Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
1:02 [Musik] 1:07 Brail 1:17 [Musik] 1:42 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 1:44 warahmatullahi wabarakatuh. 1:45 Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari 1:47 ini. Hari ini hari Rabu tanggal 24 Mei 1:51 2023 atau 4 Zulkaidah 1444 Hijriah. 1:55 Seperti biasa Rasil kembali menghadirkan 1:58 acara tamu kita. Kami menghadirkan 2:01 seorang praktisi 2:03 ee sudah praktisi psikologi anak dan 2:06 remaja. Ini waktunya sebetulnya sudah 2:10 mepet ya. Harusnya dimulai 10.30 tapi 2:13 karena beliau nih tinggal di Bintaro dan 2:15 macet luar biasa tidak terduga. Sehingga 2:18 dengan walaupun waktunya tinggal sedikit 2:19 lagi, mari kita bicara soal waspada LGBT 2:23 pada remaja. Nanti kami akan bacakan 2:25 juga nomor HP beliau. Silakan siapkan 2:28 sama kertas. Nanti kami akan bacakan 2:31 nomor HP beliau. Nama narasumber kita 2:34 adalah Nur Firdaus atau biasa dipanggil 2:37 Kak Firdaus karena beliau nih biasa 2:39 menang ini ee anak-anak remaja ya. Ee 2:43 dia adalah konselor, penulis, kemudian 2:46 narasumber seminar tinggal di Bintaro 2:49 lulusan UIN. Asalamualaikum Kak Firdaus. 2:52 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:53 wabarakatuh Pak Krisna. Dengan waktu 2:55 yang sesingkat ini, mari kita laksanakan 2:58 dengan seksama ya. Waduh, 3:01 kayak proklamasi aja ya. Insyaallah. 3:04 Oke. K Firdaus. 3:05 Heeh. 3:06 Sejauh mana kita mengkhawati anak-anak 3:09 remaja kita bahwa 3:12 dia juga akan tertular dengan LGBT? 3:16 Karena sayaat sudah banyak juga 3:18 lokasi-lokasi di mana LGBT pada kumpul. 3:21 Salah satunya tuh di seberang Uki. Oh, 3:24 tuh ada kedai-kedai malam-malam. 3:26 Malam-malam ramai tuh orang pada kumpul 3:28 di situ tuh. 3:28 Masyaallah ya. 3:29 Hm. Terus di mana lagi ya? 3:30 Ee saya pernah ketemu di kota, tapi itu 3:34 lesbinya. 3:35 Oh, lesbinya. Oh, ada bagi-bagi ada 3:37 lokasi-lokasinya ya? 3:38 Iya. Dan itu enggak sengaja dan 3:39 belakangan saya ke situ lagi sih 3:41 sebenarnya ketika di kota tua itu 3:45 itu sudah dirapikan, dibersihkan, sudah 3:47 enggak ada lagi yang nongkrong-nongkrong 3:48 seperti itu. 3:49 Hm. He. 3:49 Tapi perilaku-perilaku itu kan cuman 3:51 pindah tempat aja ya, 3:53 bukan menghilang gitu ya. 3:54 Tapi yang jelas itu bukan kodrat ya. 3:56 Betul. 3:57 Itu adalah ee seseorang tuh bisa 3:59 terkenal GBT karena pengaruh lingkungan. 4:03 Bisa dijelaskan? Silakan Kak Firdaus. 4:06 Baik terima kasih Pak Krishna. Ee Bapak 4:08 Ibu semua ikhwan wa akhwat yang 4:10 insyaallah dirahmati oleh Allah 4:11 subhanahu wa taala. ee bicara tentang 4:14 LGBT memang ee 4:17 salah satu faktornya adalah lingkungan. 4:20 Lingkungan yang bagaimana ini? 4:22 Nah, lingkungan sih sebetulnya ada dua 4:25 ya. Satu lingkungan yang ee bersifat 4:28 secara langsung. Yang satu lagi 4:30 lingkungan yang bersifat secara tidak 4:31 langsung. 4:32 Kalau langsung yang tadi Pak Krisna 4:34 sampaikan itu pernah ngelihat di Uki, 4:36 saya pernah ngelihat di kota tua gitu 4:38 ya. Berarti kan ngelihat secara langsung 4:40 ya. atau ada ee perilaku-perilaku di 4:44 lingkungan permainan anak atau di kelas 4:47 anak kita ya kan. Kemudian ada juga yang 4:51 ee di tempat kerja ya kan. Nah itu atau 4:55 di komunitas anak schol anak gitu ya. 4:58 Nah itu lingkungan ya. Nah, kalau 5:00 lingkungan ini yang terjadi adalah 5:02 modeling. Nah, modeling itu berarti 5:06 awalnya niru-niru misalkan ya ee ini 5:09 perilaku-perilaku yang agak ee gemulai 5:11 misalkan atau agak latah berlebihan 5:13 kemudian 5:14 bicaranya cepat dan banyak gitu ya. 5:16 Eh, cepat eh copot gitu. 5:18 Ih, kamu gitu ya. Nah, itu lingkungan. 