa prosesnya tidak
- disengaja. Bisa jadi kita ngasih makanan
- ke masjid sekarang sehingga di masjid
- menjadi sumber apa? Menjadi sentral.
- Jadi orang ketika mau nyari bukaan
- enggak ke mana-mana sekarang mah ke
- masjid. Maka kita ngirim makanan ke
- masjid, tetangga ngirim makanan ke
- masjid, kemudian mereka menjadi buka
- bersama
- gitu loh. Nah, jadi selama itu baik
- nilainya, nasnya tidak ditemukan juga
- enggak ada masalah ya. Oh, enggak ada.
- Enggak ada sunahnya buka bersama. Iya,
- memang tidak ada secara tekstual, tapi
- isyarat-isyaratnya bisa dipahami.
- Apalagi numbuhkan persaudaraan,
- numbuhkan menjadi empati, menumbuhkan
- saling kenal, itu lebih bagus lagi gitu
- loh ya. Heeh. Jadi seperti itu kurang
- lebih ya. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Arwin
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan dari Bapak Madinah di
- Cipulir. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh,
- Ustaz Ahmad Saleh. Di musala dekat rumah
- saya, saya bolehkah
- beras sisa zakat dibagikan sama orang
- yang mampu setelah dibagikan sama orang
- yang berhak menerimanya atau mustahik,
- Ustaz?
- Oh, zakat. Iya,
- sisa zakat.
- Sisa zakat. sisa zakat ya berarti zakat
- yang berhak menerima zakat fakir miskin
- gitu loh. Jadi orang kaya tidak berhak
- menerima. Nah, maka oleh sebab itu kok
- bisa sisa? Kenapa tadi mesti
- pembagiannya enggak enggak beres gitu
- loh. Muzakinya tidak dihitung,
- mustahiknya tidak dihitung gitu loh.
- Akibatnya jadi ada sisa.
- Sisa jangan dikembalikan kepada orang
- kaya. tetap kalau mau dikembalikan
- kepada fakir miskin. Oh, dia tuh dia mah
- memang e apa namanya kategorinya ee
- fakir
- maka lebih banyaklah
- kalau miskin. Jadi kalau fakir enggak
- punya penghasilan.
- Iya.
- Sehingga dia harus nombok. Nomboknya
- banyak. Enggak enggak punya penghasilan
- tetap. Tapi kalau miskin punya
- penghasilan tapi tetap kurang. Nah, kan
- beda tuh. Kalau fakir tidak punya
- penghasilan tetap. Kalau miskin punya
- penghasilan tetap tapi masih ku masih
- kurang. Nah kita bisa diambil tuh sudah
- katainya fakir. Kasihkan aja ke dia
- gitu.
- [berdehem] Jadi [batuk]
- jangan diberikan kepada orang kaya.
- Kan begini
- zakat itu kalau dikasihkan kepada orang
- kaya sama dengan memberikan kotoran.
- memberikan kotoran
- ya benar sama dengan memberikan kotoran.
- Kenapa Nabi dan keluarganya tidak
- menerima zakat
- gitu loh ya? Kenapa saya mengatakan
- seperti kotoran? Karena bisa enggak
- mampet nantinya.
- Dia tidak berhak makan itu zakat dia
- makan. Akhirnya rezeki-rezekinya
- tertutup gitu loh maksudnya. Adapun
- kalau kemudian apa namanya orang fakir
- miskin memang jalurnya situ gitu loh.
- Memang dia harus mendapatkan makanan
- dari langit. Jadi zakat itu diibaratkan
- makanan dari langit.
- Tapi kalau orang kaya makan zakat
- seperti makan kotoran bisa menghambat,
- bisa menutup saluran rezekinya
- gitu loh ya. Nah, maka hendaknya kita
- berhati berhati-hati gitu loh ya. Jadi
- jangan sembarangan tuh makan zakat gitu
- ya yang bukan haknya, yang bukan
- mustahiq. Nanti tadi akibatnya apa?