5:21 Nah, orang yang melihat itu kemudian 5:23 mereka tertawa kemudian mereka dapat ee 5:27 feedback ya. H 5:28 bukan apresiasilah, tapi feedback. 5:30 Oh, itu lucu ya. Nah, lama-lama yang 5:32 terjadi adalah modeling. Nah, anak-anak 5:34 kita 5:36 itu sebetulnya mereka terkadang tidak 5:39 dibicarakan personal seperti ini. 5:41 Akhirnya anak enggak punya filter. 5:44 Hm. 5:45 Kenapa? Karena anak enggak punya basic 5:47 knowledge-nya. 5:48 Nah, ini kaitannya dengan yang kedua. 5:50 Yang kedua yang secara tidak langsung 5:52 itu sebetulnya dari faktor media. He. 5:55 Nah, media kalau media itu pokoknya ee 5:58 baik itu berupa televisi, berupa bacaan, 6:02 berupa tontonan, apalagi sekarang media 6:04 yang lewat gadget 6:07 yang 6:08 satu klik ini bisa mendapatkan informasi 6:11 yang ada di dunia. Bahkan saya sebut 6:13 sebagai ini anak menggunakan ini, remaja 6:16 menggunakan gadgetnya gitu ya, dengan 6:17 mereka enggak punya filter. Itu namanya 6:19 sudah tsunami informasi. H. 6:21 Nah, mereka tidak pernah punya basic 6:23 knowledge-nya. 6:25 Terus gimana mereka mau memfilter ya kan 6:28 misalkan nih kita kemarin diramaikan 6:30 dengan ee apa 6:33 konser yang ee 6:37 salah satu vokalis dari Inggris ya. 6:39 Iya betul. Yang musisinya itu Heeh. CF 6:42 yang musisinya itu salah satunya LGBT 6:45 gitu ya. 6:46 Nah, di para remaja ini mereka merasa 6:50 bahwa ee apa sih ini kan musik gitu. itu 6:54 urusan pribadi dia. Nah, itu kan salah 6:56 satu sikap ya kan. Tapi ketika itu 6:58 ditampilkan misalkan simbol-simbol 7:00 mereka pelangi-pelangi itu gitu ya. Nah, 7:04 itu kan ee di remaja itu pendekatan LGBT 7:08 itu buat anak-anak yang enggak punya 7:10 basic knowledge ya itu yang dibangun 7:13 adalah rasa keren. 7:14 He. 7:15 Ya kan dengan ee upaya-upaya mereka. 7:18 Bayangkan tiketnya juta dalam 1 jam 7:22 habis. Sekarang ada anak ada 21 juta itu 7:25 juga cepat habis. 7:26 Masyaallah. 7:27 Dalam tempo enggak sampai berhari-hari 7:29 jam habis itu tiketnya. 7:31 Iya. Nah, pertanyaannya itu orang tua 7:33 pada tahu enggak tuh ya anaknya 7:35 sedemikian rupa nabung buat nonton itu 7:38 gitu ya. Nah, itu kan anak-anak kan 7:40 jangan-jangan enggak punya basic 7:41 knowledge yang untuk memfilter gitu. 7:42 Jadi, misalkan kayak dia nonton ee lawak 7:46 yang ada di televisi gitu ya, terus ada 7:48 adegan-adegan yang agak kebanci-bancian 7:50 gitu. Tu yang lain pada ketawa, dia 7:52 bisa. Eh, ngapain sih kok pada ketawa? 7:54 Emang lucu ya? Ya luculah. Masa anak 7:56 laki bisa begitu. 7:57 Enggak lucu lagi nih. 7:59 Ini kan ini kan bisa ngaruhin pribadi 8:01 kita. Ah, apa bahasa remaja-remaja? 8:04 Hidup lu terlalu serius. 8:05 H 8:05 apa-apa lu iniin apa-apa lu enggak boleh 8:07 gitu. 8:08 Nah, buat anak-anak yang punya basic 8:10 knowledge itu jadi filter buat dia, 8:12 termasuk teman dia. 8:13 Jadi kita meniru-niru omongan dia, 8:15 gaya-gaya bicara itu juga bisa bisa 8:17 bisa 8:18 jadi malah tertular ya. 8:19 Heeh. Apalagi dapat feedback. Apalagi 8:21 kita tahu ya di dunia broadcasting gitu 8:24 ya, apalagi dunia entertainment yang 8:26 luar biasa gitu ya, kan 8:28 ada ee pribadi-pribadi yang jadi 8:30 sebenarnya biasa aja gitu. Tapi ketika 8:32 ada satu model 8:35 dan dia sering berinteraksi dan dia 8:37 sering ngelihat dan dia sering dapat 8:38 feedback-feedback yang positif melihat 8:40 itu, dia akan coba-coba melakukan itu. 8:42 Lama-lama dia akan seperti itu. 8:45 Ini belum sampai ke arah orientasi 8:46 seksualnya ya. He 8:47 baru ke sampai gestur tubuhnya, 8:50 perilakunya, gaya bicaranya. Karena yang 8:52 saya temui itu pernah ada satu 8:55 ee seorang pria gitu ya konsultasi sama 8:57 saya nih. Masyaallah lah bapak ibunya 9:00 tuh sudah sangat konsen dengan agama 9:02 ya. 9:03 Tapi ee ketika anaknya sudah SMA eh 9:07 ketika lulus kuliah gitu ya, jadi 9:09 anaknya SD, SMP, SMA dia itu ee sekolah 9:15 Islam. 9:15 Iya. 9:16 Gitu ya. Nah, pas dia SMA eh apa pas 9:19 kuliah dia sangat tertarik dengan dunia 9:21 pariwisata. I 9:22 akhirnya dia magang. Salah satu 9:23 magangnya adalah di 9:25 Bali. 9:25 Heeh. 9:26 Nah, saya saya kan ini ikhtiar orang tua 9:28 ya masukkan sekolah Islam gitu ya. He. 9:30 Tapi sepertinya ada faktor pengasuhan 9:32 nih yang enggak terlibat sehingga 9:34 anaknya tuh enggak berani menolak. 9:36 Anaknya itu enggak enak anaknya 9:38 mudah ikut-ikutan dengan pengaruh luar. 9:41 Oh, 9:41 jadi anaknya sepulang dari Bali itu 9:44 ada gejala dia udah e dia menunjukkan 9:47 dulu ee e pilihan yang menurut dia. Saya 9:50 dulu orang penurut menurut ayah ibu saya 9:52 karena memang segala sesuatunya saya 9:53 dipilihkan. 9:54 Nah, sekarang saya memilih untuk hidup 9:56 saya gitu. Dia tunjukkan dengan saya 9:58 sudah gede dengan nunjukkan dia bisa 9:59 ngokok. 10:00 Terus 10:01 dia ngetes bapak ibunya nih di kamarnya 10:03 ada botol miras. Waduh. 10:06 Gitu kan. He. 10:07 Nah, pas lagi konsultasi itu 10:10 bapak ibunya ee saya minta untuk keluar 10:14 dulu gitu ya. Tiba-tiba anak itu 10:16 mendekati saya gitu. Tiba-tiba bilang 10:19 bilang gini, "Pak, tahu enggak, Pak? 10:22 Saya ini guy." 10:24 Jadi, ah saya enggak diinformasikan 10:26 sedemikian rupa sama bapak ibunya, tapi 10:27 ketika mengambil saya, dia ngaku gitu. 10:30 "Kamu udah bilang ke orang tua kamu, 10:32 kenapa dia diclare gitu?" 10:35 Nah, ee ini proses kalau kalau dia waktu 10:40 dia bilang gini, "Saya ini hasil dari 10:42 anak yang selalu dibully katanya." "Oh, 10:44 kamu dibully." dibully apa? Ee entah itu 10:48 banci, entah itu di usia SMP itu LGBT. 10:52 Akhirnya karena anak-anak ini kan 10:53 kaitannya sama anak udah masuk usia 10:54 remaja ya, ada yang namanya ee fear 10:58 friend, ada namanya fear pressure gitu 11:00 ya. Fear friend berarti kan dia pengin 11:01 berteman di usia-usia ini kan. Tapi 11:03 ketika itu dapat feedback negatif dari 11:05 teman, kenapa? Karena dia di 11:08 nilai, dikatain, diejek atau bahasa tadi 11:11 dibully gitu ya dengan label 11:13 LGBT, banji segala macam. Akhirnya kan 11:15 dia enggak punya teman kan. Akhirnya dia 11:17 dapat tekanan dari teman kan, peure. 11:19 Akhirnya dia enggak punya teman dan dia 11:21 nyari teman yang sama kayak dia. 11:22 Itu ada di video-video di WA kan ada 11:25 orang yang 11:26 keren ganteng orangnya. Dia ngomong 11:28 jantan lagi terus tiba dia merubah 11:31 melambai gitu. Itu beneran apa? Dia cuma 11:33 bercanda sih. Apa 11:34 sebetulnya kalau misalkan kadang gini 11:37 ya, orang melakukan sesuatu tuh ada 11:39 motifnya. Misalkan dia buat video, 11:41 apakah itu 11:42 kayaknya sih melucu tapi kok paseh 11:44 banget dalam memerankan itu. 11:46 Ah, pasti itu berlatih. Seperti halnya 11:48 seperti orang sedang ini ya, sedang apa 11:51 ee main film gitu ya, sepertinya proses 11:53 berlatih. Cuma yang harus kita hindari 11:56 adalah bahwa perilaku-perilaku itu 11:58 lama-lama bisa sedikit-sedikit mengikis 12:01 perilaku orang aslinya. He 12:02 gitu. Jadi mungkin dia bilang, "Enggak 12:04 kok, aku cuma bercanda, cuma mau bikin 12:06 konten doang." 