- mestinya dia kemudian lancar dapat ee
- kadang dia oh saya dapat penghasilan
- sekian tapi alhamdulillah kadang dari
- tetangga ada yang ngasih eh sekarang mah
- mampet gitu loh. Ah bisa jadi bisa jadi
- sekali lagi seperti itu masalahnya. Nah,
- maka hendaknya kita berhati-hati.
- Demikian yang bisa saya jelaskan.
- Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian
- Bapak Madinah semoga dapat menjawab.
- Ah, lagi
- ya.
- Masih ini lagi, Mbak.
- Masih. Eh, baik, berikutnya pertanyaan
- dari
- ada Ibu Aminah, alhamdulillah menyimak,
- Ustaz. Kemudian Ibu Lis, alhamdulillah
- menyimak tausiah, Ustaz. Terima kasih.
- Ada Bapak Utsman
- di Bekasi. Heeh.
- Ada pertanyaan dari Bapak Utsman, Ustaz.
- Iya.
- Ee
- asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Jika hubungan suami istri di siang hari
- pada bulan Ramadan nanti puasa 2 bulan
- berturut-turut.
- Ya, pertanyaannya
- Hm. 2 hari 2 bulan berturut-turut suami
- istri atau suami saja, Ustaz?
- Jazakullahiran kasih.
- Masyaallah. Ya, suami istri jika yang
- maksa itu suaminya.
- Iya.
- Mas kemuni istrinya merasa tidak mau
- maksudnya suaminya saja
- gituah ya mestinya memang kan karena
- istrinya ngasih tanggung jawab juga gitu
- loh ya tapi rata-rata biasanya dipaksa
- suaminya gitu kan tidak mungkin diaah
- saya cerai aja kan enggak mungkin
- tapi sesungguhnya itu gak mungkin gak
- mungkin terjadi.
- Kenapa enggak mungkin terjadi? mestinya
- mikir.
- Iya. Karena
- 2 bulan berturut-turut 1 bulan aja sudah
- nyelonong.
- Iya.
- Apalagi 2 bulan kan begitu. Lagi pula
- penderitaan yang dialami sendiri itu
- lebih berat dibanding penderitaan
- bareng-bareng.
- Aduh 2 bulan sendirian saya harus puasa.
- Orang-orang pada makan makan minum
- berat. Tapi kemudian Nabi memberikan
- Quran memberikan apa namanya? memberikan
- ancaman agar tidak dilakukan
- tuh gitu loh. Kan asalnya ngasih ngasih
- makan jadi puasa berperut 2 bulan atau
- ngasih makan 60 anak yatim.
- Iya tidak bisa juga.
- Nah situ aduh masyaallah berat itu gitu
- loh. Maka maka kenapa berat? Karena
- memang agar supaya tidak dilakukan
- sabar. Kenapa
- misalnya ngebet jam 12.00 gitu jam 12.00
- Harus ngebet. Sabar nanti bentar lagi
- magrib. Habis magrib bismikallah
- allahumakum bereng langsung. Enggak ada
- masalah itu. He
- membatalkannya pakai itu juga enggak
- masalah gitu loh ya. Orang sudah halal
- ni boleh tahan sendiri kan sama aja
- ditahan dengan tidak ditahan kan
- gitu-gitu juga kan gitu ya. Tapi kan iya
- sekali lagi itu arahan tuntunan dari
- Allah seperti itu gitu loh ya. Jadi
- sesungguhnya sekali lagi ya, jadi ada ee
- hukuman seperti itu. Jadi hubungan suami
- istri bulan Ramadan itu bukan zina,
- bukan.