12:07 Heeh. 12:07 Tapi kalau itu sangat dia konsen dan dia 12:09 dapat apresiasi yang luar biasa dari 12:11 viewers-nya, dari penontonnya, 12:13 itu akan ketagihan ya. 12:14 Wah, 12:16 dia akan menunjukkan lagi gitu. Eh, coba 12:18 deh, coba deh ngomong ini gitu. Nah, kan 12:19 dia dapat apresi positif. Nah, ketika 12:21 dia sudah merasa nyaman akhirnya dia 12:23 bisa seperti itu. Ini belum sampai ke 12:26 perubahan orientasi 12:27 gitu. Nah, yang saya temui dari seorang 12:29 laki-laki itu dia mengklaim bahwa saya 12:32 ini korban bully. Dan dia bilang gini, 12:35 "Saya ini ada faktor genetiknya juga, 12:38 Kak. 12:39 Dari mana kamu ngomong faktor genetik?" 12:41 "Iya, Kak. Om saya itu 12:43 kayak saya juga, Kak. 12:44 Jadi, dia menghubung-hubungkan 12:46 sebetulnya karena seseorang itu biasanya 12:48 pun 12:48 ingin pembenaran ya. 12:50 Iya, pembenaran. Betul. Rasionalisasi 12:51 dia kan gitu. Nah, sesungguhnya ketika 12:53 orang ee tandanya itu ketika dia sudah 12:56 punya ketertarikan dengan lawan jenis di 12:58 usia-usia puber, nah di situ tuh 13:00 hormonnya mulai bekerja. Terus kalau dia 13:02 bilang dari genetik 13:03 dari mana gitu kan. Padahal itu sudah 13:05 mulai terjadi yang namanya pembelajaran 13:07 lingkungan atau social learning. 13:10 Itu yang saya lihat. Jadi beberapa kasus 13:12 yang pernah saya temui gitu ya, itu ada 13:15 anak-anak yang memang bukan justru 13:18 faktor genetik dan sebagainya. Nah, itu 13:20 yang tadi saya bilang filter itu yang 13:22 anak enggak punya. 13:23 Oke, Iwan Daat. Kami masih 13:24 berbincang-bincang dengan Kakak Firdaus. 13:27 Beliau adalah seorang praktisi psikologi 13:30 anak dan remaja. Ee kita sedang 13:33 mengambil tema waspada LGPT pada remaja. 13:37 Anda boleh bertanya, silakan kami tunggu 13:39 di 0811999720 13:43 atau telepon di 0218451512. 13:48 Ini nomor teleponnya Kak Firdaus atau 13:50 Nur Firdaus. Nomor telepon Kak Firdaus 13:54 silakan dicatat untuk Anda konsultasi. 13:57 Barangkali ada kasus ya, 13:58 barangkali apa tetangganya apa siapa ya. 14:01 0813 14:04 sudah. Kemudian 85, 14:07 kemudian 38. 14:10 Kemudian 90 14:13 1 2 081385 14:17 38012. 14:21 Kak Firdaus ini adalah seorang konselor, 14:24 kemudian penulis, kemudian juga 14:25 narasumber seminar. Tinggalnya di 14:27 Bintaro lulusan UIN jurusan psikologi. 14:32 Ee ini kelihatannya sudah ada WA yang 14:36 masuk ya. Kita bacakan lagi ya 14:38 pertanyaan-pertanyaan 14:39 yang ditujukan untuk Kak Firdaus. 14:44 Eh 14:47 eh 14:51 ee asalamu Kak Firdaus. Bagaimana dengan 14:54 model atau pola perilaku yang tampak 14:56 nyata seperti 14:58 dokter yang suka tampil di TV yang 15:01 cenderung karenanya feminim, 15:03 kebanci-bancian ngomongnya melambai. Ada 15:05 dokter di bidang seksual biasanya. 15:08 He. 15:08 Itu kalau ngomong melambai. Itu 15:11 bagaimana? 15:13 Iya. Iya. Ee ini saya coba ee lihat dari 15:19 sisi ini ya ee faktor pengasuhan ya gitu 15:23 ya. Jadi gini, kalau ada seperti itu 15:26 sebetulnya salah satunya bisa jadi ada 15:28 faktor pengasuhan. Faktor pengasuhan itu 15:31 salah satunya ee di mana 15:35 anak saat diasuh lebih dapat dominansi 15:40 pengasuhan dari ibu. 15:41 Hm. 15:42 Jadi dia dapat model sebagai sosok diri, 15:48 cara bicara, mungkin juga cara bersikap, 15:52 bahkan cara mengambil keputusan, bisa 15:54 juga cara berpikir gitu ya. Itu dia 15:56 mengambil sosoknya dari ibu. 15:58 Sehingga misalkan 16:01 jadi nada bicaranya lembut, 16:05 kemudian sikapnya koknya lembut tapi 16:08 lemah lembut gitu ya. itu dia memodel 16:10 dari sosok ibu. Nah, harusnya ketika 16:13 seorang anak itu di usia remaja apalagi 16:17 harusnya sudah ada peran ayah di sini. 16:19 Hm. 16:19 Nah, makanya anak-anak yang sudah masuk 16:21 usia remaja itu sebetulnya dia harus 16:24 dekat dengan ayahnya apalagi yang 16:26 laki-laki 16:27 karena dia akan memodel itu. 16:28 Nah, ini ini berarti ee ada faktor tadi 16:31 pengasuhan. Nah, bisa jadi juga, bisa 16:33 jadi juga enggak cuma dari orang tuanya, 16:36 tapi apakah ee saya kurang tahu ya nih 16:39 dokter yang mana seperti apa gitu. Tapi 16:41 ini ee sudut pandang ya bisa jadi juga 16:44 ada anggota keluarga yang sama 16:47 didominansi oleh perempuan. Akhirnya 16:49 tanpa disadari itu memodel atau bisa 16:52 juga lingkungan yang enggak cuma di 16:54 rumah tapi mungkin di sekolahnya juga 16:56 sehingga mempengaruhi itu. Karena ketik 16:59 jadi gini seorang remaja ketika dia 17:02 sudah ee masuk usia remaja itu 17:05 sesungguhnya dia harus dekat dengan ee 17:08 sesama jenisnya karena ini berkaitan 17:10 sama modeling 17:11 he 17:11 anak laki dengan ayahnya. He. 17:14 Karena dia akan model, "Oh, laki-laki 17:15 begini." Apalagi dia sedang mencari jati 17:17 diri. 17:17 Dan anak laki juga dia akan berinteraksi 17:20 dengan teman sebanyaknya laki-laki 17:22 bukan perempuan gitu ya. Nah, jadi kalau 17:24 terjadi sebaliknya itu memang harus kita 17:27 batasi gitu. 17:28 H. 17:29 Aku udah biasa kok anak perempuan 17:31 apalagi lama gitu. Entar coba aja lihat 17:33 anak laki yang SMP, SM apa SMA apalagi 17:36 gitu ya. Dia sering banget bergaul sama 17:38 teman yang perempuan. Udah kelihatan tuh 17:41 cara ngomongnya banyak. He 17:43 cara ngomongnya cepat, 17:44 daya perilakunya. Aduh, 17:47 itu yang saya ngelihat dari sudut 17:48 modeling itu, dari lingkungan. 17:50 Baik, ke pertanyaan berikutnya. Asalam. 17:52 Asalamualaikum, Kak Firdaus. 17:54 Kak Firdaus, Kak ingin tanya, apakah 17:56 seseorang yang bicaranya lemah lembut 17:59 atau melambai otomatis selalu dia 18:01 homrank? 18:02 Hm. 18:03 Kalau dibilang otomatis homebrank, nah 18:05 ini enggak ya. Karena dia modeling, dia 18:08 modeling siapa nih? Ya kan? 18:10 Ee dia modeling siapa? Kalau modeling 18:12 lebih ke perempuan berarti dia cuma 18:14 dapat modelingnya ya. 18:17 Berjalannya waktu ya. Nah, ini persoalan 18:19 nih. Berjalannya waktu ketika dia dapat 18:22 asupan ee gadget atau dia baca novel 18:26 atau dia sering dengar temannya atau 18:28 bahkan ee nauzubillah dia lihat 18:31 pornografi yang berkaitan dengan hal-hal 18:33 yang hubungan sama jenis. He. 18:35 Nah, itu baru ee ketertarikannya sudah 18:38 mulai bergeser. 18:39 He. 18:39 Apalagi dengan anak perempuan, dia sudah 18:41 merasa udah biasa sama anak perempuan 18:43 enggak ada rasa gitu. 18:45 Apalagi yang perempuannya sering 18:47 mengolok-olok. Ini kan ini kan kalau 18:49 kita bicara kata itu kalau enggak 18:51 penting makanya kalau dalam Islam itu 18:53 enggak perlu diucapkan. Nah, kan 18:54 remaja-remaja kita tuh sering 18:55 ngolok-olok bercanda gitu. 18:57 Hm. 18:58 Lu enggak suka sama cewek kan? Lu suka 19:00 sama cowok entar dijodoh-jodohin. 19:03 Ih iya kok aku getar-getar gitu. 19:05 Ini sebenarnya faktor lingkungannya 19:07 bercanda doang padahalnya awal-awal 19:09 mulanya ya. 19:09 Bercanda. Iya. Saya pernah dapat kasus 19:11 nih 19:11 ya suatu hari ini masyaallah lah 19:14 mudah-mudahan ee beliau sudah sembuh 19:17 dari hal seperti ini gitu ya. Jadi ada 19:19 ada satu anak pesantren dia kelas 2 SMP 19:23 gitu ya. Dia bercanda-canda nih ya. Dia 19:26 bercanda sampai menggunakan 19:28 istilah-istilah vulgar. 19:29 Hm. 19:30 Ya. Dengan temannya. 