- Bukan zina. Tapi kenapa harus puasa
- berturut-turut? Karena dia tidak
- menghargai bulan Ramadan di siang
- harinya. Gitu loh. Oh dia halal kok nih
- e apa ee melakukannya. Tetapi tadi ada
- konsekuensi kalau melakukannya di siang
- hari harus puasa 2 bulan berturut-turut
- atau memberi makan fakir miskin ee 60
- orang gitulah. Kalau kemudian apa
- namanya? Ee kalau kemudian di malam hari
- boleh
- ya. Maka itu makanya ringan rahmat dari
- Allah itu tahu kepada umat Nabi
- Muhammad. Kan asalnya puasa tuh enggak
- seperti itu. Kan pada fase takhyiri
- pas pada fase takhyiri itu orang boleh
- memilih
- apakah puasa atau bayar fidyah. Ya.
- Kemudian fase tasbit
- ee fase penetapan. Jadi tidak boleh lagi
- ada yang bayar fijah. Harus puasa
- kecuali orang-orang yang uzur syari gitu
- loh. Asalnya orang kalau sudah tidur
- malam hari sudah tidur udah enggak boleh
- makan lagi. Sampai kemudian tak pernah
- terjadi sahabat lagi nunggu azan
- ketiduran bangun-bangun sudah siap.
- Enggak sampai kemudian kerepotan. Maka
- turunlah apa ayat pengaturan puasa. Jadi
- seperti itu ya. Jadi ee sebaiknya jangan
- menganggap enteng lah gitu ya. Kalau
- ngebet jam 12. Tahanlah sampai magrib
- gitu loh ya. Insyaallah sama aja gitu
- loh ya mau magrib. Nah karena tadi saya
- yakin Anda tidak akan mampu berpuasa 2
- bulan.
- Iya. Karena tadi logikanya penderitaan
- seorang diri terasa berat dibanding
- menderitanya ramai-ramai. Ya kayak kita
- nih puasa rameai-rame pada puasa pada
- gitu loh. Itulah sebabnya orang yang
- tidak puasa jangan atraktif.
- He
- yang tidak puasa, "Oh, saya kan musafir
- buka." Atau ee ketika zoom misalnya yang
- waktu Indonesia Timur sudah buka puasa,
- yang waktu Indonesia Barat. dia
- perlihatkan makan apa kek gitu loh. Eh,
- kok sudah makan seenaknya? Kami mah
- masih puasa. Kenapa tadi? Karena jangan
- sampai terdorong untuk bisa memba
- membatalkan gitu loh ya. Jadi saya kira
- itu ee apa namanya hendaknya kita ee
- hormati bulan Ramadan. Kita isi dengan
- amalan-amalan yang saleh. Kita isi
- dengan sunah-sunah Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam. Demikian yang dapat
- saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak semoga
- dapat menjawab. Baik, Ibu. Baik, Ikhwan
- Awat. Kita sudah ee di ujung
- acara bersama Ustaz Ahmad Saleh dalam
- program tausiah Saleh. Baik, Ustaz.
- Sebagai penutup dan kesimpulan untuk
- Iya, penutut dan kesimpulannya ya. Jadi
- saya kira sekarang saatnya
- memfokuskan serius mengamalkan
- kebaikan-kebaikan di penghujung Ramadan
- ini ya. Bacaan Qurannya ya salat
- tahajudnya
- ya doanya ya istigfarnya ya selawat atas
- nabinya sodqahnya gitu loh ya. Peduli
- kepada orang lain yang memerlukan itu
- ditingkatkan ya. Ketika itu terus
- ditingkatkan bisa terbentuk kesalehan
- pribadi dan kesalehan sosial. Demikian
- yang dapat saya kemukakan. Wasallallahu
- ala nabiina Muhammadin. Walhamdulillahi
- rabbil alamin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah kiran kir
- ustaz. Demikian ikhwan Ahmad. Semoga apa
- yang disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- tentang kembali kepada fitrah bermanfaat
- untuk kita semua dan kita semua kembali
- kepada fitrah kepada agama yang benar.
- Saya Fauzi Ridwanul Haq mohon undur diri
- mohon maaf atas segala khilaf.
- Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla
- ilahailla anta astagfiruka
- waubualamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.