19:31 H. 19:32 Itu pakai satu ee satu kata 19:34 misalkan tisu gitu ya. Itu vulgar tuh 19:36 tisu gitu ya. 19:38 Nah, berjalannya waktu dia sering 19:39 bercanda tuh. 19:40 Hm. 19:41 Ya. Ngomong yang tisu. Nah, bertambahnya 19:44 usia, bertambahnya perkembangan mereka, 19:48 akhirnya mereka sudah SMA. Yang tadinya 19:50 bercandanya tisu itu sudah menjadi 19:52 kalimat. Kan tadi tisu kata. 19:54 Hm. sekarang jadi jadi kalimat misalnya 19:56 gini, jangan isengin gua deh, entar gue 19:59 tisuin lu gitu. H. 20:01 Nah, tisu itu kata-kata vulgar. Entah 20:02 itu alat kelamin, entah itu perilaku 20:04 seksual. Lama-lama karena cuma kata itu, 20:06 akhirnya mereka udah kayak enggak ada 20:08 lagi ee kerahasia di antara kita. 20:11 Akhirnya colek-colekan, 20:13 akhirnya pegang-pegangan. Sampai suatu 20:15 ketika ada kegiatan di pesantrennya gitu 20:18 ya, di boardingnya. Ini anak-anak pada 20:20 keluar, dia cuman berdua di kamar. Ini 20:23 dia enggak satu kasur tapi sebelahan. He 20:25 dia pegang-pegang dan sebagainya sampai 20:27 muncul Samsek Interraction tuh yang 20:30 akhirnya dia punya degdegser sama 20:32 temannya. Nah, buktinya mah ketika 20:34 temannya dekat sama yang lain, dekat 20:37 cuman ngobrol gitu, ada rasa jealous, 20:40 ada rasa rindu sama temannya. Padahal 20:43 nih profilnya masyaallah ya profilnya 20:46 tuh dia penghafal Quran 30 juz. 20:48 H. Masyaallah. 20:49 Terus ee profil keluarganya apalagi 20:51 gitu. dan dia diuji sama Allah hal itu. 20:53 Waktu ketemu sama saya tuh sebetulnya 20:56 udah di ujung-ujung dia mau 20:57 menghilangkan itu. 20:58 Ee bahkan ketika saya tanya ee boleh 21:01 tahu apa yang kamu mau lakukan? Ayo kita 21:03 cariin solusi. Dia sudah menyebutkan 21:05 saya akan melakukan ini. 21:06 Apalagi kayak gini mungkin enggak, Kak? 21:08 Gitu. Nah, itu kalau orang yang mau 21:11 keluar dari situ dan dia sudah mau 21:13 melakukan ini, itu berarti kan dia sudah 21:15 kepikir bahwa saya harus menghindari 21:17 lingkungan ini. Bahkan salah satunya 21:18 adalah dia waktu itu ketahuan sama 21:21 ustaznya pilihannya kamu mau dikeluarkan 21:25 apa keluar sendiri gitu. H 21:27 itu dari ujung sebenarnya kan sudah SMA 21:29 sudah di ujung sudah tinggal setahun 21:31 lagi dia bertahan dia selesai gitu 21:33 akhirnya dia keluar gitu. Nah, itu tadi 21:35 lingkungan tadi. 21:36 Kemarin saya bincang-bincang sama Ustaz 21:38 Salman di pesantrennya itu 21:42 di mana gitu ada kambing laki-laki 21:44 dengan kambing laki-laki itu 21:46 dikandangin. 21:47 He. Heeh. 21:47 Itu kambing laki-laki dengan kambing 21:49 laki-laki gitu karena enggak ada kambing 21:50 perempuan enggak ada betina itu bisa 21:53 horne juga. Oh, 21:54 jadi kalau lagi orang ee walaupun 21:56 sejenis pun 21:58 dilakukan itu juga kepada ayam sehingga 22:00 kambingnya itu e nanti di misalnya 22:02 dipotong dan dimakan itu juga 22:04 berpengaruh terhadap 22:05 hmm orang 22:06 orang yang memakannya itu 22:08 juga ayam ikan ikan supaya gemuk 22:10 kumpulin ikan laki-laki laki-laki gitu 22:13 he 22:14 kan jadi gemuk-gemuk tapi ya begitu 22:16 ada resiko ke sana ya dan dikonsumsi 22:18 sama manusia dia enggak tahu itu ya 22:20 jadi pengaruh makanan juga 22:22 iya ee bisa jadi itu. 22:24 Makanya itu kan sebetulnya kalau secara 22:26 hewan gitu ya, apalagi ee kalau hewan 22:30 itu kan dia itu gimana? Jadi manusia itu 22:34 bisa belok karena ada lingkungan kan. 22:35 Salah satunya adalah asupan-asupan 22:37 informasi ya kan. 22:38 Nah, kalau hewan ini saya belum banyak 22:40 mengkaji sehingga 22:42 hewan bisa sealamiah juga akhirnya 22:45 enggak ada betina hajar juga deh gitu. 22:48 Heeh. 22:49 Karena kan manusia ini kan ada faktor 22:52 lingkungan. 22:53 informasi yang kenapa Allah ciptakan PFC 22:56 di otaknya ini untuk menimbang 22:58 memutuskan kemudian juga sistem nilai 23:01 etika norma agama ada di sini. Nah 23:05 ketika ada tontonan gitu ah ini mah bisa 23:08 ngerusak otak. Nah ini ini yang yang 23:10 menurut saya 23:11 Heeh. 23:12 rentan di usia remaja. 23:13 Dulu ketika saya SMA enggak ada tuh 23:16 bencana-bencanaan ke arah ombreng gitu 23:18 ya. 23:19 JBT paling banci paling paling itu aja 23:22 tapi enggak ada gini. Kenapa akhir-akhir 23:25 ini kok 23:26 jadi banyak bahkan orang blak-blakan di 23:28 muka umum 23:29 cowok sama cowok jaleng bergandengan 23:31 mesra gitu. Kenapa ya? 23:33 Nah saya nih kan nih saya mau respon 23:36 dulu nih menarik nih. E dulu enggak ada 23:38 bercanda cuman bilang banci gitu ya. Nah 23:40 ini juga nih buat para 23:42 Iwan akhwat ayah bunda semua ya. Umi Abi 23:44 itu kadang juga kita ketika tahu LGBT 23:48 terus kita ngomong ke anak tentang awas 23:50 LGBT, awas bahaya LGBT gitu 23:53 kan. Di zaman ee Pak Krisna, di zaman 23:56 saya juga itu belum ada istilah, 23:58 enggak ada istilb gitu kan. Yang kita 24:00 tahu kan tadi 24:02 ee apa homo atau banci ya, banci atau 24:05 bencong atau lesbi gitu ya. He. 24:08 Jadi kalau nih kita ilustrasikan, kalau 24:10 ada anak atau kawan kita yang gayanya 24:13 melambai, ngondek gitu ya kan katain 24:16 bencong gitu 24:17 dulu enggak ada media informasi kan 24:19 enggak mungkin dia akhirnya keluar terus 24:22 nyari komunitas para bencong. 24:24 Enggak mau banget gua gitu ya. Begitu 24:26 pun ada orang yang ih kayak lesbi deh. 24:29 Kan enggak mungkin orang itu akhirnya 24:30 nyari komunitas lesbi gitu ya. Nah 24:33 akhirnya kita fokus bawa pada hal yang 24:35 dia lakukan. Nah, sekarang dengan kata 24:37 LGBT ini masyarakat kita akan kegiring 24:39 ke situ. Termasuk remaja enggak ngerti, 24:41 dia akan LGBT ya, LGBT gitu. Padahal dia 24:45 belum tentu ngomong ke arah atau 24:47 orientasi seksualnya ke arah situ. Nah, 24:49 ini yang penting juga saya sampaikan 24:51 adalah bahwa ee bagaimana 24:54 peran orang tua salah satunya ketika 24:55 sudah mengetahuan istilah ini untuk anak 24:58 apalagi di anak-anak SD. Kalau saya 25:01 biasanya karena anak SD itu menghindari 25:03 istilah LGBT. H 25:05 apalagi ada tontonan itu LGBT itu justru 25:08 bikin anak penasaran. 25:10 Nauzubillah kalau anak kita klik di 25:12 googling LGBT. Kalau anak itu googling 25:16 masih mending ketemu teks ya. He. 25:18 Tapi kalau anak mikirnya sederhana, 25:21 karena kan kita sederhana kan, dia mau 25:23 lihatnya kalau udah gadget gambar atau 25:26 video, dia nulis LGBT 25:28 yang muncul gambar, yang muncul video. 25:32 Bahkan ini jadi label baru buat para 25:34 masyarakat kita terhadap perilaku 25:35 seseorang yang belum tentu di LGBT gitu. 25:38 He. 25:38 Nah, itu yang saya cermati sekarang di 25:41 sekolah-sekolah tuh ada anak yang dapat 25:43 label itu padahal dia belum belum tentu 25:45 LGBT. Bahkan dia enggak tahu LGBT gitu. 25:47 Cukup sayang. 25:48 Oke, dari Maya di Tangsel. 25:50 Asalamualaikum, Kak Firdaus. Apakah ada 25:52 data di Indonesia, kota mana saja yang 25:54 menjadi basis LGBT? 25:57 Oke, terima kasih nih Bunda Maya ya. Ini 26:00 pertanyaannya bicara data. Kalau secara 26:03 ee konkret detail itu sebetulnya saya 26:05 belum banyak ee mengkaji ya, cuma kalau 26:08 bicara kota umumnya kota besar 26:11 ya, kota besar ya 26:13 ee DKI, Jakarta gitu ya. Kemudian ada 26:18 juga ee itu daerah-daerah industri dan 26:20 daerah-daerah ee kota pelajar 26:23 seperti misalkan Yogyakarta, seperti 26:26 misalkan Surabaya, seperti misalkan 26:28 Bandung gitu. Jadi di sana itu karena 26:31 informasinya sudah luar biasa, 26:33 komunitasnya juga luar biasa. Artinya 26:35 mereka suka nongkrong. Nah, cuma ini nih 26:37 yang perlu kita ee 26:40 waspadai cara kerja kaum LGBT. Pernah 26:45 dengar enggak waktu itu ada ee Facebook 26:48 kalau enggak salah Facebook, kalau 26:49 sekarang mungkin dia mereka udah meramah 26:51 ee Instagram. Mereka bikin gini, LGBT 26:55 atau guai Depok, Guy Bekasi, H 26:59 guai wah semuanya mereka bikin itu. Itu 27:02 kalau kita percayai bahwa mereka mengaku 27:05 banyak atau mereka ada cabang di 27:06 mana-mana, itu harusnya kita waspadai. 27:09 Jangan-jangan itu sebetulnya enggak ada, 27:11 tapi mereka membuat itu. Iya. Mereka 27:13 menggrab anak-anak yang tadi dapat label 27:15 LGBT. Akhirnya 27:17 oh ternyata di Depok ada ya LGBT. 27:19 Oh 27:20 di Bekasi ada ya. Iya 27:21 itu sebenarnya untuk menggiring itu 27:23 sehingga kita berpikir bahwa oh di 27:25 mana-mana LGBT kadang belum tentu. Tapi 27:28 mereka dunia maya menaratkan ada istilah 27:30 daerah. 27:30 Oke Kak Firdaus ada dari Mutia. Kak 27:32 Firdaus, anak saya dua laki-laki usia 25 27:35 tahun dan 26 tahun sudah bekerja tapi 27:38 belum ada tanda-tanda punya pacar sampai 27:41 di tempat kerjanya dibilang lesbi. 27:44 Apakah saya perlu curigai? Kalau saya 27:46 tanya jawabnya cari cari modal dulu 27:49 karena menikah mahal. Mohon solusinya. 27:51 Terima kasih dari Umi Mutia. Silakan. 27:54 Iya. Baik. Terima kasih Bu Mutia. ini 27:56 sebetulnya ee 27:58 kalau ini ini sebenarnya ee kita gini 28:02 nih cara mikirnya nih. Jangan sampai 28:04 kalau enggak A jangan-jangan B. 28:06 Hm. 28:07 Jangan-jangan C gitu ya. 28:08 Jadi harus kita harus banyakin nih 28:11 kenapa anak saya enggak A? 28:12 H. 28:13 Oke. Kemudian jangan langsung ke kalau 28:16 enggak B jangan-jangan C nih. 28:18 Kita kan bisa ke D, E, F gitu. Saya juga 28:20 pernah menemukan kayak gini. Anak saya 28:22 umur segini kok enggak enggak enggak 28:24 punya pacar ya. Terus akhirnya 28:26 jangan-jangan LGBT, 28:28 jangan-jangan lesb, jangan-jangan guy 28:31 atau sebaliknya. Nah, jadi daripada kita 28:33 mikirnya ke arah situ was-was jadi 28:36 parno, 28:37 lebih baik kita cek komunikasi atau pola 28:40 hubungan kita sama anak itu seperti apa. 28:44 Satu. Yang kedua, kita punya kedekatan 28:46 apa seperti anak, sama anak bagaimana 28:49 gitu. Karena itu yang membuat anak nanti 28:51 bisa terbuka sama orang tua termasuk 28:54 hambatan-hambatan dia gitu. Nah, jadi 28:56 buat orang tua apakah lar lari ke sana 28:58 saya berpikir sih jangan dulu karena ada 29:00 ciri-cirinya gitu kan. Nah, ini karena 29:02 waktu ya saya belum bisa tuntaskanah 29:05 ciri-cirinya seperti apa. Tapi dicek aja 29:07 ya sebentar lagi kita masuk suur nih. 29:09 Sayang sekali ya. Nanti kapan-kapan kita 29:11 undang lagi Kak Firdaus ke sini untuk 29:13 bincang-bincang mengenai ini. Silakan 29:15 yang belum mencatat nomornya Kak Firdaus 29:17 kami bacakan kembali ya. Kak Firdaus 29:20 adalah dia seorang konselor ee penulis 29:23 kemudian narasumber eh seminar tinggal 29:26 di Bintaro lulusan UIN di beliau adalah 29:28 seorang psikolog ya. Ini nomornya Kak 29:32 Firdaus atau Nur Firdaus nomornya 0813. 29:37 Kemudian 85 29:40 38 29:44 90 29:46 1 2 0813 29:49 85 29:53 90. 29:57 Terima kasih, Kak Firdaus kapan-kapan. 30:00 Mudah-mudahan enggak macet ya. Amin. 30:02 Amin. Amin. 30:03 Sehingga bisa mulai lebih awal lagi. 30:05 Siapap. 30:05 Terima kasih sekali lagi. Saya Muhammad 30:07 Krisna, Fajar Hidayah juga Anis Mali 30:10 mohon pamit. Wabillahi taufik 30:11 walhidayah. Wasalamualaikum 30:12 warahmatullahi wabarakatuh. 30:13 Waalaikumsalam warahmatullahi 30:14 wabarakatuh. 30:27 Ah.